CHAPTER 14

.

.

.

AN ATTACK ON TITAN FANFICTION

.

.

.

CAST :

ALL SNK CHARACTERS AND MY OC ( LATER)

.

.

.

PAIRINGS:

RIREN ( MAIN)

ERUMIN

JEAN X ARMIN

.

.

.

WARNING !

YAOI

BL( BOYSLOVE)

SOME MATURE CONTENTS

FULL OF RUDE AND MATURE WORDS. VIOLENCE AND BLOODY

RATED : M ^^

.

.

.

SEMUA CHARA DI SNK ADALAH MILIK HAJIME ISAYAMA SENPAI

SAYA HANYA MEMINJAM ^^

CERITA ORIGINAL DARI SAYA

.

.

.

NO PLAGIAT DAN REPUBLISH ATAU REUPLOAD TANPA SEIZINI SAYA -_-

SUMPAH...BIKINNYA ITU MEMERLUKAN PENGORBANAN NILAI SEKOLAH DAN SELURUH JIWA

.

.

.

HOPE YOU ENJOY IT ^w^

.

.

.


.

.

.

.

.

.

Tokyo

.

.

.

Siapa sangka salju akan turun lebih cepat dari yang kita kira? Lebih cepat dari yang semua orang prediksi? Lebih random dan misterius dari yang biasanya orang mengerti dan ketahui?

Dan itulah hidup.

Salju itu sendiri putih, bersih, dan jernih−yang bisa saja berarti dan melambangkan banyak hal. Dari hal−hal yang umum hingga yang asing, yang sederhana hingga yang mendetail, yang biasa hingga yang tak terdefinisikan, yang baik hingga yang kelam, dan yang menyenangkan hingga yang menyakitkan.

Semua hal itu terus mengekori dan mengikuti setiap langkah yang tercipta dari langkah Levi kecil−yang sedang berjalan di atas tanah negeri matahari terbit. Melewati tumpukan salju tipis yang menghiasi jalanan dan trotoar Macan Asia itu.

Mata tajamnya mengkilat. Menatap bagaimana salju-salju turun dari langit menuju tanah. Menghiasi bumi itu sendiri dengan sprektum warna putih bersih yang begitu menenangkan dengan pemandangannya, tetapi menusuk dari caranya menyentuh setiap kulit anak Adam yang berjalan di atas tanah.

Levi menghela nafas singkat dan segera menutup mulutnya dengan syal hijau yang bertengger manis di leher jenjangnya saat seberkas asap putih menguar ke udara.

" Tidak kusangka Tokyo sudah sedingin ini..."

Mata hitam Levi melirik lampu lalu lintas khusus pejalan kaki. Ia sesekali menggenggam mantel bulunya dengan erat−bisa dibilang ia sedang menetralisir rasa dingin yang merayapi melalui tangannya.

Badannya yang memang sudah tergolong pendek daripada orang seumurannya−semakin terlihat lebih pendek dan bahkan tenggelam di antara barisan para pejalan kaki yang terdiri dari pada siswa menengah atas dan para pekerja.

Levi sendiri melirik raut wajah satu per satu dari mereka semua. Biarpun dia lebih banyak diam dan memasang wajah seolah masa bodoh dengan lingkungan di sekitarnya, tapi sebenarnya diam-diam dia memperhatikan semua orang. Membaca karakter dan kepribadian mereka.

Biarpun umurnya baru 7 tahun tapi layaknya anak-anak keturunan bangsawan Prancis lainnya, didikan sempurna dan lebih berkualitas daripada anak biasa sudah diberikan pada dirinya bahkan sejak mereka baru lahir.

Raut orang-orang itu sendiri terlihat begitu bahagia−membuat Levi mendecih dan terdiam. Ia mencengkram mantel bulunya lebih kuat saat melihat beberapa siswa tertawa dan bercanda dengan bebasnya sambil mengantongi pernak-pernik musim dingin di tangan mereka.

Ia juga melirik para pekerja. Kebanyakan dari mereka menelpon dalam keadaan berdiri. Tapi yang didengar oleh Levi bukanlah pembicaraan soal bisnis dan hal serius lainnya yang merupakan tipikal para pebisnis.

Bocah berwajah tampan itu menyipitkan mata. Ia hanya bisa mengernyitkan dahi saat para pekerja itu tertawa. Membuat-buat suara lucu dengan pekikan khas anak kecil terdengar dari seberang. Bahkan beberapa dari mereka mengatakan perkataan sayang kepada orang yang mereka panggil.

Sekali lagi−Levi hanya bisa menghela nafas lebih banyak. Sebanyak salju-salju yang semakin turun.

Hari ini adalah hari pertama musim dingin. Tepat seminggu setelah kepindahan Levi dari Paris ke Tokyo. Ke tanah kelahirannya yang bisa dibilang terkutuk. Siapa yang tidak ingin mengatakan tempat ini terkutuk jika ibumu yang notabenenya telah diperkosa dan melahirkan dirimu di tempat itu?

Dia akan dicap sebagai anak haram jika saja ayahnya tidak melihat sebuah potensi di dalam diri Levi kecil dan sebuah tekad di hati Isabel.

TRIIINGGG!

Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau secara cepat dan hal itu juga tidak disia-siakan oleh para pejalan kaki yang sudah menunggu. Dengan tidak sabarnya semua orang berebut untuk berjalan lebih dahulu−berusaha untuk pulang ke rumah dan keluarga mereka masing-masing.

Membuat Levi berdecih kecil dan menunggu. Sifat tidak ingin kalahnya ingin membludak tetapi dia harus menahannya sekarang. Dia hanyalah seorang anak kecil di antara puluhan orang dewasa lainnya.

