Pair : Jung Yunho a.k.a U-Know X Kim Jaejoong a.k.a Hero
Disclaimer : member DBSK punya saya, member SUJU, SNSD punya emak N bapak mereka masing-masing #Hug Changmin
Warning : Typo, EYD, OOC, OC, Gaje, BL (boy x boy), death chart
Note:
"Blod" : Chating
"…" Berbicara
'…' berfikir dalam hati
Don't Like Don't Read
.
.
.
Enjoy
Tatapan Lee So Man tak hentinya terlepas dari wajah cantik Jaejoong, sedangkan Jaejoong sendiri menatap atasannya itu dengan mata bulatnya.
"Besok kita akan mulai transaksi, pergilah bersama Kang In."
"Apa anda tak ikut?"
Soo Man tersenyum pada Jaejoong, dia memainkan cerutuknya, tak lama kemudian tatapannya berubah drastis, tapi walau begitu wajah Jaejoong tetap menunjukan kedataran.
"Pasti, aku akan ikut, kau kira aku akan melepaskan begitu saja pada kalian? Kali ini jumlahnya sangat banyak, dan jangan sampai bocor kesiapapun."
Jaejoong mengangguk lalu keluar dari kantor direktur SME itu. Jaejoong merogot saku jasnya, dia menemukan sebuah kartu nama. Dilihatnya sebentar, lalu dia mencari ponselnya di saku kiri celananya. Cukup lama Jaejoong menunggu panggilannya di angkat oleh orang di seberang sana.
"Ne, siapa ini?"
"Kim Junsu, ini aku Kim Jaejoong." Jaejoong yakini, kalau sosok namja di seberang sana pasti terkejut.
"Hyung, Waeyo?"
"Besok Lee So Man akan mengadakan transaksi di sebuah gedung tua dekat pelabuah, kau tahu kan tempat itu, kali ini jumlahnya sangat besar. Aku tunggu kau besok siang disana, mereka menggunakan kapal untuk mengirim barang."
"Kau tak bohong, Hyung?"
"Aku tak pernah bohong soal So Man. Kita bertemu disana." Jaejoong mematikan hubungannya, membuat namja diseberang sana terlihat bingung.
.
Yoochun melihat Junsu yang menatap ponselnya tanpa berkedip, di tepuknya pelan bahu Junsu. "Junsu-ah… Waeyo, Chagia?"
"Besok Lee So Man akan mengadakan transaksi di gedung tua dekat pelabuhan." Yoochun menautkan kedua alisnya
"Dari mana kau tau?"
"Jaejoong Hyung…"
"Jaejoong Hyung? Siapa dia?"
"Aku tak tahu, tapi yang aku tahu dia bekerja untuk Lee So Man…" Yoochun membulatkan matanya ketika mendengar apa yang dikatakan Junsu tadi. "Dia tadi menelponku, lalu berkata kalau So Man akan mengadakan transaksi."
"Apa dia bisa dipercaya?"
"Aku mempercayainya, aku melihat dia sangat membenci So Man, Chunnie."
"Ok… Ok… kita katakan ini pada Leeteuk hyung, agar besok kita bisa mengadakan penyergapan."
.
.
.
© Long Kiss Good Bye
©Genre: Angst/ romance
©Author by: 'T.A'
©Rate: M
.
.
.
Yunho memain
kan ujung cangkirnya, sesekali dia melihat beberapa pelanggan di kedai Yoona tersenyum padanya, khususnya kaum perempuan muda, tak jarang mereka mengerling nakal kearah Yunho, sebagai sosok yang ramah Yunho merasa perlu merespon hal itu, dia hanya tersenyum kearah beberapa gadis muda itu.
"Yak… oppa, kau tebar pesona."
Yoona terkikih kecil melihat kelakuan Yunho, dia mengelap gelas yang baru saja dicucinya tadi.
"Yoona, bisa aku minta pekerjaanku?"
Yoona menatap Yunho sebentar, lalu berhenti dari pekerjaannya, diletakannya gelas dan kain lap itu di meja lalu duduk didepan Yunho.
"Oppa, apa yang aku katakan kemarin tak cukup jelas, aku ingin semua ini berakhir."
