WARNING!

ADA ADEGAN YANG TIDAK-TIDAK, JADI SAYA MOHON UNTUK TAU DIRI YANG MASIH DIBAWAH UMUR UNTUK SKIP ADEGAN TSB.

HAPPY READING

Unforgiven Hero Chapter 4

Yang dirasakan Doyoung ketika pagi hari membuka matanya adalah pening yang luar biasa. Kepalanya serasa berat dan seakan ada suara berdentam-dentam di telinganya.

Cahaya redup matahari yang menyelinap di balik gordennya terasa begitu menyilaukan, menyakitkan matanya dan membuatnya semakin pusing.

Doyoung mengerang, lalu mencoba duduk sambil memegangi kepalanya yang pening, untuk kemudian merasakan hawa dingin menyergapnya, selimutnya meluncur begitu saja sampai kepinggangnya.

Doyoung menunduk, hendak menaikkan selimutnya, hanya untuk menyadari bahwa dia telanjang bulat di balik selimutnya.

Tunggu dulu... Telanjang bulat?

Mata Doyoung tiba-tiba tertuju kepada lengan kekar yang melingkarinya dengan posesif. Lengan itu melingkarinya tepat di bawah buah dadanya yang telanjang.

Dengan panik dia menoleh ke arah pemilik tangan itu dan menyadari bahwa lelaki yang sekarang sedang tidur –satu selimut dengannya, dan menilik kulit putihnya yang terpampang jelas di depan matanya, lelaki itu sama-sama telanjang!

Astaga! apa yang terjadi semalam?

Doyoung memutar ingatannya dengan cepat, tetapi apa yang dia ingat hanyalah percakapan samar sebelum minum anggur, dan ciuman itu... lalu dia tidak ingat apa-apa lagi.

Apakah dia telah berbuat terlalu jauh dengan atasannya ini? Oh Ya Ampun!

Gerakan Doyoung membuat Jaehyun terjaga dari tidurnya, bahkan cara bangunnya pun begitu elegan. Doyoung memandang terpana untuk kemudian mengutuk dirinya karena bukannya panik, malah sempat-sempatnya mengagumi cara Jaehyun terbangun.

Bulu mata gelap Jaehyun yang tebal bergerak-gerak, untuk kemudian mata tajamnya terbuka, dan langsung menatap Doyoung. Mr. Jeffrey rupanya jenis orang yang langsung terjaga ketika bangun tidur. Mereka bertatapan dalam keheningan. Lama.

Sampai kemudian ada kesadaran di mata Jaehyun, yang membuat lelaki itu tersenyum simpul.

"Selamat pagi." Gumamnya parau, "Kuharap tidurmu menyenangkan semalam." Nada sensual tersemat jelas di sana. Membuat Doyoung semakin panik.

Sapaan itu. Jelas-jelas ditujukan untuk kekasih yang habis bercinta semalaman. Jadi benarkah mereka berdua telah berbuat sesuatu yang lebih semalam?

Jaehyun bergerak duduk mengikuti Doyoung. Selimut ikut turun sampai ke pinggangnya, sampai ke batas dimana kejantanannya yang telanjang hampir mengintip di sana.

Lelaki itu ereksi. Doyoung mengerang dalam hati. Astaga! Kenapa dia langsung melirik ke sana? Tetapi bagaimanapun juga dia sangat ingin tahu. Doyoung tahu bahwa kejantanan lelaki akan menjadi keras ketika dia bergairah, dari buku-buku yang dibacanya. Tetapi dia tidak pernah melihatnya langsung.

Melihat sesuatu yang menonjol dengan tegak dan tampak keras di balik selimut yang menutupi pinggang dan selangkangan Mr. Jeffrey, Doyoung langsung menyimpulkan bahwa lelaki itu sedang ereksi.

Jaehyun mengikuti arah pandangan Doyoung, dan menyadari bahwa ketengangan di selangkangannya lah yang membuat Doyoung tampak segan dan waspada, dia lalu mengangkat bahu dan tersenyum meminta maaf.

"Maaf, begitulah yang sering terjadi kepadaku ketika bangun di pagi hari, dia keras dengan sendirinya." Dengan gerakan menggoda Jaehyun menarik selimutnya menuruni pinggangnya seolah-olah akan menunjukkan kejantanannya yang tersembunyi di sana.

"Jangan!" Doyoung memekik, menutup kedua matanya dengan jemarinya. Ketika mendengar Jaehyun terkekeh dia langsung membuka jemarinya dan menatap lelaki itu dengan malu.

"Kau begitu berbeda di pagi hari. Begitu pemalu." Jaehyun dengan lembut mendekatkan bibirnya ke dahi Doyoung dan mengecupnya, "Kau pasti pusing. Mandilah, akan kubuatkan kopi untukmu."

Lelaki itu lalu turun dari ranjang, telanjang bulat, seolah-olah tidak malu memamerkan tubuh telanjangnya di depan Doyoung. Kemudian melangkah pergi keluar kamar, meninggalkan Doyoung sendirian.

