Happy Reading
Unforgiven Hero Bab 5
Perputaran dunia sungguh tidak dapat diduga. Begitupun perjalanan hidup manusia. Doyoung melirik cincin berlian elegan yang berkilau di jari manisnya.
Dia datang ke perusahaan ini karena sebuah panggilan keberuntungan yang datang tak diduga, dan hanya karena satu kejadian di malam pesta itu, tiba-tiba dia menjadi tunangan pemilik perusahaan ini. Siapa yang bisa mengira? Bahkan di dalam imaginasinya yang paling liar pun dia tidak pernah menduganya.
Semua ini terjadi terlalu cepat... terlalu tiba-tiba. Dia bahkan tidak mengenal jauh Mr. Jeffrey...
Doyoung membatin dalam hati, dan tanpa sadar mengernyitkan dahinya. Yang dia ketahui tentang Mr. Jeffrey hanyalah info dari majalah bisnis yang dibacanya ketika mencari tahu tentang perusahaan yang memanggilnya untuk interview itu, dan beberapa info dari Sooyoung –yang sekarang sudah mengambil cuti hamilnya. Sooyoung akan sangat terkejut kalau saja dia ada dikantor untuk menyaksikan semua drama ini.
Doyoung tahu bahwa Mr. Jeffrey adalah jenius pendiri perusahaan, berdarah Amerika dari ibunya, dan mempunyai adik perempuan dengan masa lalu yang sungguh menimbulkan empati, meskipun sekarang Krystal sudah menjadi wanita yang tegar.
Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu alasan utama Doyoung menerima pertunangan ini adalah karena empatinya kepada Krystal, dan kekagumannya akan rasa bertanggung jawab Mr. Jeffrey karena begitu memikirkan kesedihan yang pernah dialami Krystal dan Doyoung yakin Mr. Jeffrey pasti sangat menyayangi adiknya.
Doyoung tidak pernah punya saudara kandung, dia anak tunggal, yang pada akhirnya harus berakhir sebatang kara. Karena tragedi itu. Tragedi yang sudah dilupakannya dan dikuburkannya dalam-dalam.
Setiap dia mengingatnya akan muncul rasa marah terpendam, membuatnya ingin berteriak atas ketidakadilan kehidupan. Ingatan tentang kemarahan itu menjadi samar-samar seiring berjalannya waktu. Doyoung belajar menyimpan jauh-jauh. Tidak sepenuhnya melupakan. Tidak sepenuhnya memaafkan.
Doyoung mengerjapkan mata ketika mobil hitam yang elegan itu meluncur dengan mulus dan berhenti tepat di depannya. Jaehyun sendiri yang menyetir mobilnya, dengan sopan, dia turun dari mobil dan membukakan pintu penumpang di sebelahnya untuk Doyoung.
"Maafkan aku, sedikit tertahan di lobby tadi. Aku harap kau tidak menunggu lama."
"Tidak. Aku baru beberapa menit di sini." Doyoung melangkah masuk ke mobil dan lelaki itu menutupnya, lalu kembali ke balik kemudi dan menjalankan mobilnya.
Tiba-tiba sebuah pemikiran melintas di benak Doyoung, bahwa dia bahkan tidak tahu nama asli lelaki ini.
"Bagaimana mungkin kita melanjutkan semua ini, kalau kita bahkan tidak saling mengenal sama sekali?" tanpa sadar Doyoung menyuarakan pemikirannya.
Jaehyun melirik sedikit ke arah Doyoung dan tersenyum, "Masih banyak waktu, dan dengan senang hati aku akan membuka diri sehingga kau bisa lebih dalam mengenalku." Suaranya merendah lembut, "Dan aku harap kau juga membiarkanku mengenalmu lebih dalam."
Doyoung menghela napas. Kenapa kata-kata Jaehyun yang biasa saja bisa terdengar begitu sensual di telinganya? Apakah itu memang nyata atau dia selalu berkonotasi mesum sejak kejadian malam itu? Dengan tak kentara Doyoung menggelengkan kepalanya, mencoba berkonsentrasi kepada sesuatu yang logis.
"Siapa nama aslimu?"
Jaehyun mengerem dengan mendadak. Hampir membuat ban mobil berdecit dan tubuh Doyoung terdorong ke depan, untunglah mereka sedang berada di jalanan yang sepi.
