PREVIOUS STORY
"Siwon, kau baik-baik saja? Apa kau terluka?!" tanya Kyuhyun dengan raut khawatir. "Apa kau―"
Ucapan Kyuhyun berhenti saat namja manis itu menyentuh pipinya sendiri. Baik Kyuhyun maupun Siwon melebarkan matanya melihat cairan merah yang mengalir dari pelipis kiri Kyuhyun hingga mengalir ke pipi pucatnya.
Bruk
Semuanya seperti slow motion saat Siwon menyaksikan tubuh Kyuhyun limbung ke depan dan jatuh ke atas dadanya. Diam disana tidak bergerak dengan kedua mata tertutup rapat.
"KYUHYUN!"
"UMMA!"
.
.
.
.
YOUNG MOTHER
Chapter 5: Welcome back, Umma
Genre: Romance, Drama
Rating: M
Cast: Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Kangin, Choi Minho, etc
Main Pair: WONKYU
Slight Pair: Kangin-Kyuhyun, Minho-Kyuhyun
Warning: YAOI, BOYSLOVE, NC21+, OOC, TYPOS
DON'T LIKE DON'T READ
Emerald0705 presents
.
.
"Benturan itu hanya mengenai samping kepalanya. Suatu keberuntungan besar karena tidak jatuh di kepala belakang. Nyonya Choi hanya mengalami gegar otak ringan. Anda tidak perlu khawatir. Dia akan baik-baik saja."
Kangin menghela nafas lega mendengar penuturan Jung Yunho, dokter keluarganya. Minho di sampingnya juga terlihat luar biasa bersyukur. Setelah tragedi di perusahaan tadi, pimpinan utama Choi corporation itu segera melarikan istrinya ke rumah sakit terbaik di Seoul tanpa membuang waktu.
"Beruntung anda membawanya ke rumah sakit segera, karena dia bisa kehilangan banyak darah." Ucap Yunho lagi.
"Lakukan semua yang terbaik untuk istriku, Yunho-sshi."
Yunho mengangguk lalu permisi menuju ruang rawat Kyuhyun. Menepuk bahu si bungsu Choi Minho yang masih berdiri di depan pintu kaca transparan itu. Wajahnya tampak datar namun beraut khawatir. Mereka berdua masih belum diperbolehkan masuk ke dalam ruang perawatan VVIP itu. Yunho berkata bahwa mereka bisa masuk saat Kyuhyun sadar nanti. Kangin menepuk punggung putranya itu kemudian.
"Appa, apa yang terjadi denganku?"
Kangin sontak menatap Minho di sampingnya yang masih fokus menatap seseorang yang terbaring di ranjang dalam ruangan di depan mereka.
"Aku sangat menyayanginya walaupun baru mengenalnya. Aku tidak bisa melihatnya seperti ini, Appa." Ucap Minho lagi. Kata-kata itu tampak mengalun datar seperti diucapkan tanpa sadar. "Aku merasa bahwa aku harus melindunginya. Aku tidak sanggup melihat Umma seperti ini."
Kangin tersenyum lalu kembali menepuk bahu sang bungsu dengan sedikit keras. "Bukan cuma dirimu, Minho. Saat pertama kali Appa bertemu dengannya, Appa juga merasakan perasaan yang sama."
Minho menghela nafas panjang. Namja tampan itu menatap Ayahnya kemudian.
"Appa, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu dengan Umma." Ucap Minho dengan penekanan tegas di setiap suku katanya. "Tidak akan pernah."
"KANGIN-AH!"
Minho dan Kangin sontak menoleh mendengar seruan itu. Disana diujung koridor nampak Leeteuk dan beberapa orang berseragam rapi. Sekretaris sekaligus sahabat Choi Youngwoon itu nampak terengah. Namja berwajah malaikat itu menatap khawatir ke dalam ruang rawat Kyuhyun.
"Bagaimana keadaan Kyuhyun-sshi?" tanya Leeteuk. Kangin menghela nafas lalu mencoba tersenyum.
"Kita membawanya ke rumah sakit di waktu yang tepat."
"Syukurlah." Sahut Leeteuk lagi kemudian mendekat ke arah Kangin dengan wajah serius. "Kepala polisi perlu bicara denganmu, Kangin-ah."
Kangin menatap Leeteuk tidak mengerti. Leeteuk melanjutkan ucapannya kemudian. "Mereka bilang bahwa yang menimpa istrimu bukanlah kecelakaan."
Baik Kangin maupun Minho sontak melebarkan matanya mendengar ucapan Leeteuk. Keduanya menatap namja di depannya tidak percaya.
"Apa kau bilang?" ulang Kangin. Namja itu nampak luar biasa terkejut dan amarah terkelebat di matanya.
"SIAPA YANG BERANI BERBUAT HAL SEMACAM INI KEPADA UMMAKU?!" kali ini Minho yang bersuara. Namja muda berwajah tampan itu terlihat sangat menakutkan dengan emosi di matanya.
"Tenangkan dirimu, Minho. Kita tidak bisa membuat kegaduhan disini." Sergah Leeteuk seraya menepuk bahu Minho untuk menenangkannya. Kangin masih terlarut dalam keterkejutannya. "Kita harus ke kantor polisi untuk menemui pelakunya."
"Aku akan membunuh siapapun pelakunya! Aku tidak peduli!"
"CHOI MINHO, jangan gegabah!" seru Kangin seraya menahan bahu putra bungsunya yang sudah akan beranjak. "Kau tetap disini dan jaga Umma-mu. Appa dan Leeteuk Ahjussi yang akan pergi."
"TIDAK, APPA!" sahut Minho cepat. "Aku harus melihat si brengsek itu dan memberinya pelajaran dengan tanganku sendiri!"
"Appa tahu kau marah, Minho-ya." Ucap Kangin masih berusaha menenangkan putranya. "Tapi jika kau pergi, siapa yang akan menjaga Kyuhyun?"
"Aku yang akan menjaganya."
Baik Kangin, Leeteuk, maupun Minho terkejut mendengar suara itu. Mereka sama sekali tidak percaya siapa yang telah mengucapkannya.
"Siwon?"
Choi Siwon berdiri disana. Dengan wajah datarnya yang biasa dan beberapa plester luka yang menghiasi pipi dan lengannya. Putra sulung keluarga Choi itu melangkah maju perlahan dan berhenti di depan kamar rawat Kyuhyun.
"Kalian pergilah dan selesaikan semuanya." Ucap Siwon dengan tatapan yang pelahan menyendu menatap ke dalam ruang rawat. "Aku yang akan menjaganya disini."
.
.