Apa yang diajarkan ibunya tentang kesopanan melintas begitu saja melalui pikiran Levi. Jadinya bocah bermata tajam itu harus menghelan nafas berat dan menatap semuanya dengan pandangan datar nan dingin sedingin suhu musim dingin di kutub selatan. Menunggu waktunya untuk lewat segera.

Dia lebih sayang badan sendiri daripada kebutuhannya untuk segera berjalan. Jepang adalah negara yang teratur, tetapi tetap saja Levi benci bersama orang banyak dan lebih memilih tempat yang sunyi dan tenang untuk dikunjungi. Termasuk berjalan bersama di antara kerumunan pejalan dan kerlap-kerlip berhiaskan natal dimana-mana.

PUUUKKK!

" Kau ingin lewat?"

Levi sontak membulatkan mata dalam keterkejutan saat sebuah tepukan mendarat mulus pada bahu tegapnya. Membuat bocah kecil itu membalikkan badan sigap dan menatap orang yang menepuknya dengan pandangan begitu tajam.

Tapi bukannya ia akan segera memarahi orang itu, Levi malah kembali dikejutkan dengan siapa yang menepuk bahunya sedemikian rupa. Terkejut dengan rambut hitam yang dikuncir ganda dengan ikatan longgar dan wajah manis. Sebuah luka tercetak di sudut bibirnya dan lebam di tangan kanannya. Dan wajah oriental prancis itu.

" Mina?"

Mina tertawa lembut. " Haha...ternyata kau masih mengingatku!"

" Berapa lama kau tidak ke Jepang? Engh..3 atau 4 tahun?"

Levi memutar mata jengah. " 5 tahun"

" Ahhh ya! 5 tahun!"

Mina yang diliputi rasa senang, dengan tidak berprikemanusiaannya segera menarik tangan kecil Levi. Membawa bocah kecil itu berlari dengan sekuat tenaga dan tawa kencang yang membahana di seluruh jalanan. Dan hal itu membuat seluruh pasa mata melihat mereka dengan rasa keterkejutan dan bingung.

Tapi di balik itu semua− Levi lebih terkejut lagi. Sekaligus kesal.

" HEI! HEI WANITA! PELAN-PELAN ATAU AKU AKAN MEROBEK ROK SIALANMU ITU!"

Levi berlari dengan pandangan tajam dan dingin. Dia mencengkram lengan mantel milik Mina dengan begitu kuat dan liar seiring liarnya juga Mina berlari dan berteriak senang. Melewati barisan jalanan yang penuh. Dan mengagetkan orang-orang hingga kerumunan terpecah demi membuka jalan untuk kedua orang yang berlari seperti ferrari.

Mina menatap Levi yang terlihat seperti berusaha untuk merobek seluruh lengannya. Tapi ia hanya tertawa. " KAU MAU KEMANA PENDEK!?"

" APA?"

Aapakah Levi baru saja mendengar kata pendek dari mulut gadis sialan ini? Oh..kurasa dia mau cari mati dengan Levi. Biarpun dia hanya seorang anak kecil berusia 7 tahun tapi jangan remehkan kekuatan nya. Yang setara 10 orang anak remaja berusia 15 tahun.

" Kau bilang apa tadi?" Tanya Levi menusuk.

" Nggh...kau mau pergi kemana pendek?"

BUAAAAGGGGHHH!

BRUUUUUKKKKK!

" KYAAAAA! TOLONG DIA!"

Ini di luar batas urat kesabaran bocah kecil itu. Ia sudah muak melihat sifat random Mina setiap kali ia pergi ke Jepang. Pelatih bela dirinya yang satu ini sudah membuat Levi kesal seumur-umur jika melihat wajahnya.

Gadis itu baik dan manis tapi sifat aslinya−dia aneh dan random. Dan juga gadis tangguh yang suka berkelahi. Dan mempunyai sifat dua sisi yang persis sama seperti Levi. Satu penyayang dan lembut tetapi satunya lagi bisa ganas dan mematikan.

Levi bernafas dengan helaan yang berat. Ia melap permukaan tangannya dengan jijik ke salah satu dinding toko yang ada di jalan tersebut. Darah Mina menetes dari ujung jari milik Levi dan membasahi lantai trotoar di bawah kakinya.

Dan Mina yang terguling dengan wajah lebam dan bibir mengeluarkan darah segar akibat pukulan Levi. Tapi gadis itu bukannya kesakitan, dia malah tertawa dan tersenyum pada Levi yang menatapnya dingin.

" Ya..ya...ya... kukira kau akan melupakan ajaranku saat di Prancis!" Mina mempoutkan bibirnya. " Ternyata kau masih saja sama!"

Levi mendecih. " Ya...karena kau masih sama gilanya seperti saat mengajarku di Prancis"

Mina terkekeh. Ia berdiri dengan bertumpu pada kedua tangannya dan menatap Levi dengan kilatan mata hitamnya yang bahagia. Tapi Levi tahu bahwa mata Mina berkilat liar. Hasrat berkelahi gadis itu bangkit sesaat setelah Levi memberikan luka baru pada tubuhnya. Seperti saat saat lama di Paris.

" Hoho...ternyata kau benar-benar mengingat pelajaranku,Tuan Levi Ackerman..."

Levi menyingsing lengan mantel. Persetan dengan musim dingin dan salju−Ia harus menetralisir sifat buas Mina sekarang juga sebelum orang-orang di sekitar sini menjadi korban amukan gadis itu.

