Zephyr

2017

Wanda Grenada

Desclaimer: Naruto, Masashi Kishimoto

Chapter 3: Fans Club


"Sial! Aku lupa bawa uang jajanku." Umpat Naruto sambil meraup rambutnya sendiri. Naruto dan Sasuke saat itu sedang berjalan kearah lapangan untuk sama-sama bermain futsal menyusul teman-temannya yang sudah nyolong start. Terik matahari tidak mereka gubris asal mereka bisa bersenang-senang. Jam istirahat kedua waktunya lebih lama dari jam istirahat pertama, maka dari itu mereka sering melakukan satu set pertandingan 10 x 2.

"Aku sedang dalam masa petumbuhan, bagaimana aku bisa tumbuh besar jika aku tidak makan."

Sasuke tidak menghiraukan sahabatnya itu. Dia selalu saja memberi kode meminta makanan atau traktiran di jam istirahat. Kemana perginya jatah uang jajan bulanan dari ibunya.

"Hey, teme.. kau mau tidak—"

"Tidak." Sahutnya cepat sambil mendahului Naruto.

"Tapi aku belum mengatakan apapun!" protes Naruto menyamakan langkah Sasuke.

"Waktu terakhir kali aku meminjamkan uang, aku pastikan itu adalah terakhir kali aku meminjamkan uang. Kau sudah berhutang banyak padaku." Ya, ia bukan Bandar uang yang bisa seenaknya mengeluarkan uang. Selama ia masih sekolah, uang jajannya pun masih di kontrol oleh sang kakak. Jadi walaupun ia punya banyak uang dan bisa melakukan apa saja, ia juga harus pintar me-manage uang. Pengeluaran Naruto untuk kebutuhan main game tidak masuk dalam daftarnya.

"Aku kan sudah bilang akan menggantinya jika uang bulananku sudah turun." Naruto masih mencoba peruntungannya dan berharap Sasuke masih mempercayai kata-katanya.

"Sudah satu tahun aku mendengar hal yang sama darimu." Tapi Sasuke tidak sebodoh itu. Selama ini ia hanya mencoba bersikap baik kepada sahabatnya, bahkan ia meminjamkan uang untuk kebutuhan bodoh Naruto yang tergila-gila dengan salah satu game MOBA. Entah kenapa game pay for win sedang dalam masa jayanya, dan mereka sama sekali tidak merasakan bahwa mereka sedang di bodohi. Yah, itulah yang dinamakan kecanduan. Lama-kelamaan Naruto jadi parasit yang suka meminjam uang. Dan itu bukanlah hal yang bagus.

Sasuke duduk di bangku penonton, menunggu giliran untuk bermain. Diikuti oleh Naruto yang juga duduk di sebelahnya.

"Oh ayolah teme, setidaknya kau mau kan berbagi makanan denganku?"


Aula menjadi tempatnya nongkrong hari ini. Hinata coba mendudukkan dirinya di deretan bangku kosong yang tersusun bekas acara seminar anak kelas 12 hari kemarin mengenai kiat-kiat sukses. Tidak tanggung-tanggung, seminar itu di hadiri oleh seorang CEO muda yang namanya sedang naik daun, Momochi Zabuza.

Ia tidak terbiasa makan di kantin. Ia biasa makan di ruang kelas jam berikutnya setelah istirahat, agar nanti ia tidak perlu repot-repot dan bersusah payah untuk menghindari tatapan mata orang-orang yang memandangnya sinis.

Tapi sial, ruang kelas jam pelajaran selanjutnya masih di pakai. Guru yang mengajar di kelas itu egois dan kekeh memaksakan anak murid untuk melewatkan jam istirahat, mengambil hak mereka dan memerintahkan harus menyelesaikan tugas mereka jika ingin istirahat. Walau bukan Hinata yang merasakan, tapi Hinata ikut kecewa.