Yunho menatap mata indah Yoona, dia melihat sebuah kekhawatiran besar di sana.
"Kau tenang saja."
"Berjanjilah padaku, sekali ini saja… Setelah itu kau harus berhenti."
Yunho tersenyum lembut, dia mengangguk, Yoona menyungging senyum manisnya sebentar. Gadis itu menghela napas pasrah, lalu beranjak dari hadapan Yunho, tak lama Yoona kembali dengan sebuah map coklat ditangannya, map itu diberikan pada Yunho, segera saja namja tampan itu membukanya, dia menemukan dua lembar foto setengah badan seorang namja yang sudah berumur dan beberapa identitas dari namja itu.
"Namanya Lee So Man, Dia direktur SME, kau pasti tahu."
Yunho meneliti deretan identitas namja itu. "Siapa yang menyuruh?"
Bagi Yunho, walau pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran, dia tetap harus tahu siapa yang menyuruh dan kenapa korbanya harus dibunuh dari orang yang membayarnya.
"Kalau tak salah namanya, Kim Kibum. Aku tak tahu alasan tepatnya, tapi dia hanya ingin namja ini dibunuh secepatnya. Mungkin masalah bisnis, oppa kan tahu orang-orang kaya seperti apa. Aku dapat kabar kalau dia juga bergerak dalam organisasi hitam, dia menyelundupkan beberapa senjata tajam, dan narkotika dan yang pasti dia juga mempunyai banyak anak buah, aku juga dapat info kalau besok dia akan mengadakan pertemuan di sebuah gedung tua dekat pelabuhan dari Kibum-sshi, aku rasa dia akan mengadakan transaksi. aku harap kau menjaga diri."
Yunho mengibas map itu, lalu berdiri dari duduknya. "Kau jangan menghawatirkanku."
Yoona mengenggam pergelangan Yunho kuat, sebelum namja itu perlalu "Oppa, berjanjilah, ini yang terakhir."
Yunho mengangguk mantap "Aku berjanji."
.
.
.
Jaejoong berdiri dibelakang Lee So Man dengan sebuah senapang kecil di tangannya, dibelakanya juga terlihat sosok namja berbadan besar yang dia tahu bernama Kang In dan beberapa bodyguard Lee So Man. JaJoong mengamati keadaan sekitar, matanya tak pernah lepas dari Lee So Man dan menjaga atasannya itu dengan baik.
Lee So Man sudah sampai didalam gedung yang dijadikan tempat pertemuannya dengan kliennya itu, dia tersenyum lebar saat melihat kliennya yang berasal dari Jepang itu tersenyum, mereka saling berjabat tangan dan berbincang tentang sesuatu Dalam bahasa Jepang yang tak penting bagi JaeJoong.
Diluar gedung sudah ada beberapa anggota kepolisian Seoul yang terlihat mengendap-ngendap tanpa suara.
"Ingat, hati-hati, kita akan langsung menyergap, jangan gegabah, kalian mengerti."
Perkataan Leeteuk yang berperan sebagai ketua dalam penyergapan ini di tanggapi dengan anggukan penuh semangat dari anak buahnya.
"Sungmin, pergilah bersama Shindong ke sebelah kanan, Junsu dan Yoochun kesebelah kiri, berpencar, dan sisanya bersamaku kita menyergap dari depan.
"…"
Mereka menanggapi perkataan Leeteuk dengan sebuah anggukan mantap. Lagi-lagi seluruh pasukan itu mengendap-ngendap, Junsu, Yoochun, Sungmin, dan Shindong sudah memisahkan diri dari pasukan, dengan sigap Leeteuk dan beberapa anak buahnya masuk sambil menodongkan senapang mereka.
"Jangan ada yang bergerak…!"