" Aku tidak akan keberatan untuk membunuhmu disini, pelatih" Levi menatap Mina datar dan berjalan menghampiri gadis itu dengan lengan tersingsing. Wajahnya yang sudah dingin semakin bertambah dingin akibat suhu semakin turun. " Malahan hal itu akan mengurangi bebanku di Jepang..."

Mina juga sama-sama berdiri. Ia meludahkan darah ke sisi jalan dan menatap Levi dengan pandangan gelap. Tawa sadis terangkat dari mulutnya. Membuatnya begitu menakutkan bahkan lebih menakutkan daripada setan itu sendiri. Mina sedikit menundukkan badannya akibat perbedaan tinggi dan umur mereka begitu kentara.

" Boleh juga..." ucap Mina. " Mari kita lihat seberapa besar perubahanmu, Levi Ackerman"

Levi mendengus. " Menyusahkan"

" Mari mati/Mari mati!"

BUAAAAGGGH!

SRREEEEEET!

Jeritan ketakutan dan ngeri menghiasi jalanan saat itu juga. Semua orang tua menyeret anak mereka panik dan para pengguna jalan lari terbirit-birit sambil berteriak sangat nyaring hingga mampu membuat kepanikan massal.

Para pemilik toko meninggalkan atau menutup toko mereka secara serentak saat melihat bagaimana Levi menendang perut Mina dan Mina yang meninju dada bocah kecil itu. Yang satu muntah darah yang satunya batuk darah.

" Haha!" Mina tertawa. " Tidak kusangka Levi!"

BUAAAAGGGH!

Levi menjauh dengan gesit saat kepala tinju Mina yang sekeras baja itu hampir melukai tempurung otaknya. Membuat tinju itu melesat 3 cm dari telinga kanannya. Levi menatap Mina datar dan mengarahkan kakinya sangat cepat hingga Mina tak mampu berkedip saat kaki itu mengenai leher kanannya.

" Diamlah keparat"

SREEEEETTTT!

BRUUUUGGGH!

" NGHK!"

Seorang mahasiswi sontak menjerit sangat nyaring karena leher Mina terdongak seperti akan putus dan tubuhnya melesat begitu kuat ke badan jalan hingga membuat beberapa pembatas jalan tercecer dan meretakkan trotoar.

Tanpa ampun−Levi berlari ke arah Mina dengan kecepatan penuh. Dan Mina hanya bisa melebarkan mata karena kaki jenjang milik bocah bermata tajam itu menendang tepat di rusuknya. Membuatnya kehilangan nafas hampir 70 % dari biasanya.

BRRRUGGGGH!

" Selamat mati, pelatih" Ucap Levi datar.

Mina terkekeh. " Belum dulu..."

Tanpa disadari oleh Levi, Mina mengangkat tangannya yang penuh darah dan meninju tungkai Levi dengan sangat keras hingga bocah itu terhentak menimpa badan jalan. Mina bangkit dengan nyamannya dan menendang perut Levi.

Kali ini giliran Levi yang terseret dan menimpa pot bunga di badan jalan. Membuat pot itu oleng dan pecah karena hantaman punggungnya yang diluar kekuatan manusia biasa. Salahkan kekuatan kaki Mina yang setara dengan pukulan besi berukuran jumbo.

" Kurasa jika aku membunuh anak kesayangan Bangsawan Ackerman...aku tidak akan salah kan?" Mina menahan leher Levi dengan kakinya dan tertawa. " Haha...iya kan, Levi?"

Tapi anehnya, Levi terkekeh santai. Ia mencengkram pergelangan kaki Mina yang menginjak lehernya sangat kuat seolah-olah ingin meremukkan tulangnya. Mina meringis saat kuku jari Levi menusuk dalam menuju kulitnya dan ia yakin kakinya berdarah karena jari Levi.

" Kurasa iya... hanya saja" Levi menyeringai setan. " tidak semudah itu untuk membunuhku, bajingan"

DUAGGHHHH!

BRRRRUUUUUK!

Dengan sekali gerakan, Levi menarik kaki Mina dan membanting tubuh gadis itu langsung ke badan jalan. Tepat di sampingnya. Menahan dada Mina dengan kaki jenjangnya serta menarik dua kuncirnya hingga rambut hitam indah milik gadis itu tergerai.

Dan Levi leluasa menariknya.

" Rambutmu indah, noona" Levi terkekeh. Ia menatap Mina dengan tatapan membunuh. " Membuatku ingin sekali membabatnya habis"

Mina sendiri mempotkan bibir dan menyilangkan tangan. Wajahnya sudah separuhnya berlumuran darah segar dari kepalanya yang bocor. Menghiasi tumpukan salju di jalanan dengan darah Levi dan Mina yang terus menetes dan bercucuran kemana-mana.

" Sejak kapan kau memakai bahasa korea, pendek?" Tanya Mina sinis. " Seingatku aku tidak pernah mengajarkanmu satupun dari bahasa itu"

" Dasar pikun" Maki Levi. " Kau pernah menyeretku ke Korea saat aku berumur 5 tahun. Mengajariku bertarung disana sekaligus liburan untuk berkelahi di negeri itu. Siapa lagi orang sebodoh dirimu sampai melupakan hal itu? Bolehkah aku menyebutmu Byuntae noona?"

Mina mengerang dan mengeluh. " Aku bukan Byuntae! Berhenti menyebutku byuntae dasar kau kerdil kurang perhatian! Dan lepaskan rambut indahku!"

Levi makin menekankan kakinya dan menarik rambut hitam legam milik Mina. Membuat gadis itu menendang punggung Levi kasar dan berhasil meloloskan diri dari kunkungan mengerikan bocah kecil nan liar itu.

