Pabbo Beruang Seonsaengnim
Cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Kim Junsu
Park Yoochun
Shim Changmin
Serta cast yang lainnya
Rated : T—M
Warning : Boys love, Yaoi, [Cerita ini murni hasil pemikiran Author dan tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun dan apapun.]
Disclaimer :
Seluruh pemain disini bukan milik Author. Mereka adalah milik diri mereka sendiri, Management serta Tuhan YME. Author hanya meminjam sebentar, ne!
.
.
_This story Original _
by
Nyangiku
.
.
''If you don't like, Don't read it"
Tidak suka? Jangan baca!
.
.
Bagi yang sudah menyempatkan untuk membaca—
.
.
Onegaishimasu
~Selamat membaca~
.
.
'Ya Tuhan apa salahku? Kenapa tiga orang ini selalu saja mengangguku? Tolong selamatkan aku Tuhan, aku janji setiap jumat sore aku akan ikut ke gereja untuk beribadah' saat ini Junsu sedang duduk di atas sofa dengan mulut yang di tutupi oleh plester. Kedua tangannya diikat rapi ke belakang.
Sedangkan tiga siswa yang di akui memiliki IQ tinggi itu sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Tidak perlu di jelaskan lagi apa yang mereka lakukan karena tidak akan jauh dari makanan, PSP, dan buku resep makanan.
Ruangan lembab dan penuh dengan barang-barang tidak terpakai bercahayakan lampu berwarna kekuningan membuat Junsu seakan sedang di culik oleh sekelompok mafia. Dan tiga manusia di hadapannya itu merupakan anak buah pemimpin mafia yang memerintahkan untuk menculiknya. Oke ini hanya khayalan Junsu saja, tempatnya berada ini sebenarnya cukup bersih dan nyaman.
Ada sofa empuk, televisi layar datar beserta permainan video game, kulkas satu pintu dan lampu yang terang. Ruangan ini benar-benar nyaman dan berdesain interior bagus, tapi Junsu tidak tahu sebenarnya ini dimana dan bagaimanna mungkin sekolahnya memiliki ruangan sebagus ini untuk tempat penyekapan?!
Junsu tahu, siapa pemimpin mereka bertiga. Siapa lagi kalau bukan orang yang paling sering bermasalah dengan hyungnya, yaitu Jung Yunho. Si manusia bertubuh jangkung besar seperti beruang dan bermata sipit seperti musang.
Dia lah Jung Yunho. Wali kelas sementara mereka.
"Kenapa hyungmu itu lama sekali sih?" keluh Kyuhyun.
"Tunggu sebentar lagi, ia akan menghubungiku jika ia sudah mendapatkan si Kim itu." jawab Changmin dengan santai sambil terus memakan keripik kentangnya.
"Kalau tidak dapat juga?" tanya Kibum.
"Dia pasti mendapatkannya."
.
.
.
Yeoja paruh baya itu keluar dari mobil mewahnya dengan elegan. Dengan sepatu hak tinggi mahal dan mengkilap serta baju hasil rancangan designer ternama wanita yang pantas di sebut Nyonya itu mulai berjalan menuju gerbang sekolah milik sang mertua. Tapi belum sempat menginjakkan kakinya di tangga pertama menuju pintu, sesosok namja bertubuh kurus tak sengaja menabraknya.
"Omo!" pekik namja itu kaget. Wajah dan bibirnya berubah pucat ketika tubuhnya tak sengaja menabrak seseorang yang di kiranya adalah orang yang sedang di hindarinya. Ia terdiam sebentar sambil menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
"YA!" Nyonya sosialita itu pun ikut bersuara dengan lantang sebagai respon kagetnya sudah di tabrak cukup keras. Untung saja tubuh orang yang menabraknya kurus, sehingga ia masih bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"M-mian.." namja itu membungkuk sopan sambil memejamkan matanya takut. Meski ada sedikit kelegaan yang dirasakannya karena ternyata sosok yang ditabraknya itu bukanlah orang yang selalu di hindarinya.
"Ahaha~" yeoja itu tertawa aneh, "Tidak apa-apa sayang," katanya dengan ramah.
Jaejoong pun mengangkat kepalanya setelah yakin kalau orang yang didepannya itu tidak berbahaya. Mata hitam itu membulat tak kalah dengan bulatnya mata yeoja paruh baya di hadapannya.
"KEMBARANKU~!" pekik Nyonya itu kegirangan memeluk tubuh kurus Jaejoong gemas.
.
.
.
"GAWAT! Eomma datang!"
"MWO?!"
"Heechul-ahjumma maksudmu?"
Ketiga namja kaki tangan Jung Yunho itu langsung berhamburan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Junsu sendirian tanpa pesan dan kesan. Hanya saja sebelumnya ketiga namja itu telah lebih dulu membuka ikatan tali Junsu agar namja itu bebas, membiarkan namja itu pergi sendiri karena saat ini mereka pun sedang menghadapi suasanan genting dan harus segera menyelamatkan diri masing-masing. Tapi mereka malah melupakan sesuatu yang sangat penting yaitu, mereka mengunci pintu ruangan tersebut sebelum Junsu keluar.