Doyoung membiarkan seluruh tubuhnya terguyur oleh shower air panas di kamar mandi. Merasa bingung. Kepalanya masih berdenyut-denyut , tetapi setidaknya pikirannya sudah mulai fokus.

Dia telanjang bulat bersama Mr. Jeffrey, di atas ranjang di kamar pribadi lelaki itu. Apakah mereka sudah bercinta?

Kalau begitu, kenapa Doyoung tidak merasakan perbedaan? Doyoung tidak pernah bercinta dengan lelaki lain sebelumnya, jadi dia tidak tahu. Tetapi dari yang dia dengar, saat pertama adalah saat yang menyakitkan. Dan sakit itu akan terasa hingga beberapa saat.

Tetapi saat ini dia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada perbedaan di tubuhnya, tidak ada rasa nyeri yang katanya akan terasa di kewanitaannya beberapa lama setelah malam pertama. Doyoung ragu. Apakah semalam dia benar-benar tidur dengan Mr. Jeffrey?

Batinnya berharap bahwa kejadian itu tidak benar-benar terjadi, mungkin saja mereka hanya tertidur bersama dan tidak berbuat terlalu jauh bukan? Tetapi... sikap Mr. Jeffrey tadi begitu mesra dan sensual, menyiratkan kalau mereka sudah menjadi sepasang kekasih...

Air mata menetes di mata Doyoung, air mata bingung dan frustrasi. Apa yang harus dia lakukan kalau dia benar-benar telah menyerahkan kegadisannya kepada Mr. Jeffrey? Apa yang harus dia lakukan?

Doyoung mengusap air matanya dengan tangan gemetar. Dia akan menanyakannya langsung kepada Mr. Jeffrey, mungkin saja tidak seperti dirinya –lelaki itu ingat apa yang terjadi semalam.

"Aku baru tahu ada orang yang bisa mabuk hanya dengan meminum segelas anggur." Lelaki itu sudah tampil elegan dan tampan, dengan rambut basahnya yang disisir ke belakang.

Mungkin dia mandi di kamar mandi lain, dan menyodorkan secangkir kopi yang mengepul panas ke depan Doyoung, "Minumlah mungkin ini akan menghilangkan pusingmu."

Doyoung, yang memakai kembali gaunnya semalam meraih cangkir kopi itu dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.

Suasana sangat canggung baginya meskipun Mr. Jeffrey tampak bersikap santai kepadanya. Dia merasa sangat murahan saat ini, memakai kembali gaun yang dipakainya semalam. Seperti wanita dengan gaya hidup bebas yang tidak keberatan bercinta tanpa ikatan hanya untuk kesenangan semalam.

"Apakah... semalam kita melakukan itu?" Suara Doyoung lirih dan ragu, membuat Jaehyun yang sedang menuangkan kopi untuk dirinya sendiri menghentikan gerakannya dan menoleh –menatap ke arah Doyoung.

"Mungkin. . .Aku tidak ingat." Jaehyun sejenak merasa kasihan kepada Doyoung, gadis itu begitu pucat dan seperti Doyoung duga merasa tidak suka dengan kejutan di pagi hari ini. "Tapi kemungkinan besar kita melakukannya." Bagaimanapun juga Jaehyun tidak bisa mundur, dia sudah melangkah sejauh ini untuk memiliki Doyoung.

"Tetapi saya tidak berdarah, dan tidak ada rasa sakit... " Doyoung menelan ludahnya ketika suaranya hilang di tenggorokan, "Mungkin saja kita tidak melakukannya."

"Tolong jangan gunakan 'saya' dan 'anda' ketika kita bercakap-cakap. Mengingat apa yang mungkin terjadi semalam,penggunaan kata itu sudah terlalu formal untuk kita berdua."

Jaehyun membawa cangkir kopinya dan meletakkannya di meja di depan Doyoung, lalu menyusul duduk di hadapan Doyoung, menatap perempuan itu dengan mata elangnya yang tajam.

"Aku tidak pernah bercinta dengan perawan sebelumnya Young, jadi aku tidak bisa memberikan penjelasan kepadamu." Jaehyun tidak bohong mengenai tidak pernah bercinta dengan perawan sebelumnya, dia selalu memilih kekasih yang sudah berpengalaman, yang bisa memuaskan hasratnya tanpa perasaan dan tanpa ikatan. "Tetapi dari yang aku tahu, tidak semua perempuan merasakan rasa sakit dan berdarah di malam pertamanya."

"Kalau begitu? Apakah kita sudah bercinta?" wajah Doyoung tampak pucat pasi.

Jaehyun mengangkat bahunya, "Aku tidak bisa memastikannya untukmu sayang, sepertinya aku terlalu mabuk semalam dan tidak ingat semuanya, sama sepertimu." Itu bohong, Jaehyun ingat semuanya, setiap detiknya. "Kurasa kita harus membicarakan hubungan kita ke depannya."

"Hubungan kita ke depannya?"

