Happy ending?
Unforgiven Hero – Bab16
Happy reading
Jaehyun melangkah menelusuri area pemakaman yang amat sangat dikenalnya. Tadi di tempat parkir, dia melihat mobil Krystal di sana. Jadi adiknya dan Doyoung memang benar-benar sedang ada di sini. Dia sering sekali kemari. Meletakkan bunga di atas makam Ayah Doyoung, kemudian menghabiskan waktu berjam-jam di sana untuk meminta maaf. Memohon ampun pada ayah dan ibu Doyoung.
Langkahnya terhenti ketika melihat dua sosok yang sangat familiar di kejauhan, itu Doyoung dan Krystal. Jaehyun mempercepat langkahnya untuk menemui Krystal yang sedang berseru panik sambil berusaha membimbing Doyoung yang berjalan tertatih-tatih.
"Ada apa Krystal-ah?" Jaehyun bertanya cepat, dan ketika melihat keadaan Doyoung dia sudah tahu apa yang akan terjadi, bahkan sebelum Krystal menjelaskannya.
"Air ketubannya pecah." Krystal menjerit panik. "Kita harus segera membawanya ke rumah sakit, Oppa!"
Jaehyun berdebar. Oh astaga. Doyoung akan segera melahirkan, dan mereka masih di sini, di tengah area pemakaman yang luas, yang harus ditempuh dengan jalan kaki beberapa ratus meter lebih sebelum mencapai parkiran mobil. Tetapi Jaehyun tidak sempat berpikir, dengan sigap dipeluknya Doyoung dan diangkatnya ke dalam gendongannya.
"Krystal-ah. Berjalanlah dulu ke mobil, aku akan menyusul." Jaehyun memerintahkan Krystal yang segera berlari untuk mengambil mobilnya. Dengan langkah cepat, Jaehyun setengah berlari sambil mengangkat Doyoung, sambil tetap berhati-hati agar tidak menabrak batu-batu nisan yang berjajar.
"Maafkan aku, Jae. Aku tidak tahu kalau sekarang saatnya."
"Tidak apa-apa. Bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit."
Doyoung berpegangan erat di tubuh Jaehyun yang sedang berjalan cepat. Pria itu tampak sedikit terengah. Tentu saja, dengan usia kehamilannya yang sembilan bulan ini, Doyoung sangat berat, dan Jaehyun menggendongnya sambil setengah berlari.
Beberapa lama kemudian, mereka sampai ke area parkiran, Krystal sudah menunggu di ujung paling dekat dengan pintu penumpang belakang yang terbuka. Jaehyun langsung masuk dan menutup pintunya. Lalu Krystal melajukan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat.
"Bagaimana keadaanmu, Doyoungie?" Krystal berteriak sambil melirik dari kaca mobil.
"Dia bertahan." Jaehyun yang menjawab karena Doyoung sedang mengerang merasakan kontraksi, sementara itu ban mobil berdecit karena Krystal menghindari pengendara yang menyalip dari sebelah kiri.
"Fokus ke jalan, Krystal-ya!"
Jaehyun merasakan cengkeraman erat Doyoung di lengannya ketika Doyoung mengalami kontraksi. Jarak kontraksinya makin dekat dan Jaehyun makin cemas.
"Tarik napas dalam-dalam, Doyoungie." Jaehyun mengingatkan Doyoung cara menarik napas, seperti yang pernah diajarkan pada mereka ketika mengikuti latihan persiapan kelahiran beberapa waktu lalu. "Nah begitu, hembuskan pelan, tarik napas lagi. Sebentar lagi kita sampai."
"Maafkan aku, Jae. Aku...", Doyoung menarik napas panjang, di sela kontraksinya. "Aku tidak tahu akan melahirkan sekarang, kalau tahu, aku akan diam saja di rumah."
Jaehyun tersenyum frustasi. "Selama ini aku menahanmu di rumah supaya ketika kau melahirkan aku bisa dengan cepat membawamu ke rumah sakit, tetapi bayi ini rupanya punya maunya sendiri. Bertahanlah Doyoungie." Jaehyun menggenggam tangan Doyoung ketika kontraksi itu datang lagi.
