Unforgiven Hero Bab 10
Doyoung termenung di dalam kamarnya, masih bingung memikirkan perkataan Yeri tadi, perempuan itu bilang kalau Jaehyun selalu membayangkannya ketika bercinta, selalu menyebut namanya... bagaimana mungkin? Doyoung kan tidak mengenal Jaehyun sebelum ini?
Apakah Doyoung yang dibayangkan oleh Jaehyun adalah Doyoung yang lain?
Jantung Doyoung serasa diremas. Mungkinkah itu? Mungkinkah pernikahan impulsif, dan semua hal yang dilakukan dengan terburu-buru ini disebabkan Jaehyun menginginkan seorang pengganti untuk Doyoung yang dicintainya. Toh kalau dengan Doyoung, dia tidak perlu repot-repot seperti dengan Yeri, karena namanya sama. Jadi Jaehyun tidak perlu menjelaskan apa-apa dan Doyoung juga tidak akan tahu kalau dia digunakan sebagai pengganti.
Doyoung mendongak ketika Jaehyun memasuki kamar, mengernyit ketika melihat Doyoung duduk melamun di ranjang.
"Sayang, kenapa? Aku menunggumu di bawah untuk makan siang, tetapi kau tidak turun."
Jawaban Doyoung hanya berupa desahan napas yang berat, bingung apakah dia harus menanyakan hal ini kepada Jaehyun atau tidak.
Jaehyun ikut menghela napas, dengan lembut dia melangkah dan berlutut di depan Doyoung yang sedang duduk di atas ranjangnya.
"Tentang Yeri lagi? Apakah dia mengganggumu?"
Doyoung menatap Jaehyun, mencoba mencari kedalaman hati suaminya itu di balik tatapan matanya yang lembut. Apa sebenarnya yang ada di benak Jaehyun? Kenapa dia tidak pernah tahu?
"Yeri mengatakan kepadaku, bahwa kau selalu memanggil nama 'Doyoung' ketika bercinta...bahwa kau selalu membayangkannya sebagai Doyoung..." Doyoung mendesah, "Dan aku berpikir, tentu Doyoung yang kau bayangkan itu bukan aku, karena kita baru saling mengenal..."
Ekspresi Jaehyun tidak terbaca. Tetapi lelaki itu dengan lembut merengkuh tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
"Kau lebih percaya Yeri atau kepadaku Sayang? Aku suamimu."
Doyoung mencoba percaya. Sungguh dia mencoba. Tetapi cara Yeri mengucapkannya tadi, perempuan itu sungguh-sungguh tampak terluka. Mungkinkah Yeri hanya berakting untuk menyebabkan kesalahpahaman di antara Jaehyun dan dirinya?
"Percayalah kepadaku dan jangan hiraukan apa yang dikatakan oleh Yeri. Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu, bahwa apapapun yang terjadi seburuk apapun yang dikatakan orang, kau bisa pegang satu hal yang pasti, bahwa aku mencintaimu. Amat sangat mencintaimu..."
Jaehyun menundukkan kepala dan mengecupi jemari Doyoung, "Rasanya sangat sakit, ketika kau mencintai seseorang tetapi tidak dipercaya. Rasanya seperti cintamu ini sampah dan dibuang begitu saja."
"Jaehyun... tidak... bukan begitu..."
Doyoung menggenggam jemari Jaehyun "Aku tidak akan membuang cintamu. Aku, maafkan aku mungkin aku sedikit terpengaruh karena cara Yeri mengungkapkannya tadi begitu meyakinkan."
Doyoung menghela napas panjang, "Mulai sekarang aku tidak akan mendengarkannya lagi."
"Terimakasih Doyoungie." Kedua mata mereka sejajar, Jaehyun yang berlutut dan Jaehyun yang duduk di atas ranjang, lalu mereka berciuman dengan lembutnya.
Bibir Jaehyun melumat bibir Doyoung dengan penuh perasaaan, membuatnya terlena. Lidahnya menelusur pelan kemudian, mencecap rasa yang sudah lama dirindukannya, rasa yang sangat dikenalnya.
