WARNING

FOR TYPO, NAMA PERAN YANG BELUM TERGANTI ATAU SEBAGAINYA.

INI FF MILIK KAK SANTHY AGATHA, SAYA HANYA ME-REMAKE FF INI.

Happy Reading

Unforgiven Hero Bab 8

"Lihat, Alfred menggila, dia memasak begitu banyak kue untuk sarapan." Jaehyun mengoleskan mentega lembut ke permukaan muffin panas, membuatnya meleleh dan berkilauan dengan aroma manis yang harum ke seluruh penjuru dapur.

Alfred yang sedang mengaduk sesuatu di dalam panci hanya tersenyum mencela dan melanjutkan kegiatan memasaknya. Mereka sarapan di dapur yang menghadap ke timur, tempat sinar matahari pagi langsung masuk dan menghangatkan mereka.

Menu sarapan mereka luar biasa, Muffin madu, biskuit kacang dan kelapa, telur orak-arik yang rasanya fantastic dan satu Loyang besar pie apel hangat yang baru dikeluarkan dari oven.

Memang benar kata Jaehyun, Alfred menggila dalam memasak. Sepertinya dia terlalu senang karena tuannya datang, dan akhirnya ada yang bisa dia buatkan masakan istimewa.

Pagi ini seindah pagi-pagi yang lain. Doyoung sampai tidak sadar bahwa mereka sudah melewatkan beberapa hari di pulau indah ini. Berbulan madu. Begitu kata orang-orang.

Memang itulah yang terjadi. Mereka benar-benar bersenang-senang sepanjang hari, makan, mengobrol, membaca, bercanda, dan bercinta dengan begitu panas di malam harinya.

Pipi Doyoung memerah, mengingat malam-malam panas mereka. Jaehyun benar-benar lelaki yang sangat bergairah. Di pagi hari, saat mereka sudah bercinta semalaman, lelaki itu masih bangun dengan kejantanan mengeras dan mereka bercinta lagi. Seperti kata Jaehyun kepadanya dulu, lelaki itu memang selalu bergairah kepadanya.

"Alfred tampaknya sedang memasak besar hari ini." Doyoung berbisik pelan sambil melirik ke arah Alfred yang tampak sibuk.

Jaehyun tersenyum simpul, "Memang, aku memintanya untuk menyiapkan makanan kita untuk seharian."

"Seharian?" Doyoung mengernyit. Alfred biasanya selalu ada setiap saat di rumah ini. Begitu juga dengan para pelayan lainnya. Mereka selalu ada untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan mereka, setiap saat.

"Aku meliburkan semua pelayan mulai nanti siang sampai besok pagi mereka baru kembali. Alfred juga. Karena itu Alfred memasakkan kita makan siang dan makan malam untuk dihangatkan nanti malam."

"Kenapa kau meliburkan semua pelayan?"

Jaehyun tersenyum nakal, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Doyoung dan berbisik menggoda, "Karena aku ingin hari ini kita di rumah seharian, hanya berdua."

Pipi Doyoung memerah. Apa sebenarnya yang direncanakan oleh Jaehyun?

Rumah benar-benar benar sepi ketika para pelayan tidak ada di rumah, biasanya setiap saat Doyoung akan berpapasan dengan para pelayan yang lalu lalang mengerjakan sesuatu di rumah ini. Sekarang suasana hening, tidak ada suara percakapan di lorong, kesibukan di dapur maupun suara langkah kaki orang-orang yang lewat.

Doyoung dan Jaehyun menghabiskan hari itu dengan di perpustakaan. Jaehyun mengatakan akan menyeselesaikan beberapa perkerjaan sedangkan Doyoung memilih untuk membaca.

Perpustakaan di rumah pantai itu cukup lengkap, dengan berbagai bacaan ringan di sana, koleksi milik ayah Jaehyun. Sepertinya ayah Jaehyun benar-benar berniat untuk bersantai ketika mengisi buku-buku untuk perpustakaan ini.