"Kita sudah hampir sampai."
Mereka sampai beberapa waktu kemudian dengan kelihaian Krystal menembus kemacetan jalan raya. Ketika sampai di UGD, Doyoung ditidurkan di atas ranjang dorong, dan Jaehyun terus memegangi tangannya. Sampai Doyoung dipindahkan ke ruangan melahirkan.
Alat-alat dipasang. Dan alat pemindai detak jantung bayi disambungkan. Suara keras langsung terdengar, suara degup jantung si bayi yang mengencang ketika Doyoung mengalami kontraksi.
Jaehyun terus menggenggam tangannya ketika team dokter dan perawat mempersiapkan proses kelahiran bayi mereka. Dengan lembut digenggamnya tangan Doyoung, memberikan semangat.
"Ayo, Doyoungie. Kita lahirkan bayi kita ke dunia."
Jung Jeno lahir dua puluh menit kemudian dengan tangisan kerasnya yang memekakkan telinga. Dia bayi yang tampan, sehat, dengan kulit kemerahan dan rambut tebal dan gelap.
Dokter memotong tali pusarnya dan para perawat membersihkannya untuk kemudian menyerahkan bayi yang masih menangis keras itu ke dalam pelukan ibunya.
Doyoung berkeringat, setelah proses melahirkan pertamanya yang melelahkan. Tetapi dia bahagia, mendengarkan tangis bayinya yang begitu keras dan sehat memenuhi ruangan. Diterimanya tubuh bayinya yang lembut dan hangat itu dalam buaiannya, kepalanya mendongak menatap Jaehyun yang sedang menatap anaknya dengan terpesona. Sama-sama takjub. Pengalaman ini luar biasa, mengantarkan anak mereka lahir ke dunia ini.
Mereka menjadi orangtua sekarang, dari seorang bayi kecil yang tanpa dosa. Tanggung jawab yang membahagiakan melimpahi pundak mereka, tanggung jawab untuk membahagiakan anak mereka.
Buah cinta mereka. Bagaimana mungkin Jaehyun bisa melepas Doyoung setelah ini?
Doyoung mendekatkan mulut bayi itu ke buah dadanya, dan dengan alami mulut bayi itu mencari-cari, menemukan puting itu, melahapnya dan menghisapnya. Air susunya memancar deras, melimpahi mulut anaknya.
Jaehyun menyentuhkan jemarinya di pipi anaknya, matanya basah tanpa sadar, oleh rasa haru dan bahagia.
"Dia putra kecilku yang pintar." Jaehyun berbisik, suaranya tercekat. Tidak tahu harus bilang apa.
Doyoung tersenyum pada Jaehyun, merasakan betapa dia mencintai suaminya. Suaminya yang lembut, penyayang, dan mencintainya sepenuh hati. Betapa kejamnya dirinya, mendera Jaehyun dengan hukuman kejam, tidak memaafkannya atas kesalahan masa lalu yang dilakukannya. Jaehyun sudah menebus dosanya, dia sudah berusaha. Doyoung seharusnya membuka hatinya dan memaafkan Jaehyun dari dulu.
"Aku mencintaimu, Jae." Doyoung berbisik, membuat Jaehyun yang sedang mengamati putranya yang menyusu terperanjat, di tatapnya Doyoung dengan pandangan ragu.
"Apa? Kau tadi bilang apa?" Jaehyun sudah mendengarnya tentunya. Tetapi hatinya terlalu takut untuk percaya. Dia butuh mendengar sekali lagi.
Doyoung memberikan senyumannya yang paling indah untuk Jaehyun, dan membuka mulutnya untuk mengulangi pernyataan cintanya pada pria itu, tetapi para perawat tiba-tiba menyela mereka.
"Permisi Tuan Jung, kami akan membersihkan sang ibu. Mungkin tuan bisa menunggu di kamar pasien. Kami akan mengantar Nyonya Doyoung dan putra anda ke sana nanti."
Jaehyun sebenarnya hendak membantah, tetapi kemudian melihat para perawat dengan cekatan menyelesaikan tahap akhir perawatan pasca melahirkan pada Doyoung. Dengan diam dia melangkah mundur dan keluar dari ruangan itu.
