CHAPTER 9
AN ATTACK ON TITAN
.
.
.
WARNING : YAOI AND MATURE CONTENT
CAST:
ALL SNK CHARACTERS
.
.
.
PAIRINGS:
RIREN ( MAIN )
ERUMIN
JEANXARMIN
.
.
.
ENJOY IT
BY AULIA ASRIKYUU
.
.
.
" Jadi bocah...ceritakan kepadaku "
Eren menggerutu kesal di sofa panjang milik Levi. Bagaimana dia tidak kesal jika Levi terus mengindahkan tenggorokannya yang meraung-raung meminta asupan mineral!?
Malahan pemuda pendek itu mengambil sebotol Wine Prancis dari kulkas bersama dengan gelas kecil. Dan meminumnya di hadapan Eren dengan wajah tak bersalah. Membuat pemuda bermata Emerald itu sebal setengah mati.
Levi menenggak Wine miliknya dengan santai tetapi mata elang itu tetap melirik Eren. Dan menemukan bocah itu kesal sendiri sembari memegang tenggorokannya. Kelihatannya Eren benar-benar kehausan.
" Kenapa denganmu bocah? Mau minum?" Tanya Levi.
Levi mendorong botol Wine miliknya di atas meja kaca ke depan Eren. Dan reflek Eren melotot.
" Nah bocah..minum itu".
Eren menepis singkat Wine itu dan mendorongnya kembali ke arah Levi. " Aku tidak minum itu pendek! Yang kuminum itu adalah air mineral bukan alkohol"
Pemuda bermata elang itu berhenti menenggak Wine dingin di gelas kecil. Dia menaruh gelas itu di atas meja kasar dengan tatapan tajam ke arah Eren.
" Hei bocah bodoh. Jika kau tidak tahu tentang sesuatu hal, jangan dikomentari. Ini bukanlah alkohol murni bocah, kau tahu berapa harganya?"
Eren mendengus kasar. " Mana ku peduli!? Yang membeli siapa yang ditanya siapa!?". Nada sinis terumbar dari jawaban Eren dan itu membuat Levi marah.
Levi tiba-tiba berdiri dengan tatapan dingin terlempar terus menerus ke arah Eren. Eren yang melihat Levi tiba-tiba berdiri, meneguk ludah kasar. Dan berusaha untuk tidak terlihat terlalu takut di hadapan pemuda tampan itu.
" Ku tanya kau sekali lagi keparat". Ucap Levi sinis. " Bagaimana jalang itu menculikmu?"
Eren berusaha untuk terlihat berani di depan Levi.
" Kau benar-benar membuatku bingung pendek sialan! Pertama kau menanyaiku tentang Wine dan kembali lagi ke pertanyaan tentang bagaimana aku diculik!? Bukankah itu benar-benar menges−"
BRAAAKKKK!
" Jawab saja pertanyaanku bocah!". Ancam Levi.
Eren berusaha menormalkan nafasnya yang tiba-tiba memberat dan susah untuk dikeluarkan. Sedangkan mata Emerald bocah itu membulat dengan kilatan takut dan gugup yang kentara setelah Levi menggebrak meja kaca tepat di hadapan Eren dan membuat gelas berisi Wine milik pemuda itu jatuh hingga pecah.
" A-apa untungnya b-bagimu mengetahui bagaimana a-aku diculik?" Balas Eren.
Levi mendecih sangat kesal.
Ia berlalu ke arah sebuah pintu kayu di sebelah kanan Eren. Dan membanting pintu itu sangat kuat hingga getarannya sampai ke kaki Eren−masuk kedalamnya dan menutupnya kembali seperti cara dia membukanya.
Ketegangan tercipta.
Eren memegangi dadanya yang meletup-letup takut. Berusaha menormalkan kembali semua sistem kerja tubuhnya yang tiba-tiba saja berubah drastis melihat kelakuan Levi.
" Kenapa dengan dia?" Tanya Eren lirih.
Sepatu Eren tidak sengaja menginjak pecahan dari gelas Levi dan cairan Wine yang berbau menyengat. Bocah manis itu menggigit bibir bawahnya dan melirik-lirik ragu ke arah pintu ruangan yang Levi masuki.
" Setidaknya aku akan sedikit m-membantu...".
Eren mengedarkan pandangan ke arah apartemen Levi. " Dimana dia meletakkan kain lap ya? Dapurnya dimana...ah..aku bingung sendiri"
Pemuda Jerman itu berdiri dan berusaha mengitari apartemen Levi. Dia tidak menyadari sebelumnya bahwa ada kasur berukuran Queen Size abu-abu yang rapi di belakang sofa. Menghadap jendela apartemen yang terbuka lebar−menampilkan pemandangan kota Tokyo yang mulai sore.
Ada dua buah lorong. Ke kanan dan kiri.
Eren berusaha menengok yang kanan dan menemukan ruang bersantai berisi rak-rak buku tebal dengan TV LCD hitam sangat lebar dan berbagai meja lainnya.
Dan saat dia menengok ke arah kiri, mata Emerald Eren berbinar senang.
" Akhirnya! Ku kira si kontet itu tidak punya dapur..."
Eren melangkah menuju dapur bergaya modern dengan meja makan marmer berisi 4 kursi yang tepat berada di tengah dapur. Bocah itu sekali lagi terkagum. Bahkan sampai dapurnya saja sangat bersih. Tanpa ada celah untuk debu hinggap.