Tanpa sadar hari sudah siang ketika Jaehyun mengangkat kepalanya dan bergumam, mengalihkan Doyoung dari bacaannya yang menarik.

"Aku lapar."

Doyoung menutup bukunya dan tersenyum lembut, "Aku akan menyiapkan makanan."

Alfred telah menyiapkan semuanya dan memberitahu Doyoung cara menghangatkan makanannya. Doyoung mencampur salad dengan udang dan saus alpukat yang telah disediakan oleh Alfred, lalu menghangatkan daging saus manis yang sudah disiapkan Alfred di panci.

Ketika Doyoung sedang menuang kotak-kotak es batu ke dalam picher berisi es teh manis. Jaehyun datang ke dapur dan tersenyum. Dia mengendus ruangan dan mendekati Doyoung dengan menggoda.

"Aku bisa memperkerjakanmu sebagai koki pribadiku. Baunya harum, seharum masakan Alfred."

Doyoung tertawa, "Alfred memang yang memasak semuanya, aku hanya mempersiapkannya." Dengan cekatan dia mengaduk saus manis untuk daging di panci.

Jaehyun mendekat dan memeluknya dari belakang dengan mesra. Mengecup Doyoung dengan menggoda.

"Hentikan JUNG JAEHYUN! Atau kau akan terciprat kuah yang sedang mendidih ini." Doyoung mengingatkan Jaehyun, tetapi tidak ada penolakan dari tubuhnya.

Jaehyun melingkarkan lengannya makin erat, jamarinya bergerak menggoda, mengusap puncak payudara Doyoung sambil lalu. Membuat Doyoung mengerang. Kuah itu telah mendidih, dan Doyoung mematikannya.

Jaehyun mengajak Doyoung mundur dari kompor, masih memeluknya, dia bersandar di meja dapur dan membawa Doyoung yang masih di peluknya dari belakang. "Kita bisa telanjang seharian di rumah, karena tidak ada orang lain di sini."

"Jaehyun!" Doyoung berseru dengan pipi memerah malu, membuat Jaehyun tertawa dan mengecupi leher Doyoung penuh gairah.

"Atau kita bisa bercinta di atas meja dapur." Jaehyun setengah menggigit leher Doyoung, meninggalkan bekas kecil kemerahan di sana. Seperti pejantan yang menandai betinanya.

Jemarinya meraba lembut payudara Doyoung dan meremasnya dari belakang. "Bagaimana menurutmu?"

"Jadi ini yang ada di benakmu ketika meliburkan semua pelayan?" Doyoung berbisik lirih, untuk kemudian membiarkan bibirnya dilumat oleh Jaehyun dengan penuh gairah.

Lelaki itu duduk di atas meja dapur, lalu mendongakkan kepala Doyoung ke belakang, dia lalu menunduk ke atas Doyoung dan melumat bibirnya, dengan cara terbalik. Menciptakan sensasi yang berbeda. Membuat dia bisa mencecap, dan merasakan bibir Jaehyun dengan cara yang lebih sensual.

Tubuh Doyoung melemas akibat ciuman itu sehingga Jaehyun harus menopangnya, dia bersandar sepenuhnya di tubuh Jaehyun, dan merasakan kejantanan Jaehyun mulai mengeras, menekan tubuh belakangnya. Dengan lembut, Jaehyun kemudian membalikkan tubuh Doyoung dan beranjak turun dari meja dapur. Dia mengangkat tubuh Doyoung hingga terduduk di atas meja dapur itu.

Dikecupnya dahi Doyoung lembut, hidungnya, pipinya dan kemudian kembali ke bibirnya lagi. Setiap kecupan Jaehyun membuat tubuh Doyoung panas membara. Lelaki itu lalu membuka kemeja Doyoung dan menurunkannya, payudara Doyoung yang tidak terlindungi bra -- karena Jaehyun melarangnya mengenakannya setelah para pelayan pergi tadi - terpampang indah di depan Jaehyun.

