Disclaimer: I do not own Durarara! and all its series. It all belongs to Ryohgo Narita & Satorigi Akiyo, Sweet Sacrifice is belongs to Evanescence
Warning(s): Semi-AU, Semi-drabble, May Sho-Ai contents, Many genres complicated plot and story line, read carefully! You've been warned!
Twisted, Involute
Song lyrics; Sweet Sacrifice (c) Evanescence
.
.
"Oh, jadi begitu. Terima kasih banyak, dok." balas pria berkacamata yang sama-sama mengenakan jas putih kendati dirinya bukanlah dokter di rumah sakit itu.
Sedangkan dokter senja yang barusan berbicara dengannya membungkuk dengan sopan dan meninggalkan Shinra dan Celty―yang tentunya memakai helm agar tidak memancing keributan―yang memutuskan untuk duduk di depan kamar pasien khusus.
"Hm, benar-benar tak disangka. Kukira orang macam Izaya tidak akan pernah terkena masalah." gumam Shinra sambil menatap lantai putih rumah sakit itu. Sedangkan makhuk di sampingnya itu tetap diam, belum mau berkomentar apapun.
"Haah..." Lelaki berkacamata itu mendesah agak keras sambil melonggarkan otot-ototnya yang dirasa tegang saat itu. Sementara makhkuk hitam disampingnya sibuk memgetikkan sesuatu.
[Ayo kita cari Shizuo...]
[Aku... agak khawatir dengannya]
Shinra yang melihat PDA di tangan Celty hanya diam sambil tersenyum simpul dan beranjak dari tempat duduknya.
Erase the silence, erase my life
Our burning ashes blacken the day
"Jadi, Anda yang selama ini membawanya?"
Izaya hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyumnya. Sementara, berkebalikan dengannya, anak kecil berambut coklat satunya itu berbicara dengan nada dan wajah sama datarnya.
"Maafkan aku karena pulang selarut ini," Shizuo mini menggaruk belakang kepalanya sambil agak tertunduk. "aku juga membawa orang asing sembarangan bersamaku, hontou ni… gomennasai…"
Anak kecil berambut coklat satunya itu hanya diam dengan ekspresi datar. Ia kemudian mundur ke belakang hingga masuk ke dalam rumahnya. Mempersilakan kedua orang itu masuk tanpa suara ataupun perintah.
Kedua orang itu mengerti sifat Heiwajima bungsu itu. Maka kedua orang itu pun masuk ke dalam rumah dan melepas alas kaki mereka.
"Terima kasih sudah menjaga kakakku, Kuro-san." ucap Kasuka―anak kecil berambut coklat yang merupakan adik Shizuo―datar sembari kembali berjalan ke dapur.
"Hee~ kau memiliki adik yang aneh, ya Shizu-chan?~" ucap Izaya begitu mendengar ucapan terima kasih dari Kasuka. Ia sendiri mulai merasa aneh terhadap dirinya karena entah mengapa perasaannya sedikit lega.
Tunggu. Perasaan? Apa seorang Izaya bisa mengetahui dan memiliki sesuatu yang dinamai 'perasaan'? Semenjak datang ke dunia ini, memang terjadi banyak hal aneh dalam dirinya. Apa itu yang dinamakan 'perasaan'? Izaya kembali terdiam dengan ekspresi barunya, yaitu ekspresi datar tak terbaca.
"Jangan bicara yang tidak-tidak tentang adikku, Izaya-san! Kasuka itu orang yang baik! Dialah yang selama ini selalu menemaniku walau gaya bicara dan ekspresinya terlihat datar dan cuek." protes Shizuo mini sambil melangkah memasuki koridor rumahnya.
"Ahaha, memang dia orang baik kok!~ Dan memang kalian cocok menjadi saudara yang aneh."
"Seaneh apapun kami, kau masih yang teraneh, Izaya-san. Dan kami masih memakan makanan normal kok, jadi kalau kau tidak mau makan malam di sini, ya sudah." jawab Shizuo mini yang mulai terbiasa menanggapi ocehan aneh dan terkadang meledek dari sang informan. Tetapi, ia tidak membenci sang informan tentunya.
"Hahaha~ Kau sudah pandai bicara, Shizu-chan!~ Kau tahu, kau mulai mirip dengan dirimu yang dewasa." komentar Izaya sambil terkekeh khasnya.
"Hmm, bagaimanapun aku dan diriku versi dewasa adalah sama, 'kan? Wajar saja, toh. Kalau bisa sih aku mau jadi orang dewasa yang lebih baik. Oh iya, Izaya-san, jawab yang jujur, ya!"
