CHAPTER 11
AN ATTACK ON TITAN FANFICTION
.
.
.
WARNING : YAOI AND MATURE CONTENTS
CAST :
ALL SNK CHARACTER
.
.
.
PAIRINGS:
RIREN ( MAIN)
ERUMIN
JEANXARMIN
.
.
.
ENJOY IT
BY AULIA ASRIKYUU
.
.
.
.
.
.
.
FlashBack
Paris, Prancis
10 tahun yang lalu− 21 Oktober
.
.
.
Hujan deras turun dengan begitu anggun. Membasahi setiap jengkal celah dari bumi yang dapat di jangkau oleh mereka. Udara dingin berhembus kencang−menyisiri sudut kota Mode dunia dalam sekejap mata.
Langit cerah kota Paris tertutup dengan sempurna oleh kumpulan awan hitam yang bergulung-gulung layaknya karpet tebal basah. Seolah-olah enggan untuk membiarkan sang mentari merengsek masuk sedikit saja demi menghangatkan suasana kota indah nan elegan itu.
Musim gugur sendiri telah memasuki masanya hingga hawa kota Paris menurun drastis−mendekati musim salju nan dingin. Dan sebentar lagi, akan menggantikan suasana jingga senja nan khas dari musim gugur menjadi putih bersih musim salju.
Tanpa terasa, hawa dingin itu berjalan−terus berjalan hingga menuju ke sebuah mansion klasik bergaya Prancis yang begitu kental. Dengan taman mawar dan pinus di halaman depan serta kebun anggur dan delima di halaman belakangnya.
Seberkas asap putih menguar dari mulut seorang bocah laki-laki. Dia menatap datar taman belakang mansion yang penuh dengan sulur tanaman anggur dan lusinan pohon delima merah nan matang.
Bocah itu mengetuk-ngetukkan jari di pembatas jendela.
Basah dan monoton.
Itulah kata yang terpikirkan oleh bocah laki-laki dengan rahang tegas dan tatapan tajam itu. Bocah itu memangku dagunya bosan. Dia duduk di depan jendela besar di dalam ruangan mirip perpustakaan yang begitu elegan dengan dekorasi bergaya eropa klasik.
" Huh..."
Kelopak matanya menutup lembut dan ia kembali menghela nafas panjang. Dahi bocah laki-laki itu mengernyit−berusaha memikirkan sesuatu di sela-sela kegiatan mengistirahatkan mata tajamnya yang begitu terkenal.
Hingga sebuah suara lembut menginterupsi pergerakan bocah laki-laki itu.
" Levi?"
Levi kecil seketika membuka kelopak mata tajam miliknya dan membalikkan badan tegapnya yang terbalut kaos putih polos dan celana hitam besar selutut. Ia melemparkan pandangan ke arah pintu.
Seorang wanita berambut merah dikuncir dua pendek tersenyum sembari membuka pintu ruangan yang terbilang cukup besar itu. Tubuh ramping miliknya tertutup sebuah mantel hijau yang menjuntai hingga ke lantai.
" Levi..." Panggilnya lagi. " Kenapa kau masih berpakaian seperti itu? Di luar dingin..."
Levi menatap wanita itu dengan sorot wajah datar hingga sebuah jawaban singkat meluncur mulus dari mulutnya.
" Mama−Kenapa Levi harus pindah?"
Wanita itu mengambil tempat duduk di sebelah Levi dan mengelus pipi tirus anaknya yang menatapnya tanpa minat−tetapi sebagai seorang ibu tentu dia dapat mengetahui perasaan terdalam anak mereka.
Ia tersenyum manis.
Wanita itu melepas mantel hijau panjangnya dan membalutkan di keseluruhan tubuh kecil Levi.
Levi seketika meremas mantel itu dengan kuat dan mata hitam tajam itu menatap ibunya. Yang sedang menyunggingkan senyum lembut di antara remang-remang lampu gantung di atas mereka.
Hingga terkadang−membuat Levi kecil berpikir kenapa dia tidak bisa sekali saja dalam hidupnya untuk bisa tersenyum seperti ibunya daripada hanya bisa menyeringai angkuh atau berwajah datar.
" Levi..." Panggil ibunya lembut. " Ayahmu sedang berada di Jepang untuk mengelola perusahaan dan... sebagai anak laki-laki utama keluarga Ackerman−hal ini merupakan tradisi, untuk mengikuti ayah mereka pergi kemanapun".
" Ck!"
Levi memalingkan wajahnya kesal. Kemudian kembali berbalik menatap ibunya. "Dan meninggalkan mama sendirian? Di Paris? Tidak akan"
" Pfffffttt!"
Ibunya spontan tertawa geli hingga membuat Levi mengangkat alis bingung dan semakin bertambah bingung saat ibunya mulai mencubit hidung mancungnya gemas.
" Kau berlebihan Levi Ackerman! Bahkan sifat keras dan dinginmu itu benar-benar tercetak sempurna dari ayahmu kau tahu!? Mana mau mama tinggal sendiri disini? Bisa-bisa mama lumutan ditinggal putra mama paling tampan iniiii~"
DUUUUKKK!
Ibu Levi memeluk Levi dalam sekali gerakan spontan hingga hidung anak itu kepencet. Levi seketika mendengus kasar dan mendecih.
" Mama...Sesak" Levi berusaha memindahkan tubuh ibunya. " Mama...Levi susah bernafas".
Wanita itu mendengus senang saat akhirnya Levi kecil menyerah dan menenggelamkan wajah tampannya di dada ibu yang begitu ia cintai. Memang−Levi kecil menyadari dia tidaklah seperti tipikal orang Prancis pada umunya. Yang begitu ahli membuat kata-kata indah nan bermakna. Sarat romantisme dan kasih sayang.
Begitu detail saat menjelaskan perasaan mereka−hingga orang yang dituju menjadi terlena.
Levi sadar ia bukanlah orang seperti itu.
Ia menyadari bahwa dirinya hanya bisa menjawab denagn seadanya saja atau memasang ekspresi datar−Karena Levi lebih suka ke inti. Bila dia suka, kenapa tidak sekalian saja langsung dilakukan? Kenapa harus menunda dengan cara merayu orang tersebut hingga jatuh ke dalam pelukan kita terlebih dahulu?
