PERINGATAN!

BAGI READERS DIBAWAH 18 TAHUN, JIKA MENEMUKAN ADEGAN KISSING HARAP DILEWATI SAJA.

BAGI READERS DIBAWAH 21 TAHUN, JIKA MENEMUKAN ADEGAN MELEBIHI KISSING DAN MENJURUS KE HAL YANG INTIM HARAP SEGERA MELEWATINYA SAJA.

BAGI READERS YANG BANDEL TETEP KEKEH MAU BACA PADAHAL MASIH DIBAWAH UMUR, TOLONG JANGAN ABAIKAN PERINGATAN SAYA!

READERS DIBAWAH UMUR SEBAIKNYA MENCARI FF DENGAN RATE-AMAN!

Unforgiven Hero Bab 6

Gaun pengantin itu tiba-tiba saja sudah ada di sana, bersama Krystal yang menunggunya. Dan kemudian dia sudah didandani dengan begitu cantiknya, sehingga hampir tidak mengenali dirinya sendiri di depan cermin.

"Aku senang kita bertemu lagi akhirnya,." Krystal tersenyum ramah kepada Doyoung, tetapi sekarang keadaannya berbeda, kau akan menjadi kakak iparku."

Doyoung tersenyum dan menelan ludahnya gugup, "Kau tahu... ini mungkin terlalu cepat untukku.. aku.. aku merasa mual..." Doyoung benar-benar merasa gugup. Pernikahannya akan berlangsung sebentar lagi, dan perasaannya kacau balau, campur aduk.

Ini pernikahan. Ya ampun. Dan dia akan melangsungkannya dengan orang yang bahkan tidak dia kenal dekat. Apakah dia sudah gila? Tetapi harus bagaimana lagi? Insiden di malam pesta itu membuat segalanya berbeda., dan seperti kata Jaehyun, dirinya sudah tidak bisa mundur lagi.

"Kau tidak apa-apa Doyoungie?" Krystal menyentuh pundak Doyoung lembut, menyadarkan Doyoung dari lamunannya, dia tampak begitu pucat membuat Krystal cemas.

"Aku tidak apa-apa...mungkin pernikahan ini membuatku sedikit gugup..." jawab Doyoung pelan.

Krystal tersenyum memaklumi, siapa yang tidak gugup kalau baru tahu bahwa akan menikah sehari sebelumnya? Kakaknya memang keterlaluan, Krystal tidak bisa menyalahkan Doyoung. Kalau dia jadi Doyoung mungkin dia sudah pingsan di tempat.

"Jaehyun Oppa orang yang baik. Percayalah, ketika dia memutuskan akan menikahimu, maka dia akan menjagamu." Krystal tersenyum menenangkan dan menggandeng tangan Doyoung.

"Ayo aku akan mengantarmu kepadanya."

Mereka sudah menikah. Doyoung termenung, tiba-tiba saja mereka sudah sah sebagai suami isteri. Seperti mimpi rasanya. Terjadi begitu saja. Lalu sekarang apa?

Doyoung melirik ke arah Jaehyun yang sedang duduk di sebelahnya, mereka sedang makan malam sederhana bersama saksi pernikahan dan beberapa teman. Lelaki yang duduk di sebelahnya ini.

Jung Jaehyun. Sekarang adalah suaminya.

Suaminya... Doyoung melafalkan kata-kata itu berulang-ulang dalam hati. Mencoba membuat hatinya terbiasa. Tetapi rasanya terlalu cepat untuk membuat sesuatu yang berlangsung begitu tiba-tiba menjadi terbiasa untuk hatinya.

"Kau akan senang berada di sana Young."

Suara Krystal mengagetkan Doyoung dari pengamatan tersembunyinya kepada Jaehyun. Dia sedikit terbatuk dan berusaha kembali ke dalam percakapan.

Mereka sedang membicarakan apa?

"Pulau itu, pulau pribadi milik Jaehyun tempat kalian akan berbulan madu nanti, adalah pulau kecil yang sangat indah, dengan fasilitas yang lengkap tentunya. Jaehyun punya rumah yang indah di sana lengkap dengan para pelayannya, ada desa keci di bawah bukit yang hanya berisi 50 kepala keluarga, kebanyakan bekerja untuk Jaehyun. Pulau itu surga kecil yang indah, aku yakin kau akan senang di sana." Krystal menyambung perkataannya dan tersenyum kepada Doyoung, membuat Doyoung bingung harus menanggapi apa.