Doyoung menoleh ke arah Jaehyun dan menatap bingung. Lelaki itu tampak kaget... karena pertanyaannya ataukah karena sesuatu di jalan?
Tetapi Jaehyun dengan cepat menguasai diri, dia menatap Doyoung dan meminta maaf.
"Maafkan aku, ada kucing menyebrang." Gumamnya cepat sambil mengalihkan pandangan kembali ke arah jalan.
Apakah hanya perasaannya saja...atau Mr. Jeffrey sedang mencengkeram kemudinya erat-erat?
Doyoung mengalihkan pandangannya ke jalan dan akhirnya tersenyum, "Kucing memang sering menyeberang tiba-tiba, kadang kita baru melihat ketika mereka sudah di seberang mata, membuat kita kaget setengah mati."
"Yah. Dan aku memang kaget setengah mati." Lelaki itu melirik Doyoung, "Tadi kau bertanya apa?"
"Nama aslimu?"
"Oh... Kau tidak tahu ya, padahal kau sudah beberapa lama bekerja sebagai bawahanku. Keterlaluan." Jaehyun pura-pura mencela, padahal jauh di dalam hatinya dia tahu.
Dialah yang mengusahakan agar Doyoung tidak tahu nama lengkapnya. Bahkan semua surat dan dokumen resmi diperusahaan itu selalu atas nama Jung Jeffrey.
Mungkin ini adalah saatnya mengambil resiko. Kalau Doyoung tidak bereaksi apapun atas nama lengkapnya, berarti Jaehyun bisa melangkah ke rencana ke depannya dengan aman. Karena bagaimanapun, kalau mereka menikah nanti, Doyoung harus tahu nama aslinya.
Dia menghela napas sekali lagi, seakan hendak melepas sumbu granat, "Nama lengkapku tidak istimewa, Jung Jaehyun."
Jaehyun mencoba tenang meskipun jauh di dalam hatinya dia ketakutan setengah mati. Selama ini dia menganggap nama itu tabu, karena takut akan membuat Doyoung langsung teringat kepada siapa dia sebenarnya. Dan sekarang setelah melepaskan nama itu. Rasanya seperti menanti sesuatu yang akan meledak, membuatnya berdebar.
Tetapi apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Doyoung memang sedikit mengernyitkan dahi, lalu perempuan itu mengangkat bahunya, "Namaku Kim Doyoung."
"Doyoung yang cerah dan berbunga." Jaehyun mencoba bercanda, menutupi rasa lega luar biasanya ketika menyadari Doyoung tidak menghubungkannya dengan pemuda yang telah membunuh ayahnya bertahun lalu.
Tentu saja penampilan Jaehyun yang dulu dan sekarang berbeda.
Jaehyun yang dulu kurus karena memakai obat dan minuman keras, perokok berat, ugal-ugalan dengan tindik telinga dan rambut yang di cat kuning menyala.
Secara fisik sangat sulit menghubungkan dirinya yang sekarang dengan pemuda tak bertanggung jawab di masa lalu itu, tetapi Jaehyun memutuskan mengambil resiko sekali lagi, untuk melihat reaksi Doyoung, dengan hati-hati dia berucap.
"Kau bisa memanggilku Jaehyun kalau kau mau... keluargaku memanggilku begitu..."
"Tidak." Jawaban Doyoung begitu cepat, hanya sepersekian detik dari Jaehyun, "Aku tidak mau. Aku akan memanggilmu dengan 'Jeffrey' saja jika kau tidak keberatan."
Tubuh Doyoung begitu tegang. Jaehyun membatin, lalu menarik napas dengan pedih, Doyoung masih mengingat jelas nama lelaki yang membunuh ayahnya. Dan menilik dari sikapnya yang menolak memanggil siapapun dengan nama 'Jaehyun', gadis itu jelas masih menyimpan kebencian kepada lelaki yang membunuh ayahnya.
Jaehyun harus bisa membuat Doyoung melupakan 'Jaehyun pembunuh ayahnya' dan terbiasa mengasosiasikan nama 'Jaehyun' dengan lelaki baik yang akan menjadi suaminya.
"Aku keberatan." Jaehyun tersenyum lembut, dan mengarahkan pandangannya kembali ke jalan.
