PREVIOUS STORY

"M-maaf, Tuan besar."

Ucapan Kangin terhenti begitu mendengar selaan dari salah satu pelayannya. Ternyata itu pelayan yang ia suruh untuk membangunkan Kyuhyun beberapa saat lalu. Siwon dan Minho juga mengalihkan perhatian mereka.

"Dimana Kyuhyun?"

"N-nyonya besar tidak mau bangun, Tuan besar."

Kangin menatap pelayan yang berdiri di sampingnya dengan kedua alis bertaut. Minho juga melakukan hal yang sama.

"Apa maksudmu tidak mau bangun?" kali ini Minho yang bertanya.

"N-nyonya besar tidak bisa dibangunkan." Ucap pelayan itu lagi dengan nada takut yang kentara. "Se-sepertinya Nyonya Besar pingsan."

Semua yang ada di meja makan itu melebarkan matanya. Termasuk Siwon yang sejak tadi memilih tidak peduli.

"APA?!"

.

.

.

.

YOUNG MOTHER

Chapter 4: Hidden Persona

Genre: Romance, Drama

Rating: M

Cast: Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Kangin, Choi Minho, etc

Main Pair: WONKYU

Slight Pair: Kangin-Kyuhyun, Minho-Kyuhyun

Warning: YAOI, BOYSLOVE, NC21+, OOC, TYPOS

DON'T LIKE DON'T READ

Emerald0705 presents

.

.

Kamar utama keluarga Choi biasanya sepi. Hanya tuan besar dan pelayan khusus yang bisa mengakses kamar besar itu, namun tidak dengan pagi itu―tidak dengan hari itu. Tampak beberapa orang dan pelayan yang berdiri di depan pintu kamar besar itu.

Semuanya tampak tegang dan khawatir. Pasalnya sang 'Nyonya' besar tidak bisa dibangunkan dari tidurnya pagi ini, dan hal itu membuat seisi rumah besar itu terkejut setengah mati.

Ceklek

"Bagaimana keadaan istriku, Dokter?"

Kangin langsung saja menerjang sang dokter yang baru saja keluar dari kamar utama miliknya. Kepala keluarga Choi itu nampak sangat khawatir.

"Tuan Choi, istri anda―" ucap sang Dokter―terlihat seperti menimbang sesuatu.

"Apa yang terjadi dengan ibuku, Dokter?!" kali ini sang putra bungsu yang menimpali. Namja muda berwajah tampan itu terlihat khawatir luar biasa. Sang dokter terlihat sedikit terkejut dengan ulah Minho yang tiba-tiba saja muncul di depannya. "Dia baik-baik saja, kan?!"

"Choi Minho, jaga sopan santunmu." Sergah Kangin seraya menenangkan putranya. Ia tahu benar bahwa Minho juga sangat khawatir. Namja itu kemudian kembali mempersilahkan dokter untuk melanjutkan kalimatnya.

"Tuan Choi." Ucap dokter itu lagi, kali ini mulai melangkah dan menutup pintu kamar di belakang punggungnya. Semua yang ada di ruangan itu menatapnya was-was. "Apa anda tahu sebelumnya bahwa istri anda pernah memiliki riwayat pneumothorax?"

Kangin dan semua yang ada disana melebarkan matanya tak percaya. Wajah mereka memucat.

"A-apa?"

"Paru-parunya sedikit bermasalah, Tuan Choi." Ucap sang dokter menimpali kalimat tergagap milik Kangin. "Dan istri anda mengalami hipothermia. Sepertinya ia sangat kedinginan semalam―juga kelelahan."

Semua yang ada disana masih terdiam mendengarkan. Kangin terlihat mengusap wajahnya sambil mondar-mandir.

"Lalu bagaimana keadaannya sekarang, Dok?" tanya Minho, masih gagal untuk mengontrol nada suaranya yang sangat kentara bahwa ia sedang khawatir. "Apa sekarang paru-paru Umma bermasalah?"

"Iya, udara dingin membuatnya semakin buruk. Daya tahan tubuhnya sangat lemah. Sementara ini biarkan dia istirahat total dan jangan membuatnya lelah, karena―" sang Dokter kembali menggantung kalimatnya lalu menatap namja tinggi yang sejak tadi bersandar di sudut koridor sambil bersedekap. "―hal itu sangat berbahaya bagi Kyuhyun-sshi."

Choi Siwon mengalihkan matanya dari sang dokter yang masih menatapnya. Namja tampan itu meninggalkan tempatnya dan berlalu. Dokter itu tersenyum tipis melihatnya.

"Anda bisa masuk untuk melihat keadaan istri anda, Tuan Choi." Ucap sang dokter. "Tapi tolong usahakan untuk tidak membangunkannya dulu."

.

.

Siwon berdecak kepada dirinya sendiri saat baru menyadari tingkah bodohnya beberapa saat yang lalu. Entah ide darimana ia bisa begitu saja melesat naik ke kamar ayahnya begitu mendengar salah satu pelayan bilang bahwa Kyuhyun tidak bisa dibangunkan. Dan entah mengapa jantungnya seakan berpacu cepat dan hampir berhenti berdetak sekaligus saat melihat namja berkulit pucat itu terbaring tak bergerak di ranjangnya dengan kedua mata tertutup rapat.

Apakah tadi ia merasa khawatir? Like hell he would!

"Sedang memikirkan sesuatu? Tuan muda Choi Siwon?"

Siwon sontak berbalik dan menemukan dokter keluarganya sedang berdiri di ambang pintu kamarnya. Bersandar disana sambil bersedekap.

"Apa yang kau lakukan disini, Dokter Jung?" tanya Siwon pendek, kini mulai masuk ke dalam kamarnya.

"Tumben sekali kau memanggilku dengan formal. Sepertinya kehadiran nyonya Choi membuatmu semakin sopan."

