BLAM!

Choi Siwon menghela nafas panjang seraya menyandarkan tubuhnya di dinding samping pintu kamarnya yang baru saja ia banting hingga tertutup keras. Namja tampan yang merupakan putra sulung keluarga kaya raya itu memejamkan kedua hazel-nya yang sekelam malam.

"Apa―yang telah kulakukan?"

Siwon menatap telapak tangannya sendiri. Ia bisa merasakan dan mengingat rasa halus kulit putih porselen itu disana. Rasa halus dan lembut yang ia baru saja dijamahnya beberapa saat lalu.

Putra sulung Choi Youngwoon itu meremas kedua telapak tangannya sendiri. Baru sadar bahwa kedua telapak tangan besar itu terasa gemetar. Berbagai pemikiran dan spekulasi berkeliaran di kepalanya. Seperti dua buah makhluk kecil yang ada di sisi kanan dan kiri kepalanya―yang terus-menerus membisikkan kata-kata bermakna berbeda padanya.

Cho Kyuhyun―begitu kata suara di kanan kepalanya―itu suara hatinya―adalah ibu barunya. Bukan salahnya jika ia menjadi pendamping ayahnya. Siwon mengakui bahwa dia adalah namja manis yang rupawan, bahkan sempat mengira dia adalah dewi cantik yang turun dari surga. Apa salahnya jika punya seorang ibu yang masih begitu muda. Namun, apa yang telah ia lakukan? Ia sudah menyentuh namja manis itu seutuhnya―seutuhnya. Merenggut sesuatu yang sudah jelas bukan miliknya. Hal itu pasti sangat menyakiti namja itu, siapapun akan hancur jika diperlakukan seperti itu. Choi Siwon harus meminta maaf!

Siwon sudah akan berbalik dan membuka pintu kamarnya lagi. Sekedar melihat bagaimana keadaan 'sang ibu tiri' yang baru saja ia gagahi dan ia tinggalkan begitu saja. Tapi―

Dia hanya akan menghancurkan keluarga Choi―itu suara di sisi kiri kepalanya―penuh penekanan dan ego yang besar. Suara itu suara logikanya. Apalagi tujuan namja muda nan rupawan untuk mau menikahi namja paruh baya dengan harta melimpah? Apalagi jika bukan harta? Cho Kyuhyun itu hanya akan memanfaatkan ayahnya dan mengambil semua harta ini pada akhirnya. Seperti seorang pelacur murahan. Bahkan namja manis dengan sorot mata sendu itu tidak mampu mengatakan alasannya mau menjadi istri seorang namja yang lebih pantas mejadi ayahnya.

Sorot mata setajam elang itu berkilat aneh. Menggantikan sorot lembutnya yang sekarang hilang entah kemana. Choi Siwon menyeringai mengerikan pada akhirnya. Tangannya yang sudah hendak mendorong pintu kamarnya kini urung. Namja tampan itu berbalik dan berjalan cepat dengan langkah lebar meninggalkan koridor kamarnya.

Kedua mata sekelam malam itu di penuhi sesuatu yang menakutkan.

"Kau akan menderita di tanganku, Cho Kyuhyun!"

Siwon melangkah cepat menuju arah garasi dan tanpa menunggu lama segera memacu Audi putih miliknya keluar pelataran rumah mewah itu. Tidak menyadari tatapan bertanya dari salah satu pelayan yang―tidak sengaja―melihatnya sejak ia keluar dari kamarnya.

"Tuan muda Siwon, mengapa anda meninggalkan Nyonya besar di kamar anda sendirian?"


YOUNG MOTHER

Chapter 3: Agreement

Genre: Romance, Drama

Rating: M

Cast: Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Kangin, Choi Minho, etc

Main Pair: WONKYU

Slight Pair: Kangin-Kyuhyun, Minho-Kyuhyun

Warning: YAOI, BOYSLOVE, NC21+, OOC, TYPOS

DON'T LIKE DON'T READ

Emerald0705 presents


"U-umma―"

Minho segera melesat masuk ke dalam kamar yang merupakan kamar kakak kandungnya begitu ia melihat Kyuhyun―Umma-nya―terlihat di papah keluar dari kamar mandi oleh salah seorang pelayan.

"Umma, apa yang terjadi?!" tanya si Bungsu Choi itu dengan wajah khawatir seraya mengambil alih tubuh sang ibu ke dalam tangannya sendiri. "Pelayan Kim, apa yang terjadi dengan Umma?"

Kim Ryeowook―atau Minho biasa memanggilnya Pelayan Kim―memastikan tubuh lemah Nyonya besarnya itu sudah aman di tangan Tuan Muda-nya. Namja muda bertubuh mungil itu menatap iris coklat Kyuhyun dengan tatapan yang―

"Pelayan Kim!"

"N-nyonya besar terjatuh di kamar mandi, Tu-tuan Muda."

Ryeowook tidak sanggup menatap mata Minho saat mengatakan kalimatnya. Kebiasaannya jika ia telah mengatakan sebuah―kebohongan. Kyuhyun menghela nafas panjang. Namja manis itu masih tidak mampu berbuat banyak selain menghela nafas. Dirinya terlalu lemah bahkan walau hanya untuk mengatakan alasan untuk menjelaskan keadaannya saat ini kepada putra tirinya.

"Umma, gwaenchana?" tanya Minho gugup seraya menatap khawatir kepada Kyuhyun di sampingnya. "Apa kau terluka?"

Kyuhyun menggeleng sambil tersenyum simpul menatap Minho. Mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja―walau sebenarnya tubuhnya jauh dari kata baik-baik saja. Namja manis itu kemudian menatap penuh arti kepada Ryeowook di depannya.

