CHAPTER 7

AN ATTACK ON TITAN FANFICTION

.

.

.

WARNING : YAOI AND MATURE CONTENTS

CAST:

ALL SNK CHARACTER

.

.

.

PAIRINGS:

RIREN ( MAIN)

ERUMIN

JEANXARMIN

.

.

.

ENJOY IT

BY AULIA ASRIKYUU


Armin berdiri dengan nafas tersengal-sengal. Peluh membasahi wajah pucatnya.

Dia turun dari sebuah motor besar gemetar gugup. Jas merah marunnya kumal dan lecek.

Pemuda tinggi lainnya juga turun dari motor itu seraya melepas helm. Dan mata biru berwibawa miliknya memandangi Armin khawatir tapi dia tidak berani untuk menyentuh kulit tak berdosa itu.

Dia sadar dirinya hanyalah seorang malaikat hitam yang kehilangan sayapnya. Seorang manusia yang penuh dosa. Tapi entah apa maksud Tuhan sebenarnya, mendatangkan pemuda manis seperti Armin. Pemuda polos yang tak berdosa layaknya seorang malaikat yang baru lahir.

Mereka tiba di belakang sekolah yang damai. Dengan pohon-pohon yang rimbun.

Armin berjalan gugup seperti orang melihat setan.

Irvin terus mengekorinya tanpa ketahuan. Menjaga-jaga kalau pemuda itu dalam bahaya. Dia baru saja membuang katana-nya karena dia tahu pemuda itu terus-terusan menatap horror padanya jika dia membopong senjata tajam itu.

Irvin mengawasi seluruh pergerakan pemuda berambut pirang itu. Dialah yang menyuruh Armin untuk berjalan menembus ke dalam taman ini. kaki tegapnya menjejak rerumputan segar yang terawat baik.

" A-apakah ini s-sudah cukup?"

Pertanyaan Armin menarik perhatiannya. Irvin melihat ke sekeliling. Dia rasa ini sudah cukup, mereka sudah masuk ke taman begitu dalam.

Irvin mengangguk dan segera pemuda itu duduk dengan semangat.

Pemuda tinggi itu tersentak saat melihat kelakuan Armin. Pemuda pirang yang satu ini mempunyai kelakuan yang unik. Di satu sisi dia merasa takut sedangkan satu sisi lain sangatlah manis.

Armin membersihkan semua debu di bajunya dan melirik ke arah Irvin. Dia tidak tahu pemuda gagah di depannya. Namanya saja tidak, bagaimana dia tahu tentangnya?

" Halo? Namamu siapa?" Tanya Armin.

" Aku?" Tunjuk Irvin pada dirinya sendiri.

Armin mengangguk mantap. Irvin berdehem singkat.

" Irvin. Irvin Smith...tapi kau bisa memanggilku Erwin" Jawab Irvin

Armin mengangguk.

" Erwin ya...". Ucap Armin lirih. " Dan Smith..Smith...Perasaan aku pernah dengar nama keluarga it−"

" Keluarga Royalti Smith Zeforurian. Keluarga kerajaan Romania" Sambung Irvin dengan pandangan datar.

Armin tersentak saat mendengar pernyataan Irvin. Matanya membulat sempurna. Keluarga Smith Zeforurian adalah keluarga kerajaan terhormat. Berarti...

" Engkau? Kau p-pangeran Mahkota Erwin Smith Zachary Zeforurian!?" Teriak Armin tidak percaya.

Irvin mendesah lelah. Ternyata pemuda itu tahu siapa dirinya. Dirinya yang sebenarnya. Jati diri yang sudah sangat lama dia buang dan kubur dalam-dalam dan memilih jati dirinya sebagai berandalan sekarang.

" Kau sudah tahu ternyata...kau siapa sebenarnya?" Tanya Irvin.

Armin gelisah di tempat. Di depannya ada pengeran mahkota!

Dia belum pernah berdekatan dengan keluarga kerajaan, palingan hanya kakeknya yang berhubungan dengan para Duke dan Putri Kerajaan Britania Raya. Jadi berhadapan langsung dengan Irvin membuatnya gugup.

" Jangan gugup..." Ucap Irvin. " Aku sudah membuang hal itu jauh-jauh. Hadapi aku sebagai seseorang yang telah menolongmu tadi. Jangan sebagai pangeran mahkota"

Armin mengangguk. " N-namaku Armin Arlert. S-salam kenal Irvin.."

Irvin ikut mendudukkan pantatnya di rerumputan. Dia mengangguk ke arah Armin. Sebenarnya dia tahu... Arlert adalah keluarga sebuah pemilik perusahaan terkenal di Inggris.

