Zephyr

2017

Wanda Grenada

Desclaimer: Naruto, Masashi Kishimoto

Chapter 4: Smartclass


"Menurut buku Prospectus of Konoha High School, kau melanggar peraturan pasal 1, yang isinya adalah 'Dilarang membawa benda; tajam, rokok, minuman keras, alkohol, alat judi, dan berhubungan dengan unsur pornografi, membolos pelajaran, merusak—' ah, sudahlah. Tidak usah ku jelaskan lebih rinci. Kau pasti juga sudah membacanya, kan?"

Hinata mengangguk. Sebelum masuk ke sekolah ini, Hinata sudah diberi buku prospektus yang berisi tentang fasilitas, peraturan, staff, fellow, guru pembimbing, dan lainnya tentang sekolah ini. Dan dalam setiap pelanggaran, pasti ada Sanksinya. Sanksi disesuaikan oleh tingkat pelanggaran yang siswa lakukan.

Hinata murung, ia bersedih karena ia telah menjadi anak nakal hari ini. Tapi, tunggu! Ini bukan kesalahannya, dan tentu saja ini murni sebuah kesalahpahaman. Kenapa ia malah terbawa suasana dan tersugesti.

Lalu apa yang bisa ia perbuat? Tidak ada selain membiarkan ini menjadi sebuah kesalahpahaman agar tidak menimbulkan masalah baru.

Karena "pelanggaran" yang Hinata lakukan tergolong ringan, maka dari itu Hinata memperkirakan ia hanya akan menjalani hukuman yang tidak terlalu berat.

"Aku sudah membicarakan ini dengan Ma'am Kurenai, beliau menimbang-nimbang keputusannya untuk memberi keringanan pada hukumanmu. Dan beruntung, ia menyetujui tentang keringanan itu karena track record-mu yang bagus. Ia memintaku untuk tidak menuliskannya di buku Kasus. Tetapi kau tetap harus menjalani hukuman." Lanjut Toneri sambil menggulung-gulung buku prospektus yang ia pegang.

Hinata lega. Ia cukup bersyukur dengan tidak tercantumnya kasus hari ini di buku rapotnya.

"Kau harus mengajak seseorang yang minggu ini kena hukuman karena melanggar peraturan untuk menjadi partner, sebagai persyaratan mengikuti pelajaran tambahan di kelas Smartclass. Ma'am Kurenai yang memintanya."

Itu hukuman yang sangat berat kalau kau tanya Hinata.

"Tapi jangan lupa dengan persyaratan dariku."

Oh, iya. Persyaratan. Karena ia terbebas dari pencatatan kasus yang akan mengotori buku rapotnya, Hinata jadi lupa tentang persyaratan yang akan Toneri berikan.

"Seperti apa syaratnya?"

"Kau harus menjadi asistenku."

Hinata lagi-lagi teringat kata-kata Toneri disekolah, bahkan pada saat makan malamnya kali ini. Siang tadi setelah secara tiba-tiba ia diangkat menjadi asistennya Toneri, ia menanyakan tentang beberapa hal yang perlu ia ketahui. Ia melihat daftar anak-anak yang menjalani hukuman minggu ini, dan beberapa diantaranya masih belum menemukan partner, untuk hari ini.

Ia sudah berusaha menyingkirkan kejadian-kejadian di sekolah yang membuatnya jadi sering melamun. Hari ini, dengan ajaibnya sang ayah pulang cepat dan bergabung bersama saat makan malam. Jadi ia punya kesempatan untuk berbincang sedikit. Hanya sedikit, bahkan sangat sedikit dan terkadang hanyalah sebuah tegur sapa menanyakan perihal kabar. Hinata memang punya hubugan yang dingin dengan ayahnya. Itu terjadi secara otomatis karena keterikatan mereka yang renggang oleh kesibukan mereka masing-masing. Atau Hinata bisa menyalahkan satu pihak saja disini, yaitu ayahnya.

Ia menatap wajah Ayahnya yang sedang sibuk makan dengan sangat formal walaupun di depan anaknya sendiri. Mungkin karena sudah terbiasa menjalani acara makan dengan para petinggi, pejabat, mitra dan orang-orang penting lainnya yang membuat sikap formal Ayahnya sudah menjadi bagian dari dirinya. Tiba-tiba terbayang oleh Hinata, bagaimana reaksi Ayahnya saat mengetahui bahwa putrinya—putri dari Klan Hyuuga, yang ia banggakan dan ia sayangi—merokok.

