"Chim!"
Jimin menoleh dari bangku, melihat Taehyung menggantungkan tas di meja sebelahnya. Remaja itu bangkit, lantas merangkulnya erat, "Kenapa, Man? Mukamu pucat seperti anak ayan, sedang tidak enak badan hm?"
Setelahnya yang Taehyung dapat adalah jitakan keras di kening, "Idiot."
Tapi si Kim justru tergelak senang, "Oh ayolah, Chim, moodku sedang baik akhir-akhir ini. Jadi please, jangan merusaknya."
Baik?
Jimin diam, menerka-nerka maksud dari pernyataan kawannya. Apa yang bisa Taehyung bilang baik kalau nyatanya ia mendera sakit?
Tepat sedetik sebelum Jimin mengutarakan pertanyaan, seorang siswa mendekati mereka; membawa map kertas dan malu-malu menyodorkannya pada Taehyung. Ia menerimanya, menyeringai tipis saat siswa ini merekahkan senyum untuknya. Menjadikan sosok itu berbalik dengan anggukan skeptis—bersama semu merah jambu yang memenuhi wajah, ketika Taehyung mengutarakan 'terimakasih'.
Omega.
Siswa itu Omega.
Jimin memangku dagu di meja, mendongak memperhatikan kawannya yang mulai membuka isi map. Merasa janggal ketika siswa itu hanya mencermati isi surat dari OSIS untuk klub baket.
"Tae," ia memanggil sekali, mengambil fokus Taehyung untuknya.
"Ng?"
Jimin terkekeh tipis, meledek, "Sudah tidak alergi dengan Omega hm?"
Menjadikan kawannya mendenguskan tawa, "Bangsat."
Mereka tergelak setelah itu. Sebentar. Sebelum Jimin pelan-pelan berhenti, "—tidak. Serius, Tae. Ke mana Kim Taehyung yang kukenal? Demi kuda! Aku bersumpah kau jadi terlihat sangat berbeda. Terakhir kali kita jalan berdua kau masih menjaga jarak sama Omega-Omega yang tertarik dengan feromonmu. Tapi sekarang? Look—kau bahkan tersenyum?" ia mengambil jeda hanya untuk memposisikan tubuh menghadap Taehyung, menangkap wajah kawannya, "Kau sungguhan Kim Taehyung 'kan? Kepalamu tidak terbentur sesuatu? Masih waras?" vokalnya hiperbola dibuat-buat.
Pangutannya terlepas ketika mendengar Taehyung mendengus. Lantas, si Kim memukul kepala Jimin satu kali lalu berbalik dan duduk di kursinya, mengacuhkan Jimin buat memasukan map tadi ke tas.
Tapi siswa Park itu tidak kehabisan bahan perbincangan. Ia memicing iseng sekedar menggoda Taehyung yang kembali menatapnya, "Saat itu kau masih bilang Omega hanya subyek sekali pa—" maka semuanya buyar. Serangkaian caci-maki, umpatan, kata-kata menyebalkan, dan seluruh ide jahilnya musnah ketika Jimin justru tergugu.
Taehyung sendiri bisa dapati bagaimana retina kawannya terlihat gemetar, mengigil, kosong tanpa arah.
Kemudian, suasana kelas terdengar senyap di pendengaran Taehyung ketika Jimin memanggil pelan, "Tae," vokalnya final dengan caranya menatap yang lebih hidup. Ia mengernyit, rautnya terlihat hati-hati saat melanjuti, "Kau pernah bercumbu, uh, tidak, ma-maksudku ... kau pernah bercinta dengan Omega yang bukan takdirmu?" Jimin mengigit bibir bawahnya ragu, "Sebelum bertemu Jungkook?"
Taehyung diam.
Wajahnya kaku, entah kenapa pengalihan topik Jimin terasa benar-benar sukar untuk hatinya, hingga mampu membuat Alphanya menggeram marah dan tempramental. Namun ia menarik napas dalam, memenuhi paru-patunya sampai sesak; sekedar menahan jiwanya untuk tetap santai dan rileks, "Menurutmu?" nadanya datar bukan main.
Jimin mengedip beberapa kali, lidahnya kelu, "Uh, me-menurutku kau—mm, aku tidak tau ..., aku tidak tau karena—yeah," ungkapnya kikuk tersendat-dendat. Jimin menggaruk belakang kepala, "Jungkook belum pernah mengalami gejala Betrayal selama ini."
Maka Taehyung menaikan sebelah alisnya apatis, "Jadi?"
"Jadi ... ngg, k-kau belum?"
Si Kim tidak menjawab, hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Menjadikan Jimin berubah linglung. Bukannya tidak percaya, hanya saja, ia kurang paham dengan situasi, "Tapi kau bilang—" retinanya menyalak.
"Pernyataanku bukan berarti cerminan kelakuanku, Chim," Taehyung menyela cepat, menggedik bahu sekali, "Hanya bicara dari pengalaman yang kulihat—" vokalnya mati ketika ia menghela napas berat, "Kau tau ayah dan abangku 'kan?" tatapannya menunduk pelan-pelan, menelisik meja kelas, "Walau silsilah keluarga kami selalu cepat menemukan Soulmate, tidak lagi mengherankan kalau orang-orang keturunan Kim Taehoon adalah bangsat," Jimin bisa dengar bagaimana intonasi Taehyung terdengar berat di akhir, terlebih cara kawannya menggeram dan menggemelatakkan graham, "Kakekku brengsek sungguhan dan keturunannya memiliki gen bejat yang sama—tapi aku tidak, Chim ... aku tidak mau," ia mengela napas sukar, "Itu kenapa aku tidak suka berhubungan lebih dekat dengan para Omega, berusaha tidak tertarik, dan menjauh sebisa mungkin. Sebab walau aku tidak mau sekalipun ...," Jimin juga bisa mendapati tangan-tangan Taehyung yang mengepal kuat di bawah meja hingga urat-urat di punggung tangannya tercetak jelas, "Kenyataannya aku juga berpotensi—karena kami memiliki satu DNA."
Maka Jimin tak lagi bisa berkata apa-apa, terlampau sulit mengendalikan hatinya yang perih dan getir terlalu banyak. Bersamaan merasa penesalan juga benci melihat senyum kawannya saat Taehyung melanjuti sambil menatapnya bersungguh-sungguh.
"Tapi sekarang tidak ada lagi yang perlu dikuatirkan, karena aku sudah menemukan Soulmateku."
Hati Jimin pecah berkeping-keping.
.
.
.
.
;:;:;:;
.
.
.
.
.
.
.
Bubble Bomb
— a beloved awoo —
.
.
III / III
; last take : Awmygha.
.
©Jo Liyeol
hurt, comfort, broken.
young-defensive, end-pain, sense-releasing.
affair!stop, MinYoon!meet.
...
Waktu itu, Jimin masih dipenuhi putih dan abu-abu—terguncang selepas pergi dari rumah duka. Tapi Jungkook yang menyambutnya turun dari mobil cukup menjadikannya menerima lagi warna-warni; mendapati bagaimana Jungkook di usia lima berlari ke depan gerbang dengan kaki-kaki pendeknya yang cepat, mengulurkan tangan yang kotor penuh tanah, tersenyum lebar dengan gigi kelincinya yang merekah, dan dengan mudah menuruti perkataan orang tuanya untuk memanggilnya hyung.
Jimin belum mengerti waktu itu. Saat-saat tatkala Jungkook dengan senang hati membagi kamarnya, terus menemaninya merenung tiap malam untuk kematian ibunya, membersihkan air matanya yang tidak pernah berhenti ketika mengingat kenangan sang mama, hingga waktu berotasi maju menjadikan adik kecilnya menjadi petarung handal—rela selalu bertempur untuk melindunginya dari berandal sekolah.