" Lihatlah...kau sudah membuat jalanan menjadi seperti bekas perang"

Mina menatap jalanan yang luar biasa kacaunya dan darah dimana-mana dengan tawa canggung. Ia mengaruk tengkuknya dan menatap Levi kecil yang berusaha berdiri di antara dinginnya salju dan tanah di bawah kaki mereka.

" Darah, keringat, dan air mata" Mina tersenyum saat Levi menatapnya tajam dari seberang jalan. " Ingat itu Levi... jika kau ingin mendapatkan sesuatu yang benar-benar kau inginkan...korbankanlah Blood, Sweat, and Tears"

Levi membersihkan salju-salju yang menempel di seluruh badannya sambil sesekali tertawa angkuh.

" Setelah memukuliku kau menasehatiku... benar-benar tipikal seorang keparat"

Mina tersenyum dan menampilkan giginya. " Hehe! Aku baik kan? Dan oh! Jangan lupa sering-seringlah berkunjung ke caffe ku!"

Levi seketika mengernyitkan dahi kuat. " Kau punya caffe?"

Belum sempat Levi memprotesnya, Mina sudah berlari terlebih dahulu. Meninggalkannya dengan wajah lebam, tubuh penuh darah, dan keadaan kacau. Gadis itu memang aneh sejak awal.

Tapi itulah yang membuat Levi menyayangi pelatih dan ibu pengasuhnya itu. Biarpun mereka sering sekali berkelahi bahkan hampir membunuh satu sama lain dengan pedang dan anggar sewaktu di Paris−dia tahu, saat ibu dan ayahnya bertengkar, tempat pertama yang akan Levi datangi untuk berpikir jernih dan menjauhi pertengkaran itu adalah Mina.

Jadi saat ia akan pindah ke Jepang−Levi tidak akan mempemasalahkan hal itu. Malahan ia akan bersyukur. Mina sendiri harus pindah ke Jepang dua tahun sebelum ia sendiri pindah ke Jepang.

Tapi untunglah... dia tahu dimana gadis itu akan tinggal.

" AH...L-LEVI NII-CHAN!"

Levi membalikkan badan dan tersenyum lirih saat dua orang anak perempuan berusia sama sekitar 5 tahunan berlari ke arahnya. Yang satu lagi memakai kimono dan yang satu lagi seragam khas anak SD di Jepang.

Mikasa kecil lah yang pertama kali sampai karena ia hanya memakai rok pendek dan membuat larinya sungguh gesit. Gadis Asia bersyal merah itu tersentak saat melihat tubuh Levi yang kacau. Dengan darah mengalir di sudut bibirnya dan lebam dimana-mana.

" O-onii chan...k-kau terl−"

" –Aku tidak apa-apa" Potong Levi cepat. Ia menepuk puncak kepala gadis asia itu. Membuat Mikasa menatap Levi dengan mata berair dan berkaca-kaca. Mikasa menjatuhkan tasnya dan beralih memeluk tubuh Levi.

" H-hiks...O-onii chan kenapa?" Mikasa terisak dan membuat Levi tertawa.

" Kenapa kau mudah sekali menangis Mikasa?"

Mikasa menggeleng-gelengkan kepalanya dan terus memeluk Levi dengan erat. Seolah-olah kakaknya itu bisa saja terluka lagi misalnya ia melonggarkan pelukannya sedetik saja.

" Karena onii-chan luka seperti ini..h-hikss...o-onii chan nanti p-pergi lagi...Mikasa dengan siapa di mansion?"

Di belakang Mikasa sendiri, terdapat Nanaba kecil yang memakai kimono besar dan sebuah pedang kendo di sebelah tangannya. Ia dan Mikasa diberitahu oleh Bibi Isabel bahwa Levi akan ke rumah Nanaba sedangkan yang dicari sedang keluar bersama Mikasa.

Jadilah kedua gadis kecil itu berlari mengejar Levi. Tapi dikejutkan dengan keadaan Levi yang seperti habis dipukuli oleh orang-orang secara massal. Begitu kacau dan berdarah. Membuat Nanaba yang notabene-nya sudah pernah berlatih Kendo sedari kecil−bergidik ngeri misalkan ia berada di posisi Levi.

" Sudahlah..." Levi menepuk kedua pipi Mikasa agar gadis asia itu berhenti terisak dan membasahi mantelnya. " Di belakang ada Nanaba"

" Ka...Kakak sepupu!" Panggil Nanaba. Ia melambaikan kipas kecil di tangannya ke arah Mikasa dan Levi agar kedua orang itu dapat melihatnya. " M-mikasa chan!"

Levi dan Mikasa sama-sama menoleh ke arah Nanaba yang berhenti tepat di depan mereka berdua dan bernafas terengah-engah. Mikasa spontan menepuk kepala Nanaba demi menyemangati gadis kecil itu. Sedangkan Levi... dia fokus pada pedang Kendo di pinggang Nanaba.

" Kau masih berlatih kendo, Nanaba?"

Nanaba mengerjapkan matanya. " Eoh?"

" Itu"

Levi menunjuk pedang Nanaba dan seketika gadis kecil itu mengangguk mantap. "Tentu saja! Ojii-san menyuruhku untuk terus berlatih kendo...dan ayo kita ke rumahku! Di luar semakin dingin! Aku tidak kuat lagiii~"


.

.

.

.

.

.

.

.

" Tidak dan tidak pendek!"

Mina menatap Levi tajam sambil terus mengelus kepala Eren yang terlihat sedang bersembunyi di belakang tubuh tuanya. Pemuda berambut Ebony itu terus menerus bersembunyi dan berulang kali mengalihkan pandangannya dari tatapan mengancam Levi yang seolah-olah berkata ' Kau milikku dan segera bawa tubuh sialanmu itu kembali ke pangkuanku'.

