Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corporation. Tidak ada keuntungan material apapun yang saya dapat dari pembuatan fanfiksi ini.
Warning: Indonesia!AU, bahasa tidak baku, typo(s).
Summary: Semua ini berawal dari obrolan grup.
Bukan Sekadar Wacana oleh revabhipraya
[vii – wawancara]
.
.
.
Memasuki ruang wawancara, seketika aku disuguhi jutaan kursi yang dijejerkan dengan rapi, tetapi terlihat berantakan di mataku. Tidak, tidak, aku berlebihan. Jumlah kursinya paling hanya berapa puluh, tidak mungkin sampai jutaan—mana muat di ruangan kecil begini? Kalau aku tidak salah hitung, dan biasanya memang tidak, ada tujuh kursi yang diletakkan bersampingan dan ada enam baris dari tujuh kursi itu yang memenuhi ruangan. Tiga baris di antaranya diisi oleh orang-orang dengan jas almamater—sepertinya kewajiban bagi panitia, sedangkan tiga baris sisanya kosong.
Kesimpulan, kursi kosong itu adalah untuk kami, para mahasiswa baru, duduk untuk diwawancara. Melihat adanya tiga baris kursi kosong serta tiga jenis formulir wawancara—oh ya, aku lupa bilang kalau formulir wawancaranya ada tiga jenis—kemungkinan besar setiap orang akan diwawancara sebanyak tiga kali.
Eh, aku baru ingat kalau aku menjalani wawancara yang serupa untuk OSPEK fakultas. Pasti isinya pun kurang lebih sama, bukan? Formulirnya saja mirip-mirip.
Kami bertujuh dipersilakan untuk menempati kursi manapun yang kami mau, dan berhubung aku ini perempuan, aku otomatis memilih perempuan juga untuk mewawancaraiku. Kuhampiri seorang perempuan berambut hijau yang wajahnya kelihatan ramah, lalu duduk di hadapannya.
"Minta formulir data umumnya, ya," ucap kakak itu sambil menyodorkan tangannya.
"Ini, Kak," ucapku sambil menyerahkan formulir pertamaku kepadanya.
"Luka, ya ..." Kakak itu mendongak, menatapku. "Aku panggil Luka, bener, 'kan?"
Aku mengangguk. "Bener, Kak."
"Nah, panggil aja aku FL." Kakak itu, Kak FL, mengeluarkan sebuah pulpen dari saku jasnya. "Wawancaranya kita santai aja ya, nggak usah tegang. Terus kalo ada yang mau ditanya-tanya, langsung tanya aja, gak usah takut. Rileks, oke?"
Kak FL menanyakan banyak hal seputar kompetensi pribadiku, mulai dari biodata secara umum sampai prestasi yang pernah kudapat. Secara umum, apa yang beliau tanyakan tentunya berpatok kepada apa yang sudah kutulis di formulir wawancaraku. Dia menanyakan maksud dari kegiatan-kegiatan yang telah kuikuti, tugasku saat menjabat di organisasi, dan mengulang kembali pertanyaan esai yang ada di bagian akhir formulir wawancara. Tidak lupa, sebagai bukti dari kata "rileks", Kak FL juga menceritakan suka-dukanya saat hendak mendaftar organisasi ketika dia masih mahasiswa baru. Dan ceritanya sukses membuatku ingin mendaftar ke organisasi yang sama, haha.
"Oke, kita selesai, yaa," ucap Kak FL sambil menutup formulir wawancaraku. "Habis ini kamu bisa ke meja di belakang kamu, atau di belakangnya lagi. Masih ada wawancara medik sama rohani."
Aku mengangguk sambil bangkit dari kursi. "Makasih banyak ya, Kak."
Kak FL tersenyum. "Sama-sama."
Aku segera menuju meja di belakangku yang kebetulan sedang kosong. Lagi-lagi seorang kakak perempuan yang duduk di sana, tapi kali ini rambutnya pirang panjang. Wajahnya tidak seramah Kak FL, tapi aku tahu kakak ini sama baik hatinya. Bedanya mungkin kakak ini menyembunyikan kebaikannya di balik wajah datar dan serius.
Seperti Kak FL, kakak itu menyodorkan tangannya. "Formulir rohaninya."
"Oh, ini, Kak," ucapku sambil menyerahkan formulir rohaniku. Kakak itu menerima lalu membacanya sekilas.
"Luka," gumam kakak itu. Dia mendongak. "Kenalin, Luka, namaku Galaco. Di sini aku akan ngewawancarain kamu seputar rohani. Wawancaranya dibawa santai aja ya, ini bukan ujian."
Aku mengangguk. Ternyata Kak Galaco ini memang kaku.