Saat itu sudah menjelang sore. Kangin dan Minho masih di kantor polisi sementara Siwon―namja tampan yang merupakan putra sulung sekaligus pewaris pertama harta keluarga Choi itu masih bergeming di tempat duduknya. Disana entah sejak kapan. Dengan ekspresi datar andalannya dan kedua mata tajamnya yang tidak berpaling―barang sedetik pun―dari sosok yang masih terlelap di depannya.
Sebenarnya Siwon punya berjuta pertanyaan tak berjawaban yang berkelebat di dalam pikirannya. Seperti 'Mengapa dia melakukan semua ini?' atau 'Apa yang dia inginkan dengan melakukan hal yang jelas bisa membahayakan nyawanya sendiri?' dan lagi 'Apa tujuanmu sebenarnya masuk ke dalam keluargaku?'
Namun sepertinya hanya satu pertanyaan yang mewakili semuanya, yaitu…
'Siapa dirimu sebenarnya, Cho Kyuhyun?'
Namun, berdasarkan sepengetahuannya, Cho Kyuhyun hanyalah seorang namja yatim piatu biasa yang entah bagaimana ceritanya bisa menjadi istri Ayahnya dan―tanpa kesengajaan―juga mungkin karena nasib buruk―ia telah menodainya di malam pertamanya di rumah keluarga Choi.
Siwon menghela nafas―lagi. Mungkin ini yang ke-sekian kalinya. Namja tampan itu tidak sengaja menatap plester-plester luka di lengannya. Beberapa pecahan tajam kaca sempat menggores lengannya itu, dan perawat sudah membersihkannya tadi. Mata Siwon bergerak menatap Kyuhyun lagi. Namja itu juga memiliki banyak plester di lengan dan wajah pucatnya. Juga sebuah perban besar yang mengitari dahinya dan membelit surai ikal coklatnya.
Siwon masih ingat saat tubuh itu limbung dan jatuh tak bergerak ke dalam pelukannya sendiri sementara orang-orang di sekitarnya tampak histeris dengan tragedi itu. Dan Siwon juga mengingat dengan sangat jelas bahwa kata terakhir yang diucapkan namja yang masih tak sadarkan diri di depannya ini sebelum pingsan adalah menayakan keadaannya―yang jelas-jelas tidak perlu dikhawatirkan.
Terlepas dari itu, Siwon mengepalkan tangannya sendiri erat-erat saat mengingat ucapan Leeteuk mengenai pelaku dibalik kecelakaan ini. Bukannya Siwon tidak bisa mengira bahwa semua ini adalah kesengajaan, dan bukannya Siwon tidak mau menemui si pelaku di kantor polisi bersama Ayah dan adiknya tadi. Disana terlalu banyak orang. Siwon lebih suka menemui si pelaku itu empat mata, sehingga ia bebas melakukan apapun padanya. Tunggu saja. Di akan―
"Eunghh."
Siwon kehilangan lamunannya dan sontak menatap Kyuhyun. Namja berwajah manis itu sudah sadar rupanya. Iris coklatnya terbuka perlahan dan terdiam sejenak menatap langit-langit―sepertinya namja manis itu sedang memproses informasi di otaknya mengenai dimana tubuhnya berada saat ini. Siwon masih diam di tempatnya, menunggu Kyuhyun menyadari kehadirannya dengan sendirinya.
Dan benar saja, namja manis itu terlihat terkejut saat menyadari dimana dirinya saat ini. Dan lebih terkejut lagi saat mendapati siapa yang duduk di samping ranjangnya.
"S-Si-won―akh!"
Kyuhyun sontak menegakkan tubuhnya saat menyadari siapa yang duduk di samping ranjangnya. Namun sepertinya namja manis itu lupa bahwa ada cedera―lumayan serius―di kepalanya. Sehingga saat ia bangun dengan tiba-tiba, sakit dan pusing luar biasa langsung menyerangnya, membuatnya limbung ke depan dan sudah pasti akan terjun ke lantai jika saja―
Grep
―Siwon tidak menahan tubuhnya.
Deg
Kyuhyun membeku sesaat saat tubuhnya hampir memeluk Siwon. Namja manis sudah akan menjauh dari Siwon, namun namja tampan yang merupakan putra tiri sulungnya itu justru malah menahan bahunya agar tetap mendekat.
"Si-won―"
"Kepalamu cedera. Jangan bergerak tiba-tiba."
Kyuhyun terpana mendengar kalimat itu. Kalimat itu mengalun ringan, sarat akan kelembutan dan perhatian yang besar walau masih terkesan datar dan dingin. Sangat berbeda dengan kalimat yang biasanya diucapkan Siwon kepadanya.
Sementara Kyuhyun masih terdiam, Siwon medorong perlahan tubuh namja di pelukannya agar kembali berbaring di tempatnya.
"Kau perlu sesuatu?"
Kyuhyun hanya bisa menggeleng tidak percaya mendengar suara lembut di depannya. Walau masih tanpa ekspresi yang berarti, namun mata tajam Siwon itu memancarkan kelembutan.
Merasa tidak puas dengan jawaban tanpa kata Kyuhyun, Siwon menghela nafas lalu lebih memilih mengambil gelas air mineral di meja nakas dan menyerahkannya kepada Kyuhyun―yang masih menatapnya tidak percaya.
"Kau bisa minum sendiri atau perlu aku bantu?"
Kyuhyun hampir saja menumpahkan air minumnya saat mendengar kalimat Siwon. Siwon menghela nafas lagi dan memilih mengambil alih gelas di tangan pucat yang gemetar itu lalu tangan kirinya menyusup ke balik punggung Kyuhyun dan mengangkat tubuh lemah itu sampai setengah duduk lalu menyodorkan air ke depan bibir Kyuhyun dan menunggu hingga namja manis di depannya ini menyelesaikan satu tegukan kecil dan mengembalikan posisinya.
"Te-terima―kasih." Ucap Kyuhyun saat tubuhya sudah nyaman di tempatnya. Siwon mengangguk singkat dan kembali ke kursinya semula.
"Jika kau terkejut dengan perubahan perilakuku, aku hanya berusaha bersikap baik kepada orang yang hampir mengorbankankan nyawanya sendiri demi menyelamatkanku." Ucap Siwon saat Kyuhyun masih menatapnya takut-takut.
"T-terima k-kasih." Sahut Kyuhyun gugup. Mencoba membalas ucapan Siwon sebisanya.
"Aku yang harusnya berterima kasih."
Kyuhyun hanya bisa menundukkan wajahnya sambil menggigit bibir bawahnya keras-keras. Kedua telapak tangannya meremas selimut tebal diatas pahanya. Suasana ini terlalu canggung.
"Terima kasih." Ucap Siwon pada akhirnya, hingga membuat sepasang iris coklat bulat itu menatapnya dengan takjub. "Kau tidak perlu ceroboh dan mengorbankan nyawa hanya untuk menyelamatkan orang yang tidak kau kenal."
