CHAPTER 8

AN ATTACK ON TITAN FANFICTION

.

.

.

WARNING : YAOI AND MATURE CONTENT

CAST :

ALL SNK CHARACTER

.

.

.

PAIRINGS:

RIREN ( MAIN)

ERUMIN

JEANXARMIN

.

.

.

ENJOY IT

BY AULIA ASRIKYUU


" Hanji! Kau menemukan jejak Annie?"

Hanji menggelengkan kepalanya dengan pandangan fokus pada sebuah Ipad perak. Manik coklat yang dibingkai kaca mata itu sibuk menelaah apapun yang muncul di layar alat berteknologi canggih di tangan miliknya.

Irvin dan Farlan berdiri dengan nafas tersengal dan tubuh penuh darah bersama katana mereka di bawah sebuah pohon beringin yang lebat. Di ikuti dengan seorang pemuda berambut coklat pasir belah tengah pendek bersama gadis muda berambut coklat madu sebahu.

Mereka berlari dengan raut wajah serius yang sangat kentara.

Pemuda berambut coklat pasir menendang sebuah batu kesal hingga mengenai sebuah tong sampah dan membuat lari kucing-kucing jalanan.

" Cih! Kenapa kita selalu kalah cepat dengan wanita sialan itu!? Di tambah lambat sekali Erd dan Gunther itu!" Teriaknya geram.

Hanji hanya meliriknya sekilas tanpa minat tetapi tetap melanjutkan mengutak-atik Ipad-nya. Karena pistol kimia yang dia tembakkan pada Annie mempunyai sinyal GPS yang terhubung langsung dengan Ipad miliknya. Dia juga melacak keberadaan partner mereka yang sedang dalam misi mengejar Annie.

Gadis ilmuwan itu menyipitkan mata saat melihat partner mereka hanya berputar-putar di sekitar kereta bawah tanah Shibuya. Yang membuat Hanji kesal karena bisa-bisanya wanita pirang itu lolos dari GPS MILIKNYA!?

Terkadang sinyal Annie terlihat terkadang hilang hingga membuat Hanji ingin sekali memutilasi Annie karena saking kesalnya setengah mati.

" HAH! SIA-SIA SAJA AKU MEMBUANG-BUANG PELURU KIMIAKU YANG BERHARGA! DASAR WANITA KEPARAT!" Teriak Hanji kesal.

Dia melempar Ipad-nya ke dalam tas ranselnya kesal. Hanji menyumpah-nyumpah sendiri dan berteriak layaknya orang kurang waras. Hingga membuat yang lain hanya menggelengkan kepala heran.

" Setidaknya beritahu kami dimana terakhir kali sinyal-nya berada, Hanji!". Sungut perempuan berambut coklat muda.

" SUDAH!" Lotot Hanji padanya. " TERAKHIR KALI DIA MASIH BERADA 5 METER DI DEPAN KITA DAN SEKARANG DIA SUDAH HILANG SEPERTI HANTU! SINYAL-NYA SAJA KADANG MUNCUL KADANG TIDAK. SEPERTI DIA PETRA RALL!".

Farlan menepuk-nepuk punggung Hanji lembut yang semi mengamuk sekarang. Kenapa masih semi? Karena jika Hanji benar-benar mengamuk maka semua orang yang didekatnya pasti mati sekarang. Tidak terkecuali mereka juga.

Hanya Levi seorang yang mampu menangkal Hanji yang sudah seperti iblis neraka yang kelaparan.

" Bagimana dengan Erd dan Gunther?" Tanya pemuda berambut coklat pasir.

" Mereka juga Auruo! Hanya berputar-putar di sekitar kereta bawah tanah Shibuya saja!" Jawab Hanji dengan wajah merengut.

Petra, sang Gadis berambut coklat muda hanya mendengus. Dia menggosok-gosok jarinya yang bengkok tanpa ketahuan.

Jadi semua pencarian sia-sia ini hanya untuk Eren? Si bocah baru ingusan itu!?

Petra rasanya ingin menangis jika Levi, pangeran tampan berhati es yang notabene-nya TUNANGANNYA itu jatuh cinta dengan bocah bodoh yang kurang ajar. Rasanya dia ingin pulang daripada ikut ekspedisi sia-sia ini.

Tapi sebagai murid file hitam mengharuskannya ikut. Ditambah ini perintah Levi yang sebagai ketua sekolah dan geng mereka adalah perintah absolut yang mutlak. Tidak ada pengecualian kecuali yang memang suka cari mati seperti Hanji.

Sebenarnya Hanji pernah hampir dibunuh oleh Levi karena dia saking geramnya dengan Hanji yang masih bisa tertawa di saat lehernya hampir putus. Jika kalian lihat benar-benar, terdapat luka memanjang yang dalam di leher Hanji.

Tapi entah anugerah Tuhan atau apapun...leher Hanji sangat putih dan mulus serupa artis hingga dapat menyamarkan luka itu. Biarpun Hanji itu sengklek dan gila tapi otak dan kecantikannya bersinar.

Hanya saja dia gila...itu saja.

Hanji baru teringat sesuatu. Dia kan punya dua titan imut baru! Jangan sampai panda eropa imutnya ikut jadi korban juga!

" ERWIN!" Panggil Hanji tiba-tiba. Membuat Irvin dan lainnya yang sedang berdiskusi terkejut.

" Ada apa Hanji? Kau menemukan sesuatu?" Tanya Irvin tegas.

Gadis berkacamata itu sukses membuat jantung Irvin serasa jatuh jika dia berteriak. Belum pernah dia menemukan makhluk hidup di alam semesta yang Hyper-Autisme dan gila seperti Hanji. Yang berteriak-teriak dan tertawa sampai dia-nya sendiri mati.

" Armin imutku kau letakkan dimana!?" Tanya Hanji histeris.

" Siapa lagi itu Armin!? Dan apa-apaan dengan imut itu!?". Sembur Petra sambil terkekeh.

Hanji hanya menjulurkan lidah kesal seperti anak kecil pada Petra dengan mata dijulingkan. Tidak ada yang boleh mengatai duo titan imutnya Eren dan Armin! Merekalah aset berharga Hanji yang sukses membuatnya selalu overdosis keimutan tingkat tinggi.

" Panda imutku lebih baik dari tanganmu yang dipatahkan Levi, Petra!". Ejek Hanji.