Kak Galaco memulai pertanyaannya dengan mempertanyakan kepercayaanku terhadap Tuhan. Tentu aku menjawab sebisaku dan sesuai dengan apa yang aku tulis di formulir meski aku yakin jawaban lisanku tidak selengkap jawaban tulisku. Kak Galaco juga bertanya seperti apa aku berdoa, doa apa yang biasanya kupanjatkan, dan hal-hal sejenis yang semuanya sudah kutuliskan di formulir itu. Berbeda dengan Kak FL, Kak Galaco tidak menggunakan pendekatan "membuka diri". Kak Galaco tidak membicarakan dirinya sama sekali sejak wawancara kami dimulai. Beliau hanya fokus pada apa yang tertera di formulirku, tidak lebih. Kuasumsikan beliau khawatir persepsiku mengenai kerohanian ini akan berubah jika beliau menceritakan versi dirinya sendiri, makanya Kak Galaco tidak melakukannya.
Atau asumsi lainnya, beliau memang tidak suka membuka diri kepada orang lain terutama orang yang belum dikenalnya dengan baik. Asumsi terakhir, beliau malas beramah-tamah kepada mahasiswa baru sepertiku yang mungkin saja diam-diam tidak dia sukai. Aku mana bisa tahu isi hati Kak Galaco, 'kan?
"Selesai," ucap Kak Galaco sambil menuliskan sesuatu pada formulir wawancaraku. "Kamu tadi baru wawancara sama FL, 'kan? Berarti sekarang ke meja di belakangku, ya."
Aku mengangguk. Sambil bangkit, aku mengucap, "Makasih, Kak."
"Sama-sama."
Aku meninggalkan meja Kak Galaco dan menghampiri meja berikutnya di belakang beliau. Kali ini aku akan diwawancara oleh seorang perempuan, lagi, yang rambutnya pirang pendek nyaris mirip laki-laki. Matanya hijau terang dan jelas sekali menyiratkan bahwa ia tertarik untuk mewawancaraiku. Aku duduk di hadapannya sembari tersenyum kecil.
"Ini Kak, formulirnya," ucapku sambil memberikan formulir terakhirku tanpa sempat diminta. Sudah dua kali melalui proses ini, aku sudah hapal polanya.
"Oke!" Di luar dugaan, kakak yang satu ini rupanya antusias. Dia menerima formulirku lalu membaca bagian atasnya sejenak. "Luka. Oke, Luka, kenalin, namaku Anon. Kamu boleh panggil aku pake 'Kak', boleh juga langsung nama. Aku sebenernya seangkatan sama kalian, kelahiran '97, tapi ikut aksel waktu SMP. Nah, kok jadi ngomongin aku?"
Aku tertawa pelan, tetapi tidak memberi komentar berupa kata-kata.
"Jadi, Luka." Kak Anon ikut tertawa. Dia membalikkan halaman formulir wawancaraku. "Di sini adalah sesi wawancara terakhir kamu, yaitu wawancara medik. Aku bakal nanya seputar kesehatan kamu, mulai dari yang ringan-ringan kayak flu dan batuk, yang bawaan kayak asma dan maag, sampai yang berat kayak, amit-amit, kecelakaan. Aku bukan mahasiswa Kedokteran atau Keperawatan, apalagi dokter. Aku cuma mahasiswa Statistika kayak kamu, jadi harap maklum juga kalau nanti banyak yang aku kurang pahami. Meski aku udah dilatih, tetap aja yang namanya manusia itu gak luput dari kesalahan, 'kan?"
"Iya, Kak," jawabku sambil mengangguk patuh. Kakak yang satu ini sebenarnya niat mewawancarai atau menceramahiku, sih?
"Oke! Kalo gitu aku baca dulu sekilas formulir kamu, ya!" Baru kali ini ada kakak yang dengan jujurnya berkata akan membaca formulirku terlebih dahulu sebelum mulai wawancara. "Loh? Kok pada kosong gini, Luk?"
"Iya, Kak, soalnya aku emang gak punya penyakit bawaan," jawabku.
"Serius?" Kak Anon menatapku tidak percaya. "Asma? Maag?"
Aku menggeleng.
"Terus kamu pernahnya sakit apa?" tanya Kak Anon. "Yang agak parah."
"Waktu SD sempet kena cacar dan gejala typhus," jawabku sambil berusaha mengingat-ingat. "Waktu SMP pernah kena chikungunya. Terus ... udah sih, Kak, paling flu aja yang agak sering."
"Gitu, ya ..." Kak Anon kembali membaca formulirku. "Oh, ini ada tulisan kamu pusing kalo diajak jalan jauh. Itu maksudnya gimana?"
"Sebenernya aku nggak begitu kuat kena panas, Kak, dan aku juga lumayan gampang capek," jelasku. "Tapi kalo dikasih asupan biasanya baik lagi. Kalo udah sampai pandangan gelap, aku cuma butuh duduk sih, terus setelahnya baikan lagi."