Hinata bergedik.


"Aku pergi." Sasuke berjalan menuju pintu rumahnya.

"Jangan pulang terlalu larut." Itachi mengingatkan tetapi matanya tidak berpindah dari layar laptop yang ia terpa sedari siang.

"Oh ya? Kau pikir kau siapa memberiku perintah?" Ujar Sasuke ketus.

Itachi tentu saja terkejut dengan jawaban adiknya. Ia hanya mengharapkan jawaban iya, atau sebuah 'Hn' yang biasa dikeluarkan adiknya. Kalau-kalau Sasuke tidak menurutinya, paling ia hanya menanyakan alasan kenapa pulang larut. Ia sama sekali tidak mengharapkan jawaban yang provokator seperti itu. Rupanya adiknya bukan lagi adik manis dari masa lalu yang diingatnya. Ia agak kesal dengan jawaban adiknya barusan, namun tidak bisa menghindari fakta bahwa ia masih berusaha memakluminya.

Nyatanya, ini semua juga sebab akibat dari Itachi yang tidak berada di samping adiknya selama lima tahun belakang karena pendidikannya di luar negri dan kesibukannya sendiri yang berkutat dengan dunia bisnis, Ia bahkan tak menolak tawaran sepupunya untuk membantu mengurus perusahaan keluarga.

"Aku kakakmu. Dan aku lebih tua lima tahun darimu. Apa itu cukup?" Ia kemudian menoleh kearah Sasuke yang sedang menatapnya dan jelas dari tatapannya, adiknya ini baru saja menantangnya.

"Ha! Sekarang kau bertindak seakan kau peduli padaku. Aku tinggal sendiri lima tahun ini dan kau baru saja datang beberapa bulan yang lalu. Kau tidak punya hak untuk memerintahku."

"Aku memang tidak punya hak untuk itu tapi aku punya kewajiban untuk itu."

"Katakan itu pada diriku yang masih ingusan."

"Aku tau seharusnya aku tidak mempercayakan Madara untuk menjagamu." Itachi mengelus keningnya. Ini mulai tidak beres.

"Kau tidak tau apa-apa. Setidaknya dia ada dalam hidupku di beberapa tahun ini daripada kau." Dengan begitu, Sasuke menutup membanting pintu dan mengakhiri argumen mereka.

Itachi menghela nafasnya. Pundaknya tiba-tiba terasa berat. Walaupun langkahnya dalam perjalanan bisnis selalu sempurna dan jarang mengalami kesulitan, tapi bahkan seorang Uchiha Itachi bisa melakukan kesalahan fatal juga. Hal itu sangat jelas ditunjukkan oleh adiknya.


Malam itu Hinata tidak bisa tidur memikirkan siapa yang harus ia ajak untuk mengikuti Smartclass. Itu mungkin bukan masalah jika ia adalah murid normal, namun kenyataannya ia bukan. Pilihannya begitu sulit, dalam kurun waktu beberapa hari sampai akhir minggu, ia harus mengajak seorang murid untuk mengikuti Smartclass—jika memang ada yang mau diajak olehnya. Atau ia harus melihat kemarahan ayahnya dan melihat ayahnya jatuh sakit karena terus-menerus memikirkan "Kesalahan" yang dibuat oleh putri pertamanya.

Tidak, Hinata tidak akan memilih pilihan kedua. Memang kalau dilihat ayahnya bukan ayah yang baik. Banyak ayah diluar sana yang jauh lebih baik. Namun membuat ayahnya bersedih bukanlah sebuah pilihan. Kalau bukan karena didikan ayahnya yang tegas tidak mungkin Hinata bisa menjadi anak yang rajin dan taat seperti ini.

Mengambil pilihan pertama juga bukan sesuatu yang mudah untuknya. Setidaknya ia harus mencari orang yang bersikap netral padanya—tidak baik dan tidak jahat, atau minimal, seseorang dengan situasi yang sama dengannya. Ia harus pintar-pintar memanfaatkan seseorang.

Hinata menghela nafas. Ia menatap langit-langit, memaksa matanya untuk menutup. Ia bersedia jika harus terjaga sepanjang malam untuk memikirkan segala cara agar ia bisa keluar dari hukuman. Namun besok, sekolah menunggunya. Ingin rasanya ia membolos saja. Dengan kehidupan sekolahnya yang serba berantakan siapa sih yang menolak untuk membolos?—Hinata orangnya.

