Unforgiven Hero Bab 11

"Tamu untuk anda Mr. Jeffrey." Yuri masih memanggilnya dengan nama Mr. Jeffrey. Tidak masalah untuknya, Jaehyun tersenyum, ternyata namanya bukan masalah untuk Doyoung.

"Aku dengar kau pulang dari bulan madumu, jadi aku mengajak Chanyeol kemari." Johnny melangkah masuk, seperti biasanya tanpa permisi langsung duduk di sofa besar di ruangan itu. Seorang laki-laki berbadan ramping, berpakaian serba hitam mengikuti masuk, pandangannya mengawasi seluruh ruangan dengan tajam, sampai kemudian bertatapan dengan Jaehyun.

Park Chanyeol. Jaehyun membatin. Ini adalah pertemuan kedua mereka setelah pertemuan singkat di sebuah pesta waktu itu. Jaehyun memilih datang sendirian ke pesta Chanyeol waktu itu dan membuat Johnny sibuk mencemoohnya. Johnny sempat mengenalkannya dengan Chanyeol, tetapi mereka tidak bisa berbicara lebih, karena Jaehyun buru-buru pergi untuk urusan lain.

"Chanyeol juga baru pulang dari bulan madunya." Johnny bergumam ketika Jaehyun dan Chanyeol hanya berpandangan dengan kaku, saling mengawasi.

"Bulan madu? Bukankah kau sudah menikah lama, Chanyeol?" Dan sepengetahuan Jaehyun, Chanyeol sudah memperoleh satu putera dari isterinya. Dia melangkah mendekati sofa dan duduk di sana, mempersilahkan Chanyeol untuk duduk.

"Bulan madu kedua." Chanyeol menyahut dengan suaranya yang dalam. Entah kenapa kata 'bulan madu' itu membuat ekspresi dingin dan kejam di wajahnya melembut. Mungkin benar kata Johnny, lelaki ini benar-benar mencintai isterinya. Kalau begitu, lelaki ini tidak sejahat yang dikatakan orang. Seorang lelaki yang bisa mencintai seorang perempuan sepenuh hati, adalah lelaki yang baik, jauh di dalam hatinya. Jaehyun merasa prasangka buruknya terhadap Chanyeol memudar.

"Bagaimana bulan madumu?" Johnny bergumam lagi, menatap Jaehyun sambil tersenyum.

"Semua berjalan sesuai rencana?"

"Sesuai rencana." Senyum Jaehyun melebar, lupa kalau di depannya ada Wu Chanyeol, sosok yang tidak dikenalnya seakrab Johnny, "Dia mengatakan mencintaiku."

Johnny terkekeh, "Dasar bajingan yang beruntung." Diliriknya Chanyeol, "Jaehyun lebih beruntung dari kita, dia bisa dengan cepat mendapatkan cinta isterinya. Sementara kita harus jungkir balik mencoba segala cara."

Chanyeol ikut tersenyum mendengar kata-kata Johnny itu. Dan suasana kaku di antara mereka menjadi cair. Mereka lalu membicarakan masalah pekerjaan dan proyek kerjasama mereka dan pembicaraan mengalir lancar seolah mereka sudah sering berkumpul dan bercakapcakap dengan akrab sebelumnya.

"Aku harus pulang." Chanyeol melirik jam tangannya, "Aku sudah berjanji mengantarkan Sehun ke dokter."

"Sehun sakit?" Johnny yang sedari tadi sibuk membaca berkas catatan pengajuan proyek yang mereka bahas mengangkat kepalanya, Chanyeol menggelengkan kepalanya, senyumnya melebar, tak tertahankan.

"Bukan. Dia mual dan muntah di pagi hari. Sepertinya kami membawa oleh-oleh hasil bulan madu kedua kami."

"Wah. Kau mengejarku rupanya." Mata Johnny melembut ketika mengingat kedua malaikat kecilnya dan ibu mereka yang sangat dicintainya, "Sampaikan salamku untuk Sehun. Aku akan mempelajari berkas ini dulu, nanti aku diskusikan hasilnya denganmu."

"Oke." Chanyeol beranjak berdiri, dan Jaehyun mengikutinya. Lelaki itu tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Jaehyun yang segera disambut Jaehyun , mereka bersalaman, "Semoga kerjasama kita baik ke depannya."

