Taehyung meninju dinding kamar mandi.

Kesal ketika pening dan mimisannya lagi-lagi mendera.

Nyaris dua minggu.

Semenjak malam itu, entah apa yang salah; tapi hidungnya terus mengeluarkan darah, kepalanya bagai kena hantaman benda tumpul berkali-kali dan tulang rusuknya terasa seperti meretak.

Semenjak malam itu pula, ketua klub basket YaGook sering kali tiba-tiba mengeluh sakit, memegangi kepala dan perutnya hingga berjongkok, kemudian berangsur lemas lalu pingsan. Sampai keluarganya memilih mengambil izin dari sekolah, merawat inap putra mereka di rumah sakit.

Awalnya, Taehyung hanya menganggap hal ini terjadi karena ia (atau mereka) kelelahan sebab terlalu banyak berlatih untuk turnamen bulan depan.

Namun persepsinya jungkir balik ketika orang tuanya bilang bahwa ini gejala Betrayal. Dari Omega kepada Alphanya, dan sebaliknya. Diperkuat ucapan Seokjin yang berkata bahwa ia juga pernah mengalami hal yang dirasakan Yoongi saat sahabatnya dan Soulmatenya membuat klaim bukan dengan takdirnya.

Maka hal itu hanya memperjelas pemikiran Taehyung jika Omeganya dengan Alpha sang ketua klub memiliki hubungan terlarang.

Lantas Taehyung terlalu paham buat menyimpulkan siapa Soulmate dari Min Yoongi.

Karena hanya Park Jimin yang memiliki status khusus dengan Omeganya terlepas dari persaudaraan mereka—cukup dengan mengingat bahasa ambigu sahabatnya waktu di kafe, dan bagaimana tatapan Jungkook begitu tidak menerima kehadiran Alphanya yang muncul terlalu cepat.

Lagi.

Taehyung meninju dinding kamar mandi hingga punggung tangannya terkoyak dan berdarah.

.

.


.

.

;:;:;:;

.

.

.

.

.

.

.

Bubble Bomb
a beloved awoo

.

.

II / III
; take two : 'Alfaan.

.

©Jo Liyeol

mature content detected on 18+ scene.
red zone!dangerous.
dosa ditanggung masing-masing!


...

Minggu di penghujung November. Taehyung mengingat janjinya pada Jimin untuk membantu membenahi komputer si Park yang bluescreen.

Tanpa maksud lain, ia menuju kediaman kawannya. Mendapati Jimin yang membukakan pintu dan masuk begitu saja usai membuka sepatu.

Jimin bilang, orang tuanya pergi dinas sepanjang musim dingin.

Kemudian Taehyung menemukan Jungkook yang membatu di ruang tengah. Tergugu mendapati siapa yang berjalan mengekori abangnya dari pintu masuk.

"Hai, Kook?" Taehyung menyapa, ramah. Tapi Jungkook justru menggeram marah karenanya.

Ia mendelik pada Jimin, namun si kakak justru tersenyum, "Laptopku bluescreen, Taehyung tau cara memperbaikinya."

Maka Jungkook hanya kembali menatap layar televisi dan merebahkan tubuh di sofa.

Mengacuhkan hyungnya, mengacuhkan Taehyung, dan mengacuhkan Omeganya yang menginginkan sang Alpha.

...

Malam pukul delapan.

Jungkook selesai menonton teve, mendelik jengah menatap pintu kamar abangnya yang tak kunjung terbuka. Ia mendecak, sebal bukan main memikirkan apa yang mereka lalukan di dalam.

Tapi Jungkook tidak mungkin menyelinap masuk, terang-terangan mengintai keduanya atau terus menunggu seperti ini.

Maka ia diam sebentar.

Namun siapa sangka? Pintu itu terbuka sendiri ketika ia sedang berpikir.

Jimin keluar dengan Taehyung di belakang. Mendekat ke arahnya dan duduk di kedua sisinya, Taehyung tanpa segan mengambil remot di meja, menyalahkan lagi layar televisi dan bersandar santai di sofa. Sementara Jimin ribut mencerca kawannya untuk mengganti channel.

Jungkook di tengah.

Dan itu berat luar biasa.

Hatinya berdebar untuk Jimin, namun Omeganya menggeram sebab Taehyung.

"Lapar tidak?" suara abangnya mengintrupsi pemikiran Jungkook. Menjadikannya menoleh dan menyahut.

"Kau belum makan, Hyung?"

Jimin tersenyum, "Memang kau sudah?"

Jungkook menggeleng, inosen dan luar biasa polos, tak kuasa membuat Jimin mengusak gemas kepalanya, "Dasar," maka Jimin berpaling. Mengernyit saat mendapati kawannya terlihat jengah menatap teve, membuatnya tergelak; meski hatinya perih namun dirinya harus menerima fakta.

Sahabatnya.

Alpha yang tak pernah mempedulikan Omega jenis apapun, menganggap Soulmate dari sang dominan hanyalah makhluk lemah dan menyedihkan, memiliki prinsip bahwa Omega hanyalah objek sekali pakai—kini jelas-jelas memiliki kecemburuan karena makhluk yang selalu dianggapnya remeh.

Karena takdirnya.

Jimin terkekeh kilat, tawa sengau yang entah bermakna apa, "Tae," panggilnya sekali. Taehyung menoleh, menyahut. Maka Jimin sama sekali tidak sampai hati memiliki egoisme untuk sahabatnya.

Karena dalam kondisi apapun, Kim Taehyung selalu memperlakukannya begitu berharga. Menjadikannya sahabat paling beruntung di semesta.

Jimin mengepal jemarinya kuat-kuat, tak terbaca dan tak terlihat siapapun, ia tersenyum; senyum yang penuh makna, "Mau makan apa?"

