Warning: krenyes kranci, OOC, Genre berbeda tiap chapter.. mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS, AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD!
Genre: Humor, Family, Supernatural, Fantasy
Rate: T
Disclaimer: WO punya Koei
Note:
Nu Wa = 35 tahun
Shennong = 21 tahun
Taigong Wang = 17 tahun
Sterkenburg Cranach = 12 tahun
Sima Shi, dan Sima Zhao = 18, dan 16 tahun
Jiang Wei, dan Xiahou Ba = 18, dan 16 tahun
Susano'o, dan Nezha = 1990, dan 300 tahun
Daqiao, dan Xiaoqiao= 15 tahun
Sun Bersaudara = 22, 17, dan 12 tahun
Kaihime, dan Kaguya= 18 tahun
Cao Pi, dan Ishida Mitsunari = 20 tahun
Kanbei Kuroda, dan Takenaka Hanbei = 25, dan 19 tahun
Zhong Hui, Okuni, dan Xun Yu = 30, 28, dan 5 tahun
Mystic Kos
Chapter 6: Pulangkan Kakek Gue!
Selamat Membaca
Plak
Pipi Taigong Wang tertampar dengan sebuah tangan kurus.
"Hnggg.." Taigong Wang mengerjapkan matanya, lalu menegakkan badannya, dia menyingkirkan tangan yang menggeplaknya tadi.
Tik
Tik
Ting!
"WATDEFAK! LU XUN KENAPA ELU DISINI?!" teriak Taigong Wang.
"Hngg.." Lu Xun membelokkan badannya ke kanan, plak untuk kedua kalinya pipi mulus Taigong Wang ditampar sama tangan kurus Lu Xun.
"LU XUN BANGUN ADA ZHU RAN DI BENGKEL!"
Karena teriakan Taigong Wang, Lu Xun langsung bangun dan menegakkan badannya. "Beneran?" tanya Lu Xun dengan mata masih setengah melek. "Iye." Jawab Taigong Wang sambil ngangguk-ngangguk.
Tok tok tok
Pintu kamar Taigong Wang diketuk. "Tai, bilangin ke Lu Xun, ada om Ling Tong di lobi."
"I-iya, Bu." Taigong Wang natep tajem Lu Xun. "Tuh dicariin sama om Ling Tong."
"Hmm.. senpai, liat kunci yang ada gantungan Little Twin Star ga?" Taigong Wang geleng-geleng. "Ada di meja samping kasur kali, btw, kenapa elu ada di kamar gua?"
"Di.. suruh.. nginep sini sama.. Ayah Ling Ling." Taigong Wang mangap ngedenger nama panggilan montir bengkel sebelah. "Ayah Ling Ling?" Lu Xun ngangguk-ngangguk. "Iya, Om Gan Ning manggilnya gitu."
Taigong Wang geleng-geleng, terus nepuk-nepuk pipinya, ni anak masih setengah tidur.. jangan pedulikan itu.
Taigong Wang ngeliatin Lu Xun yang sedang mengambil kunci dari meja kecil di samping kasur, terus jalan oleng ke pintu.
Brak! Lu Xun terjatuh, cepat-cepat Taigong Wang berlari mendekati Lu Xun. "Xunn!" saat Taigong Wang mendekati Lu Xun, dia dipeluk sama Lu Xun secara tiba-tiba sampai Taigong Wang terjatuh ke belakang. "O-Oi! Bangun!"
Tok tok tok
Pintu diketok lagi. "Pecinta helo kiti gue mau ngambil catokan ya, GUE MASUK YA!" cklek, pintu terbuka menampakkan perempuan diiket kuda. "HOBI?! ELU NGAPAEN?!" teriak manusia itu kaget.
"GUE KAGA NGAPA-NGAPAIN! DAN BERHENTI PANGGIL GUE HOBI!"
"SADAR LU! JANGAN NGEMBAT PUNYA ORANG!"
"SIAPA YANG NGEMBAT?!"
"KALIAN STTOP!"
Perempuan itu melihat sekeliling, mendapati mahasiswa jurusan tukang AC berdiri di belakangnya. "Eh ada mas Cao Pi." Perempuan itu nyengir, terus doi masuk ke kamar Taigong Wang buat ngambil catokannya, lalu pergi balik ke kamarnya.
"Om! Eh Mas Mas! Bantuin gueee…" Cao Pi mendekat ke Taigong Wang, mengangkat Lu Xun. "Makasih.." Taigong Wang berdiri.
Tap tap tap, Suara langkah terdengar di koridor, makin lama suara langkah itu mendekat, "Nih," Cao Pi memberikan Lu Xun kembali. Taigong Wang menggendong Lu Xun.