Pemuda bersurai Ebony itu mengitari meja hingga ke stan untuk memasak dan lemari penyimpanan makanan.
Sebenarnya Eren meneguk ludah sangat kasar saat menemukan sebuah kulkas mewah besar dengan dua pintu. Hatinya tergoda untuk membuka benda itu dan memberi makan perutnya yang meraung-raung tidak jelas.
Tapi wajah manis dan berbinar itu langsung berubah haluan menjadi sangat kecewa saat mendapati kulkas mewah nan menggiurkan itu memiliki sandi penjaga.
" Hah! Dasar kurcaci pendek pelit!" Maki Eren. " Untuk apa coba dia memberi sandi pada sebuah kulkas!? Tidak ada gunanya sama sekali!"
Pemuda manis itu menggerutu-gerutu sendiri sembari membuka-buka lemari penyimpanan dari alumunium untuk mencari kain lap. Sekaligus makanan atau minuman ringan tentunya. Tidak ada salahnya kan dia sambil menyelam minum air? Menemukan lap dan makanan sekaligus?
5 menit telah berlalu tetapi Eren masih tidak dapat menemukan selembar kain lap. Dan makanan.
Bocah itu hanya merengutkan bibir kesal saat menemukan kumpulan sayur, sayur, dan sayur dimana-mana! Di rak atas, rak bawah dekat Oven, di samping meja makan, di dekat kulkas−pokoknya di seluruh dapur ada sayur!
" Pantas saja dia pendek!" Cibir Eren geram. " Makanannya saja sayur semua! Sekalian saja kontet itu makan rumput saja! Di Jerman banyak sapi buat ditemani!"
Eren menepuk meja makan kesal dan tanpa sengaja mengenai lukanya. Itu sukses membuat pemuda bermata Emerald itu mengerang tanpa suara, meloncat-loncat kesakitan dan memegangi tangan kanannya yang mengenai langsung meja.
" O-oucch..D-dasar Eren! Kau bahkan hampir lupa bahwa tubuhmu babak belur! Eren Baka! Baka baka baka!". Erang Eren. " Dan dimana si Pendek itu menyimpan kain lap!? Dia benar-benar membuatku kesal setengah mati..grrr.."
" Apa yang kau perbuat di dapurku Jaeger?"
" WAAA...MAMA! MIKASA!"
Eren benar-benar terlonjak mendengar suara Levi yang tiba-tiba hadir dari arah punggungnya seperti hantu. Sedangkan pemuda bermata elang itu menyandarkan bahunya pada pintu masuk dapur sembari menyilangkan tangan dengan tatapan datar.
Pemuda berambut Ebony itu terjatuh dengan pantat menimpa lantai marmer yang kuat dan mengaduh.
" WAAAA! PANTATKU! DASAR KAU CEBOL SIALAN!"
Levi mengernyitkan dahi kesal. " Siapa suruh kau mengutak-atik dapurku seperti maling, keparat!"
Eren mengerucutkan bibir imut ke arah Levi dan terduduk. Tangannya mengelus-ngelus pantat sintal yang menghantam telak lantai dapur yang mengkilat memantulkan bayangan Eren.
" S-sejak kapan kau disana cebol!?" Tanya Eren sebal.
Levi mengangkat alis. " Sejak kau melangkah masuk ke dapurku dan mengobrak-abrik isinya. Dan juga sejak kau mengataiku dengan mulut kotormu itu bocah keparat."
Eren menganga dan menunjuk Levi gugup. " K-kau membuntutiku?"
" Ya−bisa dibilang seperti itu bocah". Sahut Levi.
Dan pemuda berpipi gembul itu semakin terlonjak menemukan Levi tidak memakai atasan sama sekali. Menampakkan otot-otot yang terbentuk sempurna, begitu kontras dengan kulitnya. Membuat pemuda itu semakin tampan dengan kesempurnaan. Dan Levi hanya memakai celana panjang sekolahnya.
Mata hitam Levi memicing menangkap perubahan raut wajah Eren saat bocah itu melempar pandangan ke arah tubuh Half- naked miliknya.
" Suka dengan yang kau pandangi bocah?"
Eren kembali mengerucutkan bibirnya kesal. " Apa maksudmu?"
" Kenapa kau memandangi tubuhku bocah? Ingin?"
" A−APAAN APAAN P-PERTANYAAN ITU!? T-TENTU SAJA TIDAK! AKU NORMAL!". Jawab Eren dengan rasa terkejut.
" Dasar bocah bodoh". Maki Levi.
Levi menghela nafas jengah dan berlalu dari hadapan Eren menuju kulkas. Mengindahkan Eren yang menyumpah-nyumpah ke arahnya dengan bahasa Jerman dan sedikit bahasa Jepang.
Jari kokoh Levi menekan tombol angka di mesin sandi dan segera kulkas itu terbuka. Eren yang sejak pertama memang mengincar isi kulkas Levi segera menegakkan kepala, menengok apa yang diambil pemuda bermata elang itu.
" Nah bocah. Ambilah ini"
Sebotol air mineral dingin terlempar ke pangkuan Eren. Bocah itu menggaruk tengkuknya dan tertawa ragu.
" Apa kau tidak punya minuman bersoda, Levi? Atau minuman berkarbonasi lainnya?" Tanya Eren.
Levi mengerutkan keningnya kuat.
" Bukankah kau menginginkan air mineral bocah? Itu sudah kuberikan. Dan satu lagi− kau tidak akan pernah menemukan jenis minuman seperti itu dalam kulkasku keparat". Jawab Levi.
