Unforgiven Hero Bab 9

"Doyoungie." Jaehyun meraih lembut jemari Doyoung yang melangkah menjauh. "Tolong dengarkan aku dulu."

Doyoung menatap Jaehyun dengan marah. "Kenapa kau harus membawaku ke dalam situasi ini Jaehyun? Dia, perempuan itu tampak sekali sangat membenciku, dan sepertinya ingin menyingkirkanku. Dan dia tahu bahwa kita sudah menikah dan berbulan madu, tetapi dia tetap datang dan tidak mempedulikanku."

"Aku akan mengusirnya. Segera. Sementara itu kita harus menahan diri." Jaehyun merangkum jemari Doyoung dan mengecupnya, "Aku juga membenci kehadirannya, Doyoungie, lebih benci darimu. Tetapi Yeri perempuan yang kejam. Aku takut kalau kita tidak hati-hati melangkah, dia akan berbuat jahat kepadamu."

Doyoung mendesah kemudian menghela napas panjang, "Iya Jae, maafkan aku, mungkin aku terlalu bingung dengan ini semua."

"Aku yang harus meminta maaf karena menempatkanmu ke dalam situasi seperti ini."

Jaehyun merengkuh Doyoung ke dalam pelukannya, "Kita akan mengatasinya bersama. Bagaimana?"

"Baiklah." Doyoung memejamkan matanya dan menempelkan pipinya ke dada Jaehyun yang hangat. Membiarkan lelaki itu membuainya.

Sementara itu di depan pintu kamar tamu yang terbuka di lantai dua. Yeri berdiri dan menatap ke bawah. Pemandangan dua pasangan yang saling berpelukan mesra itu tampak jelas dari atas. Membakar hatinya, membuat matanya menyala penuh kebencian.

Jaehyun duduk dengan gusar di ruang kerjanya. Doyoung tadi tertidur di ranjangnya, dan menolak bercinta dengannya. Kedatangan Yeri telah merusak moodnya. Tentu saja, perempuan mana yang tidak rusak moodnya ketika menghadapi bahwa mantan kekasih suaminya dengan tidak tahu malu menyusul mereka di saat mereka masih berbulan madu.

Tetapi Jaehyun tidak bisa bertindak gegabah. Yeri perempuan pandai yang licik dan sedikit jahat ketika ingin mencapai tujuannya. Dia akan menggunakan segala cara untuk memperoleh apa yang dia mau. Meskipun itu harus melindas orang lain.

Tadi, Yeri sudah menyiratkan ancaman ketika mengatakan 'nama Doyoung membuatnya terkenang akan masa masa indahnya' Jaehyun tahu persis apa maksud perkataan Yeri. Dia menyiratkan bahwa dia akan memberitahu Doyoung bahwa Jaehyun sering menggunakan Yeri ketika mereka bercinta, dengan memanggil dan menganggapnya sebagai Doyoung.

Dengan frustrasi Jaehyun mengacak rambutnya, kenapa Yeri menyusul kemari? Dia tidak habis pikir. Hubungan mereka sudah berakhir. Jaehyun sudah mengakhiri hubungan mereka baik-baik dan waktu itu Yeri tampak menerimanya dengan baik pula.

Apakah pada saat itu Yeri masih berpikir bahwa Jaehyun akan kembali kepadanya? Dan ketika ternyata Jaehyun menikah dengan Doyoung, hal itu memicu sifat posesif perempuan itu?

Jaehyun harus mencari cara untuk menyingkirkan Yeri dari pulau ini. Jauh-jauh dan tidak akan kembali lagi untuk mengacaukan hidupnya. Tetapi dia harus berhati-hati melakukannya.

"Makanan ini enak sekali." Yeri sepertinya sudah berdandan habis-habisan untuk makan malam mereka. Gaun suteranya panjang dan berwarna kemasan, nampak membungkus tubuh indahnya dengan sempurna dan indah. "Mungkin aku harus membujuk koJungu supaya mau ikut denganku."

"Alfred tidak akan mau. Baginya pulau ini adalah rumahnya."

Yeri tersenyum sensual kepada Jaehyun, "Ah, kau seperti lupa bagaimana caraku membujuk dan merayu Jaehyun, mungkin aku harus mencari kesempatan untuk mengingatkanmu kembali."

