Disclaimer: I do not own Durarara! and all its series. It all belongs to Ryohgo Narita & Satorigi Akiyo, Sweet Sacrifice is belongs to Evanescence

Warning(s): Semi-AU, Semi-drabble, May Sho-Ai contents, Many genres complicated plot and story line, read carefully! You've been warned!


Twisted, Involute

Song lyrics; Sweet Sacrifice (c) Evanescence

.

.

NGUNG NGUNG

Sirine ambulance tak hentinya berkedap-kedip dan menyuarakan suara agar kendaraan lain segera menyingkir dari jalannya. Mobil putih itu terus melaju sambil menarik perhatian tiap orang yang melihat atau mendengar sirine nyaring tersebut.

Jika kita teliti lebih lanjut, di dalam ambulance tersebut duduklah dua orang pria berpakaian ala rumah sakit dan satu orang berpakaian ala bartender. Ketiga pria itu hanya diam dengan ekspresi kalem dan datar masing-masing. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tidak ada yang mau memecah keheningan itu.

Namun, satu yang ketiga orang itu sama-sama lakukan, yaitu menatap sosok satu lagi yang tengah berbaring lemah di hadapan mereka.

Sosok berambut hitam yang sudah tidak asing apalagi bagi pria berpakaian bartender tersebut.

Entah apa yang saat ini tengah dipikirkannya, yang jelas saat ini ia hanya sesekali berdecak dan mengacak rambut pirangnya tanpa mengucap satu kata pun.

'Ah, ada apa denganku?'


One day, I'm gonna forget your name

And one sweet day, you're gonna drown in my lost pain


Ambulance yang dimaksud sekarang sedang berhenti di lobby sebuah rumah sakit umum Ikebukuro. Dari mobil putih yang pintu belakangnya terbuka itu, keluarlah dengan agak tergesa-gesa ketiga pria yang sebelumnya menjadi fokus cerita ini.

Asisten perawat ambulance dan paramedis itu dengan cekatan mengeluarkan sosok yang tengah terbaring di atas kasur pasien.

Bersama dengan pria blonde tadi, ketiga pria itu berlari agak tergesa ke ruang ER. Sesampainya di ruangan itu, tentunya si pria bartender itu tak dapat ikut masuk dan mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang sengaja diletakkan di depan ruangan itu.

Kini pikirannya semakin kacau. Memori kejadian sebelumnya kembali berputar di otaknya. Semakin lama ia duduk diam, semakin besar rasa bersalahnya. Seperti kaset rusak, memori tersebut seperti ingin mengejek dan mempermainkannya karena terus berulang.

Memori ketika ia pertama kalinya melihat pria yang selama ini dibencinya itu tersenyum hangat sesaat sebelum mobil truk box putih menghantam tubuh lentur pria itu. Entah ia tahu darimana kalau semnyuman itu berbeda dan entah hal apa yang merasuki dirinya saat itu hingga pria pirang itu hanya terhenyak melihat sang informan yang dibenci itu terpental cukup jauh. Merasa dejavú.

'Ugh! Dasar bodoh! Kenapa kutu jelek itu malah senang?'

Kembali mengacak rambutnya, ia beranjak dari kursi itu dan mulai berjalan bolak-balik dengan sedikit gelisah. Ia tidak menyentuh rokok di kantungnya sebab tanda dilarang merokok terpampang jelas di dinding seberang ruang ER itu.

Tak lama kemudian, hal yang pria itu tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Seorang pria senja berpakaian serba hijau keluar dari ER.

"Anda kerabat orang ini?"

"Bisa dibilang iya." jawab pria bartender itu datar.

"Ada sesuatu yang harus Anda ketahui." ucap dokter itu lagi tenang. Namun, seberapa tenangnya dokter itu, masih dapat dilihat raut wajah tak yakin meski hanya sekilas.

"Hal baik?"

"Bisa dibilang baik dan buruk. Mana yang ingin Anda dengar terlebih dulu?"


Fear is only in our minds,

Taking over all the time.

Fear is only in our minds, but it's taking over all the time.


"Izaya-san! Izaya-san baik-baik saja?"

Pria informan berambut hitam itu berusaha menampakkan iris kemerahannya. Ia mengerjap sesaat, membiasakan diri dengan terpaan bias matahari sore yang cukup mencolok.

Mengetahui sang informan telah tersadar, anak berambut coklat itu menghela napas lega sesaat sebelum kemudian kembali menatap Izaya dengan khawatir dan ragu. Ya, ragu. Ia takut Izaya akan segera meninggalkannya mengingat reaksi aneh pria itu sebelumnya.

Izaya yang menyadari arti sorot mata anak itu hanya tersenyum kecil sambil menepuk kepala anak itu perlahan.

"Hm, aku tidak akan pergi kok. Tenang saja!~" ucap Izaya dengan nada riangnya seperti biasa.

