CHAPTER 4
APA YANG TERJADI!?
.
.
.
Terkadang Benci dan suka itu berbeda tipis
setipis helaian rambut
.
.
.
Enjoy it
By Aulia Asrikyuu
.
.
.
" Hei bocah. Bangun kau bocah bodoh".
Levi mengerang kesal.
Bocah ini benar-benar memakan habis kesabarannya. Bahkan setelah Levi membawa dirinya ke UKS dan memberikan beberapa pertolongan pertama yang dia tahu dari ilmuwan gila itu, bocah itu tetap tidak bangun.
Eren masih terlelap dengan indahnya dengan wajah manis yang damai. Seperti putri tidur yang menunggu ciuman pangerannya. Tapi kali ini pangerannya sedikit beringas dan penyangkalan tingkat dewa.
Sebenarnya setelah Levi membawanya ke UKS paksa entah karena alasan apa, dia mau membawa bocah kurang ajar ini dengan percuma, Levi bermaksud untuk meninggalkan dan menjauhi Eren selamanya.
Tapi lihatlah buktinya! Levi merutuki dirinya sendiri yang merasa harus untuk tinggal sampai bocah ini sadar. Pikiran warasnya menyuruh untuk pergi atau menendang bocah ini sekarang juga! Tapi hatinya berkata lain dengan kuat.
Saat Levi membopong bocah ini dengan salah satu bahunya, banyak murid yang menganga. Mereka membuka mulutnya tak percaya dan berteriak histeris.
Levi mengetahui hal itu tapi dia sangat malas untuk merespon dengan apapun. Yang dia pikirkan sekarang, bocah kurang ajar harus segera sampai ke UKS dan dia bisa pergi dari sekolah ini untuk menenangkan pikirannya yang tiba-tiba aneh hari ini.
Tapi entah kenapa, hatinya tiba-tiba seperti terbakar saat melihat beberapa siswa menajamkan pandangannya pada bokong Eren yang terekspos bebas ke udara. Dia baru menyadari itu saat melihat seorang siswa yang terjatuh gara-gara melihat Eren.
Levi mengernyitkan dahi kesal. Mereka mememandanginya seperti serigala kelaparan. Dan entah kenapa lagi Levi sangat tidak terima itu.
Dia melemparkan tatapan tajamnya yang terkenal itu dan menggertakkan gigi. Memberikan sebuah tanda menjauh yang kentara pada siswa-siswa itu.
Para siswa badung itu menangkap peringatan Levi dengan cepat dan memilih menjauh daripada harus mati mengenaskan di tangan pemuda dingin itu yang merupakan penguasa mereka.
Dan Levi menatap semua laki-laki tajam. Dia mengerti maksud tatapan mereka sejak Levi mulai berjalan. Tidak seperti wanita pelacur yang memandangi Levi dengan ganas dan menggoda yang membuatnya muntah, mereka menatap bokong Eren dengan pandangan menggiurkan. Bokong Eren sangat menyerupai milik perempuan. Dan Levi sangat benci tatapan itu.
" Kalian...Menjauh atau kalian buta". Titah Levi dingin. Nadanya serasa gelap dan tak bersahabat.
Dia menguatkan bopongannya pada Eren dan berusaha menutupi bokong pemuda manis itu dengan lengannya yang kokoh. Matanya menatap tajam dan memberikan ancaman penuh pada mereka.
Semua siswa laki-laki itu menunduk takut dan membuka jalan untuk Levi ke UKS. Eren masih belum sadar biarpun kepalanya sudah terantuk-antuk dengan punggung tegap Levi.
" KYAA! ITU LEVI DAN DIA MEMBAWA BOCAH INGUSAN ITU!"
" APAKAH DIA KEKASIHNYA!?"
" TIDAK! LEVI-KU!"
" LEVI...AWAS KAU BOCAH BODOH!"
Levi mendengar semua teriakan itu. Yang tentu saja berasal dari sebagian besar siswi yang tiba-tiba menyembulkan kepalanya keluar saat tahu dirinya berjalan. Maka dari itu, Levi sangat membenci berjalan seperti ini. Dia lebih memilih membuat onar di luar atau diam di ruangan khususnya.