Levi lebih menyukai untuk segera menyatakan perasaan ke inti biarpun suasana secanggung apapun. Daripada menyesal belakangan−lebih baik ditolak terlebih dahulu.
Wanita itu mulai menarik kepala Levi lembut dari dadanya−menangkup wajah bocah laki-laki itu dengan kedua tangan mulusnya. Dia tersenyum hingga Levi mendengus dan menatap bosan.
Uhh...dia jadi gemas sendiri dengan putra semata wayangnya ini. Levi begitu bertalenta seperti layaknya keturunan Ackerman pada umumnya. Wajah tampan, otak cemerlang, tegas, penuh talenta dan berbakat dalam bidang apapun.
" Levi~ berjanjilah kepada ibu"
Levi mengangkat alis bingung. " Berjanji? Janji apa mama?"
Wanita itu kembali tertawa lembut hingga hati dingin Levi kecil terasa menghangat. Tawa ibunya mengalun diantara senyap-nya suasana kota Paris nan kelam karena rintikan air hujan. Tawa itu bagaikan matahari musim semi yang bersinar.
" Berjanjilah pada ibu−bahwa kau tidak akan mengecewakan ibu dan ayahmu. Berjanjilah kau akan menjadi kuat dalam segalanya dan menjadi seseorang yang mampu membanggakan ibu! Jadilah Ackerman yang berwibawa! Okeh!?"
Levi mendengus dengan kasar hingga ibunya tertawa geli.
" Ya−kan kulakukan. Tapi Mama harus membuatkan Levi sup rumput laut setiap hari− Jangan protes"
" Ahahaha!" Wanita itu tertawa nyaring dan geli hingga Levi mengangkat senyum tipis. " Aduh! Kau macam-macam! Dasar−ada maunya anak ini~"
" Bisnis tetaplah bisnis Mama" Jawab Levi singkat.
Wanita itu menatap Levi dengan mata berbinar dan tertawa. " Nah! Sekarang kau sudah berani bicara tentang bisnis ya! Uggghh...anak mama dewasa duluan~~ Dasar Ackerman kecil!"
Levi reflek mendesis dan meronta saat pipi tirusnya dicubiti gemas oleh ibunya sendiri. Sedangkan yang mencubit malah makin gemas dan segera menarik Levi dalam pelukannya hingga hidung bocah itu kepencet. Lubang hidunganya tertutup sempurna.
" MAMA!"
SREEETTT!
Levi menarik baju ibunya begitu kuat. Pernah ikut bela diri memanah membuat Levi dapat menarik sesuatu secara kuat seperti menarik tali panah. Hingga tanpa sadar−karena ia tidak bisa bernafas, Levi menarik lengan baju ibunya begitu keras sampai terdengar bunyi tali-tali putus.
Ibunya tentu saja kaget tetapi wanita itu hanya mendengus kasar. " Grrrr...nakal ya! Kau bahkan sekuat ayahmu−padahal badanmu pendek-pendek cabe keriting!"
Dahi Levi seketika berkedut kesal. Ia menggeram berat dan makin menarik baju ibunya. Kali ini dengan dua tangan sekaligus yang membuat tenaganya sangat kuat. Kaki-kaki bocah itu juga tidak diam−berusaha menendang tapi tidak sampai mengenai ibunya.
" Mama! Berapa kali aku bilang bahwa jangan sebut aku pendek" Protes Levi. Ia menggerutu tidak suka di dada ibunya dan bergumam kata-kata kutukan kecil. Sedangkan ibunya malah memeluk Levi dan menggoyangkan tubuhnya. Bersiul kecil.
Ibu Levi tersenyum dalam diam. Ia mengelus surai kehitaman Levi sayang biarpun anaknya itu masih menyumpah.
" Fisik bukanlah penentu segalanya Levi..."
Wanita itu menghadapkan wajahnya ke arah wajah Levi yang datar. Bersungut-sungut kecil karena ibunya itu mengatai-nya seenak udel.
" Ingatlah ini Levi..." Ibu Levi menunjuk dada Levi dengan telunjuknya. Menekan daerah itu dengan tatapan penuh arti dan sarat makna dalam. " Ingatlah untuk selalu menggunakan hatimu. Kekuatan hati lebih kuat dari segala apapun di dunia ini..."
" Termasuk bertarung?" Levi bertanya dengan dingin sembari melipat tangan di dada dan tatapan angkuh khas Ackerman.
" Termasuk itu..." Ibu Levi tersenyum. Ia kembali membawa Levi kecil ke dalam pelukan hangatnya di antara hawa dingin musim gugur kota Paris. Menekan kepala putra semata wayangnya itu dengan lembut dan membuat Levi kecil mau tidak mau harus menghela nafas pasrah. Bahkan Levi mulai mengalah dan menyamankan diri di dalam rengkuhan tubuh ibunya yang penuh dengan kasih sayang.
" First snow..."
Levi membulatkan mata kaget. " M-mama?"
" My First snow..."
" Always be my best snow ever in my life..."
" We walk together on this delightful winter...
"Take our happines forever..."
Levi menggoyangkan tubuh ibunya. " M-mama? Mama?
Ibu Levi menutup mata lembut. Ia memeluk Levi dengan sayang− biarpun anaknya itu mulai sedikit memberontak. Suara bagaikan petikan harpa itu mengalun dengan penuh simfoni pada keheningan mansion Ackerman. Mengisi mansion itu dengan kehangatan yang begitu langka.
Levi melepaskan kepalanya dari pelukan ibunya. Ia meraih wajah cantik ibunya dengan kedua tangan mungil itu. Mengelus pipi ibunya dengan penuh tanda tanya di dalam binar mata tajamnya.
" Mama?" Panggil Levi. " Mama...
" Ya?" Jawab Ibu Levi.
" Jangan...
Levi terdiam. " Jangan menangis"
Tesssss...
Ibu Levi mengangkat senyum. Ia tertawa lembut hingga hati kecil Levi berdenyut sakit. Tawa bahagia itu mengalun di antara tetesan air mata ibunya yang terus menerus mengalir deras tanpa berhenti.