Tasnya ia pangku di pahanya, kemudian ia membuka kotak makannya. Sandwich sederhana buatannya terlihat menggoda. Mungkin karena rasa lapar diperutnya yang meraung-raung sejak tadi. Sesegera mungkin ia menghabiskan makanannya sebelum ada orang yang masuk kesini. Tapi bahkan sebelum ia berhasil merapikan tempat makannya dan melenggang pergi dari tempat ini, recananya di tahan oleh kedatangan beberapa gadis yang tiba-tiba. Saking paniknya ia bersembunyi, jongkok diantara kursi-kursi dan mengintip dari bawah meja.

'itu kan...'

Sasuke Fans Club, adalah sebuah organisasi illegal di sekolah dengan anggota terbanyak yang didirikan sejak dua tahun lalu, saat angkatannya masuk ke Akademi Konoha. Organisasi itu berawal dari obsesi seorang Karin Uzumaki kepada Sasuke Uchiha. Ia sangat mencintai Sasuke, sangat tergila-gila padanya, walaupun Sasuke tidak akan pernah meliriknya barang sekalipun. Sadar akan ketidakmampuannya untuk menaklukkan hati sang pujaan, ia tidak menyerah. Sampai kapanpun tidak akan, dan tidak akan rela menyerahkan Sasuke pada orang lain. Walaupun Sasuke bukan miliknya.

Berangkat dari sanalah, ia mulai memanipulasi orang-orang di sekitarnya. Tentu saja ia tau ia bukanlah satu-satunya orang yang mengharapkan Sasuke. Ia kemudian mengajak orang-orang sejenis yang menyukai Sasuke untuk berkumpul dan menjaga Sasuke. Tidak ada yang boleh mendekati Sasuke, tidak ada yang boleh berpacaran dengan Sasuke atau mereka akan bergerak untuk memusnahkan orang tersebut, dengan cara apapun. Sasuke adalah milik bersama.

"Hey, aku dengar ada gadis di luar Fans Club kita yang sedang mendekati Sasuke-kun!" kata seorang gadis cantik yang Hinata tau adalah Shion. Sangat disayangkan gadis cantik itu lebih memilih mengejar cinta bertepuk sebelah tangannya daripada puluhan orang yang mengantri untuk mendapatkan cintanya.

"Benarkah?! Siapa orang itu? Tidak akan kubiarkan dia dekat-dekat dengan My Sasuke-kun!" dan Karin, sang foundersekaligus leader mereka. Orang ini bukan saja punya kekuasaan di anggota Club-nya saja, mengingat sistem dalam lingkup sosial di sekolah mereka menganut sistem Kapitalis, maka dari itu, sebagai anak dari pemilik perusahaan ritel dan politisi terkenal di jepang, Karin sangat menikmati kehidupannya yang di manja dengan uang.

"Ya, ya.. teruslah bermimpi Karin. Entahlah, aku baru tau berita itu dari Ino." Jawab Shion.

"Halah, Ino. Paling-paling ia cuma ingin cari sensasi dengan memberi informasi hoax. Masa iya setelah kejadian minggu lalu masih ada yang berani dekat-dekat Sasuke."

Kejadian minggu lalu? Yang bisa diingat oleh Hinata adalah berita heboh ketika seorang murid kelas 10 sekonyong-konyong menyampaikan surat pengunduran diri kepada kepala sekolah tanpa alasan yang jelas. Jadi apakah ada hubungannya antara kejadian itu dan orang-orang ini? Mungkin Hinata saat ini hanya sedang salah paham dan salah mengartikan. Tetapi ia tidak bisa menghindari rasa penasaran yang muncul di benaknya.

"Okay girls.. kita harus keep watching! Jangan sampai Sasuke-kun direbut dari kita. Setuju?!" Karin meneriakkan semangatnya

"Setuju!" dan dibalas oleh kroni-kroninya.

Sampai segitunya mereka tergila-gila pada Sasuke. Hinata tidak tau mana yang lebih lucu, tingkah gadis-gadis remaja labil yang terobsesi itu atau posisinya kali ini. Ia tidak tau mengapa ia begitu ketakutan sampai-sampai bersembunyi di bawah meja dan menguping pembicaraan orang lain sambil menikmati sandwichnya. Kakinya mulai merasakan kesemutan, namun apa jadinya kalau tiba-tiba ia muncul dan ketahuan sedang menguping? Apakah ia akan mengatakan Peek-a-boo, tiba-tiba muncul dari kolong meja kemudian mereka tertawa? Oh tidak, tentu saja tidak akan begitu. Yang ia bisa kini hanya mempertahankan posisinya untuk tetap seperti itu, selama ia tidak membuat suara, ia yakinkan dirinya aman.

