Chapter 13
.
.
.
.
.
AN ATTACK ON TITAN FANFICTION
.
.
.
CAST :
ALL SNK CHARA
.
.
.
.
PAIRINGS :
RIREN ( MAIN)
ERUMIN
JEANXARMIN
.
.
.
SEMAUA CHARA ADALAH ORIGINAL MILIK TUAN HAJIME ISAYAMA
SAYA HANYA MEMINJAM ^^
CERITA ORIGINAL MILIK SAYA!
NO PLAGIAT!
.
.
.
WARNING :
YAOI
BOYSLOVE
MATURE CONTENT
VIOLENCE AND BLOODY
SOME CONTENT ARE FOR MATURE READERS ONLY!
ENJOY IT ^^
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Eren tidak pernah menyangka akan menjadi seperti ini. Dengan balutan T-shirt hijau pastel bermerek ternama yang dia tahu mahalnya tidak ketulungan. Ditambah aksesoris yang luar biasa bagusnya dan entah kenapa itu terlihat begitu cocok dengannya.
Rambut sewarna mahogani milik Eren diolesi dengan pelembab rambut hingga mengkilat dan terlihat segar. Kalung berwarna perak bertuliskan nama 'Eren' tergantung di leher jenjangnya.
Pemuda bermata Emerald itu hanya bisa menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan bingung. Ia bahkan merasa ini bukanlah dirinya yang biasanya. Yang selalu terlihat sederhana saja.
Tapi demi kurcaci bernama Levi! Levi menelpon beberapa bawahannya dalam waktu singkat dan menugaskan mereka untuk membelikan Eren berbagai macam baju baru dari toko baju langganannya. Dan harus tiba dalam kurun waktu 10 menit jika mereka semua tidak ingin mati seketika.
" Ini...ini seperti bukan diriku" Eren menggigit bibir bawahnya dan menarik T-shirt berwarna hijau pastel di tubuhnya. " Semua ini terlalu mahal"
" Oi bocah−belajarlah untuk bersyukur"
Eren mengernyitkan dahi kuat dan menatap Levi yang sedang duduk nyaman di sebuah kursi dengan pandangan kesal. " Ini namanya bukan bersyukur pendek! Ini namanya terpana! Terpana!"
Levi yang duduk di ujung ruangan bersantainya, mengangkat senyum miring dan menatap Eren dengan tatapan nakal. Biarpun dari kejauhan ia terlihat berwajah datar dan tegas, tetapi sebenarnya ia sedang menatap Eren dengan pandangan mendamba.
Begitu terpesona dengan Eren. Dalam balutan baju itu−membuat Levi dapat melihat imutnya seorang Eren Jaeger. Tangan Eren saja tenggelam ke dalam lengan panjangnya. Setiap kali bocah itu ingin membetulkan sesuatu di tubuhnya−dia hanya menggesekkan punggung tangannya.
Dan sumpah−Levi tidak pernah melihat sesuatu seimut ini sebelumnya.
" Terpana atas pemberianku atau terpana bahwa aku yang memberikanmu?" Tanya Levi balik. Ia menyilangkan kedua buah tangannya di depan dadanya yang terbalut jas abu-abu yang casual.
Eren tersedak ludahnya sendiri dan seketika menyemburkan seluruh keterkejutannya dalam satu teriakan tanpa titik koma.
" PERTANYAAN MACAM APA ITU HAH!? MANA ADA AKU TERPANA DENGANMU? DALAM MIMPI DAN BARU KIAMAT NANTI AKU BISA TERPANA DENGAN SEGALA PEM− Bla...bla..bla..."
Eren mengoceh dan menyumpah. Wajahnya memerah karena emosi. Pemuda itu menghentak-hentakkan kakinya lucu dan memaki cermin di depannya. Memaki pemberian Levi yang terbalut di tubuhnya.
Levi seketika menatap Eren jengah dan mendengus kasar. Biarpun dia sudah memberikan banyak hukuman untuk mulut cerewet Eren. Tetap saja−bocah manis itu tidak akan jera atau tidak akan pernah jera. Walaupun mulutnya sering disumpal dengan kejantanan Levi yang ukurannya tidak main-main untuk lubang atau mulut Eren.
" Bocah"
Levi memanggil Eren singkat. Dia berjanji tidak akan berbuat banyak untuk menegur Eren. Cukup sekali teguran maka Levi langsung bertindak. Termasuk panggilan datar nan mengerikan itu.
Dan ya...Eren manis tidak menghiraukan panggilan Levi dan terus menerus mengoceh seolah-olah dialah yang paling benar. Dahi Levi seketika berkedut kesal. Ia benci dicuekkan. Apalagi kalau Eren yang tidak menghiraukan dirinya.
Mata hitam milik pemuda tajam itu−menatap Eren dengan tatapan penuh ancaman. Levi berdiri dari kursinya dengan diam. Berjalan perlahan ke arah Eren yang masih menyumpah-nyumpah di depan cermin. Tanpa tahu bahwa Levi ingin sekali menghukumnya dan mulut kotornya.
" TIDAKKAH KAU SADAR BAHWA KA−GYAAAAAA!"
SREEEEET!
CUUUP!
" Jangan mencuekkan kan ku. Ingat itu Jaeger"
Eren tersentak setengah mati saat Levi menarik kerah T-shirtnya kasar hingga lehernya terasa sangat panas. Membuat Eren sempat tertarik ke depan dan langsung disekap dalam pelukan erat pemuda tegas itu.
Ditambah bibirnya dilumat habis-habisan oleh Levi seolah-olah ingin memakan habis bibir nakal Eren. Levi memeluk punggung Eren dan menggigiti kedua belah bibirnya yang semerah buah delima matang dengan geram.
" Mmmh..mhhh!"
Nafas Eren beradu. Ia menatap sayu wajah Levi dan mendorong dada pemuda itu. Pasti selalu seperti ini. Kakinya akan sangat lemas setiap kali Levi menyentuhnya atau menciumnya. Membuat Eren harus berkali-kali jatuh dalam pesona ketua geng kejam itu.
" L-lev..Ahhh!" Lidah levi menerebos mulut basahnya dan menyenggol lidah Eren berkali-kali. " Ngggh...mmhh..."
Levi membuka sebelah matanya dan menatap tajam Eren yang terlihat begitu sayu dan menggoda di pandangannya. Wajah memerah dan saliva yang mengucur akibat Levi memainkan lidahnya kasar membuat delusi Levi menjalar kemana-mana. Hingga ia menjilat seluruh mulut Eren dan menandai isi mulut Eren dengan salivanya.
