Jaehyun lagi santai-santai di dalam kamar sambil makan eskrim yang ibunya (bibi) berikan di atas meja belajarnya. Buku-buku berserakkan dimana-mana di sudut kamar. Ini adalah siang yang panas, AC yang ada di dalam kamar rasanya tidak cukup untuk mendinginkan cuaca. Jaehyun lama kelamaan mulai terbiasa memanggil kakak dari mamanya itu dengan panggilan 'ibu'. Jaehyun tidak ingin memanggilnya mama, karena mama-nya yang sesungguhnya itu masih ada di dalam hatinya. Mama dan Ibu itu sebenarnya sama saja, tapi maknanya beda.

Jaehyun menatap jalanan dari kamarnya yang berada di lantai dua dengan tatapan kosong sambil menyendok eskrimnya, hingga tiba-tiba ia melihat anak-anak seusia-nya yang naik sepeda, ngebut-ngebutan di jalan sambil ketawa-ketawa. Untung jalanan lagi sepi.

"Oh, mereka lagi."

Jaehyun melihat semuanya dengan jelas, bagaimana mereka berhenti di samping halaman belakang rumah besar Winwin, yang ada rumah pohonnya, dan saat si cowok yang paling tinggi dan besar diantara mereka ber-empat. Jaehyun kenal dia, namanya Johnny, turun dari sepeda temannya yang kalau tidak salah namanya Taeyong. Dan dua orang di sepeda yang satunya dibelakang mereka.

Johnny mengeluarkan secarik kertas dari saku celana pendeknya, berdehem lalu membaca kertas itu keras-keras. Dia membacakan puisi untuk Taeil yang ada di rumah pohon belakang rumah Winwin, dengan teman se-gengnya. Taeil lagi cekikikan diatas sana, persis anak perempuan yang kecentilan.

Jaehyun mual. Mereka itu omega, cowok. Jaehyun bergeridik geli.

Jaehyun sudah mendengar puisi tidak jelas itu lebih dari 5. Jaehyun menghitung, sejak ia pindah Johnny dan teman-temannya itu selalu datang dan Johnny selalu membacakan puisi yang sama, kadang-kadang suaranya crack dan membuat Taeil dkk tertawa, sedangkan Johnny and the genk pergi dengan perasaan malu. Tapi Jaehyun pikir Johnny gak punya malu.

"Terimalah cintaku, Taeil!" Dan begitulah, setiap puisinya selesai, Kata inilah yang digunakan Johnny untuk menutup puisinya. Sementara para anak 'omega' lagi cekikikan centil di rumah pohon mereka, para 'alfa' perkasa yang mengharapkan cinta dari omega udah kepanasan menunggu jawaban dari bawah, membuat para cowok itu gerah. Yang benar saja, tiap pukul 11:11 siang mereka pasti datang ke tempat omega itu berada.

Katanya sih agenda harian geng. Haechan sebenarnya agak-agak gak setuju dengan agenda abal-abal ini. Tiap hari, jam 11:11 siang harus dengerin pengakuan cinta Johnny yang berujung penolakan dan membuat kukit m semakin coklat. No thanks. Tapi Haechan juga gak pengen dikick dari grup yang 'keren' ini.

"John, ini udah tujuh hari alias seminggu berturut-turut kita main ke sini mulu temenin lo nyatain cinta ke Taeil, dan apa yang kita dapat?!" Komplain Taeyong yang membonceng Johnny di sepedanya itu, di luar pagar di samping rumahnya Winwin yang juga teman geng-nya Taeil, yang pada cekikikan di atas rumah pohon.

"Woy pecicilan amat si! Jawab aja udah! Ribet tau gaa!!" Teriak Haechan yang udah kepanasan karena terjemur di bawah matahari, hanya karena Johnny, semua jadi imbas. Mentang mentang ketua geng.

"Iihh.. Taeil butuh waktu buat nge-jawab itu! Kamu pikir dia itu operator apa yang kalau kamu sms sekarang bakalan fast respon?" Terdengar suara yang mirip perempuan, bernada manja yang menyahuti Haechan dari luar. Itu suaranya Ten.

Tapi Johnny tetap ga menyerah. Tapi Johnny juga ga tega dengar pasukannya pada ngeluh juga. Akhirnya, untuk yang kesekian kalinya, Johnny dkk pulang menanggung malu.

Secara teknis Johnny emang harus malu, tapi dasar ga tau malu.

"Tunggulah Mr. Johnny-mu, Madam Taeil! Kau akan kujadikan Nyonya Seo juga!" Selalu, itu adalah kata 'perpisahan' yanh akan diucapkan Johnny saat dia berlalu dari rumah pohon para 'omega' cantik itu. Sedangkan teman-teman se-geng-nya jijik dengan tingkah Johnny yang cheesy kalau berhadapan dengan Taeil.

Seiring sepeda-sepeda itu mulai meninggalkan samping rumah Winwin, para 'omega' ini ber- 'yaaaah...' di dalam sana. Dasar ya, pas didatengin sok jual mahal, tapi pas pergi malah sok-sokan kecewa.

Dan inilah yang mengusik pikiran 'cerdas' Jaehyun.

Jaehyun sudah memperhatikan para cowok-cowok ganjen dan kurang kerjaan itu sejak dia pindah ke Seoul sebulan yang lalu, saat liburan musim panas dimulai. Jaehyun juga sudah tau kebiasaan cowok-cowok itu yang suka ganjen sama cowok omega yang main di belakang rumah tetangganya, rumahnya Winwin.

Jaehyun jadi greget sendiri di kamarnya sampai-sampai dia sendiri membuat banyak rencana yang harusnya digunakan para cowok-cowok itu.

"Aku benar-benar nggak tahan melihat kebodohan mereka." Gumam Jaehyun sambil menutup buku biologi-nya, berlari keluar kamar, bersiap menuju markas para cowok tadi berada.

Meskipun Jaehyun jijik dengan sekumpulan anak omega cowok itu, dia tidak tega melihat Johnny yang harus berusaha tiap siang datang membacakan puisi yang sangat basi. Sebenarnya faktor lain lain yang mempengaruhi Jaehyun juga merasa jengkel karena harus mendengar puisi sampah itu.

Mungkin juga, ini akan menjadi sebuah awalan yang bagus buat Jaehyun ntuk mendapat teman.

.

.

.

author's note :

annyeong lagi! makasih buat yang tetap mau baca cerita ini. aku sangat excited tentang cerita ini, kuharap kalian juga hahahaaa~~~ anyway aku bingung siapa yang cocoknya jadi paman-bibi-papanya Jaehyun yaaa??? any advice?

oh ya, jangan lupa tinggalkan review juga yaph!