Unforgiven Hero Bab 13

Doyoung melangkahkan kakinya menuju asrama tempat dia tinggal dulu. Dia tidak tahu harus kemana. Asrama inilah satu-satunya rumahnya selama ini. Mungkin dia akan meminta tolong kepada Bibi Park untuk menampungnya selama beberapa saat. Sebelum dia bisa mengatur kehidupannya dan pergi ketempat sejauh mungkin, yang tidak bisa ditemukan oleh Jaehyun. Dengan hati-hati dia mengetuk pintunya, berharap Bibi Park ada di rumah dan tidak sedang keluar.

Pintu itu terbuka, Bibi Park sendiri yang membukanya.

"Doyoung? Pagi sekali kau datang, ayo masuk nak..." Perempuan itu menoleh ke belakang Doyoung, "Dimana suamimu? Katanya kalian akan datang berdua?"

Air mata langsung mengalir deras dari sudut mata Doyoung ketika mendengar Bibi Park menyebut Jaehyun sebagai 'suaminya' , dia menangis terisak-isak membuat Bibi Park menatapnya kebingungan,

"Oh Astaga, Doyoung kau kenapa? Kau sakit sayang? Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi kepadamu?"

Doyoung mengusap air matanya menatap Bibi Park dengan sedih, "Saya telah dibohongi oleh Jaehyun ibu... semua yang dia lakukan, semuanya palsu. Dia... dia adalah lelaki yang membunuh ayah saya.", Tangis Doyoung makin keras, membuat tubuhnya limbung dan Bibi Park langsung memeluknya, mengusap punggungnya menghibur.

"Astaga nak... sudah nak, jangan menangis... jangan pikirkan semua hal dengan emosi, kau tidak akan menemukan jalan keluar." Hibur Bibi Park dengan lembut, menunggu sampai isakan histeris Doyoung berubah menjadi isakan pelan.

Setelah isakan Doyoung mereda dan sedikit tenang, Bibi Park menghela Doyoung kamar yang selama ini ditempatinya,

"Istirahatlah dulu. Tenangkan pikiranmu. Kamarmu masih sama seperti saat kau tinggalkan dulu. Tenangkan pikiranmu dulu ya nak. Pikirkan semuanya baik-baik." Bibi Park mengantarkan Doyoung masuk kamar dan membantunya berbaring.

"Nanti ibu akan mengantarkan segelas teh panas ke kamarmu." Gumamnya sebelum menyelimuti Doyoung dan melangkah pergi keluar kamar.

Jaehyun yang sedang menyetir tanpa arah, mencari Doyoung tidak bisa menemukannya. Dia teringat kepada asrama itu, dan menyadari bahwa Doyoung belum mengetahui hubungan Jaehyun dengan Bibi Park. Kemungkinan besar Doyoung pulang ke asramanya dulu. Jaehyun memutar balik arah mobilnya hendak menuju asrama ketika ponselnya berdering.

"Doyoung ada di sini." Suara Bibi Park yang lembut terdengar di seberang sana. Dan mata Jaehyun terpejam sejenak, merasakan kelegaan mengaliri tubuhnya mendengar informasi yang diterimanya. Tadi dia sudah cemas luar biasa. Pikirannya dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran negatif, taku kalau Doyoung nekad dan melakukan sesuatu di luar akal sehatnya.

Mengetahui kalau Doyoung sudah aman di asrama sungguh melegakannya.

"Apakah dia baik-baik saja ibu?"

"Dia datang dan menangis, ibu sudah menenangkannya dan sekarang dia beristirahat di kamarnya. Dia sudah tahu semuanya."

"Sebuah insiden membuatnya mengetahui semuanya, dan Doyoung salah paham, mengira saya menipunya, karena dia mengetahui semuanya bukan dari saya." Jaehyun menjelaskan dengan singkat kepada Bibi Park, lalu makin memprcepat laju mobilnya, "Saya akan segera datang untuk menjemputnya."

