CHAPTER 3

AHH...AKU BINGUNG

.

.

.

Bagaikan serigala lapar dan domba polos

di tengah padang rumput terbuka

.

.

.

Enjoy it

by Aulia Asrikyuu

.

.

.


" Terima kasih banyak Senior Hanji...".

Eren dan Armin membungkukkan badan hormat.

Hanji mendengus-dengus dan tertawa girang. Wajahnya memerah hebat seperti kepiting rebus.

" AHAHAHAHA! TIDAK PERLU SEPERTI ITU! KYAAAA! KENAPA KALIAN IMUT SEKALI..BWAHAHAHA!" Teriak Hanji girang.

Dia segera memeluk Eren dan Armin kuat tanpa ampun. Eren mengap-mengap seperti ikan karena tulang rusuknya tertekan. Dia menepuk-nepuk pndak Hanji sedikit. Wajahnya memerah kuat. Membuat kedua pipi manisnya berwarna seperti apel matang.

Armin berkeringat dingin. Hidungnya berusaha sebanyak mungkin memasukkan oksigen. Dadanya serasa ingin retak saat itu juga. Pelukan Hanji seperti pelukan traktor jalanan. Jika kau dilindas, kau mati!

" S-senior Hanji!" Teriak Eren. " Ini...akhu..BWAHH!".

Hanji melepaskan mereka berdua tiba-tiba dan tertawa. Membuat Eren dan Armin terbatuk kuat karena oksigen dipaksa masuk ke dalam paru-paru mereka yang baru saja mendapat tekanan sangat kuat dari seorang Hanji Zoe. Hanji tiba-tiba menarik mereka dari ruangan kepala sekolah ke gedung barat lantai kedua. Terpaksa melewati lapangan sekolah mereka. Eren melongo. Ini sekolah berandalan atau taman Negara!?

Tamannya begitu bersih. Rumput hijau tumbuh dengan bagus dan rapi. Banyak pohon rindang yang menghiasi sekitar lapangan. Tapi tetap saja...sekolah kriminal tetap sekolah kriminal.

Fisik sekolahnya boleh bersih tapi kelakuan para muridnya tetap kotor. Banyak perkelahian dan umpat-mengumpat dimana-mana. Teriakan kasar dan ucapan vulgar dimana-mana. Mengisi telinga Eren dengan kata-kata kasar.

Darah dan luka bertebaran dimana-mana. Eren bahkan dapat mendengar suara desah-desahan yang tidak seharusnya berada atau dilakukan di lingkungan sekolah tapi bila itu sekolah berandalan...ya tidak jadi masalah.

Hanji terus menerus bersiul nyaring selama menyeret duo anak polos−Eren dan Armin. Dia menyapa setiap murid yang ada dengan teriakan. Dan tentu saja sebagian besar murid menghindar takut. Hanji bukanlah orang yang menyenangkan untuk diajak berteman bahkan berkenalan sekalipun. Wajah bahagianya menyembunyikan sisi setan liar sebagai murid file hitam.

Salah-salah kau sudah berakhir dengan seluruh bagian tubuh dimutilasi acak dengan brutal. Dan disiksa sampai kau benar-benar merasakan siksa dunia oleh Hanji yang menyeringai penuh dengan pisau daging di kedua belah tangannya yang penuh darah dan urat serta daging segar.

Tapi kurasa itu tidak berpengaruh untuk sebagian kecil orang selain Eren dan Armin yang berhasil menghilangkan semua sifat psikopat Hanji dengan wajah imut mereka.

" SENIOR HANJI!". Suara teriakan menggema dari arah belakang Hanji.

Para siswa yang sejak tadi sudah berada di koridor mendecih kesal dan mengumpat dengan kata-kata kasar. Mereka merasa sangat terganggu dengan teriakan seperti itu di pagi-pagi seperti ini.

Pemuda jangkung yang dikatai Eren sebagai muka kuda pagi tadi meludah dan mengumpat.

Dia sedang berdiri di depan pintu kelas XI-A dengan gaya angkuhnya. Telinganya ditindik habis dan tersumpal dengan sepasang earphone hitam yang tidak bisa dikatakan murah itu. Satu-satunya earphone yang dihiasi permata ruby.

Matanya menatap bosan seluruh aktivitas pagi ini. Tidak ada guru yang masuk kelas. Mereka terlalu malas mengajari anak-anak bebal macam mereka di sekolah terkutuk ini. Para murid juga membenci mereka. Menurut Jean sendiri, mereka hanya penganggu yang selalu berbicara seperti radio rusak. Mungkin saat istirahat nanti, dia akan memikirkan untuk memukuli junior dan bermain-main dengan Military Police.

" Cih! Sialan sekali!" umpat Jean. " Ada apa dengan para murid klub penelitian itu!? Mulut mereka tidak pernah diam seperti sirine!".

Dia kembali mengumpat. Padahal dia sudah memasang earphone-nya ke volume tertinggi tapi teriakannya masih bisa masuk ke dalam telinga Jean. Jean melempar bungkus rokoknya kasar dan masuk ke kelas. Membanting pintu kelas beringas. Membuat para siswa dan siswi lain ikut mengumpat.

Eren dan Armin berhenti terbatuk dan melirik ke arah sumber suara.

Mereka spontan terdiam. Kenapa mereka selalu mendapat senior yang punya masalah gender seperti Hanji!?

Eren menyipitkan matanya dan mengamati seseorang yang berlari dari koridor. Dia memakai jas laboratorium panjang. Tangannya melambai-lambaikan kertas ke udara seperti berusaha menarik perhatian. Kacamata bulat menghiasi wajahnya yang sedikit...laki?

Hanji berbalik dan mengamati seseorang yang memanggilnya. Dia menggerakkan kacamatanya sebentar dan kembali tertawa. Tangannya menepuk lututnya sendiri dan tertawa terbahak-bahak.

