Warning untuk Typo, EYD, dll.
Saya mau mengingatkan bahwa saya hanya me-remake kembali karya kak Santhy Agatha dengan nama, tempat atau ada beberapa hal yang berbeda sesuai dengan kebutuhan FF ini.
WARNING!
TERDAPAT ADEGAN NANO NANO. JADI MOHON UNTUK TIDAK BABLAS MEMBAYANGKAN, TERLEBIH UNTUK DIBAWAH UMUR.
Happy Reading
Unforgiven Hero Bab 7
"Selamat pagi." Jaehyun menyapa lembut ketika Doyoung membuka matanya, sudah hampir setengah jam yang lalu Jaehyun bangun. Tetapi tidak bergerak dari ranjang.
Dia berbaring miring di sana, bertumpu di sikunya dan memandang isterinya yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Jaehyun suka memandangi Doyoung, dia bisa melakukannya berjam-jam tanpa bosan. Dan kesadaran bahwa sekarang sebagai suami Doyoung- dia bisa melakukan itu, membuatnya bahagia.
Doyoung mengerjapkan matanya. Butuh beberapa lama sampai dia menyadari ada di mana dan apa yang terjadi. Ingatan tentang malam pertama kemarin membanjirinya, dan membuatnya merona malu. Jaehyun sendiri tampak tidak peduli, lelaki itu menelusurkan jemarinya ke sepanjang pinggul Doyoung dengan menggoda.
"Apakah tidurmu nyenyak?" Jaehyun menatap Doyoung dengan mesra, membuat Doyoung kehabisan kata dan hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Jemari Jaehyun menelusuri makin berani, dan menyentuh kewanitaan Doyoung, "Di sini masih sakit?" Jaehyun mengusapnya lembut.
"Ah, Doyoungku yang lugu... maafkan aku karena harus menyakitimu." Nafas Jaehyun agak terengah dan karena mereka berdua telanjang bulat.
Doyoung bisa melihat betapa kejantanan Jaehyun telah menegang keras lagi. Tetapi lelaki itu tampak menahan diri, dia mengikuti arah pandangan Jaehyun dan tersenyum.
"Seperti yang selalu kubilang, aku selalu mengeras kalau bersamamu, karena kau membuatku begitu bergairah..." Jaehyun mengelus pipi Doyoung dengan lembut, "Tapi hari ini kita akan menghormati hilangnya keperawananmu dengan tidak menyentuhmu dulu."
Doyoung tersenyum, hatinya terasa hangat menerima kelembutan Jaehyun ini. Lelaki ini tampak bersungguh-sungguh dengan perkataannya, dan sejak pernikahan mereka, dia selalu diperlakukan dengan hormat dan penuh kasih.
"Terimakasih Jaehyunie."
"Sama-sama sayang." Jaehyun mengecup ujung hidung Doyoung dengan lembut.
"Oh ya... mengenai pulau yang diceritakan Krystal pada saat acara makan setelah pernikahan kemarin... Maafkan aku tidak membicarakan sebelumnya denganmu, sebenarnya itu akan menjadi kejutan bulan madu kita."
"Kejutan lagi." Doyoung menggumam tanpa sadar menatap Jaehyun dengan pandangan menuduh.
Jaehyun terkekeh, menarik Doyoung ke dalam pelukannya. Tubuh mereka telanjang, hangat, bahagia dan terpuaskan karena percintaan mereka semalam. Jaehyun memang ereksi tetapi dia tidak peduli. Yang utama bukanlah memuaskan hasratnya kepada Doyoung, yang utama adalah berada di dekat Doyoung, berdua dan bahagia.
"Pulau itu sangat indah, aku mewarisinya dari ayahku, penduduknya sebagian besar nelayan dan beberapa bekerja kepadaku... kita bisa menikmati waktu berdua di sana, saling mengenal lebih dalam." Tatapan Jaehyun menjadi intens.
"Aku yakin, kalau kita saling mengenal lebih dalam, kita akan menyadari bahwa kita adalah pasangan yang cocok."
Pasangan yang cocok. Mungkinkah? Dia perempuan biasa yang hidupnya serba biasa-biasa saja, dengan Jaehyun yang semua di dirinya begitu luar biasa. Doyoung melirik ke arah kejantanan Jaehyun, bahkan 'itu'nya pun luar biasa. Pipi Doyoung menjadi memerah karena pemikiran spontannya itu.