"Menurut ibu jangan dulu." Bibi Park berucap dengan hati-hati, "Dia masih sangat kalut dan emosional, ibu takut kalau nak Jaehyun datang menjemputnya sekarang, itu akan mendorong Doyoung untuk kabur lagi. Lebih baik kita biarkan dia tenang dulu. Setelah dia tenang ibu akan mencoba mengajaknya berbicara. Baru setelah itu nak Jaehyun bisa datang kemari untuk menjemputnya."

Benak Jaehyun menolak saran itu. Dia sudah tidak tahan menemui Doyoung, menjelaskan kepadanya, kalau perlu mengguncang-guncangnya agar perempuan itu mau menerima penjelasannya. Dia tidak apa-apa di benci Doyoung, dia tidak apa-apa kalau Doyoung tidak mau memaafkannya. Tetapi Jaehyun tidak mau kalau Doyoung tidak mempercayai bahwa Jaehyun sungguh-sungguh mencintainya. Untuk yang satu itu, Jaehyun harus menjelaskannya kepada Doyoung, membuat perempuan itu percaya kepadanya.

Tetapi logikanya tahu bahwa saran Bibi Park ada benarnya juga. Doyoung tidak akan mau menerima penjelasannya kalau dia sedang kalut dan emosi. Percuma saja, Jaehyunmenjelaskan dengan cara apapun, Doyoung tidak akan mau mendengarnya. Dia harus menunggu Doyoung berkepala dingin, sehingga mereka bisa berdiskusi dan tidak saling melemparkan kemarahan dan perdebatan satu sama lain.

Jaehyun berharap dia masih punya kesempatan. Kesempatan menjelaskan kepada Doyoung, kesempatan untuk didengarkan. Dan untuk yang satu itu, Jaehyun rela menunggu.

"Baik Bibi Park, Saya akan menunggu. Tolong kabari saya kalau Doyoung sudah siap untuk saya jemput." Lelaki itu menghela napas panjang, lalu menegarkan hatinya, dan memutar balik kembali mobilnya. Pulang ke arah rumahnya. Dia akan menunggu. Dan semoga penantiannya ini berujung bahagia.

Doyoung duduk di dalam kamarnya dan menghitung-hitung. Tabungannya lebih daripada cukup untuk memulai hidup baru. Selama ini dia selalu menabung, sejak mahasiswa dan bekerja sambilan dia selalu menyimpan uangnya dengan hati-hati sedikit demi sedikit. Beruntung dia bisa mendapatkan beasiswa untuk sekolahnya, dan beberapa keberuntungan lainnya, sehingga pada akhirnya Doyoung bisa menabung sampai mencapai jumlah uang yang cukup.

Sudah mantapkah dia? Doyoung membatin dalam hatinya, menanyakan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri. Sudah mantapkah dia melangkah menjauh dan tidak menoleh lagi? Meninggalkan semuanya? Kenangan itu masih terpatri jelas di benaknya, silih berganti muncul meskipun Doyoung berusaha mengusirnya. Kenangan tentang Jaehyun. Senyumannya, kata-kata menggodanya, bisikan penuh gairahnya... semua tentang Kim Jaehyun yang dicintainya. Bisakah dia hidup dengan pengetahuan bahwa dia telah membuang semua itu? Mampukah dia?

Tetapi Kim Jaehyun bagaimanapun juga, adalah pembunuh ayahnya. Lelaki itu adalah lelaki yang Doyoung berjanji tidak akan pernah memaafkannya...

Kepalanya terasa pening dan dia memijat pelipisnya kebingungan. Ah. Ya Tuhan, kenapa cinta bisa menjadi begini rumit? Kenapa dia tidak bisa seperti orang-orang biasa, yang berpacaran , menikah lalu hidup bahagia?

Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk pelan, suara Bibi Park memanggil di sana, "Doyoung, kau sudah bangun?"

Doyoung sudah bangun sejak lama karena tidurnya dipenuhi mimpi buruk, dan dia sudah mandi.

"Sudah bi." Doyoung membuka pintunya untuk Bibi Park dan tersenyum, "Maafkan kelakuan saya tadi bi."