Mereka akan pergi ke pulau? Jadi mereka tidak akan pulang ke kota mereka? Doyoung harus menanyakan rencana Jaehyun, kalau tidak dia akan disibukkan dengan kejutan-kejutan yang tidak akan disangkanya.

"Kami akan berangkat nanti, setelah menghabiskan beberapa hari di sini. Aku ingin membuat Doyoung terbiasa denganku dulu." Jaehyun setengah bergumam kepada Krystal, lalu dia menyentuh lembut jemari Doyoung, yang kali ini sudah mengenakan cincin pernikahan darinya, dengan berlian yang lebih besar dan lebih indah dari cincin pertunangannya.

"Kau akan menyukai pulauku Sayang, kita akan tinggal di sana untuk sementara."

Doyoung tercenung. Entahlah. Dari kata-kata Krystal, pulau itu terisolasi atau memiliki akses terbatas dengan dunia luar. Doyoung benar-benar merasa diculik sekarang.

"Sekarang kita sudah bisa tidur seranjang." Jaehyun melepas dasinya dan menyampirkannya di kursi, dan menatap Doyoung yang gugup dengan senyuman lembut. "Kalau kau tidak keberatan."

Jaehyun sungguh baik mengatakan itu. Mungkin lelaki lain akan langsung memaksakan mereka tidur seranjang. Karena mereka sudah suami isteri, dan Doyoung tidak akan bisa membantah. Tetapi Jaehyun masih menanyakan keberatan Doyoung. Itu berarti dia menghargai pendapat Doyoung sebagai seorang isteri.

Melihat Doyoung diam saja, Jaehyun berdiri ragu dan menawarkan. "Mungkin aku akan tidur di sofa lagi saja, kalau kau belum siap." Lelaki itu hendak melangkah pergi, tetapi Doyoung menahannya dengan menarik lengan kemejanya.

"Tunggu Jaehyun."

Jaehyun berhenti seketika, melirik ke arah jemari gemetar Doyoung yang mencengkeram lengan bajunya, membuat Doyoung langsung melepaskan pegangannya dengan gugup. Dia mundur selangkah dan menatap Jaehyun dengan malu.

"Aku tidak akan mengusirmu dari ranjangmu lagi."

"Jadi kau yang akan tidur di sofa?"

Doyoung mengerutkan alisnya dan menatap Jaehyun, kemudian menyadari bahwa lelaki itu sedang bercanda. Jaehyun terkekeh, kemudian dengan gerakan lembut menghela Doyoung agar masuk ke dalam pelukannya. Lelaki itu memeluknya lembut, mengecup puncak kepalanya dan meletakkan dagunya di sana.

"Kau isteriku Doyoung." suara Jaehyun berubah serak, "Aku tidak akan menyakitimu. Jangan merasa takut ataupun gugup kepadaku. Pernikahan ini memang terlalu cepat, kuakui aku terlalu tergesa-gesa menyeretmu dalam hal ini. Aku minta maaf."

Jaehyun melakukannya demi adiknya, Krystal. Doyoung memejamkan matanya dan menempelkan pipinya di dada Jaehyun, merasakan kemeja lembut Jaehyun menyentuh lembut pipinya, mengalirkan panas dari kulit kecoklatan di balik kemeja itu.

Dia melihat Krystal sangat bahagia setelah pernikahan tadi. Sungguh lelaki ini adalah lelaki yang sangat menyayangi adiknya.

"Aku berkesimpulan kau tidak menolak, kalau kita sama-sama tidur di ranjang itu."

Doyoung mendongakkan kepalanya, langsung berhadapan dengan mata Jongin yang tajam, menatapnya dengan lembut,

"Ya." Akhirnya Doyoung berani memutuskan. Pernikahan ini memang tak terduga dan tak terencanakan olehnya. Tetapi seperti kata Krystal sebelum pernikahan tadi, dia beruntung menikahi Jaehyun, karena lelaki ini akan menjaga isterinya. Doyoung memutuskan, dia akan mencoba menjadi isteri Jaehyun, sepenuhnya.