Siwon berdesis lalu berbalik dan menatap tajam dokter di depannya. "Apa yang kau lakukan disini, Jung Yunho?!"

Jung Yunho, namja bersorot tajam yang merupakan dokter keluarga Choi itu menyeringai sejenak. "Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku yang bertanya padamu, Siwon."

Siwon menatap namja yang lebih tua beberapa tahun darinya itu dengan sorot tajamnya, sedang Yunho balik menatapnya tak kalah tajam seraya melepas kaca mata dari depan mata rubahnya.

"Apa yang telah kau lakukan kepada ibu barumu?"

Siwon sudah akan membuka bibirnya untuk membalas ucapan Yunho, namun sesuatu yang mendarat menabrak bagian depan tubuhnya membuatnya kehilangan kata-kata. Namja tampan itu menatap sehelai dasi berwarna biru gelap yang tadi dilemparkan Yunho kepadanya di lantai.

Itu adalah dasi yang―

"Pergelangan tangannya memar dan merah karena ikatan dasi milikmu itu." Ucap Yunho dengan nada datar dengan memberikan penekanan penuh di kata 'milikmu'. Pandangannya tidak lepas dari Siwon. "Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal semacam ini kepada istri Ayahmu sendiri, Choi Siwon."

"Dia bukan siapapun bagiku."

"Dia ibu barumu jika kau lupa."

"DIA HANYA PELACUR MURAHAN YANG AKAN MENCURI SEMUA HARTA KELUARGAKU!"

Yunho menaikkan satu alisnya mendengar seruan itu, sementara Siwon terlihat mengusap wajahnya kasar.

"Lagi-lagi kau menarik kesimpulan tanpa dasar, Siwon~" Yunho menghela nafas sambil menepuk bahu Siwon. Dokter muda itu berjalan mengelilingi kamar Siwon dan berhenti di samping ranjang. Matanya terfokus pada sesuatu disana. "Dan―sejak kapan kau peduli dengan harta keluargamu?"

Tidak ada jawaban dari Siwon. Putra sulung keluarga Choi itu terdiam di tempatnya. Berbagai pikiran berkelebat di pikirannya.

"Kau pikir dia sejahat itu?" tanya Yunho lagi seraya mengambil sebuah botol kecil di meja nakas. Dokter muda itu tersenyum melihat benda di tangannya. "Menguras harta keluarga Choi, huh?"

"Mengapa tidak?"

"Kurasa tidak, Siwon-ah." Sahut Yunho sambil menyerahkan botol kecil yang tadi dipegangnya kepada Siwon. "Kau tahu apa itu? Itu adalah suplemen multivitamin untuk daya tahan tubuh. Sesuatu yang tidak mungkin kau beli untuk dirimu sendiri."

Siwon menatap botol kecil berisi kapsul-kapsul di tangannya dengan sorot yang tidak bisa diartikan.

"Biar kutebak, Kyuhyun lah yang meletakkan itu disana―untukmu. Untuk putranya yang tercinta. Dia tidak ingin kau kelelahan atau semacamnya walau kau telah melakukan hal buruk kepadanya."

"Cukup!" seru Siwon. Namja tampan itu mencengkeram botol di tangannya dengan erat. "Aku tidak peduli hal baik apapun yang ia lakukan untukku. Aku membencinya dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun. Dan sekarang bisakah kau pergi dari sini, Jung Uisa-nim! Selagi aku masih memintamu dengan sopan."

Yunho mengangkat bahunya lalu beranjak dari kamar itu sembari menepuk bahu Siwon. Siwon memperhatikan punggung dokter keluarganya sekaligus teman dekatnya itu dengan tatapan datarnya yang biasa. Putra sulung Choi Youngwoon itu menatap botol vitamin di tangannya kemudian.

"Ah, satu lagi, Siwon. Kau tahu bahwa aku pernah mengambil Psikologi sebelum menyelesaikan sekolah kedokteranku, bukan?" tanya Yunho tanpa membalikkan badannya saat ia sudah mencapai ambang pintu. "Dalam Psikologi, kami belajar tentang micro expression."

Siwon memperhatikannya dalam diam.

"Saat kau mengatakan bahwa kau sangat membencinya―" ucap Yunho sambil menatap Siwon pada akhirnya. Senyum tipis menghiasi wajahnya. "―ekspresi wajahmu menunjukkan sebaliknya, Siwon."

Siwon melebarkan matanya mendengar itu. Yunho berbalik lagi. "Ada teori yang mengatakan bahwa ada pembatas yang―sangat tipis―diantara ekspresi kebencian dan cinta, hingga kau tidak bisa membedakannya."

.

.

Saat itu sudah menjelang petang. Matahari sudah hampir menyembunyikan seluruh tubuhnya di ufuk barat. Semburat merah kekuningan menerobos ke sela-sela jendela-jendela besar kediaman keluarga Choi. Membiaskan sinar hangat yang khas.

Cho―maksudku Choi Kyuhyun―membuka kedua matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat seakan ada beban yang digantung disana. Namun walau begitu, iris bulat sewarna lelehan coklat itu akhirnya terbuka setelah sekian lama tertutup.

Hal pertama yang dilihat Kyuhyun adalah langit-langit kamarnya. Berhiaskan bias sinar matahari senja. Baru saja ia akan menggerakkan tubuhnya, gerakannya terhenti. Seluruh tubuhnya terasa sakit di semua bagian dan nafasnya berat.

Sejenak istri muda Choi Youngwoon itu hanya terdiam menatap langit-langit kamar mewahnya, namun suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya.

"Kyuhyun!"

Kangin bergegas melesat menuju ranjang begitu melihat istrinya sudah sadar. Namja tampan paruh baya itu menggenggam telapak tangan pucat sang istri yang masih terasa begitu dingin, sementara tangan yang lain mendarat dan mengusap lembut surai madu Kyuhyun.

