CHAPTER 6

AN ATTACK ON TITAN FANFICTION

.

.

.

WARNING : YAOI AND MATURE CONTENTS

CAST :

ALL SNK CHARACTER

.

.

.

PAIRINGS:

RIREN ( MAIN)

ERUMIN

JEANXARMIN

.

.

.

ENJOY IT

BY AULIA ASRIKYUU


Mikasa terus berlari. Menembus jalanan malam yang telah basah oleh air hujan. Kaki jenjangnya setia melangkah cepat. Bukan untuk menghindari hujan tapi menyembuhkan rasa kecewa yang tertanam di hatinya.

Gadis asia itu menghentikan langkahnya di halte bus.

Biasanya Tokyo akan tetap ramai biarpun hari sudah malam tapi alam berkata lain. Titik-titik air langit murni berjatuhan satu per satu, membasahi tubuh bumi, menciptakan hawa dingin di kota Tokyo, membuat warganya meringkuk di dalam rumah bersama keluarga mereka demi menghangatkan badan.

Mikasa terisak dalam derasnya hujan yang membasahi dirinya. Rambut hitam legamnya menutup wajahnya yang begitu kesakitan. Air mata yang tulus mengalir bersamaan dengan semua rasa di hatinya.

" HUWAAAAAAA! HUWAAAAAAA! KENAPA!? KENAPA INI SEMUA TERJADI!?"

Teriakan yang begitu menyayat hati semua orang mengalir dari mulut Mikasa. Mengisi kekosongan Tokyo bersama dengan suara alam. Teriakan yang begitu pilu dan menyayat nurani siapapun.

Mikasa terus menangis tanpa henti. Air matanya tak dapat lagi terbendung dan jatuh bersama air hujan. Membasahi tubuhnya yang ringkih dan hatinya yang serapuh kaca. Mengirimkan sinyal kesakitan kepada semua orang.

Gadis itu terduduk di pinggir jalan, meremas seragamnya dengan hati yang hancur dan pikiran yang buram. Tubuhnya bergetar dingin dan sakit.

" M-mamah..." isak Mikasa. " A-apakah mamah..hiks..Kakak L-levi..HUWAAA!"

Dia memegangi dadanya yang menyempit sakit hati.

" A−apa y-yang sudah kulakukan..hiks..a-apa..hiks.." isak Mikasa.

Dia memeluk tubuhnya dalam dingin. " A-apa salahnya..? Hiks..a-apa salahnya jika aku berharap keluargaku b-bahagia hikss... k-kenapa ini semua harus terjadi..hiks..?"

.

.

.

.

.


Eren terbangun dari tidurnya.

Nafasnya pendek dan cepat. Peluh membanjiri tubuh cantik miliknya dengan begitu deras. Mata Emerald indahnya membulat sempurna dengan begitu indahnya.

Eren memegangi dadanya yang terasa sempit dengan detak jantung begitu cepat seolah-olah ingin keluar dari tempatnya. Dia mengedarkan pandangan gugup ke seluruh arah tapi tidak ada menemukan sesuatu yang aneh.

Ini masih tetap kamar Eren. Tubuhnya masih utuh dan tidak ada apa-apa.

" Ibu?" Panggil Eren lirih.

Eren baru sadar bahwa dia telah tertidur dengan memegang foto ibunya. Dia segera memeluk foto itu posessif dan mengurucutkan bibir imut. Eren mengelus foto ibunya sayang dan mencium gambar wanita di foto ibu.

" Eren sayang ibu...Ibu baik-baik saja yah di surga? Eren akan selalu sayang ibu" ucap Eren lirih.

Eren masih tetap mempertahankan pose itu sampai dia teringat kenapa dia bangun tadi.

Dan segera ekspresinya berubah drastis. Alisnya menukik tajam dengan dahi berkerut kuat dan mata berkilat benci.

Eren mengacak-ngacak rambutnya kesal dan memukul-mukul ranjangnya.

" ARRGGGHHH! KENAPA SI KETUA KURCACI CEBOL ITU MUNCUL DI DALAM MIMPIKU!? SUDAH CEBOL BERINGAS LAGI!"

Ya...Eren mengingat mimpi nistanya.