Doyoung mendesah ketika Jaehyun mendorongnya terbaring di ranjang, dengan kaki menjuntai di bawah dan Jaehyun yang berdiri membungkuk di atasnya.
"Kita tidak bisa melakukannya sekarang. Ini waktunya makan siang. Alfred akan mencari-cari kita..." Doyoung berbisik dalam napasnya yang sedikit tersengal.
"Alfred sudah mencari sejak tadi, lebih tepatnya mencarimu. Itu sebabnya aku menyusulmu kemari, karena kau tidak turun untuk makan siang." Jaehyun mencumbu leher Doyoung yang menyimpan aroma khasnya yang manis, "Aku rasa Alfred akan mengerti, kita kan sedang berbulan madu."
Jemari Jaehyun membuka resleting gaun Doyoung dan menurunkannya, dia menarik gaun itu melewati pinggul Doyoung dan membuangnya ke lantai. Pakaian dalamnya menyusul kemudian, hingga Doyoung berbaring telanjang dan pasrah di bawahnya.
Jaehyun tidak terburu-buru, lelaki itu dengan pelan membuka kancing kemejanya dan melepasnya, memamerkan tubuh indah dan kerasnya yang bahkan masih membuat Doyoung merasa kagum setiap melihatnya, bahkan setelah berkali-kali jemarinya menyentuhnya di sana, menikmati kehalusannya.
Lalu Jaehyun menurunkan celananya dan kemudian telanjang sepenuhnya di depan Doyoung, kejantanannya mengeras dan sudah siap. Lelaki ini amat bergairah.
Dengan lembut lelaki itu menunduk di atas Doyoung, jemarinya bergerak menelusuri tubuh Doyoung dan menemukan kewanitaan Doyoung yang sudah hangat dan basah.
"Aku belum menggodamu, tetapi kau sudah basah di sini..." Jaehyun menggerakan jemarinya lembut, "Kau pasti sangat merindukanku di sana."
Dengan Lembut Jaehyun mengangkat kedua kaki Doyoung dan menyandarkan masing-masing di pundaknya, membuat posisi Doyoung begitu pas untuk dia masuki.
Lelaki itu melakukan penetrasi dan mengerang parau. "Astaga... kau begitu sempit sayang, begitu sempit dan nikmat..."
Doyoung mengikuti semua ritme yang dibawa oleh Jaehyun. Posisi ini membuat titik-titik sensitive yang tidak disadarinya ada tersentuh dan bangun, membuat seluruh tubuh Doyoung menggelenyar dalam kenikmatan yang luar biasa, jemari Jaehyun bergerak dan menyentuh titik nikmat di atas kewanitaannya, memainkannya. Membuat Doyoung seakan dihantam olehdua kenikmatan bertubi-tubi.
"Jonngiin..." Doyoung mengerang, menyebut nama suaminya, karena sudah tidak bisa menahan diri.
"Ya sayang, ya..." Jaehyun membalas erangan Doyoung dengan suara parau tertahan, ritmenya semakin cepat, semakin tak tertahankan membuat Doyoung tidak mampu lagi, sehingga akhirnya membiarkan dirinya dibawa oleh arus deras kenikmatan yang memenuhi seluruh sarafnya. Jaehyun mengerang di sana dan mereka mencapai orgasme bersamaan.
"Apakah dengan begini kau yakin bahwa aku mencintaimu?" Mereka masih berbaring telanjang dan puas di atas ranjang. Doyoung meringkuk membelakangi Jaehyun dan Jaehyun memeluknya dengan posesif dari belakang, kaki mereka saling bertautan. Kulit mereka saling menghangatkan.
"Tanpa sekspun aku yakin bahwa kau mencintaiku." Doyoung menjawab pelan, setengah mengantuk.
Sesaat hening, dan Doyoung merasakan jantung Jaehyun berdebar, lelaki itu menghela napas sebelum bertanya.
"Apakah... apakah kau juga mencintaiku, Doyoung?"
Doyoung tertegun dengan pertanyaan itu. Jauh di dalam hatinya dia sudah tahu jawabannya.
