Chapter 2
" AKU BENCI TAKDIRKU"
.
.
.
Hidup kita seperti sebuah papan catur
Tinggal kita yang berusaha menjalankan pionnya
dan membuat semuanya menjadi lebih baik
.
.
.
Enjoy it
by Aulia Asrikyuu
.
.
.
" Jadi kalian anak baru?"
Eren dan Armin terdiam bungkam. Mereka menundukkan kepala takut sedari tadi.
Salahkan Hanji yang dengan seenak udelnya menarik mereka ke dalam sekolah seperti karung beras. Eren bahkan tidak bisa menyamai kecepatan Hanji saat berjalan.
Ahh...bukan. Dia berlari seperti ibu-ibu yang dapat hadiah piring gratis. Armin bahkan sudah pasrah dengan senior Hyper-Autisme mereka ini.
Eren tercekat saat mereka melewati sekolah yang mempunyai 3 gedung besar yang masing-masing berlantai 3 ini. Bangunan itu dari luar memang terlihat kumuh dan kotor. Kata Hanji, bercak-bercak darah yang menempel di dinding sekolah adalah bekas tawuran hebat 48 jam nonstop mereka 1 minggu yang lalu. Jadi noda darah itu masih baru. Dan basah tentunya.
Eren merinding hebat karena Hanji menceritakan itu seolah-olah tawuram adalah aktivitas biasa yang dilakukan orang-orang. Apalagi dia bercerita sambil tertawa seperti orang kesetanan.
Tapi...Dugaan Eren salah besar.
Di dalam sekolah sangat bersih dan rapi. Lantai keramiknya begitu terang sampai dapat memantulkan bayangan Eren. Setitik debupun tidak ada yang tersisa di lantainya. Eren bahkan sempat meragukan bahwa sekolah ini sekolah khusus berandalan dan para kriminal.
" Levi yang membuat semuanya menjadi bersih! Jika ada yang menentangnya, maka kepala mereka akan putus! BWAHAHAHA!" teriak Hanji girang.
Armin dan Eren meneguk ludah berat. Dia merasa sangat menyesal karena telah berhadapan langsung dengannya. Semua tentang Levi selalu berakhir dengan penyiksaan dan pembunuhan. Dan Eren tentu saja mendapat kesempatan langsung berhadapan dengan ketua sekolah ini.
" Oh ya Eren!"
" A-ah! A-ada apa Senior H-hanji?". Tanya Eren gugup. Sebutir peluh jatuh dari pelipisnya.
Hanji tersenyum lebar. Membuat Eren merinding. Spontan dia mencengkeram pergelangan tangan Armin kuat. Armin hanya meneguk ludah berat.
" Kau untung Eren!". Teriak Hanji. " Sekali menjadi mangsa Levi...selamanya kau menjadi mangsanya! Bagus bukan!?"
Eren tersedak ludahnya sendiri. Armin bahkan merasakan tangan Eren bergetar hebat. Dia melirik Armin dengan matanya yang membulat horror seperti mengatakan Aku-Benci-Ini-Ibu-Aku-ingin-pulang-Sekarang-!
Hanji menatap Eren bingung " Eren...Eren! Kenapa kau jadi sedih!? Kenapa Titan imutku sedih!?"
Dia menangkup kedua pipi Eren gemas dengan tangannya secepat kilat dan spontan, sampai membuat wajah Eren memerah hebat. Juga membuat Armin berteriak kaget.
" S-senior H-Hanji!...Akh-aku..tidak d-daphat bernafas!" ucap Eren lirih. Dia berusaha menggapai-gapai udara di sekitarnya.
Hanji menangkup pipinya sampai lubang hidungnya kepencet hebat.
Hanji melepaskan tangkupannya dan tertawa hebat. Dia berteriak dengan tertawa. Membuat kacamata bulatnya tertutup embun. Menyembunyikan matanya.
" HAHAHAHAHA! AHAHAHAHA! BWAHAHAHAHA!"
Para siswa dan siswi di sekitar situ lebih memilih untuk menjauh daripada berhadapan dengan senior dan ilmuwan gila tak bergender bernama Hanji Zoe ini. Mungkin saja dari luar dia tidak terlihat seperti anak berandalan tapi jangan salah sangka dahulu.
Hanji Zoe. Gadis cerdas ini menjadi dibuang di sekolah ini karena pemerintah menangkap basah dirinya telah menculik lebih dari 200 jenis hewan langka yang dilindungi Negara. Dari mamalia, burung, serangga, ikan sampai reptil.
Dia juga tertangkap menculik hidup-hidup 150 orang manusia yang sebagian besar remaja untuk menjadi kelinci percobaannya.