Dia memimpikan bahwa Levi menendangnya sampai babak belur sehabis itu dengan tipikal sifatnya yang suka tergesa, dia mencium Eren ganas tanpa ampun. Memakan habis bibir plum lembut Eren dan memberikan tanda kepemilikan yang mencolok pada tubuhnya. Eren dengan jelas mengingat Levi menggeramkan namanya dengan PENUH NIKMAT!

APA-APAAN MIMPI ITU HAH!

Eren menggeram seperti singa PMS dan berteriak-teriak tidak karuan. Mengutuk Levi dengan semua kutukan yang dia tahu. Dengan campuran bahasa Jerman, Inggris, dan Jepang. Membuat Eren seperti berteriak dengan bahasa alien.

Dan itu SANGAT berdampak pada teman pirangnya, Armin.

Armin yang menyerah menunggu Mikasa memilih untuk tidur dan dia terjatuh seperti koala mabuk daun. Berguling seperti tikar sampai kepalanya terbentur dengan ujung pintu yang tertawa nista.

Mata Armin langsung melotot luar biasa mendengar teriakan Eren menggema seperti teriakan gadis patah hati. Tanpa ba bi bu lagi, Armin berlari ke kamar Eren yang tidak jauh dari kamarnya dan mendobrak pintu seperti banteng datang bulan.

" MANA MALINGNYA EREN!? BIAR KUHAJAR DIA SAMPAI KOMAAAAA..."

Kriikk...krikkk...

" A−a..." ucap Armin. " M-maaf. S-salah situasi t-ternyata..."

Armin sweetdrop dan merutuki mulutnya yang mengucapkan kata-kata tadi. Eren melongo padanya sambil mencakari bantal miliknya.

Tapi yang membuat Armin sangat terkejut adalah Eren meneriakkan nama Levi dengan begitu nyaring. Membuatnya menjadi curiga. Bukannya Eren sangat membenci pria kejam itu? Kenapa Eren malah meneriakkan namanya?

Eren berdiri dan tertawa canggung. " AH! TIDAK ADA APA-APA ARMIN! HAHAHA..."

Armin mengangkat sebelah alisnya heran. " Eren. Jujurlah sekarang! Kenapa kau meneriakkan nama Levi!?"

Eren meneguk ludahnya berat. Apakah Armin benar-benar mendengar semuanya? T-termasssss...uk L-levi tadi!? Aduh! Eren mati kutu. Buktinya dia tertawa dan berusaha untuk mengalihkan semua topik dari Levi.

Eren tersentak sendiri saat melihat Armin sendirian. Biasanya ada Mikasa yang secepat kilat memeluknya sampai tulang rusuknya tertekan mungkin sedikit retak.

" Armin...dimana Mikasa? Kenapa aku tidak kunjung melihatnya?".

Armin merubah raut wajahnya yang kesal menjadi terkejut. Dia baru sadar. Mikasa masih belum pulang sama sekali padahal jam menunjukkan pukul...

" EREN! KITA TERLAMBAT SEKOLAH! INI SUDAH JAM 7!" Teriak Armin

" APA! KENAPA AKU BISA LENGAH! GYAAAA!"

Jadi pagi itu terjadilah keributan yang luar biasa di rumah Mikasa. Teriakan merdu Eren dan ancaman Armin dan suara beberapa benda terjatuh.

.

.

.

.

.


" Hah..hah..hah.. c-cepatlah Armin! K-kita tidak punya waktu banyak!" teriak Eren sambil mencengkeram pergelangan tangan Armin.

Mereka berlari dengan tergesa-gesa di jalanan Shibuya yang ramai. Seharusnya Eren sudah memikirkan ini daritadi. Shibuya sangat ramai dan akan menjadi padat jika jam masuk kerja dan sekolah semakin dekat.

Eren dan Armin terdorong-dorong para pejalan kaki dan terhimpit. Armin yang fisiknya lemah hanya bisa mengikuti semua pergerakan Eren yang memimpin jalan dan berusaha menghindar dari kerumunan.

" Permisi! Maaf! Permisi tuan dan nyonya!" Teriak Eren.

Eren terus-terusan berteriak selama di jalan karena jika dia bicara, tidak ada yang mendengarkannya. Suasana begitu padat hingga dia harus menguras habis suara di tenggorokannya agar bisa terdengar oleh orang-orang.

Jas merah marun mereka kumal karena sudah terlalu banyak terhimpit dan bersenggolan dengan orang banyak.