"Kalau kita sama-sama tidur di ranjang itu, kita tidak akan hanya tidur."

"Ya. Jaehyunie."

"Aku akan menyentuhmu... mungkin aku sudah pernah melakukannya malam itu, kita sama-sama tidak ingat... tapi, kalau ternyata ini yang pertama untukmu, aku berjanji akan bersikap lembut."

"Ya Jaehyunie."

"Doyoung..."

Jaehyun mengerang menahan perasaannya, lalu disentuhnya dagu Doyoung lembut untuk mendongakkan kepalanya, kemudian dikecupnya bibir Doyoung lembut, mengenalkan dirinya pelan-pelan. Lidahnya mendesak masuk kemudian, terasa panas dan menggoda, tanpa permisi menjelajahi seluruh bagian mulut Doyoung, mencecapnya dan menggodanya, lidah itu lalu menemukan lidah Doyoung yang lembut dan berjalinan di sana.

Mulut Jaehyun melumat seluruh bagian bibir Doyoung, seakan ingin menyerap semua rasanya. Pelukannya mengencang, jemarinya menelusuri permukaan kedua lengan Doyoung, bergerak naik turun dengan menggoda.

Ketika ciuman itu terlepas, napas mereka berdua sama-sama terengah-engah. Jaehyun lalu mengecup lembut bibir Doyoung, beralih ke pipinya, diberinya hadiah kecupan-kecupan kecil, kemudian ke telinganya, menghembus lembut di sana membuat Doyoung memekik kegelian.

Jaehyun tersenyum. "Di sana titik sensitif perempuan biasanya." Lelaki itu lalu mengecup lembut di telinga Doyoung dan lidahnya dengan nakal mencicipi di sana. "Doyoungie, aku sangat menginginkanmu."

Dengan lembut diangkatnya Doyoung dan dibaringkannya ke atas ranjang. Jaehyun melumat bibir Doyoung lagi dan tubuhnya bergerak dengan lembut di atas Doyoung.

Jemarinya menyentuh pelan, menyentuh lembut bagian depan gaun Doyoung, membuat perempuan itu terkesiap, lalu dengan lembut tetapi cekatan, Jaehyun membuka kancing demi kancing gaun putih Doyoung, begitu pelan gerakannya, seolah ingin menyiksa dirinya sendiri, seperti seorang lelaki yang membuka hadiahnya dengan penuh antisipasi dan kemudian mengintip dengan hati-hati.

Kulit Doyoung yang lembut terlihat sedikit demi sedikit, Jaehyun membuka seluruh kancing gaun Doyoung, sampai ke pinggangnya dan menatap isterinya dengan penuh gairah. Doyoung begitu menggairahkan, perempuan mungil itu kini terbaring dengan baju terbuka, menampakkan kulitnya dan begitu menggoda.

Jaehyun membantu Doyoung menurunkan gaunnya hingga sepinggang, kemudian sambil menciumi leher Doyoung dan menjilatnya lembut, lelaki itu melepaskan kaitan bra Doyoung, membuat gadis itu telanjang dada di depannya.

Napas Doyoung makin terengah ketika Jaehyun menyentuh payudaranya sambil lalu, mengusap putingnya dengan gerakan seolah tak sengaja, sehingga membuat puting itu mengeras, seakan ingin disentuh lagi. Doyoung mengerang merasakan sensasi panas yang membakarnya di payudaranya.

Jaehyun masih menciumi lehernya, lalu bibir yang membara itu naik, melumat bibir Doyoung dan berbisik di sana.

"Dimana kau ingin aku menyentuhmu sayang? Katakan padaku." Suaranya menjadi serak dan sensual, logat Amerikanya tiba-tiba muncul mewarnai gairahnya yang begitu pekat.

"Jaehyun..." Doyoung mengerang, lalu memejamkan mata ketika Jaehyun menunduk dan mengecup bagian atas payudaranya, kemudian, bibir Jaehyun lewat sambil menghembuskan napas panasnya sambil lalu di atas payudaranya, membuat putingnya mengencang dengan kerasnya.

"Jaehyun..." suara Doyoung makin keras ketika Jaehyun mengulangi perbuatannya berkali-kali. Lelaki itu mengecupi seluruh bagian payudaranya tetapi mengabaikan putingnya yang mendamba. Yang dilakukan Jaehyun hanyalah menghembuskan napasnya sambil lalu, menggodanya, menyiksa dirinya.