Mayat mereka dimutilasi secara acak dan darah mereka dibekukan menjadi sebuah pil dan obat-obatan terlarang. Yang tersisa dari mayat-mayat itu tidak ada. Dia menghilangkan seluruh bukti dengan menggunakan seluruh tubuh mereka sebagai percobaan. Saat dibawa di pengadilan, dia hanya tertawa seperti orang gila dan mengatai pemerintah payah karena tidak dapat menemukannya yang sudah beroperasi sejak masih berusia 13 tahun. Dengan kecerdikannya, Hanji menyembunyikan gas penidur di bawah sepatunya dan melepaskan gas itu di tengah-tengah pengadilan.
Dengan cepat dia kabur dan meninggalkan semuanya dengan santai. Orang tuanya menyuruhnya untuk sekolah disini karena kasusnya yang termasuk dalam file hitam sekolah. File untuk kasus kejahatan pada kemanusiaaan yang tak termaafkan seumur hidup.
Hanya ada 8 orang yang masuk ke dalam kasus file hitam. Termasuk Levi.
Di balik tawa Hanji, terdapat sisi setan yang mengerikan. Maka dari itu, seluruh siswa lebih memilih menghindar apapun yang berurusan dengan para siswa di file hitam. Yang sebagian besar merupakan penguasa sekolah. Jika mereka masih mau hidup untuk keesokan hari tentunya.
Hanji menghentikan tawanya. Padahal dia masih ingin tertawa karena melihat air muka Eren dan Armin yang sangat pucat. Seperti dikejar hantu telanjang.
Hanji menggigit lidahnya sendiri melihat Eren yang menurutnya manis untuk ukuran laki-laki, melebarkan matanya dengan horror. Mulutnya mengatup kuat dan peluh membanjiri tubuhnya. Hanji sangat gemas sekarang. Lihatlah!
Dia meloncat-loncat girang. Wajahnya memerah matang dengan hidung mendengus kasar.
" GEMASNYA! AYO KALIAN BERDUA! IKUT AKU KE KEPALA SEKOLAH BIAR KALIAN CEPAT DITERIMA! KYAAAA!" teriak Hanji dengan sangat nyaring.
Tanpa ba bi bu lagi, dia mencengkeram tangan Eren dan Armin kuat. Eren meringis sakit karena cengkraman Hanji seperti cengkraman gajah. Dia menyeret mereka paksa kembali dengan sangat cepat.
" TIDAK TOLONG KAMI MIKASA!" teriak Eren dan Armin bersamaan.
.
.
.
Dan disinilah mereka sekarang!
Ruang kepala sekolah terletak di ujung bangunan ketiga lantai kedua. Di sebelah timur taman besar di tengah sekolah. Dekat dengan taman belakang yang rimbun.
Entah kepala sekolahnya yang sudah biasa atau apa. Atau mungkin Hanji yang sangat tidak tahu sopan santun.
Hanji menendang pintu geser! Dia menendang pintu geser! Dan hebatnya lagi, pintu dari kayu ulin yang mahal itu melayang 2 meter ke depan sampai engeselnya patah. Bautnya berceceran di sekitar kaki Eren dan Armin. Membuat dua pemuda itu meneguk ludah takut.
Bukannya marah atau membentak seperti tipikal guru-guru lainnya, kepala sekolah yang tidak berambut sedikit pun itu hanya melirik sekilas dan terkekeh. Eren menganga.
" Sekolah ini memang tidak beres!". Bisik Eren di dekat Armin.
Armin menatap Eren dengan pandangan mengiyakan.
Hanji melepaskan cengkeraman mautnya pada dua pemuda manis di belakangnya dan berjalan girang ke arah kepala sekolah.
" Halo pak tua Pixis! Bagaiman harimu disini!?" Teriakan Hanji menggema di ruang Kepala sekolah berukura meter.
" Baik-baik saja Hanji..". Jawab sang kepala sekolah tanpa menghentikan pekerjaannya untuk mencatat berkas-berkas.
" Hei pak tua Pixis! Ada murid baru disini! Mereka imut sekali...KYAHAHAHA! dan oh! Maaf soal pintunya! Aku hanya terlalu girang untuk mengunjungi ruangan terkutuk ini!" Teriak Hanji dengan sangat nyaring.
Kepala sekolah bernama Pixis itu melirik ke arah pintu. Matanya menemukan dua orang pemuda berpakaian rapi dan bersih. Yang satu pirang yang satu eboni.
Dia menyipitkan mata hingga menimbulkan kerutan-kerutan pada dahinya yang sudah tua. Mengamati secara seksama yang katanya murid baru dari Hanji Zoe. Siswa dari klub penilitan dan ketua Regu ilmuwan.
" Hanji..kau yakin mereka murid baru? Apakah kau tidak salah menyeret siswa sekolah lain kesini?". Tanya sang kepala sekolah.
Pixis kembali mengerutkan dahinya. Apalagi dua pemuda itu terlihat seperti anak baik-baik. Tidak seperti seluruh murid yang ada disini.
" HEHH!?". Teriak Hanji heran.