" Kau..." Levi melepaskan ciumannya tiba-tiba dan menatap tajam Eren.
Eren melenguh saat Levi melepaskan lidahnya. " Ngggh... A-apa...?"
Levi mencium bibir Eren lagi secara singkat. " Kau"
" Adalah..." Melahap bibir atas Eren sekilas dan melepasnya ganas.
" M-i-l-i-k-k-u". Levi menggigit bibir bawah Eren dan sesekali tangannya menjalar menuju punggung Eren. Mengelusnya sensual dan membuat badan Eren menggelinjang dalam friksi kenikmatan yang ia sendiri tidak bisa menjabarkannya.
" Ingat itu bocah. Ingat peraturanku..."
Levi mengakhiri ciuman ganasnya dengan hisapan panjang pada leher Eren yang terdongak dan membuat bocah manis itu mengerang dan mencengkram bahu Levi kuat akibat terlalu merasa nikmat.
Pemuda bermata tajam itu menjauhkan wajahnya dari tubuh Eren dan menatap Eren dengan datar. Yang membuat Levi menjadi aneh di mata Eren−pemuda tegas itu bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan akibat menciumnya begitu ganas. Eren saja sudah terengah-engah layaknya digagahi oleh Levi seharian penuh tapi lihatlah Levi!
" K-kau...tidak kelelahan?"
Levi seketika mendecih dan mengangkat senyum miring. Ia makin memeluk pinggang Eren dan membuat Eren sedikit memekik, karena tangannya dapat merasakan tonjolan abs Levi yang begitu menggoda. Mencetak di kemeja putih pemuda itu.
" Jika aku kelelahan−bagaimana aku bisa melindungi kekasihku hm?"
Levi mengecup sekilas bibir Eren.
" Menciummu adalah kebutuhanku sekarang Eren. Jangan harap aku kelelahan hanya karena menciummu. Itu hanya berlaku untuk dirimu, bocah bodoh"
Alih-alih marah−Eren malah memerah malu. Ia tahu bahwa Levi mengejeknya tapi Eren merasa Levi benar-benar soal hal menjadikannya kekasih. Semua perhatian itu, sikap lembut itu, hukuman itu, sifat ganas itu.
A-apakah itu untuk...dirinya?
" Itu hukuman untukmu karena sudah mencuekkan panggilanku bocah" Levi mengelus pipi Eren dengan ibu jarinya. Menghantarkan sebuah perasaan yang begitu membingungkan bagi Eren.
Eren merengutkan bibirnya. " Hukuman?"
" Ck..dasar bocah bodoh" Levi mencubit pipi Eren dan tersenyum miring. Membuat Eren meringis dan mengaduh kesakitan. " Baru beberapa jam yang lalu aku memberitahumu soal hal ini dan kau sudah lupa seluruhnya?"
" Itu karena kau memberitahuku saat sedang bersetubuh..." Jawab Eren lirih dengan wajah merengut tidak suka. Ia menyilangkan tangannya kesal dan menatap wajah Levi dengan tatapan khas anak kecil yang merajuk.
" Aku mendengar itu Eren."
Eren membulatkan matanya. Bahkan suara selirih itu dia bisa mendengarnya? Levi ini manusia atau alien!? Kenapa telinganya jadi setajam itu!? Seseorang tolong sadarkan Eren misalkan ia sedang bermimpi.
Levi yang melihat reaksi Eren yang membulatkan mata seperti itu hanya bisa mendengus dengan kasar. Ia mendorong dahi Eren dengan telunjuknya dan melepaskan pelukannya secara sepihak.
Dan...
" YAAAAAAAKKKK!"
BRRRRRUUUUUK!
" DASAR KAU KONTET KURANG AJAR! PANTATKU SAKIT!"
Gara-gara Levi melepaskan pelukannya secara sepihak dan Eren yang lengah, tubuh pemuda manis itu jatuh dengan mulusnya ke lantai keramik. Jangan lupakan dengan pantatnya yang menghantam lantai terlebih dulu.
Padahal lubangnya masih sakit dan membengkak akibat disetubuhi dengan ganasnya semalaman penuh dan...2 jam yang lalu. Eren merasa bahwa dirinya benar-benar begitu sial jika bersama Levi dimanapun ia berada.
" Kurasa lebih sakit saat penisku menyodok lubangmu kan bocah? Jadi jangan mengeluh dan bangkit sekarang" Ucap Levi datar.
Ia berdiri di hadapan Eren dengan wajah angkuh dan tangan yang dimasukkan ke dalam kantong celana panjangnya hingga Levi terlihat begitu tampan dan cool bagi orang-orang di luar sana.
Jelas saja−terkecuali untuk Eren Jaeger seorang tentunya.
" Tapi pantatku berdenyut-denyut kesakitan keparat!" Maki Eren. " Mana bisa aku langsung berdiri!?"
Levi menatap Eren tajam. " Kau ingin jalan-jalan tidak? Berdiri sebelum ku berubah pikiran dan berakhir menyodokmu selama seminggu penuh bocah. Dan membuat pantatmu makin kesakitan dan lubangmu memerah"
Eren meneguk ludah sangat kasar. Dia ingin sekali jalan-jalan dan menjauh dari penis keparat Levi tapi pantatnya tidak membantu sekarang. Ini benar-benar menyakitkan hingga rasa sakitnya menjalar menuju tulang punggung Eren. Rasa nyerinya seperti mematahkan pinggang Eren seketika.
Pemuda manis itu mencoba untuk berdiri dengan kedua tangannya dan tungkai kakinya tapi belum seinchi dia menjauhkan pantatnya−Eren langsung menjerit kesakitan karena rasa nyeri menjalar kemana-mana di tubuhnya.
Dan berakhir membuat Eren kembali merosot ke lantai.
" A-aku..." Eren menggigit bibirnya menahan sakit. " A-aku tidak bisa berdiri..."
Eren kembali mengerang dan mencoba sekali lagi. Tapi hasilnya tetap sama−ia jatuh merosot ke lantai. Dan sialnya rasa nyerinya dan sakitnya makin bertambah seiring banyaknya gerakan yang Eren hasilkan. Berakhir membuat Eren terisak.
Ini bahkan lebih sakit dari Levi yang membobol lubang sempitnya untuk pertama kali.
" Sesakit itukah?" Tanya Levi datar. Ia menatap Eren dengan tatapan datar.
Eren yang fokus pada pantatnya−tidak terlalu mendengarkan perkataan Levi kepadanya. Jadinya ia hanya menggangguk seadanya dan mengerang. Kuku Eren bahkan menancap lantai dengan sangat kasar.
