My Busy Yunie

.

.

.

.

.

Disclaimer : Mereka semua milik Tuhan

Cast : DBSK, Suju, BTS (maybe)

Genre : Drama, Romance, School of Life, Little bit Humor, Yaoi, Angst

Typos, membosankan, alur suka - suka

Rate : T

Waw... Cho liad ada reader yang sampe karatan nungguin ff yang ini update kkkk~~~ Maaf telat update, baru sembuh Cho nya... Hohohohohoho~~

Enjoy it ^o^

.

Warning!

Lupa... Kalo tulisannya "..." pake italic Tandanya mereka lagi ngomong bahasa Jepang ya... Ingat lhoo~~

.

.

.

.

.

.

~ Sekuel A ~

.

.

.

.

.

- TIGA TAHUN KEMUDIAN -

.

.

KRING KRIINNGGG~~

KRRIINNNGG~~~

" Hahahahahaa..."

" Tunggu!"

" Kejar kalau kau bisa"

" Yak! Jejung!"

Dua buah sepeda saling berkejaran di sebuah jalan dipinggir sungai, mereka memang sering menghabiskan wakru bersepeda disini.

" Kau payah!"

" Awas saja kalau aku sampai menyusulmu! YA! Tunggu aku!"

" Hahahahaha!"

Acara kejar – kejaran itu masih berlanjut sampai salah satunya merasa kehabisan nafas, akhirnya dia menghentikan sepedanya dan mengambil nafas sebanyak mungkin. Tidak mendengar lawannya, sepeda yang ada di depan berhenti dan menolehkan kepalanya.

Dia terkekeh, kemudian membalikkan sepedanya menuju sepeda yang satu lagi, mengendarainya pelan sembari bersiul jahil.

" Masa kalah lagi hari ini?"

" Kau curang, mencuri start terlebih dahulu"

" Hahahahaha, masa"

CTAK

" Awhh!"

" Itu hukuman karena kau curang, Jejung"

Namja bernama Jejung atau yang biasa kita sebut Jaemma atau Jaejoong itu mengusap keningnya yang baru disentil dengan keras kemudian menatap tajam orang yang ada di depannya.

" Salah sendiri kau tidak bisa menyusul, Yuu!" Pekik Jaejoong

" Ck... Curang tetap saja curang. Masa kau mau curang terus"

" Habis, kita selalu saja seri jadi aku curang saja hahahaha"

" Sudahlah, aku haus"

" Oh! Kedai paman Hiro saja? Aku mau makan ramen odeng-nya"

" Oke"

Jaejoong kembali mengendarai sepedanya kali ini dengan pelan bersama Yuu di sampingnya, seseorang yang sudah menemaninya selama tiga tahun dan mengeluarkannya dari masa – masa sulitnya dulu.

Jaejoong memarkirkan sepedanya di depan kedai, Yuu pun menyusul meletakkan sepedanya disamping sepeda merah muda milik Jaejoong kemudian mereka berdua masuk ke dalam kedai kecil langganan mereka.

" Oh Jejung! Apa kabar?" Sapa sang pemilik kedai

" Baik paman, ramen odeng satu ya yang super besar dan pedas" Balas Jaejoong dengan nada ceria

" Oke, kau apa Yuu?"

" Samakan saja, porsi biasa saja dan jangan terlalu pedas"

" Baiklah"

Jaejoong dan Yuu memutuskan untuk duduk di pojok kedai sembari mengobrol, Jaejoong memperhatikan wajah Yuu dengan seksama. Pria di depannya ini sungguh berubah sejak tiga tahun yang lalu. Fisiknya menjadi lebih kuat, lebih tampan dan tinggi.

Ngomong – ngomong soal tinggi Jaejoong jadi sensitif karena dia tidak tumbuh tinggi sejak dua tahun yang lalu. Padahal niatnya dia ingin mengalahkan Yuu yang sekarang sudah seratus delapan puluh lima sentimeter tingginya. Huh...

" Kenapa?" Tanya Yuu dengan lembut

" Tidak, hey Yuu"

" Apa?"

" Terima kasih untuk tiga tahun ini ya"

" Apa sih! Sudah tidak usah diingat"

" Siapa juga yang mau mengingat, tapi hari ini..."

" Tepat tiga tahun bukan?"

DEGH

Jantung Jaejoong berdetak kencang setelah mendengar ucapan Yuu, ya... Hari ini adalah tepat tiga tahun dia meninggalkan Korea dengan hati yang terluka. Makanya dia mengajak Yuu pergi hari ini untuk melupakannya tapi tidak bisa.

" Kenapa? Masih berharap?" Tanya Yuu dengan nada datar

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, sudah tiga tahun dan Jaejoong juga sudah-

" Ada aku Jejung, ingat saja"

" Ya"

" Astaga... Keringatmu"

Yuu mengambil tisu dan menghapus keringat yang menetes dari dahi Jaejoong. Yuu menggelengkan kepalanya menatap Jaejoong dengan gemas karena nyatanya Jaejoong tumbuh menjadi namja yang menggemaskan selama tiga tahun ini. Ingin mengatakan Jaejoong cantik, Yuu takut Jaejoong akan membantingnya. Kalian ingatkan Jaejoong adalah atlet taekwondo? Menyeramkan pula~

" Nah, pesanan kalian datang~"

Sang paman penjual ramen datang membawa pesanan Jaejoong dan Yuu, menaruhnya di atas meja dan memberikan senyum pada Jaejoong.

" Yuki mana, paman?" Tanya Jaejoong pada sang pemilik kedai

" Pergi dengan istriku, ingin membeli boneka kumamon katanya" Jawabnya dengan ramah

" Oh? Aku rindu anak itu"

" Besok mampir saja lagi untuk bertemu dengan Yuki, Yuki juga pasti senang bertemu dengan oneechan (kk pr) nya datang"

" Paman! Aku oniichan (kk lk)!"

