Iris coklat karamel yang sudah lama tertutup itu pada akhirnya terbuka. Hal pertama yang menyapanya adalah kegelapan. Belum sempat mata bulat boneka itu memancarkan keindahannya, kedua manik seindah mutiara itu basah seketika. Tetes-tetes air mata berebut keluar dari sana.
Cho Kyuhyun pernah punya satu impian saat masa kecilnya. Ialah mempunyai keluarga yang bahagia dan menyayanginya. Kini ia mendapatkannya, namun kebahagiaan yang ia harapkan itu sirna sejak malam ini.
Tubuh pucatnya itu bergerak perlahan. Mencoba menghalau sakit dan perih di semua bagian tubuhnya. Sepertinya keadaanya kini bisa dibilang―mengenaskan. Terbaring tanpa sehelai benangpun―hanya tertutupi sebuah selimut tipis abu-abu. Kyuhyun memaksakan tubuhnya untuk bergerak dan pada akhirnya bangun. Baru sadar bahwa ia masih berada di atas ranjang besar yang nyaman. Dengan tubuh polosnya dan―
Kyuhyun menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mencoba menahan isakan atau tangisnya yang kini mulai pecah saat kedua mata bonekanya menatap sosok tubuh lain yang terbaring tepat di sampingnya. Itu Choi Siwon―putra tirinya. Terbaring disana dengan posisi tengkurap―juga tanpa sehelai benangpun―. Kyuhyun ingat bagaimana tubuhnya di banting dan piyamanya dilucuti paksa oleh Siwon. Kemudian namja yang merupakan putra sulung Choi Youngwoon itu menjamah―seluruh―tubuhnya dengan kasar, menciuminya dan pada akhirnya―merenggut kesucian yang seharusnya ia persembahkan untuk suami sah-nya.
Iris karamel itu masih beranak sungai dan kedua tangan pucat itu berusaha memeluk tubuhnya sendiri erat-erat. Namun saat telapak tangannya menyentuh kulit tubuhnya sendiri, namja manis itu malah semakin gemetar.
Tubuhnya ini―sudah kotor.
"Eungh."
Kyuhyun tersentak saat tubuh besar di sampingnya bergerak dalam tidurnya. Namja manis itu buru-buru menahan isakannya dan mulai bergerak menuruni ranjang dengan sangat perlahan tanpa membuat Siwon terbangun. Tangan pucat itu meraih helaian piyama-nya yang tergeletak dan tercecer begitu saja di bawah ranjang dan memakainya dengan cepat, menghiraukan tubuhnya yang terasa sakit dan kebas di semua bagian―terutama bagian belakang tubuhnya.
Kyuhyun baru sadar bahwa pagi sudah hampir menjelang. Karena ia bisa melihat semburat jingga samar di horizon melalui jendela besar sepanjang koridor begitu ia berhasil keluar dari kamar 'laknat' itu. Masih dengan keadaan tubuh dan pakaiannya yang berantakan di sana-sini, namja manis itu berlari―sedikit tertatih―menuju kamarnya sendiri. Merasa lega setengah mati saat tidak mendapati Kangin di dalam kamar mereka dan tanpa membuang waktu segera mengunci diri di kamar mandi.
Crash!
Bruk
Kyuhyun menjatuhkan dirinya di bawah shower yang menyala deras di atas kepalanya. Menghiraukan rasa dingin yang menembus kulitnya―membuat kulit putih pucat itu terlihat semakin pucat. Namun sepertinya 'Nyonya besar Choi' itu tidak peduli. Ia terus terisak sambil mencoba mengusap kasar seluruh kulit tubuhnya. Tak peduli pada piyama―berantakan―yang masih dipakainya.
Yang ia inginkan hanya menghapus bekas sentuhan, ciuman, jilatan, dan segalanya milik Choi Siwon yang masih begitu terasa di setiap jengkal kulitnya.
YOUNG MOTHER
Chapter 2: Gift from the Step Son
Genre: Romance, Drama
Rating: M
Cast: Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Kangin, Choi Minho, etc
Main Pair: WONKYU
Slight Pair: Kangin-Kyuhyun, Minho-Kyuhyun
Warning: YAOI, BOYSLOVE, NC21+, OOC, TYPOS
DON'T LIKE DON'T READ
Emerald0705 presents
"D-dia―sia-pa?"
Siwon tergagap saat mengucapkan kalimatnya. Baru sadar bahwa inilah kali pertama ia berbicara tergagap dalam 28 tahun masa hidupnya.
"Appa tahu kau pasti terkejut." Kali ini Kangin sedikit terkekeh menatap wajah putra sulungnya. Tuan besar Choi itu menggiring namja manis di sampingnya untuk maju mendekat ke meja makan. "Kyuhyun adalah Umma barumu dan Minho mulai dari sekarang."
"Omong kosong."
"Tidak, Siwon. Kali ini Appa benar-benar sudah menikahinya, dan mulai sekarang―"
BRAK!
Semuanya terlonjak saat Siwon menggebrak meja di depannya. Bahkan Minho sampai menumpahkan susu yang baru saja diminumnya.
"Apa-apa'an ini?!" seru Siwon keras. Terlihat sekali bahwa namja tampan itu sedang terkejut dan marah setengah mati. "APA INI, APPA?!"
"Hyung―"
Kangin memberi isyarat kepada Minho untuk tetap tenang di tempatnya, sementara tangannya mengeratkan pelukannya di pinggang Kyuhyun yang terlihat gemetar.
