Warning

: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! terganggu dengan cerita ini? silahkan langsung pergi dari cerita ini. Bahasa BIKIN BINGUNG PLES ANEH, gaya ngetiknya jadi beda. Eps kali ini BIKIN LIEUR karena saya juga lieur pas ngetik, maaf kalau ceritanya agak mainblowing :"

Genre: Humor, Family, Supernatural, keknya nyerempet Fantasy

Rate: T

Disclaimer: WO punya Koei

Note:

Nu Wa = 35 tahun

Shennong = 21 tahun

Taigong Wang = 17 tahun

Sterkenburg Cranach = 12 tahun

Sima Shi, dan Sima Zhao = 18, dan 16 tahun

Jiang Wei, dan Xiahou Ba = 18, dan 16 tahun

Susano'o, dan Nezha = 1990, dan 300 tahun

Daqiao, dan Xiaoqiao= 15 tahun

Sun Bersaudara = 22, 17, dan 12 tahun

Kaihime, dan Kaguya= 18 tahun

Cao Pi, dan Ishida Mitsunari = 20 tahun

Kanbei Kuroda, dan Takenaka Hanbei = 25, dan 19 tahun

Zhong Hui, Okuni, dan Xun Yu = 30, 28, dan 5 tahun

Mystic Kos

Chapter 4: Masa Lalu?

Sabtu malam yang ramai di kos, Taigong Wang berjalan ke dapur, disana lagi ada reuni keluarga, dan sebagian penghuni kos sedang berbincang bincang kecuali adiknya, dan penghuni kamar nomor 10 berada disana. Ramai, itu yang Taigong Wang rasakan saat mengambil minum di dapur, saat itu juga Taigong Wang melihat tangan kiri Jiang Wei ada dua cincin yang tersambung dengan rantai tersemat di jari manis, dan kelingking Jiang Wei, karena penasaran dia menanyakan tentang cincin itu. "Jiang Wei, itu cincin apa?" tanya Taigong Wang sambil meminum air di gelasnya. "Oh ini?" Jiang Wei mengangkat tangan kirinya, "ini cincin dari Ibu, agar aku masih bisa di samping adikku." Taigong Wang menatap lekat cincin itu. "Adikmu juga pakai ya?" Jiang Wei mengangguk, lalu terkekeh pelan. "Iya, agar adikku masih bisa melihat, dan berkomunikasi denganku." Taigong Wang mengangkat sebelah alisnya. "Maksudmu?" Jiang Wei mengkibas-kibaskan tangannya. "Tidak, tidak, lupakan saja."

Hmm.. ada yang mencurigakan…

"Btw, Ibu dapet Xun Yu darimana? Terakhir ngadopsi Xiahou Ba karena ortunya ngebuang Xiahou Ba di stasiun kereta." tanya Jiang Wei. "Ya bikin secara alami, bukan ngadopsi seperti yang kamu katakan pada salah satu reviewers cerita ini." mendengar jawaban Ibunya yang seperti itu, Jiang Wei jadi teringat sesuatu sambil menatap Ayahnya tajam. Merasakan tatapan tajam anaknya, Zhong Hui berkata. "Apa? Masih dendam?" Jiang Wei geleng-geleng terus nunduk natepin gelasnya, Taigong Wang sendiri menonton keluarga itu dari belakang, kayaknya asik nih kalo dijadiin sinetron. Lagi asik menikmati air beningnya, Taigong Wang didatengin sama Kai yang tumben-tumbenan keluar kamar. "Heh Hobi, ada yang cariin elu tuh, katanya sih anak asuh Om Ling Tong dari bengkel sebelah." Taigong Wang menyikut pinggang beruang buas itu karena kesal. "Gue bukan homo maupun bisex GUE NORMAL, jadi jangan panggil gue gitu." Kai tertawa pelan. "Habis lu suka helo kiti."

"Siapa yang bilang gue suka helo kiti?!"

"Itu tusuk sate yang biasa lu pake di kepala, pink gitu terus ada gambar helo kitinya."

"Emang kenapa? Ini juga gue pinjem punya Ibu."

"Halah, kalo suka helo kiti ngaku aja deh malu tuh sama gelas helo kiti di tangan, anak yang nyariin elu di depan juga sukanya little twin star, ih kalian cucok deh." setelah mengatakan itu Kai pergi dari dapur.

"Hmph!" Taigong Wang menaruh gelas helo kitinya di meja, emang kenapa kalo gue suka helo kiti ga boleh? Batinnya sambil berjalan keluar dapur. Di lobi apartemen Taigong Wang melihat adik kelasnya sedang duduk di sofa, dan fokus memainkan hape ditangannya. Taigong Wang mendekati adik kelasnya itu, "Lu Xun.. ngapain lu kesini malem-malem?" Lu Xun mengalihkan pandangannya dari hape ke Taigong Wang sambil manyun sok imut. "Habis, inikan masih jam 7 malam belum jam 10." Taigong Wang menepuk dahinya. "Tapi, kalo lu pulang dari sini di culik kalong wewe atau tiba-tiba terkirim ke dimensi lain gimana?" Lu Xun loncat ke Taigong Wang, memeluknya erat. "Tumben perhatian~" Taigong Wang melepaskan pelukan Lu Xun kasar. "Denger ya Xun, gue bukannya perhatian sama elu, tapi gue kaga mau disuruh ganti rugi sama Om Ling Tong gegara elu ngilang pas keluar dari ni kos malem-malem."