" H-hikss... Y-ya"
SREEEEETTT!
" EEH..EHH!"
" Aku tidak suka mengingkari janji dan tanggung jawabku bocah. Jadi−diamlah dan nikmati"
Levi menelusupkan tangannya pada punggung Eren dan mengangkat pemuda manis itu dan gendongan bridal style miliknya dalam sekali gerakan cepat. Membuat Eren langsung menutup wajahnya malu karena hal ini mengingatkannya saat pertama kali Levi membawanya ke apartemen.
" L-lev−"
" Jangan protes". Levi berjalan menuju pintu keluar sambil menggendong Eren. Ia seketika menatap Eren tegas dan membuat nyali pemuda itu jadi ciut seketika. " Diam dan nikmati selagi aku berbaik hati"
" B-baiklah..." Jawab Eren dengan sangat lirih.
" J-jika memang itu k-keinginananmu..."
Pemuda bermata tajam itu menggendong Eren dengan mudah. Ia berjalan dengan wajah datar tapi pandangan sesekali melirik ke arah Eren yang terlihat bergumam soal dirinya. Pemuda manis itu benar-benar menghipnotis Levi dengan keimutannya.
Membuat dirinya menjadi sadar atas apa yang ia buat selama ini.
Pendosa dan malaikat bersayap hitam kelam. Pendosa yang akan menghancurkan setiap kata ampun dan kebaikan jika ia melihatnya. Hatinya tertutup sempurna dengan sangat rapat dengan gembok dari emosi dan rasa kecewa
Tapi itu sebelum bertemu dengan Eren.
Malaikat putih. Sang penyelamat si pendosa dengan sikapnya.
Bukan dengan bujuk rayu menjijikan yang selalu ia dapatkan dari orang sekitarnya. Bujukan berupa pernikahan dan iming-iming kebahagiaan. Bukan itu semua melainkan sifat manis dan lucu itu.
Eren tidak pernah memberikannya harapan apalagi iming-iming. Membuatnya kehilangan jalan antara ingin menjauhi Eren atau memilikinya. Pemuda manis itu terlalu sayang untuk dibuang dan terlalu segan untuk dimiliki.
Kepolosan hati Eren membuat sang malaikat kembali merindukan nyamannya surga sebelum dia bersayap hitam. Sebelum sayap putihnya dipotong.
Dan terpisah dari malaikat putihnya−Ibunya.
Dan...Eren.
" Kita akan jalan-jalan bersama seharian. Kau ingin belanja?"
" HAH!? BELANJA!?'
.
.
.
.
.
.
.
Mobil Ferrari itu melaju di jalanan dengan nyamannya. Bukan cepat atau melaju dengan gila-gilaan seperti yang biasa dilakukan oleh pengendaranya. Karena di dalam mobil itu ada seorang malaikat suci yang berbinar-binar menatap deretan restoran mewah yang mereka lalui.
" I-ini...SUGOI!"
Eren berteriak kesenangan di joknya saat Levi melewati kumpulan restoran mewah atau cafe-cafe anime yang begitu lucu dan imut. Atau saat melihat para street dancer dan rapper yang beradu keahlian mereka di jalanan Tokyo.
Levi yang menyetir hanya bisa mendengus dan sesekali menyeringai melihat bagaimana berubahnya sifat ketus Eren jika sudah dibawa untuk hal-hal imut seperti ini. Bahkan Eren berani merengek kepadanya.
Memang terlihat lucu saat Eren masih ketakutan saat mencoba merengek tapi Levi membalasnya dengan nada lembut. Itu seketika langsung membuat Eren senang dan menunjuk-nunjuk sebuah headphone putih berterlinga kucing di salah satu toko.
" L-levi...aku ingin itu..." Panggil Eren tiba-tiba.
SREEEEETTT!
Levi menginjak pedal rem, menghentikan mobilnya dan menatap Eren datar.
" Hah?"
Eren meneguk ludah kasar dan membulatkan mata ketakutan. Mata emerald itu terlihat begitu ciut saat Levi menatap begitu tajam dan intens ke arahnya. Bahkan sampai menghentikan mobil secara tiba-tiba.
" Aku serius bocah. Kau ingin apa hah?"
Eren kaget dan memegangi plastik berisi kotak headphone kucingnya erat. " K-kau tidak marah kalau aku minta...l-lagi?"
" Ckk.." Levi mendecak dan mengubah arah tubuhnya menjadi ke arah Eren yang ketakutan dengan raut imut. Tangannya ia sandarkan pada setir mobil dan menatap ke arah Eren.
" Apakah aku terlihat seperti marah?"
Eren menggeleng.
" T-tidak... tapi kau kan biasanya selalu menendangku kontet"
Levi memutar matanya jengah dan menarik dagu Eren. Membawa wajah manis Eren agar menghadapnya. Membuat mata hijau Eren seketika membola saat Levi menatapnya begitu lembut dan mengelus hidung bangir Eren dengan sepenuh hati.
" Lihat mataku Eren." Panggil Levi. " Aku berjanji akan membawamu jalan-jalan sejak kemarin. Kau kekasihku bukan tawananku. Kau berbeda dari apa yang ku perbuat pada orang-orang di luar sana. Jadi jangan takut aku akan menyakitimu−Mintalah sayang"
" A-aku..." Eren tergagap. Ia hanya bisa terpukau dengan kata-kata yang keluar dari mulut Levi.
"K-kau yakin?" Tanya Eren sekali lagi dengan wajah meminta keyakinan. Ia tidak ingin berakhir dengan tubuh memar dan lubang merah lagi. Bisa-bisa pingsan atau mungkin mati jika dia terus-terusan diperlakukan seperti itu.
Levi menghela nafas. " Kubilang mintalah sayang..."
Wajah Eren spontan memerah dan membuat pemuda itu menundukkan kepalannya malu. Ia memegangi tangan besar Levi di dagunya dengan tangan mulusnya−menjauhkan tangan itu lembut. Eren menggigit bibir bawahnya dan matanya berputar arah.
Menjauhi tatapan Levi
" K-kau lihat toko kue di...disana?"
Telunjuk Eren menunjuk tempat tepat di belakang Levi. Ia mengerucutkan bibirnya sambil terus menunjuk-nunjuk tempat itu.
Levi mengangkat alis dan menengok dari ujung mata tajamnya yang menawan. Dan mata itu dapat melihat sebuah toko kue dengan suasana cafe klasik yang minimalis tapi begitu nyaman. Toko kue dengan dekorasi khas prancis dan Inggris yang kental.
" Aku ingin shortcake itu..."