Doyoung harus belajar memanggilnya dengan nama 'Jaehyun' dengan begitu, mungkin saja dia bisa melunturkan kebenciannya kepada 'Jaehyun' di masa lalunya.
"Sudah kubilang, keluargaku selalu memanggilku dengan nama 'Jaehyun' dan kau akan menjadi keluargaku yang terdekat."
"Tapi aku..."
"Cobalah Doyoungie." Panggil namaku. Jaehyun menahan erangan dalam hati.
Ah, betapa inginnya dia mendengarnya, betapa inginnya dia mendengar namanya diucapkan oleh suara merdu dari bibir hati milik Doyoung...
Doyoung menghela napas, dan sejenak Jaehyun merasakan bahwa Doyoung ingin membantah, tetapi kemudian gadis itu memutuskan untuk tidak melakukannya.
"Jae. .Jaehyun."
Nama itu akhirnya terucapkan dari bibir Doyoung, dengan enggan, pendek dan sederhana. Tetapi terdengar luar biasa di telinga Jaehyun, bagaikan alunan merdu menghembus telinganya. Mimpinya. Mimpinya selama ini telah terwujud. Jaehyun memejamkan matanya sekejap, berusaha menahan senyum lebarnya.
Hyuna sedang berjalan santai menelusuri butik itu ketika sebuah tangan keras mencengkeram lengannya, dia setengah memekik dan menatap marah kepada pencengkeram lengannya, Rowoon yang sedang berdiri di dekatnya.
"Lepaskan aku Rowoon, kau kasar sekali." Hyuna tersenyum berusaha tampak tenang.
Rowoon menatap tajam Hyuna lama, lalu akhirnya melepaskan pegangan tangannya. Dengan sinis Hyuna mengusap-usap lengannya yang memerah bekas cengkeraman Rowoon.
"Ini akan memar. Apa yang membuatmu mendatangiku dan tiba-tiba bertingkah sekasar ini?" Tatapannya berubah menggoda, "Apakah kau ingin melanjutkan yang tertunda waktu itu?"
Rowoon mendengus kesal, "Hentikan Hyuna, aku tahu pasti kau tidak tertarik kepadaku. Dulu aku mengejarmu dan kau menolakku mentah-mentah." Tatapannya berubah tajam lagi, mengintimidasi, "Kenapa malam itu kau merayuku?"
Hyuna mengerling dan tersenyum, "Mungkin karena aku sedang ingin berubah pikiran." Dia sengaja mengedipkan matanya menjengkelkan, "Kenapa Woonie? Apakah kau tidak tersanjung dirayu olehku?"
Rowoon menyipitkan matanya, "Aku mencium bau busuk. Ada sesuatu yang tersembunyi di sini, dan aku menjadi korbannya, tapi ingat Hyuna, aku tidak akan tinggal diam, aku akan mencari tahu."
"Mencari tahu apa Woonnie? Kau aneh.." Hyuna tertawa, "Mungkin kau sedang patah hati jadi sibuk berhalusinasi."
"Patah hati? Apa maksudmu?" suara Rowoon menajam, waspada.
"Wah, kukira kau sudah tahu." Hyuna mengedipkan matanya lagi, "Perempuan yang kau kejar itu, si cantik yang sederhana, dia akan menikah dengan Jeffrey." Hyuna tersenyum, menikmati rona pucat yang langsung menguasai wajah Rowoon, membuat lelaki itu tertegun.
Dia mengibaskan tangannya, "Sudah ya, aku sibuk. Lain kali kalau mau membuang waktuku, tolong lakukan untuk sesuatu yang lebih penting."
Ditinggalkannya Rowoon yang masih membatu di sana.
"Kau tidak akan memberitahu Eomma? Dia pasti akan langsung pulang dari Amerika dengan bahagia mendengar kabar penikahanmu." Krystal mengingatkan. Sang Ibu memang baru berkunjung ke Amerika untuk menengok adiknya yang sakit.
"Tidak. Aku tidak mau eomma pulang. Doyoung mungkin mengingatnya. Ketika ayahnya meninggal. Eomma dan Appa datang ke rumah mereka menyampaikan permintaan maaf dan uang santunan. Doyoung dan ibunya menolak mentah-mentah. Bersikeras supaya semua dijalankan di jalur hukum. Entah apa yang dilakukan Appa kemudian sehingga semua berhenti."