"Kau baik-baik saja? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Kangin lembut seraya mempererat genggaman tangannya di telapak dingin milik Kyuhyun. "Mengapa kau tidak pernah bilang bahwa kau sakit?"

Kyuhyun bisa melihat raut bersalah di wajah Kangin. Suaminya itu terlihat sedih.

"Aku baik-baik sa-ja, H-hyung."

Kangin menggeleng lalu mendaratkan telapak tangannya yang besar ke pipi pucat Kyuhyun. Mengusap kulit porselen itu lembut.

"Ini salahku." Ucap Kangin lirih sambil menatap mata bulat boneka di depannya dalam-dalam. "Kau pasti kelelahan setelah aku memaksamu untuk melayaniku semalam. Kumohon maafkan aku, Kyuhyun-ah."

Kyuhyun hanya bisa tersenyum miris mendengar penuturan Kangin. Suaminya ini―sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Namja manis itu bisa mengingat dengan jelas saat Siwon mengikat kedua tangannya di ranjang dan mulai menggagahinya dengan teramat kasar hingga menjelang pagi. Dan dengan sisa-sisa tenaganya, ia kembali ke kamarnya dengan keadaan yang―sangat menyedihkan. Masih dengan pakaian yang berantakan dan pergelangan tangan yang terikat oleh―

Mata bulat itu melebar saat menyadari sesuatu. Dengan gerakan cepat, Kyuhyun bergerak mengangkat kedua tangannya ke depan wajahnya. Membuat telapak tangan Kangin terlepas dari tangannya.

"Ada apa, Kyuhyun-ah?"

Tidak ada. Tidak ada dasi atau apapun disana. Hanya sebuah bekas merah samar yang terlihat kontras dengan kulit pucatnya.

Namja manis itu gemetar di tempatnya. Ia ingat benar bahwa ia sama sekali belum melepas ikatan itu dari tangannya, tidak sebelum ia lebih dulu pingsan semalam. Siapa yang telah melepasnya? Kangin?

"H-hyung―a-aku…"

"Ada apa, hmm?"

Kyuhyun meremas jemarinya erat-erat seraya menggigit bibirnya. Kentara sekali bahwa namja manis itu sedang gugup dan takut.

"A-apa yang terjadi saat aku pingsan?"

Kangin meraih kedua tangan Kyuhyun yang masih terangkat di depan wajahnya dan kembali menggenggamnya lembut. Kepala keluarga Choi itu tersenyum lembut menatap wajah gugup istri mudanya.

"Saat kau pingsan, semua orang di rumah ini sangat ketakutan, Kyuhyun. Maafkan aku karena sudah mengira bahwa kau sakit parah karena suatu penyakit atau semacamnya, karena wajahmu begitu pucat." Ucap Kangin kalem seraya mengeratkan genggaman tangannya. Namja itu tersenyum saat tubuh Kyuhyun dirasanya sudah tidak gemetar. "Tidak ada yang bisa kami lakukan selain membiarkan Dokter Jung memeriksamu."

"Dokter Jung?"

"Dokter Jung adalah dokter keluarga kami." Sahut Kangin saat melihat wajah kebingungan Kyuhyun. "Kyuhyun-ah, Dokter Jung bilang bahwa kau mempunyai riwayat penyakit pneumothorax. Apa itu benar?"

Kyuhyun menghela nafas panjang saat menyadari bahwa Kangin sepertinya tidak tahu-menahu tentang kejadian semalam. Lalu apakah Dokter Jung yang telah melepas dan mengobati luka di tangannya? Apa itu berarti dokter Jung telah mengetahui―

"Kyuhyun?"

Kyuhyun tersentak dari lamunannya begitu mendengar panggilan Kangin.

"Apa itu berarti kau benar-benar pernah menderita penyakit itu?"

"S-sebenarnya… S-saat kecil a-aku―"

Ucapan Kyuhyun terputus saat tiba-tiba tubuhnya dipeluk dengan lembut oleh Kangin. Suaminya itu membelai surai madunya kemudian.

"Tidak apa-apa. Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang kau sudah membaik." Bisik Kangin lembut. "Jangan terlalu banyak bicara dulu. Kau tidak boleh sakit lagi."

Kyuhyun hanya bisa terdiam sementara Kangin masih memeluk dan membelai rambutnya. Perlakuan lembut ini membuatnya nyaman dan serasa dicintai.

"Mianhae."

"Untuk apa kau meminta maaf?"

"K-karena membuatmu khawatir, H-hyung."

Kangin tersenyum mendengar kalimat lirih itu. Istri mudanya ini begitu lugu.

"Jangan meminta maaf, Kyuhyun-ah." Ucap Kangin seraya merapikan selimut di atas tubuh Kyuhyun. "Tapi sejujurnya, kau wajib khawatir."

Kyuhyun menatap namja di atasnya dengan sorot bertanya. Kangin menahan senyum melihat wajah lucu itu.

"Karena Minho hampir saja meninggalkan ujiannya di kampus hanya karena ingin menunggumu sadar. Aku harus membujuknya mati-matian tadi pagi."

Kyuhyun melebarkan matanya mendengar itu. Namja manis itu sudah akan membuka mulut untuk bicara, namun Kangin menghentikannya dengan kecupan lembut di pipinya.

Keduanya terdiam untuk beberapa saat yang lama. Tangan besar Kangin mendarat di dagu Kyuhyun dan membawa wajah pucat itu mendekat dengan perlahan. Kyuhyun menutup kedua matanya gugup menanti hal berikutnya yang terjadi sebelum―

Tin tin

Keduanya tersadar begitu mendengar suara klakson di bawah. Kangin menghela nafas kecewa sementara Kyuhyun bersorak lega di dalam hatinya.