Perahu boat membawa mereka mendarat ke anjungan pulau itu. Beberapa orang tampak sudah menunggu di sana. Jaehyun membantu Doyoung turun dari kapal dan menggendongnya ketika mereka harus melalui bagian laut yang dangkal sebelum melangkah ke arah pantai berpasir yang luar biasa indahnya.
Ini benar-benar surga pantai tropis yang luar biasa. Warna pasirnya sedikit gelap, tetapi lembut, membuat Doyoung tanpa pikir panjang melepas sepatunya dan memilih bertelanjang kaki. Udara pantai yang sejuk meniup rambutnya hingga melambai-lambai di pipinya.
Beberapa orang yang sudah menunggu langsung membantu meminggirkan boat dan mengangkat koper-koper mereka.
Seorang lelaki tua berpakaian resmi menyalami mereka dan tersenyum lebar,
"Selamat datang Tuan Muda, senang sekali anda akhirnya bisa berlibur dan pulang kemari." Disalaminya Jaehyun dengan bersemangat.
Lalu tatapannya beralih ke Doyoung dan dia tersenyum memuji, "Dan ini pasti Nyonya Muda Jung yang menawan. Selamat datang di pulau kami. Semoga anda menyukainya nyonya."
Jaehyun tertawa, menepuk pundak lelaki tua itu dan tersenyum lebar ke arah Doyoung.
"Ini Tuan Kim. Dia adalah kepala desa di pulau ini, sekaligus pengurus rumahku."
"Rumah anda sudah disiapkan. Para pelayan sudah merapikan kamar anda hingga tampak seperti tidak pernah ditinggalkan. Dan Alfred sangat senang karena dia bisa memasak masakan-masakan luar biasa lagi untuk tuan dan nyonya. Mari, kita ke rumah utama."
Tuan Kim melangkah mendahului mereka kearah jalan setapak berbatu dengan pohon kelapa yang ditata eksotis di kiri dan kanannya.
Pemandangan rumah Jaehyun sangat luar biasa. Rumah itu berdiri tegak menjulang di atas bukit tertinggi di tepi pantai. Bagian belakangnya pasti menyambung khusus ke sisi pantai tersendiri yang dipagari, sebuah pantai pribadi.
Cat rumahnya putih bersih, sangat cocok dengan pemandangan birunya laut dan hujaunya pohon kelapa yang mendominasi pulau. Gordennya melambai-lambai di jendela besar bergaya barat di bagian depan rumah.
"Rumah ini peninggalan kolonial belanda jaman penjajahan dulu. Appa membeli sebagian tanah di pulau ini, hampir 60% tanah di sini adalah milik appa, dipakai untuk perkebunan rempah-rempah dan area rumah ini, Sisanya adalah perumahan penduduk. Rumah ini sudah direstorasi sepenuhnya oleh appa. Dia memang suka dengan segala sesuatu yang berbau kuno." Jaehyun tersenyum kepada Doyoung dan mengedipkan matanya.
"Tetapi jangan khawatir, meskipun rumah ini rumah kuno, tidak akan ada hantunya... yah.. mungkin kalau kau melihat penampakan perempuan-perempuan bergaun lebar jaman pertengahan abaikan saja..."
"Jaehyun." Doyoung bergumam mengingatkan agar Jaehyun jangan menakut-nakuti dirinya dengan cerita-cerita hantu, meskipun kemudian tersenyum karena tahu Jaehyun sedang berusaha menggodanya.
Jaehyun benar. Suasana rumah ini, pulau ini sangat menyenangkan.
Doyoung tiba-tiba saja merasa begitu ceria dan bahagia. Tidak pernah disangkanya dia akan mengalami ini semua, bersama Jaehyun pula.
Keharuman aroma kue yang baru dipanggang langsung menyambut mereka ketika mereka memasuki ruang tamu luas dengan nuansa putih dan cokelat yang berpadu indah. Jaehyun menghirup dan tersenyum.
"Itu pasti kue kelapa panggang buatan Alfred." Jaehyun melirik ke arah pintu besar yang sepertinya mengarah ke lorong menuju dapur.
"Alfred adalah koki tua setia appa, yang ketika diajak ke sini oleh appa, jatuh cinta dengan seorang wanita di pulau ini, jatuh cinta dengan kehidupan di pulau ini, dan memilih menghabiskan masa pensiunnya di sini. Kau akan menyukai kue kelapa panggang yang dia buat, dan masakan-masakan lainnya yang spektakuler."