Kyuhyun menatap Siwon dalam-dalam. "Kau bukanlah orang yang tidak ku kenal."
Siwon berdiri dari tempat duduknya dan bergerak mendekat ke arah ranjang. Membuat Kyuhyun sedikit gemetar di tempatnya saat putra tirinya itu memerangkapnya diantara kepala ranjang dan tubuhnya sendiri.
"Kali ini aku sadar bahwa tujuanmu baik." Ucap Siwon saat wajahnya hanya dipisahkan lima centi udara kosong dengan Kyuhyun. Sepasang mata boneka itu menatapnya dalam. "Tapi kumohon hentikan ini."
Kyuhyun sudah akan membuka mulut untuk menjawab, namun kata-katanya musnah saat jemari besar Siwon hinggap di dagunya. "Kau memiliki wajah dan tubuh yang rupawan, Cho Kyuhyun. Mengapa kau rela melakukan semua ini kepada keluargaku?"
Kyuhyun masih terdiam tanpa bisa mengalihkan tatapannya dari mata Siwon.
"Mengapa kau merelakan keindahanmu untuk orang-orang yang tidak kau kenal?"
"Kalian…" ucap Kyuhyun pada akhirnya, butir-butir bening air mata berkumpul di pelupuk matanya. "…bukanlah orang-orang yang tidak aku kenal. Kalian adalah keluargaku saat ini."
Ada sesuatu yang menyakitkan di hati Siwon saat menyaksikan sebutir airmata itu turun dari sepasang iris coklat di depannya.
Demi apapun di dunia ini, Siwon sama sekali tidak bisa mengartikan rasa ini.
.
.
"Umma, kau harus menghabiskan buburnya, aku tidak peduli."
"Minho-ya, Jangan memaksa Umma-mu seperti itu. Mengapa kau jadi manja dan kekanakan sekali jika berhadapan dengan Umma-mu?"
"Apa masalahnya? Dia Umma-ku. Aku bebas bermanja-manja dengan Umma-ku sendiri."
Kyuhyun hanya menahan tawa mendengar perdebatan kecil di depannya. Tampak Kangin yang mendaratkan ujung sendok di dahi putra bungsunya. Sudah dua hari berlalu, dan sudah sejak kemarin Kyuhyun diperbolehkan pulang ke kediaman keluarga Choi. Dan sudah sejak dua hari itu juga, ia diperlakukan benar-benar layaknya seorang ratu di sebuah istana megah.
"Ayo, Umma. Buka mulutmu, aaaa~"
Dan Choi Minho―putra bungsunya ini sama sekali tidak mau meninggalkan sisinya barang sedetikpun. Bahkan untuk berangkat kuliah, pangeran termuda keluarga Choi ini harus dipaksa mati-matian bahkan diancam oleh Kangin agar mobilnya disita.
Tapi perlakuan itu membuat Kyuhyun tak henti merasa terharu, dan lagi―merasa dicintai.
"Kau tidak pernah memperlakukan Appa seperti ini jika Appa sakit." Ucap Kangin yang duduk di sisi Kyuhyun seraya menatap Minho dengan tatapan mengintimidasi. "Apalagi sampai menyuapi makan seperti ini."
Kyuhyun tersenyum di sela-sela kunyahan makanannya.
"Itu karena saat Appa sakit, Appa masih saja sibuk dengan dokumen dan meeting melalui video-call." Sahut Minho santai sembari menyodorkan sesendok bubur kepada Kyuhyun. "Jadi aku berpikir Appa tidak benar-benar sakit."
Tuk
"Appa, itu sakit~ Umma, Appa terus memukul kepalaku yang jenius ini dengan sendok, bagaimana ini~"
Rajukan Minho membuat Kyuhyun tidak bisa menahan tawanya. Melihat putra bungsunya itu mengerucutkan bibirnya dengan gaya imut sangat tidak cocok di wajahnya yang manly dan tampan, membuat Kyuhyun melepas tawanya.
Baik Kangin maupun Minho sukses terpana melihat tawa lebar itu. Mereka sama sekali tidak mengira, Kyuhyun yang tertawa seperti ini―sangat manis dan cantik.
"Permisi, Tuan Besar." Pangilan pelayan di ambang pintu menyadarkan ayah dan anak itu dari lamunan indah mereka. "Tamu yang ingin menjenguk Nyonya Besar sudah datang."
Kangin tampak senang dan bangkit dari ranjang, sementara Kyuhyun tampak bingung di tempatnya. Dan rasa bingungnya terjawab saat seseorang muncul di balik tubuh si Pelayan dan berdiri disana dengan senyum lebar kearahnya.
Kangin bergerak ke arah pintu seraya menjabat tangan tamu itu.
"Silahkan masuk, Changmin-sshi."
.
.
'Terjadi insiden di perusahaan raksasa nomor satu di Korea Selatan, Choi Corporation, beberapa waktu yang lalu. Insiden itu menimpa putra sulung CEO Choi Corp, Choi Siwon. Sebuah pot bunga terjatuh dari atas dan hampir mencelakai Choi Siwon. Namun alih-alih terluka parah, Choi Siwon diselamatkan oleh seseorang yang kabarnya merupakan istri muda Choi Youngwoon atau ibu tirinya sendiri. Polisi masih menyelidiki penyebab insiden ini dan telah memeriksa beberapa saksi dan dugaan sementara bahwa insiden ini merupakan perbuatan percobaan pembunuhan. Pihak Choi Corp masih belum memberikan konfirmsi apapun tentang hal ini―'
Pip
Televisi itu seketika mati, membuat berita yang sudah menjadi hot topic seantero negeri itu terpotong di tengah jalan.
Choi Siwon melemparkan remote di tangannya sembarangan dan beranjak berdiri dari sofa kamarnya. Sudah dua hari ia 'dipaksa' istirahat oleh dokter dan ayahnya. Dan hari ini ia sudah mencapai batasnya, jenuh dan bosan. Namja tampan itu menyambar mantel hitamnya dan juga kunci mobilnya, hendak keluar dari kamarnya sebelum langkahnya dihadang oleh seseorang di ambang pintu.
"Kau akan keluar? Bukankah dokter menyuruhmu istirahat selama tiga hari?"
Ternyata itu Kangin. Siwon menghela nafas dan mau tidak mau melangkah balik untuk mempersilahkan ayahnya masuk. Tidak berminat berdebat dengan ayahnya ini.
"Aku tidak terluka sedikitpun, Appa. Dan aku bosan di rumah." Sahut Siwon enggan.
