CHAPTER 10
AN ATTACK ON TITAN FANFICTION
.
.
.
WARNING : YAOI AND MATURE CONTENTS
CAST :
ALL SNK CHARACTERS
.
.
.
PAIRINGS:
RIREN ( MAIN)
ERUMIN
JEANXARMIN
.
.
.
ENJOY IT ^^
BY AULIA ASRIKYUU
WARNING : THIS CHAPTER IS RATED M!
DIHARAPKAN SEMUA READERS MEMBACA SECARA BIJAK!
NC! BACA HABIS BUKAAN! HABIS BUKA PUASA!
JANGAN NAKAL!
.
.
.
.
" Annie...apakah kau sudah membereskan ketua itu?"
Seorang gadis berambut pirang di sanggul ke atas− berdiri dengan wajah datar penuh aura membunuh yang begitu kentara. Gadis itu tersenyum singkat, tetapi tanpa orang lain ketahui bahwa dibalik senyum itu tersimpan sisi iblis yang luar biasa mengerikan jika sampai terlepas tanpa kendali.
" Belum waktunya balas dendam Thomas. Biarkan keparat itu menikmati dulu kehidupannya dan kita menyusun strategi."
Thomas− pemuda dengan warna rambut putih itu terdiam. Dagu lancip miliknya yang ditumpukan pada kedua tangan kokohnya. Pandangan Thomas begitu santai tetapi rautnya menunjukkan sebuah penolakan yang besar.
Dia duduk pada undakan kecil setinggi 1,5 meter dari lantai semen di bawahnya.
Thomas mengangkat sebelah kaki jenjangnya yang terbalut celana coklat tua dan menyilangkan di atas kaki satunya. Sembari mata miliknya menatap gadis pirang yang berdiri tegap dengan bahu kanan terluka. Menimbulkan bekas lubang yang cukup besar.
" Kenapa dengan bahumu Annie? Tidak biasanya ada peluru yang bisa membuat lubang sedalam itu pada tubuhmu. Siapa yang melakukannya?" Tanya Thomas.
" Otaknya Survey Corps". Jawab Annie singkat. " Hanji Zoe"
Annie berusaha untuk tidak mendesis geram menyebutkan nama Hanji. Bukan hanya menembakkan peluru kimia yang luar biasa tajamnya itu, gadis berkaca mata itu memasang GPS pada pelurunya. Annie tidak terlalu bodoh untuk menyadarinya.
Tapi reaksi Thomas sungguh berbeda. Dia malah tertawa lepas mendengar penuturan Annie soal Hanji Zoe. Thomas bahkan sampai mendengus kasar melihat wajah Annie yang begitu masam seperti gadis PMS.
Annie menyipitkan mata tidak suka. " Apanya yang lucu Thomas!? Aku tidak berbohong..siapa lagi yang bisa membuat luka fisik dan mengenali anatomi tubuh manusia sebaik ilmuwan gila itu!"
Seketika Thomas menghentikan tawanya. Ia menatap Annie begitu tajam dan menusuk. Membuat gadis pirang itu mendengus jengah dengan tatapan datar khas miliknya.
" Kau melupakan sesuatu Annie Leondheart". Ucap Thomas dingin.
" Apa?" Balas Annie sinis.
Pemuda berambut putih itu menggulung lengan seragam putihnya hingga siku. Menampilkan lengan tan-nya. Annie yang penasaran dengan apa yang diperbuat Thomas, menegakkan kepala.
Sungguh. Baru kali ini ia tercekat. Hingga selama sesaat Annie lupa rasanya bernafas normal.
" Kenapa ada luka hitam memanjang yang menjijikan itu di tanganmu Thomas?" Tanya Annie datar.
Thomas terkekeh singkat. " Luka ini−luka yang diberikan oleh gadis yang juga memberikan luka di bahumu Annie. Ironis bukan?"
Annie mendengus kasar mendengar penuturan Thomas yang kelewat santai itu. Gadis pirang itu mengetuk-ngetukkan sepatu coklatnya pada lantai semen di bawahnya.
" Apakah kau salah satu korban penelitian gadis itu,Thomas? Kelihatan sekali luka se-menjijikan itu diberikan oleh siapa lagi selain dari Hanji. Setahuku dia hanya memberikan luka itu pada mangsa-mangsanya"
Thomas tersenyum kecil. " Kau begitu pintar Annie...Tetapi luka ini diberikan jauh sewaktu aku masih berumur 5 tahun. Jika Hanji sedang begitu semangat, dia akan mengurungku seharian di dalam balkon kayu sempit sebelum memberiku obat bius dosis tinggi tetapi tambahannya dia selalu tersenyum bahagia. Seolah-olah dia hanya dokter baik hati yang ingin memeriksaku. Tapi jika Hanji begitu frustasi maka dia akan menyeretku seperti binatang kurban, tanpa perikemanusian, dan menyuntikkan paksa sebotol obat bius dan membekap mulutku dengan sebuah besi hingga bibir merah ini sering kali membiru bagaikan blueberry matang."
Annie memasang wajah datar. " Benar-benar seorang murid file hitam. Tidak dapat ku sanggah dengan fakta apapun yang meringankan kejahatannya pada kemanusiaan− tapi yang membuatku bingung Thomas..."
Annie berjalan menghampiri Thomas yang sedang menutup mata menikmati semilir angin sore Tokyo yang berhembus begitu lembut menyapu wajahnya. Gadis itu berhenti 2 meter sebelum Thomas.
" Untuk apa seorang anak kecil yang diculik? Seingatku dia hanya menculik anak-anak remaja.."
Thomas tidak menghiraukan pertanyaan Annie dan pemuda jangkung itu berlalu di sampingnya begitu santai. Dengan sesekali mulut membuka untuk menguap. Annie menahan pergelangan tangan Thomas dengan lirikan mata yang begitu membunuh hingga mungkin membuat 10 orang pria dewasa ketakutan hanya dengan merasakan auranya.
" .Thomas". Ucap Annie dengan penuh penekanan.
Thomas menguap sesekali. " Dia tidak menculikku Annie. Dan apakah kau pernah tahu siapa nama keluargaku dan margaku?"
Gadis itu bernafas kasar. " Untuk apa aku tahu! Tidak ada urus−"
" Zoe−Zoe adalah nama keluargaku, Annie" Sela Thomas singkat.
Setelah mengatakannya, pemuda itu meninggalkan Annie yang menatapnya tidak percaya. Thomas−Ketua Geng Maria Highschool adalah saudara kandung musuh bebuyutannya. Hanji Zoe.
" Jangan lupa rencanannya Annie! Kita harus segera menyiapkan diri sebelum tawuran beberapa hari lagi!"
Thomas melambaikan-lambaikan tangannya santai sembari menenteng tas ransel hitam yang penuh buku itu. Barang yang begitu aneh jika jika dibawa oleh ketua geng berandalan. Matahari sore sudah terlihat di langit kota Tokyo.
Meninggalkan Annie yang terdiam melotot. Thomas tersenyum singkat di dalam perjalanannya meninggalkan Annie. Sesekali melirik gadis itu dari kejauhan.
" Tunggu aku kembali Hanji nee-san"
.
.
.
.
.
" Kau begitu cantik Jaeger"
" Auhh..uhh..."