Sebenarnya tujuan mereka adalah kereta bawah tanah tapi bahkan di gerbangnya saja antrian sudah terlihat memanjang di tangga, membuat duo pemuda manis itu mengurungkan niatnya dan memilih jalan lain.

Armin memang kutu buku. Dia bahkan mau-maunya membaca peta Tokyo yang ruwet sampai melihatnya saja membuat Eren terserang anemia.

Armin tiba-tiba saja menarik tangan Eren dan membuat mereka berhenti di tengah trotoar. Eren tentu saja kebingungan dengan sikapnya tetapi Armin mengeluarkan petanya yang selalu dia bawa di tas miliknya dan membacanya.

Mata Armin melihat-lihat peta itu dan mendesah putus asa.

" Eren.." panggil Armin. " Kurasa kita harus memutar jalan sejauh 1.5 km. Tidak ada jalan pintas lain"

Eren memasang raut wajah kecewa yang kentara tetapi tetap saja dia tidak bisa melawan takdir. Memangnya dia mau cepat sampai dengan meloncati rumah penduduk!? Atau terbang!?

Eren membersihkan jasnya. Mata Emeraldnya membulat. Dan dia baru sadar bahwa dia sekolah dimana. Jas merah marun dengan lambang dua sayap dan dua pedang membuatnya mengingat orang itu. Orang yang sangat dibencinya.

" Armin! Kita tidak perlu tergesa-gesa seperti tadi! Aduh..! Aku juga baru ingat bahwa kita sekolah di sekolah berandalan. Untuk apa kita tepat waktu!?"

Armin menampar tangan Eren dan melotot padanya kentara. " Eren! Disiplin tetaplah disiplin! Kita tidak boleh ikut-ikutan badung seperti mereka..."

" Tapi Armin!" Rengek Eren. " Ada si ketua cebol itu! Grrrr...dia menyebalkan!"

" Kau mengataiku bocah?"

Armin dan Eren terkejut bukan main saat mendengar suara dingin dan datar tiba-tiba menyembul di belakang mereka.

Eren berteriak dengan wajah horror saat menemukan Levi yang berdiri di belakangnya bersama mobil Ferrari hitam mewah. Dia menyilangkan tangannya dan menatapi Eren lurus langsung ke matanya. Jas merah marunnya tergeletak di kap mobil tersebut.

Eren bergidik di tempatnya dan menepuk-nepuk dadanya seperti orang tersedak ember.

" SSSEJAK KAPAN K-KAU DISITU CEBOL!?" Tunjuk Eren ke arahnya kesal.

Levi memukul kap mobilnya kuat dan mengernyitkan dahi kesal. Membuat Eren dan Armin tersentak. Alisnya menukik tajam dan memandangi Eren tajam tanpa ampun. Seolah-olah ingin mencincang Eren dengan tatapannya. Dan itu terbukti!

Eren merasa kakinya melemas, melihat pemuda kurang tinggi itu menatapinya terus menerus. Seolah-olah tatapan itu meng-nonaktifkan kerja sel tubuhnya dan membuatnya lemas seketika. Antara takut, gugup, dan benci.

" Sampai kapan kau belajar sopan santun, bocah? Apa perlu ku tembak otakmu? Aku membawa senjata api"

Levi dengan santai mengeluarkan senjata api pendek dari saku celananya dan mengerahkannya tepat ke wajah Eren yang melongo tidak percaya. Tangannya sangat gatal ingin menarik pelatuknya sekarang dan menghancurkan wajah Eren sampai tak bersisa.

Eren dan Armin panik di tempat. Armin menampar belakang kepala Eren dan Eren yang mencak-mencak seperti ibu hamil. Mereka benar-benar bertengkar hingga melupakan Levi yang berdiri menodongkan pistol dengan wajah datar.

DOORRR...!

DOORRRRR!

" ARRGGGHHH! DASAR CEBOL! KAU MEMBUATKU JANTUNGAN!" Teriak Eren ganas.

Levi menembakkan pistolnya bosan tetapi tidak mengenai Eren. Hanya 2 meter di sebelah kanan Eren. Itupun sudah cukup membuat jantungnya ingin lepas.

" Sudah puas bocah?" Tanya Levi dingin.