Jimin harap, ia bisa menghentikan perasaannya saat itu. Hingga tidak merasakan bagaimana kupu-kupu menggelepar di dasar perutnya ketika Jungkook tumbuh lebih besar, menerima rasa hangat yang meletup-letup ketika Jungkook memeluknya posesif. Dua tahun silam, penghujung kelas tiga SMP, awal musim gugur menjadi hari di mana ia terbangun dari koma; ketika adik kecilnya berusia lima belas. Dengan jelas dan berani, sambil menangis Jungkook mengatakan bahwa ia mencintainya, mencintai Jimin lebih dari seorang kakak. Terisak di ruang inap abangnya ketika orang tua mereka pulang untuk mengambil pakaian ganti. Jimin kira, saat itu Jungkook hanya terlalu kacau karena dokter Kang bilang ia tidak sadarkan diri nyaris satu pekan. Tapi kemudian, saat ia mendengar Jungkook bicara bahwa dia sungguh-sungguh mencintainya semenjak usia sepuluh, Jimin hanya merasakan histeria dan kebahagiaan.
Maka mulai saat itu ia memberi senyum dan usapan sayang lebih dari biasanya, meski tak sedikitpun Jimin terlupa untuk tetap bertahan, mencoba mengendalikan diri lebih dari biasanya untuk tidak menarik Jungkook semakin jauh dalam jerat yang salah.
Tapi nyatanya nihil.
Pertahanannya selama tiga belas tahun sama sekali tak bersisa.
Justru membuat prahara kelit hingga menarik serta sahabatnya yang tak bersalah.
.
.
Satu sama.
Akhir pekan di pertengahan Desember, Jungkook duduk di atas sofa memperhatikan abangnya dan Kim Taehyung saling mengumpat beradu Mobile Legend di ponsel masing-masing. Kedua orang itu menghabiskan masa libur dengan terus berduaan.
Untuk ini Jungkook mendongak buat kembali menonton televisi, entah kenapa semua saluran sudah di penuhi ornemen Natal dan Tahun Baru. Ia masih menyaksikan, hingga acara musik kesukaannya mulai dengan sepasang presenter muncul dengan ceria.
"Wah, hoodie mereka couple. Manisnya," lewat suara yang minat tak minat Jungkook memindai dengan obsidian yang berbinar lucu.
Lantas suaranya menjadikan Taehyung dan Jimin menoleh kompak, menatap Jungkook sejenak sebelum melihat ke mana arah tatapan bocah itu mengarmada, sekedar mendapati sepasang muda-mudi di layar televisi.
Taehyung yang pertama kali berkomentar sambil kembali fokus ke layar handphone, "Apanya yang lucu, begitukan norak," berhasil membuat Jungkook mendecih; melirik sinis padanya.
Tapi sebelum remaja Jeon itu sempat bertindak kurang ajar, Jimin sudah lebih dulu tergelak. Menjadikan Jungkook mengerang kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena ini Jimin.
Andaikata hyungnya tidak ada di sini, mungkin Jungkook sudah memukuli Taehyung sebagai pelampiasan. Maka sebagai gantinya ia hanya kembai menonton tv saat Jimin kembali fokus ke game.
Satu minggu terakhir Taehyung terus datang ke rumahnya, tidak terlalu mempedulikannya karena yang remaja itu cari adalah Jimin. Kadang-kadang orang ini terlalu membuat Jungkook heran dengan kelakuannya yang semena-mena dan tidak bisa ditebak, tapi setelah mendengar dari abangnya kalau Taehyung itu berbeda; Jungkook tau ini hanya bahasa sopan dari sinonim penyebutan aneh untuk Taehyung.
Seiring waktu, ia memahami bahwa akomodasi si Kim terlalu berbahaya. Perlahan Jungkook mulai mengamati dan benar kata teman-temannya di sekolah; kalau Taehyung punya feromon yang mematikan. Sebenarnya Jungkook sudah tau dari awal, di kali perdana ia menghirup aroma Alphanya, tapi karena hatinya sudah terlampau jatuh pada abangnya; ia tidak begitu peduli.
Di awal-awal, selain karena Omeganya yang terus meraung menginginkan Taehyung, ia hanya fokus pada Jimin. Tapi akhir-akhir ini; Jungkook jadi merasakan satu sama yang semakin berimbang. Antara eksistensi Park Jimin dan Kim Taehyung di hidupnya.
Semenjak ia mengerti satu fakta tentang Jimin yang penyayang, dan Taehyung yang penyabar.
Menjadikan Jungkook merasa dirinya terlahir untuk menjadi manusia paling jahat di semesta karena melilit mereka dalam curamnya kekeliruan.
Yah, harusnya Jungkook bisa merelakan salah satunya. Tapi dari awal, takdir sudah berkata kalau ia tidak mungkin membuang Taehyung, dan Jungkook terlalu egois untuk melepaskan Jimin.
Lantas, ketika dua orang yang duduk di lantai itu kembali sibuk memaki satu sama lain, Jungkook tersentak. Napasnya tersendat sementara kepalanya nyeri. Ia menengadah merasakan tubuhnya terasa panas dan melepuh. Otaknya irasional ketika setrum menjalar ke bagian vital tubuhnya. Mengepal tangan kuat-kuat. Tapi kemudian, ia menunduk memegangi perutnya yang seperti membeludakan magma panas.
"Sial, Tae! Maju, brengsek!" Jimin berteriak emosi, tempramennya naik ke ubun-ubun saat pergerakan karakter Taehyung mati di tempat. Lantas, ketika ia tak kunjung mendapati tanggapan, Jimin reflek menoleh.
Mengernyit heran saat mendapati kawannya memejam mata, rahangnya mengetat tegas dan hidungnya bergerak mengendus sesuatu. Maka Jimin otomatis ikut menghirup, menyesap aroma manis yang terlalu melilit kukuh, manjadikannya susah sekedar menelan liur melewati kerongkongan. Aroma yang—tunggu!
Jantungnya mati.
Jimin melirik Taehyung sekali lagi sebelum reflek menoleh belakang. Tersentak ketika mendapati adiknya meringkuk dan terus meracau pelan.
Shit!
Si Park beranjak bangkit, panik berdiri buat menepuk-nepuk punggung adiknya pelan. Tapi yang ia dapati Justru desisan Jungkook tersuara seiring adiknya menyelingak menatapnya sayu, meraih pergelangannya dan melirih menahan sakit, "Hyung ...," Jimin tergugu, respirasinya buntu ketika Jungkook membawa tangannya untuk mengusap pipi adiknya.
Tubuhnya terguncang sementara Alphanya mulai mengerang.
Sial, sial, sial.
Jangan! Dia tidak boleh begini!
Maka Jimin memejam mata kuat, susah payah menahan napas ketika Alphanya mulai mengaum dan memberontak. Lantas, reflek yang Jimin lakukan di penghujung rasionya adalah menoleh dan menendang kepala kawannya.
Manjadikan Taehyung tersentak dan tersadar. Linglung memahami keadaan.
"Brengsek—ah, Tae, J-Jungkook ... periode heatnya mu-mulai—shit, aku tidak tahan! Uh."
Taehyung berbalik, terkejut melihat kawannya mengerang susah payah.
"Brengsek!" Jimin memekik murka, "Lakukan kewajibanmu sebagai Alpha atau aku yang bakal melakukannya! Bajingan, mh—nggh! Ba-bawa Jungkook sekarang—aah ... sial!" Jimin menunduk, gigi-giginya mengerat kencang sementara kewarasaanya perlahan mulai utuh terganti, "Tae, palli nawa!"
Maka Taehyung melompat, menggendong Jungkook ala bridal dan berusaha membawanya pergi sejauh mungkin dari pencapaian indra penciuman Jimin.