Doyoung hampir tersedak mendengar rayuan yang diucapkan dengan gamblang itu.

Oh! Astaga, apakah dia harus menghadapi itu setiap hari ketika Luna ada di sini? Dia merasakan sengatan perasaan aneh setiap Yeri merayu Jaehyun entah dengan bahasa tubuhnya ataupun dengan kata-kata tersiratnya. Seperti sengatan perasaan marah yang membuat dadanya panas. Membuatnya terdorong untuk menyembunyikan Jaehyun di balik punggungnya, lalu menghadapi Yeri dengan galak sambil berteriak 'Jaehyun adalah Suamiku'.

Apakah dia merasa cemburu? Doyoung mengernyitkan keningnya sambil mengaduk-aduk makanan di piringnya. Oh astaga. Kalau benar dia cemburu berarti dia mempunyai perasaan lebih kepada Jaehyun.

Apakah dia mencintai lelaki itu? Mungkin saja. Mungkin saja dia sudah mencintai lelaki itu tanpa sadar di saat-saat kebersamaan mereka yang menyenangkan, di saat-saat percintaan mereka yang penuh gairah sekaligus kelembutan.

Mungkin saja Doyoung sudah mencintai Jaehyun.

"Kenapa kau tidak menyantap makananmu Sayang?" Jaehyun berbisik lembut ke pada Doyoung yang duduk di sisi kirinya, mengamati isi piring Doyoung yang tetap utuh tidak disentuh, hanya dimain-mainkan di piring.

"Aku sedikit tidak enak badan." Doyoung tidak berbohong, tiba-tiba saja dia merasa pening.

Jaehyun langsung menyentuh dagunya, membuat Doyoung mendongak menatapnya, lalu mengamati wajah Doyoung dengan cemas, "Kau sakit sayang? Ada dokter di desa, aku akan memanggilkannya untukmu."

"Tidak perlu." Doyoung meringis, "Mungkin aku hanya perlu tidur lebih awal."

"Aku akan mengantarmu." Jaehyun hendak beranjak sambil menghela Doyoung ketika Yeri berguman.

"Ada yang perlu kubicarakan denganmu Jaehyun, penting. Setelah kau mengantar isterimu, aku menunggumu di perpustakaan."

Jaehyun tidak menjawab, hanya mengucapkan permisi dengan sopan, lalu membimbing Doyoung ke kamar, meninggalkan Yeri sendirian di ruang makan.

Jaehyun membaringkan Doyoung dengan lembut dan menyelimutinya, "Kalau pusingmu tidak membaik, aku akan memanggil dokter."

"Aku cuma perlu tidur." Doyoung tersenyum lembut kepada Jaehyun.

Jaehyun duduk di tepi ranjang dan membalas senyuman lembut Doyoung, diusapnya rambut di dahi Doyoung dengan penuh sayang.

"Yeri bisa tidak tertahankan kalau dia mau. Jangan sampai dia membuatmu sakit. Dia akan senang kalau berhasil melakukannya." Dengan hati-hati dikecupnya dahi Doyoung. "Tidurlah sayang, semoga ketika kau bangun nanti, pusingmu sudah hilang."

"Mau kemana?" Doyoung berseru tanpa sadar ketika Jaehyun berdiri dan hendak menjauh dari ranjang. Jaehyun tersenyum meminta maaf,

"Aku akan ke perpustakaan. Aku ingin tahu apa yang ingin dibicarakan Yeri, sehingga aku bisa tahu apa tujuannya datang ke sini, mungkin aku bisa mengusirnya secara halus."

Jemari Jaehyun menyentuh ujung jari Doyoung dengan lembut, "Jangan cemas. Aku akan membereskan semuanya."

Sepeninggal Jaehyun, Doyoung berbaring dengan mata nyalang semakin merasa pening. Tadi dia menahan diri sekuat tenaga untuk tidak berteriak dan mencegah Jaehyun pergi dari kamar ini. Jauh di dalam hatinya dia tidak mau Jaehyun pergi dan menemui perempuan cantik itu.