Setelah itu Chanyeol berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan.

"Dia baik kan. Tidak sekejam yang dikatakan orang. Apakah kau masih tidak menyukainya?" Johnny bergumam, matanya tidak lepas dari berkas-berkas di tangannya.

Jaehyun menatap ke arah kepergian Chanyeol dan mengangkat bahu. "Well, aku tidak salah kalau dulu aku tidak menyukainya. Rumor yang beredar begitu kental kalau dia sangat kejam dan pemarah. Semua orang takut kepadanya. Tapi dia berubah setelah menikah ya?"

"Yah dia berubah setelah menemukan Sehun isterinya. Kekejamannya memang tiada tara, sampai mambuat Taeil isteriku mencemaskan Sehun. Kau tahu, mereka bersahabat. Tetapi lelaki itu sungguh-sungguh memperjuangkan cintanya. Dan ketika dia mendapatkannya dia menghargainya."

Johnny tersenyum ke arah Jaehyun dan meletakkan berkas-berkasnya, "Dan dari kata-katamu tadi, aku pikir pernikahanmu juga berjalan semakin baik. Kau bisa sesegera mungkin membuat isterimu hamil, lalu membangun keluarga kecil yang bahagia, seperti aku dan Chanyeol."

Jaehyun menghela napas. Bayangan akan perut Doyoung yang membuncit mengandung anaknya, ataupun bayangan dia akan menggendong buah cintanya dengan Doyoung membuat dadanya hangat. Tetapi ketakutan itu tetap ada, ketakutan yang membuatnya bermimpi buruk akhir-akhir ini. Ketakutan akan terkuaknya sebuah rahasia yang akan menyakiti Doyoung.

"Aku belum pernah bercerita kepadamu tentang isteriku ini, dan kenapa aku sangat mencintainya."

"Kupikir kau ingin menyimpannya untuk dirimu sendiri." Johnny tersenyum, "Kau tampak letih Jaehyun, bukankah pernikahan ini seharusnya membuatmu bahagia?"

"Aku bahagia." Jaehyun menggumam pelan, "Tetapi aku lelah menyimpan rahasia."

"Rahasia apa?"

"Rahasia masa laluku yang terKait dengan Doyoung isteriku." Jaehyun menghela napas di masa lalu. Dan Doyoung tidak menyadari bahwa aku adalah orang yang sama. Dia mencintai aku yang sekarang... tetapi kalau dia tahu siapa aku sebenarnya..."

Johnny menumpukan tangannya di dagu, "Apa maksudmu Jaehyun? Coba ceritakan kepadaku supaya aku bisa mengerti."

Dan cerita itupun mengalir. Tentang masa lalu Jaehyun, tentang kecelakaan itu dan pengusiran yang dilakukan Doyoung dengan penuh kemarahan, yang menyadarkan Jaehyun setelahnya. Tentang semua usaha Jaehyun untuk menebus dosanya. Semua yang dia lakukan untuk membuat hidup Doyoung mudah, hanya untuk menyadari bahwa dia sebenarnya amat sangat mencintai Doyoung dan ingin memilikinya. Akhirnya Jaehyun mengambil resiko memiliki Doyoung, menikahinya. Dengan tetap merahasiakan masa lalu itu. Jaehyun menceritakan ketakutan-ketakutannya. Mimpi-mimpi buruknya akhir-akhir ini yang sangat mengganggu kepada Johnny.

Sahabatnya itu hanya menatapnya tajam beberapa lama, lalu menarik napas panjang.

"Wow." Gumamnya kemudian, "Aku pikir kisah cintaku adalah kisah paling rumit di antara semua pasangan. Punyamu lebih rumit dan penuh rahasia." Johnny menyandarkan tubuhnya di sofa. "Tetapi sebuah pernikahan harus didasarkan pada kejujuran utuh kedua pasangan, Jaehyun. Kalau tidak pernikahan itu tidak punya landasan."