Eren mengangkat alisnya bingung. " Kenapa? Bukankah itu enak?"
Levi menarik salah satu kursi makan dan mendudukinya. " Hh..tipikal bocah bodoh"
Pemuda manis itu berdiri dan memasang wajah kesal kepadanya.
" Aku bukan bocah, kontet! Umurku sudah 15 tahun dan aku SMA! Camkan itu baik-baik tuan Kurcaci sialan!"
" Bocah tetaplah bocah." Ejek Levi. " Dan dengarkan−aku benci minuman soda. Jangan sekali-kali kau meminum minuman terkutuk itu di depanku atau membawanya ke sini bocah karena aku akan langsung melemparnya dengan tubuhmu sekalian dari balkon apartemen. Minuman itu memang nikmat sesaat bocah, tapi efek jangka panjangnya yang harus kau perhatikan."
Eren menarik salah satu kursi di seberang Levi dan duduk. " Tapi itu tetap enak...kau sendiri saja meminum Wine brengsek! dan bolehkah aku bertanya!?"
Levi yang sedang mengetuk-ngetukkan jarinya berhenti dan memandang Eren tajam.
" Apa?"
Eren menarik nafas. " Jujur...sebenarnya aku bingung kau ini siapa?− Maksudku jati dirimu yang sebenarnya... Anak-anak lain bilang kau sangat menakutkan dan berbahaya. Yah..memang itu ada benarnya, tetapi bagiku kau lebih banyak menyebalkannya dengan wajah datarmu dan tubuh pendek serta aura setan it−"
" Oi bocah". Ralat Levi dengan tatapan kelewat tajam. " Kau mau menghinaku atau bertanya kepadaku?"
Eren berhenti bicara dan menggerutu kecil. " Uuhh..dua-duanya cebol"
Levi berdiri dan berjalan ke arah kulkas yang masih terbuka. Ia mengambil sebuah kaleng RootBear dan membuat Eren menukikkan alisnya kuat dengan dahi mengernyit sebal.
" Kau masih remaja Levi tapi minumanmu sendiri sudah seberat itu. Aku saja dilarang untuk menyentuh secuil pun oleh ayahku" Ucap Eren.
Levi membuka tutupnya. " Karena kau masih bocah dan bocah dilarang mabuk".
" Aku bukan bocah!" Balas Eren emosi.
Levi hanya memandang Eren dengan tatapan datar tanpa minat dan menenggak RootBear dingin. Membuat Eren memalingkan wajahnya kesal dan menyumpah-nyumpah dengan bahasa Jerman.
Pemuda bermata elang itu meletakkan kaleng minuman miliknya yang setengah berisi dan memandangi Eren. Dan dia baru teringat sesuatu. Saat dia menggendong Eren ke apartemennya, di mobil Levi telah mengambil ponsel Eren dan menyimpannya.
Dan saat dia menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian, ponsel itu berbunyi dengan nama Mikasa terpampang jelas di latarnya. Membuat Levi menukikkan alisnya tajam. Dia semakin curiga dengan hubungan Eren dan adiknya.
" Oi Jaeger" Panggil Levi.
" Apa!?" Jawab Eren ketus dengan mengalihkan pandangan dari Levi.
" Tatap orang yang sedang bertanya kepadamu bocah keparat".
Eren mendengus kasar. " Tapi mataku menolak melihat wajah keparatmu, brengsek!"
Levi kembali memandangi Eren dengan sangat tajam. Membuat bulu kuduk Eren sedikit berdiri. Bocah itu benar-benar tukang pembuat emosi Levi selalu lepas kendali dan menginginkan pemuda bermata elang di depan Eren untuk menggantungnya terbalik di balkon apartemen.
" Kau tidak ingin kaleng RootBear ini melayang menuju matamu bukan bodoh?". Ancam Levi dingin.
Eren menatap Levi kesal dan menggelengkan kepalanya kuat. Bibir Kissable Eren di pout-kan, membuat bibir manis itu benar-benar menggoda. Di mata orang lain tentunya! Levi masih belum bisa yakin dengan perasaannya sekarang.
" Jika kau layangkan benda itu, aku juga akan melayangkan meja ini sebagai balasannya, pendek brengsek!". Balas Eren ketus.
Levi sudah tidak tahan lagi. Emosinya benar-benar terpancing sekarang dan dia ingin sekali memberikan hukuman pada Eren yang terus menerus melawannya. Jika saja bocah itu tidak dibawah lindungan Hanji, sudah dipastikan Eren sudah berada dikuburan sejak 2 hari yang lalu.
SREETTTT!
Eren terlonjak dengan wajah memucat dan teriakan nyaring lolos dari mulut basahnya.
Dia berusaha meronta setengah mati saat Levi tiba-tiba saja mengangkatnya seperti handuk dan membiarkan kepala Eren terantuk-antuk kuat. Pemuda tegas itu keluar dari dapur, menaiki tangga ke arah lantai dua dengan wajah masam.
" L-LEPASKAN AKU BRENGSEK! LEVI KEPARAT−LEPASKAN AKU SIALAN!". Ronta Eren sambil memukul-mukul punggung tegap Levi.
Levi berhenti tiba-tiba dan membuat wajah Eren mencium telak punggungnya. Dia mengaduh kesakitan karena bibir lembutnya bertabrakan dengan punggung kokoh Levi yang berhasil membuat bibir menggoda itu memerah.