Setelah memutuskan pilihannya dengan mengorbankan sepertiga malamnya untuk berpikir, ia hanya tinggal memberanikan dirinya untuk berbicara dengan orang itu. Ia harus mati-matian menghilangkan rasa canggungnya. Ia tidak akan membuat kesempatannya hilang karena setitik kesalahan. Tidak. Untuk hari ini itu tidak akan terjadi. Ia berdo'a pada Kami-sama agar melancarkan urusannya hari ini.

Dan disinilah Hinata. Dibalik ujung loker memperhatikan orang yang akan ia ajak bicara sambil mempersiapkan dirinya. Ia meneguk ludahnya berkali-kali. Ini adalah kesempatannya, ia menguatkan hatinya sendiri. Sekali lagi ia mengintip dari balik ujung loker, selagi orang itu sedang sendiri, ia harus menghampirinya.

Setelah berkomat-kamit dan sudah mempersiapkan dirinya, Hinata melangkahkan kakinya sambil menenteng kotak makan yang belum sempat ia buka karena teringat akan hukumannya.

"Na-Naruto.."

Orang yang merasa dipanggil menoleh, "Ah.. Hinata. Ada perlu apa?" tanya Naruto.

"A-aa-aku.." Hinata tergagap karena tatapan serius dari Naruto. Hinata merutuki dirinya sambil terus menyemangati dirinya sendiri agar bisa melancarkan bicaranya.

"Aku?"

"Ehm.. A-aku dengar kau mendapat hukuman juga. Aku mau me-mengajakmu untuk jadi partner di Smartclass." Hinata bersyukur, sejauh ini ia tidak melakukan hal diluar kendalinya. Padahal hanya mengajak seorang Naruto, tapi ia butuhkan banyak tenaga untuk sekedar mengobrol.

"Hmm begitu.. maaf, tapi aku sudah diajak seseorang." Jawab Naruto sambil menggaruk tengkuknya.

"Apa itu Sasuke?" pertanyaan itu mencelos begitu saja dari mulut Hinata, ia langsung menutup mulutnya, menyesali apa yang baru saja ia lakukan. Ia memang melihat daftar nama siswa dan menemukan kedua sahabat ini sama-sama mendapat hukuman. Namun urusan mereka sama sekali bukanlah urusannya dan Hinata tidak seharusnya menanyakan hal itu.

"Benar juga ya, kenapa aku tidak mengajak si teme saja ya.." Naruto menggaruk dagunya. "Kalau begitu kau dengan Sasuke saja."

Sasuke? Yang benar saja!

"Ah, tidak usah.. aku bi-bisa mengajak orang lain." Sahut Hinata.

"Hey, apa itu masih ada isinya?" tanya Naruto tiba-tiba sambil menunjuk kotak makan yang dibawa Hinata.

"I-iya. Apa kau mau Na-Naruto? Aku membawa lebih." Hinata mengangkat kotak makan itu dan membuka bungkus luar kain perca itu.

"Benarkah? Kau ingin membaginya denganku?" Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. Itu membuat Hinata makin gugup.

"Te-tentu.." Hinata memberikan dua buah Onigiri untuk Naruto.

"Terimakasih Hinata! Kau seperti malaikat!" Naruto langsung menggenggam tangan Hinata saking terharunya, si teme itu tidak akan memberinya makanan yang seperti ini pikirnya. Dan belum ada sebelumnya yang secara tulus menawarinya makanan.

'Malaikat.. Naruto bilang aku malaikat..'

'Naruto memegang tanganku'

Hinata bergetar, keringat mengalir di pelipisnya saking gugupya. Ia merasa kehilangan daya tumpuannya di kaki, dan akhirnya…

BRUUK

"Huh? Hinata? Hinata? Bangun Hinata!" Naruto menggoyang-goyangkan tubuh Hinata yang jatuh pingsan. Ada apa dengannya?, pikir Naruto.

Naruto tidak punya pilihan lain selain membawa Hinata ke Klinik Sekolah dengan menggendongnya. Ia memanggil Sasuke untuk meminta bantuan membawakan kotak makanannya.

"Dasar dobe. Kau tidak tau apa yang dimasukkan si Hyuuga itu dalam makanannya. Jangan sembarangan menerima pemberian dari orang lain. Kau bisa saja diracuni." Ujar Sasuke di sela-sela perjalanan mereka menuju kelas mereka setelah mengantar Hyuuga yang pingsan tanpa sebab itu ke Klinik Sekolah. Ia tidak punya waktu menunggui si payah ini, dan menyuruh Naruto untuk meninggalkannya. Mereka bisa mengunjungi lagi saat jam istirahat berikutnya.