" AHAHAHAHA! RICO-SAN! KAU BERLARI SEPERTI TITAN MABUK! BWAHAHAHAHA!"

Armin menarik lengan jas milik Eren sebentar. Eren mengalihkan pandangan kepada teman pirangnya yang benar-benar kebingungan. Terlihat dari dahinya yang berkerut. Kelakuan yang sama saat Armin berfikir keras untuk meloloskan diri dari Kastil tingkat 8 di Inggris.

" Eren...dia pria atau wanita? W-wajahnya baby face tapi aku tidak melihat g-gundukan dadanya di s-seragamnya..". Armin memerah saat mengucapkan kata dada. Dia selalu dijarkan sopan santun ala keluarga kerajaan Inggris oleh kakeknya termasuk dilarang mengucapkan kata terlalu frontal seperti itu.

Sedangkan Eren! Ahh! Dia masa bodo dengan kata frontal atau umpatan! Sejak ibunda Eren meninggal karena penyakit jantung dua tahun yang lalu, ayah Eren jarang pulang ke rumah. Meninggalkan Eren yang harus melakukan video call dengan Armin atau Mikasa untuk mengusir rasa sedih dan sakitnya. Terutama saat ayahnya pulang, beliau sangat jarang bicara. Dan beliau bicara hanya untuk menegur atau mungkin mengumpat karena Eren melakukan kesalahan seperti mengotori ruangan, makan malam yang tidak habis, atau nilainya yang tiba-tiba menurun.

" EREN!"

Eren terlonjak kuat saat Hanji meneriakinya seperti ibu-ibu pemarah.

" A-ah! Maafkan aku Senior! A-ada apa?" Tanya Eren gugup.

Dia memegangi jantungnya yang seolah-olah ingin meloncat keluar. Suara Hanji itu seperti sangkakala hari kiamat. Di tambah senyumnya yang seperti penjaga neraka seperti itu. Lebar sampai menampilkan semua deretan giginya yang putih berkilau seperti kepala sir Pixis.

Hanji menggembungkan pipinya menahan tawa kuat.

" BWAHAHAHA! KAU MANIS SEKALI EREN! KAU MEMBUATKU KERACUNAN VIRUS KEIMUTAN DOSIS TINGGI MILIKMU! AHAHAHAHA!"

Hanji benar-benar melupakan apa yang ingin dia katakan pada dua pemuda manis yang sekarang dibawah lindungannya ini. Dia terlalu terbuai dengan keimutan yang langka milik Eren Jaeger dan Armin Arlert!

Hidungnya mendengus hebat. Airmata bahagia menetes dari dua mata coklat kayunya. Lihat saja! Eren membulatkan mata imut dengan wajah menekuk imut seperti anak kecil yang kesal. Rambut mahogani belah tengahnya menutupi sebagian wajahnya yang mulus seperti kulit bayi. Matanya yang berwarna hijau emerald indah itu melebar sedimikan rupa sampai kau dapat melihat pantulan dirimu sendiri karena matanya seindah sepatu kaca Cinderella.

Armin menutup mulutnya kaget. Mata sebiru langitnya benar-benar membuatnya seperti langit hidup. Rambut pirang sebahunya lepek karena peluh. Wajah babyfacenya merona. Dia seperti panda imut dari eropa.

Seseorang yang tadi meneriaki Hanji berhenti di sampingnya dan menepuk pundak Hanji.

" Senior Hanji! Kau harus ke laboratorium sekarang!".

Kata-kata itu berhasil menghipnotis Hanji. Dia berhenti tertawa seperti iblis dan terdiam. Hanji menundukkan kepalanya, membuat wajahnya tertutup oleh poni rambutnya yang dikuncir tinggi.

Eren dan Armin melirik ke arah Hanji heran.

" S-senior Hanji? K-kau tidak apa-apa?" Tanya Eren.

Hanji bergetar saat Eren bertanya padanya. Dia mengangkat tangannya dan mengacak sedikit rambutnya masih dalam keadaan menunduk.

" GYAHAHAHAHA! EREN! ARMIN! KALIAN IMUT SEKALI SAAT BINGUNG SEPERTI ITU!"

Gadis yang memanggil Hanji, Eren dan Armin terlonjak bersamaan saat Hanji tiba-tiba tertawa dan berguling-guling di lantai sekolah. Hanji memegangi perutnya dan tertawa terbahak-bahak yang sangat aneh karena tidak ada satupun yang lucu.

Hanji berdiri dengan cepat dan membersihkan seragam putihnya dari debu. Dia menyeka air mata yang terjatuh karena tawanya yang benar-benar kelewat lebar.

" Nah Eren! Armin!" Hanji menepuk pundak mereka berdua. " Maaf karena aku ada urusan sehingga tidak dapat menemani kalian lebih jauh!"

Eren dan Armin hanya meneguk ludah kuat.

" Tidak apa Senior Hanji.." jawab Armin. " Tapi bisa beritahu dimana kelas kami?"

Hanji tersenyum lebar dan menunjuk ruangan terakhir dekat perbelokan tangga sebelum ke lantai tiga.

" Nah! Disana kelas kalian! Bila ada masalah, datangi saja aku di Laboratorium ya! Di gedung pertama lantai tiga ya!".

Hanji menepuk pundak Eren dan Armin. Dia sedikit sedih saat meninggalkan dua aset imutnya sendirian tapi kali ini percobaannya menunggu dan sangat penting. Levi dan Irvin akan memenggalnya jika percobaaan itu tidak selesai.

Rico dan Hanji berlari menjauhi Eren dan Armin.

" BYE BYE DUO IMUTKU! KALIAN MANIS SEKALI IMUTKU...HUWAAAA!".

