Unforgiven Hero Bab 3

Seperti seorang pengintai yang mengawasi dari jauh..

Jaehyun membatin, setengah benci kepada dirinya sendiri yang berlaku seperti pengintai, mengawasi Doyoung dan Rowoon. Mereka berdua sedang berkencan, tentu saja. Dan Jaehyun disini, mengawasi mereka.

Jalanan ini memang dikondisikan bagi pejalan kaki yang ingin menikmati berjalan-jalan sambil berbelanja.

Café-café yang cozy bertebaran dengan nuansa ala barat, berpayung eksotis di pinggir-pinggir jalan, menawarkan suasana makan yang berbeda. Ada juga penjual bunga di sana, dan beberapa penjual cenderamata lainnya.

Jaehyun terus mengawasi ketika Rowoon mengajak Doyoung berhenti di depan penjual bunga, lalu memberikannya setangkai mawar putih. Perbuatan sederhana yang membuat pipi gadis itu merona merah.

Dada Jaehyun terasa panas. Kurang ajar Rowoon. Lelaki itu merusak semua rencananya dengan mendekati Doyoung. Jaehyun semakin mantap untuk menyingkirkan lelaki itu, dengan langkah yang cukup elegan tentu saja.

Suara tawa pelan membuat Jaehyun mengalihkan perhatian dari pesangan yang berbahagia itu. Jaehyun menoleh ke arah Hyuna yang duduk di dalam mobil disebelahnya,

"Kenapa kau tertawa?"

Bibir Hyuna yang berwarna merah mencebik, "Karena tatapanmu itu, kau seolah-olah ingin membunuh laki-laki itu."

"Memang."

Hyuna mengkerutkan alisnya, "Jadi dia yang harus kuincar? Dia tampak jatuh cinta kepada gadismu itu, kau yakin dia bisa tergoda olehku?"

"Semua laki-laki normal akan tergoda olehmu kalau kau memutuskan merayu, Hyuna. Karena itu aku meminta tolong kepadamu." Gumam Jaehyun tenang.

Hyuna tertawa lagi, "Kau tidak tergoda olehku, apakah ada sebab khusus atau memang kau bukan lelaki normal?"

"Ada sebab khusus." Jaehyun langsung menutup diri, "Kau sudah setuju untuk membantuku dan tidak bertanya-tanya."

"Oke, aku tidak akan mengganggumu dengan pertanyaan-pertanyaanku." Hyuna tersenyum menggoda, "Apakah sebab khususmu itu itu adalah gadis itu?"

"Hyuna..." Nada suara Jaehyun penuh peringatan. Membuat Hyuna mengangkat bahunya dan menyerah, tidak bertanya lagi. Lelaki ini memang tidak bisa diajak bercanda, batinnya dalam hati.

"Jadi kapan aku harus melaksanakan rencanamu itu?"

"Akhir pekan ini, aku akan mengadakan pesta akhir tahun, mengundang beberapa kenalan dan karyawanku di rumahku. Kau dekati Rowoon saat itu."

"Oke, Jaehyunie. As You Wish."

"Pesta tahunan yang diadakan oleh Mr. Jeffrey selalu meriah." Sooyoung tersenyum sambil duduk di depan meja Doyoung. Dia sudah tampak kepayahan membawa perutnya yang semakin membesar, cuti hamilnya tinggal beberapa hari lagi, tetapi dia tampak bersemangat.

"Makanannya benar-benar kelas tinggi, Mr. Jeffrey benar-benar tidak pelit kepada kami, para karyawannya. Kau tidak boleh melewatkannya."

Doyoung tertawa dan memainkan pena di tangannya, "Apakah semua karyawan diundang?"

"Tentu saja. Dan sebagian besar tidak akan melewatkannya. Pesta akhir tahun di rumah Mr. Jeffrey merupakan salah satu hal yang ditunggu-tunggu, kau akan datang kan Young?"

Rowoon sudah mengajaknya untuk datang bersama. Doyoung membatin dalam hati, tiba-tiba merasa hatinya hangat. Dia belum lama kenal dengan Rowoon, tetapi entah kenapa semua terasa pas. Mereka bisa mengobrol berjam-jam tanpa merasa bosan. Bahkan Doyoung sadar bahwa hubungan mereka bisa berjalan lebih jauh.

"Pipimu memerah." Sooyoung tertawa, "Kau akan datang dengan Rowoon ya."

