Pabbo Beruang Seonsaengnim

Cast :

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Kim Junsu

Park Yoochun

Shim Changmin

Serta cast yang lainnya

Rated : T—M

Warning : Boys love, Yaoi, [Cerita ini murni hasil pemikiran Author dan tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun dan apapun.]

Disclaimer :

Seluruh pemain disini bukan milik Author. Mereka adalah milik diri mereka sendiri, Management serta Tuhan YME. Author hanya meminjam sebentar, ne!

.

.

_This story Original _

by

Nyangiku

.

.

''If you don't like, Don't read it"

Tidak suka? Jangan baca!

.

.

Bagi yang sudah menyempatkan untuk membaca—

.

.

Onegaishimasu

~Selamat membaca~

.

.

"Guys! aku baru mendapatkan fakta baru tentang Kim Jaejoong!" Changmin menyimpan bungkusan kripik kentang yang dibawanya diatas meja, kemudian ia memperlihatkan riwayat chatnya dengan salah seorang yang mengaku pernah satu sekolah dengan Jaejoong saat Junior High School—sebut saja namanya Donghae—nama asli bukan samaran.

"Apa itu?" Kyuhyun beranjak sebentar dari gamenya untuk membaca riwayat chat Changmin dengan Donghae. Ia terlihat serius membaca satu persatu chat tersebut sambil melihat beberapa foto bukti kalau Donghae memang pernah satu sekolah dengan Jaejoong bahkan berada dikelas yang sama selama tiga tahun berturut.

"Saat Junior High School dia itu orang yang sangat polos. Amat polos sampai apa itu ciuman dan arti terangsang pun dia tidak tahu. Daebak! Aku tidak percaya dibalik sikap angkuhnya namja itu kelewat polos. Bahkan sangat polos di umurnya." Changmin berpose seolah berpikir. Entah itu pikiran evil atau licik.

"Sungguh berbeda dengan kita saat seumuran dengannya, bahkan kalian berdua sudah pernah saling merangsang satu sama lain kan waktu itu." sindir Kibum. Jelas sekali ditujukan pada dua orang manusia evil didepannya. "Iya tapi itu kan Jaejoong yang dulu, manusia berubah setiap hari Min." komentar Kibum yang sejak awal tidak tertarik dengan urusan mengenai Jaejoong.

"Setidaknya bukankah ini berita bagus untuk Yunho-hyung? dia kan sedang terobsesi pada Kim Jaejoong, jadi tidak ada salahnya memberi informasi ini untuk mempermudah Yunho-hyung memberikan pelajaran pada Kim Jaejoong." Kyuhyun hanya mengangguk-anggukan kepalanya karena masih serius membaca riwayat chat tersebut, takut-takut Changmin berbuat macam-macam.

"Sumber ini kan sudah jelas, kalau begitu tinggal beritahu Yunho-hyung saja. Kalau ternyata Jaejoong masih polos seperti dulu bukankah itu bagus? Fufufu~" Kyuhyun akhirnya bersuara. Ia tersenyum manis—senyum evil yang dibalas senyuman serupa oleh Changmin.

"Kalian itu kelewat kejam tahu," Kibum kembali berkomentar. Sejak awal disini Kibum terlihat seperti tidak tertarik dengan urusan 'mengerjai Kim Jaejoong dan Kim Junsu' karena ia selalu terlihat serius dibandingkan dengan Changmin dan Kyuhyun. Tapi jika duo evil itu sudah beraksi entah kenapa otomatis Kibum pun ikut bergabung. Kalau memang sudah punya otak evil yang mendarah daging memang sulit ya.

.

.

"Hyung tertarik pada Jaejoong kan? Tertarik secara seksual, perasaan atau hanya iseng saja hyung?" tanya Changmin tiba-tiba. Membuat konsentrasi Yunho buyar ketika mendengar Changmin menyebutkan nama Jaejoong. Entah kenapa setiap mendengar nama Jaejoong membuat degupan jantungnya berdetak cepat memompa darah panas dengan deras ke seluruh tubuhnya.

"Haruskah hyung jujur pada adik hyung yang memiliki otak evil ini?"

Changmin mengangguk, kemudian Yunho pun mengisyaratkan Changmin untuk mendekatkan telinganya pada Yunho.

"Aku tertarik secara seksual padanya," bisik Yunho lirih. Dan pada saat itu seringai licik menghiasi wajah Changmin.

"Sudah kuduga informasi yang akan kuberikan ini benar-benar pas untukmu yang mesum itu hyung."

"YA! aku tidak mesum!"

Dan mereka pun mulai berdiskusi tentang rencana evil yang akan mereka lakukan pada duo Kim esok hari. Begitu serius melebihi seriusnya rapat dewan direksi di perusahaan sang Aboji.

.

.

"Dasar MESUM! Bukankah waktu itu kau pernah bilang akan sadar?!" Junsu berteriak keras didepan wajah Changmin. Karena namja itu lagi-lagi melecehkan Junsu dengan cara meremas bokongnya.

"Ani, kapan aku mengatakan itu?" Changmin mengorek lubang telinganya yang tidak gatal. "Yang jelas, urusan kita waktu itu belum selesai tahu!"

"Mwo? Ku kira itu sudah impas, karena kau kan sudah mengurungku di tempat pengap itu!" awalnya Junsu merasa keisengan geng Kyuline telah berakhir setelah insiden heboh beberapa hari yang lalu, ditambah satu minggu ini geng itu adem ayem saja tidak membuat masalah dengannya. Tapi entah kenapa hari ini mereka memulai kembali perang itu.

"Cih, impas? YA! Yoochun-hyung!" panggil Changmin pada Yoochun yang lagi lagi selalu tidak sengaja melintas didepan mereka. Guru kedisiplinan pengganti itu pun menghampiri tempat Changmin, Junsu, serta Kyuhyun berada.

"Wae? Ada apa?" tanya Yoochun. "YA! Jangan panggil aku hyung ketika di sekolah tiang!" Changmin meringis ketika penggaris kayu yang biasa Yoochun bawa mendarat dikepalanya saat sadar Changmin tidak memanggilnya dengan gelar Seonsaengnim.

"Katakan pada namja ini kalau urusan kita yang lalu belum selesai hyu—Saengnim!" Changmin berucap dengan keras. Takut penggaris kayu itu mendarat kedua kali dikepalanya yang berisi otak jeniusnya.

Yoochun mengerutkan alisnya, sebenarnya ia sudah mulai lupa mengenai masalah apa yang belum terselesaikan diantara mereka. Karena sebenarnya dari awal Yoochun hanya ikut-ikutan saja rencana gila Duo Jung dan geng Kyuline nya itu tanpa tahu apa yang direncanakan otak licik duo Jung itu. Tanpa tahu juga apa maksud dari kelakuan dua kakak beradik itu.

Kyuhyun berdecih, "Jangankan hyung, aku juga sudah lupa masalahnya." kata Kyuhyun seolah bisa membaca pikiran Yoochun.

