CHAPTER 5

.

.

.

AN ATTACK ON TITAN FANFIC

CAST : ALL SNK CHARA

WARNING : YAOI DAN MATURE CONTENT!

.

.

.

Pairings :

RIREN ( MAIN)

ERUMIN

JEANXARMIN

.

.

.

ENJOY IT!

BY Aulia Asrikyuu

.

.

.


"Sssh ... Armin! Jangan disentuh! Awww!"

Eren mengerang luar biasa saat luka di lehernya disentuh. Armin dan Eren memutuskan untuk mengikuti saran Hanji untuk pulang. Pertama-tama Armin merasa sangsi untuk pulang sebelum jam berakhir karena saat di London, dia sudah terbiasa untuk disiplin.

Tapi setelah melihat Eren yang memelas kesakitan padanya, terpaksa dia harus membawa mereka pulang terlebih dahulu.

" Armin...bisakah kita pulang lebih cepat!? Aku lelah...huwaaa.." Rengek Eren.

Eren terus menerus menarik kerah seragamnya demi menutupi luka kebiruan yang tercetak jelas pada leher tan keputihannya. Tapi apa daya...luka itu begitu dalam dan jelas sehingga membuat Eren risih sendiri.

Armin menghujaninya banyak pertanyaan dan menyentuh luka itu terus menerus sedangkan mata para siwi memicing tajam ke arah Eren yang menutupi luka di lehernya. Dia beberapa kali meloncat kesal saat luka itu ditekan oleh Armin.

" ARRRGGH ARMIN! SUDAH KUBILANG UNTUK TIDAK MENYENTUHNYA!". Teriak Eren nyaring.

Dia meloncat kuat. Sedangkan Armin melotot tajam padanya.

" Bila kau tidak mau kutekan terus-menerus setidaknya beri tahu aku kenapa bisa ada luka di leh− HMMMPPPH!"

" SSSTTT! ARMIN! SUDAH KUBILANG UNTUK TIDAK NYARING-NYARING!".

Eren menutup mulut Armin kuat dan mengedarkan pandangan panik ke seluruh penjuru sekolah. Mereka tepat berada di gerbang depan yang penuh siswa badung. Sebagian besar dari mereka memandangi mereka sedari tadi. Maka dari itu Eren berusaha berhati-hati dengan lehernya.

Dia menarik Armin cepat ke arah jalan. Sedikit menjauh dari gerbang sekolah.

Mereka berhenti tepat di bawah sebuah pohon sakura yang belum mekar. Eren mengedarkan pandangan curiga yang imut. Mata emeraldnya menyipit manis dengan pipi yang menggembung. Rambut mahoganinya turun menutup matanya dan dia meniupnya.

Drrrrt ... Drrrrt DRRR ... ..

Eren dan Armin menghentikan aktivitas mereka saat sesuatu bergetar dari kantong celana Eren.

" Eren...handphone-mu berbunyi". Tunjuk Armin pada kantong celananya.

" Oh iya.." Jawab Eren. Dia menarik handphone Samsung hitamnya yang masih jadul itu. Dan membuka kuncinya.

Nama Mikasa Ackerman tercetak jelas di layar hijaunya. Eren berteriak-teriak girang hingga membuat Armin heran sendiri.

" A−ada apa Eren!? Siapa yang memanggilmu!?" Tanya Armin panik.

Eren memalingkan wajahnya menghadap Armin dengan ekpresi menangis bahagia. Armin semakin panik. Ada apa dengan Eren sekarang!?

" Armin..." Panggil Eren lirih. " Akhirnya malaikat kita datang...ahh..rasanya aku ingin menangis"

Armin menaikkan sebelah alisnya bingung. " Bicara yang benar Eren! Apa yang kau maksud dengan malaikat penjaga? Kau membuatku semakin bingung".

Eren menepuk jidatnya. Sejak kapan otak cemerlang Armin buntu speperti ini? Biasanya dia lebih tanggap dari siapapun dan juga yang biasanya buntu luar biasa itu Eren! Salahkan otaknya yang kadang-kadang sengklek seperti otak kodok dan kadang-kadang bercahaya seperti otak lumba-lumba.

" Aduh Armin! Sejak kapan kau jadi sengklek sepertiku hah!? Apakah otakmu baru saja memakan obat dari senior Hanji!?" celoteh Eren geram. Dia menunjuk-nunjuk kepala Armin kesal.