"Kau ini bicara apa teme? Kau tidak boleh berburuk sangka pada orang lain. Onigiri ini enak." Sanggah Naruto. Ia yakin sekali Hinata bukanlah orang seperti yang dipikirkan sahabatnya.

"Tidak sekarang. Mungkin nanti." Balas Sasuke.

"Oh iya, kau kan belum mendapat partner untuk Smartclass. Bagaimana kalau kau bersama Hinata saja?" Naruto berbicara dengan mulut penuh makanan, itu menjijikkan. Entah Naruto atau Hinata yang menjijikkan baginya.

"Kau gila." Ujar Sasuke mendahului Naruto. "Kau saja yang bersamanya. Aku tidak sudi."

"Aku sudah mendapatkan partner."

"Kalau begitu kita bertukar partner saja. Bagaimana?" tawar Sasuke. Tidak biasanya Sasuke menawarkan sesuatu pada sahabatnya ini. Namun untuk urusan ini ia tidak akan keberatan dengan sebuah kesepakatan. Kalau di iming-imingi uang pasti Naruto tidak akan menolak.

"Aku rasa tidak mungkin…"


Smartclass. Mungkin orang-orang mengira bahwa Smartclass adalah kelas yang diperuntukkan bagi siswa-siswi berprestasi di bidang akademik. Namun, bukan seperti itu Smartclass yang ada disini. Kelas ini diperuntukkan kepada murid-murid pelanggar aturan. Kelas ini mendisiplinkan murid dengan memberikan konseling pintar untuk murid-murid pelanggar aturan. Program ini dicetuskan enam bulan lalu oleh Nona Tsunade. Dan Hinata harus terjebak disini untuk kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.

Hinata sendiri belum tau banyak mengenai Smartclass karena ia pun belum pernah mendatangi kelas ini. Ia hanya tau bahwa Smartclass adalah ujung dari kenakalan para murid, diadakan dua kali seminggu dan dijalani sesuai jadwal yang diberikan, program ini juga sekaligus penghapusan poin kasus. Biasanya siswa akan terjebak disana dua minggu, namun ada juga yang lebih dari itu. Tergantung dari pelanggaran yang dilakukan siswa.

Tidak ada yang ia kerjakan selain melamun. Ia terus berpikir siapa yang akan ia ajak ke Smartclass. Karena terlalu berambisi, Hinata jadi tidak memikirkan Back up plan seandainya hal seperti ini terjadi. Naruto adalah satu-satunya orang yang baik padanya. Ah, maksudnya.. Naruto memang baik kepada semua orang. Itulah yang membuat Hinata mengagumi sosok Naruto Uzumaki.

Setelah melirik jam yang ada di atas pintu—yang langsung ia sadari adalah Klinik sekolah sudah menunjukkan jam istirahat, ia beranjak dari tempat tidur Klinik, mengambil surat keterangan sakitnya, dan berjalan ke kelas sebelumnya, ia melewati satu jam pelajaran dan meninggalkan tasnya disana. ia hampir lupa alasan kenapa ia bisa tiba-tiba pingsan.

Ia menepuk jidatnya, malu setelah berhasil mengingatnya kembali.

"HEY! HINATA!"

Hinata menoleh pada suara itu. Dilihatnya orang yang baru-baru ini ia jumpai. Hinata membetulkan kacamatanya. Orang itu bersama Sasuke. Ya, mau apa dia?, batin Hinata. Sebenarnya ia tidak harus heran karena mereka memang selalu berdua.

"Tadi aku menghampirimu ke Klinik, ternyata kau sudah keluar. Kau masih belum mendapatkan partner kan?"

"I-iya.."

"Nah, kalau begitu kau dengan teme saja."

Ini benar-benar bukan situasi yang baik bagi Sasuke. Yang tersisa dari murid yang menjalankan hukuman minggu ini hanya tinggal Hyuuga. Pertukaran partner bisa saja dilakukan dengan mudah, namun partner Naruto adalah Shion. Tidak mungkin Sasuke mau yang namanya dekat dengan Fangirls. Tidak, ini tidak bisa. Dua-duanya sama-sama buruk.

"Aku tidak berminat dengan uangmu Uchiha. Kalau kau berpikir apapun bisa dibeli dengan uang, aku akan membuktikannya bahwa itu salah. Kau harus tetap menjalankan hukumanmu. Semua akan diperlakukan sama disini. Kaya atau miskin, itu tidak akan berpengaruh di sekolah ini." Tukas Hashirama selaku kepala Sekolah.

