CHAPTER 12
.
.
.
AN ATTACK ON TITAN FANFICTION
.
.
.
CHARACTERS :
ALL SNK CHARACTERS
.
.
.
.
PAIRINGS :
RIREN (MAIN)
ERUMIN
JEANXARMIN
.
.
.
CERITA ORIGINAL MILIK SAYA!
SEMUA CHARA ADALAH MILIK TUAN HAJIME ISAYAMA
SAYA HANYA MEMINJAM
.
.
WARNING :
BL. YAOI. HARD CONTENT. CRIME AND RUDE WORDS.
SOME OF DIRTY WORDS AND MINDS
RATED M
.
.
GENRE :
ROMANCE. CRIME. HURT AND COMFORT. DRAMA. ACTION
.
.
.
ENJOY IT ^^
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tabung-tabung kimia berbagai bentuk dan cairan−tersusun rapi di atas sebuah meja panjang dari kayu mahogani mahal.
Hanji berjalan mondar-mandir di ruangan yang penuh dengan banyak rak-rak buku yang bertebaran dimana-mana−hampir setiap sudut dinding ada rak bukunya. Gadis ilmuwan itu mengambil buku secara acak, membacanya sebentar, membolak-balik halaman buku dengan raut serius dan berakhir kembali berjalan demi mencari buku lagi.
" Aku tidak faham..." Ucap Hanji.
Gadis itu menggigit-gigiti kukunya gelisah sambil berjalan bolak-balik dengan pandangan dipakukan pada sebuah buku kecil tebal layaknya kamus kedokteran berwarna hijau yang bertuliskan ' Keanehan langka pada tubuh manusia'.
" Aku tidak faham sama sekali..."
Ia membacanya secara cepat dengan dahi mengernyit kuat. Hanji juga berulang kali menghentak-hentakkan kaki ke lantai keramik ruangan itu dengan kasar. Membuat bunyi debuman keras hingga ke lantai bawah. Sesekali dia melirik seorang gadis berambut pendek yang duduk di salah satu sofa dengan mikroskop di tangannya.
Hanji menggigit bibir gelisah. " Apakah kau sudah menemukannya Rico?"
Rico masih setia meneliti dengan mikroskopnya. Suasana memang agak sedikit tegang dan canggung karena hanya keheningan yang tercipta di antara mereka berdua di ruangan berwarna pastel itu. Rico sesekali membolak-balik kertas penelitian yang tergeletak di meja tepat di hadapannya.
" Belum Senior Hanji..." Jawab Rico. " Aku bahkan bingung dengan hormon ini..."
" NAH!" Hanji menunjuk-nunjuk Rico dan berteriak nyaring hingga Rico hampir melempar mikroskop karena saking terkejutnya dengan kegilaan senior tak jelas gendernya ini. Rico mengurut dada dan melotot ke arah Hanji yang berjingkrak-jingkrak di hadapannya tidak karuan seperti orang gila.
" HORMON ITU!" Hanji mengoceh nyaring dan membuka-buka buku setebal buku KBBI dengan kasar.
" Bagaimana bisa Armin memproduksi hormon esterogen yang sama besarnya dengan yang dihasilkan wanita hah!?" Teriak Hanji. " DEMI SEMPAK EREN! BAGAIMANA INI BISA TERJADI!? HUWAAAA!"
Hanji melempar buku yang baru saja dibacanya kesal ke arah meja Rico dan membentak ganas. Ia terlihat benar-benar seperti orang sedeng karena berguling-guling dan menggerutu sambil berteriak. Dan membuat nadanya hampir seperti suara berkumur-kumur dengan sianida.
Rico sendiri hanya bisa tertawa maklum dengan sifat gila senior klub-nya ini. Padahal sejak pertama kali dijebloskan ke dalam SURVEY CORPS HIGHSCHOOL−Rico berniat untuk 100 % berhenti dari kejahatannya dulu.
Yang kebetulan satu bidang dengan Hanji dari klub penelitian. Rico− dengan obsesinya akan pembedahan menyeret dirinya sendiri pada kecanduan untuk menjadi psikopat dan hampir membuatnya membedah setiap orang terluka yang ia temui dimanapun.
Hanji langsung saja tertarik dan menarik Rico dengan ganas. Gadis ilmuwan itu berteriak nyaring dan cempereng sepanjang koridor sekolah saat berhasil membujuk Rico menjadi anggota klub penelitian dan membuat Rico meneguk ludah ketakutan.
Dia masih ingat saat sebuah pel berukuran jumbo−melayang dengan mulusnya ke wajah Hanji dan membuat mulut gadis ilmuwan gila itu penuh dengan dekil-dekil basah dan lengket milik ruangan Levi.
Tapi namanya juga Hanji...
Dia malah tertawa terbahak-bahak dan dengan semangat cari mati dengan Levinya−Hanji malah melempar pel itu balik dan tepat sekali...
Mengenai jendela Levi yang kebetulan orang yang bersangkutan berdiri tidak jauh disana. Dan hari itu penuh kegiatan darah berdarah dan kejar-kejaran massal antara Hanji yang tertawa gila dan Levi yang siap-siap membolongi otak Hanji menjadi hancur berkeping-keping.
" Ano senior Hanji..." Panggil Rico.
" APA!?" Jawab Hanji sambil berteriak histeris." KAU MENEMUKAN SESUATU!?"