" Bagaimana keadaan kakekmu Armin?" Tanya Irvin lembut.

Armin tentu saja terkejut karena Irvin menanyakan kakeknya. Darimana dia tahu tentangnya? Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya? Atau kenal dimana?

" Kakekku baik-baik saja...darimana kau tahu tentangnya?" Jawab Armin.

Irvin tersenyum lembut.

Armin tersipu saat wajah tampan penuh wibawa itu memandanginya dengan pandangan selembut matahari pagi. Dia mengalihkan pandangan agar tatapan itu benar-benar membuat wajahnya semerah tomat matang.

" A-aku..." Ucap Armin lirih. " Merindukan Eren..."

Armin memainkan ujung jas merah marunnya khawatir. Dia benar-benar khawatir pada teman bermata Emeraldnya. Sejak kecil, dua bersahabat itu tidak pernah terpisah. Biarpun Negara mereka berbeda tetapi komunikasi mereka masih lancar. Sehingga mereka tidak seperti terpisah.

Tetapi baru kali ini Armin merasa benar-benar terpisah. Komunikasi mereka terputus dan mereka tidak tahu tentang keadaan satu sama lain. Apalagi Eren dibawa oleh ketua pendek yang terkenal kejam itu!

" Jangan khawatir. Ku yakin Levi tidak akan membunuh temanmu. Mungkin sedikit mengerjai" Jawab Irvin.

Dia yakin teman kurang tingginya itu menjamin keselamatan Eren. Levi tiba-tiba saja berubah drastis sejak kedatangan Eren. Mana mau Levi memberi keselamatan gratis kepada bocah kurang ajar yang telah menghinanya?

Irvin rasanya ingin tertawa melihat takdir menampar Levi telak. Dia yakin teman yang punya masa lalu lebih kelam darinya itu akan berubah. Hati dinginnya sekarang dalam masa pertimbangan untuk mencair ataupun makin mengeras sekarang.

" Ya...kuharap begitu juga". Desah Armin lelah

Dia merebahkan kepalanya di rerumputan lelah tapi tetap mengedarkan pandangan pada Irvin yang membersihkan katana miliknya dari darah segar para murid siswa Maria's Highschool.

Mengingat pembunuhan yang terjadi di jalanan tadi, membuat Armin ingin pingsan. Armin mengedarkan pandangan ke seluruh taman.

" Irvin-san...untuk apa kita disini?"

.

.

.

.

.


Eren merengut tidak suka di jok mobil Levi. Sesekali dia melirik pemuda bermata eleang di sebelahnya dan menyumpah dengan imut.

Levi yang sedari tadi berusaha menahan kesabarannya sejak kelakuan Eren di jalan yang tidak membantu kepalanya mendingin tetapi makin memanas menatap Eren sangat tajam.

Eren yang merasa hawa buruk, segera memandang ke sebelahnya dan menemukan Levi yang memandang sangat tajam sampai tulangnya melemas seperti agar-agar basi.

" A-APA-APAAN DENGAN TATAPAN ITU L-LEVI!?" Teriak Eren kesal.

Levi mendecih. " Diamlah bocah. Sebenarnya apa masalahmu Jaeger? Kau ingin kutendang keluar? "

Eren kembali merengut dan menatap jalanan kesal. Dia mengacuhkan Levi yang menatapinya tajam. Urat kesabaran Levi putus sekarang. Bocah ini benar-benar minta dibunuh olehnya ternyata...

NYYIIIITTTTT...!

BRUUKKKK!

" Sudah puas bocah?". Tanya Levi dingin.

Eren mengerang sendiri. Dia menggosok dahinya yang membentur laci mobil di depannya kuat.

Mata Emerald itu memandang Levi dengan tatapan kesal dan bibir yang dikerucutkan tidak suka. Levi menginjak rem-nya sengaja dan menghentikan pergerakan mobil secepat kilat hingga membuat Eren terpental ke depan dan membentur laci mobil.

" KATANYA KAU INGIN MENYELAMATKANKU TAPI AKU MALAH TIDAK SELAMAT SAMA SEKALI BERADA DI DEKATMU KERDIL!" Jawab Eren kesal.

Perempatan amarah muncul di dahi Levi.

Kenapa dia mau-maunya bersama bocah ingusan yang kurang ajar ini!? Rasanya dia ingin sekali menggilas wajah Eren dengan mobil Ferrarinya sekarang. Tangan Levi mencengkeram setirnya geram. Urat kesabarannya selalu putus jika bersama Eren.