Wajah Eren sekarang sudah betul-betul merona matang. Pandangannya sayu−setengah membuka sensual dengan peluh membasahi seluruh kulit Eren yang begitu mulus dan putih bagaikan kulit bayi yang penuh kelembutan. Dengan nafas terengah-engah.
" L-levi..k-kumohon cukup..nggh" Keluh Eren dengan kaki yang tidak bisa diam.
Tetapi Levi tidak menghiraukannya dan tetap menjulurkan lidah kasar pemuda tampan itu untuk mengecap, meresapi dan merasakan betapa lembutnya setiap jengkal tubuh Eren. Pemuda polos yang sekarang membangkitkan sesuatu di dalam hatinya.
Dan sekarang daun telinga Eren yang menjadi sasarannya.
Eren mengerang-ngerang dengan desahan yang sengaja ditahan karena jujur−ini begitu memalukan untuk Eren. Mereka sama-sama laki! Dan ini salah..benar-benar salah! Otak Eren masih belum menerima semua ini yang terlalu tiba-tiba.
Tetapi semua sentuhan Levi seperti benar-benar menekan terus menerus kewarasan Eren. Dimana semua sifat ketus Eren? Dimana semua sumpah serapahan yang setia ia keluarkan jika bertemu Levi? Dimana kekuatan Eren yang selalu tidak ada habis-habisnya membalas Levi? Dimana?
" Tidak kusangka kau secantik ini bocah". ucap Levi dengan nada rendah yang begitu menggoda hingga Eren mengerang dengan hanya mendengar suara Levi.
Lidah pemuda itu bermain-main nakal pada telinga Eren. Menjilatnya dengan penuh perasaan dari atas sampai kembali ke daun telinganya. Membuat seluruh saliva Levi berkumpul dan menetes dari telinga Eren. Sesekali mengecup-ngecup lembut.
Levi makin menyempitkan posisinya pada Eren yang terduduk mengangkang pada toilet duduk. Berusahan menindih Eren. Pemuda tampan itu mengelus-ngelus sekitar pinggang mulus Eren dengan sebelah tangan mengelus-ngelus paha dalam Eren sensual.
Memberikan sengatan yang begitu memabukkan untuk tubuh Eren. Pemuda manis itu menumpukan tangannya pada dada bidang Levi, menahannya untuk tidak terlalu dekat dengan Eren yang begitu merona sekarang.
" Nggghh..L-levi..k-kumohon..Nggahh!" desah Eren lirih.
" Mohon apa bocah? Sebutkan padaku". Jawab Levi.
Tapi dia malah beralih menuju leher Eren yang terdongak dan segera melesakkan wajah tampannya menuju perpotongan lehernya yang lembut. Menggesek-gesekkan bibir beserta gigi putih dan tajamnya.
" Anghk! L-levi..L-levi..k-kau keparat m-mesum!"
Eren terlonjak dengan kaki sedikit ditekuk kaget saat Levi menggigit leher sensitifnya dan menghisap-hisap leher itu tidak sabaran. Dengan desisan dan pandangan tajam yang sungguh hanya dengan melirik Levi saja, Eren yakin dia mungkin sudah cum sekarang.
" Aku hanya akan mesum..mmh..jika kau memancing bocah sialan".
" Anghh..anggh!". Eren menggigit bibirnya kuat untuk menahan semua suara sialan yang tidak dia ketahui!
Levi terus menerus menambah tanda kepemilikan di seluruh leher jenjang Eren. Tanpa celah. Membuat bocah manis itu mendongak dengan wajah sayu dan kaki yang tidak bisa diam. Menahan begitu banyak kenikmatan yang terasa asing namun memabukkan itu.
" Nnnh...l-leherku". Keluh Eren.
Eren meletakkan kedua tangannya dan memeluk punggung tegap Levi yang begitu panas. Panas akibat semua godaan Eren pada tubuhnya. Kejantanan Levi sekarang sudah menegang sepenuhnya. Membuat pemuda itu merasa tersiksa akibat ereksinya yang tertahan dengan kain hitam yang masih membungkus kaki Levi.
Levi menghujam leher Eren tanpa ampun. Menggigit, menghisap, menjilat penuh nafsu dimanapun spot leher Eren. Melampiaskan semua rasa nikmatnya dan kesalnya kepada Eren yang sangat keras kepala. Masih saja bocah itu mendorong-dorong dadanya untuk menjauh dan menahan desahan sexy-nya padahal tubuh Eren menginginkan lebih terhadap semua sentuhan Levi.
" Ahn Levi! k-kita ini l-lelaki..anghh!" Sergah Eren. Tangannya masih mendorong-dorong dada bidang Levi. Berusaha menghentikan semua aksi gila ini!
" Apa masalahnya dengan itu huh bocah? Kau takut?".
Levi menghentikan aksinya dan memandangi wajah Eren begitu tajam. Membuat pemuda manis itu merona karena jarak wajah mereka hanya terpaut 4 cm. Ditambah wajah tampan dan tegas Levi basah akan peluh dengan kilat penuh nafsu pada mata hitamnya.
Jujur−Baru kali ini dia melihat ekspresi lain di mata tajam itu selain datar. Dan kali ini..Eren mendapati ekspresi yang luar biasa.
Eren memandangi Levi dengan mata Emerald membulat takut. Wajahnya merona setengah mati hingga rasanya Eren baru saja menceburkan wajahnya pada sebaskom penuh blush-on.
Levi sedikit terkejut mendapati bocah manis itu begitu ketakutan. Memang ini salah− tapi Levi benar-benar gatal untuk menandai Eren. Membuat bocah keras kepala itu meleleh bersama dengan hati es Levi.
" Kenapa?". Levi berusaha melembutkan suaranya.
Tangan kokohnya terulur untuk mengelus pipi gembul Eren yang makin merona dan basah akan keringat. Bocah itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata tertutup rapat dan bibir bawahnya yang sangat merah digigit oleh gigi Eren sendiri.
" Bocah−Aku tidak menerima penolakan apapun saat aku bertanya. Jawab atau lubangmu langsung ku bobol hingga bocor. Punyaku sudah bersabar sejak tadi keparat". Ucap Levi.
Eren terkejut dan membuka matanya cepat. Dia berusaha untuk tidak tergagap merasakan barang Levi yang sekeras batu menekan-nekan pantat Eren dengan tidak sabaran dan sedikit kasar. Sesekali pemuda tampan itu menggeram.
" Auh! K-kita ini lelaki L-levi! I-ini salah...s-salah..kumohon s-stop..hikks.." Pinta Eren dengan memelas.
Butir-butir air hangat jatuh dari manik Emerald Eren. Membuat wajah pemuda manis itu begitu menyesakkan dengan tampang seseorang yang sudah disakiti. Levi malah makin mendekatkan wajahnya dengan wajah Eren yang masih terisak-isak. Air mata Eren semakin deras keluar.
Pemuda tampan itu menutupkan matanya sedangkan hidung mancungnya bersentuhan dengan hidung Eren. Levi dapat merasakan deru nafas kasar Eren yang terisak dan menangis. Sedikit dari air mata hangat Eren menyentuh hidung Levi.
Levi merasa hancur. Hatinya begitu tertohok. Dia tidak ingin melihat orang yang disayangi tersiksa karena dirinya. Memang Levi begitu membenci Eren tetapi tidak dapat dia tolak juga bahwa ada perasaan lain tumbuh beriringan dengan rasa bencinya pada Eren.