Farlan dan Irvin berusaha menahan tawa karena mereka sebenarnya sudah tahu tapi merahasiakannya demi harga diri gadis sialan itu. Auruo menganga melihat Petra menggengam jari telunjuk kanannya yang menggantung ke arah yang salah.

Wajah Petra memerah marah dan malu.

" D-darimana kau tahu itu!?". Teriak Petra gagap karena malu.

Hanji melihat-lihat langit seolah-olah mengejek dan merahasiakan sesuatu. Petra makin memerah malu. Dia membalikkan badan dan terduduk di pinggir jalan. Berteriak-teriak serta menyumpah dengan kata-kata kutukan yang dia tahu.

" Mana kau letakkan Armin, Dasar alis ulat sagu!?" Tanya Hanji lagi kali ini.

Irvin menyipitkan mata. Dia berusaha menyembunyikan perihal ini tapi bila Hanji sudah bertanya, sampai Irvin matipun dia masih menuntut jawaban seperti malaikat penjaga kubur.

" Dia aman. Bersama si Kirschtein" Jawab Irvin.

" HEH!?". Sembur Hanji bingung. " Kirschtein yang mana!?"

Irvin memutar matanya jengah melihat kelambatan proses loading otak Hanji sekarang.

" Jean Kirschtein, Hanji...! Bawahan para murid file hitam itu! Yang sering disuruh Levi menjaga sekolah atau membuang mayat yang sudah dibunuh olehnya". Jelas Farlan panjang lebar.

" Oh...Kirschtein". Jawab Hanji tenang.

" APPPAA! KIRSCHTEIN YANG ITU!?" Sembur Hanji dengan nyaring.

Sampai-sampai membuat Petra terjungkal dari duduknya menghantam aspal. Auruo saja meneguk permen karet mint miliknya karena sama terkejutnya dengan Petra. Hanya saja bedanya kalau Petra pantatnya yang sakit maka Auruou suaranya yang sakit.

Lihat saja...dia terbatuk saat permen karet itu meluncur cepat menuju saluran kerongkongannya. Membuat tawa Farlan dan Irvin meledak melihat dua sejoli itu sama-sama terkena musibah tiba-tiba mendengar suara Hanji yang menggelegar.

" Sialan kau Hanji Zoe!" Maki Petra yang mengelus kepala dan pantatnya.

Auruo menggerutu saat permen karet itu dirasa tidak menahan di saluran kerongkongannya lagi.

Hanji hanya mengigiti jarinya khawatir. Dia meloncat-loncat gelisah di tempat seperti anak kecil.

" Memangnya kau menyuruh si muka kuda itu untuk membuang mayat Armin gitu!?" Teriak Hanji gelisah.

Irvin menepuk jidatnya dan memijit keningnya pusing. Temannya ini terlalu berpikiran negative tentang segala hal hingga membuat Irvi kesal sendiri seperti Levi jika terlalu lama berbicara dengan Hanji.

" Bukan Hanji..." Jelas Irvin. " Aku menyuruhnya menjaganya karena dia memang penjaga yang handal. Kemampuan pengawasannya sangat tinggi makanya Armin ku serahkan pada Jean"

Hanji mengurut dada lega dan kembali mencak-mencak bersama Farlan dan Irvin. Auruo juga ikut berdebat dengan anggota file hitam lainnya. Lain dengan Petra. Dia masih duduk termangu kesal karena pasti dia akan jadi bulan-bulanan sehabis ini karena tangannya dipatah Levi.

Tapi mata coklat madunya menangkap sesuatu.

Di ujung jalanan besar yang sepi tempat mereka sekarang, tepat di persimpangan sesuatu yang tidak asing bagi Petra terlihat. Para murid laki-laki yang sedang berdebat dari kejauhan. Dan mata lembutnya itu memicing melihat lambang di jas hitam coklat mereka.

Lambang sebuah bunga merah berduri yang melilit lencana putih keperakan. Dengan pedang di sisinya.

" Teman-teman" Panggil Petra.

Hanji dan yang lainnya mengalihkan perhatian mereka pada Petra yang masih setia memicing ke arah persimpangan.

" Kita kedatangan anak-anak Maria Highschool"

.

.

.

.

.


Levi dengan berhati-hati dan sembunyi-sembunyi membopong tubuh Eren yang terkulai tak berdaya di parkiran First Class apartemen. Memastikan tidak ada yang melihat mereka. Apa jadinya jika ternyata seorang ketua geng paling ditakuti di Tokyo tinggal satu apartemen dengan mereka!? Apalagi dia membawa seorang pemuda dalam keadaan babak belur...

Dia yakin apartemen ini akan sunyi kurang dari 30 menit karena semua orang kabur ketakutan.

Eren hanya bernafas berat di dalam gendongan hangat tubuh Levi sedangkan Levi mati-matian berusaha menyembunyikan keadaan mereka. Dia melirik tajam Eren dan mendengus.

Ternyata tubuh bocah ini tidak sama dengan tingginya. Tubuhnya sangat ringan hingga hanya dengan satu tangan Levi bahkan sudah mampu mengangkatnya tapi daripada membuat Eren terguling-guling di apartemen, Levi memilih membopong pemuda manis itu.

Tapi Levi bisa muak sendiri melangkah secara sembunyi-sembunyi seperti maling di apartemen MILIKNYA SENDIRI!

Oke..kujelaskan sekali lagi. Apartemen termewah kedua di Jepang ini adalah MILIK LEVI DAN BERADA DI BAWAH PANJI-PANJI NAMANYA.

Sejak Levi diusir sendiri oleh ayahnya saat masih SMP kelas 9, semua kebutuhan hidupnya ditahan. Jadi dia harus menghidupi hidupnya sendiri dengan uang dan kerja keras sendiri.

Hohoho...Levi terlalu pintar untuk memohon seperti budak rendahan pada ayahnya. Tunggu sampai ayam jantan bertelur baru kau melihat Levi seperti itu. Dia bersumpah tidak akan meminta-minta pada laki-laki tua brengsek itu.

Dia berhasil membuat sebuah apartemen mewah dengan kecerdikannya dan wajah tampannya tentunya. Hingga menarik hati banyak klien.

Dahulu dia masih belum terkenal sangat kejam dan badung seperti sekarang dan juga para klien-nya hanya tahu namanya Rivaille bukan Levi. Hingga mereka mengira Levi hanyalah pemuda tampan yang mempesona para klien karena kepintarannya.