" Ya ya, bicaralah pada cermin hahahaha" Goda sang paman sembari berjalan meninggalkan meja Jaejoong

" Ish!"

" Akui sajalah kau itu cantik tidak ada tampannya"

" Kau ingin ku banting huh?"

" Hahahaha, masa kau tega membanting kesayanganmu?"

" Untung aku sayang! Huh! Aku makan saja!"

" Selamat makan Jejung"

" Kau juga"

Yuu menggelengkan kepalanya saat melihat Jaejoong memakan ramen yang ada di dalam mangkuk super besar di depannya. Kenapa nafsu makan Jaejoong sama seperti Changmin? Uh? Yuu jadi ingat pria baby face yang punya nafsu makan seperti babi? eh... Maksudnya nafsu makannya sangat besar!

" Pelan – pelan Jejung, aku tidak akan memakan ramenmu"

" Enak"

Yuu yang merasa gemas, mengusak helaian rambut Jaejoong kemudian kembali memakan ramen miliknya. Mereka menghabiskan waktu di sana sampai waktu menjelang malam.

.

.

.

.

" Masuklah, paman dan bibi ada kan?" Ucap Yuu saat mereka tiba di depan rumah keluarga Kim

" Ya Yuu, mau mampir?"

" Tidak, besok saja saat menjemputmu kuliah. Katakan pada bibi aku akan sarapan disini untuk menghemat hahahaha"

" Dasar! Ya sudah"

" Mandi dan istirahatlah"

" Hum"

Jaejoong membuka gerbang rumahnya dan hendak masuk namun suara Yuu menginterupsi kegiatannya. Dia melihat Yuu berjalan menghampirinya dan berdiri di hadapannya.

CUP

Satu kecupan itu membuat Jaejoong membulatkan matanya namun kemudian dia menutup matanya dan tersenyum. Dia membiarkan Yuu mengecup keningnya lama sebelum akhirnya pria itu mengucapkan selamat malam dan kabur dengan cepat.

CEKLEK

" Eoh? Eomma mengagetkanku!" Jaejoong sedikit tersentak saat melihat eommanya berdiri di belakang pintu

" Yuu tidak mampir?"

" Tidak, besok saja sekalian sarapan bersama"

" Hah... Kenapa cuma kecupan di kening sih~"

BLUSH

" Eo-eomma melihatnya?" Tanya Jaejoong dengan mata membulat

" Iya tadi saat ingin menyambutmu malah melihat Yuu mengecup keningmu. Ugh~~ Resminya kapan~~~"

" Eommaa~~~ Berhemti menggodaku, ughh! Aku langsung ke kamar saja!"

" Ciieeee~~~ Wajahmu seperti kepiting rebus Joongie baby"

" Eommaa!" Jaejoong memekik saat dia tengah menaiki tangga

" Hahahahaha"

Setelah Jaejoong menghilang, Mrs. Kim menghentikan tawanya dan menatap sendu ke arah depan.

" Siapapun dia... Asal kau bahagia, sudah lebih dari cukup untuk eomma"

.

.

.

.

.

" Huuhhhh..."

Jaejoong duduk di atas tempat tidur dengan tangannya memijat kaki kanannya yang terasa pegal usai mandi, Jaejoong jadi berpikir kenapa dia tidak sekuat dulu? Baru bersepeda empat sudah lelah (elah jaemma, Cho sepuluh menit aja udah pingsan wkwkwk).

Padahal minggu depan dia harus ikut kompetisi taekwondo antar kampus, tidak besar memang karena sebelumnya dia sudah menjuarai kompetisi se Jepang tahun lalu, saat dia menjadi mahasiswa semester satu dan dia berniat tidak akan menyerahkan piala bergilir itu untuk siapapun selama dia berkuliah di universitasnya saat ini. Hahahahaha...

Mata Jaejoong melirik ke arah meja nakas yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk, buka tidak? Jaejoong ragu untuk membukanya, di atakut ketika melihat isinya, dia akan kembali menangis karena mengingat apa yang sudah dia lewati tiga tahun ini.

Tapi~

Jaejoong menggigit bibir bawahnya guna menghilangkan rasa bimbangnya, dia mengambil sebuah kotak kecil di atas meja nakas dan mengeluarkan sebuah kunci dari dalam sana. Memperhatikan kunci itu sebelum tangannya mengarahkan kunci yang dipegangnya pada laci pertama laci nakas tersebut.

KLEK

Laci itu terbuka, Jaejoong menariknya dan mengambil sebuah album foto. Foto yang dia kumpulkan tiga tahun sebelumnya kepindahannya kembali Ke Jepang. Jaejoong tersenyum sendu, perlahan tangannya membuka album itu.

" Ah~ Rasa menyakitkannya masih sama setiap melihatmu"

Jaejoong bergumam sembari tangannya mengusap foto seorang namja yang tengah tersenyum bingung ke arah kamera.

" Sudah tiga tahun... Bagaimana kabarmu hyung? Kau bahagia disana hmm?"

Jaejoong terkekeh pelan saat membuka halaman berikutnya, fotonya bersama teman – temannya. Ada Changmin, Junsu dan Kyuhyun tengah memakai seragam taekwondo. Matanya memanas melihat foto itu sampai...

TES

Airmatanya menetes, dia mendongakkan kepalanya agar airmatanya berhenti mengalir tapi usahanya gagal karena Jaejoong malah menangis sesenggukan melihatnya,

" Bogoshippo huks... huks..."

Jaejoong memeluk album foto itu dengan erat. Ini adalah yang Jaejoong lakukan setiap tahunnya selama tiga tahun belakangan ini. Ditanggal ini, dia akan membuka album foto untuk menyembuhkan rasa rindunya tapi yang ada rasa sesak di dada karena menahan rindu malah semakin menjadi.