Hanji berteriak sedih meninggalkan Eren dan Armin yang melambaikan tangan canggung. Mereka tertawa gagap saat melihat Hanji seperti ibu-ibu yang anaknya dibawa sebulan oleh temannya.

Armin menarik tangan Eren dan berbalik. " Ayo Eren..waktunya hidup. Yey..."

Eren menghela nafas panjang dan berjalan terhuyung dengan gugup ke kelas mereka. Pasalnya banyak siswa lain memandangi mereka dengan tatapan yang sangat aneh. Terutama Eren.

Eren merasa dia bakalan dikenal satu sekolah karena berhadapan langsung dan dibilang bodoh karena dengan mudahnya dia mengikuti kemarahannya untuk melawan Levi. Ketua yang dingin dan tanpa hati.

Seorang gadis dengan rambut pendek sebahu melewati Eren. Bajunya hanya menutupi dada besarnya. Bahkan itu tidak termasuk menutupi karena belahannya masih terekspos. Roknya sangat pendek bahkan seperti tidak terlihat memakai rok. Rambutnya acak dengan mulut berbau alkohol yang kuat dengan rokok. Tangan kanannya penuh dengan tato.

" Wahh..wah.. ternyata ada mangsa Levi yang lewat." Sindir gadis itu. " Hei kecoak! Kujamin dia akan menyiksamu bodoh!"

Eren meras terhina dan amarahnya kembali naik. Dia mengepalkan tangan kuat dan ingin membuat gadis itu tersungkur sama seperti orang yang menganggu Armin pagi tadi. Tapi tidak jadi karena Armin menahannya.

Armin melotot kuat ke arah Eren.

" Eren! Tahan amarahmu! Berhenti memancing keributan disini...kumohon.."

Eren tidak bisa menolak permintaan Armin setelah melihatnya sampai memelas memohon seperti itu. Dia menurunkan kepalan tangannya dan melihat wanita itu kesal.

Gadis itu tersenyum mengejek dan berlalu dari hadapan mereka. Armin mengoceh dan menarik tangan Eren cepat ke kelas. Armin membuka pintu geser kelas itu cepat bersama Eren dan entah kenapa suara mereka menghilang tertelan rasa kaget.

Eren duduk termangu di ujung ruangan menatap jendela sekolah dengan tatapan minta tolong. Armin duduk di depan Eren sambil membaca buku yang dibawanya pagi tadi. Berusaha tidak menghiraukan kelakuan teman sekelasnya yang sangat...sangat menganggu!

Saat mereka masuk, tatapan seluruh murid tertuju pada mereka. Terutama pada Eren.

Para siswa laki-laki memandang mereka dengan tatapan sangat aneh. Membuat mereka berdua sangat tidak nyaman. Beberapa siswi pelacur berusaha menggoda mereka tapi Eren segera menepisnya dengan ketus.

" Tidak!" tepis Eren.

Eren menepis tangan salah seorang siswi pelacur yang berusaha menggodanya. Para siswi lainnya tersenyum mengejek padanya.

" Ternyata murid baru ini nekad sekali!" Teriak salah satu dari mereka.

" Mungkin saja dia sudah pernah disentuh oleh Levi! Dia tidak perja..uppps! Perawan lagi! Apakah lubang kecilmu sudah pernah dibobol oleh kejantanan BESAR Levi, bocah kecil!?"

Eren merasa harga dirinya benar-benar diinjak-injak. Dia benci itu!

" Aku tidak akan pernah dan tidak akan sudi disentuh oleh si kontet itu! Dan aku tidak pernah disentuh siapapun!" Teriak Eren emosi. Dia benar-benar sudah dihina habis-habisan disini!

Seluruh orang menganga dan tertawa mengejek.

" Dasar bocah nekad! Jika Levi mendengar kau mengucapkan kata itu...kau bakalan dihabisi olehnya!". Seorang pemuda dengan kepala plontos meneriakinya.

Semua murid di kelas itu berteriak mengiyakan. Armin menggenggam tangan Eren khawatir. Dia tidak mau membuat masalah sedikitpun disini dan Eren sudah berjanji juga menghindari apapun masalah disini.

Tapi Eren orang yang berbeda. Sifatnya begitu sensitif dan mudah terpengaruh oleh apapun yang membuatnya marah. Dia tidak akan segan-segan melewati batas sadarnya jika ada yang melukai teman-temannya atau menghinanya seperti tadi.

" Connie springer! Berhenti menganggu murid baru kita! Jika dia berani untuk melawan Levi yang merupakan penguasa terhebat disini, maka dia juga berani untuk menendang kepala botakmu sampai lepas!"

Semua orang terdiam dan menengok ke arah pintu masuk. Terutama murid dengan kepala plontos yang mengejek Eren. Eren dan Armin bernafas lega. Mungkin saja itu senior Hanji!

Eren sudah ingin meloncat-loncat girang dan memeluk senior mereka yang seperti orang gila mabuk itu tapi harus kali ini dia harus sedikit mengurungkan niat yah...baiknya itu.

" E-eh! Nanaba san!?" Teriak semua orang minus Eren dan Armin yang mengerjap-ngerjapkan mata mereka imut. Jelas sekali mereka bingung. Siapa itu Nanaba-san?

Armin dan Eren juga mengikuti pandangan semua orang ke arah pintu masuk dan kembali sweetdrop. Kenapa sekolah ini banyak sekali mempunyai murid yang kelainan gender hah!?

Seorang enghh...manusia dengan seragam acak berdiri di depan pintu. Jas merahnya hanya dipakai ssebagian di tubuhnya tapi anehnya. Seragamnya adalah seragam laki-laki tapi dia memakai rok untuk perempuan! Wajahnya cukup tegas dengan rambut pendek seperti laki-laki. Dia memegang pinggangnya sendiri dan menatap tajam orang yang mengejek Eren dan menggangu dua pemuda manis itu.

