Unforgiven Hero Bab 12

Perkataan Rowoon itu membuat Doyoung terperanjat kaget, wajahnya memucat.

"Apa katamu?"

"Aku tidak asal bicara Doyoungie, aku mempunyai bukti." Rowoon mengeluarkan berkas-berkas dari tasnya.

"Kau tentu punya beberapa pertanyaan, kenapa kau bisa dengan mudahnya masuk ke perusahaan milik Jaehyun, kenapa dia dengan mudahnya menikahimu...semuanya ada alasannya. Jaehyun adalah orang yang sama, yang mobilnya menabrak mobil ayahmu hingga tewas sepuluh tahun lalu."

"Apa?" Doyoung sebenarnya sudah bisa mencerna seluruh perkataan Rowoon.

Benaknya sudah menemukan kesimpulan dari apa yang dikatakan Rowoon. Tetapi hatinya berteriak, menolak untuk percaya begitu saja.

"Kau ingat kan? Orang yang menabrak ayahmu itu juga bernama Jaehyun, anak pengusaha kaya yang lolos begitu saja karena mereka mempunyai banyak uang."

Rowoon memberondong Doyoung dengan semua informasi, "Jaehyun yang kau nikahi itu adalah Jaehyun yang sama, anak kaya yang mabuk dan mengebut, lalu menerobos lampu merah dan menabrak ayahmu yang tidak bersalah."

"Tidak... tidak mungkin..."

"Aku sudah menyelidikinya untukmu." Rowoon membuka berkas-berkasnya dan menunjukkannya kepada Doyoung dengan bersemangat.

"Lihat artikel koran ini. Ini beberapa artikel yang aku cetak dari data history di perpustakaan nasional, artikel-artikel ini membahas tentang kecelakaan yang dialami oleh ayahmu dan Jaehyun, lihat di sini, disebutkan, 'Putra milyuner bernama Jung Jaehyun' Kau pikir ada berapa milyuner yang bernama Jung Jaehyun di negara ini? Kau harus mengerti Doyoung, semua ini adalah rencana gila Jung Jaehyun dia mungkin ingin menguasaimu ke dalam pernikahan entah dengan tujuan apa. Yang pasti, selama ini dia membohongimu."

Ingatan Doyoung melayang ke masa samar sepuluh tahun lalu. Ketika dia sedang berduka luar biasa, atas kematian ayahnya yang tidak adil, disusul oleh kematian ibunya yang sakit sejak ditinggalkan ayahnya. Doyoung sebatang kara di dunia dan merasa benci kepada lelaki bernama Jaehyun, anak orang kaya yang telah menghancurkan hidup keluarga kecilnya.

Kemudian lelaki itu datang dengan sombongnya ke rumahnya, membawa bunga. Dan Doyoung menyerangnya, dia tidak ingat masa itu, dia tidak memperhatikan wajah lelaki itu, yang diingatnya adalah dia melampiaskan seluruh kemarahan dan kebenciannya kepada lelaki yang membunuh ayahnya. Dan kemudian lelaki itu pergi. Tidak pernah muncul lagi di dalam kehidupannya. Jung Jaehyun... suaminya?

Jantungnya berdegup dengan kencang dan tangannya mulai gemetaran. Oh Astaga.

Seharusnya dia menyadarinya. Nama mereka sama. Dan sikap Jaehyun seharusnya membuatnya curiga. Lelaki itu terburu-buru menikahinya, untuk apa? Jaehyunmengatakan mencintainya, dan sekarang Doyoung ragu. Doyoung meragukan semuanya. Karena semuanya hanyalah kebohongan.

"Jaehyun sudah mengatur semuanya Doyoung. Malam itu aku dijebak. Alice sendiri yang mengatakan kepadaku bahwa Jaehyun menyuruhnya membuatku mabuk dan merayuku. Dia ingin memisahkan kita berdua."

Suara Rowoon terdengar muak, "Sepertinya dia memiliki obsesi terpendam untuk memilikimu. Dan rupanya dia berhasil. Karena dia berhasil menikahimu Doyoung. Tetapi aku mencari tahu dan aku menemukan rahasia ini. Kau hanya diperalat Doyoung, dan lelaki itu membohongimu."

