Ino Yamanaka mendelik, ketika dua sosok manusia yang tak ingin dilihatnya melintas dipertokoan desa Konoha sore ini. Wanita itu mengenyit jijik, bagaimana bisa mood yang sudah dibangunnya sejak pagi kini menguap begitu saja digantikan rasa kesal luar biasa mengganggu hatinya.
"Aku disini, Ino. Kau mengabaikanku!" Kiba si pria ajing itu menangkupkan kedua tangan kekarnya ke wajah kekasihnya. Berharap wanita yang sudah dipacari selama tiga tahun ini memalingkan wajahnya dari arah pasang Nara.
Ino mendengus, kemudian berjalan kedalam sambil membawa tumpukan mawar putih pesanan keluarga Hyuga. Duduk kesal diatas kursi kasir, Ino merenggut ke arah Kiba. "Pulanglah! Aku sibuk."
"Ino, aku pacarmu dan aku tahu apa yang sedang kau rasakan!"
"Jangan sok peduli padaku! Urus saja anjingmu itu. Aku lagi malas diurusin olehmu,"
Akamaru menggonggong dan Kiba mendengus, tak tahu harus berbuat apa. Ini sudah lebih dari lima tahun berlalu semenjak kedua sahabat karibnya menemui Ino untuk meminta restu darinya. Dan semenjak itu pula hubungan mereka dengan kekasihnya meregang. Kiba tak bisa menyalahkan pasangan Nara itu, dia juga tak bisa menyalahkan Ino yang begitu egois. Ino hanya mencintai Shikamaru sahabat masa kecilnya. Tak ada yang salah, hanya saja perasaan cinta itu tak bisa dibalas Shikamaru. Pria itu justru memilih sahabat karib Ino menjadi pendampingnnya. Ini yang tak adil bagi Ino, seakan wanita itu ditusuk dari belakang oleh kedua sahabatnya, tanpa mereka sadari.
Melangkahkan kakinya keluar dari toko bunga Yamanaka, Kiba tersentak ketika tangan lembut kekasihnya menariknya.
"Bisakah kau sedikit bersabar padaku?"
Kiba menoleh, ini alasan pria itu tak bisa lepas dari Ino. Walaupun galak wanita itu begitu manja padanya."Aku kurang sabar apa coba? Lima tahun waktu yang cukup lama aku mengejarmu. Demi apa coba! Aku benar-benar jatuh cinta pada si cerewet ini,"
Kemudia Ino terkikik, tak lupa cubitan mesra bersarang di perut Kiba. "Kurang ajar," Ino galak. Tesenyum kearah kekasihnya, mengabaiakan rasa sakit yang kembali datang saat melihat keluarga kecil Nara.
~Rindu~
Suara langkah kakinya menggema keseluruh ruangan. Berlarian kesana-kesini sambil mengoceh dan tertawa. Kou bocah laki-laki itu kemudian menarik lengan ibunya, mengajak sang ibu ke ruang keluarga. Mengabaikan kesibukan ibunya demi keegoisan kecil bocah berambut hitam itu.
"Ibu...Ibu, Ninja-kid mau mulai." Oceh Kou sambil berlarian meninggalkan ibunya di belakang. "Aku tidak sabar lagi..." Teriak Kou bersemangat, menendang kakinya ke udara menirukan Kurama tokoh kartun favoritnya.
Sakura mengikuti Kou di belakang. Ikut tersenyum melihat tingkah Kou yang begitu menggemaskan. Ini hari libur yang diberikan rumah sakit kepadanya, hanya satu hari dan Sakura benar-benar ingin memanfaatkan liburan ini bersama keluarganya, walaupun hanya dengan Kou, Sakura menikmati.
Shikamaru sedang ke luar desa, sudah lima hari mereka tak bertemu. Tugas negara dan Sakura mencoba tak merengek ditinggal olehnya. Untung saja masih ada putra semata wayangnya, Kou. Bocah itu membuat Sakura sibuk, dengan tingkahnya yang masih polos. Kelahiran Kou adalah hadiah terindah yang diberikan Shikamaru padanya.
