Pair : Jung Yunho a.k.a U-Know X Kim Jaejoong a.k.a Hero

Disclaimer : DBSK, SUJU, dan SNSD dijamin bukan punya saya.

Warning : Typo, EYD, OOC, OC, Gaje, BL (boy x boy), death chart

Note:

"Blod" : Chating

"…" Berbicara

'…' berfikir dalam hati

Don't Like Don't Read

.

.

.

Enjoy

"Kau kira, dengan melihat berkas-berkas itu dapat menangkapnya?"

Sosok namja imut memalingkan kepalanya dari kertas-kertas yang ada dihadapannya sekarang, bibirnya mengkrucut imut sambil berceloteh tak tentu arah mengatai namja yang tadi menegurnya.

"Dan kau kira bisa menangkapnya hanya dengan duduk-duduk saja? Kau tak berguna, Yoochun."

Senyum misterius terlihat dibibir namja yang di panggil Yoochun tadi, dia mendudukan diri diatas meja sang namja imut sambil mengusap puncak kepala namja itu dengan lembut.

"Hidup itu sudah sulit, Junsu-ah, jangan membuat hidup yang sudah sulit itu tambah sulit." Ujar namja itu.

"Hidupku tak sesulit hidupmu." Balas Namja imut itu tajam.

"Ya… ya… ya… kau memang selalu merasa hidupmu itu terlalu mudah, makanya kau selalu bersikap begitu padaku karena kau merasa aku selalu mempersulit hidupku sendiri. Benarkan, Kim Junsu."

Namja bernama Kim Junsu itu berdiri dari duduknya, lalu berdiri berhadapan dengan namja didepannya itu.

"Selalu seperti itu, aku 'kan sudah bilang, ini memang sifatku, jadi tolong jangan kau ambil hati dengan semua ucapanku tadi. Maaf kalau aku menyinggungmu." Ujar Junsu menyesal, dia sangat menyesal sudah berkata buruk dengan namja didepannya ini.

"Hah… kau ini, sifatmu itu yang selalu membuatku tergila-gila padamu." Yoochun memeluk pinggang Junsu, menyandarkan kepalanya pada perut namja imut itu.

"Yak… Park Yoochun, bisa kau lepaskan, kita sedang di kantor." Yoochun terkikih geli melihat sikap kekasihnya itu.

Yah… mereka berdua memang sepasang kekasih, kedua namja ini adalah anggota dari kepolisian Korea Selatan. Tugas mereka adalah menangkap dan mencari bukti-bukti akurat tentang direktur SME 'Lee So Man'. Direktur SME itu diduga menggelapkan dan menyelundupkan narkotika dan sudah banyak mencelakai orang-orang lewat kaki tangannya, bahkan diduga Lee So Man sedang menjalankan suatu bisnis yang menyangkut kedua penerus SME dari keluarga Choi. Tapi keberuntungan masih berpihak pada si tua Bangka itu, sampai sekarang direktur SME itu masih bisa berkeliaran bebas karena tak cukupnya bukti untuk mempenjarakannya.

"Bagaimana kalau kita langsung Tanya ke kantornya." Usul Yoochun, dan langsung mendapat pukulan keras di kepalanya dari Junsu.

"Mau cari mati? Mendekat saja susah, apa lagi masuk. Kau 'kan kemarin sudah merasakan sendiri, bagai mana dia mengusir kita dengan sangat halus tapi menyakitkan."

"Aku tahu, kita coba lagi…"

"Yak…! park Yoochun, apa kemarin belum cukup, aku tak mau mecoba untuk kedua kalinya. Ya sudah, aku akan mencari info dengan caraku sendiri." Junsu mengambil mantel tebalnya, lalu beranjak meninggalkan Yoochun diruangannya.

.

.

.

© Long Kiss Good Bye

©Genre: Angst/ romance

©Author by: 'T.A'

©Rate: M

.

.

.

JaeJoong menyesap capucinonya dengan berlahan, memang sangat pas saat musim dingin seperti ini menikmati secangkir capucino hangat. Mata hitam polosnya memandang jauh ke hamparan lautan manusia yang lalu lalang di depan café yang dikunjunginya sekarang.