Dan Taehyung menemukannya. Maksud dari isyarat Jimin.

Sejenak, ia hanya diam. Sebelum raut jengahnya perlahan luntur, menjadikannya berterimakasih dalam hati dan ikut mengukir senyuman. Berpikir sebentar, "Mandu?" kedua alisnya terangkat snobis.

Jimin mengusung tipis senyum miring, "Mandu. Yeah."

Lantas Jungkook mendecak tidak terima, ia menahan pergelangan abangnya yang beranjak dari duduk. Langsung menoleh kesal pada Taehyung, "Sudah tidak waras, hah? Siapa yang jual mandu di daerah sini malam-malam begini?!"

Tapi atensinya berganti, ia mendongak ketika jemarinya dilepas Jimin dari pergelangan sosok itu, "Tidak apa-apa sobat, aku bakal membeli di kios paling dekat."

Jungkook mendengus keras kepala, ikut berdiri di sisi Jimin, "Kalau begitu aku ikut."

Jimin menggeleng, mengusap lagi kepala adiknya hati-hati, "Tidak perlu, aku mau sekalian ke rumah Hoseok ambil prosesor. Kau di sini saja, awasi orang itu, barang-barang rumah kita bisa habis kalau dia ditinggal sendiri."

Taehyung mendelik tidak percaya, mengambil bantal sofa buat melemparkannya ke muka Jimin, "Sialan!"

Sedangkan si Park justru tertawa menanggapinya. Menepuk terakhir bahu adiknya dan berbalik meninggalkan keduanya setelah memberi senyum terakhir ke sahabatnya.

Kemudian hening.

Tepat saat pintu tertutup, tidak ada suara terdengar sampai nyaris dua menit.

Jungkook bungkam tak memiliki minat bersuara, sementara Taehyung acuh tak acuh kembali menonton televisi.

Si Jeon diam. Mengepal tangannya kuat-kuat ketika merasakan Omega dalam dirinya semakin menggeram. Ia mendelik, mendapati Taehyung yang tidak bereaksi sama sekali. Menjadikan Jungkook mengernyit heran.

Apa ini?

Apa-apaan?

Tabiat Taehyung terlalu tenang untuk seorang Alpha yang ditinggal berdua hanya dengan Soulmatenya.

Apa dia tidak merasakan apapun?

Jungkook menggemelatakkan graham kesal, merasa tidak adil bukan main. Saat ia didera pening seperti ini bagaimana bisa remaja itu bertindak seolah-olah Jungkook bukanlah Omega dari takdirnya?

Jungkook mengigit bibir bawah, matanya memicing jengah sementara rautnya tak lagi berkompromi.

Feromon Taehyung; candu nikotin untuk segala rempah-rempah yang melilit Jungkook bagai simpul mati, segar matahari pagi untuk semua kesejukan alam yang membelenggunya absolut, dan manis gula-gula untuk seluruh kenikmatan coklat yang membuat logikanya mati. Aroma Taehyung; sangat-sangat cukup buat membutakan logikanya.

Jungkook tersentak, kembali menghadap televisi dan menggeleng cepat. Tidak, aku tidak boleh begini, batinnya memberontak. Berperang utuh dengan Omeganya yang mulai marah.

Maka Jungkook bangkit.

Mengepal tangan kuat-kuat dan nyaris meningglkan Taehyung andai kata orang itu tidak menarik ujung kaosnya.

"Mau ke mana?"

Menjadikan Jungkook terbatu.

Tangan Taehyung beralih. Merambat perlahan pada pergelangan Jungkook, memberi sengatan kuat untuk keduanya—tapi Taehyung bertahan, mati-matian mengontrol Alphanya yang begitu ingin memangsa si Jeon.

Kedatangannya ke mari bukan untuk mengklaim Jungkook, dia tidak bajingan, dan bukan gayanya untuk memaksa seorang Omega berbaring di bawah kuasanya. Untuk alasan apapun, tidak. Lantas, Taehyung hanya menggenggam jemari Jungkook dan menautkan tangan mereka hati-hati. Menggeram dalam batin saat Alphanya mengaung ganas—menjerit keras dan mengobrak-abrik kewarasannya. Namun Taehyung tetap bertahan. Hanya tersenyum saat menerima bagaimana pangutan mereka menghasilkan setrum bertegangan tinggi, membuat jantungnya berdentum terlampau kencang.

Dan Taehyung begitu yakin bahwa hal yang samapun dirasakan Omeganya, tak lagi ragu saat Jungkook meremas tangannya terlalu kuat.

"Apa maumu?" Jungkook menggeram, rendah.

Taehyung masih memperhatikan, mencermati gelagat Omeganya. Kamudian, jari-jarinya balik meremas tangan Jungkook, "Apa yang bakal kau lakukan kalau yang kumau ... adalah dirimu?"

Sekejap Jungkook tertegun. Rasionalismenya buyar, akalnya melompong dan pikirannya buntu. Tawaran bagus, sorak Omega dalam dirinya. Namun ketika sadar, hatinya mencelos dan berharap mampu menepis kasar pangutan Taehyung, tapi dari sudut manapun Jungkook sendiri tau bahwa ini hanyalah angan-angannya, sebab demi apapun; raganya terlalu lemah menerima rangsangan yang mulai menumbuknya anarkis. Hanya karena tautan jemari.

Omega sialan!—kutuknya tak henti-henti.

Taehyung sendiri tetap bungkam, menanti seiring menenangkan Alphanya sebisa mungkin.