Dia melihat Eren dan Armin bergantian dengan cepat. Ekspresinya menunjukkan kekecewaan dan tidak percaya.
" HEI PAK TUA PIXIS!". Tunjuk Hanji pada kepala sekolah. Wajahnya memerah menahan marah. Hidungnya mendengus cepat dan kasar.
" APAKAH MATA TAJAM MILIKMU ITU MENDADAK SUDAH BUTA!? APA PERLU KUCONGKEL HABIS SAMPAI KE DALAM DAN KUGANTI DENGAN PUPIL KODOK AMERIKA SAMPAI KAU MELIHAT SERAGAM MEREKA, DASAR PAK TUA RABUN!?"
Eren ingin menangis rasanya. Dia salah masuk sekolah! Eren itu anak baik-baik. Dia bahkan tidak pernah melakukan tindak kriminal apapun dari Jerman sampai sekarang, tapi kenapa kakek Armin! Kenapa!?
Kenapa kau tega memasukkan kami ke sekolah terkutuk ini!? Kau mau membunuh kami dan membiarkan kami tersiksa mati-matian disini!? Arrgggh...Kakek-kakek pikun! Eren memegangi tangan Armin kuat sampai buku-buku tangan miliknya memutih. Dia bahkan lupa bagaimana rasanya bernafas normal setelah masuk ke tempat terkutuk ini. Nafasnya sedari tadi pendek dan cepat. Seperti nafas pelari marathon yang kelelahan.
Jantungnya berdegup tidak normal. Cepat dan terus bertambah cepat saat dirinya semakin dalam memasuki kawasan sekolah.
Kepala sekolah mengangkat tangannya dan terkekeh.
" Baiklah..baiklah Hanji. Aku melihatnya..aku cuma memastikan saja karena tampang mereka polos dan ya..kau tahu. Tidak begitu wajar mendapat orang seperti mereka di lingkungan kita".
Hanji mendengus. Dia menyilangkan tangannya di depan dada.
" Mungkin saja pak tua! Kau tidak tahu bahwa di balik tampang polos mereka, kasus mereka mungkin lebih heboh dan besar! Seperti Petra Rall!".
Dia menghempaskan tubuhnya kuat di salah satu sofa di ruangan itu dan menguap selebar-lebarnya.
Eren dan Armin berdiri dengan takut saat sang Kepala sekolah menunjuk dua buah kursi di depan mejanya. Mengisyaratkan mereka untuk duduk disana. Eren melangkah terlebih dahulu dan berusaha menyamankan diri di salah satu kursi. Memejamkan mata dan menarik nafas panjang.
' Tatakae Eren! Hadapilah semuanya dengan jantan!' teriak Eren di dalam hati demi menyemangati dirinya sendiri.
Armin telah duduk di sebelah Eren dan mereka berdua siap untuk menghadapi laporan dari kepala sekolah dengan kepala plontos yang menyakitkan mata. Dia memandangi mereka dengan menumpukan dagunya di telapak tangannya.
" Jadi kalian anak baru?" tanya sang Kepala sekolah.
Eren dan Armin terdiam bungkam. Mereka menundukkan kepala takut.
" Y-ya..Kami memang baru sir P-pixis". Jawab Eren.
Sir Pixis mengangkat kepalanya dan menarik laci meja. Mengeluarkan beberapa map kertas dengan 4 warna berbeda. Hijau, biru, merah, dan hitam. Eren bingung untuk apa map itu diberi warna berbeda. Bukannya itu sama saja untuk mendata para siswa?
" Kalian punya surat pemindahan sekolah atau pembuangan disini?" Tanya sir Pixis kembali.
Eren dan Armin berpandangan satu sama lain khawatir dan bingung. Eren menatap lurus ke arah Armin seolah-olah menyiratkan Kita-Memang-Dibuang-Oleh-Kakek-Pikunmu-Armin-!-Jadi-Serahkan-Surat-Pemindahan-Kita-Sebelum-Kita-Mati-! Armin segera tersadar dan merogoh tas ranselnya. Dia mengeluarkan dua map polos dari plastik putih berisi data diri Eren dan Armin. Yang sudah dicap oleh asal sekolah mereka di Jerman dan Inggris.
" I-ini Sir surat p-pemindahan kami..." jawab Armin.
Dia menyerahkan map itu dengan gemetar. Sir Pixis menerima surat itu dengan tatapan heran.
" Surat pemindahan yang unik tuan...Armin Arlert dan Eren Jaeger. Tidak berwarna. Polos sekali...apakah ini bentuk umum surat kasus di Jerman dan Inggris?" tanya Sir Pixis.
Dia membuka dan mengecek isi map itu. Hanya ada data diri mereka lengkap beserta nilai rapor dan cap asal sekolah mereka. Pixis mengernyitakan dahi.
Cap sekolah ini sangatlah baik..tidak seperti sekolah kriminal. Dia hanya terus membuka dan sesekali membaca. Jerman dan Inggris. Mereka benar-benar murd pindahan. Tapi ada sesuatu yang membuatnya heran dengan surat mereka berdua.