"Jadi kau akan melarang eomma selamanya bertemu menantunya? Itu rencanamu?" Krystal mengernyit, "Itu sama saja mencegah matahari terbit Oppa, suatu saat kau akan ketahuan."
"Tetapi tidak sekarang. Tidak sampai aku sudah benar-benar berhasil memiliki Doyoung."
Jaehyun bergerak ke bar, dan menuangkan brendi untuk dirinya sendiri. Tidak dihiraukannya dengusan sinis adiknya.
"Kau sepertinya menjadi sangat terobsesi pada Doyoung. Dulu kau terobsesi mencukupi semua kebutuhannya, memastikan dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri, sekarang di saat itu semua tercapai. Kau terobsesi untuk memilikinya." Krystal ikut menuangkan brendi dan meminumnya lalu mengernyit, "Mungkin kau harus menemui psikiater."
"Psikiater hanya akan menemukan satu kesimpulan." Jaehyun tersenyum simpul sambil menatap Krystal, membuat adiknya itu mengernyit bingung.
"Kesimpulan apa?"
"Bahwa aku sedang jatuh cinta."
Krystal tertegun, benar-benar tertegun. "Kau... benar-benar jatuh cinta pada Doyoung? Maksudku... semua ini bukan karena obsesi dan rasa bersalah?"
"Itu juga. Awalnya karena rasa bersalah, tetapi lambat laun, mengamatinya dalam diam, memperhatikannya, dan tanpa sadar... mencintainya. Karena itulah aku ingin memilikinya, dan tidak rela membiarkannya dimiliki lelaki lain."
"Kau mempertaruhkan hatimu Oppa." Krystal mengernyit, "Dia akan membuatmu hancur berkeping-keping kalau dia tahu siapa sebenarnya dirimu."
"Setidaknya aku sudah mencoba." Jaehyun mengernyit, mencoba menghilangkan apa yang sudah pasti akan terjadi di depannya nanti. Kalaupun itu terjadi nanti, semoga cintanya kepada Doyoung cukup untuk mempertahankan perempuan itu.
Krystal menatap sedih oppanya, kemudian dia teringat sesuatu dan nada suaranya berubah khawatir.
"Apakah kau sudah membereskan Yeri?"
"Ada apa dengan dia?"
"Dia akan sangat marah ketika tahu kau akhirnya bersatu dengan Doyoung-mu."
Jaehyun mendesah. Dia lupa sama sekali tentang Yeri, karena terlalu fokus pada Doyoung. Yeri adalah 'pasangan tetapnya' bisa dikatakan begitu, atau kalau mau secara lugas, Yeri adalah 'patner seks'nya. Hubungan mereka bebas dan tanpa komitmen, mereka saling memanfaatkan satu sama lain.
Entah apa motif Yeri, mungkin karena Jaehyun cukup tampan dan kaya untuk dijadikan kekasih. Tetapi motif Jaehyun adalah mencari pelarian ketika dia sangat menginginkan Doyoung. Melihatnya dari kejauhan tetapi tidak bisa menyentuhnya.
Krystal hanya tahu kalau Jaehyun berkencan dengan Yeri, dia tidak tahu bahwa Jaehyun benar-benar menggunakan Yeri, bahkan pada saat bercinta pun, Jaehyun melakukannya dalam kegelapan, dan memanggil Yeri, dengan Doyoung.
Sekali, Yeri bertanya mengapa, tetapi Jaehyun menyuruhnya diam dan tidak bertanya lagi. Sejak itu Yeri tidak pernah bertanya lagi, meskipun Jaehyun selalu memanggilnya dengan sebutan Doyoung ketika bercinta.
Sampai beberapa lama kemudian, Jaehyun merasakan kehampaan, bahwa dia tidak bisa menipu dirinya sendiri dengan memakai Yeri sebagai pengganti Doyoung. Bahwa dia tidak bisa kalau bukan Doyoung. Maka ditinggalkannya Yeri. Mengakhiri hubungan tanpa komitmen mereka baik-baik.
Seharusnya Yeri tidak akan menjadi gangguan, kecuali kalau sampai dia mendengar bahwa Jaehyun pada akhirnya bersatu dengan perempuan bernama Doyoung. Radar ingin tahu Yeri pasti akan berbunyi, dan siapa yang bisa menebak apa yang akan dilakukannya nanti.