"Sepertinya Minho pulang lebih awal." Ucap Kangin sambil berlalu menuju jendela besar dan melihat ke arah halaman. Sebuah mobil sport hitam bergerak cepat dari gerbang depan menuju garasi. Itu mobil Minho. "Pasti Minho sudah tidak tahan untuk bertemu Umma-nya."

Kyuhyun tersenyum kecil. Namja manis itu berusaha duduk di ranjangnya, Kangin membantunya saat tidak tahan melihat usaha sang istri yang selalu gagal menegakkan tubuhnya.

"Hyung, boleh aku meminta sesuatu?" tanya Kyuhyun saat tubuhnya sudah terduduk.

"Tentu. Apa yang kau inginkan, hmm?" sahut Kangin seraya merapikan selimut tebal berlapis tiga di atas pangkuan istrinya.

"Aku ingin pergi ke suatu tempat."

.

.

Tempat itu begitu ramai namun damai. Ramai karena kau bisa mendengar suara tawa dan sorak para anak kecil yang berlarian di halamannya yang luas dan teduh. Damai karena kau bisa merasakan kenyamanan dan kebahagiaan disana.

"Hyung, bagaimana hasil lukisanku? Apa bagus?" nampak seorang namja kecil sedang berlari dan menunjukkan kertas gambarnya kepada seorang namja dewasa yang duduk santai di bawah pohon yang rindang. "Hyung?"

Namja kecil itu bingung melihat namja di depannya yang biasanya selalu menjawab semua pertanyaannya, kini hanya terdiam dengan pandangan kosong ke depan.

"Changmin Hyung!"

Namja dewasa yang dipanggil 'Changmin' itu sedikit terlonjak di tempatnya dan menatap bocah kecil di sampingnya dengan tatapan terkejut.

"Mengapa kau selalu melamun saat kita sedang punya waktu untuk menikmati udara luar, Hyung?"

"Maafkan―"

"CHANGMIN-AH!"

Shim Changmin sontak menolehkan kepalanya ke arah gerbang dan mendapati seorang namja yang melambai kepadanya dengan senyum lebar. Senyum yang bagi Changmin―sangat ia rindukan.

"Kyuhyun?"

"KYUHYUN HYUNG!" seru namja kecil disamping Changmin dengan wajah terkejut sekaligus bahagia. "KYUHYUN HYUNG DATAAANG!"

Kyuhyun tersenyum melihat segerombolan anak-anak menyerbu ke arahnya dan berebut memeluknya. Namja manis itu merendahkan tubuhnya dan mulai memberikan tubuh-tubuh mungil itu sebuah pelukan.

"Hyung, kau kemana saja?"

"Hyungie, kami merindukanmu~"

"Apa kau akan pergi lagi?"

"Mengapa kau meninggalkan kami?"

Kyuhyun hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaan disekitarnya. Begitu ramai dan begitu ia rindukan celotehan kecil mereka, dan juga begitu―sulit untuk menjawabnya.

"Hei, anak-anak. Bagaimana Kyu Hyung bisa menjawab semua itu bersamaan. Cepat pergi bermain dan biarkan dia bernafas dulu."

Kyuhyun terkikik melihat wajah kecewa anak-anak di sekelilingnya. Namja manis itu menatap namja tinggi di depannya dengan sorot terima kasih. Changmin mengacungkan jempolnya.

"Siapa yang mau hadiah?" ucap Kyuhyun sambil membelai salah satu bocah di depannya. Kerumunan di depannya mulai gaduh begitu mendengar kata 'hadiah'. "Cepat ambil hadiah kalian di dalam dan jangan berebut, kajja!"

Changmin kewalahan saat anak-anak kecil itu berlarian menabrak-nabrak kakinya. Namja tampan bertubuh tinggi itu bergerak maju dan berhenti tepat di depan sahabat yang sangat dirindukannya.

"Kyuhyun, kau datang?" tanya Changmin basa-basi seraya menunggu Kyuhyun merapikan kemejanya yang sedikit berantakan karena anak-anak yang tadi berebut memeluknya. Kyuhyun menatapnya kemudian. Mata bulat bonekanya nampak berbinar senang.

Grep

Jika saja Changmin tidak punya keseimbangan tubuh yang bagus, maka sudah dipastikan ia akan terjatuh ke belakang begitu Kyuhyun menerjangnya dan memeluknya erat. Begitu erat hingga ia kesulitan untuk bernafas. Changmin tersenyum lembut dan sudah akan membelai surai ikal coklat di depannya seperti yang selama ini ia lakukan jika Kyuhyun memeluknya. Namun saat kedua tangannya nyaris menyentuh helaian lembut itu, gerakannya terhenti.

Tidak bisa. Tidak boleh. Namja yang sedang memeluknya sekarang ini sudah menjadi milik orang lain. Changmin meremas telapak tangannya sendiri sebelum memilih mendaratkannya di pungggung namja yang lebih pendek darinya ini.

"Ya! Baru saja datang kau sudah mau meremukkan tulang-tulangku, huh?" ucap Changmin dengan nada menjengkelkan lalu terkekeh. "Mengapa kau datang secepat ini? Aku belum merindukanmu, Pabbo-ya."

Changmin meringis mendengar kata-katanya sendiri. Apa yang dikatakan bibirnya sangatlah berlawanan dengan apa yang dikatakan hatinya.

"Aku tidak tahan. Aku merindukan kalian semua." Sahut Kyuhyun lirih. Suaranya bergetar menahan gejolak rindu di dalam dadanya. "Aku merindukanmu, Chwang."

Changmin bergerak melepaskan pelukan Kyuhyun dan menggiring sahabat manisnya itu menuju bangku kayu di bawah pohon rindang.

"Wah~ Lihat itu! Sekarang bahkan kau diantar mobil mewah dan sopir pribadi. Aigoo, Cho Kyuhyun. Daebak~"

Kyuhyun melengos melihat wajah menjengkelkan Changmin, namun pada akhirnya namja manis itu tersenyum. Sementara Changmin masih terkagum-kagum melihat Audi hitam dengan sopir yang berdiri di sampingnya jauh di depan gerbang panti asuhan.