" Menjauh dari kekasihku kau keparat" Cibir Levi. " Dia milikku dan apa hakmu untuk mengambil Eren sembarangan hah?"

Mina menyipitkan mata dan menggelengkan kepalanya. " Bocah ini terlalu polos untuk kau siksa dengan seluruh mainanmu itu. Bagaimana jadinya jika aku tidak datang ke atas? Mau kau apakan Eren imut ini?"

Eren mengiyakan jawaban Mina dan mengangguk imut tapi ia segera bungkam saat lagi-lagi Levi menggeram ke arahnya dan menatapnya kelewat tajam. Membuat Eren merasa benar-benar terselamatkan oleh kehadiran Mina.

" Kembalika Erenku wanita tua" Levi menatap Mina dingin.

Mina hanya memajukan bibirnya dan menatap Eren. " Eren manis...maukah kau bersama Levi?"

" E-ehh...?" Eren menatap Levi dengan tatapan khawatir. Eren ingin sekali mengiyakan semua perkataan Mina dan kabur secepatnya. Kalau perlu ia akan menjemput Armin dan Mikasa dan segera terbang kembali ke Jerma. Meninggalkan Levi dan semua cinta omong kosong ini.

Tapi...Levi menatapnya seperti ingin membunuh Eren misalnya ia menggelengkan kepala. Ditambah...Eren dilema. Apakah Levi benar-benar mencintainya atau ini hanya ajang memainkan hatinya dan berakhir dengan mempermalukan Eren di depan umum karena pernah disetubuhi dan mengaku-ngaku kekasih Levi.

Disitulah yang membuat Eren menundukkan kepala. Membuat Mina mengelus kepalanya dengan raut khawatir dan Levi mengangkat sebelah alisnya. Eren tiba-tiba menundukkan kepala dalam dan memainkan ujung sepatunya.

" Eren..." Panggil Mina khawatir. " Kau tidak apa-apa kan anak muda?"

Eren masih belum menjawab. Ia sedikit melirik Levi dan kembali bungkam.

Levi sendiri tahu bahwa Eren meliriknya dari gerak-gerak dan gerakan mata emerald bocah itu. Levi tidak ingin pernah membuat Eren tersiksa sebenarnya. Memang di awal dia ingin sekali mencincang-cincang atau kalau perlu menghancurleburkan Eren dan menghapus namanya dari dunia.

Tapi Eren menariknya.

Sosok Eren mirip sekali dengan ibunya. Periang, ceria, tidak pernah menganggap sebuah masalah dengan serius, lembut, dan sebenarnya Eren itu penyayang. Hanya saja tidak ia tunjukkan pada Levi dan mengingat harga dirinya sebagai lelaki.

Tapi Eren lebih dari itu semua.

Katakan Levi gila. Katakan Levi tidak waras dan aneh. Katakan semuanya.

Levi sendiri bersumpah jika kalian semua berada di posisinya, hidup seperti dirinya, tinggal di lingkungan persis seperti yang dialami oleh Levi−dia yakin kalian semua akan mendambakan sosok seperti Eren.

Eren sendiri masih bimbang dengan hatinya. Dia normal... dia masih menyukai rambur panjang dan tubuh mulus perempuan, tapi Levi benar-benar berbeda.

" A-aku..." Eren menggigit bibir bawahnya. " A-aku ingin pulang..."

Mina mengerjapkan matanya tidak mengerti. " E-eh?"

" Kau ingin pulang ke Jerman, bocah?" Sambung Levi ketus. " Ke negaramu?"

Ia mendesis.

Levi mendesis begitu tajam dengan pandangan mata berapi-api. Membuat Eren menatapnya menjadi salah tingkah dan panik seperti biasanya.

" T-TUNGGU DULU!" Sela Eren cepat. " I-ITU...ANU!"

Ada sedikit rasa tidak rela dan kecewa di hati Levi. Bocah itu ingin meninggalkannya? Sendirian di Jepang?

Tidak akan.

Sekuat apapun Eren merengek dan memaksanya untuk memulangkan bocah itu ke Jerman, Levi tidak akan sudi untuk melepas bocah itu. Seberapa kotorkah dosa Levi hingga ia selalu ditinggalkan sendirian?

Seberapa jahatnya dia hingga harus kembali kehilangan orang yang ia cintai?

" Tidak" Levi menggeram layaknya singa. Menatap Eren dengan dahi mengernyit. Aura hitam dan dominasinya keluar dengan begitu besar hingga membuat Eren dan Mina terdiam.

Eren yang ketakutan dan Mina yang kebingungan.

" Kau tidak boleh pergi kemana-mana tanpa seizinku" Ucap Levi tegas. " Kau milikku dan kekasihku. Kau berada di bawah lindunganku dan aku tidak pernah menerima bantahan atas hal itu, Jaeger! Termasuk meminta pulang ke Jerman. Aku akan memblokir semua aksesmu pulang ke Jerman dan menutup semua bandara jika aku melihatmu sekali saja berani jauh-jauh dariku"

" T-tap−"

" Tidak ada tapi-tapian, bocah keparat!" Levi menggebrak meja dengan kakinya dan menatap Eren kelewat tajam. Ia menggertakkan giginya dalam emosi penuh. Membuat Mina hanya menghela nafas melihat ulahnya.

" Keputusanku adalah mutlak"

Levi benar-benar emosi sekarang. Ia sudah belajar untuk menahan semua emosinya jika bertemu Eren karena sudah menganggap pemuda manis itu kekasih dan cintanya selama hidupnya.