Menyisakan bagaimana pangutan jemari Jimin di wajah Jungkook di tangkap oleh adik tersayangnya, menjadikan Jimin merasakan sesak ketika si Jeon bahkan terlalu erat menggenggam jari-jemarinya di akhir pangutan; tak rela melepaskannya, hingga terlepas seutuhnya. Dan di penghujung akal sehat, bolamata Jungkook yang hanya dipenuhi sosok dirinya menjadikan Jimin nyaris sekarat karena perih.
.
.
Jimin mengunci diri di dalam kamar. Meringkuk mencengkram telinganya kuat-kuat. Kepalanya perih, retinanya panas, telinganya mendidih.
Di tengah gemerisik debar jantung yang putus asa, Jimin menangis sambil terus berusaha menulikan pendengaran.
Alphanya mengamuk menjadikan bagian vitalnya sesak dan nyeri bukan main, tapi Jimin mengacuh—tubuhnya terlalu lara untuk memikirkan hal lain ketika segalanya tidak lagi konsisten.
Sebab di saat raganya menerima sakit dan sakit, batin juga sanubarinya justru merasakan kecambuk nyata.
Seluruhnya melebur.
Akalnya irasional.
Porakporanda berkemping ketika Alphanya menginginkan aroma Jungkook di saat ia paham; bahwa desahan yang beradu di kamar sebelah adalah penyebab jantung hatinya remuk.
...
Pukul satu dini hari, Jimin mengeratkan jaket; memperhatikan langit malam yang gelap sambil duduk di dipan kayu pekarangan belakang. Napasnya berembus menjadikan asap tipis mengudara dari rongga respirasi.
Ia mengelingak ketika derit pintu terdengar dari belakang.
"Chim ...," Taehyung di sana, mengenakan mantel dan berjalan mendekat, kedua tangannya masuk ke saku. Duduk di sebelah kawannya saat Jimin kembali menghadap langit.
"Bagaimana?" Jimin tersenyum iseng, "Menyenangkan dengan Jungkookie? Dia binal 'kan?" retinanya masih mengunci langit.
Meski rautnya konyol dengan sudut bibir yang terangat pongah, hal ini sama sekali tidak menyangkali Taehyung untuk menemukan titik redup dari obsidian kawannya—terlalu mengisyaratkan gelombang hambar, hampa, juga kekosongan absolut.
Maka Taehyung ikut mengamati antariksa, konsisten dalam sepi alih-alih menanggapi kawannya. Karena ia tau pertanyaan itu hanya omong kosong dari rasa perih yang memukul Jimin.
Hening mengambil alih sebab sikapnya.
Membiarkan atsmosfer semakin beku di dinginnya bulan Desember.
Jimin menghela napas sekali, matanya terpejam pelan. Tapi kemudian suara Taehyung kembali membuatnya terjaga.
"Chim ..."
"Hm?"
Hanya rembulan kecil yang menjadi fokus mereka, angkasa kosong, Zeus mungkin sedang bosan hingga mengambil kemerlip bintang-bintang untuk dirinya sendiri. Seolah mewakili bagaimana kehampaan tanpa nama yang dua remaja itu terima.
Kaki-kaki Taehyung naik, berkedip sekali ketika memeluk lutut, "Jangan salah paham—maaf—aku ... hanya kuatir. Maaf aku bicara begini ... tapi ... apa kau tidak takut karma?" Jimin tersentak, namun masih mendengarkan saat Taehyung mendengung sebentar, "... ketua klubku, uh, Min Yoongi, aku dengar dari Hoseok dia terkena Betrayal. Hoseok bilang Yoongi-hyung sepupunya, aku baru tau kemarin, awalnya aku heran kenapa si kuda-rewel tidak banyak meringkik semenjak kita di kafe waktu itu—kau tau sifat jelekku 'kan? Aku memaksanya bercerita ... dan dia menceritakannya. Kau mau tau apa yang kupikirkan setelahnya?" Taehyung menghela napas sekali, "Takut," vokalnya monoton, kaku dan terlampau berat, "Aku takut dan benar-benar merasa tolol. Aku baru tau Yoongi-hyung mantan Namjoon-hyung—aku baru tau. Dia ketua klubku, Namjoon-hyung abangku, dan aku baru tau. Bodoh 'kan Chim?" jeda mengudara sebentar, menjadikan pikiran Jimin kalut sementara respirasi Taehyung mencekik di kerongkongan, "Mau tau apa yang kutakuti?" hening cukup lama kali ini, "... Hoseok bilang Yoongi-hyung terkena Betrayal untuk menerima karmanya. Untuk dosa di masa lalu," Jimin berdegup kaku; retinanya perih menatap langit saat mendengar suara Taehyung tercekat lirih, "Aku takut, Chim. Aku takut abangku juga akan menerimanya—karena dosa mereka pada Seokjin-hyung. Aku takut ...," kemudian, Jimin merasakan arti sekarat dan kepedihan di penghujung maut tatkala Taehyung melanjuti sambil mengalihkan fokus, hanya untuk menatapnya lama, "—aku takut kau dan Jungkook juga akan menerimanya di waktu mendatang."
Taehyung tau. Jelas dan pasti. Taehyung tau.
Hal yang justru membuat Jimin nyaris menangis dan tersengguk.
Demi Tuhan, mestinya tidak begini. Demi Tuhan, harusnya jangan seperti ini. Demi Tuhan.
Bagaimana bisa Taehyung ... ?
Jimin ingin memutar waktu, kembali ke masa kecil dulu, berharap bisa mengontrol perasaannya di kali pertama melihat Jeon Jungkook.
Lantas Jimin ingin sekali meneriaki Taehyung; memaki dan menyerapah untuk prilakunya yang menerima dalam diam.
Harusnya, Taehyung memberinya pelajaran dan menyuruhnya berhenti. Harusnya, Taehyung membenci dan menghakiminya, menyadarkannya di depan orang-orang dan bilang bahwa sahabatnya adalah bajingan. Harusnya, di kali pertama Taehyung mengetahui Jungkook adalah Soulmatenya; ia melarangnya dan membuatnya memiliki jarak dari adiknya. Harusnya, di detik pertama ia mengalami gejala Betrayal; Taehyung menghampirinya, menarik kerah pakaiannya dan menghajarnya habis-habisan.
Harusnya begitu, bukannya menanti dan tetap tertawa saat mereka sama-sama.
"Tae," Jimin menoleh, mendapati hazel Taehyung menatapnya tanpa sarat. Tapi Jimin bertingkah seolah segalanya wajar, ia menarik napas hingga paru-parunya sakit, sekedar menahan kerongkongannya yang perih dan menahan kumpulan air di kantung mata, "Tidak."
Taehyung bergumam, "Apa?"
"Tidak," Jimin mengulang snobis, "Aku tidak takut—jawaban untuk pertanyaanmu ... soal karma."
Maka Jimin bisa lihat bagaimana raut di wajah sahabatnya berubah kaku. Sekembar obsidian itu berpendar gusar, kalut, tapi juga emosi. Lantas, Jimin menunggu.
Menanti kapan tepatnya tinjuan Taehyung akan mendarat di seluruh wajahnya.
Namun terlalu banyak waktu terbuang hanya untuk menjadikan Jimin kembali menatap langit. Ada satu bintang muncul di sana, persis di sebelah bulatnya bulan. Menjadikannya tergelak sarkastik, pongah dan luar biasa menyebalkan.
Menertawai diri sendiri.
Jelas, Jimin jelas melihat cerminan dirinya selama ini, jelas sekali, melihat bagaimana egoismenya memperdaya ketulusan dalam sanubarinya.