Lelaki itu memuja payudaranya. Mengelusnya lembut, mengusap ujung putingnya dengan penuh gairah hingga mengeras dan siap di tangannya. Lalu setelah puting itu memenuhi keinginannya, Jaehyun mengecupnya lembut, dan menjilatnya dengan menggoda. Membuat Doyoung mengerang, merindukan hisapan Jaehyun di putingnya yang membuatnya melayang.

Lelaki itu tidak membuat Doyoung menunggu lama, disesapnya payudara Doyoung dengan penuh pemujaan, membuat tubuh Doyoung lemas dan terbaring di atas meja dapur itu, dengan kaki menjuntai ke bawah.

Posisi Jaehyun sangat pas, karena tubuhnya tinggi, meja dapur itu pas setinggi pinggangnya. Dan sekarang dihadapannya, isterinya terbaring dengan kaki menjuntai ke bawah, pahanya terbuka, siap menerimanya. Jaehyun menurunkan celana dalam Doyoung, dan membukanya.

Lalu dengan penuh gairah, tanpa peringatan apapun, karena Jaehyun tahu Doyoung sudah sangat siap untuknya, Jaehyun menyatukan tubuhnya ke dalam kelembutan yang panas dan basah, yang sudah siap untuk menerimanya.

Kaki Doyoung langsung melingkar di pinggang Jaehyun. Kemudian, ketika gerakan Jaehyun makin cepat dan bergairah, dia berdiri dan menumpukan tangannya di tepi meja dapur, membuat Doyoung terbaring di sana penuh gairah, menerima desakan-desakan Jaehyun jauh di dalam tubuhnya yang menimbulkan gelenyar panas tak tertahankan. Jaehyun lalu mengangkat kaki Doyoung yang semula melingkari pinggangnya dan mengangkatnya ke pundaknya. Posisi itu membuatnya semakin mudah bergerak, menemukan titik-titik kenikmatan Doyoung yang ada jauh di dalam kelembutan kewanitaannya, dan membawa Doyoung langsung ke puncaknya.

"Kau sungguh nikmat Doyoung..." Jaehyun berucap di antara nafasnya yang memburu, "Apakah aku nikmat untukmu Sayang?"

Doyoung mencoba menjawab. Tetapi sensasi itu sungguh menguasai tubuhnya, membuatnya semakin tersengal dan larut dalam kenikmatannya.

"Jawab aku Sayang..." Jaehyun tak mau menyerah, "Apakah aku nikmat untukmu?"

Doyoung mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Jaehyun yang membungkuk di dekatnya,

"Kau... sangat..." suaranya tertelan oleh napas memburu dan erangan tertahan karena dorongan Jaehyun yang bergairah, susah payah dia mencoba berkata, "Kau... sangat nikmat... untukku..."

Jaehyun menatap Doyoung dengan rasa memiliki yang dalam, "Kalau begitu, mari kita saling menikmati." Gerakannya menjadi semakin cepat, semakin bergairah, semakin tak tertahankan.

"Ayo sayang, nikmati aku... puaskan dirimu..." Jaehyun berbisik parau, membimbing Doyoung ke dalam pusaran gairah. Sehingga dia mencapai puncaknya dengan begitu cepat. Mencengkeram Jaehyun dalam kenikmatan orgasmenya, dan merasakan lelaki itu orgasme bersamanya, di dalamnya.

"Tadi sungguh luar biasa." Jaehyun tersenyum sambil menyuapkan suapan terakhir makan siangnya ke mulutnya.

Mereka akhirnya makan siang menjelang sore, karena Jaehyun memutuskan mereka harus melanjutkan beberapa lagi sesi bercinta di dapur sebelum makan. Lelaki itu sungguh memiliki fantasi yang gila dalam bercinta. Pipi Doyoung memerah mendengar godaan Jaehyun.

Lelaki ini sudah berhasil mengubahnya dari perempuan pemalu yang tidak tahu apa-apa, menjadi perempuan sensual yang selalu merespon setiap rangsangan yang diberikan Jaehyun dengan luar biasa.