"Kau memang tidak terluka serius secara fisik." Ucap Kangin seraya mendekat kearah putra sulungnya. "Tapi jauh didalam sana, kau terluka sangat parah. Di hatimu, benarkan, Siwon?"
Siwon tidak terbiasa mengelak dari kebenaran. Seperti yang dilakukannya saat ini, namja itu hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dan dengan itu juga Kangin tahu bahwa apa yang dikatakannya adalah benar.
"Ada dendam dan kegalauan di matamu, Siwon." Ucap Kangin lagi, "Appa hafal benar perilakumu sejak kecil. Dan Appa berharap kau bisa membaginya dengan Appa, agar kita bisa menyelesaikannya bersama, nak."
Siwon tersenyum tipis saat ia mengembalikan tatapannya ke mata ayahnya. Namun, namja tampan itu pada akhirnya menggeleng.
"Tidak apa, aku bisa mengatasinya sendiri."
"Tidak, kau tidak bisa." Sela Kangin sambil memegang kedua bahu Siwon di depannya. Namja paruh baya itu menatap putranya sendu. "Jika kau memiliki masalah, bagilah dengan seseorang, maka akan ringan."
Siwon terdiam menatap ayahnya.
"Jika kau tidak mau membaginya dengan Ayah, kau bisa membaginya dengan adikmu, Minho. Atau dengan Kyuhyun, Umma-mu."
Ekspresi Siwon berubah saat nama Kyuhyun disebut. Namja itu melepaskan tangan Kangin di bahunya dan berpaling menuju jendela besar di sampingnya. Kangin sudah menduga sikap putranya ini.
"Jika dia tidak mendorongmu saat itu, Appa tidak tahu apa yang akan terjadi padamu, Siwon." Ucap Kangin lagi, Siwon masih bertahan di posisinya. "Apa semua yang telah Kyuhyun lakukan tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia sangat menyayangimu? Apa dengan semua yang telah ia lakukan, kau masih tidak bisa menganggapnya sebagai seorang ibu?"
"Cukup, Appa." Sahut Siwon tegas. Jika saja itu bukan Kangin, maka ia akan berteriak dengan keras. "Kumohon hentikan."
Kangin terkejut melihat respon putra sulungnya ini. Aura di kamar itu menggelap.
"Aku sudah merubah sikapku kepadanya dan itu sudah cukup bagiku." Ucap Siwon dengan tajam. "Tapi untuk menganggapnya sebagai ibuku, aku tidak akan pernah bisa melakukannya, Appa. Tidak akan pernah."
Selesai dengan kalimatnya, namja tampan pewaris pertama keluarga Choi itu melesat kearah pintu dan menghilang di koridor. Kangin hanya menghela nafas di tempatnya. Ia tahu benar alasan mengapa Siwon bersikap seperti ini.
.
.
"Ini sudah jam makan siang, seharusnya kau meminum obatmu, kan?"
"Aku akan meminumnya nanti, Gwaenchana."
Changmin menghela nafas panjang melihat sikap keras kepala sahabatnya ini. Botol obat-obatan yang sudah ia pegang degan terpaksa ia kembalikan ke meja nakas.
"Pantas saja pot kaca itu pecah berkeping-keping." Ucap Changmin sambil bersedekap. Kyuhyun di depannya hanya bergumam 'ha?' tidak mengerti.
"Karena kepalamu ini sekeras batu, Cho Kyuhyun." Sahut Changmin lagi sambil menjitak pelan puncak kepala Kyuhyun yang tidak terbalut perban. Membuat sahabatnya itu mengaduh dan meringis karena sakit. "Penyakit keras kepalamu ini tidak pernah sembuh sejak dahulu kala."
"Sudah kubilang aku akan meminumnya nanti, Chwang." Ucap Kyuhyun lagi seraya memijat bekas jitakan Changmin. Changmin merasa bersalah melihatnya. "Selama kau ada disini, aku jauh baik-baik saja."
Changmin terpana melihat senyuman polos itu. Inilah pertimbangan besar mengapa ia tidak mejenguk Kyuhyun lebih awal. Karena saat ia bertemu dengan sahabatnya sejak kecil ini dan Kyuhyun sudah bertingkah manja seperti ini, maka ia akan luluh dan tenggelam semakin dalam.
Tenggelam begitu dalam cintanya sendiri.
"Chwang?"
Changmin terbangun dari lamunannya mendengar suara indah itu. Namja itu berdiri dari tempat duduknya kemudian.
"Lihat ini, sudah waktunya anak-anak panti makan siang. Aku harus pulang, Kyu."
Iris Kyuhyun terlihat meredup melihat sahabatnya berbenah. "Secepat ini?"
"Hei, Nyonya besar, kau sudah punya segalanya disini." Ucap Changmin sambil tersenyum dan menggenggam telapak tangan pucat Kyuhyun. "Tuan Choi dan Minho sangat menyayangimu. Aku tidak perlu khawatir lagi. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah selesaikan tujuanmu disini, oke?"
Changmin sudah akan berjalan pergi jika saja genggaman tangan Kyuhyun tidak mengerat di telapaknya. Namja tampan bertubuh tinggi itu melakukan kesalahan besar dengan menoleh dan mendapati Kyuhyun menatapnya dengan kedua mata besarnya yang berkaca-kaca.
"Kau akan berkunjung lagi, kan?" tanya Kyuhyun dengan kalimat yang hampir bergetar.
Changmin tahu apa yang harus ia lakukan jika ditatap dengan tatapan seperti itu oleh Kyuhyun. Ialah memeluknya dan mengusap kepalanya dengan lembut, maka sahabat manisnya itu akan berhenti berair mata. Namun…
Ia tidak bisa melakukan semua hal itu lagi. Sahabat manisnya ini… Kyuhyun… sudah milik orang lain.
Setelah mengatakan jawaban yang sekiranya membuat Kyuhyun puas, Changmin sesegera mungkin pergi, sebelum magnet terkuat dalam hidupnya itu lebih lama menahannya disana. Mungkin setelah ini ia akan menahan rindunya dan sebisanya untuk tidak sering kembali kesini.
Setelah memastikan pintu kamar utama itu tertutup di depannya, Changmin menghela nafas panjang. Mencoba membayangkan bagaimana wajah Kyuhyun di dalam sana.
'Bertahanlah, Kyu. Bertahanlah hingga―'
"―menyelesaikan tujuanmu, hmm?"
Changmin sontak membalikkan tubuhnya dan mendapati seseorang sudah berdiri di depannya dengan wajah dinginnya yang tidak asing.
Choi Siwon.
.
.
"Halo? Ya. Aku pesan yang ukuran besar. Yang warna putih."
"…"
"Benar. Tolong packing yang rapi dan cantik sesuai pesananku. Terima kasih."