Tapi kemudian. Ketika ia merasakan genggaman Jungkook melemah, Taehyung tersentak saat si Jeon berbalik dan berujar. Terlalu jelas menahan segala hasratnya yang meledak-ledak, "Akan kuberikan diriku," jeda sebentar, "Kau menginginkanku—Omegaku membutuhkanmu—jadi ayo, ayo bekerja sama," Taehyung mengernyit, sedikit tidak paham. Namun respirasinya tercekat saat Jungkook menyentuh tangannya, membawanya sedikit ragu sekedar mengecup tatto di pergelangannya dan bergumam tiba-tiba, "Kim Taehyung. Aku ... bersumpah atas nyawaku. Hasratmu, emosimu, ego dan segala kebutuhanmu. Akan menjadi tanggung jawabku. Seutuh tubuh dan darahku ... te-terikat padamu ... Alphaku. Bersatulah denganku—cintai aku sebagai takdirmu. Selamanya," dalam keterkejutan; Taehyung bisa lihat Jungkook memejam kuat-kuat, merasakan bibir Jungkook yang mengigil, dan memindai air yang menetes di ujung matanya.

Tapi Taehyung terus diam, terlalu terkejut untuk mencerna segalanya. Hingga detik ketika kewarasannya kembali utuh, ia merasakan dadanya terasa sesak menerima si Jeon yang kembali menatapnya dan melanjuti.

"Sekarang ... nyawaku ada di tanganmu, jadi berjanjilah, biarkan aku tetap mencintai Jimin-hyung. Selamanya."

...

Taehyung tidak berbicara, hanya mengikuti langkah Jungkook membawanya ke kamar. Maka ketika keduanya sampai, Taehyung enggan berkata, cuma menghela napas memperhatikan punggung Jungkook yang membelakanginya. Lantas, Taehyung berbalik, menggerakan tangan-tangannya mengunci pintu. Pergerakannya terhenti sekedar mengikat mereka dalam sunyi mematikan.

"Jungkook," ucap Taehyung sekali, "Kau perlu tau ...," jeda, kali ini helaan napasnya terdengar berat, "... dari awal, niatanku datang ke mari bukan untuk mengklaimmu, memaksamu, atau apapun. Aku hanya—"

"Berisik," Jungkook menyela cepat menjadikan sunyi itu kembali mencekik. Kemudian ia bersuara, "A-aku tau," katanya pelan, ia menutup matanya gemetar, "—aku tau," ungkapnya lebih tegas, "Semua hanya karena keinginanku ... jadi berhentilah berceloteh."

Menjadikan Taehyung mengeratkan rahang. Lantas ia berbalik, menarik pergelangan Jungkook untuk memojokannya ke permukaan pintu. Mengungkungnya absolut dan tak terbantahkan.

Jungkook berdebar, penciumannya sesak menerima aroma Taehyung yang terlalu banyak. Menjadikannya mendamba dan tidak lagi memiliki keberanian menentang Alphanya.

Jemari Taehyung bergerak, mengambang menelusuri leher Jungkook, merangsek perlahan dan menangkup rahang si Jeon. Otaknya kosong saat mendapati responsif Jungkook adalah memejamkan mata, menikmati sentuhannya.

Maka Taehyung tersenyum, bergerak maju untuk berbisik di telinga Omeganya yang memerah, mengecupnya pelan dan berbisik rendah di sana, "Bagaimana cara Jimin menyetubuhimu?"

Damn.

Jungkook menengguk liurnya berat, kelopaknya terbuka tipis, "Kau—"

"Jawab saja," Taehyung menyela cepat, vokalnya terdengar lebih berat, tegas dan otoriter. Terlalu muak membahas topik ini.

Maka Jungkook menarik napas dalam-dalam, memupuk keberanian dan menjawab tenang, "Ranjang—" tubuhnya terhentak saat Taehyung menjilat daun telinganya, "—uh, misionaris."

Taehyung mengigiti cupingnya, "Oke."

Hanya begitu tanggapannya, namun entah mengapa menjadikan Jungkook mendapat ganguan. Jelas-jelas menemukan hal tidak baik dalam 'oke' Taehyung.

"Kau—"

"Taehyung," lagi-lagi Taehyung menyela, "Panggil aku Taehyung."

Hening sebentar, tangan Jungkook terangkat mencengkram bahu-bahu Alphanya saat Taehyung turun mengecupi lehernya, "Taehyung—katakan, mm, pikiranmu—katakan."

Taehyung menggeram, sial, namanya terlalu utuh saat Jungkook yang mengucapkannya.

Tidak, Alphanya tidak lagi bisa berkompromi. Ia menarik pinggul Jungkook merapat, menjilati dan menyesap leher Omeganya, bergumam, "Perjelas, sayang."

Sayang?

Jungkook berdebar, tak menyangkal seluruh kupu-kupu yang mengepak di dasar perutnya. Berpikir lara saat mengharap bualan—andai Jimin yang memanggilnya begitu, Jungkook bersumpah akan menjadi manusia paling bahagia di semesta.

Lantas, tanpa sadar ia menengadah, membiarkan Taehyung menjamahnya lebih banyak sementara dirinya menelan liur susah payah, "—brengsek," cercanya jengah, "Kau paham betul maksudku, sialan."

Maka Taehyung terkekeh. Gelak ringan yang dalam. Melumat sekali leher si Jeon dan mengigitnya geras, meninggalkan bekas gigi-giginya, "Tidak, aku tidak mengerti, Jungkook. Demi Tuhan," kemudian bergerak halus, menjamah bahu dan tulang selangka Jungkook, mengendusnya lama.

Jungkook mendelik, mencebik sekali. Berpura-pura marah meski nyatanya ia mendesis nyaman, "Bangsat—uh, katakan padaku apa yang otak kotormu pikirkan ... selain ranjang dan misionaris?"