Doyoung terpaku dengan wajah memucat. Matanya berkaca-kaca, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang. Ditatapnya Rowoon tanpa ekspresi.

"Terima kasih Rowoon atas informasi yang kau berikan."

Reaksi tenang ini tentulah bukan yang diharapkan oleh Rowoon. Lelaki ini mengira Doyoung akan menangis kemudian dia bisa memeluknya dan menghiburnya, membuat Doyoung jatuh ke dalam jeratnya lagi. Tetapi Doyoung begitu tenang meski wajahnya pucat pasi dan matanya berkaca-kaca.

"Kau tidak apa-apa Doyoung sayang?" Rowoon berusaha meraih jemari Doyoung, tetapi Doyoung menghindarinya.

"Aku tidak apa-apa Rowoon, terimakasih atas informasi yang kau berikan kepadaku. Aku juga berterimakasih karena kau begitu perhatian dan mencemaskanku." Doyoung menghela napas panjang. "Setelah ini aku harap kita tidak akan bertemu lagi."

"Apa?" Rowoon terperanjat, setengah berdiri karena kaget.

"Kenapa kau berkata begitu Doyoung? Tidak tahukah kau kalau aku sangat mencintai dan mencemaskanmu? Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Apakah kau akan kembali kepada suamimu yang jelas-jelas sudah menipumu?"

Doyoung memasang wajah datar, "Urusanku dengan suamiku akan kami selesaikan nanti. Maafkan aku Rowoon."

"Kau bisa pergi bersamaku." Rowoon mengubah strateginya menjadi memohon, "Kumohon Doyoung, lelaki itu sudah menipumu. Kau bisa meninggalkannya dan pergi bersamaku. Aku akan menjagamu. Aku bersumpah."

Doyoung menggelengkan kepalany dan tersenyum meminta maaf kepada Rowoon, "Perasaanku kepadamu sudah mati Rowoon... mungkin juga perasaan itu sebenarnya tidak pernah ada."

Doyoung menatap Rowoon dengan pandangan sedih, "Maafkan aku Rowoon-ah."

Rowoon terdiam lama dan menatap Doyoung dalam-dalam, mencoba mencari sesuatu yang bisa menunjukkan kalau Doyoung berubah pikiran. Tetapi wajah Doyoung tetap datar dan dia tidak menemukan apa-apa.

Akhirnya dia menghela napas panjang, "Kurasa aku harus menyerah."

Doyoung mengangguk, mengulangi permintaan maafnya, "Maafkan aku Rowoon, kau lelaki yang sungguh baik, dan aku yakin, kau akan menemukan orang yang tepat untukmu nanti."

Rowoon menghela napas lagi, sepertinya membawa beban yang sangat berat, "Aku hanya ingin kau bahagia Doyoung."

Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, "Sebaiknya kutinggalkan berkas-berkas ini di sini, kalau-kalau kau ingin membacanya lebih lanjut. Selamat tinggal Doyoung."

Dengan langkah gontai, Rowoon melangkah meninggalkan Cafe itu. Meninggalkan Doyoung yang mulai merasakan pertahanannya runtuh, air mata mulai mengalir di pipinya, Tetapi dengan cepat dia mengusapnya, menyadari kalau dia berada di tempat umum.

Dengan cepat dia menelpon supir pribadinya, minta dijemput. Dia akan pulang, dan menghadapi Jaehyun.

Dalam perjalanan pulang Doyoung menangis, tertahan. Supir pribadinya berkali-kali melirik dari kaca spionnya, tetapi tidak berani mengganggu majikannya yang sedang menangis.

Doyoung menangis mengenang semuanya, mengenang segala kebaikan dan kelembutan Jaehyun, malam pertama mereka, percintaan-percintaan panasnya dengan Jaehyun sesudahnya. Semuanya ternyata berdasarkan atas kebohongan yang dibangun oleh Jaehyun.

