BALADA TETSUYA : SEIJUUROU'S POV

[part 1]

Bagi Seijuurou, Tetsuya seperti tanah tak bernama. Tak berpenghuni, tak bertuan. Bebas, liar, mustahil dicari di peta, diterawang via gugel meps pun tak ketemu. Jelas masih perawan tak terjamah. Seijuurou bahkan sangsi ada yang mengenal. Melihat saja tidak pernah, apalagi sampai niat bertandang meski sekedar mengetuk pintu depan.

Tetsuya itu segalak hutan rimba. Segarang belatara. Sekokoh gunung. Sekeras batu. Napasnya saja sepedas jallapeno. Tidak ada lembut-lembutnya sama sekali, sumpah!

Membuat Seijuurou gatal, gemas, geregetan, hingga bernafu masuk sampai pusat terdalam.

Labeli saja dia dengan sinting, gila, sakit jiwa, bodo amatlah! Seijuurou itu seorang pengelana. Seorang pencari. Kepoer profesional. Observan murni. Peguasa sejati. Kalau mendadak ada sesuatu anti-mainstream yang susahnya minta ampun untuk ditebak nongol di depan muka, jelas Seijuurou jadi penasaran setengah mampus.

Pertama kali masuk ke rimba Tetsuya, Seijuurou sudah menyiapkan seperangkat bekal krusial agar selamat lahir batin, sehat wal afiat dari masuk sampai keluar lagi. Mengingat darah biru mengalir deras di nadi, Seijuurou ogah gusrak-gusruk macam orang mabuk. Pakai sopan santun ala bangsawan, baju necis, minyak nyong-nyong, muka rupawan, senyum cassanova, gigi kinclong, dan jampi-jampi bujalajabu.

Seijuurou bahkan sudah kenyang menghapal rumus basa-basi cap cowok buluk berdaki kalau-kalau Tetsuya perlu dirayu. Tapi saat melihat muka 'tembok baru jadi' Tetsuya, Seijuurou langsung yakin, berani gombal batako melayang.

Agaknya, Tetsuya harus diluluhkan dengan hati, bukan dengan puisi imitasi asal ngutil dari Mbah Gugel. Jadi Seijuurou hati-hati. Pintu depan diketuk dengan sopan, dibelai dulu, dielus penuh perasaan, sampai turun SIM (Surat Ijin Masuk) resmi.

Tapi, jangan remehkan pertahanan Tetsuya! Sudah dibelai dari atas sampai bawah, Tetsuya tetap adem ayem. Sudah dielus sampai jari Seijuurou mati rasa, Tetsuya masih anteng. Ibaratnya seperti brankas super yang diseret keliling Rio de Janeiro di film F&F. "Tak peduli seberapa banyak aku membelainya, dia tetap bergeming." Dikutip dari Tej (kira-kira).

Seijuurou kesal? Sudah berasap itu ubun-ubun. Akhirnya nekat jadi pilihan. Perkara Seijuurou nanti malah jadi korban, itu urusan belakangan.

Persetan dengan semua rayuan burung dara. Seijuurou memilih gelap mata. Jurus alternatif di list paling akhir langsung diambil.

Mulutnya nyaplok!

A/N : dipost sebagai status fesbuk pada 9 Oktober 2017 [setelah melalui proses lamunan panjang selama berhari-hari. Masih dalam kondisi 'teracuni' hawa "Seijuurou memuja Tetsuya" meski dalam bahasa dan manifestasi yang berbeda]