Ia memejam mata, berharap sepersekian sekon Taehyung akhirnya berniat menghajarnya—tapi tidak, sahabatnya tetap menjadi Kim Taehyung. Yang selalu memperlakukannya begitu berharga, menjadikannya merasa menjadi sahabat paling beruntung dan jahat sedunia. Menyadarkannya telak di jantung hati karena Taehyung tetap bertahan dan tidak terbawa emosi untuk menyentuhnya sebab angkara.
Dan pada akhirnya, Jimin hanya menjadikan Taehyung tertegun saat ia membuka jaket, menyentak ikat pinggang dan melepas kain terakhir di badannya. Membiarkan tubuhnya mengigil menerima angin malam.
Hanya untuk menunjukan pada Taehyung pola retak menyakitkan yang mengukir dadanya.
"Betrayal," Jimin menarik napas sekali, "... dua tahun lalu, aku sudah pernah merasakannya," kemudian Taehyung kehilangan rasio waras saat mendapati bagaimana Jimin memaksakan senyum, "Ini kenapa aku tidak takut," vokalnya monokrom tanpa corak, ia mendesau pelan, "—aku sudah menerima cobaan jauh lebih dulu sebelum kebodohanku patut menerima konsekuensi. Karma mungkin ada, Tae, tapi kalau aku menghentikannya sekarang mungkin hal yang lebih buruk tidak akan terjadi untuk waktu mendatang," monoton, dan respirasi Taehyung mati telak ketika melihat usaha kawannya sama sekali tak mencegah air mata itu menetes perlahan. Maka Jimin membuang muka, mengusap kasar sudut mata dan mendongak sambil terus menghirup napas.
Berusaha dan berusaha, tapi kemudian, caranya mengambil jeda dan berupaya tetap menjadi lelaki tidaklah konsisten dengan fakta.
Jimin menunduk, tersengguk perih, mengepal tangannya kuat-kuat, berusaha bertahan namun air matanya justru terus mengalir semakin deras, "Maafkan aku karena egois—maaf, uh, a-aku tau maafmu bahkan belum cukup untuk menebus semua dosaku ... tapi maaf, Tae, maaf untuk segalanya," menjadikan Taehyung membeku utuh tatkala Jimin memaksakan diri, dengan keadaan yang kacau meraih sebelah tangannya; mengenggam kuat seiring retina itu menatapnya bersungguh-sungguh, "Kulepas Jungkookie. Aku salah, Tae, aku salah. Kumohon jaga adikku," ia tersengguk berulang kali, tak berminat menghapus lagi air matanya ketika mendapati bagaimana hazel Taehyung menatapnya merasa bersalah, hingga menjadikan Jimin merasa benar-benar keji karena sanggup menghianati sahabat yang sebegini tulus padanya, "Kupercayakan dia padamu," lirihnya terakhir kali, "Maafkan aku, Tae."—karena sangat mencintainya.'
.
.
Memikirkan Yoongi dan Namjoon hanya berpatok pada pertanyaan; berapa kali mereka bercinta?
Selalu itu yang Taehyung pikirkan setiap kali mengingat lagi retak di dada Jimin kemarin malam.
Gejala Betrayal yang dialaminya sama sakali tidak menimbulkan luka fisik, yah, mungkin organ dalamnya merasakan nyeri dan luar biasa sakit, tapi Taehyung tidak pernah mendapati luka apapun di kulit luarnya.
Tapi kenapa Jimin ... ?
"Mungkin Omeganya benar-benar berhianat," Taehyung mendongak, memperhatikan Seokjin yang memilah buku-buku di rak kayu perpustakaan kota. Figur tinggi itu mendelik, membenarkan posisi buku yang baru diambilnya dalam pelukan sebelah tangan. Taehyung membantunya, memngambil sebagian literatur di pelukan Seokjin, "Trims," ia kembali melangkah, "Ini kenapa dinamakan Betrayal—karena segala yang menyangkut persoalan itu terhubung dengan penghianatan," acuh tak acuh, sosok itu kembali mencari sastra buruannya.
"Um ... Hyung, ka-kalau kau?" Taehyung mendeguk sekali, "Punya?" ia menggaruk tengkuk tidak enak hati, "Karena Betrayal murni? Bekas di tubuh?"
Seiring aktivitasnya Seokjin tersenyum santai, "Ya," satu buku kembali ia ambil dari rak. Kemudian melengos, "Satu goresan lintang di dada, panjangnya kira-kira 5 cm. Satu di pangkal paha, dan tiga ruas ototku pecah," Taehyung terperangah, mereka ke luar barisan bilik-bilik kayu.
"Serius?" yang lebih muda nyaris memekik, "Coba lihat!"
Dengan gampangnya Seokjin justru duduk di dekat jendela, meletakan buku-bukunya di atas meja dan menatap Taehyung tanpa minat, "Sayang sekali, kau telat kalau mau melihatnya. Aku sudah sembuh total, Tae."
Maka Taehyung merengut, keningnya berkerut. Lantas ikut meletakan buku yang dibawanya lalu duduk di kursi sebrang Seokjin.
"Bagaimana bisa?"
Yang lebih tua menggedik bahu abai, "Aku sudah mate dengan Alphaku tentu saja," kemudian, Seokjin meraih satu bacaan dari tumpukan yang ia ambil, mulai membacanya serius.
Menjadikan Taehyung menghela napas berat dan membuang pandang ke luar jendela. Perlahan memangku dagu, mengingat lagi dan membayangkan bagaimana perih yang Jimin terima dari retak di dadanya.
Ya, pada kenyataannya bukan hanya Taehyung yang merasakan sakit.
Tapi kemudian, akalnya buyar ketika dengan tanpa dosa Seokjin bersuara lagi, "Luka seperti itu bakal terjadi kalau salah satu dari Soulmate yang ditakdirkan tulus mencintai sosok yang bukan garis takdirnya, dan perasaan itu berbalas sama utuh oleh orang yang dicintainya. Kalau hal ini terjadi dalam kurun waktu lama; maka hati Alpha tidak akan kuat, hanya luka fisik yang bakal menjadi bukti. Lantas cuma kematian yang menunggu untuk Omega yang dihianati; karena kami tidak hanya menerima luka fisik, tapi juga psikis dan organ dalam yang rusak perlahan-lahan," Taehyung mendongak heboh menjadikan Seokjin tertawa, "Omega itu rentan, Tae, kami lemah—ini kenapa Yoongi masih diopname sampai sekarang," Seokjin menghela napas berat, "Karma itu rasional, tidak pandang buluh. Maafku belum cukup untuk menghentikan penderitaannya, bahkan meskipun sekarang mereka sudah putus dan Namjoon mencintaiku seutuhnya, determinasi atas kebodohan sewaktu kami masih kelas satu sama sekali tidak menghentikan pembersihan dosa," lantas Seokjin mendongak sekedar berbisik pelan teruntuk adik kekasihnya, "Karena Yoongi masih terlalu mencintai Namjoon."
.
.
Besoknya, Taehyung mengangkat kedua tangan; menyetarakan jemari kiri yang mengamit cincin dan jari manisnya yang dilingkari benda mirip, Taehyung memasukan cincin yang dipegangnya ke saku mantel. Menarik napas panjang sebelum mengehelanya teratur, kemudian mengetuk pintu kediaman keluarga Jeon.
Tersentak mendapati sang kepala keluarga yang membukanya, maka ia buru-buru membungkuk rendah.
...
Jungkook menguap sambil ke luar kamar, senja menenggelamkan matahari ke peradaban, ia turun dari lantai atas hanya untuk ternganga telak. Heran bukan main saat keluarganya berkumpul di ruang tengah, dengan Kim Taehyung yang duduk di sebelah Jimin sambil terus berceloteh riang. Bersama ayah dan ibunya yang tak berhenti terus tertawa.