"Maaf, boleh saya duduk disini."

JaeJoong mendongak kepalanya ketika mendengar suara seperti lumba-lumba menyapanya. Dia melihat namja imut tersenyum kearahnya.

"Ah~ saya kehabisan tempat, saya lihat tuan sendiri."

JaeJoong mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru café, benar kata namja itu, seluruh tempat di café ini sangat penuh, mungkin karena ini jam makan siang makanya café ini sangat penuh, dan hanya tersisa tempat duduk didepannya saja yang kosong.

"Silahkan."

JaeJoong mempersilahkan sosok itu, walau suaranya terdengar lembut tapi ekspresi wajah JaeJoong terlihat dingin, dan itu membuat namja imut itu mengerutkan dahi.

Sosok pelayan wanita menghampiri meja JaeJoong, dia memberikan menu pada namja imut didepan JaeJoong itu, setelah memesan makanan, pelayan itu berlalu meninggalkan meja mereka.

"Hmm… Kim Junsu, salam kenal."

JaeJoong yang sedari tadi terlihat acuh tak acuh dengan namja didepannya ini, memutar kepalanya dan melihat namja bernama Junsu itu.

"Kim JaeJoong." JaeJoong mengenalkan dirinya sama seperti saat namja didepannya itu mengenalkan diri padanya.

"Marga kita sama, hmm… maaf, umur anda berapa?"

"Kenapa kau menanyakan umurku?' Balas JaeJoong tajam

"Ti-tidak ada apa-apa sih, aku Cuma takut salah memanggilmu, umurku 25 tahun, anda?'

"26 tahun."

"Mwo? Kan aku salah panggil, bagai mana kalau aku memanggilmu hyung?"

Junsu merasa menyesal, digaruknya tengkuknya yang tak gatal, sedangkan Jaejoong mengamati tingkah namja itu dengan mata besarnya.

"Terserah."

"Hyung sedang apa? Menunggu seseorang 'kah?'

"Tidak…" JaeJoong memperhatikan pakaian namja didepannya ini, lalu membuang muka kearah jendela, Junsu juga memandang keluar jendelan, dan mendapatkan gedung yang sangat besar di seberang sana, gedung 'SME'

"Hyung tahu sesuatu dengan SME?" Jaejoong kembali memandang Junsu yang terlihat menunjuk kearah sebuah gedung besar diseberang café tempat mereka berada.

"Aku bekerja disana." Raut terkejut langsung menyapa wajah Junsu, dia memperhatikan JaeJoong dari atas kebawah, lalu kembali melihat gedung diseberang sana.

"Kebetulan, aku sedang menyelidiki sesuatu." Pelayang yang tadi melayani pesanan Junsu kembali dengan segelas kopi hangat, dia tersenyum ramah kepada Junsu, sejenak pembicaraan itu terpotong, setelah pelayan itu pergi, Junsu kembali memandang Jaejoong dalam.

"Kau polisi?" Lagi-lagi Junsu terkejut dengan namja tampan sekaligus cantik ini, wajahnya datar, tapi kenapa otaknya tak sedatar wajahnya. Itu pikiran Junsu.

"Apa? Kau bercanda? Aku bukan polisi." Ujar Junsu berbohong, dia berharap bisa mengorek tentang direktur 'Lee Soo Man' dari namja didepannya ini. Kalau dia mengaku sebagai polisi, dia berfikir kalau namja ini pasti tidak akan member tahu isi dari SME yang sebenarnya.

"Penampilanmu tak bisa menipuku, kau kira aku bodoh." Balas JaeJoong sambil menyerut capucinonya.

"Aku tak berbohong."

"Apa maumu? Kau pasti ingin bertanya tentang Lee Soo Man 'kan?" ujar Jaejoong, semua perkataan JaeJoong membuat Junsu yakin kalau namja satu ini tak bisa dianggap remeh.

"Kau tau tentangnya?"

"Pengedar narkotika, Direktur licik, lintah darat, dan tua Bangka sialan." Ujar Jaejoong lancar tanpa beban, dan membuat Junsu terbelalak.