Armin menepis jari Eren yang terus-terusan menekan kepalanya. Dia bukan hanya menoel saja tapi mendorong sengaja. Membuatnya sedikit terdorong dengan keras.

"Aissh..Eren! Hentikan itu! Sakit tau ... angkatlah telponmu! Itu semakin berbunyi"

Eren tersadar dan baru ingat dengan telponnya yang terus-terusan berbunyi tanpa henti. Eren memaklumi kebiasaan Mikasa yang tidak akan mematikan panggilannya sampai Eren benar-benar menjawab.

" Halo Mikasa..." Panggil Eren lembut. Dia tidak ingin membuat gadis itu tau keadaaannya. Bisa-bisa Eren dipasung di kamar dan tidak akan dilepaskan olehnya.

" Halo Eren". Jawab di sisi lainnya. " Bagaimana sekolahmu? Apakah kau baik-baik saja? Kau tidak terluka bukan? Kau diapa-apakan oleh orang sana? Apakah kau dipukuli? Apakah kau kesakitan...a−"

Eren sedikit menjauhkan handphone-nya karena Mikasa terus menerus membanjirinya dengan pertanyaan. Sebenarnya semua pertanyaan Mikasa itu benar dengan keadaan Eren sekarang tapi dia sangat malas untuk membalasnya.

" Mikasa...aku baik-baik saja disini". Bohong Eren.

Armin hanya menyeringai mendengar jawaban Eren sambil menekan luka di leher Eren dan membuat Eren mengaduh. Eren melotot ke arah Armin supaya membuat Mikasa tidak curiga di seberang sana.

"Oh baguslah ... Eren. Aku tidak bisa mengundang kalian karena semua tugas klub dipindah tangankan kepadaku." Balas Mikasa setengah hati. Dia sebenarnya tidak mau untuk meninggalkan Eren tapi ... ahh ... dia sangat membenci kepala sekolah sadisnya.

" Tapi Mikasa! Bagaimana kami p-pulang..?" Tanya Eren khawatir.

" Pulanglah dengan bus atau angkutan umum lainnya. Di Tokyo semua itu berhamburan dimana-mana"

" Di Jerman juga Mikasa...". Ejek Eren. " Lebih banyak lagi...kau seperti tidak pernah ke Jerman saja"

Armin memutar matanya jengah melihat kelakuan Eren. Dia akan keras kepala dan penyangkalan bila sudah dibawa debat seperti tadi. Biarpun orang itu bisa membunuh Eren kapanpun dia bicara.

" Eren..berhentilah berdebat atau aku akan menarikmu darisitu langsung ke tempatku" ancam Mikasa dengan nada dingin.

Eren dan Armin berjengit di tempat mereka. Armin melotot pada Eren seolah-olah mengatakan Jangan-Berani-Beraninya-Kau-Memancing-singa-Eren-!. Eren menangkap maksud Armin dan bungkam seketika.

" M-mikasa..." panggil Eren gugup. " Aku tutup dulu ya... aku ada...urusan! Ya urusan!"

Eren berbohong lagi demi menghindari Mikasa datang secepat kilat dan menarik Eren seperti gadis mau diperkosa. Tidak! Eren bahkan bergidik membayangkan semuanya. Armin juga mengurut dada lega.

" Ya Eren...jagalah dirimu. Jangan menyakiti tubuhmu sendiri. Jaga Armin juga". Jawab Mikasa.

Eren mengangguk dan menutup panggilannya. Dia memandangi Armin lega.

" Syukurlah Eren". Ucap Armin. " Mari kita pulang"

Eren mengangguk dan segera berlari dari sekolah mereka. Sejauh-jauhnya sampai mereka merasa aman dari tempat terkutuk itu. Biarkan hari ini mereka beristirahat dari semua masalah ini.


.

.

.

.

Levi menendang sebuah pintu dari kayu mahal dengan kasar. Tanpa peduli pintu itu akan lecet atau rusak karena perbuatan kurang ajarnya. Kepalanya sudah pening pada saat ini dan itu memicu amarahnya naik sampai ke ubun-ubun.

Dia tidak menghiraukan apapun sekarang, di pikirannya hanya ada istirahat.

Sepatu hitamnya yang bersih itu menjejak lantai marmer mengkilat dengan karpet merah khas Prancis. Dia berjalan dengan wajah datar dan mood yang down. Memasuki sebuah ruangan luas dengan gaya modern mewah.