"Kau ingin aku menyentuhmu di situ sayang?" Jaehyun berbisik di sela-sela kecupannya. Menikmati ketika jemari Doyoung tanpa sadar menyentuh rambutnya, mencoba mengarahkan puting Jaehyun ke bibirnya.

"Iya Jae... iya..." Doyoung mengerang seolah kesulitan bernapas. Puting payudaranya begitu tegak dan panas, karena godaan-godaan Jaehyun, dia ingin lebih.. dia ingin bibir Jaehyun yang panas melumat putingnya, menghisapnya dengan lembut.. dia ingin...

Dan Jaehyun melakukannya. Bibirnya dengan lembut mengatup di puting payudara Doyoung, lalu lidahnya bergerak menggoda di dalam, begitu panas dan basah, memainkan puting Doyoung dengan usapan-usapan lembut di dalam mulutnya.

Sensasi Rasanya membuat tubuh Doyoung lemas, kedua jemarinya mencengkeram rambut Jaehyun, membuatnya acak-acakan, lelaki itu sekarang sudah menindih Doyoung sepenuhnya, tubuhnya yang tinggi besar melingkupi tubuh mungil Doyoung, Jaehyun bertumpu pada kedua siku dan lututnya, dan menenggelamkan kepalanya di keindahan payudara Doyoung yang ranum.

Lelaki itu memuja payudara Doyoung, mencumbunya dengan lidahnya, dan menghisapnya putingnya perlahan, membuat Doyoung mengeluarkan erangan-erangan gelisah atas sensasi yang baru pertama kali dirasakannya.

Setelah puas. Jaehyun mengangkat kepalanya dan mengecup ujung hidung Doyoung yang terengah-engah, napas mereka berkabut oleh gairah yang pekat, Ketika Jaehyun menggeserkan tubuhnya, Doyoung merasakan kejantanan Jaehyun sudah mengeras di sana, menggesek selangkangannya, begitu keras dan siap.

Jemari Jaehyun menurunkan gaun Doyoung, membantu Doyoung mengangkat tubuhnya sehingga gaun itu akhirnya lepas seluruhnya, terlempar ke lantai, membuat Doyoung terbaring telanjang di bawah tubuh Jaehyun yang masih berpakaian lengkap, hanya dengan celana dalam sutra warna putih membungkus kewanitaannya.

"Kau begitu indah Doyoungie."

Bibir Jaehyun turun ke leher Doyoung, mengecup lehernya dengan penuh gairah, lalu turun menelusuri dada Doyoung, memberi hadiah kecupan lembut ke kedua putingnya. Lelaki itu membungkuk dan mengecupi perut Doyoung, membuatnya merasakan sensasi panas menjalari perutnya, menuju kewanitaannya.

Kemudian lelaki itu menarik celana dalam Doyoung turun, refleks Doyoung langsung merapatkan kakinya, mencoba menutupi dirinya. Tetapi Jaehyun menahannya dengan jemarinya mendongakkan kepalanya dan menatap Doyoung dengan matanya yang berkilau penuh gairah.

"Jangan tutup dirimu dari suamimu, sayang." Suaranya berat, penuh dominasi, "Aku ingin melihat seluruh tubuh isteriku, aku ingin mencicipi seluruh tubuh isteriku..."

Kata-kata Jaehyun membuat Doyoung gemetar penuh gairah, dan terus gemetar ketika Jaehyun menurunkan celana dalam itu, melalui sebelah pahanya dan melepaskan dari kakinya.

Membiarkan celana dalam itu masih menggulung di pahanya yang lain. Jaehyun menggerakkan jemarinya dengan lembut, dan dengan gerakan sensual menurunkan celana dalam sutera itu pelan-pelan dari paha Doyoung, sambil membiarkan jemarinya meraba paha Doyoung, mengirimkan sinyal-sinyal gairah yang bagaikan sengatan listrik di sana.

Ketika sampai di kaki Doyoung, Jaehyun melepaskan celana dalam itu dari tubuh Doyoung, lalu menatap keseluruhan tubuh Doyoung yang telanjang bulat. Isterinya. Telanjang bulat di bawahnya, dan siap dimiliki olehnya.