Pipi Doyoung makin memerah, dia menatap Doyoung hati-hati, "Apakah sejelas itu?" tanyanya berbisik.

"Apanya?"

"Tentang hubungan kami." Doyoung mendekatkan bibirnya ke telinga Sooyoung dan berbisik pelan.

"Bahkan Mr. Jeffrey sempat menanyakannya kepadaku."

Sooyoung mengernyitkan keningnya, "Mr. Jeffrey menanyakan kepadamu? Wah itu tidak pernah terjadi sebelumnya, setahuku beliau tidak pernah mempedulikan gosip percintaan karyawannya, Kalau sampai Mr. Jeffrey bertanya, mungkin gosipnya sudah meledak sedemikian rupa." Sooyoung terkekeh, "Tapi tidak ada ruginya, kalian pasangan yang cocok, dan Rowoon akhirnya berlabuh juga."

Doyoung gantian mengernyitkan keningnya, "Akhirnya berlabuh juga? Apa maksudmu."

"Ups." Sooyoung seolah merasa bersalah telah kelepasan bicara. "Aku tidak bermaksud membuka keburukan Rowoon. Tetapi sepertinya sejak bertemu denganmu beliau sudah berubah. Dulu Rowoon terkenal playboy, suka gonta ganti pacar dengan status yang tidak jelas. Tapi manusia kan bisa berubah dan kuharap kehadiranmu bisa merubah Rowoon menjadi lebih baik."

Doyoung merenung. Benarkah Rowoon dulunya playboy? Tetapi lelaki itu sangat sopan, sangat menghormatinya, sangat baik. Mungkin benar kata Sooyoung, Rowon sudah berubah lebih baik.

Doyoung sangat berharap begitu.

Malam pesta itu, Rowoon menjemputnya meskipun agak terlambat. Lelaki itu tampak rapi dan elegan dengan kemeja dan jas santai warna biru tuanya.

"Maafkan aku terlambat." Rowoon menatap Doyoung menyesal setelah dia menjalankan mobilnya.

"Tadi ban mobilku kempes di jalan."

Doyoung menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "Tidak apa-apa, Woonnie."

Rowoon menatap Doyoung lama dengan pandangan penuh arti, membuat Doyoung bingung.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?"

"Tidak kenapa-kenapa." Lelaki itu mengalihkan pandangannya dengan senyum dikulum.

"Hanya saja kau sangat berbeda dengan perempuan-perempuan lain yang pernah dekat denganku. Mereka pasti akan merajuk dan marah-marah jika aku telat menjemput, meski dengan alasan apapun. Tetapi kau berbeda, kau menerima alasanku dengan penuh pengertian."

Doyoung hanya tersenyum menanggapi pernyataan Rowoon, tetapi kemudian Rowoon menggenggam sebelah tangannya dengan lembut.

"Perasaanku kepadamu juga berbeda Doyoungie. Kuharap kau merasakan hal yang sama."

Apakah itu pernyataan cinta? Doyoung bertanya-tanya dalam hati, menatap Rowoon, mencari jawaban.

"Maukah kau menjadi kekasihku Doyoungie? Aku mencintaimu, dan aku berjanji akan menjadi kekasih yang baik."

Doyoung menatap Rowoon dalam senyum, lalu terkekeh, "Jawabannya nanti saja yah setelah pesta."

Rowoon membalas senyum Doyoung, lalu terkekeh geli, "Dasar, kau sengaja ya, mau menyiksaku sepanjang pesta, harap-harap cemas akan jawabanmu?"

Mereka lalu tertawa bersama.

Benar kata Sooyoung kemarin, Mr. Jeffrey benar-benar tidak pelit kepada para karyawannya.

Pesta yang diadakannya di rumahnya sangat elegan dengan menu makanan yang mewah dan luar biasa. Para pelayan berdiri hilir mudik menawarkan makanan kecil dan minuman di nampan. Sementara di meja prasmanan, makanan tampak tidak ada habis-habisnya.

"Ramai sekali di sini." Rowoon menggenggam lengan Doyoung dengan lembut, "Mungkin kita harus minggir supaya tidak tertabrak,"

Mereka terlambat datang ke pesta itu. Karena Rowoon terlambat menjemputnya tadi, jadi mereka ketinggalan acara pembuka, sambutan oleh Mr. Jeffrey sebelum acara makan-makan dimulai. Sekarang semua tamu sudah membaur saling bercakap-cakap satu sama lain, menikmati hidangan.

