Happy Reading

Unforgiven Hero Bab 2

Dia memang tampan. Sangat. Sayangnya terlalu tampan. bukan tipeku.

Doyoung langsung memutuskan pada tatapan pertama mereka. Pria berdarah Korea-Amerika dengan kulit putih bersih dan rambut lurus yang hitam legam serta mata tajamnya yang dalam tampak terlalu berbahaya untuk dijadikan tipenya.

Sementara itu bos barunya itu hanya menatapnya dengan tatapan menilai-nilai, menimbang-nimbang. Sehingga hening cukup lama dan Doyoung tak juga dipersilahkan duduk.

"Duduklah." Jaehyun tampak tersenyum kecil, seperti puas karena telah memutuskan sesuatu.

"Kau tahu siapa aku?"

Pertanyaan apa itu? batin Doyoung tanpa sadar mengernyit, Tentu saja dia tahu. Jaehyun tersenyum lagi, seperti menyadari retorika dalam pertanyaannya,

"Ah, maaf saya sedikit gugup."

Sekali lagi Doyoung mengernyit, gugup? karena bertemu dengannya? tidak mungkin. Pasti bosnya ini sedang gugup karena sesuatu yang lain.

"Kita belum berkenalan." Lelaki itu lalu mengulurkan jemarinya yang ramping ke arah Doyoung dan mau tak mau Doyoung menyambut uluran tangan itu.

"Kita langsung bersikap informal saja ya, mengingat saya dan kau akan sering sekali berhubungan, apalagi saat Sooyoung memulai periode cuti hamilnya. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Mr. Jeffrey saja." gumam lelaki itu setelah melepaskan genggaman tangannya yang kuat.

'Saja'. Doyoung kadang-kadang merasa geli dengan ketajamannya menganalisa setiap kata perkata, tetapi itu memang tidak bisa ditahannya. Kenapa Mr. Jeffrey menggunakan kata 'saja' di akhir kalimatnya? Seolah-olah dia memiliki nama lain.

Lelaki itu berdehem, "Mungkin kau bertanya-tanya kenapa kau dipanggil masuk ke perusahaan ini. Saya mempunyai referensi dari universitasmu bahwa kau adalah lulusan terbaik disana dan aku sangat senang memberikan pengalaman dan ruang untuk lulusan-lulusan baru sepertimu agar bisa mengeksploitasi kecerdasan dan kemampuan kalian. Saya senang mempekerjakan lulusan-lulusan baru," Jaehyun tampak tersenyum dan Doyoung sedikit bergetar ketika menyadari, bahwa jika tersenyum lelaki itu tampak luar biasa tampan.

"Karena lulusan baru biasanya lebih mudah diajari cara-cara modern, mereka mudah menyerap ilmu dan yang pasti mereka sangat bersemangat."

Jaehyun berhenti sejenak untuk melihat apakah Doyoung mendengarkan kata-katanya, lalu melanjutkan,

"Itu juga yang saya harapkan darimu, kemampuan untuk menyerap ilmu baru dengan cepat dan semangat yang luar biasa tinggi, bisa?"

"Bisa," Doyoung menjawab dengan cepat, mantap. Dia yakin bisa, dia sangat bersemangat untuk mempelajari hal-hal baru di sini, dunia kerja adalah hal baru baginya dan dia yakin dia memiliki kemampuan untuk belajar secara cepat.

"Bagus," Jaehyun mengangguk puas, "Melihat dari bagusnya angka akademismu, saya yakin kau juga akan bagus pada prakteknya, kalau begitu, selamat datang di perusahaan ini nona Kim Doyoung, semoga kerjasama kita baik sampai kedepannya", lelaki itu mengulurkan tangannya lagi, dan tersenyum sangat manis, "Saya sangat mengharapkanmu Doyoung."

Doyoung menerima uluran tangan itu dengan formal, "Baik, saya akan berusaha sebaik mungkin," kemudian dia berdiri dan berpamitan kembali keruangannya.

"Oh. Doyoung?"

Doyoung yang sudah di depan pintu dan bersiap membukanya menoleh ke arah Doyoung yang masih duduk tegak di kursinya,

"Saya mendengar kau menggunakan transportasi umum kemari?"