Jaejoong tahu dia lemah, lemah urusan perasaan tapi apa tiga tahun ini perjuangannya di Jepang harus sia – sia? Atau dia bisa membuka lembaran baru bersama Yuu yang selalu memberikan kehangatan untuknya setiap saat?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

CEKLEK

Mrs. Kim membuka pintu kamar di depannya dengan pelan karena tidak mau mengganggu anaknya tengah malam ini. Usai menemani suaminya bekerja tambahan di ruang kerja, Mrs. Kim memutuskan untuk menengok anaknya. Dia tahu tanggal ini adalah tanggal terberat untuk Jaejoong setiap tahunnya. Jaejoong selalu mengingat apa yang terjadi tepat tiga tahun yang lalu.

Mrs. Kim mendekatkan dirinya pada sang anak yang tertidur sembari memeluk sebuah album yang Mrs. Kim tahu selalu Jaejoong peluk di setiap tahunnya. Dia duduk di pinggir tempat tidur dan mengusap kening anaknya yang tertutup oleh poni.

" Kau menangis lagi, hum? eomma benar – benar menyesal mengenalkannya padamu tiga tahun silam. Apa... Kau masih memikirkannya?" Lirih Mrs. Kim

Dia mengambil selimut Jaejoong dan menyelimuti anaknya agar tidak meringkuk kedinginan. Kemudian dia mengecup kening Jaejoong dan mengusap surai anak kesayangannya itu.

" Maafkan keegoisan eomma, sekarang... Semua keputusan ada padamu baby, eomma hanya ingin kau bahagia" Lanjut Mrs. Kim kemudian beranjang keluar kamar tanpa tahu mata Jaejoong perlahan terbuka dan menatap datar ke arah pintu

" Aku juga inginnya bahagia eomma..."

Namja cantik itu menatap langit – langitnya dengan pandangan datar, kembali mengingat kejadian tepat tiga tahun silam.

.

.

.

.

- FLASHBACK ON -

.

.

.

" Kau... Apa Joongie?"

Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan tidak percaya, namja cantik di hadapannya itu meminta hubungannya berakhir? Oh tidak...

" Ayo akhiri hubungan kita"

" Kenapa?" Tanya Yunho, kini dimatanya hanya terlihat ada Jaejoong

" Aku tidak bisa memiliki kekasih yang selalu berbohong untuk orang lain" Jawab Jaejoong sembari menatap Ye Ji yang kini menatapnya dengan datar

" Aku bisa jelaskan Jae"

" Sudah banyak sekali penjelasan yang aku terima dari bibirmu hyung, sudah saatnya aku bahagia"

" Tidak Jae"

" Kau... Jawab saja pertanyaanku" Ucap Jaejoong dengan datar

" …."

" Kau masih mencintainya, kan?" Tanya Jaejoong dengan suara yang parau

Kyuhyun yang berdiri di belakang Jaejoong bersama Changmin dan Junsu juga Yoochun, memeluk kekasihnya. Hatinya sakit melihat seseorang yang sudah dia anggap sebagai hyung bertanya hal itu dengan suara parau.

" Maaf jika aku ikut campur"

Ini adalah suara Ye Ji, yeoja itu maju dan berdiri tepat membelakangi Yunho, matanya menatap lurus ke arah Jaejoong.

" Tapi maafkan kami Jaejoong sshi... Kau... Bisa melihat sendiri bahwa kami masih-"

" Noona lebih baik kau diam dulu" Yunho memotong ucapan Ye Ji, membuat yeoja itu sedikit kesal namun kembali berdiri di samping Yunho

" Nah, katakan sekarang hyung"

" Aku... Memang mencintainya"

DEG

Hancur sudah perasaan Jaejoong saat itu, melihat Yunho menatapnya dengan tajam sembari mengucapkan kata cinta untuk orang lain membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Dia bahkan berpikir jika dia ingin mengubur dirinya hidup – hidup sekarang.

Jaejoong melirik ke arah Ye Ji yang kini menampilkan sebuah senyuman kecil ah tidak... Sebuah seringaian kecil. Yeoja itu pasti merasa sudah di atas langit setelah Yunho mengucapkan kata cinta untuknya dan Jaejoong sadar akan hal itu.

" Oh... Begitu kal-"

" Tapi itu dulu" Kembali Yunho memotong ucapan Jaejoong

" Yun?"

Ye Ji menoleh dengan cepat ke arah Yunho guna meminta penjelasan tentang ucapannya barusan. Dulu? Sekarang tidak?!

" Ya, dulu... Saat kita masih sepasang kekasih. Aku bahkan mungkin tidak bisa melupakan noona jika saja jaejoong tidak datang ke dalam hidupku. Jaejoong datang memberikan warna yang lebih banyak dalam hidupku ketimbang saat aku masih bersamamu dulu noona" Jawab Yunho

Entah bagaimana perasaan Jaejoong saat ini, dia merasa kecewa dan lega secara bersamaan. Kecewa karena tindakan Yunho selama ini namun lega karena ucapannya barusan. Tapi tunggu... Itu hanya ucapan... Bisa saja Yunho mengarangnya.

" Yun... Tapi seminggu ini..."

" Aku sudah menuruti keinginanmu, bukan? Kau bilang... Jika dalam satu minggu perasaanku tidak berubah maka kau akan mundur" Ucap Yunho

" Tapi seminggu ini kau terlihat menikmati waktu kita berdua"

" Aku mencobanya tapi tidak bisa karena selalu ada Jaejoong dipikiranku. Kau bilang seminggu ini kita buktikan apakah jodohku kau atau Jaejoong dan aku rasa Jaejoong sudah mengambil alih seluruh pikiranku"

" Jadi?"

" Ya, aku memilih Jaejoong. Dan sekarang aku minta kau keluar dengan hormat"

" Ne?"

" Dan aku memecatmu, terima kasih"

" Mwo? Kau tidak bisa lakukan ini padaku YUN!"