Pesta ini diadakan di kebun di halaman belakang rumah Mr. Jeffrey yang sangat indah. Rumah itu bergaya western dengan cat putih mendominasi keseluruhan bangunannya. Warna lain yang dominan adalah hijau. Warna itu memenuhi hamparan rumput luas yang tertata rapi, dengan lampu-lampu kuning yang temaram, menambah keeksotisan suasana pesta.

Sementara itu, meja prasmanan dihidangkan di gazebo luas, di tepi kolam renang. Pemilik pesta itu, Mr. Jeffrey tampaknya tidak ada. Doyoung membatin, matanya sudah mencari kemana-mana, tetapi dia tidak bisa menemukan sosok itu.

"Aku akan mengambilkanmu minum." Rowoon bergumam lembut, "Tunggu di sini ya."

Doyoung menganggukkan kepalanya dan tersenyum, lalu membiarkan Rowoon menembus kerumunan orang yang lalu lalang, mencari minuman.

Dia berusaha mencari-cari orang yang dikenalnya, tetapi tidak menemukannya, Sooyoung bilang dia tidak mungkin datang dengan kandungannya yang sudah sebesar itu, meskipun sebenarnya dia sangat ingin.

Doyoung berdiri di tempat itu beberapa saat, melayani beberapa teman yang menyapanya. Tetapi lama kemudian dia mengernyit karena Rowoon tak kunjung datang.

"Kau datang sendirian di sini?" suara itu sangat familiar, membuat Doyoung menoleh dengan tegang. Dan benar juga Mr. Jeffrey yang berdiri di sana, dengan segelas minuman di tangannya, menatapnya dengan pandangan yang tidak terbaca.

"Eh tidak." Doyoung menoleh ke belakang, mencari sosok Rowoon yang tak kunjung datang,

"Saya datang bersama Rowoon-shi."

"Lalu di mana dia?" Jaehyun mengernyitkan keningnya, tampak tidak suka.

"Dia... Katanya dia sedang mengambilkan minuman."

"Oh." Jaehyun menatap ke arah pandangan Doyoung, "Dia bodoh membiarkan pasangannya sendirian di sini, bisa-bisa pasangannya dicuri orang." Matanya yang tajam melembut dan Doyoung bisa melihatnya, ternyata Mr. Jeffrey menyimpan kelembutan di dalam dirinya, dibalik sikap dingin yang selalu ditampilkannya.

"Kau mau kutemani masuk dan mencari kekasihmu? Mungkin dia tersesat di dalam sana." Jaehyun mengedikkan bahunya ke arah bagian dalam rumah.

"Eh, tidak... mungkin saya akan menunggu di sini."

"Kita akan mencarinya, lagipula aku butuh Rowoon, ada beberapa hal tentang pekerjaan yang ingin kubicarakan dengannya." Dengan lembut Jaehyun menghela Doyoung supaya melangkah bersamanya, memasuki pintu kaca besar yang menjadi pembatas antara taman kolam renang dengan bagian dalam rumah.

Beberapa orang tampak duduk di bagian dalam rumah, asyik bercakap-cakap di semua sudut. Doyoung memandang ke sekeliling, juga ke bar yang menyediakan minuman, tetapi Rowoon tidak ada di sana.

"Mungkin dia ada di atas." Jaehyun mengedikkan bahunya ke arah tangga menuju lantai dua yang tampak temaram.

"Apakah lantai atas juga dibuka untuk pesta?" Doyoung menatap Jaehyun dengan ingin tahu. Lelaki itu tersenyum miring menanggapi.

"Tidak. Tapi di sana ada kamar mandi. Mungkin dia memutuskan memakai kamar mandi di lantai atas. Ayo." Sekali lagi Jaehyun menghela Doyoung mengajaknya menaiki tangga.

Sepertinya tidak ada tamu yang naik ke lantai dua, mungkin sudah menjadi peraturan umum bahwa lantai dua adalah area pribadi pemilik rumah dan bukan area pesta.

Mr. Jeffrey mungkin salah. Doyoung melirik ragu kepada laki-laki yang sedang berjalan di sebelahnya, Rowoon tidak mungkin berani naik ke lantai dua rumah Mr. Jeffret tanpa izin.

"Kamar mandi di lantai dua ada di ujung lorong." Jaehyun menunjuk, "Biasanya ada beberapa tamu yang ingin tahu tersesat di sini." Mereka terus berjalan menuju ke area kamar mandi di ujung lorong, sampai sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.