Doyoung mengangguk, "Benar, saya menggunakan bus." jawabnya mengernyit dan bertanya-tanya, bukankah informasi seperti ini sepertinya kurang penting untuk diketahui oleh seorang big boss?

"Dan saya tahu lokasi rumahmu cukup jauh", Jaehyun tampak merenung, berpikir, lalu menatap Doyoung dengan tegas, "Saya akan mengusahakan kendaraan operasional untukmu, kami memiliki fasilitas antar jemput karyawan khusus untuk karyawan yang lokasi tempat tinggalnya jauh, mungkin kau bisa bertanya kepada Sooyoung untuk mendaftar."

"Itu bagus sekali," mata Doyoung berbinar tanpa dapat ditahan, fasilitas antar jemput karyawan ini akan sangat membantunya. Doyoung bisa mengirit biaya pulang pergi ke kantor yang memerlukan berganti bus tiga kali dalam satu periode perjalanan, dia akan bisa menabung.

"Terimakasih Mr.Jeffrey, saya akan bertanya kepada Nona Park Sooyoung." Jaehyun mengangguk dan Doyoung melangkah keluar dari ruangan itu.

'Dia tidak mengenaliku.' Tanpa sadar Jaehyun menarik napas panjang, merasa lega. Dengan pelan diusapnya wajahnya. Bersyukur bahwa Doyoung tidak menyadari betapa gugupnya dia tadi, betapa dia berjuang menampilkan sosok tegas yang berwibawa. Karena sosok seperti itulah yang bisa menutupinya dari kecurigaan Doyoung.

'Aku bukan lagi manusia yang tidak punya harga diri seperti dulu, Doyoung. Kau pernah mengatakan kepadaku untuk datang padamu ketika aku sudah punya harga diri lagi. Sekarang aku punya, harga diri beserta semua atributnya, kedewasaan, kebijaksanaan, kebaikan hati. Tetapi entah kenapa, aku masih merasa tak pantas menemuimu. Aku ini, manusia yang tak termaafkan.'

Jaehyun mendesah pelan dan menyandarkan kepalanya di kursinya,

Sampai kapan dia harus begini? Tidak bisa mengakui dirinya yang sebenarnya di depan perempuan satu-satunya yang menjadi tujuan hidupnya? Sampai kapan dia harus begini? Bersembunyi? Malu mengakui diri?

Jaehyun tidak punya jawaban, dia hanya merasa saat ini lebih baik dia memilih jalan pengecut, bersembunyi di balik bayang-bayang sosok Mr. Jeffrey.

'Bukankah dengan begini kau bisa lebih bebas menjaganya?' suara hatinya berbisik dan Jaehyu. menganggukkan kepalanya tanpa sadar.

Ya. Keputusannya tepat. Akan lebih baik jika Doyoung tidak pernah mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya. Luka hati perempuan itu susah sembuh, sangatlah tidak tepat kalau dia merusaknya dengan pertemuan dengan masa lalu yang pasti akan membuka luka lama itu.

"Mr. Jefrrey", panggilan itu membuat Jaehyun yang sedang menekuni perjanjian kontrak terbaru mereka dengan sebuah perusahaan properti mengangkat kepalanya.

Jaehyun sebenarnya tidak begitu suka dengan panggilan itu, tetapi di perusahaan ini dia harus dipanggil dengan nama "Jeffrey", karena dia menginginkan Doyoung bekerja disini, kalau dia tetap memakai nama Jaehyun, kemungkinan besar hal itu akan membuat Doyoung curiga dan kalau Doyoung sampai tahu semuanya hal itu akan menggagalkan rencananya.

Sekretaris Jaehyun muncul di pintu, tampak gugup, "Itu...Tuan Johnny Seo ingin bertemu."

Jaehyun mengernyitkan kening, Johnny Seo adalah CEO - Untuk perwakilan Korea dari perusahaan asing yang menjalin kerjasama dan menanamkan modal di perusahaan ini, mengingat betapa dingin dan sinisnya penampilan Johnny, pantaslah kalau sekertarisnya menjadi begitu gugup.

"Persilahkan beliau masuk."

"Aku sudah masuk tanpa kau persilahkan." Johnny melangkah masuk tanpa peduli, dan menggangguk kepada sekertaris Jaehyun untuk membuatnya pergi dan langsung duduk di sofa ruang tamu Jaehyun.