Benci dan suka itu memang benar-benar beda tipis.
" Bocah". Panggil Levi.
" Hikss...Levi..kumohon stop.." Balas Eren dengan memelas.
" Oi boc−"
" L-levi..hikss..ini salah..kumohon..s-stop.."
" Bocah. Dengarkan aku d−"
" Hikkss..L-levi! A-aku takut Levi..."
" Jaeger aku meng−"
" Huwaaaa...L-levi!"
" EREN!"
Eren tersentak dan seketika terdiam dengan wajah memucat. Nafas Levi begitu cepat karena menahan emosi dan meninggikan suaranya 2 oktaf.
Levi membuka matanya dan mendengus kasar ke arah Eren dengan pandangan tajam namun ada sedikit rasa geli disana.
" Bisakah kau diam untuk sebentar, Eren? Benar-benar bibir yang nakal.. hingga selalu mengebut semua perkataanku"
Levi mempertemukan kedua dahi mereka dengan hidung saling menggesek. Perasaan hangat ini mulai menenangkan Eren yang terus meronta. Kelembutan dan kehangatan memenuhi tubuh mereka berdua sedangkan Levi menutup matanya dan membiarkan semua perasaan hatinya tercurah pada perbuatannya terhadap wajah Eren.
Eren sedikit bingung.
Levi−ketua geng paling ditakuti, paling kejam dan beringas, pembunuh berdarah dingin, licik dan berhati sekeras es abadi itu bersikap sangat lembut pada Eren. Pemuda manis itu dijalari rasa penasaran berlebihan pada hatinya.
Dia baru saja pindah tapi Levi adalah orang pertama yang menarik semua perhatian Eren. Membuatnya selalu mengingat Levi dimana-mana− tentu saja diselingi umpatan, kutukan, dan sumpah serapahan.
Siapa sebenarnya Levi ini?
" Sudah tenang sekarang?"
Ucapan Levi membuyarkan semua pikiran Eren dan membuat pipi gembul Eren dijalari semburat merah yang seakan tidak pernah habis itu. Eren mengangguk dan membuat Levi sedikit menjauhkan wajahnya−memberi waktu bagi Eren untuk bernafas.
" L-levi.." Panggil Eren lirih.
Levi mengangkat poni Eren lembut. " Ada apa Jaeger?"
Eren menarik nafas dalam. " K-kenapa kau melakukan ini? Kita sesama lelaki dan m-membenci satu sama lain.."
Levi mengernyitkan dahi mendengar penuturan Eren. " Memangnya ada apa dengan hal itu? Dan soal benci..."
Pemuda tampan itu mengelus paha Eren tiba-tiba. Membuat Eren terkesiap dan terlonjak mendapat rangsangan sensual itu tiba-tiba. Levi mendekatkan wajah tampannya pada telinga Eren dan membisikkan sesuatu.
" Kurasa aku mulai menyukai seorang bocah kurang ajar yang keras kepala dan melawanku seolah tidak takut dengan maut. Benarkan Jaeger?"
Mata Eren membulat lebar dengan mulut menganga tidak percaya. Levi? Levi jatuh hati pada bocah sepertinya!? Dunia sudah tebalik!
" J-jangan bercanda Levi! Itu tidak lucu sama sekali..". Eren mengerucutkan bibir kissable-nya kesal.
Levi menghentikan kegiatan mengelus paha cantik Eren dan menatap tajam pada mata Emerald Eren. Membuat bocah itu tergagap dan memalingkan wajah malu. Levi mendesis.
" Berapa kali sudah kubilang untuk menatap orang yang sedang berbicara denganmu, bocah?". Levi menarik dagu Eren hingga wajah Eren langsung menghadap dengan wajah tampannya.
Tetapi Eren menutup matanya kuat hingga dia tidak dapat melihat wajah tampan Levi sekarang. Levi mendesah lelah dan sedikit melirik pada barangnya yang makin mengeras. Sampai kapan dia harus menahan ini!?
Dasar bocah keras kepala, maki Levi di dalam hati. Tangannya sembari mengelus-ngelus sabar barangnya agar tidak segera menyodok Eren sekarang. Uh! Nafsunya sudah di ujung ubun-ubun.
" Jaeger". Panggil Levi sekali tetapi Eren masih tidak mau membuka matanya dan malah mem-poutkan bibirnya. Sepertinya kesal dan gugup terhadap Levi. Buktinya tangan Eren mencengkeram kuat lengan Levi.
" Eren"
Kali ini yang dipanggil membuka matanya saat mendengar Levi menyebutkan nama kecilnya. Eren merasakan rasa lain di dadanya. Rasa meletup-letup bahagia saat manik hitam yang selalu tajam itu melembut dengan wajah tampan tanpa cacat Levi berada di depannya. Surai hitam pemuda itu menutupi sebagian wajahnya yang basah.
Levi memajukan wajahnya dan entah kenapa Eren reflek menutup matanya lembut. Nafas Eren tercekat saat dirasakannya sesuatu yang begitu lembut mengecup terus menerus kelopak matanya. Mencium dan mengecup sepenuh hati.
" L-levi...". Nama Levi meluncur mulus dari mulut Eren.
" Hm? Ada apa bocah?"
Levi kembali menjauhkan wajahnya saat dirasa kelopak mata Eren telah membuka. Sedangkan Eren dengan sigap memeluk tubuh tegap Levi. Membuat Levi benar-benar terkejut. Tangan kokoh Levi melingkar pada punggung Eren dan mereka berpelukan erat.
Levi yang memejamkan matanya dan mencium dalam-dalam aroma tubuh Eren. Sedangkan Eren menumpukan kepalanya pada bahu Levi.
" Levi... Ini tidak nyaman sekali...bila kau mau, bagaimana bila jika kita nngh..s-stop?" Tanya Eren gugup dengan jari dimainkan pada bahu Levi. Dia sebenarnya malu mengakui ini tapi tubuhnya sedang masa heat sekarang!
Levi yang mendengar pertanyaan Eren tersenyum miring. Ia menghadapkan wajahnya pada wajah Eren. Membuat Eren merona sendiri tapi kali ini dia memberanikan diri untuk menatap mata Levi.
" Nakal" Sembur Levi. " Tapi sayangnya... aku tidak bisa mengabulkannya"
Levi sedikit menekan barang Eren dari luar dengan jarinya. Mengelus-ngelus sensual dan sesekali menekan nakal. Membuat Eren terkesiap dan lenguhan kecil menyembur dari mulut basah Eren. Sedangkan Levi menyeringai penuh kemenangan.
" A-ahh! J-jangan lakukan itu Levi!"
Tanpa aba-aba, Levi segera mengangkat Eren dan membawanya dalam gendongan seperti koala. Eren yang mengalungkan kakinya pada pinggang Levi dan Levi yang menahan paha luar Eren sesekali meremasnya.
" Ngahhh!"
Pemuda itu turun dengan cepat sambil membawa Eren ke bawah dan menghempaskan tubuh Eren pada ranjang Queen size di belakang sofa.
Levi menggeram saat dirasa nafsu-nya semakin membludak dan menindih tubuh setengah telanjang Eren. Membuat kulit mereka berdua bersentuhan. Terutama barang Levi yang menggembung itu dengan barang Eren yang mulai mengeras.