Hingga akhirnya tawa itu digantikan isakan. Isakan yang begitu menyakitkan hati siapapun yang mendengarnya.
" Hhh...hhhhiks..." Wanita itu menangis. " Hikkss...L-levi..peluk mama...hiksss..."
Ibu Levi membuka tangannya dengan wajah sendu. " Hikss...peluk mamah Levi..hikss...putra kecilku..."
Levi melihat ibunya dengan mata hitam yang melemah.
" Mama..." Levi memanggil ibunya. " Mamah...mamah..."
BRUUUUKKKK!
" Hiksss..hikss..." Tangisan itu semakin intens.
" Putra mama...Ackerman kecilku.. h-hikkss...A-ackermanku..."
Levi memeluk ibunya sangat kuat. Tangan kokoh Levi melingkari tubuh ibunya dengan erat " M-ma..."
" Kau adalah putra kecilku...putra ku yang luar biasa..hikkss..." Wanita itu menggesekkan mulutnya di surai kehitaman putranya. " Hiikkss..Levi Ackermanku...Ackerman-ku yang s-suatu hari d-dapat membuatku bangga... Hikssss"
Tanpa mereka sadari−para maid dan pembantu di mansion itu menangis dan menitikkan air mata di balik pintu perpustakaan. Mereka terisak dan sakit hati. Laki-laki dan perempuan dengan keadaan sama. Mereka menunduk dan duduk di lantai mansion. Duduk dan menangis kepada satu sama lain.
Kebaikan ibu Levi adalah segalanya bagi penghuni mansion. Malaikat mereka, pelindung mereka, sayap mereka, dewi kebaikan mereka semua. Ibu Levi terlalu murni dan bersih untuk di dosai oleh siapapun.
Seorang wanita yang benar-benar hebat. Begitu hebatnya−hingga Levi Ackerman kecil dilahirkan. Penerus Ackerman yang begitu bertalenta. Dibesarkan langsung dari tangan Isabel.
Dibuai di dalam pelukan Isabel. Dididik dan dibesarkan dengan tanggung jawab.
Tapi entah kenapa, Tuhan berkehendak lain.
Itulah Isabel Magnolia−ralat Ackerman. Dirinya bagaikan malaikat jatuh yang kehilangan sebelah sayapnya. Hanya satu sayapnya yang masih terbuka lebar dan putih bersih.
Yaitu cintanya pada Levi. Cintanya yang begitu tulus pada putranya itu. Mengalahkan semua rasa sakitnya di dunia demi menjadi ibu Levi. Ibu yang masih mampu membuat Levi tidak merasakan semua rasa sakit ini.
Sedangkan sebelah sayapnya merontok sedikit demi sedikit. Layaknya cintanya pada suaminya−Ayah Levi.
Betapa hancur hati Isabel saat seorang gadis asia kecil dengan wajah polos dan mata hitam besar yang tidak tahu apa-apa−dibawa ke hadapannya seminggu lalu. Gadis kecil yang bermain-main dengannya dan begitu senang dengan tawa miliknya. Gadis kecil yang sama-sama bermarga Ackerman.
Dari ibu berbeda. Dan istri simpanan berbeda.
" Kau tahu Levi?" Isabel berbicara di antara isak tangis kepedihannya. " J-jika kau mempunyai adik...kau harus menjaganya...jagalah dan jangan sekali-kali membenci dirinya. S-selalu gunakan hatimu..."
Levi bergumam. " Apa maksud mama?"
" Hmm..." Isabel menggelengkan kepalanya. " Kau akan tahu nanti..."
Isabel berdiri dari tempat duduknya dan menyeka air matanya. Mata Levi terlihat membengkak saat menatap Isabel hingga Isabel menyapu lembut mata kecil Levi dengan ibu jarinya.
Levi bersumpah tidak akan pernah menangis. Biarpun itu hal sepele atau yang besar sekalipun. Tidak ada air mata untuk hidup.
Pengecualian untuk ibunya.
Levi mendengus kasar. " Mama membuatku menangis..."
Bocah tampan itu menyeka mata merahnya dengan kasar. Membuat Isabel mau tidak mau menghentikan tangan Levi untuk berbuat lebih jauh dan melukai mata hitam yang menawan itu. Ia menahan pergelangan tangan kecil Levi−mengelusnya perlahan, dan meletakkan tangan itu di atas paha Levi.
Menggantikan tugas tangan Levi dengan tangan lembutnya. Menyeka air mata yang menggantung di pelupuk mata tajam Levi kecil.
Levi mendengus dan meremat celananya kasar. Matanya menatap lurus ke arah Isabel yang masih bisa tersenyum biarpun wajahnya sembab dan basah. Membuat hati kecil Levi merasa tidak mau meninggalkan ibu tercintanya.
TOOOK...TOOOK..TOOOK..
Isabel dan Levi sama-sama menoleh ke arah pintu ruangan yang sedikit terbuka. Menampilkan sosok seorang maid perempuan yang berdiri gugup. Ia membawa sepucuk surat berwarna coklat khas kertas lama dengan cap berlambang keluarga Ackerman.
Maid itu menggesek-gesekkan tangan dengan gelisah dan menggigit bibir bawahnya.
" Ano...Nona Isabel... T-tuan Kenny Ackerman mengirimkan surat ini kepada anda. Dan Tuan muda Levi−Nona muda Petra Rall menunggu anda di basement" Ucapnya.
Isabel berdiri. Surai kemerahan yang dikuncir dua pendek itu tersibak. " Tolong bawakan surat itu ke kamarku, Helen. Dan juga− tolong antarkan Levi menemui Petra.."
Levi seketika menatap Isabel tajam. " Mama"
" Hm?" Isabel mengangkat alis bingung. " Ya? ada apa?"
" Berapa kali−berapa kali sudah kubilang untuk menjauhkanku dari gadis itu, ma?" Nadanya datar dan sakartis.
" Dia−sangat−menggangu."
Isabel menatap levi lembut. Ia mengelus surai kehitaman Levi tetapi hal itu malah membuat wajah Levi semakin datar dan tatapannya semakin tajam. Tangannya tersilang dan auranya dingin. Levi sangat tidak suka dirayu atau dibujuk. Dengan cara apapun dan oleh siapapun. Apapun keputusannya harus sesuai kehendak dirinya sendiri.