Levi bergumam dan mengikuti arah telunjuk Eren yang tepat menunjuk salah satu stand. Yang memang dipamerkan ke umum. Terdapat deretan kue-kue dari kecil hingga besar dengan topping dan jenis yang berbeda-beda.
Ada sebuah potongan short cake yang begitu unik di deretan stand teratas. Yang sedari tadi menyita perhatian Eren. Entah kenapa lidahnya begitu menginginkan kue itu bahkan sejak pertama kali mereka melewatinya.
" Kau ingin kue itu?" Levi membalik tubuhnya dan menatap Eren.
Eren menggigit bibirnya gugup. " J-jika kau mengizinkannya..."
Levi mendengus kasar dan seketika mematikan mobilnya. Membuat Eren mengernyitkan dahi bingung dengan sikap random Levi. Tangan kekar Levi mengambil sebuah dompet kecil dari kulit buaya di laci jok mejanya dan membuka pintu mobil.
Pintunya bergeser ke atas dan terbuka.
Eren seketika mendengar jeritan perempuan dan wanita di luar sana saat Levi menarik badannya dari jok dan mulai berdiri dengan gagahnya. Apalagi pemuda bermata tegas itu mulai merapikan jasnya dan rambut hitamnya.
Membuat ukiran-ukiran wajah sempurna itu terekspos. Eren memerah dan membulatkan mata lucu. Begitu tidak percaya bahwa orang di depannya adalah seorang Levi−ketua geng yang paling ditakuti seluruh Jepang.
Ketua geng tanpa hati yang membunuh manusia sesuai moodnya. Yang hatinya dikenal sedingin kutub selatan tapi sialnya hati bekunya tercuri oleh Eren. Dan perasaan Eren yang diaduk-aduk oleh Levi sedemikian rupa.
" Apa yang ingin kau lakukan disana bocah?"
Levi menundukkan kepalanya dan menatap Eren tajam.
Eren seketika terkesiap dan menegang. " E-eh!?"
Levi mendecak kesal dan menggenggam tangan Eren tiba-tiba. Membuat Eren menjerit seperti perempuan karena tangan rampingnya dicengkeram kuat oleh tangan kasar pemuda tegas itu.
" Kau ingin memakannya bukan?" Levi menarik tangan Eren dan membuat Eren mau tidak mau tertarik ke depan. " Ikuti aku dan kita makan bersama"
" A-ap−Yaaaak!"
SREEEEET!
Dengan cepat, Levi menarik tubuh jangkung Eren dan merangkul lengan pemuda itu. Menjaga Eren agar tetap berada di sampingnya dan di bawah pengawasan Levi. Levi sendiri menatap semua pemuda yang melihat Eren dengan tatapan membunuh.
Membuat banyak pemuda lain menundukkan kepalanya ketakutan karena ancaman Levi seperti langsung menghujam ke dalam batin mereka. Membuat fisik dan psikis mereka benar-benar terancam.
TRIIIIINNG!
" SELAMAT DATANG!"
Levi dan Eren memasuki ruangan itu dengan santai. Tangan Eren seketika menggenggam lengan Levi erat secara reflek akibta banyaknya mata yang terpaku pada mereka berdua. Mata perempuan terpaku pada Levi dan mata para pria terpaku pada Eren.
Seorang pelayan perempuan berpakaian maid menyambut kedua pemuda itu di kasir. Pelayan itu menundukkan badannya hormat dan tersenyum.
" Selamat datang di Bake's and Top's Caffe! Ada yang bisa saya bantu untuk anda Tuan-tuan?"
Levi menatap pelayan itu datar dan melemparkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia merasa belum pernah ke caffe ini sebelumnya tapi dilihat dari dekorasi dan berbagai jenis kue yang disajikan−Levi merasa kenal tempat ini samar.
Termasuk... Dengan pemiliknya.
" Apakah... Mrs. Mina masih bekerja disini?" Tanya Levi singkat.
Pelayan itu tersentak dan menatap Levi dengan pandangan yang menyiratkan ketidakpercayaan. Ia sedikit menganga dengan mata berbinar. Menatap Levi dan Eren baik-baik sebelum tertawa lucu.
" L-levi...apa maksudmu?" Tanya Eren khawatir. Ia menggenggam lengan jas Levi erat.
Levi sendiri mendengus dan mengelus tangan Eren lembut. Membuat Eren terkesiap dan segera memalingkan wajah merahnya ke arah lain. Terlalu malu dengan semua perlakuan tiba-tiba Levi yang berubah begitu drastis.
" Kalian mengenal ya!?" Pelayan itu menatap Levi dan Eren dengan pandangan tertarik.
Eren tertawa kecil dan sedikit menyikut tangan Levi. " Ahahaha! B-bukan aku...Cuma dia! Aku orang baru di Jepang!"
Pelayan itu menatap Levi dengan seksama. Berusaha mengenali pemuda itu dari tanda-tanda di tubuhnya atau cara berpakaian. Wajah tegas dan mata tajam itu menatap tubuh si pelayan yang sedari tadi berputar-putar untuk melihat Levi lebih lanjut.
" Aku pesan kopi pahit tanpa gula." Levi seketika memesan dan membuat Eren menatapnya sangsi.
Pemuda bermata emerald itu menukikkan alisnya dan mencengkeram lengan kekar Levi dengan kuat. Seolah-olah ingin mengatakan Apa-apaan-kau-ini-kontet-sialan-!? dari pandangannya ke mata Levi.
Levi merangkul pinggul Eren dan membuat wajah Eren sektika memerah dan memakinya cepat. " Sialan!"
Pemuda bermata tajam itu hanya tersenyum miring dan menatap pelayan itu yang terbengong sesaat. " Kopi robusta asli. Diracik dengan takaran pas dan tanpa tambahan apapun."
Pelayan itu mengerjapkan matanya dan seketika berteriak senang.
" AHH! pernah memberitahu kami bahwa dulu ada seorang pemuda yang suka kopi robusta asli kami. Dia sering kesini sendirian. Dan namanya..."
" Levi?"
Semua mata menoleh pada tangga ujung. Terutama Eren dan tentu saja Levi. Pemuda tegas itu menghela nafas kasar.
Perempuan dengan rambut dikuncir dua keluar dari tangga atas menuju ruang bawah dekat kasir. Wajahnya yang tua dan mengeriput seketika berubah cerah. Wanita itu tertawa lirih dan tersenyum.
Membuat Levi terkekeh.
" Halo Mina. Lama tidak berjumpa"
Eren melongo dengan parah. Demi apa! Levi terkekeh dan tersenyum kecil! Ketua dingin ini tersenyum! Tersenyum! Ditambah nadanya yang begitu santai dan hangat. Tidak dingin atau menggoda.