Suara itu sudah pasti adalah desahan seorang perempuan, sebuah desahan yang menyiratkan arti yang tak terbantahkan. Pipi Doyoung memerah, itu suara perempuan yang sedang bercinta. Meskipun tidak berpengalaman setidaknya Doyoung bisa membedakan suara desahan seperti itu.

Diliriknya Mr. Jeffrey yang berdiri di sebelahnya, apa yang akan dilakukan Mr. Jeffrey mengetahui ada orang yang bercinta di salah satu kamar di rumahnya? Apakah yang sedang bercinta itu tamu rumah ini?

Jaehyun hanya melirik ke arah Doyoung dan mengangkat bahu sambil tersenyum miris.

"Rupanya ada yang sedikit lupa diri di pestaku ini. Tunggu sebentar, aku akan mengingatkan mereka agar mencari kamar di motel terdekat dan tidak mencemari salah satu kamar tamuku."

Masih sambil tersenyum, Jaehyun membuka pintu kamar itu lebar-lebar. Doyoung menatap dan langsung mundur selangkah dengan kaget. Pemandangan di depannya membuat jantungnya serasa mau lepas.

Yang ada di depan mata Doyoung sungguh tak terduga. Sama sekali tidak terduga. Tangannya gemetar, menutup mulutnya yang mengeluarkan suara terkesiap karena kaget.

Di depannya, tampak Rowoon, setengah duduk dengan kepala bersandar di kepala ranjang, rambutnya acak-acakan, jasnya sudah terlepas entah dimana, kemejanya terbuka kancingnya, menampakkan kulit dadanya yang kemerahan.

Dan... seorang perempuan cantik sedang duduk mengangkangi pinggangnya, perempuan itu setengah telanjang, dengan gaun yang sudah melorot sampai ke pinggang.

Dua insan itu sedang berciuman dengan begitu panas, pinggul si wanita menggesek-gesek selangkangan Rowoon dengan begitu bergairah. Mereka tampak lupa diri.

Jaehyun melirik sekilas ke arah Doyoung yang pucat pasi, lalu dia bergumam sedikit keras.

"Aku rasa kalian harus mencari hotel, dan meninggalkan rumahku."

Suara Jaehyun tenang, namun tak terduga bagi pasangan yang sebelumnya terlalu larut dalam nafsu. Rowoon yang tersadar pertama kali. Dia menoleh ke arah Jaehyun, lalu berseru kaget ketika melihat Doyoung. Dan dengan gerakan reflek langsung mendorong perempuan yang mengangkanginya itu menjauh dari tubuhnya.

Ekspresi keduanya tampak berseberangan. Rowoon tampak pucat pasi dan penuh rasa bersalah, sedangkan perempuan itu, meskipun tadi terdorong oleh Rowoon sampai hampir jatuh, tampak begitu tenang, berdiri dengan elegan sambil merapikan gaunnya, lalu tersenyum manis.

"Well, tak kusangka kita tertangkap basah di sini sayang." Bisiknya sambil melirik mesra kepada Rowoon, "Mungkin benar kata sang tuan rumah, kita harus pindah ke hotel."

"Diam Hyuna!" Rowoon menyusul berdiri sambil berusaha merapikan pakaiannya, dia lalu menatap Doyoung dengan cemas, "Doyoungie, aku bisa menjelaskan, semua ini hanyalah salah paham."

Salah paham? Doyoung mengigit bibirnya untuk menahan perasaan.

Bagaimana mungkin ini salah paham, di depan matanya sendiri dia melihat Rowoon sedang bercumbu dengan begitu panasnya.

Padahal beberapa jam sebelumnya lelaki ini menyatakan cinta dan memintanya sebagai kekasihnya. Bagaimana mungkin ini bisa dikatakan salah paham?

Pemandangan di depannya jelas-jelas merupakan bukti bahwa Rowoon ternyata masih lelaki yang sama, pemain perempuan seperti yang dikatakan oleh Sooyoung. Mungkin dia memang sedang mengincar Doyoung sebagai korbannya.

Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang pemain perempuan selain mendapatkan seorang gadis yang masih lugu dan mudah ditipu.

Dan bodohnya.. Doyoung mempercayai Rowoon, dia bahkan memiliki perasaan indah yang ditumbuhkannya dengan begitu bodoh kepada lelaki itu.

Hatinya terasa sakit, sakit dan sesak yang membuatnya tak mampu berkata-kata. Dikepalkannya kedua tangannya, dia bahkan tak mampu menatap Rowoon, dipalingkannya kepalanya dengan mata yang terasa panas membasah.