Bibi Park tersenyum pengertian, "Tidak apa-apa nak. bibi mengerti perasaanmu. Mungkin nanti setelah kau lebih tenang, kita bisa berbicara...tapi sekarang ada tamu untukmu."

Doyoung langsung menegang. Jaehyun? Bodohnya dia. Jaehyun pasti tahu kalau dia kabur ke asrama ini, memangnya Doyoung mau kemana lagi? Tetapi Doyoung tidak siap bertemu Jaehyun.

Dia masih marah, dia benci. Lagipula Doyoung sudah menyiapkan hati untuk meninggalkan Jaehyun dan tidak akan bertemu dengannya lagi.

"Kalau tamunya Jaehyun, aku tidak mau menemuinya." Doyoung berbisik lirik, panik. "Tolong bi, aku tidak mau..."

Bibi Park menggeleng, tersenyum lembut kepada Doyoung, "Bukan Doyoung, tamunya perempuan."

"Begitu melihatnya Doyoung langsung tahu siapa perempuan itu. Perempuan Amerika dengan tubuh yang indah dan kecantikan eksotis yang luar biasa, tetap cantik meskipun usianya sudah separuh baya. Bentuk bibirnya yang seksi berpadu dengan hidung mancung khasnya, dan mata lebar seperti kijang yang luar biasa cantik.

Perempuan ini adalah ibu Jaehyun.

"Kita belum berkenalan." Nyonya Sophia berdiri dari kursi ruang tamu asrama, "Aku eomma Jaehyun, kau bisa memanggilku eomma, atau Sophia, apapun yang membuatmu nyaman." Dia menatap wajah Doyoung dengan lembut.

"Sangat disayangkan kita tidak bisa bertemu sebelum pernikahan kalian. Tetapi aku memberikan restu untuk kalian berdua."

Apa yang dilakukan ibu Jaehyun di sini? Apakah Jaehyun mengirimkan ibunya untuk membujuknya?

Doyoung masih terpaku di ambang pintu ruang tamu sehingga, Nyonya Sophia mempersilahkannya duduk, "Maukah engkau duduk, Doyoung? Aku harap kita bisa sedikit bercakap-cakap."

Bagai terhipnotis, Doyoung melangkah duduk di depan ibu Jaehyun.

"Kalau kau bertanya-tanya, Jaehyun tidak tahu kalau aku datang kemari, dia bahkan mungkin tidak tahu kalau aku sudah pulang dari Amerika. Krystal meneleponku dan aku langsung mengambil penerbangan pertama untuk menemuimu."

Senyum Nyonya Sophia mengingatkannya akan sebuah kenangan yang jauh di masa lalunya. Kenangan menyedihkan itu, sepuluh tahun yang lalu.

"Anda waktu itu datang ke pemakaman."

"Ya. Aku datang ke pemakaman, bersama suamiku. Kau mungkin membenci Jaehyun karena dia tidak datang dan baru datang setelah beberapa lama. Aku minta maaf untuknya Doyoung, Jaehyun waktu itu terluka parah dan harus menjalani operasi Limpa."

Jaehyun menjalani operasi? Itu informasi baru yang tidak pernah diketahuinya sebelumnya. Doyoung mengalihkan pandangan dan mencuri pandang ke arah wajah Nyonya Sophia, dia masih ingat wajah itu, meskipun sekarang sudah ada guratan usia selama sepuluh tahun. Wajah itu masih tetap sama, dengan kecantikan yang tak mudah dilupakan.

Nyonya Sophia datang bersama suaminya setelah pemakaman, menawarkan kepada Doyoung dan ibunya, apa yang mereka sebut sebagai uang permintaan maaf, waktu itu ibunya menolaknya mentah-mentah dan melemparkan uang itu – dalam arti sebenarnya – kepada pasangan suami isteri itu. Pasangan suami isteri itu pergi dengan rasa malu.

"Kenangan kita di masa lalu tidak cukup menyenangkan kan Doyoung?" Nyonya Sophia tersenyum, memahami apa yang ada di benak Doyoung, "Dan bahkan sekarang pun ketika diingat, hal itu masih terasa menyesakkan dada." Nyonya Sophia menghela napas panjang.

