Unforgiven Hero – Bab 15

Happy reading

Doyoung tertegun. Dalam diamnya. Dia menolehkan kepalanya dan menatap Jaehyun. Pria itu sedang menunduk, tidak menatapnya, matanya menerawang oleh pikirannya sendiri.

"Kau tahu bagaimana perasaanku waktu itu?" Jaehyun tersenyum pahit.

"Aku datang dengan segala kesombongan dan kepongahanku. Merasa berkuasa dan punya segalanya, merasa bisa membeli permintaan maaf dari seseorang. Tetapi aku salah. Kau membuatku sadar ketika itu. Ketika kau mengatakan bahwa aku adalah manusia hina yang tidak punya harga diri, yang berlindung di balik kekuasaan ayahku. Kau sangat benar." Jaehyun menghela napas. "Aku pulang dengan kesadaran penuh, seperti ditampar untuk disadarkan."

Pria itu menatap Doyoung dengan pandangan penuh kesakitan. "Tetapi aku berusaha, aku berusaha supaya aku bisa berdiri di depanmu, dengan harga diri. Aku berusaha sekuat tenaga. Aku mendirikan perusahaanku sebagai pembuktianku padamu. Perusahaan itu sama sekali tidak menerima campur tangan ayahku, aku memulainya dari nol." Jaehyun menghela napas. "Dan aku memang membohongimu. Aku mengawasimu sejak awal, jangan salah paham, aku sama sekali tidak punya maksud buruk. Aku... Aku hanya ingin menjagamu, aku tahu kau sebatang kara karena aku, dan aku merasa bertanggung jawab untuk itu." Jaehyun tersenyum pahit.

"Ya. Aku mengatur pendidikanmu, semua beasiswa itu. Semua kuusahakan, asrama itu juga bagian dari rencanaku, Bibi Park adalah pegawai Eommaku. Tapi aku tidak melakukannya untuk menguasaimu, aku melakukannya untuk menjagamu. Memastikan kau baik-baik saja. Kurasa jauh di dalam hatiku, aku ingin menjadi pahlawan untukmu."

Doyoung tercenung mendengar penjelasan Jaehyun. Ini sama persis dengan apa yang dikatakan Sooyoung Eonni, dan juga yang lainnya. Apakah selama ini dia terlalu menutup diri? Sehingga tidak mau melihat apa yang sebenarnya merupakan kenyataan. Apakah selama ini dia terlalu diselimuti oleh kebencian dan prasangka? Hingga tidak mau membuka hatinya?

Doyoung sadar bahwa apa yang dilakukan Jaehyun demi kebaikannya. Doyoung ingat betapa mudahnya hidupnya. Pendidikannya yang lancar, tempat tinggalnya yang menaunginya, dan sosok seorang ibu yang menjaganya, Bibi Park. Semuanya disediakan oleh Jaehyun.

"Tujuan awalku adalah supaya kau bisa melanjutkan masa depanmu dengan baik. Setelah itu aku berniat melepasmu, pergi dengan diam-diam sehingga kau tidak pernah tahu ada aku di balik semua skenario itu." Jaehyun menyambung, sambil menatap wajah Doyoung dengan lembut, tahu kalau Doyoung mendengarkannya. "Kuberi kau pekerjaan di perusahaan itu, karena kau mempunyai hak di sana. Perusahaan itu bisa berdiri karena kau. Karena tempatmu adalah di sana. Aku pikir kita bisa melanjutkan hubungan kerja dengan baik, sebagai atasan dengan bawahan. Lalu kuharap kau akan menemukan jodoh yang baik, menikah, lalu hidup bahagia selama-lamanya."

Doyoung menatap Jaehyun tajam. "Kalau begitu, kenapa kau menikahiku, Jaehyun-ssi?"

"Karena aku tidak bisa menipu diriku sendiri." Jaehyun tertawa pahit, seolah mengejek dirinya.

"Tanpa sadar aku jatuh cinta padamu. Kau telah menjadi semacam obsesi yang merenggut hatiku. Membuatku merindukanmu. Semua wanita-wanita itu..." Jaehyun menatap Doyoung dalam-dalam. "Wanita-wanita seperti Yeri, mereka ada untuk menggantikanmu. Aku memang tak berperasaan."