"Hyung…"

"Itu 'kan yang ingin kau tahu, tapi kalau kau minta bukti, aku tak punya." JaeJoong berdiri dari duduknya, dia baru saja hendak melangkah pergi tapi tangan junsu langsung menarik pergelangan tangannya.

"Ini kartu namaku, telpon aku kalau Hyung punya bukti yang kuat, dan terima kasih infonya." JaeJoong melihat kartu nama yang ada digenggamanya itu sebentar, lalu kembali berjalan meninggalkan namja itu.

.

.

"Yoona! Apa kau tahu pekerjaan Hyung-ku?" Gadis cantik yang dari tadi memperhatikan seorang namja imut tinggi didepannya itu tersentak kaget, saat menyadari kalau objek yang jadi perhatiannya itu memanggilnya.

"Tidak! Kenapa Oppa menanyakan itu?" namja tinggi bernama Changmin itu duduk didepan gadis itu.

"Hanya penasaran, ah.. hari ini sampai sini ya, aku mau kuliah." Yoona mengangguk seperti robot saat namja itu meletakan nampannya, Changmin resmi menjadi karyawan part time di kedai Yoona mulai hari ini, tapi sayang jadwal kerjanya sudah habis, dan namja jangkung itu harus pergi kuliah.

"Oppa besok kembali lagikan? Aku buatkan sesuatu ya?" Changmin menggeleng lembut

"Tak perlu, aku biasa sarapan dirumah." Changmin langsung pergi begitu saja meninggalkan Yoona yang sedikit kecewa, sebelum keluar namja tinggi itu berpas-pasan dengan kakak laki-lakinya, mereka terlihat berbincang-bincang sebentar, lalu Changmin meneruskan langkahnya,sedangkan Yunho memasuki kedai dan duduk di bangku pelanggan kedai itu.

"Ini, air mineral seperti biasa." Yunho menengadahkan kepalanya melihat wajah Yoona yang cemberut.

"Waeyo, Yoona?" Tanya Yunho penasaran, jarang sekali gadis yang sudah dianggap adiknya sendiri ini secemberut itu.

"Changmin Oppa mengabaikanku." Bibir Yoona maju beberapa senti membuat Yunho terkekeh.

"Kau ini, kukira ada apa."

"Oppa, Changmin Oppa tadi menanyakan perihal pekerjaanmu." Yunho yang asik meminum air mineral yang diberikan Yoona tadi langsung tegang, dia meletakan cangkirnya ke atas meja.

"Lalu kau jawab apa?"

"Aku jawab saja, tidak tahu." Yunho melihat Yoona intens, membuat gadis itu ketakutan sendiri saat melihat tatapan tajam Yunho mengarah kepadanya "benar… aku tak berbohong, aku bilang kalau aku tidak tahu tentang pekerjaan Oppa." Aku Yoona takut-takut, dia seperti jadi tersangka saat ini.

"Ne… aku sudah menyelesaikan pekerjaanku, dan sekarang apa ada pekerjaan baru lagi?" Yunho menghela napas, dia tak ambil pusing dengan percakapannya, dia tahu Yoona sosok gadis yang bisa dipercaya.

"Aku tak mau memberikanmu pekerjaan lagi, kau tahu, setiap aku melakuaknnya aku seperti orang gila dengan perasaan bersalahku pada Oppa dan Changmin Oppa, aku mohon hentikanlah pekerjaan ini, aku akan memberikan apapun asal Oppa mau berhenti menjadi pembunuh… " Gadis itu menangis keras dihadapan Yunho, Yunho melihat Yoona dengan sorot mata datar, inilah sosok asli Yunho.

"Aku Cuma minta, mana pekerjaan baruku, tak memintamu menasehatiku dan menangis didepanku." Tubuh Yoona seperti tersentrum saat mendengar nada tajam yang dingin itu keluar dari mulut Yunho yang biasanya terlihat hangat dan dewasa.

"Oppa?"

"Kurasa, aku tak perlu mengulanginya, aku butuh pekerjaanku Yoona, aku hanya ingin melihat Changmin bahagia, aku tak ingin membuatnya menderita dengan kehidupan kami sekarang, hanya dengan pekerjaan itu aku dan Changmin bisa hidup."