Suara bising itu mengganggu Sakura, kepalanya berdenyut, berdenyut dan berdenyut hebat. Kedua tangannya memengang kepalanya atau lebih tepat menjambak helaian rambut merah mudanya, mencoba menghentikan denyutan hebat yang mengganggunya.
Rasanya sakit.
Sakit.
Dan sakit.
Kepalanya benar-benar mau pecah rasanya.
Kemudian keheningan itu datang lagi.
Lagi,
Tanpa disadari wanita itu, pun waktu berlalu.
Wanita itu tak tahu sejak kapan dia berdiri di tempat itu, denyutan itu menghilang. Secepat rasa sakit itu menyerang. Posisinya masih berdiri, tak ada tanda-tanda dia baru saja mendapatkan sakit kepala yang luar biasa hebatnya.
Ketika tangan Kou menarik bajunya lembut, wanita itu menoleh bingung. "Ada apa, Kou-kun?"
"Ibu kenapa? Kenapa itu diam?"
Raut kuatir terpampang dari wajah kecil itu, alisnya mengkerut bingung. Sakura mencoba berjongkok menyamai putranya. Denyutan itu datang lagi tapi tak sehabat tadi.
"Ibu tidak apa-apa?" Cicit Kou, seakan perkataannya akan menyakiti ibu. Melihat wajah ibunya yang memucat Kou menyentuh pipi ibunya. Takut jika saja badan ibunya panas, sama sepertinya ketika terkena flu sangat tidak menyenangkan.
"Ibu?" tanya Sakura bingung. Memejamkan mata, Sakura menarik nafas sekuatnya menghembuskan kasar, seakan kesal dengan sesuatu. Dirinya pun tersenyum ke arah Kou. "Ibu baik-baik saja, ayo kita menonton Ninja Kid." Ajaknya.
Kou lalu mengagguk, bocah itu menggandeng tangan ibunya tidak lagi meninggalkan ibunya di belakang.
"Berapa lama Ibu terdiam tadi?"
"Aku tak tahu, Bu."
Sakura tersenyum, tangannya menggengam tangan Kou balik, tangan bocah itu terasa dingin, Kou ketakutan. Dan Sakura membenci itu.
"Apakah lama?"
"Lama, sampai-sampai aku ketinggalan opening lagu Ninja Kid"
"Maafkan Ibu..."
"Apakah Ibu baik-baik saja?"
Sakura tersenyum kearah Kou, bocah itu masih takut melihat ibunya yang terdiam cukup lama tadi. Bahkan saat diguncang-guncang pun Ibu masih tetap diam.
"Apa Ibu terlihat sakit?"
"Tidak," geleng Kou.
"Bagus, kalau begitu ayo kita lihat Ninja Kid!" ajak Sakura sambil berlarian meninggalkan Kou dibelakang. Itu efektif membuat Kou tertawa. Di belakang Kou tertawa sambil mengejar Ibunya.
"Kau bisa membuat ini menjadi sup, jika kau tak tahu cara memasaknya dengan benar. Ditambah miso, ini akan menjadi sup yang luar biasa." jelas Ibu, sambil menurunkan beberapa terong dari kantong belanjaannya. Nyonya Haruno itu lalu mengeluarkan beberapa sayuran, mencucinya kemudian meniriskannya. Tugas anaknya hanya menaruh bahan makanan itu ke dalam kulkas setelah kering.
"Ibu tadi bertemu ibu mertuamu di pasar. Apa kau tak berniat mengunjunginya? Sepertinya dia kesepian."
Sakura hanya duduk memperhatikan. Ini kali kelima dalam sebulan ini ibunya belanja untuknya. Kou sedang tidur siang di kamarnya. Nyonya Haruno datang ketika Sakura sedang memeriksa beberapa gulungan.
"Kau mendengarku?"
"Aku mendengarmu, Bu. Aku hanya tak ada waktu."
"Berhenti dari rumah sakit, rawat keluargamu. Suamimu masih bisa mecarikan uang untukmu!"
"Aku bekerja bukan karena uang, Bu."
"Ibu tahu. Itu jalan ninjamu." Lalu tersenyum. "Kau akan melewatkan banyak hal jika tetap bekerja."