Mendekati sebuah meja kayu yang mengkilap dengan kursi besar yang empuk. Belum selangkah dia mendekati tempat itu, matanya menangkap sebuah foto kecil yang dibingkai dengan bingai mewah dari emas, penuh dengan ukiran tumbuhan.

Levi menghampiri benda itu dan mengelusnya perlahan. Seorang wanita berambut merah dikucir dua sederhana terpampang di foto tersebut. Jauh dari wajah Levi yang datar, wanita itu berwajah sangat ceria. Dia tertawa bahagia dengan latar belakang menara Tokyo yang menjulang tinggi.

" Kau berubah 180º saat mengingat dia, Rivaille"

Levi mendelik tajam dari ujung matanya tanpa berbalik. Dia mengurungkan niatnya untuk mengambil bingkai itu dan memilih mengepalkan tangannya kuat.

" Jujur saja Rivaille, kau memang sangat tersakiti melihat wanita itu meninggal karena kehadiran gadis kurang ajar itu? Kenapa tidak sekalian kau habisi saja?"

Orang yang bersuara mendekat ke arah Levi. Suara jejak sepatunya mengisi kekosongan ruang luas ini. Levi mendesis geram padanya. Dia mengepalkan tangannya semakin kuat hingga buku-buku tangannya memutih.

" Diam kau jalang. Kenapa ayahku menginginkan jalang sepertimu menjadi tunanganku hah?" Geram Levi.

Sebuah suara wanita menggema di ruangan itu. Dia tertawa sadis dan berhenti.

" Oh ya...kulihat kau mendekat dengan seorang bocah baru iyakan? Bocah yang memiliki mata lebih indah dariku ini hmm...?"

Wanita itu mendekati Levi dan menarik ujung jas merahnya nakal. Dia melirik ke Levi berulang kali sedangkan Levi hanya memasang wajah datar bahkan menatapi wanita itu tajam.

" Jangan menyentuhku jalang". Ancam Levi.

Dia menarik jari wanita itu dan mematahkan ujungnya tanpa ampun. Terdengar bunyi tulang patah yang nyaring. Membuat wanita itu berteriak histeris dan menjauhkan jarinya yang menggantung ke arah yang salah. Ujungnya membiru hebat dan mengirimkan darah beku.

Wanita itu menatap nyalang Levi yang memasang wajah datar.

" BERANI-BERANINYA KAU RIVAILLE! AKU TUNANGANMU!" Teriak wanita itu histeris.

" Kau tidak akan pernah jadi tunanganku, pelacur. Kau hanya rencana sedangkan aku pemegang keputusan dan ku beritahu jalang... Setidaknya bocah kurang ajar itu lebih baik dari nafas pelacurmu. Pergi atau yang kupatahkan sekarang adalah lehermu". Jelas Levi dingin.

Wanita dengan rambut coklat muda sebahu itu menangis histeris. Dia berlari kecewa dari ruangan mewah itu dengan gaya yang aneh sembari memegang ujung jarinya yang baru saja dipatahkan oleh Levi.

Levi menatap tajam pintu depan ruangannya karena mendengar sebuah tawa histeris yang nyaring dan tepuk tangan darisana.

" Keluar kalian, Farlan dan kau juga. Hentikan tawamu mata empat"

Hanji dan Farlan keluar dari bayang-bayang. Farlan terkekeh sambil bertepuk tangan sedangkan Hanji tertawa-tawa seperti orang kesetanan.

" Wah..wahh..wahh..hebat sekali kau Rivaille! Bisa mematahkan hati Petra Rall dengan cara semenarik itu. Aku kagum kawan" ucap Farlan.

Hanji menepuk bahu Farlan kuat. " Hei! Jangan patahkan hatinya...dia cuma punya satu. Patahkan saja tulangnya! Dia punya lebih dari 200 buah! HAHAHAHA!"

Farlan meringis sakit tapi dia tetap ikut tertawa karena ucapan Hanji memang ada benarnya juga. Levi duduk di atas meja mengkilap itu dan menyilangkan kaki jenjangnya. Dia menatapi tajam Farlan dan Hanji yang masih tertawa.

"Diamlah kalian berdua dan kalian membuat ruanganku kotor."