Pip
"Wah wah, sepertinya Pangeran Choi kita sedang memesan sesuatu spesial."
Minho sedikit tersentak saat mendapati sahabatnya tiba-tiba muncul di depannya. Duduk disana dengan cengiran lebarnya.
"Kau membuatku jantungan, Jonghyun-ah!" seru Minho sambil mengelus dadanya.
Jonghyun terkekeh sambil meletakkan beberapa buku di atas meja café kampus itu. "Apa yang berukuran besar dan berwarna putih? Dan siapa gadis beruntung itu, hm? Hm?"
"Diamlah, brengsek." Umpat Minho dengan muka merona merah. Sedangkan Jonghyun tampak tertawa terbahak-bahak melihat wajah salah tingkah Minho di depannya.
"Mengapa kau tidak bilang kalau kau sudah punya kekasih, Choi Minho?" ucap Jonghyun mendramatisir. Beberapa orang mulai menoleh ke meja mereka. "Bagaimana nasibku yang jomblo ini? Bagaimana nasib fans-fans gilamu di kampus ini? Bagaimana―"
Omelan Jonghyun terhenti saat Minho membekap mulutnya. Perlu beberapa detik bagi dua sahabat itu untuk bergulat konyol.
"Minho Oppa? Apa benar kau sudah punya kekasih?" tanya seorang yeoja yang tau-tau sudah berdiri di depan meja mereka. "Apa benar?"
Minho dan Jonghyun sontak menghentikan kegiatan 'gulat' mereka. Ternyata yeoja itu adalah salah satu fans Minho di kampus ini. Hell.
"Aniyo." Jawab Minho cepat. Putra Bungsu keluarga Choi itu semakin panik saat melihat beberapa yeoja lain tampak mendekat dan bergabung dengan tatapan mengintimidasi.
"Lalu apa yang kau pesan tadi, Oppa?"
"Itu…" Minho tampak menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal seraya memberikan tatapan mematikan ke arah Jonghyun yang nampak puas di tempatnya. "Sebenarnya tadi aku memesan buket mawar putih untuk…"
Yeoja-yeoja yang tergabung dalam fansclub Choi Minho itu tampak was-was mendengar kalimat sang idola yang menggantung. Jonghyun juga terlihat penasaran.
"Untuk siapa?!"
Minho mengehela nafas. "Untuk Umma-ku. Dia sedang sakit, dan aku ingin menghiburnya dengan buket mawar itu. Puas?"
Tercipta keheningan yang mencekam sesaat. Minho hanya memutar matanya malas.
"AWWW… MANIS SEKALI." Seru yeoja-yeoja itu dengan pandangan kagum kepada Minho.
"Dia sangat menyayangi ibunya."
"Sangat berbeda dengan namja-namja lainnya."
"Tidak salah aku mengagumimu, Minho Oppa."
Minho hanya bisa melambaikan tangannya dengan senyum terpaksa mengiringi kepergian para fansnya. Pangeran termuda Choi itu memijat kepalanya yang pusing.
"Aku benar-benar kagum padamu, Minho Oppa~" ucap Jonghyun sambil menirukan gaya yeoja-yeoja tadi lalu tertawa. Minho hanya menatapnya malas. "Ah ya! Ngomong-ngomong tentang Nyonya Choi, apa beliau sudah baik-baik saja?"
"Sudah lumayan." jawab Minho sambil menopang wajah dengan salah satu tangannya di atas meja. Ia sedang membayangkan wajah cantik sang Umma. "Dan Umma tertawa pagi ini."
Jonghyun memperhatikan wajah Minho yang tersenyum dengan aneh. "Err... Itu bagus. Berarti Nyonya Choi sedang gembira, kan?"
"Kau tidak mengerti, Jonghyun-ah." ucap Minho masih menerawang wajah Kyuhyun. "Baru pertama kali aku melihat Umma tertawa lepas seperti itu. Begitu cantik~"
Jonghyun hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakukan sahabatnya ini. Tapi jujur saja, ia semakin penasaran bagaimana wajah ibu tiri Choi Minho ini. Apa yang membuat seorang Choi Minho yang perfeksionis menjadi terlena seperti saat ini.
.
.
Changmin memastikan pintu di belakang punggungnya tertutup sempurna. Sahabat dari Choi Kyuhyun itu tersenyum sekilas menatap namja di depannya.
"Senang bertemu lagi denganmu, Siwon-sshi." ucap Changmin berusaha terlihat setenang mungkin.
"Kalian merencanakan sesuatu sejak awal, bukan?" tanya Siwon masih dengan ekspresi datarnya. Suaranya masih sangat pelan. "Tidak mungkin bagi namja seperti Cho Kyuhyun mau menikahi Ayahku tanpa alasan."
Changmin bergerak melewati Siwon. Bukan berniat kabur, namun sebisa mungkin menjauh dari kamar Kyuhyun. Bisa-bisa sahabatnya itu mendengar percakapan ini, batinnya.
"Tentu saja, Siwon-sshi." ucap Changmin pada akhirnya. "Tujuan utama Kyuhyun adalah menikah dengan Tuan Choi adalah demi melengkapi kasih sayang seorang ibu bagi putra-putra keluarga Choi."
"Stop omong kosongmu ini, Brengsek!" desis Siwon masih dalam taraf suara normal. Putra sulung keluarga Choi itu menatap tajam namja di depannya. "Baiklah, aku akan mencari tujuan itu sendiri. Dan saat aku mengetahuinya, aku tidak menjamin bahwa Cho Kyuhyunmu―"
Grep
Siwon kehilangan kata-katanya saat Changmin mencengkeram kerah kemejanya.
"Jika kau berani menyakitinya LAGI―" ucap Changmin tegas sambil memberi tekanan penuh di kata 'lagi'. "―kau akan berhadapan denganku, Choi Siwon!"
Siwon melepaskan pegangan itu dengan kasar. Keduanya saling melempar tatapan tajam selama beberapa detik. Changmin menghela nafas dan tersenyum pada akhirnya.
"Jujur, Siwon-sshi. Aku sangat senang bertemu lagi denganmu." ucap Changmin tenang. "Jika saja Kyuhyun tidak menyelamatkanmu hari itu, aku tidak yakin bisa melihatmu lagi di―"
Grep
Bruk
"Aku tidak butuh diselamatkan!" ucap Siwon sambil mendorong dan mencengkeram kerah leher Changmin. "Oleh siapapun."
"Kau akan lihat, Siwon-sshi." Changmin melepas tangan Siwon dari kemejanya dengan sopan. Namja tinggi itu tersenyum lagi. "Apapun tujuan Kyuhyun kesini―"
Siwon menghentak tangannya. Membuat Changmin lepas dari cekalannya. Sahabat ibu tirinya itu berjalan mundur menjauh.