"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Minho lagi. Si bungsu berwajah tampan itu menggiring Kyuhyun untuk duduk di sofa yang terletak di seberang ranjang. "Apa yang terjadi dengan pakaianmu, Umma?"

Minho melepas pegangan tangannya di tubuh Kyuhyun begitu sang ibu sudah duduk di sofa. Baru sadar juga bahwa Kyuhyun hanya mengenakan bathrope mandi. Sedikit menampilkan dada putih tanpa noda itu sekali lagi di hadapan Minho. Tapi untungnya Minho terlalu khawatir dengan keadaan sang Umma hingga hal itu terluput dari perhatiannya.

"B-bajuku―"

"Baju nyonya besar basah terkena air, Tuan Muda. Jadi saya meminjamkannya bathrope milik Tuan Muda Siwon untuknya." Sela Ryeowook begitu melihat wajah kebingungan Kyuhyun. "Nyonya besar berniat membantu saya membersihkan pecahan cangkir di depan pintu yang tidak sengaja saya jatuhkan. Tapi hal itu membuatnya terjatuh di kamar mandi. Mohon maafkan kesalahan saya."

Minho mengangguk paham mendengar penjelasan Ryeowook yang membungkuk penuh di depannya, sementara Kyuhyun terlihat terkejut luar biasa―sekaligus lega setengah mati.

"Tidak apa-apa, Pelayan Kim. Terima kasih telah menolong Umma." Ucap Minho sembari menepuk bahu pelayan muda itu. Putra bungsu Choi Youngwoon itu mengalihkan pandangannya kepada sang Umma lagi. "Umma, aku akan memanggil dokter keluarga dan―"

"Tidak perlu!" sela Kyuhyun cepat-cepat sembari menahan lengan Minho yang sudah akan bangkit. "Umma tidak apa-apa, Minho."

"Tapi―"

"Bisa bantu Umma untuk kembali ke kamar?"

Minho hanya bisa mengangguk melihat wajah sang Umma yang menatapnya dengan mata bulatnya yang terlihat seperti kucing kecil yang memohon untuk dipeluk. Si bungsu Choi itu menatap Ryeowook di sampingnya dan pelayan itu mengangguk kepadanya, mengisyaratkan kepada Minho bahwa ibunya akan baik-baik saja.

Setelah menghela nafas panjang, adik kandung Choi Siwon itu mendekat ke tempat duduk Kyuhyun lalu menyelipkan tangan kanannya di balik lutut sang Umma dan tangan yang lain menarik lengan pucat ibunya agar melingkar di lehernya. Perbuatan itu membuat Kyuhyun terkejut dan panik setengah mati.

"Min-minho! A-pa yang kau―"

"Umma tidak mau diperiksa dokter, jadi Umma tidak bisa menolak ini." Ucap Minho sambil menatap tajam mata boneka di depannya. Kyuhyun baru sadar bahwa mata itu sangat mirip dengan―mata Siwon. Sangat tajam dan―memikat. "Aku akan menggendongmu ke kamar dan Umma tidak boleh menolak."

Dan setelah menyelesaikan kalimatnya, putra Bungsu keluarga Choi itu segera mengangkat tubuh Kyuhyun dan membawanya dalam gendongannya. Tubuh ini, tidak seberat bayangannya. Cukup ringan dan terasa―sangat pas di gendongannya.

Kyuhyun? Namja manis itu hanya bisa terdiam tak bisa berbuat apapun saat tubuhnya dibawa keluar dari kamar yang-sekali-lagi-menjadi-saksi-bisu-penderitaannya ini. Sepasang lengan pucatnya sontak melingkar di leher Minho seraya menundukkan wajahnya.

Minho tersenyum kecil melihat sikap salah tingkah ibu mudanya ini. Dan apa itu? Lagi-lagi Minho tersenyum geli begitu menyadari semburat merah muda di pipi pucat sang Umma. Manis sekali.

Sesampainya di kamar utama rumah besar itu, Minho menurunkan tubuh Kyuhyun dengan lembut diatas ranjang besarnya. Meluruskan kaki sang ibu kemudian menggelar selimut tebal diatas kaki itu hingga melampaui pinggang atas Kyuhyun.

"Umma, kau sudah merasa nyaman?" tanya Minho lembut sembari duduk di sisi ranjang.

Kyuhyun tersenyum lalu mengangguk.

"Terima kasih banyak, Minho." Ucap Kyuhyun, kini tertunduk sambil meremas selimut tebal di atas pahanya. "Maaf―merepotkanmu."

"Umma!" seru Minho dengan intonasi yang masih normal. Namun begitu, Kyuhyun masih terlonjak mendengarnya.

"Ma-maafkan―"

"Umma, sekarang aku adalah putramu dan kau adalah Umma-ku." Ucap Minho kalem, sadar bahwa seruannya membuat Kyuhyun menatapnya takut. "Jangan sungkan kepadaku. Aku akan menjaga dan melindungimu, Umma."

Kyuhyun menatap namja tampan disampingnya dengan pandangan berkaca-kaca. Sepasang hazel tajam yang sedang menatapnya lembut itu sangat mirip dengan mata kakaknya, Siwon. Namun―namun mengapa mereka tidak ditakdirkan memiliki sifat yang sama? Hanya pertanyaan itu yang sekarang berkelebat di pikiran Kyuhyun.

Mengapa Minho bisa besikap begitu lembut padanya sementara Siwon―sangat kasar dan kejam?