Farlan dan Hanji terdiam. Mereka menatap tempat berdiri masing-masing dan menemukan beberapa debu hitam disekitar mereka. Menumpuk di dekat sepatu hitam mereka. Hanji berdehem keras dan bersiul sembari memasukkan tangannya ke jubah laboratoriumnya.

" Bersihkan atau kaki kalian bernasib sama dengan jari Petra". Ancam Levi.

Hanji mengerang tidak suka dan tiba-tiba dia teringat sesuatu.

" Rivaille...Kenapa tadi kau membela Eren saat berdebat dengan Petra hmm!?" Ucap Hanji menggoda.

Farlan berusaha menahan tawa dan berdehem melihat Levi yang menrengutkan dahi kuat. Matanya menatap tajam Hanji yang berusaha menjebaknya.

" Jadi nama bocah kurang ajar itu Eren? Setidaknya dia lebih baik dari makhluk bergincu tebal tadi. Dia menyebalkan" Jawab Levi datar.

Hanji memasang wajah tidak percaya dan berteriak.

" HEH!? JADI SELAMA INI KAU MEMANGGIL EREN DENGAN PANGGILAN APA JIKA KAU SENDIRI TIDAK TAHU NAMANYA?" Teriak Hanji histeris.

" Bocah, sialan, keparat". Jawab Levi santai. " Dan...Jaeger"

Farlan menepuk bahu Hanji. " Dia dari Jerman bukan? Jauh sekali dia pindah..."

Hanji mengangguk mengiyakan. " Bagaimana kesanmu terhadap salah satu Negara Eropa itu Rivaille? Apakah kau punya hubungan baik dengan kepolisian disana!?"

" Bodoh". Maki Levi. " Sangat baik mata empat...sampai aku dijadikan daftar teroris di negeri itu. Sama-sama menyusahkan seperti bocah kurang ajar itu"

Farlan dan Hanji sama-sama tertawa. Teman pendek mereka ini sudah banyak terkenal di negera Eropa sebagai berandalan paling dicari yang sedikitnya 4 negara Eropa dan menjadi buronan di Jepang sendiri.

"Oh ya Rivaille ..." Panggil Hanji. "Soal Maria Highschool"

Levi menarik pandangannya pada Hanji yang menyeringai lebar. Farlan hanya menarik sebelah alisnya menunggu jawaban dan penjelasan selengkapnya dari Hanji.

" Senjata itu sudah siap...hehehehe". Ucap Hanji. Dia menyeringai lebar seperti setan dan menampilkan seluruh deretan giginya. Hanji berputar-putar girang di tempatnya sambil tertawa.

" Jika saat aku ke tempatmu, aku kembali mencium asap sianida maka kujamin wajahmu ketenggelamkan dalam asam sulfat tinggi sampai mendidih". Ucap Levi dingin.

Hanji tertawa terbahak-bahak dan membuat Levi dan Farlan menatapnya heran. Dia berguling-guling di lantai sambil tertawa luar biasa. Levi yang sudah down semakin down melihat Hanji. Dia mengernyitkan dahinya kuat.

TAKKKK!

"GYAAAAAAAAAA"

Hanji beteriak histeris saat sebuah patung kecil terlempar mulus ke jidatnya dan membuat dahinya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Merembes hingga membasahi jubah putihnya.

Levi turun dari meja dan melaluinya santai.

" Farlan...kita kesana sekarang"


.

.

.

.

Bunyi dentingan alat makan memenuhi sebuah dapur bergaya modern yang sederhana itu. Eren melahap makan malamnya dengan rakus. Dia menghabiskan dua piring penuh sebuah sup dan sushi yang tersedia di meja makan.

" Kau dari Inggris tapi sushi buatanmu melebihi buatan restoran Jepang sekalipun Armin!" Puji Eren bahagia.

Dia memberikan duu jempol pada Armin yang tengah membersihkan piring bekas makan malamnya. Mikasa belum pulang juga sehingga membuat dua pemuda imut yang tinggal di rumahnya harus membuat makan malam sendiri.

Untung saja Armin bisa memasak sehingga mereka tidak perlu makan diluar.

Armin tersipu dengan pujian Eren. " Ya...kau terlalu berlebihan Eren! Aku hanya mengikuti resep yang kutonton di Televisi tadi..bahkan ini pertama kalinya kau tahu!"

Eren tertawa. " HAHA tapi ini berhasil! Kenapa kau tidak buat restoran saja saat kau besar nanti?"