Dari bawah kolong meja ia mengintip sedikit dan melihat Karin mengeluarkan sebatang rokok dari kantungnya dan memantiknya.

'Apa? Dia merokok?' padahal peraturan di sekolah sudah jelas-jelas mengatakan bahwa baik murid laki-laki ataupun perempuan, tidak boleh merokok di area sekolah.

Hinata menutup mulut serta hidungnya. Hinata tidak toleran dengan asap rokok, mati-matian ia menahan nafas agar keberadaanya masih tidak diketahui. Ia paling tidak bisa menghirup asap rokok. Inilah yang ia benci dari para perokok. Sekalipun segelintir dari mereka paham ada orang di sekitarnya yang tidak toleran terhadap asap rokok, mereka tetap acuh tak acuh dan tidak memperdulikan keadaan orang di dekatnya.

Hinata masih menutup mulutnya. Ia hampir saja terbatuk jika ia tidak berhasil menahannya. Ia harap mereka segera pergi karena Hinata sudah tidak tahan lagi.

"Kariiin! Sasuke-kun ada di lapangan!" seru seseorang yang berteriak dari kejauhan.

"Benarkah?!" Karin langsung melempar puntung rokoknya ke sembarang arah, benda itu terlempar tepat berada di depan Hinata. "Tunggu aku Sasuke-kun.." Ia memakai parfum yang ia bawa di saku seragamnya sampai-sampai wanginya memenuhi satu ruangan. Setelah itu, ia berlari sangat cepat membawa serta pasukannya meninggalkan tempat itu dan menghampiri "pangeran" mereka.

Huff.. hari ini keberuntungan ada di pihaknya. Hinata menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu berdiri, merapikan roknya. Ia bermaksud untuk mengambil buku-bukunya di loker yang belum sempat ia ambil. Saat melewati puntung rokok yang Karin lempar, Hinata menginjaknya, mematikan api dari rokok itu. Jangan sampai ulah Karin membahayakan sekolah.

Ia keluar dari ruangan itu dan berpapasan dengan Ma'am Kurenai. "Selamat siang Ma'am Kurenai." Sapa Hinata sambil membungkukkan badannya.

"Selamat siang, Hinata. Apa yang sedang kau lakukan di aula sendirian?" tanya Kurenai iseng sambil membenahkan buku-buku yang ia pegang. Namun pertanyaan iseng itu ditanggapi serius oleh Hinata. Ia bingung harus menjawab apa. Apakah ia memberitahu saja perihal Karin yang baru saja merokok di aula? Tapi ia punya bukti apa? Lagipula kalau ia mengadu, resikonya teramat besar untuk Hinata Hyuuga.

"Eh.. i-itu, a-aku mencari kotak makanku yang tertinggal." Ia mengangkat kotak makannya keatas, menunjukkan bahwa inilah yang ia cari-cari.

"Ooh, begitu."

"Bisa aku membantumu membawa buku-buku itu Ma'am?" tanya Hinata, ia ingin bersikap baik pada wanita hamil itu. Setidaknya ini bisa menghabiskan sisa waktu jam istirahatnya daripada hanya duduk di bangku pojok sendirian.

"Ah, tidak terimakasih. Aku tidak ingin memotong jam makan siangmu. Lagipula aku hanya akan ke ruang OSIS." Wanita dengan blazer merah itu menolak niat baik Hinata dengan halus, karena memang ruang OSIS berada tak jauh dari sana. Dan jujur saja, ia mencurigai gelagat Hinata.

"Baiklah kalau begitu, aku permisi." Dengan begitu Hinata pergi dari sana.

"Selamat siang Ma'am, boleh aku bantu?" Yahiko, sang ketua OSIS dengan senyum semangatnya yang paling sumringah, saat itu akan menuju kelasnya dan berpapasan dengan Kurenai, ia menyapanya.