Melihat hal itu, anak beriris karamel itu terbelalak dengan air mata menggantung di sudut matanya. Lega sekaligus senang terhadap orang di depannya ini yang ternyata begitu berbeda dengan orang-orang biasanya.

"Un. Arigatou gozaimasu, Izaya-san!" Anak berambut coklat itu mengangguk senang sambil terus saja tersenyum lebar. Izaya yang terbawa suasana yang bisa dibilang cukup mengharukan hanya ikut terkekeh pelan.

"Sa, jadi ini dirimu 14 tahun lalu, hm? Bagaimana bisa aku berada di sini?" tanya Izaya dengan nada riang khasnya tidak jelas pada siapa. Shizuo yang mendengarnya hanya menaikkan alis bingung.

"Maksud Izaya-san?"

"Kau tahu, Shizu-chan? Kau seharusnya sudah seumurku sekarang dan―aku benci mengatakan hal ini―kau juga seharusnya lebih tinggi dan besar layaknya monster, hm?"

Izaya sibuk memikirkan segala kemungkinan sementara anak yang tengah duduk di sampingnya semakin mengerutkan dahinya. Tentu saja anak seumurnya tidak akan mengerti apa yang Izaya bicarakan, apalagi mengingat bahwa anak itu adalah Shizuo Heiwajima―sang musuh bebuyutan yang disebut memiliki otak sekecil protozoa―walau Author tidak yakin akan kebenaran hal itu.

"Jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu! Aku anak laki-laki, tahu? Dan apa yang kau bicarakan sih, Izaya-san? Kekuatanku ini memang bisa disebut seperti monster dan aku bukan monster. Kukira kau mengerti…"

Anak itu kembali diam tertunduk. Hal itu tentunya membuat sang informan tersenyum mencurigakan sambil menatap wajah polos nan imut seorang Shizuo dikala muda. Izaya hanya terkekeh sambil kembali mengacak rambut cokelat Shizuo yang hanya bisa berdecak.

"Ahahaha, kau memang monster kecil, kok! Itu sebabnya kau sedikit susah dimainkan!~ Ohiya, ngomong-ngomong, boleh kutahu tahun berapa sekarang?"

"1996. Kenapa?"

"Sou desu. Berarti memang akulah yang terdampar kemari dan bukannya kau."

"Maksudmu kau tersesat, eh? Bukannya kau yang mengajakku berkeliling di sini?" tanya Shizuo kecil heran.

"Hahaha, bukan begitu. Hem… bagaimana bilangnya, ya?"

Kedua alis anak itu makin bertaut. Heran. Izaya mengerti hal itu hanya tersenyum seperti biasa.

"Begini saja. Yang jelas aku sendiri tidak terlalu mengerti apa yang sedang terjadi. Intinya, seharusnya aku tidak berada di sini sekarang. Maksudku, di zaman ini." jawab sang informan pecinta hal sejarah berbau mistis yang sulit dicapai logika.

Anak itu hanya terdiam mendengarkan. Mencoba memproses dan mengerti hal rumit yang dimaksud Izaya. Terlebih hal tersebut belum dimengerti sendiri oleh yang berkata.

"Jadi… kau mau bilang kalau kau berasal dari belahan waktu yang lain? Atau semacamnya?" tanya anak itu tak yakin yang membuat sang informan tertawa kecil ketika mendengar pertanyaan 'berat' macam ini keluar dari mulut seorang Shizuo mini.

"Hmph. Bisa dibilang begitu. Kau tahu, Shizu-chan? Kau cukup cerdas ketimbang dirimu yang dewasa. Sosok kecilmu juga lebih menyenangkan daripada yang sekarang kutahu.~" ujar Izaya lagi sambil terus menyunggingkan senyum andalannya. Mungkin wajahnya sudah ter-setting untuk selalu tersenyum aneh seperti itu.

"…Maksudmu, Izaya-san…?" Anak coklat itu tampak sedikit ragu dan kecewa, namun tetap menyambung kalimatnya. "Izaya-san bertemu dengan diriku saat dewasa? Apa aku akan menjadi orang dewasa yang buruk nantinya?"

"Hmph… Ahahaha! Haha, ya ampun! Aku sampai tidak bisa mengontrol diriku! Hahaha!~"

Ya. Biarlah informan aneh itu puas tertawa sementara anak di sampingnya itu kembali terdiam menatap heran pria matang di sampingnya itu. Sungguh Shizuo kecil tidak habis pikir akan mengenal orang teraneh macam Izaya ini. Tidak, ia tidak mengategorikan Izaya sebagai orang yang menderita cacat mental atau semacamnya, anak itu hanya heran dengan tingkah 'unik' dan 'tak biasa' dari pria yang menemaninya senja ini.