"Apa Tuan Choi ikut?" tanya Changmin lagi sembari mengedarkan pandangannya. "Aku sangat ingin menjabat tangannya."

"Kangin Hyung―maksudku Tuan Choi ada rapat perusahaan yang tidak bisa ditinggalkan." Ucap Kyuhyun tergagap. Changmin terkekeh lagi di tempatnya.

"Suamimu itu pengusaha tersukses di seluruh Republik Korea Selatan, Kyuhyun-ah. Jadi biasakanlah."

"Aku tahu! Jangan menasehatiku."

Changmin tertawa lagi melihat ekspresi Kyuhyun yang berubah-ubah dengan begitu menggemaskan.

"Jadi, bagaimana?" tanya Changmin saat Kyuhyun terlihat sudah tenang.

"Apanya yang bagaimana?"

"Bagaimana kehidupan barumu? Memangnya aku mau bertanya apa lagi!" tanya Changmin dengan sorot mata sendu. "Bagaimana keluarga Choi?"

"Tuan Choi sangat baik. Dia begitu lembut kepadaku. Rumahnya sangat luas dan para pelayan memperlakukanku seperti raja―"

"Maksudmu ratu?"

"Ck! Jangan memotong kata-kataku, Chwang~ Kau tahu, rumahnya sangat besar. Kau tidak akan percaya saat kau punya ruang pakaian sendiri. Bukan lemari seperti yang kita pakai…"

Changmin tersenyum kecil mendengar nada manja khas Kyuhyun. Namja tampan itu mendengarkan cerita sahabatnya yang menggebu-gebu. Sudah terhitung dua minggu lamaya sejak Kyuhyun meninggalkan panti asuhan untuk tinggal di rumah keluarga kaya raya itu. Dan sejak dua minggu itu pula Changmin mati-matian menahan rasa rindunya kepada sahabat manisnya ini. Ia rindu segalanya yang ada pada Kyuhyun. Bukan hanya wajah manisnya, tapi juga senyumnya, suaranya, sorot matanya, dan semuanya. Seakan ada bagian dari dalam dirinya yang menghilang bersamaan dengan kepergian Kyuhyun.

"…disana juga ada taman yang indah. Aku pernah kesana sekali dan aku tidak bisa berhenti terkagum-kagum."

"Lalu bagaimana dengan kedua putranya." Tanya Changmin. Kyuhyun menghentikan ceritanya. "Apa mereka menerimamu?"

Perlu waktu beberapa detik lebih lama bagi Kyuhyun untuk menjawab 'iya, tentu saja'. Bahkan ia harus memaksakan sebuah senyum untuk meyakinkan Changmin.

"Mereka juga menyayangimu sebagai ibu baru mereka?"

"Mereka berdua sangat baik padaku, Changmin-ah." Ucap Kyuhyun sambil tersenyum cerah. "Sangat baik."

Changmin terpana melihat senyum itu. Namun ia sedikit terkejut saat menyaksikan setetes air mata turun dari sepasang iris coklat boneka itu.

"Mengapa kau menangis?" tanya Changmin gelagapan. "Apa terjadi sesuatu?"

Kyuhyun buru-buru menghapus air matanya, namun tangannya ditahan oleh Changmin. Sahabatnya itu menatapnya menuntut jawaban.

"Ada apa ini, Kyuhyun?"

.

.

"Bagaimana pendapat anda tentang proyek kerjasama ini, Siwon-sshi?"

Siwon hanya diam. Pewaris pertama keluarga Choi itu nampak duduk dengan pandangan kosong menatap ke arah pemandangan kota Seoul yang terpampang di belakang kursi kerjanya. Pikirannya dipenuhi perkataan Yunho yang terus terngiang di telinganya.

Bahwa ada pembatas yang luar biasa tipis antara ekspresi kebencian dan cinta…

Nonsense! Yunho hanya mengada-ada. Yang tahu tentang perasaannya yang sesungguhnya hanyalah dirinya sendiri, bukan Yunho atau siapapun. Tapi Siwon benar-benar tidak mengerti tentang perasaan khawatirnya. Bagaimana keadaan namja itu? Apa dia sudah sadar―

"Siwon-ssi? Siwon-ssi kau dengar aku?"

Siwon tersadar dari lamunannya dan mendapati rekan bisnisnya menatapnya bingung.

"Ya, aku mendengarkan." Ucap Siwon pendek sambil melirik beberapa berkas di meja. Kepalanya pusing lagi. "Dan itu adalah proyek yang buruk. Aku tidak bisa menerima kerjasamamu, Tuan Kim."

"A-apa―t-tapi proyek ini―"

"Pertemuan ini sudah selesai dan silahkan keluar karena waktuku tidak banyak."

Pada akhirnya klien itu keluar dengan wajah kecewa dan menyedihkan. Sudah terhitung lima atau enam pengajuan proyek yang Siwon tolak hari ini. Bukan saja karena ide mereka yang tidak novatif, namun juga karena pikirannya yang sejak tadi dipenuhi oleh―ibu barunya.

Kringgg

Dering telepon di meja kerjanya kembali mengejutkan Siwon. Putra sulung Choi Youngwoon itu mengangkatnya dengan malas.

'Sajangnim, Presdir Choi di line 1.'

Siwon berdecak namun jarinya tetap menekan tombol nomor satu.

'Siwon?'

"Ada apa, Appa?"

'Appa ingin memintamu untuk melakukan sesuatu.'

"Melakukan apa?"

Ada jeda sejenak sebelum Siwon mendengar helaan nafas di line seberang. Sepertinya ayahnya akan mengatakan sesuatu yang―

'Hari ini Umma-mu pergi mengunjungi panti asuhan. Tolong jemput dia. Appa harus memimpin rapat penting.'