Kasarnya, Junsu tertinggal di dalam sana.
"YA! JANGAN TINGGALKAN AKU! YA!" teriakan membahana Junsu sepertinya sudah tidak di hiraukan lagi karena mereka sudah berlari jauh dari tempat itu.
.
.
.
Yunho menyeringai kecil pada Jaejoong yang telah di temukannya dengan mudah, benar kata Yoochun kalau namja cantik itu pasti akan berlari keluar gedung sekolah. Tapi disaat yang bersamaan sebuah penghalang pun ikut muncul disana.
"Oh, jadi dia ini murid kelasmu? Aigo.. Cantiknya~ bisakah dia menjadi menantu Eomma, Yun?" Heechul mengedip-ngedipkan matanya lucu pada Yunho dan Jaejoong bergantian. Mendengar permintaan itu tentu saja Yunho senang-senang saja, itu artinya tanpa dipinta pun sang Eomma sudah menyetujuinya untuk bersama dengan Jaejoong, meski dia adalah muridnya sendiri.
Tapi bagi Jaejoong? itu adalah mimpi buruk. Bagaimana mungkin ia menjadi seorang menantu dari Ibunya Yunho? Lalu dengan siapa ia akan dipasangkan? Yunho kan namja! Atau.. apakah mereka punya anak yang lain selain Yunho dan Changmin?
"Tenang saja Eomma, dia pasti akan menjadi milikku secepatnya," Yunho memberikan tatapan mesumnya pada Jaejoong. Dan saat itu pula Jaejoong membuat kesimpulan jika nyonya didepannya ini ingin Jaejoong bersama Yunho.
"Mereka pasangan yang serasi Ahjumma, aku sudah merasakannya sejak pertama kali mereka bertemu." tambah Yoochun. Memperkeruh suasana hati Jaejoong yang sudah suram.
"Tapi—"
"Mwo?"
"Jangan pernah sekali-kali melukainya, karena dia adalah kembaran Eomma! Kau pun sama Chun!" ancam Heechul saat di rasa kalau kedua namja di hadapannya ini seperti memiliki sebuah rencana licik.
"Aigo.. jangan khawatir aku tidak akan berbuat macam-macam." kata Yoochun sambil menujukkan isyarat damai dengan tangannya.
"Yun, mana adikmu? Kenapa dia lama sekali muncul? Umma kan ingin pamit sebelum pergi menyusul Appamu ke Cina." Heechul terlihat gelisah tapi pelukannya pada Jaejoong tidak melonggar sedikitpun.
"Ah itu dia!"
Yoochun menunjuk ke arah Changmin berada, bersama dengan dua sekutunya Kyuhyun dan Kibum namja jangkung itu terlihat berlarian dengan susah payah menuju sang Eomma sebelum ibu tiri cinderella itu marah padanya.
.
.
.
Jaejoong bernafas lega ketika bisa pulang kerumah dengan mudah dan aman. Yunho dan Yoochun serta tiga anak setan itu harus mengantar Heechul ke bandara. Jaejoong berpikir Junsu sudah pulang kerumahnya karena namja itu sejak tadi siang tidak juga muncul di hadapannya.
Sekarang saatnya beristirahat sebentar, mandi lalu makan dan..
Panggilan telepon dari Junsu Eomma membuat Jaejoong yang sudah lelah dan ingin beristirahat kembali bersemangat. Bukan semangat mendapat baju baru, uang saku ataupun yang lain tapi.. bersemangat untuk mencari Junsu yang ternyata.. BELUM PULANG KERUMAHNYA!
"Namja sialan! Dasar pup. Kenapa tidak diangkat juga!" bukan, Jaejoong bukan sedang mengumpat Junsu, tapi seseorang lain yang amat menyebalkan.
"Jung Yun—"
"Wae? Kau merindukanku? Sampai mengirimiku banyak pesan dan meneleponku berkali-kali. Padahal besok kan kita akan bertemu dan menyelesaikan urusan kita." Yunho turun dari mobilnya lalu menyeringai pada Jaejoong yang berdiri tak jauh darinya. Saat ini mereka sedang berada di area parkir sekolah. Sempat merinding ketika mendengar Yunho mengatakan 'urusan mereka yang belum selesai' tapi rasa takut itu hilang seketika saat Jaejoong ingat keberadaan Junsu saat ini lebih penting dari apapun.
"Aku hanya ingin menanyakan dimana Junsu berada!" tidak ada waktu lagi meladeni kemesuman dan kejahilan Yunho. Saat ini Jaejoong hanya ingin Junsu! Junsu yang pulang dengan selamat.
"Kim Junsu? Bukankah dia sudah dibebaskan oleh mereka bertiga ya?" Yunho nampak berpikir, trio Kyuline itu mengatakan kalau mereka sudah melepaskan Junsu sebelum ikut dengannya ke bandara mengantar Heechul.
"Tapi kenyataannya Junsu belum pulang kerumahnya!"