" Bisakah kau diam bocah bodoh? Aku benar-benar akan menjatuhkanmu dari tangga ke bawah tanpa membantumu". Ucap Levi kesal dengan nada sakartis.
Dan untuk semakin meyakinkan ucapannya, pemuda bermata tajam itu sedikit menurunkan tubuh Eren hingga wajah pemuda manis yang diangkatnya hampir menyentuh permukaan tangga dari kayu itu.
Eren melotot pada tangga dan segera rontaan dan teriakan merdu khas " Eren" keluar dengan nyaring.
" KEEEPAARAAATTTT PEENNDEEEKKKK! TARIK AKU SEK− Ehhh..."
Eren terdiam. Telinganya menangkap ssebuah suara yang tidak asing di telinganya. Suara itu begitu familiar dengan ingatan pendengarannya. Seperti−suara telfon miliknya.
" HAH! TELFONKU KEMANA!? LEVI! KAU KEMANAKAN TELFONKU BRENGSEK!?"
Levi sudah benar-benar terlanjur emosi dan menarik tubuh Eren makin dekat ke pundaknya. Mengindahkan teriakan Eren yang terus-terusan menggema. Dia membawa mereka berdua menuju sebuah kamar mandi di lorong kanan paling ujung. Kamar mandi khas Prancis dengan bath-up yang setengah berisi dengan air.
Eren merasakan bahwa mereka telah memasuki ruangan yang berbeda. Dan mata Emerald itu membulat dengan mulut menganga. Kamar mandi khas keluarga kerajaan dengan gaya elegan dan mewah serta bersih terpampang di hadapan Eren.
BYUURRR...
Levi reflek mundur untuk menghindari cipratan air pada celananya.
Eren gelagapan setengah mati dan berusaha meraih pinggiran bath-up putih itu saat tubuhnya tiba-tiba diceburkan seperti sampah. Air memasuki lubang penciuman bocah berpipi gembul itu dan mengisi paru-paru Eren dengan air.
" Bwahhhh!". Sembur Eren.
Pemuda dengan Emerald menyala itu mencengkeram pinggiran bath-up dengan posisi duduk. Seragam Eren, baju, celana−semuanya basah tanpa celah kering sedikitpun. Termasuk wajah dan kulit semulus bayi milik Eren.
Nafas Eren terengah-engah layaknya orang asma yang ditindih batu. Dia terbatuk, berusaha untuk mengeluarkan sisa air jernih dari saluran tenggorokan dan kerongkongannya yang sensitif akan kehadiran benda asing.
" Bocah−lepas bajumu". Suara Bass Levi menggema dalam kamar mandi berukura meter itu.
Eren mengalihkan pandangannya yang semula membuka menutup untuk menormalkan penglihatannya yang tiba-tiba mengabur karena terendam air, menjadi ke arah wajah Levi. Bocah manis itu terengah-engah dengan pandangan mata sayu yang berair.
Jantung Levi berdetak lebih cepat. Pemuda tampan itu mendesis dan menggengam dadanya sendiri. Ada apa dengan diriku?, tanya Levi di dalam hati.
" A-apa t-tadi?" Tanya Eren lirih.
Levi memandang Eren tajam dengan rasa menusuk disana. " Lepas bajumu bocah. Kau mau terjangkit demam gara-gara terus berendam dengan baju basah itu?"
" O-o..maaf karena aku t-terlalu menggigil". Jawab Eren lemas.
Bocah itu berusaha membuka kancing jas-nya tetapi selalu terpeleset karena tangan Eren begitu gemetar kedinginan dengan pandangan sayu. Levi yang sudah berusaha bersabar dan toleran pada Eren tidak bisa menolerir lambatnya pergerakan Eren. Bahkan hanya untuk membuka kancing.
" Bocah. Berbalik sekarang" Titah Levi dingin.
Eren hanya mengangguk karena dia sudah lemas dan membalik tubuhnya membelakangi Levi. Sebenarnya banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikiran Eren tentang apa yang akan dilakukan Levi.
Dan segera mata indah yang asalnya sayu itu membulat lebar.
" KYAAA! KENAPA KAU ROBEK BAJUKU PENDEK KEPARAT!?".
Eren terlonjak dan menempel pada sisi seberang bath-up dengan tangan menyilang menutupi dadanya yang terekspos bebas. Pipi gembul itu memerah layaknya anak gadis dengan kulit putih mulus yang mengkilat.
Levi menarik baju Eren dan merobek bersama seragam putihnya. Hanya menyisakan beberapa carik kain putih di tubuh pemuda manis itu dan celana hitam panjang yang terendam air dingin bath-up.
" Kau dan tangan lemahmu itu terlalu lambat bodoh". Desis Levi sembari mencengkeram robekan seragam Eren.
" TAPI KAN KAU BISA MELEPASNYA BRENGSEK!" Sembur Eren gugup.
Pemuda tampan di depan Eren membuang pakaian Eren ke ujung ruangan dan menatap Eren dengan tatapan kelewat dingin. " Terlalu membuang waktu bocah. Kita harus segera membersihkan luka sialan itu"
Eren melirik ke tubuhnya yang penuh luka itu dan tertawa gugup. " Hah..hah! Tapi dengan cara menyemburkanku langsung ke bath-up!? DASAR PENDEK!"
Levi muak sendiri dan tanpa izin Eren, ia menarik keran air dan ratusan titik air hangat mengguyur rambut serta wajah Eren yang beraut masam kepada Levi. Bocah manis itu menepuk-nepuk air kesal layaknya anak kecil.