"Ya. Mengingat kemungkinan aku sudah menodaimu, yang pasti akan menjadi permasalahan yang sangat besar bagi gadis baik-baik sepertimu. Aku akan bertanggung jawab. Kita bisa membicarakan pernikahan."

"Pernikahan?!" Doyoung merasakan dirinya bagai burung beo, hanya bisa menirukan kalimat-kalimat Mr. Jeffrey.

Apakah atasannya ini sedang bercanda? Membicarakan pernikahan dengan begitu mudahnya?

Pernikahan adalah hal yang penting dan sakral bagi Doyoung. Itu membuatnya langsung menolak mentah-mentah tawaran Jaehyun, "Aku tidak bisa menikah denganmu begitu saja..."

"Kau mungkin saja sudah mengandung anakku." Gumam Jaehyun tenang, "Tidak terpikirkan olehmu kan sayang?"

Doyoung tertegun. Mengandung anak Mr. Jeffrey? Tetapi bukankah itu terjadi kalau mereka benar-benar berhubungan intim semalam? Sedangkan sekarang mereka sama-sama tidak bisa memastikan apakah hal itu benar-benar terjadi atau tidak.

"Aku akan menemui dokter."

"Dan mengatakan apa?" Jaehyun tersenyum sinis, "Bahkan kau tidak ingat sudah bercinta atau belum lalu ingin mengecek keperawananmu?"

Doyoung menelan ludahnya, tentu saja dia tidak bisa melakukan itu, dia akan mati karena malu sebelum melakukannya. Denyutan di kepalanya semakin terasa, antara bingung dan frustrasi, membuatnya meringis kesakitan.

Jaehyun melihatnya dan mendorong cangkir kopi Doyoung mendekat.

"Minum kopimu. Percayalah itu akan membuatmu sedikit lebih baik." Gumamnya lembut. Menyesap kopinya sendiri.

Doyoung menurutinya. Menyesap kopi itu dan merasakan rasa pahit yang kental memenuhi rongga mulutnya, mengembalikan kesadarannya. Mereka duduk dalam keheningan, saling berhadapan di meja makan kecil di dapur itu, sampai kemudian Jaehyun menghela napas dan memulai pembicaraan.

"Aku tidak akan memaksamu Young, yang perlu kau tahu aku bersedia bertanggung jawab. Kau perlu tahu aku tidak pernah merusak perempuan yang lugu sebelumnya, dan kemungkinan kau sudah mengandung anakku..." Lelaki itu menatap Doyoung, mencoba berkompromi karena kasihan melihat wajah Doyoung yang semakin pucat, "Mungkin kita bisa bertunangan dulu sampai ada kepastian apa tindakan kita selanjutnya."

Doyoung hanya terdiam, masih bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

"Pertunangan tidak akan merugikanmu. Kita tidak akan mengumumkannya. Hanya antara aku dan kau dan mungkin beberapa orang terdekat kita. Kita bisa membatalkannya kapan saja kalau ternyata tidak ada kesepakatan di antara kita." Jaehyun mengutuk dirinya sendiri karena menawarkan pertunangan yang longgar.

Seharusnya dia langsung menikahi Doyoung, memastikan bahwa gadis itu tidak bisa lari darinya. Tetapi Jaehyun tidak bisa tergesa-gesa. Karena ketergesa-gesaan hanya akan membuat Doyoung semakin menjaga jarak kepadanya. Dia harus membuat Doyoung merasa nyaman dengannya, sebelum kemudian, perempuan itu akan menyerahkan diri kepadanya secara sukarela.

Doyoung terdiam meresapi kata-kata Mr. Jefrrey. Lelaki ini pasti sangat jago bernegosiasi, Karena dia bisa merangkai kata-katanya dengan begitu membujuk. Doyoung merasa dirinya terbujuk, Perempuan mana yang bisa menemukan seorang lelaki yang begitu bertanggung jawab kepadanya, mengingat kalau mereka memang melakukan hubungan intim itu, tidak ada cinta di dalamnya.

"Aku akan memikirkannya."

"Kau harus menerimanya Young." Jaehyun setengah memaksa, tidak mau memberi kesempatan Doyoung berpaling lalu lepas darinya

"Kau akan bertunangan denganku dan kita akan membicarakan pernikahan." Dengan tegas lelaki itu berdiri dan menatap Doyoung dengan tatapan tak terbantahkan, "Tunggu sebentar. Aku akan kembali." Gumamnya tegas, lalu meninggalkan Doyoung.

Tak lama kemudian, dia kembali. Membawa sebuah kotak yang jika Doyoung tak salah duga berisi sebuah cincin. Wajah Doyoung langsung memucat begitu memahami keseriusan dari pihak Mr. Jeffrey.

"Tunggu sebentar Mr. Jeffrey..."

"Jangan menolak Young." Jaehyun tersenyum, "Dan panggil aku dengan namaku. Panggil aku Jeffrey..." Meskipun aku akan sangat bahagia kalau kau bisa memanggil namaku yang sebenarnya dengan bibir lembutmu, namaku yang sebenarnya –Jaehyun.