Perintahnya, tapi ternyata tak digubris oleh salah satu Bodyguard So Man, di tembaknya salah satu anak buah Leeteuk, melihat itu suasana menjadi kacau semua tak seperti yang direncanakan Leeteuk, So Man dan keliennya melarikan diri dengan meneteng koper berisi uang dan paket sabu-sabu, sedangkan yang lain langsung mengarahkan senapang mereka, kegaduhan terjadi, aksi tembak menembak tak bisa dihindari. Junsu yang mendengar itu dengan cepat masuk kedalam gedung menggunakan pintu dari sebelah kiri gedung. Junsu langsung disambut oleh sebuah peluru yang meluncur kearahnya, dia sudah memejamkan mata menerima peluru itu, tapi rasa sakit yang ada dibenaknya tak terasa dia dapat, hanya sebuah dekapan hangat dari seseorang didepannya, Junsu membuka mata, mendapatkan Yoochun memeluknya dengan sedikit darah di sudut bibirnya.
"Yoochun-ah…!"
Rasa Khawatir terlihat di wajah namja itu, saat tubuh Yoochun merosot, dilihatnya namja itu melemas di pelukannya.
"Kau tak apa, Su?"
Yoochun bertanya dengan napas terengah-engah, air mata Junsu mengalir deras saat dia tahu kalau peluru itu tak sampai padanya, tapi pada kekasihnya ini, tangannya yang memeluk punggung hangat Yoochun, ditariknya dan melihat betapa banyak darah yang mengalir dari punggung itu.
"Yoochunn-ah, tolong bertahanlah."
Junsu membopong tubuh Yoochun menjauh dari tempat itu, saat dia berada di lorong gedung dia dicegat oleh sosok yang mengarahkan muncung senapangnya. Junsu terdiam sesaat, dia melihat orang itu sebentar, lalu beralih memandang Yoochun yang berada didekapannya yang terseok dan bernapas sedikit pendek, serta darah yang masih menetes dari punggungnya.
"Mau lari kemana kalian…?"
Lagi… sebuah peluruh melesat menuju Junsu, tapi kembali Yoochun mengorbankan tubuhnya untuk orang yang dicintainya itu, kali ini tepat di lengan kirinya. Junsu menatap Yoochun tak percaya, dia miris melihat keadaan kekasihnya itu kembali merosot ke tanah, membuat Junsu juga harus merosot dan terduduk untuk menahan tubuh Yoochun agar tak menghantam semen, air matanya kembali mengalir deras, rasa sakit Yoochun juga seperti terasa padanya.
"Chun, sudah."
"Sial…"
Dengan membabi buta, namja yang tadi menyerang Junsu itu kembali menekan pelatuknya dan menembak dua kali tepat kearah Junsu. Lagi-lagi Yoochun mengorbankan diri, dengan tenaga tersisa, dia merentangkan tangannya dan menghalangi laju peluru itu untuk melukai kekasihnya. Peluru pertama mengenai perut bagian kirinya, dan peluru kedua tepat mengenai jantungnya, puncratan darah segar keluar dari bibir Yoochun, dia ambruk di pelukan Junsu, dengan susah payah dia menyentuh pipi Junsu yang sudah lembab dengan air mata.
"Jangan menangis, aku akan melakukan apa saja untuk menyelamatkanmu. Berjanjilah, tetaplah hidup dan tangkap tua Bangka itu."
Junsu tak menjawab, dia Cuma tersenyum dengan masih menangis terisak sambil memeluk Yoochun, sejujurnya Junsu ingin sekali menembak orang yang sudah membuat Yoochun-nya sampai seperti ini, tapi tak bisa, pistolnya tertinggal di gedung, begitu pula pistol Yoochun. Junsu mengutuki kebodohannya. Dibelainya pipi Yoochun dengan sayang.
"Tolong… bertahan untukku, Chun."
Yoochun tersenyum memamerkan gigi yang semula putih itu dan sekarang terlihat merah oleh darah.
"Hehehe… aku mencintaimu, Su."
"Aku juga."
"Berengsek kalian berdua."
Lagi-lagi namja itu mengarahkan muncung pistolnya, tapi belum sempat namja itu menarik platuk, sebutir peluruh menembus tepat ditengkoraknya, namja itu ambruk. Junsu yang sudah menutup mata dan hendak menerima dangan senang hati atas serangan namja itu dan juga berharap bisa bersama Yoochun jika mereka mati nanti, membuka matanya saat mendengar bunyi keras didepanya, namja itu tumbang, dia memutar tubuhnya melihat siapa 'dewi fortuna' yang menyelamatkannya lagi, sosok namja cantik yang masih mengacungkan senapangnya, memandang Junsu dingin.