Jantungnya masih berdebar. Tidak percaya dengan pernyataan cinta Doyoung, ketika dia menemui Krystal dan ibunya yang menunggu dengan cemas di luar.
"Kami mendengar tangisannya, bagaimana Doyoung dan bayinya?" Krystal berdiri menatap tidak sabar ke arah kakaknya.
"Keduanya baik-baik saja. Bayinya... Putraku sehat dan begitu tampan." Jaehyun tersenyum, lalu menatap adiknya dengan rapuh. "Dia tadi bilang kalau dia mencintaiku."
"Apa?"
"Doyoung tadi bilang dia mencintaiku." Mata Jaehyun mulai basah dan panas, dadanya terasa sesak oleh berbagai perasaan yang bergejolak, diusapnya wajahnya dengan tangan gemetaran. "Dia mencintaiku, Doyoung mencintaiku, Krystal-ah."
Krystal menatap kakaknya dengan haru dan mengerti. Ini adalah saatnya. Ini adalah ujung penantian Jaehyun. Pria itu hidup dengan menanggung rasa bersalah yang tak termaafkan. Beban itu luar biasa berat di pundaknya, membebaninya setiap saat. Dan sekarang, dengan pernyataan cinta Doyoung, berarti Doyoung sudah memaafkan Jaehyun. Jaehyun sudah dimaafkan. Krystal menyadari betapa beban itu telah terlepas sepenuhnya dari pundak Jaehyun.
Dengan lembut dipeluknya Jaehyun, Jaehyun tidak menolak pernyataan kasih sayang itu, dia menyandarkan tubuhnya pada Krystal, menumpahkan rasa harunya yang meluap-luap membuat matanya basah. Sementara sang ibu menyusut air matanya sambil mengusap punggung Jaehyun penuh rasa haru.
Ketika Doyoung diantarkan ke kamar pasien, Jaehyun sudah menunggu dengan cemas. Menit-menit berlalu selama Jaehyun menunggu dan jantungnya berdebar. Apakah benar yang didengarnya tadi? Ataukah dia salah dengar?
Doyoung tampak begitu tenang dan nyaman. Putra kecilnya terlelap dengan kenyang di boks bayi kecil yang diletakkan di samping ranjang. Dengan hati-hati Jaehyun melangkah mendekati ranjang dan duduk di tepinya.
"Bagaimana keadaanmu?" Dengan lembut diselipkannya sedikit rambut Doyoung yang menjuntai ke balik telinganya.
Doyoung melirik ke arah bayinya dengan lembut, lalu menatap Jaehyun dan tersenyum. "Aku baik-baik saja."
"Apakah kau mau mengulangi perkataan yang kau katakan di ruang melahirkan tadi?" Jaehyun langsung bertanya, tidak kuat menahan penantian yang membuat debaran jantungnya makin melaju.
"Perkataan apa?" Doyoung mengerutkan keningnya menggoda Jaehyun. Hal itu membuat wajah Jaehyun menjadi pucat.
"Doyoung-ah." Jaehyun mengingatkan bahwa dia serius, tahu kalau Doyoung sedang menggodanya.
Doyoung tersenyum dan menghela napas, jemarinya menyentuh kerutan lembut di antara kedua alis Jaehyun, mengusapnya hingga kerutan itu hilang. "Aku mencintaimu, Jung Jaehyun."
"Doyoung-ah!" Jaehyun memekik, dan langsung membungkukkan tubuhnya, memeluk Doyoung erat-erat penuh kebahagiaan.
Mereka berdiri berdampingan di depan makam kedua orang tua Doyoung. Jaehyun merangkul Doyoung erat-erat. Dalam keheningan yang syahdu. Setelah itu, tanpa kata, Jaehyun meletakkan rangkaian bunga ke makam ayah dan ibu Doyoung.
"Apa yang kau katakan pada mereka?" Doyoung menatap suaminya dengan lembut, ketika mereka berjalan pulang melalui area pemakaman itu.
Hari ini Jeno genap berumur dua bulan. Setiap bulan mereka mengunjungi makam kedua orang tua Doyoung dan meletakkan bunga.