Jaehyun meringis ketika suara hatinya seakan menohoknya. Nanti akan tiba saatnya Doyoung akan memanggil namanya yang sesungguhnya. Sekarang dia harus cukup puas dipanggil dengan nama Jeffrey, tanpa embel-embel 'Mr' di dalamnya.

"Aku ingin memakaikan cincin ini di jarimu, tanda kesepakatan pertunangan pribadi kita."

"Tapi... aku tidak bisa melakukannya begitu saja, oh Astaga, kau juga tidak bisa melakukannya begitu saja."

"Aku dan kau bisa." Suara Jaehyun begitu tenang meskipun jantungnya berdegup kencang ketika meraih jemari Doyoung, dan memakaikan cincin berlian mungil yang indah itu di jari Doyoung.

"Ini adalah cincin warisan dari keluarga ayahku, yang harusnya diberikan kepada tunanganku. Lihat, pas sekali di jemarimu. Nah, sekarang kita sudah bertunangan."

Doyoung menatap jemarinya yang sudah dilingkari cincin itu dan merasakan serangan panik melandanya, membuatnya kebingungan.

Ketika Jaehyun mengantarkannya pulang, Doyoung meminta lelaki itu menurunkannya di ujung jalan. Dia tidak siap menghadapi pertanyaan Bibi Park nanti ketika melihat dia diantarkan lelaki –atasannya, dalam keadaan dia tidak pulang semalaman.

Doyoung tidak pernah menginap di rumah siapapun sebelumnya, apalagi menginap tanpa pamit. Bibi Park pasti menunggunya dengan panik dan mencemaskannya semalaman. Pemikiran itu membuatnya merasa bersalah.

Bagaimana dia akan menjelaskan kejadian ini kepada Bibi Park? Apakah dia harus memberikan kebohongan demi kebohongan lagi?

Mobil Jaehyun berhenti di ujung jalan, dia menatap Doyoung lembut, "Kau benar-benar tidak ingin di antar sampai ke rumah?"

Kyungsoo langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak, terima kasih. Aku akan mencoba menjelaskan sendiri kepada bibi asramaku."

"Kau tinggal di asrama?" Jaehyun tentu saja bersandiwara, dia hanya harus menanyakan itu, kalau tidak akan terlihat aneh bagi Doyoung, "Dimana keluargamu?"

Sejenak suasana hening. Keheningan yang pahit bagi Doyoung, tetapi meresap ke dalam benak Jaehyun, membuatnya dipenuhi rasa bersalah.

"Tidak ada. Aku sebatang kara di dunia ini." Doyoung menjawab pelan, lalu membuka pintu keluar, "Terimakasih sudah mengantarkanku pulang." Gumamnya sebelum menutup pintu dan melangkah pergi.

Jaehyun masih menatap Doyoung melangkah menjauh sampai menghilang di tikungan, sebelum kemudian tersadar dan menekan sebuah nomor di ponselnya.

Suara Bibi Park yang cemas langsung terdengar di seberang sana, "Jaehyun, syukurlah. Doyoung tidak pulang semalaman, aku tidak bisa menghubungi ponselnya, dan ponselmu juga tidak diangkat... "

"Bibi. Doyoung bersamaku semalam."

Hening. Lalu suara di seberang sana menyahut hati-hati. "Apakah kau melakukan sesuatu di luar yang seharusnya?"

Jaehyun menghela napas, "Tidak bi, percayalah. Aku tidak merusak Doyoung kalau itu yang bibi maksud. Aku hanya membuat Doyoung percaya bahwa aku sudah melakukannya."

"Oh..." Bibi Park meghela napas panjang di seberang sana, "Bibi mengerti."

Syukurlah Bibi Park bisa mengerti penjelasan Doyoung, meskipun dengan terbata-bata dia berbohong bahwa dia menginap di rumah teman kantornya semalam. Doyoung tidak terbiasa berbohong sebelumnya sehingga kebohongannya pasti terlihat jelas di matanya yang panik.

Tetapi rupanya Bibi Park tidak menyadarinya, perempuan itu rupanya sudah cukup senang karena Doyoung sudah pulang dengan selamat.

Doyoung melangkah masuk ke kamarnya dan melirik ke arah jam tangannya. Hari ini hari minggu dan sudah jam tiga siang. Perjalanan dari rumah Jaehyun ke asramanya cukup jauh dan harus menembus kemacetan.

Biasanya di hari minggu Doyoung akan menemani Bibi Park berbelanja untuk keperluan makan malam anak-anak asrama, tetapi dengan berat hati dia tidak ikut hari ini dan membiarkan Bibi Park ditemani oleh anak asrama yang lainnya.

Doyoung membaringkan tubuhnya di ranjang dengan maya nyalang menatap langit-langit. Dia telah berganti pakaian dengan pakaian rumahan, gaun pestanya tersampir di punggung kursi seolah-olah menuduhnya.