Lelaki itu ternyata menyimpan rahasia mengerikan. Rahasia yang tak termaafkan. Doyoung mengingat malam itu. Ayahnya sebenarnya sedang sakit batuk, tetapi dia tetap berangkat membawa taxi karena butuh uang untuk membayar uang sekolah Doyoung, sementara sang ibu juga sedang demam di rumah.

Ingatannya melayang ke masa sepuluh tahun yang lalu,

=FLASHBACK ON=

"Appa akan tetap berangkat?" Doyoung menyerahkan segelas teh panas kepada ayahnya, menatap cemas ayahnya yang terbatuk-batuk tanpa henti.

Ayahnya sudah tua tetapi tidak bisa berhenti merokok. Sekarang paru-parunya yang ikut menua tidak bisa menanggung kalau harus berkubang asap setiap hari, sehingga membuat ayahnya batuk-batuk setiap saat.

Sang ayah tersenyum dan menatap Doyoung dengan lembut. Doyoung adalah puteri satu-satunya. Dan anaknya itu sungguh cemerlang di sekolahnya. Dia berjuang mati-matian untuk menyekolahkan anaknya itu, setidaknya Doyoung harus lulus Senior High School sehingga bisa mencari pekerjaan yang lebih baik, masa depan yang lebih baik. Tidak seperti dirinya.

Uangnya sudah habis, kemarin untuk mengobatkan isterinya ke dokter dan membeli beberapa kebutuhan rumah. Dan besok Doyoung harus membayar uang sekolah. Mereka sudah terlambat membayar beberapa kali dan sekolah sudah mengeluarkan surat peringatan. Kalau sampai Doyoung tidak membayar lagi, dia akan dikeluarkan dari sekolahnya.

Ini malam minggu. Pasti ramai dan banyak yang akan menggunakan jasa taxinya. Uang pendapatannya bisa dia pinjam dulu untuk membayar uang sekolah Doyoung. Besok dia akan berputar seharian mencari pelanggan untuk mengganti uang setorannya itu kepada perusahaan Taxi.

"Uang ayah masih kurang untuk membayar sekolahmu, nak. Ayah akan mencari beberapa pelanggan malam ini. Malam ini pasti ramai. Badan ayah tidak apa-apa kok." Lelaki itu tersenyum lalu mengusap rambut Doyoung dengan penuh sayang, "Jagalah ibumu baik-baik ya."

Dan kemudian ayahnya pergi, Doyoung masih mengamati kepergian ayahnya waktu itu, melangkah melalui gang sempit di depan, penuju perusahaan taxi tempat taxinya diparkir.

Tubuh ayahnya sedikit bungkuk dan menua sebelum waktunya, karena beban hidup. Dan Doyoung mengamati punggung ayahnya yang makin jauh dan menghilang di ujung gang dengan menahan pedih. Betapa inginnya dia segera dewasa, bisa mencari uang sendiri sehingga bisa membantu kedua orang tuanya.

Tak diduganya itu adalah saat terakir dia melihat ayahnya. Dini hari, pintunya diketuk oleh tetangga dan beberapa orang yang mengabarkan bahwa ayahnya meninggal karena kecelakaan. Ditabrak oleh pengemudi mabuk tak bertanggung jawab yang menerobos lampu merah.

Ayahnya pulang sudah menjadi jenazah yang tak bernyawa. Dalam peti mati yang disegel rapat. Bahkan Doyoung tidak boleh melihat jenazah ayahnya di saat terakhirnya...

Dan saat itu ketika pemakaman ayahnya. Doyoung berjanji dalam hati. Dia tidak akan pernah memaafkan orang yang membunuh ayahnya...

= FLASHBACK OFF =

Jung Jaehyun adalah pembunuh ayahnya. Orang yang dia nikahi, yang dia kira dia cintai dan mencintainya adalah pembunuh ayahnya...

Lelaki itu merekayasa semuanya. Menjebak Doyoung ke dalam sebuah pernikahan yang entah dengan tujuan apa. Semua kebaikannya, semua kata-kata cintanya. Semua itu penuh kebohongan dan kepalsuan.

Jaehyun menyetir dalam perjalanan pulang, penuh tekad. Dia membawa seikat bunga mawar dan sekotak cokelat mahal berbungkus kertas keemasan dan berpita merah.