Percuma saja bertanya pada Yunho, wali kelas tidak berguna! Umpat Jaejoong dalam hati.
"Apa kau sudah berusaha mencarinya ke suatu tempat?" tanya Yunho. Tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kau meragukanku?! Tidak lihat aku sudah kusut begini?! Aku sudah berkeliling sekolah sejak tadi, bahkan belum sempat beristirahat sedangkan kau malah enak-enak mengantar Nyonya itu pergi!" semprot Jaejoong.
"Benar juga, kau cukup kucel. Setelah ini pulang kerumahku, yuk? Mumpung kedua orang tuaku sedang tidak ada. Kita bisa bersenang-senang~" Yunho kembali menyeringai mesum. Sebelah matanya berkedip nakal pada Jaejoong.
Kesabaran Jaejoong benar-benar sudah habis. Niatnya menghubungi Yunho adalah meminta bantuan untuk mencari Junsu sekaligus meminta pertanggungjawabannya sebagai wali kelas. Tapi bisa-bisanya beruang musang jelek itu bercanda disaat seperti ini?! sekarang ini sudah jam sembilan malam! Dan Junsu belum juga diketahui keberadaannya.
Bagaimana kalau Junsu di culik?! Bukan masalah penculikannya, tapi nanti Jaejoonglah yang akan kena imbasnya kalau sampai itu terjadi. Bersiap-siap di ceramahi dan diinterograsi oleh seluruh keluarga Kim. Jaejoong tidak mau hal itu terjadi padanya. Maka dari itu Jaejoong akan melakukan apapun untuk menemukan Junsu.
"Dasar wali kelas tidak berguna! Aku cari sendiri saja!" Jaejoong menghentakkan kakinya, berbalik kembali menuju area sekolah untuk mencari Junsu meski tadi ia sudah mengitari semua tempat untuk mencari namja imut itu dan hasilnya nihil. Tapi Jaejoong akan terus mencari Junsu sampai ketemu.
"Tunggu—" langkah Jaejoong terhenti ketika Yunho menarik lengannya. "Aku rasa aku tahu dia berada dimana,"
Sementara itu..
Junsu hampir menghabiskan isi kulkas yang ada di ruangan itu sambil sesekali mengganti channel televisi layar datar yang ada disana. Hampir melupakan kalau ia sedang terkunci dan tidak bisa pulang di ruang 'penyekapan' itu.
Disini terlalu nyaman sehingga ia melupakan segalanya. "Aku tunggu saja sampai Jaejoong datang dan menjemputku~" dengan percaya diri bahwa Jaejoong yang pastinya khawatir dengannya datang menjemput, Junsu kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil menonton acara lawak. Menunggu Jaejoong datang.
Oh Junsu, tidak tahukah di luar sana Jaejoong sedang berusaha mati-matian mencarimu?
Kembali pada Jaejoong dan Yunho.
"Aku tahu dia berada dimana tapi saat ini aku tidak memegang kuncinya, sepertinya kita harus menunggu trio Kyuline datang sambil melakukan sesuatu—" Yunho hampir saja mendaratkan bibirnya pada pipi Jaejoong kalau namja cantik itu tidak segera memukul wajah Yunho.
"TIDAK! Jangan sentuh aku satu senti pun!" pekik Jaejoong. Namja cantik itu duduk di atas kap mobil mahal Yunho sambil memeluk tubuhnya yang mulai bergetar karena kedinginan.
'Dia seperti induk ayam yang kehilangan anaknya, galak sekali.' Yunho yang biasanya dengan mudah menggoda Jaejoong dan membuatnya kesal kini sedang mati gaya.
Dalam suasana aneh ini ia dan Jaejoong harus menunggu sampai Changmin, Kibum dan Kyuhyun datang untuk membawakan kunci ruangan 'rahasia' mereka dimana mereka sepertinya tidak sengaja meninggalkan Junsu.
"Tapi pulang nanti mau kan mampir kerumahku sebentar?"
"TIDAK!"
Tuhan, kenapa aku harus mempunyai wali kelas seperti Jung Yunho, sih?
Huatchii!
"Meskipun mengkhawatirkan Junsu, seharusnya tadi tidak lupa memakai jaket, sudah tahu udara malam Korea itu selalu dingin. Dasar anak jaman sekarang keras kepala!" entah kenapa wajah Jaejoong perlahan berubah merah ketika Yunho melepaskan sweaternya dan meletakkannya pada punggung Jaejoong. Meskipun sejak pertama kali bertemu namja itu sudah menyebalkan, tapi ia tetap perhatian.
"Sebagai balas budi tetap harus kerumahku ya setelah ini." Yunho mengedipkan sebelah matanya genit. Meski sudah perhatian tapi namja itu tetap saja belum menyerah menggoda Jaejoong. Entah kenapa Jaejoong merasa semakin salah tingkah melihat sedikit sisi lain dari seorang Yunho.
"Tapi orang tuaku juga sedang menungguku pulang Seonsaengnim!"