"Aku harap dia akan terus berada di luar negeri, setidaknya sampai aku berhasil membawa Doyoung ke dalam pernikahan."
"Kau tidak seberuntung itu oppa. Aku dengar dia akan pulang dalam waktu dekat. Kau harus menjauhkan Doyoung darinya. Yeri memang menjalin hubungan tanpa komitmen padamu, tetapi dia selalu menganggap kau bebas dan bisa didatanginya kapan saja. Kalau dia sampai tahu kau sudah terikat, mungkin dia akan tergelitik untuk mengganggu."
Seperti memilih waktu yang tepat, ponsel Jaehyun berbunyi, dia mengangkatnya ketika melihat nama Hyuna di layar.
"Ada apa Hyuna?"
Di seberang Hyuna menjelaskan perihal insidennya dengan Rowoon di butik barusan. Membuat Jaehyun menghela napas sekali lagi. Setelah telepon ditutup, dia menatap Krystal penuh tekad.
"Pernikahan ini harus dilaksanakan segera."
Dan untuk melaksanakan pernikahan dengan segera, Jaehyun membutuhkan bantuan Johnny. Dia mendatangi Johnny di kantornya.
"Apa? Pernikahan?" Johnny sangat terkejut. Apalagi dia tidak pernah mendengar Jaehyun dekat dengan siapapun sebelumnya. "Jangan bilang kalau kau jatuh dalam jebakan perempuan licik yang berpura-pura hamil."
Jaehyun terkekeh, "Bisa dibilang aku yang menjebak calon pengantinku." Ditatapnya Johnny serius, tahu bahwa sahabatnya itu tidak akan banyak bertanya kalau tidak dijelaskan, "Aku butuh bantuanmu agar pelaksanaannya berjalan sempurna."
"Aku bisa mengurusnya. Kau bisa tinggal di hotelku di sana. Dan untuk pernikahannya kau bisa menghubungi nomor ini. Dia yang dulu mengurus pernikahanku dengan Taeil. Semoga dia bisa membantumu." Johnny menyerahkan sebuah kartu nama ke tangan Jaehyun.
Jaehyun menerimanya dan tersenyum, "Terimakasih Johnny-ya, kau tak tahu betapa berartinya ini untukku."
Johnny mengamati Jaehyun dengan tenang dan menganalisa. Ini hampir sama seperti Chanyeol yang tergesa-gesa menikahi Sehun dulu. Tetapi Jaehyun tampaknya lebih terdesak dan panik. Seperti memegang bom yang akan meledak dalam hitungan waktu tertentu.
"Calon pengantin yang katamu kau jebak ini, apakah kau mencintainya?"
Jaehyun tersenyum lembut membayangkan Doyoung, "Ya John. Tentu saja, kalau tidak untuk apa aku repot-repot menjebaknya ke dalam pernikahan ini."
"Dan mengingat kau sampai perlu menjebaknya, berarti dia tidak berperasaan sama?"
"Mungkin saat ini tidak, tetapi aku akan membuatnya berubah pikiran."
Johnny terkekeh, "Kita para lelaki yang semula merasa begitu sempurna dan bisa menaklukkan wanita manapun, pada akhirnya akan menyerah kepada perempuan yang membuat kita penasaran setengah mati, membuat kita menebak-nebak, lalu tanpa disadari sudah terperosok ke dalam cinta yang begitu dalam."
"Apakah itu yang kau rasakan kepada isterimu dulu?"
"Persis seperti itu." Jawab Johnny puas. "Dan itu adalah hal paling membahagiakan dalam hidupku."
Jaehyun mengamati Johnny dan tersenyum, "Kau beruntung."
"Dan sepertinya kau juga, mengingat kau akan menikah dengan wanita yang kau cintai."
"Yah. Aku beruntung... meskipun begitu banyak rahasia menyakitkan di masa lalu yang menghantui... aku masih berharap semuanya tidak akan membalik kepadaku nanti dan menghancurkanku."
"Apa maksudmu Jaehyun?" Suara Johnny berubah waspada.
Jaehyun tertawa. "Aku tidak sedang dalam bahaya, John. Ini menyangkut masa lalu dan masa depanku yang berjalinan. Ceritanya panjang, dan aku akan menceritakan kepadamu suatu saat nanti."