" Berbaik-baiklah dengan mereka...Mereka di bawah lindungan Senior Hanji".

Semua murid menahan nafas dan memandang Eren serta Armin dengan pandangan tidak percaya. Beberapa bergidik takut setelah mendengar nama Hanji disebutkan oleh Nanaba-san yang diketahui sebagai ketua kelas disini. Eren tahu karena beberapa orang menyebut namanya serta dengan sebutan ketua kelas.

" Hei Nanaba...apakah para murid file hitam akan melindunginya?". Tanya seorang siswi.

Nanaba berfikir sebentar dan kembali angkat suara, " Kurasa iya...terutama kau Eren Jaeger".

Eren terkejut. " E-eh a-aku?"

Semua siswi menatap Eren dengan pandangan membunuh dan para siswa memandangnya dengan pandangan berapi-api. Beberapa dari mereka menyeringai setan ke arahnya. Membuat Eren gelisah sendiri di tempatnya sambil menggigit bibir bawahnya.

" Bagaimana bisa dia tidak dilindungi? Bukannya dia mangsanya Levi!? Kita sentuh dia, kita mati teman-teman!". Teriak Connie.

Para gadis mendesis tidak suka. Salah seorang gadis dengan dada besar menghampiri Eren dan menatapnya dengan pandangan benci. Eren sama-sama menatap gadis itu dengan benci.

" Hei bocah! Jika kau berani menyentuh sedikitpun kulit Levi kami, Jangan harap kau bisa hidup lagi! Menjauhlah darinya bocah ingusan!"

Eren mengepalkan tangannya kuat. Memangnya dia apa!? Mau menyentuh kulit ketua kontet terkutuk itu!? Memangnya dia jalang dan pelacur!? Dia pria woi! Eren adalah seorang pria yang tidak duka disentuh dan dihina seperti itu.

" SUDAH KUBILANG AKU TIDAK AKAN PERNAH SUDI MENYENTUH APALAGI BERTATAP MUKA DENGAN KETUA KONTET YANG MENYEBALKAN KALIAN ITU!". Eren berteriak kesal sekarang.

Dia tidak suka diejek habis-habisan. Apalagi disangkut pautkan dengan pemuda cebol yang dingin pagi tadi. Persetan dia adalah penguasa disini! Jika dia sudah menghina Eren, maka Eren tidak takut untuk menantangnya.

Semua siswa menyeringai dan meneriakkan kata semoga beruntung pada Eren. Eren ingin sekali menghantam wajah mereka dengan sepatu kulitnya sampai semulus talenan jika Armin tidak menariknya paksa dan mendudukkannya seperti anak nakal di bangku paling belakang.

Armin harus menahan sakit kepala, jika Eren tidak bisa menyalurkan amarahnya maka dia akan mengoceh dan menggerutu habis-habisan seperti ini! Dia berbicara sendiri sambil mengumpat dan menggeurutu tentang Levi. Terkadang berteriak kesal.

Armin menyipitkan mata curiga. Bisa-bisanya dia tahan menggerutukan nama Levi dan mengumpat tentangnya sepanjang ini. Biasanya dia akan berhenti sebelum sepanjang ini tapi pengecualian untuk pemuda bernama Levi.

" Ehem! Hei!".

Eren segera menghentikan ocehannya dan berbalik menghadap sumber suara secepat mungkin. Begitu juga dengan Armin yang berusaha menghadap dengan terhuyung karena sakit kepala menghadapi tingkah kekanakan Eren.

Ternyata Nanaba-san berdiri di depan mereka dengan senyum.

" Hei! Maafkan kelakuan mereka... memang disini seperti itu! Tapi kalian tidak apa-apa kan?"

Eren dan Armin berpandangan satu sama lain dan memberikan senyuman manis mereka. Nanaba sempat terpesona. Mereka laki-laki tapi senyuman mereka lebih imut dan manis dari seorang gadis polos. Mirip senyuman anak-anak yang tidak pernah merasakan derita apapun di dunia yang kejam ini.

" Tidak..". Jawab Eren manis. " Terima kasih atas pertolonganmu, Nanaba san? Itu namamu bukan?"

Nanaba mengangguk. " Kalian baru ya? kalian dikategorikan beruntung karena kalian di bawah lindungan Hanji-san yang notabenenya salah satu penguasa disini".

Eren dan Armin menganggukan kepala lucu.

" Oh ya Nanaba-san!". Panggil Eren. " B-bisa kau jelaskan kenapa mereka menyebutku sebagai..nggh..m-mangsa.."

" Levi?". Sambung Nanaba.

Nanaba menghelas nafas panjang saat Eren mengangguk takut.

" Eren...biar kuberitahu ya...Levi itu adalah salah satu jajaran penguasa seluruh sekolah di Tokyo dan ketua geng berandalan terhebat disini. Tidak ada yang pernah sekalipun menyentuh Levi atau mengejeknya akan hidup. Karena dia sangat benci itu semua...dia dikenal sangat dingin dan tak berhati. Pandangannya selalu tajam dan datar. Maka dari itu dia sangat suka membunuh orang yang melakukan dua hal tadi langsung."

Eren dan Armin meneguk ludah gugup. Eren rasanya ingin sekali menangis meraung-raung pada Mikasa untuk segera menendangnya pulang ke Jerman! Lebih baik dia dimarahi ayahnya daripada mati di tempat busuk ini!

" Tapi Eren..". sambung Nanaba lagi.

Eren memasang wajah bingung pada Nanaba. " Ehh...tapi apa Nanaba-san?".