"Terimakasih. Aku ingin kau memeriksa ruang aula, apakah ada sesuatu yang tak beres disana. aku menghirup bau asap rokok." Kurenai, entah kenapa semenjak kehamilannya hidungnya jadi sangat sensitif untuk mencium bau-bauan. Ia menyesali harus mencurigai murid yang selama ini ia kenal baik. Tapi sebagai wakil kepala bidang kesiswaan, ia tidak diberi kesempatan untuk pilih kasih.

"Siap ma'am." Jawab Yahiko.

"Kalau begitu terimakasih ya."


Sasuke sedang menendang bola kearah gawang ketika Karin dan kroni-kroninya datang dan meneriakkan namanya. Ia gagal untuk mencetak gol.

"Shit!"

"Kalau main jangan rakus dasar teme!" protes Naruto yang merasa kesal pada temannya. Bayangkan sedaritadi ia berlari untuk menunggu Sasuke mengumpankan bola padanya untuk mencetak gol, namun Sasuke tidak kunjung mengoper bola dan asik dengan permainannya sendiri. Pada akhirnya ia gagal mencetak gol.

Sasuke mendecih, mau di oper pun ia tau Naruto tidak akan bisa mencetak gol juga.

"Kau keren Sasuke-kuuuuun!" teriak para gadis dari pinggir lapangan. Mereka datang untuk men-support Sasuke. Bahkan beberapa dari mereka membawa poster bertuliskan kata-kata penyemangat untuk Sasuke yang bahkan sampai kapanpun tidak akan mempengaruhi Sasuke dari segi manapun kecuali membuat konsentrasinya terganggu.

'cih, apapun yang dilakukan Sasuke pasti selalu keren di mata mereka.'

Itu adalah suara iri dari hati Naruto secara alami. Siapa yang tidak? Bahkan Sakura Haruno yang menjadi pujaan hatinya juga anggota dari penggemar Sasuke. Ia mau marah pada sahabatnya tidak bisa, wong sahabatnya tidak melakukan apa-apa yang menghalangi jalannya. Keberadaan sahabatnya itulah yang menghalangi jalannya. ia berada dalam bayangan sahabatnya. Tentu saja ia tidak bisa menyalahkan hal itu. Kendati demikian, ia tetap tidak bisa untuk tidak menaruh rasa iri pada seorang Sasuke Uchiha.

Mereka kembali ke kursi penonton dan mengelap keringat dengan rompi. Menenggak air minum dan mencuci wajah mereka dengan air saat bel tanda istirahat telah usai berbunyi. Para gadis yang berkumpul di pinggir lapangan akhirnya membubarkan diri dan pergi ke alamnya masing-masing.

"Teme, apa pelajaranmu selanjutnya?" tanya Naruto sambil memakai rompinya.

"Sejarah." Sasuke menyampirkan rompinya di pundak.

"Hey, aku belum makan.. kita makan dulu bagaimana?" tawar Naruto. Kalau begini Sasuke sudah tau juntrungannya. Ia tau Naruto bukannya sekedar ingin mengajak makan siang melainkan dia ingin mengajaknya membolos jam pelajaran. Kebetulan ia juga belum makan.

"Kelasmu Kimia, ya?" tebak Sasuke.

"Brisik kau."


"Jadi kalian mau pilih yang mana?" Ino menjejerkan foto-foto Sasuke di meja yang dikerubungi para fangirls.

"Umhh.. aku pilih yang dua ini." Setelah menimbang-nimbang, Sakura akhirnya memilih dua foto yang menampilkan gambar Sasuke sedang bermain Handphone dan sedang bermain bola.

"Kalau begitu sisanya untukku." Karin mengambil empat foto yang tersisa, merasa menang karena ia bisa membeli keempatnya.

"Ya.. kau tau 'kan tidak mudah mendapatkannya terutama saat ia sedang memakai baju rumah. Jadi aku…"

"Akan kubayar dua kali lipat!" potong Karin.

"Ahahah… Aku senang kita bisa saling mengerti." Ino tertawa garing sambil menghitung-hitung uang yang diberikan oleh Karin dan Sakura. "By the way, girls.. ada yang ingin kusampaikan pada kalian."