Bagaimana kalau Jaehyun jatuh dalam godaan Yeri? Perempuan itu begitu cantik, dan suasana perpustakaan di malam hari begitu intim... dan mengingat betapa gigihnya Jaehyun, tidak menutup kemungkinan perempuan itu akan berhasil merayu Jaehyun bukan?

Ingin sekali Doyoung menyusul ke perpustakaan, sekedar untuk memastikan, atau mungkin mencuri dengar. Tetapi dia menahan diri. Tidak. Dia harus mempercayai Jaehyun.

"Sekarang kita tinggal berdua saja." Yeri tersenyum menggoda dan menghempaskan dirinya di sofa empuk di perpustakaan itu, dia lalu menyilangkakan kakinya dengan menantang.

"Duduklah Jaehyun, terasa aneh kalau kita berbicara berjauhan begini." Ajaknya kepada Jaehyun yang dari tadi berdiri sambil bersandar di meja kerjanya di ujung ruangan.

Wajah Jaehyun tampak dingin, tidak menanggapi ajakan Yeri.

"Kenapa kau kemari Yeri, apa tujuanmu?"

"Apakah tidak boleh? Aku merindukanmu Jaehyun, merindukan saat-saat kita bersama."

"Aku sudah beristeri dan sekarang sedang berbulan madu. Kurasa itu sudah cukup jelas untukmu."

"Kau sudah beristeri atau tidak, sama sekali tidak ada pengaruhnya untukku. Aku tetap bersedia menjadi kekasihmu. Tempatmu melampiaskan gairahmu." Suara Yeri menjadi serak dan sensual, seperti ajakan untuk bercinta Jaehyun menyipitkan matanya. Wajah tampannya nampak mengeras, menahan amarah.

"Aku tidak butuh kekasih karena aku sudah beristeri. Aku sudah punya tempat untuk melampiaskan gairahku."

Kata-kata Jaehyun itu langsung menggores hati Yeri, membuatnya terbakar cemuru yang luar biasa. Tetapi tentu saja perempuan itu tidak membiarkan Jaehyun melihatnya. Dia lalu berdiri dan mendekati Jaehyun, mereka berhadap-hadapan dengan begitu dekatnya.

"Aku bisa lebih hebat dari perempuan manapun menyangkut soal seks. Kau juga mengakuinya kan? Bertahun lamanya kau tidak bisa melepaskan diri dariku, kau selalu datang kepadaku ketika kau bergairah, dan aku yakin, perempuan seperti dia tidak akan bisa menyaingiku."

Jaehyun memalingkan mukanya dengan jijik. Doyoung memang tidak bisa dibandingkan dengan Yeri. Bukan karena teknik di ranjangnya. Tetapi karena Doyoung telah berhasil memuaskan Jaehyun, secara fisik, dan secara batin. Itu yang tidak dapat dilakukan oleh Yeri, dan karena itulah Jaehyun meninggalkannya.

Ketika Jaehyun kembali menatap Yeri, pandangannya begitu dingin, "Jangan ganggu Doyoung, atau aku akan membuatmu menyesal."

Yeri memundurkan langkahnya, mengenali kemarahan menakutkan dalam diri Jaehyun.

"Diakah perempuan yang selalu kau panggil ketika bercinta denganku?" Suara Yeri mulai goyah, tidak bisa lagi menutupi emosinya.

Jaehyun menatap Yeri dengan tajam. "Ya."

Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi Jaehyun. Tamparan dari Yeri, begitu kerasnya sampai membuat pipi Jaehyun terasa panas. Tetapi dia diam dan membeku, menatap Yeri tanpa eksperesi. Mungkin dia pantas menerima tamparan ini.

Mata Yeri berkaca-kaca, kebencian dan kemarahan meluap dari dalam dirinya, ketika dia berbicara, suaranya gemetar.

"Padahal aku mencintaimu..." Yeri mulai terisak, "Dan aku menahan kepedihan ketika kau memanggil nama wanita lain setiap bercinta denganku, aku bertahan... tetapi kau... kau... kau sungguh lelaki yang tidak punya hati!" Yeri tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.

Dia membalikkan tubuhnya dan setengah berlari pergi.

Sementara itu Jaehyun membeku beberapa lama setelah Yeri pergi. Kemudian jemarinya mengusap bekas tamparan di pipinya.

Oh Astaga. Yeri mencintainya?