Sedangkan Eren menggigit bibir bawahnya karena merasakan panas yang sangat membakar menjalari tubuhnya dan kenikmatan akibat barangnya terus menerus ditekan oleh barang Levi.
" A-ahh..aku b-bingung denganmu L-levi. S-siapa dirimu?" Tanya Eren.
Levi mengelus bibir bawah Eren sembari menjilat bibirnya sendiri saat bibir plum itu merekah minta digigit habis-habisan oleh Levi sekarang. Dan sedikit mendengus.
" Aku tidak ingin membahas masa laluku sekarang Eren..." ucap Levi sensual sembari terus mengelus bibir Eren yang merekah. " Aku hanya ingin di pikiranmu sekarang adalah aku."
Belum sempat Eren bicara untuk protes tapi bibir kissable itu telah dibungkam oleh bibir Levi. Membuat Eren melenguh dan mendesah tertahan. Kejantanannya semakin menegang karena pasalnya Levi betul-betul mengerjai bibir dan tubuhnya sekarang!
Levi mencium ganas bibir Eren. Menjilat-jilat permukaannya seperti orang kelaparan. Menghisap dan menggigit kembali hingga bibir Eren membengkak. Levi begitu gemas dengan bibir kenyal yang suka bicara itu.
Eren mendesah-desah.
" Ahn! Ahn..nghhmpph".
Akhirnya celah itu terbuka!
Levi menangkup kedua pipi Eren cepat dengan geram dan melesakkan lidah kasarnya memasuki rongga mulut Eren. Mengerjai semua yang bisa dicapai oleh lidahnya. Menggelitik langit-langit mulut Eren, menjilat semua gigi rapi Eren dan yang terakhir mengajak bermain lidah sang pemuda manis.
Eren meremas-remas rambut Levi dengan wajah memerah karena kenikmatan saat saliva mereka bercampur dan sensasi geli. Tapi setelah itu dia tercekat merasakan lidah Levi menjilat-jilat lidahnya dan menyenggolnya.
Levi makin dalam melesakkan lidahnya dan bergulat dengan lidah manis Eren. Bahkan pemuda tampan itu menggeram merasakan hangatnya rongga mulut Eren hingga membuat semua nafsunya terbakar dalam satu kali gerakan. Mungkin dia akan terus menyodok lubang Eren karena tubuh bocah ini begitu nikmat.
" Nggh..Levi!".
Eren berusaha memainkan lidahnya dan bertarung mencari siapa yang dominant. Levi yang tidak ingin kalah dan Eren yang keras kepala. Membuat pertarungan lidah itu sangat panas. Levi terus menerus menggerakkan kepalanya untuk mencari tempat yang nyaman demi melesakkan lidahnya lebih dalam pada mulut Eren hingga saliva mereka menetes pada dagu masing-masing.
Tapi tentu saja Levi yang menang. Membuat Eren pasrah dan membiarkan pemuda itu menghisap-hisap lidahnya yang menjulur keluar. Menghisap dan menyedot semua saliva di lidah Eren dan menggantikannya dengan saliva Levi.
Tangan Levi tidak akan pernah tinggal diam. Eren nyata saja mendesah saat nipple-nya dipilin dan dielus gemas oleh Levi. Nipple kecoklatan itu dimainkan lihai dan sensual oleh jari putih Levi. Dadanya sedikit diremas oleh Levi dan memijat seolah-olah menginginkan sesuatu keluar dari dada itu.
Eren segera protes saat ciuman panas mereka berakhir. " A-ahh..angh..a-aku bukan w-wanita L-levi! Jadi ngghh..berhenti meremas d-dadaku..ahh!"
Levi hanya mendiamkannya dan lebih menuju leher Eren. Menjilat-jilat penuh nafsu tinggi dan menghisapnya seperti orang kehausan. Membuat tubuh Eren tersentak-sentak dengan mulut membuka penuh saliva dan wajah mendongak nikmat.
" A-ah Levi! Ngahh!"
" Tubuhmu nikmat Eren. Sshh..malam ini jadilah milikku"
Levi makin meremas dada Eren gemas sembari tangan lainnya menuju selangkangan Eren yang mengangkang lebar seolah-olah siap diperkosa oleh Levi yang sedang duduk sekarang.
Pemuda tampan itu duduk dengan nafsu tinggi dan nafas memburu. Menyaksikan pemandangan tubuh Eren, bocah berisik itu terengah-engah dengan tubuh penuh peluh. Wajah memerah, bibir membengkak. Lihat leher dan bahunya yang penuh bercak merah dan membiru diman-mana. Kejantanannya yang menggembung dari luar celana dan pose mengangkang itu.
Ukh..bisakah Levi langsung menanamkan benihnya di dalam Eren sekarang!?
" Ah~ Levi!" Eren seketika mendesah saat Levi menarik paksa celana sekolahnya.
Meninggalkan sebuah boxer hijau tua yang menyesak. Jari Levi bergerak nakal dan menyusuri paha dalam Eren yang mulus. Mengelusnya sangat sensual terutama di bagian paha dalam dengan selangkangan. Meremas-remas bagian itu dan membuat lenguhan dan erangan meluncur dari bibir Eren.
" Jangan tahan suara indahmu Eren. Keluarkan saja−biarkan aku mendengarnya".
Levi kembali menindih Eren dan membungkam bibir yang telah membengkak itu kembali. Melesakkan lidahnya dan bergulat lagi dengan lidah penuh sensasi Eren yang masih pemula. Tapi itulah yang membuat hasrat Levi semakin naik.
Eren meremas-remas rambut Levi. Kali ini desahannya tidak dapat ditahan lagi.
Tangan Levi menjulur kesana kemari sembari terus mencumbu bibir Eren yang mengap-mengap imut. Ciuman mereka akhirnya terputus saat Eren menarik rambut Levi lebih kasar menandakan paru-parunya meminta asupan oksigen.
Benang saliva tercipta dari hasil pergulatan panas itu. Eren bahkan menutup matanya dan menarik nafas secepat-cepatnya. Membiarkan salivanya memabasahi wajahnya dan menuruni dagunya.
" Ahn~ L-levi..nggh..ahh auh.."
" Hmm Eren..mmh"
Levi menjilat-jilat lelehan saliva di seluruh wajah Eren. Membuat Eren mendesah manis. Levi menggeram dan melesakkan tangannya masuk ke dalam boxer Eren. Meremas kejantanan Eren yang menegang dengan cairan pre-cum di atasnya.
Memijat dan meremas lembut hingga membuat Eren melenguh dan mendesah lebih. Di tambah lidah Levi yang mulai menjilati kedua nipplenya yang mengeras. Menghisapnya keras dan mengigit kecil dengan gemas. Membuat nipple Eren membengkak.
Lidahnya terus turun menuju perut ramping Eren. Eren terlonjak hingga tubuhnya sedikit melengkung saat Levi menghisap perutnya dan memberi kiss-mark. Menggigit-gigitnya gemas dengan tangan semakin nakal meremas-remas kejantanan bocah manis itu.
Dua spot di tubuhnya seperti diperkosa Levi. Eren hampir saja pingsan jika gigi Levi tidak menggigit-gigit lembut miliknya dari luar dan menyentakkan kesadaran Eren.
" HAH! AHHH! J-Jangannn...!"