"Dia bukan Umma-ku." Sahut Siwon pendek. Amarahnya muncul lagi. "Aku tidak mau peduli dengannya."

'Appa tidak memintamu untuk menolak. Ini perintah.' Sahut Kangin di line seberang. Siwon bisa mendengar gertakan di suara tenang itu. 'Semua sopir sedang menjemput tamu perusahaan.'

"Appa bisa menyuruh Minho."

'Minho sedang ujian saat ini. Appa tidak mau menganggunya. Dia ibumu, Siwon. Kau harus mengakrabkan diri dengannya.'

Siwon mengusap wajahnya kasar. Ia sama sekali tidak berminat menemui Kyuhyun saat ini. Entah mengapa.

'Kyuhyun masih belum pulih. Dia memaksa pergi walaupun keadaannya masih lemah. Appa tidak bisa menolaknya dan Appa sangat mengkhawatirkannya.'

Suara Kangin melembut. Siwon bisa merasakan kasih sayang disana, dan ia membenci itu.

"Itu bukan urusanku, Appa."

'Sekarang, Choi Siwon! Kau harus pergi sekarang.'

.

.

"Kau sakit? Wajahmu pucat, Kyuhyun."

Kyuhyun memalingkan wajahnya. Berusaha menghindari mata tajam milik Changmin yang seakan menuntutnya untuk menjawab semua pertannyaan.

"A-apa maksudmu? Kulitku memang pucat sejak dulu, Changmin-ah."

Kyuhyun tersenyum gugup dan berusaha berpaling menjauh, namun Changmin menahan kedua lengan pucat itu.

"Kau sakit. Aku tahu itu." Ucap Changmin dengan gusar. Ia tidak bisa bertingkah biasa jika itu menyangkut kesehatan sahabatnya. "Baru dua minggu kau tinggal disana dan kau sudah sakit?! Apa yang mereka perbuat kepadamu? Mereka menyakitimu?"

Kyuhyun menggeleng dan menundukkan wajahnya. Namja manis itu berusaha melepaskan kedua tangannya yang masih digenggam Changmin.

"Sudah kubilang aku tidak apa-apa."

"Jangan berbohong, Kyu. Kau tidak pandai melakukannya, kau tahu itu." Sahut Changmin masih menatap khawatir wajah Kyuhyun di depannya. "Apa yang terjadi?"

Kyuhyun masih belum berani menatap sepasang mata tajam di depannya. Air matanya mulai mengalir lagi. Bagaimana bisa ia memberitahu Changmin jika ia telah kehilangan segalanya di tangan putra tirinya sendiri.

"Katakan padaku, Kyu." Ucap Changmin kalem sembari menatap namja yang lebih pendek di depannya. Tangannya tidak bisa ia tahan untuk mengusap air mata di pipi pucat Kyuhyun. Ia tahu namja di depannya ini sudah milik orang lain, namun apakah sahabat dilarang untuk membelai dan menghapus air mata sahabatnya sendiri?

Perlahan Changmin mengarahkan tangan kanannya untuk menghapus butiran bening itu sebelum―

Grep

―tangannya ditahan oleh seseorang.

Baik Changmin maupun Kyuhyun sukses terkejut melihat siapa yang kini berdiri di depan mereka.

.

.

"Appa! Mengapa kau mengijinkan Umma pergi ke panti asuhan sendirian saat keadaannya belum pulih sepenuhnya?!"

Beberapa orang yang ada di ruang Presiden Direktur Choi corp. itu menolehkan kepalanya ke arah pintu yang baru saja dibuka dengan cukup keras. Seorang pegawai wanita sampai menjatuhkan berkas-berkas ke lantai.

"Minho?"

Semua orang di peusahaan super besar itu tidak ada yang tidak mengenal Choi Minho. Namja muda yang merupakan putra bungsu sang Presdir yang terkenal dengan sifat ceria dan lembutnya. Namun semua orang disana juga tahu bahwa lebih baik mereka tidak mengusik Choi Minho saat ia sedang marah. Karena Choi Bungsu itu memiliki sifat yang sangat mirip dengan kakaknya jika sedang marah atau tersulut emosi. Sangat mengerikan.

Seperti saat ini, beberapa pegawai itu lebih memilih undur diri dari ruangan Kangin dan berjalan takut-takut saat melintasi Minho yang masih berdiri dengan tatapan tajam ke arah Kangin.

"Dimana alamat panti asuhannya? Mengapa Appa tidak menjemputnya? Semua sopir ada di rumah."

"Minho, tenangkan dirimu." Sergah Kangin seraya berjalan menuju putra bungsunya. "Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau sedang ujian?"

"Itu tidak penting, Appa." Sahut Minho dengan nada tegas yang masih sopan. Ia merasa gusar. Pasalnya ia tidak menemukan Kyuhyun di rumah setelah ia berusaha mati-matian untuk pulang lebih awal dari kampus hanya untuk menghabiskan waktu dengan ibu barunya. "Dimana Umma-ku?"

Kangin tergelak mendengar penekanan penuh di kata 'Umma-ku'. Begitu posesif.

"Minho, tenanglah. Appa sudah menyuruh seseorang untuk menjemput Umma-mu dan akan tiba disini sebentar lagi."

Minho terdiam mendengar penuturan Kangin. Namja tampan berwajah kekanakan itu menatap sang Ayah dengan tatapan bingung.

"Seseorang? Siapa?"

Kangin tersenyum. "Hyung-mu."

.

.

Choi Siwon berdiri disana dengan wajah dinginnya yang biasa. Namja tampan yang merupakan putra Sulung keluarga Choi itu menghentak tangan Changmin dalam genggamannya lalu bergerak cepat menarik tangan Kyuhyun dan menyeretnya menjauh dari taman teduh itu.