Tapi...hatinya dibuat sakit sekali lagi.

Apakah hanya dia yang menjadi pihak yang mencintai? Apakah ia sebegitu kotornya hingga Eren tidak mencintainya. Ia mengaku egois! Ya dia egois!

Tapi demi apapun...Levi mau memohon agar Eren masuk ke dalam pangkuannya. Dia mau terisak dan menangis demi pemuda manis itu−sesuatu yang bahkan tidak pernah ia ingin lakukan lagi seperti menangis rela ia lakukan demi Eren.

Levi sudah belajar untuk melihat bocah itu dari sudut pandang yang lain. Melihat kebaikan dan kepolosan hati Eren bukannya sifat kurang ajar dan ketus yang selalu bocah manis itu berikan padanya.

Dia kehilangan jalan. Tapi Eren membawanya kembali.

Eren sendiri hanya bisa tersentak saat mata Levi berkilat emosi dan mulai menendang sofa di belakangnya hingga menabrak dinding dan membuat suara ribut hingga ke lantai dasar. Pemuda manis itu menutup mulut takut.

Padahal...pulang itu maksudnya bukan itu tadi!

Entah kenapa−rasa benci dan jijik Eren seketika menguap hilang begitu saja saat melihat Levi emosi demi dirinya. Tapi yang membuat Eren makin ingin menenangkan pemuda itu adalah air mata yang menggantung di ujung mata tajamnya.

Sumpah! Levi memang sangat emosi hingga menghancurkan semua benda di ruangan itu dengan sangat brutal. Sesekali Levi menatap Eren dan mendecih. Membuang muka karena mata Eren berkilat ketakutan.

Ya...Eren hanya takut dengan dirinya. Bukan perhatian.

Eren ketakutan seperti yang lain. Levi ingin rasanya menertawakan dirinya. Bagaimana Eren yang sudah pernah hampir ia bunuh mau menerima dirinya? Mau mencintainya?

" Levi..." Panggil Mina singkat. Jika saja ia masih muda...mungkin ia akan segera menghentikan emosi anak asuhnya itu segera. Tapi tubuhnya tidak membantu.

" L-levi..." Panggil Eren lirih. " L-le−"

"−Diam kau bocah sialan"

Eren dan Mina kaget secara serentak saat Levi berhenti di depan mereka dan membawa sebuah katan berukuran begitu panjang. Mina memang sengaja meletakkannya di ruangan ini untuk penghias saja tapi tidak ia sangka−katana yang ia paku ke dinding dapat dengan mudah Levi ambil.

" Menjauh dariku" Levi menatap Eren dingin dan mendesis. " Menjauh dariku dan jangan pernah menampakkan dirimu lagi. Jika aku mendapati kau lagi−maka aku tidak akan segan-segan menyekap dan menyiksamu. Tapi..."

" Jika aku menemukanmu mencoba-coba kabur dari kota ini−nyawamu melayang, Jaeger"

Mina memprotes. " Mana boleh begitu pendek!? Dia bahkan tidak tahu cara berkelahi dan kau mengancamnya seperti itu? Kau anggap dia ini apa? Kekasih atau budakmu?"

Levi mengangkat katana dan menyampirkan pedang panjang itu di bahunya yang tegap. Ia menatap Mina dengan tatapan datar dan sesekali melirik Eren yang bungkam dan menundukkan kepala.

" Ini bukan masalah kekasih atau budak, wanita tua" Jawab Levi. " Ini masalah apakah bocah itu sudah belajar untuk menghargai dan menghormati orang."

Eren mendongakkan kepala cepat. Pemuda berambut Ebony iu melebarkan mata hijaunya mendengar perkataan Levi. Levi sendiri menatapnya angkuh dengan senyum miring. Berusaha untuk menahan hasratnya agar tidak segera menyeret Eren dan menyekapnya bersama di kamar.

Hati Eren mencelos.

Kenapa dengannya? Kenapa dia merasa sakit saat Levi mengatakan untuk menjauhi pemuda itu?

Kenapa dia merasa sangat tidak rela dan ingin sekali memberontak dan memarahi Levi agar tidak sekali-kali memutuskan kontak mereka seperti ini dan menyuruh Eren menjauh seperti burung saja?

" L-levi..." Panggil Eren lirih.

Ia ingin marah dan berontak. Alisnya menukik tajam dan jarinya sudah mengepal kuat hingga semua bukunya memutih. Tapi semua itu sirna karena Eren melihat sesuatu yang lain di mata tajam Levi.

Bukan emosi dan benci, hanya saja...

" Belajarlah untuk memahami apapun di sekitamu, bocah ingusan" Ucap Levi dingin. " Pahami arti sebenarnya dari hal itu"

Eren bungkam. Ia tahu maksud Levi dan hal itu segera membuat ototnya melemas dan ia tersandar di sofa tiba-tiba hingga membuat Mina kaget. Mata Eren berkaca-kaca saat Levi membuka kaca jendela dan melompat darisana.

Menghasilkan jeritan ngeri orang-orang di luar tetapi setelah itu Eren dapat mendengar suara tapak kaki Levi yang mendarat sempurna di jalan dan di atas kap mobil Ferrarinya. Levi terlalu hebat hanya untuk mati karena melompat dari jendela bangunan rendah.

" Eren?" Mina mengelus tangan Eren yang sedang menatap jendela. " Eren...bicara nak"

Eren menggigit bibir bawahnya. Ia bungkan dan menundukkan kepalanya.

" Aku mau p-pulang..." Rengek Eren lirih. Ia sedikit terisak hingga air matanya mengalir dari mata hijaunya. " M-mau pulang..."