Nanaba memangku dagunya dengan tangannya dan kembali bersuara. " Ada sedikit yang berbeda denganmu Eren... aku ikut melintasi gerbang saat kejadian Levi mencekikmu pagi tadi. Aku menyipitkan mata curiga saat selama tiga detik dia tiba-tiba melembutkan pandangannya yang selalu tajam! Terutama saat matanya bertemu pandang dengan mata hijaumu yang memang menurutku itu langka. Apalagi saat dia tidak sengaja menyentuh pipi gembulmu itu. Itu benar-benar keajaiban dunia Eren!"

Nanaba tiba-tiba menggebrak meja Eren dan membuat dua pemuda itu terlonjak dan membulatkan mata horror. Eren memegang dadanya karena jantungnya berdansa ria melihat wajah Nanaba yang mengerikan saat melototi Eren. Eren reflek ikut melototi Nanaba tanpa ampun.

" Nghh... B-bisakah kau berhenti melototi Eren, N-nanaba san?". Tanya Armin takut.

Dia gemetar setengah mati melihat dua orang saling melotot seperti ingin mengeluarkan mata mereka seperti melototi hantu telanjang.

Nanaba tersadar dan menghentikan acaranya. Dia menahan tawa kuat, pantas saja senior Hanji begitu menyukai dua pemuda baru ini. Wajah mereka sangat manis dan lucu!

Eren membulatkan mata memelas seperti mata anak anjing yang kelaparan. Armin memohon-mohon dengan lembut layaknya anak kecil. Tapi yang benar-benar menyihir Nanaba adalah mata hijau emerald milik Eren.

Dia tahu alasannya sekarang kenapa Levi yang dikenal tidak tertarik dengan apapun itu dan selalu memandang tajam terbuai oleh pesona Eren.

Nanaba dapat merasakan seluruh perasaan yang terpendam di hati Eren hanya melalui matanya. Mata hijau berkilat itu seolah-olah merefleksikan diri Eren dengan begitu indahnya. Pesona mata itu begitu kuat. Nanaba bahkan tidak kuat jika harus menatap mata itu berlama-lama. Membuatnya ingin merebut Eren dari siapapun tapi dia segera tersadar dengan tatapan Levi.

Levi bermaksud menyimpan bocah manis ini untuknya. Mungkin semua orang tidak sadar. Tetapi Nanaba dapat merasakan pandangan Levi semakin menajam dan iri saat Eren tersenyum pada Hanji. Levi benar-benar akan mengambil Eren dari siapapun.

" Nanaba-san? Halo? Nanaba-san?".

Eren dan Armin melambaikan tangan mereka bersama ke depan wajah Nanaba. Nanaba segera tersadar dan tersenyum lembut pada mereka.

" Jaga Levi untuk kami semua yah Eren... Aku harus pergi sebentar karena ada urusan. Kalian bisa bersantai karena tidak pernah ada derajat guru disini. Kalian boleh bebas".

Nanaba menepuk pipi kanan Eren lembut dan pergi meninggalkan mereka berdua dengan tatapan bingung dan wajah melongo. Eren memandangi Armin.

" Apa maksudnya Armin? Memang aku siapanya kontet itu?". Tanya Eren bingung. Dia menggaruk tengkuknya yang bahkan tidak gatal sama sekali itu.

Armin menggidikkan bahu tidak tahu dan mengeluarkan buku tebal yang dibawanya dari rumah. Eren mengerang dan memutar matanya jengah.

Armin masih setia membuka buku bertuliskan ' SAINS FISIKA UNTUK KULIAH' setebal meja Eren sekarang. Eren geram sendiri pada teman pirangnya yang sangat kutu buku ini. Dia takut dipukuli hingga jatuh tapi dia berani untuk mengikuti Olimpiade Sains Internasional hingga jatuh. Itu membuat Eren pusing sendiri.

" Armin...!" rengek Eren. Dia menahan tangan Armin untuk membuka halaman berisi soal Fisika yang seperti semut bertumpuk-tumpuk itu dan memelototinya.

" Bisakah sehari saja kau tidak berkutat dengan soal-soal penyiksa manusia itu!? Itu sungguh menyebalkan...arrrggghhhh...".

Armin mengangkat sebelah alisnya dan memandangi kelas dan sekolah barunya. Kali ini gantian Armin yang memelototi Eren.

" Dengar Eren! Sejak pertama kali tiba disini, murid-murid disini tidak pernah belajar dan bebas! Jadi kita harus belajar sendiri apalagi sekolah ini tetap mengikuti ujian dan ulangan seperti sekolah lain dan jangan sekali-kali salah sangka dengan otak mereka Eren!"

Eren membuka matanya bingung dan mendengus. " Palingan otak mereka hanya setingkat anak-anak TK. Di pikiran mereka itu cuma berbuat onar saja Armin! Apanya yang harus salah sangka!?"

Armin mencubit paha Eren geram. Sahabat Jermannya itu begitu keras kepala!

" AWWWW ARMIN! Apa-apaan itu!?" teriak Eren menahan sakit.

Armin kembali melotot pada Eren. " Dengar Eren! Otak mereka sangatlah cerdas. Aku merasa mengenal Nanaba-san! Waktu Olimpiade Sains di Luxemburg , aku melihat seorang yang sangat mirip dengan Nanaba-san! Dia bisa mengerjakan soal sebanyak 50 itu dalam waktu kurang dari 30 menit! Aku saja tidak mau ke final!"

Eren mendengus. " Mungkin saja itu orang lain Armin!"

Armin menggeleng-geleng kuat. " Tidak Eren! Kumohon percayalah padaku! Itu benar-benar Nanaba-san! Jadi kumohon jangan sekali-kali meremehkan mereka!"

Eren terdiam dan lebih memilih untuk melihat keluar jendela dan menatap langit. Dia benci melihat ke bawah. Jika dia melihat ke bawah maka pemandangan perkelahian dan kekerasan lainnya yang masuk ke pikiran Eren.