"Doyoungie-ah..." Rowoon mengerang melihat mata Doyoung yang mulai berkaca-kaca.

"Sungguh aku tidak melakukannya dengan sengaja, aku terlalu banyak minum dan Hyuna menggodaku dan aku..."

"Aku menggodamu?" Hyuna melipat lengannya dengan senyum simpul, "Kau yang menyeretku ke kamar terdekat karena tidak bisa menahan gairah."

"Diam Hyuna!" sekali lagi Rowoon membentak perempuan bernama Hyuna itu. Dia lalu berusaha mendekat ke arah Doyoung, "Young, aku..."

"Menjauhlah dari Doyoung." Jaehyun melangkah ke depan Doyoung, menghalangi Rowoon. "Aku harap kalian segera meninggalkan tempat ini."

Rowoon terpaku, menatap ke arah Doyoung, menyadari bahwa perempuan itu bahkan tidak mau menatap ke arahnya. Dia menghembuskan nafas dan menatap Doyoung penuh harap.

"Aku harap kita bisa berbicara nanti." Lelaki itu menyerah dan melangkah pergi meninggalkan kamar.

"Baiklah, aku rasa aku harus pergi juga." Perempuan bernama Hyuna tampak ceria, sama sekali tidak terpengaruh dan merasa malu karena terpergok bercumbu dengan seseorang di kamar orang lain pula.

Hyuna merapikan gaun dan rambutnya dengan genit, lalu melangkah melewati Jaehyun dan Doyoung. Dalam kilatan satu detik, yang tentu saja tidak dilihat oleh Doyoung, Hyuna mengedipkan matanya kepada Jaehyun.

"Kau mau minum?"

Pesta sudah usai. Para tamu sudah pulang. Hanya Doyoung yang masih duduk di dapur modern milik Jaehyun.

Setelah kejadian tadi Jaehyun mengantarnya ke sana dan menyuruhnya duduk menenangkan diri, menyuruh pelayan menyediakan cokelat hangat untuknya, lalu meninggalkannya untuk menemui para tamunya, dan berjanji akan mengantarkannya pulang nanti.

Selama ditinggalkan sendirian Doyoung terus merenung, Kejadian tadi berulang-ulang di matanya. Dan sangat tidak disangkanya.

Begitu bebaskah kehidupan Rowoon sehingga dia bisa bercumbu begitu saja dengan sembarang wanita yang ditemuinya di pesta? Rasa sakit menusuk dadanya, membuatnya menghela nafas berkali-kali.

Setidaknya dia belum jatuh cinta terlalu dalam kepada Rowoon, setidaknya dia belum menumbuhkan perasaannya terlalu jauh.

Rupanya lama sekali Doyoung berkutat dengan pikirannya, karena pesta pada akhirnya usai.

Jaehyun datang menemuinya, dan duduk bersamanya di dapur, melihat cangkir cokelat hangatnya yang hampir kosong dan menawarkan minuman lagi.

Doyoung menggeleng menjawab pertanyaan Jaehyun. Tidak. Dia tidak ingin minum apapun. Dia hanya ingin pulang dan mungkin menangis sendirian di kamarnya.

"Saya hanya ingin pulang..." gumam Doyoung akhirnya, melirik jam di dinding dapur yang sudah semakin malam.

Jaehyun mengikuti arah lirikan Doyoung dan tersenyum lembut, "Aku akan mengantarkanmu pulang, jangan cemas... Apakah kau baik-baik saja Doyoung-shi?"

Pipi Doyoung memerah. Tidak. Dia tidak baik-baik saja. Dia patah hati dan merasa dikhianati, dan juga malu. Malu kepada Mr. Jeffrey yang menatapnya dengan penuh perhatian kepadanya saat ini. Malu mengingat percakapan mereka beberapa malam yang lalu tentang hubungannya dengan Rowoon.

Mr. Jeffrey pasti menertawakan kebodohan dan kepolosannya dalam hati karena dia begitu mudah ditipu.

"Tidak semua laki-laki seperti Rowoon." Jaehyun membalikkan badan, melangkah menuju bar yang ada di samping dapur. Dan menuang minuman, lalu meletakkan salah satu gelasnya di depan Doyoung, "Ini minumlah."

"Ini apa?" Doyoung mengernyit, menatap ke arah gelas minuman di depannya. Cairan itu berwarna bening dan keemasan.