Izaya dan Shizuo mini pun sampai di ruang makan kecil sekaligus dapur milik keluarga Heiwajima itu. Mereka pun mendudukkan diri di kursi meja makan dan melanjutkan pembicaraan.
"Aku selalu jujur, kok!~ Apa sih yang mau kau tanyakan, hee?~"
"…Itu…" Shizuo kecil agak tak yakin mau menanyakan hal ini atau tidak. Namun, ia penasaran sekali dengan hal ini dan tentunya hal ini sangat menentukan masa depannya.
"Apa? Jangan buat informan hebat sepertiku menunggu. Atau kau akan kukenakan biaya, lho!~" ucap Izaya iseng sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja makan. Pelan saja tentunya.
"Anggap saja bayaranku adalah makan malam, bagaimana?" tawar Shizuo sambil mulai menirukan senyum menyebalkan Izaya. Izaya yang melihat tingkah anak di seberangnya ini tentunya ingin sekali tertawa.
"Haha, hahahaha~ Menarik sekali, Shizu-chan!~ Aku suka dengan sifatmu yang seperti ini, ahaha!~" Izaya memulai lagi tawa anehnya. Sungguh, belum satu hari terlewat dan ia sudah tertawa sebanyak ini. Begitu banyak hal menarik yang dapat Izaya lihat dan pelajari dari sosok kecil musuh bebuyutannya.
"Aah, aku yang malah merasa aneh. Kau benar-benar membawa virus aneh, Izaya-san!" balas Shizuo mini santai.
"Haha, itulah aku. Baiklah, sebelum aku mati karena terlalu banyak tertawa, apa yang mau kau tanyakan?~" ucap Izaya sambil menyeka setitik air mata yang menggantung di sudut matanya.
"E-eh, itu…" Shizuo mini kembali terlihat ragu dan menunduk. Ya, ia tidak mau wajahnya yang mulai memerah dilihat oleh orang lain, apalagi oleh orang super aneh seperti pria di seberangnya ini.
"Apa?" Kini Izaya malah terlihat menuntut ingin tahu. Kedua alisnya mulai tertaut.
Tepat ketika itu, Kasuka muncul dengan nampan berisi tiga piring berisi makanan dan wajah datarnya yang biasa.
"Makan malam sudah siap."
A world of nothingness
Blow me away
("Ada sesuatu yang harus Anda ketahui." ucap dokter itu tenang. Namun, seberapa tenangnya dokter itu, masih dapat dilihat raut wajah tak yakin meski hanya sekilas.
"Hal baik?"
"Bisa dibilang baik dan buruk. Mana yang ingin Anda dengar terlebih dulu?"
"Yang manapun, dok. Tidak usah berbasa-basi denganku."
"Hm, baiklah kalau begitu. Kabar baiknya, kerabat Anda ini sudah melewati masa kritisnya sedangkan kabar buruknya, sampai sekarang tidak ada tanda-tanda ia akan tersadar. Koma. Namun, denyut jantung dan napasnya normal. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, sekarang hanya tinggal berdoa dan menunggu agar kerabat Anda sadar kembali." jelas sang dokter serinci dan sesingkat mungkin, mengetahui yang dihadapinya saat ini adalah tipikal orang macam Shizuo.
"Begitu." gumam Shizuo pelan. "Terima kasih, dok." ucapnya lagi masih dengan nada pelan dan ekspresi datar.
Dokter itu hanya mengangguk tersenyum sambil menunduk sebentar dan pergi meninggalkan pria bartender itu yang kini tetap berdiri diam di tempatnya.
Pria itu kemudian melangkahkan kakinya pelan. Mendekati ER yang mulai dimasuki beberapa perawat lelaki yang bersiap memindahkan tubuh tak sadarkan diri sang informan ke kamar pasien. Sang bartender hanya terdiam dengan ekspresi datar begitu melihat tubuh kaku itu keluar dari ER berpindah ke kamar biasa.
Masih dengan ekspresi datar, pria itu mengikuti perawat-perawat itu menuju kamar baru sang pasien. Setelah sampai, para perawat itu pamit permisi dan meninggalkan sang bartender dan sang pasien sendiri.
Iris coklat dibalik kacamata aqua it uterus menekuri sosok kaku di depannya dengan tatapan datar. Tidak tersirat rasa sedih, senang, kecewa, marah atau apapun. Hanya datar.
'Apa yang sebenarnya terjadi? Untuk apa aku berdiri di sini sekarang?'
TRIIIIT TRIIIIT
Ponsel pria itu bergetar, memecah keheningan ruangan itu. Sang bartender tidak ada tanda-tanda untuk menggubris apalagi mengangkatnya.