Bahkan para pekerja disini hanya tahu Levi sebagai yang rumornya sangat tampan. Karena Levi jarang menunjukkan mukanya bahkan menghadiri rapat dengan staff. Dia tahu semua orang akan terkejut disaat menemukan mereka ternyata adalah Levi, Ketua Geng berhati es yang ditakuti seluruh Tokyo.

Tapi tidak semua staff tidak tahu tentangnya. Ada beberapa orang yang tahu bahwa bos mereka adalah Levi. Seperti Petra Rall yang notabene-nya sekretaris pribadinya dan...

" Oi Sasha Brauss." Panggil Levi dingin

Seorang gadis berambut coklat dikuncir yang kebetulan lewat parkiran untuk mengambil kentang rebusnya segera memalingkan kepala. Matanya membulat terkejut dan gadis itu membungkukkan badan hormat.

" A-ada apa Tuan L-levi memanggil saya?" Tanya gadis itu gugup karena kehadiran Levi begitu tiba-tiba.

Gadis yang suka makan itu sebenarnya adalah salah satu murid Survey Corps Highschool tapi Levi mempekerjakannya sebagai salah satu staff karena biarpun dia rakus tapi dia ulet bekerja.

Levi menatap gadis itu datar. Dia berusaha menyamankan tangannya yang membopong Eren yang terkulai lemas dengan wajah polos nan damai. Sesekali dia mengangkat tangan agar kepala bocah itu tidak menghantam lantai parkiran dari marmer dan menambah luka bocah itu.

Sasha mengangkat badannya dan menunjuk ke arah Eren dengan wajah bingung yang lucu.

" Itu−bukannya Eren? Si bocah baru masuk bukan Tuan Levi? Kenapa dia bisa bersamamu dan−kenapa dia babak belur?" Tanya Sasha.

Levi melirik sekilas pada Eren dan kembali bertatapan dengan Sasha yang berusaha tidak tersenyum canggung. Sebenarnya gadis itu bingung harus bereaksi apa pada Levi saat melihat atasan dan ketua sekolahnya menjadi pahlawan sehari demi bocah baru yang dia tahu suka menghina Levi.

Dia juga kaget karena bocah itu belum juga mati sedangkan mulut Eren sering mengatai Levi dengan sumpah serapah sebanyak gedung. Tapi dia memaklumi Eren yang babak belur karena mungkin saja Levi baru memukulinya. Tapi yang tidak bisa dia maklumi bahkan percaya karena Ketua berhati es itu membawa Eren ke apartemen pribadinya!

Hanya teman-temannya dari file hitam yang boleh menginjakkan kaki di kamarnya yang berharga itu.

" Oi Brauss". Panggil Levi kembali.

Sasha segera menghilangkan lamunannya dan menghadap Levi. " Y-ya!? A-ada apa Tuan Levi? Apakah kau perlu segelas cocktail atau Wine Prancis asli lagi?"

" Tidak" Jawab Levi datar. " Aku sedang tidak tertarik untuk minum sekarang"

" Lalu?" Sambung Sasha bingung. " Apa yang anda perlukan?"

Levi kembali melirik Eren yang terkulai makin lemas dengan keadaan wajah buruk. Membuat Levi muak sendiri melihat bocah itu makin dekil dengan darah. Rasanya dia ingin menggosok Eren dengan seluruh koleksi sabun mahalnya sampai benar-benar bersih.

" Berikan akses tercepat ke kamarku. Tanpa ketahuan". Ucap Levi dengan penekanan pada kata terakhir.

Sasha menggaruk tengkuknya bingung. " Kamar anda yang mana? Ekslusif itu atau yang biasanya?"

Levi segera menatap gadis berambut coklat itu sangat tajam. Dengan pandangan datar yang penuh intimidasi mendalam.

" Bodoh. Tentu yang biasanya. Kau mau bocah ini ku bilas dalam bak penuh minuman ber-alkohol?" Maki Levi. " Aku tidak ingin mengambil resiko bocah ini menjadi pemabuk di bar milikku Brauss. Cepat laksanakan atau kau kubunuh"

Tentu saja Sasha sangat kaget dengan ancaman Levi. Dengan cepat dia merogoh Iphone miliknya panik dan memencet beberapa tombol gelisah. Levi mengetuk-ngetukkan kaki kokohnya sambil sesekali mengamati keadaan Eren yang belum sadar juga.

Sasha melotot pada layar.

" D−DAPAT!" Teriaknya penuh kelegaan.

Levi memandang gadis itu dingin dengan desisan kuat. Sasha yang mengerti karena Levi tidak suka keributan, segera meminta maaf panik karena dia takut kepalanya bisa kapan saja sudah putus.

" Maafkan aku T-tuan Levi!". Sembur Sasha. " Maksudku tadi aku sudah mendapatkannya...karena kamar Tuan di lantai 25, dari sini tuan naik lift sampai lantai 18 dan berjalan terus melewati auditoriu−"

" Tunggu dulu Brauss". Potong Levi dengan dahi yang mengernyit. " Kenapa aku harus melewati auditorium? Ingin tempat ini bangkrut karena aku dilihat banyak orang?"

Sasha meneguk ludah berat. Dia bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Levi yang keras kepala dan penyangkalan tapi pintar itu. Jika dia salah menjelaskan maka dia harus menyiapkan asuransi kematian sekarang.

" B-bukan begitu Tuan L-levi...". Jelas Sasha canggung. " Auditorium sekarang masalahnya dipakai oleh..nghh...yahh bagaimana menjelaskannya ya?"

Levi menyipitkan mata curiga. Dia berusaha mengingat-ngingat jadwal pemakai auditorium yang diberikan Petra pagi tadi sebelum dia berangkat sekolah. Sasha berusaha gelisah mencari clue untuk menjelaskan.

Dia melempar pandangan sembarang tapi akhirnya matanya berbinar-binar senang.

" Tuan Levi!" Panggil Sasha. " Apakah Tuan mengenali mobil mewah di dekat mobil Tuan itu!?"

Levi mengikuti arah telunjuk Sasha dan menemukan sebuah mobil Sport berwarna hijau dengan sticker burung di salah satu jendelanya. Awalnya dia juga bingung siapa yang memiliki mobil itu tetapi setelah mengingat mengapa dia bisa lewat di auditorium, akhirnya dia mengerti.