" Yoochun hyung, tolong bawa dia keluar"

" Baik" Ucap Yoochun kemudian tersenyum dan maju untuk menarik Ye Ji dari dalam ruangan Yunho

" Ini semua gara – gara kau! Namja brengsek!" Umpat Ye Ji dengan kencang di hadapan Jaejoong

Jaejoong terkesiap, apa baru saja yeoja itu menghinanya?

" Yoochun hyung, berhenti" Ucap Jaejoong datar

" Ya?"

PLAAKKKK!

" Akkhhh!" Pekik Ye Ji yang baru saja pipinya ditampar kencang oleh Jaejoong

" Itu yang seharusnya aku lakukan padamu sejak hari pertama melihat wajahmu"

" Kau akan menerima balasannya"

" Akan aku tunggu" Tantang Jaejoong sembari menatap Ye Ji dengan datar

Usai kepergian Ye Ji yang diseret paksa oleh Yoochun, Yunho maju untuk memegang pergelangan tangan Jaejoong namun namja itu menepisnya dengan kasar.

" Maafkan aku, aku tahu aku bersalah padamu" Ucap Yunho

" Keputusanku sudah bulat hyung" Jawab Jaejoong dengan datar

" Tidak"

Yunho melirik ke arah adiknya dan teman – teman adiknya. Changmin yang mengerti meminta Yuu yang sejak tadi berada di samping Jaejoong ikut keluar bersamanya dan menutup pintu ruang kerja Yunho.

" Bagaimanapun kau sudah berbohong padaku hyung dan kebohongan dalam satu hubungan akan membuat rasa tidak percaya pada pasangannya" Ucap Jaejoong

" Aku mengerti, aku salah karena aku menurutinya tapi Jae ini semua untuk membuat dia yakin bahwa aku tidak lagi mencintainya"

" Tetap saja kau berbohong dan jika kita kembali pun aku tidak akan bisa percaya padamu lagi, kau tahu sangat menyakitkan melihatmu berdua dengannya tapi saat aku meneleponmu kau bilang kau sedang di tempat lain?"

" Kau-" Yunho menatap tidak percaya pada Jaejoong

" Aku tahu semuanya karena aku ada di sana hyung"

" Jaejoong, sumpah... Maafkan aku, aku sungguh mencintaimu" Yunho melangkahkan kakinya menuju Jaejoong namun namja itu mundur

" Berhenti hyung hiks... Berhenti..."

" Tidak... Sungguh, maafkan aku"

DUG

Jaejoong menempel pada dinding ruangan, dia menunduk sembari menangis dan itu membuat Yunho semakin merasa bersalah. Dia mengangkat dagu Jaejoong dan menghapus airmata yang mengalir pada kedua mata indah Jaejoong.

" Aku mencintaimu" Lirih Yunho

" Aku juga... Tapi mari kita hentikan semua ini"

" Tidak"

" Kau dengarkan aku hyung"

Jaejoong mendorong tubuh Yunho agar tidak menghimpitnya, setelah itu Jaejoong menghapus airmatanya sendiri dan meyakinkan dirinya bahwa dia bisa tegar menghadapi Yunho.

" Aku akan tetap membatalkan rencana pertunangan kita dan kembali ke Jepang"

" Tidak Jae, aku sungguh menyesal. Sungguh" Ucap Yunho memelas

" Kau terlambat hyung, walaupun kau sudah mengatakan alasan yang sebenarnya tapi hatiku sudah terlalu hancur untuk menerimamu lagi" Jawab Jaejoong

" Tapi, aku tidak akan mengakhiri pertunangan kita karena aku mencintaimu"

" Tidak hyung"

" Jaejoong, lihat aku dan temukan kebohongan itu. Aku berjanji tidak akan menyembunyikan apapun lagi padamu"

Jaejoong menatap Yunho, namja itu menatap lurus ke arah Jaejoong membuat Jaejoong ragu dengan keptusannya tapi Jaejoong menggelengkan kepalanya. Kembali meyakinkan dirinya bahwa keputusannya tidak salah.

" Aku akan kembali ke Jepang" Ucap Jaejoong

" Kalau begitu aku yang akan pindah kesana"

" Tidak mengertikah kau! Kau yang membuatku hancur! Aku pergi untuk menata hatiku!" Pekik Jaejoong

" Jae" Yunho mencoba menyentuh Jaejoong namun Jaejoong kembali berteriak

" Jangan menyentuhku lagi! Karena hal itu mengingatkan bagaimana tanganmu itu menyentuhnya. Tidak... Biarkan aku sendiri" Dan Jaejoong mulai terisak kembali

Yunho merasa gagal kali ini, niatnya untuk membuat Ye Ji tidak mendekatinya karena dia sudah mencintai Jaejoong malah menyakiti namja yang dicintainya itu. Hanya seorang brengsek yang membuat kekasihnya merasakan hal ini.

Termasuk dia, brengsek dan jahat.

Dia membuat Jaejoong hancur tanpa dia sadari!

Astaga!

Yunho menatap sendu ke arah Jaejoong yang kini tengah menunduk, dia tidak bisa menyakiti Jaejoong lebih dalam, tapi apakah Yunho harus melepaskan namja yang sudah dia cintai ini? Haruskah dia kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kalinya?

Sedangkan Jaejoong akhirnya mendongakkan kepalanya saat tidak mendengar apa pun dari namja yang ada di hadapannya. Namun ketika mendongak dia malah kaget karena Yunho tengah menangis dalam diam. Membuat dirinya bimbang. Jaejoong sudah terlalu sakit karena perbuatan Yunho dan dia sudah tidak mau lagi merasakan sakit seperti sebelumnya. Tapi melihat Yunho seperti ini...

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, menimbang apa yang harus dia lakukan, sampai...

" Tiga tahun"

Suara lemah itu membuat Yunho menatap Jaejoong.