"Itu champagne. Rasanya manis dan tidak begitu keras. Mungkin bisa sedikit menenangkanmu."

Doyoung menatap gelas itu dengan ragu. Menimbang-nimbang. Seumur hidupnya dia tidak pernah meminum minuman beralkohol dan tidak yakin akan reaksinya setelah meminum itu. Apakah dia akan mabuk dan menari-nari seperti orang gila nantinya?

Jaehyun mengamati Doyoung yang tercenung sambil menatap gelasnya dan tersenyum.

"Satu gelas tidak akan membuatmu mabuk. Kau bisa menyesapnya pelan-pelan. Kalau kau merasa tidak mampu, kau bisa berhenti tanpa menghabiskannya."

Doyoung menghela napas panjang. Oke. Dia merasa layak meminum segelas champagne mahal setelah apa yang dialaminya tadi. Dengan cepat dia meneguknya. Rasa manis langsung menyebar di rongga mulutnya diikuti rasa hangat yang pekat. Kemudian terbatuk-batuk.

Jaehyun mengernyitkan alis melihat cara Doyoung minum champagne-nya lalu tertawa.

"Aku bilang disesap, sayang. Jangan diteguk sampai habis, kau akan kehilangan aromanya kalau begitu." Lelaki itu mendekati Doyoung yang terbatuk-batuk lalu mengusap punggungnya dengan lembut, "Kau tidak apa-apa?"

Doyoung menganggukkan kepalanya, tiba-tiba menyadari kedekatan Jaehyun yang terasa panas di belakangnya.

"Saya rasa saya harus pulang sekarang." Doyoung meletakkan gelasnya dan mencoba berdiri, dia agak terhuyung, sehingga Jaehyun harus memegang lengannya.

"Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang. Ini sudah terlalu malam." Dengan lembut Jaehyun menggandeng lengan Doyoung dan membawanya keluar.

Ketika melangkah, tiba-tiba Doyoung terjatuh, membuat Jaehyun harus menangkapnya lagi. Kali ini setengah memeluknya begitu dekat. Jaehyun menatap wajah yang sangat menggoda, yang begitu dekat dengannya, bibir itu.

Astaga, bibir itu begitu ranum dan lembut, pasti terasa manis ketika disesap, mengalahkan rasa champagne yang paling mahal sekalipun. Jaehyun lupa diri, dan kemudian, tanpa peringatan, ditariknya Doyoung ke dalam pelukannya dan dikecupnya bibirnya lembut.

Doyoung terkejut, luar biasa terkejut ketika lelaki ini, atasannya tiba-tiba memeluknya dengan begitu erat dan mengecup bibirnya. Tetapi kecupan itu tidak dimaksudkan sebagai paksaan.

Jaehyun menciumnya dengan lembut, tetapi tidak kasar, lelaki itu seolah memberi kesempatan Doyoung menolak kalau dia tidak mau. Doyoung tidak punya tenaga untuk menolak. Aroma jantan itu, parfum bercampur harumnya anggur memenuhi seluruh inderanya, membuatnya tertarik tanpa daya.

Dia tidak pernah sedekat ini dengan lelaki sebelumnya, sehingga rasa ingin tahu memenuhi dirinya. Mungkin ketika dia mendapatkan akal sehatnya nanti dia akan menyalahkan anggur yang diminumnya. Tetapi sekarang Doyoung hanya ingin merasakan ciuman itu, merasakan lebih jauh lagi.

Jaehyun memperdalam kecupannya menjadi lumatan-lumatan bergairah, bibirnya membuka dan melumat bibir manis Doyoung, menjilatnya lembut lalu menyesapnya dengan penuh gairah.

Darah Jaehyun menggelegak, gairahnya yang begitu lama tidak tersalurkan tiba-tiba semakin naik, membuatnya mempererat pelukannya, dan memperdalam lumatannya. Ciuman itu yang semula hanya dilakukan untuk mencicipi, berubah menjadi kebutuhan untuk memiliki, merasakan keseluruhannya.

"Doyoung-ah." Jaehyun mengerang penuh gairah, suaranya dalam dan tersiksa.

"Oh ya ampun, setiap saat aku selalu membayangkanmu. Membayangkan bisa menyentuhmu seperti ini, menyiksa diriku hingga seluruh tubuhku terasa sakit karena merindukanmu. Aku pikir aku pantas menerima itu, sebuah hukuman untukku... Tetapi sekarang, sekarang kau ada dalam pelukanku, dan aku tidak tahu harus bagaimana." Lelaki itu bercap pendek-pendek dengan nafasnya yang tersengal, dengan bibir yang begitu dekat dengan bibir Doyoung sehingga membagi panas nafasnya.