" Aku ingat sekarang Brauss. Aku akan lewat auditorium.". Jawab Levi datar sambil membenarkan gendongannya pada Eren.

Sasha mengurut dadanya lega. Kepalanya tidak jadi putus kali ini.

Levi menghampiri Lift parkiran dan memencet tombol lantai dengan satu tangan yang berusaha dia bebaskan dari Eren. Bocah manis itu melesakkan kepalanya makin nyaman di dada Levi dan menggumamkan nama ibunya.

Yang tentu saja membuat Levi tersentak kaget. Baru kali ini seumur hidupnya dia menemukan seseorang yang bahkan tidak takut mengejeknya malahan dia yang membuat Levi hampir menyerah sekarang.

" Oi bocah". Desis Levi. " Singkirkan kepalamu, aku tidak bisa memencet tombolnya"

Eren yang belum sadar tentu tidak mendengarkan apa perkataan Levi. Dia malah mendengkur dan menggeram halus bagai kucing, membuat rambut Ebony sehalus sutra mlikinya bersentuhan dengan bagian dari dada Levi yang tidak tertutup seragam.

Membuat pemuda bermata elang itu merasakan sensasi tersendiri. Jujur, Levi menyukainya. Sangat lembut dan bersih. Seperti Tipe kesukaannya.

Levi mendecih dan berusaha tidak menghiraukan kepala Eren dan memencet kasar tombol buka. Segera saja lift itu terbuka. Untung saja lift-nya kosong.

Pemuda tampan berhati es itu memasukinya dan berbalik menatap Sasha yang menjilat-jilat kecil kentang rebus miliknya. Levi memutar matanya jengah melihat kelakuan rakus dan menjijikan salah satu staff-nya.

" Oi Brauss". Panggil Levi dingin. " Pastikan tidak ada orang yang menaiki lift yang sama denganku. Tahan mereka".

" Okhehh..akhan khu kerjhkhan bhebera...". Jawab Sasha dengan mulut penuh kentang. Dia memasang pose tangan hormat.

Levi jijik sendiri dan segera memencet tombol lantai 18. Dia menahan hasrat terpendamnya untuk menggilas mulut gadis rakus itu dengan sikat WC miliknya yang bersih dan higenis.

Dan akhirnya pintu lift itu tertutup sempurna. Meninggalkan Levi dan Eren sendiri di dalamnya selagi benda itu bergerak menuju lantai 18 apartemen mewah ini.

Levi menatap semuanya datar dan dingin. Menunggu seperti ini merupakan salah satu aktivitas paling dia benci karena sangat membosankan. Dia bukanlah tipe orang yang suka membuang-buang waktunya untuk hal-hal yang tidak ada artinya seperti ini.

" Mikasa..." Gumam Eren lirih.

Levi membulatkan mata terkejut. Kenapa bocah ingusan ini selalu menggumamkan nama Mikasa kemana-mana? Dia bahkan pernah menemukan Eren meneriakkan nama Mikasa saat dia tersudut atau takut bersama teman pirangnya.

Mikasa punya hubungan dengan bocah ini? Kekasih kah?

Memikirkan kalimat terakhir tadi membuat Levi sedikit kesal. Dia tidak akan pernah membiarkan adiknya berpacaran dengan bocah lemah seperti Eren.

Dan tanpa dia sadari, dia mengeratkan gendongannya pada Eren dengan mendesis. Seolah-olah tidak membiarkan bocah itu kemana-mana. Sebenarnya Levi itu tidak rela Mikasa berpacaran dengan Eren atau tidak rela Eren direbut orang lain sih!?

Levi mengerang. Padahal baru beberapa hari dia bersama bocah ini tapi entah kenapa mereka selalu menempel. Eren yang selalu terkena musibah dan Levi yang entah kenapa selalu ada demi menolong bocah yang padahal sangat dan sangat dibencinya sejak awal mereka bertemu.

Lift itu tiba-tiba berhenti. Levi melirik sekilas ke penunjuk lantai. Masih lantai 10

Dia hanya memandang datar tanpa suara.

Tapi Lift itu tidak jadi terbuka dan melanjutkan perjalanannya ke lantai 18. Levi tahu bahwa Sasha pati mengerjakan tugasnya bagaimanapun caranya. Gadis itu pasti yakin kepalanya putus jika membiarkan tugasnya gagal.

Eren kembali mendengkur nyaman di gendongan Levi. Hati kecil Levi mencelos. Ada perasaan kuat untuk melindungi bocah manis di gendongannya. Perasaan yang dulu pernah muncul saat dia masih kecil.

Perasaan yang sama untuk melindunginya ibunya. Yang gagal dia laksanakan.

Tangan Levi mengepal marah. Dia menggertakkan giginya mengingat ayah yang selalu angkuh itu.

Inilah mengapa Levi tidak ingin jatuh cinta dengan siapapun. Dia takut− sangat takut malahan jika orang yang sangat dia sayangi dan dia lindungi malah gagal.

Seperti ibunya.

Hatinya mengeras bagai es karena sudah lama tidak merasakan kehangatan rasa sayang dan cinta. Sejak ibunya tiada, hatinya tertutup dengan kesedihan dan kebencian mendalam. Tawa ibunya, pelukan hangat tubuhnya, masakan yang enak.

Semua itu sirna. Tidak ada sisa bagi Levi yang terkurung dalam kesedihan tanpa akhir.

Tapi..tapi..

Eren seolah-olah mampu menariknya dari sana. Seolah-olah bocah kurang ajar ini diciptakan demi membebaskannya. Menemani hatinya yang sedingin es dengan cahaya matahari musim semi yang sangat lembut.

TINGGG!

Levi menghilangkan semua lamunannya saat pintu lift itu terbuka tepat di lantai 18. Menampilkannya sebuah auditorium mewah dengan gaya eropa dan jepang klasik yang berbaur dengan indahnya.

Dia melangkahkan kaki tegapnya, keluar dan menginjak karpet tebal merah bermotif bunga Sakura yang mekar. Mata tajam Levi dapat melihat meja prasmanan lengkap dengan hidangannya. Sasha berlari ke arahnya.

" Ikuti aku Tuan Levi! Kita akan segera sampai ke kamar tuan!" Sembur Sasha.