"Kau membuatnya takut." gumam Jaehyun sambil melirik pintu yang ditutup sekretarisnya dengan pelan, dia melangkah ke arah bar pribadi di pojok ruangannya dan menuangkan brendi untuk Johnny, kopi untuk dirinya sendiri. Johnny melirik pintu dan mengangkat bahu, sambil menerima gelas brendi dari tangan Jaehyun.

"Kau harus sedikit lebih keras kepada bawahanmu kalau ingin dihormati," Johnny menatap Jaehyun tajam, berubah serius.

"Aku ada dua undangan pesta makan malam di rumah Park Chanyeol dan aku mengira kau mungkin bisa datang ke sana juga dan berkenalan dengannya."

Kopi yang ditelan Jaehyun tersedak di tenggorokannya, "Apa?" Jaehyun butuh mendengar ulang lagi, merasa tak percaya dengan indera pendengarannya, "Park Chanyeol?"

"Ya, berkenalan dengan Park Chanyeol," Johnny tersenyum tipis melihat ketidakpercayaan di mata Jaehyun, "Kenapa kau tampak begitu terkejut? Kau tahu kan aku menjalin hubungan bisnis dengannya?"

"Aku tahu kau menjalin hubungan bisnis dengannya, tapi aku tidak menyangka kau berteman dengannya sampai-sampai menghadiri pesta di luar urusan bisnismu." Jaehyun bersungut-sungut, dan duduk di sofa, dihadapan Johnny.

Johnny menggeleng, masih tersenyum. Dan menurut Jaehyun, lelaki itu sudah lebih banyak tersenyum dari yang biasa ditampilkannya, sepertinya pernikahannya dengan Moon Taeil telah membuatnya menjadi orang yang murah senyum.

"Aku tahu kau tidak menyukai Park Chanyeol." itu pernyataan bukan pertanyaan.

"Ya. Aku tidak suka. Aku memang tidak berhak menghakimi seseorang dari gosip yang kudengar, tetapi reputasi akan watak Park Chanyeol memang sangat menakutkan, aku bahkan dengar bahwa dia dijuluki 'Sang Iblis' dan aku tidak suka tipikal pengusaha kejam semacam itu."

"Mereka berlebihan, dia tidak sejahat itu.", Johnny terkekeh, "Lagipula isteriku bersahabat dengan isteri Chanyeol."

"Isteri Chanyeol?", Jaehyun membelalakkan matanya, "Ah ya, perempuan yang menimbulkan gosip heboh beberapa waktu lalu karena Chanyeol menculiknya ya? Mungkin perempuan itu memang bisa menaklukkan Chanyeol, aku dengar Chanyeol menjadi 'jinak' setelah isterinya itu melahirkan seorang putera untuknya."

Johnny terkekeh. "Chanyeol sudah menemukan keberuntungannya, dia jatuh cinta kepada isterinya."

"Dan dari senyummu yang aneh itu, pasti kau hendak mengatakan kalau Chanyeol bernasib sama denganmu, sama-sama takluk karena cinta kepada isteri masing-masing."

"Memang", tak ada bantahan dari Johnny, lelaki itu tampak bangga mengakuinya, dia lalu meletakkan amplop undangan berwarna keemasan itu di meja kopi, "Ini undangannya, dan datanglah dengan membawa pasanganmu", mata Johnny berkilat geli.

"Entah kau pandai merahasiakan pasanganmu atau memang kau tidak tertarik, kau tidak pernah terlihat menjalin hubungan dengan siapapun dan itu membuat kami bertanya-tanya tentang orientasi seksualmu"

Jaehyun langsung terbahak, "Aku menunggu yang terbaik."

Johnny mengganggukkan kepalanya, "Well menurut pengalamanku, kita memang akan menyerah kepada yang terbaik, semoga yang terbaikmu itu segera datang."

Jaehyun merenung, lalu membayangkan Doyoung. 'yang terbaiknya' memang sudah datang.

Jaehyun memarkir mobilnya di tempat biasa. di sudut, tertutup bayang-bayang sebuah pohon besar yang teduh, matanya menatap ke arah bangunan asrama tua itu. Tempat yang sangat dihapalnya dan mungkin merupakan satu-satunya tempat yang paling sering dikunjunginya secara berkala.