" Mari berpisah selama jangka waktu itu, jalani kehidupan seakan kita tidak pernah bertemu seperti sebelumnya. Tidak bertelepon, mengirimkan pesan ataupun mencari tahu kehidupan kita"

" Jae-"

" Mungkin memang kita harus menjalani kehidupan kita seperti sebelum aku datang kemari hyung"

"..."

" Itu keputusan akhirku, jika memang nanti hyung masih belum bisa melupakanku maka... Jemput aku, katakan hanya aku yang kau cintai dan buktikanlah bahwa kau memang takdirku. Tapi..." Jaejoong menggigit bibir bawahnya " Jika salah satu dari kita sudah memiliki pasangan atau sedang dekat dengan seseorang maka jangan mengganggu karena itu berarti salah satu dari kita sudah bisa hidup lebih baik dari sebelumnya"

" Aku mana mungkin bisa..."

" Tapi kau bisa sebelumnya"

" Itu karena kau belum datang ke kehidupanku Jae"

" Ini satu – satunya cara agar aku bisa menata kembali hatiku yang sudah kau hancurkan, aku mohon untuk kau mengerti"

Yunho terdiam, menatap mata Jaejoong dengan dalam. Bisa Yunho lihat Jaejoong menatapnya penuh kesedihan. Yunho tahu Jaejoong pasti membutuhkan waktu untuk sendiri dan menata hatinya terlebih setelah dihancurkan olehnya.

SRETT

" Jangan menangis, kau jelek" Lirih Jaejoong

Tangan Jaejoong naik untuk melepaskan kacamata Yunho, menghapus airmata yang keluar dari mata Yunho dengan kedua tangannya kemudian tersenyum getir. Hatinya sakit, hancur, terbelah – belah menjadi kecil karena tindakan Yunho tapi dia juga tidak bisa melihat Yunho menangis seperti ini.

" Tiga... Tiga tahun" Lirih Jaejoong

" Ne?"

" Berikan aku waktu tiga tahun untuk melewati semua ini" Jelas Jaejoong

" Kau akan tetap kembali ke Jepang"

" Ya, selama jangka waktu tiga tahun ini mari memperbaiki diri kita masing – masing. Anggap seperti kita belum bertemu apalagi dijodohkan. Aku akan kembali menata hatiku sembari sekolah dan kau selesaikan kuliahmu dan bekerja di perusahaan Jung"

" Tapi hubungan kita-"

" Tidak ada kata hubungan diantara kita hyung, kau yang membuatku mengambil keputusan seperti ini. Jika... Jika dalam tiga tahun kau ingin aku kembali padamu, jemput aku dan pastikan aku dan hatiku bukan milik orang lain. Tapi jika kau atau aku sudah bisa hidup seperti sebelum kita saling mengenal maka lanjutkanlah"

" Maksudmu..."

" Ya, kita tidak tahu ke depannya kita akan seperti apa hyung. Jika salah satu dari kita merasa bahagia dengan kehidupan barunya nanti. Berjanjilah untuk tidak mengganggu, aku pun akan berjanji seperti itu. Jika..." Jaejoong memejamkan matanya, menahan airmatanya untuk tidak keluar dengan deras seperti sebelumnya " Jika... Jika kau bahagia tanpaku dikemudian hari, maka aku tidak akan masuk ke dalam hidupmu lagi hyung. Tidak akan" Lirih Jaejoong

" Tapi aku hanya ingin dirimu Jaejoong ah!"

" Maka buktikan" Ucap Jaejoong dengan datar " Karena menurutku tindakanmu belakang ini tidak menunjukkan kau menginginkanku, kau harus buktikan bahwa kau masih ingin bersamaku"

" Tapi bagaimana kalau kau... Kau yang menemukan orang lain selain aku?"

" Maka kau pun harus bahagia dengan orang lain hyung"

" Tidak..." Lirih Yunho " Aku tidak menginginkan hal itu Jaejoong... Aku mencintaimu"

Dan isakkan Yunho mulai keluar, menyesali kebodohannya karena sudah menyembunyikan banyak hal dari Jaejoong. Dan sekarang dia baru menyadari bahwa Jaejoong adalah hal terindah yang pernah dia miliki dalam kehidupannya yang membosankan ini.

" Aku mencintaimu, sungguh"

Yunho menangkup wajah Jaejoong dan mendekatkan wajahnya pada Jaejoong memberikan sebuah kecupan pada bibir penuh Jaejoong berkali – kali dan mulutnya tidak bisa berhenti mengucapkan kata cinta untuk Jaejoong. Jaejoong tidak punya daya menolak ciuman terakhir Yunho dimana dia menciumnya dengan dalam dan semua rasa bercampur aduk disana.

Tapi dia tahu, dia harus membiarkan Jaejoong pergi kali ini. Perpisahan memang hal terbaik yang bisa dilakukannya untuk saat ini. Ya, ini adalah perpisahan sementara. Jika Jaejoong sudah bersama orang lain nantinya maka Yunho akan merebutnya, dia tidak akan membiarkan Jaejoong bersama dengan orang lain.

" Aku mencintaimu, sangat" Lirih Yunho setelah melepaskan ciumannya yang terakhir, ciuman penuh makna dimana rasa kecewa, marah, kesal, sakit hati bercampur menjadi satu

" Aku juga"

" Maafkan aku"

Jaejoong tidak memberikan jawaban atau ucapan terakhir Yunho, dia mendorong pelan Yunho agar sedikit menjauh dan tersenyum. Dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Yunho tanpa tahu namja itu kembali mengeluarkan airmatanya dalam diam. Ini keputusan terberat untuk keduanya namun mereka harus melaluinya.

CEKLEK

" Jaejoong!"

" Hyuungg!"