"Minho―"

"Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada Umma. Karena aku sangat―" lanjut Minho lagi. Kali ini sambil menggengam tangan pucat Kyuhyun. "―menyayangimu, Umma."

Kyuhyun sukses terharu mendengar penuturan putra bungsunya ini. Mata bulat indah itu sukses berair. Minho terkesiap melihatnya.

"Umma, apa ada yang sakit?"

"Ani."

"Mengapa Umma menangis?"

Kyuhyun hanya bisa meremas selimut di pangkuannya semakin erat. Air matanya jatuh lagi sebutir.

"Aku akan panggil Dokter―"

"Andwae!" seru Kyuhyun sambil menahan lengan Minho yang sudah akan bangkit. Putra bungsu keluarga Choi itu menatapnya tidak mengerti. "Umma baik-baik saja, sungguh. Jangan panggil dokter dan―"

Kyuhyun berhenti sebentar. Genggaman tangannya di lengan Minho semakin mengerat. Sama sekali tidak menyadari keadaan jantung putra bungsunya yang berdetak cepat karena tindakannya ini.

"―dan jangan beritahu ayahmu tentang hal ini." Lanjut Kyuhyun. Minho menatapnya semakin bingung. "―U-umma tidak mau membuatnya khawatir. Ini hanya kecelakaan kecil."

Minho masih menatapnya intens, membuat Kyuhyun gugup. "Umma, Siwon Hyung tidak melakukan apapun kepadamu, kan?"

Kyuhyun sukses melebarkan matanya mendengar apa yang dikatakan Minho. Jantungya berdegub semakin kencang.


"Jungsoo-ah, pastikan jadwalku kosong malam ini. Aku ingin pulang ke rumah segera."

Park Jungsoo―atau sekretaris Park―atau orang-orang biasa memanggilnya Leeteuk―menatap namja paruh baya yang merupakan atasan sekaligus sahabatnya dengan sebelah alis terangkat lalu terkekeh geli. Namja itu kemudian memeriksa agenda kecil di tangannya.

"Jadwalmu malam ini kosong, Sajangnim." Ucap Leeteuk masih nyengir aneh. "Sengaja aku kosongkan untuk keperluanmu yang sangat mendesak."

Kangin tersenyum salah tingkah mendengar penuturan sahabatnya. "Keperluan mendesak, huh?"

"Aku tahu bahwa aku telah mengacaukan malam pertamamu. Jadi aku akan memberimu waktu luang malam ini untuk―yah, kau tahu―having fun with your young-new-wife."

Kangin tergelak kemudian tertawa keras. Leeteuk memutar mata melihatnya. "Kau yang paling mengerti diriku, Jungsoo-ah. Gomawo. Maaf aku belum sempat mempertemukanmu dengan Kyuhyun. Aku merencanakan sebuah perayaan kecil nanti. Semua orang akan senang bertemu dengannya."

"Nyonya Choi sangat cantik. Semua orang pasti menyukainya."

"Tentu saja. Wajahnya seindah hatinya." Ucap Kangin lagi, sambil tersenyum kecil mengingat wajah manis dan lugu yang terus-terusan merona merah jika ia menyentuhnya.

"Tapi, Kangin-ah." Ucap Leeteuk lagi. Kali ini dengan nada yang serius. "Sepertinya Siwon―"

Ceklek

Ucapan Leeteuk terhenti saat seseorang masuk ke dalam ruang meeting yang sudah sepi itu. Kedua namja paruh baya itu menatap seseorang yang berdiri di depan pintu dengan terkejut.

"Siwon?" ucap mereka berdua dengan serentak.

Siwon membungkuk sekilas. Namja tampan itu menatap dua orang di depannya dengan wajah dinginnya yang biasa.

"Aku ingin bicara denganmu sekarang, Appa." Ucap Siwon pendek. "Berdua."

Leeteuk berdiri begitu mendengar kalimat tambahan dari Siwon. Sekretaris kepercayaan Choi Youngwoon itu tersenyum dan menepuk bahu Siwon begitu melewatinya kemudian menghilang di balik pintu yang tertutup. Meninggalkan ayah dan anak itu berdua di ruangan ini.

"Duduklah, Siwon. Appa juga ingin bicara denganmu."

Siwon mengambil kursi tepat di depan ayahnya dan duduk disana. Kangin menegakkan posisi duduknya.

"Appa tahu kau masih belum menerima Kyuhyun sepenuhnya―"

"Animida, Appa." Sela Siwon masih dalam mode sopannya. "Bukan belum menerima sepenuhnya, tapi aku tidak menerimanya sedikitpun. Sampai kapanpun."

Kangin menghela nafas mendengar hal itu. Ia tahu benar bagaimana sifat putra sulungnya ini. Begitu keras kepala dan berpendirian teguh.

"Dia akan menjadi ibu yang baik untukmu dan Minho. Mengapa kau tidak mencoba untuk menjalani ini sebentar, Siwon?"

"Bagaimana aku bisa menganggap seseorang yang usianya hampir sama denganku sebagai seorang ibu? Itu tidak masuk akal." Sahut Siwon. Masih tidak mengalihkan pandangannya dari Kangin. "Dan latar belakangnya. Aku sudah mendapat informasinya. Dia hanya anak yatim-piatu yang tidak jelas asal-usul keluarganya. Apa lagi yang diinginkan orang seperti dia jika bukan menguras harta kita?"

"CHOI SIWON!" seru Kangin tegas. "Jaga ucapanmu! Setidaknya dia lebih baik daripada ibu kandung―"

"Jangan menyebut apapun tentang ibu kandungku." Siwon berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya mengeras penuh amarah begitu mendengar hal yang paling dibencinya. "Jangan pernah menyebut tentang 'dia' di hadapanku!"