"Yo hyung! sedang berdamai dengan si induk ayam ini?" tanya Changmin yang ternyata sudah berada disana tak lupa bersama Kyuhyun dan Kibum.
"Siapa yang induk ayam?!" kesal Jaejoong. Awas saja nanti akan ku kerjai lagi si tiang itu. Kata Jaejoong dalam hati.
"Loh Yun? Sedang apa disini?" tanya Yoochun yang ternyata juga ada disana. Entahlah ada urusan apa playboy itu di sekolah malam-malam.
'Aku merasa seperti sedang berada dalam sarang penyamun hueee!'
"Kim Jaejoong? jadi kalian sudah berdamai?" tanya Yoochun, heran melihat Jaejoong dan Yunho dalam situasi tidak sedang bertengkar. "Kalian sudah resmi jadian ya?" alis guru kedisiplinan pengganti itu naik turun tidak jelas.
"TIDAK! / IYA!"
"Geez, cepatlah urusi masalah kalian aku ingin pulang dan belajar!" protes Kibum yang lagi-lagi harus di ganggu kegiatan belajarnya. Padahal besok ia akan ada ujian di tempat les, tapi karena Yunho menghubunginya untuk datang terpaksa Kibum datang dengan ala kadarnya sambil membawa sebuah buku.
"Ini kuncinya hyung, buka saja sendiri ya~ aku dan Kyuhyun ada urusan mendadak." Changmin si ketua geng Kyuline nampak tanpa dosa setelah memberi kunci itu pergi begitu saja dari hadapan Yunho, Yoochun dan Jaejoong.
.
.
.
"KIM JUNSU! DIMANA KAU!"
BRAK!
"Zzz.. hoamnyamnyam.. kzzz.." namja imut itu bergelung nyaman di atas seperti seekor anak kucing yang tertidur karena kekenyangan. Raut wajah khawatir Jaejoong seketika berubah saat melihat sepupu yang seharian di cemaskannya terlihat baik-baik saja.
"Bisa-bisanya dia tertidur dengan pulas begitu, imut sekali bukan?" komentar Yoochun yang ikut menjemput Junsu.
"Mati kau Kim Junsu." gumam Yunho saat merasakan aura buruk disampingnya.
"AKU MENGKHAWATIRKANMU SEHARIAN DAN KAU ASYIK MAKAN DAN TIDUR DITEMPAT INI?!" Yoochun dan Yunho menutup telinganya saat suara menggelegar Jaejoong memenuhi ruangan tersebut. Junsu yang kaget langsung terbangun dari tidurnya dan menghampiri Jaejoong.
"Tapi.. Joongie aku.." Junsu menyesal di jemput oleh Jaejoong saat kondisinya sedang baik seperti ini. Perutnya kenyang dan dia baik-baik saja tanpa luka sedikitpun.
Junsu berusaha menghampiri Jaejoong untuk meminta maaf dan menanyakan bagaimana mungkin saat tadi siang mereka menjadi buruan Jung Yunho dan anak buahnya kini malah terlihat baik-baik saja mencarinya bersama-sama.
"PULANG SENDIRI SANA! AKU AKAN PULANG KERUMAH SI JUNG GILA INI, KATAKAN PADA EOMMAKU KALAU AKU MARAH PADAMU DAN TIDAK AKAN PULANG MALAM INI!" Jaejoong memalingkan wajahnya, memberi isyarat pada Yunho agar mengikutinya karena Jaejoong sudah dengan jelas mengatakan kalau ia akan pulang bersama Yunho.
"Tapi.. Joongie.. aku.. kenapa aku harus pulang dengan si mesum ini?!" teriak Junsu frustasi sambil menunjuk Yoochun yang ada disampingnya.
Yah, yang penting Junsu sudah di temukan dan pulang dengan utuh.
.
.
.
Dan lagi..
Kenapa aku bisa-bisanya mengatakan akan pulang kerumah si Jung Gila ini?!
"Ah, ternyata pada akhirnya kau memilih tempatku juga sebagai tempat pulang. Selamat datang dirumah kita, istriku."
"ISTRI MWOYA!"
'Sebaiknya aku pulang saja!' Jaejoong menatap Yunho tanpa bersuara, tapi sepertinya Yunho mengerti tentang tatapan itu.
"Tunggu—ini sudah sangat malam dan mobilku tadi kehabisan bensin jadi aku tidak bisa.. ya mengantarmu pulang." bohong Yunho. Kalau memang habis bensin kenapa juga mereka bisa sampai duluan sebelum bensin itu habis.
Hari ini benar-benar hari yang sangat amat melelahkan dan penuh ketidakjelasan. Jaejoong pun terpaksa mandi di kamar mandi milik Yunho, karena emosi tadi melihat Junsu baik-baik saja—sebenarnya Jaejoong juga merasa lega dengan keadaan Junsu—bisa-bisanya ia mengatakan kalau ia akan pulang bersama Yunho saja karena marah pada Junsu.
Inilah kebiasaan jelek Jaejoong, ketika emosi ia akan membuat keputusan yang salah dan sembarangan. Kenapa juga ia tidak sampai pulang hanya karena marah pada Junsu? Mereka kan tidak tinggal satu rumah seharusnya tidak masalah.