Johnny menatap Jaehyun yang hanya terdiam, "Aku menikahi Taeil waktu itu setelah kami sama-sama menyatakan cinta, setelah tidak ada ganjalan dan rahasia di antara kami berdua. Karena itulah kami bisa melalui semuanya dengan baik sampai sekarang. Saling mendukung dan mencintai." Johnny mengangkat bahu, "Kalau mengambil contoh pernikahan Chanyeol, hampir sama dengan yang kau lakukan, dia dan pasangannya sama-sama keras kepada dan tidak mau mengakui kalau mereka saling mencintai. Awal pernikahan mereka dipenuhi gejolak dan salah paham, tetapi itu akhirnya mendorong mereka untuk mengungkapkan isi hati masing-masing dan pada akhirnya mengakui kalau saling mencintai."

"Aku dan Doyoung sudah mengakui saling mencintai ." Jaehyun bergumam, tetapi hatiku tetap tidak tenang.

"Karena kau seperti berjalan di atas bom yang akan meledak entah kapan. Itu membuatmu selalu waspada dan mengalami mimpi buruk." Johnny menatap Jaehyun dengan serius, "Kau harus menceritakan semuanya kepada Doyoung."

Wajah Jaehyun dipenuhi kesakitan, "Aku tidak bisa, Bagaimana kalau dia meninggalkanku?"

"Katamu dia mencintaimu. Dia mungkin akan mengamuk dan marah besar kepadamu. Tetapi aku yakin dia akan menghargai kejujuranmu. Pada akhirnya dia akan kembali kepadamu." Johnny menghela napas panjang, "Kau harus melakukannya kawan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, sebuah rahasia tidak akan pernah bisa disimpan selamanya, kau bisa membayangkan kan betapa buruknya kalau sampai Doyoung tahu dari orang lain?"

Jaehyun tercenung. Menyadari kebenaran dari kata-kata Johnny. Betul juga. Dia tidak boleh menyimpan rahasia ini terlalu lama dari Doyoung. Dia harus menjelaskan semuanya. Doyoung mencintainya, dan Jaehyun yakin semarah apapun Doyoung. Perempuan itu pasti akan memaafkannya pada akhirnya nanti, dan menghargai kejujuran Jaehyun.

Ya... Jaehyun akan mengungkapkan semuanya kepada Doyoung.

"Bayi Sooyoung sangat lucu dan cantik." Doyoung bercerita sambil menyiapkan air mandi di bathup besar di kamar mandi mereka untuk Jaehyun yang baru pulang dari kerja.

"Oh ya? Kau sudah menyampaikan salamku untuknya?" Jaehyun melepaskan dasinya dan menyampirkan jasnya di kursi. Lalu melangkah menuju kamar mandi besar itu dan bersandar di pintu. Doyoung sedang memeriksa suhu air di kamar mandi itu, kemudian mengambil handuk-handuk putih dan melipatnya lalu meletakkannya di rak handuk di dekat bathup.

"Sudah kusampaikan. Sooyoung mengucapkan selamat untuk pernikahan kita." Doyoung berdiri dan menatap Jaehyun, "Aku berpikir untuk mengunjungi Bibi Park... kita kemarin hanya sempat mengabarkan pernikahan kita melalui telepon, dia sudah seperti ibuku jadi rasanya tidak sopan kalau kita tidak segera menemuinya."

"Akhir pekan nanti aku akan mengantarmu ke Asrama untuk bertemu Bibi Park." Jaehyun tersenyum, mengagumi kecantikan isterinya di bawah sinar lampu kamar mandi yang temaram.

Kamar mandi itu luas, dengan bathupnya yang sangat besar, muat untuk dua orang. Tetapi Jaehyun dan Doyoung belum pernah mencoba melakukannya, berendam berdua karena mereka terlalu sibuk setelah kepulangan mereka. Nuansanya hitam dan putih. Di dominasi oleh marmer hitam dengan semburat abstark keputihan di seluruh ruangan, selain itu semua perabotnya berwarna putih bersih, menciptakan kekontrasan sendiri yang sangat indah.

Tetapi Jaehyun tidak peduli dengan suasana kamar mandinya, baginya yang paling indah adalah isterinya. Isterinya yang cantik, Doyoung yang luar biasa. Yang sekarang berdiri dengan gaun putih sederhana yang melambai di betisnya, membuatnya tampak seperti deChanyeolg turun dari langit dan mempunyai kekuatan untuk menghilangkan semua kelelahan Jaehyun.