Tetapi Doyoung menikmatinya. Dia sangat beruntung. Ada pasangan-pasangan yang tidak diberkahi kenikmatan di atas tempat tidur. Dan Doyoung diberkahi suami yang luar biasa nikmat di atas tempat tidur. Jaehyun selalu memuaskan Doyoung, menunggu Doyoung siap menerimanya, dan mengantarkan Doyoung sampai ke titik terdekat orgasmenya sebelum kemudian mencapai orgasmenya sendiri.

"Ya Jae. Tadi memang luar biasa." Doyoung akhirnya mengakuinya kepada Jaehyun, membuat Jaehyun tersenyum bahagia.

Selesai makan, Jaehyun mengajak Doyoung berjalan-jalan ke pantai pribadi mereka. Malam sudah menjelang dan lelaki itu memakaikan salah satu jaketnya pada Doyoung, membuat Doyoung memakai jaket yang kebesaran di tubuhnya. Tetapi Doyoung berterimakasih kepada Jaehyun karena melakukannya. Udara malam cukup dingin malam ini.

Langit yang gelap memayungi mereka, bertaburan bintang berkelap-kelip yang indah. Jaehyun mengajak Doyoung berdiri di tepi pantai dan menatap ombak.

"Aku dulu bukan orang yang baik, aku menyakiti banyak orang dan membuat mereka kecewa." Jaehyun bergumam pelan, tatapannya menerawang jauh, "Tetapi kemudian ada sebuah peristiwa yang mengantamku. Dan membuat aku berbalik arah."

Peristiwa apa? Doyoung mengernyit dan menatap Jaehyun, ingin bertanya. Tetapi lelaki itu berdiri di sebelahnya dengan tatapan menerawang, seolah sedang larut ke dalam masa lalunya, sehingga Doyoung kembali diam, menatap laut dan mendengarkan.

"Aku berubah menjadi lebih baik, berusaha menjadi lebih baik. Dan aku benar-benar sudah menjadi baik ketika aku bertemu kau." Jaehyun menghela tubuh Doyoung ke arahnya, dan mereka berhadap-hadapan, "Sejak aku mencintaimu."

Dipeluknya Doyoung erat-erat. Beberapa hari ini dia sangat bahagia, Tertawa bersama Doyoung, menghabiskan setiap menit bersama perempuan itu, dan tidak pernah merasa bosan.

Kebahagiaan itu menyelipkan seberkas rasa takut di benak Jaehyun, setiap dia menatap Doyoung yang tersenyum kepadanya, tanpa dapat ditahannya pertanyaan-pertanyaan selalu muncul di benaknya, Bagaimana kalau Doyoung tahu kenyataan yang sebenarnya? Apakah Doyoung mau tersenyum lagi kepadanya? Apakah Doyoung akan meninggalkannya?

Jaehyun takut menghadapi itu semua. Membayangkan kalau Doyoung pada akhirnya mengetahui semua itu secara tidak sengaja. Mungkin Doyoung melihat berita di masa lalu, atau bertemu dengan orang di masa lalu yang kebetulan tahu tentang kecelakaan itu dan masih mengingat Jaehyun, atau banyak kejadian lainnya yang bisa membuat Doyoung tahu. Jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya Jaehyun sangat ingin menahan Doyoung di pulau ini. Jauh dari kehidupan luar, berbahagia di dalam surga mereka sendiri tanpa ada gangguan dari pihak manapun.

Tetapi tentu saja itu tidak mungkin. Mereka mau tidak mau harus kembali ke dunia nyata. Dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Jaehyun harus bersiap menghadapi yang terburuk setiap saat. Apakah Doyoung akan menuduhnya sebagai pembohong besar? Membangun pernikahan mereka di atas sebuah kebohongan?

Apakah dia harus memberitahu Doyoung sekarang? Tidak. Ini bukan saat yang tepat. Mereka begitu berbahagia sekarang. Saat-saat ini terlalu berharga untuk dinodai oleh kebencian di masa lalu.

Jaehyun menelan ludahnya dan mengangkat dagu Doyoung, agar menatapnya.