Ho! Jangan remehkan Levi.
Dia mempunyai ruangan sendiri untuk dirinya di sekolah ini. Levi maniak kebersihan. Yang membuat seluruh sekolah ini bersih adalah dirinya dan dia akan segera memutilasi orang yang berani menentangnya. Dia mengaku dia berandalan dan sangat badung, tapi dia tetap menjaga kebersihan.
Satu peraturan penting di sekolah ini jika kau tidak mau dibunuh Levi saat itu juga. Yaitu jangan pernah menyentuh Levi sedikitpun atau mengotori propertinya. Jika Levi tahu kau menyentuhnya, bersiap-siap tanganmu putus tak bersisa.
Levi terus berjalan dengan tatapan tajam dan wajah sedatar talenan tidak menyadari bahwa dia berada di depan UKS. Dan dia segera mengerutkan dahi melihat UKS yang menurutnya lebih seperti tempat gelandangan sampah.
Kasur yang berantakan, tirai yang lepas, lantai penuh debu, jendela retak dan yang membuat Levi makin kesal saat bau sperma memenuhi ruangan ini. Dia yakin bahwa ada beberapa siswa yang baru saja melakukan seks liar disini tanpa membersihkannya.
Levi menyentuh dinding dengan telunjuknya dan segera setumpuk debu berkumpul di jarinya. Baru seminggu yang lalu dia membersihkannya, sekarang sudah kembali seperti tempat gelandangan.
Dia mendesis dan bersumpah akan menenggelamkan kepala siswa yang melakukannnya ke dalam racun sianida dan asam sulfat tinggi sampai kepalanya mendidih seperti panci rebus dan menghancurkan wajah tak berdosa murid-murid itu.
Levi melenggang ke dalam dengan tatapan datar dan mood yang teramat buruk.
Dia melempar Eren ke ranjang sembarang seperti sebuah mainan dan membuat Eren terpental sendiri. Wajahnya menghantam ranjang dengan telak tapi bocah itu tetap tidak bangun.
Levi membuka paksa kotak P3K yang tergeletak di ujung ruangan. Dia mendecih melihat kotak itu kotor dan tak terawat. Membuatnya harus melakukan inspeksi mendadak pada seluruh siswa disini.
Eren mengerang dalam pingsannya tanpa membuka mata. Dia mendesah lelah dan mengerangkan sebuah nama yang membuat punggung Levi tegak seketika. Matanya sedikit melebar mendengar nama orang yang disebut Eren. Levi mendelik Eren tajam berusaha memastikan pemuda itu tidak mengerjainya.
" M-Mikasa..." Erang Eren lelah. Setelah itu dia membalikkan badan memunggungi Levi yang sekarang sedang menatapinya dingin dengan aura gelap yang menguar kentara.
Bocah ini punya hubungan apa dengan Mikasa?
Levi segera berdecak kesal mengingat gadis Ackerman itu. Yang menggagalkan acaranya menghancurkan Maria's Highschool. Dia tahu bahwa gadis itu yang menelpon Military Police dan membuat mereka menjadi buronan.
Dia mengambil perban, kapas, alkohol dengan perasaan kesal. Dia memungutnya sembarang dan menghampiri Eren. Levi mengernyitkan dahinya. Bocah ini melakukan perawatan kulit macam apa?
Lihat kulit lembut seperti kulit bayi dan merona itu. Pipi gembul yang mulus, bibir mungil plum dan bulu mata yang lentik. Biarpun luka dan memar memenuhi wajahnya tapi Levi akui wajahnya masih tetap memancarkan pesona manis.
Levi menutup wajahnya dan mengerang. Apa yang dia kembali pikirkan tentang bocah ini!? Bocah ini hanyalah bocah kurang ajar yang nekad dan bodoh. Dan Levi benci semua itu.
" Hei bocah. Bangun kau bocah bodoh".
Levi benar-benar mengerang kesal. Dia ingin sekali menghabisi nyawa Eren dan menghancurkan wajah manis tak berdosa yang selalu membuatnya berpikiran aneh.