Mereka berada di sebuah gang yang sepi tapi terawat. Jadi tidak ada masalah jika Levi meng-rem mobilnya sembarang disini. Dan juga tidak masalah bagi Levi untuk membunuh Eren sekarang. Tangannya gatal untuk mengambil pisau di sakunya dan menusukkan-nya pada Eren yang menyumpah-nyumpah di sebelahnya.

" Bisakah sekali saja... kau Levi berkata lembut padaku!? Jika kau bersikap seperti itu mungkin aku tidak akan melakukan ini! Aku juga lelah selalu menyumpah dan marah-marah saat bersamamu Cebol! Aku kehabisan kata-kata kutukan penyihir!". Omel Eren.

Levi tersenyum mengejek. Memang Eren itu siapanya hingga dia harus bersikap lembut pada bocah kurang ajar di sebelahnya? Apakah dunia terbalik sekarang?

Eren terdiam dengan merengut menunggu reaksi Levi. Dia berharap Levi akan bersikap apalah...tetapi Eren harus menelan semua ekspetasinya bulat-bulat.

Pemuda bermata elang itu malah menatapinya makin tajam dengan hawa semakin buruk.

" Turun".

" Hah! Apa tadi!?" Tanya Eren tidak faham.

" Turun sebelum kau kubunuh bocah. Aku tidak akan main-main kali ini". Sambung Levi dengan tangan mengepal kuat.

Eren mengedarkan pandangan ke luar khawatir. Tempat yang mereka datangi sekarang sangat asing. Eren adalah orang yang terbilang baru di Jepang hingga dia tidak tahu menahu seluk beluk kota Tokyo sampai sedalam ini. Jadi meninggalkan mobil Levi adalah pilihan terburuk dalam hidupnya.

" Tidak mau!" Jawab Eren mantap.

Levi terkejut. " Hei bocah bodoh. Apakah kau benar-benar mau mati?"

Dia menatapi Eren dengan tatapan dingin tetapi mata Eren balik menatapnya dengan kilatan takut. Mata Emerald cantik itu bersinar takut dan khawatir.

" Kumohon Levi. Kau boleh membunuhku atau apapun tapi jangan meninggalkanku! Setidaknya antarkan aku ke tempat Armin. Aku tidak tahu menahu tentang Tokyo!" Pinta Eren.

Levi mendesah kesal. Bocah ini benar-benar membuat pikirannya campur aduk hingga dia tidak dapat berpikir jernih. Eren terus memasang Puppy Eyes yang imut di jok mobilnya.

Mata Emerald itu seolah-olah memerangkap Levi dalam pesonanya. Dan membuat pemuda itu dilanda kebingungan mendalam. Antara harus mengikuti insting membunuhnya atau hati kecilnya.

" Hentikan mata itu bocah". Geram Levi. " Baiklah. Aku akan membawamu ke apartemenku"

Eren mendesah lega di jok dan menutup wajahnya lelah. Levi memijit keningnya pusing dan kembali memacu mobilnya.

Selama di jalan, Eren terus mengoceh. Bukan ocehan kutukan untuk Levi tapi ocehan sehari-hari Eren.

" Oh ya Levi. Kita mau kemana tadi?". Tanya Eren polos.

Pemuda tampan di sebelahnya menatap Eren tajam. " Kau tuli bocah? ku bilang apartemenku bodoh".

Raut wajah Eren kembali merengut kesal saat Levi menyebutnya tuli dan bodoh. Dia bukan seperti itu. Dan Eren kembali bungkam.

Mobil Ferrari itu memutar ke arah Apartemen mewah dengan halaman luas. Eren melesakkan kepalanya keluar dan terkagum melihat apartemen mewah di depannya. Apartemen yang tidak bisa dibilang murah itu. Dilihat dari banyaknya mobil mewah terparkir di halamannya yang pemuh pohon itu.

Orang-orang dengan pakaian modis terlihat berlalu lalang.

Eren kembali memasukkan kepalanya dan memberanikan diri memandang Levi yang sedang menyetir dengan wajah datar. Eren mengakui jika Levi sangat tampan apapun situasinya. Tulang wajah yang tegas, mata tajam yang menawan, rambut hitam belah tengah yang modis, kulit mulus seputih susu, benar- benar membuat Levi seperti Artis papan atas korea bahkan melebihi mereka.

" Singkirkan tatapan kotormu itu bocah atau aku akan menusuk matamu keluar dengan pisau tajamku". Ancam Levi.

Eren tersentak dan memilih melihat keluar jendela. Jujur...sekeras kepala Eren dia tetap akan merasa takut jika Levi sudah mengeluarkan ancaman padanya. Dan seperti sekarang dia ketakutan.