"Semua yang terjadi sebenarnya berawal dari kesalahan kami. Semua salahku dan ayah Jaehyun yang membesarkan Jaehyun tanpa kasih sayang. Kami berdua terlalu sibuk dengan urusan bisnis masing-masing, hingga kami melupakan bahwa kami memiliki anak yang membutuhkan perhatian..." Mata Nyonya Sophia berkaca-kaca

"Kami berusaha menggantikan perhatian dan kasih sayang itu dengan uang. Merasa bahwa itu semua sudah cukup. Tetapi Jaehyun tumbuh menjadi seorang pemberontak, selalu membuat ulah... membuat masalah, yang pada akhirnya kami tahu, itu semua hanya untuk memancing perhatian kami..."

Doyoung bisa membayangkan itu semua. Anak-anak keluarga kaya yang tidak pernah menerima kasih sayang orang tuanya, melarikan diri pada kenakalan-kenakalan yang merusak. Dia tumbuh di keluarga miskin harta, tetapi penuh kasih sayang. Dan dia mensyukurinya. Tanpa sadar dia merasa kasihan kepada Jaehyun. Tumbuh dikelilingi harta tapi harus bebuat onar untuk mencari perhatian orang tuanya.

"Puncaknya malam itu, ketika polisi datang dan mengabari bahwa Jaehyun mengalami kecelakaan, kondisinya kritis dan kami hampir kehilangannya. Pada saat kalut itulah kami menyadari bahwa kecelakaan itu telah menelan korban, seorang lelaki yang mungkin juga mempunyai keluarga." Nyonya Sophia menatap Doyoung dengan sedih, "Kami semua menanggung rasa bersalah itu Doyoung, tetapi Jaehyun yang paling berat menanggungnya..."

Ketika Doyoung tidak berkata apa-apa, Nyonya Jaehyun melanjutkan. "Ketika hari itu kau mengusirnya, mengatakan membencinya, mengatakan bahwa dia manusia yang tidak ada harganya. Kau sudah mengetuk nuraninya yang paling dalam. Sejak itu Jaehyun berubah, dia menjadi pribadi yang bertanggungjawab, dia menjadi seseorang yang hidup dengan satu tujuan. Meskipun dia menjalani semuanya dengan penuh kepedihan." Mata Nyonya Sophia mengerjap, menahan air matanya yang mau tumpah.

"Jaehyun telah menghukum dirinya sendiri setelah kejadian itu Doyoung, dia telah menerima hukumannya."

Doyoung memalingkan mukanya, tiba-tiba matanya terasa panas. Benarkah itu semua? Benarkah kejadian kecelakaan itu telah menggugah rasa bersalah Jaehyun?

"Aku pikir sebenarnya yang diinginkan Jaehyun adalah menjadi pahlawan untukmu... menebus semua kesalahannya. Aku tidak bisa menjelaskan apapun kepadamu. Tetapi kau harus yakin Doyoung, bahwa semua yang dilakukan Jaehyun kepadamu, itu karena dia mencintaimu." Nyonya Sophia menyusut air matanya, kemudian beranjak berdiri, Doyoung mengikutinya berdiri.

"Aku harap kau mau mempertimbangkan semua kata-kataku tadi."

Doyoung mengernyit, mencoba bersuara meskipun tertahan, "Saya... saya akan memikirkannya."

"Terimakasih Doyoung." Dengan gerakan spontan, Nyonya Sophia merengkuh Doyoung ke dalam pelukannya, "Aku sangat senang menerimamu sebagai menantuku."

Kemudian perempuan itu pergi. Meninggalkan aroma wangi vanilla yang sangat elegan di ruang tamu itu.

"Kau harus makan Doyoung." Bibi Park meletakkan sepiring makanan yang masih panas di depan Doyoung, "Ayo cobalah meskipun Cuma beberapa suap saja."