"Nah kan? Diantara kita memang tidak ada masalah yang harus diselesaikan lagi, aku pergi!" Junsu menghempaskan tangannya yang sejak tadi terus saja dicengkram oleh Changmin. Menghentakkan kakinya sebelum pergi Junsu tersenyum puas merasa telah menang saat ini.

"Kalian melupakannya semudah itu?" Changmin menatap Kyuhyun dan Yoochun kesal.

.

.

"Mulai hari ini aku memutuskan si papan penggilasan itu adalah mainanku."

"Mwo?" ketiga namja berbeda umur itu—minus satu namja yang terlihat asyik dengan buku resep masakan—membulatkan matanya.

"Siswa yang tadi pagi kutabrak itu maksudmu?" tanya Yoochun meminta kejelasan.

Yunho mengangguk.

"Aish hyung! kenapa hyung malah memutuskan seenaknya," keluh Changmin.

"Kenapa? Memangnya aku tidak boleh balas dendam juga? Lihat apa yang dilakukan namja cantik itu padaku!" Yunho menunjuk luka kemerahan di lengan kirinya. Luka—pukulan dari tongkat keramat—yang di torehkan sang kakek atas kelalaian yang diperbuatnya dihari pertamanya diberi tugas.

"Aigo.. kapan kau mendapat luka itu?" tanya Yoochun.

"Saat jam istirahat, si kakek tua itu—maksudku haraboji ternyata melihat insiden tabrakan itu dari cctv dan langsung memukulku. Sial sekali bukan, padahal yang menyetir mobilnya kan bukan aku." Yunho menatap Yoochun sinis. "Dan ini juga!" Yunho menunjuk telinga kanannya yang memerah karena lima belas menit yang lalu sang Eomma datang jauh-jauh dari Gwangju dan menemuinya hanya untuk menjewer telinganya.

Namja berkening lebar itu hanya tertawa kaku. "Eomma datang setelah mendengar dari haraboji dan secara khusus memberikan jeweran mautnya. Dan lihat, apa yang kau dapat?" Yunho kembali menyindir Yoochun.

"Jadi hanya karena itu hyung akan mengganggunya?" tanya Kyuhyun.

Yunho tampak berpikir. "Iya tentu saja! karena aku tidak terima gara-gara papan penggilasan itu aku harus dihukum seperti anak kecil. Lalu tidak ada alasan lain."

"Bukankah harusnya hyung balas dendam padanya?" Kyuhyun menunjuk wajah Yoochun tanpa dosa. Namja bermarga Park itu kembali tertawa kaku.

"Bicara apa kau ini. Hahaha. Aku kan hanya disuruh menyetir saja dan tidak ada niat menabraknya kok." belanya. Kyuhyun memutar bola matanya malas. Percuma saja lah bicara pada namja mesum itu. "Salahkan mobil jelek itu." tambahnya.

Yunho mendelik ke arah Yoochun yang sudah menghina salah satu mobil koleksinya.

"Lalu apa alasan kita menjadikan Kim Junsu sasaran kejahilan Kyuline?" tanya Kibum yang akhirnya bersuara. Changmin menyeringai setan.

"Karena dia pantas untuk di bully."

"Kejam."

.

.

"Tidak ada alasan apapun."

"Mwo?" Jaejoong terkejut dengan jawaban Yunho. Namja cantik yang sudah hampir tiga bulan ini selalu diganggu dan dikerjai oleh Yunho lambat laun merasa lelah dengan urusannya dengan Yunho dan mencoba untuk bertanya alasan apa yang membuat Yunho selalu memanggil dan memanggil Jaejoong setiap saat.

Entah itu untuk mengumpulkan buku tugas siswa, mengabsen siswa yang akan melakukan tes kesehatan bulanan, membawakannya buku, membelikannya makan siang, ikut berbelanja stok obat dan yang lainnya.

"Tapi, kenapa Saengnim tidak cari saja siswa yang lain untuk dikerjai, maksudku kenapa harus aku?" kata Jaejoong hati-hati. Semenjak insiden ia menginap apartemen Yunho, Jaejoong jadi lebih berhati-hati dalam berkata-kata karena takut menambah masalahnya dengan Yunho. Lebih tepatnya Jaejoong masih takut akan 'diperkosa' oleh Yunho.

Tapi mendengar Yunho menjawab tidak memiliki alasan apapun untuk selalu membuat Jaejoong memiliki masalah dengannya, Jaejoong pun memutuskan untuk bersikap seperti awal. Tidak akan berhati-hati lagi dan tidak akan takut dengan ancaman Yunho. Kim Jaejoong harus berani.

"Baiklah. Aku pun tidak punya alasan lagi untuk bersikap hati-hati denganmu, Saengnim." Jaejoong bangkit dari kursinya, tugas yang diberikan Yunho padanya telah selesai dan Jaejoong bermaksud untuk kembali ke kelasnya. Satu jam pelajaran sampai jam istirahat ini Jaejoong terus saja berada di ruangan Yunho untuk memeriksa riwayat penyakit siswa angkatan kelasnya. Dan ini saat yang tepat untuk makan sebelum jam istirahat berakhir.

"Apa katamu?" tanya Yunho.

"Tidak ada."

BRAK!

Jaejoong menutup pintu ruangan Yunho dengan kasar sampai Yunho terkejut.

"Geez.. bocah labil ini benar-benar tidak peka, apakah dia lupa kalau dari awal aku sudah memberi kode keras kalau aku tertarik dengannya?"

"Sepertinya aku harus cari cara lain."

Yunho mengambil ponselnya dan mulai menekan nomor seseorang.

"Sekarang."

BRAK!

Pintu ruangan itu kali ini terbuka lagi lagi dengan keras.

"Apa lagi?! aku bahkan baru sampai di ujung lorong dan kau sudah menghubungiku lagi? aku bersekolah disini ingin belajar dengan tenang tahu!" segi empat siku-siku mulai muncul dipelipis Jaejoong.

"Aku rasa aku ingat sesuatu hal yang belum selesai diantara kita," Yunho bangkit dari meja kerjanya dan mulai berjalan menuju ke arah Jaejoong—tidak lebih tepatnya ke belakang Jaejoong.

"Apa?" Jaejoong terus saja menatap setiap gerak-gerik Yunho. Entah kenapa radar bahayanya mendeteksi bahwa akan terjadi sesuatu yang gawat setelah namja itu sampai didekat pintu.

"Masih ingat insiden ini?" Jaejoong menatap tempat sampah kecil yang berada didekat kaki Yunho.

Tempat sampah. Insiden. Sepertinya Jaejoong mengingat hal itu.

AH!

KLIK!

Terlambat. Satu-satunya pintu untuk keluar dan masuk ruangan kesehatan ini sudah dikunci oleh namja musang itu.

Jaejoong tersenyum kaku saat gerakan akan kaburnya tidak jadi dilakukan karena sudah terlambat.

"Aku berjanji akan mengganti semuanya Saengnim—KYAA!"

PRAANG!

"KIM JAEJOONG! KENAPA KAU SELALU SAJA MEMBUAT MASALAH?!