Jaehyun tersenyum dan mengecup dahi Doyoung dengan lembut. "Kata-kata yang sama, bahwa aku meminta maaf dan berjanji akan menjaga putri mereka dengan sebaik-baiknya."
Doyoung memeluk Jaehyun dengan erat. "Kau sudah melakukan janji itu dengan sangat baik."
"Dan akan terus kulakukan tanpa mengenal lelah." Jawab Jaehyun lembut.
Mereka melangkah menuju mobil mereka dan melanjutkan perjalanan pulang dalam keheningan. Suasana terlalu syahdu dan indah untuk dipecah dengan percakapan.
Sesampainya di rumah, Doyoung langsung menuju kamar bayi. Menengok putranya, Jeno sedang tertidur pulas di balik selimut warna birunya. Tadi dia sudah menyusui anaknya sebelum meninggalkannya sebentar untuk ke makam.
Jaehyun menyusul, berdiri di belakangnya dan memeluknya lembut, bersama-sama mereka menatap buah hati mereka yang tertidur dalam damai.
"Dia sangat tampan." Jaehyun mendesahkan pujiannya, lalu mengecup leher Doyoung dari belakang. "Kau sangat harum, aroma bedak bayi." bisik Jaehyun mesra.
Doyoung tertawa. Bekas memandikan anaknya telah meninggalkan aroma khas bayi di tubuhnya, dengan manja dia membalikkan tubuhnya dan mendongakkan kepalanya, lalu menatap Jaehyun menggoda.
"Mau tidur siang?"
Jaehyun mengernyitkan keningnya, menatap Doyoung dengan ragu. "Memangnya kau sudah bisa?"
Jaehyun belum pernah menyentuh Doyoung sejak pertikaian hampir setahun yang lalu. Bahkan ketika Doyoung hamil dia juga tidak menyentuh Doyoung, sesuai janjinya. Sampai kemudian Doyoung melahirkan dan mereka menyelesaikan permasalahan merekapun, Jaehyun tetap tidak bisa bercinta dengan istrinya karena Doyoung masih dalam masa pemulihan setelah melahirkan.
Oh. Jangan ditanya betapa beratnya perjuangan Jaehyun hidup selibat hampir setahun lamanya. Tubuhnya selalu bergairah, apalagi ketika Doyoung ada di sekitarnya. Kejantanannya selalu menegang keras, seperti sekarang, merindukan kenikmatan murni ketika dia membenamkan diri di tubuh istrinya yang manis.
Dan ketika melihat istrinya itu menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan persetujuan untuk bercinta, darah Jaehyun langsung menggelegak penuh gairah. Tatapannya berubah membara, diangkatnya Doyoung dengan lembut dan dibawanya melalui pintu penghubung menuju kamar.
Dibaringkannya Doyoung di tempat tidur dan ditindihnya, tangannya menumpu tubuhnya sehingga tidak membebankan berat tubuhnya di tubuh Doyoung, wajah mereka berhadapan.
"Kau ingin cara yang bagaimana?" Jaehyun berbisik menggoda, tidak bisa menahan dirinya untuk menunduk dan mengecupi bibir Doyoung yang ranum. "Aku sudah terlalu lama menahan gairahku untukmu, mungkin aku akan langsung meledak begitu memasukimu."
Jaehyun sudah siap. Kejantanannya sudah menonjol keras di balik celananya, menggesek Doyoung dengan menggoda ketika dia bergerak. Jemari Jaehyun menurunkan gaun Doyoung dengan lembut. Memuja tubuh istrinya yang semakin montok dan berisi setelah melahirkan, membuat darahnya menggelegak. Jaehyun menghindari untuk menyentuh payudara Doyoung yang ranum, tahu bahwa payudara itu begitu sensitif karena menyimpan asi untuk putra mereka.
Mereka saling menelanjangi dengan cepat, dan Jaehyun mendesakkan tubuhnya pelan, menyentuh kewanitaan Doyoung dengan kejantanannya dan menggodanya. Tetapi pria itu masih sempat menatap Doyoung dan berbisik parau.