Cao Pi pergi, seseorang yang berjalan di koridor mendekat ke Taigong Wang, dan berkata. "Kayaknya ada yang rusak di dalemnya,"
"Rusak?"
"Iya, Dia adalah A.I aka Artificial Intelligence buatanku."
"Hah? Jadi selama ini.. Lu Xun itu bukan manusia?" Taigong Wang menyerahkan Lu Xun ke Ling Tong.
Ling Tong menggendong Lu Xun ala bridal. "Dulu dia manusia tetapi, 1 tahun yang lalu.. meninggal karena dibunuh… lalu, pelaku pembunuhannya itu meminta saya untuk membuat robot yang persis dengan Lu Xun."
Taigong Wang mengangkat sebelah alisnya, kayaknya kenal, siapa ya?
Mereka berjalan beriringan ke lobby apartement, sesampai di lobby Taigong Wang ditinggal pergi Ling Tong, sementara Taigong Wang duduk di sofa lobi. Dari arah dapur Taigong Wang mendengar suara yang familiar di telinganya.
"Nu Wa kenapa kamu ga bilang kalau pesawatku, dan rumah kita dibarterin sama apartemen ini?"
"Du rumah sepi, kamu sendiri jarang pulang, jadi daripada tuh pesawat kaga dipake mending di tukerin,"
"Masalahnya disanakan lebih banyak orang yang membutuhkan kekuatan kita?"
"Kita? Kamu sendiri pas di mintain tolong sama aku waktu itu, nolak tuh."
Yak, debat soal pesawat sama rumah yang dibarterin sama ni apartemen, Taigong Wang menghela nafas. "Susah mempunyai apa yang tidak orang punya."
Taigong Wang berdiri dari duduknya, hendak berjalan menuju kamarnya tetapi punggungnya terasa berat seperti membawa tas berisi buku cetak yang tebal, kenapa punggungku terasa berat….
Saat kepalanya menengok kebelakang, dia melihat kakek-kakek menempel di punggungnya. "Ka.. Kakek kenapa nempel di punggung saya?" Kakek itu menjawab. "Kakek, nyari anak Kakek.." Taigong Wang bingung, tiba-tiba ada seorang anak kecil menarik-narik celana piyamanya. "Kak, aku, dan Kakekku sedang mencari orang bernama Fu Xi." Lagi-lagi Taigong Wang dibuat bingung oleh anak kecil yang tiba-tiba ada di sampingnya, dan menanyakan Ayahnya.
"Kakek?" tanya Taigong Wang pada anak itu, lalu anak itu menjawab. "Iya, kakek yang ada dipunggung Kakak." Glek, Taigong Wang meneguk ludahnya, jadi yang di punggung gue sekarang itu.. hantu?
"Terus adek kenapa.. nyariin Ayah Kakak?" tanyanya sekali lagi memastikkan tujuan si Kakek, dan Anak kecil itu. "Jadi Fu Xi itu Ayah Kakak? Itu, Kakekku mau minta tanggung jawab ke Ayah Kakak."
"Hah? Tapi Kakak gabisa gerak kalo Kakek kamu di punggung Kakak,"
"Teriak aja Kak," kata Anak kecil itu sembari tersenyum.
Mau ga mau.. daripada di tempelin gini terus… Taigong Wang menghirup nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "BU! AYAH ADA?! SOALNYA ADA YANG NYARIIN!" mendengar teriakan supersonik punya Taigong Wang, ibunya melonggokkan kepalanya ke lobi. "Ada apa anakku teriak-teriak?"
"Ayah ada? Dicariin sama.." Taigong Wang nengok ke belakang, berbisik. "nama kakek siapa sama cucunya?" Kakek itu menjawab. "Nobunaga.." lalu dilanjut oleh anak kecil itu. "Akechi Mitsuhide!" Taigong Wang ngangguk-ngangguk. "Dicariin sama Kakek Nobunaga sama Akechi Mitsuhide!"
"Sayang, dicariin sama Ayah tuh cucunya juga ikut."
"Ayah? Sama cucunya?"
"Iya, kata anakmu dari lobi."
Fu Xi berjalan keluar dari dapur, mendekati Taigong Wang. "Ayah ada apa kemari? Jangan bilang Ayah mengikutiku sampai kesini." tanya Fu Xi "Ha?" Taigong kaget. "Jadi ini? Ayahnya Ayah? Bukannya Kakek udah meninggal?" orang yang dipanggil Ayah oleh Taigong Wang itu mengangguk. "Kakekmu itu meninggal karena kebakaran, dan sekarang dia ada dipunggungmu." Taigong terdiam.
"Fu Xi, pulangkan Ayah..."
"Ayah sudah dibilangin aku bukan exorcist."