.

.

.

"Ku dengar Jaejoong mendapat hukuman lagi. Aku mendengar teriakan Yunho-saengnim begitu keras dari ruangannya."

"Hukuman apalagi kali ini? bukankah tadi ia baru saja dihukum karena ketahuan bengong di kelas?"

"Yaampun aku jadi semakin takut dengan dua guru pengganti itu. Kejamnya melebihi apapun!"

"Yah, asalkan kau tidak selalu membuat masalah seperti Jaejoong."

"Jaejoong dihukum? Kenapa?"

Junsu bergegas kembali ke kelasnya setelah mendengar gossip dari kumpulan remaja di lapangan sekolah yang tak sengaja dilewatinya setelah berhasil lolos dengan selamat dari geng Kyuline dan Yoochun di gedung ekstrakulikuler.

Hawa suram memenuhi kelas Jaejoong sampai membuat siswa-siswinya enggan untuk memasuki ruang kelas itu. Hanya ada satu orang disana, orang yang menyebabkan hawa suram itu muncul.

Kim Jaejoong duduk di kursinya sambil menundukkan kepalanya tanpa bergerak sedikitpun. Padahal waktu istirahat tinggal lima menit lagi dan seharusnya mereka sudah kembali didalam keras dengan tertib.

"Ceritakan padaku! Apa yang telah terjadi Joongie-ya!" paksa Junsu tanpa basa-basi.

Jaejoong tidak menjawab.

"Jelaskan sekarang—"

"YA! YA! cepat masuk! Kalian tidak lihat Saengnim sudah datang?" suara tenor Changmin sukses menggagalkan Junsu untuk mencecar Jaejoong dengan pertanyaan darinya. Junsu pun terpaksa harus kembali ke tempat duduknya karena si wali kelas pengganti itu sudah datang kembali padahal ini bukan jam pelajarannya.

"Semuanya lanjutkan sisa pelajaran tanpa guru ini dengan tenang, kecuali Kim Jaejoong. Ikut denganku sekarang." suara Yunho terdengar menyeramkan di telinga para siswa kelas itu. Jaejoong menggeser kursinya, masih dengan kepala yang tertunduk namja cantik itu berjalan meninggalkan kelasnya. Meninggalkan Junsu dengan sejuta kekhawatiran.

"Kali ini kau akan mati Kim Jaejoong." Changmin berucap tanpa dosa.

"YA! Tiang listrik! Apa yang baru saja kau ucapkan?! Siapa yang akan mati, hah?!" suara lumba-luma Junsu membuat seisi kelas memandang ke arahnya.

"Kim Jaejoongmu itu lah. Memang siapa lagi yang selalu membuat masalah dengan hyung—Saengnim?" jawab Changmin dengan santai.

"Memangnya masalah apa yang sudah dibuatnya sampai harus mati segala?! Paling juga si pabbo itu duluan yang memancingnya berbuat masalah." jawab Junsu tidak mau kalah.

"Oh jadi kau tidak tahu?"

"Tidak!" Junsu menggeleng. Meskipun belum tahu apa masalahnya tapi ia yakin kalau Jaejoong tidak pernah bersalah.

Dan perdebatan tiang listrik dan anak bebek pun di mulai. Semoga saja mereka tidak sampai di tegur oleh guru kelas sebelah karena membuat keributan di jam kosong tanpa guru.

.

.

.

"Kau tahu apa salahmu sekarang?" Yunho mencoba berbicara dengan tenang kali ini. Sisi anehnya yang selalu membawa perasaan suka pada Jaejoong dan sisi mesumnya harus di singkirkan dulu karena diruangan ini ada Yoochun dan ketua Komite sekolah yang tak lain adalah Heechul.

Heechul tampak tenang meminum tehnya dengan anggun. Dan Yoochun yang menatap Jaejoong serius.

Kenapa Heechul yang berada di ruangan ini dan bukan kepala sekolah? Jawabannya adalah..

"Aku tahu." akhirnya setelah sekian lama diam Jaejoong pun bersuara.

"Jadi apa yang harus kita lakukan padanya, Eommoni?" tanya Yoochun yang memang memegang bagian kedisiplinan siswa untuk sementara.

"Tidak ada."

"MWO?!" Yunho melepas jas dokternya dengan kasar dan mulai menghampiri sang Eomma yang duduk manis di sofa. "Bagaimana Eomma membebaskannya begitu saja sedangkan dia telah merusak lemari obatku Eomma!" Yunho memang seorang dokter, tapi berkat di tugaskan menjadi dokter sekolah yang harus mengurus segalanya sendiri Yunho jadi agak sensitif mengenai ruang kerjanya.

"Hentikan Yun!"

Yoochun mulai merasa tidak berguna disana. Bahkan pemilik ruangan yang mereka tempati—kepala sekolah—pun di usir Heechul. Geez.. pemilik yayasan memang diatas segalanya.

"Bukankah Eomma sudah bilang sebelumnya?" Heechul mulai tersenyum—menyeringai kecil. "Kim Jaejoong adalah kembaran Eomma. Jadi, jangan melakukan hal apapun padanya. Meskipun ia berbuat salah sekalipun. Harus Eomma ingatkan berapa kali dalam sehari agar kau mengerti, Jung Yunho?" bukan hanya Yunho yang terkejut disana, tapi juga Yoochun. Hampir saja mereka lupa akan hal itu. Padahal setiap hari Heechul selalu mengatakannya.

Jadi intinya Kim Jaejoong sejak saat itu kebal terhadap apapun di sekolah ini selama ada Heechul!

Mati kau Yunho.

"Ah, tentu saja aku ingat. Baiklah, kita bebaskan saja dia." Yunho tertawa kaku.

"Memang harusnya begitu. Bukankah kau akan membawanya sebagai calon menantu Eomma? Perlakukanlah dia dengan baik, nak."

Tapi biar bagaimana pun lemari kaca yang sudah pecah itu tidak bisa utuh kembali dengan membebaskan Jaejoong!

"Hukumanku tetap berjalan, Kim Jaejoong." aura suram yang sudah hilang total dari Jaejoong berkat Heechul kini mulai muncul kembali saat Yunho berbisik di telinga Jaejoong.

'APA SALAHKU?!' ratapnya dalam hati. Sambil mengingat apa yang terjadi sebenarnya beberapa menit yang lalu.

.

.

.

"Yunho-seonsaengnim ku mohon, kita bicarakan baik-baik dan aku akan ganti semua kerugian Changmin." Jaejoong memundurkan tubuhnya ketika Yunho mulai mendekatinya secara perlahan dengan tatapan musangnya yang menusuk mata.

Yunho tidak menjawab. Namja itu malah melepaskan jas dokternya lalu mulai membuka kancing kemejanya.

"Kau akan ku beri pelajaran agar selamanya menurut padaku!" oh tidak. Namja mesum itu mulai lagi.

Jaejoong sebisa mungkin menghindari ranjang karena jika sampai dia terjebak disana maka habislah riwayatnya disana. Jadi, namja cantik itu terus saja berjalan ke seluruh sudut ruangan kesehatan itu guna menghindari Yunho.