Malam ini dia akan mengaku kepada Doyoung

Dia akan mengaku, lalu menyerahkan semua keputusan di tangan Doyoung. Dia akan menjelaskannya sejelas mungkin agar Doyoung tidak salah paham dan mengambil kesimpulan yang salah. Dia akan meyakinkan bahwa semua yang dilakukannya berasal dari rasa bersalah yang kemudian berkembang menjadi cinta. Pada akhirnya Doyoung akan menghargai kejujurannya, Jaehyun yakin itu. Jaehyun bergantung kepada keyakinan itu.

Sejujurnya dia ketakutan setengah mati, tidak tahan kalau harus menghadapi kebencian Doyoung. Kebencian yang menghancurkannya. Sama seperti sepuluh tahun yang lalu.

Membuat hatinya hancur lebur.

Ketika mobilnya diparkir di garasi, dia menatap ke arah rumah dan jantungnya berdegup kencang. Malam ini adalah malam penentuan. Diraihnya kotak cokelat dan bunga itu, lalu melangkah memasuki rumah.

Rumah sepi dan gelap. Jaehyun mengernyit. Biasanya Doyoung sudah menunggunya di ruang tamu, menyambutnya dengan ceria sambil bercerita tentang harinya lalu menodong Jaehyun untuk bercerita tentang harinya juga. Tetapi rumah terasa lengang dan sepi. Para pelayan pasti sudah tidur di bagian belakang rumah, dimana Doyoung?

Jaehyun melangkah menaiki tangga, membuka pintu kamarnya dengan pelan. Kamar itu gelap, dan setelah Jaehyun menyesuaikan matanya dengan kegelapan ruangan, dia menemukan Doyoung duduk di pinggir ranjang, menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca.

"Doyoungie? Kenapa?" Jaehyun melangkah masuk, dan seperti biasa berlutut di depan isterinya, disentuhnya dahi Doyoung dengan lembut, "Kau sakit?"

Doyoung memiringkan kepala, menghindari Jaehyun, sebuah gerakan refleks yang sama sekali tidak diduga oleh Jaehyun, isterinya menghindari sentuhannya? Kenapa? Apa yang terjadi?

"Doyoungie?"

Ruangan itu gelap. Tetapi tatapan Doyoung yang ditimpakan kepada Jaehyun begitu tajam, penuh luka. Membuat jantung Jaehyun berdenyut cemas.

"Aku hanya menginginkan sebuh kebenaran. Jawab pertanyaanku Jaehyun..." Doyoung menghela napas dalam-dalam, "Apakah kau orang yang menyebabkan kematian ayahku?"

Dunia seakan runtuh di bawah kakinya. Seketika itu juga. Seakan menelannya dan membuat rongga dadanya serasa sesak, sesak yang menyedihkan. Doyoung sudah tahu. Doyoung sudah tahu entah dari siapa, dan dia terlambat.

Apa yang harus dia lakukan? Isterinya ini pasti sekarang sangat membencinya, menolak sentuhannya. Muak kepadanya. Jaehyun menundukkan kepalanya, suaranya keluar penuh kepedihan.

"Ya Doyoungie."

Jawaban singkat sudah cukup. Hati Doyoung hancur seketika itu juga. Air mata mengalir deras di pipinya, seluruh pertahanannya hancur, membuatnya luluh dan tidak berdaya. Jadi semuanya benar. Semua ini hanyalah kebohongan yang dibangun Jaehyun. Semua ini hanyalah kepalsuan.

"Kenapa kau membohongiku..." Doyoung terisak-isak dalam kepedihan, 'Kau membohongiku, kau menipuku selama ini... dan aku.. dan aku bahkan mencintamu! Oh Ya ampun! Betapa bodohnya Aku!" Doyoung berdiri, menghindari kedekatan Jaehyun dan melangkah ke dekat jendela, "Teganya kau Jaehyun!"

Jaehyun merasakan kesakitan luar biasa melihat kesedihan Doyoung. Yah. Pada akhirnya yang dilakukannya hanyalah membuat Doyoung menangis sedih. Sama seperti sepuluh tahun lalu, yang bisa dilakukan Jaehyun hanyalah menghancurkan kehidupan Doyoung, membuat perempuan itu menangis. Dia memang jahat, dan sekuat apapun dia mencoba, dia memang tak termaafkan.