"Dia bilang dia mencintaiku." Jaehyun menelepon Krystal dengan frustrasi sesudahnya.

Krystal mendesah di seberang sana. "Pantas dia berani mengejarmu sampai ke sana." suaranya lalu berubah serius, "Kau tidak bisa membiarkannya tetap di sana Oppa, kau harus menyuruhnya pergi dari pulau itu."

"Bagaimana caranya? Aku tidak mungkin menyuruh orang menyeretnya dan melemparkannya ke perahu boat."

Krystal tercenung lama. "Aku juga bingung bagaimana caranya. Mungkin kau harus memintanya baik-baik untuk pergi."

"Dia baru saja menangis dan berlari meninggalkanku karena patah hati, lalu keesokan harinya aku mengatakan padanya bahwa dia harus pergi? Aku akan jadi lelaki tak berperasaan kalau melakukannya."

"Pikirkan Doyoung, oppa. kau akan menjadi lelaki tak berperasaan kalau kau membiarkan Yeri tetap di sana."

Jaehyun tercenung. Doyoung. Dia tahu persis kehadiran Yeri di sana amat sangat menyakitkan hati Doyoung. Krystal benar, kalau Yeri terus ada di rumah ini. Apa yang sudah dibangunnya bersama Doyoung bisa hancur pelan-pelan.

Dia harus menyuruh Yeri pergi dari rumah ini.

Besok.

"Apakah kau baik-baik saja?" Jaehyun menemui Yeri yang sedang sarapan sendirian di ruang makan keesokan paginya. Doyoung masih tidur dan Jaehyun tidak mau membangunkannya karena isterinya itu tampak sangat lelap.

"Aku baik-baik saja." Yeri tampak lebih memilih buah-buahan untuk sarapannya, dia sedang menyuapkan sebutir cherry berwarna merah pekat ke dalam mulutnya.

"Mengenai kemarin, aku ingin meminta maaf. Aku tidak pernah tahu kalau kau mencintaiku. Kalau saja aku tahu, aku tidak akan melakukan apa yang kulakukan dulu kepadamu. "

"Sekarang kau tahu dan itu tidak mengubah apapun bukan?" Yeri tersenyum sedih, "Aku memang bodoh, berpikir bahwa aku masih mempunyai harapan."

Jaehyun menghela napas, "Aku sungguh minta maaf kepadamu. Mungkin kau harus meninggalkan rumah ini segera."

Yeri menatap Jaehyun tajam, "Kau mengusirku Jaehyun?"

"Aku harus melakukannya, Maaf. Tetapi kau tidak bisa tinggal di sini lebih lama. Aku sedang berbulan madu, dan kehadiran seorang mantan kekasih sungguh tidak bisa diterima, Aku harap kau mengerti."

Yeri menatap Jaehyun dengan pahit, "Dia, Doyoung, isterimu itu, sudah kau cintai sejak lama bukan?"

Jaehyun menganggukkan kepalanya. "Ya."

"Apakah dia tahu betapa beruntungnya dia? Dicintai olehmu sejak lama?"

Jaehyun menggelengkan kepala, "Tidak dia tidak tahu, tetapi itu tidak masalah. Aku sudah memilikinya sekarang."

Yeri menatap Jaehyun dalam-dalam, lalu tersenyum sedih dan mengangkat bahunya.

"Kurasa memang sudah tidak ada gunanya aku ada di sini. Aku akan mengemasi barang-barangku dan pergi siang nanti." Dengan cepat dia beranjak meninggalkan Jaehyun dan suara langkahnya terdengar menaiki tangga, menuju kamar tamu.

Beberapa detik kemudian, Jaehyun yang masih ada di ruang makan, dikejutkan oleh suara pekikan diikuti suara jatuh berdebam. Dengan segera dia melangkah ke arah tangga.

Di sana Yeri duduk dengan wajah meringis kesakitan. Para pelayan mengerubunginya, Yeri mendongakkan wajahnya dan menatap Jaehyun kesakitan.

"Tolong Jaehyun... sepertinya kakiku terkilir."

Suara ribut-ribut di luar membuat Doyoung terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih pening, tetapi dia ingin tahu. Dengan pelan dia melangkah terhuyung-huyung ke pintu, ingin mencari tahu apa yang terjadi.