Bukan hasil paksaan atau bujuk rayu menjijikan.
" Ibu tidak pernah memaksamu untuk mendekati gadis kecil pewaris Bangsawan Rall itu, Levi...". Isabel mengerucutkan bibirnya imut. " Lagipula dia gadis baik-baik kok..."
Levi mendecih kesal dan membuang muka. Ia mendengus tidak suka. " Baik-baik darimana? Terbiasa hidup sebagai keluarga bangsawan membuatnya manja setengah mati seperti anak ingusan."
Isabel menghela nafas pasrah. Bila sudah seperti ini, sangat susah membujuk Levi untuk menemui Petra. Levi itu sangat keras kepala terhadap keputusannya dan Isabel sudah melihat bahwa Levi benar-benar tidak menyukai dengan Petra bahkan saat pertama kali gadis itu dipertemukan dengannya 2 tahun yang lalu.
Petra selalu berusaha mendekati Levi tapi Levi bakalan cuek atau menghardik dengan sakartis tentang Petra dan berakhir membuat gadis itu tersenyum pahit di hadapan Isabel. Berusaha untuk tidak menangis karena ditolak Levi.
" Mama hanya memandangnya dari luar" Ucap Levi sakartis. " Dia busuk di dalam...mengincarku diam-diam. Cih−ingusan"
Levi berdiri secara tiba-tiba. Membuat Isabel kebingungan setengah mati dengan sifat random anaknya itu. Levi kecil memasukkan tangan ke kantong celananya seperti orang dewasa dan melirik ke jendela tajam.
Disana berdiri maid-nya yang sedang memberi pengertian dan menahan seorang gadis kecil yang merengek-rengek dan menghentak-hentakkan kaki tidak sopan. Ia berteriak nyaring dan menyalang agar bisa disuruh masuk hingga membuat kedua pengawal gadis itu kebingungan.
" Biarkan aku masuk! Aku harus bertemu Levi sebelum ia pergi ke Jepang! Pokoknya aku harus masuk!" Teriaknya hingga melengking dan membuat Levi mendesis jijik dari lantai atas. " Pengawal! BIARKAN AKU MASUK!"
Levi berbalik menatap ibunya tajam dan berbicara dengan nada yang sangat rendah. Ia geram setengah mati untuk tidak mencekik gadis di bawah tadi dengan pecut kuda bergerigi miliknya hingga mati.
" Mama sudah lihat?" Levi menggeram begitu rendah hingga Isabel tercekat dengan sifat buas Levi yang tiba-tiba keluar.
" Aku ingin tiket ke Jepangku dirahasiakan. Percepat waktunya dan jadikan malam ini waktu maksimal keberangkatanku. Suruh para maid berbenah sekarang dan aku akan segera bersiap."
" Sekarang"
Isabel terlonjak. " L-Levi! E-eehh...T-tunggu dulu!"
Levi berjalan dengan acuh melewati perpustakaan dan membuka pintu kasar biarpun badannya tergolong pendek untuk seusianya di Prancis. Ia bisa mendobrak pintu seperti orang dewasa hingga para maid menjatuhkan nampan makanan karena kaget.
" Ma..." Levi berhenti tanpa berbalik. Bahunya naik turun menahan emosi.
" Levi sayang mama..."
BRAAAAKKKK!
Pintu ruangan tertutup dengan kasar−tetapi tetap rapi tanpa menghasilkan kerusakan apapun. Membuktikan bahwa biarpun Levi bersikap kasar tapi dia masih memperhatikan kerapian dan tata krama terhadap ibunya sendiri.
Isabel terdiam. Lidahnya kelu dan tidak bisa lagi berkata apa-apa. Ruangan itu seketika sunyi senyap dan hanya dihiasi suara teriakan dan lengkingan manja milik Petra dari luar yang masih merengek-rengek minta dibiarkan masuk.
Wanita berambut merah itu menghela nafas berat.
" Kau boleh keluar sekarang Ian..."
Seorang pemuda berusia 14 tahun dengan rambut putih perak yang indah keluar. Ia memunculkan diri dari gorden merah dekat jendela. Pemuda itu membungkukkan badan hormat ke arah Isabel.
" Ya nona muda?"
Isabel memandang pintu dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. " Kau sudah mendengar permintaan Levi bukan?"
Ian menangguk. " Tentu. Jadwal asal benar-benar kita ubah sedemikian rupa sesuai kehendak Tuan muda"
Wanita berambut merah itu menundukkan kepala. Ia meremas gaun selututnya dengan kuat dan memandang foto dirinya dan Levi kecil di depan menara Eiffel. Yang tergeletak begitu saja di atas undakan.
Bekas tempat yang diduduki Levi.
Isabel menutup mata. " Demi tuhan... Lindungi keluargaku"
.
.
.
.
Tokyo, Jepang
21 Oktober− Pukul 07:00 p.m
.
.
.
Jet khusus berwarna putih gading membelah langit malam kota Tokyo. Biarpun hari semakin larut, tetapi Tokyo bagaikan siang di dalam malam. Mata tajam Levi bahkan mampu melihat gemerlapnya kota itu pada waktu malam. Penuh lampu dan penerangan.
Bocah laki-laki bermarga Ackerman itu menyilangkan kaki dan duduk dengan gaya orang dewasa di sebuah kursi pesawat first class. Bersama sebuah novel klasik karya Sir Arthur Conan Doyle dan wine Napoleon 1889.
Ia melirik tajam dan memasang ekspresi angkuh dan datar pada pemandangan di bawahnya. Sesekali bocah laki-laki itu menyesap winenya dan mendecih. Menyumpah sesuatu sambil membawa nama ayahnya.
" Kau sama busuknya dengan Moriarty, yah" Ejek Levi. Ia terkekeh dengan begitu ngeri hingga membuat takut seorang pelayan khusus yang setia berdiri di dekat bocah itu. Pelayan itu menelan ludah gugup−padahal yang dilawannya hanyalah bocah berusia 7 tahun.