Levi mengangguk kecil dan mengikuti kemana gadis berambut coklat itu melangkah.

Sesekali dia membenarkan gendongannya pada Eren agar bocah itu tidak terjatuh. Betul saja, Sasha cukup pintar dalam mengerjakan tugasnya. Dia mencari celah teraman dari kerumunan rapat dengan akurat.

Levi hanya mengikutinya dengan langkah santai dan tatapan datar tanpa minat sama sekali. Hingga sebuah suara bass memanggil namanya.

" Levi..."

Pemuda tampan itu menghentikan langkahnya tanpa berbalik. Dia tahu cepat atau lambat orang yang memiliki mobil sport tadi akan mengenalinya bagaimanapun caranya.

" Halo Mike" Jawab Levi dingin.

Pemuda pirang dengan kumis tipis itu terkekeh. " Masih mengingatku tenyata kawan lama?"

" Aku ada urusan. Kita bicara nanti di barku." Ucap Levi datar.

Pemuda itu melirik Eren dan menemukan seorang pemuda manis yang babak belur. Dia hanya tersenyum dan mengetahui apa urusan pemuda kurang tinggi itu. Mike melambaikan tangan dan berbalik menuju kerumunan.

" Tuan Levi! Cepatlah sebelum rapat dimulai dan memperbanyak jumlah orang disini!" Peringat Sasha yang sangat gatal ingin menarik Levi.

Pemuda bermata elang itu menatap Sasha tajam dan mendepak gadis itu dengan bahu kokohnya. Hingga Sasha terhuyung. Biarpun depakannya termasuk ringan, tapi kekuatannya jangan dimainkan.

Gadis itu memasang wajah melongo. Bukannya ketua pendek di depannya ini minta dipandu? Lah! Kenapa dia yang duluan!?

Sasha memegangi lehernya takut membayangkan kalau kepalanya akan terlepas seperti buah jatuh dari pohon. Hiii! ITU MENAKUTKAN, Teriak Sasha di dalam hati.

Dia segera menghampiri Levi yang terdiam menunggu lift terbuka. Sasha mengambil Iphone putihnya dan mengecek siapa yang memakai lift untuk ke auditorium. Mata coklatnya membulat terkejut dan berlari panik menghampiri Levi.

Gadis itu melesat bagai hantu di depannya dan menekan pintu kuat. Membuat Levi mengernyitkan dahi bingung dan terkejut. Dia hampir saja menjatuhkan Eren demi menampar pipi gadis itu sampai hancur karena membuatnya terlonjak.

" Oi Brauss". Panggil Levi dengan nada sangat dingin. " Apa-apaan maksudnya ini? Kau mau membuatku menjatuhkan bocah ini dan menampar wajahmu?"

Sasha hanya menjawab dengan dengusan kasar dan gelengan kuat karena dia berusaha untuk menutup pintu lift dan membelakangi Levi yang menatapinya tajam. Pemuda pendek itu rasanya benar-benar ingin menampar pipi Sasha sekarang.

" Minggir keparat" Ancam Levi.

Tapi gadis itu tetap ngotot mempertahankan posisinya memeluk pintu lift dan menggeleng ganas.

Levi ingin menendang gadis itu segera tapi perhatiannya teralihkan dengan Iphone Sasha yang tergeletak di depannya. Iphone itu menyala dengan sebuah aplikasi tentang keadaan apartemen miliknya.

Pemuda tampan itu memungut Iphone putih Sasha dengan susah payah karena tangan satunya juga harus mempertahankan Eren di dalam gendongannya agar kepala bocah itu tidak terantuk dengan lantai auditorium.

Dan mata hitam kecilnya menangkap beberapa nama orang yang menaiki lift yang sedang dia tunggu. Jadi ini maksud gadis rakus itu bersikap seperti orang mau diperkosa? Memeluk pintu lift seakan-akan dia takut berpisah?

Levi menghela nafas jengah.

" Kau tidak perlu berbuat seperti itu keparat. Kau bisa memberitahuku. Apakah kau tidak ingin punya mulut lagi? Perlu bantu kopotong?"

Sasha melotot mendengar ucapan Levi dan menggeleng kepalanya kuat sebagai reflek atas jawaban dari Levi. Pemuda tampan itu menatap Sasha semakin tajam.

" Kalau seperti itu, cepat menjauh darisana bodoh. Kau membuat pelangganku ketakutan". Ancam Levi.

Levi berbalik dari Sasha dan lebih memilih menaiki Lift lainnya. Dia melewati celah teraman sambil menggendong Eren dalam sembunyi. Bocah manis itu membuka mata Emeraldnya lemah. Pandangannya memang masih kabur tapi dia dapat melihat sekilas wajah tampan dan rahang tegas berada di atasnya sekarang.

" Levi..kau tampan". Sembur Eren dalam keadaan setengah sadar yang parah.

Bersyukur karena Levi memiliki reflek tubuh yang sangat terkontrol baik dengan kecepatan tinggi. Jika tidak, dia pasti sudah membuat Eren terguling-guling di lorong auditorium karena tersentak mendengar yang masih termasuk igauan itu.

Levi meremas bagian punggung jas Eren gemas. Pipi gembul bocah manis itu merona setelah mengigau dan kembali mendengkur. Levi rasanya ingin kembali menyentuh kulit lembut bayi itu dan memakan habis pipi Eren yang membuatnya tersentak setengah mati itu.

" T-tuan Levi!" Panggil Sasha yang berlari tergopoh-gopoh di belakang Levi.

Levi melirik dari ujung matanya tajam. " Ada apa lagi Brauss?"

" Semua akses lift sekrang sudah kosong! Anda bisa segera ke kamar sekarang! semuanya sudah bersih..." Jelas Sasha.

Tanpa pikir panjang lagi, pemuda berhati es itu melesat ke arah lift sebelumnya dan memencet tombol buka. Jam di lift menunjukkan jam 3 sore. Dia tidak merasa bahwa sudah selarut ini. Apalagi perutnya belum terisi karena terus menerus menghadapi berbagai musuh dan persoalan.

Levi memasuki lift ini dengan wajah datar dan mood down. Sedangkan Eren masih setengah sadar dengan gerakan sedikit meronta yang tidak bisa berhenti. Membuat Levi mencubit punggung Eren dan segera bocah itu tersentak ke alam sadar saat punggung lembutnya dicubit.