Dari aromanya saja sudah begitu menjanjikan. Doyoung tersenyum. Jaehyun tampak berbeda, tampak begitu lepas dan bahagia di pulau ini. Dia tampak tanpa beban. Dan Doyoung entah kenapa senang melihat lelaki itu tampak begitu ceria.
Dengan lembut Jaehyun menggandeng Doyoung melangkah menuju dapur.
Mengenalkannya dengan Alfred yang sedang memanggang roti di sana. Alfred lelaki tinggi dari perancis, berusia enam puluh tahun tetapi masih tampak bugar, wajahnya tampak dingin. Tapi Doyoung melihat sinar hangat di matanya ketika memeluk Jaehyun dan Doyoung bersamaan dengan lengannya yang besar dan mengucapkan selamat datang kepada mereka.
Ponsel Doyoung berdering ketika dia sedang menata pakaian-pakaian mereka di lemari di sebuah kamar indah yang terletak di lantai dua rumah ini. Kamar ini memiliki balkon dengan anjungan yang menjorok ke pantai.
Kalau kita berdiri di ujung balkon itu, kita akan bisa melihat pemandangan luas tanpa batas langit dan laut yang berwarna biru, berpadu di pisahkan oleh garis cakrawala yang menakjubkan. Sementara di bawah ombak tampak indah bergulung-gulung seolah-olah memanggil-manggil untuk berenang.
Doyoung membiarkan pintu kaca besar yang membatasi kamar mereka dengan balkon membuka sehingga udara laut yang sejuk dan kering bisa mengaliri kamar. Dengan setengah melompat, Doyoung menuju meja di samping tempat tidur besar, tempat ponselnya diletakkan. Ada nama Sooyoung di sana. Diangkatnya ponsel itu.
"Halo Sooyoungie... aku harap kau sehat-sehat saja."
"Aku sehat-sehat saja Doyoungie." Suara Sooyoung tampak ceria dan haru, "Aku mau mengabarkan bahwa aku sudah melahirkan putri kecilku semalam, dia sangat sehat dan gemuk."
"Ah, Selamat Sooyoungie... maafkan aku, aku benar-benar lupa..." Semua peristiwa yang dialaminya dengan Jaehyun membuatnya lupa menelpon Sooyoung untuk menanyakan kondisi kehamilannya, "Aku ingin sekali melihat putri kecilmu itu."
"Aku mengerti Doyoungie, tidak apa-apa. Dan aku menelponmu untuk mengucapkan selamat juga." Doyoung bisa merasakan Sooyoung mengedipkan matanya nakal di seberang sana.
"Teman-teman kantor datang untuk menjengukku di rumah sakit, dan ternyata gossip bahwa kau dinikahi oleh bos kami dan dibawa kabur ke pulau pribadinya menyebar cepat di sini. Benarkah itu Doyoungie? Wow kau bahkan tidak menunjukkan ketertarikan kepada Mr. Jeffrey dan tiba-tiba saja 'boom' kalian saling jatuh cinta dan menikah? Lalu bagaimana dengan Rowoon?" Sooyoung langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
Doyoung tertawa, lalu dengan singkat menjelaskan insiden yang dialaminya bersama Rowoon. Sejenak dia ragu menjelaskan alasan mereka menikah dan memutuskan tidak menjelaskannya kepada Sooyoung.
"Yah begitu saja. Aku sangat kecewa dengan Rowoon. Dan kebetulan Jaehyun sangat baik... jadi tiba-tiba saja kami sudah menikah."
Sooyoung tergelak di seberang sana, "Mungkin itulah yang disebut kemauan Tuhan. Kita sudah berencana dengan yang lain, tiba-tiba Tuhan memberikan jalan untuk bersatu dengan orang yang selama ini tidak pernah kita duga. Meskipun kabar ini masih membuatku shock, tetapi aku menyadari bahwa kalian adalah pasangan yang cocok. Semoga berbahagia Doyoungie, telpon aku kalau kau kesepian di pulau pribadi itu." Suara Sooyoung terdengar ceria membuat Doyoung tertawa geli.
"Pasti, Sooyoungie. Dan segera setelah aku pulang nanti, aku akan langsung menjengukmu dan putri kecilmu."
"Janji ya, aku tunggu." Sooyoung tertawa cerita, "Selamat menikmati bulan madumu Doyoungie."