Kepala Jaehyun pening oleh gairah dan antisipasi ketika dia menggerakkan jemarinya lagi, pelan mengalun dari lutut Doyoung, dan naik ke pahanya. Sampai kemudian menyentuh kewanitaan Doyoung. Hanya sepersekian detik, menyentuh di sana. Dan tubuh Doyoung terkesiap, berjingkat kaget oleh sengatan aneh yang menyengatnya seketika.

Jaehyun tersenyum. Doyoung sangat sensitif dan siap olehnya. Jemarinya menyentuh kewanitaan Doyoung, memainkannya lembut dengan usapan ahli, membuat Doyoung setengah bangun, bingung atas sensasi yang mengalir deras di tubuhnya, sekaligus takut.

"Jaehyun... aku... jangan sentuh di situ..."

"Sssshh... Tenanglah sayang." Jaehyun menghela Doyoung agar terbaring lagi, menikmati, "Aku akan memberimu kenikmatan dari seluruh tubuhku, dari jemariku, dari bibirku..."

Lelaki itu menunduk, lalu mengecup kewanitaan Doyoung lembut, membuat Doyoung menggeliat, mencoba merapatkan pahanya. Kaget atas keintiman luar biasa yang ditunjukkan Jaehyun kepadanya.

"Jaehyun.. jangan disitu... Astaga!...Jaeyunie..."

"Nanti, aku akan mengajarkanmu menyentuhku juga sayang, dengan jemarimu, dengan bibirmu..." Nafas Jaehyun bagaikan uap panas di kewanitaan Doyoung, membuatnya gemetar.

"Sekarang, biarkan aku memberimu kenikmatan.." Lidah Jaehyun menelusup, menemukan titik paling sensitif di kewanitaannya, dan memainkannya dengan ahli. Lidah Jaehyun sepanas bibirnya yang melumat dengan ahli, dengan penuh pemujaan.

Doyoung terbaring di sana dengan mata berkabut, dengan napas terengah dan terasa melayang akibat sensasi luar biasa nikmat yang menyelimuti tubuhnya, bersumber pada kewanitaannya.

Gerakan bibir dan lidah Jaehyun begitu ahlinya, membuat Doyoung berkali-kali mengerang ketika Jaehyun dengan sengaja menggerakkan lidahnya memutar, menggoda titik sensitifnya. Membuat Doyoung seakan dibawa ke sebuah tepi pencapaian yang tidak diketahuinya. Doyoung memejamkan matanya. Dia sudah hampir sampai ke tepi itu.

Digigitnya bibirnya, merasakan sensasi panas melandanya dan menggetarkannya... Hendak membawanya ke suatu tempat yang tidak dia ketahui sebelumnya. Napasnya tersengal, jantungnya berdetak cepat, matanya terpejam menyerap kenikmatan itu,... Tetapi kemudian, Jaehyun berhenti.

Lelaki itu menghentikan cumbuannya di kewanitaan Doyoung, membuat Doyoung membuka matanya setengah memprotes. Tetapi senyum Jaehyun begitu sensual dan penuh rahasia, membuat Doyoung bergetar karena gairah yang ditularkan Jaehyun.

"Jangan. Kau harus menungguku. Kita akan mencapai puncak kenikmatan itu bersama-sama."

Lelaki itu menegakkan tubuh dan bertumpu pada lututnya yang mengangkang di atas tubuh telanjang Doyoung dan membuka kemejanya, memamerkan dada bidang telanjang dengan kulit putihnya yang berkilauan.

Bagaikan sutera putih yang halus, dan panas, membungkus otot-otot tubuhnya yang kekar dan keras. Membuat Doyoung merasakan dorongan luar biasa untuk menyentuhnya.

Lelaki itu lalu setengah berdiri dan melepaskan celananya. Seluruh pakaiannya akhirnya terlempar ke lantai. Dan sekarang Doyoung menatap seorang lelaki yang berlutut telanjang di atasnya, dengan tubuh yang luar biasa indahnya, dan kejantanan yang telah mengeras dan siap untuknya. Jaehyun begitu indah dalam ketelanjangannya. Dan lelaki itu suaminya.