Dia melempar pistolnya ke kap mobil dan berjalan ke arah Eren. Armin mencengkeram tangan Eren makin kuat. Instingnya berbunyi dan menunjukkan sesuatu tidak baik selalu muncul jika Eren berurusan dengan Ketua di depan mereka ini.

Wajah tampan Levi bercahaya karena pantulan sinar mentari pagi. Mata hitam kecilnya menatap Eren dengan tatapan membunuh selagi dia mengelus-ngelus saku celananya.

Eren gemetar di tempat saat melihat Levi berjalan dengan cara yang sama sesaat sebelum dia menendang Eren kemarin.

" M-mau apa lagi kau L-levi!? M-menendangku!?" Tanya Eren gugup.

Levi hanya menganggap pertanyaan itu angin lalu. Dia malah merapikan rambut hitamnya ke belakang. Membuat wajah tegasnya terlihat makin tampan apalagi setelah itu dia menatap Eren.

Jantung Eren berdetak makin cepat tidak karuan. Ketua cebol di depannya ini membuatnya bingung setengah mati!

Dua buah motor hitam besar tiba-tiba muncul dari jalanan mendekati Levi. Levi mendelik tajam dari ujung matanya singkat dan mendecih tapi pandangannya tetap terpaku pada Eren. Entah kenapa dia merasa bocah ini sedikit berbeda pagi ini.

Dan dua motor itu berhenti. Farlan dan Irvin tersenyum. Mereka menyapa Levi.

" Hei Rivaille! Bagaimana pagimu!?" Tanya Farlan antusias.

Levi mengangguk singkat. Irvin bertemu pandang dengan Armin yang melihatnya bingung. Farlan yang menangkap arah pandangan Irvin menyenggol bahunya dan berbisik.

" Hei kawan. Kau−tertarik dengannya?" Bisik Farlan.

Irvin tidak mengindahkan pertanyaan Farlan dan tetap memandangi semua pergerakan Armin yang menurutnya sangat manis untuk ukuran laki-laki itu. Wajah yang ditekuk gugup, mata biru langit yang membulat dan peluh membasahi wajah malaikatnya.

Oh..rasanya pembuluh darah di hidung Irvin ingin pecah sekarang.

Eren yang berada disebelah Armin melotot pada Levi karena dia malah memainkan silet dari saku celananya. Levi yang merasa dia dipelototi dengan ganas oleh Eren, melakukan balasan. Alisnya menukik dengan tatapan setajam elang.

" Bocah, berhenti melototiku atau silet ini akan melayang menusuk bola matamu".

Bukan Eren namanya jika dia menyerah. Dia menghentakkan kakinya kesal. Membuat semua orang disana terperangah melihat kelakuannya. Terutama Levi. Tapi responnya hanya wajah datar dengan tatapan tajam yang sama.

" Kau juga! Berhenti memainkan silet seperti itu!? Bagaimana itu mengenai salah satu dari kita sialan!?" Teriak Eren.

Dia menunjuk jarinya tepat di depan wajah Levi.

Levi mengernyit. Dia sangat tidak suka diperhatikan atau di atur. Levi sangat benci pengekangan dan perhatian dari orang-orang semacam Eren dan lainnya. Bagus di luar tapi busuk di dalam.

Silet di tangannya berhenti dimainkan.

" Ho bocah? Kenapa memangnya?" Remeh Levi.

Dia mengarahkan silet itu ke telapak tangannya dan menyayat dalam tangannya sendiri. Tidak ada raut kesakitan sama sekali di wajah Levi tetapi hanya ekspresi meremahkan yang tercetak.

Para pejalan kaki di tempat itu menyumpahi Levi dengan kelakuannya. Sedangkan Eren sendiri, dia berteriak panik. Padahal bukan tangannya yang terluka. Padahal dia menginginkan Levi untuk terluka seperti ini jadi cebol itu dapat merasakan penderitaan Eren.

Tapi entah kenapa, saat silet itu menyayat tangan putih Levi, Eren merasa semua ini salah dan dia harus menghentikannya sekarang!

BRAKKK!

" BERHENTI MELUKAI DIRIMU SENDIRI, LEVI BODOH! BERHENTILAH!"

Levi tersentak atas kelakuan Eren.

Dia terdiam kaget melihat Eren yang menutup matanya panik dengan wajah marah. Silet penuh darahnya sendiri terlempar dua meter karena di lempar Eren sengaja.