"Ini semua Appa lakukan untuk kebaikanmu dan Minho." Ucap Kangin tenang, tahu benar bahwa reaksi Siwon akan seperti ini.
"MENGAPA APPA TIDAK PERNAH MEMBICARAKAN HAL INI DENGANKU SEJAK AWAL?!" sahut Siwon sambil mengusap wajahnya kasar dan berdiri dari posisi duduknya. Ia menghela nafas panjang sambil memijat kasar kepalanya yang semakin pusing.
"CHOI SIWON, DUDUK! INGAT TATA KRAMAMU!" seru Kangin tegas. Siwon menghela nafasnya dan kembali duduk di kursinya. "Sebenarnya Appa bermaksud memberimu kejutan." Ucap Kangin lagi. Ia masih bisa merasakan tubuh istri mudanya masih gemetar.
Siwon menghela nafas sekali lagi. Hanya ini yang bisa dilakukannya untuk menahan emosinya yang meluap.
"Aku tidak bisa menerimanya. Tidak mungkin!" ucap Siwon lagi, kali ini menatap namja manis yang merupakan―ibu barunya. "Bahkan aku dan dia telah―"
Kyuhyun sontak mengangkat kepalanya dan menatap tepat di mata Siwon, membuat Siwon kehilangan kata-katanya. Mata boneka itu terlihat berkaca-kaca dan memancarkan pandangan memohon. Siwon bisa menangkap―walau sangat samar―bahwa kedua mata indah itu mengisyaratkannya untuk diam.
Minho dan Kangin terheran melihat keheningan itu. Mereka menatap penuh tanya kepada Siwon dan Kyuhyun yang masih saling memandang dalam diam.
"Kau dan Kyuhyun? Ada apa?" tanya Kangin penasaran. Kyuhyun di sampingnya tersadar dan memutus kontak matanya dengan Siwon lalu menundukkan wajahnya lagi dan sedikit merapatkan tubuhnya di samping Kangin. "Apa terjadi sesuatu semalam diantara kalian?"
"A-andwae." Sahut Kyuhyun segera sambil menggengam lengan Kangin di sampingnya. "Se-sebenarnya kami sempat bertemu semalam, t-tapi aku belum mengatakan yang sebenarnya kepada Siwon."
Kangin tersenyum tipis menatap wajah gugup istrinya. Namja itu kemudian menggengam tangan pucat itu dengan lembut.
"Ini keputusan Appa, Siwon." Ucap Kangin kalem.
Siwon masih belum mengalihkan tatapannya dari Kyuhyun begitu kalimat Kangin terdengar di telinganya. Pikirannya kalut bukan main saat ini.
"Appa melakukan ini agar kau dan Minho bisa merasakan kasih sayang seorang ibu lagi."
"Aku tidak butuh kasih sayang seorang ibu―" ucap Siwon pelan namun tegas. "―apalagi dari seseorang seperti dia!"
"SIWON HYUNG!" seru Minho seraya bangkit dari kursinya. Si bungsu itu terlihat tersulut emosi melihat sikap kakaknya. "Jaga sopan santunmu di hadapan Umma!"
Siwon menatap adiknya itu sebentar lalu bergerak keluar ruang makan dan berjalan dengan langkah lebar menaiki tangga besar rumah mewahnya. Meninggalkan ketiga anggota keluarganya di bawah.
"Kyuhyun-ah, gwaenchana?"
Kyuhyun mengangguk dan tersenyum sekilas mendengar pertanyaan suaminya. Ia kembali menatap jemarinya yang saling bertaut dengan erat―kebiasaanya jika ia gugup―dan takut. Beberapa saat lalu Kangin membawanya masuk ke kamar. Setelah penolakan dari Siwon, kepala keluarga Choi itu terus-menerus menenangkan istrinya yang terlihat sangat shock.
"Tolong maafkan putraku, Kyuhyun-ah." Ucap Kangin sambil mendudukkan dirinya di samping Kyuhyun. Namja tampan itu mengusap bahu istrinya lembut. "Siwon memang berbeda dengan Minho. Dia sulit menerima hal baru. Tapi percayalah, sebenarnya dia adalah namja yang baik dan lembut."
Kyuhyun menatap namja di sampingnya dengan matanya yang berkaca-kaca. Sungguh, suaminya ini tidak tahu apapun yang telah menimpanya semalam. Dan semua ini dilakukan oleh―
"Choi Siwon―" ucap Kangin lagi, kali ini bangkit dari posisi duduknya. "―dia hanyalah anak yang terlalu tertutup. Dia selalu pandai menyembunyikan semua kesedihannya dariku, Ayahnya sendiri. Maka dari itu aku memberinya seorang ibu ba―"
"Tidak apa-apa. Aku mengerti, Tuan Choi. M-mungkin Siwon butuh waktu untuk menerimaku."
Kangin menatap namja manis di belakangnya. Yang ditatap hanya tersenyum tipis lalu kembali menundukkan wajahnya. Kangin bergerak ke samping Kyuhyun lalu duduk disana, kali ini sambil menatap wajah manis berpadu cantik milik sang istri dengan tatapan yang merupakan perpaduan antara kagum, terpesona, dan mungkin terlihat seperti―lapar (dalam tanda kutip).
"Tu-tuan Choi―" Kyuhyun sukses berjengit saat telapak tangan besar Kangin mendarat di pipi kirinya dan mengarahkan wajahnya untuk menatapnya dengan lembut.