"―bukanlah untuk menghancurkan atau mencuri apapun dari keluargamu. Kau akan lihat sendiri, Choi Siwon."
Changmin membungkuk sekilas lalu berlalu cepat meninggalkan Siwon sendirian di koridor mansion mewah itu. Siwon hanya bisa mengusap wajahnya kasar seraya menatap pintu kamar utama manshion Choi.
Ceklek
Tepat saat Siwon menatap kamar besar di sudut koridor itu, pintu putih besarnya terbuka. Menampilkan Kyuhyun yang keluar dengan piyama putihnya. Ibu tirinya itu tampak sedikit tertatih.
Kyuhyun sedikit terkejut melihat Siwon berdiri tak jauh dari kamarnya. Namja manis itu terdiam sesaat dan terlihat menegakkan cara berdirinya. "S-siwon, bagaimana keadaanmu?"
Siwon hanya terdiam. Masih enggan menjawab atau lebih tepatnya enggan mengeluarkan satu katapun. "Apa kau perlu sesuatu?"
Kyuhyun menggeleng gugup. Namja manis itu terlihat memegangi perban yang mengitari kepalanya sesekali. "Bi-bisakah kau panggilkan pelayan Kim?"
Tes
Siwon sontak melebarkan matanya saat melihat setetes cairan yang mengalir melalui wajah pucat itu. Darah. Dengan cepat Siwon melesat menuju tempat Kyuhyun berdiri. Menarik dan menghadapkan tubuh yang lebih pendek darinya itu untuk menatapnya.
"S-siwon―"
"Apa yang terjadi dengan perbanmu?" tanya Siwon cepat sambil menyingkirkan tangan Kyuhyun yang menahan perbannya. Saat tangan itu berhasil ditahan Siwon, ternyata lilitan perbannya terlepas.
Kyuhyun, istri muda Choi Youngwoon itu sepertinya terlalu lemas dan pusing untuk menjawab pertanyaan Siwon. Namja manis itu hanya bisa mencengkeram lengan Siwon erat.
.
.
Saat itu sudah menjelang sore hari. Matahari sudah nampak makin memerah di ujung barat. Bias sinar kemerahan memancar menembus ruang-ruang di mansion mewah yang memakan dua hektar tanah di wilayah itu.
"Akh!"
Siwon menghentikan usapannya di dahi Kyuhyun saat namja itu merintih kesakitan.
"Jahitannya sedikit terbuka." ucap Siwon dengan nada datar andalannya seraya mengusapkan alkohol luka disana. "Bagaimana ini bisa terjadi?"
Kyuhyun masih terap di posisi awalnya sejak beberapa menit lamanya. Yaitu menunduk sembari mencengkeram erat piyamanya untuk menahan perih. Sudah sejak beberapa menit ia dan Siwon duduk berhadapan di ranjang besarnya ini. Siwon masih saja membersihkan dan mengganti perban lukanya dengan telaten.
"Apa kau terjatuh?"
"Aniyo." jawab Kyuhyun pendek. "Aku berusaha mengganti perbannya sendiri, tapi ternyata jahitannya terbuka."
Siwon menghela nafas panjang mendengar penjelasan takut-takut itu. Putra sulung Choi Youngwoon itu mengambil segumpal kapas lalu menempelkan ke luka di dahi Kyuhyun lalu dengan segera menutupnya dengan plester. Beruntung baginya yang sedikit mengetahui masalah pertolongan pertama. Pengalamannya di pramuka dan kegiatan kemanusiaan di saat sekolah sangat berguna.
"Apa yang terjadi jika tidak ada orang saat itu? Kau bisa saja mencelakai dirimu sekali lagi!" ucap Siwon dengan nada datarnya yang mulai meninggi. Hal itu membuatnya terdiam. Apa itu barusan? Apakah tadi ia merasa khawatir?
Merasa semakin canggung dengan suasana di kamar itu, Siwon sudah akan bergerak meninggalkan ibu tirinya itu sebelum lengannya ditahan oleh tangan pucat Kyuhyun.
Dan yang dilihat Siwon selanjutnya adalah sepasang iris karamel bulat yang menatapnya sendu. Sepasang mata berlatar belakang langit senja itu―tidak bisa Siwon ingkari―terlihat sangat―indah.
"Terima kasih, Siwon."
Ucapan itu membuyarkan lamunan Siwon seketika. Namja tampan itu secara tak sadar mengarahkan telapak tangan besarnya ke sisi wajah Kyuhyun. Mengunci gerakan dan pandangannya disana. Kyuhyun terlihat terkejut dan hanya bisa memejamkan matanya saat wajah putra tirinya itu semakin mendekat.
.
.
"Apa istriku sudah meminum obatnya?"
"Sudah, Tuan Besar."
Itu adalah Kangin. Namja paruh baya itu ternyata baru saja pulang dari kantor. Rapat dadakan yang sangat lama sama sekali tidak bisa dihindarinya. Jika saja Siwon tidak cuti, bisa saja putra sulungnya itu yang menggantikannya. Hal ini juga mengganggu jadwalnya untuk menjaga Kyuhyun. Istrinya itu masih belum begitu pulih karena cedera kepala yang dialaminya beberapa hari lalu.
"Jam berapa istriku meminum obatnya tadi?" tanya Kangin lagi. Pelayan disampingnya tampak kebingungan.
"Sebenarnya bukan para pelayan yang memberi Nyonya Besar obat. Mohon maaf, Tuan Besar."
Kangin mengernyitkan dahinya bingung. "Siapa? Minho? "
"Tu-tuan muda Siwon."
"Aku pulang."
Kangin sontak menoleh kearah pintu utama rumahnya. Ternyata si bungsu baru pulang dari kampusnya. Tidak sendirian, seorang namja tinggi berambut pirang pendek. Lee Jonghyun.
"Annyeonghaseyo, Tuan Choi." sapa Jonghyun sembari membungkuk sopan.
"Lee Jonghyun, kau semakin mirip dengan ayahmu saat muda dulu." Kangin memeluk dan memberikan tepukan di putra rekan bisnisnya sekaligus sahabat putra bungsunya itu.
"Terima kasih, Tuan Choi." sahut Jonghyun sambil tersenyum. "Tapi kurasa ayahku tidak mungkin setampan diriku saat muda dulu."
Minho menempeleng kepala sahabat narsisnya itu. Kangin tertawa melihat tingkah konyol dua anak muda di depannya. Kelakuan ini tidak pernah berubah sejak Minho dan Jonghyun berteman sedari kecil. Sangat konyol.
"Permisi. Buket mawar anda, Tuan Muda."