Doyoung melirik makanan di piring itu. Makanan itu enak, dan kalau dia tidak sedang pusing. Aromanya yang wangi pasti akan bisa menerbitkan air liurnya. Tetapi saat itu Doyoung merasa pusing, dan tidak ingin makan. Tetapi dilihatnya Bibi Park menatapnya penuh harap, wanita yang sudah seperti ibunya ini tentunya sudah repot-repot memasakkan makanan ini untuknya. Doyoung tidak mau mengecewakannya.

Hanya demi menyenangkan Bibi Park, dia mengambik piring itu dan menyuap makanannya. Perutnya yang sudah seharian tidak diisini menyambutnya dengan rasa mual yang luar biasa. Tetapi Doyoung menahannya. Dia tetap menyantap makanan itu hingga empat suap, kemudian menyerah, menatap Bibi Park dengan tatapan menyesal.

"Maafkan saya, ibu."

Bibi Park tersenyum dan mengangguk penuh pengertian, "Tidak apa-apa, yang penting perutmu terisi."

Bibi Park menatap Doyoung dan menarik kesimpulan, menilik dari sikap Doyoung dan pada kenyataannya Doyoung melarikan diri ke asrama ini, sepertinya Doyoung masih tidak tahu bahwa Bibi Park ada hubungannya dengan Jaehyun. Bahwa semuanya sudah diatur oleh Jaehyun.

Bibi Park sebenarnya sudah menimbang-nimbang untuk berterus terang kepada Doyoung, tetapi kemudian mengurungkan niatnya, sekarang ini permasalahan antara Jaehyun dan Doyoung sudah rumit, dia tidak mau menambahkan permasalahan baru di antara mereka. Lagipula mengenai hal ini, mungkin nant Jaehyun sendiri yang akan menjelaskannya kepada Doyoung, "Bagaimana perasaanmu?"

Doyoung menghela napas panjang, "Saya baik-baik saja ibu."

"Tamumu tadi, dia ibu Jaehyun kan?"

Doyoung menganggukkan kepalanya. Ekspresinya tetap datar hingga Bibi Park harus bertanya lagi.

"Apakah dia berhasil mengubah pandanganmu?"

Doyoung merenung. Apakah ibunya Jaehyun berhasil merubah pandangannya? Mungkin. Ibu Jaehyun memberitahukan hal baru, bahwa Jaehyun hidup dengan rasa bersalah.

Perempuan itu juga berusaha meyakinkan bahwa Jaehyun benar-benar mencintai Doyoung. Tetapi benarkah itu semua? Jauh di dalam hatinya, Doyoung menyadari masih ada perasaan hangat itu ketika mengingat Jaehyun. Tetapi ada juga kebencian yang muncul ketika mengingat bahwa laki-laki itulah yang telah menyebabkan kematian Ayahnya. Hal itu membuat Doyoung bingung dan tak tahu harus bagaimana.

Dini hari Doyoung terbangun dengan rasa mual yang amat sangat. Dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Perutnya terasa sakit dan kepalanya pening.

Dengan napas terengah dia mencuci mukanya dan melangkah gontai ke kamar, lalu membaringkan dirinya di ranjang. Tamu bulanannya belum datang, entah sudah berapa lama. Doyoung menghitung dalam hati. Dan kemudian merasa cemas ketika menemukan bahwa dia sudah terlambat hampir satu minggu. Pusing dan mual-mual itu... apakah dia hamil?

Oh... Astaga. Doyoung mengusap perutnya dengan gugup. Bagaimana kalau dia benar-benar hamil? Mengandung anak Jaehyun? Apa yang harus dia lakukan? Kalau dia memang benar-benar ingin kabur dan pergi menjauh, dia harus merubah semua rencananya. Kehamilan ini merupakan pertimbangan yang sangat penting. Doyoung akan susah mencari pekerjaan kalau perutnya membesar. Dan siapa yang akan menjaganya ketika kandungannya sudah terlalu besar?

Matanya nyalang menatap ke arah langit-langit kamar. Dia harus membeli testpack besok pagi, dan memastikannya dulu. Baru setelah itu dia akan memikirkan langkah selanjutnya.