"Aku memang jahat Doyoung. Aku... aku tidak pernah bermaksud membohongimu. Aku ... aku hanya takut mengungkapkan semua kebenaran kepadamu, takut kau akan membenciku."

Jaehyun melangkah mendekati Doyoung, mencoba menyentuh dagu Doyoung, tetapi perempuan itu menepiskannya. Jaehyun tidak menyerah, di pegangnya kedua bahu Doyoung, cukup lembut tetapi kuat sehingga Doyoung tidak bisa melepaskan dirinya.

"Tatap aku sayang. Lihat aku. Biarpun semuanya hanya kebohongan. Tetapi cintaku padamu itu nyata. Tidak berartikah itu semua kepadamu? Aku membohongimu karena aku mencintaimu, karena aku sangat mencintaimu!"

"Aku tidak akan menerima cinta dari lelaki yang membunuh ayahku!" Doyoung berteriak, setengah menjerit, tidak tahan menerima pernyataan cinta Jaehyun yang bertubi-tubi, membuat hatinya lemah, "Pernikahan kita sudah berakhir Jaehyun, aku akan pergi."

"Jangan Doyoung!" Mata Jaehyun menyala, "Kau sudah berjanji bahwa kau tidak akan meninggalkanku, seburuk apapun keadaan di antara kita. Kau sudah berjanji kepadaku!"

"Janji itu dibuat di atas kebohongan yang kau bangun!" Doyoung berteriak marah. "Kau pikir dengan melakukan semua ini aku akan memaafkanmu? Dengan menipuku? Berpura-pura mencintaiku? Kau pikir aku akan memaafkanmu karena telah membunuh ayahku?"

"Aku tidak berpura-pura mencintaimu!" suara Jaehyun meninggi. "Dan Demi Tuhan, aku tidak pernah menuntut maafmu atas dosaku kepadamu. Tidak Doyoung, aku tidak pernah menuntut maafmu karena aku tidak pantas, karena aku menyadari bahwa aku tak termaafkan!"

"Kau memang tidak termaafkan. Dan bagiku semua sudah selesai. Aku akan pergi." Doyoung melangkah hendak meninggalkan kamar itu. Tetapi Jaehyun menangkap tangannya dengan cepat, menahannya dengan keras.

"Lepaskan aku! Jaehyun! Kau menyakiti tanganku!" Doyoung menjerit berusaha meronta dari pegangan Jaehyun, tetapi lelaki itu menggenggam kedua lengannya dengan begitu kuat, pandangan lelaki itu tampak nyalang.

"Maafkan aku Doyoung. Tetapi aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau isteriku! Kau tidak boleh meninggalkanku!" Jaehyun memegang lengan Doyoung dengan kencang, berusaha meredakan rontaannya.

"Pernikahan kita palsu, aku menganggapnya tidak pernah ada!"

"Teganya kau mengatakan itu!" Mata Jaehyun menyala marah, "Lalu kau anggap apa semua hal yang kita lalui kemarin? Malam pertama kita? Percintaan kita yang panas? Kasih sayang dan cinta yang kita bangun selama ini? Kau anggap apa itu semua?"

Doyoung merasa sakit mendengarkan perkataan Jaehyun itu, yang mengingatkannya akan saat-saat-saat indah mereka. Rontaannya sudah berhenti. Tetapi Jaehyun masih mencekal kedua tangannya dengan kencang, takut dia melarikan diri. Airmatanya masih mengalir, airmata sakit karena pengkhianatan sekaligus kepedihan yang dirasakannya.

"Semua itu sudah musnah Jaehyun. Aku membencimu. Amat sangat membencimu."

Doyoung melemparkan kata-kata itu hanya untuk menyakiti Jaehyun, dan efeknya sungguh luar biasa. Wajah Jaehyun pucat pasi. Ekspresinya seperti seseorang yang dihancurkan dari dalam. Lalu pandangan matanya menjadi kosong. Dia tersenyum pahit,

"Aku memang pantas untuk dibenci." Dengan tenang dia melepaskan cekalannya pada lengan Doyoung.