Ingatan akan kenyataan itu membuat benak Doyoung dibanjiri oleh pemikiran sensual, pemikiran yang selama ini tidak pernah berani dipikirkannya. Jaehyun tersenyum lembut, lalu meraih jemari Doyoung dan mengecupnya dalam kecupan basah dan sensual.

"Maukah kau menyentuhku?"

Doyoung menganggukkan kepalanya, dan lelaki itu membawa jemari Doyoung ke kejantanannya yang keras dan siap untuknya. Doyoung menyentuh kekerasan yang sehalus sutera itu dan membelainya. Membuat Jaehyun mengeluarkan erangan sedikit keras. Mendengar erangan itu, Doyoung hendak menarik jemarinya, tetapi Jaehyun menahannya.

"Jangan." Gumam Jaehyun tertahan, "Teruskan sayang, kenali aku."

Jemari mungil Doyoung membelai kembali kejantanan Jaehyun, membuat Jaehyun harus menggertakkan giginya, menahan erangannya. Doyoung begitu kagum, karena ternyata apa yang tampak begitu keras bisa terasa begitu halus dan lembut. Dengan penuh ingin tahu, dia mengeksplorasi tubuh Jaehyun, mempelajarinya, mengenalinya. Sampai kemudian Jaehyun menggenggam tangan Doyoung dan menahan jemarinya.

"Cukup. Kurasa aku akan meledak kalau kau meneruskannya." Dengan penuh gairah lelaki itu kembali menindih Doyoung, posisi mereka sungguh pas, Lelaki berpadu dengan perempuannya. "Buka pahamu, sayang."

Jaehyun setengah membantu Doyoung membuka pahanya dan membiarkan kejantanan Jaehyun mendesak di antara paha Doyoung, mendesak kewanitaannya. Lelaki itu menggesekkan tubuhnya lembut, mengirimkan getaran listrik yang membuat tubuh Doyoung membara.

"Kau sudah basah dan siap untukku." Jaehyun menyentuh Doyoung dengan kejantanannya, merasakan betapa Doyoung sudah begitu panas dan basah di bawahnya, "Izinkan aku memilikimu, sayang."

Lelaki itu bertumpu kepada kedua sikunya, dan mendorongkan pinggulnya. Menekan tubuh Doyoumg dengan begitu ahli. Tetapi halangan itu cukup kuat, sehingga Jaehyun harus menekan beberapa kali, mencari jalan untuk menyatukan tubuhnya ke dalam tubuh Doyoung, menuntaskan kenikmatan ini.

Dengan lembut, lelaki itu menggesek-gesekkan tubuhnya di ujung bibir kewanitaan Doyoung, mempersiapkan perempuan itu, pelan dan pasti mencoba masuk sedikit demi sedikit, dan kemudian, ketika menemukan titik itu. Jaehyun mendorong tanpa peringatan menekan kuat dan memasuki tubuh Doyoung.

Yang dirasakan Doyoung kemudian adalah rasa sakit yang luar biasa, Kejantanan Jaehyun mendorongnya masuk ke dalam tubuhnya, dan dia terkejut akan kekuatan besar yang mencoba menyatukan diri dengannya, Doyoung mengerang, mencoba mendorong tubuh Jaehyun menjauh karena kesakitan yang dirasakannya.

"Jangan dorong aku sayang. Rilekslah, terima aku..." Jaehyun berbisik pelan di telinga Doyoung.

Tubuhnya mendorong lagi, dan ketika akhirnya dia berhasil menembus penghalang itu dia menekankan dirinya dalam-dalam dan menahan dirinya untuk tidak langsung bergerak, mengangkat kepalanya dan mengecup pipi Doyoung lembut.

Perempuan itu kesakitan selama proses itu, dan Jaehyun tidak bisa membantunya. Sekarang lelaki itu mengecupi Doyoung lembut, membantunya supaya rileks dan menikmati, membantunya supaya lepas dari kesakitan di kewanitaanya.

"Apakah masih terasa sakit?" Jaehyun mengusap air mata di sudut mata Doyoung. "Kau ingin aku berhenti dulu?"

Doyoung tersentuh atas kelembutan Jaehyun. Dia menggelengkan kepalanya, membiarkan lelaki itu mengecupinya.

Dengan lembut Jaehyun mulai menggerakkan tubuhnya, agak sakit bagi Doyoung pada awalnya, merasakan sesuatu yang asing menggesek bagian tubuhnya yang begitu peka. Tetapi kemudian ritmenya mulai terasa.