Minho dan Jonghyun menghentikan kegiatan gulat mereka dan menerima buket besar masing-masing. Minho dengan buket mawar putihnya yang indah dan Jonghyun dengan buket lily putihnya yang cantik.
Kangin memberikan tatapan bertanya menatap buket-buket besar di tangan dua namja muda di depannya.
"Appa, aku mengajak Jonghyun kesini untuk menjenguk Umma." ucap Minho sambil menatap buketnya kagum.
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Nyonya Choi yang kecantikannya selalu dilamunkan putra anda saat di kampus, Tuan Choi." ucap Jonghyun sambil membungkuk elegan.
Plak
Jonghyun hanya mendesis saat kepalanya kembali di tempeleng oleh sahabatnya. Kangin tertawa lagi melihat kelakukan mereka.
"Ayo keatas. Kita lihat Umma-mu bersama."
.
.
Kyuhyun memejamkan matanya saat hembusan nafas Siwon sudah terasa tepat di depan wajahnya. Istri muda Choi Youngwoon itu sudah akan bersiap akan apapun yang akan dilakukan putra tirinya ini.
Namun, ekspektasinya jauh diluar dugaan.
"Bagaimana bisa aku―dengan begitu mudahnya, tertipu dengan wajah rupawan dan polos yang kau miliki, CHOI Kyuhyun?"
Kyuhyun sontak melebarkan matanya dan sudah hendak bergerak menjauhkan wajahnya jika saja tangan besar Siwon tidak menahannya. Kedua mata setajam elang di depannya itu masih menatapnya lembut dan sendu. Namun ada setitik sorot di dalam hazel sekelam malam itu tang membuat Kyuhyun bergidik ngeri.
"Aku akan tanya untuk kesekian kalinya kepadamu―" ucap Siwon dengan nada datarnya. Cengkeraman tangannya di dagu ibu tirinya kian erat. "―apa tujuanmu datang dan masuk ke dalam keluargaku, hmm?"
Kyuhyun menelan ludah gugup melihat sorot lembut Siwon yang lambat laun berubah menjadi mengerikan. "Siwon―"
"Kau salah jika aku akan kasihan melihat keadaanmu saat ini, Kyuhyun." ucap Siwon saat ibu tirinya itu sudah akan memberikan pembelaan. "Aku memerintahkanmu untuk mengatakannya SEKARANG."
Kyuhyun gemetar di tempatnya. Namja manis itu tidak menyangka bahwa Siwon masih akan mengungkit masalah ini.
"Su-sudah kukatakan berulang kali padamu bahwa aku tidak mempunyai tujuan apapun, Siwon." balas Kyuhyun. Kaimatnya bergetar.
Siwon terdiam sejenak, lalu tersenyum dingin. "Jawaban yang salah."
Yang terjadi selanjutnya sangatlah tidak bisa Kyuhyun duga. Siwon mendorong tubuhnya hingga jatuh telentang ke atas ranjangnya, memerangkap tubuh dan menahan kedua tangannya di sisi kepalanya, lalu mendaratkan ciuman kasar dan menuntut diatas bibirnya.
Semuanya diluar dugaan Kyuhyun. Istri muda kepala keluarga Choi itu masih dalam keterkejutan luar biasa. Kepalanya luar biasa pusing dan yang bisa dilakukannya adalah menciba melepaskan kedua tangannya dari cengkeraman Siwon saat putra tirinya itu memporak-porandakan isi mulutnya untuk yang kesekian kalinya.
"Mmpphhttt! Mmpphh―Siwonmmph!"
Siwon melepaskan ciumannya saat dirasa namja yang terjebak di bawah tubuhnya ini kehabisan pasokan oksigen dalam paru-parunya. Putra sulung keluarga Choi itu tampak tersenyum miring melihat Kyuhyun terengah dengan kedua mata berair mata.
"Jika siksaan fisik tidak membuatmu pergi dari keluargaku, maka akan kuberi siksaan mental untukmu, my sex slave."
Air mata berebut keluar dari sudut iris karamel Kyuhyun. Harapannya bahwa Siwon telah berubah, kini musnah sudah.
"Kenapa? Hanya inilah yang bisa kau lakukan. Menangis dan menangis, hm?" ucap Siwon sambil mempererat cengkeraman tangannya, yg pasti akan menyisakan bekas yang kentara di pergelangan tangan Kyuhyun yang putih pucat. "Mana yang lebih kau pilih? Pergi dari keluargaku, atau menerima siksaan dari putra tirimu sendiri, Cho Kyuhyun?"
Kyuhyun hanya menatap Siwon dengan pandangan pasrah. Nafas istri muda Kangin itu masih terengah. Bibirnya masih basah dan memerah karena ciuman ganas Siwon sebelumnya. "Sudah kukatakan bahwa aku tidak akan pergi dari keluarga ini, Siwommmpptt!"
Siwon tidak tahan. Entah karena jawaban atau karena wajah Kyuhyun yang menurutnya sangat menggoda. Putra sulung keluarga Choi itu kembali melumat bibir ibu tirinya secara kasar, bahkan sebelum Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya. Ditariknya kedua tangan Kyuhyun keatas kepala lalu ditahannya agar namja manis itu tidak bisa memberontak. Tangan Siwon yang bebas segera menyelusup ke belakang leher Kyuhyun untuk memperdalam ciuman kasar sepihak itu.
Tok tok tok
Tok tok tok
"Kyu, kau di dalam?"
Siwon menghentikan ciumannya. Meninggalkan Kyuhyun yang terengah luar biasa dengan air mata yang terus mengalir. Namja tampan itu masih mempertahankan posisinya di atas tubuh Kyuhyun.
"Kyuhyunnie, apa kau tidur?"
Itu suara Kangin. Siwon dan Kyuhyun bisa mendengar sayup-sayup dari tempat mereka. Mengingat kamar utama ini begitu luas.
"Jawab." ucap Siwon lirih dengan muka datarnya. Masih tidak melepaskan cengkeraman tangannya. "Atau kau mau aku yang menjawabnya?"
"Aniyo, Kangin H-hyung." ucap Kyuhyun sedikit tersendat pada akhirnya. "Aku akan keluar sebentar lagi. Beri waktu 5 menit, aku baru selesai mandi."
"Baiklah. Apa kau bisa turun ke bawah, sayang?" suara Kangin terdengar lagi di balik pintu.
Siwon merasakan perasaan marah yang besar saat Ayahnya memanggil Kyuhyun dengan sebutan 'sayang'nya.
"Aku akan turun ke bawah, Hyung." ucap Kyuhyun lagi seraya mencoba melepaskan cengkeraman tangan Siwon, namun putra tirinya itu malah semakin mengeratkan pegangannya. "Akh!"
"Kyuhyun-ah, kau baik-baik saja?! Apa kau terluka?"