Kangin masih duduk tenang di tempatnya. Sedikit menyesali ucapannya. Namja tampan itu kemudian menghela nafas lagi. "Ini keputusan Appa dan tidak akan berubah bagaimanapun itu."

"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima ini, Appa."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Siwon membungkuk sekilas lalu berbalik pergi. Meninggalkan Kangin sendirian disana.

"Kyuhyun tidak akan seperti 'dia', Siwon. Tidak akan."


"Katakan padaku, Umma! Apa Siwon Hyung berbuat sesuatu kepadamu?"

"T-tidak." Jawab Kyuhyun gugup. Ia bingung harus mengatakan apa. Terlebih saat melihat mata tajam milik Minho yang menatapnya saat ini. "U-umma belum bertemu kakakmu pagi ini."

Minho menghela nafas lega. Namja tampan itu tersenyum lagi. "Umma, tolong maafkan Siwon Hyung. Dia tidak seburuk kelihatannya. Aku berjanji akan membuat Siwon Hyung menyayangimu seperti aku menyayangimu. Aku berjanji!"

Kyuhyun tersenyum dengan wajah bersemu merah melihat tingkah Minho di depannya. Hal itu membuat Minho terpana sekali lagi, namun sepertinya putra bungsu Choi itu bisa mengatasi hal itu dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menatap ruang pakaian dan baru sadar bahwa ia berniat mengambil pakaian untuk Kyuhyun mengingat saat ini Kyuhyun hanya mengenakan bathrope―milik Siwon―yang tentu saja oversized hingga sedikit mengekspos bahu dan collar bone putih pucat itu.

Membuat Minho berkali-kali harus menelan ludah dan mengontrol matanya untuk tidak terus-menerus mencuri pandang kesana.

"Tunggu disini sebentar, Umma. Aku akan mengambilkan baju untukmu." Ucap Minho seraya melesat ke arah ruang pakaian sembari menghela nafas lega karena terbebas dari pemandangan 'vulgar' dari tubuh ibu tirinya sendiri. Dengan cepat, si bungsu Choi bersaudara itu mengambil sebuah piyama berwarna biru gelap beserta mantelnya dan berjalan cepat kearah ranjang lalu duduk disana. "Ayo! Akan kubantu Umma untuk ganti pakaian."

Kyuhyun melebarkan matanya begitu tangan Minho sudah akan meraih bathrope yang dipakainya. Tangan pucatnya mencengkeram bagian bathrope di depan dadanya. Minho menyadari kesalahan besarnya dan segera berdiri dari tempatnya.

"Mi-mianhae, Umma. Si-silahkan ganti pakaian. Aku akan keluar." Ucap Minho gelagapan. Namja muda berwajah tampan itu menyerahkan setelan piyama ke tangan ibunya dan sudah akan berbalik sebelum lengannya kembali ditahan oleh Kyuhyun.

"Minho." Ucap Kyuhyun pelan. Mata bonekanya berbinar indah. Cantik sekali―menurut Minho. "Terima kasih."

Cup

Minho tidak tahan melihat wajah itu dan tanpa ia sadari ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi gemuk pucat di depannya. Kyuhyun terdiam di tempatnya sementara Minho tersenyum lalu berjalan kearah pintu dan menutupnya. Menyandarkan tubuhnya di dinding samping pintu besar itu lalu menghela nafas.

Putra bungsu keluarga Choi itu menyentuh bibirnya sendiri.

"Oh, Tuhan. Aku bisa gila."


Tap tap tap

Langkah itu sedikit menggema di koridor panjang bergaya klasik dengan banyak lukisan di sepanjang dindingnya. Kim Ryeowook sudah menapaki jalan ini sejak dulu. Berkeliaran di rumah besar dan mewah ini sejak masa kanak-kanaknya. Tidak heran, kedua orang tunya adalah pelayan di keluarga Choi. Keluarga ini sudah sangat berjasa bagi keluarganya sendiri. Bahkan Ryeowook ingat saat ia ditugaskan untuk menjaga Minho kecil sebagai tugas pertamanya di rumah besar ini.

Semua yang terjadi di keluarga kaya raya ini, tak pernah luput dari seorang Kim Ryeowook. Baik kejadian yang patas untuk diceritakan maupun―yang harus ia simpan rapat-rapat di dalam dirinya sendiri.

Namja itu menghela nafas sambil menatap pakaian di tangannya. Itu adalah pakaian Kyuhyun―Nyonya besar-nya―yang telah bersih dari segala noda yang mengotorinya tadi pagi. Noda yang dibuat oleh Tuan Mudanya sendiri. Ia sama sekali tidak mengira bahwa ia akan menemukan nyonya mudanya dengan keadaan yang―sangat―mengenaskan di kamar itu. Dengan tubuh yang berantakan oleh―

Ah! Yang penting nyonya besar-nya sekarang sudah baik-baik saja. Dan ia sudah berjanji kepada istri muda Tuan Besar Choi itu bahwa ia akan menyimpan kejadian pagi ini jauh di dalam dirinya dan tidak membiarkan siapapun mengetahuinya. Mengingat bagaimana kedua mata bulat berair itu memohon padanya, membuatnya luluh dan iba.