Bagaimana mungkin semua bisa berubah secepat ini? Semalam bahkan dia masih yakin bahwa dia dan Rowoon akan menjadi sepasang kekasih. Doyoung berencana menjawab 'ya' kepada Rowoon seusai pesta. Tetapi kenyataan kemudian berkata lain.

Rowoon ternyata lelaki yang tidak bisa menahan nafsu dengan pergaulan yang begitu bebas, yang tidak bisa diterima Doyoung.

Tetapi dia sendiri juga melakukannya bersama Mr. Jeffrey– meskipun dia belum yakin, dan mereka dalam kondisi mabuk – tetap saja itu tidak bisa dibenarkan. Doyoung merasa mengkhianati semua norma yang selama ini selalu dipegangnya dengan teguh. Tanpa sadar air matanya menetes lagi, air mata kebingungan, dan tak tahu harus mengungkapkannya kepada siapa.

Ponselnya berdering terus menerus, membuatnya terbangun. Doyoung rupanya sudah tertidur pulas tanpa sadar ketika menangis di kamarnya tadi. Dengan mata perih dia melihat ke arah ponselnya yang masih berkedip dengan nada dering yang berbunyi makin nyaring, seolah tidak mau menyerah sebelum Doyoung mengangkatnya.

Doyoung menggapai dan meraih ponsel itu. Nama 'Rowoon' tertera di sana. Seketika membuat jantungnya berdenyut, sakit. Dipegangnya ponsel itu tanpa niat mengangkatnya. Lama ponsel itu berdering seolah Rowoon tidak mau menyerah di seberang sana. Sampai kemudian deringannya mati, membuat Doyoung menghela napasnya lega.

Tetapi kemudian ponselnya berbunyi pelan, sebagai tanda sebuah pesan masuk. Doyoung mengintipnya. Dari Rowoon. Dibacanya pesannya.

– Aku akan tiba di Asrama sebentar lagi. Kita harus bicara langsung – Rowoon

Doyoung mendesah, dia sungguh-sungguh tidak siap bertemu Rowoon sekarang ini. Tetapi lelaki itu sungguh memaksa, dan Doyoung tahu Rowoon sangat gigih, lelaki itu tidak akan menyerah sebelum Doyoung menemuinya.

Rowoon benar-benar datang sore itu, tampak sangat tampan dengan sweater hijau tua-nya dan celana hitam yang membungkus ketat kaki panjangnya. Tetapi Doyoung tidak bisa merasa tertarik lagi.

Bayangan Rowoon bercumbu dengan penuh gairah dengan perempuan itu membuatnya merasa mual. Karena itulah dia berdiri agak jauh dari Rowoon di teras asrama itu dan menatapnya dengan dingin.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Gumamnya pelan, berusaha tenang.

Rowoon disisi lain menatap Doyoung dengan pandangan penuh penyesalan.

"Aku minta maaf Young. Aku tahu mungkin kau merasa jijik dan muak kepadaku. Di awal malam aku memintamu menjadi kekasihku dan mengatakan mencintaimu, tetapi kemudian kau menemukanku sedang berbuat mesum dengan perempuan lain." Lelaki itu mengacak rambutnya dengan frustrasi, "Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku, aku juga jijik dan muak kepada diriku sendiri."

Doyoung hanya diam. Tidak bergeming, bahkan melihat Rowoon tampak begitu menyesal dan frustrasi tidak membuat rasa ibanya muncul, entah kenapa. Dia seperti sudah mati rasa kepada lelaki itu.

"Aku ingin kau mempertimbangkanku kembali, kemarin aku khilaf dan aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Hyuna, perempuan itu memang perempuan gampangan yang suka merayu laki-laki manapun yang dia mau. Entah kenapa malam itu aku menjadi targetnya, aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa menolak, mungkin karena aku sedikit mabuk, mungkin juga karena hal lainnya, entahlah Young, yang pasti aku tidak pernah sengaja berniat mengkhianatimu. Aku mencintaimu Doyoungie. Kuharap kau mengerti bahwa itu hanya kekhilafan dan aku tidak akan melakukannya lagi."

Bagaimana dia bisa yakin bahwa Rowoon tidak akan melakukannya lagi? Beberapa saat kemudian lelaki itu mengatakan mencintainya, tetapi beberapa saat yang lain dia mencumbu perempuan lain.

Doyoung tidak bisa menerima Rowoon lagi, dengan alasan apapun. Perasaan apapun yang pernah ada di dalam hatinya kepada Rowoon sekarang sudah mati.

"Maafkan aku Woonnie." Doyoung menatap Rowoon dengan sedih, "Aku sungguh tidak bisa."

"Bahkan kalau aku berlutut di kakimu dan memohon satu kesempatan lagi?" Rowoon menatap Doyoung penuh harap.

"Jangan lakukan, itu tidak akan berhasil..." Doyoung menghela napas panjang, "Perasaanku sudah mati."

Rowoon menatap Doyoung dengan tajam, "Apakah karena Mr. Jeffrey?"

Doyoung terperanjat, tak menduga akan menerima pertanyaan seperti itu dari Rowoon, "Apa maksudmu?"