"Kemarilah" Jaehyun mengulurkan tangannya, "Aku merindukanmu."

Doyoung tersenyum dan menerima uluran tangan Jaehyun, membiarkan dirinya dihela masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Jaehyun memeluknya dengan erat kemudian mengangkat dagu Doyoung dan mengecupnya lembut.

"Apakah kau merindukanku Doyoung?"

"Sangat." Doyoung tersenyum, "Aku terbiasa melihatmu setiap saat." Jemarinya menelusuri wajah Jaehyun yang tampan dengan lembut. "Rasanya berbeda kalau kau tidak ada."

Jaehyun meraih jemari Doyoung dan mengecupnya lembut, "Mungkin kau bisa masuk ke kantor lagi dan menjadi asistenku."

Doyoung tersenyum, "Ide bagus."

"Dan perusahaanku akan bangkrut dalam sekejap, karena sang pemiliknya terlalu sibuk menyetubuhi asistennya di kantor."

"Jaehyun." Doyoung berseru, mencela kata-kata Doyoung yang vulgar. Membuat Doyoung terkekeh, dikecupnya pucuk hidung Doyoung dan dihelanya masuk ke kamar mandi. Lelaki itu menatap bathup dengan air hangat yang tampak menggoda.

"Ayo, ikut mandi bersamaku,."

"Tetapi aku sudah mandi."

Tatapan Jaehyun kepada Doyoung sangatlah sensual, melumerkan Doyoung sampai meleleh.

"Mandi bersamaku akan lebih bersih, Aku akan membantu menggosok punggungmu, dan membersihkan tempat manapun yang susah kau jangkau sendirian." Dengan menggoda lelaki itu melepaskan kemejanya, membuangnya ke lantai kamar mandi, celananya menyusul kemudian. Membuatnya telanjang bulat dengan tubuh kokoh dan otot yang keras di tempat-tempat yang pas, dibalut warna kulit perunggu kecoklatan yang indah.

Doyoung menelan ludahnya, terpesona oleh sihir sensual yang dipancarkan suaminya.

"Ikut?" Jaehyun mengulurkan tangannya lagi dan Doyoung menerimanya, membiarkan Jaehyun menelanjanginya dan mengajaknya masuk ke bathup.

Lelaki itu bersandar di kepala bathup dan menarik Doyoung ke pangkuannya. Doyoung bersandar dengan nyaman di dada Jaehyun yang bidang. Seluruh punggung dan bagian belakang tubuhnya menempel dengan seluruh bagian depan tubuh Jaehyun, mereka berendam dengan nyaman, aroma minyak aromaterapi mawar mulai memenuhi ruangan, bercampur dengan air hangat yang merendam tubuh mereka.

Jemari Jaehyun bergerak nakal dan mengusap buah dada Doyoung. Buah dada itu licin terkena minyak mawar yang bercampur air hangat dengan puting yang tegak karena terkena angin, Jaehyun memainkannya dengan lembut membuat Doyoung mengerang dan menggerakkan pinggulnya. Merasakan kerasnya kejantanan Jaehyun yang menekan-nekannya dari belakang.

"Angkat sedikit pinggulmu sayang." Jaehyun membantu Doyoung bergerak, dan dengan mudah memasukkan kejantanannya yang sudah begitu keras, menyatukan dirinya dengan kewanitaan Doyoung yang sudah begitu siap menerimanya. Mereka mengerang bersamasama, menikmati penyatuan yang begitu erotis itu. Kemudian Jaehyun menggerakkan pinggulnya pelan, menggoda Doyoung, membuat isterinya menggeliat penuh gairah, jemarinya menyentuh titik sensitif di antara kedua paha isterinya dan memainkannya sambil terus bergerak dengan ritme yang teratur, menciptakan riak pelan di air mandi mereka.

"Aku mencintaimu Doyoung." Suara Jaehyun parau, lelaki itu menunduk dan melumat telinga Doyoung dengan sensual, bibirnya lalu menjelajahi leher dan pundak Doyoung dari belakang, menjilatnya dengan erotis, sementara di bawah sana, pinggulnya bergerak dengan teratur bersama dengan pinggul Doyoung, membawa mereka berdua bersama-sama mendekati puncak kenikmatan.