Pemandangan di depannya sungguh tidak menyenangkan. Membuat jantungnya serasa di remas hingga nyeri.

Dari kamarnya di bagian atas, dia bisa melihat jelas ke bawah. Di sana tampak Jaehyun sedang memijat dan mengelus kaki Yeri yang terduduk kesakitan. Sepertinya kaki Yeri terkilir... tetapi kenapa Jaehyun harus memijit kakinya dengan cara yang intim seperti itu?

Lalu Jaehyun berdiri, setengah membungkuk dan dengan lembut merengkuh Yeri ke dalam pelukannya dan dengan gerakan cepat mengangkat Yeri dan menggendongnya. Yeri tampak sangat menikmati keintiman itu, dia melingkarkan lengannya di leher Jaehyun dan menyandarkan kepalanya di dada Jaehyun.

Jaehyun hanya ingin menolong Yeri. Dia kan sedang terkilir? Kenapa dia harus cemburu? Tidak seharusnya dia merasa cemburu.

Doyoung langsung menyembunyikan dirinya kembali ke kamar, ketika Jaehyun melangkah menaiki tangga sambil menggendong Yeri, menuju ke kamar tamu. Tetapi dia memang cemburu. Pemandangan itu membuatnya marah, membuatnya tidak rela, membuatnya ingin mengatakan bahwa Jaehyun adalah miliknya.

Tidak bisa dipungkiri... Doyoung sudah jatuh cinta kepada Jung Jaehyun...

"Sebenarnya dia sudah mau pergi hari ini, tetapi dia jatuh dari tangga dan terkilir, kini dia baru bisa pergi setelah dia bisa berjalan. Aku tidak mungkin mengusirnya sekarang." Jaehyun menjelaskan ketika Doyoung bergabung di ruang sarapan setengah jam kemudian. "Maafkan aku Doyoungie atas situasi yang makin buruk ini."

Doyoung menyesap kopinya dan mencoba tersenyum kepada Jaehyun, "Tidak apa-apa Jae, lagipula sangat tidak sopan mengusir tamu yang sedang sakit."

Jaehyun menatap Doyoung tajam, seolah ingin mengupas hatinya, "Dia tidak akan mengganggu lagi. Aku sudah mengatakan kepadanya kalau aku mencintaimu. Dan dia tidak bisa mengharapkan apapun dariku."

Dan akupun juga mencintaimu Jaehyun... Doyoung bergumam dalam hati tentu saja, dia masih tidak berani mengungkapkannya, takut akan reaksi Jaehyun nantinya. Dadanya terasa sesak dan campur aduk, sehingga dia memilih menyimpannya dulu, dan mengungkapkannya nanti, kalau dia sudah lebih yakin.

"Maafkan aku tidak ada pagi tadi ketika kau jatuh, ini obat dari dokter untuk diminum kalau nyeri di kaJungu tidak tertahankan." Doyoung meletakkan obat itu di meja di samping ranjang Yeri.

Melirik sedikit kepada kaki Yeri yang sudah dibebat dengan perban elastis berwarna cokelat, tiba-tiba bertanya-tanya dalam hati, apakah Yeri sengaja menjatuhkan dirinya di tangga, agar terluka atau terkilir sehingga kepergiannya dari rumah ini tertunda? Ah tidak!

Doyoung mengerjapkan mata, mencoba menghilangkan pemikiran negatif itu. Dia tidak boleh berburuk sangka kepada perempuan ini.

"Kalau kau butuh apa-apa, bunyikan saja bel, pelayan akan datang, Istirahatlah, aku pergi dulu." Doyoung melangkah meninggalkan kamar itu. Sementara Yeri dari tadi diam saja dan tidak menjawab pertanyaannya.

"Kau pasti sangat bahagia kalau tahu."

Suara Yeri yang dingin membuat Doyoung menghentikan langkahnya, dia sudah sampai di ambang pintu.

"Tahu tentang apa?"

Yeri mencibir dan menatapnya benci, "Tahu bahwa Jaehyun sudah mencintaimu sejak lama. Kau sangat beruntung tapi kau bodoh karena tidak menyadarinya. Dan aku membencimu karenanya."