"Jika itu tentang Sasuke, apapun itu adalah prioritas untuk kami." Ujar Sakura.

"Ada gadis yang sedang dekat dengan Sasuke, aku melihatnya di Mansion Uchiha kemarin."

"Oh, ayolah Ino.. akan kami bayar sesuai yang kau tentukan. Cepat katakan yang tuntas!" Sahut Karin gemas pada Ino yang membuatnya penasaran.

"Bukan begitu, mengikuti seorang gadis bukan perkara yang mudah. Jadi jika ingin hasil bagus harus sabar menunggu. Bukankah begitu peraturan dalam berbisnis?" Ino berkacak pinggang, merasa bahwa ia adalah seorang yang dibutuhkan dan bukan membutuhkan.

"Kau sedang tidak berusaha mengelabui kami 'kan?" Karin menatapnya tajam lewat kacamatanya, namun Ino sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh hal itu.

"Apa? Yang benar saja. Kalau bisa aku akan mengambil gambarnya kemarin. Sayang baterai kamera ku low pada saat yang sama."

"Baiklah Ino. Tapi sebaiknya kau cepat sebelum hubungan mereka semakin jauh. Ayo Sakura, kita kembali ke kelas." Kemudian Karin keluar dari kelas itu diikuti oleh Sakura.

Inilah yang Ino sukai dari para Fangirlsnya Sasuke. Mereka rela membayar berapapun asal itu tentang Sasuke, ia mensyukuri berbagai sikap berlebihan mereka yang menguntungkannnya. Ino memang sudah sering menjual berita dan foto terbaru Sasuke. Tidak sia-sia juga ia punya kamera digital yang ia beli hasil usahanya sendiri. Sekarang ia punya laba yang lebih besar dari si kamera yang tadinya diperuntukkan membuat majalah sekolah.

Namun kini kamera itu sudah beralih fungsi menjadi Paparazzi-nya Sasuke, kini ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan para Fangirls dengan bayaran yang jauh lebih tinggi daripada menjadi pengurus kabar berita sekolah, mading atau apalah itu. Masa bodoh dengan pendapat orang yang menganggapnya bagian dari Fans Club konyol itu. Yang penting uang bisa mengalir ke kantungnya, apapun itu ia tidak peduli.

Sekarang ia punya tugas baru lagi yang harus ia kerjakan.


"Ketua Yahiko menyebalkan." Keluh Suigetsu saat ia mulai berjalan ke ruang Aula. Seharusya sekarang ia ada di perpustakaan untuk membaca buku tentang 7 pedang legendaris pesanannya yang hari ini sampai di perpustakaan. Tapi tiba-tiba hari santainya tidak berjalan dengan mulus karena mandat dari ketua OSIS dilayangkan padanya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut saja. Kinerjanya pasti sedang dinilai, dan dimanfaatkan tentunya.

"Padahal kan dia yang disuruh memeriksa ruangan ini, kenapa malah dioper ke aku. Dasar si pamer wajah. Selalu begitu, ia menerima tugas tapi ujung-ujungnya tugas itu malah di oper ke orang lain. Aku tidak yakin ia punya tugas yang lebih penting. Paling-paling dia cuma mau berduaan dengan Konan-senpai." Gumam Suigetsu lagi. Juugo yang menemani Suigetsu melaksanakan tugasnya hanya diam dan mendengarkan keluh kesah partner-nya hari ini. Ia ikut memeriksa sudut demi sudut di ruangan itu.

Dengan raut wajahnya yang merengut tidak enak dipandang dan hati yang tidak ikhlas, ia masih berusaha untuk melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai seorang junior. Ia harus menuntut surat rekomendasi pencalonan ketua OSIS untuk periode berikutnya setelah ini.

Alhasil, matanya menemukan benda yang mencurigakan itu. Puntung rokok.

Kurenai sedang berada di ruang OSIS saat jam istirahat sudah dimulai, ia mengerjakan tugasnya sebagai guru pengajar untuk mengoreksi hasil ulangan harian para murid. Ia punya kelas di sesi berikutnya namun ia sedang enggan menuju ke ruang guru hari ini. Ia berakhir di ruang OSIS sambil menunggu kabar dari OSIS yang ia perintahkan untuk menyisir ruang Aula.