Gerakan Jaehyun makin cepat dan makin bergairah dan air di sekitar mereka beriak, mengikuti gerakan mereka.

"Terimalah cintaku sayang, terimalah aku." Jaehyun mengangkat pinggulnya, menekankan dirinya dengan begitu kuat, menyatu jauh di kedalaman pusat diri Doyoung, dan menyemburkan ledakan kenikmatannya di dalam sana, membawa Doyoung bersama-sama mencapai orgasme bersamanya.

Mereka lalu terengah bersama dalam diam yang syahdu. Doyoung menyandarkan kepalanya di dada Jaehyun, menikmati debar jantung Jaehyun yang berpacu cepat setelah orgasmenya dan gerakan naik turun dadanya yang tersengal. Setelah tubuh mereka tenang, Doyoung merasa mengantuk, tetapi Jaehyun menegakkan tubuhnya,

"Hei cantik, kau tidak boleh tertidur di bathup. Berbahaya, kau bisa tenggelam." Dengan lembut dia mengajak Doyoung berdiri melangkah keluar dari bathup dan mengarahkannya ke pancuran, "Ayo, aku akan menggosok punggungmu." Lelaki itu menyalakan pancuran air panas yang langsung menyiram mereka dari atas.

Dan mereka bercinta sekali lagi di bawah pancuran.

"Apa kabarmu?" Jaehyun langsung bertanya begitu mendengar suara Krystal menyahut teleponnya.

Suara diseberang sana terdengar mendengus kasar, "Oh. Hai Oppa, tak kusangka kau masih ingat menelepon adikmu yang kau biarkan terjebak dengan seekor ular di sebuah pulau terpencil."

Jaehyun tertawa mendengar nada sarkatis di suara Krystal,

"Mendengar suaramu, aku berkesimpulan kalau kau baik-baik saja."

"Aku baik-baik saja, hanya sedang bosan setengah mati."

"Bagaimana dengan Yeri?"

Krystal mendesah, "Yeri baik-baik saja. Dia sudah hampir sembuh dan sangat menyebalkan, kami saling membenci satu sama lain dan tidak tahan seruangan, kurasa itu juga yang memberi motiviasi kepadanya untuk sembuh lebih cepat. Dia akan pulang lusa. Aku juga."

Jaehyun mengerutkan keningnya, "Menurutmu apakah dia punya rencana untuk mengganggu lagi?"

"Siapa yang bisa tahu apa yang ada di balik kepala cantiknya itu." Krystal tertawa, "Kau harus waspada Oppa. Dia sepertinya menyerah sekarang. Aku berusaha menunjukkan kepadanya bahwa dia sama sekali tidak punya harapan."

"Yah semoga dia melangkah mundur. Aku sudah terlalu sibuk untuk direpotkan dengannya."

Jaehyun mengehela napas dalam-dalam, "Aku akan mengungkapkan semua kepada Doyoung."

"Kau yakin?" suara Krystal merendah, "Menurutmu Doyoung akan mengerti?"

"Aku tidak tahu." Jaehyun mendesah, "Tetapi dia mencintaiku. Dan tidak adil kalau aku terus merahasiakan kenyataan ini dari dirinya. Lagipula aku takut kalau suatu waktu dia mendengar kenyataan itu dari orang lain. Kepercayaannya padaku akan hancur total kalau itu terjadi."

Krystal terdiam, tidak bisa membantah kebenaran yang ada di dalam kata-kata Jaehyun. Memang benar. Rahasia tidak akan bisa selamanya tersimpan. Lagipula paling baik kalau Doyoung mendengarnya langsung dari Jaehyun daripada dia mendengarnya dari orang lain lalu merasa bahwa Jaehyun telah membohongi dan menipunya selama ini.

"Kapan kau akan mengatakannya?"

"Dalam waktu dekat." Jaehyun mengerang dan mengacak rambutnya frustrasi. "Kurasa aku harus menyiapkan diri dan keberanian dulu, dan menunggu waktu yang tepat."

"Semoga semuanya lancar oppa." Krystal ikut merasakan kegelisahan Jaehyun, "Kabari aku ya."

"Pasti. Doakan aku Minnie."

"Pasti. Aku menyayangimu Oppa."

"Aku juga Minnie-ah."