Dengan kasar, Levi mengambil salah satu kursi tidak terpakai dengan sebelah kaki dan menyeretnya tepat di depannya. Dia mengistirahatkan bokongnya di kursi empuk itu dan menatap lurus ke arah Eren yang masih terlelap.
Sebenarnya dia sangat penasaran dengan mata hijau milik bocah baru ini. Hijau Emerald yang bersinar seperti mentari. Levi ingin melihat kilau mata itu kembali tetapi Eren menyembunyikannya sekarang di balik kelopak matanya yang lembut.
" Bocah, buka matamu".
Tetap tidak ada jawaban. Hanya dengkuran halus Eren dan nafas berat Levi yang mengisi keheningan ruangan itu.
Tanpa Levi sadari, tangannya terangkat dengan sendirinya dan menyentuh pipi Eren.
Membuat pemuda manis itu menggeliat karena merasakan kehangatan yang nyaman menyelimuti salah satu bagian wajahnya.
" Lembut". Tukasnya tanpa sadar.
Dan dia segera mengernyitkan dahi mengucapkan kata terkutuk itu tanpa sadar...lagi. Matanya menajam ke arah Eren yang terlelap dengan nyamannya.
PLAAKKK!
" AWWWW!"
Eren terbangun dan berteriak dengan wajah yang buruk. Dia merasakan sebuah tamparan yang dapat dibilang SANGAT keras itu melayang ke salah satu pipi gembulnya. Dan segera menyadarkan syaraf-syarafnya sedang tertidur dan kaku seketika setelah orang itu menendang Eren seenak wajah talenannya. Siapa lagi kalu bukan Levi dingin dan cebol itu!? Mengingatnya saja membuat Eren kesal sendiri.
Eren mengerjap-ngerjapkan matanya yang terpaksa terbuka. Dan menemukan tubuhnya berada di ruangan yang kotor tapi penuh alat kesehatan.
" Jadi itu cara membangunkan bocah pemalas sepertimu".
Punggung Eren tegak seketika. Jangan bilang bahwa dia tidak sendiri disini! Tapi lebih buruknya...Eren mengenal suara datar dan gelap itu. Dan membuatnya takut setengah mati.
" S-senior Levi?"
" Apa-apan dengan kata Senior itu bocah? Ganti. Aku tidak suka".
Levi mengernyitkan dahi mendengar Eren memanggilnya Senior.
Eren meneguk ludah berat dan memberanikan diri menoleh. Dirinya menemukan seorang pemuda kurang tinggi dengan wajah setampan malaikat dan tatapan tajam setajam belati itu menatapinya tanpa kedip.
Eren merona. Dia diapandangi lekat oleh seorang setampan Levi. Biasanya Eren akan selalu menyumpah dan mengutuk pemuda pendek dengan semua mantra penyihir Jerman dan menjampi-jampinya seperti orang gila. Mengingatnya saja membuat Eren geram.
" Tangan". Titah Levi.
Eren mengernyitkan dahi kuat ke arah Levi. Alisnya menukik dan matanya menyipit. Apa-apaan maksudnya dengan tangan? Dia memandangi tangannya sendiri dan menemukan tangannya penuh luka memar. Eren membulatkan mata.
" Apa yang sudah kau lakukan padaku, Dasar pendek!?". Teriak Eren geram.
Jika saja dia boleh untuk melakukan itu, Levi pasti sudah akan memotong lidah Eren dan menendang wajahnya habis-habisan sampai hancur tak bersisa. Tapi situasinya sekarang berbeda. Dia harus menjauh dari bocah berisik ini.
" Berikan saja tanganmu bocah". Desis Levi. Dia berusaha menahan emosi yang sudah naik sampai ke ubun-ubunnya. Kapas di tangannya telah dia remas habis-habisan demi menahan hasrat untuk menghancurkan tulang pipi Eren.
Eren memeluk tangannya dan memberikan wajah kesal dan curiga yang imut pada Levi. Dia mengerutkan bibir tipisnya, alisnya menukik dan mata hijau emerald-nya berkilat marah.
" K-kau mau apa lagi kontet!?"
BUUM! Urat kesabaran Levi putus. Bocah ini benar-benar kurang ajar sekali.