"JaeJoong Hyung."
Junsu sungguh terkejut ketika melihat namja cantik yang ditemuinya di café itulah yang menolong nyawanya.
"Junsu, cepat pergi!"
"Tapi…"
Junsu memutar kepalanya melihat Yoochun yang bernapas pendek-pendek, Jaejoong menghampiri mereka lalu berjongkok.
"Pergi cepat bawa dia juga…! Sekarang suasana tidak aman untuk kalian."
Jaejoong kembali menegakkan tubuhnya.
"Jaejoong hyung, terima kasih."
"Sudahlah cepat pergi sekarang!"
.
.
Jaejoong mengawasi keadaan sekitar, dia menyuruh Lee So Man untuk masuk kedalam mobilnya, tapi baru saja So Man membuka pintu mobil itu, sebuah peluru melintasi di samping tubuhnya dan menembus ke kaca gedung di belakangnya, Lee So Man berkeringat dingin melihatnya, lalu selang beberapa detik sebuah peluru kembali melesat kearah Lee So Man, tapi lagi-lagi peluru itu hanya melintas dan berhasil mengenai bahu kiri Jaejoong, Jaejoong tersungkur sambil memegangi bahunya, Kang In yang ada di samping Jaejoong langsung melihat dengan Khawatir keadaan temannya itu.
"Jae, kau tak apa-apa?"
Jaejoong tak menjawab, dia Cuma menggelang pelan.
"Kita obati sekarang."
seluruh bawahan Lee So Man melihat keatas sebuah gedung di seberang sana tempat asal peluru itu di muntahkan termasuk Jaejoong dan Kang In, tapi tak menemukan satupun makhluk di atas sana. Dengan segera Lee So Man masuk ke dalam mobil, di ikuti oleh Kang In yang memapa Jaejoong, serta beberapa bawahan setia Lee So Man yang lain.
.
.
.
Junsu berdiri didepan gundukan tanah yang baru sejam yang lalu dipenuhi oleh orang-orang, tak ada emosi di wajah Junsu, hanya ada wajah datar dan dingin. Leeteuk yang berdiri di samping kiri Junsu menepuk lembut bahu namja itu, lalu berbisik pelan.
"Dia sudah tenang sekarang."
Junsu tak menghiraukan perkataan Leeteuk yang meninggalkannya. Sekarang giliran Sungmin yang memandang gundukan itu lekat. Setitik air mata mengalir di pipinya, dengan cepat diusapnya, dia tak mau tambah membuat sahabat sekaligus rekan kerjanya itu tambah bersedih. Di peluknya dengan erat tubuh Junsu, namja yang sama-sama imut itu tak sama sekali berbicara, Sungmin sibuk memberikan sedikit ketenangan dan bermaksud ingin menghibur namja itu, tapi tetap tidak bisa, namja itu hanya berdiri mematung didepan gundukan itu, sungguh ironis saat kekasih yang sangat kau cintai tewas saat bekerja dan dia tewas tepat dipangkuanmu dan yang paling membuat Junsu terpukul adalah kenapa Yoochun mengorbankan nyawanya demi dia. Sungmin sungguh tak mengerti, tapi melihat Junsu yang hanya diam di pelukannya itu terisak sedih.
"Su… dia sudah tenang, kau jangan seperti ini, aku mohon."
"Sungmin, pulanglah, aku ingin disini lebih lama."
Sungmin melepaskan pelukannya, air mata mengalir di pipi tembemnya, dia menepuk bahu Junsu dengan lembut. Kedua namja imut itu saling bertukar pandang.
"Dia pasti bahagia di sana, dan akan lebih bahagia kalau kau tak seperti ini."
Setelah berkata seperti itu, Sungmin berjalan meninggalkan Junsu yang memunggunginya, sesekali dia melirik kebelakang, sebenarnya dia masih tak mau meninggalkan Junsu, mengingat keadaan mental dan Fisik Junsu yang masih lemah.
"Aku akan menangkapnya, kalau aku tak bisa menangkapnya, aku janji akan membunuhnya."
Junsu berbisik kecil kearah gundukan tanah itu. Tanganya mengepal erat.