Ryeowook melanjutkan langkahnya menuju kamar utama di rumah itu. Berniat untuk meletakkan pakaian ini di ruang pakaian disana. Hari sudah gelap namun masih terlalu jauh untuk mencapai tengah malam. Waktu yang pas untuk melakukan tugas ini. Karena biasanya di saat seperti ini Kangin belum pulang dan ia bisa bicara sebentar dengan Kyuhyun atau hanya sekedar memastikan bahwa namja manis itu baik-baik saja setelah kejadian tadi pagi. Minho masih berada di Gym dan akan pulang beberapa saat lagi.

Ryeowook sudah akan mengetuk pintu besar di depannya, namun sebuah suara-suara aneh membuatnya urung. Pelayan muda itu terdiam di depan pintu kamar lalu menempelkan salah satu telinganya di pintu.

Seperti suara tertahan dan nafas yang berat. Lebih menyerupai suara―

Ryeowook buru-buru berbalik dan berjalan menjauh dari kamar dengan wajah memerah. Ia tidak boleh berada disana.

Memang benar bahwa Ryeowook harus pergi dari sana segera. Di dalam, kamar utama itu tampak temaram. Hanya lampu di sisi kiri dan kanan ranjang yang menerangi kamar luas itu. Bersinar temaram menerangi ranjang yang berderit teratur. Dengan dua tubuh polos yang bergerak teratur diatas ranjang king-size itu. Yang bertubuh lebih kecil sedang terbaring dengan tubuh putih pucatnya yang tak lagi terbalut sehelai benangpun terhentak naik turun dengan berirama. Sementara yang bertubuh lebih besar terus bergerak maju mundur di atas tubuh yang lain dengan tempo statis.

"Ehm, Kyuh-hyunh…"

Kangin mengeram penuh kenikmatan di sela kegiatannya memompa kejantanannya keluar masuk tubuh istri mudanya. Menyentuh bagian terdalam tubuh sang istri dengan hentakan bertempo sedang dan intens sejak 20 menit yang lalu. Kedua tangan kekarnya memerangkap tubuh putih pucat yang dibalut peluh di bawahnya. Membuat tubuh indah yang terhentak pelan itu terlihat bersinar dan mengkilap. Membuat birahi Kangin semakin memuncak untuk menaikkan tempo permainannya lebih cepat.

"Nggh! H-hyung―pelanh-pelan. Nggh… Nnnh…"

Kangin menundukkan wajahnya dan mengecup kedua mata bulat yang terus berair itu, kemudian turun dan melumat bibir merah bengkak yang merintih halus itu dengan penuh gairah. Kedua tangannya juga mulai merayap menuju tonjolan merah muda di dada putih itu dan memilin puting kecil itu dengan gemas. Gerakannya di bawah masih konstan.

Sungguh ia sangat menikmati kegiatan ini dan ingin berlama-lama melakukan ini dengan Kyuhyun hingga pagi―begitu pikirnya.

"Nggh… ngghh… nhh… mmphh…"

"Jangan ditahan, Kyuhh… Mendesahlah~"

Kyuhyun hanya menatap wajah Kangin yang memejam penuh kenikmatan dengan mata berkaca-kaca. Air mata kembali meleleh dari sepasang mata bulatnya yang bersinar begitu redup. Kedua tangannya mencengkeram erat selimut yang sudah tak berbentuk di bawah tubuhnya yang masih terhentak teratur.

Bagaimana ia bisa mendesah jika yang ia rasakan hanya kesakitan tanpa sedikitpun kenikmatan? Semuanya terasa sakit. Badannya yang sejak tadi terbaring pasrah dan dihentak tiada henti, membuat nafasnya terengah. Tangan dan jemarinya yang sejak tadi meremas selimut menahan sakit, membuatnya kebas dan mati rasa. Kakinya yang sejak tadi tergantung di bahu namja yang masih setia bergerak di atasnya ini, terasa pegal. Juga lubangnya yang terus dijejali kejantanan Kangin, sakit sekali.

Juga sakit di hatinya.

"Ehmm! Kau s-sempithh sekali, Kyuhyunh-ahhh."

Kangin menyelipkan kedua lengannya di punggung Kyuhyun dan membawa tubuh itu untuk duduk di atas pangkuannya tanpa melepaskan tautan kejantanannya. Kyuhyun menggigit bibirnya menahan perih saat Kangin mengintruksinya untuk menaik-turunkan tubuhnya diatas kejantanan yang berdiri tegak itu. Membuat benda keras itu menghantam semakin dalam ke dalam lubangnya.

"Nghh! Akkhh! Akhh!"

"Oh~ Kau nikmat sekalihh! Ah…"

Kangin semakin gencar menaik-turunkan pinggul Kyuhyun di depannya. Posisi duduk ini membuat kejantanannya semakin melesak lebih dalam. Bibirnya tak menyia-nyiakan dada pucat yang tersaji di didepannya. Di jilat dan digigitnya dada pucat itu hingga berbekas merah, membuat Kyuhyun memekik dan menangis semakin keras.

"Uljima~" ucap Kangin sambil mengecup kedua mata basah itu sekali lagi. "Jangan fokus ke rasa sakitnya. Rileks saja, Kyuhyun-ah~ Oh…"

Setelah mengatakan itu, gerakan Kangin semakin cepat. Namja tampan pemilik Choi Corp. itu kembali membaringkan tubuh Kyuhyun kemudian mulai memompa kejantanannya lebih cepat untuk mengejar orgasmenya yang sudah terasa dekat. Kyuhyun hanya bisa pasrah tubuhnya dihentak naik-turun seraya menggigit bibirnya kuat-kuat menahan sakit.