Setiap Jaehyun bergerak, dia mulai bisa menikmati gelenyar sensual yang terkirim dari kewanitaannya ke sekujur tubuhnya, membuatnya mengerang, sambil berpegangan pada tubuh Jaehyun.

Tubuh mereka berdua berkeringat, di atas ranjang berseprei putih yang sekarang sudah acak-acakan itu. Jaeyun menggerakkan tubuhnya di dalam tubuh Doyoung, semula lembut dan hati-hati. Tetapi ketika merasakan tubuh Doyoung mulai merespon dengan napas terangah dan erangan pelan, Jaehyun bergerak dengan penuh gairah, membawa mereka menuju ke puncak gairah masing-masing.

Ketika puncak itu hampir tiba, Jaehyun membimbing Doyoung, membawanya ke depan, mencapai orgasme yang luar biasa itu. Dan ketika erangan Doyoung dalam pencapaiannya menandai orgasmenya, Jaehyun merasakan tubuh Doyoung mencengkeram kejantanannya dengan kuat di dalam, membuatnya tak tahan lagi, hingga kemudian meledak di dalam tubuh Doyoung.

Kenikmatan itu begitu intens dan luar biasa, sehingga membuat tubuh mereka lemas. Jaehyun berbaring menindih tubuh Doyoung, menahan dengan siku dan lututnya supaya tidak membebankan beratnya di tubuh isterinya, kepalanya berbaring di bantal di samping kepala isterinya.

Napas mereka berdua terengah-engah. Kepalanya masih dipenuhi kabut kenikmatan itu. Luar biasa rasanya bercinta dengan orang yang dicintai. Orgasmenya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jaehyun membuka matanya dan mengecup telinga mungil Doyoung yang ada di depannya.

"Apakah aku memuaskanmu?"

Doyoung masih berusaha menormalkan napasnya.

Apakah Jaehyun memuaskannya? Tentu saja.

Kalau benar ledakan luar biasa yang dirasakan tubuhnya dan menerbangkannya ke tingkat ke tujuh adalah sesuatu yang orang-orang sebut sebagai orgasme, berarti Jaehyun telah memberikan orgasme yang paling nikmat kepadanya. Doyoung memang tidak punya perbandingan. Tetapi tubuhnya yang begitu terpuaskan tahu.

"Iya, Jae..."

Lelaki itu tersenyum mesra dan mengecup Doyoung lagi. Lalu mengangkat kepalanya, dan menarik tubuhnya yang masih tenggelam di dalam tubuh Doyoung dengan hati-hati.

Doyoung mengerang ketika merasakan rasa tidak nyaman yang menyakitinya di tubuhnya. Rasa sakit itu terasa, dan ketika orgasme mereka selesai mulai terasa sedikit nyeri. Jaehyun melepaskan dirinya, lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Doyoung, dia menoleh dan menatap Doyoung dengan senyuman bersalah.

"Maaf. Sakit ya."

Doyoung hanya menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba merasa malu. Mereka telah melakukan hal yang paling intim yang bisa dilakukan oleh sepasang suami isteri, dan sekarang mereka telanjang bersama di atas ranjang. Tetapi tampaknya hal itu tidak mengganggu Jaehyun, lelaki itu tercenung, memikirkan sesuatu,

"Aku belum pernah becinta dengan perawan sebelumnya..." Jaehyun bergumam pelan, "Kau adalah perawan pertamaku."

Dan kau adalah lelaki pertamaku... Doyoung menjawab dalam hati. Tiba-tiba merasa mengantuk luar biasa.

Krystal baru sampai dari penerbangannya menghadiri pernikahan Jaehyun dan Doyoung. Dia langsung menuju ke kantor. Kakaknya itu menyerahkan seluruh kendali perusahaan di tangannya selama dia pergi.

Ya, Jaehyun mendirikan perusahaan ini dari awal, dengan kerja keras dan kejeniusannya sehingga perusahaan ini menjadi begitu besar dan menjadi tempat bergantung ratusan pegawainya. Semuanya untuk mendapatkan Doyoung, dan sekarang lelaki itu sudah mendapatkan Doyoung.