"Aku akan menghidupi kalian dengan uangku, aku mohon, kau kakakku satu-satunya, aku sangat menyayangimu."

"Dengan apa?"

"Apa saja, asal kau berhenti dari pekerjaanmu." Isak Yoona semakin terdengar, Tiffany yang baru saja masuk kedalam kedai terkejut saat melihat Yoona bersimpuh dikaki Yunho.

"Yoona!" Yoona dan Yunho tak mengiraukan Tiffany, dia menatap Yoona dengan sangat dingin, dan itu tertangkap oleh Tiffany, gadis itu terkejut saat melihat mata Yunho yang sangat dingin itu.

"Aku mohon…!"

"Oppa! Apa yang kau lakukan? Kenapa Yoona menangis?" Tiffany menarik Yoona kepelukannya, dia melihat Yunho dengan tatapan menghujam.

"Aku hanya bilang kalau aku butuh pekerjaanku, dan dia memintaku menyelesaikannya."

"Terus kenapa? Apa salah kalau dia memintamu menghentikan pekerjaanmu itu?"

Yunho tak menjawab, dia malah meninggalkan Yoona dan Tiffany.

"Eonni..."

"Tak apa Saeng… jangan Khawatir."

.

.

"Hari ini pun wajahmu terlihat seperti orangtua, Hyung." Ujar Changmin sambil memperhatikan Cake super lezatnya.

"Bisa jangan menggangguku…!"

"Aiz, Hyung, kenapa sih. Ada yang mengganggu pikiranmu?"

"Tidak."

"Jadi?"

"Cerewet…"

"Ada apa sebenarnya, Hyung?"

Changmin memandang laptopnya dan mengetik sesuatu disana dengan tangan kirinya, sesekali dia mengunyah cake yang ada ditangan kanannya.

"Saat di tempat Yoona tadi, apa kau menanyakan sesuatu padanya?"

Changmin memiringkan kepalanya tanda tak mengerti. "Maksudmu?"

"Perihal pekerjaanku."

Changmin mematikan laptopnya, kemudia duduk diatas kursi, dan langsung berhadapan dengan Yunho.

"Kenapa? Aku tak boleh menanyakannya? Apa sebegitu rahasianya pekerjaanmu sehingga adikmu sendiri tak kau beri tahu?"

Changmin menekan semua kata-kata yang keluar dari mulutnya, mata sayupnya menatap sang hyung tajam.

"Aku hanya tak suka kau mencampuri urusanku, Min."

"Aku adikmu, aku berhak tahu semua tentangmu."

Entah setan apa yang merasuki Yunho, namja itu berdiri dari duduknya, menarik kerah kemeja Changmin, lalu menghempaskan tubuh Changmin ke tembok terdekat.

"Kau…"

"Hyung, lepaskan!" Changmin memberontak dari cengkraman Yunho, tapi lengan Kanan Yunho malah mencekik leher Changmin.

"Hyung…! sadar…! uhuk…"

Yunho menyadari perbuatannya, cengkramannya dilepaskan dari tubuh Changmin, tubuhnya mundur beberapa langkah, kemudian kepalanya menunduk dalam.

"Aku mohon, demi keselamatanmu, jangan pernah menanyakan atau mencari tahu pekerjaanku, Changmin."

Setelah itu Yunho meninggalkan Changmin yang terlihat bingung menatapnya dengan rasa penasaran yang semakin tinggi tentang pekerjaan saudara laki-lakinya itu.

.

.

.

U-Know^^

"Ku harap kau tak ingkar Janji, Boo."

Hero^^

"Aku bukan orang yang mudah Ingkar Janji, ku tunggu kau di tempat yang sudah kita janjikan."

U-Know^^

"Hmmm… baiklah, dan berjanjilah untuk menciumku saat kita bertemu nanti."

Hero^^

"Jangan berharap banyak, pabo."

Sesaat Yunho sangat kecewa saat nama teman chatnya lagi-lagi menghilang begitu saja dari kotak entri chatnya. Dia berbalik dari posisi telungkup diatas kasurnya menjadi telentang, dipandangnya langit-langit kamarnya. Ada rasa bersalah dihatinya saat mengingat kejadian tadi siang saat dia memarahi Changmin dan Yoona. Rasa kantuk menyerang pemuda tampan itu, membawanya kealam mimpi.