Rico sebenarnya masih sedikit kettakutan saat melihat wajah Hanji yang melotot dan menatap lurus ke arahnya−seperti penjaga kuburan yang siap-siap menggali kuburan Rico misalnya ia salah bicara sedikit saja.
Tetapi sudah menjadi bawahan Hanji selama bertahun-tahun membuat Rico mau tidak mau harus terbiasa dan tidak merasa takut lagi kepada Hanji yang seperti orang gila kurang obat.
Jadi saat Hanji melotot seperti ini−gadis berambut sebahu itu memasang ekspresi datar dan menatap Hanji tanpa minat.
Rico berdehem sebentar. Ia memainkan mikroskop sambil menjelaskan " Aku pernah membaca sebuah artikel di internet soal hal ini...menghasilkan hormon esteregon selain testoteron di dalam tubuh seorang pria memang aneh−tapi dunia kedokteran mengenal mereka sebagai..."
"...hermaprhodite.."
Hanji mengernyitkan dahi. " Hemaprhodite? Aku serasa pernah mendengar nama itu seelumnya...tapi dimana ya?"
Gadis ilmuwan itu segera bangkit secepatnya untuk duduk dan memajukan bibinya. Hanji menutup mata dan menukikkan alisnya tajam untuk berfikir. Terlihat juga bahwa dia bergumam-guman suatu kata dengan raut serius dan membuka kembali buku yang baru saja beberapa detik yang lalu ia lempar secara sepihak.
" Bila tidak salah..." Gumam Hanji. Ia membaca bukunya dan membolak-balik halaman tertentu. Matanya berkilat curiga. " Mereka mempunyai dua kelamin. Satu rahim di dalam tubuh mereka dan satu lagi penis sebagai alat kopulasi jantan mereka. Itu terjadi pada siput yang pernah kuteliti. Jadi−dengan kata lain..."
" Mereka bisa menghamili−atau dihamili.." sambung Rico.
Hanji seketika menatap Rico dengan mata berbinar-binar. Ia tiba-tiba saja berdiri dan berjingkrak-jingkrak sambil tertawa kesenangan dengan nyaring. Bahkan dari jendela rumah Hanji saja−suara cacian dan sumpahan terdengar dari tetangga sekitar karena suara Hanji seperti bunyi bom.
" HAHAHAHA!" Hanji menunjuk Rico kesenangan. " KAU BENAR SEKALI! WAHAHAHA..TERNYATA ITU! MEREKA ALERGI TERHADAP SERUMKU KARENA BADAN MEREKA SENSITIF TERHADAP BENDA ASING! OH DEMI EREN MANISKU...! BWAHAHAHAHA!"
Rico mendengus dan menjauhkan mikroskop dari hadapannya karena mereka sudah menemukan jawaban dari kebingungan semua orang atas penolakan serum milik Hanji oleh sistem tubuh Armin.
" Tapi senior Hanji..." Ucap Rico.
Hanji berhenti tertawa dan menatap Rico bingung. " Tapi? Tapi apa?"
Rico melihat ke arah langit-langit rumah Hanji. Dari tadi ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya jika saja Eren dan Armin benar-benar punya rahim dan bisa hamil sewaktu-waktu jika ada pria lain yang menghamili kedua pemuda imut itu.
Tapi Rico yakin tidak ada pria yang (berani) menghamili Eren. Karena Levi terlihat membawa kabur bocah Jerman itu dan menyekapnya seharian. Hanji sendiri bahkan sangat kesulitan untuk menghubungi Levi atau melacak Eren.
" Tapi−apakah rahim mereka sudah aktif sepenuhnya? Kau pernah memberitahuku bahwa senior Levi sudah menanamkan spermanya di dalam tubuh Eren...apakah kemungkinan Eren bisa hamil?"
" Kurasa tidak" Jawab Hanji spontan.
Rico berhenti dari acara memandangi langit-langit dan segera megalihkan pandangannya pada Hanji yang memasang raut serius. Gadis ilmuwan itu membetulkan letak kacamata dan membuat matanya berkilat tajam.
" Sel rahim mereka belum sepenuhnya aktif. Harus ada hormon perangsang tambahan untuk membuat Eren hamil−tapi kurasa tubuhnya sendiri sudah bekerja seperti perempuan. Termasuk menghasilkan pelumas untuk proses seks."
Hanji melangkahkan kakinya menuju salah satu rak yang berisi dengan toples-toples berisi pil dan obat-obatam yang sangat asing bagi orang awam. Tangannya menjangkau sebuah topless higenies berwarna hijau transparan di ujung rak.
" Rico..." Panggil Hanji.
" Ya senior Hanji?"
Hanji menatap isi topless itu lekat-lekat. " Kita pernah membuat pil hormon perangsang tambahan bukan?"
Rico terlihat mengerutkan dahi saat mendengar pertanyaan Hanji. Ia berfikir keras demi mengingat-ingat apa yang pernah mereka buat beberapa bulan belakangan. Dan beberapa penelitian yang memerlukan pil tambahan.
" Oh!" Rico langsung menegakkan badannya seketika.
" Aku ingat−kau pernah mengambil beberapa sampel domba betina dan domba jantan untuk melakukan perkawinan silang. Ternyata hormon esterogen milik sang betina tidak bekerja. Kau menyuruhku membuat sel perangsang hormon itu secepatnya"
Hanji membetulkan letak kacamatanya dan menatap Rico yang sedang duduk di sofa. Gadis itu menggembungkan pipinya dan memutar-mutar toples yang baru saja dipegangnya tadi.