"Bahkan Eomma mengiyakan ketika aku mengatakan akan menginap diluar karena lelah seharian mencari Junsu. Apa jangan-jangan Eomma sudah berangkat ke luar kota sehingga tidak khawatir?" Jaejoong kembali merutuki nasibnya yang selalu berakhir aneh dan tidak jelas. "Kenapa aku di kelilingi orang-orang aneh sih?"
"Jaejoong-ah, aku tidak menemukan baju yang pas buatmu, jadi pakai bajuku saja ya." dan lagi si wali kelas pengganti yang aneh ini. Kenapa takdir mempermainkanku?
Yunho membawa Jaejoong ke apartemennya, mengingat mereka hanya berdua saja Jaejoong teringat sesuatu hal yang pernah Yunho katakan padanya dulu, "Aku tidak akan membuangnya karena kita akan menggunakannya nanti." Hii.. Jaejoong memeluk tubuhnya erat. Apa benar Yunho masih menyimpan—kondom—itu? Sangat takut apa yang akan terjadi selanjutnya dan apa yang akan Yunho lakukan padanya ketika nanti Jaejoong keluar dengan hanya memakai piyama Yunho yang kebesaran di tubuh kurusnya.
"Kau sengaja menggodaku Kim Jaejoong?" Yunho mendesis melihat Jaejoong keluar dari kamar mandinya hanya menggunakan setelan piyama bagian atasnya saja yang disiapkannya tadi.
Dengan wajah merah malu Jaejoong berusaha menarik-narik ujung piyama Yunho yang hanya bisa menutupi tubuhnya sampai sebatas lutut. "Apa kau gila?! Bajumu itu kebesaran tahu jadi yang muat hanya ini!" pekik Jaejoong.
Demi apapun Jaejoong tidak ada niat menggoda sedikitpun. Yang ada saat ini ia sedang waspada takut-takut Yunho kembali bertingkah mesum dan menyerangnya seperti yang sering terjadi di ruang kesehatan.
"Ya sudah. Cepat makan! Aku hanya bisa membuatkanmu itu!" Yunho menunjuk sepanci ramyun di atas meja makan dapur apartemennya. Entah kenapa namja itu bersikap ketus tidak seperti biasanya. Bahkan ia tidak memandang Jaejoong sedikitpun.
Masa bodoh~
.
.
.
Gila Chun!
Dia benar-benar seksi, aku tidak tahu apa aku akan tahan semalaman bersamanya!
Yoochun tersenyum membaca pesan yang diterimanya dari Yunho. Jangankan Yunho yang sedang kebingungan, ia pun sedang bingung bagaimana caranya memberi alasan pada orang tua Junsu karena ia membawa pulang Junsu pada malam hari seperti ini!
"Bilang saja Saengnim memberiku pelajaran tambahan, setelah itu jangan berbicara apapun lagi dan langsung pulang!" kata Junsu ketus.
"Tapi aku ini guru bagian kedisiplinan, pelajaran tambahan apa yang bisa kuberikan padamu Kim Junsu?" Yoochun tidak pernah sefrustasi ini. Padahal ia hanya mengantar seorang siswa pulang kerumahnya, tapi entah kenapa seperti sedang mengantar seorang kekasih kerumahnya dan bertemu calon mertua secara langsung.
"Orang tuaku akan percaya saja sih. Atau bisa jadi mereka sudah tidak ada dirumah."
"Tapi bukankah tadi mereka mencarimu?" tanya Yoochun.
"Jaejoong yang mencariku. Palingan dia disuruh Eommaku yang mendapat kabar dari salah satu pelayan kalau aku belum pulang. Sebenarnya tidak pulang pun tidak apa, sama seperti Jaejoong." kata Junsu santai. Membuat Yoochun tertegun.
Sebebas inikah anak jaman sekarang?
"Tetap saja aku ini gurumu! Aku akan mengantarmu sampai depan pintu rumahmu."
"Terserah."
Duh, kenapa Yoochun merasa ada yang berubah dengan namja imut ini?
.
.
.
"Orang tuamu sungguh tidak akan khawatir?" Yunho bertanya sekali lagi, walau bagaimanapun Yunho menggoda Jaejoong tapi ia juga masih punya rasa takut disangka telah membawa kabur anak orang dibawah umur pula.
Jaejoong mengangguk karena mulutnya penuh dengan ramyun.
"Aku jadi khawatir."
"Aku lebih khawatir pabbo beruang Saengnim ini akan memakanku."
"Tadinya sih rencanaku begitu—" Jaejoong langsung menjauh dari Yunho untuk menjaga jarak sambil membawa panci ramyun nya yang belum habis. Menatap Yunho dengan tatapan tajam yang mengancam. "Aku hanya bercanda."
Jaejoong bernafas lega tapi tidak merubah posisinya berada. Jarak aman bersama Jung Yunho adalah dua meter.