"Panggil aku Hyung." Ucap Kangin tanpa melepaskan tatapannya dari mata bulat di depannya. "Bukan saja wajahmu yang rupawan, Kyuhyun-ah. Tapi juga hatimu. Aku bersyukur bisa memperistri namja semanis dirimu."
Dan, pada akhirnya Kangin menarik wajah gugup di depannya dan menghilangkan jarak diantara mereka. Mencium dan melumat bibir merah muda itu dengan lembut. Sedangkan Kyuhyun―namja manis itu hanya terdiam tak bereaksi―atau lebih tepatnya tidak bisa berbuat apapun―saat Kangin menekan leher belakangnya dengan tangan kanannya sementara tangan yang lain kini mulai merayap menelusup ke dalam―
Drrrt… drrrtt...
Drrtt… drrtt…
Kyuhyun mendorong dada bidang di depannya dengan sedikit keras, menghasilkan tatapan bertanya dan kecewa dari suaminya karena hal itu membuat ciuman panas mereka terlepas.
"Ponselmu―" ucap Kyuhyun sedikit terengah begitu Kagin menatapnya untuk meminta penjelasan karena telah menyudahi ciumannya. "―ponselmu bergetar, H-hyung."
Kangin menghela nafas dan bergerak meraih ponsel yang masih bergetar di atas ranjang lalu menekan tombol merah dan sedikit melempar benda hitam kecil itu lebih jauh. Namja paruh baya itu kembali menatap sang istri lalu menarik kedua bahu kecil itu mendekat dan membawanya untuk berbaring di ranjang mereka.
Kyuhyun―luar biasa panik dan tubuh pucat itu bergetar saat Kangin mulai menindihnya dan menenggelamkan wajahnya di dalam perpotongan lehernya dan telapak tangan besar itu menelusup di balik kemeja putih yang dikenakannya.
Sentuhan semacam ini membuatnya mengingat semua yang terjadi padanya―semalam. Dan Kyuhyun hanya bisa memejamkan matanya erat-erat―mencoba meghalau air matanya yang berebut keluar.
"Minho-ya!"
Minho baru saja akan masuk ke dalam mobilnya begitu ia mendengar seseorang memanggilnya dari arah luar garasi.
"Leeteuk Ahjussi, Annyeonghaseyo." Sahut Minho seraya membungkuk sekilas melihat sekretaris kepercayaaan ayahnya yang kini berlari kecil ke arahnya.
"Mau ke kampus?" tanya namja berpakaian rapi itu sambil menampilkan senyum malaikatnya.
"Baru saja akan berangkat sebelum Ahjussi memanggilku." Jawab Minho balas tersenyum. "Kau mencari Appa? Dia ada di dalam―baru pulang tadi pagi."
Leeteuk tertawa pelan. "Mianhae. Aku yang mengusulkan pesta kecil-kecilan itu. Tidak setiap hari kita menang tender, kan?"
Minho menutup pintu mobilnya yang sejak tadi masih terbuka lalu berjalan menggiring namja-yang-sudah-seperti-paman-sendiri-baginya itu menuju pintu utama. Putra bungsu Choi Youngwoon itu merengut menatap namja di sampingnya.
"Mulai sekarang Ahjussi tidak boleh mengajak Appa ke pesta manapun, okay? Karena dia sudah punya istri yang menunggunya di rumah."
Leeteuk tergelak lalu tertawa keras. Minho menatapnya sambil memicing.
"Arrasseo. Arrasseo. Aku juga tidak mau diomeli oleh Nyonya Choi." Ucap Leeteuk sambil mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah. "Maka dari itu, aku kemari bukan untuk menjemput ayahmu saja, tetapi juga untuk meminta maaf kepada Nyonya Choi karena telah menculik suaminya di malam pertama mereka."
Minho tertawa kecil mendengarnya. Kini mereka sudah memasuki ruang tamu kediaman Choi yang mewah. Minho mempersilahkan Leeteuk duduk.
"Kalian pasti bahagia mendapat ibu baru."
Leeteuk mengernyit melihat ekspresi wajah Minho yang mendung. Si bungsu Choi-bersaudara itu menghempaskan tubuhnya di sofa tepat di depannya.
"Minho-ya? Apa terjadi sesuatu?" tanya Leeteuk hati-hati. Namja muda di depannya itu menghela nafas panjang dan Leeteuk bisa dengan mudah menebak apa yang terjadi. "Hhh, pasti karena Siwon."
Minho tersenyum kecut mendengar tebakan Leeteuk yang sangat akurat. Leeteuk tersenyum lagi sambil menepuk bahunya sedikit keras.
"Kau tahu benar bagaimana sifat kakakmu itu, Choi Minho. Dia sulit beradaptasi dengan hal baru sejak kecil. Biarkan Siwon terbiasa dulu, maka ia akan merubah pikirannya. Jadi, tenang saja, Okay?!"
"Okay! Leeteuk Sonsaengmin!" seru Minho pada akhirnya dengan gaya hormat layaknya seorang tentara. Leeteuk tertawa melihat tingkah lucu putra bungsu atasannya ini.
"Baiklah!" sahut Leeteuk sambil berdiri dn menepuk tangannya. "Sekarang aku akan mengambil beberapa dokumen di ruang kerja dan tolong kau panggil ayahmu untuk segera turun ke bawah. Ada rapat menunggu 2 jam lagi."