Suigetsu segera berlari tergesa-gesa menuju ruang OSIS untuk menemui Ma'am Kurenai. Terkadang ia malas mencari-cari sebuah pokok permasalahan yang hasilnya selalu nihil, pada dasarnya murid-murid disini selalu punya cara untuk mengelabui para pengawas ketertiban. Namun kali ini ia senang bukan main ketika berhasil menemukan sebuah barang bukti yang di tafsirkan mitos oleh otaknya dan segera melaporkan pada Ma'am Kurenai.

"Ma'am! Aku menemukan ini di Aula!" Suigetsu menunjukkan sebuah puntung rokok yang ia temukan. Kurenai terlonjak karenanya, ia mengelus-elus dada dan perutnya. Tidak percaya pada apa yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sediri.

"Cepat panggilkan Toneri!"


"Jadi kau yang namanya Hinata Hyuuga?" di ruang Interogasi, hanya ada dirinya dan seorang gadis yang baru saja menjadi penolongnya di kelas Fisika sialan. Ini memang ruangan detensi, namun karena persoalan yang di telisik masih belum kontras, jadi yang menanganinya kali ini adalah OSIS. Ma'am Kurenai sudah memberitahu Toneri tentang kasus ini, dan memberitahunya untuk tidak terlalu keras pada murid kesayangannya. Anak perempuan itu yang duduk di depannya hanya menunduk dan mengangguk, membenarkan pertanyaannya.

"Bahkan, Ma'am Kurenai tidak percaya dengan apa yang kau lakukan." Toneri menyilangkan kedua lengannya di depan dada, berlagak tegas didepan gadis manis yang sedang ia periksa.

"Me-memangnya ap-apa yang telah kuperbuat?" Gadis itu, si Hinata menatapnya ketakutan. Oke, ia mengakui bahwa ia memang punya aura menakutkan dalam dirinya, sekali lihat orang bisa tau. Terlebih dengan gayanya yang lebih nyentrik dibanding anggota OSIS lain.

"Jangan pura-pura tidak tau!" Bentak Toneri sambil melemparkan barang bukti berupa sebuah puntung rokok. "Kau ada di Aula saat jam istirahat. Benar begitu?!"

"Be-benar.. itu benar ta-tapi aku tidak.." Hinata kesal sendiri dengan kebiasaannya yang tergagap ketika sedang gugup dan ketakutan. Ia merasa dirinya terdengar lebih mencurigakan jika sedang dalam situasi dan kondisi seperti ini. Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, air mata mencelos begitu saja dan sesegukan menyusulnya.

Sekarang Hinata tau kenapa Karin memakai parfum. Ia menggunakan parfum untuk menyamarkan bau asap rokok di seragamnya. ia juga bisa mengerti kenapa Ma'am Kurenai mencurigainya, karena begitu ia keluar dari ruang Aula itu, bau asap rokok menguar dari seragamnya. Terlebih, barang bukti yang ada di depannya menguatkan sebuah dugaan yang baru saja dituduhkan kepadanya.

Ia mengerti, sekarang semuanya jelas. Hal itu membuatnya menangis. Ia bingung bagaimana caraya ia menjelaskan bahwa ia bukan orang yang bersalah. Ia masih takut untuk mengadukan kelakuan Karin yang ia lihat jelas dengan mata kepalanya sendiri, tapi tanpa bukti apa-apa, Salah-salah ia malah dikira melemparkan kasus ke orang lain dan melebar-lebarkan masalah ini.

"Aku tidak akan tertipu dengan air mata buayamu itu." Ejek Toneri. Tentu saja ini bukan kali pertamanya melihat seorang gadis menangis, mengaku itu bukan kesalahannya, dan memohon padanya untuk tidak memanggil orang tua. Fakta itu membuatnya tau bahwa ternyata mayoritas murid-murid disini bakatnya adalah berakting.