"Kamu udah sarapan sebelum disuruh jalan itu?"
"Udah, Kak, aku selalu sarapan."
"Terus ini ... kamu nggak pernah dirawat di rumah sakit?"
Aku menggeleng.
"Nggak pernah demam berdarah, typhus, patah tulang, atau apa gitu?"
Aku tertawa kecil. "Amit-amit, Kak, jangan didoain, dong."
"Bener juga," balas Kak Anon sambil ikut tertawa. "Kamu sehat banget, ya."
Aku hanya menanggapi dengan senyum kecil.
"Kalo makanan, gimana?" tanya Kak Anon lagi. "Ada pantangan? Terus ada obat khusus yang harus kamu minum setiap saat gitu, gak? Terus ... rajin olahraga, gak?"
Bingung, aku mengerjap beberapa kali. "Bentar, Kak ..."
Kak Anon tertawa. "Satu-satu, deh. Kamu ada pantangan makanan, gak?"
"Nggak," gelengku. "Aku suka semua jenis makanan."
"Mantap! Aku juga!" balas Kak Anon geli. Aku tertawa. "Terus, kamu ada obat khusus yang mesti diminum setiap saat, gak?"
"Nggak, Kak, soalnya aku gak punya penyakit bawaan."
"Bener juga ya, ngapain aku nanya lagi?" dengus Kak Anon sambil menyipitkan matanya. "Satu lagi, kamu rajin olahraga, gak?"
"Mager di kasur masuk hitungan olahraga gak, Kak?"
Kak Anon tergelak. "Kalo masuk, berarti rajin, ya?"
Aku ikut tergelak. "Nggak rajin, Kak, aku gak suka olahraga."
"Tapi bisa?"
"Hmm ... nggak jago, sih. Lumayan jago renang paling," jawabku sambil berpikir sejenak. "Dan setelah lulus SMA, aku bingung nyari kolam renang yang agak sepi di mana."
Kak Anon manggut-manggut. "Oke deh, paling gitu aja wawancaranya. Makasih banyak buat jawaban-jawabannya ya, Luka! Tunggu hasil pembagian warna pitanya beberapa hari lagi, yaa."
Aku mengangguk sembari bangkit dari dudukku. "Makasih banyak juga, Kak Anon."
"Oh, oh!" Kak Anon menahan lenganku. Otomatis langkahku terhenti. "Kalo nanti kita papasan, mau di kampus ataupun di jalan, jangan lupa buat nyapa, ya! Kamu mesti inget aku loh, awas kalo nggak!"
"Kayaknya mustahil aku bisa lupa deh, Kak," jawabku geli.
"Janji, ya!"
Aku tertawa kecil. "Iya, Kak."
Kak Anon melepas pegangannya padaku lalu membiarkanku keluar dari ruang wawancara. Seorang panitia mempersilakanku kembali ke aula, aku menurut. Setibanya di sana, semua orang sedang asyik mengobrol sembari menyuapkan makan siang mereka ke dalam mulutnya. Aku jadi ingat makan siangku. Saat dipanggil tadi aku baru memakan separuhnya, jadi sebelum waktu istirahat habis, aku sudah harus menghabiskan semuanya.
Selain karena dibuang sayang, aku juga lapar masalahnya.
"Udah?" tanya Meiko setelah aku duduk kembali di kursiku.
"Udah," jawabku sambil membuka kembali kotak bekalku yang tadi harus ditutup lantaran terpotong wawancara. "Santai kok wawancaranya, cuma ditanyain seputar formulir aja."
"Kalo gitu aku harus belajar dulu!" Buru-buru Meiko membuka formulirnya dan membaca isinya dengan saksama. Dihapalkannya satu demi satu kata yang ia tulis di atas lembaran kertas itu. Aku hanya bisa tertawa melihat Meiko.
.
Setelah semua orang selesai diwawancara, kami kembali dikumpulkan di aula untuk pematerian berikutnya. Rupanya materi berikutnya adalah pengenalan organisasi yang ada di dalam jurusan. Kami diperkenalkan kepada lembaga eksekutif, lembaga legislatif, unit-unit kegiatan mahasiswa (bahasa SMA-nya ekstrakulikuler), juga organisasi-organisasi lain yang menunjang berdirinya jurusan. Sambil penjelasan mengenai organisasi, terkadang kami diberikan permainan yang harus diselesaikan dalam beberapa kelompok. Estafet kelereng, kuda bisik, tebak orang, dan berbagai macamnya. Kegiatan juga tidak berpusat di aula, tetapi tersebar di seluruh gedung jurusan. Pokoknya menyenangkan, deh! Tidak kusangka OSPEK Jurusan yang awalnya kutakuti bisa jadi semenyenangkan ini.
Oh, mungkin ini baru awalnya, ya?