" AWWW!" Teriak Eren reflek.

" Bocah, kau terlalu berisik". Geram Levi.

Eren mengucek-ngucek matanya kuat dan segera melotot merasakan wajah tampan Levi berada sangat dekat dengan dirinya. Dengan mata tajam menawan yang memandangi dirinya intens.

Bocah manis itu melayangkan tangannya dan merasakan tangan lainnya di punggungnya. Eren mengernyit merasakan tangan itu bertesktur sangat berbeda dengan tangannya. Lembut tapi kokoh.

Eren juga baru menyadari bahwa kaki jenjangnya yang indah itu tidak menapak tanah sama sekali melainkan terangkat dengan posisi terlentang seperti tubuhnya.

" Baru sadar bocah?". ucap Levi.

Dia berusaha menyakinkan bocah itu dengan mengeratkan bopongannya pada punggung Eren. Membuat Eren terlonjak saat tangan yang selalu berbuat kekerasan itu menyentuh kulit punggungnya.

Saat Eren berusaha mengingat kejadian sebelum ini, dipukuli oleh seorang gadis pirang yang berwajah angkuh hingga membuat Eren gemas untuk mengacak-ngacak wajah gadis itu dengan sabun WC miliknya.

Kepalanya langsung berdenyut-denyut pusing. Membuat Eren sedikit terhuyung hampir jatuh jika Levi tidak segera membetulkan gendongannya dan mencubit punggung Eren balik karena kesal.

" Oi bocah". Panggil Levi kesal. " Kau mau kujatuhkan sekarang huh?"

Eren berusaha menatap nyalang pemuda tampan yang menggendongnya tapi dengan wajah memelas penuh luka, tentu saja itu 100 % gagal. Malahan wajah itu seperti lebih mendekati ekspresi merajuk yang imut.

BRUUKKK!

" HUWAAA! SAKITTT!". Teriakan merdu Eren langsung menggema di dalam lift.

Levi berjongkok di depan Eren yang terjatuh dengan posisi pantat menghantam lantai lift. Untung saja Eren menutupi belakang kepalanya, jika tidak memar di kepalanya makin bertambah.

Pemuda dengan wajah tegas itu menatap Eren datar dan tajam hingga membuat bocah imut itu menyumpah-nyumpah lirih kesal.

" Oi bocah. Tanganku sudah pegal karena mengangkatmu kesana kemari seperti maling. Seharusnya kau berterima kasih keparat". Ucap Levi.

Eren melirik Levi geram dengan bibir dikerucutkan imut. Bocah manis itu menyilangkan tangannya di depan dada seperti anak kecil yang merajuk karena permennya diambil oleh orang lain yang menyebalkan seperti Levi.

" Pengecualian untukmu pendek!" Jawab Eren dengan wajah sebal.

Levi mendesis. Dia mengepalkan tangannya untuk menahan memberi luka baru yang lebih parah dari luka Annie sampai kepala Eren bocor sekalian. Dahinya mengernyit kuat dengan mata yang menatap Eren tajam bagaikan mata pedang.

" Seharusnya aku tidak menyelamatkanmu dan susah-susah membawamu ke apartemenku bocah sialan". Ancam Levi. " Aku bisa saja membiarkan jalang itu menendangimu sampai mati seperti seonggok boneka, bocah. Kau pantas mati"

Eren meneguk ludahnya berat. Jadi Levi menyelamatkannya? Ketua geng paling ditakuti di seluruh Tokyo menyelamatkannya!? Membawa Eren ke apartemennya juga!?

Tangan Eren meraba tubuhnya sendiri dan dia menemukan bahwa kulit mulusnya sekarang tidak terlihat terlalu mulus. Memar yang membiru, Lebam kehitaman, luka yang membocorkan banyak darah hingga mengering dan debu telah mengotori tubuhnya.

Mata Emerald bocah itu panas dan berkaca-kaca. Kenapa dia harus mengalami semua masalah seperti ini? Apa kata Mikasa dan Armin melihat dirinya yang terluka parah sekarang? Ibu...Eren ingin pulang. Ibu...kenapa ini semua terjadi? Kenapa Eren tidak ikut ibu saja ke surga sekarang, ronta Eren di dalam hati.

TESS...

Emerald cantik itu meneteskan air mata dan membasahi seragam Eren. Membuat Levi tersentak karena tidak mengira bocah itu akan menangis. Dia tidak pernah menghadapi situasi saat seorang bocah menangis di depannya.

Palingan dia hanya menghadapi para korbannya yang menangis minta pengampunan pada Levi dan tentu saja dia akan menendang mereka dengan sekali tendangan hingga mereka tergeletak tak bernyawa.

Masa dia juga harus menendang Eren sampai mati? Tidak mungkin..tapi sebenarnya Levi benci orang yang menangis. Tangisan tidak dapat menyelesaikan masalah apapun hingga dia hanya menatap datar Eren yang menangis.

" Oi bocah". Panggil Levi yang berusaha melembutkan nadanya.

Eren mendongak menghadap Levi dengan mata Emerald sembap penuh air mata. Bocah manis itu menghapus jejak sembap di wajahnya. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Levi. Eren yakin pemuda itu pasti akan mengejeknya dan mengatainya habis-habisan.

Tapi entah kenapa semua ekspetasi Eren tentang Levi salah.

" E-EHH! L−LEVI! K-KAU MAU APA!?" Teriak Eren reflek.

Pemuda berperawakan kejam nan tampan itu tiba-tiba melesakkan tangannya ke bawah lutut dan punggung Eren, kembali membawa bocah itu dalam gendongannya. Tentu saja Eren terkejut. Biasanya Levi akan menendang atau memakinya dengan tajam tapi yang dia dapatkan malah tubuhnya dibawa dalam gendongan kokohnya.

" Apa lukamu masih sakit bocah? Telingaku juga menangkap suara perutmu yang sepeti tidak makan setahun itu". Suara Levi menggema dalam lift.

Dia berbicara dengan tatapan lurus ke depan. Mengindahkan Eren yang menganga dengan ekspresi bingung kentara.

" Y-ya.." Jawab Eren lirih. " A-aku tidak mengisi perutku sejak pagi..."

" Bodoh". Sambung Levi.

Eren mengerutkan dahinya sebal. " Apa-apaan maksudnya itu!?"