Eren ingin sekali beristirahat sekarang. Mood sudah terlajur down karena terperangkap di sekolah neraka. Baru saja dia ingin menutup mata indahnya itu, seorang dengan tak tahu situasi dan adat memaksa masuk kelas mereka dan mendobrak pintu kelas.

Seluruh siswa mengumpat kasar dan keras.

Eren dan Armin terkejut karena Nanaba-san berdiri di depan pintu dengan wajah acak.

" SEMUANYA SEGERA KELUAR! KETUA LEVI DAN ROMBONGANNYA SUDAH TIBA!" Teriak Nanaba-san tanpa ampun.

Semua siswa tersentak dan berteriak dengan teriakan perang. Tanpa mengenal gender, siswa dan siswi berlari berhamburan keluar cepat. Mereka seperti mendapat hadiah dari langit. Wajah mereka mendengus sangar dengan umpatan senang.

Nanaba-san melirik ke arah Eren dan Armin yang masih duduk termangu bingung.

" EREN! ARMIN! CEPAT KELUAR JIKA KALIAN TIDAK MAU MATI!" Teriak Nanaba geram. Dia menggebrak pintu kelas.

Eren dan Armin tersentak hebat saat melihat perubahan kelakuan Nanaba-san. Mereka berlari dengan acak dan keluar kelas tapi tangan mereka berdua keburu disambar oleh ilmuwan gila tak bergender.

" GYAAA! SENIOR HANJI! KAU MENGEJUTKANKU!" Teriak Eren dengan kuat. Hanji tertawa-tawa ke arah mereka dengan wajah mendengus senang melihat bahwa dia berhasil membuat titan imutnya terkejut.

" BWAHAHAHA! KALIAN HARUS IKUT AKU SEKARANG! LEVI DATANG...HAHAHAHA...MEREKA TIBA!". Teriak Hanji.

Tanpa ba bi bu, Hanji kembali menyeret Armin dan Eren yang berteriak-teriak seperti melihat setan. Hanji tertawa senang dan melewati kerumunan murid yang berlarian ke lapangan dengan mudah. Seluruh sekolah selalu menunggu Levi dan geng mereka datang. Dan mereka selalu membuka jalan untuk teman-teman Levi seperti Hanji Zoe.

Dia menembus kerumunan dengan mudah karena mereka menghindar setelah melihat Hanji yang tertawa seperti orang gila. Berarti Hanji sedang dalam keadaan..ya...labil.

Hanji menghentikan langkahnya di bawah salah satu pohon dekat lapangan utama dan bertepuk tangan. Eren dan Armin menarik nafas sebanyak-banyak seperti ikan di darat. Mereka memegangi dada mereka yang serasa sesak sesaaat.

Hanji mengalihkan pandangannya pada Eren dan Armin yang berpeluhan. Hanji mendengus kuat melihat keadaan mereka yang sangat kacau sekarang. Terutama Eren. Wajahnya masih terlihat manis biarpun keadaannya seperti sehabis diperkosa.

Ingatkan Hanji untuk menempelkan wajah datar Levi pada muka Eren sekarang! ahh...dia ingin memasukkan obat perangsang ke dalam makanan Levi!

.

.

.

Tiga motor hitam besar memasuki kawasan sekolah dan langsung mendapat sorakan perang dari seluruh murid. Levi tentu yang memimpin. Dia datang tanpa helm. Memamerkan langsung wajah tampannya yang terkenal itu ke semua orang.

Dia hanya menatap datar dan dingin. Levi mendengar semua teriakan itu. Farlan dan Irvin telah memamerkan senyum mereka dan berhasil membius para siswi-siswi.

Eren dan Armin terkejut saat melihat Hanji melenggang ke tengah lapangan dengan santainya. Tiba-tiba saja dia berhenti dan menarik Eren dan Armin juga sambil tertawa. Membuat keduanya panik karena seluruh sekolah menatap mereka dengan tatapan aneh.

Levi menghentikan motornya sebelum menyentuh sedikitpun rumput hijau sekolah. Dia menatap semuanya dengan padangan tajam dan dingin. Dan semakin tajam melihat orang yang sangat ingin dijauhinya bersama dengan ilmuwan gila.

" YO! LEVI~~~! BAGAIMANA SOBAT!?" Teriak Hanji nyaring.

Eren dan Armin terpaksa menutup telinga mereka. Suara Hanji hampir saja merusak gendang telinga Eren!

Levi melangkah ke arah Hanji. Semua murid bersorak, para siswi mengelukan nama Levi. Dengan pandangan datar dan jalan yang tegap, Levi semakin dekat ke arah Hanji yang berteriak-teriak girang sambil menyeret Eren dan Armin.

Eren terkejut saat Levi menatap langsung ke arahnya. Membuat perasaannya campur aduk. Antara benci, gugup, takut, malu. Levi juga menyipitkan matanya. Apa maksud alien berkaca mata itu membawa bocah kurang ajar yang sudah mengejek Levi itu?

" Oi mata empat." Panggil Levi datar. Dia berhenti. " Apa-apaan maksudnya kau menarik bocah kurang ajar ke tengah lapangan?".

Hanji berhenti dan tertawa nyaring. " HAHAHAHAHA! TIDAK APA-APA! AKU HANYA INGIN MENARIK DUA PEMUDA BARU INI! SOALNYA MEREKA MANIS SEKALI SIH...! HAHAHAHA"

Eren sedikit merona mendengar penuturan Hanji dan menatap ke arah lain. Tapi takdir benar-benar membenci Eren. Saat Eren menatap ke arah lain,dia malah bertemu pandang dengan mata tajam Levi yang menatapnya intens.