" KENAPA TIDAK DARITADI KAU MEMBUKA KERAN AIR HANGAT HAH LEVI!? AKU SUDAH MATI KEDINGINAN DI DALAM AIR INI CEBOL!" Teriak Eren sangat kesal.
Pemuda manis itu dibiarkan menggigil di dalam air oleh Levi tanpa diberi air hangat sedikitpun. Ditambah kulit dan luka Eren yang masih sensitif akibat terlalu banyak menerima pukulan yang tidak bisa disebut ringan itu.
" Air itu hanya bersuhu 20 derajat celcius bocah. Dan kau sebut itu dingin?". Ucap Levi datar. " Dasar bocah"
Eren menggerutu dan menyumpah-nyumpah lirih. Sembari membilas lembut kulitnya yang terluka. Mengindahkan Levi yang mengutak-atik lemari penyimpanannya. Eren berusaha mengikuti pergerakan pemuda dengan wajah tampan itu dan spontan mulutnya menganga.
" L-levi.." Panggil Eren tidak percaya. " Untuk apa semua sabun i-itu?"
Pemuda dengan wajah tegas itu menenteng setidaknya 4 buah sabun cair dengan jenis-jenis yang berbeda semua. Dan Eren yakin sabun itu tidak terbilang murah. Dilihat dari merek-nya yang Eren kenali sebagai komoditi berharga di Jerman.
Levi melayangkan tangannya ke puncak kepala Eren yang masih terbilas air dan menepuknya keras. Membuat bocah itu terkesiap dan mengaduh.
" SAKIT LEVI! KEPALAKU TIDAK SEKERAS BAJA!".
" Tapi sekeras kepala banteng bocah" Jawab Levi datar. " Sekarang− berbalik"
Eren bersungut kecil. " Tidak mau..."
Levi menatapnya tajam dengan pandangan datar yang begitu kentara. Tangannya mencengkeram surai Ebony Eren dan menariknya. Eren berusaha meronta tapi secepat kilat, Levi memutar arah kepala dan badan Eren. Hingga Eren bingung sendiri saat tiba-tiba posisinya sudah membelakangi Levi.
Pemuda itu menggeram karena dia harus sedikit berjongkok agar sejajar dengan Eren. Tubuh Eren terlampau tinggi bagi Levi hingga membuat pemuda itu geram sendiri.
Levi menuangkan cairan licin berwarna biru itu ke punggung Eren. Membuat bocah bermata manis itu menggelinjang sendiri. Pemuda itu tetap berwajah datar saat tangannya sedikit mengusap sabun itu.
Meratakannya ke seluruh punggung Eren. Sekali-kali menekan luka Eren, berusaha menghilangkan sisa darah yang mengering dan debu padat disana. Eren hanya mendengus nyaman.
" Ya Levi..terus disitu..disana. Sedikit ke kiri..mungkin ke kanan. Agak ke atas ya"
Levi menanggapi semua permintaan Eren dengan wajah masam. Berani-beraninya bocah ingusan ini memerintahnya? Levi benci diatur dan diperintah.
Mata tajam Levi menatap luka gigitan di leher Eren. Luka gigitan olehnya yang terekspos bebas ke udara karena Eren mendongakkan leher demi membilas tubuhnya dengan air hangat.
Jari Levi bergerak nakal. Menyusuri punggung mulus Eren menuju leher jenjangnya. Dia begitu penasaran dengan bocah yang tidak bisa diam ini dari awal biarpun bocah itu luar biasa mengesalkannya. Dan telunjuk kokoh pemuda tampan itu menyentuh sedikit bekas gigitan itu, membuat Eren tersentak dan segera menutupnya.
Eren segera berbalik dan menatap Levi dengan mata membulat heran. Eren menjadi sangat sensitif dengan luka itu karena itu satu-satunya luka bekas gigitan.
" A-apa yang kau lakukan Levi?". Tanya Eren.
Eren menunjuk-nunjuk luka di lehernya dengan pandangan kesal yang ditujukan kepada Levi. " Itu gara-garamu kau tahu! Dan ini tidak bisa hilang!"
Levi menyilangkan tangannya. " Kau mau itu hilang bocah?"
Eren mengangguk antusias. " Kau yang memberikannya dan kau pasti tahu cara menghilangkannya bukan!?"
Levi tersenyum miring kepada Eren. " Tidak pasti bocah ,tapi aku dapat membantumu memudarkannya−Berikan luka itu."
Pemuda bermata elang itu menyeringai setan di dalam hatinya. Kurasa ini akan menjadi hukuman yang paling menyenangkan bagi Eren maupun Levi. Pemuda tampan itu diam-diam merencanakan sesuatu untuk Eren.
Sedangkan Eren menyipitkan mata curiga. Tetapi dia tetap tidak bisa menebak isi hati Levi, karena pemuda itu selalu memasang wajah datar dan muram yang seolah-olah tidak punya ekspresi lain.
" Baiklah". Jawab Eren setengah hati.
Eren beringsut-ingsut ragu ke arah Levi yang masih memasang ekspresi datar dan seolah-olah tidak ingin membantu Eren. Pemuda manis itu mematikan keran air dan menatap Levi dengan mata Emerald yang besinar lembut.
" Tapi..bagaimana caranya dan aku harus apa?" Tanya Eren.
" Lehermu" Tunjuk Levi. " Kemarikan"
Eren mengangguk imut dan mendongakkan lehernya. Hingga kulit putih itu terekspos bebas ke udara seolah-olah siap disantap. Mata Levi menajam, memandang lurus pada leher dan luka Eren.