"Ku mohon jangan lakukan ini, aku janji akan menjadi anak baik dan tidak membantahmu lagi, Seonsaengnim.." mohon Jaejoong. Terlihat tidak tulus karena saat ini Jaejoong lebih ketakutan dari pada memelas minta di ampuni.

"Tidak akan terjadi apapun karena aku akan menggunakan ini," Yunho mengeluarkan kotak kondom yang pernah di belinya bersama Jaejoong beberapa waktu lalu. Mata Jaejoong semakin melotot melihat benda itu ada di tangan Yunho.

Jangan sampai terjadi. Tidak boleh terjadi!

"Tidak Seonsaengnim! Jangan! Seonsaengnim—KYAA!"

Karena terlalu heboh sendiri menghindari Yunho—sebenarnya Jaejoong sudah terperangkap dan tersudut di depan lemari kaca yang berisi obat-obatan. Di tambah Yunho yang sudah kesetanan menyerang Jaejoong. Hingga baku hantam pun tidak dapat di hindari—sebenarnya lebih tepatnya Jaejoong yang berusaha keras menghindari wajah Yunho yang mulai menginvasinya, bibir hatinya mencoba menyerang wajah Jaejoong.

Akibat dari gerakan Jaejoong yang membabi buta dan dorongan kasar dari Yunho pada akhirnya yang menjadi korban disini adalah lemari kaca yang berdiri diam disana.

Lemari ini pecah sengaja di dorong oleh Jaejoong refleks untuk menghindar dari Yunho.

Bukankah tenaga Jaejoong itu luar biasa?

.

.

.

Jam pelajaran telah berakhir. Sejak kembali dari ruang kepala sekolah dan melanjutkan kembali pelajaran Jaejoong hanya diam, meski berkali-kali Junsu mendesaknya dan bertanya alasan—masalah apalagi yang membuatnya harus berurusan dengan Yunho bahkan sampai Changmin bilang kalau Jaejoong akan mati karena masalah ini.

Jaejoong menarik nafasnya dengan berat. "Habis lah riwayatku kali ini. Kim Jaejoong yang tampan akan mati."

Junsu yang berjalan disebelah Jaejoong pun menghentikan langkahnya, namja imut itu mencengkram erat kedua bahu Jaejoong dan mengguncang-guncangkannya. "KATAKAN! KATAKAN PADAKU APA ALASANNYA?" Junsu sudah berada di level amat kesal karena sejak tadi Jaejoong terus mengacuhkannya.

"Kali ini aku akan habis Suie!" Jaejoong berteriak histeris.

"Kim Jaejoong bisakah kau mempercepat langkahmu yang lelet itu?" suara berat Yunho membuat Jaejoong merinding seketika. Junsu melotot melihat Jaejoong dibawa paksa oleh Changmin dan Kyuhyun entah kemana. Junsu yang akan mencegah 'adegan penculikan' itu keburu ditahan oleh Kibum yang sengaja menarik kerah baju Junsu sehingga namja imut itu tidak bisa bergerak.

"Sepertinya kau juga harus di pulangkan dengan selamat sentosa agar tidak berkata macam-macam," Yoochun menyeringai pada Junsu.

"Kembalikan Kim Jaejoongkuuuu!" ratap Junsu, dan kali ini namja itu yang di seret oleh Kibum ke dalam mobil Yoochun untuk diantarkan pulang kerumahnya dengan selamat dan utuh serta tidak mengatakan pada siapapun bahwa Jaejoong sudah 'diculik' oleh Yunho.

.

.

"Aku bersumpah akan menggantinya berapapun! Bahkan semua uangku akan kuberikan padamu asalkan jangan lakukan itu padaku.. Seonsangnim.." ini adalah pertama kalinya Jaejoong memohon pada seseorang bahkan berani mempertaruhkan harta yang dimilikinya yang mungkin tidak seberapa dengan harta yang Yunho miliki sebagai pewaris sekolah tempatnya belajar.

Sejak awal Jaejoong memang sudah salah berurusan dengan Yunho.

"Tentu saja kau harus menggantinya dengan lemari yang lebih bagus dari sebelumnya dan berisi obat-obatan mahal." jawab Yunho enteng.

"Jadi.. bisakah lepaskan aku sekarang? Aku akan segera memesan lemari dan isinya." mohon Jaejoong lagi. Saat ini tubuhnya tidak berdaya karena kedua tangannya di borgol oleh Yunho pada kaki meja jati di sampingnya. Singkatnya kini posisi Jaejoong adalah tangan terborgol, terduduk di lantai disalah satu kaki meja tersebut dengan Yunho yang duduk dengan angkuh di atas meja itu.

Jaejoong mengangkat wajahnya untuk kembali menatap Yunho dengan penuh kesungguhan.

"Aku akan melepaskanmu setelah aku puas bermain denganmu." Yunho menyeringai.

Mendengar kata 'bermain' membuat imajinasi liar Jaejoong berkembang. Dalam pikirannya mungkin Yunho akan langsung menyerangnya hingga habis. Menyekapnya diruangan ini berhari-hari hingga tidak memberinya makan. Padahal bukan itu bermain yang Yunho maksud meski ia pun ingin langsung bermain itu.

Yunho membuka koper yang tadi di bawa oleh orang suruhannya, Jaejoong tidak tahu apa isi koper itu dan kini Yunho masih sibuk dengan koper itu.

Dalam hati Jaejoong merutuki dirinya, bisa-bisanya terkurung di tempat yang sama dimana Junsu pernah di kurung, bedanya saat ini Jaejoong benar-benar seorang tawanan tidak seperti Junsu yang waktu itu terlihat bahagia saja meski terkurung dalam waktu yang lama disini.

"Obat apa yang harus kau minum ketika sakit kepala?" Jaejoong nampak kebingungan saat Yunho mendadak mengajukan pertanyaan itu.

"Jawab saja jangan banyak berpikir."

"Paracetamol.. mungkin?" jawab Jaejoong tidak yakin. Jaejoong tidak pernah peduli sedikitpun dengan obat yang diminumnya ketika sakit jadi pengetahuannya sangat minim.

"Berapa banyak dosis yang dianjurkan jika ingin meminum tablet vitamin A?"

"Err.. satu tablet satu hari," lagi lagi Jaejoong menjawab dengan tidak yakin. Jaejoong bukan seorang apoteker jadi wajar saja ia menjawabnya dengan asal.

Setelah memberikan dua pertanyaan itu hampir saja Yunho lupa mengatakan peraturan permainannya.

"Oh ya, aku hampir lupa. Untuk setiap pertanyaan yang aku ajukan dalam permainan ini, jika salah maka kau akan mendapatkan hukuman. Satu kali ciuman untuk satu kali salah menjawab. Jika kesalahan yang kau buat terlalu banyak maka.." yunho menunjuk sofa berukuran besar yang ada di tengah ruangan. Tanpa di beritahu pun Jaejoong sudah tahu jawabannya.