"MWO! KAU MAU MENCULIK APPA DAN MEMISAHKANNYA DARI UMMA LAGI?! SHIREO!" seru Minho dengan ekspresi marah sambil bersedekap.
"Ya! Choi Minho! Cepat panggil atau aku akan mengadukan kepada ayahmu tentang hobi anehmu mengunjungi toko kaset―"
"Ahjussi andwae!" seru Minho sambil mengisyaratkan Leeteuk untuk memelankan suaranya. Mukanya memerah malu. "Ck! Baiklah, akan aku panggilkan."
Leeteuk hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putra sahabatnya sekaligus atasannya itu. Setelah tersenyum kecil sebentar, Leeteuk melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Kangin yang sudah ia hafal benar letaknya di rumah ini.
Tok tok tok
"Appa."
Minho menatap pintu putih besar di depannya, tak ada respon apapun. Namun Minho dapat mendengar sedikit suara dari dalam―dan Minho tidak yakin suara apa itu.
Tok tok tok
"Appa, kau di dalam?"
Masih tidak ada jawaban. Putra bungsu keluarga Choi itu akhirnya mengeluarkan ponselnya dan mendial nomor sang Ayah dari sana. Ia ingat benar apa nasihat Kangin padanya, bahwa jika itu masalah pekerjaan yang menyangkut perusahaan, maka ia harus menyampaikannya bagaimanapun itu. Minho menempelkan ponsel tipis itu ke telinganya sementara ia mulai mengetuk pintu lagi.
Tok tok―
Ceklek
"Appa, sekretaris Park men―"
Krak!
Ponsel mahal milik Minho meluncur jatuh dari genggamannya begitu saja bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka dan seseorang yang muncul dari balik pintu itu, membuat kalimat si bungsu Choi itu terputus dengan mulut menganga.
"M-minho, ayahmu sedang ganti baju." Ternyata Kyuhyun yang membuka pintu. "K-kau perlu sesuatu?"
Suara Kyuhyun―Umma barunya―memang Minho akui sangat indah. Begitu lembut dan mendayu. Namun bukan hanya itu yang membuat Minho terpana hingga mulutnya menganga saat ini, melainkan penampilan ibu mudanya yang menurutnya, err―sangat menggoda.
Choi Kyuhyun―ibu mudanya itu berdiri di depannya dengan kemeja putihnya yang terbuka hingga bagian dada. Menampilkan kulit putih pucatnya yang bersih tanpa noda. Surai madu lembutnya terlihat sedikit berantakan―dan yang paling membuat keadaan semakin parah (bagi Minho) adalah bibir merah yang membengkak dan basah itu. Terlihat sangat sexy dan menggoda iman seorang Choi Minho.
Kyuhyun menyadari tatapan aneh putra tirinya. Namja manis itu bergerak cepat menutupi bagian dadanya yang terbuka. "Minho?"
"B-bilang pada Appa bahwa se-sekretaris Park mencarinya dibawah. A-aku harus berangkat ke k-kampus segera. Aku s-sedang terburu-buru, U-umma. S-sampai nanti. Annyeong."
Minho membungkuk sekilas lalu segera melesat menyusuri koridor dan menghilang di tikungan ruang keluarga.
Kyuhyun menghela nafas lega seraya mengancingkan tiga kancing teratas kemejanya yang tadi belum sempat ia tutup. Namja manis itu menyandarkan tubuhnya di samping pintu kamarnya. Nafasnya terengah.
"Siapa tadi?"
Kyuhyun segera masuk ke dalam kamar begitu mendengar suara Kangin dari dalam. Namja manis itu menutup pintu di belakang punggungnya dan mendapati Kangin baru keluar dari ruang pakaian dan kini mulai merapikan dasi di lehernya.
"Minho datang." Ucap Kyuhyun sembari meremas jemarinya sendiri. "Dia bilang sekretaris Park sudah menunggumu di bawah, H-hyung."
Kangin tersenyum begitu mendengar panggilan baru Kyuhyun untuknya. Terdengar begitu manis. Penguasa Choi Corp. itu berjalan mendekat ke arah istrinya yang masih berdiri di depan pintu lalu mengusap pipi gemuk kemerahan itu dengan lembut.
"Mianhae, Kyuhyun-ah." Ucap Kangin kalem, Kyuhyun sontak menatapnya. "Semua pekerjaan ini membuatku terus saja meninggalkanmu sendirian. Bahkan aku belum sempat memberimu malam pertama―"
"Gwaenchanayo, Hyung." Sela Kyuhyun cepat-cepat. Wajahnya memerah mendengar kata Malam Pertama.
Kangin menjadi gemas melihatnya kemudian mendaratkan sebuah kecupan di bibir menggoda di depannya tanpa Kyuhyun bisa menghindar. Kyuhyun mendorong tubuh tegap di depannya tepat sebelum tangan Kangin bergerak ke belakang kepalanya untuk memperdalam ciuman―sepihak―itu. Kangin menatapnya kecewa.
"Sekretaris Park―" ucap Kyuhyun terengah, kedua tangannya masih menahan bahu Kangin agar tidak mendekat lagi. "―menunggumu―di bawah, Hyung."
Kangin mendesah panjang lalu mengacak helaian surai madu di depannya sambil tersenyum. Namja paruh baya itu mengambil jasnya di atas ranjang lalu memakainya. Kyuhyun memperhatikan pergerakannya dalam diam―masih sedikit terengah.