Membuat Eren merasa sedikit grogi dan panik sendiri di belakang Hanji. Armin tersentak bingung melihat Eren menggeliat panik seperti cacing terpenggal.

Sebenarnya Levi merasa aneh dengan bocah itu sejak awal. Dia berbeda. Entah kenapa Levi merasa bocah itu terlalu berbeda dengan yang lain. Maka dari itu, dia menatap tajam dan intens setiap pergerakan dari bocah kurang ajar itu untuk mencari dimana titik perbedaannya.

" Kau manis bocah".

Levi mengucapkan itu tanpa sadar. Dan dia langsung sedikit melebarkan mata saat sadar mengucapkan kata itu.

Semua orang tiba-tiba hening mendengar penuturan Levi. Eren dapat mendengar jelas apa yang diucapkan Levi tadi. Lihatlah! Pipinya mulai merona dan matanya melebar. Apa yang barusan dikatakan kontet cebol ini!? Eren manis!?

Armin menganga tidak percaya. Apakah baru saja, Levi sang ketua dingin yang beringas tanpa hati itu meyebut Eren manis!? Takdir pasti sedang menendang bokong otaknya sekarang!

Semua orang di sekolah berteriak tidak mengerti dan tidak percaya. Para siswi menggeram tidak suka ke arah Eren. Farlan dan Irvin tertawa terpingkal-pingkal di belakangnya sambil menepuk-nepuk motor mereka. Hanji berteriak seperti orang gila dan berguling-guling senang.

Levi benci keributan.

" DIAM".

Satu kata hebat. Semua langsung kembali hening.

" Dengar bocah-bocah. Aku hanya berhasil menghabisi separuh Maria's Highschool karena Military Police datang. Tapi tenang"

Levi kembali mendekati Eren dan Armin yang meneguk ludah takut.

" Kita akan melakukan tawuran habis-habisan pada sekolah itu minggu depan. Laporan ditutup".

Semua orang menyuarakan teriakan perang. Bunyi perang menggema di seluruh sekolah itu. Hanji kembali berdiri dan bertepuk tangan untuk Levi. Semua langsung bubar meninggalkan Hanji, Levi, Eren, Armin, Irvin, dan Farlan sendirian di sekolah itu.

Levi menatapi Eren tanpa kedip. Membuat pemuda itu mendengus kasar serta benci.

" Oi bocah bodoh. Jelaskan padaku apa yang terjadi" Titah Levi dingin.

Eren termakan emosi. " Siapa yang kau sebut bodoh, pendek!".

Levi yang sedari tadi menggengam pisau kecil , membuat pisau itu patah dalam sekali genggaman. Dia membuang patahan pisau itu ke tanah dengan pandangan sangat tajam dan dingin. Eren bahkan terdiam melihat pisau yang sangat tajam itu mampu patah dalan sekali genggaman Levi. Dia mulai takut.

" Hah?". Tanya Levi menahan marah. Dahinya berkerut kesal dengan suara yang dalam penuh dendam.

BUUGHH!

SYATTTTTT!

" EREN!" teriak Hanji dan Armin bersamaan.

Levi menendang perut Eren kuat hingga pemuda itu terduduk lemas sambil mengerang sakit. Dengan tajam dan kasar, Levi menarik rambut mahogani Eren paksa dan membuat wajah manis Eren terangkat.

Hanji dan Armin gelisah di tempat. Farlan dan Irvin yang melihat dari kejauhan segera menghampiri Levi untuk mengetahui apa yang sudah terjadi.

Eren memandang Levi dengan tatapan yang diusahakan marah tapi malah membuat Levi tersenyum miring. Bocah ini tidak tahu perbedaan ekspresi kesal dengan ekspresi imut. Dan lagi-lagi Levi bertemu pandang dengan manik Emerald milik Eren. Dia sedikit terkejut melihat manik itu berkaca-kaca seperti cermin.

Tangan Levi dapat merasakan betapa lembutnya surai kecoklatan milik Eren. Seperti sutra.

Tapi pandangannya kembali menajam saat bocah ini mengumpat lirih tentang Levi. Membuat Levi menarik rambut Eren paksa dan semakin membuat bocah itu mengerang kesakitan.

" Bila ada orang yang bertanya, sebaiknya kau jawab bocah. Mungkin saja orang itu akan menarik rambutmu seperti ini". Jelas Levi dingin.

" Tapi itu pengecualian untukmu, kurcaci pendek!" Jawab Eren kesal.

Levi menatapi Eren semakin tajam. Urat kesabarannya selalu putus menghadapi bocah kurang ajar macam Eren.

BUUUGGGHHHH!

" LEVI~~~~ EREN! HENTIKAN!"

Hanji berteriak nyaring seperti sirine pemadam dan membuat Levi mendecih kesal ke arahnya.

" Hentikan teriakanmu mata empat. Itu mengganggu". Ucap Levi dingin.

Hanji dan Armin segera menghampiri Eren yang ditendang oleh Levi kuat dengan salah satu kakinya hingga membuat pemuda itu tersungkur dan tertendang sejauh 2 meter.

Farlan dan Irvin yang baru saja tiba terkejut melihat pemuda yang 2 menit lalu berhasil membuat Levi mengucapkan kata aneh berupa manis sekarang tersungkur karena tendangan Levi juga.

" Rivaille...hentikan tendanganmu". Ucap Irvin.

Levi mendelik singkat dari ujung matanya tanpa menoleh. Dia mendecih kecil.

Levi terus mengedarkan pandangannya ke arah Eren yang berusaha disadarkan oleh Hanji. Dan saat itulah Levi menyipitkan matanya. Eren hanya terus terpejam disaat teriakan Hanji yang menganggu itu memasuki telinganya.

" Apakah aku menendangnya terlalu keras?" Ucap levi lirih.