Levi melempar kapas dan perban di tangannya kasar ke lantai dan menciptakan bunyi. Eren tersentak saat menyadari Levi mengeluarkan aura lebih gelap dari biasanya. Pandangannya lebih dingin dan menusuk dan tangannya terkepal kuat.
Levi bangkit dari duduknya dan menendang kursi miliknya kuat. Eren tercekat saat kursi itu menabrak dinding UKS dan hancur berkeping-keping. Bahkan dindingnya ikut retak.
Eren memandangi Levi dengan ekspresi takut sekarang. Matanya melebar dengan peluh yang membasahi wajah manisnya. Mulutnya membuka.
" L-levi! Apa yang a-akan kau lakukan!?" Teriak Eren panik.
Pasalnya Levi berjalan mendekat ke arahnya dengan sorotan mata tajam yang membuat nyawa Eren serasa melayang. Eren beringsut-ingsut mundur di kasurnya sampai punggungnya menyentuh dinding.
BUUM! Tidak ada jalan untuk kabur Eren! MAMAH MIKASA! TOLONG NYAWA EREN!
Eren menggeliat panik di tempatnya tanpa mengalihkan pandangan pada Levi.
SYATTTTT!
" Akkkhhh!". Erang Eren.
Levi menarik kuat kerah seragam Eren dan mengangkatnya ke udara. Membuat leher Eren tercekik dan menghalangi udara memasuki paru-parunya. Lehernya terasa panas dan tertekan.
" Dengar bocah". Levi menatap tajam ke arah Eren. Nada suaranya gelap dan dingin. " Jangan pernah sekalipun membantahku atau kau tahu sendiri akibatnya".
Levi mengeratkan tarikannya dan membuat Eren mengerang makin keras. Air mata menetes dari dua manik Emerald Eren yang menatap lemas ke arah Levi yang terlihat sangat berkuasa.
" T-tolong..kkhhh" mohon Eren.
Levi mengerang kesal di dalam hatinya. Bisa-bisanya dia mencelos melihat wajah kesakitan Eren saat ini! Dia harus segera menjauh dari bocah ini secepatnya!
" Damn!". Umpat Levi dan dia melepaskan tarikannya pada kerah Eren.
Levi menghempaskan tubuh Eren ke ranjang dan membuat pemuda manis itu memegangi lehernya kesakitan. Eren menepuk-nepuk ranjang dan terbatuk parah sambil memegangi dadanya yang tertekan.
Levi memungut kapas dan perban yang telah dia buang dan mendecih. Mata tajamnya kembali menatap Eren intens. Bocah itu masih setia terbatuk.
Tanpa persetujuan dari Eren, Levi segera menarik tangan kanan Eren paksa dan menghadapkannya ke wajahnya. Eren tercekat setengah mati dan mengerang sakit. Levi menekan luka memarnya!
" Sshhh...S-sakit!". Teriak Eren.
Levi mendelik singkat. " Diam bocah".
Eren lebih memilih untuk bungkam suara dan mematuhi titah Levi daripada menemukan bahwa dirinya dicekik kembali oleh ketua cebol ini!
Levi menuangkan alkohol ke kapas dan meremasnya sedikit. Eren membulatkan mata saat melihat kapas itu akan disapukan ke lukanya. Tangan Eren meronta di genggaman Levi dan membuat Levi mendesis tidak suka.
" J-jangan.." Mohon Eren. " I-itu sakit..."
Levi mendecih. Dia memang lebih suka melihat bocah kurang ajar di depannya ini makin kesakitan. Apalagi itu dilakukan oleh dirinya. Benar-benar pembalasan dendam yang manis.
Levi menekan kapas itu paksa pada salah satu luka terbuka di tangan Eren dan membuat bocah itu reflek berteriak sakit dan menegangkan tangannya. Seolah-olah dia memang tidak peduli, Levi makin menekankan kapas itu ke luka lainnya yang berjarak tidak jauh.
" L-levi! K-kumohon hentikan...". pinta Eren dengan wajah memelas. " I-itu sakit sekali...ahhh!"
Kapas tadi dibuang sembarang oleh Levi. Dia melepaskan tangan Eren dan segera bocah itu memeluk tangannya kuat. Mata tajam Levi menatapi bocah itu datar.