"Dan kurasa tidak masalah kalau kau tambah membenciku. Toh kau sudah membenciku." Lelaki itu melangkah menuju pintu, dan menatap Doyoung dengan tajam, "Kau tidak akan kuizinkan meninggalkanku. Sampai kau tenang dan menuruti perkataanku. Aku terpaksa mengurungmu di kamar ini."

Lalu lelaki itu melangkah pergi meninggalkan kamar.

Doyoung masih tertegun di tengah ruangan mendengar perkataan Jaehyun ketika bunyi 'klik' terdengar dari pintu, Dia tersadarkan dan setengah berlari menuju pintu. Mencoba membuka pintu itu, tetapi tidak bisa. Pintunya dikunci dari luar, Jaehyun benar-benar mengurungnya!

"Buka pintunya!" Doyoung berteriak, menggedor-gedor pintu itu, "Buka pintunya Jaehyun! Kau jahat! Aku benci padamu!" Doyoung memukul dan menendang pintu itu sebagai pelampiasan rasa frustrasinya. Pada akhirnya dia kelelahan dan jatuh terduduk, bersandar di pintu lalu menangis terisak-siak.

Kemarin kehidupannya terasa begitu sempurna dan Indah. Kemarin sepertinya semuanya baik-baik saja. Dan dalam sekejap dia disadarkan bahwa semuanya tak seindah yang kelihatannya. Istana kebahagiaan itu perlahan-lahan runtuh dan hancur, hanya menyisakan puing-puingnya.

Jaehyun melangkah berderap meninggalkan kamar Doyoung, berusaha menulikan telinganya atas gedoran dan teriakan-teriakan Doyoung di pintu. Dia melangkah menuju ruang kerjanya. Duduk di sana dengan segala emosi memuncak di kepalanya.

Teriakan Doyoung terngiang-ngiang di telinganya. Pernyataan bahwa Doyoung membencinya. Sangat membencinya. Sama seperti sepuluh tahun lalu. Pada akhirnya Doyoung akan selalu membencinya.

Dengan frustrasi Jaehyun memukul tembok ruang kerjanya sekuat tenaga, membuat buku-buku jarinya terluka, tetapi dia tidak mempedulikannya. Lelaki itu lalu jatuh terduduk di lantai. Dan menangis.

Ini adalah kali kedua seorang Jung Jaehyun menangis. Dan penyebabnya sama : Kim Doyoung.

Jaehyun sebenarnya tidak ingin meninggalkan rumah, dia sudah bilang kepada Krystal untuk menggantikannya hari itu, karena dia ingin menjaga Doyoung. Dia tidak mungkin mengurung Doyoung terus-terusan. Mereka harus bicara. Nanti, setelah emosi Doyoung mereda. Tetapi pagi itu dia menemukan berkas-berkas di dalam map itu di meja ruang tamunya. Berkas itu berisi artikel-artikel yang memuat berita kecelakaan sepuluh tahun lalu.

Ada yang sengaja memberitahu Doyoung, untuk merusak pernikahan mereka.

Dan Jaehyun tahu siapa orangnya. Di dalam map itu terlampir kartu anggota perpustakaan nasional atas nama Rowoon. Kurang ajar. Lelaki itu ternyata masih menjadi duri dalam daging dalam pernikahannya bersama Doyoung.

Dengan langkah berderap, Jaehyun turun dari mobilnya dan membiarkan supirnya memarkir mobilnya. Kemarahannya bergolak, seluruh emosi dan frustrasinya bertumpuk, mencari pelampiasan. Langkahnya semakin cepat ketika dia mendekati ruangan IT Manager, tempat Rowoon seharusnya berada.

Rowoon ada di sana. Lelaki itu bahkan tidak sempat mengucapkan satu patah katapun karena Jaehyun langsung menerjangnya hingga terjengkang di lantai dan menghajarnya habis-habisan.