"Hei―Lepaskan dia!" seru Changmin masih dalam nada suara normal. Jika saja ia berteriak, ia takut akan menakuti anak-anak yang bermain di sekitarnya. "Jika kau menyakitinya―"

"Apa yang akan kau lakukan jika aku menyakitinya?" sahut Siwon dengan nada datar yang mengerikan. Kyuhyun di sampingnya masih sangat shock dengan semua yang terjadi. "Dia adalah istri dari Choi Youngwoon, ayahku. Dan kau tidak berhak menyentuhnya."

"Changmin, tidak apa-apa. Ini Choi Siwon, putra sulung Kangin Hyung." Sahut Kyuhyun segera begitu merasa Changmin sudah akan membalas perkataan Siwon. "Aku harus pulang. Aku akan berkunjung lagi kapan-kapan. Gwaenchana~"

Changmin skeptis melihat senyum Kyuhyun. Dalam senyum itu, Changmin tahu bahwa sahabatnya itu menyiratkan 'Jangan berbuat bodoh di depan anak-anak dan aku akan menceritakannya suatu saat nanti. Semuanya baik-baik saja.'

Kyuhyun menghela nafas saat Changmin mengangguk samar dan kemudian tangannya kembali ditarik oleh Siwon menuju pelataran depan panti asuhan. Genggaman tangan besar di pergelangan tangannya ini begitu erat. Sangat erat dan menyakitkan.

"S-siwon, aku bisa jelaskan." Ucapnya seraya meringis menatap tangannya. Namja di depannya ini mengacuhkannya. "K-kau salah paham dengan―"

Kyuhyun kehilangan kata-katanya begitu tubuhya dihempaskan ke dalam mobil dan pintu di samping tubuhnya di banting hingga tertutup dengan keras. Istri muda Choi Youngwoon itu meringis menatap pergelangan tangannya yang berbekas merah sembari memperhatikan Siwon yang bergerak memutari bagian depan mobilnya kemudian masuk dan duduk di belakang kemudi tepat disampingnya.

Audi putih itu melesat begitu cepat dari pelataran panti asuhan menuju jalan utama. Kyuhyun masih belum berani bersuara. Membuat suasana di dalam mobil mewah itu mencekam.

"Kau bisa melanjutkan bermesraan dengan kekasihmu itu setelah mendapatkan surat cerai dari Ayahku sebentar lagi."

Kyuhyun menolehkan kepalanya saat Siwon memulai pembicaraan tanpa menatapnya. Namja manis itu melebarkan matanya dengan terkejut.

"Jadi ini alasanmu pergi ke panti asuhan seperti yang kau bilang kepada Appa?" ucap Siwon lagi, kali ini sambil menatap tajam ibu mudanya. "Sangat brilliant."

"Tidak. Kau salah paham, Siwon." Sahut Kyuhyun segera. "Changmin adalah sahabatku sejak kecil disana."

"Kau bisa mengatakan itu di depan ayahku." Ucap Siwon, kali ini memacu pedal gas mobilnya menjadi lebih kencang. "Lalu kita akan bertaruh, siapa yang akan lebih ia percaya. Putra kandungnya atau istri barunya."

Kyuhyun bergidik mendengar kalimat itu. Tidak. Kangin tidak boleh tahu tentang ini.

"Kumohon jangan katakan apapun kepada Ayahmu. Aku akan melakukan apapun, Siwon."

"Aku muak dengan semua omong kosongmu."

Tidak ada cara lain. Kyuhyun meraih roda kemudi mobil itu dan membantingnya ke kiri jalan, membuat mobil mewah itu menikam tajam ke bahu jalan. Siwon tidak percaya dengan apa yang dilakukan namja di sampingnya ini. Namun beruntung ia punya refleks yang sangat bagus sehingga ia bisa dengan cepat menangkap tangan Kyuhyun dengan tangan kanannya sedang tangan yang lain mengendalikan kemudi Audinya sembari menginjak rem.

"KAU SUDAH GILA, HAH?!" seru Siwon sambil menahan kedua tangan Kyuhyun di depannya. Audi putih itu sekarang sudah berhenti setelah cukup mendapat banyak klakson nyaring dan umpatan dari kendaraan lain yang melintas di sekelilingnya. "KAU MAU MEMBUNUHKU?"

Kyuhyun memejamkan matanya saat seruan itu terasa begitu keras di telinganya. Namja di depannya ini mendorong dan mengunci tubuhnya hingga membentur pintu mobil di belakangnya.

"Dengan apa lagi aku memohon, Siwon? Kau hanya salah paham." Ucap Kyuhyun mati-matian mengatur suaranya agar tidak bergetar.

"Baiklah, kau menang." Ucap Siwon sambil mengangkat dagu Kyuhyun dengan kasar hingga membuat ibu mudanya itu sontak menatapnya. "Aku tidak akan bilang masalah ini kepada Appa."

Kyuhyun membelalak terkejut. Rasa lega melingkupi jiwanya.

"Tapi aku akan menceritakan apa yang terjadi malam itu."

Siwon menyeringai menang melihat wajah terkejut Kyuhyun. Namja tampan itu mencengkeram dagu Kyuhyun lebih erat saat namja manis di depannya ini sudah akan membuka mulut.

"Sekarang diamlah atau aku akan memperkosamu disini saat ini juga." Ucap Siwon pelan namun penuh penekanan. "Itu yang kau inginkan, bukan?"

Kyuhyun mencengkeram tangan Siwon yang sudah akan membuka kancing kemejanya dengan kasar. Tangan pucatnya gemetar dan air matanya kembali meleleh saat beberapa kancing kemejanya telah terlempar entah kemana.

Siwon berdecak melihat air mata itu. Namja tampan itu menarik tangannya dan kembali duduk di belakang kemudi. Lebih memilih mengacuhkan Kyuhyun yang masih terisak di sampingnya dengan kemeja berantakan.