Telepon ditutup. Menyisakan kegelisahan di dalam diri Jaehyun. Kegelisahan yang mulai melingkupinya, bercampur dengan ketakutannya. Takut Doyoung akan meninggalkannya.

Rowoon mengawasi rumah Jaehyun dari kejauhan, dan mengetahui bahwa setiap hari Jaehyun berangkat kerja dan Kyunsoo dirumah bersama para pelayan. Dia tidak bisa bertamu begitu saja ke rumah Jaehyun. Para pelayan itu mungkin ada yang menjadi mata-mata Jaehyun yang mengawasi dan langsung melaporkan kalau Rowoon datang ke sana, dan Jaehyun akan langsung pulang dan menggagalkan semuanya.

Rowoon harus bertindak hati-hati, dia harus menggiring Doyoung supaya berada di luar rumah dan bertemu dengannya, ditempat mereka tidak akan diganggu, di tempat di mana dia bisa leluasa membeberkan semua rahasia busuk Jaehyun. Dan setelah itu Doyoung pasti akan sangat membenci Jaehyun.

Rowoon tersenyum, menikmati saat-saat kemenangannya yang akan segera tiba. Tidak lama lagi.

"Aku akan keluar sebentar untuk membeli kue." Doyoung berpamitan kepada pelayan di rumahnya, dia hendak membeli kue untuk di bawa ke asrama tempat Bibi Park berada esok hari. Supir pribadinya sudah menunggu dan Doyoung masuk ke dalam mobil, menuju ke sebuah cafe bakery yang cukup elegan di pusat kota. Di sana ada kue brownies panggang yang sangat enak, Doyoung akan membeli beberapa sebagai buah tangan untuk dibawa besok.

Ketika mobil mencapai parkiran Bakery itu, ponselnya berdering, dia melihat nama Rowoon di layar ponselnya dan menghela napas. Kebetulan. Pikirnya. Dia sudah berpikir untuk menghubungi Rowoon dan berbicara, menyelesaikan salah paham di antara mereka dan berharap mereka bisa berbicara baik-baik, lalu berpisah tanpa ada ganjalan lagi di antara mereka. Dia meminta supir menunggu dan melangkah keluar, memasuki bakery itu lalu mengangkat teleponnya.

"Halo." Doyoung menyapa Rowoon, dengan suara ramah.

"Hai Doyoungie. Apa kabar?", suara Rowoon terdengar kaku.

"Kabarku baik Rowoon, kuharap kau juga sehat-sehat saja." Doyoung menjawab. Terbawa oleh suasana kaku dan formal yang dibawa Rowoon.

Sejenak suara Rowoon di seberang sana hening, lalu lelaki itu berucap dengan nada datar,

"Aku mendengar tentang pernikahanmu." Nafas Rowoon agak tercekat, "Selamat ya."

Doyoung tersenyum, setidaknya Rowoon mau memberinya selamat, itu pertanda lelaki itu mempunyai niat baik kepadanya,

"Terimakasih Rowoon. Maafkan aku tidak sempat mengabari. Semuanya begitu terburu-buru dan tiba-tiba saja aku sudah menikah."

Rowoon terkekeh pahit di seberang sana, "Apakah kau mencintainya Doyoungie?"

Doyoung menganggukkan kepalanya tanpa sadar, "Ya Rowoon, aku mencintai Jaehyun."

Hening lagi, Kali ini agak lama.

"Aku ingin bertemu." Gumam Rowoon akhirnya.

Doyoung menghela napas, "Kebetulan aku juga berpikiran sama, kurasa kita harus bercakap-cakap untuk menyelesaikan beberapa hal yang mengganjal di antara kita..."

"Kapan kau bisa?"

"Aku harus menanyakannya kepada Jaehyun dulu." Doyoung tentu saja tidak bermaksud bertemu diam-diam dengan Rowoon, dia akan meminta izin pada Jaehyun dulu, dia yakin Jaehyun akan mengijinkannya kalau Doyoung bisa menjelaskan alasannya dengan tepat.

"Tidak! Jangan!" Rowoon menyela dengan cepat, membuat Doyoung mengernyitkan keningnya, "Jangan apa?"