Tanpa sadar, Jungkook bergegas menuruni tangga dan berjalan cepat ke sana, "Apa yang kau lakukan di sini?" ketusnya tepat menyembur Taehyung, ia berdiri di sana; mempertajam retina dari tempatnya terhenti di sebelah sofa sang ayah. Di sebelahnya, Jungkook menangkap Jimin; terkekeh halus memperhatikan bagaimana adiknya seperti ingin memangsa kawannya.
Maka mereka mendelik, sekedar mendapati bokong Jungkook yang dipukul ayahnya setelah itu, "Ei, mana tata kramamu, nak?"
Jungkook mendesis tidak suka, tapi menatap ayahnya terlalu sopan, "Tata krama apa, Pa? Manusia itu tidak butuh sopan-santun!" jemarinya menunjuk Taehyung tanpa gentar. Maka Jungkook kembali kena pukul.
"Jungkook, jangan tidak sopan dengan Alphamu. Kau bisa kena hukuman yang berat."
Sunyi.
Ada nuklir yang meledak di dasar jantungnya.
Ujaran ibunya cukup menjadikan Jungkook berjengit, obsidiannya terbelalak syok dan reflek menatap Taehyung juga Jimin bergantian.
Apa-apaan? Bagaimana bisa orang tuanya tau?
Taehyung yang menyahut cepat sambil menunjuk si Park, "Jimin yang bocor, jangan salahkan aku."
Sukses membuat Jungkook menggemelatakan grahamnya kuat-kuat, merasakan hatinya nyeri dan tersayat-sayat, ssaat retinanya berpaling dan mendapati Jimin yang justru tersenyum.
Bagaimana bisa Jimin setega ini padanya?
Jungkook mendecih, tempramennya mengepul di puncak. Lantas berbalik, menghentak kaki dan meninggalkan mereka untuk kembali ke kamar.
Cukup omong kosongnya.
Apa-apaan ini?
Di suatu sudut, Jimin menatap lara kepergian adiknya, ia tau; paham betul bagaimana kekecewaan Jungkook terpantul dari siratan matanya. Namun di saat semua orang hanya memandang punggung Jeon kecil menjauh. Jimin bisa merasakan sentuhan di punggung tangannya.
Ia menunduk menemukan jemari Taehyung di sana; merematnya perlahan dan penuh sugesti. Lantas ketika ia menoleh, Taehyung memberikan senyum dan anggukan terkonotasi.
Maka Jimin berpikir sebentar. Sebelum menarik napas dalam-dalam dan beranjak bangkit, mengejar Jungkook yang telah memasuki kamarnya. Menyisakan Taehyung yang merana dalam sepi, menunduk, dan terus berharap apabila keputusannya tidak akan salah.
Namun jika pun iya, biarkan Taehyung tetap berasumsi bahwa segala kesalahannya adalah benar, kalau itu yang bisa membuat Jungkook tetap tersenyum dan tertawa.
"Tolong dimaklumi ya, Taehyungie. Jungkookie kami memang sering merajuk," Taehyung menoleh, spontan tersenyum lebar dan mengangguk mendapati ibu dan ayah Jeon kembali berbicara padanya.
Mungkin bagi Taehyung, bisa diterima dengan begitu gampang dikeluarga ini sudah lebih dari cukup. Dapat berbagi cerita dan tertawa bersama orang tua Jungkook, telah menjadi kesenangan terlepas eksistensi figur Park Jimin.
...
"Jungkook ...," Jimin muncul dari balik pintu ketika mendapati adiknya berdiri di balkon. Kakinya melangkah masuk, menutup pintu dan mendekati Jungkook dengan langkahnya yang berat dan penuh sesal.
Ia berdiri di belakang punggung sosok itu, memindai lama adiknya yang tak kunjung bersuara. Jimin menghela napas, paru-parunya sesak, tangannya mengigil ingin sekali memeluk tubuh adiknya. Tapi Jungkook bahkan tidak beraksi sama sekali.
Hari masih terlalu pagi. Tapi entah kenapa Jimin merasakan hatinya dipenuhi temaram pedih—bukti konkrit dari penyesalan yang perih, embusan dingin dari udara yang membekukan bahkan tak sedikitpun terasa.
"Jungkook," ia mendesau lirih, "Maafkan aku—"
"Brengsek."
Satu kata.
Jimin merasakan tubuhnya meremang, terlampau tegang, lalu obsidiannya berembun begitu saja. Akalnya terlalu kusut menerima bagaimana untuk pertama kali Jungkook mengumpatinya.
"Sobat, maafkan aku, kau harus dengar dulu—" kemudian, tanpa Jungkook menyelanya lagi, Jimin merasakan napasnya tersekat. Jelas-jelas melihat adiknya mengepal tangan kencang sekali, otaknya melompong sekedar mendapati Jungkook yang bungkam; terasa mati, "... kita tidak bisa begini. Kita tidak bisa terus begini, Kook. Kau memiliki Soulmatemu, Taehyu—"
Jimin merasakan napasnya habis, rasionya sukses porakporanda dan tak lagi sanggup melanjuti tuntutan untuk penjelasannya ketika Jungkook tiba-tiba berbalik.
Pink miss.
Ada meteor yang meremukan jantung hati Jimin, ketika begitu nyata menyaksikan paras tampan adiknya terlihat luar biasa berantakan; air matanya mengalir deras sekali dan cuaca dingin mendukung wajah hingga telinganya memerah pekat, obsidiannya berpendar menyedihkan; begitu sengsara dari caranya terus mengeluarkan tangis tanpa suara.
"Bangsat, bagaimana bisa kau melakukan ini padaku, Hyung?!" Jimin mendeguk, pertahanannya membatu saat Jungkook melangkah dan menarik kerah kaosnya emosi. Menggeram tepat di wajahnya, "Kalau kau belum gila, harusnya kau memikirkan perasaanku sekarang! Harusnya kau pikirkan dulu matang-matang! Harusnya kau tanya pendapatku! Harusnya ... bajingan! Ba-bagaimana bisa kau melakukan ini, hah?!" jeda, "... uh, bagaimana biasa aku menerima ini setelah mendengar pengakuan cinta darimu? Bagaimana bisa kau benar-benar tega, Hyung?!" di tengah air matanya yang terus mengalir, onyx itu terus berpendar kacau dan emosi. Membiarkan debar paru-parunya terus bergemuruh abnormal.
Tapi Jungkook tak pernah menyangkal kalau kenyataannya hatinya terus berdebar untuk seorang Park Jimin, mendentumkan cinta dan cinta.
Maka Jimin menggeleng pelan, menjadikan Jungkook tergugu saat melihat bagaimana abangnya ikut melelehkan air mata. Awalnya, Jimin tetap mengepal tangan kuat-kuat di sisi tubuh. Namun jantung hatinya bahkan tidak bisa memungkiri bahwa air mata Jungkook hanya menjadikannya semakin gagal menjadi seorang kakak. Membuatnya rapuh dan perih luar biasa.
Lantas, Jimin hanya mengangguk ketika Jungkook bergumam, "Aku membencimu, Hyung—aku membencimu."
Dalam pelukannya.
"Ya, lakukan, dan jangan pernah memaafkanku."
...
Jungkook menariknya, membawanya ke luar rumah hanya untuk memukulnya tepat di rahang. Taehyung terhuyung, tapi terlampau kuat untuk terjelembab.
"Jungkook—"
"Bangsat!" Jungkook menyela murka, menarik kerah mantelnya kencang, "Katakan kalau ini memang rencanamu dari awal!" satu tinjunya kembali mendarat di wajah Taehyung, namun Jungkook justru menyentak cengkramannya, "Omong kosong janjimu, Kim! Brengsek! Kau egois demi Tuhan!"