Lagi, Taehyung tertawa utuh kali ini. Menjadikan Jungkook tersengat dengan bagaimana suaranya terdengar berat, "Wow—" ia mendecak kagum, bibirnya menghisap selangka Jungkook di banyak sisi, "Aku menyesal meragukan Chimchim. Dia benar. Kau berbeda dari kebanyakan Omega—cerdas, dan terlalu hebat untuk masih sanggup bicara normal saat tubuhmu dijamah sana-sini," terakhir, ia tertawa lagi.

"Bangsat," Jungkook mencibir kesal, mendesis saat Taehyung menjilati lehernya kembali.

Kemudian, ia tak lagi banyak bersuara ketika jemari Taehyung menyelusup ke dalam kaosnya, meraba perutnya menghasilkan aliran adrenalin yang kuat, membuatnya tegang dan menahan napas seketika. Jungkook memutar kepala, desahan pertamanya lolos saat Taehyung menjamah seluruh celah lehernya; menjilati asal, menghisap kasar dan mengigit serampangan. Sementara tangan si Kim mengusap dadanya, memberi gerakan memutar dan mencubitnya gemas.

Taehyung berhenti beberapa sekon sekedar berbisik di telinganya, "Berdiri—sounds fun, yeah?"

Maka Jungkook menggeram, "Shit," ingin sekali menghajar Alphanya andai kata ia tidak sedang butuh.

Lantas, Jungkook hanya menurut saat Taehyung melepas kaosnya, menjelajah tubuhnya tidak sabar, meninggalkan jejak gigi-giginya di seluruh tempat. Tapi pergerakan Taehyung berhenti, mati ketika jemarinya nyaris menurunkan celana Jungkook.

Jungkook menahannya.

Taehyung menatapnya heran, sementara Jungkook menggeleng.

"Kenapa?"

Si Jeon mendecak, keringatnya menetes dari pelipis, rautnya terlihat emosional meski Taehyung sendiri biasa lihat bagaimana bola mata Jungkook dipenuhi hasrat, "Apa yang mau kau lakukan saat pakaianmu masih utuh seperti itu?"

Hening sebentar.

Lantas Taehyung menggelegarkan tawa keras-keras.

Ia mengusap sudut mata, menghentikan gelaknya dan menatap Jungkook dengan alis terangkat, "Sial, Jeon, kau sukses membuatku jatuh hati," tangannya cepat melepaskan kemejanya, mengekspos bagaimana tubuh tan itu memenuhi pengelihatan Jungkook. Si Jeon menelan liur susah payah, masabodoh ucapan Taehyung hanya merasakan respirasinya buntu menelisik raga kurus sosok itu yang terlihat kuat dan kokoh, menjadikan Omeganya mengaum semakin liar. Jungkook mengigit bibir bawah, menunduk malu ketika tidak sengaja bersilang tatap dengan senyuman Taehyung, sial, jangtungnya berdebar.

Si Jeon menelan liur suah payah saat Taehyung mengecup puncak kepalanya. Hanya menurut saat remaja itu membalikan tubuhnya menghadap pintu, lantas Jungkook bisa dengar suara zipper yang diturunkan, gesekan bising denim dan suara bahan yang bergesekan kulit. Membuat pompa dadanya berdentum-dentum kacau. Dan Jungkook memejam mata lagi, kakinya terasa lemas saat jemari Taehyung menurunkan celana trainingnya.

Ia menumpu kepala di kayu pintu, merasakan dingin menyambut vitalnya yang terekspos. Merah menyambut, wajahnya bersemu hingga telinga, merasakan malu yang mendesiskan darah-darahnya.

Sekalipun, ia tidak merasakan sensasi ini ketika bersitubuh dengan abangnya tempo hari. Tapi kenapa terlalu beda jika itu orang lain? Apa mungkin karena dengan Jimin dirinya yang memang menginginkan semuanya terjadi?

Maka semuanya menjadi inosen tatkala Taehyung yang melakukan.

Jungkook tersenggal, tubuhnya mengigil saat Taehyung mengusap paha dalamnya. Napasnya memburu sengau ketika Taehyung sengaja meremasnya kuat, ia melirih, detak jantungnya bagai guntur kala vokal berat Taehyung menggelitik belakang telinganya.

"Jungkook ..., jangan menyesali ini," bisiknya pelan, napasnya tersendat gairah, "Aku ingatkan untuk tidak menyesalinya."

Selepas itu, Jungkook kehilangan fokus tatapannya saat jemari Taehyung beranjak menggenggam dan mengocok miliknya perlahan, matanya memburam tapi sebelah tangannya meraih tangan Taehyung yang lain, memaksakan diri mengulum jari-jari sosok itu; kikuk dan canggung, menjadikan Taehyung mengernyit, tapi kemudian, Jungkook hanya merasakan panas saat Taehyung melepaskan kedua tangan dan memulai flirting. Rasionya irasional tatkala Taehyung selesai, membuatnya tidak lagi mempunyai akal ketika Taehyung tiba-tiba melakukan penetrasi, membuat matanya membola sempurna, tubuhnya tersentak, jantungnya berhenti berdetak beberapa sekon. Bibirnya mencumbu bringas bahu Jungkook, sementara jarinya terus bergerak semakin dalam dan cepat.

Jungkook mengerang, meredam desah dan menjerit tertahan. Nyaris menangis saat Taehyung menambah digit jarinya hingga akhir.

Maka ketika Taehyung mengeluarkan jari-jarinya dan menuntun Jungkook berbalik, Taehyung menjadikannya tersipu.

Sebelah tangan Taehyung terangkat, mengusap pipi Jungkook sepenuh hati, mengagumi bagaimana kecantikan Jungkook membutakannya akan dunia.

"Rileks, sayang, rileks," titah Taehyung membisik di bibirnya, menjadikan Jungkook mengangguk responsif.