"Aku berjanji, Park Yoochun, aku tak akan membuat kematianmu berakhir sia-sia."
"Dia tak akan mendengarnya, percuma kau bicara."
Junsu terkejut dengan perkataan dingin dari seseorang dibelakangnya, saat berbalik dia melihat namja cantik yang memakai setelah serba hitam dan kacamata hitam membingkai di hidungnya bersender pada Lamborghini merahnya yang tak jauh dari hadapan Junsu.
"Hyung?"
"Pasti kau menyalahkanku juga atas kematian kekasihmu?"
Junsu menggeleng pelan, dia berjalan kehadapan Jaejoong, lalu berhenti tepat beberapa meter dari namja cantik itu berdiri sekarang.
"Aku tak punya hak untuk menyalahkanmu, kau malah membantuku."
"Membantumu dan kekasihmu menemui ajalnya di sana, kalau bukan karena aku, kalian pasti tak akan pernah berada disana."
Junsu terdiam, dia menunduk dan memandangi rerumputan yang terlihat lebih indah saat ini, sedangkan Jaejoong melihat namja imut itu tajam, dia ingin mendengar apa reaksi namja didepannya ini, setelah kematian kekasihnya yang di anggap Jaejoong adalah kesalahan namja cantik itu.
"Bantu aku menangkapnya!"
Senyum kecil tersungging di wajah Jaejoong saat mendengar respon Junsu.
"Kalau itu yang kau mau, baiklah."
"Hyung, kenapa kemarin kau ada di sana? Apa hubunganmu dengan Lee So Man sebenarnya?"
Jaejoong membuka kacamatanya, lalu meletakannya disaku celana, kedua tanganya menyelip di Kantong celananya.
"Aku kebetulan lewat, dan melihat kalian seperti membutuhkan pertolongan kemarin."
Junsu tak menanyakan lagi perihal kenapa Jaejoong bisa ada di TKP saat itu, hanya saja dia tak mempercayai apa yang dikatakan Jaejoong, dia tahu Jaejoong tak jujur, dan ada sesuatu yang di sembunyikannya.
"Butuh tumpangan, kulihat kau ditinggal teman-temanmu." Jaejoong masuk kedalam mobilnya diikuti Junsu disebelahnya.
.
.
"Maaf aku telat, aku baru saja mendatangi pemakaman temanku."
Jaejoong menarik kursi dan langsung duduk diseberang namja tampan yang dari tadi mengamati gerak-gerik Jaejoong lewat ekor matanya.
"Ada yang aneh dengaku, Yunho-sshi?"
Namja tampan yang berada di seberang Jaejoong itu mengulum sebuah senyum.
"Kita sudah bertemu 2 kali, aku harap kau jangan terlalu formal."
Jaejoong menyangga dagunya dengan punggu tangan yang bertaut, sikunya bertumpuh pada meja lalu membalas tatapan Yunho.
"Baiklah, Jung Yunho."
Yunho terkekeh sebentar setelah itu seorang pelayan pria menghampiri meja mereka.
"Maaf tuan-tuan, anda mau pesan apa?"
"Kau mau pesan apa, Jae? Kali ini aku yang teraktir."
"Kemarin kau juga meneraktirku kan?" Yunho kembali tersenyum mendengar perkataan namja didepannya itu.
"Kemarin anggap sebagai salam perkenalan, sekarang aku mentraktirmu sebagai seorang teman."
"Baiklah, aku pesan kopi panas."
"Anda tuan."
Pelayan itu membalik wajahnya kearah Yunho.
"Dua kopi panas."
Setelah mencatat pesanan mereka, pelayan itu meninggalkan meja YunJae.
"Kau tak mau pesan makanan?"
"Aku sudah kenyang."
Kesunyian terjadi di antara mereka, Cuma selang beberapa detik, pelayan yang tadi kembali dengan membawa dua cangkir kopi panas. Yunho sibuk mengamati suasana di luar café, sedangkan Jaejoong sibuk dengan ponselnya.
"Jae, itu gedung SME bukan?"
Jaejoong melirik Yunho dari balik ponselnya, dilihatnya namja itu membuang napas sebentar.
"Ne, Waeyo?"
"Kau tahu direkturnya?"