Taigong Wang terdiam, berpikir, gimana mau dipulangin? Kalau ada rasa dendam yang bikin gue kagak bisa gerak… eh ko jadi ringan ya? Taigong Wang menengok kebelakang, melihat Kakeknya sudah tidak ada di punggungnya, bersorak bahagia terus berlari ke kamarnya lagi.
"Sayang, anak kita yang satu itu ga sekolah?"
"Katanya libur,"
"Shennong kemana?"
"Ada rapat panitia katanya,"
"Sterk?"
"Ya sekolahlah! Udah gausah nanya-nanya lagi."
"I-iya.."
.
Kriet
, Taigong Wang membuka pintu kamarnya dengan muka bahagia, tetapi raut wajah bahagia berubah pucet, cepat-cepat dia menutup kembali pintu kamarnya.
Yang tadi gue liat paan?!
Pelan-pelan Taigong Wang membuka kembali pintu kamarnya, tiba-tiba di depan mukanya muncul wajah kakeknya dari atas. "WAAAAA! TANTE OKUNI ADA SETAAANN!" teriaknya sampai dirinya terjatuh, pletak kepala Taigong Wang disambit sama sendal swelow sama Kakeknya. "Ayah sama Anak sama-sama kurang diajar, Kakek bukan setan."
Taigong Wang mencoba untuk berdiri, lalu menepuk celananya. "Kalo kakek Nobu bukan setan, kaki Kakek pasti masih napak kaya cucu Kakek itu." tunjuk Taigong Wang pada Mitsuhide yang asik nonton di kamarnya sambil nyemilin snacknya. "Kakek itu bukan setan tapi penghuni alam lain." Taigong Wang menatap Kakeknya keki. "Bukannya Kakek tadi sama Mitsuhide ada di lobi ngobrol sama Ayah?"
"Terserah Kakek dong mau kemana,"
"Iya-iya terserah Kakek, tapikan Mitsuhide bukan setan, kok bisa ngikut pindah cepet gitu?" Kakenya mengelus dagu. "Dia tadi udah duluan masuknya tanpa sepengatuhuan kamu," Taigong Wang kaget. "Wapara ni bocah masuk kamar ga bilang-bilang." Taigong Wang nunjuk-nunjuk Mitsuhide yang masih fokus dengan Tvnya, terus keadaan jadi awkward Kakek sama cucu itu diem, hanya ada suara TV dari kamar.
Tap tap tap
"Tai-chan, ada apa manggil?"
"Panjang umur! Tante Okuni tolong pulangin nih Kakek!" Taigong Wang nunjuk Kakeknya.
Okuni memperhatikan Nobunaga dari atas sampai bawah, "Tidak bisa, Kakekmu masih ga rela ninggalin dunia ini."
Nobunaga senyum ke Taigong Wang sambil kedip-kedip genit.
"Hah? Jadi gimana dong?"
"Kamu harus mencari cara agar Kakek kamu mau pulang dengan damai,"
Mendengar pernyataan dari Okuni, Taigong Wang mendelik ke Kakeknya, "Bukannya Kakek tadi bilang ke Ayah mau pulang?!"
"Kan tadi bukan sekarang," Nobunaga bersiul-siul.
Taigong Wang menggeram, Gile dah ini hampir sebelas duabelas ngadepin Kakek Cao Cao.
Okuni tersenyum, "Tai-chan, Tante pergi dulu ya, kalau kamu masih belum menyerah memulangkan Kakekmu bilang ke Tante ya, nanti Tante bantu pulangin," lalu Okuni pergi.
"Yaudah, serah Kakek dah mau apa," Taigong Wang menarik nafas. "YANG PENTING BAWA CUCU KAKEK KELUAR KAMAR GUE! MINTA KUNCI KAMAR GIH KE IBU!"
"Ga," tolak Mitsuhide dari dalam kamar. Taigong Wang masuk ke dalam kamarnya, menarik kerah baju Mitsuhide seperti kucing, terus dia taruh di depan kamar, BLAM! Taigong Wang ngeliat setengah badan Kakeknya yang nembus pintu kamarnya. "KE-LU-AR DARI KAMAR!"
"Iya-iya,"
Taigong Wang menghela nafas lega. "Akhirnya.." Taigong Wang berjalan ke jendela, lalu membuka jendela itu. Matanya membulat ketika melihat sebuah rumah megah terbakar oleh api, blam! Cepat-cepat Taigong Wang menutup kembali jendelanya, lalu menutup matanya, ga mungkin, gue-kaga-mau-kaya waktu-itu.
Setelah mengumpulkan keberanian, Taigong Wang membuka kembali jendela kamarnya perlahan. Tetapi keadaan diluar tetap sama, di depan matanya sekarang ada rumah megah tapi api yang membakar rumah tadi menghilang, dan keadaan rumah itu tetap utuh.