Mata tajam Levi menatapi Eren datar dan mendengus kasar. " Hei bocah..kau itu lemah. Lihat tulang tanganmu yang seperti bayi itu. Tindakan sangat bodoh untuk tidak mengisi perut kerempengmu bocah"

Belum sempat Eren membuka mulut untuk memaki Levi yang mengatainya lemah, pintu lift terbuka. Eren segera mengalihkan pandangannya dan menemukan koridor bergaya modern yang kental.

Levi melangkah keluar dengan wajah datar sambil membopong Eren yang menenggelamkan wajahnya ke tangan lembutnya sendiri. Sebenarnya Eren ingin menenggelamkan wajahnya ke dada Levi tapi dia terlalu malu untuk melakukan itu.

Hell No jika Eren sampai melakukan itu!

Levi terus melangkah hingga sampai di kamar dengan intercom elit di samping pintunya yang terbuat dari alumunium kualitas tinggi itu.

" Silahkan masukkan sandi anda..." Intercom itu bersuara

" Soyez courageux et pas faible et lâche". Jawab Levi datar dengan aksen Prancis yang sangat kental.

Eren menganga. Dia kira Levi adalah orang Jepang asli tapi bahasa Prancis pemuda tampan itu sangat fasih. Sewaktu di Jerman saja, ulangan bahasa Prancisnya saja selalu remedial.

" Kau bisa berbahasa Prancis?" Tanya Eren lirih. Takut kalau-kalau si pemuda tajam itu tersinggung dan melemparnya.

" Hn". Jawab Levi singkat dengan pandangan mash lurus.

Mendapat jawaban yang sangat singkat dan tanpa minat dari Levi, Eren memilih bungkam dan menikmati isi dari kamar Levi. Bocah manis itu terperangah memandang sebuah kamar luas yang sangat bersih dengan dua lantai di depannya.

Semua perabotan didominasi warna hitam, putih atau abu-abu. Tidak lebih dari itu. Semuanya tertata rapi dan bersih tanpa celah debu sedikitpun. Ruangan ini bergaya modern yang kental dengan interior sederhana.

" Oi bocah. Jangan melamun".

Eren mengalihkan pandangannya pada Levi yang menatapnya datar. Pemuda tampan itu membungkukkan badannya hingga wajah tegas penuh pesona itu berjarak sangat dekat dengan wajah manis milik Eren.

" A-APA YANG INGIN KAU L-LAKUKAN CEBOL!?". Teriak Eren panik.

Levi menutup matanya kuat dan mendesis tidak suka. Bocah itu berteriak tepat di wajahnya dan membuat pemuda kurang tinggi itu kesal sendiri. Apalagi suara cempreng milik Eren serasa ingin merobek gendang telinga Levi.

" Meletakkanmu bocah. Mau apa lagi? Kulempar langsung ke sofa?"

Eren tersentak mendengar jawaban Levi dan melihat ke belekangnya. Terdapat sofa panjang yang bersih berwarna hitam. Levi memandangi Eren kesal karena otak bocah itu benar-benar sangat lelet hingga tanpa seizin Eren, pemuda dengan wajah rupawan itu langsung menjatuhkan Eren di atas sofa.

Dan memancing teriakan dan makian bocah berwajah manis itu.

" GYAA! DASAR KAU CEBOL KEPARAT!"

" Sofanya empuk juga bocah!" Jawab Levi dengan nada semakin kesal.

" Tapi itu membuat jantungku ingin lepas, kontet!"

Pemuda kurang tinggi itu melepaskan jas merah marunnya dan membuangnya sembarang ke arah sofa kecil di samping sofa Eren. Dan menghempaskan pantatnya kasar tepat di atas benda itu.

Levi menatap tajam Eren yang duduk dengan wajah merengut sebal ke arahnya. Tangan mulus bocah itu mengelus pantatnya sendiri yang entah telah berapa kali tersakiti. Pemuda tampan itu duduk dengan gaya yang sangat berkuasa dengan tangan direntangkan dan wajah datar nan angkuh. Tatapan mata obsidian nan tajam miliknya memandangi Eren intens.

" Menyebalkan". Umpat Eren kesal.

" Oi bocah. Beritahu aku." Titah Levi.

" Beritahu apa!?" Tanya Eren balik dengan nada menggerutu.

Pemuda tampan itu menatap Eren sangat tajam hingga membuat Eren gelisah sendiri.

" Tapi pertama-tama...b-boleh aku minta air? A-aku haus...". Pinta Eren untuk menghindari tatapan Levi.

" Tidak sampai kau memberitahuku bagaimana gadis sombong itu bisa sampai menculikmu bocah". Jawab Levi tegas.

" E-ehh!?" Jawab Eren kaget. " K-kalau itu..."

.

.

.

.

.


Jean terus menerus menghela nafas panjang sejak setengah jam yang lalu. Pasalnya dia diberi tugas untuk menjaga seorang pemuda manis berambut pirang yang telah dia dorong pagi kemarin mungkin.

Yah...memang menjaga adalah keahliannya. Menjaga sekolah maksudnya. Pemuda jangkung itu lebih menyukai menghajar siswa-siswa nakal yang ingin membobol Survey Corps Highschool daripada menjaga manusia seperti sekarang.

Irvin−Pemuda penuh wibawa itu yang merupakan atasannya sebagai murid biasa tiba-tiba menyerahkan Armin yang memandang gugup ke arah Jean yang baru saja pulang memukuli beberapa siswa.

" Tolong jaga dia Kirschtein. Ini perintahku".

" E-eeh..t-tapi I-irvin.." Sela Armin dengan perasaan gelisah.

" Baiklah. Akan ku jaga". Jawab Jean singkat.

Tentu saja pemuda manis berambut pirang itu terkejut setengah mati mendengarnya. Mengingat kejadian saat Eren menghajar Jean dan Jean yang mendorongnya membuat Armin merasa sangat tidak nyaman berada di dekat pemuda dengan rambut coklat muda itu.

Irvin menangguk dan menyerahkan semuanya pada Jean. Sedangkan Armin merasa ingin kabur saat itu juga.

" Jangan mencoba-coba kabur dariku!" Ancam Jean.

Oh! Terima kasih Tuhan! Pupuslah semua harapan Armin untuk menyusun strategi kabur dengan cepat dari Jean yang menggengam erat bahunya.