"Mwo? Kenapa seenaknya!"

"DIAM!"

Jaejoong pun berhenti protes. Memang seharusnya dia diam saja agar tidak semakin membuat masalah. Yang perlu dilakukan hanyalah menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Yunho dengan tepat.

"Jika ada siswa yang terluka saat olahraga, bagian kakinya memar dan mengeluarkan darah, pertolongan pertama apa yang harus dilakukan?"

"Bersihkan luka dengan alcohol, memberikannya antiseptic lalu menutupnya dengan plester." jawaban Jaejoong terdengar begitu sederhana. Bahkan semua orang pun tahu kalau jawaban Jaejoong itu amat biasa.

Semakin lama Jaejoong mulai muak dengan pertanyaan tidak masuk akal yang Yunho ajukan. Sejauh ini Yunho belum menciumnya sebagai hukuman jika Jaejoong menjawab salah, apakah mungkin Jaejoong menjawab semua pertanyaan dengan tepat?

"Sayang sekali diluar dugaan ternyata semua jawabanmu tepat. Rasanya semua yang kuajarkan padamu benar-benar sudah kau serap dengan sempurna."

Jaejoong awalnya tidak percaya mendengar hal itu. Tapi melihat ekspresi wajah kecewa Yunho—kecewa karena gagal menghukum Jaejoong—akhirnya ia pun mempercayainya. Bernafas lega karena lolos dari semua hukuman yang ada.

Ternyata tidak sia-sia setiap hari melakukan banyak hal yang di perintahkan guru pengganti itu.

"Tapi aku tidak akan pernah menyerah. Ini baru awal Kim." Yunho pun melepaskan borgol yang terpasang di kedua tangan Jaejoong. Tapi bukan berarti Jaejoong akan lolos begitu saja.

"Karena semua pelajaran tentang obat telah selesai, bagaimana kalau kita belajar anatomi tubuh?"

.

.

.

"Kali ini kau kembali lolos karena Eommaku. Tunggu kesempatan lainnya."

Jaejoong membatu didepan pintu mobil Yunho sampai mobil mewah itu benar-benar hilang dari pandangan Jaejoong. Namja cantik itu barusan diantar pulang oleh Yunho setelah dua jam lebih dikurung di tempat rahasia mereka—yang masih berada di area sekolah tempat Junsu tempo hari dikurung juga. Menjawab banyak pertanyaan konyol dan tidak penting yang namja itu ajukan pada Jaejoong.

Untung saja Nyonya Heechul menghubungi Yunho disaat yang tepat. Mungkin telat satu menit saja tubuh Jaejoong tadi sudah di 'acak-acak' oleh Yunho. Belajar anatomi tubuh, yang benar saja? Jaejoong bahkan tidak ada niatan sama sekali untuk menjadi dokter, untuk apa belajar anatomi tubuh segala?

Jangan-jangan Yunho mau membuat Jaejoong menjadi dokter seperti dirinya? Andwae! Cita-cita Jaejoong itu menjadi desaigner ternama bukan dokter.

.

.

Lima belas menit sebelumnya..

"Shit!" Yunho tampak mengumpat pada layar ponselnya yang tiba-tiba berdering dan mengagetkan mereka berdua diruangan sunyi dan senyap itu.

"Ne, Eomma. Baiklah aku pulang kerumah sekarang."

"Iya aku tidak akan pulang ke apartemen. Aku jalan sekarang setelah urusanku selesai, oke?"

"Araseo! Aku pulang sekarang!"

Yunho terlihat sebal dan kesal setelah pembicaraannya dengan sang Eomma selesai. Entahlah Jaejoong tidak tahu dan tidak peduli apa yang terjadi diantara Ibu dan anak tersebut.

"Kau pulang sekarang!" tunjuk Yunho pada Jaejoong.

Sepanjang perjalanan pulang mengantar Jaejoong terlebih dahulu—meski Yunho menghukum Jaejoong tapi ia tetap memiliki tanggungjawab untuk memastikan siswanya pulang dengan aman sampai tujuan—Yunho terus saja diam. Tidak mengeluarkan satu kata pun. Otomatis Jaejoong pun ikut diam karena tidak ada yang perlu dibicarakan dengan Yunho.

Namja itu memang Pabbo.

.

.

Satu yang Jaejoong lupakan. JUNSU!

Bagaimana nasib namja itu ya? apa dia pulang kerumah dengan selamat? Apa dia menunggu Jaejoong pulang?

Jaejoong sempat mengecek ponselnya sebentar da nada enam puluh panggilan masuk dari Junsu tapi karena ponselnya dalam mode getar jadi Jejoong tidk menyadari panggilan itu. Hanya ada satu panggilan dari Eommanya dan satu pesan yang mengatakan kalau jangan pulang terlalu malam—tipe Eomma yang membebaskan anaknya bergaul diluar tanpa rasa cemas meski sang anak telah pulang dua jam lebih dari jam pulang sekolah normal.

Jaejoong yang panik soal Junsu langsung berlari menuju rumah Junsu yang terpaut dua rumah dari rumahnya. Hari sudah gelap Jaejoong takut Junsu tersesat di jalan—hei emang Junsu buta arah. Sebelum masuk kerumahnya sendiri Jaejoong harus memastikan kalau Junsu benar-benar sudah pulang dengan selamat.

"Kim Junsuieeeee dimana kau?" teriak Jaejoong dalam rumah mewah yang kosong tak berpenghuni itu. Sebenarnya ada beberapa pelayan yang tinggal disana.

Seorang pelayan bergegas menghampiri Jaejoong, "Tuan Junsu sudah tertidur dengan nyenyak setelah makan malam tadi," katanya memberitahu Jaejoong. syukurlah, Jaejoong pun kini terlihat lega.

Mungkin saja Junsu kelelahan menunggunya sehingga ia ketiduran. Biarlah dia beristirahat dengan tenang. Syukurlah. Jaejoong tidak ada hentinya menghembuskan nafas lega. Dan begitulah Jaejoong, bisa-bisanya dia masih mengkhawatirkan Junsu disaat dirinya sendiri pun sedang berhadapan dengan masalah besar yang belum terselesaikan.

.

.

"Hei, Jaejoong-ah yakin nih mau coba?" Choi Seunghyun kembali bertanya pada Jaejoong untuk yang ketiga kalinya dan Jaejoong hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Tentu saja! aku benar-benar stress dengan semua tugas konyol disekolahku, kau bilang ini bisa membuat kita rileks kan?" tanya Jaejoong lagi untuk memastikan apa yang Seunghyun tawarkan benar-benar akan membuat Jaejoong sedikit kehilangan stresnya tentang sekolah yang ia jalani. Belum lagi hukuman-hukuman tidak jelas yang selalu Yunho berikan ditambah dengan gangguan yang selalu diperbuat trio Kyuline.

Seunghyun mengangguk. "Aku hanya mengingatkan loh, sekali lagi, kalian masih dibawah umur loh." meski ini adalah permintaan Jaejoong yang tidak bisa ditolaknya, setidaknya Seunghyun sudah berusaha untuk memperingatkan kedua namja itu. Bukan benar-benar berniat menjerumuskan dua namja cantik dan masih polos itu.