Tapi pesona dan wibawa seorang Ackerman tidak pernah bisa ditampik dengan apapun. Ditambah wajah tampan, rahang tegas, mata tajam dan pembawaan serius itu membuat Levi sangat sempurna dan mungkin yang paling sempurna dalam seluruh keturunan Ackerman yang pertama sampai sekarang.
Biarpun dalam kasusnya−ia setingkat anak haram. Isabel−gadis prancis yang diculik ke Jepang oleh Ayah Levi dan dihamili tanpa pernikahan.
" Aku−Sherlock disini..." Levi menatap Tokyo tajam. Mata hitamnya berkilat. " Kau tidak pernah menjadi Watson-ku ataupun sebaliknya."
SREEETTT!
Levi tiba-tiba saja menengadahkan kepalanya dengan pandangan tajam dan wajah datar ke belakang. Membuat pelayan itu terlonjak dan hampir meloncat kaget karena ulah Levi.
Bocah itu mengangkat gelasnya yang kosong. " Kali ini−berikan aku teh hijau Jepang. Tanpa gula dan langsung diseduh."
Pelayan itu spontan merunduk dengan cepat karena takut dan tergagap. " B-baik Tuan muda!"
Pelayan itu segera berlari menuju tempat penyimpanan makanan. Meninggalkan Levi sendiri para ruangan First Class itu. Sedangkan Levi kembali melanjutkan acara membacanya dan sesekali menatap sinis kota Tokyo. Yang tepat berada di bawahnya.
Kota kelahirannya.
" Apakah yang bisa lebih buruk menghadangku disini?"
FlashBack Off
.
.
.
.
.
KLIINGG...KLIINGGG...
" Nghh..."
Eren menggeliat dalam tidurnya. Ia mengerang dan membalik tubuhnya ke arah berlawanan. Tangannya juga entah kenapa terasa lebih bebas dari sebelumnya dan itu tidak disia-siakan oleh pemuda berambut Ebony itu.
" Mmmh...Leganya~"
Eren menguap lebar dan dengan imutnya juga mengangkangkan kakinya lebar-lebar. Kebiasaan Eren saat tidur yang tidak pernah bisa ia buang adalah menggapai apapun di dekatnya tanpa tahu itu apa
Atau siapa...
BRAAAKKK!
" Ck! Menjauhlah bocah"
Levi menghempaskan tangan Eren yang tiba-tiba saja menggenggam pahanya dengan cekatan dan membuat pemuda bermata tajam itu tersentak. Ia seketika menggeram kesal dan menghempaskan tangan itu dari pahanya.
Levi mendengus antara tidak suka atau geli. Dia dapat melihat sifat imut yang sangat dan sangat jarang sekali dikeluarkan oleh bocah itu setiap kali mereka bertemu. Eren yang selalu mennyumpahi Levi dan Levi yang suka menyiksa Eren karena bocah itu benar-benar memotong habis urat kesabarannya.
Pemuda bermata tajam itu menenteng borgol perak di tangannya. Yang telah ia lepaskan selagi pemuda itu masih tertidur seperti koala. Levi mendesis saat ia merasakan sisi kasar pada pergelangan tangan Eren. Yang berwarna merah.
Levi menyentuh tangan Eren yang lecet dengan telunjuknya. Mengelus lembut tangan itu seperti menyiratkan kata maaf.
" Dasar bocah" Dengus Levi kasar. Ia menekan dahi Eren dengan telunjuknya dan turun menuju hidung bangir bocah itu. Menekan hidung itu lembut dan berakhir menuju bibir plum Eren yang membengkak.
" Ckk... Bahkan bibir keparatmu masih menggoda di saat seperti ini" Levi menarik dagu Eren kasar padahal bocah itu masih tertidur. Hal itu membuat Eren terdongak lemah dan mengerang.
Levi menggoyang-goyangkan dagu Eren dan sesekali mendongakkannya. Hingga leher jenjang penuh bekas-bekas ungu dan gigitan terpampang jelas di mata Levi.
Pemuda bermata tajam itu menjilat bibirnya sendiri berminat dan dengan tiba-tiba menghempaskan bibir sexy-nya menuju jakun Eren. Mengggigitnya sedikit kasar karena terlalu gemas dan menekan bibir bawah Eren kuat dengan ibu jarinya. Sesekali sambil menggigit− ibu jari Levi merengsek masuk menuju rongga mulut Eren.
" A-ah! Mmmh..nggh.."
Eren mengerang tidak nyaman. Ia menggerak-gerakkan kakinya lincah di atas tempat tidur. Tangan pemuda berambut Ebony itu juga tidak tinggal diam.
BRAAK!
" Diamlah, bocah!"
" Mmmh! Anggh..!"
Levi menahan kedua tangan Eren geram. Ia mendesis dan menggigit perpotongan leher bocah itu dengan kasar. Pemuda bermata tajam itu juga menggesekkan kedua gigi taringnya yang sudah terbentuk sejak kecil ke arah dada Eren yang tereskpos.
" AWWWWWW!"
Eren sontak terbangun dan syok.
Ia membulatkan mata kaget dan mulutnya menganga lebar. Levi juga membulatkan mata kecilnya. Ia tidak tahu bahwa Eren sangat sensitif di bagian dada dan tidak mengantisipasi kalau-kalau bocah itu bangun.
Mereka sama-sama terdiam dan menatap satu sama lain.
" K-kau..." Eren tergagap. Wajahnya seketika memerah hebat hingga ke telinga.
" HYAAAAAA! MENJAUH KAU PENDEK MESUM! MENJAUH DARI TUBUHKU, DASAR KEPARAT BRENGSEK!"
Eren memberontak sekuat tenaga dan mendorong kepala Levi yang masih setia menempel pada dada telanjangnya dan membuat kepala Levi terpental. Eren sendiri masih belum menyadari bahwa ia telanjang sampai Levi meremas pahanya sebagai tanda protes.
Dan keanehan Levi juga membuat Eren bingung.
" HYAAAA!" Pekik Eren dan menutup dadanya panik. Ia menganga syok saat seluruh tubuhnya dipenuhi kissmark " D-DASAR MESUM! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADAKU, KURCACI BRENGSEK!?"