Rowoon berdehem di seberang sana, "Kau tahu, aku kan masih bekerja di perusahaan Mr. Jeffrey... eh... Jaehyun..." Suaranya merendah, "Akan sangat tidak mengenakkan bagiku kalau sampai tahu aku mencoba menemui isterinya, mengingat aku dulu pernah dekat dengan isterinya."

"Tetapi aku tidak bisa bertemu diam-diam denganmu, kalau Jaehyun tahu..."

"Jaehyun tidak akan tahu. Aku mohon Doyoung...aku tidak akan menyita lama waktumu, aku hanya butuh beberapa lama di tempat umum yang kau pilih, sehingga tidak akan memicu salah paham dan fitnah terhadap kita..." Rowoon menghela napas panjang, "Aku mohon Doyoung. Hanya satu kali pertemuan untuk menjelaskan semuanya dan setelah itu kalau kau mau, aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi."

Doyoung termenung memikirkan kata-kata Rowoon, dia menarik napas panjang, "Baiklah, kapan dan dimana?"

"Hari ini bisa?"

Doyoung melirik jam tangannya. Masih jam dua siang. Dia punya waktu panjang sebelum pulang ke rumah dan menanti suaminya pulang dari pekerjaannya.

"Aku sedang membeli kue di bakery" Doyoung menyebut nama Cafe dan Bakery tempat dia berada, "Kalau mau kau bisa datang kemari."

"Oke kedengarannya bagus. Aku akan kesana beberapa saat lagi. Saat ini aku masih di kantor, aku akan mencari alasan untuk keluar."

Setelah itu Rowoon menutup teleponnya. Doyoung lalu memilih beberapa kue dan membayarnya, dia menuju ke mobil dan meminta supir membawa kue-kue itu pulang dulu, dan menjemput Doyoung nanti. Doyoung akan menelepon ke rumah minta dijemput. Karena dia akan bertemu dengan seorang teman dulu selama mungkin satu atau dua jam.

Supir itu mengikuti instruksinya dan membawa mobil pulang ke rumah. Dengan langkah pelan Doyoung memasuki cafe dan bakery yang cukup ramai itu lalu memilih tempat duduk dan memesan cokelat panas untuk dirinya, dan menunggu.

Rowoon datang hampir satu jam kemudian. Lelaki itu masih tampan dengan senyumnya yang luar biasa menawan. Meskipun senyuman itu tidak bisa menggetarkan hati Doyoung lagi, dia telah tertawan oleh suaminya, JUNG JAEHYUN yang tiada duanya, dan tidak ada laki-laki manapun yang bisa mengalahkannya.

Rowoon menyalami Doyoung dan tersenyum meminta maaf lalu duduk di depan Doyoung,

"Maafkan aku terlambat, aku tadi melarikan dari kantor." Lelaki itu tersenyum dan mengamati Doyoung, "Kau tampak makin cantik Doyoung, makin bersinar."

Seperti biasa Rowoon sangat pandai merayu, Doyoung membatin sambil tersenyum,

"Terimakasih Rowoon."

Rowoon menghela napas panjang, seolah bingung ingin berkata apa, kemudian setelah lama, dia mengangkat kepalanya dan menatap Doyoung dalam-dalam.

"Doyoung, kau tahu aku mencintai dan menyayangimu, dan aku ingin kau bahagia." Suaranya lembut, "Tetapi kemudian aku mencemaskanmu ketika mengetahui bahwa kau ditipu."

"Ditipu?" Doyoung mengerutkan keningnya bingung.

"Ya ditipu. Pernikahanmu ini terjadi atas dasar kebohongan, kau ditipu mentah-mentah Doyoungie, dan aku tidak rela kau diperlakukan seperti itu."

"Apa maksudmu Rowoon?" suara Doyoung berubah tajam, apakah Rowoon bermaksud memfitnah Jaehyun lagi?

"Jangan marah dulu, dengarkan aku dulu baru kau boleh memutuskan akan berbuat apa." Rowoon menatap Doyoung dengan kejam ketika melemparkan bom itu.

"Selama ini kau dibohongi Doyoung. Jung Jaehyun, adalah orang yang membunuh ayahmu dalam kecelakaan sepuluh tahun yang lalu."

To Be Continued

OTTEH????? Tenang, chapter nanti bakal terungkap semuanya dan penuh kejutan. :)