Ya. Dia mencintai Jaehyun, dia sangat mencintai suaminya ini. Dan Jaehyun sudah berkali-kali menyatakan mencintai Doyoung. Amat sangat tidak adil kalau Doyoung tidak mau mengungkapkan perasaannya kepada suaminya. Mungkin inilah saat yang tepat...
"Ya..." Doyoung menjawab pelan, jantungnya berdebar, "Ya... Aku juga mencintaimu, Jaehyun..."
Jaehyun mendesah pelan, menyebut nama Doyoung dengan khidmad, "Doyoungo..." Lalu lelaki itu memalingkan muka Doyoung supaya menoleh menghadapnya, dan menciumnya dengan sangat bergairah.
Doyoung merasakan kejantanan Jaehyun mengeras lagi di sana, menyentuh bagian belakang tubuhnya. Jemari lelaki itu sudah menangkup payudaranya dan memainkannya dengan lembut, menggoda putingnya, merayunya, jemarinya lalu turun dan memainkan titik sensitive di pusat kewanitaan Doyoung, dengan lembut dan menggoda.
Doyoung mendesah dan mencoba membalikkan tubuhnya, tetapi Jaehyun menahannya.
"Jangan, kita akan mencoba seperti ini." Dengan lembut Jaehyun mengangkat sebelah kaki Doyoung yang masih berbaring miring membelakanginya, kemudian dari belakang, Jaehyun menyelipkan kejantanannya yang terasa keras dan panas, memasuki pusat kewanitaan Doyoung yang lembut dan basah.
Doyoung setengah menjerit merasakan penetrasi Jaehyun ini. Gaya bercinta Jaehyun ini membuat titik-titik yang biasanya tidak tersentuh oleh kejantanan Jaehyun menjadi tersentuh semua, membangunkan sarafnya dan merangsangnya.
Jaehyun membimbing Doyoung supaya mengikuti ritmenya, mereka bergerak dengan lembut, tidak terburu-buru, menikmati setiap detiknya dengan bahagia. Dan kemudian mencapai orgasme bersama.
Suamiku. Doyoung menelusurkan jemarinya di alis Jaehyun, membuat alis itu sedikit berkedut.
Barusan Doyoung terbangun dan mendapati Jaehyun masih tidur pulas di sebelahnya, sesuatu yang jarang terjadi, karena selama ini lelaki itulah yang selalu terjaga sebelum Doyoung kemudian menggoda Doyoung dengan kecupan-kecupan kecil untuk membangunkannya.
Doyoung mengamati wajah kokoh suaminya itu. Darah spanyol sangat kental di sana, menciptakan wajah latin yang khas dengan mata yang dalam dan tajam, dan bibir yang luar biasa menggairahkan. Alis dan rambutnya berwarna gelap.
Suaminya ini luar biasa tampan, bagaikan pangeran dari negeri antah berantah. Dan lelaki ini mencintainya.
Dada Doyoung dipenuhi oleh perasaan hangat. Mengingat bagaimana mereka semua bisa mencapai titik saling mencintai di pernikahan ini. Doyoung juga mencintai suaminya. Dan dia bertekad. Mulai sekarang, apapun yang terjadi, dia akan mempercayai suaminya. Jaehyun begitu mencintainya, dan yang pasti tidak akan membohonginya. Doyoung percaya itu.
"Jadi dia jatuh dari tangga dan terkilir, lalu kau tidak jadi mengusirnya dan malahan merawatnya?" Krystal hampir berteriak di seberang sana. Membuat Jaehyun sedikit menjauhkan ponselnya.
"Ya, dia setuju untuk pergi dan akan berkemas, ketika kecelakaan itu terjadi."
"Terdengar seperti kesengajaan bagiku." Nada suara Krystal tampak mencela, "Apa kau yakin dia sungguhan? Jangan-jangan dia berakting sakit."
"Kakinya benar-benar bengkak dan dokterkulah yang memeriksanya, jadi dia memang benar-benar terkilir." Jaehyun mendesah, "Walau aku tidak bisa menebak apakah dia sengaja menjatuhkan dirinya atau tidak."