Armin menggeleng-gelengkan kepalanya lembut. " Tidak Eren...aku lebih menyukai menjadi fotografer suatu hari nanti. Aku akan sangat menikmati rumput hijau yang segar, sungai jernih yang mengalir deras, hutan hujan tropis yang menghampar luas dan, bumi yang seakan tersenyum. Sejak dulu aku sangat suka mengabadikan semuanya dalam foto hasilku sendiri"

Eren mengelap setetes kecap sushi di ujung bibirnya dan meminum air lemon cepat. Saat dia menegak, Armin dapat melihat sebuah luka biru yang tercetak jelas di sisi kanan leher Eren. Sesaat setelah mereka pulang, Eren merengek agar lukanya disembuhkan.

Armin berusaha menanyai Eren tentang luka itu. Padahal saat Eren ditendang Levi, luka itu tidak ada tetapi saat Levi membawanya ke UKS. Luka itu tiba-tiba datang seperti hantu saja.

Tetapi Eren tetap bungkam dan lebih memilih untuk tidak memberitahukannya. Dia selalu menghindar saat ditanyai itu dan membuat Armin menyerah dengan sendirinya.

Armin menarik sebuah kursi di dekat Eren dan duduk disana. Dia merebahkan kepalanya ke meja makan dan menatap Eren lelah. Sedangkan Eren masih menyentuh luka-lukanya, memastikan lukanya tidak terasa terlalu sakit lagi.

" Armin..." Panggil Eren tiba-tiba. " Aku rasa aku tidak ingin sekolah lagi disana"

Armin menangkat sebelah alisnya. " Tidak Eren...absen kita tetap jalan. Jadi jangan sekali-kali berpikiran membolos. Bila kau lelah, istirahatlah terlebih dahulu".

Eren mengacak-ngacak rambut mahoganinya. " Bagaimana denganmu?"

" Tenang saja..." Jawab Armin. " Aku akan menunggu Mikasa pulang sambil membaca novelku. Kau yang paling lelah Eren...beristirahatlah agar esok kita bisa lebih kuat".

Eren berdiri dan melangkah menuju ke kamarnya.

" Ya...kuat" desah Eren lelah.

Eren membuka pintu kamarnya dan merebahkan diri di ranjang hijaunya. Dia memeluk bantalnya geram dan mengerang. Eren menutup wajahnya dengan lengan putihnya dan menutup matanya.

Tiba-tiba ingatan tentang Levi di UKS memenuhi pikirannya. Pemuda kurang tinggi yang beringas dengan wajah tampan dan tatapan setajam elang yang berhasil membuat Eren bingung sendiri.

Dia menarik sebuah foto di bawah bantalnya. Foto ibunya.

Eren memeluk foto itu kuat dan berceloteh tentang sekolahnya dan Levi sampai tertidur sendiri. Dia menutup matanya lelah dan mengerangkan nama seseorang yang seharusnya dia benci sejak awal.

"Levi ..."


.

.

.

.

"Levi ..."

Levi tersentak. Dia tidak pernah salah dengar. Telinganya menangkap suara yang cukup familiar memangil namanya dan dia yakin akan hal itu.

Dia baru saja pulang dari sekolahnya dan ingin sekali beristirahat di apartemennya tapi terkutuklah ayahnya! Iphone mahalnya berdering dan nama ayahnya tertera jelas disana. Mau tidak mau mengangkatnya.

Levi sangat membenci jika harus berhadapan dengan orangtuanya terutama ayahnya. Biarpun dia badung tapi perintah ayahnya adalah hal yang absolut untuk dipatuhi karena...

Dialah satu-satunya orang tuanya yang masih hidup dan ibunya sangat mencintai laki-laki tua itu biarpun hatinya telah hancur berkeping-keping karena ayahnya yang kurang ajar dan tidak beradab. Levi badung karena ayahnya. Dia sudah belajar dari sumber yang paling akurat tentang kekurang ajaran.

Levi memijit keningnya kesal. Dia memacu mobil Ferrari hitam mengkilatnya cepat tanpa ampun. Pikirannya sangat pusing sekarang.

Levi memegangi setir geram. Matanya menatap tajam jalanan kota Tokyo yang ramai dan terang. Dia sangat benci keributan dan suasana kota membuat mood-nya semakin buruk. Ferrari itu berhenti saat lampu jalan berwarna merah menyala.