Sakura tahu bentul, orang tuanya adalah orang biasa. Bukan dari kalangan ninja elit di desa ini. Dia dibesarkan dikeluarga yang sederhana, membutuhkan banyak waktu untuk mempelajari jurus-jurus dan tak ada keahlian khusus yang diwarisi dari keluarganya. Keberuntungan berpihak padanya, ketika dia ingin menjadi kuat ada Tsunade-sama yang mau mengangkatnya sebagai murid, dia ingin kuat untuk melindungi orang-orang yang di kasihinya. Dan untuk membawanya pulang, pemuda itu yang dicintainya dulu. Tapi yang lebih penting karena Naruto, dia benci harus bergantung pada Naruto dan dia benci harus menyakiti Naruto lagi. Dan yang dilakukan nya kini tetap menyakiti pria itu.
"Naruto," lirih Sakura.
"Apa?"
Sakura menoleh, pandangannya jatuh pada ibunya yang sedang menatapnya heran.
"Kau melamun?"
Sakura menggeleng dan mulai membantu ibunya untuk menyiapakan makan malam.
"Apa Ibu akan makan malam bersama kami malam ini?"
"Tidak sayang, ayahmu akan mengerutu jika tak ada orang saat dia pulang nanti."
Sakura kecewa.
"Aku merindukan Ibu."
"Ada apa? Kau bertengkar dengan si Nara itu!"
"Ibu lupa aku juga seorang Nara?"
Ibunya masih tak suka dengan Shikamaru. Sakura memaklumi itu, selain terkenal jenius Shikamaru juga terkenal dengan kemalasnya dan ibunya tak menyukai itu. Prinsip keluarganya adalah bekerja keras, tekun dan mencoba sepanjang waktu kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Dan Shikamaru bukan tipe itu menurut ibunya. Saat Sakura membawa pulang Shikamaru kerumah sebagai kekasihnya, orang tuanya terkejut. Inikah sosok pemuda yang akan mengambil putri sematawayangnya? Seorang Nara? Bukan Rock Lee atau Naruto yang dulu mengejar-mengejar Sakura tapi Nara. Pemuda yang terkenal malas di desanya.
"Aku akan berhenti."
Tak ada tanggapan. Nyonya Haruno langsung terduduk lemas di kursi makan depan putrinya. "Apa aku salah dengar?"
"Tidak, Bu."
Lalu melihat putrinya yang nampak pucat disiang ini. "Ada apa?"
"Apa maksud Ibu?"
"Ibu terbiasa mendengar penolakanmu dan tiba-tiba kau memutuskan untuk berhenti. Apa ada sesuatu yang terjadi." Nyonya Haruno bertanya penasaran, menggengam tangan anaknya menyelidik.
Sakura menggeleng. "Tak ada."
"benarkah?" menaruh curiga. "Suamimu sudah tahu?"
"Belum. Ini akan menjadi berita besar. Aku akan berhenti mulai minggu depan dan semua waktuku hanya untuk Kou dan keluargaku."
Ibu tersenyum, "itu pilihan yang tepat, Sakura. Ibu akan membantu."
"Ya,"
"Ada yang tak beres dengannya." Ino ragu, tanggannya mengepal penuh kekesalan dan penasaran, "aku tak pernah melihatnya ragu-ragu serta kebingungan seperti itu, bahkan dia berjalan mengelilingi komplek pertokoan beberapa kali dan berhenti di depan tokoku sambil tersenyum kearahku."
"Apakah kau membalas senyumnya?"
"Mana sudi!"
Sang kekasih sudah hafal, ternyata Ino benar-benar masih sok tak terima. Seperti biasa. Padahal keluarga Nara itu masih baik dan peduli pada keluarga Ino, bahkan Shikamaru masih mengunjungi ibu Ino, untuk membantu jika diperlukan. Hanya saja Ino selalu menolak.
"Lalu kenapa kau menceritakan itu padaku. Apa kau peduli?"
"Tidak!"
"Benarkah?"
"Jangan menggodaku,"
Kiba mengangkat alis, dia tahu jika Ino masih peduli dengan temannya itu. Mengalihkan pembicaraan, "Lalu apa yang terjadi dengan Sakura-san?"