Doyoung masih tersenyum ketika menutup ponselnya. Bulan madu. Kini dia dan Jaehyun pasangan pengantin baru. Jaehyun sedang pergi dengan Tuan Kim untuk menengok perkebunan, Katanya dia akan kembali sebentar lagi.
Ketika kembali, Jaehyun langsung menggandeng Doyoung mengajaknya ke pantai pribadinya.
"Kau akan senang melihat bagian pantai yang ini." Jaehyun mengajak Doyoung menuruni tangga putih lingkar yang ternyata ada di bawah balkon mereka, dan merekapun turun di sebuah anjungan pantai pribadi yang dikelilingi tembok dan tanaman untuk menjaga privacy.
"Aku sering berbaring di pantai, dan merenung di sini sendirian, tidak ada yang bisa melihat kita dari sini. Satu-satunya akses adalah dari tanggal di balkon kamar kita. Dan tidak ada yang berani kemari kalau tidak kuperintahkan." Jaehyun mengedipkan matanya pada Doyoung,
"Di sini benar-benar privasi untuk kita."
Pipi Doyoung memerah menyadari arti di balik kata-kata Jaehyun itu. Privacy untuk mereka... Apakah privacy untuk bercinta? Doyoung menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran aneh di benaknya. Jaehyun dan aura sensualnya sepertinya telah mempengaruhi Doyoung sedemikian rupa.
Lelaki itu menggandeng Doyoung ke sisi pantai yang sejuk di bawah tanaman palem dan kelapa. Tempat mereka rupanya telah disiapkan, ada sebuah gazebo kecil yang nyaman di sana, beralaskan karpet lembut berwarna cokelat muda dan bantal-bantal hitam eksotis yang berserakan di sana. Gazebo itu berhiaskan tirai-tirai putih yang menjuntai, tampak begitu indah tertiup angin pantai.
Satu sisi gazebo itu terbuka, langsung mengarah kepemandangan pantai nan luas dan indah dengan warna langit yang mulai jingga, pertanda matahari hampir tenggelam. Lampu kecil di pilar gazebo menyala dengan sinar kuning yang hangat, seakan disiapkan untuk pasangan yang akan melalui malam sambil menatap bintang-bintang di langit.
Jaehyun mengajak Doyoung ke gazebo dan duduk di karpetnya yang empuk, bahkan makanan pun sudah disiapkan di sana, seperti magic. Kue-kue kecil yang menggiurkan tersaji di nampan perak yang berkilauan. Dan dua botol anggur disiapkan di ember perak kecil yang berisi es, serta dua gelas minuman dingin berwarna orange segar. Ini benar-benar tempat yang menyenangkan untuk duduk sambil memandang matahari tenggelam.
Jaehyun merangkul Doyoung, dan mereka termenung menatap ke arah matahari tenggelam dalam keheningan. Menyaksikan cakrawala perlahan menelan bulatan orange yang bersinar orange kemerahan itu. Hingga akhirnya hanya tersisa seberkas cahaya jingga di batas cakrawala.
Suasananya begitu sakral dan intim hingga Doyoung takut merusaknya. Dia melirik ke arah Jaehyun, dan melihat siluet lelaki itu. Jaehyun benar-benar tampan, dan lelaki itu adalah suaminya. Doyoung merasakan perasaan hangat membanjirinya. Dia merasa begitu dekat dengan Jaehyun, seakan sudah mengenal lama, seakan Jaehyun mengerti apapun yang dia inginkan. Mungkin mereka memang ditakdirkan bersama.
"Doyoungie..." Suara Jaehyun terdengar serak, dan dari jarak dekat, di bawah sorot lampu temaram, Doyoung bisa melihat mata Jaehyun memancarkan gairah, "Kau sudah bisa...?"
Ah. Lelaki ini begitu sopan, begitu baik dan perhatian. Bahkan dalam gairahnya Jaehyun sempat menanyakan kesiapan tubuh Doyoung untuk bercinta. Doyoung sungguh tersenyum. Dia tidak berkata apa-apa, hanya menatap Jaehyun penuh arti.
Jaehyun membalas senyum itu, lalu dengan lembut menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Doyoung lembut. Doyoung membalas kecupan itu. Membiarkan Jaehyun merasakan kelembutan bibirnya.