Jadi benar apa yang dikatakan oleh Yeri. Bahwa Jaehyun menganggap Yeri sebagai dirinya. Doyoung yang selalu dipanggil Jaehyun ketika itu memang benar dirinya. Sekarang semuanya jelas.

"Dan kau dekat dengan Rowoon di hadapanku." Suara Jaehyun berapi-api. "Aku dibakar cemburu, luar biasa cemburu. Saat itulah aku menyadari bahwa aku tidak akan bisa melepaskanmu untuk lelaki lain. Aku harus memilikimu untuk diriku sendiri."

"Jadi benar kata Rowoon kalau kau menjebaknya."

"Aku menyuruh Hyuna merayunya. Ya, aku mengakuinya." Jaehyun tersenyum sinis mengingat Rowoon.

"Tetapi yang terjadi selanjutnya adalah murni kesalahan Rowoon sendiri. Kalau dia benar-benar menjaga hatinya dan mencintaimu, dia tidak akan jatuh ke dalam pelukan Hyuna. Aku hanya menunjukkan padamu betapa lemahnya Rowoon sesungguhnya. Betapa kau akan menyesal kalau menyerahkan hatimu padanya."

Doyoung menyadari bahwa perkataan Jaehyun ada benarnya juga. "Kau menyelamatkanku."

"Ya. Aku menyelamatkanmu. Dan kemudian menjebakmu untuk menjadi milikku. Aku akan mengakui semuanya padamu, supaya tidak ada lagi kebohongan di antara kita. Aku memang menjebakmu. Semua kulakukan agar aku bisa menikahimu. Menjadikanmu istriku, milikku."

Dengan lembut Jaehyun menggenggam jemari Doyoung. "Kau tidak tahu betapa bahagianya aku ketika menyematkan cincin ini di jarimu. Aku mencintaimu, Doyoungie."

Doyoung menghela napas panjang, tidak mampu menjawab. Jaehyun menatap Doyoung, kemudian melepaskan genggaman tangannya dan berdiri.

"Tetapi aku tahu semua penjelasanku tidak ada gunanya lagi. Di atas semua itu, kenyataannya tetaplah ada di antara kita. Bahwa aku adalah pembunuh ayahmu, dan bahwa dosaku tidak akan pernah termaafkan. Aku bisa mengerti itu." Jaehyun memalingkan muka.

"Hanya kumohon, jangan tinggalkan aku dulu, demi bayi kita. Setidaknya sampai anak kita lahir. Setelah itu aku berjanji tidak akan menahanmu. Aku akan melepaskanmu, dan aku akan menceraikanmu. Kau boleh menjaga bayi kita, aku mungkin akan meminta izin untuk bisa memperoleh sedikit waktu supaya aku bisa berperan sebagai ayah dalam hidupnya. Selebihnya aku tidak akan mengganggumu lagi."

Jaehyun menundukkan kepalanya, dan mengecup dahi Doyoung. "Istirahatlah, kau harus banyak istirahat dan menenangkan pikiranmu. Dokter bilang pendarahan itu terjadi karena kau tegang dan kelelahan. Aku... Aku akan kembali nanti." Dengan cepat dia memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan kamar itu.

Doyoung merasakan basah di wajahnya. Tetapi dia tidak menangis. Ditatapnya pintu tempat Jaehyun menghilang. Apakah ini air mata Jaehyun? Apakah pria itu menangis untuknya?

Jaehyun duduk dalam gelap, terdiam. Kamar itu temaram oleh cahaya remang-remang dari luar.

Waktu sudah menunjukan jam tiga dini hari. Tapi dia masih belum bisa tidur. Ditegakkannya tubuhnya. Menatap ke arah ranjang rumah sakit, di mana Doyoung sedang tertidur lelap. Seharian ini Jaehyun menunggui Doyoung di rumah sakit. Dan sekarang dia tidur di atas sofa besar yang ada di kamar itu. Jaehyun menyandarkan tubuhnya, dan duduk dalam diam di atas sofa.