Doyoung mendengarkan ucapan Jaehyun itu, tetapi pikirannya terlalu berkabut untuk mencernanya. Dia hanya menangkap bahwa Jaehyun membayangkannya. Membayangkannya? Benarkah?

Tetapi kemudian seluruh pertanyaan di benaknya lenyap ketika lelaki itu melumat bibirnya lagi. Kali ini tanpa batasan apapun, bibir lelaki itu panas, dan terbuka dan melumat keseluruhan bibirnya seolah ingin melahapnya.

Doyoung tidak pernah menduga sama sekali, Jaehyun yang begitu dingin dan seolah tidak berperasaan bisa menjadi lelaki yang begitu penuh gairah dalam berciuman.

Ciuman itu membuatnya lemas, sehingga harus bergantung pada tubuh Jaehyun. Kedua lengannya melingkari tubuh Jaehyun dan atasannya itu seolah tidak keberatan.

Lelaki itu membungkukkan tubuhnya lalu setengah mengangkat tubuh Doyoung, seolah ingin menghapus batasan tinggi badan di antara mereka, dan melumat Doyoung dengan menggila, sepenuh gairahnya.

"Kau sangat menikmati ciumanku rupanya, sayang." Bibirnya menggoda, menjilat lembut, lidahnya menelusup pelan sebelum kemudian menciumnya lagi dengan bergairah, "Aku juga."

Jaehyun menatap Doyoung, perempuan itu sepertinya sudah takluk ke dalam cumbuannya. Apakah karena pengaruh anggur? Jaehyun tidak mau Doyoung takluk kepadanya karena anggur, dengan lembut digodanya Doyoung lagi hingga perempuan itu mengerang, kebingungan dengan gairah aneh yang baru pertama dirasakannya.

"Doyoung yang begitu polos dan suci...kau tidak tahu betapa inginnya aku menjadi orang pertama yang merusakmu."

Bibir mereka masih bertautan dalam kecupan dan pagutan-pagutan yang panas. Kemudian jemari Jaehyun mulai menelusuri lengan Doyoung, naik turun di sepanjang lengannya dengan panas dan penuh gairah, Doyoung merasakan sekujur tubuhnya panas, Entah karena pengaruh anggur yang diteguknya tadi, entah karena Elusan Jaehyun.

Mungkin satu gelas anggur yang diteguknya langsung di saat perdananya mencicipi champagne terlalu berlebihan baginya. Kepalanya mulai berkunang-kunang, tetapi walaupun begitu seluruh inderanya masih hidup. Dipenuhi oleh jutaan sensasi aneh yang menyelimutinya.

Jaehyun sendiri masih sibuk melumat bibir Doyoung, bibir yang dirindukannya sejak lama, bibir yang hanya bisa dibayangkannya di malam-malam kesepiannya. Lelaki itu mulai lupa diri, diangkatnya tubuh Doyoung yang setengah mabuk dan di bawanya ke kamarnya.

Dengan lembut tetapi bergairah dibaringkannya Doyoung. Gadis itu sudah pasrah dalam pelukannya, dan Jaehyun amat sangat tergoda untuk memilikinya, seketika itu juga. Tubuhnya menindih tubuh Doyoung, jemarinya menyibakkan gaunnya, menelusuri paha Doyoung dengan lembut, semakin ke atas, sampai kemudian menyentuh kewanitaannya.

Jemari Jaehyun memainkannya dengan lembut, tahu bahwa tempat itu tidak pernah tersentuh sebelumnya dan sangat sensitif.

Doyoung mengejang merasakan sensasi aneh yang menyengat di pusat kewanitaannya ketika jemari Jaehyun bermain di sana -tempat yang tidak pernah tersentuh sebelumnya.

Jaehyun begitu ahli, mengetahui titiknya yang paling sensitif, lalu menggerakkan jemarinya memutar di sana membuat Doyoung merasakan kenikmatan aneh yang tidak pernah berani dia bayangkan sebelumnya.

Sementara itu Jaehyun merespon gerakan Doyoung dengan bergairah, kejantanannya telah begitu mengeras, mendesak celananya, ingin segera merasakan tubuh Doyoung dan menenggelamkan diri di kewanitaannya tanpa pembatas apapun.