" Wajah". Ucap Levi
" E-ehh a-apa tadi?" tanya Eren gugup.
Levi mengerang kesal, " Wajahmu bocah."
Eren segera sadar maksud Levi dan menggelengkan kepalanya kuat. Sudah cukup dengan sikap Levi yang bukan membantu menyembuhkannya melainkan menyiksanya! Eren tidak mau wajahnya berlaku sama!
Levi mengerutkan dahi bingung. Apa maksud bocah ini?
" Oi Jaeger. Kuminta itu wajahmu bukan gelengan kepalamu".
Levi menarik dagu Eren paksa dengan kasar. Membuat dia dapat melihat keseluruhan wajah manisnya. Matanya menatap lurus ke manik emerald Eren yang berkilat tidak suka. Levi membenarkan bahwa Eren berbeda tapi dia tidak tahu apa yang berbeda.
Dia membalik wajah Eren hingga pipi kiri gembulnya menghadap Levi. Ada memar kebiruan yang cukup besar disana. Menutupi rona merah pipi Eren. Levi tersenyum miring.
Dia memgambil kapas baru dengan satu tangannya yang cekatan dan mengisinya dengan alkohol baru. Eren meronta saat kapas basah itu berjarak 2 cm dari pipinya. Eren menutup matanya takut. Dia tidak suka ini!
GRABB!
" ITU SAKIT SEKALI LEVI!" Teriak Eren.
Levi membulatkan matanya saat bocah ini masih berani menangkap tangannya dan mencengkram pergelangan tangannya kuat seolah-olah takut berpisah. Eren menutup matanya sambil terengah-engah. Levi mendesis
Dia menarik dagu Eren lebih kuat dan membuat bocah itu mendongak paksa sambil berteriak sakit. Levi menatapi Eren dengan tajam seolah-olah ingin membunuh Eren hanya dengan matanya.
" Peraturan kedua bocah..." Desis Levi kuat. " Jangan pernah menyentuhku atau propertiku, jika itu terjadi kau mati"
Eren melirik Levi dengan susah payah. Dia hanya mampu meraung-raung mengiyakan karena pita suaranya tertarik oleh dongakan. Dia sangat membenci ketua kontet ini! Dia bersumpah akan menyumpahi Levi sampai lemas!
Levi meremas kapas berakoholnya geram. Membuat cairannya sedikit terkuras.
Dan tanpa ba bi bu lagi, dia menempelkan kapas itu kasar ke arah pipi Eren yang membiru. Eren berteriak.
Levi tersenyum miring, dia semakin menekan kapas dengan ganas. Tidak mempedulikan Eren yang menahan sakit mati-matian. Dia sudah mendapat peringatan nyata dari Levi untuk tidak menyentuhnya. Jika boleh menyentuhnya, Eren pasti sudah menarik-narik rambut Levi dan berteriak seperti ibu yaang kebelet melahirkan.
Tapi sayangnya, sentuh Levi maka nyawa Eren melayang. Eren masih cinta hidupnya makanya dia menggigit bibir bawahnya kuat sampai berdarah.
" Oi bocah. Jangan gigit bibirmu, bodoh. Kau mau kapas ini menekan bibir keparat itu sampai robek?"
Eren tersentak dan melepas gigitannya. Tapi gantinya dia berteriak.
" AHHHH!". Teriak Eren kesakitan.
Levi mengernyit. Dia berhenti menekan-nekan kapas berakohol campur darah di pipi Eren.
" Hei Jaeger. Kau laki-laki atau perempuan? Suaramu seperti gadis pelacur "
Eren melotot reflek saat dia disebut perempuan. Apalagi gadis pelacur!
" AKU LAKI-LAKI! DAN AKU BUKAN GADIS PELACUR KONTET!"
Tatapan Levi menajam. Giginya bergemeletuk menahan amarah yang menguasainya sekarang. Dia menekan kapas pada pipi Eren lebih dalam. Menggantikan hasrat untuk menambah luka pada Eren.