Lalu Doyoung melangkah keluar di sana, Jaehyun melihat jam-nya, selalu tepat jam sembilan di hari minggu, Doyoung akan pergi berbelanja kebutuhan asrama ke pasar, Gadis itu tampak ceria, sehat dan ceria. Syukurlah. Jaehyun mendesah dalam hati.

Matanya mengikuti Doyoung dengan waspada ketika perempuan itu berdiri di pinggir jalan menunggu bus untuk mengantarkannya ke pasar, dan Jaehyun mengernyit ketika bus yang penuh sesak berhenti di depan Doyoung dan perempuan itu masuk kedalamnya.

'Dia tidak boleh naik bus lagi.' Putusnya dalam hati, Jaehyun harus mengusahakan sesuatu. Setelah yakin bahwa Doyoung sudah benar-benar pergi, Jaehyun mengangkat ponselnya.

"Aku sudah menunggu disini," gumamnya tenang.

Tak lama kemudian, sosok Bibi Park keluar dengan hati-hati dari asrama, dan melangkah ke tempat parkir Jaehyun yang biasa.

Dengan sopan Jaehyun membukakan pintu dan Bibi asrama melangkah masuk.

"Dia sangat senang karena diterima di perusahaan itu", Bibi Park memulai percakapan sambil tersenyum.

Mau tak mau Jaehyun tersenyum, membayangkan Doyoung bahagia sudah cukup membuatnya tak bisa menahan senyum lebarnya.

"Aku senang mendengarnya, apakah dia merasa curiga? Apakah dia membicarakannya?" Jaehyun menatap Bibi Park dengan sopan. Wanita di depannya ini adalah mantan asisten ibunya yang sudah pensiun dan kemudian karena tidak mempunyai sanak keluarga, mengajukan diri untuk menunggui asrama putri tersebut.

Asrama ini sebenarnya adalah salah satu dari asrama milik yayasan sosial yang dikelola oleh Mrs. Jung, dan ketika Mrs. Jung menceritakan semua rencana Jaehyun, Bibi Park menawarkan diri dengan senang hati untuk membantu. Jaehyun sangat menghormati wanita ini, hampir seperti dia menghormati ibunya sendiri.

"Dia sempat curiga." Bibi Park tersenyum melihat kecemasan di mata Jaehyu , "Tapi aku sudah berusaha menghilangkan kecurigaannya itu, lagipula nilai-nilai ijazahnya memang sangat bagus jadi tidak menutup kemungkinan perusahaan-perusahaan besar bersaing memperebutkannya."

Jaehyun menjalankan mobilnya keluar dari parkirnya di bawah pohon besar itu dengan tenang, mengarahkan mobilnya menuju rumahnya, karena setiap minggu, Bibi Park akan berkunjung ke rumahnya untuk bertemu dengan ibunya, setiap minggu itulah Jaehyun akan memanfaatkan waktu itu untuk mengevaluasi dan memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dari Bibi Park tentang Doyoung.

"Mungkin memang aku terlalu berlebihan, seharusnya aku menempatkannya sebagai staff biasa dulu, tapi aku tidak tahan, aku lelah melihatnya secara sembunyi-sembunyi seperti ini, aku ingin bisa berinteraksi langsung dengannya."

"Aku mengerti", Bibi Park tersenyum penuh kelembutan, "Tetapi tidak adakah ketakutan di hati anda kalau nanti lama-kelamaan Doyoung akan menyadari siapa kau sebenarnya?"

Pandangan Jaehyun menerawang ke depan, "Aku tidak tahu... aku menganggap ini semua seperti pertaruhan yang melibatkan hidup dan matiku, bi... anda tahu kan betapa aku sangat menginginkan pertemuan ini, bisa bertatapan langsung dengan Doyoung, bisa berbicara langsung, aku sangat menginginkan pertemuan ini... sekaligus takut... sebab jika Doyoung sampai mengenaliku... maka selesailah sudah semuanya."

Dengan penuh rasa keibuan, Bibi Park mengamati sosok disampingnya itu. Jaehyun sedang berkonsentrasi menyetir, pandangannya lurus ke depan dan tidak menyadari kalau diamati, Bibi Park sudah mengenal Jaehyun sejak lama, karena dia sudah menjadi asisten Mrs. Jung sejak Jaehyun masih kecil.