"Tadi kebakar, sekarang engga. Jangan bilang yang gue lakukan tadi itu buat ngerewind?"
Tiba-tiba seorang manusia dari loncat ke jendela kamar. "Taigong Wang, osu!"
"Nezha? Tumben muncul," Taigong Wang memperhatikan Nezha dari atas sampai bawah, "kelihatannya kamu lagi seneng, telingamu sampai berubah tuh,"
"Eh," kedua tangan Nezha menarik telinganya ke bawah. "kukira hanya kaki saja."
"Nez, kenapa kamu bisa diluar?"
"Sedang mencari.. manusia bernama Oda Nobunaga, terus katanya kamu adalah cucunya, jadi ikut aku~" Nezha menarik tangan kiri Taigong Wang, lalu loncat ke luar. "Kenapa lu mencari Kakek gue?"
Mereka mendarat dengan mulus di tanah, lalu Nezha lanjut menarik Taigong Wang sampai di depan rumah megah itu, dan berdiam di depan rumah itu. "Karena sudah waktunya,"
"Bukannya Susano'o itu dewa petir? Kok kerjaan kek dewa kematian,"
"Tau deh, mungkin Susano'o lagi turun pangkat, tapi Kakekmu itu sampai hari itu lari dari kenyataan,"
"Jadi rohnya berjalan-jalan ga bisa pulang?"
Nezha ngangguk-ngangguk. "Yaps, itulah kenapa aku meminta Nu Wa, dan Fu Xi untuk membuka jalan menuju masa lalu,"
Pantes aja, siang.. biasanya malem.
"Jadi gimana? Mau langsung masuk dengan cara kasar atau damai?"
"Mana aja," Nezha memencet bel di samping pintu, saat itu juga ada petir menyambar atap rumah, "kayaknya pake cara kasar,"
Krek, Nezha melepas pintu rumah, mereka pun masuk ke dalam rumah, di lantai rumah banyak dupa, Taigong Wang melirik kanan-kiri terlebih dahulu, lalu mengambil satu dupa. Mereka berjalan terus sampai menemukan satu kamar yang sudah tidak ada pintunya. Mereka memasuki kamar itu.
Nezha sweatdrop, kok malah jadi sparring sih?
Taigong Wang melihat Susano'o, dan Nobunaga secara begantian. "Tuan Susano'o tolong bawa pulang Kakek ya, HARUS! BIAR DI MASA DEPAN KAGA BIKIN CUCUNYA NAIK DARAH!"
"Taigong Wang, kayaknya elu di cariin tuh sama Ibu," kata Nezha sambil menunjuk ke bawah, Taigong Wang terjatuh ke dalam lubang hitam di bawahnya, Nezha tersenyum, terus dadah ke Taigong Wang. "bye,"
"WAAAA!"
.
BYURRR!
"HUWA!" Taigong Wang langsung terbangun. "dimana?" Kepalanya bergerak ke kanan, dan ke kiri.
"Di kamar 22,"
Taigong Wang mengerjapkan matanya, "Yang di samping kalian itu apa, warnanya biru, dan hijau?"
"Bukan apa-apa mungkin kamu salah liat,"
"Dicariin sama Bu Nu Wa tuh,"
"Iya-iya, lain kali kalo mau banjur pake air anget, jangan air dingin, kamar kalian udah kek gua es."
Cklek
Blam
Mitsunari, dan Cao Pi saling pandang, "Dia kenapa?"
"Efek dibanjur sama elu kali, otaknya ikut membeku kek elu." Setelah Mitsunari mengatakan itu, di kamar itu langsung terjadi perang.
.
"Tai, liat Kakekmu?"
Taigong Wang geleng-geleng.
"Kalau Akechi?"
Taigong Wang menggeleng lagi. Nu Wa menghela nafas, "Jangan bilang mereka benar-benar, memulangkan mereka."
"Tapikan Mitsuhide belum meninggal,"
"Mitsuhide juga meninggal saat kebakaran itu terjadi."
"Tapi,"
"Dia menggunakan tubuh orang lain,"
"Trus Ibu ngapain nyariin aku?" Nu Wa memberikan tas belanja berwarna pink pada Taigong Wang. "Belanja sana ke supermarket seberang, uang ada di itu."
"Hah?"
Ya.. daripada gabut di kamar, mending bantu-bantu lagipula sekarang, gue emang piket.
TBC
Taudeh ah! Makin kesini makin lieur pas bikin endingnya agak bingung jadi gitu deh mangap ya~ soalnya sambil mikirin properti buat storytelling b inggris.
Makasih lho udah baca ni cerita
see you next chapter~