Lantas ketika Jungkook tak lagi merasakan hangat napas Taehyung, yang ia ketahui hanyalah si Kim telah berjongkok di hadapannya. Menyentuh miliknya hati-hati, memberi sengatan mengintimidasi saat Taehyung menggenggamnya terlalu kencang, mengocoknya beritme dan mengecup kepala vitalnya lembut. Melumurinya dengan liur, menjilatinya; hingga menjadikan Jungkook mendesah tak tahan ketika Taehyung mulai mengulumnya, melumatnya bertembo dan memompanya teratur.

Lantas ketika Jungkook bisa merasakan seluruh tubuhnya lenyap dan berkumpul di satu titik; Taehyung tiba-tiba melepaskannya, tanpa bersalah menyudahi kegiatannya dan beranjak berdiri.

Ia tersenyum, Jungkook bisa lihat paras si Kim menjadi terlampau tampan dengan senyum yang terukir, "Menikmatinya, sayang?"

Jungkook bersemu, hanya bersemu.

Kemudian, membiarkan tangan kiri Taehyung perlahan-lahan membawa sebelah kakinya melingkar di pinggul. Tanpa dasar memeluk leher Alphanya saat Taehyung merapatkan tubuh mereka, sengaja menghela napas di lehernya dan kembali memainkan jemari di analnya.

Dan Jungkook melebur bersama angin. Teriakannya menggema saat Taehyung mengeluarkan jemari hanya untuk menggantikannya dengan hal yang lebih pasti, perlahan, si Kim menarik bahu Jungkook; melongkarkan pelukan Omeganya sekedar menyatukan bibir mereka—berharap bisa membantu walau hanya sedikit.

Maka Taehyung menggeram saat Jungkook mengigit ganas bibirnya ketika ia mulai memasukinya.

Si Jeon menangis—jelas-jelas Taehyung bisa lihat air mata Jungkook yang mengalir deras seiring ia yang memasuki semakin dalam.

Beda, Jungkook hanya berpikir rasanya benar-benar beda ketika bersama Taehyung. Meski Omeganya menikmati, raga dan hatinya benar-benar merasakan sakit juga terbebani.

Tapi Taehyung enggan peduli, otaknya sudah terlanjur kacau, Jungkook terlalu berhasil membangkitkan Alphanya yang terlelap. Majadikannya buas dan meliar.

Menyisakan si Jeon yang mengerang frustasi, mendesah, meringis perih. Ini bukan kali pertamanya. Namun ketika Taehyung terlalu lintang memasukinya melebihi yang Jimin lakukan, Jungkook merasakan perih yang teramat parah.

Namun tatkala Taehyung sabar menunggu. Mengecupnya berkali-kali dan berbisik menenangkan di atas bibirnya—Jungkook menemukan titik kenikmatan. Mendesis butuh saat Taehyung bergerak dan menghantamnya dengan ritme brutal. Mengizinkan Jungkook terus menjambak dan mendominasi bibirnya saat mulai menikmati.

Lantas Jungkook tertegun, ketika dalam pangutan mereka; Taehyung meraih tangan kanannya, mengecup tatto di pergelangannya seiring bergumam terlalu yakin dan fasih, "Jeon Jungkook. Aku bersumpah atas nyawaku; hasratmu, emosimu, ego dan segala kebutuhanmu akan menjadi tanggung jawabku. Seutuh tubuh dan darahku terikat padamu, Omegaku. Bersatulah denganku, hargai aku sebagai takdirmu. Selamanya," dan Jungkook tidak lagi memikirkan apapun, otaknya melompong.

Kim Taehyung; sanggup membuatnya mendesahkan namanya, berhasil memenuhi retinanya, dan sukses menuntunnya orgasme dipuncak kenikmatan.

Kim Taehyung; mampu menggoyahkan pendiriannya, terlalu piawai mengobrak-abrik rasionalismenya, terlampau mahir menjadikannya membutuh dan puas.

Kim Taehyung, satu-satunya manusia yang berhasil membuatnya lupa sesaat akan keberadaan hyungnya, merangsek ditengah-tengah, hingga dengan brengsek mampu menjadikannya berdebar.

...

Maka Jungkook tidak akan pernah mengetahui, bahwa Park Jimin merasakan sesak menyerang sanubarinya. Memeluk lututnya di atas sofa, mengenggelamkan kepala, meletakan asal plastik mandu di atas meja.

Hanya untuk menangisi desahan yang menggaung dari kamar adiknya, memenuhi isi telinganya.

.

.


Bubble Bomb
; 'cause dysfunctional mind.


Nyaris dua minggu. Semenjak Taehyung mengklaimnya Jungkook dilanda kecambuk batin luar biasa.

Ia selalu yakin bahwa hatinya mencintai Jimin. Jelas dan pasti.

Tapi eksistensi Kim Taehyung entah mengapa membuat dirinya mulai goyah.

Ya, mungkin hatinya selalu bertahan pada kakak tirinya. Ia mau menyangkal, namun Jungkook bahkan tidak bisa menampik bahwa Omeganya justru mencintai Taehyung.

Menjadi prahara rumit sebab Jungkook terlalu kacau untuk menentukan yang mana prioritasnya.

Ia membutuhkan Jimin—sangat, karena hanya abangnya yang sanggup ia cintai sepenuh hati.

Namun ia kian membutuhkan Taehyung—lebih dari sangat, karena hanya sosok itu yang bisa menenangkan Omega liar dalam dirinya.

Dan kenyataannya, kini, Jungkook mencintai keduanya.

Untuk hatinya, dan untuk Omeganya.

Karena keduanya adalah bagian penting yang membangun jiwanya.

.

.


"Jimin-hyung."