"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku, apapun yang akan terjadi nanti."

Lelaki itu tampak bingung. Doyoung membatin. Kenapa Jaehyun tampak begitu bingung? Apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam hati lelaki itu?

"Berjanjilah Do Doyoung!?" Suara Jaehyun mendesak, dipenuhi oleh kebutuhan.

Doyoung menyentuhkan jemarinya dengan lembut di alis Jaehyun yang berkerut, mencobamenenangkan suaminya.

"Aku berjanji Jung Jaehyunku."ucapnya

Suaminya mendesah lega, dan memeluknya era-erat. Mereka berpelukan diiringi deburan ombak dan taburan bintang.

"Kau harus mengatakan kepadaku." Lagi-lagi Rowoon menghalangi jalan Hyuna di lobby apartementnya.

Hyuna menatap Rowoon dengan jengkel. Beberapa hari ini Rowoon sangat mengganggunya, Lelaki itu muncul di mana saja, berusaha mengorek-korek rahasia yang mungkin disembunyikan oleh Hyuna.

"Aku bisa menyuruh polisi menangkapku kalau kau terus menguntit dan menggangguku seperti ini."

"Tidak perlu sampai seperti itu." Rowoon menarik napas frustrasi, "Aku hanya butuh jawaban."

"Bukankah aku sudah menjawabmu? Kau berkali-kali bertanya kenapa aku merayumu malam itu. Aku sudah menjawab mungkin karena aku sedang ingin bercinta! Titik! Itu saja jawabanku. Tetapi kau masih terus-menerus menggangguku. Sebenarnya kau ingin jawaban apa?"

"Karena jawabanmu bohong." Rowoon menatap Hyuna tajam, "Katakan padaku yang sebenarnya Hyuna, atau aku akan terus mengganggumu."

"Baiklah!" Hyuna setengah menjerit, tak tahan lagi. "Aku merayumu karena Jae... maksudku Jeffrey yang menyuruhku. Dia ingin membuat Doyoung memergokimu sedang bercinta denganku!"

"Kenapa Mr. Jeffrey ingin kau melakukan itu Hyuna? Apa yang dia inginkan dari Doyoung?"

Hyuna mengerang. Rowoon tidak akan berhenti mengorek informasi, dan dia tanpa sengaja telah membocorkan informasi penting kepada lelaki ini. Ya ampun. Jaehyun akan amat sangat marah kepadanya.

"Aku tidak tahu. Dia memintaku dan aku melakukan. Aku tidak bertanya apa tujuannya dan kenapa. Kalau kau memang ingin tahu, tanyakan pada Jeffrey sendiri." Hyuna mengibaskan rambutnya dan mebalikkan tubuhnya, kemudian berhenti dan menatap Rowoon penuh peringatan, "Jangan menggangguku lagi Rowoon. Atau aku akan melaporkanmu kepada polisi atas perbuatan tidak menyenangkan, dan aku tidak main-main." Serunya sebelum melangkah pergi, meninggalkan Rowoon termenung di sana.

Dahi Rowoon berkerut memikirkan jawaban Hyuna. Jantungnya berdegup kencang. Jadi benar semua dugaannya. Semua ini sudah direncanakan oleh Mr. Jeffrey.

Lelaki itu dari awal mungkin sudah mengincar Doyoung dan berniat menyingkirkannya, meskipun dengan cara yang licik. Rowoon menggertakkan giginya. Dia telah dijebak dan dipermalukan di depan Doyoung, tanpa kesempatan untuk membela diri. Kemudian Doyoung mencampakkannya begitu saja untuk menikahi Mr. Jeffrey.

Rowoon tidak akan tinggal diam. Dia akan membalas, ketika waktunya sudah tepat nanti.

"Aku ingin kau segera hamil." Jaehyun tersenyum sambil mengusap perut Doyoung. Mereka sedang berbaring di atas ranjang, bersiap untuk tidur setelah percintaan mereka yang panas dan bergelora. Tubuh mereka telanjang di balik selimut, saling memeluk erat.