Dia membanting tubuhnya ke jok mobil lelah. Wajahnya ia tutup sendiri dengan lengan kokohnya yang masih dibalut seragam putih bersih. Levi mengerang lelah. Rambutnya basah akan peluh.

"Levi ..."

Dahi Levi merengut kuat dan alisnya menukik tajam.

Siapa keparat sialan yang memanggil namanya!?

Dia menggeram kuat dan membuka kaca mobil paksa dengan marah. Kepalanya menyembul keluar dengan sorot mata membunuh kepada siapapun diluar. Tangannya ikut keluar sambil memukul pintu geram.

Para pengguna jalan lain tersentak saat menyadari bahwa yang di dalam mobil mewah itu adalah Levi. Ketua geng paling ditakuti di Tokyo dan buronan paling dicari di Jepang. Mereka bergerak gelisah di kendaraan masing-masing dan membisikkan namanya takut.

Para pejalan kaki mempercepat langkahnya karena ketakutan dan panik kalau tiba-tiba Levi menabrak mereka semua dengan brutal.

Mata hitam tajam milik Levi mengkilat. Dia memang mendengar semua orang membisikkan namanya tapi diselingi nada takut. Bukan panggilan tadi yang begitu jernih dan murni. Dia kembali memasukkan kepalanya dan menutup jendela pusing.

Levi kembali memijit keningnya dan memacu mobilnya cepat saat lampu berwarna hijau. Membuat para pengguna jalan lain berteriak kaget dan mengumpat karena perbuatannya yang tidak tahu di sopan.

Dia tidak peduli lagi. Levi terus-menerus mengumpat selama perjalanan dan umpatannya semakin kasar dan nyaring saat memasuki halam depan mansion besar bergaya Prancis yang kental.

Levi menghentikan mobilnya di depan sebuah Intercom otomatis bersuara perempuan lembut. Suara ibunya.

Levi mengumpat di dalam hati. Bisa-bisanya laki-laki tua itu memancingnya dengan memasang suara ibunya di intercom? Levi sangat ingin sekali membunuh dan membuang mayat ayahnya di tempat pembakaran sampah.

"Bonjour! Dengan kediaman keluarga Ackerman. Ini siapa?"

Levi menyembulkan kepalanya keluar dari jendela dan mendekat pada Intercom. " Bilang pada laki-laki tua itu kalau putranya tiba"

Intercom itu berdering seperti bel sekolah tiga kali dan kembali bersuara. "Selamat datang Tuan muda Levi Ackerman! Kami menyambutmu!"

Levi mendecih dan memacu mobilnya saat gerbang utama dari emas itu terbuka lebar. Ferrari mewah itu memasuki teras depan mewah dengan interior Prancis kuno yang bertebaram dimana-mana.

" Bagus sekali". Ejek Levi " Kalian saja membuangku keluarga keparat. Menyambutku? Aku akan tertawa mendengar kata-kata basi itu"

Kakinya menginjak pedal rem kuat dan membuat mobil hitam mewah itu berhenti. Tepat di depan pintu berdaun pintu dua dari emas dengan ukiran lambang khas keluarga Ackerman. Elang gunung yang mengepakkan sayapnya di atas air dan kuda berbaju zirah yang berlari dengan dua pedang dicengkeram oleh burung merak yang melingkar menjadi sebuah lingkaran.

Levi membuka pintu mobil Ferrarinya dan keluar darisana. Sepatu hitamnya menjejak lantai marmer hitam yang mengkilap karena pantulan dari lampu-lampu yang bergantung tepat di atas kepala Levi.

Dia menyampirkan jas merah marunnya di salah satu pundaknya yang kokoh. Tangannya memasukkan kunci hitam ke dalam saku celananya dan memasuki mansion mewah itu dengan pandangan datar.

Suara kaki Levi yang tegap menggema di koridor mewah penuh lukisan indah itu. Levi berhenti tepat di salah satu lukisan besar di dindingnya. Dia menatapi lukisan itu tajam. Betapa masa kecilnya yang berwarna.

Levi kecil yang tampan dengan tatapan sama tajamnya seperti sekarang berdiri tegap dengan yukata hitam membalut tubuhnya yang dipeluk kuat seorang wanita manis. Wanita yang mempunyai senyum sehangat mentari.