Taehyung mengernyit tidak paham, rahangnya sakit.
Tapi lagi-lagi Jungkook mendaratkan tinjunya, mengabaikan rasa nyeri yang menyengat dirinya sendiri.
Omeganya merintih perih tatkala Jungkook tetap membabi buta.
Hingga akhirnya, Taehyung memberontak. Menepis cengkaraman Jungkook dari bibir kaosnya, kasar, untuk kemudian membelenggu tangan-tangan si Jeon dalam gengaman, "Sial, Kook!" Taehyung berteriak emosi, obsidiannya membara menahan tempramen, "Kenapa hah?!" lumayan menuntut ketika mengguncang lengan Jungkook.
Jungkook terengah, napasnya gusar, obsidiannya menyalang namun Taehyung bisa merasakan pedih dari Omega si Jeon yang mengaing-ngaing.
"Kau yang menuntut Jimin-hyung untuk melakukan ini 'kan?!"
Taehyung mengernyit tidak paham, berkedip heran, "Hah?"
Jungkook menggemelatakkan gigi-giginya tidak sabar, terlampau muak mendengarkan Omeganya yang mangaum putus asa, "Orang tuaku ...," sudut bibirnya terangkat pongah, "Alpha?" kemudian gelaknya terdengar mencemooh, lantas, obsidiannya menyalak tajam, "Kau menuntutnya untuk bilang ke orang tua kami ... kalau orang dari garis takdirku adalah dirimu 'kan?!"
"Apa?" Taehyung mendesau bingung. Terlalu terkejut dengan apa yang baru saja Soulmatenya katakan.
Tapi kemudian, sejenak sebelum ia tergelak sarkastik Taehyung merotasikan bola mata.
Dalam hening membungkus tangan-tangannya ke saku mantel seraya laju otaknya dipenuhi angkara, "Kau mencurigaiku?" binar di obsidiannya berubah kelam ketika tanpa kata Jungkook tak segan berkata iya, "Kau sinting, Jeon," ia mendengus, sumpah demi Tuhan tidak habis pikir sama sekali. Jantung hatinya mulai berdenyut kacau sementara rusuknya membunyikan krak pelan, lantas, obsidiannya justru menatap Jungkook lamat-lamat, "Delusional. Imajinasimu tinggi."
Ada jeda di antara mereka, namun Jungkook belum sempat menghardik ucapan si Kim ketika Taehyung membanting sesuatu dari saku mantelnya. Membiarkan benda kecil itu memantul ke aspal dan berputar sebentar.
Cincin.
Jungkook masih memperhatikan—heran mendapati cincin itu ketika Taehyung kembali bersuara.
"Sebegitunya kau mencintai Chimchim?" Jungkook mendongak, hanya untuk mendapati Taehyung yang meringis; menahan air di ujung mata ketika rasa sakit itu terus memborbardirnya. Ia mengangguk sonbis, berusaha untuk tersenyum, "Oke," lagi, anggukannya semakin terlihat frustasi, "Oke ... yeah," kemudian berhenti. Taehyung mendeguk, menatap Jungkook kesal bukan main, ia mengangkat tangan kanannya; menunjukan punggung tangan untuk cincin yang sama di jari manisnya, "Kau tau ...," nada suaranya terdengar lebih rendah, "Tadinya aku mau memberikan yang di bawah untukmu, ini akan kelihatan manis Jeon ... seperti katamu—tapi yah, kurasa kau tidak membutuhkan hal-hal seperti ini dariku," ia mendesah sekali, "Yang kau inginkan Chimchim 'kan?" ia mendecak snobis, semakin kesal saat melihat wajah Jungkook tak berekspresi sama sekali. Ia mengeratkan rahang ketika melepas cincin lain dari jari manisnya, mengangkatnya sebentar sebelum dengan gampang membuangnya, "Kau dapatkan keinginanmu," vokalnya tercekat di kerongkongan, tapi Taehyung bahkan terlalu apatis untuk mundur beberapa langkah, "Jangan jadikan aku alasan ... mulai sekarang kau bebas. Anggap kita belum pernah bertemu—atau, kau bisa menganggap Soulmatemu sudah mati sejak lama; persis seperti yang kaubayangkan untuk Omega dari Park Jimin."
Kemudian, Taehyung tergelak; tawa rendah yang mengintimidasi, lantas berbalik dan meninggalkan Jungkook dalam keheningan yang dingin.
"Bangsat."
.
.
Jungkook memangku dagu di taman belakang YaGook, menikmati sunyi yang membunuhnya. Raganya di tempat, namun akal pikirnya berkelana sangat jauh.
Ia menunduk, lamat-lamat entah kenapa memikirkan lagi kejadian minggu lalu. Di hari itu, begitu banyak hal yang terjadi; hal yang bahkan berimbas sampai sekarang.
Konsekuensi.
Jungkook menghela napas berat, lantas, ia memejam mata kuat-kuat untuk menahan air matanya agar tidak jauh; ketika Omeganya mengais pilu mendengar teriakan berisik anak-anak basket yang mulai memasuki lapangan.
.
.
Bubble Bomb
; cover of suffering.
Nyaris dua pekan, Jimin merana dalam sunyi sebab Jungkook tidak sudi sama sekali sekedar menatap wajahnya.
Bocah itu terus membuang muka, mengalihkan perhatian, dan mencari-cari alasan untuk pergi dari tempat yang sama dengannya.
Sampai hari di mana Taehyung datang hanya untuk mengambil prosesor Hoseok darinya. Jimin tidak punya pilihan lain kecuali memohon pertolongan lagi pada sahabatnya.
Maka si Kim hanya menghela napas, mencoba mengerti dan kembali terikat simpul dalam hubungan ini.
.
.
Di penghujung keterpurukan. Detik ketika ia tak memiliki nafsu makan untuk dua minggu, malas keluar kamar dan tidak sudi sama sekali menatap wajah abangnya. Kim Taehyung datang. Membuka pintu kamarnya begitu saja, duduk di pinggir ranjang dan memaksanya bercerita sambil terus menatapnya.
Jungkook bungkam. Bersikeras tidak mau menurut namun dominasi Taehyung benar-benar membuatnya tak berkutik.
Hingga pada akhirnya Jungkook buka suara, menceritakan semuanya dan membuat si Jeon tergugu ketika Taehyung bahkan tak terkejut ketika ia sama sekali tidak berkata maaf, justru bicara dirinya kembali mencumbu Jimin tanpa mau melepaskannya. Taehyung tetap mendengarkan meski Omega dalam diri Jungkook bisa merasakan perih terlalu banyak dari telepatinya yang berhubungan langsung dengan sang Alpha.
.
.
Malam besok adalah pergantian tahun baru, keluarganya berkumpul di rumah; bahkan ayah dan ibunya memaksa Namjoon membawa Seokjin menginap, jadi sore ini Taehyung menerima ocehan panjang orang tuanya di telepon karena nekat pergi keluar. Hanya untuk bergegas ke kediaman keluarga Jeon, karena Jimin bilang Jungkook membutuhkannya, sementara orang tua mereka kembali melanjutkan dinas musim dingin.
Taehyung baru satu kali mengetuk pintu ketika bilah kayu itu langsung terbuka, menampakan figur Jungkook yang menghadapnya. Tinggi mereka nyaris sama, maka Taehyung tidak perlu menunduk untuk melihat raut kaku bocah itu.
"Chim?" sebelah alis Taehyung terangkat.
Jungkook diam, tidak menjawab tapi tetap menatapnya tanpa kedip.
Hening mengudara lama sebelum Jungkook berbisik pelan, "Di dalam ... mungkin, uh, entahlah."