Pemuda beringas itu melayangkan jari telunjuknya menyentuh leher depan Eren. Mengelus lembut jakun bocah itu yang tidak terlalu besar, meresapi betapa lembutnya kulit Eren. Sesekali dia menyenggol luka Eren dan membuat pemuda manis itu meringis.
" Akhh..L-Levi..cepat". Desak Eren yang merasa sangat tidak nyaman saat Levi terus mengerjai lehernya.
" Sabar bocah". Jawab Levi dingin. " Bersumpahlah kau tidak akan protes apapun yang kulakukan".
Eren menaikkan sebelah alisnya bingung. " Maksudnya ap−AKH! Oke..oke..aku bersumpah demi Sungai Styx! Tapi kau juga jangan melakukan yang tidak-tidak Levi!"
" Demi Sungai Styx?". Tanya Levi datar. " Aku belum pernah dengan kata-kata itu sebelumnya bocah".
Eren memutar matanya jengah. " Nanti saja bicaranya Levi! Setelah ini akan kujelaskan sampai sedetail-detailnya pendek".
" Tidak". Tolak Levi. Dia menekan luka Eren kuat hingga membuat bocah itu terlonjak kaget. " Jelaskan padaku sekarang atau lukamu akan disana selamanya."
Eren menggerutu seperti kebiasaannya bila kesal dan menyumpahi Levi lirih kembali dengan bahasa Jerman. Ia menggesek-gesekan tangannya dengan lambat, kelihatannya Eren berencana memberi sebuah caplokan mulus di wajah Levi.
" Kenapa lambat sekali bocah bodoh? Jelaskan atau lukamu bertambah dan lebih biru". Ancam Levi dan menekan luka Eren.
Eren mengerang dan mengaduh. Dia membuat cipratan air agar Levi tidak terus-terusan membuat semua lukanya makin parah dan buruk dimana-mana. Eren mendesis tapi dibalas Levi dengan tatapan penuh intimidasi mendalam.
" Baiklah kau keparat!". Jawab Eren kesal. " Sumpah Sungai Styx adalah sumpah tak terlanggar Levi! Bahkan para Dewa Olympia dulu akan berhati-hati jika ingin mengucap sebuah sumpah menggunakan nama Sungai Styx"
" Lalu.." Levi mengangkat sebelah alisnya. " Mulut kotormu sangat ceroboh dengan mengucapkan sumpah itu bocah"
" Itu gara-garamu juga pendek...". Ucap Eren lirih.
Levi makin berjongkok. Menyejajarkan mulutnya dengan pertengahan leher Eren. Entah setan apa yang sedang merasuki pikiran Levi sekarang tapi yang ada di pikirannya hanyalah ingin menyapu leher putih itu dengan lidahnya. Ingin merasakan lebih.
Eren mendongak lebih karena Levi sedikit menggengam lehernya. Dia kira dia akan dicekik lagi tapi nyatanya dia salah.
Eren terlonjak dan sedikit meronta.
" L-levi...b-berhenti menjilat sshh..l-lukaku".
" Jangan protes bocah. Ingat sumpahmu" Titah Levi.
Levi memiringkan kepalanya menuju bagian kanan leher Eren. Hidung tegaknya sesekali menyentuh dan mengendus aroma pinus dan perapian hangat yang menguar dari tubuh Eren. Mengelusnya singkat dan...
" Aahhn! L-levi..." Erang Eren tidak nyaman.
Lidah kasar Levi menjilat luka itu lembut−sangat lembut. Seolah-olah menandakan permintaan maaf yang kentara pada Eren. Saliva Levi membasahi luka Eren dan bocah itu menggenggam tangan pemuda tampan itu. Menyuruhnya berhenti karena tubuh Eren bereaksi berbeda.
Gigi Levi sesekali menggesek lukanya dan menghisap penuh perhatian.
Mata tajamnya menatap Eren yang menutup mata dengan wajah merona hebat dan peluh gugup membasahi wajah manisnya. Lidah Levi makin terjulur sedangkan bibir sexy-nya sesekali mengecup luka itu sampai menciumnya dalam.
Eren menggigit bibir bawahnya menahan suara-suara aneh yang tidak dia tahu sebelumnya.
" Tatap mataku bocah...". Perintah Levi lembut.
Eren membuka matanya sayu dengan pipi merona hebat bagai kepiting rebus. Dan makin merona saat melihat Levi memandanginya intens sedangkan lidah pemuda tampan itu menjilat-jilat lehernya.
Kali ini Eren tidak dapat menahan suaranya lagi sesudah melihat pemandangan tadi.
" Ahhhn! L-levi...ngghh..aisshh ahh..".
" Shit!" Umpat Levi kasar.
Sekarang Levi tidak dapat menahannya lagi. Tubuhnya terasa begitu panas dan terbakar melihat wajah Eren dan tubuhnya yang semulus kulit bayi. Membuat sesuatu di dalam celananya terbangun. Jika benda itu sudah terbangun...tamatlah riwayatmu Eren Jaeger.
Benda itu semakin keras dan tidak sengaja menabrak pinggiran bath-up. Membuat Levi mengerang dengan suara bass miliknya yang menggoda. Levi menggigit kasar leher Eren demi melampiaskan rasa panas di barangnya yang bukan melemah tapi makin mengeras.