"Mengingat sifat Yeri, dia mungkin saja melakukannya." Krystal tampak cemas, "Lalu bagaimana dengan kau dan Doyoung?"
Jaehyun tersenyum mengenang ketika nama Doyoung disebut. Doyoung, Doyoungnya. Perempuan itu mengatakan mencintainya, dengan begitu lembut. Jung Doyoung mencintainya! Oh astaga. Rasanya seperti semua bebannya terlepas dan tubuhnya menjadi ringan. Begini rasanya ternyata ketika mencintai seseorang sepenuh hati, ketika cinta itu terbalas, seluruh tubuhnya terasa melayang.
"Kami bisa menghadapinya." Jaehyun masih tersenyum ketika berbicara, mengenang percintaan mereka yang panas dan bertubi-tubi setelah pengakuan cinta itu. "Dan dia mengatakan dia mencintaiku."
"OMO?!" Krystal tampak tertegun, "Selamat oppa, meskipun aku meragukan ada perempuan yang tahan menolak cintamu kalau kau sudah mengerahkan segala pesonamu." Krystal terkekeh, "Kau pasti sangat bahagia."
"Sangat." Jaehyun tersenyum. "Aku sudah memikirkan cara untuk mengatasi Yeri, kau harus datang ke sini."
"Aku?" Krystal mengeluarkan nada memprotes, "Bagaimana mungkin aku bisa kesana? Kau meninggalkan tanggung jawab atas perusahaan di tanganku ketika kau pergi."
"Aku akan memegangnya kembali. Aku akan mengajak Doyoung pulang."
"Dan meninggalkan Yeri di pulau itu sendirian dan sakit?"
Jaehyun mengangkat bahunya, "Karena itulah kau harus datang kemari, pura-pura mengatakan bahwa ada hal urgent di perusahaan yang harus kau urus. Lalu kau yang tinggal di sini sampai Yeri pulih, demi kesopanan."
"Aku kau tinggal di pulau itu dengan perempuan jahat seperti dia?" Krystal menaikkan nada suaranya, "Kau memang tidak pernah tanggung-tanggung memanfaatkan kasih sayang adikmu, oppa."
Jaehyun terkekeh, "Suatu saat nanti, kalau kau sedang terlibat masalah cinta yang pelik, aku berjanji akan membantumu sekuat tenaga."
"Aku akan mencari pasangan yang tidak pelik." Sahut Krystal segera, lalu mendesah dan menghela napas, "Aku akan berangkat besok."
"Terima kasih Uri Krystal."
Mereka sedang makan malam ketika suara perahu boot terdengar mendekat. Doyoung mengernyit, tamu lagi? Diliriknya Jaehyun, lelaki itu tampak tenang-tenang saja.
Mereka makan malam bertiga, Jaehyun, Doyoung dan Yeri yang sudah mulai bisa berjalan meskipun masih harus mengenakan penyangga badan. Suasana makan malam dingin dan kaku, Yeri tak banyak bicara seperti biasanya. Meskipun Doyoung sempat melihat perempuan itu berkali-kali menyentuh Jaehyun seolah tanpa sengaja.
Seorang pelayan masuk, mengantarkan tamu yang baru tiba itu,
"Krystal?!" Jaehyun berseru dan meletakkan makanannya, "Kejutan tak terduga, kenapa kau datang kemari?" lelaki itu berdiri, mengajak Doyoung dan memeluk adiknya.
Krystal mengibaskan rambutnya yang sedikit berantakan, dia memeluk Doyoung dengan hangat, lalu melirik ke arah Yeri sambil lalu dan melangkah duduk di kursi di meja makan itu. Jaehyun dan Doyoung kembali duduk.
Para pelayan dengan sigap langsung mengantarkan hidangan untuk tamu tambahan mereka itu.
Krystal melirik ke arah Yeri dan tersenyum kaku. Mereka memang saling mengenal, tetapi tidak begitu akrab.
"Hai Yeri, kudengar dari Jaehyun oppa kau sudah di sini beberapa hari dan mengalami kecelakaan, bagaimana kondisi kakimu?"