" Bisa kau buatkan lagi?"
Rico menelengkan kepalanya bingung. Ia melihat Hanji dengan pandangan lurus tapi penuh tanda tanya. Ada sebuah pertanyaan yang berputar-putar tanpa henti di kepala Rico seperti menyempil-nyempil dan mendesak semua kewarasan Rico sesaat.
Seolah-olah berkata Hei, minggir kalian semua! Hei makan! Eh..pikiran kabur! Pergi sana kalian semua! Aku tersesat disini!
Yang tadi... itu hanyalah imajinasi Rico saja. Yang meliar-liar tidak jelas.
Lebih baik kita mulai lupakan saja dan fokus kepada Hanji yang sama-sama melotot ke arah Rico. Membuat semua delusi Rico seperti menguap begitu saja karena tatapan mengerikan Hanji di seberang ruangan.
" Tapi senior Hanji...aku punya pertanyaan"
Rico meneguk ludahnya dan merapikan jas laboratium warna putihnya yang tetap masih putih biarpun dia dan Hanji sudah membunuh begitu banyak orang dan membasmi para musuh SurveyCorps HighSchool.
" Apa?" Tanya Hanji balik. " Memangnya ada apa?"
" Untuk apa kau membuatnya? Misalnya kita buat lagi−setidaknya harus ada konfirmasi dari senior Levi untuk Eren. Tapi jika tidak ada, untuk apa kita membuatnya lagi?"
Hanji menyeringai setan. " KKKKK...Hal itu..."
Gadis ilmuwan itu menatap android di meja Rico dengan mata berkilat penuh ketertarikan. Hanji menggosok-gosokkan tangannya dengan cepat dan kembali tertawa. Tapi kali ini dia tertawa licik sekali. Hingga Rico saja memundurkan tubuhnya di sofa dan memasang kuda-kuda kabur karena meliat Evil Naughty Mode milik Hanji mulai kembali aktif.
" Hal itu...Rico..." Hanji terkekeh ngeri. " Kkkk..biar aku yang urus."
Rico mengangguk-anggukan kepalanya cepat dan sangat spontan. " Tentu! Tentu sekali!"
" Hah..." Hanji menghela nafasnya lebar-lebar dan menatap langit-langit ruangan dengan pikiran penu kesenangan. Dia sangat tidak sabar untuk melihat bagaimana misalnya dia menjebak teman pendeknya itu untuk membuat Eren meminum pil itu.
" YEYEYEYEYEYEYE!"
BRAAAKKK!
BRAAAAAAK!
BRAAAAAAAK!
" HAHAHAHAHA! AKU SUDAH TIDAK SABAR UNTUK INI! GYAHAHAHAHAHA!"
Suara debuman sangat keras tercipta karena Hanji menghentak-hentak dan melompat keras sambil tertawa nyaring. Jangan lupakan Hanji yang berjingkrak-jingkrak keliling ruangan sambil berteriak kegirangan hingga meja Rico bergetar hebat layaknya sedang terjadi gempa besar-besaran.
Rico mendengus dan menahan semua botol kaca dengan wajah datar. Tubuhnya saja sampai ikut meloncat-loncat kecil karena saking hebatnya getaran yang terjadi akibat Hanji yang sedang...yah...bertindak gila-gilaan.
" HANJI ZOE! HEI KAU KEPARAT ILMUWAN GILA! BERHENTI COEG! DEBU DI ATAS MASUK KE HIDUNGKU, SIALAN!"
Di lantai bawah−Farlan menepuk-nepuk lantai atas dengan sapu. Yang ia ambil di belakang pintu toilet karena Farlan yang sedang menikmati masa tolietnya harus terganggu dengan kegilaan Hanji.
Membuatnya harus mengambil segagang sapu dan berdiri di atas toliet demi mengetuk-ngetuk kaki Hanji dengan geram.
.
.
.
.
.
.
Eren menggigit bibir bawahnya gelisah. Mata Emeraldnya melirik ke belakang dengan sedikit perasaan kalut dan takut. Bukannya ia tidak mau−tapi ia masih tidak yakin dengan pengklaiman sepihak oleh Levi oleh dirinya.
Membuatnya harus terus berada di bawah pengawasan pemuda bermata tajam itu dan tidak boleh lepas dari dirinya apapun yang terjadi−jika tidak ingin lubangnya lecet dan berakhirnya Eren dengan tepar seminggu karena diperkosa 5 kali lipat lebih kasar dari sebelumnya.
Levi yang berdiri tepat di belakang Eren−terus menatapi punggung mulus pemuda berambut ebony itu dengan tajam. Dia mengancing baju kemeja putihnya dengan sorot wajah datar tetapi semua perhatiannya dipusatkan ke arah Eren yang terlihat gelisah.
Atau bisa disebut menyumpah kepadanya.
" Bocah" Panggil Levi datar.
Levi berusaha untuk tidak berkata-kata kasar kepada Eren setelah mengancam pemuda manis itu. Mungkin hari ini Levi akan sedikit membawanya jalan-jalan keliling Tokyo mengingat dia sudah banyak melecehkan Eren semalaman.
Lagipula Levi sendiri telah mengklaim Eren bukan hanya sebagai propertinya semata. Tetapi sebagai kekasih. Seseorang yang berhasil membuatnya merasakan cinta.