Lelaki itu lalu melepas ciumannya dan mereka bertatapan. Senyum Jaehyun malam itu tidak akan pernah Doyoung lupakan, senyum itu begitu lembut, begitu penuh haru, dan entah kenapa membuat dada Doyoung sesak oleh suatu perasaan yang tidak dapat digambarkannya.
Jemari Doyoung bergerak ragu dan menyentuh pipi Jaehyun, lelaki itu menempelkan pipinya di sana dan memejamkan matanya, jarinya meraih jari Doyoung dan mengarahkannya ke bibirnya, Jaehyun lalu mengecup telapak tangan Doyoung dengan lembut.
Mereka bertatapan dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh satu sama lain, dan kemudian bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman lembut.
Kali ini ada yang berbeda. Kali ini ada rasa sayang dalam ciuman ini. Ada perasaan lembut yang mengembang dalam pagutan bibir mereka. Jaehyun melumat bibir Doyoung, mencecap seluruh rasa bibirnya, seakan tidak pernah puas.
Tangannya menyentuh pinggul Doyoung dan dengan gerakan ahli melepaskan celana dalam Doyoung di balik roknya, menurunkannya dan membiarkannya menggantung di salah satu paha Doyoung.
Lelaki itu lalu membuka kancing celananya dan menurunkan resletingnya, kejantanannya sudah tegak, menunjukkan betapa bergairahnya dia kepada Doyoung.
"Naik ke atasku, sayang." Suara Jaehyun bagaikan perintah mistis yang membuat tubuh Doyoung dibanjiri oleh dorongan sensual yang aneh. Dengan hati-hati Doyoung naik ke pangkuan Jaehyu..
Lelaki itu membimbingnya untuk menyatukan tubuh mereka perlahan, karena hal ini masih baru bagi Doyoung, ketika tubuh mereka menyatu sepenuhnya, Jaehyu. menghela napas pendek-pendek, begitupun Doyoung, yang masih tidak percaya dia melakukan hal seberani ini bersama seorang lelaki.
Tangan Jaehyun yang kuat merangkum pinggulnya dengan lembut dan membimbingnya untuk bergerak, "Bergeraklah sayang, puaskan dirimu dengan tubuhku..." bisik Jaehyun parau.
Dan Doyoung bergerak, senang mendapati bahwa setiap gerakannya membuat Jaehyun menggeram penuh gairah. Dia bergerak dengan sensual, didorong oleh gairah alaminya sebagai seorang perempuan, dengan bantuan Jaehyun.
Mereka becinta sambil berhadapan, dengan posisi setengah duduk. Percintaan itu begitu intens karena mereka bisa menatap mata masing-masing. Melihat betapa nikmatnya gerakan mereka bagi satu sama lain. Ketika tubuh Doyoung lelah, Jaehyun menopangnya, meletakkan kepala Doyoung di pudaknya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
Dengan gerakan mulus, Jaehyun mendorong tubuh Doyoung berbaring di karpet yang lembut tanpa melepaskan tubuh mereka yang bertaut penuh gairah. Ditindihnya Doyoung dengan pelan tetapi sensual, diciumnya bibir Doyoung lembut. Tubuhnya bergerak dan menggoda Doyoung untuk mengikutinya terjun ke jurang kenikmatan yang dalam.
"Lingkarkan kakimu di pinggangku." Bisik Jaehyun serak, "Rasakan aku lebih dalam... ah sayang, kau mencengkramku dengan begitu kuat..."
Lelaki itu mendorong masuk semakin dalam, menggoda Doyoung ketika melakukan gerakan seakan ingin melepaskan diri, tetapi kemudian mendorong lagi makin dalam. Mereka larut dalam pusaran gairah, sampai kemudian Doyoung terlambung tinggi ketika mencapai orgasmenya.
Orgasme yang luar biasa, sambil mendongakkan kepala menatap langit penuh bintang, dalam pelukan suaminya yang luar biasa tampan. Jaehyun menyusul orgasmenya, dengan erangan tertahan dan semburan hangat di dalam sana.
Dengan lembut Jaehyun menarik diri, lalu menempatkan dirinya dengan nyaman di sebelah Doyoung dan menarik tubuh Doyoung terbaring di lengannya, memeluknya lembut dari belakang.
Kepala Doyoung ada di lekukan lengan dan lehernya. Jaehyun menundukkan kepalanya, dan membisikkan napas panasnya pelan, di telinga Doyoung.