Yeri mengangkat alisnya dan tersenyum manis, "Masih sakit dan bengkak, aku tidak bisa berjalan kalau tidak memakai penyangga."
"Wah sepertinya penyembuhanmu akan memerlukan waktu lama." Krystal sekuat tenaga menyembunyikan nada sinis di dalam suaranya.
Yeri mengangguk, melirik Jaehyun, seolah ingin menebak apa rencanya Jaehyun dengan kedatangan Krystal yang mendadak ini. Apakah Jaehyun menyuruh Krystal datang untuk melindungi Doyoung dari serangannya?
"Ya. Kakiku sepertinya memerlukan waktu lama untuk sembuh." Yeri menyentuh lengan Jaehyun dengan lembut dan tersenyum penuh arti, "Maaf Jaehyun, sepertinya aku harus berada di rumah ini lebih lama, aku tidak bisa kemana-mana."
"Tidak masalah." Jaehyun menjawab datar.
Doyoung yang sedang mengamati Jaehyun mengernyitkan alisnya, Jaehyun tampak berusaha sekuat tenaga untuk fokus kepada makanannya dan menahan diri untuk tidak tertawa. Kenapa suaminya tampak begitu geli? Apa yang ada di dalam benaknya?
Krystal sendiri tampak menahan senyum, dia menyendok satu suap penuh sup krim asparagus kental dengan kepiting di dalamnya, dan memutar bola matanya senang.
"Wow, masakan Alfred yang luar biasa. Aku merindukannya, kurasa ini sepadan dengan tinggal di sini beberapa lama sementara Oppa pergi."
"Apa maksudmu?" Yeri langsung menyela, merasa waspada.
Krystal melirik Yeri tidak peduli, lalu menatap Jaehyun.
"Oh aku belum mengatakan maksud kedatanganku kepada kalian ya? Oppa, aku mengalami masalah dengan negosiasi dengan pihak Jepang. Mereka tidak percaya kepadaku, dan ingin pelaksanaan nego diwakili oleh kau langsung."
Krystal menghela napas panjang, "Itu tender yang yang besar dan mereka menahannya sampai kau pulang. Kita akan rugi besar kalau sampai proyek itu tertahan lama, karena itu dengan baik hati, aku menawarkan diri untuk menggantikanmu menjadi tuan rumah di rumah ini untuk tamu kita."
Krystal melirik Yeri dengan sinis. "Sementara kau dan Doyoung pulang untuk mengurus tender itu."
"Apa?" Yeri hampir menjerit, lupa akan sikap datar dan menahan diri yang dipertahankannya, "Tidak! Kau tidak bisa melakukannya kan Jaehyun? Kau tega meninggalkan aku yang sedang sakit sendirian di sini?"
Krystal mengedipkan matanya nakal kepada Yeri, "Kau kan tidak sendirian, ada aku di sini menemanimu."
Yeri melirik Krystal dengan marah, lalu mengalihkan pandangannya kepada Jaehyun, "Jaehyun... aku ... "
"Aku terpaksa harus pergi Yeri. Dan sementara kau masih sakit. Krystal akan menunggu di sini, memastikan semua kebutuhanmu terpenuhi dan kau baik-baik saja."
"Aku...aku akan ikut pulang denganmu...aku sudah merasa agak baikan..."
"Tadi kau bilang kau tidak bisa kemana-mana dan harus tinggal lama di sini." Krystal menyela gemas, "Sudahlah Krys, kau tinggal di sini denganku. Para pelayan dan aku akan memastikan kau pulih dengan baik sebelum pergi dari sini."
"Krystal benar." Jaehyun melanjutkan sebelum Yeri sempat membantah, "Aku dan Doyoung akan berkemas untuk pergi nanti malam. Maafkan aku atas keadaan ini. Semoga kau lekas sembuh dan sehat kembali."
Dan pembicaraanpun ditutup. Kali ini Doyoung yang menelusuri piringnya dengan sikap geli. Mendadak dia mengerti kenapa Jaehyun tadi sepertinya menahan tawa. Lelaki itu sengaja, dia sudah merencanakan semua ini bersama Krystal. Membuat Yeri tidak dapat berkutik lagi.