"Tenang saja tempat ini aman kok, ayo cepat kita coba! Aku sudah tidak sabar!" Junsu kembali mendesak Seunghyun agar memulai 'hal itu'.

"Kalau sampai ketahuan aku tidak tanggungjawab ya," namja yang sudah duduk di bangku universitas itu pun memberikan bungkusan kotak bersampul coklat yang dibawanya. Tidak ada transaksi lain diantara mereka. Seunghyun hanya bertindak sebagai perantara saja karena sekali lagi, Junsu dan Jaejoong masih dibawah umur sehingga belum leluasa untuk membeli 'barang itu'.

Junsu buru-buru membuka bungkusan yang ternyata berisi rokok. Lima belas batang rokok utuh tanpa cacat. Sedangkan Jaejoong sudah menyiapkan pemantik api bermerk yang dibelinya secara diam-diam melalui online. Baru juga menempelkan rokok yang terasa manis samar dibibir plumnya, aura tidak enak mendadak menyebar di sekitar mereka.

Junsu dan Jaejoong sangat hafal aura tidak menyenangkan ini.

"Kim Jaejoong… Sudah berani melanggar peraturan sekolah, eoh?" dan benar saja, baru juga menyalakan korek api Junsu dan Jaejoong sudah kepergok oleh Yunho yang entah mendapat informasi darimana kini berada di tempat Junsu dan Jaejoong berada. Berdiri didepan mereka dengan ekspresi tenang yang mengancam.

"Wah wah ada Kim Junsu juga.. kita mendapat dua pelanggar sekaligus."

"Mati kita!" Junsu memekik. Ingin kabur tapi kakinya sudah ditahan oleh penggaris milik Yoochun yang ternyata juga ada disana.

.

.

.

"Dasar bocah ingusan, tidak tahu umur. Mau coba-coba menghisap ini? Aigo.." Yunho menyalakan rokok milik Jaejoong menghisapnya sebentar lalu menghembuskan asapnya tepat diwajah Jaejoong yang kini berada diposisi yang sama saat ia di hukum karena memecahkan lemari obat Yunho. Masalah lemari obat itu saja sebenarnya belum selesai—belum Yunho selesaikan karena ia sibuk berurusan dengan Eommanya kemarin. Dan kini Jaejoong ketahuan dan masalahnya pun bertambah.

"Cih." Jaejoong hanya berdecih. Bukan menyesali, tapi merasa kesal karena Yunho benar-benar seperti mengawasi Jaejoong selama dua puluh empat jam. Bagaimana tidak, darimana namja itu tahu tempat mereka berada tadi?

Padahal itu kan tempat rahasia.

Toko baju milik Seunghyun lebih tepatnya dan mereka bertemu di kantor Seunghyun malah. Kantor yang sangat pribadi.

"Berani mendelik padaku?" tanya Yunho saat melihat Jaejoong hanya menatapnya dengan tajam seakan tidak ada rasa takut disana. Padahal pada waktu yang sama beberapa waktu yang lalu namja itu begitu ketakutan atas ancaman Yunho.

"Aku hanya sedang berpikir kenapa kau itu selalu saja menggangguku!" teriak Jaejoong.

"DIAM! Daripada menghisap itu lebih baik hisap ini sampai habis!" Yunho mencengkram kedua pipi Jaejoong. Memasukkan dengan paksa lollipop berukuran sedang yang pas di mulut kecilnya.

Jaejoong melotot. Yunho terus memegangi lolipop itu sampai Jaejoong tidak bisa berbicara.

"Hisap sampai habis. Manis bukan? Seperti rasa rokok ini." Yunho kembali menghisap rokok yang tadi dibakarnya. Dan menghembuskan lagi asapnya didepan wajah Jaejoong.

Jaejoong hampir saja ingin menangis. Bukan menyesali karena ketahuan Yunho, tapi ia menangis karena mulutnya penuh dengan lolipop dan dia tidak bisa bergerak sama sekali, jadi terpaksa ia harus menuruti apa yang Yunho suruh, menjilat lolipop manis itu sampai air liurnya menetes serta lidah dan bibirnya yang mulai sariawan.

.

.

.

"Satu kali lagi aku memergokimu memakai ini, ku beri surat peringatan pertama." Jaejoong hanya membuang mukanya dengan kesal. Tidak peduli dengan omelan Yunho yang dilakukan sebagai formalitas. Agar semua guru yang berkumpul di ruang guru melihat betapa tegasnya Yunho—padahal kenyataannya namja itu amat mengesalkan—sama dengan Jaejoong, Junsu pun tak kalah cuek mendengar omelan Yunho.

Meski Yunho juga adalah wali kelasnya tapi satu keuntungan bahwa Junsu tidak mendapatkan hukuman dari Yunho melainkan dari Yoochun. Luarnya saja namja itu sok tegas, apalagi gelarnya adalah guru kedisiplinan tapi padahal jika didepan Junsu namja itu tidak bisa berkutik. Mungkin sudah terlanjur terpesona dengan bokong seksi Junsu.

"Apanya yang surat peringatan? Bahkan dia sudah menghukumku dengan konyol lagi dasar pabbo!" Jaejoong berteriak gemas sambil membuat gerakan ingin meninju. "Ouch!" Jaejoong mengaduh. Lupa luka sariawan di mulutnya masih ada dan benar-benar sangat perih.

"Aku memang tidak dihukum oleh si mesum itu, tapi aku muak dengan mulutnya yang tidak berhenti merayuku. Membuatku risih!" Junsu tak kalah mengeluh.

"Dasar Pabbo Saengnim!" teriak mereka berdua dengan kompak. Untung saja mereka sudah tidak berada di sekolah lagi, melainkan di kamar Jaejoong. lagi pula, mana berani mereka melakukan itu disekolah? Bisa-bisa mereka kena hukuman lagi.

"Nasibmu sedikit lebih mujur dariku, Suie.." Jaejoong memeluk boneka gajahnya sambil cemberut dengan imut. Poninya yang mulai panjang di ikatnya ke atas sembarang. "Sepertinya si jidat itu menyukaimu, sudah terima saja jadi kan kau akan selalu bebas dari segala macam razia disekolah yang selalu diadakannya."

Junsu menatap Jaejoong dengan malas, "Yang benar saja? dia itu mesum. Amit-amit!"

"Mereka berdua lebih tepatnya. Aku pikir mustahil ada guru mesum didunia ini, yah minimal hanya ada di siaran berita kriminal—" Jaejoong menjeda kalimatnya untuk menghembuskan nafasnya sejenak. "Pada kenyataannya kita sedang mengalami hal itu. Sungguh sial nasib masa remaja kita."

Junsu tidak menjawab hanya menganggukan kepalanya berkali-kali sebagai tanda setuju.

.

.

.