Dia telah menawarkan kesepakatan itu. Kesepakatan untuk melepaskan Doyoung setelah bayinya lahir. Tapi hati kecilnya mengejeknya. Karena tahu bahwa Jaehyun tidak akan mungkin melakukannya. Melepaskan Doyoung tidak mungkin dilakukannya, apalagi melepaskan Doyoung bersama bayi mereka.

Apa aku harus memaksakan kehendakku pada Doyoung lagi? - Jaehyun merenung.

Pada akhirnya Doyoung akan lari, dia tidak akan bahagia. Jaehyun harus belajar menerima apa yang diinginkan Doyoung. Meskipun itu menyakitkan untuknya. Mungkinkah hati Doyoung bisa diluluhkannya? Hatinya bertanya-tanya, dia putus asa. Apakah dia cukup berharga untuk dipertimbangkan kembali oleh Doyoung?

"Aku akan pulang bersamamu ke rumah." Doyoung bergumam di pagi harinya. Menatap Jaehyun dengan datar. "Seperti yang kau minta."

Jaehyun menoleh dan tidak bisa menahan binar kebahagiaan di matanya. "Kau benar-benar akan melakukannya?"

"Tapi hanya demi bayi ini. Seperti katamu, sampai bayi ini lahir. Setelah itu kita akan membicarakan langkah selanjutnya."

Istrinya masih tidak mau memaafkannya. Binar kebahagiaan itu surut dari mata Jaehyun. Tapi tidak apa-apa, setidaknya Doyoung mau ikut pulang bersamanya. Dan dia masih punya waktu beberapa bulan untuk mengubah pikiran Doyoung.

"Aku akan menjagamu dan anak kita." Jaehyun mengucapkan janji itu dengan sungguh-sungguh.

Tiga hari setelahnya, kondisi Doyoung sudah membaik dan dia diperbolehkan pulang. Doyoung pulang ke rumah Jaehyun, dan semua sudah disiapkan di sana. Dia belum membicarakan pengaturan kamar untuk mereka berdua. Doyoung berpikir untuk tidur di kamar tamu. Tapi para pelayan menempatkan pakaiannya di kamar Jaehyun. Doyoung akan membicarakannya dengan Jaehyun nanti. Siangnya, Krystal datang untuk merayakan kepulangannya, dia membawa boneka beruang raksasa dan bunga ke rumah.

"Maafkan aku tidak menengok ke rumah sakit. Aku phobia rumah sakit. Eomma menitip salam, dia harus terbang kembali ke Amerika." Krystal menatap perut Doyoung dengan hati-hati. "Apa kau dan calon keponakanku baik-baik saja?"

Doyoung tersenyum. Krystal sangat lugas dan lucu. Doyoung mungkin bisa berteman baik dengannya.

"Dia baik-baik saja." Doyoung mengusap perutnya dengan sayang. "Terima kasih untuk bunga dan bonekanya, Krystal-ah."

"Aku mulanya bingung ingin membelikan apa, tanpa sadar aku sudah menenteng boneka beruang besar ini keluar dari toko." Krystal tertawa. "Ngomong-ngomong, di mana Oppa?"

Doyoung melirik ke lantai dua. "Jaehyun sedang mandi."

"Oh." Krystal tersenyum lembut. "Oppa pasti bahagia setengah mati, terima kasih, Doyoung-ah."

Krystal pasti tidak tahu kesepakatan antara Doyoung dengan Jaehyun, Doyoung membatin. Mungkin gadis itu berpikir bahwa Doyoung sudah memaafkan Jaehyun dan mau kembali padanya.

"Dia seperti orang gila ketika kau pergi." Krystal bergumam lagi. "Pulang hanya beberapa jam, lalu pergi berputar-putar mengelilingi seluruh kota, mencarimu, putus asa untuk menemukanmu. Dan itu berlangsung setiap hari." Krystal menarik napas sedih. "Aku takut kalau dia akan jatuh sakit. Tapi untunglah. Semuanya sudah baik-baik saja." Dengan lembut Krystal menatap Doyoung.

"Terima kasih sudah memaafkan kakakku. Jaehyun hidup dengan menanggung beban yang begitu berat, menghukum dirinya sendiri. Merasa tidak pantas bahagia. Setidaknya kau telah membuatnya berani merasakan kebahagiaan untuk dirinya sendiri."

Ketika Krystal berpamitan. Mata Doyoung terasa panas dan berkaca-kaca, menahan air matanya.