" Apakah kasus kejahatan kalian dimuat di dalam sini? Kulihat tidak ada terlihat sama sekali surat dari kepolisian pemerintah atau pengaduan pengadilan Negara..."
Armin dan Eren menganga. Untuk apa juga mereka memuat surat kepolisian!? Mereka hanyalah dua pemuda polos yang baru pertama kali berada di Jepang dan langsung terjebak di sekolah berandalan ini! Eren ingin sekali mati hari ini juga. Mungkin kali ini dia mempertimbangkan bunuh diri dari atap rumah Mikasa. Dia sudah tidak tahan! Takdir begitu membencinya!
Eren menatapi Armin dengan bingung. Dia begitu khawatir karena tidak tahu apa yang harus dijawab.
" Mikasa...Tolonglah kami". rengek Eren lirih. Dia meremas celana hitam panjangnya kuat dan melampiaskan semuanya pada celananya. Dimana kegunaaan seorang Mikasa Ackerman sebagai mamah peri penjaganya sekarang!?
Armin memutar otaknya. Kali ini dia harus menyelamatkan Eren dengan kecerdasan yang dia miliki. Tapi belum sempat dia angkat suara sedikitpun, sir Pixis sudah kembali bersuara.
" Baiklah...lebih baik aku tanya langsung saja pada kalian".
Armin dan Eren kembali bungkam. Sebulir peluh sebesar biji jagung jatuh dari pelipis Eren. Rambut mahoganinya terlihat basah dan acak. Mata emerlad miliknya yang bercahaya memandang ragu akan seragam sekolahnya.
Sir Pixis mengambil selembar kertas kosong seukuran HVS.
" Baiklah kalian... apa kasus kalian masing-masing?" Tanya sir Pixis.
Hanji di sofa menunggu jawaban dengan muka memerah hebat dan tertawa kegirangan. Dia begitu gemas dengan dua pemuda yang masih bisa memasang wajah manis saat ditanyai dengan kasus kejahatan mereka.
" KENAPA KALIAN BISA IMUT SEKALI!? KENAPAAAA! AHHH...AKU SERASA MATI KARENA OVERDOSIS KEIMUTAN! GYAHAHAHAHA!".
Hanji berteriak-teriak seperti orang kesurupan dan berguling-guling di sofa dan akhirnya jatuh ke lantai menciptakan bunyi hantaman yang sangat keras.
Eren dan Armin terkejut dan berusaha menolong Hanji.
" SENIOR HANJI!" teriak Eren.
Tetapi dengan cepat mereka urungkan niatnya setelah melihat Hanji kembali terlentang dengan hidung penuh darah. Bukannya merasa sakit dia malah kembali berguling-guling dan mengisi ruangan itu dengan teriakan yang hebat seperti sirine pemadam yang rusak.
Pixis hanya tersenyum lembut. " Jangan hiraukan muridku yang satu itu...dia memang sangat aktif sekali."
Armin menganga dan meneguk ludah cepat karena tenggorokannya tiba-tiba kering kerontang. Suaranya entah hilang kemana melihat ini semua. Dia mau dikubur hidup-hidup daripada sekolah disini!
" Ehem! Halo?". Interupsi sir Pixis.
Eren dan Armin segera mengalihkan pandangan mereka pada Sir Pixis yang menunggu jawaban mereka. Dia mengetuk-ngetukkan pulpen hitamnya ke meja dan menopang sebelah pipinya.
" Jadi? Kasusnya anak-anak?" Tanya sir Pixis sekali lagi.
Eren tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bungkam sambil menggigit bibir bawahnya kuat. Kebiasaannya saat merasa tersudut atau takut. Eren terus menerus melotot horror pada Armin yang sedang berkomat-kami di dalam otaknya memikirkan kata-kata yang bagus untuk menyelesaikan ini semua! Eren tidak tahan lagi. Dia terus menerus memelototi pemuda pirang di sebelahnya yang hanya diam mingkem kaya patung. Di tambah cahaya kepala sir Pixis yang seperti lampu stadion. Itu menyakiti mata Eren. Dan jangan lupa teriakan senior Hanji yang benar-benar merusak suasana.
BRAAKKK!
" BAIKLAH!".
Armin terlonjak dari tempat duduknya melihat Eren menggebrak meja kepala sekolah. Hanji sempat terdiam sebentar melihat aksi nekad Eren tetapi kembali tertawa girang. Armin sudah menahan nafas, takut kepala sekolah akan mengamuk. Tapi memang sekolah ini sudah nyeleneh dari awal, sir Pixis hanya tersenyum dan terkekeh melihat kelakuan Eren. Dia sudah biasa melihat kelakuan nekad seperti ini. Hampir seluruh sekolah melakukan hal ini setiap hari. Melempar, menggebrak, menendang, menampar dan hal kasar lainnya.