Dia berhak mendapatkan libur dan menikmati kebersamaannya dengan Doyoung. Krystal tidak keberatan menggantikan tugas-tugas Jaehyun sementara waktu.

Ponsel di tasnya berdering ketika dia hendak melangkah menuju ruangan kerja Jaehyun, dia berhenti di lorong dan mengangkat ponselnya. Sang Ibu yang menelepon dari Amerika.

"Jadi?" Sang Ibu langsung menembak, tanpa basa-basi. "Kakakmu akhirnya menikahi Doyoung?"

"Ya." Krystal mendesah, "Maafkan aku eomma, aku sudah membujuknya untuk memberitahu eomma. Tetapi dia menolak karena takut eomma akan bergegas datang lalu menghadiri pernikahannya, lalu merusak semuanya ketika Doyoung akhirnya mengenali eomma."

"Eomma memang sangat ingin datang di pernikahan Jaehyun, tetapi aku cukup mengerti untuk tidak merusak rencananya." Suara Nyonya Sophia, wanita berdarah Amerika yang menjadi ibu Jaehyun dan Krystal itu melembut, "Apakah dia bahagia?"

"Dia jatuh cinta pada Doyoung. Dia bahagia." Krystal tersenyum.

"Semoga saja peristiwa kecelakaan di masa lalu itu tidak merusak kebahagiaan mereka" Krsytal merenung. "Kalau kita bisa menyimpan kebenaran tentang kecelakaan itu agar tidak sampai di telinga Doyoung, aku pikir mereka akan menjadi pasangan yang sangat cocok."

"Eomma setuju. Karena gadis bernama Doyoung itu, dialah yang mengubah Jaehyun kita menjadi lebih baik." Sang Ibu mendesah, "Yah. Mungkin eomma harus bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk berterima kasih kepada Doyoung."

"Pasti akan ada waktunya eomma, waktu telah mengubah wajah kita, aku berharap Doyoung tidak ingat kalau dia pernah bertemu eomma setelah kejadian kecelakaan itu.

Di sudut lain lorong itu. Rowoon berdiri di kegelapan. Dia tadi hendak berjalan menuju lift ketika suara Krystal, adik Jaehyun bercakap-cakap di telepon menarik perhatiannya. Rowoon langsung berdiri di sudut lorong, di sebelah pot tanaman ukuran besar yang cukup menutupinya sehingga tidak terlihat oleh Krystal.

Dia mendengar percakapan itu dengan cukup jelas. Jaehyun dan Doyoung dikabarkan pergi ke pulau Jeju untuk pertemuan bisnis. Tetapi Rowoon curiga ada sesuatu yang lebih, dan ternyata kecurigaannya terbukti. Dari percakapan telepon Krystal itu dia bisa menyimpulkan bahwa Jaehyun dan Doyoung telah menikah.

Dadanya serasa diremas. Penuh oleh sakit hati. Dia benar-benar mencintai Doyoung. Gadis itu begitu polos dan mengembalikan apa yang dulu tidak dipercayainya. Cinta.

Rowoon dulu tidak percaya cinta dan menghabiskan hidupnya sebagai playboy yang suka berganti-ganti wanita, berhubungan seks tanpa ikatan.

Lagipula dia lelaki yang cukup tampan dengan penghasilan lumayan sehingga banyak wanita yang takluk kepadanya. Tetapi baginya Doyoung berbeda, kepolosan perempuan itu membuatnya merasa disadarkan. Tetapi, baru saja dia ingin ke jalan yang baik, mencintai Doyoung sepenuh hati.

Semuanya dihancurkan begitu saja oleh sesuatu yang licik, sesuatu yang menjebaknya dan menghancurkan nama baiknya di depan Doyoung.

Rowoon akan membuat nama baiknya kembali. Dia bertekad. Tadi dia mendengar sesuatu tentang 'kecelakaan di masa lalu yang disebut-sebut dalam percakapan Krystal.

Apapun peristiwa kecelakaan itu, sepertinya merupakan hal penting, dan mereka sepertinya ketakutan kalau Doyoung tahu sesuatu. Rowoon akan mencari tahu. Kalau itu bisa mengembalikan lagi Doyoung kepadanya. Dia akan berusaha.

To Be Continue

Ugh, bayangin Jaehyun sama Doyoung begituan jadi malu-malu sendiri remake bagian ini