Banyak wanita di luar sana yang begitu binal mendambakan posisi itu karena posisi sebagai kekasih Levi sangatlah langka dan mungkin mustahil sekali. Seperti sebuah angan-angan semata yang tidak pernah terwujud.
Tapi sudah kubilang, takdir sudah mempermainkan Eren bahkan sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di kota Tokyo. Hanya Erenlah yang berhasil mendapat posisi itu di dalam hati seorang ketua Geng paling ditakuti.
Yang membunuh ratusan bahkan ribuan orang tanpa rasa bersalah atau belas kasihan sedikitpun yang tersisa di dalam hatinya.
" Dasar kontet kurang ajar..."
Eren masih bergumam tidak jelas dan condong tidak mengindahkan panggilan Levi yang mulai kembali mengeluarkan aura ketidak sabaran miliknya. Biarpun Eren sudah menjadi salah satu kesayangan Levi−tetap saja rasanya sangat menjengkelkan sekali bila kita dicuekkan.
" Oi bocah" Dahi Levi berkedut. " Jawab panggilan orang yang memanggilmu, Jaeger!"
Eren mendengus kasar. Dia ingin sekali kembali menyumpah-nyumpah kembali dan memaki pemuda kurang tinggi itu balik tapi mendapatkan ancaman Levi beberapa waktu lalu membuat Eren harus menahan rasa amarahnya yang sudah naik ke ubun-ubun.
Dan siap-siap meledak.
" Apa kontet!?" Jawab Eren ketus.
Levi mengernyitkan dahi dan menggeram berat. Pemuda bermata tajam itu mengepalkan tangannya kuat hingga urat-urat terlihat menonjol di balik kulit tangan milik Levi yang berotot. Berusaha menahan diri untuk tidak membanting Eren kembali ke ranjang dan memberi hukuman mulut Eren dengan kejantanannya agar bisa belajar sopan santun.
Levi berjalan mendekati ranjang. " Dengarkan aku bocah−kita punya beberapa peraturan disini."
Eren menatap Levi kesal. " APA!? APAKAH TIDAK CUKUP KAU ME−AKKKKHHH!"
SREEEET!
" Dengar"
Levi menatap Eren dingin.
Pemuda bermata tajam itu sengaja menarik rambut Mahogani Eren kasar dan menarik kepala Eren hingga terdongak ke belakang menatap wajah tegasnya. Ia mendekatkan wajahnya hingga kedua hidung mereka hampir bersentuhan.
Eren sendiri hanya bisa mengerang kesakitan. Mata emerald milik Eren kembali berkilat saat menatap mata hitam Levi yang sama-sama menatapnya. Tangan pemuda bermata emerald itu reflek mencengkeram pergelangan tangan Levi yang tepat berada di rambutnya.
Levi menariknya seolah-olah ingin membuat seluruh rambut Eren rontok seketika dalam satu waktu.
Pemuda bermata tajam itu mendesis kuat dan memberikan geraman ancaman kepada Eren hingga pemuda manis itu segera saja meneguk ludahnya ketakutan.
Mata imut milik Eren membulat penuh hasrat ketakutan. Ingin rasanya Eren segera melawan atau mungkin menabok tetapi hah. ...keadaannya tidak memungkinkan.
Lagipula kekuatan Levi yang bertubuh lebih pendek dari Eren malah 100 kali lebih kuat dari Eren sendiri.
" Dengar bocah kurang ajar" Levi mengucapkannya sangat dingin. Nadanya tidak bersahabat sama sekali.
Uhh...Eren jadi merindukan suara Levi saat menyetubuhinya.
Eren bergetar takut. " A-apa?"
" Belajarlah sopan santun dari sekarang bocah. Ada beberapa peraturan selama kau berada di bawah perlindunganku." Jelas Levi dingin. " Satu−jangan sekali-kali membantah perintahku tanpa ada alasan yang jelas. Kedua−Jika kau ketahuan kabur dariku, Jaeger...maka aku akan menyeretmu dan menyekapmu selamanya bersamaku."
Eren meneguk ludah berat mendengar semua peraturan milik Levi. Dia ini mau dijadikan kekasih atau tahanan penjara hah!?
Perasaan banyak amat peraturannya. Sadis lagi.
" Ketiga.." Levi menatap wajah Eren dengan mata berkilat penuh tekad. " Kujamin tidak ada orang yang masih hidup yang berani menyentuh kulitmu. Seinchi pun karena kau hanya untukku Eren.."
" Hanya untukku..."
Eren menahan nafas tidak percaya dan mengerang parah secara bersamaan. Apakah dia baru saja ditakdirkan bertemu plagiatan Mikasa dalam wujud pemuda sekarang!? Kenapa Tuhan harus menciptakan dua orang yang begitu posessive tingkat dewa kepada Eren?
Ditambah yang satu ini... bukan hanya possesive tapi sadis.
"Bagaimana kau bisa menjadi istriku jika mulutmu masih keparat seperti tadi hah?"
Eren seketika melotot parah dan tersedak ludahnya sendiri. " APAAAAA!?"
Levi mendesis tajam.
" Kubilang diam!"
" A-AKKHHH!" Eren mengerang nyaring. " J-jangan t-tarik rambutku..ssshh.."
Levi mencengkeram leher Eren sekaligus bersamaan dengan rambut pemuda manis itu.