"Ehem! Biarpun aku sering menyerangmu dan melakukan hal yang tidak seharusnya di lakukan oleh seorang guru—maksudku aku masih menyukai yeoja cantik yang memiliki tubuh seksi, bukan papan penggilasan sepertimu!"
Nyuut~
Entah kenapa mendengar Yunho mengatakan hal itu membuat dada Jaejoong berdenyut. Apakah Jaejoong baru saja di hina?
Tapi sisi positifnya adalah, berarti godaan Yunho selama ini hanyalah bohongan. Hanya keisengan orang dewasa yang memiliki masa remaja kurang bahagia. Jaejoong akan tidur nyenyak malam ini meski bersama Yunho. Hahaha!
Yunho berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Jaejoong sendirian di dapur.
"Kim Jaejoong kau benar-benar tidak peka."
"Aku sungguh menyukaimu tapi kau malah menganggapku orang tidak penting. Tidakkah dia lihat kode kerasku selama ini?! Hah.. sepertinya aku sudah salah jatuh cinta."
Yunho meratapi dirinya sendiri melupakan Jaejoong yang ditinggalkannya sendirian.
"Jadi, aku akan tidur dimana?" tanya Jaejoong tanpa permisi membuka pintu kamar Yunho. Berjalan menuju namja dewasa yang sedang meratapi nasib karena sinyal cintanya diabaikan.
"Tidur saja disini, aku akan tidur diluar—maksudku di ruang tv." Yunho mengambil selimutnya juga satu bantal miliknya tanpa sedikitpun melihat ke arah Jaejoong.
Ada apa dengannya? Apa dia sedang marah?
Jaejoong tidak akan mempermasalahkan itu, mungkin saja Yunho sedang ada masalah lain. Dengan sikapnya yang begitu—tidak mesum dan jahil—bukankah bagus untuk Jaejoong?
BRUK~
Ahh..
Jaejoong menjatuhkan tubuhnya diatas kasur Yunho. Nyamannya seperti di rumah sendiri. Jaejoong menatap foto Yunho yang dibingkai cukup besar di sudut ruangan. Foto namja itu menggunakan sebuah setelan kemeja formal yang dibalut jas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya. Ia tidak tersenyum, hanya memandang angkuh ke arah kamera dengan tatapan matanya yang tajam.
"Dia benar-benar dokter sungguhan ya?" gumam Jaejoong. "Dokter magang sungguhan?"
Dan Jaejoong pun mulai terlelap tidur setelah berkhayal macam-macam tentang Yunho dan jas dokternya.
.
.
Jaejoong pun bermimpi.
"Pasien selanjutnya silahkan masuk." perawat berdahi lebar itu mempersilahkan Jaejoong yang merupakan pasien berikutnya untuk masuk ke dalam ruangan dokter umum Jung Yunho—Jaejoong menatap papan nama yang terletak di meja kerja dokter itu. Jaejoong tidak sedang sakit parah, hanya saja akhir-akhir ini perutnya sering sakit jadi ia memutuskan untuk memeriksakan diri pada dokter.
"Ah, Kim Jaejoong? apa keluhanmu?" Yunho mempersilahkan Jaejoong untuk duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan meja kerjanya. Jaejoong sempat tertegun saat melihat wajah dokter itu mirip dengan seseorang yang dikenalnya bahkan nama mereka berdua pun sama. Tapi seseorang itu berprofesi sebagai guru bukan dokter sungguhan.
"Perutku sering sakit, meski sudah minum obat tapi rasa sakitnya tidak hilang juga." Dokter Yunho menganggukan kepala mendengar penjelasan Jaejoong.
"Baiklah. Sekarang coba lepaskan pakaianmu, aku akan coba memeriksanya." titah dokter Yunho. Jaejoong yang awalnya ragu akhirnya memutuskan untuk menuruti apa yang dokter Yunho suruh. Setelah berhasil membuka kausnya, Yunho yang baru pertama kali melihat tubuh pasiennya begitu mulus tanpa cacat pun berusaha keras menelan ludahnya.
Fokus pada tugasnya meski setan yang berada di sebelah kirinya terus saja membisikkan kata-kata.
"Sekarang berbaringlah di sana," perintahnya lagi sambil menunjuk ranjang yang berada tak jauh dari meja kerjanya. Dan Jaejoong pun kembali menurutinya. Berbaring disana setengah telanjang dengan tenang tanpa rasa curiga sedikitpun.
Tangan Yunho mulai meletakkan stetoskopnya di perut rata Jaejoong. Rasa dingin saat stetoskop berbahan besi itu menempel pada kulitnya membuat Jaejoong berjengit. Sebisa mungkin menahan rasa gugupnya di hadapan dokter yang terkenal di kalangan yeoja karena ketampanannya.
"Ah, sepertinya kau perlu di suntik 'obat' langsung," kata Yunho.
"Obat? Obat apa? Apa sakitku parah?" Jaejoong mulai panik saat mendengar kata suntik, karena sebelumnya ia belum pernah di suntik satu kali pun.