"Aku akan segera menyelesaikan meeting ini dan kembali ke rumah untuk menghabiskan waktu dengan istriku." Ucap Kangin dengan sedikit seringaian. Kyuhyun merinding menatapnya. "Tapi sebelum itu, aku akan menemui Siwon dan menjelaskan padanya―"
"JANGAN!" seru Kyuhyun begitu mendengar nama Siwon disebut. Kangin menatapnya tidak mengerti. "Bi-biar aku saja yang menjelaskan kepada Siwon. K-kau tidak bo-leh terlambat ke kantor, Hyung."
"Tapi bagaimana jika Siwon―"
"Tidak apa-apa." Sahut Kyuhyun lagi. Kali ini maju untuk merapikan jas yang sudah terpasang di tubuh Kangin dengan tangan sedikit gemetar. "Aku harus belajar menghadapi Siwon. Dia adalah putraku juga."
.
Kangin pergi satu jam yang lalu setelah Kyuhyun bersikeras untuk melarangnya bertemu dengan Siwon dan mengajukan dirinya sendiri untuk menggantikannya bertemu putra sulung keluarga Choi. Bukannya apa, hanya saja Kyuhyun sangat takut jika ia membiarkan Kangin berbicara dengan Siwon, lalu Siwon menceritakan apa yang terjadi diantara mereka semalam. Jika hal itu terjadi―ah! Bahkan Kyuhyun tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi.
Dan sekarang disinilah Kyuhyun. Sedang berdiri dengan sebuah nampan berisi secangkir kopi di depan pintu kamar yang telah menjadi saksi bisu perenggutan miliknya yang paling berharga. Kedua mata boneka itu memejam sebentar, tangannya gemetar. Ia sama sekali tidak siap untuk bertemu dengan orang yang telah merenggut segalanya darinya ini sekali lagi―jujur ia takut.
Maka dengan sekali helaan nafas panjang, tangan pucat itu sudah akan mengetuk pintu di depannya sebelum―
Ceklek
Prang!
Nampan berisi cangkir kopi itu meluncur dari tangan Kyuhyun dan jatuh berkeping-keping diatas lantai marmer itu tepat saat pintu kamar itu terbuka.
Choi Siwon berdiri disana sambil menatap pecahan cangkir kopi yang berserakan di lantai depan kamarnya. Namja tampan itu menatap sang pembawa nampan kemudian.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Pertanyaan bernada dingin tiu membuat Kyuhyun sontak memundurkan tubuhnya. Namja manis itu memberanikan diri menatap iris tajam sekelam malam di depannya.
"K-kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan." Ujar Siwon pendek. Namja tampan itu melewati Kyuhyun begitu saja dan hendak berjalan keluar, namun Kyuhyun menggapai lengan putra tirinya itu dan menahannya.
"Kumohon, Siwon."
Siwon menatap tangan pucat yang menggengam lengannya, lalu menatap iris coklat karamel yang menatapnya dengan sendu.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada Appa dan mengakhiri semua ini." Ucap Siwon masih menatap tajam ibu muda-nya. Namja manis di depannya itu mempererat genggamannya sambil menggeleng. "Sekarang minggir."
"Jangan! Kumohon jangan ceritakan apapun kepada ayahmu. D-dia bisa marah besar. D-dia bisa menceraikanku."
Siwon menyentak lengannya hingga genggaman Kyuhyun terlepas. Namja tampan itu kemudian menarik lengan rapuh itu dan mengunci tubuh Kyuhyun ke dinding koridor.
"Itu bagus. Itulah tujuanku. Aku tidak pernah setuju dengan pernikahan kalian." Ucap Siwon dingin sambil menatap tajam mata bulat yang terlihat ketakutan di depannya. "Mengapa kau begitu khawatir, hmm?"
Kyuhyun memundurkan punggungnya namun punggungnya sudah merapat di dinding dan terkunci dengan tubuh Siwon di depannya. Jantungnya berdetak kencang sekali.
"Apa tujuanmu menikah dengan ayahku, Cho Kyuhyun?" tanya Siwon lagi, kali ini seraya mengarahkan wajah rupawan di depannya agar menatapnya. "Kau mengincar hartanya?"
Kyuhyun melebarkan matanya mendengar kata-kata itu. "Jaga ucapanmu, Choi Siwon."
"Lalu apa?!" seru Siwon masih dalam volume suara normal. "Apalagi yang diinginkan namja muda dengan modal wajah dan tubuh indahmu ini selain―"
PLAK!
Ucapan Siwon terhenti saat sebuah tamparan mendarat di pipi kanannya. Kyuhyun menatapnya dengan penuh amarah sekaligus terkejut atas apa yang baru saja ia lakukan kepada putra tirinya ini.
Grep
Kalimat itu terputus begitu Kyuhyun diseret paksa dan dihempaskan ke dalam kamar 'laknat' itu sekali lagi oleh pemiliknya. Siwon menutup pintu di belakangnya dan menguncinya. Kyuhyun merasa de javu dengan semua ini.
"Si-siwon―"
"Lihat ini, bahkan ayahku tidak pernah menamparku sekalipun." Ucap Siwon sedikit tertawa mengerikan. Kyuhyun memundurkan tubuhnya. "Dan sekarang aku ditampar oleh seseorang yang hendak menjual dirinya kepada ayahku untuk mendapatkan harta."
"CHOI SIWON, jika saja kau ingat, kaulah yang merenggut segalanya dariku semalam."