Armin menutup mulutnya kaget. Farlan tertawa singkat dan bertepuk tangan sedangkan Irvin yang tersenyum bahagia tetapi matanya terus melirik khawatir pada Armin.

Keheningan tercpita akibat perbuatan itu. Levi bahkan tidak tahu harus bereaksi apa pada bocah kurang ajar di depannya. Antara kesal ataupun−b-berterima kasih?

Tetapi dia membuang jauh-jauh opsi kedua dan memilih yang pertama.

" Oi bocah bodoh. Buka matamu sialan". Titah Levi

Dia mencengkeram kuat pergelangan tangan Eren yang berani melempar siletnya menjauh.

Eren masih takut membuka mata indahnya, takut-takut Levi akan menendangnya seperti kemarin lagi.

" Aku tidak akan menendangmu bocah bodoh. Buka matamu atau tanganmu kupatahkan"

Eren sebenarnya terkejut karena Levi dapat melihat isi pikirannya. Karena termakan rasa takut, Eren menuruti perintah Levi dan membuka mata cantiknya. Emerald yang bersinar gugup.

Levi mendecih remeh melihat Eren yang tunduk di bawah kuasanya. Ternyata bocah ini masih sama dengan lainnya. Eren membuka telapak tangannya yang mengepal sesaat setelah melempar silet Levi.

Dan Levi mengernyitkan dahi saat merasa sebuah cairan kental membasahi tangannya yang mencengkeram pergelangan Eren. Dia mengalihkan pandangannya dan mendapati bahwa Eren lebih menyakiti dirinya.

Bocah itu ternyata mengenggam tepat pada mata siletnya baru melemparnya. Itu jelas-jelas menciptakan luka yang besar. Lihatlah darah kental yang banyak mulai merembes keluar dari luka itu.

" Hei bocah." panggil Levi datar. " Kaulah yang menyakiti dirimu sendiri bodoh"

Armin yang panik di belakang Eren tidak bisa berkutik. Soalnya ada Levi yang masih setia mencengkeram tangan Eren.

Tiba-tiba saja perhatian mereka semua tercuri dengan teriakan melengking dari arah belakang. Dengan bunyi tembakan dan benda pecah belah yang dibanting kuat.

" ITU ANAK-ANAK SURVEY CORPS HIGHSCHOOL! TEMAN-TEMAN! BUNUH MEREKA SEMUA. KITA BASMI SEMUANYA!"

" Sialan!" Umpat Farlan. " LEVI! ITU ANAK-ANAK MARIA! KURASA MEREKA INGIN MEMBALAS DENDAM! PADAHAL SEMINGGU LAGI TENGGANG WAKTUNYA!"

Levi mendecih kesal dan mengambil kunci mobilnya cepat. Meninggalkan Eren dan Armin yang melongo tidak tahu.

" Farlan. Irvin. Lancarkan operasi Hanji. Mereka yang mengundang kematian, maka berikanlah kematian itu". Ucap Levi

Farlan dan Irvin menyiapkan motor hitam besarnya dan mengeluarkan katana panjang. Eren dan Armin berdiri tidak tahu dengan pandangan takut.

Levi baru menyadari hal itu dan memicing tajam ke arah Eren. Eren tersentak saat pandangan tajam Levi mengarah padanya dan membuang muka sambil memegangi tangannya.

" Jaeger. Kau− Masuk ke mobil" Tunjuk Levi.

Eren melotot tidak percaya. " UNTUK APA AKU BERSAMAMU CEBOL!? LEBIH BAIK AKU JALAN KAKI!"

Levi tersenyum remeh pada Eren. " Bila kau mau mati silakan bocah. Anak-anak Maria tidak akan memberi ampunan padamu. Turuti perintahku atau nyawamu melayang. Cepat sebelum aku berubah pikiran"

Armin mendorong Eren. " TURUTI SAJA EREN! KAU TIDAK MAU MATI BUKAN!?"

Eren mengerang tidak suka. " TAPI ARMIN..."

" TIDAK ADA TAPI-TAPIAN. PERGI SEKARANG JUGA!" balas Armin.

" Bocah. cepat". Panggil Levi.

Dia membuka pintu mobilnya kesal karena Eren lambat sekali.