Malam pukul delapan Jimin menoleh dari balkon, mendapati Jungkook masuk ke kamar, melangkah teratur mendekatinya.

Maka Jimin kembali menghadap luar saat adiknya sampai, mengulum senyum ketika merasakan tangan-tangan Jungkook memeluk pinggangnya dari belakang.

Jungkook menyandarkan kepala, menghirup aroma dari punggung abangnya yang terasa nyaman, "Hyung, mama-papa pulang kapan?"

Jimin mengetuk jemari di teralis balkon, sejenak sebelum mengendurkan tangan-tangan Jungkook dari tubuhnya, sekedar berbalik dan menangkup wajah adiknya sayang, "Pekan depan mereka libur tiga hari, nanti kita jemput sama-sama ke bandara."

Jungkook hanya mengangguk, terlanjur mengagumi paras abangnya.

"Hyung," panggilnya sekali, berbisik dari nadanya yang lembut. Jimin bergumam menanggapi, mengalihkan jemarinya mengusap bagian kiri rambut Jungkook, "Aku mencintaimu ... kau tau 'kan?"

Lantas, hening setelah itu.

Semilir angin terasa meremukan tulang-tulang saat Jungkook terbatu, merasakan hatinya jatuh terlalu dalam ketika Jimin mengukir senyum utuh dan membenturkan kening mereka, "Tentu," menjadikannya mati dan tak lagi merasakan telapak kakinya menyentuh bumi tatkala Jimin melanjuti tegas, "Persis seperti yang kurasakan padamu 'kan?"

Itu pernyataan, bukan pertanyaan.

Gemuruh jantung mereka menjadi saksi armada semu yang terlalu manis dan menggemaskan. Jungkook mendapati tubuhnya melebur bersama angin malam saat Jimin mempertemukan bibir mereka, menahannya lama dan melumatnya hati-hati. Menjadikan keduanya tersesat semakin jauh dan jauh.

Karena Jimin telah dibutakan egonya.

Membiarkan dirinya berdosa untuk malam ini; sebab akalnya kusut ketika seberkas kenangan mengingatkannya pada kejadian tempo hari, membuatnya membayangi klam waktu itu, dan terlampau tak tertahan ketika obsidiannya lagi-lagi melihat bekas keunguan yang tidak kunjung memudar di leher adiknya.

Membiarkan dirinya berdosa untuk malam ini; karena terlalu mencintai Jeon Jungkook tanpa jumlah pasti. Membuat kewarasannya terus berkata persetan dan persetan.

Membiarkan dirinya berdosa untuk malam ini; pada Taehyung yang tak pernah bercela memperlakukannya tanpa pamrih. Hingga tidak mengetahui bagaimana sahabatnya kembali mendera remuk dan terus mengeluarkan darah untuk sepersekon waktunya mencumbu Jungkook.

.

.


Jungkook tersedak, menyembur isi kola di mulutnya.

Lantas menoleh, menatap nyalang siapa jahanam yang menepuk punggungnya tiba-tiba. Sekedar menemukan Kim Taehyung dan tawa menyebalkannya melambai jenaka, "Pagi, Omegaku!"

Oh. Sugar Honey Iced Tea.

Ia mengernyit, kesal bukan main. Hampir mengamuk kalau saja koridor sekolah tidak terlihat mulai ramai. Jungkook membuang muka saat Taehyung berjalan memutar, duduk di sebelahnya sambil mengeratkan mantel.

Periode musim dingin memasuki di awal Desember.

"Chim?"

Si Jeon mendelik dari ujung mata, "Ke kelas Hoseok-hyung."

Taehyung mengangguk sok paham. Lantas memilih bungkam menikmati suhu rendah yang menjadikan napasnya berkabut.

Sesaat.

Sebelum Jungkook bersuara pelan, "Sunbae—"

"Kau bisa panggil aku hyung kalau masih kaku memanggil nama," Taehyung menyela santai, sekembar hazelnya menelisik hamparan rumput taman belakang. Mengacuhkan bagaimana siswa-siswi YaGook sesekali melirik mereka dari koridor di belakang.

Si Jeon menunduk, memainkan jemari di pangkuan, "... hyung," vokalnya sekali, menjadikan Taehyung tersenyum tipis. Jungkook menoleh sekedar menarik Taehyung dalam satu tatapan lurus, caranya menatap sama sekali tak terselimuti gurau; hanya getir dan emosi, "Kau tidak keberatan terlibat dalam hubungan ini?" Taehyung bisa menemukan onyx Jungkook menatapnya dingin, "... kau tidak keberatan berbagi diriku dengan Jimin-hyung?"

Lantas, hening mengudara.

Cukup lama.

Menyisakan sepasang obsidian yang bersitatap beku; kosong dan tanpa sarat.

Hingga detik di mana Taehyung berkedip lalu berpaling, kembali pada lapangan belakang dengan sirat matanya yang redup, Jungkook bungkam, hanya meneliti ekspresi di wajah remaja itu. Maka ketika ia mendengar vokal berat Taehyung tersuara, dirinya ikut menatap arah Alphanya memandang.

"Tanggapan seperti apa yang kau harap?" nadanya terdengar luar biasa ketus, "Kalau akalmu masih waras ... kau pasti tau jawaban atas pertanyaanmu—" jeda, napasnya menggumpal di kerongkongan, "Aku Alpha normal, Jungkook. Dan tidak ada Soulmate yang ingin dibagi dua dengan takdirnya sendiri—apalagi kalau sudah dipertemukan," sunyi tiga detik sebelum Taehyung menghela napas berat bersama senyum lirihnya di sudut, "Aku kelewat gila kalau bilang tidak keberatan," ia menoleh, menatap Jungkook dalam-dalam, "Karena kenyataannya aku tidak mau membagimu, meski dengan Chimchim sekalipun."