Dia sendiri yang menjadi saksi betapa nakal dan pemberontaknya Jaehyun di masa mudanya, dia juga yang menjadi saksi ketika kecelakaan itu telah mengubah Jaehyun 180 derajat, dari seorang pemuda ugal-ugalan yang sombong dan hanya mengandalkan nama ayahnya, menjadi pengusaha yang berjuang dengan kekuatannya sendiri seperti sekarang.

Tidak. Bibi Park memutuskan, Doyoung tidak akan mengenali Jaehyun yang sekarang. Jaehyun yang sekarang jauh berbeda dengan Jaehyun yang dulu. Kebandelan masa remajanya sudah berubah menjadi sikap dewasa yang penuh wibawa, fisiknya sudah berubah menjadi lebih dewasa pula, dan aura kesombongan dan keangkuhannya telah menjadi kebijaksanaan yang tenang.

Bibi Park yakin, Doyoung tidak akan bisa mengenali Jaehyun yang sekarang sebagai pemuda kaya yang dulu telah merenggut nyawa ayahnya.

"Saya sangat tahu perasaan anda, dan saya akan mendoakan yang terbaik, untuk anda dan untuk Doyoung juga, dia anak yang baik, anak yang baik luar dan dalam, hatinya sangat lembut, dan saya yakin, suatu saat akan datang waktu dimana Doyoung akhirnya akan memaafkan anda."

Jaehyun tersenyum sedih mendengar kata-kata Bibi Park, dimaafkan? itu terdengar terlalu mewah baginya. Dia tidak pernah sedikitpun berani memohon agar dimaafkan, karena dia tahu permohonan itu akan terlalu muluk untuknya. Dia bersalah, dan dia tak termaafkan, sesederhana itu. Yang dia butuhkan sekarang hanyalah agar Doyoung bahagia. Kebahagiaan Doyoung entah sejak kapan, telah menjadi obsesi kehidupannya.

Doyoung memasuki lift dengan tergesa-gesa sambil membawa map berisi berkas-berkas yang kemarin diserahkan Sooyoung kepadanya, malangnya, karena kurang hati-hati, map itu terlepas dari tangan Doyoung dan berhamburan di lantai lift, membuat Doyoung dengan gugup langsung berjongkok dan memunguti kertas-kertas itu di lantai, sampai kemudian dia sadar ada sepasang kaki dengan sepatu mahal dan terbungkus celana panjang hitam dari bahan khasmir yang mahal.

Doyoung mendongakkan kepalanya dan bertatapan langsung dengan Jaehyun, bos barunya. Lelaki itu berdiri dengan elegan dan menatap Doyoung yang berjongkok di bawahnya dengan sinar geli di matanya.

"Butuh bantuan?"

Doyoung langsung merenggut seluruh kertas-kertas yang berhamburan di lantai itu secepatnya.

"Eh tidak Mr.Jeffrey... maafkan, saya ceroboh..."

Tiba-tiba Jaehyun sudah berjongkok di depannya, tangannya yang kuat tetapi berjemari ramping itu membantu Doyoung memungut kertas-kertas yang berserakan, lalu tanpa kata menyerahkannya kepada Doyoung.

"Eh... te...terimakasih." Gumam Doyoung gugup sambil memasukkan kertas-kertas itu kembali ke dalam map.

"Lain kali tidak perlu terburu-buru, tidak akan ada yang memarahimu.", Jaehyun meluncur berdiri dengan anggun bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Lelaki itu lalu melangkah pergi, meninggalkan Jaehyu yang masih berjongkok di dalam lift.

"Selamat pagi."

Suara itu menyapa ramah dan Doyoung menoleh, menatap seorang laki-laki yang lumayan tampan sedang berdiri di sebelah mejanya. Lelaki itu tersenyum ramah.

"Selamat pagi juga." Doyoung tersenyum juga, berusaha mengingat-ingat, sepagian ini Sooyoung telah membawanya ke berbagai ruangan di perusahaan ini, memperkenalkannya sebagai anak baru, tetapi sepertinya dia tidak ingat pernah diperkenalkan dengan lelaki ini.