"Oke." Johnny menatap Jaehyun dan akhirnya menarik kesimpulan, "Gadis yang akan kau nikahi ini ya, yang membuatmu begitu dingin dan tak bisa didekati selama ini."
Jaehyun tersenyum, tidak membantah.
"Mungkin ini bukan ide bagus." Doyoung menatap Jaehyun bingung, "Apakah ini harus dilakukan?"
"Ya. Aku sudah bertekad. Dan kau tidak bisa mundur Young, demi dirimu sendiri, demi Krystal, ingat?"
"Ta... tapi aku tidak menyangka akan secepat ini... maksudku... kau bilang kita punya kesempatan untuk saling mengenal dulu, katamu kita punya waktu untuk pertunangan yang panjang sehingga... sehingga..."
"Aku sudah memesan tiket ke sana, semua sudah disiapkan di sana. Krystal akan menyusul ke sana. Tidak bisa dibatalkan. Dan sekarang kita sedang dalam perjalanan ke sana."
Mereka menuju pulau itu, pulau yang sangat terkenal sebagai pulau impian, pulau tempat dewa-dewa pernah bersemayam. Tempat banyak pasangan menikah secara eksotis, dengan suasana yang eksotis pula. Dan Doyoung berangkat tanpa prasangka apapun.
Tadi pagi Jaehyun menyuruhnya bersiap-siap karena dia ada meeting mendadak dengan klien di pulau itu, dan Doyoung harus ikut. Doyoung sempat memprotes karena dia tidak mempersiapkan apapun. Tetapi Jaehyun bilang semua sudah disiapkan, bahkan lelaki itu berbaik hati memintakan izin langsung kepada bibi Park ketika mengantar Doyoung pulang untuk mengambil baju dan perlengkapannya.
Dan baru di pesawat Jaehyun mengatakan bahwa mereka berangkat untuk menikah. Kejutan katanya tanpa rasa bersalah. Meskipun bukan kejutan yang baik untuk Doyoung. Dia panik, gemetaran dan merasa terjebak luar biasa.
Di bawa ke sebuah pulau yang belum pernah di datanginya untuk dinikahi, tanpa rencana dan pemberitahuan sebelumnya. Ini hampir seperti dia diculik oleh Jaehyun atau jangan-jangan memang ini rencana lelaki itu?
"Kau sengaja." Tatapannya menuduh. Tetapi Jaehyun tampak tidak terpengaruh, lelaki itu memasang muka datar.
"Apanya?"
"Ini semua, kau merencanakannya, sengaja membuat aku tidak bisa mundur atau lari."
Lelaki itu tersenyum lembut, "Tidak sayang, sungguh aku tidak sengaja melakukan itu..."
Tatapannya berubah menerawang, "Sebenarnya ini karena Krystal... dia yang mendesak pernikahan ini dilakukan segera, aku sudah menceritakan insiden malam pesta itu ... dan dia menangis.. dia teringat kejadian yang menimpa dirinya... Dan dia mendesakku untuk menjadi lelaki yang bertanggung jawab atau dia akan memusuhiku...semoga kau mengerti Doyoungie..."
Doyoung tercenung. Lalu tatapannya berubah melembut, "Oh... begitu..."
Jaehyun menganggukkan kepalanya, "Dia akan menyusul ke sana, merayakan pernikahan kita. Semoga kalian bisa akrab nantinya."
Lelaki itu menghela napas lega sambil meminta maaf dalam hati kepada Krystal, karena menggunakan nama adiknya itu lagi untuk memanipulasi Doyoung.
Penerbangannya tidak lama, hanya dalam waktu beberapa jam mereka sudah sampai. Jaehyun membimbing Doyoung melalui koridor bandara, menuju pintu keluar, dan seorang supir berpakaian rapi rupanya sudah menunggu mereka, dan membawa mereka ke mobil hitam berkilat yang sudah disiapkan.
Perjalanannya sendiri singkat, dan mereka sudah tiba di jalan besar, dan berhenti di hotel yang penuh dengan lampu menyala yang elegan. Membuat Doyoung terpana.
Meskipun dia menahan dirinya supaya tidak terlihat memalukan di depan Jaehyun. Lelaki itu menggandeng tangannya dengan mesra dan membawanya ke president suite di lantai paling atas hotel. Sepertinya para pegawai di hotel ini telah menunggu kedatangan mereka dan menyiapkan segalanya untuk mereka.