Mina sendiri balik tersenyum di antara keriput di wajahnya. " Kau juga Levi−senang melihatmu kembali dengan mood baik lagi. Dan dengan...itu siapa? Partnermu?"
Eren menggeleng singkat dan menjawab cepat. " B-bukan Mrs! Kami hanya tem−"
" -Kekasih. Dia kekasihku, Eren Jaeger"
Mina dan Eren sama-sama terlonjak.
Wanita tua itu syok sesaat−terlalu fokus dengan perkataan gamblang Levi.
Tetapi setelahnya ada tawa bahagia yang mengiringi. Wajahnya yang sudah tidak muda lagi menjadi sangat cerah dan tepuk tangan dihasilkan dari kedua belah tangan kurus Mina. Membuat Levi mau tidak mau ikut terkekeh dan mengelus punggung Eren sayang.
Tapi berbalik dengan Eren sendiri.
Hanya ada erangan dan makian dikeluarkan dari mulut Eren. Mengutuk Levi dengan mulut blak-blakkannya yang kurang ajar.
" Aigoo...manis sekali pemuda ini~"
Mina dengan sengaja keluar dari tempat kasir. Badannya yang sudah menua−membuat jalannya tertatih-tatih dan lamban. Tapi itu semua tidak ada bandingannya akan rasa bahagia yang merayapi hatinya saat tahu kekasih Levi.
" Mina−Oi wanita. Kau sudah tua. Hati-hati jika tidak ingin wajahmu mencium lantai" Ucap Levi datar.
Ia menatap Mina dengan tatapan intens. Menjaga agar wanita tua itu tidak terjatuh dan melukai dirinya sendiri.
Tapi Mina hanya tertawa. Ia mengibas-ngibaskan tangan dan terkikik. Seperti kebiasaannya semasih muda dan membuat Levi yang kebetulan menyadarinya, menyeringai. Nostalgia manis mengulang masa-masa remaja Levi.
Seperti memutar ulang kaset lama dengan hati tenang.
" L-levi..kau?" Eren menatap Levi dengan pandangan kaget. Ia menatap wanita tua itu dengan tatapan menyelidik dan balik menatap Levi. Alisnya menukik tajam antara kebingungan dan curiga.
Entah mengapa−ada sedikit rasa cemburu merayapi hati Eren saat tahu Levi tersenyum kecil karena wanita tua itu. Mata Emerald milik Eren berkilat saat menatap Levi dan sesekali menarik jas Levi. Ia perlu penjelasan.
Sekarang juga.
" Itu...siapa? " Mata Eren menyipit dan nadanya lirih.
" Huh..." Levi menyeringai remeh dan menatap Eren dengan tatapan merendahkan dan menghina. " Merasa tersaingi dengan Mina atau cemburu denganku, bocah? Rautmu menggelikan"
Eren tersentak kaget−wajahnya seketika memerah karena ketahuan mencurigai Mina. " M-MANA ADA!? Dasar kau kurcaci pembual! "
Mina yang melihat pertengkaran manis kedua pemuda itu−tertawa senang. Membuat Eren membulatkan mata dan tertawa canggung. Dan Levi yang diam-diam makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Eren. Sesekali pemuda bermata tajam itu terkekeh.
" Kalian benar-benar pasangan yang sempurna!" Puji Mina. Ia tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit. " Tidak kusangka kau mampu meluluhkan hati pemuda pendek ini!"
" M-meluluhkan?" Tanya Eren bingung.
Levi seketika berdecak dan membuang muka cepat. Dan Mina hanya tersenyum manis melihat kelakuan Levi.
Mina mencubit pipi Eren gemas. " Isssh~ Umurku memang sudah tidak muda lagi tapi aku tetap tahu mana orang yang sedang jatuh cinta dengan bukan!"
Wanita itu melirik Levi dengan tatapan jail. Dan kembali menatap Eren yang mengelusi pipinya imut dan bibir mengerucut itu. " Kukira si pendek ini benar-benar dingin!"
Levi menarik Eren secara tiba-tiba untuk segera berjalan dan membuat pemuda manis itu memekik kaget dan reflek menyumpahi Levi seperti kebiasaannya. Wajah Eren dibuat masam dengan tatapan tidak suka terlontar pada levi yang begitu posesif.
" Ada ruangan khusus di lantai dua Levi! Kau bisa menggunakannya!"
Levi berdecak kesal dan melirik Mina tajam. " Aku tahu wanita tua"
" L-levi..."
Langkah tegap Levi terhenti seketika dalam menyeret Eren. Ia melirik pemuda itu dari mata tajamnya yang terkenal tanpa membalikkan badan hingga punggung tegapnya tereskpos ke hadapan Eren.
" Dasar kontet!" keluh Eren. Ia mengernyitkan dahi dan mencibir kasar. " kau melupakan pesananku dan hanya memesan milikmu sendiri!"
Levi mendengus. Ia sangat ingin menyeret Eren untuk berduaan saja dengan pemuda manis itu segera ke lantai atas, tapi ia malah melupakan pesanan Eren. Padahal alasan mereka berdua singgah kesini karena pesanan Eren.
" Wanita tua!" Levi mengangkat tangannya. " Satu shortcake khas Inggris"
Mina tersentak dan tersenyum. " Tentu saja pendek!"
.
.
.
.
.
.
.
Mata hijau emerald milik Eren menatap semuanya dengan tatapan berbinar penuh ketertarikan. Tidak pernah dalam hidupnya dia melihat sebuah ruangan dengan dekorasi klasik nan detail.
Dan anehnya ini di Jepang.
Negara Asia yang dikenal kurang toleran dengan budaya luar. Tapi lihatlah ini!
Lihat bagaimana lampu gantung itu bercahaya dengan indahnya. Dan lukisan serta patung-patung itu. Sofa dan kertas dindingnya menambah kesan klasik dan eropa yang kental dalam setiap sudutnya.
Bahkan di Jerman sekalipun−Eren belum pernah mendapati tempat seindah ini kecuali di Katedral yang ia sendiri sangat malas untuk datang. Kecuali jika Armin atau Mikasa yang memaksa dirinya.
" Mina adalah seniorku dari Prancis saat masih SD. Dia sudah SMA tingkat dua saat itu" Levi menyeruput kopi pahitnya sambil terus mengekori Eren yang berdiri di tengah ruangan. Tubuh kekarnya tersandar dari sofa merah bludru dan meja dari kayu oak.
" Woahhh...ini indah sekali." Eren berbinar menatap patung di dekat sofa Levi. "Apakah ada orang yang pernah kesini sebelumnya?"