Ino ragu antara melanjutkan ceritanya atau tidak, dia tak mau jika Kiba menggodanya setelah ini.
"Aku tidak memaksamu untuk bercerita." Kini Kiba menatap daging panggang yang ada di depannya. Aroma panggangnya membuat liuarnya menetes.
Ino mendelik jijik, Ino selalu tak suka melihat Kiba kelaparan. Ini memalukan baginya jika makan dengan Kiba dalam keadaan begini. Rasanya ingin pergi, tapi dia ingin masih bercerita. Dan hatinya tak mau beranjak, diam-diam Ino selalu suka dengan sesuatu yang ada dalam Kiba. Hal terjelek sekali pun di matanya terlihat lucu.
"Beberapa ninja menuntunnya pergi dan dia terlihat kebingungan, ini aneh Kiba. Aku rasa ada yang tak beres dengannya." lanjut Ino kali ini kecemasan nampak di wajahnya.
"Kenapa kau tidak menemuinya saja, kalian bisa berbaikan." Kiba mengambil salah satu daging dan memakannya, mengunyahnya kasar dan mengambil daging selanjutnya.
"Tak semuda itu," Ino menunduk "semakin lama semakin sulit."
Kiba tersenyum, lalu meninggalkan mangkuk nasinya. Apa yang baru dia dengar dan lihat membuat hatinya hangat. Di dalam lubuh hati Ino terdalam masih ada maaf untuk sahabatnya itu. Kiba yakin suatu hari mereka bisa bersama seperti dulu lagi.
"Habiskan makan malammu, Ino. Setelah ini aku ingin menemui Ibumu." Cengir Kiba.
"Jangan harap."
Cengiran Kiba lenyap, "jahatnya." Cicitnya tak terima. Sudah lama mereka berpacaran tapi Ino sama sekali belum pernah mengenalkan Kiba sebagai pacar resminya kepada ibunya. Hubungan yang sedikit rumit, padahal mereka sudah sering tidur bersama.
Ino belum yakin pada dirinya. Kiba terlalu baik untuk wanita sepertinya.
Kou lahir setelah satu tahun Shikamaru dan Sakura menikah. Kou adalah anugrah bagi mereka, Kou lahir sebelum waktunya satu minggu lebih awal dari predeksi sebelumnya. Disaat Sakura mendampingi menjalankan misi panjang Shikamaru di Suna. Menunda waktu pulang dan Sakura melahirkan di Desa berpasir itu.
Keadaan pun semakin buruk ketika kondisi Sakura mulai melemah pasca kelahiran Kou. Dia tidak sadarkan diri selama beberapa hari setelah kehilangan darah yang cukup banyak. Shikamaru sampai harus meminta tenaga medis dari Konoha untuk datang segera ke Suna. Untunglah dengan baik hati Tsunade-sama mau membantu mereka.
Dan disinilah dia berada bersama kesatrianya, laki-lakinya, putranya dan ini Kou. Pria kecil ini sedang ikut bersenandung, menirukan suara lembut ibunya menyanyikan lagu tidur untuknya. Kadang suara cemprengnya terdengar keras ketika dia menyanyikan lagu yang dihafalnya.
"Ibu"
"Ya,"
"Kapan ayah pulang?" Kou membalikkan tubuh menatap ibu, ketika lagu terakhir diselesaikan dengan pelukan hangat ibunya.
"Lusa, jika tidak ada pekerjaan yang harus ayah lakukan lagi," Sakura ikut menatap, tak lupa tangan kecil itu di elunya. Jari-jari itu kini tumbuh kuat dan kokoh, tak terbanyangkan dulu jari-jari itu begitu munyil ditanggannya, ringkih dan penuh kerapuan. Lantas Sakura mengecup singkat menenangkan pria kecilnya. "Kou merindukan ayah?"
"Ya, sangat rindu. Sampai ingin mengigitnya."
Sakura kaget dengan jawaban lucu dari putranya, bertanya penuh penasaran. Ditatapnya pria kecil itu penuh jenaka.
"Kenapa mengigit ayah?"
"Karena gemas."
"Kenapa gemas?"
"Karena ayah nakal!"
"Nakal?"