Ceklek ceklek
Beruntung pintu putih besar itu selalu terkunci rapat secara otomatis. Jika tidak, Kangin bisa sangat syok melihat kondisi istri muda nya saat ini bersama sang sulung.
"G-gwaenchana, Hyung." seru Kyuhyun sembari menatap Siwon memelas. Pergelangan tangannya bisa dipastikan membiru dan lebam karena ini. "Aku selesai sebentar lagi."
.
.
.
"Kyuhyun-ah, gwaenchana? Kau masih terlihat pucat."
Kyuhyun menelan ludah gugup mendengar pertanyaan sang suami. Ia hanya bisa tersenyum seraya memandang makanan di depannya.
"Aku baik-baik saja, Hyung." jawab namja manis itu pada akhirnya.
Saat ini seluruh penghuni mansion Choi sedang menikmati hidangan makan malam di ruang makan utama. Ada Kangin yang terus menerus memandang khawatir sang istri, juga sang sulung dan bungsu Choi. Yang tetap terlihat tampan dengan gaya mereka masing-masing.
"Umma, perkenalkan ini sahabatku sejak sekolah dasar, Lee Jonghyun."
Ucapan Minho membuat Kyuhyun mendongakkan wajahnya. Di depannya ada Minho yang menatapnya sambil tersenyum seperti biasa, dan di sampingnya duduk seorang namja asing.
"Annyeong, Jonghyun-ssi." ucap Kyuhyun kalem dengan senyum tipisnya.
Minho menatap Jonghyun yang masih mematung di tempatnya dengan pandangan kosong dan mulut menganga menatap Umma-nya. Si bungsu Choi itu segera saja menempeleng kepala sahabatnya itu.
Plak
"Huh? A-anyeonghaseyo, Nyonya Choi." Jawab Jonghyun pada akhirnya. "Lee J-jonghyun imnida."
Lee Jonghyun masih bisa mendengar umpatan kecil Minho di sampingnya. Namun, itu tidak penting baginya saat ini. Dunianya sedang diambil alih oleh sesosok manusia indah di depannya. Sepertinya Minho benar, sahabatnya itu berkata yang sebenarnya. Bahwa ibu tiri muda milik sahabatnya ini, benar-benar definisi keindahan yang sesungguhnya. Matanya, wajahnya, hidungnya, bibirnya... Ah, sangat indah dan...
"Ya! Lee Jonghyun! Kau melamun ya?!"
Jika saja Minho tidak berteriak, mungkin Jonghyun akan selamanya menatap Nyonya Choi di depannya.
"M-mianhamnida." ucap Jonghyun pada akhirnya sambil membungkuk meminta maaf pada Tuan dan Nyonya Choi.
"Tidak apa-apa, Jonghyun-ah." Kangin berucap seraya tersenyum kecil. "Semua orang memang terpana saat pertama kali melihat istriku."
Siwon. Namja tampan itu sejak tadi diam saja di tempat duduknya. Entah mengapa melihat tangan ayahnya menggenggam jemari pucat milik Kyuhyun di depannya, hatinya sangatlah merasa kesal. Jika saja ia tidak punya bakat menakjubkan dalam menyembunyikan ekspresi wajah, maka bisa dipastikan semua orang disana akan lari ketakutan melihat aura wajahnya.
"Umma, maafkan sahabatku yang kurang ajar ini. Nanti akan kuberi dia pelajaran mengenai etika memandang orang yang lebih tua." Minho berkata sambil menempeleng kepala Jonghyun sekali lagi.
"A-ani~ aku tidak bermaksud seperti itu, Nyonya Choi. Jeongmal mianhamnida."
"Tidak perlu minta maaf, Jonghyun-ah." sela Kangin, "Ekspresi Minho tidak kalah epic saat pertama kali bertemu ibu barunya."
"HAHAHAHA."
Kangin dan Jonghyun tertawa puas sementara Minho teelihat salah tingkah di tempatnya. Kyuhyun hanya tersenyum sedikit sambil menatap sang sulung yang masih duduk di tempatnya tanpa ekspresi. Saat kedua matanya bertemu dengan mata milik Siwon, Kyuhyun buru-buru berpaling. Jantungnya berdetak sangat kencang. Namja manis itu ketakutan.
"Bagaimana dengan Siwon Hyung, Tuan Choi?" tanya Jonghyun setelah tawanya berhenti. "Apa Siwon Hyung juga terpana melihat Nyonya Choi sepertiku dan Minho?"
Kyuhyun menahan nafasnya saat merasa suasana di meja makan itu mendadak hening. Saat matanya mendongak, hal pertama yang dilihatnya adalah senyum Siwon.
"Tentu saja." jawab Siwon sambil tersenyum, menampilkan lesung pipinya yang dalam. "Siapa yang tidak terpana melihat wajah rupawan Umma kami."
Jika semua terlihat bahagia mendengar kalimat itu, maka itu tidak berlaku untuk Kyuhyun. Namja manis itu bisa merasakan seluruh tubuhnya merinding melihat senyum Siwon. Senyum yang dirasanya adalah sebuah seringai yang mengerikan.
"Ayah senang akhirnya kau bisa menerima Umma-mu sepenuhnya, Siwon." ucap Kangin sambil menggenggam jemari Kyuhyun dengan erat. "Sepertinya Ayah bisa meninggalkan kalian selama 3 haru dengan tenang."
Kyuhyun sontak menatap Kangin tak mengerti. Kangin hanya tersenyum menatapnya.
"Kyuhyun-ah, aku dan Minho akan pergi ke London selama 3 hari untuk mengurus beasiswa Minho disana. Karena kau belum pulih sepenuhnya, maka Siwon akan menjagamu disini, Arra?"
Kyuhyun menatap suaminya dengan tidak percaya. Kedua mata bonekanya sudah berkaca-kaca.
"Umma, mianhae. Aku sangat ingin mengajakmu, tapi Umma masih sakit." ucap Minho seraya tersenyum lembut. "Saat Umma sudah sembuh, aku akan mengajak Umma kesana juga, percayalah."
Kyuhyun bisa merasa suhu tubuhnya menurun drastis. Apalagi saat kedua iris karamelnya bertemu dengan hazel sekelam malam milik Siwon.
"Siwon, kau harus memastikan Umma-mu baik-baik saja, arrasseo?"
Siwon menatap ayahnya datar lalu tersenyum.
"Pasti, Appa. Aku akan menjaga 'Umma' dan memastikan ia baik-baik saja."
Kyuhyun bisa menangkap pesan mengerikan yang dikirimkan Siwon lewat senyuman penuh maknanya. Hari-harinya di rumah keluarga Choi tidak akan sama lagi.
.
.
To be continued
- Emerald0705 -