Levi bergumam. Ia menatap datar Eren yang kakinya tidak bisa diam sejak memasuki ruangan. " Tentu−aku"
" Hah!?" Eren cengo. " Maksudnya kau itu apa?"
Sebuah kue blackforest di hadapan Levi−diaduk-aduk pemuda tegas itu dengan sendok peraknya. Memotong sedikit bagiannya dan menyendoknya. Tapi bukannya untuk dimakan, sendok berisi potongan kue itu malah didiamkannya.
" Ke sini Jaeger" panggil Levi.
Eren menaikkan alisnya bingung. " Ke sebelahmu?"
Levi menepuk-nepuk sofa di sampingnya dengan tatapan jengah. Menatap Eren dengan ancaman di mata hitam kecilnya yang menawan. Membuat sinyal tidak nyaman Eren menyala dan meraung-raung tidak karuan.
" Jika kau sudah tahu jawabannya untuk apa bertanya balik hah bocah bodoh?"
Eren mencibir Levi dan menghampiri pemuda itu dengan wajah merengut. Ia menghempaskan pantatnya kasar ke sofa dan seketika membuat sofa itu bergetar kecil. Hingga ke arah kaki Levi.
" Nah!" Eren melotot. " Sekarang apa!?"
" Makan"
Eren melotot ke arah sendok berisi coklat yang tepat berada di depan hidungnya.
"Apa!? Aku benci coklat! Jauhkan benda keparat itu dari wajahku, kontet!"
" Kau benci coklat?"
Eren mendengus kasar. " Mereka terlalu pahit dan kental! Aku tidak menyukainya!"
Levi menarik sendok itu. Perlahan, dan menatap Eren dingin. Ia memegang tangan pemuda manis itu yang kebetulan tepat berada di tengah mereka berdua dengan ancaman yang mencolok disana.
" Tapi sayangnya Eren..." Levi mencolek kue itu dengan telunjuknya. Mengoleskannya ke bibir bawah Eren dengan gerakan dingin. Membuat Eren segera menutupkan bibir dan mencegah agar coklat itu tidak masuk sedikitpun dalam indra pengecapnya.
" Peraturanku adalah perintah mutlak. Dan perintahku sekarang... habiskan coklat ini"
" APA!?" Eren berteriak kaget. " M-mana bisa begitu!?"
Tubuh kekar Levi tersandar pada sofa. Ia membentuk angka dua dengan jari lainnya yang bebas. Menatap Eren dengan tatapan dingin dan seolah-olah menantang dari kejauhan.
" Dua pilihan−makan coklat ini sekarang atau buka baju dan aku menyodokmu disini"
Wajah Eren berubah menjadi pucat seketika. Mata melotot dengan mulut menganga mendominasi perubahan raut pemuda berambut mahogani itu. ia sangat benci jika sudah diancam seperti ini. Apalagi Levi yang mengancamnya.
" Berikan coklat itu!" Eren menjawab ketus. Ia membuka mulutnya tidak rela.
Levi mendengus dan menyeringai. " Ini"
HAAAAAP!
" Tahan bocah. Jangan kau muntahkan disini atau aku akan memperkosamu balik"
Eren menggembungkan pipi. Ia benar-benar tidak suka coklat. Perutnya membalas dengan sangat spontan hingga rasa mual menjalari tenggorokan Eren. Membuat pemuda manis itu menggembungkan pipinya dan menutup mata kuat karena tidak suka dengan respon tubuhnya.
" MMMH...mmmmh!"
Levi yang melihat hal itu−hanya bisa memutar mata jengah.
CUUUUP!
Bibir Levi menekan bibir merah Eren yang belepotan coklat manis itu. Levi jadi menyuruh pemuda manis itu memakan coklat karena coklat itu melambangkan Levi. yang pahit dan kental dan lama-kelamaan menjadi manis atau makin pahit tergantung orang yang memakannya.
" Kau harus berhenti membayangkan rasa jijikmu bocah" Levi menghisap bibir bawah Eren dan mengelus daun telinga Eren. " bayangkan manisnya"
" Mmmh...a-aku" Eren mengerang. Ia mencengkram jas depan Levi kuat saat pemuda tegas itu menjilat sisa coklat di mulutnya dan bibirnya. " I-itu..nggh...ahh!"
Levi mendengus. " Benar-benar tipikal bocah bodoh."
Wajah Eren seketika terdorong menjauh dengan seutas benang saliva yang menggantung di sisi bibir plum pemuda Jerman itu. Rona merah menguasai seluruh muka Eren hingga ke telinga. Tapi mata hijaunya berkilat kesal.
" Kau tahu bocah?" Levi meletakkan sendok tadi ke piring dan memangku dagunya agar bisa menatap lurus ke dalam mata Eren. " Coklat pekat dan kopi tanpa gula adalah makanan favoritku−kusarankan kau mulai belajar untuk memakannya karena isi kulkasku akan penuh dengan kedua benda tadi. Termasuk wine dan bir"
Eren menatap Levi curiga.
" Apakah itu suatu... petunjuk bahwa aku akan menginap bersamamu?"
" Kau−belum tahu?"
" Tahu apa!?" Eren membeo tidak faham.
Mata Levi menatap Eren dengan pandangan begitu dingin. "Kau−tinggal−di−apertemenku"
" Sekarang juga"
" APAAAAAA!?"
.
.
.
.
.
.
.
Mikasa menatap datar tumpukan kertas di dalam sebuah map putih. Ia mendengus kasar dan mencaci isi kertas itu. Menyalurkan seluruh emosinya dalam satu waktu bersamaan hingga rasanya ia ingin terbakar. Kertas putih berisi data diri seseorang−ia remas dengan jengkel hingga permukaannya begitu kumal.
Begitu juga dengan kertas-kertas lainnya. Yang baru saja ia susun sedemikian rupa sesuai dengan tingkat kejahatan orang itu.
" Andai saja dia tidak meminta..." Wajah Mikasa memerah karena marah. " Aku tidak akan pernah mau membuka tentang dirimu, nii-san"
Gadis asia itu menghempaskan kertas yang baru saja ia remas ke atas map putih. Matanya menatap map itu dengan dingin. Senyum meremehkan dan angkuh tercetak di wajah Mikasa. Diperuntukkan khusus untuk Levi.
Mikasa menunjuk map putih. " Kau..."