"Kau menginginkannya sayang? Jawab aku." Suara Jaehyun begitu parau penuh gairah, "Aku tidak ingin memaksamu, aku ingin kau menyerah karena kau mau." Kejantanannya yang mengeras menggantikan jemarinya, mendesak di sana, di pusat kewanitaan Doyoung yang paling sensitif.

Jaehyun menunggu, menunggu Doyoung menjawab. Dia membutuhkan persetujuan Doyoung, entah dalam bentuk kata-kata, entah dalam geliatan respon tubuhnya yang menunjukkan bahwa perempuan itu setuju. Tetapi suasana berubah menjadi hening, Doyoung bahkan tidak bergerak di bawah tindihannya.

"Young?" Jaehyun menundukkan kepalanya, wajahnya sangat dekat dengan wajah Jaehyun. Nafasnya masih memburu, menunjukkan gairahnya. Tetapi kemudian dia menyadari nafas Doyoung yang teratur.

Gadis itu tertidur...

Jaehyun menahan dirinya untuk tidak mengumpat. Tubuhnya yang sakit karena gairah tak tersalurkan mendorongnya untuk menumpahkannya dalam kata-kata. Tetapi Jaehyun berhasil menahan diri.

Dia menghela nafas dalam-dalam, lalu sambil menggertakkan gigi karena kejantanannya menggesek tubuh Doyoung, Jaehyun memundurkan tubuhnya dengan hati-hati hingga duduk di atas ranjang. Menatap Doyoung yang sepertinya sudah tenggelam dalam tidur pulasnya.

Oh Ya Ampun, dia membawa Doyoung dengan penuh gairah ke atas ranjangnya. Hal yang tidak pernah dilakukannya kepada perempuan lain, dan Doyoung bisa-bisanya tertidur! Dengan pulas pula.

Mungkin tadi tidak seharusnya dia membiarkan Doyoung meminum anggurnya. Satu gelas anggur rupanya terlalu berlebihan untuk gadis tidak berpengalaman seperti Doyoung.

Jaehyun tersenyum ironis memikirkan semua kejadian tadi. Disentuhnya pipi Doyoung dengan lembut. Tidak bisa menahan dirinya.

Lelaki itu lalu mengecup bibir Doyoung dengan hati-hati, kemudian dengan gerakan cekatan dan tak kalah hati-hatinya, dilepaskannya gaun Doyoung, pelan-pelan, hingga gadis itu setengah telanjang hanya mengenakan pakaian dalam.

Tubuh Doyoung terasa begitu menggoda. Sama seperti mimpi-mimpi Jaehyun di malam sepinya ketika merindukan Doyoung, bahkan pemandangan di depannya ini jauh lebih baik, tubuh ini nyata, hangat dan mengundang, seakan mengajaknya untuk membenamkan dirinya dalam kelembutannya.

"Maafkan aku sayang." Jaehyun lalu melepaskan baju dalam Doyoung hingga perempuan itu telanjang sepenuhnya. Ditatapnya sejenak tubuh Doyoung, lalu memalingkan muka. Nuraninya seakan menghantamnya karena dia akan membuat gadis ini benar-benar mengalami kejutan buruk di pagi hari ketika dia terbangun nanti.

Sejenak Jaehyun ragu, lalu dia menghela napas panjang. Dia tidak boleh mundur. Ini adalah satu-satunya cara untuk membuat Doyoung terikat dengannya. Dengan tenang dia lalu melepas kemejanya, kemudian celananya, dan yang terakhir, semuanya.

Hingga dia berdiri telanjang bulat di tepi ranjang, Tubuhnya begitu kokoh, berwarna putih mengkilat, warisan dari darah Korea-Amerikanya lah yang membuat warna kulitnya begitu indah dipandang.

Lalu Jaehyun naik ke atas ranjang, memeluk Doyoung, gesekan tubuh telanjang Doyoung yang lembut, membuat kejantanannya mengeras lagi, keras dan siap.

Jaehyun menggertakkan gigi untuk menahan dirinya. Tidak. Belum. Dia tidak akan merenggut Doyoung begitu saja, tidak di saat gadis itu tidak siap dan tidak rela menyerahkan dirinya. Saat ini yang dia perlukan hanyalah tidur dan memeluk Doyoung dalam kondisi telanjang bulat.

Memastikan apa yang terjadi esok hari sesuai dengan rencananya.

TBC

Kira-kira gimana reaksi Doyoung yah?

Gomawo