Pagi itu kediaman Kim sedang dipenuhi dengan suara teriakan dari dua orang yang begitu mirip satu sama lain. Sang nyonya besar yang memutuskan berdiam diri dirumah setelah satu minggu berlibur diluar negeri dan sang anak bungsu yang sedang sulit dibangunkan sejak subuh tadi.

Mereka terus saja berteriak melalui interkom yang disediakan dibeberapa sudut rumah luas mereka, termasuk kamar masing-masing. Karena jika tidak melakukan interkom sampai suara habispun tidak akan terdengar jika memanggil seseorang.

"Joongie, cepat bangun! Eomma sedang ada dirumah kenapa kau malah jadi malas sekolah begini?!" teriak nyonya besar itu sambil menata meja makan.

"Aniya, Eomma. Aku tidak ingin sekolah hari ini. Libur satu hari saja tidak masalah kan?"

"Nanti Eomma ditegur wali kelasmu bagaimana? Bukankah itu sangat tidak elit?"

"CK! bilang saja aku sedang sakit Eomma! Masa begitu saja sulit sih?"

"Tapi masalahnya.."

"Apa lagi Eomma?! Ish Eomma tidak pengertian sekali padaku!" Jaejoong mulai kesal dengan Eommanya.

"Tapi masalahnya wali kelasmu sudah ada disini sejak tadi subuh!"

"MWO?!"

Jaejoong yang sedang merokok diam-diam dikamarnya sejak pagi hari buta tadi langsung panik ketika mendengar nama wali kelasnya. Meskipun masih dikamarnya sendiri tapi Jaejoong tahu jika sang Eomma selalu masuk kamarnya tanpa ijin. Bagaimana kalau bau asap rokok ini tercium oleh Yunho dan Eommanya?!

Masih dalam keadaan panik sambil memutar otak akhirnya Jaejoong memutuskan untuk menyemprot ruangan kamarnya yang luas itu menggunakan parfum mahalnya. Tak lupa menyemprot AC kamarnya yang tidak pernah mati. Biar saja Jaejoong mengorbankan parfum mahalnya itu, yang bahkan baru dipakai Jaejoong satu kali. Yang penting bisa menyamarkan bau rokok itu.

Tak lupa mengamankan bungkus rokok sisanya dengan menyembunyikannya di brankas pribadinya.

Dan sekarang ia bersembunyi dikamar mandi untuk berpura-pura sedang bersiap-siap akan pergi sekolah.

"Apa tidak apa-apa aku menunggunya disini, Nyonya?" tanya Yunho pada Nyonya Kim. Yeoja cantik itu hanya terkekeh.

"Kau itu Seonsaengnim anakku, masa aku tidak percaya padamu?" kata wanita karir itu sambil mendorong Yunho masuk ke dalam kamar Jaejoong yang luas dan harum menyengat parfum yang tadi Jaejoong semprotkan.

"Aigo, apa anak itu baru menumpahkan parfumnya? Kenapa malah jadi bau begini," Nyonya Kim menutup hidungnya, tapi Yunho berusaha menahan untuk tidak melakukan hal yang sama. Bau parfum ini pernah di ciumnya satu kali dan ia sangat mengingat baunya.

"Kalau begitu aku tinggal saja dibawah untuk menyiapkan sarapan, Seonsaengnim silahkan melihat-lihat saja sambil menunggu Jaejoong selesai mandi." dan Nyonya sosialita itu pun pergi meninggalkan Yunho sendirian—dan Jaejoong yang sedang mengurung diri dikamar mandi.

"Mau disana sampai seratus tahun pun aku akan tetap menunggumu. Keluarlah sekarang juga!" titah Yunho tegas didepan pintu kamar mandi Jaejoong.

Jaejoong hanya berdecih dibalik pintu kamar mandi. Tidak ingin kembali merasakan hukuman menghisap lolipop, Jaejoong pun menggosok giginya dan berkumur cukup lama. Sekalian mengulur waktu agar mereka terlambat ke sekolah dan Yunho pun menjadi malu karena sebagai guru ikut terlambat masuk kelas.

Aigo.. liciknya otakmu Jae.

"Kau mau disana sampai kulitmu keriput Kim?" Yunho tidak merasa bosan menunggu, hanya saja sedikit otak mesumnya sedang berimajinasi menerka-nerka Jaejoong keluar dari sana dengan penampilan seperti apa.

Dan Jaejoong pun keluar dengan setelan piyama berwarna biru motif beruang. Sepertinya namja itu benar-benar tidak berniat ke sekolah sama sekali.

"Oh, jadi ini siswa yang akan membolos hari ini?" tanya Yunho sambil memandang Jaejoong tajam. Jaejoong acuh menghiraukan pertanyaan Yunho barusan.

Jaejoong menekan beberapa kali ponselnya, tepat didepan wajah namja musang itu kemudian menunjukkannya layar berisi chat semalam di grup kelasnya yang mengatakan bahwa sekolah libur satu hari karena adanya rapat komite. Namja bermata musang itu sendiri yang memberi kabar itu di grup chat.

"Sekolah libur hari ini kan? Kau mau menipuku lagi?" sinis Jaejoong.

Yunho melipat kedua tangannya angkuh. Memposisikan dirinya duduk diatas kasur empuk Jaejoong yang begitu rapi seperti tidak pernah ditiduri sebelumnya.

"Omo, kapan aku menipu? Hari ini sekolah memang libur, tapi tidak untukmu." katanya santai.

"Mwo?"

"Aku akan memberikanmu pelajaran privat, sayang. Tidakkah tempat ini benar-benar cocok?" senyum Yunho terlihat mulai membahayakan bagi Jaejoong. sebelum hal tidak menyenangkan terjadi Jaejoong pun berlari menuju lemari pakaiannya yang luas kemudian menutup pintunya dengan keras.

"Sialan. Licik. Mesum." umpat Jaejoong dalam hati. Kenapa satu hari saja tidak bisa lepas dari namja itu?

Bahkan kini ia terperangkap di kamarnya sendiri. Aigo.. apakah ini tanda-tanda akhir hidupnya?

Jaejoong menempelkan telinganya pada daun pintu, menahan nafasnya memastikan Yunho tidak bertindak ekstrim. Namja cantik itu menunggu beberapa detik hingga jantungnya yang berdetak cepat karena panik kembali normal.

"Joongie cepat turun ajak Seonsaengnim sarapan," Terdengar suara Eommanya dari interkom memberitahu bahwa sarapan sudah siap.

'Semoga si bodoh itu cepat keluar dan sarapan duluan dengan Eomma.' harap Jaejoong dalam hati.

"Ah ya! hampir lupa, Eomma harus ke kantor Appa sekarang. Eomma pamit, oke? Pokoknya kalian harus makan sebelum pergi."

SIAL!

"Jaejoong sedang berganti baju, kami akan segera turun Nyonya terima kasih sudah membuatkan sarapan untukku juga. Hati-hati di jalan." dan suara Yunho yang menjawabnya dengan sok akrab seolah-olah ia dan Eomma Jaejoong sudah kenal lama.

"Aigo.. Seonsaengnim bisa saja. Baiklah aku titip anak nakal itu ya.."