" Ggrr..Jaeger". Erang Levi. " Jangan menyesali ini"
Eren membuka sebelah matanya dengan nafas terengah-engah. " M-menyesali apa?"
Tanpa sengaja Eren melirik ke arah bagian celana Levi yang menggembung brutal. Membuat gundukan yang cukup membuat Eren menganga dengan wajah melongo yang tidak percaya.
" L-levi! T-tunggu dulu! T-tunggu du−GYAAA!"
Levi secara tiba-tiba memeluk pinggang mulus Eren dan melingkarkan tangan kokohnya disana. Tanpa ada aba-aba apapun, pemuda tampan itu mengangkat tubuh Eren dalam sekali sentakan hingga membuat Eren terlonjak setengah mati.
Pemuda manis itu tanpa sengaja mengalungkan tangannya pada leher Levi agar tidak terjatuh. Dan nafasnya tercekat saat kaki rampingnya menyenggol sesuatu di bawah sana. Sangat keras hampir sekeras batu.
Eren seketika tergagap dengan mata membulat horror.
Levi mendesis saat benda-nya disenggol oleh kaki Eren. Membuat hasratnya semakin terbakar. Hasrat untuk segera menobrak-abrik tubuh Eren dengan tubuhnya.
Mata Levi berusaha untuk menatap Eren yang bergetar takut itu. Dengan kedua kaki menekuk−memeluk pinggang tegap Levi. Dan itu membuat pantat sintal Eren sedikit bersentuhan dengan barang Levi.
" L-levi...kau mau a-apa pendek!?". Tanya Eren panik.
Levi mengelus bibir bawah Eren dengan ibu jarinya. Bibir plum yang sejak tadi menggoda untuk dimakan habis-habisan untuk Levi. Hatinya terasa meleleh melihat Eren. Seolah-olah dia serasa dihantam oleh perkataannya yang menyatakan Aku tidak akan pernah jatuh cinta.
Kurasa itu mulai hilang sejak kehadiran Eren.
" Na Eren" Panggil Levi dingin. " Apakah kau membenciku?"
Eren tersentak saat mendengar kali ini Levi menyebut nama kecilnya. " S-sebenarnya iya... Dan s-sangat!"
Sebenarnya Eren benar-benar membenci Levi tapi dia mengatakannya dengan ragu karena melihat Levi yang terus-menerus menatapnya tajam. Hingga pernyaataan aku benci Levi! menjadi aku benci Levi?
" Kali ini kau akan menyesali semua kebencianmu itu sia-sia karena aku akan menghapus itu semua dari mulut kotor dan tak bertata milikmu bocah". Ucap Levi datar.
Levi mendudukkan Eren paksa pada toilet duduk Elegan miliknya. Membuat bocah itu mengerang. Levi menarik kedua kaki Eren hingga perut ramping Eren bersentuhan dengan perut berotot Levi.
Jari telunjuk Levi menyentuh bibir Eren dan tersenyum miring. " Bibir ini.."
Levi mengelusnya singkat hingga membuat Eren menggerakkan kakinya tidak nyaman. " Bibir ini perlu diberi pelajaran. Dan aku akan memberinya pelajaran yang sangat buruk bocah".
" L-levi..ch-chukupph.." Erang Eren.
Levi tersenyum miring dan menarik poni panjang Eren keaatas. Menampilkan kedua manik berharga Eren yang bersinar sayu pada Levi.
" Belum bocah". Ucap Levi. " Sampai aku menyentuh tubuhmu hari ini bocah. Beware, you're mine today brats.."
.
.
.
.
.
" Isssh...Tolong hati-hati Rico-san".
Armin sedang duduk di ruang laboratorium. Di salah satu kursi medis milik Rico. Perempuan berkaca mata yang merupakan bawahan terpercaya Hanji di laboratorium. Jean memasang wajah masam di seberang Armin. Memandangi bagaimana jas di lengan Armin tersingkap, menampilkan lengan mulus tanpa cacat itu.
Nanaba hanya mendengus dan duduk di samping Jean dan dia jengah sendiri melihat pemuda jangkung itu terus-menerus berwajah masan seperti kain pel lecek yang diremas-remas.
" Oi muka kuda!". Tegur Nanaba.
Jean mendengus kasar. " Apa bodoh!?"
" Ganti wajahmu itu! Kau bahkan menakuti tikus-tikus got dengan wajah kuda yang seperti baru dicambuk di pantat." Ejek Nanaba.
" APA YANG KAU BILANG KEPARAT!?" Teriak Jean tidak terima.
Pemuda jangkung itu menggebrak kursi bundar tempatnya duduk. Dan berdiri. Nanaba menghela nafas jengah dan dia menghentakkan kakinya kuat ke lantai marmer. Menimbulkan goncangan yang membuat Armin dan Rico melongo di seberan mereka.
" Kuperingatkan kau Jean Kirschtein". Ancam Nanaba. " Jangan sekali-kali memancing hasrat membunuhku bodoh. Apakah kau lupa bahwa aku kerabat Levi? Aku bisa-bisa saja mengambil tongkatku dan melempar kepalamu itu sampai ke Korea."
Jean terdiam dan menggerutu. Dia menyumpah dan duduk dengan kasar sembari menyilangkan kakinya setengah hati.
Rico menghampiri Armin dan menatap kedua orang di seberang tajam. Dia mengambil sebuah suntikan beserta sebotol kecil serum berwarna biru.