Eren yang asalnya menatap Levi dengan pandangan sayu penuh rasa memohon karena tubuhnya sudah kesakitan makin disiksa oleh pemuda kurang tinggi itu−segera membulatkan matanya panik.
CUUUP!
" Dengarkan aku baik-baik Eren..."
Levi menjilat bibir bawah Eren yang membengkak dan sukses membuat wajah Eren memerah secara menyeluruh. Mata Emerald miliknya membulat sempurna dengan mulut sedikit menganga.
" Jangan membantah semua perintahku" Levi membawa bibir sexy-nya menuju pipi gembul pemuda manis itu. Mencium pipi mulus itu bertubi-tubi sambil menggumamkan suatu perintah tetapi pandangan tetap dipakukan ke arah Eren.
Levi melembutkan tarikannya.
" Aku tidak suka bila disuruh memaksa berlebihan bocah. Membuang tenagaku sia-sia−jadi jangan membuatku harus memaksamu karena hukumannya tidak akan senyaman yang kau pikirkan Eren"
Eren menyumpah kasar di dalam hati. Apa-apaan dengan tubuhnya!? Kenapa rasanya selalu aneh jika Levi sedikit saja memanjakan Eren!? Ciuman atau belaian dapat melumpuhkan semua saraf Eren seketika.
" Nghh..."
Eren segera menggigit bibirnya kaget saat ia tidak sadar kembali mengeluarkan desahan sialan itu lagi.
' Sial! Kenapa denganku sih!? Levi keparat! Cebol kurang ajar! Kau membuatku kebingungan!' Bentak Eren.
Sedangkan Levi menyeringai di dalam ciumannya. Pemuda bermata tajam itu melepaskan cengkramannya di rambut Eren sedikit demi sedikit. Menjadi sebuah tepukan lembut di atas pucuk kepala Eren dan membuat Eren semakin kebingungan juga kaget.
Levi yang melihat selimut miliknya menutupi seluruh tubuh Eren. Sayangnya tubuh mulus itu masih telanjang−menjadi gemas sendiri.
Dan pemuda bermata emerald itu mulai menutup matanya sedikit demi sedikit karena tidak tahan dengan semua kenyaman yang telah Levi berikan kepadanya bertubi-tubi. Sejak kapan Eren jadi penurut seperti ini kepada Levi?
SREEEETTTT!
" GYAAAAA! SELIMUTNYA!"
Levi membalik tubuhnya dan seketika menindih Eren yang memerah dan panik. Tubuhnya telanjang dengan penis lemas disana! Dan gawatnya−Eren melihat kilat nafsu yang besar di mata Levi. Sama seperti sebelum Levi memperkosanya.
Pemuda bermata tajam itu sudah tidak tahan lagi dengan Eren.
Bocah ini memang menjengkelkan tetapi setelah mengklaim Eren−entah kenapa Levi jadi begitu tertarik dan terangsang di dekat Eren.
Apalagi saat kulit putih mulus dan bibir merah merekah itu dihadapkan padanya.
Jangan harap Eren bisa berjalan sebulan tanpa diapa-apakan Levi dengan sex toys miliknya atau penisnya.
Dan oh...jangan kira Levi tidak mempunyai berbagai macam sex toys. Dia hanya menyimpannya sewaktu-waktu jika ingin bermain dengan pasangannya suatu hari nanti. Levi sudah mendapatkan firasat dari dulu bahwa kekasihnya akan sedikit nakal dan keras kepala.
Dan benar sekali!
Eren saja kembali menghentak-hentakkan kaki panik dan berusaha melawan Levi.
" A-APA YANG INGIN KAU LAKUKAN KONTET! BRENGSEK! JANGAN MENYENTUH TUBUHKU LAGI LEVI CEBOL!" Teriak Eren. Dia melotot ke arah levi yang menatapnya teramat datar. " LEPASKAN AKU DASAR KURCACI PENDEK!"
BRAAAAK!
" A-aakhh! "
Levi seketika menahan kedua tangan Eren kembali ke atas kepala bocah itu. Membuat Eren semakin panik dan berontak tidak karuan. Sudah cukup dia dilecehkan tadi malam! Jangan buat lubang Eren kembali robek!
Dan hari sudah mulai pagi di luar! Bagaimana jika ada orang yang mendengarnya!? Bisa mati terbalik Eren karena malu!
" Tenang saja bocah. Ruanganku adalah salah satu ruangan kelas VVIP disini−termasuk dilengkapi peredam suara". Jelas Levi.
Levi menyentuh wajah Eren dengan tatapan dingin.
Gawat! Mati kutu Eren! Bagaimana dia bisa kabur sekarang!? Dan peredam suara...sialan−Eren tidak bisa berteriak minta tolong pada satpam terdekat dan menahan Levi secepatnya!
Eren mengangakan mulut ingin protes tetapi sialnya dia terlalu takut karena tatapan tajam Levi yang seperti ingin membunuhnya saat itu juga. Ditambah tangan Levi menjalar menuju bibi merekah Eren dan menyentuhnya.
Eren berjengit kaget dan segera menutup mata kuat agar tidak terbuai dengan kenyamanan itu.
Levi sendiri menyapu bibir Eren dengan ibu jarinya sembari terkekeh. Waktunya memberi pelajaran berharga kepada mulut keparat Eren.