Doyoung yang sudah setengah tertidur di pelukan Jaehyun langsung terjaga mendengarnya.

Hamil. Mengandung anak Jaehyun. Pikiran itu terasa begitu menyenangkan untuknya. Memiliki anak-anak dari Jaehyun, yang tampan dan eksotis dengan rambut gelap dan mata berkilauan, pasti amat sangat membahagiakan.

"Apakah kau mau mengandung anak-anakku?"

"Tentu saja Jae." Doyoung tersenyum dan mendongakkan kepalanya, menatap Jaehyun lembut, "Kau adalah suamiku. Pikirmu aku akan mengandung anak siapa kalau bukan anakmu?"

Jaehyun tertawa, tawa yang dalam dan terdengar seksi di telinga, mengalun lembut, "Kalau begitu kita harus giat mengusahakannya."

Doyoung mengangkat alisnya, "Kau melakukannya pagi, siang, sore dan malam... kurang giat apalagi?"

Tawa Jaehyun memenuhi ruangan. Dia memeluk Doyoung dengan lembut, berdoa semoga kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.

Seluruh pelayan sudah kembali ke rumah pagi ini dan kegiatan berlangsung seperti biasa.

Doyoung sedang di dapur belajar membuat kue kelapa bersama Alfred. Ketika suara ribut-ribut terdengar dari lorong, yang mau tak mau terdengar sampai ke dapur. Itu suara Jaehyun, lelaki itu sedang mengumpat-umpat di telepon. Mengumpat-umpat?

"Bagaimana mungkin dia bisa lolos? Ini pulau pribadi. Tidak sembarang orang bisa kemari." Kemarahan tercermin jelas dalam suara laki-laki itu.

Suara di seberang telepon menjawab, tampak mencoba menjelaskan dengan panik. Tetapi kemudian Jaehyun memotongnya dengan tajam.

"Sudah. Kita bicarakan keteledoran yang dibuat anak buahmu nanti. Kau yang harus menanggung ini semua. Nanti. Begitu aku selesai membereskan masalah ini." Lalu Jaehyun menutup teleponnya dengan kasar. Membuat Doyoung merasa kasihan pada siapapun yang menjadi lawan bicara Jaehyun di telepon.

Beberapa detik kemudian pintu dapur terbuka, dan Jaehyun masuk dengan wajah serius.

"Doyoungie." Jaehyun memanggil dari ujung dapur. Membuat Jaehyun yang sedang bertaburan tepung dan membantu Alfred membentuk kue di cetakan menoleh.

"Ya Jae?"

"Kemari, aku ingin bicara."

Jaehyun tidak pernah sekaku ini ketika berbicara kepadanya, membuat Doyoung mengerutkan keningnya. Apakah lelaki itu sedang marah. Kepada siapa? Kepadanya kah?

Dengan hati-hati dia melangkah keluar dapur, mengikuti Jaehyun ke arah teras samping. Jaehyun berdiri di sana, mondar-mandir dengan wajah gusar.

"Ada apa Jae?"

Lelaki itu melangkah mendekati Doyoung dan merengkuh kedua bahunya, membuat Doyoung dekat dengannya.

"Anak buahku mengacau. Kita akan kedatangan tamu. Bukan tamu yang menyenangkan, tetapi kita terpaksa menampungnya beberapa hari demi kesopanan. Aku harap kau mengerti."

Doyoung menganggukkan kepala. Sedikit lega mendengar perkataan Jaehyun, Jadi hanya karena masalah itu? Seorang tamu, meskipun terasa aneh karena datang di bulan madu mereka, tampaknya tidak menjadi masalah besar. Doyoung pasti bisa menghadapinya. Kalau begitu kenapa Jaehyun masih tampak begitu gusar?

Jaehyun yang masih mencengkeram kedua bahu Doyoung mendesah kesal. "Dia bukan tamu biasa. Dia mungkin datang untuk mengacau, seperti yang Minnie ramalkan. Aku minta maaf Doyoungie, aku tidak menyangka dia akan seberani itu, menyusulku kemari."