"Tidak apa-apa kan kalau kita tidur sekamar?" Jaehyun berkata ketika dia selesai mandi, menemui Doyoung di ruang keluarga. "Aku berjanji tidak akan menyentuhmu atau memaksakan hasratku. Aku hanya ingin menjagamu. Biasanya wanita hamil sering pusing, muntah, atau membutuhkan hal-hal lainnya di tengah malam atau dini hari. Aku ingin bisa ada dan membantumu kalau aku tidur di sebelahmu."

Jaehyun tampak begitu tulus. Doyoung membatin.

Dia mungkin bisa mempercayai Jaehyun. Tapi dia tidak bisa mempercayai dirinya sendiri. Bayangan tidur bersama Jaehyun lagi setelah sekian lama membuatnya gemetar. Dan di ranjang itu, ranjang yang sudah tak terhitung berapa kali banyaknya, menjadi tempat mereka berdua larut dalam hasrat sensual.

Doyoung gemetar. Tapi dia menahan diri. Apa yang dikatakan Jaehyun itu bisa diterimanya. Kadang dia memang bangun di tengah malam, merasa lapar, atau kehausan yang luar biasa. Dan memikirkan ada Jaehyun di sebelahnya membuatnya merasa tenang.

Malam itu, malam pertama mereka tidur bersama setelah sekian lama. Doyoung berbaring jauh di sudut ranjang yang lain. Matanya nyalang, tidak bisa tidur. Sementara Jaehyun yang berbaring di sudut ranjang yang lain, tidak ada bedanya. Pria itu bolak-balik menggerakkan badannya dengan gelisah, membuat ranjang bergerak-gerak.

Ketika akhirnya Doyoung berhasil memejamkan matanya, Jaehyun yang sedang membalikkan badannya, tanpa sengaja menyentuhkan lengannya ke pundak Doyoung.

"Ahh, mianhae."

Doyoung merasa kesal. Dia gelisah dan tidak bisa tidur, dan Jaehyun membuat semuanya makin buruk. "Jangan bergerak-gerak terus."

Di luar dugaan. Jaehyun terkekeh, membuat Doyoung memutar tubuhnya dan memelototi suaminya itu.

"Kenapa kau tertawa?"

"Karena kita berdua lucu." Pria itu tersenyum simpul. Dan tiba-tiba dengan gerakan cepat hingga Doyoung tidak sempat menolaknya, Jaehyun merengkuh Doyoung ke dalam pelukannya, kepala Doyoung bersandar di rengkuhan lengan dan dada Jaehyun, sementara lengan Jaehyun melingkari pinggang Doyoung dengan posesif.

"Ya! Aish..." Doyoung berusaha melepaskan diri, tetapi Jaehyun menahannya dengan lembut.

"Doyoung-ah. Biarkan aku memelukmu. Aku tidak akan berbuat lebih. Mungkin dengan posisi begini kita bisa tidur lebih nyenyak. Aku butuh tidur, Doyoungie. Aku kurang tidur beberapa hari ini."

Karena menungguinya di rumah sakit dan harus tidur di sofa yang tidak nyaman itu. Doyoung membatin, sedikit merasa bersalah. Akhirnya dia terdiam, menikmati gerakan naik turun napas Jaehyun yang teratur di pipinya. Dan menikmati suara debaran jantung Jaehyun, yang bagaikan musik pengantar tidur untuknya.

Semua wanita hamil di dunia ini pasti menginginkan suami seperti Jaehyun. Doyoung membatin. Pria itu selalu siap sedia. Menggenggam lengan Doyoung dengan lembut ketika berjalan. Di pagi hari ketika Doyoung lari ke kamar mandi dan memuntahkan makanannya, Jaehyun menyusulnya, memijit tengkuknya dengan lembut, lalu melap wajahnya dengan handuk dan air hangat untuk membuatnya merasa lebih baik. Ketika kembali ke kamarnya, di sana sudah tersedia teh mint dan biskuit asin untuk mengatasi rasa mualnya. Bahkan di malam harinya, ketika Doyoung terbangun, merasakan haus, atau lapar. Pria itu langsung terjaga, menuangkan air untuknya, atau mengupaskan apel untuk mengisi perutnya. Dan setelah itu semua, Jaehyun akan memeluk Doyoung di atas ranjang, mengusap punggungnya yang pegal dengan lembut, hingga Doyoung tertidur dengan nyaman.