" KAMI BERDUA AKAN JUJUR BAHWA KAMI...TIDAK PERNAH MELAKUKAN TINDAK KRIMINAL ALIAS KAMI BAIK-BAIK!" Teriak Eren spontan.
Armin berdoa di dalam hati supaya mereka bisa diselamatkan oleh Mamah Mikasa Ackerman SEKARANG JUGA!
Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada yang membuka suara di antara semua orang di ruangan itu. Hanya suara ribut dan teriakan anak berandalan dari luar yang terdengar. Bahkan sir Pixis melebarkan mata tak percaya. Pulpennya terjatuh. Hanji menganga luar biasa.
" APPPAAAA! EREN! ARMIN! BAGAIMANA BISA!?"
.
.
.
Seluruh SMA di Tokyo mulai ricuh. Keadaan menjadi sangat kacau.
Para siswa dan siswi berteriak dan berlarian menjauh dari masalah secepat mungkin. Seluruh SMA terpaksa meliburkan para muridnya sekarang juga sebelum mereka menjadi korban penyiksaan dari para Geng Survey C.
Tiga motor hitam besar melintasi setiap SMA di Tokyo dan melemparkan kertas ancaman. Membuat semuanya panik dan kacau. Keadaan siang itu benar-benar riuh dengan tangisan dan teriakan meminta tolong.
Satu motor hitam besar memimpin dua lagi. Seluruh orang dan para siswa berbisik serta menggosipkannya dari kejauhan. Banyak kata kagum serta umpatan di dalam bisikan itu. Dia tentu saja dapat mendengarnya. Telinganya tidak dapat dikelabui.
" Dia ketuanya!"
" Katanya dia beringas dan tanpa hati! Jangan dekati dia jika mau hidup!"
" Tapi dia tampan sekali!"
" Itu Geng Survey C! Pulanglah jika tidak mau disiksa!"
Dia benci di ejek dan direndahkan. Membuatnya terlihat rendahan.
Dia bahkan bisa menghabisi semua siswa itu dalam satu hari jika mau. Kekuatannya jangan sekali-kali diremehkan. Buktinya dia bisa melarikan dari lebih 100 penjara elit di Negeri ini. Menghabisi ratusan anggota Military Police kurang dari 2 jam walapun umurnya baru 17 tahun.
Tetapi dia tidak punya waktu sekarang. Tujuannya bukan mereka, melainkan para siswa dari Maria's Highschool. Musuh bebuyutan dari Survey Corps Highschool. Mata hitamnya menatap tajam jalanan yang tiba-tiba riuh dan sepi di depannya. Pandangannya semakin tajam saat melihat beberapa murid yang bersembunyi di balik tembok-tembok toko.
" Mau mengelabuiku huh? Dasar bocah-bocah bodoh". Ucapnya sakartis
Salah seorang pengikut di belakangnya terkekeh. " Kau selalu jeli Levi...tidak kusangka kau masih dapat menemukan cecurut-cecurut keparat itu di balik kerumunan orang"
Levi mendelik tanpa minat ke arah partnernya dan kembali menatapi tajam jalanan.
Dia menghentikan motornya tiba-tiba di tengah jalan. Membuat dua orang di belakangnya mengikuti pergerakannya. Tanpa melepas helm hitam mengkilatnya, Levi mengangkat tangannya ke udara dan menggerakkan ke belakang. Membuka telapaknya seolah-olah meminta sesuatu.
" Biasa Farlan. Kita habisi mereka tanpa sisa". Ucapnya datar.
Farlan, partnernya tertawa. Dia menarik sebuah tongkat baseball berwarna hitam dengan duri dari balik jas sekolahnya dan menyerahkannya pada ketua dinginnya ini. Levi menerimanya. Dia mengangkat tongkat itu santai dan melirik partner lainnya.
" Irvin..kau pimpin Farlan. Biar aku yang menyelesaikan bocah-bocah bodoh itu".
Irvin membuka helmnya. Menampilkan seorang pemuda dengan alis tebal dan wajah khas tentara. Berbentuk dengan rahang yang tegas. Rambut pirangnya tersisir rapi. Dia tersenyum kecil saat Levi mengatakan itu.
" Kau boleh jadi ketua geng Levi...tapi aku tetap Ketua OSIS. Dan tentu saja..senang hati kuterima tawaranmu Rivaille".
Levi mendecih mendengr penuturan Irvin. Dia sudah muak dengan helmya. Itu membuat rambutnya lepek dan basah. Menciptakan keringat bau yang tidak dapat ditolerir oleh syaraf OCD-nya. Dia membuka helmya dan melemparnya sembarang ke arah tong sampah. Menciptakan suara debuman keras yang memancing teriakan warga disana. Helm itu patah menjadi bagian-bagian kecil. Kacanya retak tak bersisa.