Lu Xun kembali manyun mendengar perkataan Taigong Wang, terus tangan kanannya di tarik sama Taigong Wang. "Gue anterin elu pulang." kriet saat Taigong Wang membuka pintu apartemen, melangkahkan kaki mereka di tanah luar apartemen, lingkungan di sekitar mereka berubah menjadi cerah yang tadinya malam hari menjadi siang hari, dan banyak kendaraan lalu lalang.

"Xun, kita dimana?" Taigong Wang melihat sekitar.

"Eh? Gatau, btw, kenapa jadi gini?"

Taigong Wang melepas genggaman tangan Lu Xun. "Kan bener, ga baek keluar apartemen malem-malem."

Raut wajah bingung Lu Xun hilang tergantikan dengan raut wajah khawatir. "Gi-gimana caranya kita kembali?"

Taigong Wang membalikkan badannya, melihat apartemen menghilang, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aaa.. sepertinya kita harus mencari seseorang yang berhubungan dengan dunia ini..."

"Seperti Maiden Shrine? dukun?"

"Mungkin.. gue belum pernah merasakan ini sebelumnya hanya cerita dari Kak Shennong.. kata Kakak agar bisa keluar dari sini harus mencari kunci, dan kunci itu bisa berbentuk apa saja atau.. menunggu seseorang menolong kita."

Tiba-tiba Lu Xun menunjuk seorang anak remaja yang sedang menyebrang di zebra cross. "Senpai, orang itu mirip dengan Kak Jiang Wei." Taigong Wang langsung melihat orang yang ditunjuk Lu Xun. Sedetik kemudian, raut wajah mereka berdua berubah kaget, mata mereka membulat karena kejadian yang mendadak terjadi di depannya. Tangan kanan Taigong Wang tergerak untuk menyentuh pipinya sambil gemetaran, saat melihat jarinya, Taigong Wang melihat jarinya tidak percaya. "Da-darah?"

Lu Xun agak khawatir dengan Kakak kelasnya yang masih terdiam karena kejadian tadi. "Inikan.. kejadian 2 tahun lalu.." Lu Xun melihat Taigong Wang bingung. "2 tahun lalu?" tanya Lu Xun. Taigong Wang mengangguk. "Di TV waktu itu ada berita kalau ada seorang anak tertabrak mobil karena mobil itu remnya blong, dan anak itu meninggal.. kalau tidak salah di berita tidak menyebutkan nama anak itu, saat Ibu dari korban ditanya tentang kematian anaknya, Ibunya menolak karena Ibu dari korban selalu melihat anaknya di rumah, Ayahnya pun juga menolak tentang kematian anaknya," jelas Taigong Wang.

"Jadi korban kecelakaan itu adalah.. Kak Jiang Wei?"

Taigong Wang mengangguk, pantas saja cincin itu.. aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat.

"Permisi, kami harus mengurus korban," orang- orang berbaju putih menghampiri mayat Jiang Wei yang tergeletak di zebra cross.

"Lupakan soal kecelakaan ini, sekarang kita harus mencari jalan keluar." Taigong Wang menarik tangan Lu Xun menyebrangi jalan. Dug Taigong Wang menabrak seseorang di depannya, "Ma-maaf,"

"Ara, Tai-chan, lama tidak bertemu." Taigong Wang melihat orang yang ditabraknya, Taigong Wang kaget, Bertemu? Kapan?

"Em.. kenapa Tante disini?"

"Tante disini menunggu Jiang Wei, dan katanya disini ada kecelakaan.." raut wajah sedih terlukis di wajahnya, tetapi raut wajah itu menghilang seperti melihat anaknya kembali "Jiang Wei, kamu kemana saja, Mamah khawatir…." Taigong Wang, dan Lu Xun mengangkat sebelah alisnya, lalu melihat sekitar.

"Jiang Wei?" tanya mereka bersamaan.

"Iya, ada di belakang kalian," ucapnya sambil tersenyum.

"Tapi kami ga liat tante.."

"Jadi korban kecelakaan itu kamu Jiang Wei,"

"Ibu.. aku.. baik.. saja." samar-samar Taigong Wang, dan Lu Xun mendengar sebuah suara.

"Tadi siapa yang ngomong?" tanya Lu Xun memastikan kalau yang ngomong barusan itu salah satu dari mereka bertiga.

"Jiang Wei." jawab Okuni dengan senyuman, Okuni mengeluarkan sebuah cincin dari saku bajunya.

Saat Lu Xun mau teriak mulutnya ditutup sama Taigong Wang. "HHHMMPPHH!" setelah Lu Xun menenangkan diri, Taigong Wang melepas tangannya dari mulut Lu Xun.

"Pueh, bau terasi, eh."