"Kau benar-benar sudah tidak apa-apa?" Suaranya serak oleh gairah tertahan, tetapi Jaehyun menahan diri, takut menyakiti istrinya.
Jawaban Doyoung berupa senyuman lembut, jemari Doyoung naik dan mengelus rambut Jaehyun, lalu turun, mengusap pundak dan dada Jaehyun yang keras, putih pucat dan telanjang, membuat pria itu mengerang. Dan ketika Doyoung menggerakkan pinggulnya menggoda, Jaehyun tidak dapat menahan diri lagi, dengan erangan keras, menyebut nama istrinya, dia mendesakkan diri, memasuki tubuh Doyoung.
Awalnya memang sedikit susah, mengingat mereka lama tidak bercinta. Tetapi Jaehyun menggoda Doyoung dengan dorongan-dorongan pelan sambil mencumbu istrinya, menciumnya di mana saja, menggoda telinganya yang sensitif, sehingga Doyoung semakin membuka dirinya, melumasi Jaehyun dalam kehangatan yang basah dan membiarkan pria itu memasukinya sepenuhnya. Tungkai Doyoung melingkari pinggul suaminya erat dan membuka sepenuhnya, menyerahkan dirinya pada suaminya.
Setelah itu Jaehyun tidak menahan dirinya lagi, dia menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang bergairah, membawa Doyoung menuju puncak kenikmatannya. Pelepasan pertamanya setelah sekian lama yang luar biasa nikmatnya.
Mereka berbaring berpelukan dalam kepuasan yang dalam, seperti saat-saat bercinta mereka dulu.
"Aku tidak pernah lupa rasanya, rasanya bahkan lebih nikmat dari yang kubayangkan." Jaehyun mengelus paha istrinya dengan menggoda, lalu menyentuh kewanitaannya, "Di sini bahkan terasa begitu rapat, mencengkeramku hingga aku tidak bisa menahan diri."
Doyoung mengerang karena gerakan-gerakan Jaehyun yang intim itu. Pahanya membuka, membiarkan suaminya mencumbunya dengan jemarinya. Kejantanan Jaehyun mengeras lagi, padahal baru beberapa menit setelah mereka meledak dalam kenikmatan bersama. Doyoung mendongak dan mendapati Jaehyun menatapnya dengan intens dan bergairah, bibirnya membuka. Membuat Jaehyun tidak bisa menahan diri untuk melumatnya. Mereka berciuman dengan jemari Jaehyun masih bermain di pusat kewanitaan Doyoung, memainkan titik sensitif di sana dengan begitu ahli, sehingga Doyoung terengah dalam kenikmatan, dalam lumatan bibirnya dengan Jaehyun.
Permainan jemari Jaehyun sungguh membuat Doyoung menggila. Semakin lama semakin cepat, dengan gesekan memutar yang menggoda, menyentuh dan menstimulasi setiap titik dengan elusan dan sentuhan yang tepat. Doyoung mengerang karena bibirnya masih dilumat oleh Jaehyun. Kenikmatan itu membakarnya, mengalir bagai aliran listrik dari pusat kewanitaannya ke seluruh tubuhnya. Gerakan jemari Jaehyun makin cepat dan bergairah menstimulasi tubuhnya, hingga Doyoung hampir mencapai puncaknya, hampir sampai.
Dan di titik yang tepat, Jaehyun melepaskan jemarinya, membuat Doyoung mengerang karena protes, dihentikan ketika dia sudah hampir mencapai puncak orgasmenya.
Jaehyun tersenyum lembut dan menatap Doyoung yang larut dalam gairahnya, dia mendesakkan kejantanannya ke pusat kewanitaan Doyoung yang sudah sangat basah dan siap.
"Kau bisa menggunakan ini untuk membuatmu mencapai puncak. Ini milikmu, gunakanlah untuk memuaskanmu." Jaehyun menggeram penuh gairah sebelum menekankan dirinya dalam-dalam ke tubuh Doyoung, membuat Doyoung memekik karena rasa nikmat yang melandanya.
