Zephyr
©2015
Wanda Grenada
Desclaimer: Naruto, Masashi Kishimoto
Chapter 2: Red Cloud
Sebuah mobil Gemballa McLaren akan memasuki Mansion megah itu. Sinar putih lampu dari head lamp mobil mewah yang di taksir mencapai US$ 670.000 menyinari pintu gerbang yang besar itu. Jujur saja ia sangat menyukai hadiah dari kakaknya ini, tau juga dia yang diinginkan adiknya. Tanpa di aba-aba lagi, para penjaga sudah hafal benar apa yang harus mereka lakukan. Membuka pintu pagar dan menyapa orang di dalamnya yang bahkan tidak akan pernah dijawab oleh si pengendara.
Ia memasuki Mansion dan disambut oleh para pelayan.
"Aku mau jus tomat." Perintahnya pada seorang pelayan.
"Apa ada yang lain tuan?"
"Tidak."
"Baiklah." Pelayan itu langsung pergi untuk segera membuatkan pesanan sang majikan.
Sasuke mendudukkan dirinya di sofa dan menaikkan kakinya keatas meja,ia menyamankan posisinya bersender di sofa dan bahkan belum melepas sepatu Reebok running-nya, langsung mengeluarkan Smartphone dari kantung celananya. Setelah mendapat pesanannya ia menarik nafas sebelum menyesap jus tomat tanpa gula kesukaannya, walaupun ini tidak akan lebih baik dari buatan ibunya, setidaknya ia masih bisa menikmati hal yang disukainya saat ini.
Ia mengecek beberapa pesan dari WhatsApp-nya. Si Naruto bodoh itu melakukan spamming di chat untuk mengajaknya taruhan, ada juga pesan dari pamannya, dan beberapa timbunan pesan dari orang-orang menyebalkan di grup chat kelas.
Tak lama ia merasa kakinya yang sedang di renggangkan diatas meja itu dipaksa pindah tempat. Ia merasa terganggu dan langsung mendecak kesal. Matanya berpindah pada objek yang mengganggunya.
"Itachi, kau ada dirumah?" Sasuke buru-buru menurunkan kakinya kala ia tau Itachi ada di depannya, duduk dan menatapnya tajam.
"Aku ingin melihat bagaimana tingkah adikku selama aku tidak ada. Jadi begini ya…"
Sasuke tidak menjawab—mengabaikan Itachi dan memilih sibuk dengan gadget-nya daripada memulai obrolannya dengan sang kakak. Memang, hubungan antara kakak-beradik itu berjalan dengan tidak terlalu baik, dan semakin memburuk saat keduanya beranjak dewasa.
Itachi sering tidak ada di rumah karena usaha sampingannya menjalani bisnis rumah makan yang sedang melejit akhir-akhir ini karena tema yang dipilih oleh sahabatnya, Kisame, sangat digandrungi muda-mudi masa kini—disamping pekerjaannya sebagai supervisor di perusahaan keluarga yang sekarang di pegang oleh sepupunya, Shisui Uchiha. Ya, tentu saja Itachi sangat sibuk. Tidak berada di samping adiknya, bukan berarti ia tidak tau menau mengenai perkembangan adiknya.
Ia tau, adik kesayangannya sudah tumbuh dan berkembang dengan cara yang salah. Anak berandalan yang pulang pagi, sudah berani menenggak alkohol dan sering membawa wanita abstrak ke hotel. Tidak ada yang berani melarangnya, kecuali Itachi. Itachi jadi teringat lagi akan seorang gadis Hyuuga yang sore hari datang dan menitipkan sebuah kunci loker padanya. Ia jadi penasaran siapa gadis perempuan itu di mata Sasuke dan apa hubungan gadis itu dengan adiknya.
"Siang hari tadi, ada teman sekolahmu yang datang kemari dan menitipkan barang padaku." Itachi mulai membuka mulutnya untuk secara-tidak-langsung bertanya. Ia menemukan dirinya masih penasaran pada gadis itu.
Sasuke masih tidak tertarik dengan obrolan yang dimulai oleh kakaknya, "Pasti Karin." Jawabnya malas.
