BALADA TETSUYA : SEIJUUROU'S POV
[part 5]
Seijuurou takjub! Berkali-kali berdecak kagum. Lanjut bersiul-siul, lalu tepuk tangan.
Kalau dipikir-pikir, pintar sekali Tetsuya memasang rintangan sebegitu banyak. Ares di pintu depan, kalau Seijuurou meleng, dia pasti sudah mati. Kabut racun vanilla di padang, kalau Seijuurou gagal konsentrasi, dia pasti sudah tumbang gegara mabuk. Lalu 'pohon sakura' yang ternyata angker, nggak lucu kalau Seijuurou kalah sama hantu.
Dan sekarang, mekanisme gembok benteng yang ruwetnya macam misahin keju dan coklat parut satu-satu. Tipe yang kalau disabarin malah nyuekin, kalau dibentak malah meledak. Nyebelin tingkat dewa!
Tapi Seijuurou malah ngikik. Diperhatikan baik-baik kerut-kerut kunci gerbangnya. Melingkar, berpusar, Seijuurou bayangkan seperti roda gigi. Seijurou mendengus. Tetsuya sungguh baik hati lantaran menyimpan kuncinya rapat di dalam. Jadi yang harus Seijuurou lakukan hanya melicinkan barisan roda gigi itu dengan…
Seijuurou menggapai-gapai. Dapat! Pelumas nomor wahid! Licin, steril, dan mahal!
Gerceplah dia! Menuang likuid itu ke target, ke jari, dan ke dirinya sendiri. Hitung-hitung antiseptik. Lalu memulai misi.
Awalnya susah. Roda gigi paling luar bergeming. Seijuurou membasahinya lagi, dikorek lagi, terus begitu sampai membuka sedikit demi sedikit. Di dalam sempit, pasti pengap. Seijuurou harus membuat jalan yang cukup renggang biar tidak sesak saat dia lewat.
Hanya saja, ada godaan lain. Bukan uap racun, bukan hantu. Tapi suara merdu. Seperti nyanyian para siren, menghipnotis, melumpuhkan, merusak otak. Seijuurou mati-matian konsentrasi. Sampai saat roda gigi paling dalam terbuka dan (tak sengaja) menumbuk satu tonjolan di dalam, nyanyian itu makin kencang, merdu, dan menggoda.
Mungkin otaknya memang sudah remuk. Seijuurou menerjemahkan lolongan itu bukan sebagai ancaman, melainkan undangan.
A/N : dipost sebagai status fesbuk pada 13 Oktober 2017 [di titik ini, saya merasa 'hilang'. Hiks…]