Rambut merahnya dikuncir dua imut dengan kimono merah mewah menutupi tubuh indahnya. Mata biru langitnya bersinar seperti cahaya yang menerangi mereka. Kembang api bertebaran di langit malan lukisan. Dengan latar belakang jembatan dan menara Tokyo. Pohon sakura yang mekar menjadi penambah suasana bahagia lukisan itu.

Levi mendecih. Kenangan itu tidak akan terulang kembali. Wanita itu telah pergi bersama hatinya dan cahaya hidupnya. Yang tersisa dalam tubuh Levi hanyalah kebencian dan casing jiwa gelap yang kosong tanpa cahaya.

"Levi?"

Suara lembut seorang wanita membuyarkan pikiran Levi. Dia menatap tajam wanita paruhbaya dengan rambut hitam dan wajah asia yang kental berdiri memakai gaun coklat yang tidak terlalu mewah. Mata hitamnya memandangi Levi lembut.

Levi tidak akan terpengaruh, sebaik apapun wanita itu terhadapnya. Dia tahu wanita tua itu hanya berpura-pura lembut demi membuatnya senang. Levi memandanginya dengan wajah datar.

" Apakah itu kau Levi? Ibu rindu denganmu..."

Ibu kepalanya! Levi mendecih singkat padanya. Dia bukan ibunya. Dia hanyalah kekasih gelap ayahnya yang diangkat menjadi istri dan memaksa Levi mengakuinya.

"Cih! Menjauhlah wanita tua. Apa urusan kalian? Cepatlah atau aku akan segera pergi darisini"

Ekspresi wanita itu mengeras. Dia memaksakan tersenyum dan memasuki ruangan lainnya yang tidak jauh.

Levi ikut memasuki ruangan itu dan hatinya semakin dongkol melihat dua orang lainnya duduk di meja makan yang cukup panjang disana. Meja mewah dengan makanan penuh. Kedua orang itu mengalihkan pandangannya pada Levi.

Ayahnya yang terlihat berkuasa dan seorang gadis remaja berambut hitam pendek sebahu bersyal merah. Gadis itu memukul meja makan kuat hingga membuat piring-piring berbunyi.

" Bagaimana keadaanmu, Mikasa?" Tanya Levi datar.

Gadis itu menggertakkan giginya menahan emosi yang membludak dalam dirinya.

" Apa urusanmu menanyakan keadaanku, kau brengsek!? Seharusnya kau menanyakan perbuatanmu siang tadi! Apa-apaan maksudmu membakar Maria's Highschool hah!? KAU GILA, KEPARAT!" Teriak Mikasa.

"Mikasa ... Kendalikan dirimu putriku!" Panggil wanita tua itu lembut. "Kau tidak bisa berkata kasar pada kakakmu .."

Mikasa mengambil sebuah pisau daging dengan emosi brutal dan melemparnya kuat pada Levi. Levi menghindar dengan mudah hanya dengan menggeser tubuhnya sedikit tanpa perlu perlawanan. Dan pisau daging itu menancap di dinding setelah membelah dua sebuah patung baju Zirah sampai tercecer.

Wanita tua itu berdiri emosi dan menggebrak meja kasar. " MIKASA! BERHENTILAH BERUSAHA MELUKAI KAKAKMU!"

Mikasa menghempaska tubuhnya pada kursi makan setelah menggebrak meja dengan kakinya. " Kakakku darimana!? Dia saja bukan anak ibu!"

Wanita itu melotot pada Mikasa. " Berhenti mengatai kakakmu Mikasa! Dimana semua sopan santunmu!?"

" Tidak apa wanita tua." Suara Levi menggema memecah pertengkaran dua perempuan itu. " Biarkan saja dia"

Mikasa berdiri menatap Levi membunuh dan menggebrak piring makanannya. " IBU LIHAT SENDIRI! DIA BAHKAN MEMANGGIL IBU WANIT TUA! DASAR KEPARAT BRENGSEK!"

Levi hanya menatap Mikasa datar tanpa melawan atau membalas semua perkataan Mikasa. Padahal dia sangat membenci dikatai seperti itu dan bisa membunuh langsung orang yang mengatainya tapi untuk Mikasa ... itu berbeda.

Janji Ibunya membuatnya tidak bisa melawan sedikitpun semua perbuatan Mikasa pada dirinya.