Taehyung mengernyit, "Hei—"
"Oh, Tae! Sudah sampai?!"
Taehyung menyelingak, mengintip ke belakang punggung Jungkook untuk mendapati sahabatnya kerepotan menghias pohon natal. Maka ia merotasikan hazel kembarnya, "Man! Kurasa kau yang lebih membutuhkanku."
Jimin tergelak di dalam, menggeleng snobis lantas berucap, "Tidak terimakasih, tolong bantu saja adik kecilku."
Taehyung tersenyum dingin, kemudian, fokusnya kembali menatap Jungkook yang tak juga melepaskan dirinya sebagai subyek pandang.
"Apa maumu?" si Kim mendecak malas, memasukan tangan-tangannya ke saku mantel. Retinanya mendelik tak langsung membalas balik tatapan Jungkook.
Maka yang lebih muda menarik napas dalam-dalam sebelum menghelanya perlahan, merasakan Omega dalam dirinya bersorak riuh, "Masuk," ia menggeser posisi kemudian, memberi jalan untuk Taehyung.
Si Kim membuka alas kaki, lantas mendekati Jimin membiarkan Jungkook mengekorinya.
"Chim, ada yang aneh—"
"Urusi urusanmu, Tae," usai menggantungi balon kaca di salah satu ranting, Jimin menoleh, menggedikan alisnya iseng, "Dia butuh dimanja."
Maka Jimin hanya mendapatkan pukulan main-main dari sahabatnya yang mendecih kesal.
Taehyung masih diam, bertahan di tempat. Tidak memiliki minat menatap Jungkook atau hatinya akan kembali hancur.
Jujur, Taehyung sangat-sangat merindukannya, namun segalanya menjadi beda semenjak hari itu. Tidak ada lagi komunikasi hangat di antara mereka, dan sialnya, Taehyung tidak lagi bisa bersikap ramah hanya kepada Jungkook.
Kembali menjadi Kim Taehyung yang dingin dan terlampau menjaga jarak dengan para Omega, kapanpun; setiap saat.
Tapi kemudian—lagi dan lagi—Taehyung kalah.
Hanya untuk jemari Jungkook yang mengamit ujung mantelnya, menarik-nariknya dari belakang dan bergumam dengan suaranya yang datar, "... Hyung."
Maka Taehyung mendongak sesaat, memperhatikan langit-langit rumah. Lalu menarik Jungook ke sofa ruang tengah, melepas mantelnya dan melemparnya sembarang hanya untuk duduk bersisian dengan si Jeon. Mungkin, walau bagaimanapun caranya Taehyung berusaha menahan Alphanya yang selalu menginginkan Omeganya, Kim Taehyung terlahir dengan sifat yang terlalu tenang dan stabil, lantas bukan gayanya mengambil kesempatan dari ketidak beruntungan seseorang.
Taehyung hanya bersandar, meraih remot untuk mengganti channel televisi, sementara tangan kirinya mengamit sebelah jemari Jungkook; menautkannya erat dan—cukup.
Jungkook mendengus, matanya memejam kuat. Ia sudah menahan diri, semenjak hari itu; ia terus menahan diri.
Padahal Taehyung yang akhirnya membuat mereka kembali berbicara, berkata asal-asalan, memaksanya meminta maaf pada Jimin dan ketiganya melewati malam bersama.
Tapi, Taehyung selalu terlihat tanpa beban, cukup menjadikan Jungkook lagi dan lagi merasa ketidak adilan Tuhan.
Ia melepas kasar pangutan Taehyung, membelenggu Alphanya lamat-lamat tatkala obsidian mereka akhirnya bersitatap, Jungkook menggemelatakan graham; sebentar sebelum sedikit melompat untuk menindih Taehyung, menjadikan Alphanya bersandar di pinggiran sofa.
"Aku tidak mau pegangan tangan."
Taehyung diam, sesaat kemudian ia tertawa mencemooh, "Wow. Tamak persis Jeon Jungkook," sebelah alisnya terangkat snobis, "Tidak belajar dari pengalaman hm?" ia mendecak singkat, "Andaikata kau bukan bagian dari takdirku ... aku tidak sudi melihatmu lagi, Jeon."
Jungkook mengigit bibir, justru menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher Taehyung, "Persetan ocehanmu, Hyung, nyatanya kau juga menginginkanku."
Maka gelak renyah Taehyung yang selanjutnya terdengar, hal yang begitu Jungkook rindukan setelah sekian lama.
Saat Jungkook mengangkat kepala menyatukan tatapan mereka, onyxnya hanya dipenuhi raut parabola Taehyung yang menyebalkan, "Sekarang aku paham kenapa Tuhan menjadikan aku takdirmu. Mungkin kalau orang lain, mereka sudah mati di hari pertama bertemu—tepat ketika kau mengejar pria lain dan jelas-jelas menolak Alphamu sendiri."
"Bangsat."
Lantas gema tawa yang terdengar selanjutnya saat Taehyung membenturkan kening mereka, menyatukan bibir entah bagaimana; hingga Jungkook harus menghantam keningnya berkali-kali ke kepala Taehyung karena orang itu kelewat menjengkelkan untuk menyamankan posisi.
Melupakan bagaimana Park Jimin di sana.
Tersenyum tulus.
Berusaha ikut bahagia, mengabaikan anak panah yang menembus jantung hatinya terlampau dalam. Karena Jimin memahami; sebab cinta bukan harus memiliki.
.
.
Di tepi jalan, Jungkook masih menunggu; sesekali mengecek jam di pergelangan dan mengeratkan mantel dalam pelukan.
Ia menyelingak ke sepenjuru tempat, berusaha menemukan seonggok makhluk dari padatnya kerumunan orang dan penuh-berisiknya ornamen-ornamen Natal.
Jungkook menghela napas kesal ketika bahunya tiba-tiba ditepuk dua kali, ketika menoleh ujung telunjuk seseorang menyambut menekan pipinya.
Jungkook mengernyit, rautnya datar bukan main mendapati bagaimana cengiran bodoh Taehyung terpampang di wajahnya yang menyebalkan, "Saranghae."
Maka pukulan telak yang justru Taehyung terima di belakang kepala untuk pelampiasan emosi Jungkook.
"Bagus, dua jam hm?" remaja Jeon ini menggeram.
Sumpah demi apapun, andaikata Taehyung bukan Alpha dari garis takdirnya, ingin sekali Jungkook melubangi kepalanya. Bagaimana bisa jadi ia yang menunggu begini di saat Taehyung yang mengancamnya jangan sampai telat.
Brengsek memang Kim Taehyung.
Jungkook mendengus sekali, lantas berbalik dan meninggalkan Taehyung begitu saja. Tapi Taehyung yang dengan mengesalkan melangkahkan kaki beriringan dengannya sambil berjalan mundur, cukup menjadikan Jungkook membatu, karena bersama cengiran idiot itu Taehyung menggoyang-goyangkan dua gelang yang menyala warna-warni di depan wajahnya, "Maaf lama, bibi penjualnya menambahkan manik-manik bintang di atas tulisan; jadi aku harus menunggu supaya lemnya kering."
Menggemaskan.
Jungkook berkedip sekali, bahkan sebelum sadar dari ketermanguan Taehyung sudah memakaikan salah satu gelang itu ke pergelangannya; dan yang satu di lengannya sendiri.
Ketika dengan mengesalkan si Kim menggoyang-goyangkan gelang itu, Jungkook justru memutar pergelangannya, mencermati bracelet yang melingkar; tanpa sadar tersenyum ketika membaca ukiran rapih italic di sana: he's mine! regards, taetae.
Kekanakan memang, tapi terasa begitu mendebarkan.