Pemuda jangkung itu menarik Armin ke dalam sekolah dan membawanya ke sebuah ruangan bertuliskan ' SURVEY C GENG' dari plat hitam. Dan menyuruh pemuda itu duduk di salah satu kursi panjang yang tergeletak di ruanga meter itu.

KRUYUUUUKKK~~~~

" Hah..perutku lapar". Ucap Armin sangat lirih.

Pemuda pirang itu menekan perutnya yang tertutupi seragam dan jas sekolah. Berusaha untuk menekan rasa lapar yang sudah meraung-raung sejak beberapa menit yang lalu. Dan tentu saja ini menarik perhatian Jean yang terduduk bosa di seberang Armin.

" Hei! Kau lapar pirang?" Tanya Jean santai.

Armin mendongak ke arah Jean dan menggelengkan kepalanya kuat. Jean mendengus kasar dan terkekeh.

" Bunyi perutmu tidak bisa membohongiku pirang. Nah! Makanlah ini!"

Armin menangkap sebungkus coklat yang terlempar ke arahnya. Pemuda pirang itu menggigit bibir bawahnya dan memandang Jean sangsi.

" K-kau yakin tentang ini?" Tanya Armin ragu.

Jean menarik alisnya bingung. " Hei..kau kira aku mau apa? Makan saja! Aku muak mendengar suara cacing-cacing di perutmu! Cepat makan!"

Armin terlonjak dan segera memakan sebungkus coklat itu lahap. Terkadang pemuda pirang itu mengecap-ngecap rasanya dengan dahi mengernyit. Berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada racun disana.

Jean hanya mendengus kasar. Armin sangat berbeda dengan teman menyebalkannya yang satu lagi. Siapa lagi selain Eren Jaeger!? Mendengar nama pemuda itu saja membuat Jean ingin muntah.

Armin menyimpan bungkus coklat yang telah habis ia makan ke dalam saku jas merah marun miliknya. Membuat Jean yang menatapnya terkekeh.

" Apa yang kau lakukan pirang? Di ujung ruangan ada bak sampah, buang disana. Tepat di kananmu!".

Armin mengedarkan pandangan dan ber-oh ria menatap sebuah bak sampah abu-abu terletak manis di ujung ruangan. Pemuda itu menghampiri bak sampah dan membuang bungkus coklat itu disana.

Jean merasa disini terlalu bosan dan canggung hingga dia memutuskan untuk membuka suara.

" Hei Pirang. Ceritakan tentang dirim−"

BRAAAKKKKK!

Jean dan Armin terlonjak kuat saat pintu ruangan didobrak paksa dan membangkitkan amarah Jean.

" SIAPA DISANA!? KELUAR KAU KECOAK!" Teriak Jean emosi.

" Siapa yang kau sebut kecoak hah!?"

Nanaba-san bersedekap di depan pintu dengan wajah kesal. Raut Armin berubah senang saat melihat orang yang cukup dia kenal bersama dirinya sekarang. sedangkan raut wajah Jean mengeras sempurna.

" Armin.." Panggil Nanaba dan mengacuhkan Jean yang mengumpat kepadanya.

" A-ada apa Nanaba-san?" Tanya Armin lembut.

" Ikut aku ke laboratorium sekarang".

" OI! OI! OI! Hei gadis tomboy! Apa-apaan maksudnya!?" Sela Jean kasar. " Dia ditanggung jawabkan kepadaku. Tanpa seizinku kau tidak membawany kemana-mana sembarang, keparat!"

Nanaba mengangkat sebelah alisnya santai dan menunjukkan E-mail dari Hanji yang masuk ke Gadgetnya. Jean mendekatkan wajahnya dan membaca E-mail itu dengan ekspresi sebal.

Dari : Senior Hanji

' Nanaba-san! Segera bawa Armin imutku ke Laboratorium dan temui Rico yang telah menyiapkan sesuatu disana. Pastikan dia dibawa sekarang juga! Ini sangat penting...

Aku tidak mau Armin berlaku sama seperti Eren..yah..biarpun dia sudah selamat tapi TETAP! Tetap aku tidak ingin terulang dua kali. Pastikan yan Nanaba-san!

Beritahu Jean juga! Aku jamin anak itu pasti mencegahmu sedemikian rupa...'

Jean mengernyitkan dahi dan memandang ke arah Armin yang tahu-tahu sudah berada di belakang Nanaba-san. Sebenarnya Jean membenci jika ada orang yang ikut campur pekerjaannya. Tapi karena itu perintah Hanji..mau tidak mau Jean harus mematuhinya.

Dia tidak ingin tubuhnya berakhir dengan dimutilasi oleh ilmuwan gila itu.

" Baiklah!" Ucap Jean setengah hati.

" Nah begitu dong Muka kuda..." Nanaba-san segera menarik tangan Armin dan menyimpan gadget miliknya.

" Tapi!" Sambung Jean.

Nanaba dan Armin menghentikan langkahnya yang ingi keluar ruangan dan memandangi Jean bingung.

" Biarkan aku ikut kalian. Ini masih tetap tugasku untuk menjaga pemuda pirang itu bodoh!"

Nanaba-san mengibas-ngibaskan tangannya santai. " Memang siapa yang menyuruhmu untuk tinggal muka kuda?"

Jean mendecih dan mengikuti arah kedua orang itu dari belakang. Dia tetap mengawasi mereka seperti kuda yang tetap berjalan walaupun penunggangnya telah tertidur pulas.

.

.

.

.

.

T

B

C

XD

HALLOOOOO! SAYA BALIK! * KELUAR DARI MULUT TITAN EREN *

ARIGATOU BUAT SEMUANYA YANG SUDAH SUPPORT KEBERLANGSUNGA INI FIC! MEMBUAT SAYA KEMBALI MENULIS UNTUK KESEKIAN KALINYAAAAA...*^*

* NANGIS HARU DI BAJU ARMIN * * DITABOK MIKASA *

ARIGATOU JUGA BUAT SEMUA YANG SUDAH NYEMPETIN REVIEW FAV AND FOLLOW!

NIH...SAYA BERI HADIAH!^^

* LEMPAR LEVI YANG DIIKAT KE TENGAH READERS*

MUWAHAHAHAHAHAHA...

SUKIDAYO MINNA-SAN! *^*