Eren berlari ke arahnya dengan tergopoh-gopoh. Levi segera menarik kerah jas Eren dan melemparnya ganas ke sebelah joknya. Membuat Eren berteriak kaget dan menghantam jendela mobil.

Levi menutup mobilnya kasar di saat sebuah peluru melayang tepat di samping kepalanya. Tangannya segera memasukkan kunci mobil dan memegang setir dengan tatapan tajam.

" Pasang sabuk pengamanmu bocah. Aku tidak akan segan-segan hari ini". Perintah Levi.

" MAKSUDMU A-APA!?" Teriak Eren marah dan takut.

Levi menggertakkan giginya kuat. " Turuti saja perintahku bocah!"

Eren memasang sabuk pengaman dengan menyumpah dan mengotori jok mobil dengan darah basah yang masih mengalir dengan deras dari tangannya. Levi meliriknya tajam dan menampar tangan Eren.

" AWWWW! APA-APAAN MAKSUDMU ITU!?"

Levi menggeram bagai singa. " Kau membuatku kesal bocah. Ggrrr.. rasakan akibatnya"

Ferrari hitam itu melaju bagaikan angin. Menabrak pembatas jalan sampai hancur dan membuat suasana kota Tokyo menjadi riuh. Ditambah motor-motor yang mengejar mobil mewah itu dengan ganas seperti anjing pemburu.

Eren menatap horror jalanan. Lebih tepatnya bagaimana mobil ini melaju di jalanan. Dia tidak pernah menaiki mobil secepat ini! Eren berpegangan pada jok mobil dan bernafas seperti orang melahirkan karena saking gugupnya.

Levi terus menabrak apapun yang di depannya tanpa mempedulikan siapa atau apa disana. Tangan kanannya meraih-raih laci di jok Eren dan mengambil senapan api berukurang sedang.

Mata Eren membulat horror.

" L-levi..itu u-untuk apa?" Tunjuk Eren ke arah senapan.

" Untuk menembaki kepala manusia". Jawab Levi datar.

Suara tembakan dari arah belakang dan teriakan semakin membuat suasanan menjadi tegang. Eren berteriak reflek saat seorang murid badung menggores kaca mobil di sebelahnya dengan pisau.

Levi mendecih dan menendang pintu di sebelah Eren dengan kakinya.

Eren semakin berteriak. Itu tindakan terbodoh yang pernah dia lihat!

" KAU MAU MEMBUNUHKU CEBOL!? AAAAAAAAAAA!" Teriak Eren.

Levi mendecih kesal. Seharusnya bocsh berisik ini dia tinggal saja daripada menganggunya!

" Tutup telingamu bocah! Dan berhenti berteriak seperti pelacur" Geram Levi.

Dia menodongkan senapan itu dan...

DOORRR!

" ARRRGHHHH!"

Murid itu tergeletak tak bernyawa di jalanan dengan kepala yang bolong karena peluru Levi. Eren melotot pada adegan itu dan berkeringat dingin. Rasanya dia ingin pingsan saja.

Levi kembali menyetir dan berbelok tajam di tikungan. Pintunya masih terbuka dan membuat Eren terlempar keluar karena mereka berbelok seperti angin. Wajah Eren menghadap 2 cm ke jalanan padahal mobil masih melaju.

" LEVI! LEVI! LEVI KEPARAT! ANGKAT! ANGKAT AKU SIALAN! ANGKAT AKU CEBOOOLLL!" Teriak Eren histeris.

Jika saja dia tidak memakai sabuk pengaman maka wajahnya akan rata seperti tanah karena tergilas jalanan berbatu. Peluru melayang di atas kepala Eren sedangkan sedikit lagi dia akan terguling keluar.

Dia menatap motor-motor di belakangnya dan kembali berteriak.

" ANGKAT AKU! MOTOR! KUMOHON ANGKAT AKU!"

BRAAAKKKK!

" Bisa kau diam untuk sebentar bocah? Aku sedang konsentrasi idiot". Ucap Levi kesal.

Eren mengap-mengap dan panik di tempat. Levi menariknya secepat kilat dan menutup pintu otomatis tetapi bunyi motor masih beradu di luar sana. Mata Eren membulat horror melihat keadaan di belakang mobil dari spion.

MAMAH MIKASA YANG AGUNG! TOLONG EREN SEKARANG!