'Mungkin aku terlalu lelah. Udara luar dan makanan ringan mungkin akan membantu.'
Sang bartender akhirnya kembali menggerakkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu kamar pasien. Sesaat di daun pintu, ia berhenti dan kembali menoleh ke sosok terbaring itu. Masih dengan ekspresi datarnya.
'Ah, pantas saja aku merasa aneh…'
'…sejak tadi aku belum menyalakan satu batang rokok pun.')
Do you wonder why you hate?
Are you still too weak to survive your mistakes?
"Arigatou gozaimasu!~" Sang informan menyatukan kedua tangannya di depan dada. Tak lupa sambil tersenyum tentunya.
Heiwajima bersaudara juga melakukan hal yang sama dengan sang informan, bedanya mereka juga mengucap doa setelah melakukan itu.
"Nii-san, aku mau mengerjakan PR dulu. Kalau ada apa-apa, datang saja ke kamarku." ucap Heiwajima bungsu dengan gaya datarnya sambil beranjak bangun, bersiap ke kamar.
"Terima kasih banyak, Kasuka! Tak perlu merepotkan dirimu, aku pasti bisa mengurus semuanya. Kalau kau butuh bantuan, kau bisa datang ke kamarku." balas Heiwajima sulung dengan ceria sambil mulai membereskan meja dan menaruh piring-piring kotor itu di mesin pencuci piring.
"Un." Jawaban singkat dan sang bungsu sudah menghilang dari ruang makan.
"Adikmu rajin sekali, ya? Apa setiap hari keluargamu seperti ini?"
"Bisa dibilang iya. Kadang aku dan Kasuka mengerjakan PR bersama-sama di sini. Kalau sedang tidak ada PR, kami nonton tv bersama atau tidur. Di siang hari, kalau bibi penjual roti sedang tidak sibuk, ia akan membawakan kami roti-roti dari tokonya dan beberapa kotak susu. Dan sebulan sekali kami mendapat uang dari paman yang bekerja di luar negeri. Entah kapan ia akan pulang."
Shizuo mini mulai bercerita tentang banyak hal secara sepihak kepada sang informan. Entah apa yang mendorong sang anak kecil bercerita begitu banyak terhadap orang asing ini, dirinya merasa nyaman membagi semua hal yang ada pada dirinya kepada sang informan.
Sang informan pun tidak bosan mendengar celotehan apapun yang keluar dari musuh bebuyutannya yang mengecil itu. Ia nyaman. Tidak ada rasa benci sama sekali terhadap anak kecil―yang dinilainya―polos itu. Sesekali ia akan memberi komentar aneh dan lebih anehnya lagi si anak kecil itu menganggapnya hal biasa apabila Izaya yang mengatakan demikian. Sungguh, disadari atau tidak, ikatan kasat mata yang cukup kuat mulai tumbuh di antara sang informan dan sang anak.
"Oh iya, Shizu-chan. Apa yang tadi mau kau tanyakan, hm? Sesuatu yang amat pentingkah sampai-sampai monster kecil sepertimu ragu untuk bertanya?~" tanya Izaya sedikit penasaran begitu teringat akan hal ini.
"AH! Oh iya! I-itu… sebenarnya sih ini bukan pertanyaan penting, tapi…."
"Tapi? Oh ayolah, Shizu-chan. Kau mulai membuat sang informan amat penasaran.~"
"B-baiklah baik… J-jangan tertawakan aku, lho ya!" ujar Shizuo kecil dengan wajah mulai memerah.
"Baiklah. Akan kuusahakan."
"I-itu, sebenarnya… apakah aku di masa depan… memiliki pasangan?"
Akhirnya Shizuo kecil berhasil menyelesaikan kalimatnya walau dengan suara yang lambat laun mengecil. Sang informan yang berhasil mencerna apa yang baru saja ditanyakan sang anak kecil terdiam sebentar.
"Hmmph! Oh ya ampun, aku tidak kuatt—pffft!~~"
"Ugh, sebegitu menggelikannya kah pertanyaanku?" Shizuo mini berdecak dengan wajah memerah di sana-sini.
"M-maafkan aku, Shizu-chan! A-aku—pfft!~~" Sang informan sendiri berusaha keras untuk tidak memecah tawanya yang sudah menumpuk sedari tadi.
"U-ugh, baiklah. Sana, tertawa saja sepuasmu!" Shizuo kecil tidak tahan lagi melihat sang informan yang mati-matian menahan tawa yang ternyata malah terlihat lebih―amat sangat―menyebalkan.