"Nah, sekarang pos-posannya udah selesai!" Oh, rupanya kegiatan yang tadi kami lakukan itu—pengenalan organisasi dan bla bla bla itu—namanya pos-posan. "Kita balik lagi ke aula buat kegiatan terakhir sebelum penutupan, ya. Habis ini, kalian boleh pulang."
YAY! Akhirnya!
Dengan semangat empat lima aku kembali duduk di kursiku yang sebelumnya, tepat di samping Meiko. Rupanya bukan hanya aku yang girang melainkan nyaris separuh teman seangkatanku yang hadir ini girang bukan kepalang. Yah, hari ini memang kegiatannya menyenangkan, tetapi yang namanya lelah itu tetap butuh istirahat, 'kan? Kalau panitia mau menanggung biaya rumah sakit bagi kami-kami yang pingsan karena kelelahan sih tidak masalah.
...
On the second thought, aku tidak mau dirawat di rumah sakit meskipun dibayar seratus persen oleh orang lain sekali pun.
"Sekarang jam berapa?" tanya Meiko sambil menoleh kepadaku. Langsung saja aku sadar bahwa dia sedang berbicara kepadaku.
"Jam ..." Aku melirik arloji biru mudaku yang menayangkan jam digital pada layarnya. "Jam tiga. Nggak kerasa juga ya kita nyaris seharian di sini?"
"Ih, kita belum seharian, koook," bantah Meiko sambil mengangkat jari-jarinya yang panjang. Ternyata selain tubuhnya kelewat tinggi, jari-jarinya juga kelewat panjang. "Baru sekitar delapan jam laaah kita di sini."
Aku tersenyum gemas. "Meiko, tolong kalimatku barusan jangan diartikan secara harfiah, ya."
"Oh?" Meiko memasang tampang oh-hehe-maafin-aku-salah sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kirain kamu salah ngitung."
"Mei ..." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Kamu itu ... entah terlalu polos, entah terlalu jenius, entah terlalu nggak peka."
Dengan bangga Meiko meletakkan tangan kanannya di bawah dagu. Jari telunjuk dan jempolnya membuka sedangkan yang lain terkepal, membentuk ceklis tepat di bawah dagunya yang lancip. "Meiko gitu, loh."
"... terserah."
"Nah, teman-teman! Fokus lagi, ya!" Kak Pika kembali berseru dari depan ruangan. Aku terpaksa berhenti bercanda dengan Meiko—meski leluconnya menyebalkan, tetapi aku menikmatinya, kok. "Habis ini kita sesi terakhir kegiatan hari ini!"
Terdengar sorak sorai dari seluruh penjuru ruangan. Aku curiga bukan hanya teman-teman seangkatanku yang bersorak, tetapi juga panitia yang duduk di belakang sembari mengawasi kami.
"Oke, sebelum masuk sesi terakhir, sekarang kalian tutup mata dan telinga dulu!" seru Kak Miki.
"Ayoo, tutup mata, tutup telinga, terus jangan lupa tundukin kepala!" timpal Kak Pika, terdengar tidak mau kalah vokal dibandingkan dengan Kak Miki yang baru berdialog sekali. Padahal secara jumlah dialog pun masih menang Kak Pika.
Fokus, Luka, batinku sambil menutup kedua mata, menutup kedua telinga dengan tangan, dan menundukkan kepala. Duh, keadaan seperti ini adalah keadaan yang paling aku benci dalam masa-masa OSPEK. Selain karena aku paling tidak bisa memejamkan mata terlalu lama—tidak tahu kenapa tapi aku otomatis menutup mata rapat-rapat saat disuruh seperti itu dan itu membuat mataku rada sakit—aku juga tidak suka efek (sok) kejutan yang diawali dengan tutup-tutup ini. Langsung saja sodorkan di depan susah amat, ya? Padahal—
BRAK!
Aku terlonjak sedikit. Suara pintu dibanting rupanya.
"BUKA MATA! BUKA TELINGA! ANGKAT KEPALA KALIAN!"
... yah, ini dia bagian "gila"-nya dimulai.
.
.
.
TBC
A/N.
Aku nggak ngelanjutin ini berapa lama ... ;;v;; MAAFKAN HAMBA OTL
Aku bener-bener kehilangan sense untuk menulis Luka dalam fanfiksi ini, dan aku mulai kesal juga harus ngulang(?) masa lalu /ea. Bahas OSPEK kan bahas yang dulu ya, dan udah banyak detail yang aku lupain juga, jadi aku banyak ngarangnya, ufufu. DAN MAAFKAN BARU BISA UPDATE LAGI TTATT
Aku gak akan banyak ngomong ah, sudah diwakilkan oleh Luka di dalam chapter ini ;; /g
Ditunggu komentarnya coretmeskiakuterkesanphpkarenakelamaanupdatecoret~ :"3