Kehamilannya sudah mencapai usia sembilan bulan. Tanpa terasa mereka menjalani kehidupan pernikahan dengan baik, tanpa ada percikan pertengkaran di dalamnya. Mereka saling menghargai, saling menghormati, dan menjaga satu sama lain.

Meskipun ada yang berbeda. Jaehyun tampak formal dan jauh. Pria itu memposisikan dirinya sebagai penjaga dan perawat Doyoung. Tidak lebih dari itu. Pelukannya di malam haripun tidak mengandung unsur sensual, hanya dilakukannya untuk membuat Doyoung merasa nyaman. Tidak ada sentuhan penuh gairah, tatapan membara ataupun bisikan serak bernada sensual. Jaehyun benar-benar menepati janjinya.

Pernah di suatu malam, ketika Jaehyun memeluknya, bayinya menendang untuk pertama kalinya, mendesak Jaehyun, membuat pria itu memandang Doyoung dengan takjub. Jemari mereka saling bertumpukan di perut Doyoung, merasakan momen menakjubkan mereka sebagai orangtua untuk pertama kalinya. Malam itu, mata Jaehyun berkaca-kaca, dan pria itu mengecup bibirnya lembut, penuh emosi. Tetapi hanya itu. Setelah itu Jaehyun memeluk Doyoung seperti biasa sampai tertidur.

Doyoung bisa melihat dengan jelas kasih sayang Jaehyun untuknya. Bisa merasakan ketulusan pria itu untuknya. Jauh di dalam hatinya, dia menyayangi suaminya itu. Tapi di sisi lain, kenyataan tak terelakkan tentang masa lalu mereka menjadi penghalang. Doyoung masih belum siap untuk memaafkan Jaehyun, atas kebohongannya dan atas kelalaiannya yang menyebabkan kematian ayahnya. Apakah ayah dan ibunya akan marah padanya kalau dia memaafkan Jaehyun? Doyoung sering bertanya-tanya seperti itu di dalam hatinya. Merasa takut bahwa ternyata dia telah mengkhianati keluarganya dengan memberikan kesempatan pada Jaehyun.

Bayi ini sudah akan lahir. Doyoung mengelus perutnya yang membesar, dan tersenyum. Anak mereka akan lahir dalam waktu dekat, dan Doyoung tidak sabar menanti untuk merengkuh bayi itu ke dalam pelukannya.

Tapi benaknya terasa berat. Memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah anak ini lahir.

"Jangan angkat itu." Jaehyun meraih keranjang buah kecil yang dibawa Doyoung dengan cekatan. "Demi Tuhan, Doyoungie. Duduklah! Tidak usah membantu apa-apa. Biar Krystal dan para pelayan yang membereskan semuanya."

Sambil berdiri di sana dan berkacak pinggang, Jaehyun benar-benar tampak seperti seorang arogan yang suka memerintah-merintah orang, membuat Doyoung cemberut.

"Jae, aku bisa membawa diriku sendiri. Dan aku pegal kau suruh duduk seharian."

"Kau sedang hamil besar dan tubuh mungilmu itu kelelahan membawa-bawa perutmu yang begitu besar." Jaehyun menatap mengancam. "Duduk Doyoung-ah, atau aku tidak akan mau memijit kakimu lagi."

Tentu saja itu bohong. Jaehyun tidak pernah lupa memijit kaki Doyoung setiap malam, dengan minyak essensial yang lembut, membantu Doyoung menghilangkan pegal-pegalnya karena harus membawa-bawa kandungannya yang semakin membesar. Jaehyun juga tidak lupa membantu mengoleskan minyal zaitun ke perut Doyoung yang semakin membuncit setiap malamnya.