Rowoon yang meskipun kaget pada awalnya, mencoba memberontak dan melawan, berhasil melemparkan satu atu dua pukulan ke dahu Jaehyun, yang kemudian dibalas dengan pukulan keras yang menohok mukanya, membuat kepalanya berdentam-dentam. Pada akhirnya, Rowoon bukan tandingan Jaehyun kalau harus bertarung satu lawan satu. Hasil akhirnya sudah bisa ditebak. Rowoon kalah, babak belur di lantai dengan wajah penuh lebam.

Jaehyun menarik kerah baju Rowoon dengan kasar, kemarahan menyala di matanya, membuat siapapun yang melihatnya takut. Begitupun Rowoon, Jaehyun seperti ingin membunuhnya,

"Jangan pernah berani muncul lagi dalam kehidupanku dan Doyoung, aku akan mengawasimu mulai saat ini. Dan aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu." Jaehyun menggeram dengan nada mengerikan penuh ancaman kepada Rowoon, lalu membanting tubuh Rowoon yang terkulai ke lantai, dia melangkah dengan marah keluar, sebelum keluar, Jaehyun menoleh lagi dan menatap Rowoon dingin, "Oh ya. Ngomong-ngomong, kau dipecat."

Setelah itu Jaehyun meninggalkan ruangan Rowoon dengan pintu yang dibanting.

"Kau bisa dituntut atas penganiayaan terhadap karyawan, oppa." Krystal menempelkan es batu di atas sudut bibir Jaehyun yang lebam, "Astaga oppa, Kau adalah lelaki paling berkepala dingin yang pernah kukenal, tak kusangka kau memilih menyelesaikan ini dengan cara bar-bar."

Jaehyun mengernyit dan memegang es batu di sudut bibirnya. Rasanya sakit. Lelaki sialan itu berhasil memukul bibirnya dalam usahanya membela diri tadi. Brengsek!

"Rowoon pantas menerimanya. Dia memberitahu Doyoung semuanya dengan tujuan jahat, dan entah racun apa lagi yang dia tanamkan ke dalam pikiran Doyoung." Jaehyun mendesis marah.

"Sekarang isteriku membenciku."

"Kita kan sudah menduga ini akan terjadi Jaehyun oppa." Krystal menarik napas panjang,

"Sekarang apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan pulang, dan menunggu sampai Doyoung sudah tenang. Semoga dia bisa menerima penjelasanku ketika dia sudah lebih berkepala dingin."

"Apakah menurutmu dia akan bisa memaafkanmu?"

Jaehyun mengernyit sedih, "Aku tidak tahu. Tetapi aku tidak bisa melepaskannya, Krystal. Aku tidak bisa, Aku terlalu mencintainya untuk melepaskannya." Jaehyun mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Kalau dia tidak bisa menerimaku, kalau dia tetap berusaha pergi dariku, aku akan membawanya ke pulau pribadiku dan menahannya di sana. Di sana dia tidak akan bisa pergi kemanapun." Gumam Jaehyun penuh tekad.

"Astaga oppa." Krystal menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kau tidak akan bisa mempertahankan pernikahan atas dasar pemaksaan."

"Aku tidak tahu harus bagaimana." Jaehyun menghela napas panjang, "Aku tidak tahu harus bagaimana Krystal, dia bilang dia membenciku dan akan meninggalkanku."

Krystal mendekati Jaehyun dan menepuk pundaknya lembut untuk memberikan dukungan, "Pulanglah oppa. Mari kita berdoa semoga Doyoung bisa melupakan kemarahannya dan memikirkan semuanya dengan logika."

Ketika sampai ke pintu rumahnya, Jaehyun disambut oleh pelayannya yang tergopoh-gopoh menghampirinya dengan cemas.

"Tuan Jaehyun!"

Firasat buruk langsung memenuhi benak Jaehyun, "Ada apa?" suaranya menjadi parau.

"Nona Doyoung, tuan, beliau pergi dari rumah. Kami sudah mencoba menahannya. Tetapi ketika salah satu pelayan mengantarkan makanan ke kamarnya, dia memaksa mengambil kunci kamar, Kemudian pergi meninggalkan rumah..."

To Be Continued

Hayooooo kemana nyonya Jung Doyoung pergi?