.

.

.

Leeteuk, seorang kepala kepolisian di Seoul, namja tampan dengan tubuh yang propesional, melihat bawahannya dengan tersenyum lembut.

"Bagaimana? Sudah ada perkembangan?" Ujar Leeteuk memperhatikan kedua bawahannya yang menunduk, tak berani menatap atasannya itu.

"Lumayan, kemarin aku sempat berbicara dan mengorek sedikit tentang tua Bangka itu, tapi Cuma sedikit yang bisa aku dapatkan."

Leeteuk berdiri, lalu menepuk bahu kedua bawahannya itu dengan lembut.

"Jangan tegang begitu, kalian ini, santai saja saat berhadapan denganku…"

"Tapi, Hyung…"

"Junsu-ah, Yoochun-ah. Kalian ini seperti orang lain saja, jangan melihatku seperti itu, aku 'kan sudah bilang, bersikap biasa saja. Ok…"

"Ok…"

Jawab kedua namja yang sekaligus bawahan Leeteuk itu bersamaan.

Cklek…

Leeteuk, Yoochun dan Junsu melihat kearah pintu yang dibuka berlahan, terlihat kepala seorang namja berpipi tembam yang menyembul dari balik pintu.

"Hyung… makan siang tidak, eh… ada Yoochun dan Junsu juga, ayo kita makan siang."
Lee Sungmin, namja satu ini, juga salah satu namja imut didalam kantor kepolisisan seoul, setelah Junsu, Sungmin teman akrab ketiga namja yang tadi disapanya, seluruh pegawai bahkan atasan di kantor ini sangat akrab, mereka seperti saudara, menyapa satu sama lain dengan panggilan nama untuk yang seumur atau junior, dan memanggil 'Hyung' untuk yang lebih tua, atau yang lebih senior. Tak ada sapaan 'Pak', 'atasan', atau bahkan 'bawahan' didalam kantor ini.

"Tidak, aku ada janji dengan Junsu." Ujar Yoochun, sambil melirik Junsu yang merona malu-malu.

"Aku juga ada urusan sebentar."

Kali ini Leeteuk yang berbicara, sedangkan Sungmin Cuma memasang wajah cemberut.

"Tahu begini aku ajak Shindong saja tadi." Bunyi debaman pintu mengiringi kepergian Sungmin, Leeteuk, Junsu dan Yoochun tertawa geli melihat tingkah konyol Sungmin yang ngambek.

.

.

.

Leeteuk masuk kesebuah kedai dipinggiran kota Seoul, kedai itu lumayan bersih dan rapi, serta lumayan besar.
"Silahkan duduk tuan…?"

Leeteuk menoleh kearah gadis yang tersenyum ramah kearahnya, sepontan Leeteuk juga mengembang senyum kearah gadis itu, dilihatnya sebentar keadaan sekitar kedain, matanya menangkap sosok seorang namja yang sedang menegak secangkir air mineral. Hanya orang itu yang ada didalam kedai ini. Terlalu sepi.

Leeteuk duduk disebuah kursi yang lumayan menyudut, lalu memanggil pelayan wanita yang tadi menyapanya.

"Nona, aku pesan Ramen, apa ada?"

"Ada, minumnya?"

"Hmmm, Air mineral saja."

Pelayan itu mengangguk mengerti lalu berbalik meninggalkan Leeteuk, sesaat Leeteuk melihat pelayan wanita itu berbicara dengan pelayan wanita yang lain, kemudia menghampiri sosok namja selain Leeteuk.

"Yoona, maafkan aku, kemarin aku sedikit emosi."

"Tak apa, aku mengerti, Oppa tenang saja, aku tak akan berkata apapun pada Changmin Oppa."

Walau samar, Leeteuk dapat mendengar apa yang sedang dibicarakan antara gadis itu dan namja yang tadi dihampirinya, Leeteuk tersenyum ketika mengetahui nama gadis cantik yang tadi menyapanya itu.

"Hmmm… Yoona." Gumamnya pelan.