" Mulutmu tidak bisa diam iyakan?" Kekeh Levi. Ia sedikit demi sedikit membuka zipper celana hitam miliknya tanpa sepengetahuan Eren. " Mari kita lihat−apakah mulutmu masih bisa diam jika sudah kosodorkan penisku bocah"
Eren segera membuka mata dan memekik kaget karena melihat Levi menurunkan celananya cepat dan boxer hitam miliknya disana. Levi menyeringai setan sembari mengeluarkan penisnya yang setengah menegang itu ke hadapan wajah Eren yang tepat di hadapannya.
Dengan ukuran penis yang sudah sebesar itu membuat Eren ketakutan mulutnya akan tersedak.
" Kulum"
Eren menggelengkan kepalanya. " K-kumohon jangan Levi...j-jangan.."
Levi makin mendekatkan penisnya dan menggesek-gesekkan kepala penisnya yang basah dan mengkilat ke arah bibir plum Eren yang sengaja dikatupkan rapat.
" Aku tahu kau menginginkannya bocah. Ini milikmu juga sekarang... kau kekasihku. Hanya kau yang boleh merasakan penis ini memenuhi mulut dan lubang laparmu itu, Eren. Bermainlah dengannya Eren... hisap dia sebelum aku bermain kasar"
Eren menatap Levi dengan mata membulat memohon. " T-tidak"
Levi menatapi Eren tajam dan menekan penisnya lebih kuat hingga bibirnya sedikit terbuka. Eren kaget setengah mati.
" Kubilang kulum"
Eren seketika mengerang saat Levi lagi-lagi menarik rambut ebony-nya yang lembut dan memaksa Eren agar mau membuka mulut dan berhadapan dengan penis besar milik pemuda bermata tajam yang beberapa jam lalu mengklaim Eren sebagai miliknya.
Mungkin kali ini Eren mempertimbangkan saran Armin untuk memotong pendek poni rambutnya.
Rambutnya kelihatan sangat sering sekali ditarik oleh Levi secarai brutal seolah-olah Levi memang mau mencabut semua rambut Eren sampai ke akar-akarnya.
Penis Levi seketika masuk menerobos mulut pemuda bermata Emerald itu dan memenuhi seluruh rongga basah milik Eren. Eren mendesah tertahan saat lidahnya merasakan rasa asin yang khas itu lagi dan membuat segalanya jadi penuh.
" L-levihh..p-penuhhh.." Eren mengerang dan mendesah seadanya karena sebuah penis menyumpal mulutnya secara keseluruhan. Wajah Eren menjadi semakin manis dan sayu.
Levi menekan penis miliknya makin dalam dan mendesis kenikmatan. " Ssssh... puaskan ini sayang. Puaskan milikku hingga selesai maka kita sudahi ini Jaeger"
Tangan kokoh Levi berhenti menarik rambut Eren dan kembali mengelus rambut itu sayang. Dia tidak akan main kasar kali ini−Jadi Levi mengelus kepala Eren lembut agar membuat Eren rileks dan menghisap miliknya lebih intens.
" L-levvihh.."
Eren menutup matanya dan mendesah dalam kenikmatan. Entah kenapa Eren menyukai perlakuan lembut pemuda ketua Geng paling ditakuti ini daripada sifat kasarnya. Hingga membuat Eren seketika menjadi seorang anak kecil penurut jika diberi permen.
" Ya sayang..ssh...dia milikmu, Jaeger"
Levi menekan bibir atas Eren yang kelihatan berusaha menghisap penis besar berurat milik Levi.
Pemuda bermata tajam itu membelai bibir Eren agar pemuda itu dapat menghisapnya kembali. Eren juga terlihat mulai rileks dan hasratnya kembali terbakar. Wajahnya memang memerah secara keseluruhan tetapi itu malah membuat Levi makin geram.
Awalnya yang ingin bermain lembut−salahkan wajah sayu Eren yang terlalu menggoda.
Dan secara tiba-tiba Levi menyentakkan penisnya masuk ke dalam mulut Eren hingga mengenai kerongkongannya secara brutal. Eren seketika tersedak dan seperti ingin mengeluarkan milik Levi secara panik.
"Ngggh! Mmhhhhhh!"
" Jangan digigit." Levi menatap Eren tajam dan membuat Eren yang menatapnya balik gemetar. " Aku tahu kau ingin menggigitnya bocah. Jangan digigit dan nikmati milikku. Tetaplah kulum sampai selesai"
Eren hanya mendengus lemah dan mengangguk pasrah saat mendengar pernyataan Levi. Air mata sedikit demi sedikit keluar dari mata emerald bersinar milik Eren.
Bagaimana Eren tidak menangis coba?
Deepthroat itu menyakitkan kawan. Sebuah penis yang berukuran hampir-hampir sebesar mulutmu saat menganga lebar dipaksa masuk dan menyentuh kerongkonganmu brutal. Ditambah kau dengan segala kekuatanmu harus dipaksa menghisap penis itu.
Pantas saja Eren menyumpah saat menghisap penis Levi.
' DASAR PENIS KEPARAT! KU JAMIN KAU AKAN KUSIKSA! KERONGKONGANKU SAKIT, SIALAN!' Maki Eren. ' SAAT AKU BERMAIN DENGANMU NANTI−AKU AKAN MEMBUATMU TERSIKSA! AWAS KAU LEVI!'
Levi yang nafsunya sudah di ujung kepala− tiba-tiba saja mengarahkan tangannya mengocok penis pemuda manis itu hingga menegang.