Damn!

Bangsat.

Jungkook menerima guncangan sesak dari jantung ke seluruh raganya, membuat tubuhnya terasa panas dan koyak. Ia menarik napas pelan-pelan, memejam mata kuat berusaha mengendalikan diri. Sebab Jungkook tau; begitu paham porosnya mengalami Miserable mutlak dari Omeganya yang menghadapi telepati lara dari kepedihan sang Alpha.

Ia melirik, pelan-pelan meneliti mata Taehyung yang membelenggu pengelihatannya. Hanya untuk mendapati remaja itu tersenyum sambil mengarahkan jemari mengusak surainya gemas, "Tapi apa kuasaku?" jeda, "... aku sudah berjanji bakal membiarkanmu tetap mencintainya. Dan laki-laki tidak mengingkari janji."

Tiupan beku udara dingin menjadi jeda, menghasilkan hening yang anonim. Sesaat sebelum Jungkook tergelak dengan rautnya yang mencemooh, "Kau begitu tenang dan percaya diri, Hyung," dan Taehyung tersengguk, merasa kacau saat Jungkook memanggilnya seperti itu dengan sangat-sangat kalem. Tapi kemudian, ia tergugu kala si Jeon melanjuti pongah, "Seakan-akan bisa menjamin akan membiarkanku terus membagi diri kalau Soulmate Jimin-hyung nyatanya telah mati?"

Maka ujarannya sendiri yang menjadikan Jungkook tutup mulut. Membatu dan merasakan engsel gerak tubuhnya tak lagi bekerja seirama tatkala Taehyung membalas begitu santai dengan senyumnya yang jutru semakin mengembang, "Persetan. Apapun—apapun yang bisa membuatmu bahagia. Kalau itu memuaskanmu ... aku tidak masalah untuk ikut tersenyum di belakang."

Karena Jungkook tidak tau, bahwa Taehyung mungkin lebih memahami aturan takdir yang semestinya diterima Jimin.

.

.


Sore di akhir pekan, Jimin keluar rumah setelah menjemput ibu dan ayahnya di bandara. Meninggalkan Jungkook yang mendumal meminta ikut dan berakhir di kafe Gook dengan Hoseok.

"Man, si alien lama sekali sumpah!" siswa Jung itu mendumal sambil mengunyah camilan coklatnya.

Sementara Jimin hanya terkekeh menanggapi, "Pahamilah kawanmu, Bung, klub basket lagi sibuk akhir-akhir ini."

Hoseok memutar bola mata, "Ya, ya," tanggapnya culas, "Andaikata Yoongi-hyung tidak bolak-balik rumah sakit terus mungkin jam main Taetae bisa lebih banyak. Kasihan. Sebagai kapten jadi dia yang repot."

Jimin mengernyit, "Yoongi-hyung ...?"

"Sepupuku," balas Hoseok kalem, "Ketua klub basket."

Lantas menjadikan Jimin berjengit heboh, "Wow, Jung! Ketua klub basket sepupumu?" ia menggeleng hiperbola, "Tidak bisa dipercaya."

Hoseok mendecih karenanya, "Sialan," umpatnya antagonis.

Maka Jimin tergelak riang berhasil membuat kesal kawannya. Ia menenggak smoothie dari gelas sejenak, "Dia sakit apa?"

Sejenak, Jimin bisa melihat cara Hoseok menatap tidak lagi terlihat jenaka, obsidiannya dipenuhi embun dan kekosongan. Lantas Jimin nyaris tersedak liurnya sendiri saat memahami keanehan kawannya tepat di saat Hoseok bersuara lirih, "... gejala Betrayal."

"Astaga ... maaf, Jung—"

"Tidak-tidak! Bukan masalah!" Hoseok mengelak cepat, menenagkan kawannya yang kelihatan panik bukan main. Ia justru mendecih sarkastik, membuang pandang ke luar dinding kaca di saat Jimin merasa benar-benar tidak enak hati, "Mungkin karma," menjadikan si Park tertegun menatapnya. Tapi Hoseok hanya menggedik bahu acuh tatkala kembali menatap Jimin, "Kau tau? Hal pertama yang kulakukan saat dia siuman di pingsan pertamanya ... adalah tertawa," ia tergelak pelan, "—terlebih saat paman dan bibiku bilang bahwa dokter juga membenarkan kesimpulan yang keluarga kami pikir," ia mendesau pelan, "Gejala Betrayal—karma yang akhirnya ia dapat. Mampus."

Lagi-lagi Jimin mengernyit. Tidak paham dan sungguhan tidak habis pikir, "Ei, kau kejam sekali, Man."

Hoseok justru menggedik bahu lagi, "Masabodoh. Itu salahnya karena punya sifat persis macan."

Jimin manaikan sebelah alis heran, "Dia galak?"

Si Jung mendesis sambil menggeleng ekspresif, "Kau tidak mengenalnya, Chim. Kau tidak tau."

Lantas siswa Park di depannya hanya mengangguk kaku. Tapi, waktu ketika Jimin memilih diam dan tak mengungkit lagi masalah ini, Hoseok justru bersuara sambil mengaduk sedotan di gelas frappenya.