Semua memanggil Jaejoong yang baru saja keluar dari ruangan Yunho, memberikan senyuman saat semua meminta maaf pada Jaejoong terlebih Kyuhyun yang kini terisak dalam pelukan Jaejoong.

" Aku harus pergi sekarang" Ucap Jaejoong sembari melepaskan pelukan Kyuhyun

" Hyung..."

" Aku tidak apa – apa"

" Aku benar – benar minta maaf karena hal ini hyung. Yunho hyung meminta kami untuk tidak ikut campur masalahnya lagi dan kami tidak tahu malah jadi seperti ini" Jelas Junsu

" Kalian tahu tentang perjanjian antara Yunho hyung dan Ye Ji sshi?"

Ketiga namja yang ada di depannya menggelengkan kepalanya, jaejoong tersenyum saja melihatnya. Dia kemudian menatap Yoochun dan Yoochun dengan segera meminta maaf karena sebenarnya dia tahu perjanjian antara Yunho dan Ye Ji.

" Baiklah, aku akan pergi. Sudah sore" Ucap Jaejoong akhirnya

" Lalu bagaimana dengan Yunho hyung?" Tanya Changmin sembari melirik ke belakang, tempatnya ke pintu ruangan Yunho

" Kalian bisa bertanya padanya. Aku pergi ya?"

" Hyunggg~~'

" Tidak apa – apa Kyunie" Jaejoong kemudian menatap Yuu " Ayo kita pergi dari sini" Lanjutnya

" Ya" Yuu mengangguk mantap

Akhirnya Jaejoong menarik Yuu pergi dari sana, sampai Jaejoong berhenti pada pintu lift yang tertutup dan menunggu disana.

" AAAAAKKKKHHHHHH!"

Jaejoong menoleh dan mendapati Changmin menatap bingung kearahnya kemudian menatap pintu ruangan Yunho begitu juga Yuu yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Tapi Jaejoong dengan cepat menarik Yuu ke dalam lift saat pintu lift terbuka.

" Ada apa?" Tanya Yuu bingung

" Aku... Aku akan menceritakannya nanti Yuu"

" Oke"

Yuu sempat meringis saat Jaejoong meremas lengannya dengan erat dan dia bisa melihat Jaejoong menangis. Yuu membiarkannya, membiarkan namja kesayangannya itu menangis untuk terakhir kalinya karena dia tidak akan membiarkan Jaejoong menitihkan sesetes airmata dari mata indahnya.

Saat Jaejoong sudah berada di bandara, dia melihat ponselnya yang penuh dengan panggilan tidak terjawab dan berpuluh – puluh pesan masuk. Dia tersenyum, mulai mengetikkan pesan untuk ketiga sahabatnya sebelum pergi meninggalkan mereka tanpa kabar apapun.

'To : Changminnie, Suie, Kyunie

Aku mohon jangan mencari keberadaanku jika kalian menyayangiku. Aku sangat menyayangi kalian'

.

.

- FLASHBACK OFF -

.

.

.

" Ughhhh~~"

Jaejoong merenggangkan tubuhnya sebelum membuka matanya yang bulat itu. Dia menoleh ke arah meja nakas, pukul delapan pagi. Karena ini adalah hari minggu Jaejoong inginnya hanya bermalasan saja di rumah tapi dering telepon genggamnya membuat Jaejoong kesal. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengganggu minggu pagi indahnya ini.

" Yuu?"

Jaejoong akhirnya mengangkat panggilan telepon itu.

" Kenapa Yuu?" Tanya Jaejoong dengan suara khas orang baru saja bangun tidur

" Bagun pemalas, antar aku ke pusat kota. Aku butuh mantel baru untuk musim dingin nanti"

" Hoh? Musim dingin masih lama Yuu"

" Ayolah pemalas, anggap saja kau kencan dengan sahabatmu"

" Baiklah, baiklah"

Walaupun malas, Jaejoong tetap beranjak dari tidurnya dan duduk di atas tempat tidur kemudian menguap hingga membuat Yuu terkekeh.

" Aku akan menjemputmu satu jam lagi, cukup?" Tanya Yuu

" Hum"

" Oke, sampai bertemu nanti"

" Ya"

Jaejoong bangkit untuk memberisihkan dirinya dan empat puluh lima menit kemudian dia turun menuju ruang tamu dimana eommanya menatapnya dengan bingung karena Jaejoong sudah sangat rapi pahadal ini adalah hari minggu.

" Yuu mengajak pergi eomma, tidak usah menatapku seperti itu" Ucap Jaejoong yang melihat eommanya kemudian dia duduk di antara eomma dan appanya

" Manja" Sinis sang eomma saat Jaejoong menyandarkan kepalanya pada sang appa

" Ada apa hum?" Tanya Mr. Kim

" Appa, aku minta uang? Mau cari mantel juga dengan Yuu"

" Memang Yuu sudah tidak mampu lagi membelikanmu pakaian?" Tanya sang eomma

" Eommaa~~ Aku juga punya malu eommaaaaa~~~"

" Ck, masih ingat malu ternyata"

" Iya, appa transfer sekarang" Ucap sang appa dengan santai

" Asyiiikkk~~ Gomawo appa ku sayang"

CUP

Jaejoong mengecup pipi Mr. Kim dan membuat sang appa gemas kemudian mencubit pipi Jaejoong sampai namja cantik itu meringis.

" Sakit appaaaa~" Rengek Jaejoong

" Cubit pipi saja sudah sakit, bagaimana kau bisa melawan lawanmu dipertandingan eoh?" Ucap Mrs. Kim pura - pura sinis

" Hehehehehe kalau mereka sih beda!" Jawab Jaejoong dengan ceria

" Kapan pertandinganmu selanjutnya?"