" N-Nyaaahh..."
Eren berjengit kaget dan membuat fibrasi pada hisapannya. Membuat si empu penis menggeram makin berat dengan suara bass-nya yang terkenal.
Pemuda manis itu menggeleng-gelengkan kepalanya lemah sambil berusaha menghisap milik Levi sekuat tenaga hingga pipi gembulnya mencekung ke dalam. Di tambah naluri Eren menyuruhnya untuk memegang penis Levi dengan kedua tangan mulusnya.
" Shh..." Levi mendesis.
Pemuda bermata tajam itu masih setia mengocok milik Eren cepat hingga tanpa perlu waktu lama−milik Eren sudah berdiri sempurna dengan pre-cum menetes di ujugnya. Membasahi tangan Levi dan membuat pemuda berperawakan tegas itu menyeringai.
" Dasar bocah nakal." Levi menatap Eren yang sedang susah payah memanjakan miliknya yang juga sama-sama sudah menegang sempurna sekeras kayu. " Kau benar-benar nakal eoh?"
Eren menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah hebat. Air mata terus mengalir dari matanya.
" Mmmh...mmmh!"
" Hm?" Levi bertanya dengan wajah datar. " Tidak?"
" Mmhh!" Eren mengangguk lemah.
Pemuda bermata tajam itu terkekeh. " Kita lihat saja Eren..."
" E-eeh..ehh!"
Eren menjulurkan lidahnya bingung saat penis Levi dicabut dari mulutnya secara paksa. Membuat mulut Eren seperti kehilangan sesuatu dan meminta lagi. Eren yang sudah terbiasa dengan penis Levi−mulai sedikit tidak rela saat mainannya itu dipisahkan dari mulutnya.
" L-levhhi? Khenapahh? "
Levi sendiri menjauh dari tubuh Eren dan berdiri tidak jauh dari ranjang. Menatap Eren angkuh dengan raut meremehkan khas seorang Ackerman biasanya. Ditambah mata tajam itu memandangi Eren seolah-olah ingin memakan Eren habis saat itu juga.
" Lihat siapa yang nakal disini bocah"
Pemuda bermata manis itu hanya bisa mengerang lemah. Penisnya sudah terlanjur berdiri karena kenikmatan yang diberikan Levi kepadanya. Dan apakah si cebol itu seenak kepalanya ingin meninggalkan Eren seperti ini?
Bolehkah Eren mencekik Levi sampai mati? Bolehkan? Bolehkan?
" NYAAAH! LEVI!"
Eren membusungkan dadanya dan berteriak karena Levi menggengam miliknya secara ganas dan mengocoknya cepat tanpa ampun. Membuat Eren bergeliat hebat di atas ranjang milik Levi dan mendesah sekeras-kerasnya.
" AH! AHH! NGGGAHHH!"
" Kurasa kau sudah siap"
SREEEEET!
Kedua paha Eren tiba-tiba diangkat oleh Levi secara serentak dan membuat pemuda manis itu kaget setengah mati.
Hampir saja Eren memekik nyaring jika saja Levi tidak menggesekkan kepala penisnya yang sudah menegang sempurna di depan lubang Eren yang basah akan cairan pelumas.
" L-levi...k-kumohon jangan lagi..." Pinta Eren. " J-jangan... "
" Menungging sekarang."
Eren mengerjapkan matanya. " A-apa tadi?"
" Menungging bocah" Jawab Levi datar.
Eren yang tidak punya pilihan lain hanya bisa memutar tubuhnya sambil sesekali menyumpah. Mata emerald Eren berkilat kesal tetapi masih tetap terangsang. Pemuda berambut ebony itu berusaha menumpukan tubuhnya yang lemas pada kedua tangan dan mengangkat pantat sintalnya tinggi-tinggi untuk Levi sialan.
Levi yang melihat hal itu−mengelus pantat Eren lembut sebelum...
JLEEEEEBBB!
" NYAAAAAAAH LEVVIIII!"
SPLUUUURRRRT!
.
.
.
.
.
.
Eren hanya bisa bernafas tersengal-sengal setelah kembali melakukan hal itu secara kasar dan brutal bersama Levi.
Dia terkapar tidak berdaya di atas ranjang dengan tubuh yang sudah tertutup seluruhnya. Levi mau memberika celana hitamnya dan baju kemejanya yang paling besar untuk Eren. Dan sukses membuat semuanya terlihat longgar di tubuh pemuda bermata emerald itu.
" Cebol sialan..." Maki Eren sambil terengah-engah. Dia menatap jendela apartemen yang terbuka lebar dengan suasana pagi kota Tokyo. " K-khau...akhu ingin mencekikmu"
Sesaat setelah mereka berhubungan badan−Levi membersihkan tubuhnya sendiri di kamar mandi dan sukses membuat perempatan emosi mencaplok mulus di dahi Eren. Tapi karena seluruh tenaganya telah terkuras habis, Eren hanya bisa memaki Levi dari kejauhan.
Tapi tidak ia sangka...
Levi malah membawakannya baju berlebih dan dengan sukarela memasangkannya pada tubuh Eren.
MEMASANGKANNYA!
Dunia memang sudah terbalik.