"Bukan, bukan si rambut merah itu. Aku baru pertama melihatnya datang kemari. Aku lupa siapa namanya tapi aku tau dia berasal dari keluarga Hyuuga."
"Ooh, ternyata si Hyuuga tolol itu." Sasuke menyeringai, entah karena apa. Jangan bilang si Hyuuga itu juga mengidolakannya. Ia menaikkan alisnya dan geli sendiri dengan pikirannya. "Apa yang ia titipkan?" lanjutnya.
"Ini," Itachi menyodorkan sebuah kunci loker yang dititipkan oleh si gadis Hyuuga. "Tampaknya dia bukan teman dekatmu, ya?"
"Teman? Cih. Aku tidak sudi." Ia mengambil kunci loker itu dan menaruhnya di sembarang tempat.
Amat disayangkan.
Itachi menemukan dirinya baru saja dikecewakan oleh fakta tersebut, tidak berjalan lurus dengan apa yang ia ekspektasikan. Adiknya belum berubah, ia masih anak nakal."Cepat ganti bajumu dan bergabunglah untuk makan malam." Kemudian Itachi meninggalkan Sasuke yang masih sibuk dengan Smartphone-nya.
Sinar matahari yang menembus dari kaca jendela membuat kelopak matanya terbuka. Pagi yang cerah sudah menyapanya kembali. Namun secerah apapun, mentari pagi di hari sekolah tidak akan membuatnya senang. Pasalnya, ia harus kembali menekuni kehidupan monotonnya yang membuatnya tersiksa.
Ia berdiri, merapikan tempat tidurnya dan segera membersihkan dirinya. Ini akan jadi hal yang sia-sia karena pasti ada saja yang melemparinya sampah, menyiram air atau apalah itu hal sejenis yang ia tidak ingin untuk memikirkannya.
Selesai mandi ia bergegas ke meja makan untuk memakan sarapannya. Satu sandwich dan segelas susu akan menjadi pengganjal perutnya selama tiga jam ke depan. Ia mengemasi dua sandwich untuk dibawanya ke sekolah, membungkusnya dengan telaten dan memasukkannya ke dalam tas.
Ruang makan yang luas itu ditatapnya nanar. Yang ia lihat masih sama dengan kemarin dan hari-hari sebelumnya. Meja makan besar yang dikelilingi oleh kursi kosong. Hanya ada dirinya seorang yang menempati meja makan besar itu. Rasa sepi lagi-lagi mengisi relung hatinya.
Ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaannya dan tidak ingat akan yang namanya rumah, pernah terpikir olehnya, mungkin bagi ayahnya gedung pencakar langit Hyuuga corps yang berada di kawasan industri adalah rumahnya. Ibunya pun tidak lebih baik. Sangat disayangkan, walaupun sudah tiga tahun berjalan ketika saat itu ibunya memutuskan untuk berpisah dengan ayahnya dan tinggal bersama adiknya. Sedangkan kakak sepupunya, yang juga tinggal bersama mereka sedang sibuk menyelesaikan pendidikan S1 nya di Inggris. Semua isi dari rumah ini hanya tinggal Hinata dan para pelayan yang saban hari melakukan pekerjaannya masing-masing dirumah ini.
Tidak dirumah ataupun di sekolah, rutinitas Hinata tidak luput dari yang namanya kesedihan.
"Nona Hinata, mobilnya sudah saya panaskan."
Sebuah suara menghentikan dirinya yang melamun. Ia menoleh dan dilihatnya perempuan muda berambut coklat dengan apron, Ayame namanya—sedang membungkukkan diri, seorang pelayan dirumahnya yang sebaya dengannya. Ia baru bekerja di tempat ini seminggu yang lalu, dan belum terbiasa dengan Hinata yang sangat rendah hati. "Tidak usah seperti itu Ayame, aku tidak suka." Ia membetulkan posisi Ayame untuk berdiri tegap seperti orang biasa. "Nah, begini lebih baik."
"Ah, iya maaf nona.."