Levi menjauh. Pemuda bermata tajam itu mendengus kasar dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada telanjangnya yang berotot. Dan sukses membuat Eren kembali tergagap seperti anak perawan kurang pengalaman dan wajah memerah hampir ke pucuk kepala saat sekelebat bayangan tentang Levi berada di atas tubuhnya−tiba-tiba merengsek masuk ke dalam pikiran Eren.
" Menurutmu apa, bocah?" Dengus Levi. Ia menatap datar Eren tetapi entah kenapa−Eren merasakan ada sedikit kilatan lembut di tatapan Levi. " Kurasa kau tidak terlalu tolol untuk mengetahui apa yang sudah ku−ralat kita lakukan bukan? Iya kan sayang?"
" T-tap...tapi..." Eren menggigit bibir bawahnya kuat dan kaget. " A-aku..aku..."
' S-sayang!? A-apa yang sebenarnyat terjadi disini!? Mikasaaa...tolong aku!'
Levi mengernyitkan dahinya kuat. Gelagat Eren seperti ingin segera kabur seperti melihat setan dan melaporkan dirinya kepada kepolisian negara atas tuduhan pemerkosaan, pedophilia, pemaksaan secara sepihak, dan perkelahian yang tidak pernah ada habis−habisnya.
Eren sendiri yang MEMANG ingin segera kabur, menjadi ciut saat lagi-lagi Levi menatapnya kelewat tajam dan mengerikan. Ditambah kaki Eren tiba-tiba mendingin karena kaki jenjang Levi menahan kaki rampingnya itu. Seolah-olah ingin tetap menahan Eren dalam kurungannya.
" I-ini...ini pasti mimpi.." Eren panik. " Ini mimpi...ini mimpi! Aku tidak pernah bercinta dengan ketua salah satu geng paling ditakuti di Tokyo..tidak..."
Pemuda bermata Emerald itu menggoyangkan tubuh gelisah dan panik. Dia juga menarik-narik selimut berwarna kelabu milik Levi demi menutupi sisa tubuhnya yang masih tereskpos.
Dan kata-kata terakhir Eren membuat Levi emosi.
BRAAAAKKK!
" AAARRGGHHH! AKKKH!"
" Dengar bocah..."
Levi membanting tubuh Eren secara ganas ke ranjang. Kedua kaki jenjang milik pemuda bertubuh pendek ia kaitkan dengan kaki ramping Eren. Salah satu tangan Levi menekan leher pemuda manis itu di saat tangan lainnya menahan kedua pergelangan tangan Eren yang sudah memerah lecet.
" Ini bukan mimpi, bocah bodoh." Levi mendesis kuat dan menatap Eren nyalang. " Apakah seluruh tanda-tanda gigitanku dan sperma di dalam anus basahmu itu masih belum cukup membuktikan bahwa ini bukan mimpi hah?"
Eren tergagap. Ia menggerakkan tangannya secara lemah dan gelisah. " A-aku..."
Levi mendesis mendengar respon Eren ynag seolah-olah tidak mempercayainya. Levi tidak suka main-main. Sekali dia menginginkan sesuatu−maka harus segera terjadi. Dan menandai Eren adalah tanda bahwa pemuda manis itu adalah miliknya seorang.
Dan ditolak Eren membuat Levi mengernyitkan dahi dan menggeram rendah.
" Pelajari ini baik-baik bocah dan satu lagi... aku tidak suka disebut ketua geng paling ditakuti di Tokyo saat bersama denganmu−Camkan itu baik-baik, Jaeger atau aku akan memperkosamu lima kali lipat dari ini"
Eren melotot hebat dan memekik. " A-apa maksudm−GYAAAAA!"
" Ckk..menyusahkan"
Eren mengerang. " Anggh..nghh..j-jangan..itu m-mengalir ke-keluar dari..ahh! R-rektum..."
Levi menggidikkan bahu cuek. " Bukan urusanku. Kau yang protes jadi kau yang harus menerima akibatnya"
Levi mengangkat kedua belah kaki Eren tinggi-tinggi. Dan membuat Eren memerah begitu malu saat kejantanan lemasnya menggantung di sana. Ditambah Eren segera memekik kaget saat Levi mengangkangkan kedua belah kaki itu dan wajah tampan pemuda itu begitu dekat dengan lubang rektumnya yang memerah dan sedikit lecet akibat kegiatan mereka berdua.
" A-apa yang a-akan kau lakukan hah!?"
Sluurrrp...
" G-GYAAAA! Mmhhh...nggh!"
Eren tersedak ludahnya dan ia tiba-tiba menangis.
Eren menangis karena dia tahu dia tidak bisa melawan Levi yang sedang menjiati lubang kemerahan Eren yang terus menerus berkedut dan mengeluarkan sperma dengan deras. Ditambah cairan bening itu kembali keluar.
Entah kenapa, saat pemuda dengan perawakan kejam itu menjamah tubuhnya−ia tidak bisa melakukan apapun. Seolah-olah semuanya lenyap begitu saja saat tangan dingin itu menyentuh kulit mulus tanpa cacat milik Eren.
Air mata Eren terus mengalir dengan pandangan sayu. Eren bahkan menggigit tangannya sendiri demi menahan semua desahan dan erangan itu kembali keluar.
" L-levi...hentikan" Eren terisak. " Hiiks..p-pendek..s-stop"
Levi menatap Eren dengan pandangan meremehkan. Seringai kemenangan tercipta di wajah tampan miliknya. Levi menjilat lubang Eren yang penuh cairan dengan rasa lapar yang tinggi.
" Kau tau...hanya perempuan yang bisa melumasi lubang mereka sendiri, bocah". Ucap Levi.
Levi sengaja meneteskan saliva-nya dan meludah tepat di lubang Eren dan masuk ke dalam rektum bocah itu. Membuat cairan Eren semakin banyak dan membasahi lubang itu. Tangan pemuda bermata tajam itu juga semakin mengangkan kedua kaki mulus Eren yang seperti bayi.
" Jangan-jangan kau bisa hamil dengan benihku, Eren... Lihat spermaku yang menetes di rektum milikmu" Levi mengatakan itu dengan nada datar. Tapi di telinga Eren, nadanya seperti lagu pemakaman nan suram. Seolah-olah menakuti-nakuti Eren sampai bulu kuduk Eren berdiri semua.