Jaehyun menggerakkan tubuhnya lagi, tidak menahan-nahan diri. Memuaskan dirinya dan istrinya. Napas keduanya terengah dalam pencapaian orgasmenya. Mereka berdua bergerak lama, dalam ritme yang bergairah, berusaha memuaskan dahaga akan tubuh mereka satu sama lainnya.
Jaehyun mengerang parau sebelum menekankan tubuhnya dalam-dalam dan untuk kesekian kalinya meledakkan kenikmatannya di dalam tubuh istrinya. Membawa Doyoung ke dalam ledakan kenikmatan yang sama.
Ketika Krystal berkunjung keesokan harinya, dia melihat binar kebahagiaan di wajah Doyoung dan Jaehyun. Dan dia bersyukur dalam hatinya. Kedua orang ini benar-benar telah berbahagia.
Doyoung sedang mengeluarkan kue dari oven dan meletakkannya di meja dapur untuk mendinginkannya sebelum diiris, bau harum kue strawberry dan kelapa memenuhi penjuru ruangan. Doyoung mendapatkan resep kue itu dari Alfred ketika mereka berada di pulau itu dan baru sempat mempraktekkannya sekarang.
"Sepertinya kau berhasil. Aku pernah mencoba resep dari Alfred dan hasilnya berantakan, bagian dalamnya masih mentah.", Krystal memandang penuh nikmat ke arah kue itu dan menghirupnya.
"Hmmm... dan baunya sangat harum."
Doyoung tertawa melihat Krystal tampak sudah ingin mencicipi kue itu. "Krystal-ah. Harus dibiarkan dingin dulu, kalau tidak lidahmu akan terbakar."
"Aku akan mengambil resiko." Krystal tidak peduli, dia mengiris kue itu dan mendorongnya ke piring, lalu membawa piring itu sambil meniup-niupnya.
Jaehyun sedang menggendong putranya sambil menggodanya dengan boneka karet bebek yang bisa berbunyi kalau ditekan. Jeno selalu tersenyum lebar ketika mainan itu berbunyi. Jaehyun melirik ke arah Krystal dan tertawa melihat tingkah adiknya.
"Biarkan saja lidahnya terbakar, Krystal sangat menyukai kue kelapa buatan Alfred, dan sepertinya buatanmu tidak kalah enaknya." Pria itu lalu berfokus menyuapi putra kecilnya sambil menggodanya supaya si kecil tertawa.
Doyoung menatap Krystal di sampingnya, dan tersenyum tulus. "Krystal-ah, terima kasih atas bantuanmu mengantarku ke makam. Lalu kau membantuku yang hampir melahirkan. Aku tahu itu berat untukmu mengingat pengalaman di masa lalumu."
"Pengalaman di masa laluku?" Krystal menghentikan gerakannya meniup-niup kuenya, menatap Doyoung dengan bingung.
Doyoung menelan ludahnya gugup. Bukankah Jaehyun dulu pernah bilang kalau Krystal pernah mengalami masa lalu kelam, dikhianati kekasihnya dan kemudian menggugurkan kandungannya, lalu tidak mau jatuh cinta lagi.
"Eh? Jaehyun bilang kalau kau..."
"Ahh ya." Krystal tiba-tiba mengerti jalan pikiran Doyoung, dia melirik geli pada Jaehyun yang tiba-tiba tampak pura-pura fokus menggendong putranya.
"Jaehyun Oppa belum menjelaskan tentang yang satu itu, ya." Sengaja dia mengeraskan suaranya sambil melirik ke arah Jaehyun, dan langsung mendapatkan hadiah pelototan dari kakaknya. Krystal tiba-tiba tidak bisa menahan tawanya, dia meletakkan piring kue itu di meja dapur.
"Sepertinya aku harus mendinginkannya dulu." Krystal lalu melangkah dan mengambil Jeno dari gendongan Jaehyun, menimangnya lembut. "Aku akan mengajak Jeno main, sambil menunggu kuenya dingin." Lalu dia tertawa, suara tawanya masih terdengar sampai kejauhan ketika dia melangkah pergi.
Doyoung mengamati kepergian Krystal, lalu bersedekap dan menatap Jaehyun dengan tatapan menuduh.