Ada sesuatu dalam air mata Kyuhyun… yang memaksanya untuk berhenti.

.

.

"Selamat datang, Sajangnim."

Siwon sama sekali mengacuhkan sapaan petugas lobby yang menyambutnya di gerbang utama Choi corp. Namja tampan itu keluar dari dalam mobilnya dengan angkuh. Si petugas keamanan itu terkejut saat mendapati satu lagi namja keluar dari bagian kanan mobil. Seorang namja yang rupawan sebenarnya. Namun wajahnya terlihat berantakan dan sedih. Mata sendunya tampak jelas dengan bekas-bekas air mata.

"Mungkin itu kekasih Tuan Muda Siwon." Ucap salah satu karyawan wanita yang berkerumun di sudut depan kantor. "Manis juga tinggi."

"Tapi mengapa wajah mereka seperti pasangan yang baru saja bertengkar?"

"Entahlah."

Begitulah bisik-bisik yang bergumam di seluruh penjuru lobby utama Choi Corp. Sepertinya semua orang disini belum mengetahui siapa Kyuhyun sebenarnya. Baik Siwon maupun Kyuhyun bisa mendengar itu. Siwon memilih tidak peduli sedangkan Kyuhyun hanya menggigit bibirnya kuat-kuat seraya berusaha mengimbangi langkah Siwon jauh di depannya. Walaupun ini kali pertama ia menginjakkan kakinya di perusahaan super besa ini, namun Kyuhyun tahu kemana langkah Siwon menuju. Tidak lain dan tidak bukan adalah ruangan Presiden Direktur Choi Corp. Ia tidak bisa membiarkan Siwon menceritakan kejadian malam itu kepada Kangin. Semuanya bisa berantakan. Ia tidak bisa―

Bruk

Kyuhyun jatuh terduduk saat tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Ia terlalu erlarut dengan pikirannya hingga tidak memeperhatikan jalan di depannya.

"Mi-mian―"

"Mianhamnida. Aku tidak memperhatikan―" namja berpakaian rapi yang membungkuk penuh itu memutus kata-katanya sendiri. Kedua matanya melebar. "Anda―Kyuhyun-sshi? Astaga nyonya Choi."

Kyuhyun tidak memperhatikan namja di depannya. Pandangannya terfokus pada Siwon yang semakin jauh di depannya. Namja manis itu mengambil beberapa kertas yang jatuh berserakan dan menyerahkannya kepada namja di depannya seraya meminta maaf.

"Park Jungsoo imnida. Aku adalah sekretaris Presdir Choi. Senang bertemu denganmu pada akhirnya, Kyuhyun-sshi." Ternyata itu Leeteuk. "Anda mencari Sajangmin?"

"Y-ya. Aku dan Siwon―kami―"

"Umma?"

Kyuhyun dan Leeteuk sontak menoleh ke arah elevator. Disana sudah berdiri Choi Minho yang terlihat terkejut sekaligus senang melihat Umma-nya. Semua yag ada di sekitar lobby itu terperanjat. Baik karyawan maupun petugas kebersihan, mereka terkejut saat putra pemilik perusahaan tempat mereka bekerja memanggil namja muda yang datang dengan Siwon dengan sebutan 'Umma'.

"Siwon?"

Siwon menghentikan langkahya begitu mendengar suara ayahnya. Putra sulung keluarga Choi itu melanjutkan langkah menuju tempat Kangin berdiri beberapa meter di depannya. Tampaknya Pemilik Choi Corp. itu baru saja selesai berdiskusi dengan seseorang. Kyuhyun menatap Siwon dan Kangin was-was. Saat ini ia berdiri diantara takdir kehancurannya sendiri.

"Umma, aku mencarimu. Mengapa Umma keluar saat sakit seperti ini?" tanya Minho saat ia tiba di depan sang ibu.

Kyuhyun bingung harus menjawab apa. Ia terlalu sibuk memperhatikan Siwon yang kini berjalan mendekat. Hampir saat Siwon mencapai tempat Kangin berdiri, Kyuhyun membelalakkan matanya.

"Kyuhyun-ssi!"

"Umma!"

Seruan Minho dan Leeteuk terdengar keras saat Kyuhyun berlari dengan cepat menuju tempat Siwon berdiri. Semua yang ada disana menyaksikan saat Kyuhyun mendorong punggung Siwon hingga membuat namja tampan itu tersungkur ke depan.

"APA YANG KAU―"

BRAAAKKK!

Siwon kehilangan kata-katanya saat pecahan pot bunga berbahan kaca itu pecah berkeping-keping di depan tubuhnya. Memporak-porandakan isinya hingga lantai marmer itu berantakan oleh tanah. Tidak ada yang tahu bagaimana pot yang merupakan properti taman gantung di lantai dua itu bisa jatuh seperti saat ini.

Semuanya masih dalam mode shock saat Kyuhyun melanjutkan langkahnya dan dengan cepat bergerak ke sisi Siwon yang masih terduduk tak jauh dari kekacauan itu.

"Siwon, kau baik-baik saja? Apa kau terluka?!" tanya Kyuhyun dengan raut khawatir. "Apa kau―"

Ucapan Kyuhyun berhenti saat namja manis itu menyentuh pipinya sendiri. Baik Kyuhyun maupun Siwon melebarkan matanya melihat cairan merah yang mengalir dari pelipis kiri Kyuhyun hingga mengalir ke pipi pucatnya.

Bruk

Semuanya seperti slow motion saat Siwon menyaksikan tubuh Kyuhyun limbung ke depan dan jatuh ke atas dadanya. Diam disana tidak bergerak dengan kedua mata tertutup rapat.

"KYUHYUN!"

"UMMA!"

.

.

To be Continued

.

.

Emerald0705