Semua orang hampir tertegun. Levi memang beringas tapi entah keajaiban Tuhan macam apa...DIA TAMPAN SEKALI!
Wajah tegasnya mengkilat karena pantulan cahaya matahari siang yang terik. Mata hitam kecilnya menatap semua orang tajam dan dingin bagaikan mata elang gunung. Semua orang merinding hanya karena tatapannya. Rambut hitam malamnya berkibar karena angin yang menyapu permukaan kota Tokyo yang sekarang ricuh. Tangan kokohnya yang tegap memegangi setang motor dan tongkatnya
Tanpa basa-basi lagi, dia mengangkat tongkat baseballnya tinggi-tinggi ke udara . Mendiamkannya sesaat. Dan...
SYAAATTT!
BUGGHH! BRAKKKK!
" KYAAAAA! SEORANG TERBUNUH! TOLONG! KEPALANYA PUTUS!".
Teriakan warga menggema nyaring. Suara perih dan kesakitan memecah ruah di udara.
Levi hanya menatap datar para warga seolah itu memanglah hal biasa. Farlan dan Irvin bertepuk tangan sopan atas kemampuan ketua mereka yang bertubuh kurang tinggi ini. Mereka mengambil sebuah pedang katana berukuran sedang dari balik jas mereka dan memamerkannya ke udara.
" SIALAN KAU LEVI KEPARAT! SIALAN KALIAN PARA MURID SURVEY CORPS! KALIAN MEMBUNUH MURID KAMI!"
Seorang pemuda dengan tubuh jangkung yang acak keluar dari salah satu toko buah. Dia menatap emosi Levi dan kawanannya. Tubuhnya penuh dengan darah dan keringat. Membuatnya terlihat sangat berandalan.
" KALIAN MATI HARI INI JUGA SURVEY CORPS KEPARAT!". Teriaknya nyaring.
Levi mengangkat sebelah alisnya heran dan menatap pemuda itu datar. Farlan terkekeh singkat dan menyilangkan tangannya ke dada.
" Levi! Apakah peerlu kuhabisi mereka sekarang juga!? Ternyata cecurut-cecurut itu tidak sabar rupanya.". Ejek Farlan santai. Dia menyampirkan katana miliknya ke bahu kirinya dan memandangi para musuh mereka dengan tatapan membunuh.
" Nanti Farlan. Tunggu aba-aba dariku. Kita akan membuat mereka menyesali setiap inchi perbuatan mereka kepada Survey Coprs". Jawab Levi dingin.
Pemuda berandal tadi mengambil sebuah pistol dari balik seragam lusuhnya yang kotor. Tangannya mengarahkan tepat ke udara.
Farlan tersentak. " LEVI! Itu pistol..."
Levi menghela nafas pendek dan mendelik sebentar ke arah Farlan. Tetapi tidak terpengaruh sama sekali. Dia masih terus menatap tajam pemuda itu. Melihat semua pergerakannya dengan wajah datar.
Satu... tangannya bersiap-siap menarik pelatuk kecil dari perak itu.
Levi menatapnya tajam. Tanpa disadari orang lain, tangan kirinya menggenggam sebuah benda. Dia mengepalnya. Dahinya berkerut.
Dua... pelatuk hampir ditarik. Bunyi mesin pistol mulai terdengar bergesekan. Bersiap menembakkan peluru di dalamnya keluar.
Levi menggosok-gosok benda kecil itu dengan dua jarinya. Farlan dan Irvin bersiap-siap di motornya. Tahu bahwa sebentar lagi ketua mereka akan memberi aba-aba. Farlan menyeringai penuh. Matanya berkilat seperti pembunuh. Dia bernafas cepat.
Dan...Tiga.
KLIKKK!
SYIIIIIIIIIINNNNNGGGGG...
" ARRGGGH! SIALAN KALIAN SURVEY CORPS BUSUK! ARRRGGGHH!"
Farlan dan Irvin segera memacu motor mereka tanpa ampun. Mereka mengambil katana di jas mereka dan melukai setiap murid Maria's Highschool yang tertangkap di oleh pandangan masing-masing.
Levi menyeringai menang. Menampilkan ekspresi iblis di wajah datarnya yang terkenal. Dia harus berhutang budi pada Irvin dan Hanji. Yang telah bersusah payah membuatkannya bom bising yang efisien dengan frekuensi bunyi ultrasonik yang memekakkan. Sebenarnya telinga mereka telah dipasang sebuah earphone kecil buatan Hanji yang mampu menangkal setiap dampak dari bom seukuran flashdisk itu.
Hanya dengan menekan pelatuk di atasnya, bom itu akan meledak dengan sendirinya. Bukan meledak dengan efek berapi-api. Ledakannya hanya berupa suara bising yang berlangsung selama 10 detik.
Pemuda pemegang pistol tadi terkapar sebelum sempat menarik pelatuk pistolnya. Levi tahu itu bukanlah pistol biasa. Itu adalah pistol peringatan. Pistol yang berisi peluru asap berwarna merah.