Eren mendorong-dorong kuat kepala Levi tapi segera ditepis oleh pemuda tampan itu.
" Kau terlalu banyak mengeluh Jaeger dan tanganmu mengganggu".
Levi menghentikan acara meremas dan menggigit milik Eren. Ia lebih memilih untuk menggengam kedua pergelangan tangan Eren dan menumpukannya paksa di atas puncak kepala bocah manis itu. Pemuda tampan itu menggeram dan membuat Eren menatapnya dengan gugup.
" Jika kau tidak mengeluh bocah maka aku tidak akan melakukan ini. Dan jujur−aku benar-benar malas untuk mengambil borgol sekarang"
Eren membulatkan mata dan hampir berteriak. " B-BORGOL!? A-Apa maksudnya deng−AAHHH!"
" Berisik!"
Sebuah borgol perak tiba-tiba membelit tangan Eren. Ditambah lidah Levi kembali menjilati permukaan bibir Eren yang terbuka. Tangan dingin Levi menarik paksa boxer Eren hingga habis tak bersisa.
Alias Eren full naked.
Kejantanan Eren yang sudah ereksi menyembul keluar dengan pre-cum menghiasi pucuknya yang berwarna kemerahan. Levi melirik sekilas ke arah kejantanan Eren dan terkekeh.
" K-kenapa? Apa ada yang s-salah?". Tanya Eren sedikit kesal karena miliknya diketawakan.
Levi kembali menghadap Eren dengan kilat rasa geli di mata tajamnya. " Milikmu bahkan lebih kecil dariku bocah. Itu kau sebut kejantanan?"
TAAAKKK!
Urat kesabaran Eren lepas. Dia boleh-boleh saja dikatai apapun oleh Levi tapi kalau soal harga diri−Eren jangan ditantang!
Levi terkekeh melihat alis Eren menukik tajam dengan raut wajah benar-benar marah tetapi itu masih Levi anggap manis dikarenakan semburat merah masih menghiasi wajah Eren. Membuat Levi ingin memakan Eren bulat-bulat karena gemas.
" Kenapa bocah? Kesal karena merasa kalah? Bagaimana kalau kita buk−"
BRAAAAAKKKK!
"−tikan"
Levi terlonjak!
Dia syok saat melihat bocah lemah dibawahnya tiba-tiba membanting tubuh Levi ke ranjang sedangkan Eren duduk di pahanya dengan wajah kesal dan jangan lupakan tangan Eren yang diborgol menggesek-gesek zipper celana Levi kesal. Seperti ingin membuka paksa.
" Uhh! Aku tidak percaya milikku lebih kecil daripada milikmu, sialan!" Teriak Eren geram.
Levi masih sedikit syok saat Eren berusaha menggesek-gesekkan jarinya yang tidak terborgol untuk membuka zipper celana Levi dan kejantanannya yang sudah menggembung itu.
Dan saat jari lentik Eren menyenggol kejantanan Levi, disaat itulah dia kembali tersadar. Levi menyeringai setan di dalam hati. Bagaimana tidak menyeringai jika mangsamu sendirilah yang berusaha membangunkan serigala yang tertidur?
" Apa yang ingin kau lakukan Jaeger?" Tanya Levi sembari menyilangkan tangan di dadanya. Senyum meremehkan tercetak jelas di wajah tampannya.
Eren mendengus kasar. " HUH! Tentu saja untuk membuktikan bahwa milikku tidak sekecil yang kau kira, Keparat! Uhh! Dan borgol brengsek ini menyusahkan!"
Sebersit ide melintas di pikiran Levi hingga membuat pemuda tampan itu tersenyum sendiri.
" Oi Eren"
" Apa!?" Jawab Eren ketus. Dia masih bersusah payah membuka zipper celana Levi yang terlihat menggembung.
" Bagaimana kalau kita buat perjanjian? Jika benar milikmu lebih kecil dari milikku maka kau harus menghisap kejantananku"
Eren meneguk ludah kasar di atas Levi. Tangannya jadi berpikir dua kali untuk melanjutkan membuka zipper celana Levi yang tinggal setengahnya itu. ' B-bagaimana bila itu b-benar?' Batin Eren takut.
" Ayolah bocah. Aku tahu kau tidak sepengecut itu" Levi menggesek-gesekkan kejantanannya tidak sabar ke tangan Eren.
" Y-ya!"
Dan...
SREETTTT!
" ANGH!"
Eren mengerang saat melihat kejantanan Levi tengah mengacung dengan tegak di hadapannya.
Eren menyumpahi di dalam hati tentang ukuran Levi yang memang benar-benar lebih besar dari miliknya. Dengan diameter lebih lebar dan lebih panjang daripada milik Eren yang masih terbilang kecil itu. Di tambah yang membuat Eren kaget adalah dia kira Levi masih memakai boxer tapi...
" Jadi?" Levi berpura-pura terlihat berpikir. Berusaha membandingkan kejantanannya yang tengah mengacung kokoh di hadapan Eren dengan kejantanan mulus milik Eren yang bersandar pada paha tegap Levi.
Eren menggigit bibirnya kuat. MILIK LEVI LEBIH BESAR DARI PERKIRAANNYA! MALAH TERLALU BESAR!
" A-anu..kita b-bisa bicarakan i-ini baik-baik Levi.." ucap Eren gugup.
Levi mengernyitkan dahi kuat saat melihat Eren beringsut-ingsut mundur menjauhi kejantanannya. Mata Emerald milik Erem berkilat takut hingga membuat Levi menggeram kesal. Sekali kau menjadi mangsa maka kau tidak akan pernah lepas.
GRAAB!
" Akh! Levi~!" Teriak Eren kaget saat Levi tiba-tiba menggengam kejantanannya kuat.
Eren mengerang dan meronta tidak nyaman. Dia tidak bisa bergerak nyaman karena tangannya diborgol dan kejantanannya digenggam kuat oleh Levi tapi tanpa bergerak itu. Membuat Eren meringis kesakitan.
Pemuda manis itu bungkam seketika saat melihat ekspresi Levi seperti ingin menggorok leher orang. Dengan aura hitam yang menguar hebat.
" Perjanjian tetaplah perjanjian Jaeger. Dan aku tidak akan pernah menerima penolakan dalam bentuk apapun" ucap Levi dingin.
Tangan Levi seketika beralih menuju leher Eren dan menarik tengkuk pemuda itu paksa. Menghadapkan wajah Eren tepat di depan kejantanannya yang mengacung.
" Hisap"
Eren dengan ragu-ragu menjulurkan lidahnya. Matanya menutup kuat dengan wajah memerah hebat sedangkan Levi hanya menatapi Eren datar.
Lidah pemula Eren menyapu lembut ujung kejantanan besar Levi yang sudah menegang sempurna dan menjilatnya lembut. Memutar-mutar lidahnya gugup. Tangannya yang terborgol entah bagaimana caranya itu− berusaha untuk memanjakan miliknya yang juga minta perhatian dari tadi. Tapi lutut Levi segera menendang tangan Eren hingga membuat pemuda manis itu mengaduh.
" Aww! K-kau curang!" Protes Eren tetapi lidahnya masih bermain di kejantanan Levi.
" Milikmu akan ikut andil setelah milikku kau hisap bocah. Jadi−hisap"
Eren menggerutu. " B-biarkan aku menjilatnya d-dulu!"