Menjadikannya tertawa kecil, dan Jungkook berhasil membuat Taehyung tergugu; ketika ia menggali saku mantel, menyodorkan punggung dari kepalan tangannya ke depan wajah Taehyung, hanya untuk menunjukkan sepasang cincin di telapak tangannya yang terbuka persis kelopak bunga.
"Kau—menyimpannya?" kalimatnya tertahan di kerongkongan saat Jungkook meraih jemarinya, memakaikan salah satu cincin di jari manisnya; dan yang lain untuk dirinya sendiri.
Kemudian, Taehyung benar-benar hilang akal dan berubah linglung tatkala Jungkook mencium bibirnya dan berbisik di depan wajahnya, "... mencintaimu juga, Alphaku."
Meski dengan kurang ajar meninggalkannya begitu saja untuk bergegas ke stan makanan di sebrang jalan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Egoisme adalah cara untuk berjuang, tempramen sebagai dasar sebelum berkata, maka ketauilah; bahwa segelintir air mata hanya siasat sebelum siap melepaskan.
Tetap bertahan bukan inti atas segala-galanya yang benar.
Karena cinta adalah untuk dia yang berusaha bersabar, untuk dia yang berhati besar, dan untuk dia yang berani berkorban.
—Bubble Bomb.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
—end.
Jo Liyeol's Curhat Timing!
/gulinggulingandiwese/
OMAYGWAD! WAT TE FAK IT TIS?! *sebar kolor*
Syumpah, kusendiri speechless soalnya ini apa-banget-sih?! (MAMA TULUNG MAMAAA /wth)
Dedek tau ko dedek ga berbakat nulis rate M wkwkwk :v jadi syumpah kujuga nulis fic ini sambil dagdigdug wer-weran(?) muehehe =w= ya ... syudahlah, intinya udah end dan dedek makasih banget buat kalian yang udah setia nunggu. Kubebas geng, sabtu utsnya selesai, jadi kulagi nunggu liburan tahun baru (YES BEIBEH!) =3= uhuy!
oh ya, btw kumau promot wattpad (=w= wkwkwk) : joliyeol. baru post satu cerita sih, itu juga ga berbobot =3= tapi mampir dungs, kali aja nyangkol(?) muehehe. nanti kumau coba-coba stay juga di sana kalo banyak yang minat. oke oke? =w= kucinta kalian muah muah.
.
PS(1): semua typo yang ada adalah kekhilafan.
PS(2): kucinta kaliaaaan ft. titik dua bintang. (tebar sempak dan kecup basah) =3= mumumu
PS(3): thanks for: follows, favorite, and reviews.
PS(4): see you on next tale!
PS(5): jangan kapok maen di lapak dedek =3=
— 11.12.2017
.
.
—omake.
...
"Chim, ayo ikut."
"Kemana?"
Taehyung menguap malas ketika salah satu anak basket memintainya uang, "Rumah sakit," sambil mengeluarkan lembaran won dari saku ia mendengus pelan ke adik kelas di hadapannya, "Please, Gyu, kita bukan mau memberi karangan bunga atau apa. Yoongi-hyung masih hidup, oke? Kumpulkan dana seadanya saja, cuma beli buah kok, jangan bebani anak-anak."
Mingyu mendengus mendengarnya, sembari merapihkan uang dari Taehyung ke lembaran won lain di tangan, "Hyung, kau sebagai kapten tidak ada pedulinya sama sekali. Padahal Yoongi-hyung selalu pilih kasih padamu loh!"
Maka Taehyung merotasikan bola mata abai, "Persetan," lantas ia menendang bokong adik kelasnya supaya pergi hanya untuk kembali menatap Jimin, "Anak-anak klubku ingin menjenguk ketuanya. Kau ikut saja ayo. Aku malas ketemu si kuda kalau tidak ada kau."
Jimin mengernyit heran, "Hoseok?"
Taehyung mengangguk apatis, "Yoongi-hyung dan diakan sepupu, si kuda sudah beberapa hari ini langsung ke rumah sakit habis pulang sekolah. Yoongi-hyung baru siuman soalnya."
Dengan begitu Jimin menyetujui ajakan si Kim.
...
Awalnya, Jimin masih tertawa; ikut berbincang dan tergelak sama-sama di sepanjang jalan, ketika rombongan klub basket YaGook bertengkar tidak jelas; ia masih tertawa, bahkan saat Taehyung dengan Kim Mingyu terlibat adu jotos di lorong rumah sakit; Jimin masih bisa terbahak-bahak hingga perutnya keram.
Tapi kemudian.
Entah aura apa sampai membuatnya tiba-tiba bungkam.
Yang ia tau, indra penciumannya menemukan suatu kejanggalan yang membuat pacu jantungnya berdebar tanpa komitmen.
Jimin mengernyit, memejam mata, tetap berusaha fokus.
Namun wewangian ini justru membuat Alpha dalam dirinya mengerang liar.
Aroma dingin, serbuk besi, udara pagi.
Jimin berdeham pelan, dalam diam terbatuk-batuk merasakan paru-parunya sesak sementara Alphanya terasa begitu mendamba.
Ada yang aneh, Jimin tau ada yang aneh.
"Chim, kenapa?"
Ia mendelik, menyaksikan hazel Taehyung terlihat kebingungan dan utuh oleh kekuatiran. Sambil menggeleng meyakinkan, Jimin tersenyum tipis, "Bukan apa-apa, man."
Maka ajuannya menjadikan Taehyung mengangguk paham, meninggalkannya untuk berjalan lebih dulu karena Mingyu mulai lagi bertindak iseng; menggoda seorang siswa sekolah lain yang kebetulan lewat arah yang berlawanan (usai membaca badge-name di almamater siswa itu).
"Owh, Wonwoo—Jeon Wonwoo! Cantik sekali sayangku. Kau punya pacar? Boleh minta nomormu? Siswa Akademi DMN 'kan? Aku dari YaGook, namaku Kim Min—"
Jimin memperhatikan, melihat bagaimana Taehyung sudah lebih dulu memukuli Mingyu sebelum adik kelas itu selesai berceloteh.
Maka Jimin menggeram; sebab akal warasnya tidak sampai untuk ikut tertawa lagi bersama anak basket lainnya.
Obsidiannya berpendar, mencoba menelisik dan mengamati keadaan lorong rumah sakit yang sepi.
Hanya ada mereka.
Tapi kenapa ...?
Lantas di saat Taehyung menggeret Mingyu masuk ke salah satu kamar; di susul anggota lainnya.
Gerak kaki Jimin terhenti. Tepat di depan pintu yang tertutup otomatis.
Lamat-lamat, Jimin menutup mata, mengendus sesekali mencoba mencerna sumber aroma ini.
Lembab lumut, lembut whipped cream, lengket permen karet.
Kepalanya penuh, pusing dan terlampau pening.
Manis.
Terlalu manis dan menjadikannya butuh.
Tanpa sadar jemarinya terangkat menyentuh pegangan pintu, menjadikan kelopak matanya terbuka perlahan. Dadanya sesak, namun ia menghirup napas dalam-dalam menjadikan paru-parunya semakin penuh.
Kemudian, gerak motoriknya membawa diri membuka akses masuk.
Seiring berharap bahwa penafsirannya adalah salah.
Maka ketika daun besi itu seutuhnya terbuka, Jimin menjadi pusat perhatian seisi kamar.
Namun yang pertama kali ia dapati adalah sosok seputih gula di tengah kerumunan anggota basket.
Kurus, cantik—terduduk di ranjang.
Menjadikan Jimin terlupa segala dendam yang menjadikan tubuhnya terus terluka; untuk retak di dadanya, koyak di punggungnya, dan segala bekas dari tindak Betrayal yang menimpanya.
Sebab, lewat bola mata sejernih dermaga; sosok itu menatapnya dengan sama terkejut.