"Mr. Jeffrey." Suara Rowoon menjadi tajam. "Aku kemari semalam, dan menungguimu sampai pagi di mobil, di depan asrama, tetapi kau tidak pulang. Apakah kau bermalam dengannya Youngie? Apakah dia berhasil merayumu dan membuatmu tidak bisa menerimaku lagi?"

"Kau bicara apa Rowoon?"

"Aku tahu ada yang aneh dari ini semua. Hyuna, sahabat Mr. Jeffrey yang sebelumnya tidak pernah melirikku, meski dia terkenal dengan reputasi pemain laki-lakinya, tetapi tiba-tiba dia merayuku dengan panasnya di pesta Mr. Jeffrey, dan kebetulan juga kau dan Mr. Jeffrey yang menemukan kami. Lalu kau tiba-tiba bermalam dengannya." Rowoon tiba-tiba mendekat, lalu mencengkeram tangan Doyoung dan membawanya ke depan wajahnya.

"Dan kau mengenakan cincin ini! Apakah ini dari Mr. Jeffrey, Young? Benarkah Doyoungie?"

"Lepaskan Woonnie! Sakit!" Doyoung meringis, berusaha melepaskan cengkeraman Rowoon di tangannya, Cengkeraman itu begitu kuat sehingga membuatnya nyeri. Tetapi Rowoon rupanya terlalu terbawa emosinya.

"Lepaskan dia!"

Suara yang tegas dan berwibawa itu membuat Rowoon tersadar dan melepaskan tangan Doyoung. Mereka menoleh bersamaan dan mendapati Bibi Park berdiri di sana, perempuan itu rupanya sudah pulang dari berbelanja.

"Saya harap anda bersikap sopan ketika bertamu di asrama ini. Kalau tidak anda tidak diterima di sini." Bibi Park melewati Rowoon yang masih tertegun, lalu menghela tubuh Doyoung ke pintu, "Ayo masuk Doyoungie." Bibi Park membawa Doyoung masuk dan menutup pintunya dari dalam, meninggalkan Rowoon sendirian di luar. Lelaki itu masih berdiri di sana beberapa saat, lalu menyerah dan melangkah pergi.

Sejenak kemudian terdengar suara mobilnya pergi meninggalkan halaman asrama, membuat Doyoung menghela napasnya.

"Kau tidak apa-apa Doyoungie?" suara Bibi Park terdengar di belakangnya. Doyoung bahkan hampir lupa kalau sang bibi asrama masih berdiri di belakangnya.

"Eh... Aku tidak apa-apa eomma."

"Syukurlah eomma datang pada saat yang tepat. Eomma tidak menyangka Rowoon-shi yang tampaknya baik bisa berlaku kasar kepadamu." Bibi Park menatapnya ragu, "Kalau ada yang perlu kau ceritakan agar hatimu lebih lega, eomma siap nak."

Doyoung menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa eomma, aku hanya ingin menenangkan diri."

Bibi Park menganggukkan kepalanya dan tersenyum pengertian, lalu melangkah meninggalkan Doyoung sendiri.

Doyoung berdiri diam dan memegang tangannya yang sakit, pegangan kasar Doyoung tadi telah membuat kulitnya sedikit memar. Doyoung menggosoknya untuk menghilangkan rasa nyerinya.

Pandangannya tersapu kepada cincin berlian indah di jari manisnya, yang tadi dipasangkan Mr. Jeffrey dengan mantap di sana. Rowoon mungkin terlalu terbawa emosi sehingga menghubungkan semuanya dalam pikiran negatifnya dan bahkan mengkambinghitamkan Mr. Jeffrey sebagai dalang atas semuanya. Sungguh pemikiran yang bodoh.

Bagaimana mungkin Mr. Jeffrey yang menyuruh Hyuna merayu Rowoon? Tidak ada untungnya sama sekali untuk Mr. Jeffrey.

Doyoung menatap ke halaman dengan cemas...

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Jaehyun menatap Doyoung yang berdiri di depannya dengan mantap. Baru beberapa menit yang lalu Doyoung melangkah masuk ke ruangannya, melepas cincin itu dari jemarinya, dan meletakkannya di meja –di depannya.

"Aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini, Mr. Jeffrey."

Jaehyun menatap Doyoung dalam-dalam. Ada ketegasan yang dalam di balik sikap rapuh Doyoung.

Ketegasan yang sama yang dirasakan Jaehyun bertahun lalu ketika perempuan itu mengusirnya dengan kasar dari rumahnya, mengetuk nuraninya sampai terasa sakit. Dia tidak boleh gegabah menghadapi Doyoung, kalau dia gegabah, perempuan itu akan lari.

"Panggil aku Jeffrey." Jaehyun menayatap Doyoung dalam, "Aku pikir kita kemarin sudah mencapai kesepakatan, Doyoung.." Gumam Jaehyun tenang. Menolak untuk menatap cincin yang diletakkan Doyoung di depannya, dan memundurkan tubuhnya, bersandar di kursinya.