"Aku? Jadi aku yang pertama melakukan hal itu padamu? Kau yakin?" tanya Siwon semakin berjalan mendekat. "Bagaimana aku tahu jika kau telah tidur dengan banyak pria lain?"
"Cukup, Siwon!" seru Kyuhyun. "Aku bukan orang sehina itu!"
"Lalu, apa kau mencintai ayahku?"
Kyuhyun sukses terdiam mendengar pertanyaan itu, Siwon menyeringai menang melihat itu.
"Jawaban yang bagus." Ucap Siwon, membuat Kyuhyun menatapnya kalut dengan mata bonekanya yang berkaca-kaca. "Aku akan mengatakan semuanya kepada Appa."
"Jangan! Kumohon jangan, Siwon. Kumohon." Kali ini Kyuhyun memohon. Namja manis itu mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Kalau begitu katakan apa alasanmu mau menikah dengan namja yang lebih pantas menjadi Ayahmu daripada menjadi suamimu?" Ucap Siwon sambil terus berjalan maju hingga namja di depannya itu membentur dinding di sisi ranjangnya.
"A-aku… aku―" Kyuhyun berjengit kaget saat lengan Siwon memerangkapnya di dinding. Menutup jalan keluarnya untuk menghindar dari semua ini.
"Kau tidak bisa menjawabnya, hmm?" Kyuhyun memejamkan matanya saat wajah Siwon mendekat ke wajahnya. Hembusan nafas hangat Siwon terasa di depan wajahnya. "Aku akan memberitahu Appa."
Dan setelah membisikkan kalimat itu, Siwon berbalik dan berjalan cepat menuju pintu kamarnya sendiri dan berniat keluar kamar sebelum Kyuhyun berlari dan berdiri menghadangnya di depan pintu.
"Kumohon, Siwon. Jangan katakan apapun kepada ayahmu." Mohon Kyuhyun sekali lagi, kedua mata bonekanya telah basah oleh air mata. "Aku rela melakukan apapun untukmu. Apapun! Tapi kumohon jangan katakan apapun kepada ayahmu."
Siwon menatap ibu barunya ini dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Berbagai pikiran berkelebat di dalam kepalanya.
"Kenapa? Kau mau menguras harta kami terlebih dulu lalu aku baru boleh mengatakan kepada ayahku bahwa aku telah memperkosa ibu tiriku sendiri bahkan sebelum ia belum memulai malam pertamanya? Begitukah?!"
Kyuhyun hanya menggeleng cepat, masih bergeming di tempatnya untuk menghalangi Siwon keluar. Air matanya masih menganak sungai.
"Aku tidak menyangka kau sehina ini, Cho Kyuhyun." Ucap Siwon pada akhirnya setelah lama menatap iris coklat karamel di depannya. Putra sulung Choi Youngwoon itu menarik kerah kemeja ibu tirinya hingga membuat wajah mereka berdekatan. "Baiklah~"
Bruk
"Akh!"
Kyuhyun meringis kesakitan saat Siwon menarik dan membantingnya di ranjang besar di belakangnya. Punggung dan bagian belakang tubuhnya yang masih ngilu―karena kejadian semalam―kini terasa semakin sakit. Istri muda kepala keluarga Choi itu kembali melebarkan matanya saat Siwon dengan kasar menarik kemejanya hingga kancing-kancingnya terlepas dan terlempar entah kemana.
"A-apa yang kau lakukan, Siwon?! Jangan―"
"Kau bilang akan melakukan apapun agar aku tidak mengatakan yang sebenarnya kepada ayahku, bukan?" ucap Siwon seraya menahan kedua lengan pucat di depannya di sisi kiri-kanan tubuh Kyuhyun, wajahnya mendekat ke telinga namja manis di depannya. "Bagaimana jika kau memanfaatkan wajah manis dan tubuh indahmu ini untukku dan menjadi―budak seks-ku."
Kyuhyun membelalak mendengar bisikan itu. Ia berusaha menyentak kedua tangan kekar yang masih menahan kedua tangannya itu dengan panik, namun ia mendapat hasil nihil.
"―Kumohon jangan lakukan ini lagi padaku, Choi Siwo―nnh!"
"Ya! Choi Minho, kau ini kenapa, sih?!"
Lee Jonghyun menatap sahabatnya dengan pandangan aneh. Pasalnya ini adalah kali pertama Jonghyun melihat putra bungsu pengusaha kaya-raya ini minum begitu banyak setelah tadi membolos kuliah. Tidak heran jika ia yang melakukan ini, namun kini sahabatnya yang merupakan namja populer paling rajin dan pintar seantero kampusnya ini terlihat sangat―bukan dirinya.
"Mobilmu disita ayahmu lagi?"
Jonghyun menebak masih tidak mengalihkan tatapannya pada namja yang menggeleng di depannya.
"Black cardmu dalam mode limit?"
Minho menggeleng lagi sambil meneguk segelas penuh minuman―beralkohol rendah―di tangannya. Jonghyun memaki dirinya sendiri menyesali kalimat bodohnya. Mana mungkin keluarga Choi mengalami keuangan limit.
"Lalu kau ini kenapa? Kau membuatku takut."
"Jonghyun-ah, apa menurutmu Umma-mu cantik?"
Jonghyun menatap namja di depannya semakin aneh. "Tentu saja Umma-ku cantik! Dia akan selalu terlihat cantik di mataku apapun yang terjadi. Kau ini bicara apa sih?"