Yunho melepaskan jas dokternya, meletakkannya sembarang lalu menggulung lengan kemejanya. Tidak ada tanda-tanda kalau ia akan mengambil sebuah obat. Jaejoong pun mulai panik ketika dokter itu malah mulai membuka ikat pinggang celana yang di kenakannya. Namja bermata musang itu mulai menghampiri Jaejoong dengan ekspresi yang sulit di tebak.
"Apa yang akan kau lakukan, dokter?" tanya Jaejoong. Yunho mulai naik ke atas ranjang yang di tempati oleh Jaejoong lalu berposisi di atas Jaejoong dengan celana yang sudah setengah terbuka menampilkan miliknya yang entah kenapa blur di pengelihatan Jaejoong. Seperti yang ada di film biru produksi Jepang.
"Aku akan memberikanmu suntikan obat." jawabnya santai. Ia menyeringai seram sambil terus merapatkan tubuhnya pada tubuh Jaejoong yang sebelumnya juga telah di buat telanjang tanpa disadari Jaejoong.
"Obat mwo—YA!" Jaejoong berteriak kencang saat sesuatu yang keras dan hangat memasuki tubuhnya dari bawahnya.
"ANDWAE!"
"APPO!"
"HENTIKAN!"
"DASAR PUP!"
"JUNG YUNHO SIALAN!"
.
.
.
"Jae, Jaejoong-ah! Bangunlah! Apa yang terjadi?" Yunho terlihat panik ketika melihat Jaejoong bergerak gelisah dalam tidurnya. Kedua tangannya menggenggam erat sprei kasurnya. Keningnya bercucuran keringat serta mulutnya yang terus memaki-maki Yunho.
"Kim Jaejoong!"
Sreet
Bruk!
Jaejoong bangun dari tidurnya kemudian langsung memundurkan tubuhnya ketika melihat sosok Yunho sudah berada di atas kasur tepat didepannya hingga tak sadar bahwa Jaejoong sendiri berada dalam posisi terlalu pinggir sehingga ia jatuh tak terkendali ke lantai.
"Hiks hiks.. Eomma aku sudah di perkosa olehnya huhuhu.."
Yunho hampir saja menjatuhkan rahangnya melihat tingkah aneh Jaejoong. Mulai dari mengingau tidak jelas, memaki-maki namanya, berteriak kencang, jatuh dari tempat tidur dengan tidak elit dan sekarang ia sedang menangis sambil bergumam kalau ia baru saja di perkosa oleh.. nya?
Oleh Yunho maksudnya?!
Yunho menengok ke seluruh ruangan kamarnya. Tidak ada siapapun selain mereka di apartemen Yunho. Jadi siapa yang sudah memperkosanya?! Sedangkan Yunho yang awalnya memang memiliki niat itu bahkan sudah melupakannya karena tidak tega melihat Jaejoong tidur dengan nyenyak.
"Hei, tenanglah. Tidak ada siapapun disini selain kita.." Yunho mencoba menghampiri Jaejoong untuk menenangkan remaja itu.
"Yunho sudah merusak masa depanku huhuhu.."
"Dia memperkosaku dengan kasar sampai aku kesakitan. Huhuhu.."
Yunho membatu di tempat sebelum sampai pada Jaejoong. Mencerna kata-kata Jaejoong barusan.
"AKU TIDAK MELAKUKAN APAPUN!" pekiknya. Tidak terima di tuduh melakukan hal itu padahal dia baru saja punya niat!
"Eh? Saengnim, sedang apa disini?" tanya Jaejoong dengan polosnya. Namja itu menghapus air matanya kemudian menatap Yunho yang berada di depannya.
Ijinkan Yunho untuk membenturkan kepalanya ke lantai sekarang juga.
"Aku hanya memastikan kau baik-baik saja." Yunho tersenyum. Tapi senyuman Yunho itu malah membuat Jaejoong ketakutan. Jaejoong tiba-tiba teringat dengan 'dokter Yunho' yang memperkosanya.
"Kau Yunho-saengnim si beruang pabbo itu kan?" Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan penuh selidik. Kemudian menatap foto Yunho yang tergantung di dinding. Telunjuknya menunjuk Yunho bergantian dengan fotonya.
"Iya, tentu saja ini aku!" Yunho mengikuti arah telunjuk Jaejoong yang mengarah pada fotonya. "Itu juga aku, tampan bukan?" kata Yunho dengan bangganya.
Jaejoong membulatkan matanya ketika melihat Yunho yang ada di depannya sama dengan dokter Yunho yang ada di dalam mimpinya.
"Ja-jadi huuuaaaa! Pemerkosa!" Jaejoong berlari dari kamar Yunho dengan wajah panik. Tubuhnya bergetar ketakutan.
"Hei, hei, tenanglah Jae.. katakan apa yang terjadi?" Yunho berhasil menangkap Jaejoong dan memeluk namja cantik itu untuk menenangkannya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak remaja labil ini?
'Tingkahnya seperti orang stress saja. Pasti efek kelelahan.'