"Ya, nakal karena meninggalkan Ibu dan Kou sendiri." Sakura menahan tawa, reaksi apa yang akan terpancar di raut wajah suaminya yang malas ketika dia mendengar hal ini darinya. Kou selalu menjadi hiburan tersendiri bagi meraka.
"Bagaimana jika ibu yang pergi, apakah Kou-kun akan menggigit ibu juga?"
Kou lalu menatap ibu, tanpa membalas. Pria kecil itu berbalik memunggungi ibunya. Kou terisak.
Sakura langsung terlonjak kaget, dia berdiri dari tidurnya membawa Kou dihadapannya.
"Kenapa Kou menangis?" tanya Sakura cemas.
Tak ada jawaban.
"Kou-kun?"
"Berjanjilah Ibu tak akan meninggalkan Kou!" kata Kou sedikit berteriak, air matanya meleleh. Sakura tak menyangka guyonannya membuat putra semata wayangnya bersedih seperti itu.
"Kou-kun," lalu memeluk putranya. "Ibu tak akan pergi, tak akan. Ibu akan selalu bersamamu." Lalu tangisannya berhenti.
"Benarkah?"
"Iya, ibu tak bohong."
"Ibu mau berjanji?"
"Iya, Ibu berjanji!"
"Sungguh?"
Sakura mengangguk, lalu mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Kou. Kou membalas.
"Jadi Ibu tidak boleh meninggalkan Kou lagi. Ibu tak boleh bekerja lagi. Ibu harus menemani Kou bermain dan belajar dirumah."
Sakura seharusnya sudah menebak isi kepala jenius kecilnya, dia benar-benar lupa jika pria kecil di hadapannya ini memiliki darah dari klan Nara yang terkenal cerdas. Si Jenius kecil pun tersenyum, membuat hati Sakura yang tadinya sedih dibolak balikkan oleh si kecil. Menggigit tangan kecil Kou, Sakura tersenyum.
"Ibu itu sakit."
"Ibu tahu,"
"Kenapa Ibu mengigit Kou?"
"Karena gemas,"
"Kenapa gemas?"
"Karena Ibu sayang, Kou-kun."
Kou pun tersenyum mengabaikan rasa sakit yang sedetik itu menghilang, berhampur dipelukan Sakura. "Kou juga sayang ibu."
Sakura keluar dari kamar saat Kou terlelap. Dia berjalan menuju dapur, mengambil air minum dan mencengram kepalanya yang pening. Seingatnya ada obat pereda sakit yang dia letakan di kotak P3K di dapur, obat cadangan yang diberikan Tsunade-sama padanya. Besok ingatkan dia untuk pergi menemui gurunya itu, meminta lagi pil pereda sakit yang dibuat khusus Tsunade untuknya.
Dia akan meminum itu dan berkutik kembali memeriksa gulangan yang ditinggalkan tadi siang di ruang kerja rumahnya. Tak ada waktu, Sakura harus menemukan jawabannya. Secepatnya.
Ini sudah tengah malam, sudah tiga jam Sakura berkutik dan mempelajari gulungan demi gulungan, buku demi buku. Mencatat hal yang penting baginya, dan esoknya dia akan bertanya pada Tsunade-sama beberapa hal lagi. Mungkin dia akan melakukan perjalanan sebelum berhenti dari pekerjaannya. Di desa itu dia berharap menemukan secerca harapan.
"Aku ingin hidup," air matanya tumpah. Dia bukan wanita lemah dia akan mencari jawabannya.
Langkah pelan memasuki ruang kerjanya. Shikamaru sudah menduga, Sakura masih ada di dalam ruangan itu. Masih berkutik dengan gulungan entah apa isinya. Melihat wanita yang dicintainya itu sedang serius dia tak mampu untuk mengganggunya.
"Aku pulang," putusnya bersuara, dia tak tahan berlama-lama diabaikan oleh Sakura.
Sakura terlonjak, lalu tersenyum. "Selamat datang."
"Kau menungguku?"
"Ya,"
"Kau tahu aku akan pulang?"
"Tidak,"
"Lalu?"
"Angin malam berbisik kearahku, katanya suamiku sedang dalam perjalanan pulang. Makanya aku disini, mencari kebenaran yang disampaikan angin malam padaku."