Mina menghela nafas berat dan mengelus punggung pemuda manis itu. " Tidak bisa Eren. Levi benar-benar bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa kau tidak boleh pergi kemana-mana tanpa seizinnya. Jadi kusarankan untuk jangan kau lakukan misalnya kau masih sayang nyawa, Eren..."

Eren menggeleng. " B-bukan itu..."

Mina menelengkan kepalanya bingung. " Eoh? Lalu? Kau ingin pulang apa?"

" A-aku mau pulang..h-hiks..." Eren menggenggam lengan bajunya dengan kuat. Ia sangat tidak bermaksud membuat hal ini terjadi. " H-hikss..m-mau L-levi..."

" M-mau pulang d-dengan L-levi..." Eren terisak dan terus menggenggam bajunya dalan rasa bersalah yang besar. " H-hikss...aku tidak mau ke Jerman..a-aku mau pulang b-bersama Levi...M-mau ke a-apertemen L-levi... Hikkss.."

Mina menganga. " J-jadi m-maksudmu tadi..."

Eren menggeleng dan merengek khas anak kecil. " A-aku mau L-levi...H-hhikks...mau pulang..L-levi"

" Tidak mau yang lain?"

" Tidaaak!" Eren merengek makin keras dan ia makin memeluk dirinya. " L-levi...mau pulang dengan L-levi...aku mau p-pulang..b-bukannya ke Jerman t-tapi b-bersama L-levi..."

Mina mendesah lelah dan mendengus. " Dasar pendek! Kekasihnya ini mau pulang bersamanya bukannya ingin meninggalkannya! Ahh..dasar cebol menyusahkan"

Eren menatap sebuah jas milik Levi yang tergeletak begitu saja di atas sofa yang sudah rusak dan ruangan yang asalnya begitu bagus tapi karena Levi−sudah berubah menjadi bekas tempat perang dalam kurun waktu kurang dari 30 menit.

Levi sengaja menanggalkan jasnya saat ingin mencium Eren tadi tapi Mina sempat mendobrak pintu masuk dan menjauhkan mereka berdua. Jadinya Levi lupa untuk membawanya dan yang Eren tahu...Iphone Levi tertinggal disana.

" Ehh Eren? Kau mau kemana?"

Eren tiba-tiba berdiri dan merogoh kantong jas Levi dan TADA!

Pemuda manis itu segera membuka Iphone yang untung saja tidak ada sandinya. Ia membuka setiap kontak yang tersimpan disana dengan dahi mengernyit. Dan makin mengernyit lagi saat melihat nama-nama kontaknya.

Membuat Eren yang asalnya menangis−ingin tertawa terbahak-bahak bahkan ingin berguling-guling mengakak karena nama-nama itu.

-) Alis Ulat Sagu

-) Mata Empat Sinting

-) Pembual Kotor

-) Jalang

-) Peniru Tua

-) Ayah

-) Kembar Menyebalkan

" A-apa –apaan kontak ini?" Eren hampir menyemburkan seluruh tawanya.

Ia segera menekan nama Mata Empat Sinting yang pasti ia tebak adalah Senior Hanji.


.

.

.

.

.

.

.

" SIAPA YANG MENELPONKU JAM-JAM BEGINIII!?"

Hanji membanting gelas kimianya kesal dan menghampiri Iphonenya dengan wajah garang dan auman nyaring. Padahal ia sedang asyik-asyiknya meneliti pil dan hormom untuk tubuh Eren dengan Armin tapi...

Demi Celana dalam Neptunus!

Dia meledakkan percobaannya karena salah memasukkan bahan dan membuat ruangannya seketika hitam dan wajahnya coreng-coreng seperti setan yang baru saja makan abu kompor.

SREEEETTT!

" SIAPA YANG BERANI MEMANGGILKU HAH!?"

Hanji yang tidak peduli dengan nama penelponnya−segera mengangkat sambungan dan menyemprotkan semua kekesalannya saat itu juga. Ingin sekali rasanya ia mencincang-cincang penelponnya sekarang.

" S-senior H-hanji..."

" Eh? EHHHH!? EREEEEENNNN!?"

Hanji menjauhkan Iphonenya dari telinganya dengan cepat dan melototkan mata ke arah layar yang jelas-jelas bertuliskan nama LEVI dengan sangat akurat. Hanji bahkan berkali-kali mengeja nama di latar seperti anak kecil dan memakai kaca pembesar agar ia tidak salah lihat.

" K-kau benar-benar Eren bukan?" Hanji bertanya dengan mata menyipit. " K-kau bukan arwah penasaran yang pernah Levi bunuh lalu membuat suara mirip Eren? K-kau bukan itu k-kan?"

Terdengar suara gumaman. " B-bukan senior H-hanji...ini benar-benar aku−Eren Jaeger. L-levi meninggalkannya I-iphonenya..."

Hanji mendengus berat. Ia sudah menduga dimanakah Eren yang tiba-tiba saja menghilang beberapa hari ini. Pasti Levi yang menyekapnya. Pantas saja chip Eren hilang...Levi pasti yang sudah menghancurkannya.

" S-senior..." Eren merengek di seberang ruangan. " M-mau Levi..."

Hanji cengo sesaat. Otaknya sengklek seketika saat Eren berkata tadi. Apakah telinganya tidak tuli? Apakah ia baru saja mendengar Eren merengek meminta Levi?

" Hah!? K-kau minta apa tadi?"

Eren terisak dan merengek dengan lucu. " A-aku mau L-levi balik..."