Beberapa tusukan terakhir, Kyuhyun bisa merasakan tubuhya ditindih dan beberapa semburan sperma memenuhi bagian dalam tubuhnya. Beberapa menit kemudian, Kangin bangkit, mendaratkan kecupan di dahi Kyuhyun yang berkeringat lalu mengeluarkan kejantanannya dari lubang sang istri―mengundang rintihan kecil Kyuhyun yang kemudian dibungkam dengan ciuman lembut di bibirnya oleh Kangin.

"Gomawo, Kyuhyun." Ucap Kangin, masih terengah. Namja itu kemudian membaringkan tubuhnya di samping Kyuhyun lalu menggelar selimut tebal diatas tubuh polos mereka. "Maaf jika aku masih belum bisa mengalihkan rasa sakitnya."

Kyuhyun menarik selimut diatas perutnya hingga ke atas dadanya, nafasnya masih sangat terengah. "G-gwaenchana―Hyung."

Kangin tersenyum menatap wajah manis di sampingnya kemudian mengacak surai madu itu dengan lembut. "Sekarang tidurlah. Kau pasti lelah, hmm?"

Setelah mendaratkan kecupan di bibir Kyuhyun, Kangin menyamankan dirinya di tempat tidur dengan sebelah tangan memeluk pinggang ramping istrinya. Tak beberapa lama kemudian Kyuhyun bisa mendengar dengkuran halus disampingnya. Kangin sudah tidur.

Namja manis itu menatap langit-langit kamar mewah itu dengan mata berkabut. Masih belum bisa bergerak kemanapun. Bukan karena lengan Kangin yang masih menindih pinggangnya, namun memang seluruh tubuhnya terasa sakit dan patah-patah di semua bagian. Isakan kecil lolos dari bibirnya bersamaan dengan butir-butir air mata yang mulai berebut keluar dari mata bonekanya.

Mengapa semua ini begitu menyakitkan? Mengapa ia harus mengalami ini? Namun―Kyuhyun mengusap air matanya dengan kasar. Satu lagi suara berbicara di dalam pikirannya.

Suara itu berkata pada dirinya dengan penuh keyakinan.

Bertahanlah demi tujuanmu! Jangan menyerah sekarang! Kau melakukan hal yang benar, Cho Kyuhyun!


Minho memang benar tentang ucapannya tempo hari. Bahwa seorang Choi Siwon memang tidak tahan dengan benda bernama Alkohol, namun tentu saja putra sulung keluarga Choi itu masih sok-sok'an minum. Biasanya Siwon akan memilih alkohol sebagai jalan terakhirnya jika ia sedang dalam sebuah masalah yang bahkan ia sendiri tidak bisa untuk mengatasinya. Maka ia akan berakhir dengan minum alkohol sebanyak―2 atau 3 botol―jumlah yang cukup sedikit untuk membuat pikiran peminumnya menjadi melayang.

Seperti saat ini, namja tampan berpostur sempurna itu tampak berjalan limbung di ruang tengah rumah besarnya. Beruntung ruang tengah rumahnya itu sangat luas. Jika saja ruangan itu kecil, maka Siwon pasti akan menabrak dan menjatuhkan semua barang-barang disana. Mengingat barang-barang yang terpajang disana adalah benda-benda mahal hasil koleksi Kangin dari perjalanan bisnisnya dari seluruh dunia. Jangan tanya tentang harganya!

Bruk!

Yah! Sepertinya putra sulung Choi Youngwoon itu memang peminum yang sangat buruk. Lihat saja sekarang namja tampan itu ambruk bahkan sebelum ia mencapai sofa. Kepalanya luar biasa pusing dan berputar. Namun Siwon masih bisa melihat arloji di tangannya. Beberapa menit lagi menuju tengah malam, tidak heran mengapa rumah ini sudah sunyi. Dengan perjuangan yang cukup berat, akhirnya Siwon bisa mendudukkan diri di sofa dan setengah berbaring disana seraya memijat dahinya yang pusing.

Siwon memejamkan matanya sejenak. Sepertinya ia tidak sanggup untuk naik ke kamarnya malam ini. Bisa-bisa ia tergelincir di tangga besar disana itu jika ia memaksa untuk naik. Namja tampan itu bedecak saat pusing kembali menguasai kepalanya. Ia sudah hendak memejamkan mata lagi untuk terlelap sesaat sebelum gerakan di bawah kakinya membuat hazel sekelam malam itu terbuka lagi.

Disana, seseorang sedang berlutut di depannya dan berusaha melonggarkan tali sepatunya dan melepasnya dengan perlahan. Dia adalah Cho Kyuhyun―ibu tirinya.

"Apa yang kau lakukan?!" ucap Siwon dengan nada dinginnya yang biasa sambil menghentak kakinya hingga menghentikan tangan pucat itu disana.

Kyuhyun tidak menjawab, hanya menatapnya dengan mata bulatnya yang bersinar sendu. Dapat Siwon lihat sisa-sisa dan jejak air mata disana, namun ia tidak peduli akan hal itu.

"Menyingkirlah dari hadapanku."

Siwon sudah akan bangkit, namun kepalanya yang pusing membuat tubuhnya ratusan kali lebih berat hingga ia susah untuk menggerakkannya. Namja tampan itu berdecak sebal melihat tubuhnya yang lemah karena alkohol sialan itu, namun ia lebih tidak suka melihat wajah namja yang masih setia berlutut di depannya ini. Membuatnya muak dan―

Siwon kembali membuka matanya begitu merasakan tubuhnya terasa hangat. Ternyata sebuah selimut tebal sudah tergelar diatas tubuhnya.

"Disini sangat dingin, kau bisa sakit jika tidur dalam keadaan seperti ini, Siwon."