Shikamaru mendengus ditaruhnya barang bawaannya. Sakura mendekat dibantunya Shikamaru membuka pakaiannya. "Mau aku siapkan air untuk mandi?"
"Tak perlu, aku cukup lelah untuk membersihkan tubuhku. Aku hanya perlu istirahat dan juga istriku."
Sakura tersipu, sudah berapa tahun mereka menikah dan untuk berjuta kali Sakura tersipu dengan tingkah dan juga perkataan tak terduga suaminya. Shikamaru benar-benar manis. Dia tak menyangka pria pemalas yang dinikahinya itu punya sisi semanis ini.
"Kau tahu?"
"Apa?"
"Aku benar-benar beruntung menjadi istrimu, Shika-san."
Shikamaru membingkai wajah bulat Sakura, "Berikan suamimu ini pelukan hangat darimu, tak lupa senyum manis milikmu. Ini akan membuatku berenergi lagi. Jika aku beruntung aku mendapatkan ciuman darimu."
"Apakah itu perintah, Sayang?"
"Tidak, itu kewajibanmu."
Lalu Shikamaru merentangkan tangannya menyambut peluk istirnya. Sakura tak mau melewatkan ini, dia tersenyum dan dipeluknya Shikamaru erat.
"Aku merindukanmu," ucap Shikamaru.
"Aku jauh merindukanmu," Sakura menjawab, "Sayang, aku akan menyiapkan air panas untukmu, kau bau." Kikik Sakura diakhir.
"Bagimana dengan ciumannya?"
"Akan aku berikan saat kita tidur."
"Aku bukan Kou," protes Shikamaru.
Sakura terdiam, lalu menjajarkan tubuhnya didepan Shikamaru "Akan aku berikan setelah kau selesai mandi." Senyumnya diakhir, tipikal Sakura keras dengan pendiriannya.
Shikamaru mengikuti Sakura dari belakang.
"Shika-san sudah makan malam?"
"Sudah,"
"Mau sesuatu yang hangat?"
"Boleh," Shikamaru memeluk Sakura dari belakang.
"Maksudku kopi atau teh, anata."
"Ini sudah cukup hangat bagiku, Sakura."
"Satu menit, hanya satu menit habis itu mandilah!"
Satu menit sudah berlalu tapi Shikamaru masih memeluk Sakura dari belakang.
"Kau tahu Shika-san?"
"Apa"
"Kau benar-benar bau."
Shikamaru mendengus lalu ditinggalnya tubuh Sakura menuju kamar mandi. Ya seperti biasa dia tak ingin melewatkan ciuman dan pelukan istrinya, jalan terakhir adalah mandi.
Setelah melewati ritual yang menurut Shikamaru benar-benar merepotkan, dia berjalan melewati koridor menuju kamar mereka. Dilihatnya Kou tengah terlelap dengan Selimut menutupi tubuhnya. Mencium pipi tembem putranya, Shikmaru beranjak keluar. Ada yang harus dia kerjakan dan itu sesuatu yang tak bisa ditunda sampai besok. Hal yang jauh penting daripada misi dari Hokage, sesuatu yang menyangkut egonya.
Shikamaru berjalan menuju ruang kerjanya dimana sosok lembut itu sedang merapikan gulungan-gulungan pekerjaannya. Shikamaru tak berhenti terpesona pada sosok itu, dia ingin menua bersama wanita itu, dia ingin hidup sampai akhir dengan wanita itu dan dia benar-benar akan melakukan apa saja demi bersama wanita itu, jika Sasuke masih hidup dan menjadi pesaing utamanya dia benar-benar akan mengejar wanita itu sampai akhir dan mendapatkannya. Shikamaru benar-benar jatuh cinta pada wanita itu, sampai saat ini pun jatungnya masih berdebar saat bersamanya, seperti saat dia menemukan wanitanya itu berdiri dibawah pohon sakura yang berguguran awal musim semi dua belas tahun lalu. Sakura, wanita biasa yang sangat biasa tapi mampu membuatnya jatuh cinta.