Levi terkekeh singkat dengan penuturan Eren. " Ternyata kau tidak sepolos itu bocah..."
Eren merona hebat dan memandang Levi panik. Bocah manis itu gelagapan sendiri. " B-bukan seperti itu kau keparat! A-aku cuma mengikuti i-instingku..."
" Terserah kau saja Jaeger"
Eren menyumpah-nyumpah lirih. Lidahnya telah berpindah menuju batang dan pangkal kejantanan Levi. Menjilatinya dengan gugup tetapi saliva Eren telah membasahi semua spot kejantanan itu. Eren sedikit menjauhkan mulutnya dan...
HUMMMPHH!
Levi mendesis kuat. Menjambak sedikit rambut Ebony Eren yang telah acak-acakan demi melampiaskan rasa nikmat saat mulut hangat Eren menyelimut kejantanannya. Eren sedikit terkejut.
Mulutnya saja tidak bisa menampung kejantanan Levi apalagi lubangnya nanti. Uhh..rasanya Eren ingin pingsan saja.
" Sssh...Bergerak bocah!". Titah Levi tidak sabar.
Eren yang mengerti, mulai memaju-mundurkan mulut kecilnya. Melingkupi kejantanan besar Levi dengan saliva dan hangatnya mulut Eren. Levi mendesis tertahan dengan suara bass-nya sedangkan Eren melenguh lirih.
" Anggh..L-levi~"
Membuat fibrasi pada kejantanan Levi.
Eren mulai berani menghisap-hisap pelan kejantanan Levi tetapi itu membuat efek berlebih pada pemuda tampan di depannya. Levi mengerang tertahan dengan suara bass-nya dan entah kenapa Eren menyukai suara itu.
Menghisapnya lebih bersemangat dan kuat hingga pipi gembul Eren menjadi cekung dengan mata setengah terbuka sayu dan saliva berceceran di wajahnya ditambah mulutnya tersumpal dengan kejantanan besar Levi yang sudah tegak dengan sedikit pre-cum disana. Air mata Eren sedikit mengalir saat kepala kejantanan Levi menyodok pangkal tenggorokannya.
UHHH! LEVI SUDAH TIDAK BISA MENAHAN INI LEBIH LAMA!
BRUUUKKKK!
" GYAAAAA!"
Eren berteriak keras saat punggungnya tiba-tiba bertuburukan kasar dengan kasur.
" L-levi Keparat! A-apa-apaan i-ini!?"
Levi membalik keadaan mereka hingga Eren tepat berada di bawah kungkungan tubuh atletis milik Levi. Pemuda tampan itu mendesis dan mengurung kedua kaki Eren dengan kakinya dan membuat kejantanan Eren yang menegang terjepit.
" N-ngaahh!" Teriak Eren reflek. " B-berhenti bermain-main d-denganku!"
" Ho! Jadi kau ingin langsung ke inti begitu?" Tanya Levi meremehkan.
Eren panik sendiri. " B-BUKAN BEGITU M-MAKSUDKU BODOH DAN BER−Ahhhhh!"
Jari telunjuk Levi tiba-tiba saja sudah menerobos lubang anal Eren yang entah basah itu. Levi mengernyitkan dahi saat mendapati rektum Eren menghasilkan cairan bening yang tidak berbau yang cukup banyak. Seolah-olah memang tercipta sebagai lube.
Eren terus menggeliat tidak nyaman merasakan sebuah benda asing yang cukup panjang mengotak-atik rektumnya hingga cairan rektum Eren terus menerus keluar dengan deras karena rangsangan itu.
" Apa ini bocah? Hmm?"
Levi menarik jari tangannya keluar dan menunjukkan pada Eren. Pemuda manis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata menutup kuat dan wajah memerah sayu yang menggoda.
" Auuh..A−aku tidak tahu..."
" Hm? Tidak tahu? Ini keluar dari lubangmu sendiri Jaeger dan kau tidak tahu..?"
" T-Tidak..aku tidak ta−NGAAHHHH LEVIII~!"
SPLURRRTTTT!
Eren mencapai orgasmenya dengan teriakan merdu melengking dan tubuh membusur ke atas. Wajah Eren meronta-ronta kenikmatan saat cum mengalir deras dari ujung kejantanannya. Membasahi perut rampingnya dan sedikit wajah Levi.
Ternyata Levi kembali memasukkan dua jari nakalnya dan− BINGO!
Dia menemukan prostat Eren! Levi tersenyum miring melihat Eren yang bernafas terengah-engah setelah orgasme pertamanya dengan wajah seperti habis diperkosa beramai-ramai itu. Saliva yang membasahi wajah manis Eren, mata sayu dan berair serta lidah sedikit terjulur keluar. Oh! Jangan lupakan wajahnya yang memerah bagaikan kepiting rebus.
Serta cairan rektum Eren yang merembes keluar.
Mudah sekali ditemukan. Ini akan menjadi begitu menyenangkan, batin Levi senang.
Sedangkan Eren rasanya tidak sanggup lagi untuk menahan kesadaran. Dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya dan orgasme pertama ini tentu saja telah banyak menguras tenaga Eren. Nafasnya saja tersengal-sengal.
" Oi Eren..Jangan terlalu nyaring sayang. Kau tidak lihat di depanmu apa?" Panggil Levi dengan seringai tercetak jelas.
Eren berusaha mengangkat kepalanya dan merespon pertanyaan Levi. " Uhh..a-apa?"
Levi menyeringai. " Jendela apartemenku masih terbuka Eren...kau tidak ingin ada yang mendengar kita bukan?"
Spontan pemuda manis itu membulatkan mata Emerald-nya kaget. Dia melupakan bahwa di depannya sekarang ada jendela yang menuju balkon berukura meter! Dan langsung menghadap kota Tokyo!
" L-levi..hentikan!" Ronta Eren dengan sisa tenaga-nya.
Levi hanya tersenyum miring dan kembali melesakkan satu jari lagi ke dalam rektum Eren hingga pemuda manis itu terdiam dan menangis kesakitan. Lubangnya serasa dirobek dan terisi paksa.
" L-levi..kumohon..hikss..keluarkan" Pinta Eren dengan air mata mengalir deras.
Tanpa Eren sadari, satu tangan Levi yang terbebas berusaha mengocok kejantanan Eren yang melemas pasca orgasme-nya yang pertama. Membuat Eren sedikit mendesah di sela-sela kesakitannya.
" Tahanlah sebentar Eren...kita akan ke acara puncak malam ini" ucap Levi lembut.
Mendengar nada lembut keluar dari mulut Levi, Eren hanya mengangguk pasrah dan lebih memilih menggigit lengannya. Mendesah di antara rasa sakitnya.
Levi yang merasa telah cukup memberi pemanasan pada lubang Eren−mengeluarkan ketiga jarinya. Dan cairan bening tidak diketahui itu kembali merembes. Membuat seluruh lubang Eren menjadi becek dan membasahi sprei di bawah mereka.
" Eren..bersiaplah"
Levi melepas semua celananya dan membiarkannya tergeletak di lantai. Kejantanan besarnya telah mengacuk tegang di depan lubang anal Eren yang becek. Levi mengangkat kedua kaki Eren dan menumpukannya pada bahu tegapnya.