"Kemarin aku masih bingung." Doyoung memeluk dirinya sendiri, seakan berusaha melindungi dirinya.

"Aku sudah memikirkannya semalaman dan kupikir semua ini adalah kesalahan. Aku tidak bisa menerima pertunangan ini karena sebuah kecelakaan semalam. Tidak. Tidak bisa."

"Kenapa kau tidak bisa?"

"Kenapa pula kau bisa?" Doyoung setengah menjerit, setengah frustrasi dengan ketenangan datar yang ditampakkan Mr. Jeffrey.

Apakah bagi lelaki itu, masalah ini serupa dengan masalah bisnis yang harus diselesaikan dengan sikap datar dan tanpa perasaan?

"Ini pertunangan yang akan mengarah kepada pernikahan. Pernikahan adalah hal yang sakral dan serius, tidak bisa dikukan begitu saja, mungkin kau bisa melakukannya, tetapi aku tidak."

"Jadi kau pikir aku tidak serius dalam mengajukan pertunangan dan pernikahan ini." Dengan elegan Jaehyun berdiri, mengitari meja dan bersandar di sana.

"Aku sungguh serius, dan aku bertanggungjawab atas perbuatan yang mungkin kulakukan padamu malam itu. Baru kali ini mungkin aku temukan seorang perempuan yang menolak lelaki yang ingin bertanggung jawab kepadanya."

"Tetapi kita tidak saling mencintai."

"Pernikahan yang didasarkan oleh cinta yang terlalu menggebu-gebu biasanya adalah pernikahan yang paling cepat berakhir." Jaehyun tersenyum dingin, "Percayalah, aku cukup berpengalaman dengan teman-temanku. Mereka menikah karena cinta, karena tergila-gila satu sama lain. Seolah tidak bisa dipisahkan. Tetapi beberapa saat kemudian, ketika cinta itu pudar, mereka tidak punya apa-apa lagi." Mata Jaehyun semakin menggelap.

"Pernikahan yang ideal adalah pernikahan yang dilakukan atas dasar saling pengertian, kesepakatan, saling menghormati dan... ketertarikan seksual yang dalam."

"Apa?"

"Kurasa kau sudah mendengar kalimat terakhirku tadi Doyoung." Senyum Jaehyun berubah dalam dan sensual, "Mengenai ketertarikan sensual aku tidak bisa membantahnya."

Lelaki itu menyingkap jasnya, dan menunjukkan kejantanannya yang menegang di balik celananya, "Ini selalu bergairah setiap aku bersamamu."

"Kau sungguh menjijikkan!" Doyoung berteriak frustrasi, frustrasi karena sikap Jaehyun telah membangkitkan sesuatu dalam dirinya, gelenyar panas yang mengalir pelan tapi pasti.

Dia memundurkan langkahnya dan berusaha pergi dari ruangan itu secepat mungkin tetapi Jaehyun bergerak cepat, menarik lengannya dan memeluknya erat. Mendekapnya dengan kencang seakan tidak mau melepaskannya. Doyoung meronta tetapi Jaehyun lebih kuat, lelaki itu mengetatkan lengannya, mencoba meredam gerakan Doyoung.

Ketika Doyoung tidak berhenti meronta, Jaehyun mendekatkan punggung Doyoung menempel ke arahnya dan mencium bibirnya, tidak tanggung-tanggung langsung melumatnya.

Langkah Jaehyun berhasil karena rontaan Doyoung melemah. Ciumannya berhasil membuat Doyoung lemah dan tak berdaya. Lelaki itu lalu melepaskan bibirnya, tetapi belum melepaskan pelukannya. Napasnya terasa panas dan terengah di bibir Doyoung, dahi mereka saling menempel, dan mereka begitu dekat sampai Doyoung merasa terperangkap dalam tatapan Jaehyun yang begitu tajam.

"Maafkan aku sayang. Maafkan aku, Doyoungie." Jaehyun berbisik lembut mencoba menenangkan, "Aku tidak ingin menyakitimu."

Kata-kata Jaehyun membuat Doyoung berkedip dan merasa ragu. Dia menatap laki-laki itu dengan bingung. Tadi Jaehyun tampak begitu sensual dan mengancam, menciumnya tanpa permisi. Sekarang lelaki ini berubah menjadi begitu lembut dan menyentuh hati. Apa sebenarnya yang ada di benak laki-laki ini?

"Aku ingin kau mendengarkan aku dulu." Lelaki itu mengangkat bahu ketika kejantanannya yang keras menyentuh Doyoung, membuat Doyoung langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Jaehyun dengan pandangan menuduh.

"Aku tidak bisa mengendalikannya." Jaehyun tersenyum. "Maafkan aku. Kalau kau berjanji tidak akan pergi sebelum aku menyelesaikan kata-kataku. Kuharap kau mengerti dan bisa memahami."