"Hahaha!~ Sampai dimana tadi? Oh! Tentang dirimu, ya? Yah, aku tak akan bilang apa-apa tentang dirimu versi 'dewasa'. Lagipula, sebuah game akan menjadi amat tidak seru kalau kita sudah mengetahui akhirnya, bukan? Mungkin saja saat aku kembali nanti, kau akan jadi 'sesuatu' yang berbeda?~"

"Yah…walau aku tak yakin hal itu akan terjadi." sambung Izaya dengan suara lebih pelan dari sebelumnya. Seperti biasa, gerak-gerik ekspresi wajahnya sulit terbaca apalagi bagi anak-anak macam Shizuo itu.

"Kau tahu, Izaya-san? Mungkin aku di masa depan bukanlah orang dewasa yang baik atau orang dewasa yang bisa diandalkan, tetapi…" Anak itu mendongak menatap langsung lensa merah sang informan.

"..tetapi aku cukup lega mengetahui aku akan bertemu Izaya-san lagi di masa depan!" jawab anak itu sambil menunjukkan senyum polos anak-anak dengan kedua mata hampir menutup saking lebarnya senyuman itu.

Kalau saja Author mengizinkan waktu berhenti berputar, maka waktu akan benar-benar berhenti bagi Izaya saat itu. Bagaimana tidak? Seorang paling menjengkelkan dan paling dibenci macam Izaya malah diberi ucapan syukur serta senyuman tulus dari orang yang selama ini dibencinya. Tentunya seseorang paling dingin dan paling tak berperasaan sepertinya cukup dapat dibuat terhenyak oleh satu-satunya musuh yang paling tidak disukainya.

"Hmph, anak kecil memang senang sekali berfantasi, ya? Membuat orang lain ikut mengira yang tidak akan terjadi…"

Entah anak itu dapat melihatnya atau tidak, akhirnya seorang Izaya memantulkan sebersit kesedihan di kedua iris merahnya yang indah walau hanya sedikit.


You poor sweet innocent thing

Dry your eyes and testify

And oh you love to hate me don't you, honey?

I'm your sacrifice.


"Bagaimana? Apa kau berhasil menghubunginya, Celty?"

Lelaki muda berjas putih menghampiri seseorang berbusana serba hitam yang dipanggil Celty itu. Rautnya tampak sedikit khawatir namun tidak dengan tindakannya yang main asal peluk makhluk bernama Celty itu yang tengah duduk diam di sofa depan tv plasma yang mati.

Sosok hitam-hitam itu tak bergeming saat lelaki itu memeluknya dari belakang. Sudah terbiasa mungkin?

"Ayo kita ke rumah sakit saja. Sekalian menjenguk Izaya juga. Siapa tahu Shizuo juga ternyata berada tidak jauh dari rumah sakit?" ajak lelaki itu lebih seperti menenangkan sosok Celty yang entah mengapa terlihat sangat khawatir dan takut padahal tidak ada ekspresi yang dapat dilihat dari dirinya yang tak berkepala.

Lama sebentar sebelum akhirnya Celty mengetikkan sesuatu di PDA-nya.

[Ya, baiklah. Kurasa kau benar kali ini, Shinra…]

Setelah mengetik demikian, sosok itu beranjak berdiri dari sofa, menyebabkan sang lelaki yang memeluk lehernya ikut berdiri.

[Menurutmu kita harus beritahu Mikado-kun dan yang lainnya juga?] Makhluk itu kembali mengetikkan sesuatu sebelum keduanya benar-benar keluar dari pintu apartemen mereka.

"Ya. Beritahu saja mereka tentang insiden yang… um… sangat mengagetkan ini. Namun, sepertinya mereka akan tahu sendiri saat melihat headline koran esok pagi." jawab laki-laki berkacamata itu sekenanya dengan ekspresi yang datar.

Entah, lagi-lagi muncul seseorang yang wajahnya sulit sekali diterka. Hal ini tentu sedikit menjengkelkan, dan Celty tidak terlalu peduli serta langsung men-starter motornya dan pergi melintasi jalan dengan sepeda motor bersuara kuda tersebut.

'Mengapa aku mempunyai firasat di saat seperti ini? Terlebih… mengapa firasat yang kurasakan itu bukan sesuatu yang baik?'


I sleep in darkness

I sleep to die


つづく


A/N: Oke, saya tau saya emang author gatau diri yang nekat publish tanpa next chapter cadangan. Makanya ngaretnya setengah abad! Hontou ni gomennasai m(_ _)m Dan lebih gatau dirinya lagi, bikin plot labil yg entah kapan selesainya, memang di chap lalu saya bilang bakalan cepet tamat, eh ternyata mood saya sekarang berkata lain. Jadi, yang masih mau baca lanjutannya, TERIMAKASIH BANYAK dan BERSABARLAH! #plak

Masih mau kasih review buat sampah ini? Maaf yg sebelumnya review, belom saya bales, nanti pas senggang saya bales kok!~ #desh

Salam, Kurofer!