"Yoona, aku ada urusan, terima kasih airnya."

Namja yang tadi berbicara dengan Yoona itu berdiri. Saat berbalik badan namja itu melihat sosok Leeteuk yang tersenyum padanya. Namja itu membalasnya ramah.

.

.

.

"Hero…!"

JaeJoong menoleh kearah sosok namja bertubuh atletis yang berkecak pinggang memandangnya sambil tersenyum.

"Sedang apa kau disini?"

"Menunggu Kyuhyun, kenapa?" Hero, atau yang lebih kita kenal dengan nama Jaejoong itu berdiri berhadapan dengan namja bertubuh atletis itu, mata mereka beradu, sosok atletis itu tersenyum ramah.

"Selamat datang kembali di Korea, Siwon-sshi… bagai mana liburanmu?"

Namja bernama Siwon itu tersenyum, memamerkan kedua lesung pipi di masing-masing pipinya. "Menyenangkan, bahkan sangat menyenangkan."

"Aku sudah menduga, apa lagi kau pergi dengan kekasih sekaligus adik tercintamu itu." Siwon kembali tersenyum, lalu memandang JaeJoong dengan rasa penasaran.

"Sedang apa kau disini? Kau tak kerja?"

"Kau tak lihat, ini sudah waktunya istirahat, ah~ aku lupa, kau 'kan calon bos, mana mungkin mau peduli dengan hal-hal seperti ini."

"Ayolah, Jae.. kau seperti menganggapku orang lain saja, kau tak lupakan kalau aku teman baikmu?" Siwon menyolek dagu JaeJoong, membuat namja itu menepis tangan Siwon kasar.

"Yak… jauhkan tanganmu itu, di mana Kyuhyun? Dari tadi aku tak melihatnnya."

"Dia ada dilobi, sebentar lagi juga datang. Oh ya… bagai mana kalau nanti kita pergi bersama, sudah lama aku tak bicara denganmu."

"Aku ada janji nanti…" Jaejoong melihat jam tangannya kemudian membungkuk kearah Siwon."Sudah waktunya, aku pergi dulu."

Jaejoong berjalan meninggalkan Siwon, sebuah senyum mengerikan terukir di wajah cantik namja itu.

"Waktumu sebentar lagi, Siwon. Nikmatilah sisa waktumu itu."

.

.

.

"Kemana dia, ini sudah lebih setengah jam aku menunggu."

Yunho mengacak rambutnya frustasi, wajahnya terlihat kecewa dan kesal. Dilihatnya sekeliling café yang dimasukinya setengah jam yang lalu, memandang seluruh penjuru, tak ada sedikitpun tanda-tanda akan kehadiran sosok yang ditunggunya dari tadi.

Yunho memang tak pernah mengenal sosok itu secara langsung, tapi entah kenapa dia merasa sangat dekat dengan sosok itu.

"Tuan… ada yang mencari anda."

Yunho menoleh kearah pelayan wanita yang berdiri disampingnnya, sebelum dia memesan tempat, Yunho sempat berkata pada pelayan itu, jika ada seseorang yang mencari orang bernama'U-Know' tolong katakan padanya, dan ternyata pelayan itu menurutinya, kepala Yunho teralih kesosok namja cantik yang ada di samping pelayan itu.

"Kau…?"

"Bisa tolong tinggalkan kami, Nonna. Dan tolong bawakan aku secangkir kopi hangat." Ujar sosok itu, pelayan itu membungkukan dirinya dan menghilang dari hadapan Yunho dan namja yang tadi bersamanya.

Namja itu menarik kursi dihadapan Yunho, lalu duduk tepat dihadapan namja tampan itu.

"Hero… salam kenal."

Yunho tersenyum memandang wajah namja itu, yang ada dihadapannya saat ini, namja didepannya terlihat sangat ' cantik' dan 'Indah'.

"Jung Yunho, kau?"

"Kim Jaejoong."

Namja itu membalas perkataan Yunho dengan singkat, Yunho memperhatikan namja itu dari kepala sampai ujung kaki.

"Maaf aku telat…"

"Tak apa, aku juga baru datang tadi." Bohong Yunho, padahal dia sudah menunggu namja itu lebih setengah jam yang lalu.