"Aku mencintaimu Doyoungie." Suara Jaehyun serak dan penuh perasaan. "Aku mencintaimu."
Doyoung memejamkan matanya. Mengira dia sedang berada di sebuah mimpi eksotis bersama pangeran tampan di sebuah pulau terpencil.
Mereka terbangun dari tidur mereka, dan Jaehyun mengajak Doyoung masuk karena udara mulai dingin dan angin malam bertiup kencang.
"Aku ingin semalaman di sana menatap bintang. Tetapi kita akan terbangun dengan kepala pusing." Jaehyun tersenyum lembut pada Doyoung, dan menggandeng jemarinya, melangkah menaiki tangga putih itu.
Mereka sampai di kamar, dan tiba-tiba Jaehyun memeluk Doyoung erat-erat di tengah-tengah kamar,
"Apakah kau mendengar pernyataan cintaku tadi?" bisiknya lembut.
Doyoung menganggukkan kepalanya, dalam diam.
Jaehyun mendesah dan mengecup puncak kepala Doyoung, lalu melingkarkan lengannya makin erat di seluruh tubuh Doyoung.
"Aku bersungguh-sungguh Doyoungie, Pernyataan cintaku itu bukan euphoria dari orgasme yang begitu nikmatnya. Meskipun harus kuakui orgasme yang tadi luar biasa nikmatnya." Jaehyun tersenyum lembut, "Semoga nanti kau bisa membalas perasaanku."
Doyoung pasti bisa. Kalau Jaehyun terus menyerangnya dengan sifat lembut dan penuh perhatiannya seperti ini. Bagaimana Doyoung bisa bertahan? Dia pasti akan dengan segera jatuh ke dalam pesona Jung Jaehyun.
"Dan apapun yang terjadi nanti. Apapun yang akan terpapar di hadapanmu nanti, bagaimanapun buruknya nanti. Ingatlah malam ini, malam di saat aku mengatakan bahwa aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku."
Apa maksud kata-kata Jaehyun? Doyoung merenung ketika lelaki itu memeluknya erat.
Perempuan itu sangat cantik bagaikan boneka Barbie. Kakinya begitu panjang dan jenjang, dipamerkan dengan indahnya karena dia mengenakan rok hitam sutera yang elegan membungkus pinggulnya yang bergoyang indah ketika dia sedang berjalan. Bagian atas tubuhnya lebih bagus lagi. Dadanya menggantung indah, membuat semua lelaki yang berpapasan dengannya pasti menoleh dua kali. Kalau bukan karena dadanya, pasti karena kecantikan wajahnya. Rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan panjang dan tebal, hasil dari penata rambut terkenal.
Jemari lentiknya dengan kuku yang di cat warna peach menjepit batang rokok di bibirnya, mengarahkan ke bibir ranumnya dengan warna peach yang sama. Bibirnya menghembuskan asap dengan elegan.
Perempuan yang sedang duduk sendirian di balkon rumahnya itu adalah Yeri. Seorang wanita pengusaha mandiri, dengan beberapa anak perusahaan di bidang desain interior yang sangat sukses. Yeri adalah perempuan bebas dan mandiri dengan aura yang sangat menggoda. Dan sekarang Yeri sedang gundah. Ditatapnya Jinmi, asisten pribadinya dengan tatapan tajam.
"Kau yakin informasi yang kau dapatkan itu benar?"
Jinmi menganggukkan kepalanya gugup. Dia telah bekerja bertahun-tahun dengan Yeri, tetapi entah kenapa aura mengintimidasi Yeri selalu membuatnya gugup. Perempuan itu mengingatkannya akan medusa, perempuan cantik tetapi tatapannya bisa mengubah siapapun yang berani membalas tatapannya menjadi batu.
"Itu info yang saya dapat dari orang perusahaan Tuan Jaehyun. Mereka mengatakan tuan Jaehyun menikahi asistennya dalam pernikahan buru-buru di pulau Jeju, dan sekarang sedang menghabiskan bulan madunya di pulau pribadinya."
Yeri menghembuskan asap rokoknya dengan kesal.
"Pernikahan buru-buru dan rahasia eh?" Senyumnya sangat sinis. "Aku ragu kalau Jaehyun mengingat untuk memberikan undangan kepadaku. Harus diakui aku sedikit sakit hati mengetahui dia dengan mudahnya melupakanku dan menikahi perempuan itu. Kau dapat fotonya?"