" Bulan depan, hanya pertandingan antar kampus"

" Berlatihlah dengan giat dan buat appa juga eomma bangga" Ucap Mr. Kim

" Pasti"

Begitulah keluarga Kim yang selalu mendukung keputusan Jaejoong, jika Jaejoong senang berada di taekwondo maka mereka membiarkan Jaejoong mengikuti kegiatan itu meskipun nanti Jaejoong berotot. Hahahahaha... Tapi Mrs. Kim bersyukur sampai sekarang Jaejoong tidak terlalu berotot dan tetap terlihat menggemaskan!

TING TONG~~

" Mungkin itu Yuu, aku buka pintu dulu" Ucap Jaejoong kemudian beranjak menuju pintu utama keluarga Kim

Dan benar saja, Yuu berdiri di depan pintu dengan sebuah senyuman menawan, aigoo~~ Jaejoong bisa saja jatuh cinta dengan Yuu kalau begini caranya.

" Masuk dulu?" Tanya Jaejoong

" Ya, pamit dengan kedua orangtuamu dulu"

Jaejoong juga menilai Yuu sangat sopan karena dia selalu meminta izin jika mengajak Jaejoong pergi bahkan jika hanya pergi ke kampus berdua dengannya atau menjemput Jaejoong yang mengikuti kegiatan taekwondo di kampus sampai malam. Hmmmm~~

Setelah mendapatkan izin dari kedua orangtua Jaejoong, mereka akhirnya pergi menggunaka subway karena Jaejoong memang senang menggunakan transportasi umum sedangkan motor yang dipakai Yuu di tinggal di rumah Jaejoong.

Kebetulan Mr. Kim bilang ingin meminjam motor Yuu untuk berjalan – jalan sekitar komplek karena sudah lama dia tidak membonceng Mrs. Kim. Ingin nostalgia katanya. Yah... Selama ini mereka kan memakai mobil kemana – mana jadi rindu berpelukan di jalan hehehehehe~

Jaejoong juga cukup heran dengan Yuu yang aslinya anak orang sangat kaya raya mau ikut – ikutan hidup sederhana sepertinya (padahal orangtua Jaejoong tidak kalah kaya dengan orantua Yuu).

" Mau kemana?" Tanya Jaejoong

" Tempat biasa saja"

" Oke"

Mereka menghabiskan siang itu dengan memilih beberapa pakaian musim dingin untuk keduanya dan setelahnya mereka duduk di sebuah kafe Itali karena Jaejoong ingin makan fettucine. Jaejoong menoleh dan melihat pemandangan di luar kafe yang cukup ramai siang ini.

" Ada yang ingin aku bicarakan padamu Jejung"

Ucapan tegas dari Yuu membuat Jaejoong menatap Yuu dengan bingung, jarang – jarang sahabatnya ini mengeluarkan nada bicara serius seperti tadi. Jaejoong yang sudah menyelesaikan makannya langsung menatap Yuu.

" Ya?"

" Kau tahu kita sudah bersahabat lama bahkan kau selalu melindungiku dengan taekwondomu itu" Ucap Yuu

" Lalu?"

" Hmm... Bagaimana kalau aku ingin... Kita lebih dari sekedar sahabat?"

" Ha-hah?" Jaejoong sebenarnya tidak bodoh untuk mengartikan ucapan Yuu hanya saja dia kaget

" Aku ingin membahagiakanmu" Yuu menarik pelan tangan kanan Jaejoong dan menggenggamnya dengan erat " Aku tidak bisa berjanji apapun tapi aku ingin berusaha membahagiakanmu, apa salah?"

" Yuu... Kita..."

" Aku tahu kita sahabat sejak kau pindah ke Jepang, aku sudah mencoba menghilangkan perasaan ini saat kau bilang punya seseorang yang kau sukai. Tapi setelah yang kau lalui, keinginan kuat untuk membahagiakanmu semakin menjadi dan aku tidak bisa membendungnya lagi"

Jaejoong bungkam, memahami semua ucapan Yuu barusan, siapa yang tidak tertarik dengan Yuu? Dia baik, sangat... Ramah, kedua orangtuanya sangat menyukai Yuu dan Yuu bisa saja dengan cepat mendapatkan restu dari kedua orangtuanya.

Yuu selalu bisa membuatnya nyaman dengan sentuhannya, orangnya humble dan penuh kesabaran saat menghadapi Jaejoong. Tinggi, tampan dan kaya hanya bonus untuk Jaejoong. Tapi... Ada yang kurang.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, Yuu adalah sosok sempurna hanya saja ada yang kurang. Jaejoong tidak mencintainya.

" Yuu-"

" Hei aku tahu kau menyayangiku tapi tidak dengan mencintaiku. Bisa kita coba jalani secara perlahan?"

Namja kita yang sangat cantik itu menatap Yuu dalam diam, menimbang – nimbang apa yang harus dilakukannya. Yuu tahu dia tidak akan bisa melebihi namja yang sudah menyakiti Jaejoong tapi apa salahnya mencoba? Sudah cukup Jaejoong menderita karena namja itu dan sekarang Jaejoong berhak bahagia juga kan?

Yuu memperhatikan Jaejoong yang masih menggigit bibir bawahnya dan itu terlihat sangat menggemaskan dimata Yuu. Sampai matanya menatap pergerakan Jaejoong dan dia tersenyum mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Jaejoong untuknya.

.

.

.

.

.

.

.

..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hayooo~~ Kasih tau ga yaaaa jawaban Jaemma apa? Eaaaaaaa~~

Reader BaPer n LaPer~~~

#LemparChoKeJurang

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Terlihat dua sosok manusia berjalan dengan bergandengan tangan, yang satu bahkan membawa beberapa paper bag berisikan belanjaan mereka berdua. Mereka berjalan dengan ceria, sesekali melontarkan lelucon dan membuat keduanya terbahak.

Sampai mereka berhenti di sebuah pagar kayu yang lumayan tinggi, salah satu namja itu melepaskan genggamannya dan tersenyum menatap namja yang satu lagi. Dia membukakan gerbang rumahnya dan menyuruh namja tampan itu masuk terlebih dahulu.