" Kau membuatku sangat kecewa..." Mikasa terkekeh ngeri. " Kukira kau adalah seorang Ackerman yang paling dimuliakan. Ackerman terhebat−lebih hebat dari diriku sendiri. Seorang laki-laki sejati tapi nyatanya sendiri−tidak"
Ia menatap ruangan yang cukup gelap di sekitar tubuhnya dengan kilat dingin. Serta rasa kecewa yang teramat besar hingga tak tertampung. Ruangan berisi kasus-kasus kejahatan terberat di seluruh Jepang itu−menjadi teman Mikasa sekarang.
Yang dengan sangat terpaksa gadis itu datangi. Bahkan ia tidak ingat kapan terakhir kali ia mendatangi tempat terkutuk ini. Rasanya benar-benar sangat lama dan terpendam dalam memori mimpi buruknya.
Tapi yang hanya Mikasa ingat dari itu adalah dia masih berusia 7 tahun saat itu. Dengan pandangan polos dan mata berair karena terisak keras.
Mikasa kecil meremas syal merahnya kuat dan menjeritkan nama Levi dalam ketakutan. Saat tangan Levi diborgol dengan kuat dan diseret secara tidak manusiawi di depan Mikasa kecil−saat itulah Mikasa berteriak dengan sangat keras dan menangis meraung-raung.
Memanggil nama Levi. Ketakutan saat pemuda tegas itu dipisahkan dari dirinya.
Mikasa bahkan perlu ditahan hampir 10 polisi perempuan dewasa karena meronta dengan kekuatan yang membuat orang dewasa tercengang. Ia menendang setiap orang yang mencegah. Mencegah dirinya untuk memeluk kakak tersayangnya itu dalam ketakutan.
.
.
.
.
.
.
" HIIKKS! LEVI NII-CHAN!"
" LEPASKAN AKUUU! AKU MAU ONII-CHAN! HUWAAAAAAA! LEVIIII NII-CHAN! HIKKSS...LEVI!"
Levi membalikkan badannya dan tersenyum sangat kecil pada Mikasa yang menangis meraung-raung. Ia bahkan terus berlari-lari kecil untuk mendekati Levi tapi terus ditahan oleh opsir di samping tubuh Levi.
" Nii-chan..." Mikasa menangis. " H-hikksss...Mikasa t-takut...Levi nii-chan jangan pelgi..."
" Mikasa..."
Levi membuka suara lirih. Suaranya terdengar sangat serak akibat habis disiksa dan dipukuli berpuluh-puluh opsir polisi berbadan kekar layaknya tentara yang sangat terlatih. Darah menetes dari ujung dagu Levi dan mata tajamnya.
" Mikasa jangan takut...Nii-chan akan melindungi Mikasa apapun yang terjadi"
Mikasa terisak makin keras.
" H-HUWAAAAA! ONII-CHAAAAN! HIIIKSSS!"
Sreeeeeet!
Levi dan Mikasa sama-sama membulatkan mata kaget saat tubuh Mikasa tiba-tiba diangkat dengan tidak manusiawi oleh seorang opsir. Tanpa segan, ia memukul pantat Mikasa kasar. Membuat gadis itu berteriak sangat nyaring dan membuat salah satu opsir lainnya menampar pahanya dan mencacinya.
" KYAAAAAAAAAA! HUWAAAAAAAA!"
PLAAAAAAK!
" DASAR ANAK NAKAL! KAKAKMU ADALAH PEMBUNUH! DIA PEMBUNUH GADIS BODOH! DAN KAU MASIH SAJA MEMBELANYA!?"
PLAAAAAAK!
" Hikksss!" Mikasa menatap Levi dengan mata berair dan wajah kesakitan. "HYAAAAAAA! N-NII CHAN BUKAN PEMBUNUH! GYAAAAA! J-JANGAN PUKUL MIKASA! SAKIIITT! HUWAAAAA!"
PLAAAAAAK!
PLAAAAAK!
PLAAAAAAAAK!
"ANAK NAKAL DAN KERAS KEPALA SEPERTIMU HARUS DIHUKUM! HARUS!"
Mikasa menggeleng sangat kuat dan berteriak. Menatap Levi dengan mata sangat berair. Bahkan ia meronta begitu keras saat tangan opsir itu akan kembali menampar pantatnya dengan tamparan yang sanggup membuat anak kecil lain langsung demam.
" TIDAAAAAK!
SREEEEEEET!
BUAAAAAAAGHHH!
" ARRRRRGGGGGGHHHHHH!"
" Kau menyentuh adikku−kepala kalian semua putus!"
Mikasa syok.
Levi tiba-tiba berdiri dan menendang semua opsir di tempatnya dengan sangat brutal dan menggila. Bahkan pemuda itu berteriak dalam emosi yang meledak dan membunuh mereka.
Levi menggigiti leher mereka semua hingga berdarah dan membuat mereka berteriak ngeri. Tangannya masih diborgol tapi tubuhnya gesit secepat senapan angin. Ia berlari mengejar mereka dan menggeram layaknya singa.
Memukuli kepala mereka dan mempenyokkannya di bawah kakinya. Menendang punggung mereka semua hingga patah. Menginjak dada para opsir dan membuat mereka muntah darah.
Mematahkan tulang wajah mereka dalam sekali pijakan.
Levi menggila.
Levi rela berlutut di tubuh opsir yang tadi memukuli Mikasa−mengggigit lehernya ganas hingga darah segar muncrat layaknya air pancuran. Tepat mengenai urat pembuluh darahnya. Membuat opsir itu berteriak dengan sngat nyaring dan tubuh Levi penuh darah seperti psikopat.
Bukannya berhenti−Levi makin berteriak dalam emosi yang menjadi-jadi. Berdiri dan menginjak-nginjak tubuh opsir itu. Meloncat-loncat hingga dadanya seketika rata dengan perut. Dan darah muncrat kemana-mana di ruangan itu.
" Ini!" Levi berteriak menggila.
" balasan!" Ia menginjak-nginjak wajahnya berulang kali hingga hancur.
" karena!" menendang tubuh opsir itu dan membuat tulangnya rusuknya patah.
" menyiksa adikku kau bajingan keparat!"
" ARRRGGGHHH!"
BUAAAAAAAGGHH!
Dan Mikasa ketakutan.
Ia terdiam dengan mata penuh kengerian saat kepala opsir itu menggelinding di hadapannya. Dengan mata terbalik dan wajah sepenuhnya hancur seperti di-press dengan mesin penghancur mobil bertenaga tinggi.
Darah membanjiri ruangan dan kepala itu.
" L-levi..n-nii chan"
Levi berhenti menginjak seorang opsir dan menatap Mikasa dengan senyum lirih.
"Ya Mikasa?"
" K-kenapa kau melakukan ini semua?"
Levi berdiri dan terkekeh.