" LEVI! AWAS!" Tunjuk Eren histeris pada pedagang buah di depan mereka.

Levi berdecak kesal dan membelokkan mobilnya tajam menuju perumahan. Semua warga berteriak dan berlarian. Keadaan benar-benar kacau.

Levi mengendarai Ferrarinya dengan satu tangan. Dan satu tangan lainnya di arahkan menuju ke jendela untuk menembaki para siswa lain. Bunyi tembakan Levi dan tembakan para murid badung beradu di jalanan.

Eren meringkuk ketakutan dan menutup telinganya. Dia benar-benar takut sekarang. Tubuhnya gemetar dan dingin. Apalagi Armin yang ditinggalkan oleh mereka di jalanan tadi. Dia hanya bisa berharap sahabatnya lebih beruntung.

Levi mendelik tajam dari ujung matanya ke arah Eren. Bocah ini ternyata benar-benar lemah. Jadi buat apa dia masuk ke Survey Coprs Highschool jika dia saja ketakutan seperti ini? Rasanya Levi ingin tertawa melihat Eren.

Eren tersentak saat sebuah pisau terlempar ke pangkuannya. Dia mendapati Levi memandangi dirinya dengan tatapan tajamnya yang terkenal itu.

" Bocah−lempar pisau itu ke arah murid yang diluar sana. Pastikan kau membelah kepala mereka". Ucap Levi dingin.

Eren memegangi pisau itu gemetar. Alisnya menukik tajam dan memandangi Levi dengan kesal. Emerald itu berkilat benci dan Levi dapat melihat itu. Dia tersenyum miring pada Eren.

" Kenapa bocah? Kau takut pengecut?" Ejek Levi.

Eren merasa terbakar dan menginginkan agar Levi saja yang dibunuh oleh murid-murid itu. Tangannya gatal untuk menusukkan pisau itu ke mulut Levi sekarang juga dan menghancurkan wajah tampannya.

" Akut tidak mau! Dan berhentilah menyebutku pengecut!". Jawab Eren marah.

Levi terkekeh remeh dan tiba-tiba saja laju mobil melambat. Dia menyeringai iblis kepada Eren yang mulai menatap horror jalanan dan panik.

" KENAPA KAU MELAMBATKAN MOBILNYA, PENDEK!? KAU MAU KITA MATI!?" Teriak Eren panik.

" Tadinya aku mau menendangmu keluar dan kembali memacu benda ini." Jawab Levi santai.

Eren menengok ke jendela dan mendapati para murid itu semakin dekat. Dia memukul-mukul jendela panik dan terdiam saat matanya menemukan Levi menatap dirinya datar.

Eren memandangi pisau itu sebentar.

" B-baiklah! A-aku akan melempar benda ini tapi... JALANKAN MOBILNYA KONTET!"

Levi memegangi setirnya dengan wajah meremehkan. " Terserah saja bocah."

Dia memacu mobilnya kembali tanpa ampun. Eren tenggelam dalan joknya dan menggengam kuat pisau perak di tangan kanannya gemetar. Dia kembali menendang pintu mobil di sebelah Eren kuat.

Peluru-peluru segera berbunyi dan pisau-pisau terlempar saat pintu itu terbuka. Eren melotot pada Levi.

" Apakah kau harus menendang pintunya cebol!? Kenapa tidak jendelanya saja sialan!? Kau memancing mereka untuk menggorok leherku Levi!". Jawab Eren kasar

Levi masih setia memacu Ferrari hitamnya. " Hei bocah. Bagaimana kau membelah kepala mereka dari jendela?"

Eren melotot pada Levi dengan ganasnya. " AKU TIDAK AKAN MEMBELAH KEPALA MEREKA KAU CEBOL!"

Levi menatap Eren tajam dan mobilnya kembali melambat dengan kentara. Eren panik di tempat apalagi pintu mobil di sebelahnya masih terbuka.

" B-BAIKLAH! LAJUKAN MOBILNYA KAU SIALAN KEPARAT!". Teriak Eren panik.

Levi terkekeh. Dia tidak pernah merasa begitu menyenangkan seperti ini. Eren begitu manis dan lucu untuk dikerjai. Dia mudah marah tapi juga mudah takut. Seperti anak anjing kecil yang naif.