Lelaki di depannya, meskipun berpakaian rapi dan berdasi tampak urakan dan santai, senyumnya juga seperti anak nakal di dalam tubuh dewasa.

Lelaki itu mengangkat alis, tampak sadar dengan pengamatan Doyoung, lalu tertawa dan mengulurkan tangannya.

"Hai, kenalkan, tadi aku sedang keluar kantor jd tidak sempat berkenalan, aku Rowoon, IT Manager di sini, aku tadi mendengar ada anak baru yang cantik jadi buru-buru ke sini untukmengajak berkenalan." Katanya dalam canda.

Pipi Doyoung memerah mendengar candaan lelaki itu, tetapi dia menyambut uluran tangan Rowoon dengan senyum juga,

"Aku Kim Doyoung."

Rowoon meremas tangan Doyoung sembari tersenyum lucu sebelum melepaskannya, lalu mengedipkan sebelah matanya.

"Aku tahu tempat makan siang yang enak, mungkin kita bisa..."

"Rowoon."

Suara dalam yang dingin itu menyela percakapan mereka. Rowoon langsung menoleh ke arah suara dan tersenyum,

"Oh Mr. Jeffrey, selamat pagi."

Jaehyun sedang berdiri di pintu ruangannya, ekspresinya datar dan tidak terbaca.

"Kebetulan kau ada di sini, tolong ke ruanganku sebentar, ada beberapa hal tentang usulan program baru untuk data intregrated kemarin yang harus kutanyakan kepadamu."

Rowoon memutar bola matanya lucu ketika menatap Doyoumg, lalu menganggukkan kepalanya dan mengikuti Jaehyun masuk ke ruangannya.

Sementara itu Doyoung tersenyum geli sambil menatap punggung Rowoon. Meskipun tampak urakan dan tidak serius, lelaki itu tampaknya lelaki yang baik dan menyenangkan.

Doyoung merapikan berkas-berkasnya sambil melirik jam dinding, sudah jam delapan malam. Besok hari yang sibuk untuk Jaehyun dan syukurlah akhirnya Doyoung sudah selesai menyiapkan semuanya, meskipun akhirnya dia harus ketinggalan bis karyawan.

Suara di pintu membuat Doyoung mendongakkan wajahnya dengan waspada. Jaehyun berdiri di sana, sepertinya baru pulang dari pertemuan bisnisnya di luar.

Lelaki itu mengerutkan mata melihatnya, "Kenapa kau masih ada di sini?"

Mata itu sungguh tajam, Doyoung membatin."Eh, saya menyelesaikan berkas-berkas ini dulu, untuk besok."

Jaehyun menatap tidak suka. "Lain kali tinggalkan saja pekerjaan itu dan lanjutkan besok." Dia melirik jam tangannya, "Ini sudah terlalu malam untuk bekerja, seharusnya kau sudah di rumah dan beristirahat. Aku akan menyuruh supir mengantarmu pulang."

Doyoung menggelengkan kepalanya panik, "Tidak perlu, saya bisa naik bus..."

"Ikuti perintah atasanmu." Jaehyun menatap tajam membuat Doyoung menelan ludahnya.

"Sebelum itu, aku ingin bicara di ruanganku. Kau tidak keberatan membuatkan kopi untuk kita berdua?"

Kopi itu mengepul panas dan menguarkan aroma nikmat ke seluruh penjuru ruangan. Doyoung meletakkan di meja di depan sofa tempat Jaehyun duduk dan menunggunya, lalu dengan gugup dia duduk di depan Jaehyun, menunggu.

Lelaki itu tercenung, seolah bingung mau bicara apa. Tetapi itu tidak mungkin bukan? Orang sekelas Jaehyun tidak mungkin bingung harus bicara apa.

"Kau sudah tiga bulan di sini", Jaehyun memulai, "Bagaimana perasaanmu?"

Doyoung tersenyum. "Saya senang. Banyak hal yang bisa saya pelajari."

"Apakah rekan-rekan kerja menciptakan suasana yang kondusif untukmu?"

Doyoung mengangguk, "Mereka sangat baik dan membantu."

Kali ini kening Jaehyun berkerut, "Kudengar kau dekat dengan IT Manager ku?"