Doyoung masih menatap Jaehyun dengan waspada, tetapi kemudian menemukan kesungguhan di mata laki-laki itu. Akhirnya dia menyerah dan mengangguk. Dengan lembut lelaki itu lalu melepaskannya dan mengedikkan bahunya ke arah sofa.

"Duduklah."

Doyoung duduk dan Jaehyun menyusul duduk di depannya. Menatapnya dengan lembut.

"Dari semua alasan yang kupaparkan nanti, aku pikir kita pasangan yang cocok, Young. Aku akan sangat senang memiliki isteri sepertimu, yang kau tahu sendiri... sangat menggugah gairahku."

Lelaki itu kembali tersenyum meminta maaf, "Dan aku pikir aku tidak terlalu buruk untuk seleramu."

Terlalu tampan. Terlalu sempurna. Terlalu segalanya hingga terasa menakutkan. Doyoung membatin.

"Aku merasa bertanggungjawab ketika menidurimu malam itu. Memang itu perbuatan yang sama-sama tidak kita sadari. Tetapi aku tidak pernah merusak perempuan lugu sebelumnya, aku sudah pernah mengatakannya bukan? Dan aku... aku merasa berdosa kepada adikku kalau sampai aku tidak bertanggung jawab dan menikahimu."

"Merasa berdosa kepada adikmu?"

"Ya. Kau ingat Jung Krystal? Manager Utama di perusahaan ini?"

Doyoung sudah tentu ingat. Dia tidak akan melupakan perempuan cantik dan berwibawa yang memberikan kesan luar biasa kepadanya itu.

Jadi perempuan itu adalah adik Mr. Jeffrey? Pantas, mereka berdua sama-sama menyimpan keanggunan yang misterius dibalik kulit putih dengan sedikit berbintik dan rambut gelap yang eksotis. Tetapi apa hubungan Krystal dengan semua ini?

"Krystal pernah berhubungan dengan kekasihnya saat remaja. Hubungan mereka berjalan terlalu jauh. Sampai Krystal hamil. Tetapi kekasihnya meninggalkannya. Dia... dia hancur, berkali-kali mencoba bunuh diri dan kehilangan semangat. Untung kami bisa membangkitkannya lagi hingga dia menjadi perempuan tegar seperti sekarang. Tetapi sejak saat itu aku berjanji bahwa aku tidak akan menyakiti perempuan lugu manapun dan menghancurkannya, seperti yang dilakukan laki-laki itu pada adikku."

Jaehyun memajukan tubuhnya dan meraih tangan Doyoung dari seberang meja dan menggenggamnya lembut, "Menikahlah denganku Doyoung. Aku yakin ini semua akan berakhir baik."

"Hebat. Kau menjadikan aku perempuan yang pernah ditipu kekasihku di masa remaja lalu menggugurkan kandungan dan mencoba bunuh diri berkali-kali?" Krystal berkacak pinggang di depan Jaehyun.

"Hebat Oppa. Dan setelah ini, Doyoung akan memandangku dengan tatapan iba sembunyi-sembunyi."

Jaehyun tersenyum melihat kemarahan adiknya, lalu menatap Krystal lembut sambil tersenyum, adiknya itu tidak pernah bisa marah terlalu lama padanya kalau dia menatapnya seperti itu.

"Maafkan aku Krystal, harus mengarang cerita bohong seperti itu. Tetapi aku kehabisan ide. Dan hanya itu yang terpikirkan. Aku tahu Doyoung mempunyai rasa empati yang besar, dan dia akan menerimaku kalau hal itu aku lakukan demi adikku. Seorang perempuan yang sama sepertinya."

"Kau memang hebat dalam berbohong dalam waktu sempit.", Krystal menyipitkan matanya, masih belum memaafkan kakaknya karena mengarang cerita tentang dirinya untuk melelehkan hati Doyoung, "Dan aku duga kau berhasil?"

Jaehyun tersenyum, "Dia menerima cincin itu lagi dan mempertimbangkan lamaran pernikahanku."

Krystal menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan obsesi kakaknya terhadap Doyoung.

"Aku tak bisa menahan kemauanmu oppa... Aku harap kau tidak menyakiti dirimu sendiri nanti." Krystal menatap Jaehyun dengan hati-hati, "Malam itu kau tidak menyentuhnya bukan?"

"Tidak." Jaehyun bergumam tak jelas, "Aku hanya membuatnya berpikir bahwa kemungkinan besar aku telah merusaknya."

"Oke. Sepertinya tujuanmu tercapai. Kau akan memiliki Doyoung, bahkan mungkin menikahinya. Tetapi semua ini didasarkan oleh kebohongan, sadarkah kau Oppa? Apakah kau tidak takut kalau nanti semua kebohongan itu terungkap? Kalau nanti Doyoung mengetahui yang sebenarnya?"

Jaehyun terdiam lama, "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti." Suaranya pelan, ditelan oleh kepahitan, "Yang terjadi, biarkan terjadi..."

To Be Continue?

Kasian Doyoung harus diboongin

Masih menunggukah?

Tidak ada yang comment :)

Tapi thanks untuk yang baca.