" Strategi anak kecil". Ejek Levi sakartis.
Sebelum partnernya menyadari, Levi sudah tahu dan mengerti strategi bocah-bocah di Maria's Highschool. Sebagian anak laki-laki senior bersembunyi di sekitar kota dan menunggu panggilan pistol. Sisanya menghadang di sekolah.
" LEVI! SERANG SEKOLAH MEREKA! ITU TUGASMU...BIAR KAMI YANG MENGHABISI DI SEKITAR SINI!"
Levi menghadap ke arah sumber suara. Farlan meneriakinya dari kejauhan. Tubuhnya masih rapi biarpun katana miliknya penuh dengan darah segar. Sebagian mengotori wajah Farlan dan membuat rambut coklat pasirnya lepek dengan bau besi darah yang kuat.
" Baiklah". Jawab Levi datar.
Levi segera memacu motor hitam mahalnya ke sekolah busuk itu. Dahinya berkerut dan pandangannya semakin dingin dan tajam. Dia melindas apapun di depannya tanpa ampun. Sebagian darah menciprat di lengan bajunya.
" Cih! Menyusahkan".
Levi mendecih kesal karena bisa-bisanya darah nista mereka menodai bajunya yang seputih susu. Dia akan membawa kesengsaraan bagi semua yang berurusan dengannya.
Matanya menangkap sebuah jaket berwarna hijau emerald di bahu jalan. Membuat pikirannya kembali diingatkan dengan bocah baru yang bodoh tadi pagi. Bocah bodoh yang kurang ajar dengan paras seimut bidadari.
" Tenang bocah. Tunggu saja waktumu, Eren Jaeger"
.
.
.
Hanji benar-benar bingung. Dia menganga saat Eren memberikan penjelasan lengkap kepada kepala sekolah kenapa dirinya dan Armin bisa masuk di sekolah ini.
" Begitu sir Pixis! Ada kemungkinan kakek Armin salah menyarankan sekolah kami!". Jelas Eren semangat.
Kali ini dia berharap akan langsung ditendang keluar sekolah dan pulang ke Jerman! Eren tidak peduli lagi jika ayahnya mengomelinya! Dia tidak mau kemana-mana lagi. Pokoknya Eren harus pulang ke tanah airnya sekarang juga!
Hanji menggebrak sofa dan membuat semua orang menatapnya.
" S-sebenarnya Eren dan Armin! Kami jarang mendapat kasus seperti ini t-tapi..kalian tahu kan jika sekali masuk sekolah ini, bagaimanapun kasusnya! Kalian t-tetap harus bersekolah disini sampai lulus!" Teriak Hanji.
Sebenarnya dia kasihan juga dengan Eren dan Armin. Dua pemuda manis itu ternyata salah masuk sekolah! Tetapi masalahnya tradisi turun temurun siswa Survey Highschool adalah jika sekali masuk ke lingkungan mereka jangan harap bisa kabur atau kalian mati.
" Kenapa b-bisa begitu senior Hanji!?" Tanya Eren kecewa.
Hanji tertawa canggung sambil menggosok telapak tangannya.
" Be-begini Eren...tradisi murid Survey Highschool adalah sekali kalian jadi murid disini sampai lulus kalian tetap harus bersekolah disini. Jika kalian ketahuan kabur, maka Levi sendiri yang akan mencarimu dan membuatmu nggh..."
" Membuatmu?" Tanya Eren dan Armin bersamaan
" Mati". Sambung kepala sekolah. " Terpaksa Levi, Irvin, Petra, Auruo, Erd, Gunther akan mencari kalian dan menyiksa kalian sampai kalian mati. Bahkan sesudah mati pun jasad kalian tetap disiksa oleh..."
Eren dan Armin meneguk ludah berat saat melihat Hanji yang berusaha tertawa dan memelototi kepala sekolah dengan wajah iblisnya.
" Olehmu bukan, Senior Hanji?" Tanya Eren. Peluh sudah membasahi wajahnya sekarang.
Hanji menatap Eren dengan pandangan seolah-olah Maafkan-Aku-Wahai-Titan-Imutku-Eren-Dan-Armin.
" Sayangnya Eren...Armin". Hanji menghela nafas berat. " Akulah yang memang memutilasi jasad kalian dan menggantungnya di tiang bendera sekolah".
Eren dan Armin memucat hebat. Mereka tidak menyangka senior baru mereka akan segila itu. Hanji menangkap wajah takut dan sedih Eren. Dia gelagapan sendiri dan membuat semua orang di ruangan itu menatap heran.
" T-TAPI TENANG EREN! ARMIN!". Teriak Hanji.
Dia menghampiri sir Pixis dan menunjukkan jarinya tepat di hadapan wajahnya.