"Ummm~ ini pertama kali kita bertemu, aku kira aku akan bertemu dengan seorang gadis." Yunho terkekeh geli mendengar kata-katanya sendiri.

"Kau berharap aku seorang gadis."

"Aku hanya berfikir, kau terlihat sangat cantik, sama seperti wanita."

Jaejoong menyeringai, ditatapnya Yunho dengan mata besarnya yang dingin, wajahnya mendekat sedikit kewajah Yunho.

"Aku namja, ku harap kau tak melupakan itu."

Yunho kembali terkikih mendengar pernyataan Jaejoong, diliriknya Jaejoong menatap intens padanya.

"Apa aku sangat tampan sampai kau menatapku seperti itu? hmm."

"Cih~ kau terlalu percaya diri."

Lagi, pembicaraan mereka terganggu oleh kehadiran pelayan wanita yang membawakan secangkir kopi panas yang dipesan Jaejoong tadi, pelayan itu kembali membungkukan dirinya, dan pergi menjauhi kedua namja itu.

"Apa pekerjaanmu, Jaejoong-sshi?"

Jaejoong tak langsung menjawab, wajahnya dialihkan keluar jendela café, tangannya sibuk memutar-mutar dibibir cangkir kopi yang dipesannya tadi.

"Itu rahasia, kau sendiri, apa pekerjaanmu?"

"Sama sepertimu, rahasia." Balas Yunho, "Bagai mana kalau kita keluar dari café ini, aku ingin mengajakmu kesebuah tempat."

Jaejoong berdiri dari duduknya, sedangkan Yunho menatap Jaejoong dengan rasa bingung melihat kelakuan namja didepannya itu.

"Ayo, kebetulan aku lagi bosan." Yunho tersenyum maklum, dan mengikuti Jaejoong keluar dari café setelah dia membayar pesanan tentunnya.

.

.

.

Yunho memandangi Jaejoong dari tadi, tangannya tak pernah lepas dari stir mobil, tapi matanya tak focus, mata musangnnya sesekali melirik Jaejoong yang memandang keluar. Kedua namja itu sedang berada didalam mobil sedan Yunho, sedangkan mobil Jaejoong ditinggal begitu saja didepan café yang tadi mereka datangi.

"Sebenarnya kau ingin mengajakku kemana?"

Yunho tak sama sekali menjawab pertanyaan Jaejoong, dia malah memarkirkan mobilnya begitu saja ditepi jalan, lalu melepas sabuk pengamannya.

"Ikut aku!" Kata Yunho sebelum turun sepenuhnya dari mobil.

Jaejoong melihat papan nama sebuah toko perhiasan, dilihatnya namja yang membawanya kemari tadi masuk begitu saja, dengan pikiran yang masih bertanya-tanya, Jaejoong berjalan mengikuti namja itu, Yunho berhenti didepan meja stand, lalu melihat-lihat cincin yang dipajang didalam meja berkaca itu.

"Aku mau lihat yang itu." Ujar Yunho menunjuk sepasang cincin emas putih polos, penjaga toko itu mengambilnya lalu meletakannya didepan Yunho.

"Untuk kekasihmu?"

Jaejoong berdiri disamping Yunho yang sedang memperhatikan cincin itu. Yunho memakaikan satu cincin kejarinya, lalu yang satunya diperhatikan dengan telitih.

"Berikan tanganmu!" Jaejoong yang tadinya berwajah datar terlihat terkejut saat Yunho menarik tangan kirinya lalu memasangkan cincin satunya kejari manis Jaejoong.

"Cocok, tak aku sangkah, ukuran jarimu sama seperti Wanita." Entah kenapa rasanya Jaejoong begitu malu dikatakan seperti itu, dia buru-buru melepaskan cincin itu, tapi cepat dicegat oleh Yunho.

"Apa-apaan kau."

"Sebentar saja. Apa kau suka cincinya?"

"Jangan bilang kau ingin melamarku, Yunho-sshi."

Yunho tertawa mendengar pernyataan itu, sedangkan Jaejoong merengut lucu, ah… ini pertama kalinya Jaejoong terlihat seperti orang bodoh begitu.