Siwon menatap wajah Kyuhyun yang masih menunduk di depannya. Terlihat pucat seperti biasa.

"Aku sudah membuatkan teh hangat." Ucap Kyuhyun lagi sambil menunjuk secangkir teh di atas meja tak jauh dari sofa. Namja manis itu masih tidak menatapnya. "Kumohon minumlah agar tubuhmu hangat."

Siwon termenung mendengar semua itu. Sejenak ia melupakan rasa bencinya kepada namja yang kini berdiri di depannya, dengan jemari yang saling bertaut gugup. Apa Kyuhyun menunggunya semalaman hingga membuatkannya teh hangat dan menyiapkan selimut ini untukknya? Begitulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat di kepala Siwon.

"Mengapa kau melakukan ini?" tanya Siwon, masih menatap namja manis yang terlihat gemetar di tempatnya.

Kyuhyun terlihat mengambil langkah mundur, namun Siwon dengan sigap menangkap lengannya dan menahannya. Siwon bisa merasakan lengan pucat yang hanya dibalut mantel tidur itu gemetar. Wajah manis itu masih menolak menatap matanya.

"Karena―" ucap Kyuhyun lirih pada akhirnya setelah keheningan yang tercipta diantara mereka. "―aku adalah ibumu."

Bruk!

Entah ini pengaruh alkohol atau emosi dalam dirinya, begitu mendengar kalimat lirih itu, Siwon langsung menarik lengan yang masih digenggamnya dan membanting tubuh Kyuhyun di sofa. Menahan kedua lengan pucat itu di atas dan melumat bibir merah itu dengan ganas. Menghiraukan ekspresi terkejut dan rontaan Kyuhyun di bawahnya.

"Siwonmmpht―"

Siwon memperdalam dan memperkasar lumatannya pada bibir Kyuhyun di bawahnya. Menekan kedua lengan Kyuhyun semakin kuat diatas dengan satu tangan dan mulai menjamah piyama di dada Kyuhyun dengan tangannya yang lain. Ia bisa merasakan namja di bawahnya ini panik dan memberikan pukulan-pukulan kecil di dadanya.

Siwon melepaskan ciumannya dan bergerak ke arah leher pucat di depannya. Membuka paksa piyama di depannya dan sudah akan mendaratkan bibirnya di dada pucat itu sebelum―

Kyuhyun membuka matanya yang tadi sempat terpejam menanti apa yang akan dilakukan Siwon kepadanya (lagi). Ia sudah menduga kemungkinan terburuk setelah sadar bahwa ia mencium aroma alkohol dari Siwon. Namun sekarang putra tirinya itu hanya terdiam menatap kearah―dadanya yang sudah terbuka.

"S-siwon―"

Siwon masih terdiam menatap dada pucat itu. Dada lembut seputih kapas itu dipenuhi oleh―bercak merah keunguan yang hampir rata di semua bagiannya. Seperti dihantam oleh sesuatu yang menyakitkan, begitulah keadaan hati Siwon saat ini. Entah mengapa. Namun hal itu membuat rasa benci yang tadi sempat tenggelam, kini kembali menyelimuti matanya.

Putra sulung keluarga Choi itu menyeringai mengerikan.

"Bagaimana―" ucap Siwon setelah lama terdiam. Mata tajam itu kembali menatap iris coklat di depannya. "―malam pertamamu dengan ayahku, hmm?"

Kyuhyun melebarkan matanya dan sontak bergerak menutup dadanya yang terbuka, namun Siwon dengan cepat menahan tangan itu, membuat Kyuhyun menatapnya semakin takut.

"Jadi, sekarang kau sudah melaksanakan tugasmu sebagai istri Choi Youngwoon?" ucap Siwon lagi, seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Kyuhyun di depannya. "Lalu sekarang kau berusaha melaksanakan tugasmu sebagai ibuku?! BEGITUKAH?!"

Jika saja saat itu tidak tengah malam, maka semua pelayan di rumah ini pasti mendengar seruan itu. Namun kali ini hanya Kyuhyun yang merasa bahwa seruan itu terasa begitu keras, hingga membuat air matanya tumpah. Siwon berdecak melihat itu, namja tampan itu meraih dagu Kyuhyun dan mengarahkannya agar menatapnya dengan kasar.

"Kau boleh menjadi istri untuk ayahku dan ibu untuk adikku." Ucapnya dengan penekanan di setiap katanya. Rasa iba dan simpati yang tadi sempat muncul menutupi rasa bencinya untuk namja di bawahnya ini kini sudah menguap tak bersisa. "Tapi bagiku kau tetaplah namja murahan yang hanya bermodal tubuh untuk mendapatkan uang."

Siwon tersenyum puas melihat air mata mengalir semakin deras dari kedua iris coklat karamel di depannya. Namja tampan itu menyusuri wajah Kyuhyun dengan jemarinya sembari menyeringai.

"Jika saja Appa tahu apa yang aku lakukan padamu, tamatlah riwayatmu, Cho Kyu―"

"Aku akan melakukan apapun." Ucap Kyuhyun pelan, membuat Siwon kehilangan kata-katanya seketika. "Asal jangan katakan apapun tentang ini kepada ayahmu. Kumohon padamu, Siwon."

"Kau akan terus menderita seperti ini."

"Aku bersedia."

"Kau akan menjadi budak seks-ku."

"Lakukan apa ingin kau lakukan."

"Kau pelacur murahan, Cho Kyuhyun~"

Kyuhyun memejamkan matanya mendengar kalimat itu. Saat matanya terbuka, air matanya berebut keluar banyak sekali. Hatinya terasa hancur berkeping-keping mendengar itu.