Mereka meninggalkan pulau itu siang harinya, dan setelah mendarat di pulau dewa, mereka melanjutkan dengan pesawat untuk pulang.
"Kau pasti senang." Jaehyun menggenggam tangan Doyoung yang duduk disebelahnya, tersenyum jahil.
Doyoung menatap Jaehyun dan tertawa, "Kau sangat licik Jung Jaehyun."
Jaehyun ikut tertawa bersama Doyoung dan mengecup dahi Doyoung dengan sayang.
Mereka mendarat di bandara dan langsung dijemput oleh supir pribadi Jaehyun. Tengah malam mereka baru tiba di rumah Jaehyun. Rumah itu masih sama, seindah ingatan Doyoung dulu ketika pertama kemari di pesta itu. Pesta yang menghasilkan sebuah insiden yang mendorong Doyoung dan Jaehyun akhirnya bersatu ke dalam pernikahan.
Mungkin sekarang Doyoung akan mensyukuri insiden itu. Karena sekarang dia menemukan kebahagiaan bersama suaminya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan menatap Jaehyun dengan serius.
"Malam itu malam setelah pernikahan kita adalah malam pertama kita. Aku tahu karena rasanya sakit."
Jaehyun tersenyum lembut, "Aku juga tahu karena aku harus menembus penghalang yang kuat, sebelum bisa memasuJungu."
Pipi Doyoung memerah mendengar kata-kata vulgar Jaehyun yang diucapkan dengan santai.
"Kalau malam itu adalah malam pertama kita, berarti waktu itu kita tidak berbuat apa-apa di sini."
Jaehyun mengangkat bahu, "Aku memang tidak ingat. Tetapi mungkin kita hanya mabuk dan tertidur di ranjangku."
"Tetapi waktu itu kita telanjang bulat." Doyoung mengerutkan dahinya.
Jaehyun tertawa, "Mungkin kita bercumbu sedikit lalu tertidur." Ingatannya melayang kepada Doyoung yang meninggalkannnya tidur ketika dia mencumbunya waktu itu. Yah setidaknya Jaehyun tidak sepenuhnya berbohong.
"Padahal kejadian itu adalah alasan kita menikah." Doyoung menghela napas, "Kalau kau tahu kita tidak berbuat apa-apa, kau bisa tidak menikahiku."
"Hei aku tidak peduli apa alasan yang mendorongku menikahimu. Kalau bukan karena isiden di malam itu, kurasa aku akan menemui cara untuk menikahimu pada akhirnya."
Jaehyun mendekap Doyoung ke dapam pelukannya, "Dan aku selalu mensyukuri karena aku menikahimu. Kau adalah sumber kebahagiaanku Doyoung."
Doyoung membalas pelukan Jaehyun sambil tertawa, "Kau juga Jaehyun, Aku mencintaimu dan aku mempercayaimu sepenuh hati."
Bagaimana kalau kepercayaan Doyoung tiba-tiba dihancurkan olehnya?
Jaehyun terbangun di tengah malam. Karena mimpi buruk yang menghantuinya. Mimpi itu datang lagi. Kecelakaan itu. Lalu anak perempuan yang mengusirnya dari rumahnya dengan tatapan mata penuh kebencian. Kebencian yang menghujam dan masih tetap membuat jantung Jaehyun berdenyut perih sampai sekarang. Dan kemudian mimpi itu berlanjut dengan dia kehilangan Doyoung. Doyoung hilang begitu saja dan dia tidak dapat menemukannya di mana-mana.
Membuatnya menggila, membuatnya seperti ingin mati saja.
Napasnya sedikit terengah dan dadanya terasa sesak oleh mimpi yang menakutkan itu. Dengan lembut diliriknya perempuan yang terbaring manis di sebelahnya. Doyoungnya. Isterinya. Yang mencintainya dan mempercayainya... Mempercayainya.. Doyoung sangat mempercayainya, dengan tanpa prasangka, perempuan itu meletakkan hatinya di tangan Jaehyun, pasrah dan percaya kepadanya.