Sakura menoleh, "sekarang kau benar-benar terlihat tampan. Kemarilah anata, aku akan menyisir rambutmu."
Shikamaru duduk di depan Sakura, dan Sakura mulai menyisir rambut hitamnya.
"Kau tahu anata? Aku sangat suka dengan rambut hitam panjangmu. Bagaimana ini terlihat lembut ditanganku." Puji Sakura mengelus helaian panjang Shikamaru yang masih terlihat basah.
"Itu berkat shampo yang kau pilih, Sakura?"
Sakura sedikit tertawa, "benarkah? Tapi dulu juga lembut. Aku sangat suka mengelus rambutmu saat kita selesai bercinta. Benar-benar menyenangkan."
"Bagaimana jika sekarang?" goda Shikamaru, dia menggengam tangan istrinya, sisir yang dipenggang Sakura terlepas. "Bukankah aku belum mendapat ciuman selamat datang darimu. Aku rasa ini waktu yang tepat. Sekalian satu paket dengan tubuhmu."
Tak memberikan waktu berpikir untuk Sakura, Shikamaru mendekatkan tubuhnya ke Sakura. Mencium sekilas bibir lembut istrinya.
"Kenapa kau tak membalas ciumanku, bukankah kau sangat ahli dalam hal ini?" goda Shikamaru.
Sakura lalu mendorong Shikamaru kebelakang, membuat pria itu jatuh diatas tatami. "Kau sedang menggodaku, Sayang?"
Shikamaru menyeringai, "ini baru wanitaku."
Duduk diatas perut Shikamaru, Sakura mulai beraksi. Ditahanya ketua tangan Shikamaru, "kau meremehkanku, Shi-ka-ma-ru."
Panggilan itu, sungguh lama sekali Shikamaru tak mendengarnya. Dia suka saat Sakura memanggil namanya dan dia sangat senang saat Sakura berteriak memanggil namanya saat dia klimak olehnya.
Diciumnya bibir suaminya dengan ciuman-ciuman ringan sekedar untuk pemanasan. Sakura melumat bibir Shikamaru digigit dan disesapnya bibir itu. Saat Sakura mendengar suara rintih Shikamaru, dia merasa puas. Sakura sedikit bangga ketika bibir Shikamaru tak berasa tembakau lagi. Dulu saat Sakura sedang hamil Kou dia menolak Shikamaru mendekati dirinya dengan alasan bau rokok dan kebiasaan itu berlanjut sampai saat ini.
"Kau manis sekali," kata Sakura. Shikamaru lalu membalik tubuh Sakura, kini dia diatas wanitanya.
"Kau yang manis Sakura." Kini Shikamaru yang mengambil alih, diciumnya bibir wanitanya kasar. Shikamaru sungguh tak tahan lagi. Seminggu adalah batas waktu dia menahan kerinduan dekapan wanitanya dia merindukan rasa bibir merah Sakura dan wangi vanila yang keluar dari tubuh Sakura. Dia merindukan belaian tangan Sakura membelai rambut hitamnya, dia rindu, rindu dan rindu semua yang ada pada Sakura.
Mematikan lampu ruang kerjanya, Shikamaru membawa Sakura dalam rintihan-rintihan penuh kenikmatan. Biarlah malam yang dingin diruang kerja itu menjadi saksi seberapa besar dua insan ini memadu cinta, betapa kata-kata tak mampu menjamah betapa rindu yang ada pada mereka. Biarkan tubuh itu bergulat mencari dan mengobati rasa rindu yang mereka tahan selama ini.
Seperti malam-malam sebelumnya mereka menghabiskan waktu besama di dalam kegelapan malam ditemani cahaya bulan dan hembusan angin malam yang saat ini terasa hangat bagi mereka.
~Bersambung~
Jangan tanya kapan berlanjutnya cerita ini. Jujur saja butuh waktu 6 bulan sampai 1 tahun membuat satu chapter. Terlalu lama dan pribadi kami minta maaf.
Sangat berterimakasih pada review dan juga kalian yang telah membaca, memfollow dan memfavoritkan cerita ini. Kami tahu betul chapter ini bukanlah chapter terbaik, tetapi kami selalu meminta dukungannya.
Terimakasih semuanya.