"Kau boleh menghinaku semaumu, Siwon." Ucap Kyuhyun lagi. Suaranya sedikit bergetar karena tangisnya. "Tapi aku tidak akan pernah pergi dari keluarga Choi."

Cukup. Siwon sudah cukup mendengar omong kosong ini. Namja itu sudah sangat dipenuhi amarah dalam dirinya. Tanpa membuang waktu dan menghiraukan kepalanya yang masih pusing, Siwon menarik lengan ibu tirinya itu menuju tangga. Menyeretnya naik menuju kamarnya tanpa kata dan menghempaskan tubuh itu ke atas ranjangnya untuk ke sekian kalinya. Kyuhyun hanya menatapnya dengan tatapan sendu penuh air mata.

Kedua mata boneka itu menyiratkannya untuk memberi belas kasihan. Namun belas kasih itu sudah terbakar habis oleh amarah di dalam diri Choi Siwon.

"Baiklah, Cho Kyuhyun. Kau tidak mau pergi dari keluargaku―" ucap Siwon sambil bergerak cepat menuju laci disamping ruang pakaian, mengambil dua helai dasi di dalam sana lalu bergerak mengikat kedua tangan Kyuhyun masing-masing ke kepala ranjang. "―maka aku akan membuatmu seakan hidup di neraka."


"Selamat pagi, Tuan Muda."

Minho tersenyum sekilas menyambut sapaan pelayan di sekitar meja makan. Namja tampan berwajah kekanakan itu duduk di tempatnya dengan wajah sumringah. Kangin yang sudah duduk di kursi kepala keluarga menatap putra bungsunya itu dengan sebelah alis terangkat.

"Appa, dimana Umma?"

Tuk

Minho mengaduh pelan saat Kangin memukul kepalanya dengan kertas koran yang telah digulung-gulung.

"Kau ini, bukannya mengucapkan selamat pagi kepada Ayahmu, dimana tata kramamu!" ucap Kangin dengan sedikit tegas. Namun namja itu tersenyum kemudian setelah melihat wajah masam Minho. "Umma-mu masih tidur. Biarkan saja, mungkin dia lelah."

"Mwo? Lelah?" tanya Minho lagi, mengabaikan hidangan sarapan pagi yang sudah tersaji lezat di depannya. "Apa yang telah Appa lakukan semalam?! Awas saja jika Umma sampai sakit. Aku sudah sangat merindukannya. Bagaimana ini?"

Kangin terlihat salah tingkah kemudian tertawa aneh mendengar gerutuan putra bungsunya.

"Ya, Choi Minho. Sejak kapan kau jadi anak manja seperti ini, huh? Kau tidak pernah bersikap manja kepada Appa." Ucap Kangin kembali terkekeh. Kepala keluarga Choi itu memanggil salah satu pelayan dan megintruksinya untuk mendekat. "Tolong bangunkan istriku dan bilang padanya bahwa putra bungsunya sudah sangat merindukannya."

Pelayan itu sedikit tersenyum geli mendengar peritah lucu Tuan besarnya lalu berlalu naik menuju kamar utama untuk membangunkan Nyonya besarnya. Minho hanya merengut mendengar kata-kata ayahnya. Baru saja ia akan membuka mulut untuk protes, perhatiannya teralihkan oleh seseorang yang duduk di kursi depannya.

"Siwon Hyung? Kapan kau pulang?"

"Tadi malam." Jawab Siwon pendek sambil meletakkan tas kerjanya. Namja tampan itu sudah rapi dengan setelan jas dan dasi.

"Kau akan ke kantor hari ini, Siwon?" kali ini Kangin yang bertanya. Namja paruh baya itu juga sedikit terkejut dengan penampilan putra sulungnya ini. "Appa masih memberimu libur, kau ingat?"

"Aku tidak suka suasana di rumah ini lagi."

Jawaban pendek Siwon membuat Kangin menghela nafasnya. Ia tahu betul apa makna ucapan itu.

"Hyung, jangan bertingkah seperti anak kecil dan coba terima Umma apa adanya." Ucap Minho sambil menatap tajam kakaknya.

Siwon balas menatap adiknya tak kalah tajam. "Kau yang terlalu lugu untuk bisa menebak apa yang diinginkan namja itu, Minho."

"SIWON HYU―"

"CHOI SIWON! CHOI MINHO! CUKUP!" seru Kangin tegas, membuat kedua putra kandungnya itu berhenti berdebat. "Jangan merusak suasana pagi ini dengan pembicaraan ini! Sebentar lagi Kyuhyun turun dan aku tidak mau―"

"M-maaf, Tuan besar."

Ucapan Kangin terhenti begitu mendengar selaan dari salah satu pelayannya. Ternyata itu pelayan yang ia suruh untuk membangunkan Kyuhyun beberapa saat lalu. Siwon dan Minho juga mengalihkan perhatian mereka.

"Dimana Kyuhyun?"

"N-nyonya besar tidak mau bangun, Tuan besar."

Kangin menatap pelayan yang berdiri di sampingnya dengan kedua alis bertaut. Minho juga melakukan hal yang sama.

"Apa maksudmu tidak mau bangun?" kali ini Minho yang bertanya.

"N-nyonya besar tidak bisa dibangunkan." Ucap pelayan itu lagi dengan nada takut yang kentara. "Se-sepertinya Nyonya Besar pingsan."

Semua yang ada di meja makan itu melebarkan matanya. Termasuk Siwon yang sejak tadi memilih tidak peduli.

"APA?!"


.

.

To be Continue

.

.


Emerald0705