"Sudah jam setengah 7, sebaiknya aku berangkat." Ia mengambil tasnya dan melenggang pergi dari Mansion megah itu menuju ke sekolahnya yang biasa ia sebut dengan neraka dunia. Sekolah sudah mulai ramai pada saat Hinata sampai. Beberapa murid tampak sedang asyik mengobrol dipinggir lapangan dan lalu lalang para murid yang berjalan di koridor harus pintar-pintar ia hindari. Ia terus berjalan menyusuri lorong yang tidak ada habisnya itu sambil memeluk buku-bukunya yang teramat banyak sampai-sampai tidak muat lagi di tas selempangnya.
BRUUK
Hinata terjatuh karena senggolan bahu seseorang yang tidak sempat ia lihat. Buku-bukunya berserakan dan kacamatanya terlempar. Buru-buru ia memakai kacamatanya dan merapikan bukunya. Saat sedang berusaha merapikan bukunya, beberapa orang sengaja menginjakkan kakinya tepat dibuku Hinata, bahkan ada yang sengaja menabrakkan tas selempang mereka ke kepala Hinata dan menginjak jari tangannya. Hinata hanya bisa menghela nafas sambil mengasihani diri sendiri. Beginilah sehari-harinya dimulai.
Setelah memastikan jadwal pelajarannya hari ini di kertas pengumuman yang ditempel di mading tambahan khusus jadwal, ia berjalan ke kelas pertamanya, kelas fisika. toh ia tidak perlu ke loker lagi untuk mengambil buku karena ia sudah membawa buku Fisika.
Kelas sudah lima puluh persen terisi murid, ia melihat papan tulis yang ditempeli kertas bertuliskan "Duduk sesuai denah", matanya mengedarkan pandangannya. Yang ia lihat berbeda dari kelas fisika biasanya. Hinata melihat beberapa anak yang tampak asing berada di kelas itu. Ia tebak hari ini pasti kelasnya dicampur.
Matanya perlahan-lahan menekuni kertas yang di tempel di papan tulis, melihat denah tempat duduk yang terpampang di depan kelas, mereka semua juga merupakan anak didik Ms. Anko,Ia secara otomatis melihat nama teman sebangkunya yang berada tepat di samping namanya.
'Toneri..seperti aku pernah mendengar namanya.' Nama itu terdengar tidak asing di telinga Hinata. 'kita lihat hal buruk apa lagi yang akan kulewati hari ini.'
Hinata berjalan untuk duduk dibangku yang telah di direksi itu, bangku yang berada di deretan tengah. Teman sebangkunya belum datang rupanya. Baguslah, kalau begini Hinata bisa membahas tugas-tugas minggu lalu sebelum teman sebangkunya datang dan mengganggunya.
Saat sedang asyik berkutat dengan bacaan-bacaan dibuku, ia merasa ada yang menghampiri bangkunya dan duduk di sebelahnya. Apakah itu teman sebangku Hinata? Hinata bahkan tidak berani untuk melirik teman sebangkunya itu. Takut-takut teman sebangkunya ini akan membentaknya untuk pindah seperti yang sudah-sudah.
Hinata bahkan masih tidak berpaling dari bukunya saat Ms. Anko datang dengan setumpuk kertas. "Morning class." Anko berjalan menuju meja guru, ditaruhnya kertas-kertas itu disana. Semua orang punya firasat buruk tentang tumpukan kertas itu. "Hari ini aku akan mengadakan ujian dadakan." Lanjutnya.
"Apa-apaan ini?!"
"Ya ampun aku belum belajar."
"Mendadak sekali!"
Ocehan-ocehan tidak setuju dari para murid memenuhi kelas, tidak terkecuali laki-laki yang duduk sebangku dengan Hinata yang misuh-misuh tak jelas mengenai ulangan dadakan itu. Tanpa sengaja Hinata langsung mengarahkan matanya kepada teman sebangkunya itu ketika ia mengeluhkan kebijakan Ms. Anko yang terkesan semaunya sendiri. Matanya menangkap seorang laki-laki, rambutnya ikal, acak-acakan dan kancing atas bajunya dibuka dua, lengan seragam putihnya ia singsingkan dan ia tidak memakai rompinya. Dari sana Hinata juga bisa melihat badge awan merah yang ada di lengan kiri orang itu—menandakan bahwa ia adalah anggota OSIS. Pantas rasanya Hinata pernah mendengar nama itu.