"Aku menyayanginya—kalau kau mau tau. Walaupun sangat-sangat buas dan tega luar biasa, Yoongi-hyung itu kakak yang terlalu baik. Dia cerdas, hebat—panutanku dari dulu. Cuma dia Omega sekuat Alpha yang kukenal," Jimin bisa mendengar suara Hoseok yang tanpa harapan menggempur gendang terlinganya, "Hanya saja otaknya berubah tolol level akut hanya karena perkara cinta-cintaan. Menjadi idiot kelewatan," Hoseok mengambil jeda sebentar, matanya bergetar menelisik busa pastel minumannya. Lalu mendongak, Jimin beku sebab tatapan itu, "Karmanya terjadi bukan karena sifat yang normatif, tapi balasan Tuhan untuk kejahatannya memberi puncak kepedihan pada sahabatnya sendiri, sadar atau tidak, kebodohannya terlanjur curam saat mengabaikan ketentuan takdir yang sebenarnya," Jimin memenjara lidah untuk terus mendengarkan, menjadi penerima yang baik bagi seluruh kata-kata Hoseok yang terlontar. Tapi ia bahkan tidak pernah tau bahwa debar jantungnya akan tersendat ketika si Jung melanjuti lewat vokalnya yang kritis, "Dia mencinta bukan dengan takdirnya, bercumbu bukan dengan Alphanya, maka puncak kebodohannya adalah mengikat klaim bukan dengan Soulmatenya."

Jimin membatu, pernyataan Hoseok seolah membawa anak panah buat menembus dadanya. Teramat tepat dan dalam.

Namun Hoseok bahkan tetap melanjuti, dengan nada yang lebih rileks, "... di saat ia bahkan tau mereka tidak diciptakan untuk sama-sama, justru dengan bodoh memaksakan kehendak dan menjadi luar biasa dungu—semenjak itu dia menjadi orang paling konyol yang pernah kukenal."

Maka Jimin tanpa sadar mengepal jemarinya kuat-kuat. Merasakan hatinya sesak luar biasa, merasakan pukulan telak luar biasa, merasakan otaknya kosong luar biasa. Hanya untuk menyimpuklan dirinya telah menjadi manusia paling tolol dan egois di muka bumi.

Hoseok benar. Perkara apapun yang menimpa sepupunya, nyatanya Jimin tak jauh berbeda dari sosok itu. Menghianati sahabatnya, bahkan membimbing Jungkook terjelembab semakin jauh.

Lantas, apa Taehyung juga menanggung puncak kepedihan seperti yang Hoseok katakan? Apa Taehyung juga menerima sakit seperti yang ketua klub itu rasakan? Apa Taehyung sungguhan baik-baik saja seperti yang selama ini ia lihat?

Atau ini hanya cara Taehyung menutup-nutupi segalanya?

Dengan sebuah senyuman.

Goddammit. Bagaimana bisa ia menjadi orang yang begini keterlaluan; setelah sahabatnya selalu memberikan yang terbaik? Setelah ayah-ibunya memberi seutuh kepercayaan? Setelah Jungkook selalu bilang mencintainya?

Harusnya, bukan begini cara Jimin membalas semuanya. Bukan menjadi egois, tak amanah dan merusak adik tersayangnya. Harusnya Jimin sadar dari awal dan memikirkan kembali segala kosekuensi atas tiap-tiap langkahnya.

"Siapa?" dipuncak irasional, si Park menatap Hoseok dengan obsidian yang mengkilap pilu, "Siapa Alphanya?"

Siapa manusia yang sama-sama menanan duka pada sahabat Yoongi yang menderita.

Maka Jimin membatu ketika Hoseok menjawab kalem, "Namjoon-hyung."

A dimmo shit.

Akalnya porakporanda ketika menyimpulkan satu nama—Kim Seokjin—sebagai Omega ceria yang begitu dikenalinya baik hati. Manusia tidak bersalah yang menjadi korban dari nafsu kebodohan.

Maka Jimin memutar otak untuk memikirkan bagaimana rasanya ada di tempat Taehyung sekarang.

...

Ya, nyatanya karma berpulang pada siapapun yang melakukan kesalahan fatal disengaja. Maka Hoseok mungkin tidak tau ketika Jimin memahami; bahwa karma atas kesalahan Kim Namjoon waktu itu telah diterima oleh adiknya tersayang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

tbc.


Jo Liyeol's Curhat Timing!


/tutupmuka/

OEEEEE! MAMA MAAPKEUN ANAKMOEH INI MAAAA!
Yalord, sumpah demi kambing! kumalu sejagad omg ;A; gatau mau bilang apa, pokonya ngepost ini tuh rasanya NGANU PARAH! Baru kali ini nulis beginian (DIPOST PULA!) ;A; omg sangat! omgomgomg! gaes ... maapkeun dedek lah pokonya kalo kaga 'asoy' itu adegan yang 'iyaiyanya' :v kugemetaran syumpah!

kucinta kalian yang udah baca sampe sini, kucinta kalian yang udah neror buat lanjutin cerita ini cepet-cepet, kucinta kalian semua pokonyaaaa.
makasih untuk review yang selalu bikin dedek cenat-cenut, makasih udah repot-repot ngeluangin waktu untuk ngetik komentar, makasih banget pokonya sama kalian. Maaf belom bisa bales satu-satu, tapi syumpah kuterus baca ulang setiap komentar-komentar dari kalian. sekali lagi ... makasih banyak. maaciwww gaeees. kalian penyemangatku! muah muah muah =3=

Dan buat Momo-eonnie, ketjop basah siniii =3= mumumuuuu

btw, (aku tau tulisanku masih ancur sangat) tapi kukepikiran pengen coba-coba ngekolab (efek males mikir) =w= kubelom pernah kolab fic boyslove soalnya. jadi kalo dari kalian ada yang 'bersedia' kolaborasi bareng dedek, PM yaaaa ... gausah author/penulis yg punya akun juga gapapa ko =3= kutunggu~

.

PS(1): semua typo yang ada adalah kekhilafan.
PS(2): kucinta kaliaaaan ft. titik dua bintang. (tebar sempak dan kecup basah) =3= mumumu
PS(3): thanks for: follows, favorite, and reviews.
PS(4): see you on next chapter.

01.12.2017