DOUBLE SIAL.

Jaejoong pun pasrah, Eomma nya baru saja menitipkannya pada.. Yunho? Tubuh Jaejoong merosot ke lantai. Sekarang apa yang harus dilakukan?

.

.

"Ini sudah dua jam loh, kau masih betah disana Kim Jaejoong?" Yunho merebahkan tubuhnya diatas kasur Jaejoong sambil bermain game diponselnya.

Tidak ada jawaban dari Jaejoong.

"Biar bagaimanapun aku akan menunggumu sampai kapanpun loh."

Jaejoong lagi lagi hanya bisa berdecih. Baterai ponselnya sudah mulai habis karena sejak tadi dipakainya chatting dengan Junsu guna mengusir rasa bosannya menunggu Yunho pergi dari kamarnya.

Haruskah ia menyerah?

Jaejoong mulai menyusuri lemari bajunya yang luas, dan memilih beberapa baju yang akan dipakainya. Benar, Jaejoong tidak bisa terus bersembunyi seperti ini. Ia harus menghadapi Yunho, meski penuh dengan resiko.

Pintu lemari baju Jaejoong pun terbuka perlahan, pertama kepala Jaejoong menyembul sedikit dari sana. Matanya menangkap sosok Yunho yang ternyata tertidur dengan ponsel yang berada di atas wajahnya. Jaejoong tertawa kecil melihat betapa polosnya namja menyebalkan itu ketika sedang tertidur, dan itu pertama kalinya Jaejoong tidak merasa keselamatannya terancam.

Semakin mendekat, Jaejoong bisa melihat semakin jelas gaya tidur dengan mulut terbuka namja bermata musang itu. Rasanya Jaejoong jadi ingin memasukkan sesuatu ke sana, seperti garam ataupun sambal untuk membalas dendamnya.

"Ah, akhirnya kau menyerah juga.." Jaejoong tersentak mendengar Yunho berbicara dalam tidurnya. Ia pun kembali siaga.

"Ti-tidak! Aku hanya lapar saja!" elak Jaejoong. tidak mengelak tapi sungguhan lapar kok. Dan mata Yunho pun terbuka sepenuhnya, namja itu terbangun dari tidurnya.

"Aku sampai ketiduran menunggumu tahu! Dasar murid durhaka!"

Jaejoong mengacuhkan keluhan Yunho, lagi pula siapa yang menyuruhnya datang pagi buta hanya untuk menemuinya. Guru aneh. Dan mungkin hanya dia guru di dunia ini yang memiliki kelakuan absurd seperti Yunho.

"Aku akan pergi. Kau juga sebaiknya pulang saja, urusi tugasmu sebagai guru!" usir Jaejoong.

"Tentu saja kita akan pergi ke suatu tempat!" Belum sempat Jaejoong bergerak untuk meninggalkan Yunho, namja itu duluan menarik lengan Jaejoong dan Jaejoong menepis tangan Yunho.

"Aku akan pergi bersama Junsu!" tolak Jaejoong mentah-mentah.

"Junsu pergi bersama Yoochun,"

"Darimana kau tahu? Dia kan sudah janjian denganku!"

Yunho tidak menjawab. Ia memainkan ponselnya kemudian mengarahkannya pada Jaejoong setelah sambungan video callnya pada Yoochun muncul. Dan benar, disana ada Yoochun bersama Junsu yang sedang memainkan ponselnya. Jaejoong yang melihat itu langsung bereaksi, tanpa aba-aba Jaejoong pun berteriak dengan keras.

"YA! PABBO KIM JUNSU! BUKANKAH KITA SUDAH JANJI UNTUK PERGI?!" Yunho sampai harus menutup sebelah telinganya menahan pekikan Jaejoong. Junsu yang belum sadar bahwa Yoochun sedang melakukan video call dengan Yunho pun terkesiap saat tiba-tiba mendengar suara Jaejoong. Disana, dilayar ponsel Yoochun ada Jaejoong dengan tanduk dikepalanya alias Jaejoong sedang marah.

"Jj-j-joongie? A-aku.. aku.. aku dipaksa manusia jelek ini untuk pergi. Barusan dia menjemput paksa, kumohon jangan marah padaku." mohon Junsu. Tidak terlihat kalau ia dijemput paksa kalau diingat dari awal video call dimulai Junsu anteng memainkan ponselnya. Padahal kenyataannya Junsu sedang mengetik chat untuk Jaejoong, ia khawatir karena Jaejoong belum membalas chat sebelumnya. Karena biasanya kalau chat dengan Jaejoong itu selalu fast respon.

"Terserah kau saja. Lakukan apapun sesukamu, sekalian saja kau tidur dengan namja mesum itu!" Jaejoong sedang emosi sehingga tidak bisa mengontrol perkataannya.

"Nah, dengarkan Suie kita sudah direstui Jaejoong, jadi mari kita lakukan sekarang," terlihat Yoochun berusaha menyerang Junsu dan Junsu yang terlihat menolak dengan keras tapi sekarang Jaejoong sudah bersumpah tidak akan peduli lagi pada urusan Junsu dengan Guru kedisiplinan pengganti itu. Kalau bisa pacaran saja sekalian sana.

.

.

.

~Masih Bersambung~

.

.

Pojokan Rumah Nyangiku :

Halo… ada yang masih menanti FF ini?

Ada yang seneng Yunho & Changmin bikin IG? Adayang tau arti angka 2154 di IG nya Yunho? Hahaha

Ada yang kesel si Ularboa makin hari makin ngeselin? Kalau ada berarti kita satu hati! (duh kenapa curhat)

Aku gatau ini jalan ceritanya masih masuk akal atau engga ya huhuhu.. sempet lupa konsepnya gara-gara dapet inspirasi lain. Tapi untungnya nemu konsep aslinya yang sudah berdebu jadi masih terbayanglah endingnya bakal gimana hehe..

Huhuhu.. kenapa sider begitu banyak tapi yang review sedikit yaaa? Kok aku ingin rasanya pindah lapak segera. Bukan haus review sih, cuma suka semangat aja kalau ada review meski sedikit hehe, manusiawi lah yaa.. tapi itu sih terserah kalian yang baca mau kasih jejak atau engga. Mau baca doang juga tak apa, atau sekedar mampir buat kepoin bahkan buat ngehina FF yg tidak masuk akal ini (mungkin) juga tak apa , mau FAV atau follow mangga silahkan boleh banget~ tidak perlu ijin silahkan lakukan apa yang kalian sukai sebelum dilarang hehe..

Aku senang dan aku tidak marah pada kalian semua, karena Giku kalem dan cinta damai dan sudah terbiasa dengan hujatan.

Pokoknya makasih banyak buat yang masih menanti FF ini dan FFku yang lain yang belum Update. Semoga disegerakan update hohoho..

Dan sepertinya aku bakal bikin FF baru dengan genre yang beda dari sebelum-sebelumnya alias.. Horrorrrrrrrr..

Ada yang penasaran? Hihihi

Salam,

Nyangiku.