" Jejung, Aku langsung saja ya"

" Tidak pamitan dengan orangtuaku? Mereka pasti menunggumu"

" Hmm... Oke"

Saat mereka mendekat ke arah pintu, pintu rumah Jaejoong terbuka dan menampilkan eommanya yang tersenyum menyambutnya. Tapi senyumnya seakan sedikit dipaksakan.

" Bibi, maaf kami pulang sore sekali"

" Masih pukul lima sore Yuu, ayo masuk dulu" Ucap Mrs. Kim

" Baik"

Jaejoong menggandeng Yuu untuk masuk, Mrs. Kim mengerutkan keningnya melihat kelakuan anaknya yang tidak biasa itu tapi membiarkannya saja.

" Appa sedang ada tamu?" Tanya Jaejoong saat melihat beberapa sepatu yang tidak dia kenal di depan pintu rumahnya

" Ya"

Jaejoong mengangguk mengerti, dia berjalan bersama Yuu diiring oleh eommanya. Mereka bahkan sempat melemparkan candaan satu sama lain sebelum sebuah suara yang familiar menyapa telinganya.

" Jaejoongie"

DEGH

Jaejoong meremas tangan Yuu yang masih digenggamnya, dia hanya berharap suara itu hanya ada dalam mimpinya. Suara lembut yang dia tahu adalah milik...

" Jung ahjumma" Lirih Jaejoong menatap tamu yang ada di dalam ruang tamu keluarga Kim

" Baby ah~~"

Mrs. Jung yang tidak bisa menahan rindunya langsung berlari menghampiri Jaejoong dan memeluknya dengan erat tapi Jaejoong tetap menggenggam tangan Yuu dan tidak melepaskannya.

" Eomma sangat merindukanmu" Ucap Mrs. Jung

Namja yang dipeluk oelh Mrs. Jung itu memejamkan matanya dan perasaan lega mengalir dalam dirinya, dia tidak menyangka bahwa Mrs. Jung datang dan kembali memanggilnya dengan hangat. Tapi tunggu, dengan siapa Mrs. Jung datang kemari?

Jaejoong perlahan membuka matanya dan melihat seorang namja paruh baya tersenyum teduh padanya, Mr. Jung. Yang tidak berubah banyak selama tiga tahun tidak bertemu dengannya. Dan...

.

.

.

~ TBC ~

.

.

.

Eaaa~~

Jung dateng tuh, kita apa in enaknya?

Ciumin bareng" bisa di banting Jaemma, hmmm~~~ bingung Cho tuh~

.

Spevial Thanks :

.

YaoiYunjaeOnly (ini dilanjut kok~), hannie lee (cup cup cup, ambil tisu lagi sana buat chap depan wkwkwkwk), hakyeon jung (ini udh d lanjut hehehe), AmyKyuMinElf (cup cup cup udh ga baper kan~), aditaja (juragan minyak mau na sama Cho wkwkwkwkw), chwangkyuwoozi (et dah, Cho mah selalu aja disalahin huhuhuhu~ Cho gantung nih cerita na #smirk), nishikado yukito (amiinn~), nopichan (ciyee~ yang suka sama Cho #ups ff Cho maksudnya hahahaha), waiting (ugh?), ilpyo park (haduhh yunpa jgn disiksa dong, nanti jaemma marah" sama Cho),

My Jeje (masih gantung jg d chap ini, ottokeh~~), ireneayu (pasti na ada d chap depan hohoho~~), Jj (iyo~), elite minority 1111 (sip, sekuel A udh up~), geb (sabaaarrr~~ kkkkkkkkkk), danactebh (iya, selalu semangat kok hehehe), polarise86 (aduhhhh, jgn d pukul nanti jaemma banting Cho~), Park RinHyun-Uchiha (Cho yg sedih huhuhuhu), Aerelia (suka" Cho lah~ hohoho), Veretno Earthling (cup cup cup, udh ga nangis kan?), uknowme2309 (Cho selalu salah emang, huweeeeee Cho emang suka bikin Jaemma menderita #smirk), choikim1310 (emosi bikan erosi eaa~~),

Strawberryshortcakes (mau ngomong kasar? cho : KAASAAARRRRRRR~~ udah hahahahaha, Cho juga mau na Yunjae tapi~~), LittleOoh (up up up! Hehehe), narajea (ada kookk), alice (mending sama Cho aja kan ya Jaemma nya? Hohohoho), ruixi1 (mau na Cho juga gt TT), redcapleader (mau na Cho juga gt, cepet. Tapi banyak halangannya lah~ hehehe), TyaWuryWK (cuss gantung Yunpa terus jodohin Jaemma sama Cho wkwkwkw), Yodium (Chp yg ketik aja nyesek ndiri huwweeee, yunpa nappeun~ sipp deh), baekbyyours614 (ada kok, tp di ff na Cho #eaaa~~ Cho kan anghota na JaeNistaLover hahahaha~~)

.

Untuk yang udah follow, fav, para Guest dan para SiDer

.

Thanks alot #bow

.

Ululululululululu~~ mana sini yang kangen sama Cho ketjup doeloe~~ #DiLemparReaderKeJurangKasihSayangBebebMimin hahahahahaha, otte?

Tuh Jung udah muncul mau diapain?

.

Hmmmmmm...

Jadi, Jaemma sama Yuu apa hayoo hubungannya? Tebak ya~ yang bener Cho kasih hadiah, ciuman dari tante Ahra! Yaaaaaayyyy~~ Susuatu sekali kan hadiah Cho kali ini?

.

Udah, doain aja minggu depan Cho biaa update the last chap, soal na Cho emang tinggal edit sih cuma agak lama karena banyak kerjaan.

.

See u next final chap?

Chuuuu~~~

.

.

.

.

.

.

.

Minggu, 7 Januari 2018