Terimakasih untuk Taeyong dalam hal ini. Hotel ini adalah salah satu Hotel besar milik lelaki itu. Taeyong sudah menyiapkan segalanya untuk mereka seperti janjinya.
Doyoung mengernyitkan keningnya ketika mereka mendapatkan kamar yang sama. Dia menahan Jaehyun di depan pintu.
"Kita satu kamar?"
Jaehyun mengangkat bahunya, "Kita akan menikah besok jam sepuluh pagi. Apa bedanya?"
"Ada bedanya. Aku tidak mau sekamar denganmu sebelum menikah." Gumam Doyoung keras kepala.
"Kita sudah pernah melakukannya sebelumnya Doyoungie, tidur sekamar. Seranjang malahan."
Lelaki itu tersenyum lembut melihat kecemasan di wajah Doyoung yang memerah malu.
"Maafkan aku, aku hanya memikirkan kepraktisan saja tanpa memperhitungkan perasaanmu. Aku berpikir bahwa besok pagi toh kita sudah menikah, jadi tidak ada gunanya menyewa kamar terpisah...Aku tidak sadar hal ini akan membuatmu tidak nyaman..." Dengan lembut Jaehyun menyentuh pipi Doyoung, "Mungkin kalau aku berjanji tidak akan berbuat tak senonoh padamu malam ini, kau bisa sedikit lebih tenang?"
Doyoung merasa tak yakin, "Apakah kita akan tidur seranjang?"
"Ada sofa besar di sana. Aku akan tidur di sofa jika itu maumu."
Sejenak Doyoung berpikir, lalu menghela napas panjang. Sepertinya janji Jaehyun bisa dipercaya.
"Baiklah kalau begitu."
Merekapun masuk ke kamar itu.
Jaehyun menepati janjinya hingga Doyoung merasa tenang. Dia masih mencemaskan hari esok. Hari pernikahan yang datang begitu cepat sampai tidak bisa dipikirkannya. Membuat perutnya bergolak karena cemas.
Doyoung mandi bergantian dengan Jaehyun, lalu menyantap makanan yang diantarkan ke kamar. Setelah itu dia berpamitan untuk tidur. Lampu di matikan. Dan setelah berbagi selimut dan bantal dengan Jaehyun, Doyoung naik ke ranjang untuk berbaring dan mencoba tidur. Dia sempat melirik Jaehyun menata bantal dan selimut dengan nyaman di sofa depan sambil menyalakan televisi dengan suara lirih.
Mau tak mau pikiran Doyoung melayang. Besok adalah hari pernikahannya. Meskipun bisa disebut hari pernikahan yang tak wajar. Pengantin wanita mana yang baru tahu bahwa dia akan menikah sehari sebelumnya? Tetapi kalau ditilik dari masa lalu, kehidupannya memang tidak wajar.
Kalau dia hidup dikeluarga yang wajar. Malam ini dia pasti sudah disimpan di kamar, tidak boleh bertemu dengan pengantin laki-laki. Kemudian seluruh keluarganya akan berkumpul di rumah. Orangtuanya ada di depan, menyalami tamu yang datang, dan berbahagia dengan persiapan pernikahan puteri mereka satu-satunya esok hari, sebuah acara yang dianggap sakral. Tetapi itu semua hanya mimpi.
Doyoung sebatang kara di dunia ini. Ayah dan ibunya telah meninggal. Direnggut paksa darinya. Air mata menetes dan mengalir di pipinya. Seandarinya saja semua itu tidak terenggut darinya... Doyoung sangat ingin memeluk orangtuanya sebelum hari pernikahannya. Amat sangat ingin... Dia merindukan mereka berdua...
Jaehyun melangkah hati-hati ke arah ranjang, dan duduk di tepi ranjang. Doyoung tertidur dengan posisi meringkuk seperti janin dalam kandungan ibu. Ruangan itu temaram, dengan hanya satu lampu tidur yang menyala remang. Tetapi Jaehyun bisa melihat. Bekas air mata yang sudah mengering, dari sudut mata Doyoung, mengalir ke pipinya. Dengan lembut Jaehyun mengusapnya. Hati-hati agar Doyoung tidak terbangun.
"Setelah ini kau tidak akan menangis lagi Doyoungie. Tuhan tahu aku akan mengusahakan segala cara..."
To Be Continue
Gomawo :)