Pemuda itu menceritakan segalanya kepada Hanji. Hanji sendiri terkadang berteriak-teriak gila sendiri hingga meloncat-loncat dan terkadang ia diam dengan serius. Tapi setelah Eren menjelaskan akhirnya...Hanji menjawab dengan nada gelisah.

" Eren..." Panggil Hanji serius.

" Y-ya?" Eren menghentikkan isakannya. " A-ada apa senior?"

" Dengarkan aku...sehabis ini jangan pulang ke apartemen Levi tapi pulanglah ke rumahku. Ada kemungkinan besar Levi akan membunuhmu misalnya kau berani menginjak tempatnya setelah ia mengancammu tadi"

" Saat ini Levi dalam mode buasnya. Jangan dekati dia apapun yang terjadi−kali ini dia tidak kenal kata kawan ataupun lawan lagi. Termasuk dirimu... hatinya beku sekarang. Sekaranglah kau akan melihat sisi sadis Levi yang terkenal"

Eren tersentak kaget dan menatap Mina. Mina sendiri mengangguk dan mengiyakan perkataan Hanji karena ia mendengar percakapan Eren di telepon.

" T-tapi aku t-tidak tahu rumahmu senior..."

" Tenang saja" Hanji menuliskan sesuatu di laptop di samping badannya. " Aku akan menghubungi Jean untuk menjemputmu"

Eren seketika menukikkan alisnya sangat tajam. " Tunggu dulu. Jean? Si muka kuda sialan itu!?"

"Hm" Hanji mengiyakan dan langsung dibalas rontaan tidak suka dari Eren. Membuat Hanji tidak mengerti tapi akhirnya ia connect bahwa Eren dan Jean sudah bermasalahan sejak pertama kali mereka bertemu. Jadinya Hanji harus memutar otak dan mulai mencari orang yang mau menjemput Eren.

" AH! Farlan saja yang akan menjemputmu!"

Eren cengo. " Eh? Farlan?"

" Tenang saja! Dia adalah sahabat Levi sedari kecil...dia tahu bahwa Levi sangat mencintaimu maka dari itu dia akan melindungi milik sahabatnya sampai titik darah penghabisan. Kau juga bisa menceritakan masalahmu dengan Levi kepadanya. Mungkin dia akan membantumu..."

Eren seketika merona saat mendengar bahwa Eren adalah milik Levi. Membuatnya jadi tidak bisa menjawab perkataan Hanji dan Hanji yang seketika memutuskan sambungan secara sepihak karena harus mengerjakan sesuatu.

" Kau harus segera pulang Eren" Mina menimpali. " Tapi ingat ini... hanya kau yang bisa meredakan emosi dingin Levi sekarang"

Eren menunduk dengan rasa bersalah yang dalam dan Mina menyambung perkataannya lagi.

" Kau tidak salah...hanya Levi yang sensitif. Ia sudah menjadikanmu sebagai nomor satu dalam hatinya. Jadi saat dia mendengar kau ingin menjauh darinya−semua orang pun akan emosi saat mengetahui bahwa orang yang mereka cintai tiba-tiba ingin meninggalkan mereka"

Eren menatap baju pemberian Levi dan jas hitam milik pemuda bermata tajam itu sendu. Ia memutuskan untuk membawa pulang dan memeluk jas itu.

" Kenapa denganku?"


.

.

.

.

.

.

.

" Kenapa dengan lenganmu− Irvin?"

Irvin atau Erwin hanya tersenyum lembut saat Armin membalut tangannya yang terluka dengan perban. Ia tidak tahu bahwa pemuda pirang itu begitu pintar dalam segala hal dan merupakan sosok lembut yang sempurna.

Ia memang habis memburu para anak Maria HighSchool yang ingin menyerang sekolah mereka dan terluka. Ia memutuskan untuk beristirahat di rumah Nanaba karena gadis itu terbuka untuk menerima anak-anak file hitam.

Erwin tersentak kaget saat mengetahui ada Armin yang membaca buku. Dan kelihatannya pemuda berambut pirang itu juga sama-sama terkejut. Mungkin karena luka memanjang di lengan Erwin.

" Hanya sedikit baku hantam" Erwin terkekeh. " Kau tidak usah khawatir seperti itu... sayang sekali jika orang semanis dirimu khawatir karena hal kecil seperti ini"

Armin membulatkan mata kaget dan merona. Ia menatap Erwin dengan semburat merah menghiasi pipinya.

" K-kau ...apakah kau tidak lelah melakukan semua ini?"

Erwin mengangkat bahunya. " Mau bagaimana lagi? Kami dibuang...dan inilah resiko yang harus kami terima"

" Tapi..." Armin menatap luka Erwin. " Kalian selalu menghadapi masalah antara hidup dan mati..."

" Tidak jadi masalah...kami sudah belajar untuk kuat. Dan hal itu sudah biasa bagi kami. Semua makhluk yang hidup pasti akan mati juga jadi...aku tidak terlalu mempermasalahkan misalnya aku sendiri mati"

Erwin menggenggam lengan Armin dan membuat pemuda pirang itu tersentak kaget dan menghentikkan kegiatan membalut luka di lengan Erwin.

" Bolehkah aku berbagi sesuatu untukmu?" Tanya erwin. " Kau kelihatannya lebih pintar dalam hal-hal seperti ini?"

Armin mengangguk kecil.

" Silakan"

Erwin menarik lengannya dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas. Rencananya dengan Levi untuk menyerang seluruh Maria HighSchool. Serta rancangan bom yang sudah dibuat Hanji.

" Kurasa kau akan mengerti hal-hal ini..."

" Hah?"

.

.

.

.

T

B

C

XD