Jaehyun bersedekap dan menatap ibunya yang cantik, "Eomma menemui Doyoung?"

"Ya." Sang ibu menatapnya meminta maaf, "Maafkan kalau eomma tidak minta izin sebelumnya kepadamu. Eomma memang impulsif. Tetapi setidaknya dia mau mendengarkan penjelasan dari sisi eomma."

"Bagaimana keadaanya?" Jaehyun berbisik lirih, membayangkan Doyoung membuat jantungnya berdenyut. Dia merindukan perempuan itu, merindukan isterinya. Setiap malam dia terbangun, berusaha mencari tubuh hangat Doyoung untuk dia peluk, tetapi perempuan itu tidak ada. Kemudian dia merasakan kekosongan yang sangat dalam di dalam jiwanya, dan terjaga sepanjang malam.

"Dia baik-baik saja, matanya sembab karena banyak menangis.", sang ibu menatap anaknya yang tampak menderita, "Kau sendiri, bagaimana keadaanmu?"

"Aku bisa bertahan." Jaehyun mencoba tersenyum, "Nanti kalau sudah waktunya, aku akan menjemput Doyoung."

"Semoga kau bisa melunakkan hatinya." Ibu Jaehyun berucap setulus hatinya. Demi Jaehyun. Anaknya itu sudah hidup dengan menanggung perasaan bersalah yang semakin lama semakin berat dipikulnya. Dia, sebagai seorang ibu, tidak akan sanggup kalau harus melihat beban itu ditambahi dengan 'patah hati'.

Pagi-pagi sekali Doyoung sudah berjalan menuju apotek yang terletak beberapa meter dari kompleks asrama, untunglah apotek itu buka duapuluh empat jam. Jadi Doyoung tidak sia-sia berjalan. Sepulangnya, dengan hati-hati dia membuka alat itu dan mengikuti instruksinya.

Dia harus menunggu selama tiga menit untuk memperoleh hasilnya. Dengan jantung berdebar dipandanginya alat itu sambil mengitung angka satu sampai seratus delapan puluh. Ketika sudah selesai, Doyoung mengintip alat itu.

Jantungnya berdenyut kencang. Oh Astaga. Dia benar-benar positif hamil. Mengandung anak Jung Jaehyun.

"Bibi Park... aku.. sepertinya aku hamil." Wajah Doyoung pucat pasi, dia mendatangi satu-satunya wanita yang bisa membantunya saat ini.

Bibi Park tampak terperanjat, tetapi dia lalu melihat hasil testpack yang ditunjukkan oleh Doyoung. Matanya bersinar lembut.

"Oh Doyoung. Selamat sayang, kau akan menjadi ibu."

Doyoung meringis mendengar ucapan selamat dari Bibi Park, dipeluknya tubuhnya dengan bingung,

"Ibu...saya bingung, saya harus bagaimana?"

"Kenapa kau bingung? Bayi itu mungkin suatu pertanda bahwa kau harus mempertimbangkan kembali hubunganmu dengan Jaehyun. Kalian akan mempunyai seorang anak, bukankah itu bisa menjadi pertimbangan penting?"

Doyoung mendesah, menatap ke sekeliling dengan gelisah, "Tetapi saya... saya berencana untuk pergi dan memulai hidup baru..."

"Pergi?" Bibi Park membelalakkan matanya, "Apa maksudmu Doyoung?"

"Saya berencana untuk pergi meninggalkan semua ini. Memutuskan hubungan dengan seluruh masa lalu saya."

"Astaga Doyoung, pikirkan dulu baik-baik sebelum memutuskan seperti itu. Kau sudah menikah dan bersuami. Bagaimana mungkin kau meninggalkan semuanya?"

"Saya takut ibu... Jaehyun telah memulai semua dengan kebohongan. Bagaimana mungkin saya melanjutkan pernikahan yang didasari dengan kebohongan?"