Hari ini mereka sedang menyiapkan kamar bayi. Kamar bayi itu terletak tepat di sebelah kamar Jaehyun dan Doyoung, dengan pintu penghubung yang dekat dengan ranjang. Jaehyun sudah menyiapkan kamar bayi itu sejak tiga bulan yang lalu. Mendekorasi, mengganti cat dinding dan wallpapernya dengan nuansa biru lembut – karena hasil USG menunjukkan kalau bayi mereka berjenis kelamin laki-laki – dan menyiapkan perabotannya. Ketika Doyoung memprotes bahwa dia mungkin saja tidak akan tinggal di rumah Jaehyun lagi ketika anak ini lahir, Jaehyun membungkamnya dengan mengatakan tidak mungkin Doyoung langsung pergi begitu saja setelah melahirkan. Doyoung butuh waktu untuk merawat anaknya, sampai beberapa bulan. Baru setelah itu mereka bisa membicarakan kesepakatan mereka untuk berpisah.

Doyoung mendengus dalam hati ketika teringat betapa dia tidak mampu membantah. Pantas perusahaan Jaehyun begitu maju dan pesat, pria itu sangat pandai bernegosiasi dan memanipulasi lawannya.

Tadi pagi, perabot terakhir dan yang paling penting datang, sebuah ranjang bayi. Doyoung bisa membayangkan bayinya berbaring di sana seperti boneka mungil yang terlelap dalam kedamaian.

Pria itu merakit ranjang bayinya sendiri dengan bersemangat, sibuk sendiri di dalam kamar bayi itu. Sementara itu Krystal datang membawa banyak hadiah dan mengaturnya di kamar tersebut, membuat kamar itu tampak benar-benar seperti kamar bayi.

"Sudah jadi. Ayo, Doyoungie, lihatlah." Jaehyun mengajak Doyoung berdiri dengan hati-hati, nada suaranya sangat bersemangat. Doyoung berjalan dengan Jaehyun di belakangnya, langkahnya terhenti di ambang pintu, dan terpesona. Kamar bayi itu sudah siap, begitu bagus seolah tidak sabar menunggu bayi mereka yang akan lahir. Satu-satunya yang kurang dari kamar itu adalah bayi itu sendiri.

"Baguskan." Jaehyun berbisik, berdiri tepat di belakang Doyoung dan melingkarkan lengannya dengan lembut di perut Doyoung yang buncit, menyandarkan tubuh Doyoung ke dadanya. Dagunya bertumpu di puncak kepala Doyoung.

Doyoung menikmati momen indah itu, membiarkan Jaehyun merangkul tubuhnya makin erat. "Ya. Bagus sekali, anak ini pasti akan bahagia terlahir ke dunia ini."

Mereka berpelukan dalam keheningan, mengagumi keindahan kamar bayi mereka.

Dan Krystal ada di sana, menatap kedua pasangan itu dari kejauhan dan mengusap air matanya. Jaehyun tampak begitu bahagia. Jauh terlihat bahagia dari masa-masa itu, ketika dia menanggung dosa masa lalunya dengan sepenuh hati. Dan Krystal berharap, Jaehyun bisa bahagia terus selamanya, dengan Doyoung, dengan keluarga kecil yang akan dibangunnya.

Pagi itu Doyoung merenung. Dia sudah mengambil keputusan. Tetapi sebelum itu dia harus melakukan sesuatu. Jaehyun sedang ada di kantor, mengurus pertemuan dengan koleganya. Pria itu jarang ke kantor selama Doyoung hamil, menyerahkan kendali perusahaan di tangan Krystal dan mengurus segala sesuatunya dari rumah, dia hanya meninggalkan Doyoung untuk keperluan bisnis yang sangat penting dan tidak bisa diwakilkan, seperti hari ini.

Diraihnya ponselnya dan dia menelepon, suara Krystal menyahut dengan cepat di sana. "Ya, Doyoungie?"

"Krystal-ah. Apa kau sedang sibuk?"

"Tidak. Jaehyun ada di sini sedang meeting. Jadi aku sedikit leluasa di kantor. Ada apa, Doyoungie? Kau baik-baik saja? Kau butuh bantuan?"

"Aku baik-baik saja, Krystal-ah." Sejak mereka makin akrab, Doyoung memanggil Krystal sama seperti cara Jaehyun memanggilnya. "Tapi aku minta bantuan padamu, maukah kau mengantarku ke suatu tempat?"

Krystal mengernyit di seberang sana. "Tentu saja. Sekarang? Kemana, Doyoungie?"