Levi kembali melajukan mobilnya dan kali ini dia menatap semua pergerakan Eren. Eren memberanikan diri melesakkan kepalanya keluar dan melotot horror dengan mulut terbuka melihat anak-anak dengan tubuh besar dan senapan tajam mengejar mereka menggunakan motor besar.

Pikirannya blank takut.

" MAAF! AMBIL SAJA PISAU INI! GRATISSSSSS! GYAAA!"

Eren melempar pisau itu sembarang sambil berteriak imut dengan wajah takut ke jalanan dan mengenai salah satu murid. Levi terkekeh melihat kelakuan Eren.

Dia sudah muak bermain-main sekarang. Eren malah tidak membantunya menyelesaikan semua pengejarang kucing-kucingan ini. Levi tiba-tiba saja menghentikkan mobilnya di tengah jalan saat masyarakat berlarian.

Eren melotot horror pada Levi dan mencengkeram tangannya.

" KAU MAU MEMBUAT KITA MATI LEVI! CEPAT JALANKAN MOBILNYA!"

Levi mendesis dan menggeram. Eren tersadar dan melepaskan tangannya dari tangan Levi. Dia telah menyentuhnya.

Dia mengambil sebuah senapan perak panjang dari belakang mobil dan menyiapkannya. Eren hanya gugup sendiri saat Levi keluar dari mobil dengan beraninya.

" Aku akan mengurusimu setelah ini selesai bocah". Ucap Levi dingin.

Eren melesakkan kepalanya keluar demi melihat apa yang dilakukan Levi.

Levi berjalan dengan santainya ke arah para murid-murid badung itu dengan tatapan tajam yang kuat dan wajah datar. Dia membopong senapan perak itu ke bahunya yang tegap. Rambut hitamnya mengkilap karena cahaya matahari.

Dia berhenti 5 meter sebelum mereka. Para anak-anak Maria's Highschool tertawa melihatnya sendirian.

" ADA APA LEVI YANG KUAT DAN BERKUASA!? MENYERAH KEPADA KAMI!? HAHAHAHAHA!". Teriak remeh seseorang.

Semua siswa juga tertawa. Levi hanya memandangi mereka datar tanpa minat.

DOOORRRR!

" Sudah selesai bocah-bocah?". Tanya Levi.

Semua siswa menatap horror melihat seseorang siswa tergeletak bersimbah darah dengan kepala berlubang karena peluru perak berhasil menembus tengkoraknya.

" SERANG DIA!" teriak semua siswa.

Semua siswa berlari ke arahnya dengan ganas. Levi menodongkan senapannya santai dengan satu tangan.

DOORRRR!

DORRRR!

DOOOOOORRRR!

Eren menutup matanya takut melihat semua siswa terbantai habis oleh Levi seorang dengan satu senapan. Dia meringkuk di dalam jok mobil dan terisak ketakutan. Dia tidak pernah suka dengan pembunuhan karena itu mengingatkannya kepada ibunya. Yang dibunuh.

Levi menendang sebuah mayat dengan santai. Semuanya habis terbantai tanpa sisa. Mengundang teriakan para warga.

Dia melangkah dengan tatapan datar ke arah mobilnya dan memukul pintu mobil Eren. Padahal dia rencananya ingin memberi bocah ini pelajaran tetapi saat melihat Eren benar-benar tidak berdaya dan meringkuk di jok mobil membuat dia membatalkan rencananya.

" Oi bocah...berhentilah menangis atau gantiannya kau yang kutembak". Ucap Levi datar.

Eren mengangkat kepalanya takut dan menunduk takut. Levi menutup kedua pintu mobilnya dan kembali memacu Ferrari itu.

" K-kita mau kemana?" Tanya Eren takut.

" Ke tempatku bocah. Keadaanmu begitu meyedihkan pengecut". Jawab Levi.

Eren terdiam dan mengikuti kemana Levi pergi sekarang. dia begitu takut untuk apapaun sekarang. Pikirannya syok atas apa yang terjadi dan lebih memilih untuk diam daripada kepalanya menjadi pusing lagi.

.

.

.

.

T

B

C

XD

HOLAAAAAA...

SAYA BALIK NE XD ARIGATOU BUAT YAG SUDAH MENYEMPETIN ACA REVIEW FAV ATAU FOLLOW! SAYA SANGAT BERTERIMAKASIH SEKALIIII XD

NEE... MINDA TO RnR? ^/^