Mereka memasuki area parkiran yang tertata rapi. Dan Eren dapat melihat papan tulisan First Class di tembok parkiran yang bercat krim. Dia membulatkan mata pada Levi yang sedang mencari tempat parkir kosong.

Levi ini apa hingga parkir di First Class!?

Mobil mereka berhenti. Ferrari hitam itu terparkir di tengah-tengah antara BMW dan Mercede benz hitam mengkilat. Levi melepaskan sabuk pengaman miliknya dan mematikan Ferrarinya.

Dia menatap Eren yang membulatkan mata. Dahinya mengernyit. Ada apa dengan bocah ini sekarang?

" Oi Jaeger. Turun". Titah Levi.

Eren menggelengkan kepalanya dan melepas sabuk pengamannya. Dia segera turun dari Ferrari mewah itu bersama Levi.

Levi memasukkan kunci mobilnya ke saku jas miliknya dan berjalan di depan Eren. Mata tajamnya melirik Eren dari ujung mata. Bocah ini bertemu pandang dengan lirikan Levi dan mengalihkan pandangan.

Levi menghentikan langkahnya di depan Lift dan menekan tombol buka. Pikirannya sangat kalut hingga dia tidak memperhatikan Eren. Tapi insting Levi begitu kuat dan tidak sengaja telinganya menangkap gerakan kecil di belakangnya. Bukan gerakan Eren tapi lebih seperti gerakan menyergap.

Levi mengalihkan pandangan untuk melihat keadaan Eren, matanya membulat terkejut.

Rautnya seketika mengeras dan amarahnya naik sampai ke ubun-ubun. Dia menggeram bagai singa.

" JAEGER! OI JAEGER! KAU KEMANA BOCAH!" Teriak Levi marah.

Eren tiba-tiba menghilang! Levi mengacuhkan pintu Lift yang terbuka dan berlari mencari Eren di seluruh parkiran. Bagaimana bocah sialan itu menghilang secepat hantu!?

Baru kali ini dia merasa begitu kesal. Eren yang seharusnya bersamanya di kamar apartemennya sekarang menghilang dan membuat seorang Levi marah. Jangan sampai pemuda itu mengamuk atau dia berubah menjadi seorang iblis psikopat yang ganas.

Sepatunya menginjak sebuah benda. Levi segera menarik benda itu dan rautnya benar-benar mengeras. Dia akan membantai habis-habisan orang itu. Sisi Iblisnya terbangun sekarang.

Levi kembali ke Ferrarinya dan memacunya seperti orang gila keluar dari apartemen mewah itu. Tangannya menggenggam erat sebuah kalung perak dengan tatapan sangat tajam.

" Tenang Jaeger...Kau akan selamat dan..."

Levi mendecih.

" aku akan membunuhmu. Annie Leondheart"

.

.

.

.

.


" KABAR BURUUUUUKKKKK!"

Seorang siswa laki-laki dengan pakaian berandalan berlari panik di tengah lapangan sekolah. Membuat semua orang terkejut karena suaranya.

Dia berlari dengan wajah panik dan peluh membasahi tubuh hitam yang kokoh. Kakinya berlari gemetaran dengan situasi kacau. Hanji yang kebetulan lewat di koridor bawah dekat lapangan sambil membawa papan penelitian terkejut.

Dia hampir saja terpeleset dan berteriak senyaring sirine pemadam.

Pemuda itu menabrak Hanji dengan ganas. Para siswa di dekat mereka mengundurkan diri takut. Menabrak para murid File hitam sama dengan cari mati. Terutama Hanji Zoe− yang notebene-nya seorang ilmuwan sangat gila dan HyperAutisme.

Hanji membetulkan letak kacamatanya dan tiba-tiba terkejut melihat seorang pemuda berkepala plontos membulatkan mata panik dan gugup.

" Hei Connie Springer! Kenapa kau berlari seperti Titan kebelet buang hajat hah!?" Tanya Hanji.

" Anu− Itu...ngghh...itu Ma−Maria..!". Jawab Connie gagap karena saking gugupnya.

Hanji memegangi bahu Connie dengan ganas dan memelototi pemuda berkepala plontos itu seperti setan. Hawa gelap menguar dari tubuh Hanji dengan mata yang membulat layaknya malaikat penjaga Neraka.

" Connie Springer...katakan padaku dengan jelas!". Ancam Hanji.

Connie menahan nafas takut dan menjawab sangat nyaring karena takut pada tatapan Hanji yang seperti ingin memutilasi tubuhnya saat itu juga.

" ANAK-ANAK MARIA HIGHSCHOOL MENCULIK SALAH SATU MURID KITA DAN MENJADIKANNYA TUMBAL! MEREKA MEMASANG PERINGATAN DI TEMBOK SEKOLAH KITA!"