Sementara Jaehyun membangun sebuah pernikahan yang didasarkan pada kebohongan.
Cintanya kepada Doyoung bukanlah suatu kebohongan, dia sungguh-sungguh mencintai Doyoung, dari lubuk hatinya yang paling dalam. Doyoung adalah sumber kebahagiaannya yang paling dalam, begitupun dia ingin menjadi sesuatu yang sama bagi Doyoung. Tetapi semua selain cinta itu adalah sebuah kebohongan. Sebuah kebohongan yang terjalin dan membentuk dinding rapat yang menutup rahasia masa lalu mereka.
Rahasia itu, rahasia tentang kematian ayah Doyoung. Jaehyun tidak pernah bisa lari dari masa lalunya, dia adalah pembunuh ayah Doyoung. Bagaimana dia menjelaskannya kepada isterinya itu, kalau suatu saat Doyoung mengetahui kebenarannya? Akankah cinta yang mereka bangun saat ini hancur begitu saja?
Jaehyun tidak mau kehilangan Doyoung, dia akan mati kalau sampai itu terjadi.
"Aku sudah pulang." Doyoung menelepon Sooyoung segera keesokan paginya, dia sedang di sendirian karena Jaehyun sedang bekerja untuk mengurus proyeknya. Krystal ternyata tidak berbohong tentang yang satu itu.
Sooyoung memekik senang di seberang sana, "Kau harus datang ke sini."
"Ya aku akan datang ke rumahmu siang ini." Doyoung tertawa, dia tadi sudah bilang kepada Jaehyun akan mengunjungi Sooyoung siang ini, dan Jaehyun mengizinkannya dengan syarat Doyoung harus mau diantar jemput oleh supir pribadinya, dan Doyoung tidak keberatan dengan syarat itu.
"Jadi begitu ceritanya." Doyoung menyelesaikan ceritanya, dari awal sampai akhir, dari insiden malam pesta itu sampai akhirnya mereka jatuh cinta. Doyoung sedang menggendong puteri kecil Sooyoung yang masih bayi, dia membuai anak perempuan cantik yang sedang terlelap itu dengan penuh kasih sayang.
"Wow sebuah kisah yang tak terduga tapi sangat indah." Mata Sooyoung berbinar-binar. "Dari ceritamu, aku yakin Mr. Jeffrey sangat mencintaimu Kyung. Sudah sekian lama aku menjadi asistennya, dan dia begitu dingin, begitu menutup diri. Aku dulu membayangkannya akan menjadi penyendiri seumur hidupnya, aku tidak menyangka dia akan menikah dan jatuh cinta kepada seseorang." Sooyoung tersenyum lembut, "Aku turut bahagia untuk kalian berdua."
Doyoung tersenyum juga, "Yah aku sendiri tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Tetapi aku bahagia." Senyumnya melebar, membuat Sooyoung tertawa.
Tetapi kemudian ekspresi Sooyoung berubah serius, "Kau tidak mencari tahu kabar Rowoon akhir-akhir ini?"
Doyoung menggelengkan kepalanya, "Buat apa? Setelah insidennya dengan perempuan bernama Hyuna di kamar waktu itu, aku sudah melupakannya. Dia tak pantas untuk kupikirkan."
"Kau bilang nama perempuannya Hyuna?" Sooyoung menyela cepat, rupanya Doyoung lupa menyebutkan informasi itu di ceritanya tadi.
Doyoung menganggukkan kepalanya, "Ya. Rowoon memanggilnya dengan nama Hyuna."
"Hyuna adalah sahabat Mr. Jeffrey, dia juga keturunan Korea-Spanyol, dia juga sahabat Krystal. Tetapi dari yang kutahu, Rowoon dulu pernah mengejar Hyuna dan perempuan itu menolaknya mentah-mentah. Hyuna sendiri dengan tegas mengatakan bahwa Rowoon bukan tipenya, dan dia tidak tertarik sama sekali dengan Rowoon."