Doyoung mengernyitkan keningnya, "Bagaimana mungkin Jaehyun mencintaiku sejak lama?"

Bukankah mereka baru berkenalan, dan ketika Jaehyun menjalin hubungan dengan Yeri, Doyoung belum kenal Jaehyun?

Air mata tiba-tiba mengalir di sudut mata Luna yang indah, membasahi pipinya, "Dulu setiap dia bercinta denganku, dia selalu memanggil namamu. 'Doyoung'... begitu bisiknya, dengan lembut dan penuh perasaan cinta... dia tidak pernah memanggil namaku dengan lembut... tidak pernah satu kalipun dia memanggil namaku seperti itu!" tangis Yeri pecah dan dia terisak-isak, "Aku membencimu karena itu! Aku sangat benci kepadamu!"

Doyoung menatap bingung ke arah Yeri yang tersedu-sedu. Bingung akan perkataan Yeri, tetapi sepertinya perempuan itu terlalu histeris untuk menjelaskan lebih lanjut. Sambil menghela napas, Doyoung melangkah pergi meninggalkan kamar tamu.

Rowoon menemukan informasi itu begitu saja. Dia menelusuri semua petunjuk yang ada. Dan kemudian menemukan potongan berita dari softcopy arsip koran di perpustakaan nasional.

Berita kecelakaan itu, antara Jung Jaehyun, putra milyuner kaya yang menikahi wanita spanyol. Kecelakaan itu menewaskan seorang supir taxi tua yang kebetulan melintas. Menjadi korban tak berdosa yang tewas karena kemungkinan Jaehyun mengebut sambil mabuk bersama teman-temannya dan menerobos lampu merah.

Apakah ini Jung Jaehyun... Mr. Jeffrey yang sama? Rowoon masih merasa tidak yakin.

Mr. Jeffrey adalah lelaki jenius yang tampak begitu kompeten dan dingin. Rowoon selalu berpikir bahwa masa muda lelaki itu dihabiskan untuk belajar dan bersekolah tanpa henti... Tetapi ini... berkendara sambil mengebut, mabuk dan ugal-ugalan menerobos lampu merah, dan menewaskan satu orang pula, sungguh perbuatan tak bertanggung jawab, jauh sekali dari cerminan Mr. Jeffrey yang dikenalnya.

Tetapi artikel ini tak mungkin salah. Meskipun jarang disebut dan seolah memang disembunyikan. Mr. Jeffrey jelas-jelas putra dari milyuner Jung itu... Jung Jaehyun di artikel ini sudah pasti sama dengan Mr. Jeffrey atasannya itu.

Rowoon melanjutkan membaca artikel itu dengan teliti, dikatakan bahwa permasalahan kemudian diselesaikan secara kekeluargaan. Jung Jaehyun tidak pernah di bawa ke pengadilan. Dan keluarga supir taxi yang miskin itu juga tidak pernah dikabarkan lagi.

Rowoon mencari-cari artikel lain bertanggal sama yang membahas kecelakaan itu, dan menemukan artikel lain yang membahas keluarga si supir taxi. Dia tertegun, lalu matanya membelalak kaget. Foto yang sedang berduka di artikel itu... meskipun masih belia dan begitu muda, itu sudah pasti adalah Doyoung.

Rowoon menelusuri artikel itu dan menahan napas ketika menemukan kalimat yang menerangkan bahwa supir taxi itu meninggalkan seorang putri tunggal bernama Kim Doyoung dan seorang isteri.

Benaknya langsung menghubungkan semua benang merah itu. Jadi begitu rupanya. Semua ini sudah direncanakan oleh Mr. Jeffrey. Semua yang berhubungan dengan Doyoung sudah diatur oleh lelaki itu, tanpa sepengetahuan Doyoung pastinya. Rowoon yakin Doyoung tidak tahu apa-apa tentang hal ini.

Dengan bergegas dia melangkah pergi, benaknya dipenuhi tekad yang kuat untuk segera menemui Doyoung nanti ketika dia bisa menjangkaunya.

Akan dikatakannya kepada Doyoung, bahwa perempuan itu sudah menikahi pembunuh ayahnya...

To Be Continue

Hai, untuk Jaedo shipper.

Otteh?

Jangan lupa vote and comment ya

Thanks