" APA!?" Teriak Hanji panik. " NYALAKAN PERINGATAN SEKARANG BOTAK!".

Connie segera berlari secepat kilat dengan panik ke atap sekolah gedung ketiga. Menabrak setiap siswa yang ada dan membunyikan alarm berwarna merah pekat.

Seluruh siswa segera berhamburan marah dan panik. Siapa keparat sialan yang berani-beraninya menyerang mereka!? Mereka berlarian dengan senjata tajam ke arah gerbang sekolah dan menemukan sapnduk besar dari darah dengan tulisan besar ancaman.

' SATU NYAWA DARI SURVEY CORPS HIGHSCHOOL, SATU KEHANCURAN BAGI KALIAN BEDEBAH BODOH!'

TERTANDA

A.L.H

" Cih! Sialan! Ternyata itu ulah Annie Leondhart keparat itu!" Teriak salah satu siswa.

Dan teriakan itu dibalas dengan teriakan emosi siswa lainnya sambil mengayunkan senjata tajam mereka gila-gilaan. Beberapa siswa menggeram dan mengutuk nama Annie Leondhart dan Maria Highschool.

" Hei semuanya!". Panggil seorang siswa dengan rambut dikuncir kuda. " Ngomong-ngomong siapa yang diculik?"

.

.

.

.

.

" Eren yang diculik"

Gelas kaca yang di pegang oleh Armin spontan terjatuh. Dan pecah berkeping-keping menjadi tak bersisa di rerumputan hijau berbatu.

Mata biru langit miliknya membulat penuh dengan kilat tidak percaya.

Armin menganga ke arah Irvin yang mengernyitkan dahi saat menerima telepon dari Hanji yang berteriak histeris dari ujung telepon. Hanji meneriakkan nama Eren terus menerus sambil berteriak-teriak layaknya orang gila.

" E-eren...D−diculik?". Ucap Armin gagap.

Irvin merasa sangat iba dengan pemuda manis di depannya dan kembali berbicara dengan Hanji untuk memastikan berita itu bukan Hoax ataupun lelucon ilmuwan gila mata empat itu. Jika Levi sampai mendengar ini, dia yakin akan menemukan kepala Hanji tergantung di atas perapian milik Pemuda kurang tinggi itu.

" Hei Hanji...kau yakin dengan berita ini?". Tanya Irvin tegas.

" AKU YAKIN 100 % DENGAN INI ERWIN! AKU SUDAH MENGHUBUNGI RIVAILLE DAN DIA BILANG EREN HILANG COEG!"

Irvin tersentak. " Hah!? Rivaille sudah tahu tentang ini!?"

" YA BODOH! DAN DIA MENYURUH SELURUH MURID FILE HITAM UNTUK MULAI EKSPEDISI KEPARAT! TITAN MANISKUU...HUWAAAA!"

Irvin mengernyitkan dahi bingung. " Ekspedisi apa Hanji!? Kita tidak pernah membahas ini sebelumnya..."

Hanji terdiam. Dan dia kembali mulai berbicara.

" Kurasa yang dimaksudnya adalah ekspedisi itu. Rivaille juga bilang bahwa biarkan dia yang mencari Eren karena musuh kita kali ini sama dengan yang menghajar murid file hitam sampai koma" Jawab Hanji dengan nada menyelidik.

Kali ini giliran Irvin yang membulatkan mata terkejut. Jangan bilang bahwa itu...

" Maksudmu Annie..Leondhart?" Tanya Irvin tidak percaya.

Hanji menghela nafas panjang. " Sayangnya iya Erwin. Kita harus mengulang ekspedisi itu. Maria Higschool mengeluarkan singa betina mereka yang sudah lama tertidur dan kali ini singa itu bangun. Kuharap macan kita mampu menghalaunya".

Irvin segera mematikan panggilan Hanji tanpa perpisahan. Dia menghampiri Armin dan menarik tangan pemuda itu pergi. Armin tersentak dan bergetar gugup karena tiba-tiba ditarik dengan Irvin yang berwajah sangat tidak bersahabat sekarang.

" E-ehh..kita mau k-kemana Irvin-san!?" Tanya Armin gugup.

Irvin menghentikan langkahnya dan memandang lurus ke arah Armin yang membulatkan mata bingung.

" Ikuti saja aku Armin...aku tidak ingin kau menjadi korban selanjutnya. Kurasa dia mengincarmu juga". Ucap Irvin.

" E−ehh..?"

.

.

.

.

.