Doyoung termenung. Dari kenangannya waktu itu, mengingat begitu bergairahnya Hyuna mencumbu Rowoon di kamar, tidak kelihatan kalau Hyuna tidak tertarik kepada Rowoon, perempuan itu malahan tampak bersemangat dan menggoda.
"Mungkin mereka berdua sedang mabuk malam itu."
"Mungkin juga." Sooyoung menimpali, "Tetapi Rowoon jadi berubah sejak dia kau tinggalkan. Dia tidak ceria lagi, menjadi pemarah dan pemurung. Terakhir dia selalu mencari-cari informasi tentangmu. Kapan kau pulang dan sebagainya. Bahkan dia menelepon ke rumahku."
"Benarkah?" Doyoung mengernyit,benarkah Rowoon masih belum menyerah terhadapnya? Bagaimana mungkin? Tetapi kemudian setelah menelaah Doyoung menyadari bahwa itu mungkin saja terjadi. Perpisahannya dengan Rowoon waktu itu berakhir buruk, dan penuh permusuhan.
Rowoon mencoba menjelaskan dan Doyoung tidak mau mendengarkan, lalu Rowoon mulai menuduh Jaehyun dan sebagainya. Mungkin sekarang Rowoon tidak terima karena pada akhirnya, Doyoung menikah dengan Jaehyun. Mungkin jika ada kesempatan bertemu nanti, Doyoung bisa berbicara dengan Rowoon dari hati ke hati, Mengurai kesalahpahaman di antara mereka dan saling memaafkan.
Ya... mungkin dia akan mencari kesempatan untuk menemui Rowoon.
Presiden sudah pulang. Itulah yang dikatakan para pegawai sejak tadi. Semula Rowoon masih tidak percaya, tetapi kemudian Jaehyun muncul dan membiarkan beberapa pegawai menyalaminya, memberinya selamat atas pernikahannya dengan Doyoung.
Rowoon melihat lelaki itu tertawa ramah, sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya dan menjanjikan acara pesta pernikahan yang mengundang para pegawainya.
Rowoon mendengus kesal. Lelaki itu telah mengatur segalanya seakan-akan dia itu Tuhan. Rowoon telah melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan dia menemukan bahwa semua sisi kehidupan Doyoung setelah kematian kedua orangtuanya terkoneksi dengan Jaehyun.
Jaehyun yang mengatur segalanya untuk Doyoung, dari fasilitas pendidikan, tempat tinggal bahkan pekerjaannya. Doyoung diarahkannya ke sini, masuk perusahaannya bagaikan sebuah mangsa tidak berdaya siap disantap untuk kesenangan Jaehyun. Rowoon menahan kemarahan di dalam dadanya, dia tidak akan membiarkan Jaehyun berjaya. Doyoung harus tahu kalau selama ini dia dibodohi dan dimanfaatkan oleh lelaki yang menjadi pembunuh ayahnya. Jaehyun telah merencanakan semuanya, dia menjebak Rowoon dan kemudian entah dengan cara apa dia menjebak Doyoung untuk menikahinya.
Lelaki itu lelaki sempurna dan yakin bisa mendapatkan apa saja yang dia mau. Rowoon mencibir. Tetapi kali ini, dia akan memastikan Jaehyun menerima ganjarannya. Dia hanya harus mencari tahu dimana Doyoung, dan mengatur pertemuan dengannya. Setelah itu dia akan melemparkan semua bukti yang dimilikinya tentang rahasia gelap yang disimpan Jaehyun selama ini.
Mata Doyoung akan terbuka. Dan Rowoon akan menawarkan diri menjadi penopangnya. Doyoung akan kembali ke dalam pelukannya lagi, Rowoon yakin itu. Dan Jaehyun... seluruh rencana lelaki itu akan hancur. Rowoon tersenyum jahat, membayangkan seluruh rencananya. Jaehyun akan menyesal telah main-main dengannya.
To Be Continue
Aku tuh gak tega loh sebenarnya sama Rowoon dan Yeri, tapi aku lebih gak tega lagi liat Jaehyun yang galau kalo Rowoon ama Doyoungie atau Doyoungie yang cemburu sama Yeri
Vote and Comment juseyo