" Baju ini..." Eren menarik baju kemeja putih itu dan menghirup aromanya diam-diam. " Ckk..banyak sekali bau Levi disini"
Eren hanya bisa terkapar sambil menyumpah. Ia ingin sekali mengambil hp-nya yang kebetulan tergeletak di nakas meja di depan sofa tetapi kakinya seolah-olah tidak bersahabat sama sekali sekarang.
Ditambah perutnya sudah meraung-raung tidak jelas.
Eren mengerucutkan bibirnya kesal karena mengingat dia tidak mengonsumsi apapun selama dua hari berturut-turut karena selalu terlibat masalah dengan Levi dan berakhir membuatnya emosi.
" Oi Eren"
Eren seketika mendongakkan kepalanya. Di atas ada balkon lagi dan kebetulan Levi bertumpu disana. Menatapnya dengan tubuh tegap dibalut setelan jas hitam mewah.
Pemuda berwajah manis itu seketika cengo. Melihat bagaimana tampannya Levi.
Ini jelas-jelas bukan Levi!
Rambut diklimis ke atas, wajah tampa tegas yang makin tampan karena seluruh tubuhnya rapi. Jas hitam mewah lengkap dengan sebuah dasi merah dan jangan lupakan mata hitam tajam itu.
" K-kau..."
"Bocah" panggil Levi dari balkon atas. " Aku akan ke bawah. Hari ini kita jalan-jalan"
" APPAAAAAAA!? KAU BERCANDAAAA!?"
.
.
.
.
.
Armin menghela nafas panjang sembari memegang gelas khas jepang yang berisi teh hijau panas. Pemuda berambut pirang itu menatap pohon sakura mekar di belakang rumah Nanaba dengan mata bersinar.
" Armin?"
Armin menolehkan kepalanya kaget. " Eh? Nanaba san? Ada apa?"
Nanaba yang dibalut yukata untuk perempuan ikut duduk di sebelah Armin. Sama-sama menatap pohon sakura itu. Tetapi bukannya bersinar−pandangan Nanaba lebih cenderung ke arah sedih.
" Armin... bolehkah aku bertanya padamu?"
Armin menatap Nanaba lucu. " Tentu saja. Tidak ada yang melarangmu untuk melakukan hal itu dan lagipula, aku tidak keberatan sama sekali"
Nanaba menghela nafas berat dan mencengkram bawahan yukata-nya erat.
" Apakah menurutmu Levi itu sosok jahat?"
Armin yang asalnya meminum teh hijaunya, sedikit lagi akan menyemburkan teh hijau itu balik karena saking terkejutnya dengan pertanyaan random Nanaba.
Tapi yang jelas Levi itu jahat! Bahkan Eren sekalipun diculik olehnya dan Armin sendiri tidak tahu bagaimana kabar teman Jermannya itu.
" Ya...dia memang jahat Nanaba san." Jawab Armin. " Tapi..."
" Tapi?" Tanya Nanaba balik.
Armin menatap pohon sakura. " Entah kenapa−saat Levi berada di dekat Eren, rasa kejamnya itu bukan untuk menyakiti Eren, Nanaba san. Tapi lebih ke arah melindungi Eren dan yah...menjaga Eren."
" Kau benar"
Kali ini giliran pemuda berambut pirang itu yang kebingungan dan balik bertanya.
" Bagaimana kau bisa tahu Nanaba san?"
Nanaba meraih sebuah pedang samurai yang ia sembunyikan di balik pintu geser di ruangan Armin. Armin seketika menahan nafasnya kaget karena baru menyadari bahwa ada pedang yang dapat membunuhnya secara cepat dan sialnya berada di ruangannya.
" Kami sudah berlatih kendo sedari kecil. Levi dulu bukanlah orang yang jahat...dia suka membantu siapapun biarpun wajahnya sudah datar dan angkuh sejak kecil" Jelas Nanaba. " Bahkan Levi-lah yang membuatku menjadi atlet kendo nasional dan lawanmu di olimpiade SAINS di Luxemburg"
Armin bergumam. " Tapi kenapa dia..sekarang?"
" Kecewa. Sakit hati karena kematian ibunya. Levi begitu kecewa dengan ayahnya"
" Benarkah? Berarti Levi mempunyai nama keluarga?"
Nanaba mengangguk. " Tentu..marganya Ac−"
BRAAAAAAAK!
" WOI GADIS BODOH! KELUAR KAU SEKARANG!"
Jean menghempaskan pintu geser ruangan dengan brutal. Wajahnya begitu masam dengan amarah sudah naik sampai ke seluruh tubuh. Baru saja ia ingin memakan sarapannya tetapi...
Nanaba melempar sandalnya geram. " APA HAH MUKA KUDA! KALAU MAU MASUK KETUK PINTUNYA! KAU MAU MENGGANTIKAN PINTU RUMAHKU HAH SIALAN!?"
" TAPI JANGAN TABURI MAKANANKU DENGAN BROKOLI!"
Armin dan Nanaba cengo. Terutama Nanaba yang paling kesal. " KAU PROTES HANYA KARENA BROKOLI!? MATI SAJA KAU SANA!"
.
.
.
.
.
T
B
C
XD
HALOOOOO!
SORRRRRY! AUTHOR LAMBAT UDPATE! T_T
BUKANNYA MAU LAMBAT-LAMBATIN TAPI AUTHOR KEPEPET SAMA JADWAL LES DAN UTS! JADINYA YAH GINI...
SORRRY READERS...
T_T
MIND TO VOTE AND COMMENT!? XD