Levi memacu Ferrarinya seperti orang gila di jalanan Tokyo dan membuat para warga berteriak histeris. Anggota Military Police sudah berusaha menghentikannya dengan mengeluarkan tembakan peringatan tetapi tembakan itu dia anggap hanya sebatas mainan.

Amarahnya sudah berkumpul dalam tubuhnya dan tangannya sangat ingin membunuh seseorang sekarang. Jika saja gadis pirang itu berani melukai Eren sedikit saja maka dia akan memotong setiap senti dari dagingnya.

Levi sangat menepati tanggung jawabnya. Karena dia yang sudah membawa Eren maka keselamatan bocah itu menjadi tanggung jawabnya.

Sebenarnya dia sangat bingung kenapa dia mau-maunya membawa bocah baru itu? Apa-apaan dengan otaknya yang sengklek sekarang!? Ingin rasanya dia menghentikan mobilnya dan merutuki sikap bodohnya tapi entah kenapa membayangkan Eren disakiti oleh musuh bebuyutannya itu membakar emosi miliknya.

Levi agak bingung harus mencari kemana sampai Email dari Hanji masuk ke Iphone mahalnya.

Dari: Mata Empat gila

Oi Levi! Aku memasang GPS pada tubuh Eren dan itu terhubung dengan Ipad milikku. Aku tidak dapat membukanya sekarang tapi kau dapat menghubungkan itu dengan GPS Ferrari milikmu. Sandinya adalah 94578AZH2M.

SEGERA TEMUKAN TITAN MANISKU RIVAILLE! KEKASIH MANISMU ITU MENUNGGU!

Levi mengernyitkan dahi kuat dan menyumpah pada Hanji saat membaca tulisan terakhir.

Kekasih apanya!? Dia bersumpah tidak akan pernah tertarik pada siapapun! Kepalamu Hanji Zoe jika dirinya mampu terpikat dengan bocah manis itu!

Dia hanya melaksanakan tanggung jawabnya dan segera menjauhkan bocah itu dari hidupnya setelah ini dan mungkin mempertimbangkan untuk membunuh Eren kali ini. Karena bocah itu luar biasa menyebalkannya!

Levi dengan setengah hati menyalakan GPS Ferrarinya dan memasukkan sandi milik Hanji. Segera sinyal terhubung.

Levi menatap tajam dan datar pada tempat dimana Eren disembunyikan. Sebuah simbol merah muncul di layar GPS Ferrarinya. Giginya bergemeletuk kuat. Dia sangat tidak suka jika masa lalunya dicampuri begitu jauh. Apalagi jika Eren masuk di dalamnya.

Dia menginjak pedal gas Ferrarinya sekuat tenaga dan melaju bagai kilat di jalanan Tokyo menuju sebuah gudang penyimpanan beras. Di sebelah sebuah gubuk kecil tua yang sangat Levi kenali dari dulu.

Tempat dimana ibunya melahirkan Levi. Di malam natal yang dingin tapi penuh kehangatan kasih ibunya yang mendekap tubuh mungil Levi kecil. Demi menghindari amukan ayahnya. Sebelum Levi dibawa lari oleh ibunya ke Paris.

" Tunggu saja Jaeger. Bertahanlah lebih lama disana bocah"

Levi memacu Ferrarinya ke arah perkampungan kecil yang nyaman. Kedatangan Levi begitu tiba-tiba dan brutal.

Para warga lokal sangat dikejutkan dengan sebuah mobil hitam mewah yang meluncur bagai angin. Sontak mereka berteriak histeris seperti ada gempa bumi.

Levi menatap jalanan dengan pandangan datar dan tatapan dingin. Dia setia terus melihat GPS demi memastikan Eren tidak kemana-mana dan tujuannya tidak menjadi sia-sia. Levi mendecih tetapi tidak ingin berkata-kata. Mood-nya sudah terlanjur buruk dan bawaannya hanya ingin menggorok leher manusia sebanyak-banyaknya.

.

.

.

.

.


" Jadi ini yang merasa gosipkan sebagai kekasih Levi?"

Eren memandang amarah seorang wanita di depannya. Matanya berkilat benci dengan raut wajah mengeras. Tubuh ramping Eren terikat pada sebuah kursi kayu dengan tali tambang hingga dia tidak dapat bergerak.

Wanita dengan rambut pirang disanggul. Poni panjangnya dibiarkan menutupi sebelah matanya yang tegas. Raut wajah wanita itu sudah memberitahu Eren bahwa dia sangat berbahaya.

Tangan wanita itu menarik dagu Eren paksa ke atas hingga membuat pemuda manis itu mendongak. Eren mendecih dan mendengus kasar padanya tetapi wanita itu hanya tersenyum mengejek.