"Lee So Man, ada apa, Yunho?"
Yunho menggeleng pelan, dia teringat kejadian kemarin saat diatas atap, dia gagal membunuh Lee So Man, sebenarnya itu tak jadi pikirannya sekarang ini, hanya saja, saat itu dia tak sengajah menangkap sesosok seorang namja yang sangat mirip dengan Jaejoong berada dibelakang Lee So Man dan seingat Yunho namja itu terkena pelurunya. Tapi kalau dilihat-lihat keadaan Jaejoong terlihat baik.
"Apa pekerjaanmu sebenarnya, Jae?"
"Kenapa?"
"Hanya ingin bertanya."
Jaejoong meletakkan ponselnya diatas meja, ditatapnya gedung besar diseberang café yang di datanginya itu.
"Pekerjaanku tak bisa aku sebutkan padamu?"
Yunho mengerengit dahi, Jaejoong begitu tertutup baginya.
"Kenapa?"
"Suatu saat kau akan tahu."
Yunho tersenyum maklum, kepalanya kembali ditarik menghadap gedung besar itu.
"Tak mau 'kah kau berbagi denganku, Kim Jaejoong?"
Yunho tak menatap Jaejoong balik, dia sibuk dengan pikirannya dan menerka apa namja didepannya ini begitu pelit untuk menunjukan sedikit saja jati dirinya.
"Kalau begitu aku mengembalikan pertanyaanmu, apa sebenarnya pekerjaanmu, Yunho?"
Yunho diam sesaat, dia menimang-nimang jawaban apa yang akan diberikannya pada namja didepanya ini.
"Pekerjaanku adalah pekerjaan yang tak akan pernah terpikirkan oleh mu, ah~ sudahlah, kau tak mau memberitahuku, jadi aku juga. kita impas sekarang."
Jaejoong memutar bola matanya. Dilihatnya di sudut café itu dua namja yang sangat dia kenal.
'Siwon, Kyuhyun?' batin Jaejoong.
Betapa akrabnya dua namja itu, Siwon terlihat mengelus rambut ikal Kyuhyun dengan sayang, sedangkan Kyuhyun Cuma tersenyum lembut mendapat perlakuan seperti itu. Jaejoong mendengus pelan melihat pemandangan itu, jika ada yang melihat pasti mereka mengira Siwon adalah sosok saudara yang baik dan sangat menyayangi adiknya, tapi sebenarnya tidak. Jaejoong tahu itu, dan mungkin Cuma Jaejoong, Kyuhyun, Siwon, dan tuhan saja yang tahu apa hubungan antara kedua 'Choi' bersaudara itu.
Yunho memperhatikan arah mata Jaejoong begitu terpaku pada dua namja yang ada di sudut café. Tatapan Jaejoong seperti terlihat sinis dan mengerikan.
"Jae, kau mengenal mereka?"
Jaejoong tersentak saat telapak tangannya di genggam Yunho dengan sangat lembut, matanya menatap mata kecil Yunho dalam lalu tiba-tiba mata itu menangkap kalau tangan Yunho masih menggenggam tanganya. Yunho yang sadar atas perlakuannya itu langsung melepaskan genggaman tangannya, kedua namja itu terlihat canggung satu sama lain.
"Maaf, aku tak bermaksud tak sopan padamu."
Entah apa yang dipikirkan Yunho, tapi saat indra perabanya bersentuhan langsung dengan kulit Jaejoong seperti ada sebuah sensasi menenangkan yang tersalurkan.
"Tak apa."
Ujar Jaejoong dingin, jujur saja, saat ini jantung Jaejoong seperti berdetak dua kali lipat dari biasanya, tak pernah dia merasa seperti saat ini, bahkan saat dia bersentuhan oleh banyak wanitapun Jaejoong merasa biasa, tapi kenapa saat hanya tangannya di genggam Yunho dia merasakan hal yang aneh, oh… ayolah Jaejoong.
"Kau mengenal mereka?"
Yunho berusaha bersikap sewajar mungkin, dia merasa tak suka dengan kecanggungan ini.
"Tidak."
Mata Jaejoong mengamati dua namja itu keluar dari café dan terlihat pergi sambil masih terlihat mesrah.