Levi mengernyitkan keningnya kesal. Apa-apaan dengan dirinya!? Bisa-bisanya dia memikirkan kelakuannya kepada pemuda baru itu!? Sejak kapan dia memperhatikan bocah kurang ajar seperti Jaeger itu!? dan apa-apan tadi dirinya berani mengeluarkan kata manis!?

Mengingatnya saja membuatnya ingin muntah.

Tetapi Levi tidak dapat menyangkal bahwa dirinya sedikit...sedikit sekali khawatir pada Eren yang tidak kunjung bangun. Hanji sudah berusaha membangunkannya tapi Eren tetap tidak bangun.

Anak ini begitu unik bagi Levi. Terutama dua manik hijaunya yang sangat langka itu. Membuat Levi langsung tahu bahwa Eren masih polos dengan wajah imutnya.

" Menyingkirlah mata empat".

Hanji dan Armin terlonjak dari tempat mereka karena menemukan Levi berdiri dengan tatapan kelewat dingin itu.

" E-EHH! RIVAILLE! BERHENTI MENENDANGNYA OKE! AKU BAKALAN MENCEGAHNYA TAPI KUMOHON LEVI! JANGAN SAKITI TITAN IMUTKU! HUWAAAAAAA!".

Hanji berteriak sedih sambil memeluk kepala Eren. Dia tidak mau kehilangan pemuda manisnya ini! Dia tidak punya orang untuk dikerjai lagi nantinya...dia tidak akan melihat wajah imut khas Eren lagi! Itu mimpi terburuk bagi Hanji!

" Cih! Aku tidak akan menendangnya dan menjauhlah mata empat".

Levi mendecih dan menampar wajah Hanji dengan satu kali sentakan. Membuat Hanji jatuh mencium rumput. Armin terkejut. Orang ini kuat sekali!

Levi menatap intens Eren yang terbaring lemas. Dia tidak bangun-bangun sedari tadi. Levi tersenyum miring bahwa Eren sekalipun tidak mirip laki-laki. Wajahnya mulus, bulu mata yang lentik, pipi yang berisi, dan oh! Jangan lupakan bibir mungil yang menggoda tadi.

Levi sedikit lebih lama memandangi bibir plum Eren. Dia bahkan dapat membayangkan betapa lembutnya bibir mungil itu bila disentuh. Levi yakin bibir itu berasa manis sekali.

Armin melihat khawatir saat Levi memandangi Eren lama. Jangan berpikir untuk membodohinya. Armin tahu Levi sedang menatap ke arah bibir Eren yang sedikit terbuka itu dengan pandangan tajam.

" Ehem Levi! Apa yang ingin kau lakukan dengan bocah itu!?".

Farlan tiba-tiba muncul dari belakangnya dan bersiul melihat teman dinginnya itu menatap intens ke arah pemuda seolah-olah sedang meneliti Eren dari atas sampai bawah. Levi segera tersadar dari pikiran nistanya dan mendecih.

Apa-apaan dia berpikiran seperti itu pada pemuda baru ini! Dia sudah bersumpah untuk tidak tertarik dengan siapapun apalagi dengan bocah berwajah manis ini!

Dan semuanya melebarkan mata tidak percaya saat Levi mengangkat Eren dan meletakkannya di bahunya seolah-olah Eren ringan saja dan berjalan santai.

" O-OI LEVI! KAU MAU KEMANA!?" Tanya Hanji dan Farlan bersamaan.

" UKS". Jawab Levi singkat.

Dia mendelik singkat ke arah pemuda yang dibawanya dan sedikit melebarkan mata. Dia lupa bahwa kepala Eren berada di punggungnya jadi di berhadapan langsung dengan bokong sintal Eren.

" Sialan!" Umpat Levi.

Semua orang menatap tidak percaya. EREN SI MURID BARU DIBOPONG OLEH LEVI SANG KETUA GENG BERANDAL DAN PANGERAN SEKOLAH!

DUNIA SUDAH KIAMAT!

Hanji melebarkan mata tak percaya dan tertawa terguling-guling di lapangan. Farlan bersiul-siul kecil senang melihat akhirnya teman dinginnya itu menemukan sesuatu yang menarik.

Irvin tersenyum kecil dan bertemu pandang dengan Armin. Dan Irvin seolah tertohok melihat keimutan Armin.

" Hei bocah. Kau menyebalkan, bodoh, nekad dan tak berotak". Umpat Levi.

Levi menyingkirkan perasaannya bahwa dia suka pada Eren. WHAT THE HELL! Dia bersumpah tidak akan pernah suka pada siapapun dan menutup hatinya. Titik!

Levi mendecih dan tidak menghiraukan semua pandangan orang-orang.

Dia berjanji hanya hari ini dia merasa kasihan pada bocah kurang ajar ini. setelah itu dia akan menjauhi dan membenci bocah dengan wajah manis itu.

" Cih bocah...kau aneh". Sindir Levi. Dia melenggang santai membawa Eren ke UKS.

Wajah tampan nan datarnya kontras sekali dengan wajah sayu dan imut milik Eren tapi sayang mereka berdua belum menyadari itu dan memilih untuk menyangkalnya. Terutama Levi yang tidak sudi sedikitpun seseorang mulai membuka hatinya yang sudah ia tutup rapat.

Nanaba-san yan melihat kelakuan mereka berdua sedari tadi hanya tersenyum singkat di balik salah satu tiang.

" Levi... mulailah buka hatimu yang dingin itu. Eren...jadilah matahari yang indah untuk hati Levi ya... Tapi semua bergantung padamu Levi. Kaulah yang menentukan apakah Eren akan jadi milikmu..."

Takdir memang indah tapi takdir memang menyakitkan. Ironis bukan?

.

.

.

T

B

C