'Apa sebaiknya aku mengantarnya pulang saja?' Yunho melirik jam dinding. Disana menunjukkan pukul tiga dini hari.
.
.
.
"Bwahaha! Aku tidak menyangka kau bisa bermimpi mesum seperti itu Jae." Yunho terus saja memegangi perutnya yang terasa kram akibat tawanya yang tak kunjung berhenti.
"Aku tidak mesum!"
"Tapi nyatanya kau baru saja bermimpi mesum hahaha!"
Jaejoong kembali meminum susu vanilla buatan Yunho. Sambil berdoa dalam hati agar namja itu tersedak dalam tawanya. Namja itu hanya tertawa dan tertawa setelah Jaejoong selesai menceritakan soal mimpinya tadi, mimpi yang membuatnya sempat bertingkah absurd.
"Tapi.. kau tidak sampai mengompol kan?" tanya Yunho mendadak serius. Biasanya kan seorang namja yang bermimpi hal seperti itu akan 'mengompol'. Jaejoong menegang, benar juga ia hampir lupa akan hal itu. Buru-buru disingkapkan piyama milik Yunho yang di kenakannya, melihat ke bagian bawah tubuhnya, memastikan kalau disana 'tidak basah' oleh 'sesuatu'.
Tidak sadarkan hal spontan itu membuat beruang kelaparan di hadapanmu gelisah, Jae? Paha mulusmu itu membuat jantungnya berdegup kencang memompa darahnya yang memanas ke seluruh tubuhnya hingga 'pusatnya'.
'sial hanya melihat sedikit saja sudah setengah bangun.' rutuk Yunho dalam hati.
"Aku tidak mengompol." Jaejoong menutupi kembali pahanya yang sempat terekspos setelah melihat tatapan lapar Yunho. "Tapi.. sekarang ini aku benar-benar ketakutan." kata Jaejoong jujur. Ini pertama kalinyaia bermimpi di perkosa seseorang tentu saja ia takut.
Sreek.
Set!
"Tenang saja, aku ada disini untuk menjagamu.." Yunho memeluk Jaejoong dengan erat seperti seorang appa yang sedang menenangkan anaknya yang cengeng. Mengusap-usap penuh kasih sayang puncak kepala Jaejoong murid 'kesayangannya' meski tangan nakalnya itu mulai merayap menuju pantat Jaejoong lalu mengelusnya pelan. Kesempatan dalam kesempitan.
"MESUM!"
PLAK!
"Yang penting tanganku ini sempat merasakannya. Hehe." memang si Pabbo ini tidak akan pernah menyerah.
"Bisa tolong hentikan sebentar saja sifat mesummu itu, Saeng?" pinta Jaejoong serius. "Aku benar-benar ketakutan."
Melihat kedua mata Jaejoong yang berkaca-kaca membuat Yunho akhirnya luluh.
"Baiklah. Aku akan sadar."
"Haruskah aku mengantarmu pulang?"
.
.
.
Bersambung
Pojokan Rumah Author :
Sepertinya harus naik rating ya? hihihi
Untuk yang tanya kenapa kok ada 'guru mesum' disini, padahal kenyataannya mustahil dan aneh sekali jika ada di dunia nyata. Jawabannya adalah, yah namanya juga fiksi, betul kan? Hehe /janganbunuhsayadenganflame/
Engga kok. Kan sudah jelas sekali kalau Yunho dan Yoochun itu cuma guru pengganti dan lagi sekolahan itu punya mertua Heechul—Eomma Yunho—yang artinya punya kakek Yunho. Yunho memang orang yang selalu seenaknya juga sih jadi dia begitu, hahaha. Di chapter ini udah jelas kan profesi Yunho yang sebenarnya? jadi wajarlah ya mereka berdua ga punya skill untuk menjadi guru yang baik dan benar. Hanya di beri tugas atau bisa di bilang hukuman? Yah, anggap saja begitu. Jangan bunuh saya dengan flame karena aku cinta damai '-')/~
Untuk ke depannya aku akan naikkan ratingnya jadi M karena udah banyak kata-kata yang menjurus ke arah dewasa. Dan semoga saja adegan dimana 'sesuatu yang akan di gunakan bersama oleh Jaejoong dan Yunho' terwujud di chapter selanjutnya.
Pasti masih ada yang belum mengerti alur cerita ini kan? Intinya, Yunho itu adalah guru yang dianggap Pabbo sama Jaejoong, padahal kenyataannya Jaejoong sendiri lah yang selalu saja bodoh tingkahnya dan selalu bikin Yunho gemes sendiri. Yah kira-kira seperti itu lah kalau kalian masih bingung hahaha. Aku juga bingung sendiri kok /plak
Yang penting, nikmati saja Yunjae moment yang bejibun ini ya~ hahaha
Betewe, ada yang mau request adegan sweet atau mesum untuk YUNJAE? Boleh kok hihi untuk menambah inspirasiku yang sempat memudar nih. Kalau ada silahkan ketik di kotak review~
Terima kasih untuk yang masih setia menunggu FF ini update hingga selesai nantinya.
Salam,
Nyangiku.