" Aku yang akan bertanggung jawab atas mereka pak Tua Pixis! Selagi ada aku, Eren dan Armin berada di bawah lindunganku! Kau menolak, Kau mati, Kau kumutilasa ganas, Pak tua!"
Eren dan Armin dapat sedikit menghela nafas lega. Tapi Eren seperti kehilangan semangat hidupnya. Berarti sampai setahun kedepan, dia akan tinggal dan beradapatasi di sekolah kriminal. Oh Tuhan...selamatkan Eren ini.
Sir Pixis mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mengambil sebuah cap dari laci meja kerjanya dan mencap kedua biodata Eren dan Armin dengan cap sekolah. Menyerahkannya kembali pada mereka berdua.
" Eren Jaeger. Armin Arlert...kalian tidak punya pilihan lain selain bertahan disini. Tapi tenang nak..ada Hani Zoe yang setia melindungi kalian selama disini. Berbuatlah seperti yang dilakukan anak-anak disini maka kalian selamat."
Hanji tersenyum lebar. Dia berdiri di belakang Eren dan Armin dan memegangi lengan keduanya. Membuat mereka kembali tersentak kaget dengan kelakuan tiba-tiba seniornya.
" Selamat datang di Survey Corps Highschool anak-anak". Ucap Sir Pixis ringan.
Eren dan Armin meneguk ludah saat biodata mereka telah dicap oleh sekolah ini dengan cap resmi mereka. Mereka memandang satu sama lain pasrah.
" Tenang kalian berdua! Ada aku disini! Jika kalian punya masalah...temui aku di LABORATORIUM YA!". teriak Hanji.
Dia kembali tertawa-tawa hebat dan terdiam sebentar saat memandang leher Eren yang terdapat bekas cekikan. Hanji menyipitkan mata dan bersiul-siul. Wajahnya memerah senang.
" Dan khususmu Eren manis..." Panggil Hanji.
" Ehh..memangnya kenapa dengan ku Senior Hanji?" Tanya Eren bingung.
" Levi tidak akan pernah melupakan mangsanya lho... dia sangat suka menandai mangsanya hm!?". Bisik Hanji.
Eren memegang dadanya kuat. Dia benar-benar membenci takdirnya. Sudah salah sekolah, dia harus dihadapkan dengan seorang ketua geng tampan, dingin, datar, dan pendek bernama Levi yang bengis dan tanpa ampun!
Eren berdoa kepada ibunya di surga agar cepat-cepat dibawa ke surga daripada menghadapi semua masalah disini!
Armin meneguk ludah khawatir pada Eren. Dia bisa-bisa saja beradaptasi tapi Eren. Selain harus beradaptasi, dia harus dihadapkan dengan seorang yang paling ganas menurut seluruh siswa disini. Ketua Levi atau Rivaille.
" GYAHAHAHAHAHA! KALIAN MANIS SEKALI! BIAR KUTUNJUKKAN DIMANA KELAS XI E! KELAS KALIAN DAN EREN...BERSENANG-SENANGLAH DENGAN LEVI YA NAK!"
Hanji kembali menyeret mereka seperti karung. Eren berharap Levi tidak seburuk pemikirannya karena saat orang lain takut dengan Levi pagi tadi, dia malah tertarik untuk semakin mendekati pemuda tampan dan dingin itu. Seolah-olah Eren dapat merasakan sesuatu yang hangat di dadanya saat tidak sengaja Levi menyentuh lembut kulit pipinya.
Levi tidak sadar saat tangannya tak sengaja bersentuhan lembut dengan pipi Eren. Eren merona singkat dan merasakan euforia berbeda di dalam dadanya.
" Ah! Kenapa denganku? Ada apa dengan ku dan Senior Levi?" ucap Eren lirih. " Itu benar-benar rumit...apa yang sebenarnya terjadi denganku disini?"
.
.
T
B
C
MAAFKAN AUTHOR BARU INI T_T
BANYAK TYPO DAN GAJE DAN HAL BURUK LAINNYA YANG BERTEBARAN SEPERTI KUTU DI SINI!
MAKA DARI ITU...SAYA PERLU REVIEWN DARI KALIAN SEMUAHHH...
OH YA! BAGI YANG RASA FAMILIAR DENGAN CERITA INI...
JENG! JENG! JENG! ANDA BENAR!
INI ADALAH CERITA SAYA DI WATTPAD DAN SAYA PUBLISH LAGI DI FANFICTION!
JADI BUAT READER DI WATTPAD HARAP MAKLUMI AUTHOR INI... * SUJUD SUNGKEMAN*
GINI...BILA REVIEW KALIAN KURANG DARI 10...AUTHOR NGGAK BAKALAN LANJUT DI FANFICTION...CUMA DI WATTPAD DAN AKUN PUNYA AUHTOR. TAPI BILA LEBIH...WAHAHAHAHA! DUA-DUANYA SAYA LANJUTIN!
TAPI SERIUS...AKU SAYANG KALIAN!
SALAM CINTA!
A.W.J