" Katakan padaku bocah manis...bagaimana sikap kekasihmu itu hah?" Sindir wanita itu.

" Dia bukan kekasihku! Dan aku adalah pemuda...dia menyebalkan!" Jawab Eren kesal. Kenapa semua orang selalu menyangkutpautkan mereka berdua seperti sepasang kekasih! Eren muak dengan semua ituuu!

" Hah bocah". Ejek wanita itu. " Kau tahu...seharusnya kau meminta tolong padanya karena aku akan membunuhmu sekarang"

" A-apa?"

Eren tersentak saat wanita itu mundur perlahan darinya dan memasang kuda-kuda berkelahi yang sangat kentara. Membuat Eren panik sekaligus khawatir, ditambah keadaan tempatnya yang cukup gelap dan pengap penuh dengan karung beras.

" A-APA YANG INGIN KAU LA− ARRRGGGHHHH!"

Darah segar mengalir deras dari mulut Eren yang terbatuk parah.

Mata Eren membulat terkejut dengan raut sangat tersakiti disaat kaki jenjang wanita pirang itu menendang perutnya begitu keras hingga kursinya bergerak 5 cm dari asal. Eren berusaha bernafas normal dengan darah mengalir tapi pukulan dan tendangan terus menerus melayang ke arahnya.

Eren mentutup matanya menahan sakit. Hidung dan mulutnya terus menerus mengalirkan darah segar dengan air mata berjatuhan semakin deras. Nafasnya tertekan dan wajah Eren memerah mencari oksigen.

Tendangan wanita pirang itu selalu menghalangi usahanya demi bernafas. Kursi kayu tempat dia disekap berderit dan bergerak brutal karena pergerakan wanita itu yang memukul dan menendang Eren.

BUUUGGGHHH!

BRAAKKKK!

BUUUGGHH!

" KU−KUMOHON..CHU−CHUKU..ARGGGHHH! T-TOLONG ARRGGHHH!"

Teriakan penuh kesakitan Eren terus menggema mengisi ruangan berukuran meter itu. Paru-parunya tertekan kuat.

Para murid laki-laki yang melihat kejadian itu hanya tertawa karena ternyata murid yang mereka culik sungguh sangat lemah seperti bayi.

Gadis pirang tadi menendang kursi kayu itu hingga Eren terbalik dengan keadaan masih terikat. Wajahnya begitu kacau dengan airmata, darah, dan memar dimana-mana. Eren bernafas tersengal-sengal seperti orang asma akut dengan kesadaran yang semakin menipis.

Suaranya sudah terkuras habis hanya untuk berteriak meminta dihentikan dan tolong. Seragamnya penuh darah dan kumal. Kulit semulus bayinya dan wajah cantik Eren penuh luka memar yang memilukan.

Tapi dibalik kesadarannya yang mulai menghilang, ada satu nama yang sangat Eren harapkan sekarang. Persetan dengan sifat menyebalkannya−Eren bertumpu padanya sekarang. Mata emerald itu berbinar khawatir.

" L-levi..hiks..L-levi..kumohon..d-datanglah..hikss. Sakit..hiks..ittai..". Pinta Eren dengan sangat lirih.

Gadis pirang itu terkekeh dengan wajah mengerikan. " Baru ini kau memohon pada ketuamu bocah!? Kau selemah bayi! Mohonlah sekuat-kuatnya karena aku akan membunuhnya juga!"

" Siapa yang ingin kau bunuh Annie Leondhart?"

Eren segera membuka mata Emerald-nya lemah dan nafasnya kembali cepat saat menemukan Levi berdiri dengan tatapan tajam di depan pintu ruangan. Tangannya membopong sebuah senapan perak panjang dengan empat mayat laki-laki yang terbujur kaku.

Annie hanya memandang seorang pemuda dengan tatapan setajam belati itu remeh. Dia menumpukan sepatunya ke kepala Eren yang terebah di lantai marmer. Levi terkejut dan emosinya bangkit dengan buas.

Amarahnya benar-bena terbakar saat melihat Eren tak berdaya dengan keadaan penuh darah dan sangat tersakiti di bawah kaki gadis sombong itu.

Ho..ternyata dia memang cari mati dengan iblis ternyata?

" Kenapa Levi!? Merindukan bocah ingusan ini!?". Teriak Annie.

Dia menendang tubuh Eren. Dan segera pemuda manis itu mengerang sekuat tenaga saat tubuhnya yang sudah sangat sakit dipaksa merasakan sakit yang lebih. Saliva sudah jatuh berceceran dari mulut Eren yang setia terbuka untuk berteriak minta tolong.

Levi sudah tidak tahan lagi!

DOORRR!

DOORRRRR!