"Yunho, bagaimana kalau kita pulang, aku ada urusan."
Yunho mengangguk atas usul Jaejoong, kedua namja itu langsung keluar dari café itu setelah Yunho membayar pesanan mereka.
.
.
Jaejoong dan Yunho berpisah saat mereka berdua sudah berada diluar café, Jaejoong sedikit bingung saat melihat Yunho berjalan Kaki tak seperti kemarin.
"YUNHO…!"
Yunho berhenti berjalan dan memutar tubuhnya kearah Jaejoong, terlihat Jaejoong berlari menyusulnya, selang beberapa menit, namja cantik itu berhenti didepan Yunho.
"Ada apa? Jaejoong?"
Yunho memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantel, lalu menatap Jaejoong yang terlihat mengatur napasnya akibat berlari, tangan kanan yang terlihat menyangga di bahu kiri dan tangan kirinya menyangga pada siku kaki. Sebenarnya jarak antara café dan tempat Yunho berdiri tak beberapa Jauh tapi entah kenapa Yunho merasa wajah Jaejoong terlihat pucat dan kenapa tangan kanan Jaejoong berada di bahu kiri? Kalau memang dia kecapaian berlari seharusnya tangan itu juga menyangga di siku kaki atau aling tidak di dada, atau jangan-jangan dia?' batin Yunho, tapi seluruh pikiran negative itu dihilangkanya dengan cepat.
"Kau tak pulang dengan mobilmu?"
"Itu, kebetulan aku tak bawa mobil hari ini, adik laki-lakiku meminjamnya."
Jaejoong mengangguk mengerti, dia meraba saku jas hitamnya dan menyodorkan kunci mobilnya pada Yunho.
"Aku antar, tapi kau yang bawa mobil, bahuku sakit."
Yunho mengambil kunci itu dengan sigap, Jaejoong dan Yunho berjalan pelan kearah mobil Jaejoong.
"Jae, kau sakit? Aku merasa wajahmu pucat?"
Ya, wajah Jaejoong memang terlihat sangat pucat, terlebih lagi keringat dingin yang terlihat membasahi tubuh dan wajah Jaejoong, dan itu benar-benar membuat Yunho khawatir.
"Aku baik-baik saja."
"Tapi Jae, kau benar-benar pucat."
"Ah… sudahlah."
Saat berada di samping mobil Jaejoong, Yunho membukakan pintu penumpang untuk Jaejoong, kemudian dia naik di pintu kemudi.
"Aku antar kau saja, kau terlihat tak baik, aku bisa naik kereta nanti."
"Tidak, aku bisa pulang sendiri, sekarang ayo kita kerumahmu, Yunho."
.
.
.
TBC.
A/N
Mian… Yoochun ajunsshi saya sudahi perannya sampai disini. Sebenarnya gak rela, tapi mau gimana, jalan ceritanya sudah begitu^^. Saya mau ngaku, sebenarnya ni fic inspirasi dari sebuah film asia (yg saya gak tau judul nya apa dan berasal dr mana #yg jelas bukan dari indo atau korea). Walau aslinya gak begini soalnya sudah saya ubah sesuai kebutuhan (?). jadi kalau suatu saat nanti ada yang nonton sebuah(?) film dan ngerasa mirip sama cerita ni fic saya akui kalau mungkin itulah filmnya.
Balas repyu…
-wonniekyu
Gomawo repyunya. Yups ada WonKyu di sini… tapi sebagai apa mereka masih saya sembunyikan…*plak
-Jung Young Rae
Gomawo repyunya. Ini sudah updet, semoga gak kelamaan.
-Booboopipi
Gomawo repyunya. Itu masih jadi rahasia author dan tuhan saja yang tahu #dibantai.
Makasih kembali sudah repyu.
-AngelFishy
Gomawo repyunya. Salam kenal … si Jaema kan memang malu-malu mau kalau dekat appa Uno. Pesona Yundad terlalu sih. #lirik JJ umma.
-jung hana cassie
Gomawo repyunya. Mian lama updet, kena WB saya… semoga chap ini lebih panjang dr chap kemarin (gak jamin).
Review please. Gak ad repyu gak lanjut #maksa
^A.K.T.F^ -T.A-