Dia mendesis dan menatap langsung ke manik Emerald Eren tanpa ampun. Tatapan pemimpin serigala yang haus darah. Membuat Eren menyesali semua ejekannya. Levi menatap semua pergerakan Eren tanpa ampun. Dan amarahnya membuncah saat mata mangsanya berani berpaling dari tatapan belatinya.
" Akh! L-levi...l-lepashh"
Air mata jatuh dari mata Eren yang seindah Emerald. Levi kembali menarik dagunya. Lebih kasar dan kuat dari sebelumnya. Dan memaksa Eren menatapi mata hitam tajam milik Levi. Mata itu seolah-olah memberikan peringatan nyata dan teror pada pikiran Eren.
" Kau masih tidak mengerti peraturanku bocah? Perlu ku praktekkan langsung hukumannya agar membuat bocah kurang ajar sepertimu ini mengerti?"
" L-levi...s-sakit" Mohon Eren.
Dagu dan pipinya yang terluka jadi sasaran jari Levi yang mempunyai kuku cukup panjang itu. Menekannya kuat, memberikan ultimatum yang ganas dari perbuatannya.
Levi menatap Eren datar. " Rasa sakit selalu jadi guru yang baik untuk bocah kurang ajar sepertimu, Jaeger. Jadi...rasakanlah bocah"
" ARRGGHHHH! LEVI! KUMOHON HENTIKAN...AKKHHH!"
Eren benar-benar berteriak sekarang. Dia mengeluarkan semua suara yang ada dalam pikirannya. Tidak peduli suaranya akan habis atau telinganya rusak karena itu tidak sebanding dengan rasa sakit dan terkejutnya sekarang.
Entah setan apa yang merasuki Levi, dia menancapkan giginya yang putih itu pada kulit leher tan Eren. Menggigitnya kasar dan melukai kulit lembut itu dengan ganas dan tiba-tiba. Alis Levi menukik tajam dan semua suara Eren makin menaikkan hasratnya untuk menghabisi kulit leher Eren sekarang.
Eren hanya mampun menepuk-nepuk kasur tempat mereka dengan beringas sampai tak berbentuk. Air mata mengalir deras dari manik Eren. Mulutnya sudah tak mampu berteriak lagi. GIGI LEVI SEPERTI GIGI SINGA!
Eren bahkan mampu merasakan bahwa gigi itu menembus dan merobek kulit lehernya yang lembut itu. Menarik beberapa darah keluar dari gigitan itu.
" Cih! Menjauh dariku bocah keparat!". Maki Levi.
BRUUKKK!
" GYAAAH!"
Eren terpantul ke kasur dengan bagian belakang kepala menghantam telak kasur yang tidak bisa dibilang empuk itu. Dia mengerang dan terengah-engah di ranjang lemas. Tangan kanannya menutup wajah manisnya yang penuh dengan peluh.
Levi tepat di atasnya. Benar-benar posisi yang sangat ambigu jika mereka sadar.
Levi berdiri dengan bertumpu pada lututnya yang mengangkang mengunci Eren. Sedangkan Eren terlentang lemas di bawah Levi yang menatapnya dengan tajam. Seragam Eren acak-acakan dengan peluh membasahi tubuh.
Dengan ganas, Levi menarik rambut lembut mahogani Eren. Membuat Eren mengerang lelah. Matanya menatap orang di atasnya dengan sayu. Tenaganya terkuras habis akibat perbuatan Levi.
Levi mendesis dan memutar kepala Eren ke kanan kasar. Eren tidak punya sisa tenaga lagi untuk melawan dan memilih mengikuti semua perbuatan Levi pada tubuhnya.
Senyuman angkuh tercetak di wajah tampan dan datar Levi. Mata tajamnya menangkap luka kebiruan dengan darah beku di sisi kanan leher Eren. Mencetak jelas sebuah tand besar di kulit tan keputihan itu.
Levi berdiri dari posisinya dan turun dari ranjang membelakangi Eren yang mengerang lelah. Dia mendecih. Setan apa yang baru merasukinya untuk menggigit leher bocah itu!? Levi menggosok bibirnya jijik dan meludah ke lantai.
" Darahmu busuk bocah.". Maki Levi.