"Aku Cuma ingin meminta pendapatmu, bukan untuk melamarmu. Apa kau suka?"

"Ini lumayan, selerahmu bagus juga, kau ingin melamar Kekashimu?"

Lagi-lagi pertanyaan Jaejoong tak dijawab, Yunho malah asik berbicara dengan penjaga toko, lalu dia terlihat memberikan beberapa uang kepada penjaga itu. Yunho kembali meraih tangan Jaejoong lalu dilepaskannya cincin yang melingkar dijari manis Jaejoong tadi.

"Cincin ini sengaja aku beli untuk seseorang suatu saat nanti." Yunho melepaSkan kalung perak yang dipakainya, lalu memasukan cincin tadi kekalung itu, sehingga sekarang cincin itu menjadi bandul untuk kalung Yunho, sedangkan yang satunya dipakai dijari manis namja tampan itu.

"Kekasihmu?"

"Bukan, aku juga tak tau akan memberikannya pada siapa, tapi yang jelas cincin ini akan aku berikan pada orang yang benar-benar aku cintai." Jawab Yunho sambil tersenyum. Jaejoong membalas senyum Yunho.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Jaejoong menyadari perubahan raut wajahnya, dia tersenyum, dan ini pertama kalinya dia tersenyum lembut, dia kembali berusaha memasang wajah cool nya, beruntung saat itu Yunho tak melihat, karena namja itu lebih memilih memperhatikan cincin yang ada dilehernya saat itu.

"Ayo kita pulang, ini sudah sangat sore." Ujar Jaejoong dan membuat Yunho menatapnya. Yunho Cuma mengangguk menanggapi usulan Jaejoong tadi.

.

.

.

Saat ini Yunho dan Jaejoong berhenti di café tempat mereka bertemu tadi, Jaejoong keluar dari mobil Yunho dan berjalan kearah Yunho yang juga keluar dari mobilnya.

"Benar tak ingin aku antar sampai apartemenmu? Jaejoong-sshi?"

"Ani, aku bawa mobil tadi, kapan-kapan saja." Jaejoong menggeleng pelan, Yunho melihat mobil sport Lamborghini merah satu-satunya yang terpakir di depan café itu.

"Baiklah, senang bertemu dengamu, bagai mana kalau kapan-kapan kita bertemu lagi. Apa lusa kau sibuk?" Jaejoong menggeleng pelan, Yunho tersenyum melihat tanggapan Jaejoong itu.

"Baiklah, lusa aku tunggu dicafe ini lagi." Yunho kembali masuk kedalam mobilnya, setelah memberi satu senyuman kearah Jaejoong, Yunho meninggalkan Jaejoong yang masih menatapnya.

.

"Min, hari ini kau tak ke tempat Yoona?"

Changmin tak menghiraukan perkataan hyungnya itu, dia masih sibuk berkutat dengan snack dan acara tv yang ditontonya. Sedangkan Yunho sibuk dengan pakaiannya.

"Yak! Shim Changmin, dasar kau ini."

Buk.

Sebuah bantal kecil sukses mengenai kepala Changmin, diliriknya Yunho yang tertawa melihat wajah Changmin cemberut lucu.

"Hyung… sakit tahu. Hari ini Kedai Yoona tutup, eh hyung kau dari mana? Rapi sekali? Habis berkencan ya?" Untuk kedua kalinya Changmin mendapatkan lemparan keras dikepalanya.

"Tadi aku habis bertemu dengan teman. Kau sudah makan?"

"Sudah, Hyung sendiri?"

"Sudah tadi, Min, besok kau tak usah ke tempat Yoona, soalnya aku ada urusan disana."

"Hei, apa urusannya pekerjaanku dengan urusan Hyung."

Yunho kembali melempar bantal kecil tadi, lalu dia beranjak dari tempat duduknya.

"Pokoknya besok jangan ke tempat Yoona, dan jangan membantah. Dan satu lagi, maaf atas kejadian kemarin"

.

.

.

TBC…

Gomawo untuk yang sudah ngerepyu kemarin…

Maaf gak bisa balas satu-satu.

Repyu please. Biar fic na lanjut terus.