"Levi sayangku ... Levi putraku yang kuat..Berjanjilah pada ibu, nak. Apapun yang Mikasa lakukan ... jangan dibalas. Bahkan kau harus melindunginya Levi sayangku karena untuk alasan apapun juga ... Mikasa adalah adikmu. Jadi kakak yang baik . Dia membutuhkanmu apapun yang terjadi. Berjanjilah pada ibu, nak "

Kata-kata ibunya sebelum meninggal terngiang di dalam pikiran Levi. Dia hanya menyilangkan tangannya dengan wajah datar tanpa bersalah. Menyandarkan tubuhnya di dinding santai.

" Mikasa..." Panggil ayahnya. " Duduk"

Mikasa menggeram emosi dan duduk di kursinya dengan setengah hati. Ayahnya memandangi Levi dengan tatapan sama seperti milik Levi.

" Levi...selamat datang di rumah". Ucap Ayahnya datar.

Levi mendecih dan tersenyum mengejek yang sangat kentara.

" Rumah...ya rumah". Ejek Levi. " Ke intinya saja pak tua. Apa maumu?"

Mikasa menahan tangannya untuk melempar garpu mahal menusuk lidah Levi. Dia hanya memandangi Levi tajam dan mengenggam alat makannya kuat seolah-olah ingin menghancurkan alat itu. Ibunya memegangi tangan Mikasa lembut.

Ayahnya menatapi Levi dengan wajah datar.

" Ku dengar kau mematahkan jari tunangamu, Petra? Kau membutuhkan jari itu untuk hari pernikahan kalian Levi"

Levi mendecih. " Cih..ternyata jalang sialan itu. Ku beritahu pak tua. Aku tidak akan pernah sudi sedikitpun menyentuh apalagi mengucapkan janji pernikahan padanya" .

Ayahnya mendesah lelah. " Tapi kalian perlu menikah Levi... demi nama baik keluarga kita dan perusahaan Ackerman. Apa yang dikatakan ibumu? Apakah Isabel mengajarkanmu untuk bersikap seperti ini pada ayah dan takdirmu?"

Pandangan ibu Mikasa mengeras mendengar nama Isabel dan Levi yang menggertakkan giginya emosi. Dia menghentikan langkahnya untuk pergi dari ruangan itu secepatnya.

SYATTTTTT!

" AYAH!" Teriak Mikasa geram.

Levi melempar sebuah pisau bermata dua dan menancap tepat di samping telinga ayahnya. Tapi tidak melukainya. Mikasa menggebrak mejanya emosi dan menggeram bagaikan singa.

" Pria tua". Ancam Levi dengan tatapan tajam. " Kau tidak akan pernah punya hak untuk menyebutkan nama ibuku, keparat. Kau terlalu kotor untuk menyebut namanya yang suci, sialan"

Levi segera berlalu dari ruangan itu tanpa sepatah kata apapun lagi. Mood-nya begitu hancur hari ini. Dia memacu mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan mansion mewah itu tanpa memikirkan resiko akibat perbuatannya.

Levi mengambil Iphone-nya kasar dan memencet beberapa nomor disana.

" Farlan, Irvin, Hanji. Ke tempat biasa. Sekarang"

Sambungannya terputus dengan cepat dan dia memacu mobil mewahnya menembus malan yang panjang di kota Tokyo.

Mikasa berdiri dengan pandangan datar dan segera mengambil tas-nya. Dia berjalan ke arah pintu keluar. Ibunya kaget dan berteriak.

" MIKASA! KAU INGIN KEMANA PUTRIKU!?"

Mikasa berhenti tepat di tengah-tengah jalan. "Pulang ... bersama Eren dan Armin. Itu lebih baik dari tempat terkutuk ini".

Ibunya berusaha mengejarnya tapi Mikasa sudah berlari meninggalkan mansion itu cepat tanpa menoleh. Ibunya terduduk putus asa di tengah-tengah mansion sambil menangis histeris layaknya anak kecil.

" Kenapa pernikahanku begitu rapuh!?"

.

.

.

.

T

B

C

XD

SAYA MEMINTA MAAF SEBESAR-BESARNYA! SAYA TIDAK BERMAKSUD NELANTARIN IN FICT...TAPI KELIHATANNYA READERS KEBANYAKAN TIDAK MENDUKUNG NE...

TAPI SAYA MOHON...READERS SADAR SENDIRI SAJA YA... SAYA NGGAK MINTA LEBIH... *^*