" Hiikss.." Isak Eren. Pemuda manis itu menahan kelapa Levi. " Hikss..j-jangan bercanda. A-aku membencimu p-pendek..."
Levi mengecup paha dalam Eren. " Manis sekali ucapanmu, bocah keparat"
" A-aku benar-benar membencimu...k-kontet..." Balas Eren lirih. Pemuda itu meremas rambut Levi lebih kuat hingga terlihat semakin berantakan. Berusaha menghentikan perbuatan pemuada bermata tajam itu pada tubuhnya.
Eren menarik nafas kaget dan tersentak saat tangan Levi menyentuh wajahnya. Pemuda manis itu reflek menutup mata kuat dan membuat sisa-sisa air mata Eren mengalir deras.
Dan tanpa Eren sangka sebelumnya−telunjuk Levi menyapu air mata itu.
" L-levi..." Ucap Eren tidak percaya. " K-kau..m-menyapu.."
" Sssst..." Levi mendesis lembut. Ibu jari Levi menyapu kelopak mata dan bulu mata Eren " Aku tau di bawah sini sakit, Eren..."
" dan hatiku juga"
Levi menarik tengkuk Eren dengan perlahan dan membuat Eren membuka matanya. Eren seketika melongo parah dan menganga saat kedua wajah mereka bertemu. Hidung mancung Levi menyentuh hidung bangir Eren.
Dan sumpah! Eren merasa kilat itu menghilang. Kilat kebencian dan kekesalan yang selalu dilontarkan pemuda bertubuh kurang tinggi itu pada Eren. Digantikan kilat sedih dan terluka.
Eren dapat merasakan trauma dan luka besar pada masa lalu Levi. Kilat pada tatapan Levi memberitahu Eren sesuatu yang begitu mengharukan.
CTAAAK!
" YAAAAAK!"
Eren mengaduh nyaring. Dia dengan cepat menggosok dahinya yang disentil Levi dengan kuat. Sedangkan pelaku penyentilannya menyeringai dan mau tidak mau kembali membuat Eren menganga seperti orang bodoh karena baru pertma kali melihat Levi menyeringai senyaman itu.
" Kenapa bocah? Malu?"
Eren melotot. " Malu kepalamu! Ini sakit! SAKIT BUKANNYA MALU DASAR KONTET!"
Levi terkekeh ringan. " Jangan mengada-ngada. Aku tau kau merasakan keduanya, bocah..."
" YA YA YA! KAU BENAR SO−ehhh..."
Eren bungkam seketika saat Levi menatap ke arahnya intens. Ditambah wajah datar itu. Entah perasaan Eren saja atau memang itu sudah bawaan−setiap kali Levi memandang seseorang, pandangannya selalu tajam dan terlihat seperti ingin membunuh dari kejauhan.
" Dengarkan ini baik-baik Eren."
Levi mengelus puncak kepala Eren dengan tatapan datar dan pandangan dipakukan pada Eren yang gemetar. " Dan ingat ini baik-baik ini dalam hidupmu..selamanya"
" Kau sudah ku tandai dan bahkan masuk lebih jauh ke dalam kehidupan kelamku, bocah..." Eren meneguk ludah berat. Perasaannya mulai tidak nyaman sekarang. " Aku tidak suka milikku diambil, direbut, atau tidak mengakuiku. Aku akan membunuh mereka di tempat tanpa ampun"
Eren mulai panik saat Levi membelai pipi gembulnya yang basah. " L-levi... A-anu.."
" Mulai sekarang... kau milikku. Kau adalah kekasihku dan milikku"
" APAAAAA!?" Teriak Eren. Dia rasa dia sudah kena jantungan tingkat akhir dan asma akut dadakan." TIDAAAAAAAKKK!"
Levi menekan kedua pipi Eren kasar dan mengernyitkan dahi. Membuat Eren ketakutan saat Levi kembali menekan dan membuat mulutnya terpencet hingga ia tidak bisa bicara barang sepatah kata.
" Apa yang sudah kubilang soal penolakan, bocah?" Levi menarik rambut Eren dan membuat Eren mengerang kesakitan dan mendongak.
" Tidak ada penolakan dalam hidupku." Terang Levi sakartis. " Kau milikku dan ada di bawah perlindunganku, bocah. Entah kau menyukainya atau tidak karena−mulai detik ini..."
" kau−milik−seorang−Levi..."
Eren bergumam pasrah. ' Mati aku... Kenapa masalahku disini jadi semakin panjang!?'
.
.
.
.
.
.
Nanaba menidurkan Armin dengan penuh kehati-hatian. Ia berjalan menjauhi futon yang diisi Armin yang terlelap kelelahan dengan sembunyi-bunyi.
Perempuan dengan rambut sebahu itu juga mematikan lampu ruangan dengan lembut dan membiarkan beberapa pasang lampu khas Jepang menyala di sudut kamar sebagai pembantu penerangan.
" Apakah si pirang itu sudah tidur?"
Nanaba menutup pintu geser dan menghela nafas. " Ya..."
" Baguslah... Lagipula bebanku sedikit terangkat hari ini"
Jean bersandar pada pintu geser dan menyilangkan tangannya dengan raut serius. Ia melirik melalui celah-celah kertas pada pintu geser dan mendapatkan Armin tertidur di futon dengan nyaman.
Berbalik dengan keadaan sekolah pemuda berambut pirang itu yang keras dan tidak bersahabat. Dia masih bisa menutup mata dengan tenang saat malam dan seolah-olah melupakan apa yang sudah terjadi seharian dan membiarkan mimpinya berjalan.
" Apa yang kau tunggu disana, Kirschtein?" Nanaba memanggil Jean sinis. " Dia itu sedang tidur! Bukannya bermasturbasi jadi berhentilah mengintip muka kuda!"
Jean menatap Nanaba dan menggeram. " Apa-apaan!? Aku hanya melirik keadaan si bocah pirang itu! Jika dia terluka maka nyawaku taruhannya keparat!"
Nanaba mendengus kasar dan menarik kerah Jean. " Dengar muka kuda... bukan kau saja yang menjadikan nyawa sebagai taruhan untuk Armin...tetapi aku juga. Eren sedang berada di tempat sepupuku, Levi. Dan Armin adalah tanggung jawabku jadi−berhentilah mengeluh dan istirahatlah sana!"