DOOORRRRR!

Suara tembakan peluru perak Levi bertebangan di tempat itu.

Levi menembakkan pelurunya dengan satu tangan tapi itu tetap akurat untuk tidak menembak kepala Eren yang terkulai lemas seperti boneka. Jangan remehkan dengan ketepatan Levi yang profesional itu.

Annie tersentak saat Levi terus menerus menembakkan peluru itu. Bahkan wajah pemuda tampan itu tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Dia terus menerus menghindar tapi Levi juga terus mengekorinya seperti bayangan yang senantiasa mengikuti pemiliknya.

Dan dia semakin tersentak menemukan sebuah peluru dengan bentuk seperti umpan pancing hampir menembus kepalanya. Matanya menangkap sesosok Hanji dengan baju jubah hitam panjang berdiri di balkon atas, berdiri memegang pistol kimia.

" Cih...anak-anak file hitam!". Ludah Annie.

Irvin dan Farlan muncul dari balkon sebelah kiri dan memberi petunjuk Levi untuk membawa Eren yang talinya sudah dilepas oleh Auruo.

Levi hanya menatap datar semua anggota file hitam yang berkumpul dan menghampiri Eren dengan tatapan tajam.

" Dasar bodoh. Kalian ternyata mengikutiku orang-orang sialan". Maki Levi.

Sebuah pisau melayang tepat di sebelah tangan Levi dan hampir menyayat tangannya yang ingin menyentuh rambut Eren yang lepek karena keringat. Annie melotot padanya ganas dengan raut wajah emosi

" Tidak semudah itu pendek!" Teriak Annie.

Levi mengernyitkan dahi kesal dan mengarahkan senapannya geram.

DOORRRRR!

" Tidak semudah itu juga kau mengataiku, jalang". Ucap Levi dengan tatapan tajam.

Peluru Levi menusuk bahu Annie dan membuat wanit itu terguling. Para anggota File hitam segera menghampirinya tapi Annie tidak sebodoh itu untuk ditangkap. Dia masih tetapi berlari dan anggota lainnnya mengejarnya seperti anjing pemburu dan rusa buruannya.

Levi mengangkat Eren yang tidak sadarkan diri. Bukan seperti saat dia mengangkatnya di UKS melainkan dengan Bridal style dan membopong pemuda itu dengan tatapan datar ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh.

Dia merebahkan tubuh lemas Eren di jok mobil di sebelahnya dan membiarkan pemuda itu bersandar di kaca mobil. Levi melirik tajam Eren dan matanya menangkap sebuah tanda ungu di leher Eren.

Bekas gigitannya.

Kata-kata Hanji terngiang di pikiran Levi.

Apakah benar dia menandai bocah ini? Menyimpannya dan memberi peringatan kepada semua orang bahwa Eren di bawah lingkupnya? Bahwa Eren adalah...M-miliknya?

Levi menghapus semua pikiran nista itu dan memacu mobilnya kesal. Dan lebih kesal saat melihat Eren begitu tidak berdaya dan lemah. Levi sudah mengetahui sebelumnya bahwa Eren sanga lemah dan amarahnya terbakar melihat pemuda manis itu terkulai tak sadarkan diri.

Dan entah kenapa hatinya sangat terdorong kuat untuk mencium pipi gembul pemuh memar milik Eren. Awalnya Levi menolaknya tapi hatinya memberontak.

Levi memandang tajam bocah itu, memastikan Eren tidak sadar.

Bibir sexy milik Levi yang tipis itu sedikit demi sedikit mendekat. Menuju pipi Eren dan semakin dekat. Hingga akhirnya bibir Levi menyentuh dan mencium sangat lembut pipi itu.

Levi melepaskan ciumannya dan tersentak. Kulit Eren begitu lembut seperti kulit bayi. Dia benar-benar akan mematahkan kaki Annie karena membuat kulit lembut itu terluka. Jempolnya menyentuh memar Eren dan pemuda itu mengerang kesakitan dalam tidurnya.

Levi menjauhkan tangannya dan kembali menatap tajam dan datar Eren. Dia akan membawa bocah ini. kurasa hati Levi bimbang sekarang.

Apa yang terjadi dengannya sekarang?

Levi memijit keningnya pusing dan memacu Ferrarinya menuju tempatnya yang sempat di tinggalkannya sebelumnya

.

.

.

.

.

T

B

C

XD

HOLLLAAA! SAYA BALIK LAGI NE! ^^

MAKASIH YA BUAT SEMUANYA YANG SUDAH NYEMPATIN BACA REVIEW FAV AND FOLLOW THIS STORY!

ARIGATOU NE! SUKIDAYO! ^^