Bibi Park menghela napas panjang, "Doyoung. Entah itu didasari kebohongan atau tidak. Saat ini ada seorang anak yang akan hadir di antara kalian yang harus kau pikirkan. Kau akan menjadi seorang ibu, Itu adalah tanggung jawab yang besar. Dan aku yakin, kalau kau mau memberi Jaehyun kesempatan, kalian bisa menyelesaikan permasalahan ini."

Tanpa sadar Doyoung mengelus perutnya, merasa bingung. Apakah dia seharusnya memberi Jaehyun kesempatan lagi untuk menjelaskan?

Doyoung bangun dari tidur siangnya dan mencari Bibi Park, dia hendak meminta Bibi Park mengantarkannya memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dengan langkah pelan dia melangkah menuju kamar Bibi Park.

Asrama ini memang sedang sepi, karena menginjak liburan semester. Banyak penghuni asrama yang memanfaatkan liburan ini untuk pulang kampung ke rumah orang tua masing-masing.

Ada dua atau tiga mahasiswi yang masih tinggal karena sedang mengejar penyelesaian skripsi mereka. Jadi tidak banyak kegiatan di dalam asrama untuk beberapa waktu ke depannya.

Doyoung hendak mengetuk pintu kamar Bibi Park yang setengah terbuka itu ketika dia mendengar suara Bibi Park yang cukup jelas, sedang bercakap-cakap ditelepon.

Sebenarnya Doyoung ingin melangkah pergi dan akan kembali nanti kalau Bibi Park sudah selesai. Tetapi suara percakapan Bibi Park itu menahan langkahnya, membuatnya tertegun.

"Hasil testpacknya positif Jaehyun." Bibi Park bergumam kepada orang yang diajaknya bicara, "Doyoung menunjukkan kepada saya. Dia sudah hampir pasti hamil."

Bibi Park berbicara dengan Jaehyun?

Hening sejenak, tampak Bibi Park mendengarkan suara Jaehyun di seberang, lalu dia menjawab.

"Saya rasa anda harus menjemput Doyoung sekarang, menemuinya dan mencoba meluluhkan hatinya, ini waktu yang tepat, anak itu bisa menjadi pertimbangan penting bagi anda untuk meminta Doyoung kembali kepada anda." Bibi Park terdiam, mendengarkan, lalu ada senyum pada suaranya ketika berbicara.

"Iya.. saya mengerti tuan muda, tidak apa-apa. Tuan Muda tidak pernah merepotkan saya. Sejak awal ketika saya menyetujui untuk membantu Tuan muda menyediakan tempat tinggal bagi Doyoung, saya sudah berniat melakukannya dengan sepenuh hati. Salam untuk Nyonya Sophia, saya akan mampir akhir minggu ini untuk memberikan laporan keuangan tentang asrama ini dan beberapa asrama lainnya kepadanya."

Doyoung sudah tidak tahan lagi, dia melangkah pergi dengan gemetar. Ketika sampai di kamar, dia menutupnya dan bersandar bingung di pintu. Apa yang didengarnya tadi itu? Jadi selama ini Bibi Park merupakan kenalan Jaehyun? Kaki tangannya? Jadi asrama ini tidak didapatkannya karena keberuntungan? Menilik kata-kata Bibi Park di telepon tadi,

Asrama ini adalah milik Ibu Jaehyun... Apakah semua yang ada di hidupnya adalah hasil campur tangan Jaehyun?

Lelaki itu bertindak seolah-olah Tuhan, mengatur kehidupan Doyoung, mengarahkan Doyoung harus bagaimana dan kemana sesuai dengan skenarionya. Sebuah kebohongan lagi, entah berapa kebohongan lagi yang dilakukan Jaehyun kepadanya?

Well. Kali ini Jaehyun tidak akan mendapatkan mendapatkan apa yang dia mau. Doyoung akan menunjukkan bahwa dia bukan boneka yang bisa diarahkan semau Jaehyun, sesuai scenario dan keinginan laki laki itu.

Dengan cepat Doyoung berkemas. Dia akan meninggalkan semuanya. Jaehyun tidak akan pernah bisa menemukannya lagi, ataupun mencoba mengatur kehidupannya lagi.

To Be Continued