Usahanya gagal ketika bernegoisasi dengan sang kepala sekolah langsung. Memang sepertinya kepala sekolah ini adalah kepala sekolah yang paling anti dengan yang namanya sogok-menyogok. Walaupun Uchiha adalah salah satu Donatur terbanyak, rasanya akan tetap sulit untuk menyogok kepala sekolah.

Belum lagi jadwal Naruto yang sudah diatur dan Shion yang malah ikut-ikutan bernegoisasi supaya dipasangkan dengannya.

Sasuke mendecih. Ia sedang sial-sialnya minggu ini. Ini mungkin pilihan yang tidak terlalu buruk. Ia benci mengakuinya tapi Hinata sedikit lebih baik daripada Fangirls. Tapi tetap Sasuke tidak sudi jika harus dihadapkan pada dua pilihan itu. Setidaknya, Hinata tidak akan berbuat yang aneh-aneh apalagi berbuat hal yang menjijikkan di depannya seperti para Fangirls.

"Ka-kalau begitu.. mohon kerjasamanya. A-aku akan memberitahukannya pada OSIS. Aku permisi." Kemudian Hinata pergi buru-buru meninggalkan kedua orang sahabat itu.

Sasuke menatap kepergian gadis itu dengan tatapan sinis. Lihat? Apa yang bisa dilakukan oleh si Hyuuga bodoh itu? Bicara saja tidak becus.

"Kotak makannya…" Naruto menatap kotak makan Hinata yang belum sempat ia kembalikan.


Melongo sana melongo sini, ia berdiri di depan ruang OSIS. Hinata sedaritadi mencari seorang anggota OSIS aneh yang menjadikannya asisten. Ya, asisten yang bahkan tidak tau dimana keberadaan "atasannya" itu.

"Hey,"

Seseorang kemudian menepuk bahu Hinata membuat Hinata terlonjak. Ia reflek menoleh ke belakang dan menemukan sosok yang ia cari sedari tadi sampai melewatkan makan siangnya.

"Kak Toneri.. a-aku sudah menemukan partner. Jadi aku kesini untuk meminta jadwal Smartclassnya." Ujar Hinata, kegelisahannya menghilang saat ia sudah menemukan partner untuk kelas Smartclass.

"Baik. Siapa nama partnermu?" tanya Toneri sambil mengeluarkan buku catatan andalannya dan sebuah pena dari kantung celana.

Begitu ditanya perihal partnernya, barulah Hinata ragu-ragu. Ia baru ingat lagi bahwa partnernya adalah Sasuke Uchiha. Musuhnya, yang senang menjahilinya, mengganggunya dan selalu menghinanya. Ia akan benar-benar bekerja sama dengan Sasuke Uchiha. Apa mungkin bisa? Hinata menunduk. Semoga hal ini tidak akan menyulitkannya.

"Hey, aku bertanya." Toneri mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Hinata.

"I-iya, maksudku.. ya, aku sudah mendapatkan partner. Partnerku adalah Uchiha… Sasuke." Jawab Hinata ragu-ragu.

"Hmm.. Uchiha, Sasuke." Ujar Toneri sambil menuliskan nama itu disebuah kertas. Kemudian menulis sesuatu yang lain di buku yang ia kantungi.

"Oke, ini. Kau akan berada di Smartclass setiap hari Senin dan Kamis. Semoga beruntung." Toneri memberikannya dua lembar kertas kemudian pergi meninggalkan Hinata.

Dikertas itu terdapat tabel absen kehadiran Smartclass, agenda, dan kolom tanda tangan dari guru pembimbingnya. Satunya punya Hinata dan satu lagi punya Sasuke. Lagi-lagi ia bimbang apakah ia bisa menjalankan Smartclass itu dengan Sasuke yang notabene adalah seseorang yang membuat masa-masa SMA-nya bagai neraka.

Sudah diputuskan, pada hari itu penderitaan Hinata naik satu level berkat terjebaknya ia di Smartclass bersama Sasuke. Hari ini hari Rabu, itu artinya ia akan memulai Smartclass besok bersama dengan Sasuke.

Bersiaplah Hinata, Ini keputusanmu.


AN: I guess, probably... cerita ini bakal berjalan dengan alur lambat. dan semoga kalian suka.

Terimakasih sudah membaca dan me-review

Wanda Grenada