Eren mendesah tertahan merasakan ujung kejantanan Levi menggesek-gesek nakal bibir lubangnya. Eren yang sudah termakan nafsu-nya ditambah tangan Levi yang lainnya mengocok kejantanan Eren dalam tempo cepat− merengek tertahan.
" Levi! C-cepatlah..ungghh"
Levi terkekeh dan membuat Eren tertegun melihat ketampanan Levi semakin meningkat. " Dasar nakal"
JLEBBB!
" NGAAAAHHHH LEVI! SAKIT! AUSWERFEN! DAS TUT WEH!"
Levi mendesis menahan nikmat saat rektum basah Eren benar-benar menjepit miliknya. Seolah-olah ingin menghancurkan kejantanannya sampai remuk. Padahal ini baru setengah yang masuk...
" Ne Eren..calme. Rileks saja−sebentar lagi kau tidak akan merasakan rasa sakit ini lagi. Percaya padaku−jadi..Calme Eren"
Eren melesakkan kuku tangannya ke lengan kokoh Levi. Rektumnya serasa benar-benar dibelah dan disayat dari dalam dan dilebarkan paksa. Eren meronta menahan sakit. Levi berusaha mengalihkan rasa sakit Eren dengan mengocok kejantanan Eren hingga kembali mengeluarkan pre-cum dan membungkam bibir Eren.
Sedikit demi sedikit otot-otot rektum Eren berelaksasi merasakan rasa nikmat yang lain mendera bagian tubuhnya. Levi melepas ciuman basah mereka hingga benang saliva yang tercipta cukup panjang.
" Ya Eren...seperti itu..dan sssh..Yeah. Rilekskan saja"
Levi kembali melesakkan semua kejantanannya penuh masuk ke dalam rektum Eren. Membuat pemuda manis itu kembali berteriak.
" AKKHH LEVI! DAS TUT WEH!" Ronta Eren kuat.
Levi mendesis. Jangan dia kira dia tidak tahu arti bahasa Jerman itu hingga membuatnya geram. Sekali Levi masuk maka jangan harap dia bakalan mengeluarkan lagi. Dan tanpa sengaja miliknya membentur suatu daging kenyal dan segera tubuh Eren membusur dan remasan di kejantanan Levi makin kuat.
" NYAAAHHH~ L-LEVIIII!" Desah Eren penuh nikmat.
GOTCHA! Dapat kau, batin Levi.
Levi menarik kejantanannya hingga hanya tersisa kepalanya dan melesakkan kembali dalam-dalam dalam satu kali sentakan. Tepat mengenai prostat Eren. Membuat Eren menggelinjang penuh kenikmatan.
" Gaaah! Auuhhh~ Levi Levi Levi!" desah Eren. Kali ini dia berinisiatif sendiri mengalungkan kakinya ke pinggang Levi. Meminta Levi untuk terus menumbuk sopt itu lagi sampai Eren lemas.
" Grrh..Jaeger!" Kali ini Levi menggeram.
Dia bergerak dengan tempo yang dapat membuat Eren menggelinjang tak terkendali. Maju mundur dengan cepat dan dalam. Mengobrak-abrik isi rektum Eren yang telah benar-benar becek itu.
Eren terhentak-hentak ke depan dengan wajah mendongak penuh nikmat. Mulut Eren telah basah akan desahan dan erangan kenikmatan. Tangan Eren bahkan terkalung di leher Levi dan membuat pemuda tampan itu menggigit leher Eren.
" Gyaaah! L-levi..lagi..ahh!"
" Grrr...makan ini Jaeger!"
Levi langsung menumbuk prostat Eren kuat membuat teriakan Eren makin menggema di dalam apartemennya. Tempo sodokan itu lama-lama makin cepat dan kasar. Membuat Eren kewalahan untuk mengimbanginya.
" Uhh..L-levi..a-aku akan...NGGAAAAHHHH!"
Eren kembali orgasme untuk kedua kalinya dengan memeluk tubuh Levi kuat. Membuat cum Eren menyebar kemana-mana. Terutama perut Eren dan dada Levi.
Levi gemas sendiri dan kembali menggenjot lubang Eren tanpa ampun. Awalnya dia berusaha lembut tapi kenikmatan ini benar-benar membunuhnya! Dan Levi tidak dapat menahan lebih lagi!
" Jaeger.."
" Gyaaaa!"
Levi tiba-tiba membalik posisi mereka hingga Eren menungging. Mempertontonkan pantat sintal dan lubang merah basah yang berkedut-kedut itu. Eren jelas-jelas merona dan malu hingga membenamkan wajahnya ke sprei abu-abu Levi.
JLEBBB!
JLEBBBB!
JLEBBBBB!
" Ahh! Ngghhh...gyaaah!"
Levi mendesah tertahan dan tangannya meremas-remas nakal pantat sintal Eren. Sekali-kali menampar gemas pantat itu hingga memerah.
" B-bagaimana rasanya Jaeger?" Tanya Levi sensual. Lidahnya menjilat garis punggung Eren.
Eren berusaha menjawab pertanyaan Levi di sela-sela desahan liarnya. " Auhh..i-ini ahh..tidak dapat ku ngahh..j-jelaskan! I-ini...terlalu nyaaahhh...nikmat ahh!"
" Shit!"
Ucapan Eren membuat Levi semakin panas. Dia menggenjot Eren dengan kasar. Eren hanya melenguh merasakan urat-urat kejantanan Levi telah menyembul dan kejantanannya semakin membesar. Seolah-olah siap meledakkan isinya kapan saja.
Kejantanan Eren yang telah orgasme dua kali itu kembali menegang. Cairan pre-cum kembali keluar seiring tersentaknya tubuh Eren ke depan dengan liar. Tangan Eren hanya bisa meremas-remas sprei di bawahnya dengan kasar dan sesekali menggigit-gigitnya kuat saat Levi berhasil menumbuk prostatnya telak atau menggesek rektum basahnya terlalu cepat.
" Anngh..L-leviii! Wuaaahhh..aku t-tidak tahan l-lagi! C-cum..!"
Levi menyeringai tanpa menghentikkan tempo sodokannya yang makin cepat dan kasar itu. Tangannya menjulur menuju lubang di ujung kejantanan Eren dan menutupnya dengan ibu jarinya.
" GYAAAH! L-LEVII~ SAKIT! DAS TUT WEHHH~ BIARKAN AKU KELUARRR!" Ronta Eren merasakan saat orgasmenya semakin dekat, pemuda tampan dengan mata tajam itu malah menutup satu-satunya lubang untuk keluar.
" T-tidak Eren. Kita akan keluar bersama-sama ssh..."
Eren menahan air mata yang keluar karena hampir saja orgasme kering yang sangat menyakitkan itu. Levi menggeram semakin rendah merasakan orgasme-nya semakin dekat dan kembali melesakkan miliknya begitu dalam dan keras ke rektum Eren. Mengerjai prostat yang membengkak itu berulang kali.
Eren hanya dapat menumpukan kepalanya pada ranjang di bawahnya sedangkan saliva telah berceceran dari mulutnya karena tidak berhenti mendesah dan berteriak sedari tadi. Levi yang melihat bibir membengkak Eren itu segera menarik tengkuk Eren dengan tangannya yang bebas dan mencumbui bibir Eren.