Hinata tidak berkomentar apa-apa mengenai ulangan dadakan itu melainkan Hinata langsung membuka buku. Ia tidak akan menyia-nyiakan waktu singkat yang diberikan Ms. Anko saat menceramahi murid yang berisik. 'pantas saja tempat duduknya diatur.'
"Tidak ada Protes! Pelajari Bab gelombang dan bunyi. Kuberi waktu 15 menit."
"Apa? 15 menit?"
"Tidak ada yang lebih singkat lagi?"
"Parah!"
DAG DAG DAG
Anko mengetuk meja dengan penggaris besarnya. "Kalau masih mau nilai turuti perintahku." Itulah kata terakhir yang ampuh untuk membungkam ocehan para murid. Hinata tidak yakin apakah Ms. Anko ingin benar-benar menguji mereka atau terlalu malas menjelaskan materi mengingat guru muda itu terkenal dengan julukan "Guru gaji buta", yang ia lakukan saban hari di kelas hanya menyuruh para murid mengerjakan soal, tidak peduli apakah muridnya mengerti atau tidak, dan menebar ulangan dadakan disana-sini. Tak heran guru ini adalah tipikal yang gampang dibenci murid. Mereka akhirnya pasrah dan menghafal dari buku catatan mereka masing-masing. Tapi tidak dengan teman sebangku Hinata yang hanya tampak gelisah menengok kanan kiri.
"Hey, aku boleh pinjam catatanmu tidak?" tanya orang itu dengan wajah memelas. Jujur saja, Hinata bukannya kasihan tapi dia malah ketakutan. Dilihat dari dandanannya, semua orang juga bisa menyimpulkan bahwa orang ini adalah si jago kelahi.
"Uhmm… te-tentu, silahkan.." Hinata menyodorkan buku catatannya. Ia tidak keberatan meminjamkan buku catatannya karena ia sudah mempelajari Bab yang diberikan Ms. Anko, bukannya mau sombong, tetapi Hinata memang sudah menguasai materinya dan hanya perlu mengulasnya kembali.
Hinata memperhatikan.
Orang yang ada disebelahnya itu memaku tatapannya ke buku Hinata dengan serius, bibirnya bergerak-gerak kecil seperti sedang merapalkan sebuah mantra, sesekali matanya terpejam untuk mengingat rumus yang tertera di buku catatan itu, ia selalu berkata kasar dan memegang kepalanya saat tidak berhasil menghafal rumusnya.
"A-apa kau butuh bantuan?" Hinata reflek menawarkan bantuannya, entah kekuatan dari mana yang jelas ia punya rasa berani untuk berbicara dengan orang ini. Orang itu terlihat sangat kepayahan. Dan itu membuat hatinya tergerak.
Toneri menoleh dan menatap Hinata, "Aku butuh sedikit bantuan disini, mmm…" Ia menunjukkan catatan Hinata yang masih belum ia mengerti prinsipnya. "Jadi bagaimana aku menentukan tanda positif-negatifnya?"
"Ka-kalau yang ini, makin dekat j-jarak antara sumber bunyi dan pendengar, suara yang terdengar makin keras, artinya nisbah frekuensi bernilai besar. Disini kamu hanya perlu memanipulasi pembilang atau penyebut dalam persamaan efek Doppler."
Toneri mengangguk samar. Ia kembali mengalihkan netranya kearah catatan Hinata.
"Selesai! Tutup bukunya." Ms. Anko menginterupsi para murid untuk segera menutup bukunya. Tidak ada ocehan seperti sebelumnya. Yang ada hanya bisikan-bisikan hafalan rumus yang baru mereka pelajari.
"Apa-apaan, aku bahkan belum membaca apapun."