"Siapa Jae?" Doyoung berubah waspada, karena Jaehyun tampak begitu serius tentang tamu yang satu ini.

Jaehyun menatap Doyoung pahit. "Dia mantan kekasihku Sayang. Anak buahku mengatakan dia tidak bisa mencegah kedatangannya kemari. Sekarang dia sedang dalam perjalanan dengan perahu boat kemari. Maafkan aku."

Memikirkan bahwa Jaehyun mempunyai mantan kekasih sebelumnya, yang tentunya juga berbagi hal-hal intim bersama lelaki itu sungguh membuat semuanya terasa aneh.

Seharusnya Doyoung siap. Sooyoung dulu pernah mengatakan kepadanya bahwa Jaehyun pernah punya beberapa kekasih yang berhubungan dengannya tanpa status. Doyoung mungkin bisa melupakan itu semua kalau situasinya tidak seperti ini.

Seorang mantan kekasih yang nekad tampaknya bertekad merebut Jaehyun kembali. Dan Doyoung harus menghadapinya.

Astaga. Kenapa dia ada di dalam situasi begini? Apa yang harus dia lakukan? Dengan bingung Doyoung memencet nomor ponsel Sooyoung. Dalam deringan kedua ponsel itu di angkat.

"Ada apa Doyoung? Apakah kau sudah pulang dari bulan madumu?"

"Bukan Sooyoungie. Aku ingin menanyakan sesuatu."

"Tentang apa?"

"Tentang mantan kekasih Jaehyun."

Sejenak Sooyoung tertegun di seberang sana, lalu bergumam ragu. "Well sayang, menurutku ketika kita sudah menikah dengan seseorang, tidak perlu mengungikit-ngungkit masa lalu, apalagi mencari informasi tentang mantan pacar pasangan kita..."

"Bukan begitu Sooyoung. Aku bukannya ingin menyelidiki masa lalu Jaehyun. Aku hanya ingin tahu apa yang harus kuhadapi. Mantan kekasih Jaehyun.. entah yang mana tampaknya tidak terima dengan pernikahan ini, dan entah dengan jalan cerdik apa berhasil menyusul ke pulau ini... dia sedang dalam perjalanan kemari, dan sebentar lagi sampai."

"Apa?" Sooyoung memekik marah, "Siapa perempuan tidak tahu malu itu?"

"Kata Jaehyun, namanya Yeri."

"Yeri?!.. oh Astaga." Suara Sooyoung tertelan di seberang sana.

Doyoung mengernyitkan kening, tiba-tiba diserang perasaan buruk karena kediaman Sooyoung.

"Ada apa Sooyoungie? Kenapa kau terdiam?"

"Karena mantan pacar yang kau hadapi adalah musuh yang paling berat." Sooyoung menghela napas panjang.

"Yeri bisa dikatakan kekasih permanen Mr. Jeffrey, dia selalu kembali kepada perempuan itu. Yeri adalah perempuan keras yang mandiri, tampak tidak butuh laki-laki, dan hubungannya dengan Mr. Jeffrey hanya demi kenikmatan semata. Tetapi sepertinya dia tidak rela Mr. Jeffrey menjadi milik perempuan lain, karena dia terbiasa memiliki Mr. Jeffrey untuk dirinya sendiri. " Sooyoung menghela napas panjang, "Dia sangat pandai mengintimidasi lawannya. Hati-hati Doyoung. Jangan sampai kau tertekan di bawah auranya."

Doyoung mendesah ketika pembicaraannya dengan Sooyoung berakhir. Ternyata mantan pacar Jaehyun yang akan datang kemari adalah yang paling hebat di antara semuanya. Jantung Doyoung berdetak penuh antisipasi. Menanti apa yang akan terjadi nanti.

Ketika perempuan itu memasuki rumah, dengan koper-kopernya dibawa oleh para pelayan. Doyoung yang berdiri di belakang Jaehyun merasa bahwa mimpi buruknya benar-benar datang.