Eren yang sudah dihalang kabut nafsu membalas sama liarnya dengan Levi. Lidah mereka bermain-main di luar dan bertukar saliva diiringi sodokan Levi yang juga tidak mereda itu. Eren menangkap sinyal bahwa Levi ingin orgasme itu dari kejantanan besarnya yang makin membesar dan berdenyut-denyut tanpa ampun itu membantunya.
" Fuck!" Umpat Levi kasar setelah melepaskan ciuman panasnya bibir Eren.
" Ahhn Levi! Ngaahh..Uuhh.." Desah Eren.
Eren sengaja mengetatkan lubangnya demi memacu orgasme Levi cepat keluar. Buktinya saja pemuda tampan itu segera menarik pinggul Eren hingga pantat sintal pemuda manis itu segera bertabrakan dengan perut berotot Levi. Dan menggauli Eren kasar.
" AHH YA..L-LEVI..NGGGH..LAGI OHH..YAAA! NYAAHHH~" Racau Eren saat orgasmenya juga semakin dekat.
" Shit Jaeger! Sssh..bersama!"
Eren segera mendesah nyaring saat akhirnya lubang kemaluannya dibuka bahkan kejantanannya segera dikocok oleh tangan Levi.
" NYYYAAAAHHHH LEVIIIIII~!"
" Grrr...EREN!"
SPLURRRRTTTTT!
Eren jatuh lemas di ranjang Levi dengan mata hampir tertutup sedangkan kejantanan Levi masih bersarang di rektumnya. Pemuda tampan itu masih mendesis merasakan sisa-sisa kenikmatan saat cum-nya mengalir deras di dalam rektum basah Eren.
PLOOP!
" Hah~.." Desah Eren lega.
Levi telah mengeluarkan kejantanannya dan ambruk di samping Eren. Pemuda tampan itu menutup mata tajamnya dengan lengan dan sedikit melirik keadaan Eren yang masih terengah-engah di sebelahnya.
" Istirahatlah Eren...lagipula..hh.. ini sudah malam."
Eren hanya menangguk lemah dan lebih memilih terbuai oleh rasa ngantuk dan lelahnya hingga manik Emerald yang indah itu tertutup sempurnya. Levi tersenyum singkat. Senyum yang tidak pernah orang manapun di dunia ini pernah melihatnya atau berhasil membuatnya.
Pengecualian untuk Eren.
Levi masih sempat mengelus pipi gembul Eren yang tertidur lelap bagaikan anak kecil yang polos. Deru nafas hangat Eren yang teratur menggelitik tangan Levi hingga membuat pemuda tampan itu mencium pipinya lembut.
" Eren−Jet a'ime"
.
.
.
.
.
" GYAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Hanji terguling-guling di dalam rumah bertingkat duanya di daerah Trost. Wajahnya memerah hebat dengan darah mengucur deras dari dua lubang hidungnya. Hanji berguling-guling liar di karpet tebal berwarna coklat hingga menabrak beberapa meja dan sofa.
Rico yang dipanggil Hanji untuk meneliti masalah Armin itu hanya menganga seperti orang sedeng. Tangannya yang sedang memegang tabung percobaan itu terdiam. Bahkan hampir melepaskannya jika saja anggota file hitam lain di rumah Hanji tidak menahan tangan Rico.
" OI OI HANJI! KENAPA DENGANMU HAH!?" Maki Farlan yang terlihat syok melihat Hanji tiba-tiba berteriak seperti orang gila setelah melihat sesuatu dari Gadgetnya.
" Kelihatannya dia senang sekali..pasti tentang Eren atau Armin". Ejek Petra yang tidak bisa menikmati teh-nya di salah satu sofa Hanji.
Hanji segera bangun dan menunjuk wajah Petra girang. " YAHAHAHAHA KAU BENAR PETRA! OHHHH RASANYA AKU INGIN TERBANG SAJA!"
" Memangnya ada apa sampai kau segirang itu?" Tanya Auruo yang risih.
Hanji berdehem singkat dan menunjukkan gadgetnya ke semua orang. Yang lain hanya terdiam bingung. Memang Hanji gila. Orang layarnya putih...apanya yang lucu?
" Apa!? Tidak apa-apa disana!" Protes Farlan yang tidak sabar. " Dan kemana saja Rivaille! Aku bahkan tidak bisa menghubungi nomornya sedari tadi padahal kita punya informasi penting!"
Murid file hitam lain mengangguk−minus Hanji yang tertawa-tawa seperti menyembunyikan sesuatu.
" Rivaille sedang ada di apartemennya sekarang! Bersama Eren" Teriak Hanji girang.
" HAH!?"
Petra menggebarak sofa kasar. " B-bagaimana bisa!?"
Hanji mendengus kasar ke arah Petra. " Nanti kau tahu sendiri. Jadi begini−aku memasang GPS pada baju Eren bukan? Nah tiba-tiba saja GPS itu hilang. Berarti ada sesuatu yang terjadi dengan baju Eren. Aku juga telah memasang sebuah alat mata-mata pada apartemen Levi kau tahu!?"
Dasar Tukang cari mati!,batin semua murid file hitam.
Hanji tertawa sebentar dan kembali menjelaskan. " Jadi aku coba-coba mengecek alat itu. Jangan-jangan mereka disana dan ternyata kecurigaan benar. Tetapi aku juga dikejutkan dengan ini! Aku telah merekam cuplikan suaranya!"
Irvin merengutkan dahi kuat. " Suara apa?"
Hanji kembali menyodorkan Gadgetnya dan tertawa lebar. " Dengarkan saja~"
Semua orang di ruangan itu hening untuk mendengar suara yang keluar dari Gadget Hanji.
Dan...
" GYAAAAA! APA-APAAN ITU!?"
" WAHAHAHAHA AKHIRNYA RIVAILLE MELAKUKAN ITU!"
" KYYAAAA! ERENA AKHIRNYA! BWAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
" S-SEJAK KAPAN RIVAILLE ANU-ANUAN ITU HAH!?"
Teriakan dan protesan nyaring menggema di rumah Hanji. Petra telah jatuh tersungkur ke sofa dengan wajah memerah. Farlan tertawa-tawa senang. Auruo yang membulatkan mata dan menepuk wajahnya kuat sedangkan Irvin hanya terkekh padahal wajahnya juga merah. Rico saja sudah pingsan lemas ke lantai dengan cairan kimia membasahi bajunya.
Hanya Hanji yang menyeringai dan malah menaikkan volumenya hingga membuat semua orang makin gila sendiri.
" HANJI ZOE SIALAN! MATIKAN ALAT ITU KAU KEPARATTTTT! AHH TELINGAKU TERBAKAR!"
" HIDUNGKU SAJA SUDAH MIMISAN DARITADI PETRA HAHAHAHA!"
" NYYYAAAAHHHH LEVIIIIII~!"
" Grrr...EREN!"
Irvi menangkupkan wajahnya lelah dan mematikan alat itu. Yang dihadiahi protesan tidak suka dari Hanji dan teriakan lega dari anggota file hitam lain yang sudah terkapar lemas dengan telinga memerah hampir terbakar.
.
.
.
.
T
B
C
XD
HOLAAAAAA! INI CHAP PALING...GRRRRR...
SAYA NGGAK KUAT AHH..NGGAK KUATTT... MIMISAN SAYA...
Mind to RnR?