Orang itu lagi-lagi mengoceh, walaupun tidak akan terdengar oleh siapapun kecuali Hinata yang duduk disebelahnya. Ia kemudian dengan berat hati mengembalikan buku Hinata. Tak lama Ms. Anko mulai membagikan kertas ulangan yang langsung saja dibabat habis oleh Hinata dengan waktu yang relatif lebih singkat daripada yang lain. Tentu saja, karena soal-soal ini baginya mudah, terimakasih pada dirinya sendiri yang merupakan tipe orang yang betah berlama-lama dengan buku. Walaupun begitu, ia tidak mau langsung mengumpulkan hasil ulangannya ke Ms. Anko karena tidak ingin menarik perhatian murid yang lain. Ia pura-pura sedang sibuk menulis dan menghitung.
"Kau tau tidak pengertian efek Doppler di soal nomor empat?" Toneri tampak kebingungan dengan beberapa soal yang diberikan oleh Ms. Anko. Hinata agak ragu harus memberitahu orang ini atau tidak..ini kan sedang ulangan, tidak seharusnya saling membagi jawaban bukan?.
Hinata pasti akan membantu orang ini sebelum ujian dimulai, namun di tengah-tengah ujian, kegiatan membantu bukanlah tindakan terpuji.
Tetapi, kendati demikian Hinata akhirnya memilih jalan yang aman. Lagipula orang ini belum menunjukkan sikap bencinya pada Hinata. Ia tidak mau kesan pertamanya dengan orang ini menjadi sesuatu yang akan membuatnya jatuh ke dalam pembullyan yang lebih ekstrim lagi. Cukup. Orang ini punya label awan merah.
"Efek Doppler adalah perubahan jelas dalam frekuensi atau panjang gelombang yang diterima oleh pengamat bergerak relatif terhadap sumber gelombang." Jelas Hinata dengan suara berbisik. Ia memastikan agar tidak ada yang bisa mendengarnya selain Toneri, namun Toneri malah tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
"Catat saja apa yang kau ucapkan barusan." Hinata menuruti perintah orang itu.
"Ini.." Hinata memberi secarik kertas yang berisi jawaban itu perlahan, setidaknya agar gerak-geriknya tidak tertangkap oleh Ms. Anko. Ini pertama kalinya ia memberikan jawaban pada seseorang, adrenalinnya seperti di pacu, rasanya menegangkan saat diam-diam melanggar peraturan.
Toneri dengan cekatan mengambil kertas itu dan langsung menyalin apa yang gadis di sebelahnya tidak peduli jawabannya betul atau tidak, yang penting kertasnya terisi dan jawabannya tidak terlalu melenceng.
Setengah jam kemudian, Ms. Anko menyuruh para murid untuk menghentikan aktivitas mereka. Tetapi beberapa murid masih tampak kelimpungan mengerjakan soal yang belum sempat rampung mereka kerjakan itu. Orang yang sebangku dengannya salah satunya. Saking paniknya ia merebut kertas Hinata dan menyalin isinya dengan terburu-buru.
Hinata terlonjak dan jadi ikut-ikutan panik dibuatnya. 'Apa-apaan orang ini?! Seenaknya merebut kertas orang.' Hinata gelisah dan kebingungan, ia hanya bisa memperhatikan tulisan tangan terburu-buru itu dan berharap orang itu segera mengembalikan kertasnya agar Hinata bisa mengumpulkan hasil kerjanya.
"Aku bilang berhenti!"
Toneri langsung menghentikan aktivitasnya, sambil berjalan mengumpulkan kertasnya ia keluar dari ruangan itu tepat disaat bel istirahat kedua berbunyi. Meninggalkan Hinata yang masih duduk dibangkunya, menatap orang yang pergi tanpa mengucapkan terimakasih itu.
Well, Hinata tidak seharusnya mengharapkan itu.
AN:Dear Readers,
Aku mengucapkan terimakasih yang sangat banyak atas respon positifnya untuk cerita ini. Senang rasanya buka e-mail dan dapet review dari kalian :)
Ps, Toneri ini perawakannya kayak si Warren Peace di film Sky High ya. Sangar gitu.
Terimakasih sudah membaca.
Wanda Grenada