Nanaba melepaskan kerah Jean dan menatap tajam pemuda berambut coklat tan itu. Sedangkan Jean mulai mencibir dan berlalu dari pintu geser. Dia melewati koridor khas Jepang dengan hati dongkol.
" Dimana!?" Tanya Jean sakartis. " Dan sampai kapan aku harus berada di rumahmu!?"
Nanaba berbalik menatap Jean saat ingin membuka sebuah pintu geser menuju tangga atas. " Di pojok kanan dekat taman tengah dan sampai kita mendapat kepastian dari senior Hanji!"
Nanaba membuka salah satu pintu geser lagi dan menunjuknya. Menyiratkan Jean agar segera masuk sebelum perempuan itu yang menendang pantat Jean masuk dan menghantam perabotan di ruangan itu.
" Ya ya! Dan tidak kusangka..."
Jean melemparkan pandangan ke seluruh ruangan dengan seringai meremahkan. Dia juga menyentun beberap guci-guci mahal nan kuno di beberapa laci di koridor yang telah mereka lalui.
" Sangka apa?" Tanya Nanaba.
Jean menggidikkan bahu. " Tidak kusangka kau tinggal di rumah sebagus dan semewah ini. Dan guci...benar-benar bagus. Ku kira kau tinggal di sekitar pembuangan sampah, gadis bodoh"
" Hey muka kuda!" Panggil Nanaba. " Nakal−nakal begini...aku masih memiliki kehormatan dan nama keluarga. Aku memang anak berandalan dan membantu membunuh military Police saat membebaskan Levi dari penjara pusat... tapi aku masih punya tata krama saat di rumah!"
Jean mendengus. " Aku lupa bahwa keluargamu adalah ahli kendo dan keturunan samurai... maka dari itu kau setia sebagai sepupu Levi dan membantunya. Kehormatan keluargamu adalah membantu Levi bukan? Tidak heran kalau keluargamu tidak mengusirmu atau menghardikmu saat ketahuan membunuh polisi negara"
Nanaba membuka pintu geser semakin lebar. " Itu karena mereka menganggap aku benar, bodoh! Bagaimana denganmu? Anak seorang kolektor senjata dan investor perusahaan senjata perang yang terkenal itu?"
Jean memasuki ruangan dan menjawab lirih. " Mereka semua keparat"
Nanaba juga membalas menggidikkan bahu. " Terserah kau saja, muka kuda. Lagipula kita dilarang untuk membicarakan masa lalu oleh Levi. Jadi sekarang−lebih baik kita berisitrahat daripada terus meributkan masalah ini seperti orang gila"
Belum sempat Nanaba menyelesaikan perkataannya, Jean lebih dulu menutup pintu geser dan menyalakan lampu. Dia juga membuka pintu geser menuju tama tengah dengan pohon sakuran yang mekar pada malam hari.
Nanaba menghela nafas berat. " Levi-nii san... Kumohon kembalilah"
.
.
.
.
.
" Eren...ayo angkat sekarang"
Mikasa terus menerus mengutak-atik handphone miliknya di gerbong kereta. Dia sudah tidak pulang selama dua hari dan terus berada di sekolah dua hari itu juga. Gadis asia itu agak mengkhawatirkan kedua sahabatnya selama dia pergi. Soalnya mereka tergolong orang baru di Jepang.
" Eren...kau kenapa?". Ucap Mikasa lirih. Tidak biasanya Eren atau Armin tidak mengangkat panggilannya.
Di saat Mikasa sibuk dengan handphone-nya dan terlihat gelisah, Annie yang berada di seberang tempat duduknya mulai tertarik dengan gadis asia itu. Wajah tegas, pandangan tajam, rambut hitam legam, dan wibawa yang besar itu membuat Annie curiga.
" Kau..." Panggil Annie.
Mikasa mengangkat kepalanya dan melihat seorang gadis berambut pirang disanggul sedang duduk menatapnya. Dia membawa sebuah tas sedang dengan jaket coklat tersampit di sebelah bangkunya yang kosong.
" Kau memanggilku?"
Annie semakin curiga. Nada gadis itu datar tetapi tajam. Seolah-olah ingin membuat takut lawan-lawannya.
Annie menghela nafas. " Ya kau...apakah kau mengenal Levi?"
" Levi itu?"
Raut Mikasa seketika mengeras. Kakaknya dikenal oleh orang banyak. Tetapi dikenal bukan karena sesuatu yang baik. Bahkan membuat Mikasa menjadi geram kepada pemuda bermata tajam itu.
" Tentu...ketua geng berandalan paling ditakuti di Tokyo. Bahkan sudah satu Jepang" Jawab Mikasa sinis.
Annie makin menumbuhkan kecurigaannya. Dia sudah curiga bahwa Levi bukanlah anak berandalan seperti itu saja. Dia pasti anak bangsawan atau sejenisnya. Tetapi sifat random Levi membuat latar belakang pemuda itu susah ditebak.
Ditambah Mikasa yang memakai seragam SMA terbaik se-Jepang yang dikhususkan untuk orang-orang tertentu saja. Gadis asia itu mengeraskan rautnya seolah-olah begitu membenci Levi lebih dari sekedar ia ditakuti orang banyak.
Annie melirik name-tag Mikasa dan mendapatkan nama keluarga Ackerman. Gadis berambut pirang itu mendengus. Ackerman adalah salah satu nama paling dihormati di Jepang. Keturunan mereka sangat berkualitas.
" Ada yang ingin kau tanyakan lagi?" Tanya Mikasa.
Annie menegakkan tubuhnya dan menatap Mikasa datar. " Tidak..hanya itu"
" Ya sudah..."
Mikasa kembali fokus pada handphone-nya sedangkan Annie masih melirik gadis berambut hitam sebahu itu. Dia masih curiga dengan kemiripan Mikasa dan Levi. Biarpun itu sepintas tapi lebih spesifik.
" Kau... namamu Mikasa bukan? Bolehkan aku meminta data diri Levi? Aku orang baru di Jepang..."
.
.
.
.
.
T
B
C
XD