Eren melirik dari ujung matanya dan mengerang tidak suka saat Levi selalu mengatakan hal yang buruk padanya maupun pada tubuhnya. Ingatkan Eren untuk memanggil dukun Jerman dan menjampi-jampi cebol Levi agar makin cebol. Seperti pohon cabe!
Levi membenarkan letak jasnya dan mengambil Iphone hitam dari saku jas merahnya. Dia memencet beberapa nomor dan meletakkan Iphone mahal itu ke samping telinganya.
" Mata empat. Ke UKS sekarang". Sambar Levi datar.
" TAPI LEVI! BAGAIMANA DENG−"
Tuutt
Sambungan terputus.
Levi memasukkan Iphonenya dengan kesal ke dalam saku jasnya. Eren sweetdrop. Bisa-bisanya kontet ini menghindari Hanji−si Ilmuwan gila yang cinta Titan dengan mudah?
Levi membalikkan badannya dan menatap tajam Eren. Eren tercekat seketika melihat mata obsidian itu kembali menatapnya sama dengan tatapan saat sedang marah.
" Dengar bocah. Kau murid disini sekarang, aku yang berkuasa. Semua peraturan disini adalah titahku. Kau melanggar maka bersiap-siap merasakan mati bocah" Jelas Levi dengan nada datar.
" Tapi ak−"
BRAKKK!
Eren menganga terkejut sekaligus takut.
Bagaimana tidak!? Levi tiba-tiba menginjak permukaan kasur kasar dengan salah satu kakinya. Dia menyilangkan tangan angkuh dengan tatapan tajam dan wajah datar. Dan Eren harus menahan nafas karena kaki kokoh itu hampir MENGINJAK KAKINYA! DASAR TUAN MODUS KONTET!
" Tapi apa bocah? Mau mati sekarang? Akan lebih menyenangkan jika seperti itu".
Eren reflek menggeleng kuat. Mata Emeraldnya membulat tetapi berkilat benci dan tidak suka.
Baru saja Eren ingin buka suara tetapi seseorang dengan sangat gila mendobrak pintu UKS seperti orang kesetanan.
" EREN IMUTKU!~~~"
Hanji berteriak kuat dengan wajah penuh airmata bahagia dan ingus yang mati-matian dia tahan tapi tetap saja keluar. Levi yang sudah mengalami mood sangat buruk karena mengurusi Eren− bocah kurang ajar harus benar-benar down sekarang.
Dia sangat tidak suka dengan apapun yang menjijikan. Hanji adalah ilmuwan yang tahu kesehatan tapi dia malah mencerminkan penyakit dan virus itu sendiri dari ilmuwannya.
" SENIOR HANJI!" teriak Eren kaget.
Levi menendang kaki jenjang Hanji dengan bringas. Membuat Hanji jatuh menimpa lantai keras UKS telak. Menciptakan bunyi debuman yang sangat keras.
Armin, Farlan, dan Irvin yang mengikuti Hanji kaget seketika. Levi mendecih kesal dan menindih punggung Hanji yang tengkurap dengan salah satu kakinya.
" Oi Mata empat. Selagi lagi aku melihat wajah menjijikan itu, yang kutendang lain kali bukan kakimu tapi wajahmu"
Hanji meraung-raung sambil menunjuk-nunjuk Levi yang ada diatasnya.
" Rivaille...hentikan. Kau yang memanggil Hanji..." Jelas Irvin dengan tegas.
Armin yang melongo melihat keadaan Eren dan Hanji tersentak saat tangan kekar Irvin menyentuh pundaknya. Pemuda pirang itu melirik ke arah Irvin dan meneguk ludahnya berat saat dua mata sewarna langitnya bertemu dengan biru wibawa Irvin.
" Kau yang modus Irvin. Jauhkan tanganmu dari bocah pirang itu, pedophil" Ketus Levi.
Irvi mengangkat tangannya menyerah dan diam. Farlan tertawa di belakang Irvin membuat Levi memicingkan matanya tajam.
" Apa yang lucu Farlan?" Tanya Levi sakartis.
Farlan menghela nafas panjang, " HAHA! Tidak ada apa-apa Rivaille...hanya saja yang modus bukan Irvin saja melainkan KAU JUGA! Sadarlah kawan!"