Minho menatap sahabatnya lalu terdiam. Pandangannya kosong. "Umma-ku juga cantik. Sangat―cantik~"
Jonghyun merebut botol dan gelas dari tangan Minho lalu menaruhnya di sudut meja.
"Ada apa denganmu, Choi Minho? Kepalamu terbentur sesuatu tadi pagi?" tanya Jonghyun dengan pandangan aneh. Minho menatapnya dengan mata melebar lalu menghela nafas panjang. Sepertinya si bungsu Choi bersaudara ini mulai bisa menguasai pikirannya.
"Aish! Apa yang kukatakan, Jonghyun-ah~" ucap Minho sambil memijat kepalanya. "Pagi ini aku mengalami hal yang aneh. Saat aku melihat Umma, aku merasa bahwa dia begitu cantik dan―"
Minho menggantung kalimatnya, Jonghyun menatapnya menunggu jawaban. Namja tampan berambut pirang itu penasaran. "Dan?"
"―menggoda."
"YA! CHOI MINHO! KAU TERLALU BANYAK MENONTON KASET YADONG―"
Minho sontak menutup mulut sahabatnya dengan kedua tangannya. Beberapa pengunjung café yang lain menatapnya kedua namja tampan itu dengan pandangan aneh.
"Kau mau membunuhku, ya?!" desis Minho dengan pandangan mematikannya. Jonghyun berdecak melihatnya.
"Tuan muda Choi Minho, kalau kau merasa Umma-mu begitu mempesona―aku sengaja mengganti kata menggoda menjadi mempesona agar lebih sopan―" Minho memutr matanya malas mendengar ucapan Jonghyun, "―itu hanya berarti kau begitu mengaguminya. Kau mencintainya sebagai seorang anak kepada ibumu sendiri. Itu wajar, dia Umma-mu! Itu hanya tanda bahwa kau sangat menyayanginya!"
Minho termenung mendengar nasihat Jonghyun. "Benarkah?"
"Kau pasti menjatuhkan otak jeniusmu itu di suatu tempat, Choi Minho."
Minho mengangguk mengerti. Ini pasti hanya perasaan sayang yang begitu besar. Karena Umma barunya begitu baik dan ramah padanya. Ya, ia yakin. Tapi, Minho tidak bisa mengingkari satu perasaan aneh saat ia menatap dada putih mulus dan bibir merah itu. Seluruh tubuhnya terasa berdesir aneh―dan hampir saja ia menerkam ibu mudanya itu tadi pagi. Hampir saja.
"Buka kakimu."
Kyuhyun mengatupkan kedua pahanya erat-erat sambil memandang namja di atasnya dengan tatapan memohon. Keadaan tubuhnya sudah luar biasa berantakan. Kemejanya sudah terbuka di bagian dada dan celananya sudah terlempar entah kemana. Bagian bawah tubuhnya sudah tidak terlindungi sehelai benang pun.
"Ja-jangan sekarang, Siwon." Ucapnya dengan suara bergetar dan air mata yang menggenang. "Yang kemarin masih sakit. Kumohon."
Siwon, namja itu masih berpakaian lengkap itu tampaknya sudah sangat turned on melihat penampilan ibu tirinya ini. Awalnya Siwon hanya berniat menggertak namja manis ini agar ia bisa pergi dari kehidupan keluarganya, namun sepertinya nafsunya lebih mendominasinya saat ini. Hell, siapapun pasti tergoda melihat penampilan Kyuhyun saat ini. Terlentang tak berdaya dengan tubuh setengah telanjang hanya menyisakan kemeja yang masih terpasang di bagian atas tubuhnya. Kulit putih pucat itu terkespos dimana-mana. Dengan mata basah dan bibir merahnya yang bergetar ketakutan serta surai maduya yang acak-acakan dengan gaya yang sexy.
Bahkan namja straight pun akan berubah gay dan tak segan langsung 'memakan' hidangan lezat ini. Termasuk Siwon.
"Kubilang buka kakimu!" ucap Siwon lalu membuka kedua paha putih yang mengatup itu agar terbuka. Meski awalnya sedikit sulit karena perlawanan Kyuhyun, namun tentu saja paha itu akhirnya terbuka dan sukses membuat Siwon hampir meneteskan liurnya melihat junior mungil dan lubang merah itu.
"Jangan, Siwon. Kumohon~"
Bahkan Siwon sama sekali tidak mendengar permohonan itu. Namja tampan itu menjilat bibirnya yang terasa kering lalu bergerak membuka resleting celananya sendiri. Kyuhyun sontak memundurkan tubuhnya namun Siwon dengan sigap menangkap dan menarik pinggulnya agar tetap pada posisinya.
"Kau bilang kau akan melakukan apapun, bukan?" bisik Siwon seduktif. "Apapun."
"T-tapi aku ti-tidak―AAKKHH!"
Siwon mengeram saat kenikmatan melingkupi kejantanannya yang baru saja ia hantamkan ke dalam lubang sempit ibu tirinya. Tanpa menunggu, namja tampan itu segera menggerakkan kejantanannya keluar masuk tubuh Kyuhyun dengan tempo cepat. Menghentak-hentak tubuh di bawahnya dengan cepat dan keras.
Kyuhyun, namja itu menggigit bibirnya keras-keras dan mencengkeram sprei di samping tubuhnya dengan erat, mencoba mengimbangi dan bertahan dari gerakan brutal diatasnya. Tubuhnya terasa di belah dua dengan pedang yang membara dari bawah. Sangat sakit.