" Karena Nii-chan sayang Mikasa. Onii-chan sudah berjanji dengan mommy untuk selalu menjaga Mikasa dan aku menjamin itu"
DOOOOOR!
DOOOOOOOOR!
DOOOOOOORRRR!
" NII-CHAN!"
Levi ambruk seketika saat tiga peluru bersarang di pahanya. Ia membulatkan mata dan menatap benci para tentara yang datang dan menembak tubuhnya tiba-tiba. Bahkan Levi menyumpah.
" BAWA PEMUDA ITU! DIA BERBAHAYA!"
Mikasa kaget dan seketika ingin berlari dengan mata basah ke arah Levi yang ambruk seperti opsir-opsir itu. Takut kakaknya akan bernasib sama dan mati mengenaskan dengan tubuh berdarah seperti opsir-opsir itu.
Tapi belum beberapa langkah−ia langsung diseret dengan sangat keras hingga seketika kembali berteriak dan meronta.
" LEPAAAAAAAAAS! GYAAAAAAAA LEPASKAN MIKASA! MIKASA MAU BERSAMA NII-CHAAAAAAN! HUWAAAAAAAA!"
" Husssh Mikasa! Ini Papa!"
Mikasa terkesiap kaget dan menatap papanya dengan mata basah. " Hikkks papa! Tolong nii-chan! Papa tolong levi nii-chan! H-hiksssss..."
" Tidak"
" KENAPA!?" Mikasa membalas dengan nada tinggi.
" Karena kakakmu sudah membuat kesalahan yang fatal Mikasa. Dia bukan lagi Ackerman. Dia bukan anak papa. Dia bukan lagi kakakmu"
Mikasa menatap papanya syok. Ia seketika mengalihkan pandangan ke arah Levi yang sedang diangkut dengan ganas oleh para tentara dan membuat tubuh Levi terseret-seret seperti sampah bekas.
" N-nii-chan..." Mikasa membulatkan mata polosnya dan ia ditangkap oleh Levi.
" Maaf, Levi bukan kakakmu lagi Mikasa..." Levi terkekeh. " Jaga dirimu Ackerman. Aku tetap akan menjagamu"
.
.
.
.
.
" Sialan!"
Mikasa menyumpah dan menendang meja kasar. Ia seketika emosi saat putaran tentang memori itu masih berputar di kepalanya dengan begitu jelas. Membuat Mikasa yang biarpun sedang emosi tapi dapat kalian lihat matanya berkaca-kaca.
" Levi bodoh!" Maki Mikasa. Ia memencet tombol hp-nya tergesa-gesa. " Dasar brengsek! Kau kira hiksss...kau siapa hingga bisa berkata seperti itu padaku hah!?"
Mikasa terisak kecil. Ia seketika menelpon orang dengan mata memerah dan mulut mengatup rapat. Rautnya sangat keras biarpun matanya begitu basah.
" Cepatlah..." Mikasa menghentakkan kakinya.
" Halo?"
" Halo? Kau Annie bukan? Ini aku Mikasa. Aku dapat semua datanya sekarang"
Annie bergumam dari seberang telepon. " Bagus sekali dan terima kasih"
" Tolong antarkan itu. Kita akan bertemu esok di dekat Maria Highschool oke? Aku akan memberimu semua tentang SurveyCoprs Higschool sebagai imbalannya"
Mikasa menarik nafas. " Baiklah"
Dan seketika telepon terputus dari sisi Mikasa. Gadis asia itu memutuskan sambungan dengan wajah emosi. Ia menarik semua file di atas meja dengan sangat kasar dan menatap foto Levi saat SMP itu dengn wajah angkuh.
" Kita lihat saja Nii-san! Kita lihat apakah kau masih bisa bertahan dengan perubahan seperti itu"
.
.
.
.
.
.
Eren mengerang tertahan.
Entah nafsu Levi yang luar biasa atau tubuhnya yang lemas, jelas-jelas ia sendiri tidak tahu.
Termasuk tidak tahu kapan Eren sendiri sudah terbaring pasrah di sofa dengan baju terangkat dan wajah sayu.
" L-levi... Hentikan bodoh! "
"Mmh? Tidak... "
Pemuda manis itu menjerit tertahan. Jari jemari lentik milik Levi terus menerus mencubit dan memainkan kedua nipple merah kecoklatannya dengan nakal.
Menarik-narik ujungnya lembut dan tiba-tiba saja langsung menggaruk kepalanya berulang kali hingga Eren terkesiap dan melenguh.
" J-jangan... Ngghh.. B-berhenti... "
Eren menahan kepala Levi yang mendekat dengan nipple-nya. Bersiap-siap untuk mencicipi benda itu. Dengan lidah atau gigi sensualnya.
" Tidak Jaegerku, jangan egois."
Sluurrrrp!
" Gyaaaaa!" pekik Eren kaget. Tangannya seketika meremas rambut rapi Levi hingga semuanya terlihat begitu berantakan.
Levi memainkan lidahnya nakal. Sesekali ia menghisap begitu kuat. Seolah-olah berharap ada sesuatu yang keluar darisana dan memenuhi mulutnya.
Mata Levi menatap Eren intens. Terlalu fokus pada setiap respon yang diberika tubuh Eren saat ia mulai nakal.
" Lubangmu berkedut bocah"
" H-hah?" Eren bertanya balik tapi wajahnya memerah dan basah. " A-apa? "
" KYAAAAAA! "
Badan Eren melengkung kaget. Jari telunjuk Levi menusuk-nusuk lubang merah Eren dari luar celana.
Membuat cairan rektumnya merembes hingga bagian lubang di celana Eren basah.
" Ckk.. Lihat ini bocah" Levi menarik jarinya dan merasakan tekstur basah yang lengket disana. " Lubangmu begitu merindukanku eoh?"
"Mmnhhh! " Eren menggeleng kuat.
" Cih! Tidak? "
"y-ya! Dasar kau cebol mesum! "
Levi tersenyum miring. Ia menjauh dari tubuh terlentang Eren, duduk dan menatap pemuda manis itu remeh.
Pemuda tajam itu menjetikkan jari dan seketika membuat Eren kebingungan.
" Apa maksudmu cebol? "
Mata hitam Levi berkilat nakal. "Apakah aku pernah memberitahumu soal gudang penyimpanan sex toys ku bocah? "
Wajah Eren seketika memucat. Matanya melotot parah. " J-jangan bilang... "
" Kurasa kau sudah tahu jawabannya. "
" Aaaaaahhh! L-levi! "
Jalan-jalan yang menyenangkan ya?
.
.
.
T
B
C
XD