Bagaimana mungkin dia bisa menghadapi perempuan ini? Dia bagaikan dewi yang datang dari surga. Keseluruhan dirinya sangat sempurna. Dari caranya berpakaian yang berkelas, tubuh sempurnanya yang indah, bentuk wajahnya yang klasik dan sensual, dibingkai oleh rambut panjang indah berkilauan. Bahkan bentuk alisnyapun sempurna. Doyoung mengamati diam-diam dan merasa letih tiba-tiba.

"Kenapa kau datang kemari Yeri?" Jaehyun yang menyapa Yeri duluan, sikapnya waspada dan tidak bersahabat.

Yeri menatap Jaehyun dan tersenyum manis, "Kenapa kau tidak kemari dan memelukku seperti biasanya Jaehyun? Aku rindu pelukanmu." Suara Yeri terdengar rendah dan seksi.

"Dan kenapa aku kemari? Itu karena aku merindukanmu. Aku pulang dari luar negeri dan menunggu panggilanmu. Biasanya kau akan menghubungi dan menemuiku, aku sudah tak sabar melewatkan waktu berdua denganmu. Tetapi kau tidak mengunjungiku. Lalu kudengar kau sedang ada di pulau ini, jadi aku menyusulmu kemari."

Yeri sudah jelas menyadari kehadiran Doyoung di belakang Jaehyun, tetapi hal itu tidak membuatnya menahan kata-kata vulgar dan penuh rayuannya pada Jaehyun. Apakah Yeri tidak tahu bahwa Jaehyun dan Doyoung sudah menikah?

Doyoung menghela napas dan mengalihkan pandangan kepada Jaehyun. Suaminya itu tampak tidak suka dengan kata-kata Yeri. Lelaki itu mundur, seolah menjaga Doyoung dari sambaran Yeri.

"Aku sedang berbulan madu, Yeri. Dengan isteriku."

"Oh?" Yeri tampak tidak kaget. Berarti perempuan itu sudah tahu bahwa Doyoung adalah isteri Jaehyun, betapa kejamnya dia mengucapkan kalimat penuh rayuan tadi kalau begitu.

"Tidak masalah untukku." Suara Yeri terdengar manis, "Aku ingin bertemu denganmu Jaehyun, bukan dengan isterimu." Dengan langkah anggun dia mendekat dan berdiri di depan Jaehyun dan Doyoung. Matanya dengan sengaja menelusuri Doyoung dari atas ke bawah. Doyoung tentu saja tidak sama dengan Yeri, dia tidak mengenakan baju rancangan desainer ternama, hanya mengenakan kemeja longgar berwarna putih dan celana jeans yang sudah memudar warnanya.

Senyum Yeri kemudian lebih seperti senyuman mencemooh, "Doyoung bukan nama isterimu?"

Yeri tersenyum manis kepada Jaehyun, seolah tidak menganggap Doyoung ada, "Aku ingat saat-saat manisku ketika aku mendengar nama Doyoung." Senyum Yeri tampak penuh arti dan tatapannya menggoda penuh rahasia, yang seketika itu juga membuat wajah Jaehyun merah padam karena marah.

Yeri tertawa ketika melihat reaksi kemarahan Jaehyun yang diharapkannya karena sindirannya, dia mengedikkan bahunya ke arah tangga, "Kuharap pelayan bisa menunjukkan di mana kamar tamunya, aku lelah karena perjalanan ini. Mungkin aku akan istirahat dantidur sejenak." Dengan nakal dikedipkannya matanya kepada Jaehyun.

"Meskipun aku tidak akan menolak kunjungan singkat di siang hari seperti yang biasanya kau lakukan dulu Jaehyun." Yeri membalikkan tubuhnya dan melangkah anggun. Meninggalkan Jaehyun dan Doyoung yang membeku di dalam keheningan. Keheningan tidak mengenakkan yang menyesakkan dada.

To Be Continued?

Selamat malam jumat =)

vote and comment guys.

Gomawo !