Levi mengernyitkan dahinya kuat pada Farlan. Memberikannya tatapan tajam tanpa ampun. Wajahnya datar dan dingin.
Dia mengikuti arah telunjuk Farlan dan menemukan Eren yang terduduk di kasur dengan seragam acak seperti sehabis digauli kasar. Levi mendecih dan menendang Hanji supaya bangun.
" Bangun kau mata empat"
Hanji berdiri dan merengutkan mulutnya kuat.
" Tumben kau memangilku Rivaille! Ada apa! Dan kenapa dengan Eren!?"
Levi menatap Eren dan Eren memalingkan mata takut. Dia menutup wajahnya imut dengan kedua tangannya dan memaki-maki Levi lirih. Armin berlari menghampiri Eren dan memeriksanya.
" Obati dia. Dan jauhkan dia sejauh-jauhnya dariku"
Hanji berteriak bingung. " HE! LALU TADI KAU BAWA KE UKS SELAMA 15 MENIT UNTUK APA!? AKU BINGUNG..."
" Mengajarinya disiplin". Ucap Levi datar.
Dia menghampiri Farlan dan Irvin di depan pintu UKS dengan wajah dingin dan tatapan tajam.
" Kunci motorku".
Farlan melempar sebuah kunci perak pada Levi dan dengan sigap dia menerimanya. Levi melirik Irvin singkat.
" Erwin... besok. Inspeksi satu sekolah. Aku benci neraka kotor ini, Ketua OSIS"
Irvin menghela nafas panjang. " Kuberi izin Rivaille. Inspeksi semaumu. Tapi bocah baru itu?"
Levi melirik Eren tajam. Membuat Eren, Armin, dan Hanji yang panik melihat lebam Eren meneguk ludah berat. Ini pasti buruk.
" Dia...Hanji saja yang urus. Aku malas bertemu dengan bocah kurang ajar itu"
Levi berjalan mendahului Irvin dan Farlan. Membuat dua pemuda itu bingung.
" Oi Rivaille!". Panggil Farlan. " Kau mau kemana?"
Levi terus berjalan maju tanpa menyahut apapun. Tapi dia memberi simbol huruf V dengan tangan kanannya. Membuat dua pemuda itu menyeringai dan bertepuk tangan singkat.
" KAMI IKUT!" teriak Farlan.
Dia mengangkat tongkat berdarahnya dan berjalan mengikuti Levi. Diikuti Irvin. Hanji melambai-lambai kuat dan berteriak perpisahan sambil memegangi tangan Eren yang luka. Membuat Eren meringis.
Armin berusaha mengelap semua peluh Eren dan tersentak melihat luka biru di leher Eren. Seperti luka bekas gigitan yang dalam.
" Eren...k-kenapa dengan l-lehermu?" Tanya Armin.
Eren tersadar dan menutup lukanya. Dia berusaha tersenyum kepada Armin walaupun dia memaki Levi habis-habisan karena dengan seenak jidatnya dia membuat luka yang takkan hilang dari leher Eren!
" T-tidak apa-apa kok Armin...Hehehe"
Hanji menarik tangan Eren dari lehernya cepat dan membuat kedua pemuda itu tersentak. Hanji terkejut tetapi dia tersenyum. Dia tahu luka apa itu...dia pernah mengukur jarak gigi taring Levi dan dia tahu ini punya siapa.
" Eren..." Panggil Hanji lembut.
Eren menengok senior berkacamatanya itu. " Y-ya senior Hanji? A-ada apa?"
Hanji membetulkan letak kacamatanya. " Pulanglah dulu hari ini...kau kelihatannya banyak beban sekali hari ini... Nanti besok datanglah lagi. Tapi lebih pagi ya...ke Laboratoriumku. Ada yang ingin kuceritakan..."
Hanji berusaha untuk tidak tertawa terbahak-bahak melihat Eren dan Armin yang membulatkan matanya bingung dengan imut. Jadi dia hanya mengulum senyum lebar.
" HEEEH!?" Teriak Eren dan Armin bersamaan.
.
.
.
T
B
C
XD
MIND TO RnR?