Doyoung menelan ludahnya. "Iya, sekarang. Aku takut aku keburu melahirkan dan nanti tidak sempat lagi. Aku ingin kau mengantarku mengunjungi makam orangtuaku."

Jeda sejenak, terdengar Krystal menahan napas, tetapi lalu segera berkata. "Tunggu. Aku jalan ke rumah untuk menjemputmu. Sekarang."

Jaehyun menyelesaikan rapat itu dan melangkah menuju ruangan Krystal, tetapi ruangan itu kosong. Dia mengerutkan keningnya. Di mana Krystal? Jaehyun harus segera pulang dan menjaga Doyoung, jadi dia harus menyampaikan hasil rapat tadi pada Krystal sebelum pulang supaya adiknya itu bisa menindaklanjuti langkah-langkah yang akan mereka diskusikan bersama.

Karena Krystal tidak ada, Jaehyun melangkah kembali ke ruangannya. Dia menghampiri Sooyoung yang sedang sibuk dengan jadwal meeting. Sejak Jaehyun jarang masuk, Sooyoung yang sudah kembali dari cuti melahirkannya mengerjakan pekerjaan ganda, merangkap sebagai asisten Krystal.

"Kemana adikku?"

Sooyoung mengangkat matanya dari layar komputer. "Oh. Sajangnim, anda sudah selesai meeting? Tadi Krystal buru-buru pergi, dia meminta saya menyampaikan pesan pada anda. Dia pergi untuk mengantar Doyoung, mengunjungi makam orangtuanya.

Doyoung berdiri di depan makam ayah dan ibunya yang berdampingan, dengan susah payah diletakkannya rangkaian bunga yang dibelinya di bawah kedua batu nisan itu. Dia ingin berlutut dan memeluk batu nisan itu, tetapi perutnya yang besar membuatnya tidak bisa melakukannya.

Sementara Krystal berdiri agak jauh, mengawasi dari jarak yang cukup. Tahu bahwa Doyoung butuh waktu sendirian bersama makam orangtuanya, dan memberikan privasi itu untuk Doyoung.

Doyoung menatap makam ayahnya, lalu ibunya berganti-ganti, dia bergumam dalam hatinya. Melakukan percakapan lembut yang diyakininya tersampaikan pada kedua orang tuanya.

Appa... Eomma... Aku ada disini. Mungkin kalian bisa melihatku di atas sana. Aku sedang mengandung, anak ini anak Jung Jaehyun. Appa dan Eomma pasti tahu siapa dia. Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian Appa.

Doyoung mengerjap menahan air matanya.

Tetapi aku mencintainya. Maafkan aku. Aku sangat mencintainya. Dia pria yang baik, dia memperlakukanku dengan penuh kasih sayang, dan dia sudah berjuang untuk menebus semua kesalahannya. Aku tahu tidak seharusnya aku mencintainya, tetapi aku mencintainya.

Doyoung menghela napas panjang, bergerak sedikit untuk mengelus kedua batu nisan orang tuanya.

Aku mencintainya. Dan meski dulu aku pernah berjanji untuk tidak akan memaafkannya, aku memaafkannya. Dan semoga, Appa dan Eomma juga bisa memaafkannya.

Doyoung memejamkan matanya, merasakan angin semilir lembut yang tiba-tiba menghembusnya, membuat rambutnya berserakan, dan membuat hatinya terasa damai.

Dia bisa merasakannya. Ketenangan yang luar biasa. Kelegaan yang luar biasa atas penerimaan itu. Memaafkan Jaehyun.

Tetapi kemudian rasa nyeri merayapi punggungnya, membuatnya meringis. Krystal melihat perubahan itu dan mendekati Doyoung dengan cemas.

"Kenapa, Doyoungie?"

Doyoung menatap ke bawah, air bening itu mengaliri pahanya, turun ke kakinya dan beberapa menetes ke tanah, dia tahu apa yang terjadi.

"Krystal-ah... Air ketubanku... Pecah."

To Be Continued

Entah kenapa ya, saya remake bagian ini sedikit merinding disko. Bukan karena parno sih, tapi karena saya terlalu membayangkan ceritanya secara real.

Thanks untuk para readers