Hinata mengelap air matanya. Ia tidak sedang mengharapkan belas kasihan pada orang ini. Ia juga mengerti, dari sudut pandang Toneri ia pasti sedang berpura-pura ini bukanlah kesalahannya. Dan jika Hinata bukan sedang dalam situasi ini, Hinata akan sangat kagum pada sikap tegas Toneri. Namun sekarang tidak, Hinata tetap tidak bisa menerima jika ia yang disalahkan. Disamping itu, ia juga takut untuk melaporkan yang sebenarnya terjadi. Serba salah yang ia hadapi.

Sejujurnya Toneri tidak sampai hati jika harus memarahi gadis itu, namun tugas tetaplah tugas. Ia harus bersikap tegas untuk mendisiplinkan para murid yang melanggar aturan, untuk itulah ia dipilih sebagai komite disiplin untuk menjaga ketertiban dan keamanan siswa. Tetapi kenyataannya, saat ia melihat gadis itu menangis sembari menatapnya, hatinya mencelos dan jadi melunak entah kenapa. Mungkin karena AC yang ada di ruangan ini mati. Dilihat dari manapun juga, gadis ini tentu saja bukan seorang yang hobi melanggar aturan, walau itu hanya sekedar tidak membawa dasi ke sekolah. Track recordnya disekolah ini bersih.

Dan jangan lupa gadis ini adalah orang yang sama dengan "Malaikat" yang menolongnya saat ulangan Fisika sialan itu.

Toneri menghela nafas, normalnya, ia tidak akan mengasihani siapapun yang sudah masuk ke ruang detensi. "Baiklah. Karena kau sudah menolongku saat ulangan dadakan di kelas Ms. Anko dan karena AC ruangan ini mati, kau ku bebaskan."

Hinata terlonjak. Apa ia tidak salah dengar? Ia tidak tau mana yang lebih mengejutkannya. Fakta bahwa orang ini membebaskannya dari hukuman atau karena orang ini mengingat kejadian satu jam yang lalu saat Hinata memberikannya jawaban dan.. ermm… membiarkannya merebut kertasnya (?). Itu adalah sebuah keajaiban. Orang itu pasti punya ingatan yang sangat baik.

"Dengan syarat…"


AN: Aku ingin sampaikan klarifikasi buat chapter ini.

Yak, kemudian inilah chapter 3 nya, di barengi dengan perubahan karakter disini. Padahal aku sedang nulis chap 4 , ngga aku lanjut karena aku memang masih nyari karakter yang pas buat jadi saingan Sasuke. Sempet kepikiran mau mandek lagi tadinya hwhwhw. Dan tiba-tiba Miss Taurus datang membawa ide lewat reviewnya, bagai malaikat. Kalo bisa ku peluk, ku peluk sampe sesak hihiw.

Aku sama sekali ngga kepikiran tentang Toneri waktu remake cerita ini. Padahal dulu sempet bikin storyboard buat ToneriXHinata. Tapi namanya manusia terkadang ada saatnya ngga bisa memilih pilihan yang tepat.

Sebenernya pertama kali buat cerita ini pemerannya memang Hidan, dan waktu itu belum ada karakter Toneri. Mau pakai karakter lain kurang sreg dan entah kenapa aku pilih Hidan. Karena dia menurutku tipe yang pas buat jadi karakter underrated karena penampilannya.

And karena ada perubahan karakter disini, mungkin ada yang kurang nyaman atas kelabilanku. Ya, aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena aku menulis untuk selingan dari hobi-hobiku yang lain. Itu yang mengakibatkan sulit untuk memerhatikan detail. Lain kali aku akan lebih hati-hati.

Aku nulis ini supaya ngga ada kesalahpahaman aja sih. Aku minta maaf atas kesalahan fatalku yang kesekian kalinya ini. Aku harap kalian ngga keberatan mengenai pilihan aku. Rasanya aneh sih, kayak sebuah klarifikasi tapi ekstrim. Soalnya cerita udah di publish. Istilahnya film lagi jalan tiba-tiba tokohnya ganti wkwkwk.

Terimakasih buat orang-orang yang bersedia membimbingku lewat review, pm, kirim e-mail dan lain sebagainya. Aku ngga bisa bilang apa-apa selain terimakasih yang sebanyak-banyaknya, dan juga…

Terimakasih sudah membaca

Wanda Grenada