"K-kau nikmat sekali, Bitch!"
"Akhh! Ahh! K-kumohon Siwonhh! Nnnh! Ah! Ah! S-sakit―hiks―sakit, Siwon~"
Siwon tidak peduli―atau lebih tepatnya tidak mau peduli―dengan rintihan dan tangisan namja yang masih digagahinya. Ia meraih wajah yang basah oleh air mata itu dan mendaratkan sebuah ciuman panas yang basah disana. Memporak-porandakan isi mulut yang masih merintih halus itu dengan lidahnya sendiri tanpa mengurangi tempo tusukannya di bawah.
"Emmh! Emmmh! Emmhh! Ahmmpt!"
Ranjang tempat pergulatan panas itu berderit sedemikian rupa hingga menimbulkan suara yang mungkin saja terdengar hingga ke lantai bawah jika saja kamar ini tidak kedap suara. Kyuhyun mengeram lagi di sela bibir dan mulutnya yang masih dikuasai Siwon saat gerakan kejantanan yang keluar masuk tubuhnya itu terasa semakin cepat dan brutal.
Lima belas menit kemudian Kyuhyun bisa merasakan cairan hangat memenuhi lubangnya. Kesadarannya sudah tersisa sedikit saat Siwon menarik kejantanannya keluar dari lubangnya yang becek dan menyuruhnya untuk membuka mulutnya lalu memebenamkan benda besar dan panjang itu disana. Menyemburkan beberapa semprotan sperma di mulut Kyuhyun yang hanya bisa menampung kepala penisnya saja.
"Oh, Shit! Bitch! Ahhh~"
Selesai menuntaskan orgasmenya yang―luar biasa―, Siwon menarik kejantanannya lalu membersihkannya dengan selembar tissue di meja nakas kemudian kembali membenahi resleting celananya dan merapikan pakaiannya.
"Kau yang meminta ini. Kau akan terus menderita seperti ini sebelum kau pergi dan meninggalkan keluargaku. Ingat itu, Cho Kyuhyun!" ucap Siwon sambil menatap dingin namja yang masih terengah dan terbaring lemas di ranjangnya.
BLAM!
Pintu kamar itu tertutup setelah Siwon menghilang keluar begitu saja. Meninggalkan Kyuhyun yang masih terengah di ranjangnya. Dengan tubuh berantakan dan sperma mengotori lubang dan mulutnya. Namja manis itu menatap kosong langit-langit diatasnya. Kedua matanya kembali tergenang air mata.
"Selamat datang, Tuan Muda."
Minho mengangguk sekilas menanggapi sambutan pelayan yang menyambutnya di pintu utama. Namja tampan itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah.
"Appa belum pulang?" tanya Minho sembari menatap pelayan di sampingnya.
"Belum, Tuan Muda."
"Umma?" tanya Minho lagi, kali ini dengan intinasi yang lebih pelan―entah mengapa.
"Nyonya besar belum turun dari kamarnya."
Minho berlalu setelah mengucapkan terima kasih. Si bungsu berwajah tampan namun kekanakan itu melangkah menuju lantai dua. Menghela nafas berkali-kali sambil sesekali menatap kotak di tangannya. Ya, dia baru saja melewati toko permen coklat dan entah mengapa ia membeli sekotak besar coklat mahal itu―untuk Umma-nya.
Lagi-lagi Minho heran dengan tingkah anehnya. Ah! Masa bodoh! Memangnya ada yang salah jika seorang anak memberikan hadiah coklat kepada ibunya sendiri?! Begitu pikir Minho.
Akhirnya ia sampai di depan pintu kamar orang tuanya. Setelah menghela nafas dan menampilkan senyum terbaiknya, Minho mengetuk pintu besar di depannya.
Tok tok tok
"Umma, kau di dalam? Ini Minho."
Tidak ada jawaban. Minho menggigit bibirnya gugup. Diketuknya sekali lagi.
"Umma?" seru Minho lagi. Namun masih tidak ada jawaban.
Minho mendorong pintu besar itu perlahan dan terkejut saat menyadarinya tidak terkunci. Namja tampan itu melongokkan kepalanya kedalam dan mengernyit saat sadar ruangan besar itu ternyata kosong.
"Umma? Kau di dalam?"
Tidak ada jawaban lagi. Menyerah, akhirnya Minho berjalan menuju kamarnya sendiri sembari menerka dimana kira-kira ibunya berada. Mungkin sedang di taman belakang, pikirnya. Si bungsu itu sudah akan membuka pintu kamarnya sebelum gerakannnya terhenti saat melihat nampan dan pecahan cangkir kopi di depan pintu kamar kakaknya.
Tap tap tap
Minho menatap benda berserakan di bawahnya dengan aneh lalu menatap pintu kamar Siwon.
"Ada apa ini?"
Minho menghela nafas keras lalu dengan pasti membuka pintu kamar kakaknya yang ternyata tidak terkunci. Sudah akan menegur atau protes dengan kekacauan kecil ini kepada sang pemilik kamar.
"Siwon Hyung, mengapa ada pecahan cangkir kopi di―"
BRUK!
Kotak coklat yang dibawa Minho jatuh begitu ia melihat apa yang ada di depannya. Kedua matanya melebar terkejut.
"U-umma―"
.
.
To be Continued
.
.
Emerald0705