Melihat cincin itu yang dikeluarkan Okuni, Lu Xun menyikut pinggang Taigong Wang. "Itu kuncinya kali," Taigong Wang bales nyikut. "Yang bener, masalahnya 'kunci' itu harus dihancurkan." Lu Xun bales nyikut. "Yaudah hancurkan." Taigong Wang nyikut Lu Xun agak keras. "Ya, gabisa gitu dong."

Puk sebuah tangan menepuk pundak Taigong Wang, dan Lu Xun mereka menjerit saat ada seseorang menepuk pundaknya. "WAAAAAA!" pletak kepala mereka berdua di pukul sama orang itu. "Jangan ngejerit, lebih baik ikut Kakak pulang." Taigong Wang, dan Lu Xun membalikkan badannya, mereka melihat Shennong sedang berdiri di depan mereka sambil membawa sapu lidi di tangannya. Taigong Wang langsung sujud di depan Kakaknya itu. "Kakak maafin Tai, Tai ga akan ngulangin lagi, ga akan keluar apartemen malem lagi," terus dia menunjuk Lu Xun. "salahin aja tuh pecinta Little Twin Star disana," Lu Xun kaget. "dia dateng ke apartemen malem-malem, jangan pukul pantat Tai pake sapu lidi itu~" lanjutnya dengan nada ketakutan.

Shennong sweatdrop. "Siapa yang mau mukul kamu pake ini sapu lidi, tadi Kakak mau ngeberesin kamar, tapi sama Ibu disuruh jemput kamu sama Lu Xun yang terjebak di masa lalu salah satu penghuni kos."

"Jadi ini masa lalu?" Shennong mengangguk. "Ayo pulang dicariin Ibu sama Om Ling Tong." Taigong Wang ngelus dagu. "Sebenernya Ibu sama Kakak itu siapa? Kok bisa hal beginian?"

"Ibu kita itu hanya IRT, dan Kakakmu ini hanya ahli kung fu," mendengar jawaban seperti itu dari Kakanya, Taigong Wang manyun. "suatu saat nanti juga kamu bakal tahu."

"Tapi kapan?"

"Kapan ya? Ah, sampai kamu bisa melihat semuanya."

"Semuanya? Termasuk hal membuat hawa kamar Om Cao Pi, sama Kak Mitsunari beda dari yang lain?"

Shennong mengangguk lagi. "Kita sudah sampai.." tangan kanan Shennong meraih gagang pintu.

"Inikan rumah orang Kak,"

"Ini pintu keluarnya." Shennong membuka pintu itu dan…

Mereka melihat kamar yang menakjubkan merchandise helo kiti bertebaran di kamar itu.

"Kok kamarnya pink gini ya? Ini kamar siapa?" tanya Lu Xun.

Taigong Wang terdiam, kenapa harus keluar dari pintu kamar mandi di kamar gueee!

"Jadi ini? Isi kamar adikku sekarang, dulu banyak pancingan bergelatakan sekarang helo kiti?" Shennong menaikkan alisnya.

"DIEM! AARGH!" teriak Taigong Wang, lalu mendorong Kakaknya plus Lu Xun keluar dari kamarnya.

BRAK!

Taigong Wang menghela nafas panjang, tiba-tiba hapenya berbunyi, karena bingung plus penasaran Taigong Wang mengecek hapenya itu.

jiù jiāng nǐ wǒ xiāng lián dí jī bàn

huì chéng wú xiàn dà dí jīng cǎi

xuàn làn

"Apa ini? Selamat! Kamu sudah menyelesaikan episode 1." Taigong Wang bingung, tapi dari arti lagunya itu ga nyambung sama apa aku rasakan tadi… dan apa maksudnya dengan menyelesaikan episode 1? seperti game saja.

"Sebenernya ini jam berapa sih?" gumamnya, pandangan Taigong Wang beralih dari hape ke jam dinding. "jam 10? lebih baik gue tidur.. hoaaam.. gue cape sama kejadian tadi." Taigong Wang membaring dirinya ke tempat tidur. "Selamat malam..."

Selamat pagi bego, bukan malam.

"Suka-suka aing narator sialan."

TBC

OMEMJIII! KENAPA JADI MINDBLOW GINI CERITANYA! :" MIGAT! DAN KENAPA HARUS ADA VITUR BOND PRENSHIP YANG LEBIH WAH?! JADI LEBIH MERASA MAEN DATESIM DARIPADA DW, DAN HATI MENGATAKAN UNTUK NGE CRACK PAIR! :"

gabut itu ketika elu bisa nemuin yutub channel Daisuke Kishio sama Ichitaro Ai :v, btw itu lyrics lagu Wu Xian Da dari anime spiritpact :v dan itu juga soal Jiang Wei terinspirasi sama anime itu hue hue walau jadi mindblow akhirnya :v dan umur Zhong hui itu disamain sama umur seiyuunya, tadinya yang Okuni juga tapi umur seiyuunya 52 :v jadi gajadi deh

jangan ditiru gaes bikin cerita kek gini, takutnya yang baca pusing tujuh keliling :v

see you next chapter~