Pipi Doyoung memerah. Astaga. Darimana Mr. Jeffrey bisa mendapat informasi macam itu? Dan kenapa pula bos sekaliber Mr. Jeffrey harus peduli dengan gosip percintaan karyawannya?

Kim Rowoon. Nama itu menguar di benak Doyoung. Ya. Mereka dekat. Itu karena Rowoon sangat gigih mendekatinya. Dia mengajak makan siang bersama, kadangkala dia menghampiri Doyoung dan mengajak mengobrol tentang berbagai hal. Ya. Doyoung nyaman bersama Rowoon, cukup nyaman sampai membiarkan Rowoin mengantarnya pulang ke asrama beberapa hari lalu.

Lelaki itu berkenalan juga dengan Eomma Park. Tetapi, entah kenapa eomma Park tampak tidak suka dengannya, padahal Rowoon begitu baik...

"Doyoung ah?" Jaehyu bertanya lagi, mengembalikan Doyoung ke dunia nyata. Doyoung mengerjapkan matanya, menatap Mr. Jeffrey dan sadar bahwa dia belum menjawab pertanyaan lelaki itu.

"Ya.. Kami cukup dekat, hubungan kami cukup baik."

"Begitu." Mr. Jeffrey tercenung, "Aku cenderung tidak menyetujui hubungan dekat dengan rekan sekerja. Karena berdasarkan pengalaman, ketika hubungan itu memburuk, performa di tempat kerja ikut memburuk."

Doyoung menghela napas, "Hubungan kami belum sejauh itu untuk..."

"Ya. Aku mengerti. Kalian dekat, tetapi belum menyentuh konteks asmara. Tetapi tidak menutup kemungkinan itu akan terjadi bukan?" Jaehyun menatap Doyoung tajam, seolah menembus hatinya.

Doyoung menganggukkan kepalanya, "Saya tidak bisa membantah kemungkinan itu, meskipun saya tidak bisa memastikan. Tetapi kalaupun itu terjadi, saya berjanji akan berusaha untuk tidak mencampurkannya dengan profesionalisme pekerjaan saya."

Jaehyun terdiam dan Doyoung menanti. Hening lagi, kali ini lama, dan entah mengapa terasa menegangkan bagi Doyoung, lalu Jaehyun tersenyum samar.

"Oke. Kita lihat saja nanti." Tatapan mata lelaki itu begitu misterius, "Pulanglah. Aku sudah menyuruh supirku menunggumu di depan. Dia akan mengantarmu pulang."

Ketika Doyoung pergi, Jaehyun masih tercenung di ruangan kerjanya. Rowoon dan Doyoung hampir menjadi sepasang kekasih, itu yang dilaporkan oleh Yuri kepadanya. Jaehyun memang memintanya mengawasi Doyoung di tempat kerjanya. seminggu yang lalu Bibi Park juga meneleponnya dari asrama, memberitahunya bahwa Doyoung membiarkan Rowoon mengantarkannya pulang ke Asrama. Dan beberapa hari kemudian Rowoon mulai rutin datang, bahkan di hari minggu.

Jaehyun tidak pernah memikirkan kemungkinan ini sebelumnya. Tidak pernah menyangka bahwa mungkin Doyoung akan bertemu lelaki yg dia sukai di tempat kerjanya. Seharusnya dia tahu, Jaehyun mendesah, Doyoung terlalu cantik. Seharusnya dia memperkirakan bahwa akan ada beberapa orang yang tertarik untuk mendekatinya.

Dan itu mengganggu Jaehyun, dia harus menghentikan ini semua sebelum terlalu jauh. Mata Jaehyun terpaku pada cangkir kopi Doyoung. Ada sisa lipstick di sana. Lipstick Doyoung, bekas bibir Doyoung. Lalu, karena didorong oleh luapan gairah dan perasaannya, Jaehyun mengambil cangkir itu, lalu mengecup lembut bekas bibir Doyoung di sana.

"Kau akan menjadi milikku Doyoung, seperti yang seharusnya terjadi, karena hanya akulah yang berhak menjagamu." Gumamnya penuh tekad.

TBC?

Maaf untuk typo dll.

Mungkin gak akan ada yang baca FF ini.

Tapi FF ini akan tetap lanjut.

Maaf juga untuk segala kekurangan dari remake yang saya lakukan.

Gomawo