"Ha-ah!~ Hahaha, baiklah, aku sudah semaksimal mungkin untuk tidak tertawa. Hanya saja―ahahaha― oke baiklah, aku berusaha serius!"
Shizuo mini ingin sekali rasanya menyembunyikan wajahnya yang semerah lipstick itu. Sayangnya wajah itu sudah terlebih dulu dilihat sang informan.
"Oke baiklah. Apa katamu tadi? Oh ya! Tentang dirimu di masa depan, bukan? Hahaha, sejauh yang kutahu sih belum ada perempuan yang cukup berani menyatakan perasaannya padamu. Yaah, aku malas mengakui kalau fans-mu sewaktu sekolah menengah dulu lumayan banyak. Tapi, yaah kau akan tahu sendiri kalau kau memiliki reputasi dan kekuatan seperti apa." jelas sang informan.
"Hmm, sudah kuduga kekuatanku ini tidak akan pernah hilang. Tunggu, kau bilang di 'sekolah menengah'? Kau satu sekolah denganku?" tanya sang anak lagi.
"Ya tentu saja!~ Dan kau adalah pion terunik yang pernah kutemui saat itu―yah, sampai saat ini juga."
"Sayang sekali aku tidak bisa memainkan 'pion' itu sesuka hatiku. Padahal bisa saja kalau kau menurut untuk ku'mainkan', kita akan benar-benar menjadi dewa, hm." lanjut Izaya lebih seperti bicara kepada dirinya sendiri.
Shizuo kecil hanya terdiam. Tidak tahu ingin berkata apa sebab dirinya sendiri masih sulit mencerna kata-kata aneh sang informan. Sungguh, kalau ia mengerti apa maksud sang informan, Izaya pasti sudah lama terbaring di rumah sakit, seperti dirinya di masa satunya.
"Ahaha, aku tahu ini terlalu sulit bagimu untuk mengerti. Tapi kau tahu? Setelah bertemu dan berbicara dengan dirimu yang seperti ini, aku tidak bisa memprediksikanmu lagi―yah, aku memang tidak pernah bisa."
Sementara Izaya berbicara banyak hal, Shizuo kecil mulai mendekatkan diri kepada sang informan dan kembali duduk di sampingnya. Masih diam. Tidak mengerti kemana arah pembicaraan Izaya. Namun, ia tidak menyela kalimat Izaya dan terus mendengarkannya. Tiap kata yang meluncur dari mulut sang informan seperti mengandung mantra khusus yang membuat sang anak mulai menjatuhkan kelopak matanya.
"Maksudku, aku seperti… tidak ingin melakukan hal itu terhadap dirimu yang satu ini…"
Tepat Izaya menyelesaikan kalimatnya, sang anak sudah tertidur. Mendengkur kecil dengan raut polos nan damai dengan posisi kepala terjatuh di lengan Izaya. Sang informan tentunya menyadari hal itu dan mulai membetulkan posisi sang anak kecil agar tidur lebih nyaman.
Izaya menggendong Shizuo mini yang tengah menjelajah alam mimpi dan menidurkannya di kamar sang anak. Sebelum keluar dari kamar sang Heiwajima sulung, Izaya sempat terdiam sembari mengamati sang anak yang tengah bernapas pelan.
"Seperti biasa, dirimu sewaktu kecil ataupun sekarang… memang sama-sama menyusahkan, hm."
Kemudian ia menekan tombol lampu kamar itu dan meninggalkan Shizuo kecil terlelap di dalamnya.
'Hmph, sekali aneh tetaplah aneh. Ya 'kan?'
You poor sweet innocent thing,
Dry your eyes and testify.
You know you live to break me.
Don't deny. Sweet sacrifice.
つづく
A/N: Apdet yeey!~ *throws confetti* oke, sebenernya lagunya udah abis sampe sini, tapi ceritanya entah kapan akan selesai #plak! Tapi saya usahakan bakal tamat sebelum saya kembali masuk sekolah dan UTS *JRENGJRENG!* #plakplak Harusnya saya bisa apdet kemarin, tapi ternyata HetaOni berhasil mengalihkan perhatian saya seharian kemaren (bahkan sampe sekarang, udah namatin 2 kali) KAPAN ITU GAME BAKAL DILANJUTIN? GAK USAH GAME-NYA DEH, VIDEO-NYA AJA, KAPAN DILANJUTIN? TT_TT FELIIICIANOO! Oke, selesai saja curhat singkat saya #manesingkat?
.
THANK YOU VERY MUCH FOR YOUR CONCERN, DEAR READERS AND REVIEWERS!
keep giving me your feedback if you want to see the continuation!~
Salam, Kurofer! ^^