Jinmi menyerahkan foto yang dia dapat kepada Yeri. Dia menerima foto itu, dan meletakkannya di meja.
"Baiklah, kau boleh pergi Jinmi."
Sepeninggal Jinmi, Yeri mengambil foto itu. Sebuah foto entah darimana yang bergambarkan Jaehyun yang sedang berjalan dengan perempuan yang kata Jinmi bernama Doyoung.
Nama Doyoung, betapa bencinya dia dengan nama itu. Itu adalah nama perempuan yang membuatnya merasa muak. Diingatnya malam-malam menyakitkan ketika dia bercinta dengan Jaehyun, dan Jaehyun memanfaatkannya dengan memanggilnya sebagai 'Doyoung', membayangkan sedang bercinta dengan 'Doyoung' meskipun saat itu dia sedang bercinta dengannya.
Jaehyun tidak bersalah, Yeri memang sengaja membuat dirinya tampak tidak terlalu ingin menjalin hubungan yang mengikat. Karena dia tahu, kalau dia kelihatan ingin mengikat Jaehyun, kalau kelihatan setitik saja perasaannya kepada lelaki itu, maka Jaehyun akan langsung meninggalkannya. Lelaki itu menutup hatinya, dan akan langsung menjauhi siapapun yang memiliki perasaan lebih kepadanya. Karena itulah dia berpura-pura dan membiarkan Jaehyun berpikir bahwa hubungan mereka adalah hubungan tanpa status, saling memanfaatkan, tanpa ikatan apapun satu sama lain.
Padahal Yeri mencintai Jaehyun, Sangat mencintai lelaki itu dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ketika Jaehyun memanggilnya sebagai Doyoung, memandangnya sebagai Doyoung, bercinta dengannya sambil membayangkan Doyoung, perasannya hancur lebur. Hancur, marah dan terhina. Bukan kepada Jaehyun, dia terlalu mencintai lelaki itu. Tetapi kepada perempuan yang entah siapa dan dimana yang bernama Doyoung.
Berani-beraninya perempuan itu mengambil hati Jaehyunnya? Membuat Jaehyun menutup hatinya untuk semua perempuan? Yeri ingin namanya lah yang dipanggil Jaehyun dengan penuh kerinduan, seperti ketika Jaehyun memanggil nama 'Doyoung' dengan begitu lembut.
Dia sangat membenci perempuan bernama Doyoung itu. Ingin membunuhnya jika perlu.
Tetapi bahkan dia tak tahu perempuan itu ada. Dan dia sempat mengira bahwa perempuan itu hanyalah sosok khayalan Jaehyun.
Sampai kemudian kabar bahwa Jaehyun menikahi perempuan bernama Doyoung muncul. Semula Yeri tidak percaya. Tetapi ketika Jinmi menjelaskan bahwa itu benar adanya, kemarahannya menggelegak, luar biasa hingga nyaris membakar hatinya.
Yeri mengamati wajah Doyoung di foto itu. Gadis itu terlalu sederhana. Apa sih yang dilihat Jaehyun di sana?
Dia merasa dirinya seribu kali lebih baik dari perempuan kecil yang tak bisa berdandan macam Doyoung. Benarkah ini Doyoung yang selalu dipanggil oleh Jaehyun itu? Atau dia hanyalah perempuan beruntung yang dinikahi Jaehyun secara impulsif karena kebetulan dia bernama Doyoung?
Dengan gemas, dicolokkannya rokoknya ke wajah Doyoung di foto itu. Menghancurkan wajah Doyoung di foto itu dengan kejam. Siapapun perempuan itu, dia membencinya. Dan setiap orang yang dibencinya akan hancur!
Dia harus menyadarkan Jaehyun akan kesalahannya, sebelum terlambat. Dia harus membuat Jaehyun menyesal karena telah berani-beraninya meninggalkannya dan memilih perempuan yang sangat jauh di bawah levelnya.
Jemarinya meraih ponsel keemasan di mejanya, sebuah suara menyahut di sana, dan Yeri bergumam dengan suara serak dan seksinya.
"Aku perlu pergi ke sebuah tempat. Kau bisa mengatur perjalananku ke sana?"
To Be Continue?
Remake dari Novel Unforgiven Hero Santhy Agatha
Otteh? Otteh? Otteh?
Jangan lupa review, terlebih untuk kekurangan dari remake ini.
Gomawo