" Kalian..". Panggil Rico. " Diam atau aku suntik mati kalian dengan dosis Opium tinggi. Kalian lupa jika semua benda disini bisa saja aku suntikkan pada kalian berdua dan membuat kalian mengejang kesakitan seperti siput yang dicincang hidup-hidup"
Armin meneguk ludah kasar dengan takut. Sedangkan kedua orang tadi menyumpahi satu sama lain dengan lirih. Melempar kutukan pada masing-masing orang.
Rico menghela nafas panjang dan berusaha tersenyum pada Armin. Dia memasukkan seru tadi ke dalam suntikan.
" Nah Armin manis..". Ucap Rico. " Mungkin ini akan sedikit sakit ya..."
Armin menunjuk-nunjuk suntikan di tangan Ricu gugup. " I-itu untuk apa Rico-san?"
" Oh!" Ucap Rico. " Ini?" Tunjuknya pada suntikan di tangannya.
Pemuda pirang itu menangguk imut dengan gugup. Rico terkekeh singkat...pantas saja Hanji menyukai dua pemuda baru itu. Mereka terlalu manis dan polos. Terlalu imut untuk seorang laki-laki remaja yang telah melewati masa puber.
" Tenang saja Armin. Aku tahu kau sangat pintar...kau tahu serum yang disuntikkan dan dapat dilacak seperti GPS?"
Armin mengangkat kepalanya. " OH! Aku tahu itu! Biasanya para detektif dan inspektur Inggris menyuntikkannya pada buronan atau seseorang yang mencurigakan bagi mereka."
" Nah...ini sama saja. Jadi Hanji dapat melacakmu. Dia tidak ingin insiden culik menculik seperti Eren terulang lagi padamu". Jelas Rico.
Armin menangguk dan menyodorkan tangannya ke arah Rico. Jean bersiap-siap di tempat jika ada peristiwa tidak diinginkan terjadi sedangkan Nanaba tetap mendengus kasar pada Jean.
Armin meringis saat jarum itu ditusuk dan serum memasuki saluran di bawah kulitnya. Dia dapat merasakan serum itu mengalir di jaringan bawah kulitnya dan akhirnya jarum itu terlepas.
Tapi belum sampai semenit, Armin merasakan perutnya begitu mulas. Memaksa semua makanannya ingin keluar melalui mulutnya. Rasanya begitu mulas hingga Armin langsung berlari menuju tempat seperti mencuci piring di ujung ruangan.
" ARMIN!" Teriak Rico, Jean dan Nanaba bersamaan panik.
Jean yang pertama kali reflek menghampiri Armin yang sedang memuntahkan semua makanan di perutnya dan sedikit cairan bening yang asing. Pemuda jangkung itu mengurut-ngurut kasar tengkuk Armin dan membawa kembali Armin yang sedikit lemas setelah mengeluarkan semua isi perutnya.
Jean membantu Armin duduk di kursi medis dengan wajah pucat. Rico segera menghampiri Armin dan mengecek seluruh tubuhnya. Rico juga menekan-nekan perut bagian bawah Armin hingga membuat pemuda itu meringis.
" Aneh!" Ucap Rico. " Hanya tubuh Armin yang menolak serum ini! Aku harus mengecek darahnya!"
Nanaba berdiri khawatir bersama Jean yang terus menerus mengurut tengkuk Armin. Rico menggores ujung jari Armin dan mengumpulkan tetesan darahnya pada sebuah piring kecil percobaan.
Perempuan berkaca mata itu menaruh darah Armin pada mikroskop dan mengambil Iphone miliknya. Dia mengirim surel Email pada Hanji secepat kilat.
Untuk : Hanji Zoe
Hanji san! Tubuh Armin menolak serumnya! Dia saja muntah setelah beberapa detik yang lalu aku menyuntikkan serumnya ke dalam tubuhnya. Bagaimana ini Hanji-san!? Kalau Eren bagaimana?
Dan jawaban Hanji datang secepat kilat juga.
Dari : Hanji Zoe
Tes darahnya sekarang! ANEH SEKALI INI! KYAAAA...KALAU-KALAU ADA KELAINAN PADA ARMIN. Kurasa Eren juga! Tapi aku belum menyuntikkan serum itu pada tubuh Eren...beri Armin Micro-chip seperti yang kutaruh di jas Eren. Dan sialnya aku tidak dapat melacak Eren sekarang! Aku yakin kalau Levi telah melakukan sesuatu pada jasnya hingga micro-chipnya terlepas!
Rico segera mengambil sebuah Micro-chip hijau dan meletakkannya pada leher jas Armin. Mengaturnya di Iphone-nya.
" YOSH! INI BERHASIL!" Teriak Rico. " JEAN! NANABA! TOLONG JAGA ARMIN SELAGI AKU MENGETES DARAHNYA! Datanglah saat aku panggil lagi."
Mereka berdua mengangguk. Sedangkan Jean terus menerus mengelus leher Armin yang terkulai lemas di kursi medis. Pemuda pirang itu mengerangkan nama seseorang dalam tidurnya.
" I-irvin san..Mikasa..Eren..."
.
.
.
.
T
B
C
XD
HOLLAAAA!
SAYA BALIK! HONTOUNI ARIGATOU! BUAT KALIAN SEMUA...PELUK-PELUK *^*
SUKIDAYO READERS SEMUA! SUKI! *^*
NEXT CHAPTER : RATED M 20 +
BACA HABIS BUKAAN! KARENA NEXT CHAPTER BENERAN RATED M!
.
.
.
Mind to RnR minna-san? ^w^