"Well?" gumamnya, meminta pengakuan ketika Jaehyun masih tidak mengatakan apa-apa.
Jaehyun mengangkat kepalanya dan menatap Doyoung dengan tatapan meminta maaf yang meluluhkan hati.
"Maafkan aku. Tentang yang satu itu aku juga membohongimu."
"Jadi Krystal tidak pernah mengalami masa lalu kelam, keguguran, dan trauma akan percintaan? Dan alasanmu yang mengatakan menikahiku demi tanggung jawab pada Krystal itu omong kosong belaka?"
Jaehyun mengangkat bahunya, tersenyum menggoda pada Doyoung.
"Aku tidak pernah menikahimu demi tanggung jawab pada siapapun. Aku menikahimu karena aku mencintaimu." Suaranya sensual, menggoda Doyoung supaya tidak marah padanya.
Tetapi Doyoung bertahan, dia melemparkan tatapan mencela pada Jaehyun. "Kau membuatku memandang Krystal dengan sedih dan iba selama ini. Teganya kau!" Nadanya memarahi, tetapi Doyoung tersenyum.
Tiba-tiba bisa mengerti betapa menggelikannya kejadian ini. Jaehyun menatapnya dan ikut tersenyum geli, akhirnya mereka tertawa bersama-sama.
Doyoung mendekat dan memukul lengan Jaehyun dengan main-main. "Aku malu sekali pada Krystal."
"Dia tidak akan memikirkannya. Aku yakin dia masih tertawa geli di sana, menertawakan kita."
Jaehyun lalu menarik Doyoung ke dalam pelukannya.
"Aku telah banyak berbohong padamu, dan kemudian menyakitimu. Mulai sekarang aku berjanji padamu. Kau akan mendapatkan kejujuranku, keseluruhan diriku, Nyonya Jung."
Doyoung mendongak dalam pelukan Jaehyun dan tersenyum. "Kau harus memegang janjimu, kalau tidak kau akan mendapatkan hukuman.", ancamnya.
Mata Jaehyun bersinar nakal. "Hmmm... Aku memikirkan ada banyak sekali 'hukuman' yang bisa kita praktekkan di atas ranjang. Mungkin kita bisa memakai borgol untuk bercinta..."
"Ya! Jaehyun-ah." Doyoung menyela Jaehyun dengan nada mencela, tetapi senyumnya melebar penuh cinta.
Jaehyun tertawa dan mencium bibir Doyoung dengan lembut, ciuman itu diperuntukkan untuk luapan kasih sayang, tetapi kemudian bibir Jaehyun terlalu menggoda, pria itu melumatnya, memainkan bibir atas dan bawahnya bergantian dengan hisapan dan jilatannya. Lalu ketika Doyoung membuka mulutnya untuk mengerang. Jaehyun memasukkan lidahnya dan melumat keseluruhan bibir Doyoung.
Suara pintu terbuka membuat Jaehyun dan Doyoung melompat kaget dan memisahkan diri, mereka menoleh ke arah pintu, Krystal sedang berdiri di sana, menggendong Jeno dan rupanya kaget melihat Jaehyun dan Doyoung sedang berciuman. Senyumnya melebar melihat pipi Doyoung yang memerah dan Jaehyun yang tampak salah tingkah.
"Oh. Astaga. Kalian sepertinya harus mencari kamar." Krystal masih tersenyum lebar sambil menutup pintu dapur kembali. Meninggalkan Doyoung dan Jaehyun yang berpandangan salah tingkah.
Jaehyun tersenyum nakal sambil menatap Doyoung. "Mau ke kamar?"
"Jaehyun-ah!" Doyoung tertawa mendengar godaan suaminya. Dibiarkannya suaminya memelukknya dengan sayang dan mengecupinya. Pria ini adalah pahlawannya. Pahlawan yang menanggung beban berat, tetapi dengan maaf darinya, beban itu sudah hilang. Dan Doyoung berharap mereka akan hidup bahagia selamanya.
The End of Unforgiven Hero
Akhirnya ending ya. :)
saya mau ngucapin banyak makasih untuk para jaedo shipper and readers.Jangan pernah biarkan kapal kita karam :)
